Anda di halaman 1dari 134

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Pengertian Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi Pendidikan
1. Pengukuran
Pengukuran dapat diartikan dengan kegiatan untuk
mengukur sesuatu. Pada hakekatnya, kegiatan ini adalah
membandingkan sesuatu dengan atau sesuatu yang lain (Anas
Sudijono, 1996:3). Jika kita mengukur suhu badan seseorang
dengan termometer, atau mengukur jarak kota A dengan kota B,
maka sesungguhnya yang sedang dilakukan adalah
mengkuantifikasi keadaan seseorang atau tempat kedalam
angka. Karenanya, dapat dipahami bahwa pengukuran itu
bersifat kuantitatif.
Dalam dunia pendidikan, yang dimaksud pengukuran
sebagaimana disampaikan Cangelosi (1995:21) adalah proses
pengumpulan data melalui pengamatan empiris. Proses
pengumpulan ini dilakukan untuk menaksir apa yang telah
diperoleh siswa setelah mengikuti pelajaran selama waktu
tertentu. Proses ini dapat dilakukan dengan mengamati kinerja
mereka, mendengarkan apa yang mereka katakan serta
mengumpulkan informasi yang sesuai dengan tujuan melalui
apa yang telah dilakukan siswa.
Menurut Mardapi (2004:14) pengukuran pada dasarnya
adalah kegiatan penentuan angka terhadap suatu obyek secara
sistematis. Karakteristik yang terdapat dalam obyek yang
diukur ditransfer menjadi bentuk angka sehingga lebih mudah
untuk dinilai. aspek-aspek yang terdapat dalam diri manusia


2


seperti kognitif, afektif dan psikomotor dirubah menjadi angka.
Karenanya, kesalahan dalam mengangkakan aspek-aspek ini
harus sekecil mungkin. Kesalahan yang mungkin muncul dalam
melakukan pengukuran khususnya dibidang ilmu-ilmu sosial
dapat berasal dari alat ukur, cara mengukur dan obyek yang
diukur.
Pengukuran dalam bidang pendidikan erat kaitannya
dengan tes. Hal ini dikarenakan salah satu cara yang sering
dipakai untuk mengukur hasil yang telah dicapai siswa adalah
dengan tes. Selain dengan tes, terkadang juga dipergunakan
nontes. Jika tes dapat memberikan informasi tentang
karakteristik kognitif dan psikomotor, maka nontes dapat
memberikan informasi tentang karakteristik afektif obyek.

2. Penilaian
Penilaian merupakan bagian penting dan tak terpisahkan
dalam sistem pendidikan saat ini. Peningkatan kualitas
pendidikan dapat dilihat dari nilai-nilai yang diperoleh siswa.
Tentu saja untuk itu diperlukan sistem penilaian yang baik dan
tidak bias. Sistem penilaian yang baik akan mampu
memberikan gambaran tentang kualitas pembelajaran sehingga
pada gilirannya akan mampu membantu guru merencanakan
strategi pembelajaran. Bagi siswa sendiri, sistem penilaian yang
baik akan mampu memberikan motivasi untuk selalu
meningkatkan kemampuannya.
Dalam sistem evaluasi hasil belajar, penilaian merupakan
langkah lanjutan setelah dilakukan pengukuran. informasi yang
diperoleh dari hasil pengukuran selanjutnya dideskripsikan dan
ditafsirkan. Karenanya, menurut Djemari Mardapi (1999:8)

3

penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan
hasil pengukuran. Menurut Cangelosi (1995:21) penilaian
adalah keputusan tentang nilai. Oleh karena itu, langkah
selanjutnya setelah melaksanakan pengukuran adalah
penilaian. Penilaian dilakukan setelah siswa menjawab soal-soal
yang terdapat pada tes. Hasil jawaban siswa tersebut ditafsirkan
dalam bentuk nilai.
Menurut Djemari Mardapi (2004:18) ada dua acuan yang
dapat dipergunakan dalam melakukan penilaian yaitu acuan
norma dan acuan kriteria. Dalam melakukan penilaian dibidang
pendidikan, kedua acuan ini dapat dipergunakan. Acuan norma
berasumsi bahwa kemampuan seseorang berbeda serta dapat
digambarkan menurut kurva distribusi normal. Sedangkan
acuan kriteria berasumsi bahwa apapun bisa dipelajari semua
orang namun waktunya bisa berbeda.
Penggunaan acuan norma dilakukan untuk menyeleksi dan
mengetahui dimana posisi seseorang terhadap kelompoknya.
Misalnya jika seseorang mengikuti tes tertentu, maka hasil tes
akan memberikan gambaran dimana posisinya jika
dibandingkan dengan orang lain yang mengikuti tes tersebut.
Adapun acuan kriteria dipergunakan untuk menentukan
kelulusan seseorang dengan membandingkan hasil yang dicapai
dengan kriteria yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Acuan ini
biasanya digunakan untuk menentukan kelulusan seseorang.
Seseorang yang dikatakan telah lulus berarti bisa melakukan
apa yang terdapat dalam kriteria yang telah ditetapkan dan
sebaliknya. Acuan kriteria, ini biasanya dipergunakan untuk
ujian-ujian praktek. Dengan adanya acuan norma atau kriteria,
hasil yang sama yang didapat dari pengukuran ataupun
penilaian akan dapat diinterpretasikan berbeda sesuai dengan


4


acuan yang digunakan. Misalnya, kecepatan kendaraan 40
km/jam akan memiliki interpretasi yang berbeda apabila
kendaraan tersebut adalah sepeda dan mobil.

3. Evaluasi
Pengukuran, penilaian dan evaluasi merupakan kegiatan
yang bersifat hierarki. Artinya ketiga kegiatan tersebut dalam
kaitannya dengan proses belajar mengajar tidak dapat
dipisahkan satu sama lain dan dalam pelaksanaannya harus
dilaksanakan secara berurutan.
Evaluasi Menurut Suharsimi (2004:1) adalah kegiatan
untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu,
yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk
menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan.
Dalam bidang pendidikan, evaluasi sebagaimana dikatakan
Gronlund (1990:5) merupakan proses yang sistematis tentang
mengumpulkan, menganalisis dan menafsirkan informasi untuk
menentukan sejauhmana tujuan pembelajaran telah dicapai
oleh siswa. Menurut Djemari Mardapi (2004:19) evaluasi adalah
proses mengumpulkan informasi untuk mengetahui pencapaian
belajar kelas atau kelompok.
Dari pendapat di atas, ada beberapa hal yang menjadi ciri
khas dari evaluasi yaitu: (1) sebagai kegiatan yang sistematis,
pelaksanaan evaluasi haruslah dilakukan secara
berkesinambungan. Sebuah program pembelajaran seharusnya
dievaluasi disetiap akhir program tersebut, (2) dalam
pelaksanaan evaluasi dibutuhkan data dan informasi yang
akurat untuk menunjang keputusan yang akan diambil.
Asumsi-asumsi ataupun prasangka. bukan merupakan

5

landasan untuk mengambil keputusan dalam evaluasi, dan (3)
kegiatan evaluasi dalam pendidikan tidak pernah terlepas dari
tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
Karena itulah pendekatan goal oriented merupakan pendekatan
yang paling sesuai untuk evaluasi pembelajaran.
Menurut Suharsimi (2007:3) mendefinisikan; Mengukur
adalah membanding-kan sesuatu dengan satu ukuran.
Pengukuran bersifat kuantitatif. Menilai adalah mengambil
suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk.
Evaluasi adalah meliputi kedua langkah di atas, yakni
mengukur dan menilai.
Dalam pembelajaran yang terjadi di sekolah atau
khususnya di kelas, guru adalah pihak yang paling bertanggung
jawab atas hasilnya. Dengan demikian, guru patut dibekali
dengan evaluasi sebagai ilmu yang mendukung tugasnya, yakni
mengevaluasi hasil belajar siswa. Dalam hal ini guru bertugas
mengukur apakah siswa sudah menguasai ilmu yang dipelajari
oleh siswa atas bimbingan guru sesuai dengan tujuan yang
dirumuskan.
4. Tujuan dan Fungsi Penilaian
Fungsi penilaian pendidikan antara lain :
a. Penilaian berfungsi sebagai selektif, dengan penilaian guru
mempunyai cara untuk mengadakan seleksi atau penilaian
terhadap siswanya.
b. Penilaian berfungsi sebagai diagnostik, dengan penilaian
sebenarnya guru mengadakan diagnosis kepada siswa
tentang kebaikan dan kelemahannya. Dengan diketahuinya
sebab-sebab kelemahan ini, akan lebih mudah dicari cara
untuk mengatasinya.


6


c. Penilaian berfungsi sebagai penempatan, dengan penilaian
guru dapat menentukan dengan pasti di kelompok mana
seorang siswa harus ditempatkan.
d. Penilain berfungsi sebagai pengukur keberhasilan, dengan
penilaian guru dapat mengatahui sajauh mana suatu
program berhasil diterapkan.

B. Subjek dan Sasaran Evaluasi
1. Subjek Evaluasi
Yang dimaksud dengan subjek evaluasi adalah orang yang
melakukan pekerjaan evaluasi atau pelaksana evaluasi, yaitu
dalam hal ini adalah guru. Ada pandangan lain yang disebut
dengan subjek evaluasi adalah siswa, yakni orang yang
dievaluasi. Dalam hal ini yang dipandang sebagai objek
misalnya : prestasi belajar, kemampuan memori, gaya belajar
dan lain sebagainya. Pandangan lain lagi mengklasifikasikan
siswa sebagai objek evaluasi dan guru sebagai subjeknya.
2. Sasaran Evaluasi
Sasaran evaluasi meliputi unsur-unsur : input, transformasi
dan output.
a. Input
Meliputi aspek :
- Kemampuan, alat ukur yang digunakan adalah tes
kemampuan (attitude test).
- Kepribadian, alat ukur yang digunakan adalah tes
kepribadian (personality test).
- Sikap-sikap, alat ukur yang digunakan adalah tes skala
sikap (attitude scale).

7

- Inteligensi, alat ukur yang digunakan adalah tes inteligensi,
hasil tes akan diketahui IQ (intelligence Quotient) siswa.
b. Transformasi
Unsur-unsur dalam transformasi yang menjadi objek
penilaian antara lain :
- Kurikulum/materi
- Metode dan cara penilaian
- Sarana pendidikan/media
- Sistem administrasi
- Guru dan personal lainnya.
c. Output
Penilaian terhadap lulusan suatu sekolah dilakukan untuk
mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian/prestasi
belajar mereka selama mengikuti program. Alat yang
digunakan untuk mengukur pencapaian ini disebut tes
pencapaian atau achievment test.






















8


BAB II
PRINSIP DAN ALAT EVALUASI

A. Prinsip Evaluasi
Ada satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan
evaluasi, yaitu adanya triangulasi atau hubungan erat tiga
komponen, yaitu antara tujuan pembelajaran, kegiatan
pembelajaran atau KBM dan evaluasi.
Triangulasi tersebut dapat digambarkan dalam bagan
sebagai berikut :






a. Hubungan antara Tujuan dengan KBM
Kegiatan belajar mengajar yang dirancang dalam bentuk
rencana mengajar disusun oleh guru dengan mengacu pada
tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian, anak panah
yang menunjukkan hubungan antara keduanya mengarah
pada tujuan dengan makna bahwa KBM mengacu pada
tujuan, tetapi juga mengarah dari tujuan ke KBM.
b. Hubungan antara Tujuan dengan Evaluasi
Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk
mengukur sejauh mana tujuan sudah tercapai. Dengan
makna demikian maka anak panah berasal dari evaluasi
menuju ke tujuan. Alat evaluasi mengacu pada tujuan yang
sudah dirumuskan.


9

c. Hubungan antara KBM dengan Evaluasi
Selain mengacu pada tujuan, evaluasi juga harus mengacu
atau disesuaikan dengan KBM yang dilaksanakan.

B. Alat Evaluasi
Dalam pengertian umum, alat adalah sesuatu yang dapat
digunakan untuk mempermudah seseorang untuk melaksana-
kan tugas atau mencapai tujuan secara lebih efektif dan
efisien. Kata alat biasa disebut juga dengan istilah
instrumen. Dengan demikian alat evaluasi juga dikenal
dengan instrumen evaluasi.
Alat evaluasi dikatakan baik apabila mampu mengevaluasi
sesuatu yang dievaluasi dengan hasil seperti keadaan yang
dievaluasi. Dalam menggunakan alat tersebut evaluator
menggunakan cara atau teknik, dan oleh karena itu dikenal
dengan teknik evaluasi. Ada dua teknik evaluasi, yaitu teknik
tes dan non tes.
Agar dapat diperoleh skor dan nilai yang benar-benar
mewakili suatu objek, maka seorang guru harus
mempergunakan suatu alat ukur yang bermutu. Untuk dapat
menggunakan suatu alat pengukur yang bermutu secara tepat,
maka seorang guru perlu memahami dan mengenal berbagai
hal seperti teknik tes dan non tes, ciri-ciri tes, perencanaan
dan penyusunan tes yang dibuat guru.

