Anda di halaman 1dari 11

HOLE PROBLEM

2.1

Shale Problem Shale Problem merupakan masalah pada proses pemboran dimana pemboran menembus lapisan shale yang dapat menyebabkan lubang bor runtuh. Runtuhnya lubang bor pada lapisan shale dapat disebabkan karena lubang bor membesar, saat pembersihan lubang bor, pipa bor terjepit, bridges dan fill-up, kebutuhan lumpur bertambah, penyemenan yang kurang sempurna, kesulitan saat pelaksanaan logging dan sebagainya. Shale merupakan hasil endapan didalam marine basin yang terdiri dari lumpur, silts, dan clays. Karena teksturnya yang lunak, maka disebut clay. Jika berada pada tekanan dan temperatur yang tinggi maka endapan ini mengalami perubahan bentuk (consolidation) yang disebut sebagai shale. Perubahan bentuk yang disebabkan proses metamorfoce sehingga disebut slate, phyllite atau mica schist. Jika shale mengandung banyak pasir maka disebut arenaceous shale sedangkan shale yang mengandung banyak material organik disebut carbonataceous shale. Shale problem memiliki berbagai jenis yaitu Pressure Shale, Mud making Shale, Stressed Shale. 2.1.1 Penyebab Shale Problem Jika dilihat secara mekanis, penyebab masalah shale problem antara lain: Erosi, disebabkan kecepatan lumpur yang terdapat annulus terlalu tinggi. Gesekan pipa bor terhadap dinding lubang bor. Adanya penekanan (pressure sluge) atau penyedotan (swabbing) saat pencabutan atau pemasangan pahat (trapping). Adanya tekanan dari dalam formasi Adanya air filtrasi atau lumpur yang masuk ke dalam formasi

Secara umum dapat dikatakan bahwa pembesaran lubang bor dan masalaha shale problem berkaitan dengan masalah pokok, yaitu tekanan formasi dan kepekaan terhadap lumpur atau air filtrasi. Gejala-gejala yang sering muncul saat menghadapi shale problem antara lain adanya perubahan lumpur sehingga menjadi kental, bertambahnya serbuk bor (cuttings). Bertambahnya air filtrasi, bridges dan fill-up, torsi bertambah besar, bit balling. 2.1.2 Penanggulangan Shale Problem Berdasarkan penjelasan mengenai masalah masalah saat shale problem dapat ditanggulangi, diantaranya: Mengatur densitas lumpur pemboran agar mampu menahan tekanan formasi Mengatur pH lumpur (8,5 9,5) Filtrasi lumpur rendah Mengurangi kecepatan aliran lumpur di annulus Mengurangi atau menghindari kemiringan bor Menghindari swabbing atau pressure sluge saat pencabutan atau saat masuknya pahat

2.2

Hilang Lumpur Hilang lumpur merupakan peristiwa hilangnya lumpur pemboran yang masukn ke dalam formasi. Hilang lumpur dapat terjadi jika tekanan hidrostatis lumpur lebih besar dari tekanan formasi. 2.2.1 Penyebab Terjadinya Hilang Lumpur Jika ditinjau dari segi formasi, hilang lumpur (loss circulation) dapat terjadi di formasi sebagai berikut: a. Coarseley Permeable Formation Jenis dari formasi ini adalah pasir dan gravel, tidak semua jenis formasi ini dapat menyerap lumpur sehingga untuk menyerap lumpur perlu berada di keadaan saat tekanan hidrostatis lebih besar dari tekanan formasi, formasi permeabel atau pori-pori/celah cukup besar sehingga lumpur dapat masuk kedalam formasi. b. Cavernous Formation Hilangnya lumpur dalam keadaan reef, gavel ataupun retakan didalam formasi yang mengandung banyak gua-gua. Gua-gua tersebut biasanya banyak terdapat pada formasi batu kapur (lime stone dan dolomite) c. Fissure, Fractures and Faults Terdapat celah-celah atau retakan didalam formasi yang dapat menyebabkan hilangnya lumpur pemboran Fracture dapat terbentuk secara ilmiah dan dapat terbentuk juga akibat adanya pressure sluge saat masuknya pahat ataupun karena kenaikan tekanan karena drilling practice yang tidak benar, contohnya tekanan pompa terlalu tinggi, lumpur terlalu kental, gel strength terlalu besar dan dapat juga terjadi karena perlakuan yang tidak sesuai lainnya. 6

