Anda di halaman 1dari 3

Tanggal Tempat Sumber

: 07 Februari 2013 : Kementerian Luar Negeri : Bpk. A. Anindityo A.P, Divisi Keamanan Internasional Direktorat Keamanan Internasional dan Perlucutan Senjata, Kementerian Luar Negeri Indonesia

Wawancara terkait skripsi penulis yang berjudul kepentingan Rusia sebagai anggota tetap DK PBB dalam penyelesaian kasus Suriah, periode (2011-2012) 1. Dewasa ini seperti yang kita ketahui, sering terjadi konflik baik internal suatu negara maupun konflik antar negara yang mampu mengganggu stabilitas keamanan internasional, lalu Bagaimana KIPS melihat kinerja Dewan Keamanan saat ini yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga perdamaian dan keamanan dunia? Dalam menjalankan mandat untuk memelihara perdamaian dan keamanan dunia sesuai dengan amanat Piagam PBB, Dewan Keamanan PBB (DK PBB) cukup aktif dalam melakukan pembahasan atas isu-isu yang dipandang sebagai ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional. Beberapa situasi yang dalam beberapa tahun terakhir dibahas oleh DK PBB, antara lain konflik internal di Libya, Suriah dan Mali, maupun konflik antar negara seperti yang terjadi antara Ethiophia dan Eritrea, dan antara Israel dan Palestina. Dalam menyelesaikan konflik yang mengancam perdamaian dan keamanan internasional, salah satu metode yang dijalankan oleh DK PBB adalah melalui pemberlakukan sanksi, antara lain berupa embargo senjata, pembekuan aset maupun larangan melakukan perjalanan ke luar negeri terhadap suatu negara ataupun individuindividu dari suatu negara yang ditenggarai memiliki peran dalam berlangsungnya suatu konflik ataupun gangguan terhadap perdamaian dan keamanan internasional. Dalam menekan Korea Utara untuk menghentikan program pengembangan senjata nuklir mereka, misalnya, DK PBB, melalui Resolusi 1718 (2006), telah memberlakukan larangan bagi semua negara angggota PBB untuk mengekspor senjata ke Korea Utara dan meminta semua negara anggota PBB untuk membekukan aset individu-individu yang terlibat dalam program pengembangan senjata nuklir Korea Utara. Namun demikian, anggota-anggota DK PBB, khususnya anggota-anggota Permanen DK PBB, seringkali berbeda pandangan mengenai cara penanganan dan penyelesaian suatu konflik. Dalam menangani konflik internal suatu negara, yang mengakibatkan terbunuhnya ratusan penduduk sipil, misalnya, anggota DK PBB menunjukan posisi yang tidak selalu konsisten. Dalam menanggapi konflik internal di Mesir pasca tergulingnya Presiden Husni Mubarrak, misalnya, DK PBB tidak mengeluarkan satu pun resolusi di bawah Bab VII (mengenai aksi terkait ancaman terhadap perdamaian, pelanggaran terhadap perdamaian dan aksi agresi), sementara untuk menangani permasalahan yang serupa di Libya pasca tergulingnya Kolonel Khaddafi, DK PBB mengeluarkan Resolusi 1973 (2011) di bawah Bab VII, yang memberi mandat bagi pemberlakuan larangan terbang (no fly zone) terhadap pemerintahan Khaddafi. Lebih lanjut, dalam menangani konflik internal yang hingga kini masih berlangsung di Suriah, tidak satupun resolusi terkait penanganan konflik