1. Teknik Tes
Alat pengukur tes banyak dipergunakan dalam bidang
pengukuran prestasi belajar di sekolah, khususnya dipakai
untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai
tujuan pendidikan dan pengajaran atau instruksional. Tes


10


sebagai alat pengukur mempunyai bermacam-macam arti.
Salah satu artinya yaitu tes adalah suatu alat pengukur yang
berupa serangkaian pertanyaan yang harus dijawab secara
sengaja dalam suatu situasi yang distandarisasikan, dan yang
dimaksud untuk mengukur kemampuan dan hasil belajar
individu atau kelompok.
Jenis-Jenis Tes
Seorang guru perlu mengenal jenis-jenis tes yang
dipergunakan dalam setiap kegiatan pengukuran sifat suatu
objek (seperti prestasi atau hasil belajar siswa) dari suatu mata
pelajaran yang diampunya.
a. Tes menurut variabel atau apanya yang mau diukur
1) Tes prestasi belajar atau hasil belajar atau achievement
tast.
Adalah suatu tes yang mengukur prestasi seseorang
dalam suatu bidang studi sebagai hasil proses belajar
yang khas, yang dilakukan secara sengaja dalam bentuk
pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, sikap dan nilai.
Dengan demikian fungsi utama tes hasil belajar adalah
mengukur keberhasilan belajar siswa dan sekaligus pula
mengukur keberhasilan guru dalam mengajar suatu mata
pelajaran.
Kekuatannya :
Hasil skor dan nilai yang sungguh-sungguh relevan dan
akurat dapat menjadi sarana untuk meningkatkan
motivasi belajar siswa sesuai dengan kemampuannya.
Kelemahannya :
- Hasil tes prestasi belajar tidak pernah mencapai
kecermatan dan akurasi yang tinggi.

11

- Tes hasil belajar yang belum diuji cobakan terlebih
dahulu pada umumnya taraf reliabilitas, validitas,
kesukaran dan daya beda itemitemnya belum
meyakinkan.
2) Tes Kemampuan Belajar atau Tes Bakat Umum
Adalah tes yang didesain untuk mengukur kapasitas,
meramalkan apa yang dapat dicapai seseorang pada masa
datang melalui pendidikan atau latihan. Pengukuran
bakat seseorang secara tidak langsung diproyeksikan
untuk masa depan dengan cara mengukur kemampuan
yang ditunjukkan pada waktu sekarang. Tes bakat
dibedakan tes bakat umum dan tes bakat khusus. Tes
bakat umum lebih di maksudkan untuk mengungkap
bakat dalam lingkup lebih luas terutama dalam
hubungannya dengan tugas-tugas atau pekerjaan
sekolah. Sedangkan tes bakat khusus lebih mengungkap
bakat dalam lingkup lebih khusus, seperti bakat olahraga,
seni dan sebagainya.
Kekuatannya :
Tes ini dapat membantu siswa dalam mengarahkan studi
maupun memilih lapangan pekarjaan agar tidak gagal
dalam mencapainya.
Kelemahannya :
- Tes ini tidak dapat mengukur seluruh aspek
kemampuan siswa.
- Jangkauan penggunaannya sangat terbatas.
Contoh Tes Kemampuan belajar adalah :
- Tes berfikir verbal penalaran
- Tes berfikir penggolongan
- Tes kemampuan umum


12


- Tes perbendaharaan kata
- Tes penggunaan bahasa Indonesia
b. Tes menurut bentuk atau tipe-nya
1) Tes karangan atau uraian (Essay Test)
Adalah suatu tes yang memberi kesempatan siswa untuk
mengorgani-sasikan jawabannya secara bebas sesuai
dengan kemampuannya dengan bahasanya sendiri atas
sejumlah item yang relatif kecil dan tuntutan jawaban
yang benar, relevan, lengkap, dan berstruktur dan jelas.
2) Tes Objektif atau Objective Test
Adalah suatu tes yang telah menyediakan sejumlah
jawaban, sehingga jawaban tinggal memilih satu jawaban
benar dari sejumlah jawaban yang tersedia dari sejumlah
besar item.
Tes objektif dibedakan lagi menjadi :
(1) Bentuk Banar-Salah atau True-False test
(2) Bentuk pilihan ganda atau Multiple-choice test
(3) Bentuk menjodohkan atau Matching test
3) Tes Semi Objektif atau semi Karangan
Adalah tes yang memberi kesempatan kepada siswa
untuk menghasilkan jawabannya sendiri secara singkat
sesuai dengan kemampuannya dan bahasannya sendiri
atas sejumlah item yang relatif agak besar sehingga
jawaban dapat benar atau salah atau agak benar atau
agak salah. Tes ini dibedakan lagi menjadi :
(1) Tes jawaban singkat (short answer test)
(2) Tes melengkapi (completion test)


13

c. Tes menurut lamanya waktu pengukuran
1) Tes Kekuatan atau Power Test
Adalah suatu tes yang mengukur taraf kemampuan siswa
dalam batas waktu yang secukupnya. Akan tetapi yang
dipentingkan bukanlah kecepatan menjawab siswa.
2) Tes Kecepatan atau Speed Test
Adalah suatu tes di mana yang dipentingkan adalah
kecepatan menjawab, biasanya diukur dalam bentuk
banyaknya jumlah jawaban yang bisa diselesaikan dalam
suatu waktu yang tersedia.
d. Tes menurut kegunaannya
1) Tes Diagnostik
Adalah suatu tes yang digunakan untuk mengetahui
kekurangan-kekurangan siswa sehingga berdasarkan
kekurangan-kekurangan tersebut dapat dilakukan
pemberian perlakuan yang sesuai.
2) Tes Formatif
Adalah tes yang digunakan untuk mengukur sejauh mana
siswa telah menguasai bahan pelajaran, setelah mengikuti
suatu program kegiatan instruksional tertentu. Tes ini
diberikan pada akhir setiap program kegiatan
instruksional sebagai post-test. Dari hasil tes formatif
seorang siswa dapat mengetahui kelemahan dan
keunggulannya dalam menguasaan bahan pelajaran,
materi mana yang sudah dikuasai dan mana yang belum
dikuasai. Bagi guru dapat dijadikan masukan, sejauh
mana materi pelajaran dapat dikuasai siswa.



14


3) Tes Sumatif
Adalah tes yang dilaksanakan setelah pemberian
keseluru-han program dalam suatu kegiatan instruksional
pada suatu periode berakhir.
e. Tes menurut alat ekspresinya
1) Tes Non Verbal
Adalah tes perbuatan atau tindakan. Tes tindakan adalah
tes di mana jawabannya berbentuk perbuatan atau
tindakan yang diharapkan sesuai dengan perintah atau isi
itemnya.
2) Tes Verbal
Adalah tes yang mengungkapkan isi item dan jawabannya
memakai simbol bahasa baik yang mempunyai arti
maupun yang tidak, secara lisan atau tertulis.
f. Tes menurut jumlah siswa yang dilibatkan
1) Tes Individual (Individual Test)
Adalah suatu tes yang dilaksanakan hanya terbatas untuk
satu orang siswa pada saat tertentu.
2) Tes Kelompok (Group Test)
Adalah tes yang dilaksanakan lebih dari satu orang siswa
pada suatu saat dalam waktu yang bersamaan.
g. Tes menurut tingkat atau taraf mutunya
1) Tes Buatan Guru
Adalah suatu tes yang dibuat dan digunakan oleh seorang
guru sendiri di sekolah. Hasil tes buatan guru banyak
dipakai untuk mengetahui kedudukan prestasi belajar
siswa di kelas, kemajuannya dan sebagainya.

15

2) Tes Baku
Adalah suatu tes yang telah distandarisasikan atau yang
disusun secara cermat oleh seorang atau tim ahli
penyusun tes melalui uji coba berkali-kali, sehingga tes
tersebut telah memiliki mutu yang tinggi.

2. Teknik Non Tes
Alat pengukur non tes berupa rangkain pertanyaan atau
pernyataan yang harus dijawab secara sengaja dalam suatu
situasi yang kurang distandarisasikan dan yang dimaksudkan
untuk mengukur kemampuan atau hasil belajar yang dapat
diamati secara konkret dari individu atau kelompok.
Jenis-Jenis Alat Pengukur Non Tes
Berbagai alat pengukur non tes yang dimaksud antara
lain adalah observasi, catatan anekdota, daftar cek, skala nilai,
angket dan wawancara.
a. Observasi atau Pengamatan (observation)
Adalah suatu teknik pengamatan yang dilaksanakan secara
langsung atau tidak langsung dan secara teliti terhadap
suatu gejala dalam suatu situasi di suatu tempat.
1) Teknik pengamatan observasi secara langsung adalah
teknik pengamatan di mana seorang guru atau pengamat
mengadakan pengamatan secara langsung (tanpa
instrumen) terhadap gejala yang diamati.
2) Teknik pengamatan tak langsung adalah teknik
pengamatan yang menggunakan suatu instrumen
pengamatan.



16


b. Catatan anekdota atau Anecdotal Record
Adalah suatu catatan faktual dan seketika tentang peristiwa,
kejadian, gejala atau tingkah laku yang spesifik dan
menarik, yang dilakukan siswa secara individual atau
kelompok. Faktual artinya catatan dari pengamatan bukan
tafsiran, sedangkan seketika artinya segera setelah peristiwa
terjadi.
c. Daftar Cek atau Check List
Adalah sebuah daftar yang memuat sejumlah pernyataan
singkat, tertulis tentang berbagai gelaja, yang dimaksudkan
sebagai penolong pencatatan ada tidaknya sesuatu gejala
dengan cara memberi tanda cek (\) pada setiap pemunculan
gejala yang dimaksud. Daftar cek ini sedapat mungkin
memuat sebanyak mungkin pernyataan yang dapat diamati
yang terinci dan terumuskan secara operasional dan
spesifik.
d. Skala Nilai atau Rating Scale
Adalah sebuah daftar yang memuat sejumlah pernyataan,
gejala atau perilaku yang dijabarkan dalam bentuk skala
atau kategori yang bermakna nilai dari yang terendah
sampai yang tertinggi. Tugas penilai atau pengamat tinggal
memberi tanda cek (\) dalam kolom rentangan nilai.
e. Angket atau Quesioner
Adalah suatu daftar pertanyaan tertulis yang terinci dan
lengkap yang harus dijawab oleh responden tentang
pribadinya atau hal-hal yang diketahuinya. Melalui angket,
hal-hal tentang diri responden dapat diketahui. Misalnya
tentang keadaan, atau data dirinya seperti pengalaman,
sikap, minat, kebiasaan belajar dan sebagainya. Isi angket

17

dapat berupa pertanyaan-pertanyaan tentang responden.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dirumuskan sedemikian
rupa sehingga dapat diperoleh jawaban yang objektif. Juga
perlu dijalin kerjasama antara pemberi angket dan
responden melalui pengantar angket yang simpatik,
sehingga responden terdorong bekerja sama dan rela
mengisinya secara jujur.
Ditinjau dari cara menjawab pertanyaannya, angket dapat
dikelompokkan menjadi :
1) Angket terbuka atau tak berstruktur, adalah angket yang
disusun sedemikian rupa, sehingga responden secara
bebas dapat memberikan jawaban sesuai dengan
bahasanya sendiri.
2) Angket tertutup atau berstruktur, adalah angket yang
disusun sedemikian rupa, sehingga responden tinggal
memilih jawaban yang disediakan.
Ditinjau dari jawaban yang diberikan, angket dibagi menjadi:
a) Angket langsung, adalah angket yang dikirim kepada
responden dan langsung diisinya.
b) Angket tak langsung, adalah angket yang dikirim kepada
rsponden dan dijawab oleh orang yang bukan diminta
keterangannya. Jadi responden menjawab pertanyaan
tentang orang lain.
f. Wawancara atau Interview
Adalah suatu proses tanya jawab sepihak antara pewancara
(interviewer) dan yang diwawancarai (interviewee), yang
dilaksanakan sambil bertatap muka, baik secara langsung
maupun tidak langsung, dengan maksud memperoleh


18


memperoleh jawaban dari interviewee. Berdasarkan bentuk
pertanyaannya, maka wawancara dapat dibagi menjadi :
1) Wawancara dengan pertanyaan berstruktur atau tertutup.
Adalah suatu wawancara di mana pertanyaan-pertanyaan
dan kemungkinan jawaban-jawabannya telah disediakan
oleh interviewer, sehingga jawaban tingggal dikelompok-
kan kepada kemungkinan jawaban yang telah tersedia.
2) Wawancara dengan pertanyaan tak berstruktur atau
terbuka atau bebas.
Adalah suatu wawancara di mana pertanyaan-pertanyaan
yang disediakan memberi kebebasan interviewee untuk
menjawabnya atau mengemukakan pendapatnya.
3) Wawancara dengan pertanyaan bentuk kombinasi.
Adalah suatu wawancara di mana pertanyaan-pertanyaan
yang disediakan merupakan kombinasi antara pertanyaan
berstruktur dengan pertanyaan tak berstruktur.

C. Ciri-Ciri Instrumen yang baik
Sebuah instrumen yang dapat dikatakan baik sebagai alat
pengukur harus memenuhi persyaratan tes, yakni memiliki :
1. Validitas
Validitas merupakan sebuah kata benda, sedangkan kata
valid merupakan kata sifat. Sebuah data atau informasi
dapat dikatakan valid apabila sesuai dengan keadaan
senyataanya atau sesungguhnya. Sebuah tes disebut valid
apabila tes itu dapat tepat mengukur apa yang hendak
diukur.