2.2.2 Penanggulangan Loss Circulation Cara mengatasi hilangnya lumpur pemboran bergantung pada penyebab terjadinya, sifat formasi dan sebagainya. Berikut akan dijelaskan penanggulangan loss circulation dengan keadaan-keadaan yang dihadapi: a. Bahan Penyumbat Dalam mengatasi hilang lumpur dapat menggunakan bahan penyumbat, diantaranya menggunakan: Granular material, seperti nut shells, nut pkug, tuff plug Fibrous material, seperti leather floe, fiber seal, chip seal Flakes, seperti mica, cellophane Kombinasi dari bahan-bahan tersebut. Heat expanded material Bahan-bahan khusus, seperti High Filter Foss Slurry, Bentonite Diesel Oil Slurry atau Bentonite Diesel Cement Slurry. b. Seepage Losses Seepage Losses merupakan hilangnya lumpur pemboran dalam jumlah yang relatif kecil, kurang dari 15 bbl/jam. Upaya pencegahannya dapat dilakukan sebagai berikut: Melanjutkan pemboran dan mengurangi berat lumpur, dengan tujuan agar serbuk bor dapat menyumbat pori-pori tempat hilang lumpur Menambahkan penyumbat yang halus. Bila belum berhasil, mengangkat pahat sampai casing shoe dan ditunggu tanpa adanya sirkulasi, dengan tujuan agar serbuk bor dapat menyumbat. Menghindari pressure sluge Mwngurangi tekanan pompa 7

c. Partial Loss Partial loss merupakan keadaan hilangnya lumpur pemboran dalam jumlah yang lebih besar, lebih dari 15 bbl/jam. Usaha yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi keadaan ini, antara lain dengan mengurangi berat lumpur dan tekanan pompa. Atau dapat menggunakan bahan penyumbat dengan Batch Method. Jika memungkinkan dapat menggunakan High Filter Loss Slurry. d. Complete Loss of Returns Complete Loss of Returns merupakan keadaan dimana lumpur tidak keluar kembali dari lubang bor tetapi lubang bor tetap penuh. Hal yang dilakukan jika berada dikeadaan seperti ini dapat menggunakan High Filter Loss Slurry atau Soft Plug dengan mencampurkan zat aditif seperti Bentonite Diesel Oil Plug, Bengum Squeze, Bentonite Diesel Oil Cement Plug, Bentonite Cement, Gilsonite Cement, Cal Seal Class-A Cement Plug, e. Lumpur tidak sampai ke permukaan Keadaan ini sangat berbahaya karena terdapat pengurangan tekanan hidrostatis ;umpur yang dapat menyebabkan well kick. Usaha yang dapat dilakukan pada keadaan ini yaitu mengisi lubang annulus dengan air yang jumlahnya harus diperhitungkan, jika lubang bor dapat terisi dengan penuh dan ketinggian kolom air dapat dihitung maka tekanan hidrostatis seluruh cairan dapat dihitung sehingga dapat dihitung pula berat lumpur maksimum yang dapat digunakan unutk menahan formasi dalam keadaan statis.

f. Blind Drilling Blind drilling merupakan metode pemboran tanpa sirkulasi balik. Metode ini dapat digunakan jika berada dikeadaan dimana pemboran menembus formasi dengan tekanan yang sangat rendah bahkan dibawah tekanan hidrostatis air dan lumpur tidak mecapai permukaan.