tersebut berhasil disahkan oleh DK PBB akibat adanya perbedaan posisi di antara negara-negara anggota permanen DK PBB. Perbedaan posisi suatu negara anggota DK PBB mengenai suatu opsi penyelesaian sengketa yang ditawarkan oleh anggota lain, seringkali terwujud dalam bentuk penerapan hak veto yang dimiliki oleh masing-masing dari 5 anggota permanen DK PBB. Dalam perundingan untuk mencapai suatu Resolusi DK PBB mengenai penanganan konflik di Suriah, misalnya, Russia dan China telah menyampaikan veto terhadap 2 (dua) rancangan resolusi mengenai Suriah, sehingga tidak pengesahan resolusi mengenai situasi di Suriah hingga kini tidak tercapai. Inkonsistensi posisi negara-negara anggota DK PBB dalam menangani suatu permasalahan yang serupa, mengindikasikan adanya motivasi-motivasi lain di luar melakukan segenap upaya untuk mempertahankan perdamaian dan keamanan internasional. Kondisi yang memungkinkan negara anggota DK PBB untuk menggunakan forum DK PBB sebagai sarana untuk memajukan kepentingan nasional masing-masing, seringkali kontra-produktif dengan maksud dan tujuan DK PBB didirikan. 2. Salah satu isu yang sedang ditangani DK PBB saat ini adalah Arab Spring, menurut KIPS sendiri, apa sebenarnya yang sedang terjadi di dunia arab saat ini? Dan langkah apa yang seharusnya diambil DK PBB untuk penyelesaian kasus ini? DK PBB tidak secara khusus menangani Arab Spring. Arab Spring merupakan julukan terhadap serangkaian aksi demonstrasi rakyat sipil di negaranegara kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang menuntut perubahan pemerintahan dan/atau demokratisasi. Beberapa aksi ini terselenggara dengan damai (Lebanon, Oman), sementara beberapa telah mengakibatkan konflik internal dalam skala besar (Libya, Suriah). DK PBB hanya menangani permasalahan-permasalahan yang dianggap mengancam perdamaian dan keamanan dunia, seperti di Libya dan Suriah. Konflik yang terjadi di Libya dan Suriah telah mengakibatkan puluhan ribu orang meninggal dunia, ribuan orang kehilangan pekeraan dan tempat tinggal dan ribuan lainnya mengungsi ke negara-negara sekitar. Hal-hal ini jelas mengancam perdamaian dan keamanan internasional. DK PBB mempunyai tanggung jawab untuk merancang dan memberlakukan upaya-upaya yang dapat mengakhiri konflik, agar dampak negatif yang diakibatkan oleh suatu konflik dapat diminimalisasi semaksimal mungkin sehingga stabilitas keamanan fisik dan ekonomi dapat terjaga. 3. Rusia merupakan salah satu negara pemegang hak veto di DK PBB. Pada salah satu kasus Arab spring yaitu ketika terjadi konflik di Suriah yang mengharuskan DK mengambil sikap, Rusia adalah negara yang dengan tegas mem-veto untuk menolak rancangan resolusi tersebut, bagaimanan KIPS menanggapi sikap Rusia? Posisi Rusia yang terkesan sangat membela rezim Presiden Bashar al-Assad dapat dipahami bersumber dari faktor kedekatan kedua negara dari sisi historis; keinginan Rusia untuk mempertahankan sekutunya di kawasan Timur Tengah untuk kepentingan geopolitis; keinginan Rusia untuk mempertahankan kepentingan ekonominya di Suriah terutama yang menyangkut transaksi alat utama sistem persenjataan; dan untuk melindungi sribuan warga negara Russia yang bekerja di Suriah sebagai tenaga konsultan untuk Pemerintah Suriah ataupun yang bekerja sebagai profesional di sektor lain. Namun demikian, dalam perkembangannya,

dukungan Rusia kepada rezim Presiden al-Assad tampak mulai memudar. (Baca: http://www.guardian.co.uk/world/2012/dec/20/putin-distancing-assad-syria) Veto Rusia atas dua rancangan resolusi DK PBB mengenai situasi di Suriah cenderung kontra-produktif dalam meminimalisasi krisis kemanusiaan di Suriah. Walau penolakan Rusia terhadap wacana intervensi militer ke Suriah dapat dipahami, di dalam DK PBB, Rusia selayaknya mengajukan opsi lain yang dapat mencegah maupun menghentikan pembunuhan terhadap rakyat sipil. 4. Seperti yang diberitakan dibeberapa media mengenai pernyataan Rusia yang akan tetap melanjutkan kerjasama ekonomi maupun militer (dalam hal jual beli senjata dll), kemudian kapal perang Rusia yang melakukan konvoi ke perairan Suriah, apa yang sebenarnya menjadi kepentingan Rusia dalam kasus ini? (menurut KIPS) Sejak tahun 1971, Rusia memiliki markas angkatan laut di Tartus, Suriah. Keberlangsungan keberadaan markas ini menjadi kepentingan Rusia. Rusia memerlukan markas ini sebagai basis militer yang strategis di kawasan Timur Tengah dalam menghadapi potensi ancaman dari negara-negara NATO, yang memiliki basis militer di Turki