19

2. Reliabilitas
Kata reliabilitas dalam bahasa Indonesia diambil dari kata
reliability dalam bahasa Inggris, berasal dari kata reliable
yang artinya dapat dipercaya. Sebuah tes dikatakan reliabel
apabila memberikan hasil yang tetap apabila di teskan
berkali-kali.
3. Objektivitas
Objektif berarti tidak adanya unsur pribadi yang
mempengaruhinya. Sebuah tes dikatakan memiliki
objektivitas apabila dalam melaksanakan tes tidak ada
faktor subjektif yang mempengaruhi.
4. Praktikabilitas (Practicability)
Sebuah tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi
apabila tes tersebut bersifat praktis, mudah pengadminis-
trasiannya. Tes yang praktis adalah tes yang mudah
dilaksanakan, mudah pemeriksaannya dan dilengkapi
dengan petunjuk-petunjuk yang jelas sehingga dapat
diberikan/diawali oleh orang lain.
5. Ekonomis
Yang dimaksud dengan ekonomis di sini adalah bahwa
pelaksanaan tes tidak membutuhkan ongkos/biaya yang
mahal, tenaga yang banyak dan waktu yang lama.













20


BAB III
VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN

A. Validitas
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa
dihadapkan pada masalah keakuratan sebuah informasi.
Informasi yang diterima manusia setiap hari sangat banyak
dengan sumber yang semakin beragam. Koran dan televisi
adalah dua sumber informasi utama saat ini. Dengan semakin
banyaknya sumber-sumber informasi yang senantiasa
berkembang, maka muncul sebuah pertanyaan mendasar
tentang sejauhmana informasi yang diperoleh tersebut dapat
dipercaya?
Dalam penelitian-penelitian, keakuratan informasi yang
diperoleh sangat mempengaruhi keputusan yang akan diambil.
Sayangnya, akurasi informasi dalam penelitian-penelitian sosial
tersebut tidak mudah diperoleh disebabkan sulitnya
mendapatkan operasionalisasi konsep mengenai variabel yang
hendak diukur. Untuk mengungkap aspek-aspek yang hendak
diteliti, maka diperlukan alat ukur yang baik dan berkualitas.
Alat ukur tersebut dapat berupa skala atau tes. Sebuah tes yang
baik sebagaimana disampaikan oleh Syaifuddin Azwar (2006 : 2)
harus memiliki beberapa kriteria antara lain valid, reliable,
standar, ekonomis dan praktis.
Dalam Standards for Educational and Psychological Testing
validitas adalah "... the degree to which evidence and theory
support the interpretation of test scores entailed by proposed uses
of tests " (1999:9). Sebuah tes dikatakan valid jika ia memang
mengukur apa yang seharusnya diukur (Allen & Yen, 1979: 95).
Dalam bahasa yang hampir sama Djemari Mardapi (2004:25)

21

menyatakan bahwa validitas adalah ukuran seberapa cermat
suatu tes melakukan fungsi ukurnya. Menurut Nitko &
Brookhart (2007: 38) kevalidan sebuah alat ukur tergantung
pada bagaimana hasil tes tersebut diinterpretasikan dan
digunakan. Dalam pandangan Samuel Messick (1989: 13)
validitas merupakan penilaian menyeluruh dimana bukti
empiris dan logika teori mendukung pengambilan keputusan
serta tindakan berdasarkan skor tes atau model-model penilaian
yang lain. Instrumen evaluasi dipersyaratkan valid agar hasil
yang diperoleh dari kegiatan evaluasi valid.

1. Macam-Macam Validitas
Di dalam buku Encyclopedia of Educational Evaluation
yang ditulis oleh Scarvia B. Anderson dan kawan-kawan
disebutkan A test is valid if it measures what it purpose to
measure, sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut
mengukur apa yang hendak diukur. Dalam bahasa Indonesia
va;id disebut dengan sahih. Secara garis besar validitas
dapat dibedakan menjadi :
a) Validitas Logis
Validitas logis mengandung kata logis berasal dari kata
logika yang berarti penalaran. Validitas logis untuk sebuah
instrumen evaluasi menunjuk pada kondisi bagi sebuah
instrumen yang memenuhi persyaratan valid berdasarkan
hasil penalaran. Validitas logis dapat dicapai apabila
instrumen disusun mengikuti ketentuan yang ada. Validitas
logis tidak perlu diuji kondisinya tetapi langsung diperoleh
sesudah instrumen tersebut disusun. Ada dua macam
validitas logis, yaitu validitas isi dan validitas konstrak.


22


b) Validitas Empiris
Validitas empiris mengandung kata empiris yang berarti
pengalaman. Sebuah instrumen dapat dikatakan memilki
validitas empiris apabila sudah diuji dari pengalaman.
Validitas empiris dibagi menjadi dua macam yaitu validitas
ada sekarang dan validitas predictive.
Dari pengelompokkan tersebut maka secara keseluruhan kita
mengenal empat macam validitas :
a) Validitas isi (content validity)
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur
tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi
pelajaran yang diberikan.
b) Validitas konstruksi (construct validity)
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruksi apabila
butir-butir soal yang membangun tes tersebut mengukur
setiap aspek berfikir seperti yang disebutkan dalam tujuan
pembelajaran.
c) Validitas ada sekarang (concurrent validity)
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas empiris jika hasilnya
sesuai dengan pengalaman. Pengalaman selalu mengenai hal
yang telah lampau sehingga data pengalaman tersebut
sekarang sudah ada.
d) Validitas prediksi (predictive validity)
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas prediksi atau
validitas ramalan apabila mempunyai kemampuan untuk
meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akan
datang.


23

2. Cara Menghitung Validitas Instrumen
Sebuah instrumen dikatakan memiliki validitas jika
hasilnya sesuai dengan kriterium, dalam arti memiliki
kesejajaran antara hasil tes tersebut dengan kriterium. Teknik
yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik
korelasi Product Moment yang dilakukan oleh Pearson.
Rumus korelasi product moment ada dua macam, yaitu :
a. Korelasi product moment dengan simpangan baku
b. Korelasi product moment dengan angka kasar

Rumus korelasi product moment dengan simpangan baku :




Dimana :
rxy = Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y, dua
variabel yang dikorelasikan (x = X - dan y = Y - )
= Jumlah perkalian x dengan y
x
2
= Kuadrat dari x
y
2
= Kuadrat dari y

Contoh perhitungan :
Misalnya akan menghitung validitas tes prestasi belajar biologi.
Sebagai kriterium diambil rata-rata ulangan yang akan dicari
validitasnya diberi kode X dan rata-rata nilai harian diberi
kode Y. Kemudian dibuat tabel persiapan sebagai berikut:





) )( (
2 2
y x
xy
xy
r

E
=
X
Y
xy



24


Tabel Persiapan untuk Mencari Validitas Tes Prestasi Belajar
Biologi
No. Nama X Y x y x
2
y
2
xy
1 Nadia 6,5 6,3 0,00 -0,08 0,00 0,01 0,0
2 Susi 7 6,8 0,50 0,42 0,25 0,16 0,2
3 Cecep 7,5 7,2 1,00 0,82 1,00 0,64 0,8
4 Eko 7 6,8 0,50 0,42 0,25 0,16 0,2
5 Dodik 6 7 -0,50 0,62 0,25 0,36 -0,3
6 Endi 6 6,2 -0,50 -0,18 0,25 0,04 0,1
7 Sarif 5,5 5,1 -1,00 -1,28 1,00 1,69 1,3
8 Agus 6,5 6 0,00 -0,38 0,00 0,16 0,0
9 Rina 7 6,5 0,50 0,12 0,25 0,01 0,06
10 Tina 6 5,9 -0,50 -0,48 0,25 0,36 0,240
Jumlah 65 63,8 3,5 3,59 2,60

=

= dibulatkan 6,4

Dimasukkan ke rumus :








= 0,733




X 5 , 6
10
65
N
X
= =

Y 38 , 6
10
63,8
N
Y
= =

) )( (
2 2
y x
xy
xy
r

E
=
565 , 12
6 , 2
) 59 , 3 )( 5 , 3 (
6 , 2
= =
xy
r
545 , 3
6 , 2
=

25

Rumus Korelasi product moment dengan angka kasar :




Dengan menggunakan data hasil tes prestasi belajar biologi di
atas, kita dapat menghitung dengan rumus korelasi product
moment dengan angka kasar, yang tabel persiapannya sebagai
berikut :
No. Nama X Y X2 Y2 XY
1 Nadia 6,5 6,3 42,25 39,69 40,95
2 Susi 7 6,8 49 46,24 47,6
3 Cecep 7,5 7,2 56,25 51,84 54
4 Eko 7 6,8 49 46,24 47,6
5 Dodik 6 7 36 49 42
6 Endi 6 6,2 36 38,44 37,2
7 Sarif 5,5 5,1 30,25 26,01 28,05
8 Agus 6,5 6 42,25 36 39
9 Rina 7 6,5 49 42,25 45,5
10 Tina 6 5,9 36 34,81 35,4
Jumlah 65 63,8 426 410,52 417,3

Dimasukkan ke dalam rumus :










| || |
2 2 2 2
) ( ) (
) )( (
Y Y N X X N
Y X XY N
r
XY
E E E E
E E E
=
{ }{ }
2 2 2 2
) ( ) (
) )( (
Y Y N X X N
Y X XY N
r
XY
E E E E
E E E
=
{ }{ } 4070,44 410,52 x 10 4225 426 x 10
63,8) x (65 417,3 x 10


=
XY
r
{ }{ } 4070,44 4105,2 4225 4260
4147 4173


=
34,76 x 35
26
=


26




= 0,745

Jika dibandingkan dengan validitas yang dihitung dengan
rumus simpangan baku terdapat perbedaan, namun ini wajar
karena adanya pembulatan angka dalam perhitungan,
perbedaan ini sangat kecil sehingga dapat diabaikan.
Koefisien korelasi selalu pada angka kisaran antara -1,00
sampai +1,00. Koefosien negatif menunjukkan hubungan
kebalikan sedangkan koefisien positif menujukkan hubungan
kesejajaran atau searah. Interpretasi mengenai besarnya
koefisien korelasi adalah sebagai berikut :
Koefisien korelasi 0,800 1,00 = sangat tinggi
Koefisien korelasi 0,600 0,800 = tinggi
Koefisien korelasi 0,400 0,600 = cukup
Koefisien korelasi 0,200 0,400 = rendah
Koefisien korelasi 0,000 0,200 = sangat rendah
Penafsiran harga koefisien korelasi ada dua cara yaitu :
1. Dengan melihat harga koefisien korelasi ( r ) dan diinterpre-
tasikan, misalnya korelasi tinggi, cukup dan sebagainya.
2. Dengan dikonsultasikan dengan tabel r product moment
sehingga dapat diketahui signifikan tidaknya atau valid
tidaknya korelasi tersebut. Jika harga r hitung > r tabel,
maka signifikan atau valid. Jika r hitung < r tabel, maka tidak
signifikan atau tidak valid.



8797 , 34
26
=

27

3. Cara Menghitung Validitas Butir Soal atau Validitas Item
Apa yang sudah dibicarakan di atas adalah validitas soal
secara keseluruhan tes. Di samping itu perlu juga mencari
validitas item atau validitas untuk masing-masing butir soal.
Sebuah item dikatakan valid apabila mempunyai dukungan
yang besar terhadap skor total. Skor item menyebabkan tinggi
rendahnya skor total.
Untuk soal-soal bentuk objektif skor untuk item biasa
diberikan dengan angka 1 (item yang dijawab benar) dan angka
0 (item yang dijawab salah), sedangkan skor total merupakan
jumlah dari skor untuk semua item yang membangun soal
tersebut.
Contoh perhitungan:
Tabel Analisis Item untuk Perhitungan Validitas Item
No. Nama
Butir Soal/Item Skor
Total
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Nadia 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 8
2 Susi 0 0 1 0 1 0 0 1 1 1 5
3 Cecep 0 1 0 0 0 1 0 1 0 1 4
4 Eko 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 5
5 Dodik 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 6
6 Endi 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 4
7 Sarif 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 7
8 Agus 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 8
Misalnya akan dihitung validitas item nomor 6, maka skor item
tersebut disebut variabel X dan skor total disebut Y. Setelah
dilakukan perhitungan maka diperoleh data sebagai berikut :
EX = 6
EY = 46
EXY = 37
EX
2
= 6
EY
2
= 288


28


Kemudian dimasukkan ke dalam rumus korelasi product
moment angka kasar :












= 0,421

Dari perhitungan tersebut di atas maka diperoleh validitas item
nomor 6 adalah 0,421. Untuk mengambil keputusan angka
tersebut dikonsultasikan dengan tabel r (product moment). Dari
tabel r pada df 8 diperoleh angka 0,707. Oleh karena r hitung =
0,421 < r tabel = 0,707, maka item nomor 6 tidak valid.

B. Reliabilitas
Reliabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability
yang mempunyai asal kata rely dan ability. Pengukuran yang
memiliki reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang
reliabel. Reliabilitas mempunyai berbagai makna lain seperti
keterpercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan, konsistensi
dan sebagainya, namun ide pokok yang terkandung dalam
konsep reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran
{ }{ }
2 2 2 2
) ( ) (
) )( (
Y Y N X X N
Y X XY N
r
XY
E E E E
E E E
=
{ }{ }
2 2
XY
46 288 x 8 6 6 x 8
46) x (6 37 x 8
r


=
{ }{ } 2116 2304 36 48
276 296


=
188 x 12
20
=
497 , 47
20
=

29

dapat dipercaya. Sedangkan suatu instrumen dikatakan reliabel
(andal) jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah
konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.
Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui konsistensi
alat ukur, apakah alat pengukur yang digunakan dapat
diandalkan dan tetap konsisten jika pengukuran tersebut
diulang.