2.3

Stuck Pipe Stuck pipe merupakan keadan dimana saat proses drilling, pipa yang berada didalam lubang bor tidak dapat diputar maupun diangkat. 2.3.1 Penyebab Stuck Pipe a. Differential Pipe Sticking Differential pipe sticking disebabkan karena adanya perbedaan tekanan hidrostatis dengan tekanan formasi yang cukup besar, dimana pipa pemboran tertekan atau terhimpit ke salah satu sisi dinding lubang bor karena perbedaan tekanan yang sangat besar. Selain itu pipe sticking dapat terjadi karena tekanan hidrostatis yang lebih besar akan membentukn mud cake yang tebal yang biasa terjadi pada lubang miring atau horizontal. Pada zona permeabel dan porous sering terjadi stuck pipe, sehingga pipa berada pada keadaan statis saat melewati zona permeabel. Penyebab lainnya antara lain: Diameter Drill Collar yang digunakan terlalu besar sehingga clearance (luas annulus) terlalu sempit. Tingginya kecepatan Filtrasi. Tingginya padatan didalam lumpur.

b. Mechanical Sticking Jenis pipa terjepit ini dapat disebabkan oleh: Undergauge Hole

Hal ini disebabkan karena pemakaian bit yang sudah aus dan tidak cepat diganti sehingga menyebabkan ukuran lubang lebih kecil dari yang seharusnya. Adanya Junk Problem ini disebabkan karena adanya bagian-bagian kecil (junk) dari peralatan bawah permukaan (downhole equipment) yang jatuh atau benda-benda kecil yang jatuh dari lantai borsehingga menyebabkan drill string terjepit saat akan ditarik ke atas. Adanya Green Cement Jepitan bisa terjadi jika drill string menembus cement yang belum mengeras. Karena adanya tekanan dari drill string maka cement cepat mengeras sehingga dapat menjepit rangkaian pipa bor. Adanya Collapsed Casing Jepitan yang ditimbulkan karena gaya yang ditimbulkan oleh formasi melebihi collapse strength dari casing. Tingginya sudut lubang bor Karena adanya sudut lubang bor yang terlalu tinggi menyebabkan batuan yang ditembus tidak dapat menahan beban batuan diatasnya sehingga dapat runtuh. d. Key Seat Stuck pipe jenis ini dapat disebabkan oleh formasi yang dilewati relatif lunak dan adanya dog leg (lubang bor yang membelok secara mendadak atau terjadi perubahan sudut kemiringan lubang dan sudut arah lubang secara mendadak). Sehingga tool joint akan mnegikis dinding lubang yang membelok secara tiba-tiba tersebut. Tanda-tanda terjadinya key seating, yaitu: Rangkaian drill string tidak bisa diangkat atau dicabut 10

Tekanan pemompaan lumpur normal Naiknya drag Bisingnya rotary table

2.3.1 Pencegahan a. Differential Pipe Sticking Penanggulangan yang dapat dilakukan saat terjadi differential pipe sticking, yaitu: Setelah diketahui gejala terjadinya differential sticking, segera pasang Kelly atau top drive. Bila BHA dipasang jar, lakukan JAR DOWN. Lakukan torsi kanan pada saat menurunkan rangkaian atau jar down. Lakukan Work on pipe sambil sirkulasi. Bila pada point 1 dan 2 tidak berhasil, tentukan titik jepit dengan menggunakan rumus pada hal . Bila menggunakan Lumpur WBM, rendam rangkaian dengan freepipe agent pada daerah jepitan untuk menghancurkan mud cake, sehingga mengurangi luas kontak pipa dengan dinding. Lama perendaman tergantung produk yang digunakan. Setelah pipa bebas, lakukan sirkulasi untuk membuang sisa pree pipe agent yang terdapat dalam lubang. Usahakan rangkaian tetap bergerakdan berputar. Lakukan reaming dan back reaming sekitar daerah permeable. b. Key Seat Penanggulangan yang dapat dilakukan saat terjadi key seat, yaitu: Bila terjadi gejala over pull lebih dari 15 Ton, hentikan pencabutan pipa dan turunkan kembali rangkaian pipa. Bila rangkaian tidak terjepit dan dapat diturunkan, lakukan: 11

Pasang Kelly / top drive Break srkulasi dan angkat rangkaian pelanpelan sasmpai daerahkey seat.