1. Cara Menghitung Reliabilitas Instrumen
Rumus yang digunakan untuk mencari reliabilitas dan
banyak digunakan orang ada dua rumus yang dikemukakan
oleh Kuder dan Richardson, yaitu K-R. 20 dan K-R. 21.

Contoh perhitungan :
a. Penggunaan rumus K-R.20


Rumus


dimana : r11 = reliabilitas tes secara keseluruhan
p = proporsi subjek yang menjawab item dengan
benar
q = proporsi subjek yang menjawab item dengan
salah (q = 1 p )
Epq = jumlah perkalian antara p dan q
N = banyaknya item
S = standar deviasi (standar deviasi adalh akar
varians)

|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|

=
2
2
11
S
pq S
1 n
n
r


30


Tabel Perhitungan Mencari Reliabilitas Tes dengan K-R.20
No.
Nama
Resp.
Nomor item Skor
total
1 2 3 4 5 6 7
1 Nadia 1 0 1 1 1 1 0 5
2 Susi 0 1 1 0 1 1 1 5
3 Cecep 0 0 0 0 1 0 1 2
4 Eko 0 1 1 1 1 1 1 6
5 Dodik 1 0 0 0 1 0 0 2
6 Endi 0 1 1 1 1 0 0 4
7 Sarif 0 0 0 1 1 1 0 3
8 Agus 0 1 0 1 1 0 0 3
9 Rina 0 1 0 1 1 0 0 3
10 Tina 0 0 0 1 1 0 0 2





np 2 5 4 7 10 4 3 35
p 0,2 0,5 0,4 0,7 1 0,4 0,3
q 0,8 0,5 0,6 0,3 0 0,6 0,7
pq 0,16 0,25 0,24 0,21 0 0,24 0,21 1,31
S 1,433

Dari tabel di atas kemudian dimasukkan ke dalam rumus
K-R.20












= 0,422 dibulatkan 0,422
b. Penggunaan rumus K-R.21
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|

=
2
2
11
S
pq S
1 n
n
r
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|

=
2
2
1,433
1,31 1,433
1 7
7
2,053
1,31 - 2,053
x 1,17 =
2,053
0,743
x 1,17 =
0,361 x 1,17 =

31

(

=
2
t
2
b
11

1
1 k
k
r


Rumus


Dimana : M = Mean atau rata-rata skor total

Maka :





= 1,17 x 0,149

= 0,17433 dibulatkan 0,174

c. Penggunaan rumus Alpha Cronbachs


Rumus


Keterangan :
r11 : Reliabilitas instrumen
k : Banyaknya item pertanyaan
o
2
b : Jumlah varian butir
o
2
t : Varian total


Tabel Perhitungan Mencari Reliabilitas Tes dengan Alpha Cronbachs
|
|
.
|

\
|

|
.
|

\
|

=
2
t
11
nS
) M (n M
1
1 n
n
r
|
.
|

\
|

|
.
|

\
|

=
2,056 x 7
) 3,5 (7 3,5
1
1 7
7
r
11
|
.
|

\
|
=
14,392
3,5 x 3,5
1 x 1,17
( ) 851 , 0 1 x 1,17 =


32


(

=
2
t
2
b
11

1
1 k
k
r
(

=
27,556
8,467
1
1 10
10
r
11
| | 3073 , 0 1
9
10

=
0,6927 x 1,11 =
No. Nama
Skor item
Skor
Total
Kuadrat
Skor
Total 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 A
2 3 3 3 4 4 3 3 4 2 31 961
2 B
3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30 900
3 C
3 3 3 4 2 3 2 2 2 2 26 676
4 D
3 5 3 3 3 3 3 2 2 2 29 841
5 E
3 3 4 4 4 4 3 3 2 2 32 1024
6 F
3 4 3 4 3 2 3 3 3 3 31 961
7 G
2 4 4 5 5 4 4 3 5 2 38 1444
8 H
4 5 3 4 4 5 5 5 4 4 43 1849
9 I
2 3 3 3 2 1 4 4 2 2 26 676
10 J
2 3 3 5 5 1 4 4 5 2 34 1156
Jumlah 27 36 32 38 35 30 34 32 32 24 320 10488
Jumlah
kuadrat
784 1444 1225 1764 1600 1296 1681 1600 1681 1156 o
2
t
= 27,556
o
2
0,46 0,71 0,18 0,62 1,17 1,78 0,71 0,84 1,51 0,49
Eo
2
= 8,467

Dari tabel tersebut kemudian dimasukkan ke dalam rumus
Alpha Cronbachs:









= 0,76





BAB IV

33

MENGANALISIS HASIL TES

A. Menilai Tes yang Dibuat Sendiri
Tidak ada usaha yang lebih baik selain untuk selalu
meningkatkan mutu tes yang disusunnya. Namun hal ini tidak
dilaksanakan karena kecenderungan seseorang untuk
beranggapan bahwa hasil karyanya adalah yang terbaik atau
setidak-tidaknya sudah cukup baik.
Guru yang sudah banyak berpengalaman mengajar dan
menyusun soal-soal tes, juga masih sukar menyadari bahwa
tesnya masih belum sempurna. Oleh karena itu, cara yang
paling baik adalah secara jujur melihat hasil yang diperoleh oleh
siswa.
Secara teoritis, siswa dalam satu kelas merupakan populasi
atau kelompok yang keadaannya heterogen. Dengan demikian,
maka apabila dikenai sebuah tes akan tercermin hasilnya dalam
suatu kurva normal. Sebagian besar siswanya di daerah sedang,
sebagian kecil berada di sebelah ekor kiri dan sebagian yang
lain berada di ekor kanan kurva.
Apabila keadaan setelah hasil tes dianalisis tidak seperti
yang diharapkan dalam kurva normal, maka tentu ada apa-
apa dengan soal tesnya. Apabila hampir seluruh siswanya
memperoleh skor jelek, berarti bahwa tes yang disusun
mungkin terlalu sukar, dan sebaliknya.

Ada 4 cara untuk menilai tes, yaitu :
1. Meneliti secara jujur soal-soal yang sudah disusun :
- Apakah banyaknya soal untuk tiap topik sudah seimbang?
- Apakah semua soal menanyakan bahan yang telah
diajarkan?


34


- Apakah soal yang kita susun tidak merupakan pertanyaan
yang membingungkan (dapat disalahtafsirkan)?
- Apakah soal itu tidak sukar untuk dimengerti?
- Apakah soal itu dapat dikerjakan oleh sebagian besar
siswa?
2. Mengadakan analisis soal (item analysis)
Analisis soal adalah suatu prosedur yang sistematis, yang
akan memberikan informasi-informasi yang sangat khusus
terhadap butir tes yang kita susun.
3. Mengadakan checking validitas
4. Mengadakan checking reliabilitas
Salah satu indikator untuk tes yang mempunyai reliabilitas
yang tinggi adalah bahwa kebanyakkan dari soal-soal tes itu
mempunyai daya pembeda yang tinggi.

B. Analisis Butir Soal (Item Analysis)
Kapan sebuah soal dikatakan baik ? untuk memberikan
jawaban terhadap pertanyaan ini, perlu diterangkan tiga
masalah yang berhubungan dengan analisis soal, yaitu taraf
kesukaran, daya pembeda dan pola jawaban soal.
1. Taraf Kesukaran
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau
tidak terlalu sukar. Bilangan yang menunjukkan sukar dan
mudahnya suatu soal disebut indeks kesukaran (difficulty
index). Besarnya indeks kesukaran antara 0,00 sampai 1,0.
Indeks kesukaran ini menunjukkan taraf kesukaran soal. Soal
dengan indeks kesukaran 0,0 menunjukkan bahwa soal itu
terlalu sukar, sebaliknya indeks 1,0 menunjukkan bahwa
soalnya terlalu mudah.

35

0,0 1,0
sukar mudah
Di dalam istilah evaluasi, indeks kesukaran ini diberi simbol P
singkatan dari Proporsi. Rumus mencari P adalah :







Menurut ketentuan yang sering diikuti, indeks kesukaran sering
diklasifikasikan sebagai berikut :

- Soal dengan P = 0,00 sampai 0,30 adalah soal sukar
- Soal dengan P = 0,30 sampai 0,70 adalah soal sedang
- Soal dengan P = 0,71 sampai 1,00 adalah soal mudah

Walaupun demikian ada yang berpendapat bahwa soal-soal
yang dianggap baik, yaitu soal-soal sedang yaitu soal-soal yang
mempunyai indeks kesukaran 0,30 0,70. Perlu diketahui
bahwa soal-soal yang terlalu mudah atau terlalu sukar tidak
berarti tidak boleh digunakan. Hai ini tergantung kegunaannya.







JS
B
P =
dimana :
P = Indeks kesukaran
B = banyaknya siswa yang menjawab
soal itu dengan benar
JS = jumlah seluruh siswa peserta tes



36


Contoh perhitungan :
Tabel Analisis Item untuk Tingkat Kesukaran
No.
Nomor Soal
Skor
total
1 2 3 4 5 6 7
1 1 0 1 1 1 1 0 5
2 0 1 1 0 1 1 1 5
3 0 0 0 0 1 0 1 2
4 0 1 1 1 1 1 1 6
5 1 0 0 0 1 0 0 2
6 0 1 1 1 1 0 0 4
7 0 0 0 1 1 1 0 3
8 0 1 0 1 1 0 0 3
9 0 1 0 1 1 0 0 3
10 0 0 0 1 1 0 0 2
B 2 5 4 7 10 4 3

P 0,20 0,50 0,40 0,70 1,00 0,40 0,30
Kriteria sukar sedang sedang sedang mudah sedang sukar

2. Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan soal untuk
membedakan antara siswa yang pandai (kemampuan tinggi)
dengan siswa yang bodoh (kemampuan rendah). Angka yang
menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks
diskriminasi, disingkat D. Indeks diskriminasi berkisar antara
0,00 sampai 1,00. Bedanya dengan indeks kesukaran adalah
kalai indeks kesukaran tidak mengenal tanda negatif (-), tapi
pada indeks diskriminasi ada tanda negatif. Tanda negatif
digunakan jika sesuatu soal terbalik menunjukkan kualitas
teste. Yaitu anak pandai disebut bodoh dan anak bodoh disebut
pandai. Dengan demikian ada tiga titik pada daya pembeda,
yaitu :
-1,00 0,00 1,00
D = negatif D = Rendah D = Tinggi


37

Untuk suatu soal yang dapat dijawab benar oleh siswa
pandai maupun siswa bodoh, maka soal itu tidak baik karena
tidak mempunyai daya pembeda. Demikian pula jika semua
siswa baik yang pandai maupun yang bodoh tidak dapat
menjawab dengan benar, maka soal tersebut tidak baik juga,
karena tidak mempunyai daya pembeda. Soal yang baik adalah
soal yang dapat dijawab benar oleh siswa-siswa yang pandai
saja.
Seluruh pengikut tes dikelompokkan menjadi 2 kelompok,
yaitu kelompok pandai atau kelompok atas (upper group) dan
kelompok bodoh atau kelompok bawah (lower group).
Jika seluruh kelompok atas dapat menjawab soal tersebut
dengan benar, sedang seluruh kelompok bawah menjawab
salah, maka soal tersebut mempunyai D paling besar, yaitu 1,00
Sebaliknya jika semua kelompok atas menjawab salah, tetapi
semua kelompok bawah menjawab benar, maka nilai D = -1,00.
Tetapi jika siswa kelompok atas dan siswa kelompok bawah
sama-sama menjawab benar atau sama-sama menjawab salah,
maka soal tersebut mempunyai nilai D = 0,00, karena tidak
mempunyai pembeda sama sekali.

Cara menentukan daya pembeda
Untuk ini perlu dibedakan antara kelompok kecil (kurang dari
100) dan kelompok besar (100 orang ke atas).
a. Untuk kelompok kecil
Seluruh kelompok tes dibagi dua sama besar, 50% kelompok
atas dan 50% kelompok bawah.




38


Contoh :
Siswa Skor
A
9
B 8
C
7
D 7
E 6
F
5
G 5
H
4
I 4
J 3

Seluruh pengikut tes diurutkan mulai dari skor tertinggi
sampai terendah, lalu dibagi 2.

b. Untuk kelompok besar
Untuk kelompok besar biasanya hanya diambil kedua
kutubnya saja, yaitu 27% skor teratas sebagai kelompok atas
(JA) dan 27% skor terbawah sebagai kelompok bawah (JB)
JA = Jumlah kelompok atas
JB = Jumlah kelompok bawah
Contoh :
Skor
9
9
8
8
8
7
7
.
.
.
.
.
Kelompok atas ( JA)
Kelompok bawah ( JB)
27% sebagai JA

39

.
.
.
.
5
5
4
4
3
3
2

Rumus mencari D
Rumus untuk menentukan indeks diskriminasi adalah :



Dimana :
J = Jumlah peserta tes
JA = Banyaknya peserta kelompok atas
JB = Banyaknya peserta kelompok bawah
BA = Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab
dengan benar
BB = Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab
benar
PA = = Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab
benar
PB = = Proporsi peserta kelompok bawah yang menja-
wab benar




27% sebagai JB
B A
B
B
A
A
P P
J
B
J
B
D = =
A
A
J
B
B
B
J
B


40


Contoh perhitungan :
Tabel Analisis Item untuk Daya Pembeda
No. Siswa Kelompok
Nomor soal
Skor
total
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 A B 1 0 1 0 0 0 1 1 1 0 5
2 B A 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 7
3 C A 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 8
4 D B 0 0 1 0 0 1 1 1 1 0 5
5 E A 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10
6 F B 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 6
7 G B 0 1 0 0 0 1 1 1 1 1 6
8 H B 0 1 1 0 0 1 0 1 1 1 6
9 I A 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 8
10 J A 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 7
11 K A 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 7
12 L B 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 5
13 M B 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 3
14 N A 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 7
15 O A 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 9
16 P B 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 3
17 Q A 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 8
18 R A 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 8
19 S B 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 6
20 T B 0 1 0 1 0 1 1 1 1 0 6
B
A
8 8 8 6 5 9 9 8 10 8
P
A
0,8 0,8 0,8 0,6 0,5 0,9 0,9 0,8 1 0,8
B
B
3 7 4 2 1 7 6 9 10 2
P
B
0,3 0,7 0,4 0,2 0,1 0,7 0,6 0,9 1 0,2
D 0,50 0,10 0,40 0,40 0,40 0,20 0,30 -0,10 0,00 0,60

Klasifikasi daya pembeda :
D = 0,00 0,20 = jelek (poor)
D = 0,20 0,40 = cukup (satisfactory)
D = 0,40 0,70 = baik (good)
D = 0,70 1,00 = baik sekali (exellent)
D = negatif (-) semua tidak baik, jadi semua butir soal yang
mempunyai nilai D negatif sebaiknya didrop atau dibuang saja.


41

BAB V
MENSKOR DAN MENILAI

A. Menskor
Sementara orang berpendapat bahwa bagian yang paling
penting dari pekerjaan pengukuran dengan tes adalah
penyusunan tes. Jika alat tesnya sudah disusun sebaik-baiknya
maka anggapannya sudah tercapailah sebagian besar dari
maksudnya. Tentu saja anggapan itu tidak benar. Penyusunan
tes baru merupakan satu bagian dari serentetan pekerjaan
mengetes.
Di samping penyusunan dan pelaksanaan tes itu sendiri,
menskor dan menilai merupakan pekerjaan yang menuntut
ketekunan yang luar biasa dari penilai, ditambah dengan
kebijaksanaan-kebijaksanaan tertentu. Nama lain menskor
adalah memberi angka.
Dalam pekerjaan menskor atau memberi angka, dapat
digunakan 3 macam alat bantu yaitu :
a. Alat bantu untuk menentukan jawaban yang benar, disebut
kunci jawaban.
b. Alat bantu untuk menyeleksi jawaban jawaban yang benar
dan yang salah, disebut kunci skoring.
c. Alat bantu untuk menentukan angka, disebut pedoman
penilaian.

1. Kunci jawaban dan kunci pemberian skor untuk tes
bentuk Betul-Salah
Untuk tes bentuk betul-salah (true-false) yang dimaksud
dengan kunci jawaban adalah sederetan jawaban yang kita


42


persiapkan untuk pertanyaan-pertanyaan atau soal-soal yang
kita susun, sedangkan kunci skoring adalah alat yang kita
gunakan untuk mempercepat pekerjaan skoring.
Oleh karena dalam hal ini testee (tercoba) hanya diminta
melingkari huruf B atau S maka kunci jawaban yang disediakan
hanya berbentuk urutan nomor serta huruf dimana kita
menghendaki untuk melingkari atau dapat juga diberi tanda X.
Misalnya :
1. B 6. S
2. S 7. B
3. S 8. S
4. B 9. S
5. B 10. B

Ada baiknya kunci jawaban ini ditentukan terlebih dahulu
sebelum menyusun soalnya, agar :
Pertama : dapat diketahui imbangan antara jawaban B dan S
Kedua : dapat diketahui letak atau jawaban B dan S
Bentuk soal betul-salah sebaiknya disusun sedemikian
rupa sehingga jumlah jawaban B hampir sama banyaknya
dengan jawaban S, dan tidak dapat ditebak karena tidak
diketahui pola jawabannya. Kunci jawaban untuk tes bentuk ini
dapat diganti kunci skoring (scoring key) yang pembuatannya
melalui langkah-langkah sebagai berikut:






43

Langkah 1 :
Menentukan letak jawaban yang betul
Misalnya :
1. B S 6. B S
2. B S 7. B S
3. B S 8. B S
4. B S 9. B S
5. B S 10. B S

Langkah 2 :
Melubangi tempat-tempat lingkaran sedemikian rupa sehingga
lingkaran tang dibuat oleh testee dapat terlihat:
Catatan :
Dengan cara ini bahwa lubang yang terlalu kecil berakibat
tertutupnya jawaban testee, sedangkan lubang yang terlalu
besar akan saling memotong.
Oleh karena itu, cara menjawab dengan memberi tanda
silang akan lebih baik dari pada melingkari. Dengan demikian
maka tanda yang dibuat testee akan tampak jelas seperti
terlihat pada contoh berikut:
1. B S 6. B S
2. B S 7. B S
3. B S 8. B S
4. B S 9. B S
5. B S 10. B S

Dalam menentukan angka (skor) untuk tes bentuk B-S ini
kita dapat menggunakan rumus tanpa hukuman, yaitu
banyaknya angka yang dijawab dengan benar sesuai kunci
X
X
X
X
X
Dengan cara ini terlihat ada 5
jawaban yang tepat


44


jawaban. Sedangkan dengan hukuman (karena diragukan
adanya unsur tebakan) yaitu dengan rumus :
Rumus : S = R W

Dimana :
S = Score
R = Right
W = Wrong
Skor yang diperoleh siswa sebanyak jumlah soal yang
benar dikurangi dengan jumlah soal yang salah.
2. Kunci jawaban dan kunci pemberian skor untuk tes
bentuk pilihan ganda (multiple choice)

Dengan tes pilihan ganda, testee diminta melingkari salah
satu huruf di depan pilihan jawaban yang disediakan atau
dengan memberi tanda silang (X) pada tempat yang sesuai di
lembar jawaban. Dalam hal menentukan kunci jawaban untuk
bentuk ini langkahnya sama dengan soal bentuk betul-salah.
Hanya untuk soal yang jumlahnya lebih dari 30 buah sebaiknya
menggunakan lembar jawaban dan nomor-nomor urutannya
dibuat sedemikian rupa sehingga tidak memakan tempat.
Misalnya sebagai berikut :
1. A B C D 11. A B C D
2. A B C D 12. A B C D
3. A B C D 13. A B C D
4. A B C D 14. A B C D
5. A B C D 15. A B C D
6. A B C D 16. A B C D
7. A B C D 17. A B C D
8. A B C D 18. A B C D
9. A B C D 19. A B C D
10. A B C D 20. A B C D
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X

45

Dalam menentukan angka untuk tes bentuk pilihan ganda,
juga dikenal 2 macam cara, yakni tanpa hukuman dan dengan
hukuman. Tanpa hukumna apabila banyaknya angka dihitung
dari banyaknya jawaban yang cocok dengan kunci jawaban.
Dengan hukuman menggunakan rumus :






Contoh :
- Banyaknya soal = 20
- Banyaknya yang betul = 14
- Banyaknya yang salah = 6
- Banyaknya pilihan = 4
Maka skornya adalah :




= 14 2
= 12
3. Kunci jawaban dan kunci pemberian skor untuk tes
bentuk jawaban singkat (short answer test)

Tes jawaban singkat adalah bentuk tes yang menghendaki
jawaban berbentuk kata atau kalimat. Melihat namanya, maka
jawaban untuk tes tersebut tidak boleh berbentuk kalimat
panjang, tetapi harus sesingkat mungkin dan mengandung satu
1) - (n
(W)
R S =
Dimana :
S = Score
R = Right
W = Wrong
n = Banyaknya pilihan jawaban
1) - (n
(W)
R S =
1) - (4
6
14 =


46


pengertian. Dengan persyaratan inilah maka bentuk tes ini
dapat digolongkan ke dalam bentuk tes objektif. Tes bentuk
isian dianggap setara dengan tes jawaban singkat.
Kunci jawaban tes bentuk ini merupakan deretan jawaban
sesuai dengan nomornya.
Contoh :
1. Respirasi
2. Fotosintesis
3. Sel
4. Kloroplas
5. Karbondioksida
Bagaimana kunci pemberian skornya ?
Sebaiknya tiap soal diberi angka 2 (dua). Dapat juga angka
itu disamakan dengan angka pada bentuk betul-salah atau
pilihan ganda jika memang jawaban yang diharapkannya ringan
atau mudah. Tetapi sebaliknya apabila jawabannya bervariasi
misalnya lengkap sekali, lengkap dan kurang lengkap, maka
angkanya dapat dibuat bervariasi pula misalnya 2, 1,5 dan 1.

4. Kunci jawaban dan kunci pemberian skor untuk tes
bentuk menjodohkan (matching)
Pada dasarnya tes bentuk menjodohkan adalah tes bentuk
pilihan ganda, dimana jawaban-jawaban dijadikan satu,
demikian pula pertanyaan-pertanyaannya. Dengan demikian,
maka pilihan jawabannya akan lebih banyak. Satu kesulitan
lagi adalah bahwa jawaban yang dipilih dibuat sedemikian rupa
sehingga jawaban yang satu tidak diperlukan bagi pertanyaan
lain.

47

Kunci jawaban tes bentuk menjodohkan dapat berbentuk
sederetan jawaban yang dikehendaki atau deretan nomor yang
diikuti oleh huruf-huruf yang terdapat di depan alternatif
jawaban.
Contoh :






Karena soal bentuk menjodohkan adalah tes bentuk pilihan
ganda yang lebih kompleks. Maka angka yang diberikan sebagai
imbalan juga harus lebih banyak. Misalnya angka untuk tiap
nomor adalah 2 (dua).

5. Kunci jawaban dan kunci pemberian skor untuk tes
bentuk uraian (essay test)

Sebelum menyusun sebuah tes uraian sebaiknya kita
tentukan terlebih dahulu pokok-pokok jawaban yang kita
kehendaki. Dengan demikian, maka akan mempermudah kita
dalam mengoreksi tes tersebut.
Tidak ada jawaban yang pasti terhadap tes bentuk uraian
ini. Jawaban yang kita peroleh akan sangat beraneka ragam.
Langkah-langkah yang mesti kita lakukan pada waktu kita
mengoreksi dan memberi angka tes bentuk uraian adalah
sebagai berikut :
a. Membaca jawaban soal pertama dari seluruh jawaban siswa.
Dengan membaca seluruh jawaban, kita dapat memperoleh
1. Ribosom
2. Badan golgi
3. Membran sel
4. Retikulum endoplasma
5. Lisosom
1. f
2. b
3. d
4. a
5. c
atau



48


gambaran lengkap tidaknya jawaban siswa secara
keseluruhan.
b. Menentukan angka skor jawaban untuk soal pertama.
Misalnya jika jawabannya lengkap dan benar diberi angka 5,
kurang sedikit diberi angka 4, dan seterusnya hingga jawaban
yang paling minim, yaitu jika jawabannya meleset atau sama
sekali tidak benar. Dan jika tidak ada jawabannya (kosong)
kita beri angka 0.
c. Memberikan angka bagi soal pertama untuk seluruh jawaban
siswa.
d. Mengulangi langkah-langkah tersebut untuk soal kedua dan
seterusnya hingga selesai.
e. Menjumlahkan angka-angka yang diperoleh oleh masing-
masing siswa.

6. Kunci jawaban dan kunci pemberian skor untuk tugas
Kunci jawaban untuk memeriksa tugas merupakan pokok-
pokok yang harus termuat di dalam pekerjaan siswa. Hal ini
menyangkut kriteria tentang isi tugas. Namun sebagai
kelengkapan dalam pemberian skor digunakan suatu tolok ukur
tertentu.
Tolok ukur yang disarankan sebagai ukuran keberhasilan
tugas adalah :
a. Ketepatan waktu penyerahan tugas.
b. Bentuk fisik pengerjaan tugas yang menandakan keseriusan
mahasiswa dalam mengerjakan tugas.
c. Sistematika yang menunjukkan keruntutan pikiran.
d. Kelengkapan isi menyangkut ketuntasan penyelesaian dan
kepadatan isi.