Beri tarikan / over pull 5000 psi Pasang slip dan putar sambil angkat rangkaian secara perlahanuntuk melewatkan BHA melalui bagian diameter lubang yang lebihbesar . Untuk formasi yang lunak, masih mungkin menghilangkankey seating dengan menggunakan bagian atas (top) BHA usahamenghilangkan key seat akan lebih efektif bila menggunakanstabilizer atau reamer / key seat wiper

Bila rangkaian terjepit dan tidak dapat diturunkan, lakukan: - Pasang Kelly atau top drive - Lakukan JAR DOWN (bila BHA menggunakan Jar)

2.4

Fishing Job Fishing job merupakan suatu pekerjaan tambahan/diluar rencana yang bertujuan untuk mengambil benda atau alat-alat yang jatuh atau tertinggal di dalam lubang bor. Fishing job dilakukan antara lain karena kesalahan dalam teknik kerja, kesalahan alat-alat yang dipergunakan dan sifat formasi. 2.4.1 Penyebab dilakukan Fishing Job Kesalahan Teknik Kerja a. Terjatuhnya benda atau alat-alat kedalam lubang bor , seperti kunci-kunci, baut, kabel bor dan sebagainya. b. Terjepitnya rangkaian pipa bor dalam lubang, sehingga mengakibatkan terputusnya stang bor atau kadang kala sebagian dari rangkaian pipa bor dilepas dengan sengaja dimana bagian yang tertinggal diambil kembali dengan alat pancing. Bila pelepasan rangkaian bor tidak berhasil maka 12

maka dilakukan pemotongan atau back off terhadap rangkaian pipa bor tersebut. c. Pemakaian pahat yang melebihi umur pahat sehingga cone atau bearing terlepas atau tertinggal didalam lubang. Pahat dapat lepas karena pengikatannya tidak kuat atau drad tidak baik. d. Kurang teliti dalam pemilihan alat yang akan sehingga memungkinkan untuk menggunakan peralatan yang sudah tidak layak. Kesalahan Alat Yang Digunakan a. Twist off, yaitu kepayahan dari alat yang disebabkan keausan alat. b. Kelemahan bahan dari alat atau rangkaian pipa bor itu sendiri. Sifat Formasi Keadaan alamiah formasi yang tidak dapat dihindari dari kejadiankejadian yang terduga, seperti saat berlangsungnya operasi pemboran mendadak menembus daerah swelling clay atau memasuki resevoir yang bertekanan tinggi/rendah atau dengan zona yang memiliki suhu tinggi. 2.4.2 Pencegahan dilakukan Fishing job Untuk mencegah terjadinya fishing job dapat dilakukan dengan menghindari kesalahan-kesalahan yang dapat memungkinkan dilakukannya fishing job, jadi dalam hal ini faktor manusia sangat menentukan, untuk mencegah jangna sampai benda terjatuh atau tertinggal didalam lubang bor sehingga dapat menimbulkan kejadian yang fatal. Tindakan-tindakan yang dapat dilakukan unntuk mencegah dilakukannya fishing job, antara lain: Faktor Pekerja Rig a. Job description yang jelas sehingga crew dapat melaksanakan tugas dengan baik. b. Pekerja menguasai pekerjaan yang dihadapi. c. Pekerja mempunyai disiplin kerja dan tanggung jawab. 13

d. Pekerja yang memiliki kemampuan mekanis yang baik e. Adanya pedoman pekerjaan. f. Diadakan training bagi para pekerja.

Pemeriksaan dan Pemeliharaan Alat-alat a. Pemeriksaan alat yang akan digunakan b. Meletakkan alat-alat pengeboran dengan rapih dan disiplin c. Memisahkan alat yang sudah aus ditempat khusus d. Pemeriksaan alat secara periodik e. Memperhatikan pengikatan pipa bor, sebaiknya pipa bor diikat dengan kuat. f. Menutup lubang bor jika lubang bor dalam keadaan kosong, untuk menghindari jatuhnya alat-alat dari rotary table

Lubang bor a. Untuk vertical drilling diusahakan agar lubang bor relatif lurus dan menghindari kemiringan lubang dengan mengatur beban pada pahat yang sesuai pada kondisi formasi. b. Untuk directional drilling harus menggunakan susunan drilling string dengan kombinasi Bottom Hole Assembly yang sesuai dengan kebutuhan dan menjaga agar dog leg tidak terlalu besar. c. Melakukan pembersiha lubang dengan mensrkulasikan lumpur pemboran saat akan mencabut rangkaian bor. d. Lumpur bor yang dipakai harus sesuai dengan keadaan formasi yang dilalui.

14