49

e. Mutu hasil tugas, yaitu kesesuaian hasil dengan garis-garis
yang sudah ditentukan oleh guru/dosen.
Dalam mempertimbangkan nilai akhir perlu dipikirkan
peranan masing-masing aspek kriteria tersebut, misalnya :
A1 = Ketepatan waktu, diberi bobot 2
A2 = Bentuk fisik, diberi bobot 1
A3 = Sistematika, diberi bobot 3
A4 = Kelengkapan isi, diberi bobot 3
A5 = Mutu hasil tugas, diberi bobot 3
Maka nilai akhir untuk tugas tersebut diberikan dengan
rumus :



B. Menilai
Yang dimaksud dengan menilai ialah kegiatan mem-
bandingkan hasil pengukuran (skor) sifat suatu objek dengan
acuan yang relevan sedemikian rupa sehingga diperoleh suatu
kualitas yang bersifat kuantitatif.
Sebagai hasil penilaian sifat suatu objek berupa kualitas
yang bersifat kuantitatif yang diberi simbol agar lebih dipahami.
Simbol yang dipakai dalam penilaian untuk menyatakan nilai
tersebut dapat berupa angka dan huruf.
1. Simbol angka : Skala 0 s/d 4; 1 s/d 4; 1 s/d 100
Arti simbol angka antara lain :
1 = amat buruk
2 = buruk
3 = amat kurang
4 = kurang
5 = tidak cukup
12
A x 3 A x 3 A x 3 A x 1 A x 2
NAT
5 4 3 2 1
+ + + +
=


50


6 = cukup
7 = lebih cukup
8 = baik
9 = amat baik
10 = istimewa
2. Simbol huruf : E; D; C; B; A
Arti simbol huruf antara lain :
E = gagal
D = kurang/meragukan
C = cukup
B = baik
A = amat baik

Ada kesan penggunaan simbol angka lebih luwes dari pada
simbol huruf, karena angka memungkinkan untuk dijumlah-
kan, dikurangkan, dikalikan, dibagikan dan sebagainya.
Sehingga dapat diolah untuk keperluan-keperluan lain seperti
mean, standar deviasi korelasi dan sebagainya. Selain itu
rentangan nilai dengan simbol angka lebih luas dari pada
simbol huruf, sehingga dapat mewakili perbedaan kuantitatif
secara lebih rinci sesuai dengan berbagai tingkat perkembangan
pada siswa.

C. Perbedaan antara Skor dan Nilai
Sebelum melakukan pengolahan dan konversi data hasil
penilaian (mengubah data skor mentah hasil tes belajar menjadi
nilai standar) terlebih dahulu harus dibedakan pengertian skor
dan nilai. Pada umumnya antara skor dan nilai dianggap
mempunyai pengertian yang sama, padahal keduanya mempu-
nyai arti yang berbeda.

51

Skor : Adalah hasil pekerjaan menyekor (memberi angka) yang
diperoleh dengan menjumlahkan angka-angka bagi
setiap soal tes yang dijawab betul oleh siswa.
Nilai : Adalah angka atau huruf ubahan dari skor yang sudah
dijumlahkan dengan menggunakan acuan tertentu,
yakni acuan norma dan acuan patokan atau standar.
Nilai pada dasarnya merupakan angka atau huruf yang
menggambarkan seberapa tinggi/besar tingkat ketercapaian
kompetensi, juga melambangkan penghargaan yang diberikan
seorang guru kepada peserta didik.


























52


BAB VI
MENGOLAH NILAI

A. Beberapa Skala Penilaian
1. Skala Bebas
Skala bebas adalah skala yang tidak tetap, Adakalanya skor
tertinggi 20, lain kali 25, 50 dan yang lainnya. Semua
tergantung dari banyak dan bentuk soal. Jadi angka tertinggi
dan skala yang digunakan tidak selalu sama.
2. Skala 1 10
Pada umumnya para guru cenderung menggunakan skala 1
10 dalam memberikan penilaian terhadap siswa. Ini berarti
bahwa siswa yang mendapat nilai 10 adalah nilai yang
tertinggi.
3. Skala 1 100
Dengan menggunakan skala 1 10 maka bilangan bulat yang
ada masih menunjukkan penilaian yang agak kasar.
Sebenarnya ada hasil prestasi yang berada di antara kedua
angka bulat itu. Untuk itulah maka dengan menggunakan
skala 1 100 dimungkinkan melakukan penilaian yang lebih
halus karena terdapat 100 bilangan bulat. Misalnya angka
6,4 dalam skala 1 10 biasanya dibulatkan menjadi 6, tetapi
dalam skala 1 100 angka ini dituliskan angka bulat 64.
4. Skala huruf
Selain menggunakan angka, pemberian nilai dapat dilakukan
dengan huruf A, B, C, D dan E. Jarak antara huruf A dan B
tidak dapat digambarkan sama dengan jarak antara B dan C,
atau antara C dan D. Penggunaan huruf dalam penilaian

53

akan terasa lebih tepat digunakan karena tidak ditafsirkan
sebagai arti perbandingan. Huruf tidak menggambarkan
kuantitas, tetapi dapat digunakan sebagai simbol untuk
menggambarkan kualitas. Oleh karena itu, dalam mengambil
jumlah atau rata-rata akan dijumpai kesulitan. Padahal
dalam pengisian rapor kita tidak lepas dari pekerjaan
mengambil rata-rata.
Ada cara yang digunakan untuk mengambil rata-rata
dari huruf, yaitu dengan mentransfer nilai huruf tersebut
menjadi nilai angka dahulu. Yang sering digunakan, satu nilai
huruf itu mewakili satu rentangan nilai angka. Contohnya
adalah sebagai berikut :
Angka 100 Angka 10 Huruf Keterangan
80 100 8,0 10,0 A Baik sekali
66 79 6,6 7,9 B Baik
56 65 5,6 6,5 C Cukup
40 55 4,0 5,5 D Kurang
30 39 3,0 3,9 E Gagal


B. Macam-Macam Acuan Penilaian
Dalam Penilaian sifat suatu objek, penggunaan bahan
pembanding sebagai alat untuk memberi arti pada skor menjadi
sangat penting. Bahan pembanding ini disebut acuan penilaian.
Macam-macam acuan penilaian yang dipakai dalam suatu
penilaian sifat suatu objek dibedakan menjadi :
a. Penilaian Acuan Patokan atau PAP (Criterion-Referenced
Evaluation)
b. Penilaian Acuan Norma atau PAN (Norm-Referenced
Evaluation)
c. Penilaian acuan Kombinasi atau PAK



54


1. Penilaian Acuan Patokan atau PAP (Criterion-Referenced
Evaluation)
Yang dimaksud dengan Penilaian Acuan Patokan atau PAP
adalah suatu penilaian yang memperbandingkan prestasi
belajar siswa dengan suatu patokan yang telah ditetapkan
sebelumnya, suatu prestasi yang seharusnya dicapai oleh siswa
yang dituntut oleh guru.
Dengan demikian PAP berorientasi pada suatu patokan
keberhasilan atau batas lulus penguasaan bahan yang sifatnya
pasti atau absolut. Oleh karena itu, penilaian ini disebut juga
Penilaian Acuan Mutlak (PAM) atau Penilaian Acuan Absolut
(PAA).
Teknik atau metode pengolahan ini berdasarkan asumsi
bahawa kompetensi yang harus dipelajari oleh peserta didik
mempunyai struktur hirarki. Artinya masing-masing taraf atau
tingkatan materi dari masing-masing kompetensi harus
dikuasai oleh peserta didik. Seorang peserta didik harus sudah
kompeten/mencapai ketuntasan belajar dari kompetensi
level/tingkatan di bawahnya untuk melanjutkan ke level
kompetensi berikutnya/diatasnya. Jika belum mencapai
ketuntasan belajar maka peserta didik belum diperkenankan
untuk melanjutkan belajar ke level yang lebih tinggi.
Untuk menentukan suatu patokan penguasaan bahan
pelajaran yang merupakan kompetensi dalam suatu PAP perlu
diperhatikan syarat-syarat :
a. Seorang guru harus mampu mengidentifikasikan tujuan
instruksional secara tuntas dari setiap mata pelajaran yang
diampunya dan merumuskan secara tepat sehingga tujuan
instruksional tersebut benar-benar operasional.

55

b. Seorang guru mampu menyelenggarakan program pembinaan
dan pengayaan yang memadahi.
c. Guru dan sekolah harus mampu mengelola secara terencana
dan memadai setiap kegiatan sekolah dan menyediakan
fasilitas yang relevan.
Ditinjau dari tuntutan prestasi belajar dalam presentil yang
bersifat gradatif atau berderajat, yang menyebabkan tuntutan
dalam passing scorenya tidak sama, maka pada pokoknya
dibedakan dua tipe PAP, yakni PAP tipe I dan PAP tipe II.
a. PAP tipe I
Dalam PAP tipe I ini, seorang guru telah menetapkan suatu
batas penguasaan bahan pelajaran atau kompetensi minimal
yang dianggap dapat meluluskan (passing score) dari
keseluruhan penguasaan bahan yakni 65% yang diberi nilai
cukup (6 atau C). Dengan kata lain passing score prestasi
belajar yang dituntut sebesar 65% dari total score yang
seharusnya dicapai, lalu diberi nilai cukup. Jadi passing
score terletak pada persentil 65. Persentil 65 juga sering
disebut persentil maksimal, karena persentil 65 dianggap
merupakan batas penguasaan kompetensi minimal yang
sudah tinggi.
Untuk nilai-nilai di atas dan di bawah cukup diperhitungkan
sebagai berikut :

Tingkat penguasaan Kompetensi Nilai huruf
90% 100% = A
80% 89% = B
65% 79% = C
55% 64% = D
Di bawah 55% = E


56



Tingkat penguasaan Kompetensi Nilai Angka
95% 100% = 10
90% 94% = 9
85% 89% = 8
80% 84% = 7
65% 79% = 6
60% 64% = 5
55% 59% = 4
50% 54% = 3
45% 49% = 2
0% 44% = 1

b. PAP tipe II
Dalam PAP tipe II ini penguasaan kompetensi minimal yang
merupakan passing score adalah 56% dari total skor yang
seharusnya dicapai, diberi nilai cukup. Tuntutan pada
persentil 56 sering disebut persentil minimal, karena passing
score pada persentil 56 dianggap merupakan batas
penguasaan kompetensi minimal yang paling rendah.
Untuk nilai-nilai di atas dan di bawah cukup diperhitungkan
sebagai berikut :

Tingkat penguasaan Kompetensi Nilai huruf
81% 100% = A
66% 80% = B
56% 65% = C
46% 55% = D
Di bawah 46% = E




57


Tingkat penguasaan Kompetensi Nilai Angka
91% 100% = 10
81% 90% = 9
74% 80% = 8
66% 73% = 7
56% 65% = 6
51% 55% = 5
46% 50% = 4
41% 45% = 3
36% 40% = 2
0% 35% = 1

2. Penilaian Acuan Norma atau PAN (Norm-Referenced
Evaluation)
Yang dimaksud dengan Penilaian Acuan Norma atau PAN
(Norm-Referenced Evaluation) adalah suatu nilai yang mem-
bandingkan hasil belajar siswa terhadap hasil belajar siswa lain
dalam kelompoknya. Dengan kata lain adalah penilaian yang
membandingkan hasil belajar siswa dengan prestasi yang dapat
dicapai oleh siswa dalam kelompoknya. Jadi, dalam PAN suatu
prestasi yang dapat dicapai oleh siswa dalam kelompoknya baru
dapat ditetapkan setelah suatu pengukuran dilaksanakan.
Teknik atau metode pengolahan skor ini didasarkan pada
asumsi;
Pertama bahwa kelompok atau populasi peserta didik
sifatnya heterogen. Hal ini berimplikasi pada pengelompokkan
kemampuan belajar. Ada kelompok tinggi (pandai), kelompok
sedang (cukup) dan kelompok rendah (kurang). Dengan
demikian PAN ini berorientasi pada prestasi real yang dapat


58


dicapai oleh kelompok yang dinyatakan dalam prestasi rata-rata
kelompok atau mean (M) beserta standar deviasinya (S) pada
kurva normal. Jika digambarkan dalam bentuk kurva, akan
tampak seperti pada gambar berikut:





Kedua, proses penilaian hasil belajar dengan teknik ini
mempunyai tujuan untuk menentukan posisi relatif atau
peringkat peserta didik yang sedang dinilai dari kelompoknya
(apakah posisinya berada di atas, di tengah atau di bawah).
Besar prestasi rata-rata kelompok bersama standar deviasi
pada kurva normal dipakai sebagai dasar untuk menentukan
batas lulus atau passing score dan skor-skor lain berikut nilai-
nilainya. Dengan demikian PAN tergantung sangat tergantung
pada M dan S yang diperoleh. Kelompok yang tinggi (pandai)
akan menghasilkan M yang besar dan sebaliknya kelompok
yang rendah (kurang) akan menghasilkan M yang kecil. Keadaan
inilah yang merupakan salah satu kelemahan penggunaan PAN.
Prestasi rata-rata kelompok dan standar deviasinya tidak pasti
atau relatif. Oleh karena itu penilaian ini sering disebut juka
Penilaian Acuan Relatif (PAR).
Karena perolehan Mean dan standar deviasi dari berbagai
sekolah masih bervariasi, maka dalam PAN dibedakan PAN tipe I
dan PAN tipe II.


Kelompok tinggi Kelompok rendah Kelompok Sedang

59

a. PAN tipe I
Dalam tipe ini batas lulus atau passing score ditentukan
sebesar M + 0,25S diberi nilai cukup. Untuk nilai-nilai di atas
dan di bawah cukup diperhitungkan sebagai berikut :

Skor-skor Nilai
Angka Huruf
M + 2,25S = 10
M + 1,75S = 9
M + 1,25S = 8
M + 0,75S = 7
M + 0,25S = 6
M 0,25S = 5
M 0,75S = 4
M 1,25S = 3
M 1,75S = 2
M 2,25S = 1


b. PAN tipe II
Dasar dari PAN tipe II ini adalah persentase daerah kurva
normal. Dalam tipe ini batas lulus ditentukan sebesar M 1S
diberi nilai cukup. Passing score PAN tipe II merupakan batas
lulus yang paling rendah dalam batas yang masih dianggap
normal.
Setelah passing score untuk nilai cukup ditentukan, untuk
nilai-nilai di atas dan di bawahnya diperhitungkan sebagai
berikut :



A
B
C
D
E


60



Skor-skor Nilai huruf
Di atas M + 2S = A
M + 1S dan M + 2S = B
M 1S dan M + 1S = C
M 2S dan M 1S = D
Di bawah M 2S = E


Skor-skor Nilai Angka
M + 2,5S dan M + 3S = 10
M + 2S dan M + 2,5S = 9
M + 1,5S dan M + 2S = 8
M + 1S dan M + 1,5S = 7
M 1S dan M + 1S = 6
M 1,5S dan M 1S = 5
M 2S dan M 1,5S = 4
M 2,5S dan M 2S = 3
M 3S dan M 2,5S = 2
Di bawah M 3S = 1
















61

BAB VII
PENILAIAN MENYELURUH DAN BERKELANJUTAN

A. Konsep Penilaian
Implementasi Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005
Tentang Standar Nasional Pendidikan, membawa implikasi
terhadap model dan tehnik penilaian proses dan hasil belajar.
Pelaku penilaian terhadap proses dan hasil belajar diantaranya
internal dan eksternal. Penilaian internal merupakan penilaian
yang dilakukan dan direnanakan oleh guru pada saat pem-
belajaran berlangsung. Sedangkan penilaian eksternalm rp
penilaian yang dilakukan oleh pihak luar yang tidak melaksana-
kan prsoes pembelajaran, biasanya dilakukan oleh suatu
institusi/lembaga baik di dalam mapun di luar negeri. Penelitian
yang dilakukan lembaga/institusi tersebut dimaksudkan
sebagai pengendali mutu proses dan hasil belajar peserta didik.
Metode dan teknik penilaian sebagai bagian dari penilaian
internal (internal assessment) untuk mengetahui proses dan
hasil belajar peserta didik terhadap penguasaan kompetensi
yang diajarkan oleh guru. Hal ini bertujuan untuk mengukur
tingkat ketercapaian ketuntasan kompetensi oleh peserta didik.
Penilaian hasil belajar peserta didik yang dilakukan oleh
guru selain untuk memantau proses, kemajuan dan
perkembangan hasil belajar peserta didik sesuai dengan potensi
yang dimiliki, juga sekaligus sebagai umpan balik kepada guru
agar dapat menyempurnakan dalam proses program
pembelajaran.
Ada empat istilah yang berkaitan dengan konsep penilaian
dan sering kali digunakan untuk mengetahui keberhasilan


62


belajar dari peserta didik yaitu pengukuran, pengujian,
penilaian dan evaluasi. Namun diantara keempat istilah
tersebut pengertiannya masih sering dicampuradukkan, pdahal
keempat istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda.
Sebenarnya proses pengukuran, penilaian, evaluasi dan
pengujian merupakan suatu kegiatan atau proses yang bersifat
hirarkis. Artinya kegiatan dilakukan secara berurutan dan
berjenjang yaitu dimulai dari proses pengukuran kemudian
penilaian dan terakhir evaluasi. Sedangkan proses pengujian
merupakan bagian dari pengukuran yang dilanjutkan dengan
kegiatan penilaian.
Menurut Guilford (1982), pengukuran adalah proses
penetapan angka terhadap suatu gejala menurut aturan
tertentu. Pengukuran dalam kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) berdasarkan pada klasifikasi observasi untuk
kerja atau kemampuan peserta didik dengan menggunakan
suatu standar.
Pengukuran dapat menggunakan tes dan non tes. Tes
adalah seperangkat pertanyaan yang memiliki jawaban benar
atau salah. Sedangkan non tes adalah pertanyaan maupun
pernyataan yang tidak memiliki jawaban benar atau salah.
instrumen non tes bisa berbentuk kuesioner atau inventori.
Kuesioner berisi sejumlah pertanyaan atau pernyataan
sedangkan peserta didik diminta untuk menjawab atau
memberikan pendapatnya terhadap pernyataan yang diajukan.
Inventori merupakan instrumen yang berisi tentang laporan diri
dari keadaan peserta didik, misalnya potensi peserta didik.
Pengukuran dalam kegiatan belajar bisa bersifat kuantitatif

63

maupun kualitatif. Kuantitatif hasilnya berupa angka
sedangkan kualitatif hasilnya berupa pernyataan kualitatif yaitu
berupa pernyataan sangat baik, baik, cukup, kurang, sangat
kurang dan lain sebagainya.
Pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka
atau usaha memperoleh diskripsi numerik dari suatu tingkatan
dimana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik
tertentu. Pengukuran berkaitan erat dengan proses pencarian
atau penentuan nilai kuantitatif.
Pengukuran pada hakekatnya adalah membandingkan
sesuatu dengan atau atas dasar ukuran tertentu yang sifatnya
kuantitatif. Pengukuran yang sifatnya kuantitatif dibedakan
menjadi 3 macam yaitu:
1. Pengukuran yang dilakukan bukan untuk mengisi sesuatu,
misalnya mengukur luas lahan membangun rumah.
2. Pengukuran yang dilakukan untuk menguji sesuatu, misal
mengukur untuk menguji daya tahan baja terhadap tekanan
berat.
3. Pengukuran untuk menilai yang dilakukan dengan jalan
untuk menguji sesuatu, misal mengukur kemajuan belajar
peserta didik untuk mengisi nilai raport yang dilakukan
dengan menguji mereka melalui alat tes.
Pengukuran jenis yang ketiga inilah yang dikenal dalam
dunia pendidikan. Hasil pengukuran berbentuk keterangan
yang berupa angka-angka atau bilangan-bilangan.
Penilaian (assessment) merupakan istilah yang umum dan
mencakup semua metode yang biasa dipakai untuk mengetahui


64


keberhasilan belajar siswa dengan cara menilai unjuk kerja
individu peserta didik atau kelompok.
Menilai mengandung arti mengambil keputusan terhadap
sesuatu dengan berdasarkan diri atau berpegang pada ukuran
baik-buruk, sehat-sakit, pandai-bodoh dan lain-lain. Penilaian
yang demikian sifatnya kualitatif.
Namun istilah penilaian mempunyai arti yang lebih luas
daripada istilah pengukuran. Pengukuran sebenarnya hanya
merupakan suatu langkah atau tindakan yang kiranya perlu
diambil dalam rangka pelaksanaan evaluasi, dimana tidak
semua penilaian harus didahului dengan pengukuran secara
lebih nyata.
Penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan
beragam alat. Penilaian untuk memperoleh berbagai ragam
informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau
informasi tentang ketercapaian kompetensi peserta didik. Proses
penilaian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tentang
sebaik apa hasil atau prestasi belajar peserta didik.
Proses penilaian mencakup pengumpulan bukti untuk
menunjukkan pencapaian belajar (ketercapaian kompetensi)
dari peserta didik. Menurut Griffin dan Nix (1991) penilaian
adalah suatu pernyataan berdasarkan sejumlah fakta untuk
menjelaskan karakteristik seseorang atau sesuatu. Definisi
penilaian berhubungan erat dengan setiap bagian dari kegiatan
belajar mengajar. Ini menunjukkan bahwa proses penilaian
tidak hanya menyangkut hasil belajar saja tetapi juga
menyangkut semua proses belajar dan mengajar. Oleh karena
itu proses penilaian tidak hanya terbatas pada karakteristik

65

peserta didik saja tetapi juga mencakup karakteristik metode
mengajar, kurikulum, fasilitas dan administrasi sekolah.
Instrumen penilaian bisa berupa metode atau prosedur formal
maupun informal, untuk menghasilkan informasi belajar
peserta didik. Proses penilaian (tagihan) dapat berbentuk tes
baik tertulis maupun lisan, lembar pengamatan, pedoman
wawancara, tugas rumah dan lain sebagainya. Penilaian juga
dapat diartikan sebagai kegiatan menafsirkan data hasil
pengukuran.
Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah
suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau
belum, berharga atau tidak berharga, dan dapat pula untuk
melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya.
Evaluasi berhubungan erat dengan keputusan nilai (value
judgement). Dalam dunia pendidikan dapat dilakukan evaluasi
terhadap kurikulum baru, kebijakan pendidikan, sumber
belajar tertentu atau etos kerja guru.
Menurut Stufflebeam dan Shinkfield (1985), evaluasi
adalah penilaian yang sistematik tentang manfaat atau
kegunaan suatu obyek. Dalam melakukan suatu obyek dalam
melakukan suatu evaluasi di dalamnya ada kegiatan untuk
menentukan nilai suatu program, sehingga ada unsur
jugdement tentang nilai suatu program, sehingga dalam proses
evaluasi ada unsur subyektif.
Salah satu pilar dalam penilaian pada Tingkat Satuan
Pendidikan adalah penilaian kelas. Penilaian kelas adalah
proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru
untuk pemberian nilai terhadap hasil belajar siswa berdasarkan


66


tahapan kemajuan siswa sesuai dengan daftar kompetensi yang
ditetapkan dalam kurikulum. Penilaian kelas dilaksanakan
secara terpadu dalam kegiatan belajar mengajar. Penilaian
dapat dilakukan dalam situasi formal maupun informal, di
dalam kelas maupun di luar kelas, terintegrasi dengan kegiatan
belajar atau bisa pula dilakukan pada waktu tertentu.
Penilaian kelas tidak hanya dilakukan dalam kelas tetapi
juga di luar kelas secara formal dan informal (dilakukan secara
khusus). Penilaian dilakukan secara terpadu dengan kegiatan
belajar mengajar dalam suasana yang menyenangkan (enjoy
learning) sehingga memungkinkan peserta didik menunjukkan
apa yang dipahami dan mampu dikerjakan.
Data hasil belajar peserta didik selama proses
pembelajaran berlangsung dijaring, dikumpulkan dan kemudian
dianalisis melalui prosedur dan alat penilaian sesuai dengan
kompetensi/pencapaian indikator yang akan dicapai. Hasil
belajar peserta didik dalam periode waktu tertentu
dibandingkan dengan hasil periode sebelumnya untuk melihat
perkembangan pencapaian indikator/ kompetensi dari masing-
masing peserta didik.
Proses penilaian kelas dapat memberikan manfaat
diantaranya:
1. Memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui
kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian
indikator.
2. Memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar
yang dialami peserta didik sehingga dapat dilakukan remedial
dan pengayaan.

67

3. Umpan balik bagi guru memperbaiki metode, pendekatan,
kegiatan dan sumber belajar yang digunakan.
4. Sebagai input atau masukan bagi guru untuk melakukan
perbaikan dalam merancang kegiatan belajar.
5. Memberikan informasi kepada orang tua dan komite sekolah
tentang efektivitas pendidikan.
6. Memberi umpan balik bagi para pengambil kebijakan
(stakeholders) dalam mempertimbangkan konsep penilaian
kelas yang baik untuk digunakan.
Selain dapat memberikan manfaat, penilaian kelas juga
memberikan fungsi diantaranya:
1. Menggambarkan sejauh mana perkembangan peserta didik
telah menguasai kompetensi
2. mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka
membantu peserta didik memahami dirinya, membuat
keputusan tentang langkah berikutnya, misalnya pemilihan
program/penjurusan bahkan sekolah jenjang berikutnya.
3. Menentukan kualitas belajar dan kemungkinan
potensi/prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan
sebagai alat untuk mendiagnosa yang dilakukan oleh guru
yang menentukan apakah pesert didik yang bersangkutan
perlu diremedial/penganyaan.
4. Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran
yang sedang berlangsung guna perbaikan rancangan proses
pembelajaran berikutnya.
5. Sebagai kontrol bagi guru dan sekolah tentang kemajuan
perkembangan peserta didik.
Dalam melaksanakan proses penilaian kelas harus
memperhatikan rambu-rambunya (kriteria dan prinsip-prinsip
penilaian kelas).


68


1. Kriteria penilaian kelas
a. Validitas, artinya menilai apa yang seharusnya dinilai
dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur
kompetensi.
b. Reliabilitas, hal ini berkaitan dengan konsistensi (keajegan)
hasil penilaian. Penilaian seperti ini memungkinkan
perbandingan yang reliabel dan menjamin konsistensi.
c. Terfokus pada konsistensi, dalam pelaksanaan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan maka penilaian harus terfokus
pada pencapaian kompetensi dan bukan hanya sekedar
penguasaan materi belaka.
d. Keseluruhan/komprehensif, penilaian harus menyeluruh
dengan menggu-nakan berbagai metode/teknik serta cara
dan alat untuk menilai beragam kompetensi atau
kemampuan pesert didik sehingga dapat memberi
gambaran secara detail tentang kemampuan/kompetensi
peserta didik.
e. Objektivitas, penilaian harus dilakukan secara obyektif,
adil, terencana, berkesinambungan dan menerapkan
kriteria yang jelas dalam penentuan skor.
f. Mendidik, penilaian dilakukan untuk memperbaiki proses
pembelajaran bagi guru serta meningkatkan kualitas hasil
belajar peserta didik.
2. Prinsip-prinsip Penilaian Kelas
a. Memandang penilaian dan kegiatan pembelajaran secara
menyeluruh dan terpadu
b. Mengembangkan strategi yang mendorong dan
memperkuat penilaian sebagai cermin diri

69

c. Melakukan berbagai strategi, model dan teknik penilaian
dalam program pembelajaran untuk menyediakan berbagai
jenis informasi tentang hasil belajar peserta didik.
d. Mempertimbangkan berbagai kebutuhan khusus peserta
didik.
e. Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang
bervariasi dalam kegiatan belajar-mengajar.
f. Menggunakan metode/teknik dan cara serta alat yang
bervariasi.
g. Melakukan penilaian kelas secara berkesinambungan
untuk memantau proses, kemajuan dan perbaikan hasil
belajar.
Penilaian kelas dilaksanakan dengan berbagai cara,
diantaranya melalui tes tertulis, penilaian unjuk kerja siswa
(performance) dan penilaian hasil kerja siswa melalui
pengumpulan hasil kerja (karya). Penilaian kelas merupakan
suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah
perencanaan, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti
yang menunjukkan pencapaian hasil belajar siswa, pelaporan
dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa.
Dalam melakukan pengukuran terhadap kegiatan belajar
dapat menggunakan acuan norma dan acuan kriteria. Kedua
acuan ini berasumsi bahwa setiap peserta didik mempunyai
tingkat kemampuan berbeda-beda. Dari asumsi yang berbeda
ini akan melahirkan penafsiran terhadap hasil tes antara kedua
acuan ini yang berbeda, sehingga menghasilkan informasi yang
berbeda pula tentang peserta didik.
Tes acuan norma berasumsi bahwa tingkat kemampuan
pesert didik berbe-beda. Hal ini dapat digambarkan menurut
distribusi normal. Dimana perbedaan ini dapat ditunjukkan


70


oleh hasil pengukuran. Misal posisi seorang peserta didik
setelah mengikuti tes seleksi. Sebab tes seleksi ini bertujuan
untuk membedakan kemampuan seseorang.
Tes acuan kriteria berasumsi bahwa hampir semua orang
mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar apa saja,
namun waktu yang dipergunakan bisa berbeda-beda. Dengan
adanya acuan ini maka akan memunculkan program pengayaan
dan remedial.
Dengan demikian sistem penilaian hasil belajar pada
Tingkat Satuan Pendidikan menggunakan acuan kriteria yaitu
berdasarkan apa yang biasa dilakukan peserta didik setelah
mengikuti proses pembelajaran dan bukan untuk menentukan
posisi seseorang terhadap kelompoknya.
Dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan mengharapkan adanya perubahan kegiatan belajar
mengajar di kelas, baik proses kegiatan pembelajaran maupun
proses penilaiannya (proses dan hasil belajar). Pelaksanaan
kurikulum tingkat satuan pendidikan menekankan pada konsep
penguasaan kompetensi maka jenis penilaian harus disesuaikan
dengan kekhasan masing-masing kompetensi. Proses penilaian
dapat dilakukan dengan langkah-langkah:
1. Perencanaan penilaian;
2. Pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang
menunjukkan pencapaian hasil belajar;
3. Pelaporan;
4. Penggunaan informasi tentang hasil belajar
Sebelum melaksanakan penilaian terhadap proses dan
hasil belajar peserta didik terlebih dahulu harus dibuat
perangkat-perangkatnya agar penilaian yang dilakukan benar-
benar sesuai dengan kompetensi yang hendak diuji. Setiap

71

indikator dari kompetensi dasar yang telah ditetapkan
hendaknya diuji.
Setiap indikator dari kompetensi dasar yang telah
ditetapkan dianalissi terlebih dahulu untuk menentukan
patokan atau standar ketuntasan belajar minimal (SKBM).
Mengingat KTSP, sebagaimana kurikulum Berbasis
Kompetensi, menekankan pada pengusaan kompetensi maka
seorang guru harus merancang rencana penilaian agar
pembuatan soal mengarah pada kompetensi seorang guru harus
memperhatikan standar ketuntasan dari setiap indikator atau
kompetensi dasar yang telah dianalisis.

Contoh Format Rencana Penilaian
Sekolah : ..
Mata ajar : ..
Kelas/Smt : ..
Standar Komp : ..
Komp. Dasar : ..
NO
TGL
TES
JENIS
TAGIHAN
BENTUK
TAGIHAN
TIPE
TAGIHAN
JUMLAH
INDIKATOR
URAIAN
INDIKATOR
SKBM
SEBARAN
SOAL
1 UH Uraian Kognitif. 3 - 70 1,2,3,4,5,6





B. Aspek Penilaian
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dalam melakukan
pembelajaran menerapkan pendekatan pembelajaran tuntas
(mastery learning). Sedangkan dalam penilaian menerapkan
sistem penilaian berkelanjutan yang mencakup 3 aspek yaitu
aspek kognitif, psikomotorik dan afektif.


72


Pada umumnya hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi
tiga ranah yaitu: ranah kognitif, psikomotor dan afektif. Secara
eksplisit ketiga ranah ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Setiap mata ajar selalu mengandung ketiga ranah tersebut,
namun penekanannya selalu berbeda. Mata ajar praktek lebih
menekankan pada ranah psikomotor, sedangkan mata ajar
pemahaman konsep lebih menekankan pada ranah kognitif.
Namun kedua ranah tersebut mengandung ranah afektif.
1. Penilaian Aspek Kognitif
Pada umumnya hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi
tiga aspek yaitu ranah kognitif, psikomotor dan afektif. Secara
eksplisit ketiga aspek tersebut tidak dipisahkan satu sama lain.
Apapun jenis mata ajarnya selalu mengandung tiga aspek
tersebut namun memiliki penekanannya yang berbeda. Untuk
aspek kogntiif lebih menekankan pada teori, aspek psikomotor
menekankan pada praktek dan kedua aspek tersebut selalu
mengandung aspek afektif.
Aspek kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir
termasuk di dalamnya kemampuan memahami, menghapal,
mengaplikasi, menganalisis, mensistesis dan kemampuan
mengevaluasi. Menurut Taksonomi Bloom (Sax, 1980),
kemampuan kognitif adalah kemampuan berfikir secara hirarkis
yang terdiri dari pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis,
sintesis dan evaluasi.
Pada tingkat pengetahuan, peserta didik menjawab
pertanyaan berdasarkan hapalan saja. Pada tingkat pemahaman
peserta didik dituntut untuk menyatakan masalah dengan kata-
katanya sendiri, memberi contoh suatu konsep atau prinsip.
Pada tingkat aplikasi, peserta didik dituntut untuk menerapkan
prinsip dan konsep dalam situasi yang baru. Pada tingkat

73

analisis, peserta didik diminta untuk menguraikan informasi ke
dalam beberapa bagian, menemukan asumsi, membedakan
fakta dan pendapat serta menemukan hubungan sebab-akibat.
Pada tingkat sintesis, peserta didik dituntut untuk
menghasilkan suatu cerita, komposisi, hipotesis atau teorinya
sendiri dan mensistensiskan pengetahuannya. Pada tingkat
evaluasi, peserta didik mengevaluasi informasi seperti bukti,
sejarah, editorial, teori-teori yang termasuk di dalamnya
jugdement terhadap hasil analissi untuk membuat kebijakan.
Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan
berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih
sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan
memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk
menghubungkan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan,
metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan
masalah tersebut. Dengan demikian aspek kognitif adalah
subtaksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental
yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat
yang paling tinggi yaitu evaluasi.
Aspek kognitif terdiri atas enam tingkatan dengan aspek
belajar yang berbeda-beda. Keenam tingkat tersebut yaitu:
a. Tingkat pengetahuan (knowledge), pada tahap ini menuntut
siswa untuk mampu mengingat (recall) berbagai informasi
yang telah diterima sebelumnya, misalnya fakta, rumus,
terminologi strategi problem solving dan lain sebagainya.
b. Tingkat pemahaman (comprehension), pada tahap ini kategori
pemahaman dihubungkan dengan kemampuan untuk
menjelaskan pengetahuan, informasi yang telah diketahui
dengan kata-kata sendiri. Pada tahap ini peserta didik


74


diharapkan menerjemahkan atau menyebutkan kembali yang
telah didengar dengan kata-kata sendiri.
c. Tingkat penerapan (application), penerapan merupakan
kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan
informasi yang telah dipelajari ke dalam situasi yang baru,
serta memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam
kehidupan sehari-hari.
d. Tingkat analisis (analysis), analissi merupakan kemampuan
mengidentifikasi, memisahkan dan membedakan komponen-
komponen atau elemen suatu fakta, konsep, pendapat,
asumsi, hipotesa atau kesimpulan, dan memeriksa setiap
komponen tersebut untuk melihat ada atau tidaknya
kontradiksi. Dalam tingkat ini peserta didik diharapkan
menunjukkan hubungan diantara berbagai gagasan dengan
cara membandingkan gagasan tersebut dengan standar,
prinsip atau prosedur yang telah dipelajari.
e. Tingkat sintesis (synthesis), sintesis merupakan kemampuan
seseorang dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai
elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk
pola baru yang lebih menyeluruh.
f. Tingkat evaluasi (evaluation), evaluasi merupakan level tinggi
yang mengharapkan peserta didik mampu membuat penilaian
dan keputusan tentang nilai suatu gagasan, metode, produk
atau benda dengan menggunakan kriteria tertentu.
Apabila melihat kenyataan yang ada dalam sistem
pendidikan yang diselenggarakan, pada umumnya baru
menerapkan beberapa aspek kognitif tingkat rendah, seperti
pengetahuan, pemahaman dan sedikit penerapan. Sedangkan
tingkat analisis, sintesis dan evaluasi jarang sekali diterapkan.

75

Apabila semua tingkat kognitif diterapkan secara merata dan
terus menerus maka hasil pendidikan akan lebih baik.
Maka apabila bahan ajar telah diajarkan secara lengkap
sesuai dengan program yang telah ditetapkan maka membuat
alat penilaian (soal) dengan formulasi sebanding sebagai
berikut:
1. Soal yang menguji tingkat pengetahuan peserta didik 40%
2. Soal yang menguji tingkat pemahaman peserta didik 20%
3. Soal yang menguji tingkat kemampuan dalam penerapan
pengetahuan 20%
4. Soal yang menguji tingkat kemampuan dalam analisis peserta
didik 10%
5. Soal yang menguji tingkat kemampuan sintesis peserta
didik 5%
6. Soal yang menguji kemampuan petatar dalam
mengevaluasi 5%
Total formulasi asal untuk satu kali ujian yaitu 100%
Dengan menggunakan formulasi perbandingan soal di atas
mempermudah seorang guru untuk memperjelas cara
berfikirnya dan untuk memilih pertanyaan-pertanyaan (soal-
soal) yang akan diujikan, selain itu juga dapat membantu
seorang guru agar terhindar dari kekeliruan dalam membuat
soal.
Seorang guru dituntut mendesain program/rencana
pembelajaran termasuk di dalamnya rencana penilaian (tes)
diantaranya membuat soal-soal berdasarkan kisi-kisi soal dan
komposisi yang telah ditetapkan.
Bentuk tes kognitif diantaranya: (1) tes atau pertanyaan
lisan di kelas, (2) pilihan ganda, (3) uraian obyektif, (4) uraian


76


non obyektif atau uraian bebas, (5) jawaban atau isian singkat,
(6) menjodohkan, (7) portofolio dan (8) performans.

2. Penilaian Aspek Psikomotorik
Sedangkan menurut Sax dalam Mardapi (2003), dikatakan
bahwa keterampilan psikomotorik mempunyai enam peringkat
yaitu gerakan refleks, gerakan dasar, kemampuan perceptual,
gerakan fisik, gerakan terampil, dan komunikasi nondiskursip.
Gerakan refleks adalah respon motor atau gerak tanpa sadar
yaitu muncul ketika bayi lahir. Gerakan dasar adalah gerakan
yang mengarah pada keterampilan kompleks yang khusus.
Kemampuan perceptual adalah kombinasi kemampuan kognitif
dan motor atau gerak. Kemampuan fisik adalah kemampuan
untuk mengembangkan gerakan yang paling terampil. Gerakan
terampil adalah gerakan yang memerlukan belajar, seperti
keterampilan olah raga. Komunikasi nondiskursip adalah
kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan gerakna.
Dave (1967), mengatakan bahwa hasil belajar psikomotor
dapat dibedakan menjadi lima peringkat yaitu imitasi,
manipulasi, presisi, artikulasi, dan naturalisasi. Imitasi adalah
kemampuan melakukan kegiatan-kegiatan sederhana dan sama
persis dengan yang dilihat atau diperhatikan sebelumnya.
Contohnya menendang bola dengan gerakan yang sama persis
dari yang dilihat sebelumnya. Manipulasi adalah kemampuan
melakukan kegiatan sederhana yang belum pernah dilihatnya
tetapi berdasarkan pada pedoman atau petunjuk saja. Misal
seorang siswa dapat melempar lembing hanya mengandalkan
petunjuk dari guru. Kemampuan tingkat presisi adalah
kemampuan melakukan kegiatan-kegiatan yang akurat
sehingga mampumhsl produk kerja yang presisi. Misal

77

melakukan tendangan pinalti sesuai dengan yang ditargetkan
(masuk gawang lawan). Kemampuan tingkat artikulasi yaitu
kemampuan melakukan kegiatan kompleks dan ketepatan
sehingga produk kerjanya utuh. Misal melmpar bola ke teman
sebagai umpan untuk ditendang ke arah gawang lawan.
Kemampuan naturalisasi adalah kemampuan melakukan
kegiatan secara refleks yaitu kegiatan yang melibatkan fisik saja
sehingga efektivitas kerja tinggi. misal secara refleks seseorang
memegang tangan seorang anak kecil yang sedang bermain di
jalan raya ketika sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
hal ini terjadi agar terhindar dari kecelakaan tertabrak.
Menurut Ryan (1980), penilaian hasil belajar psikomotor
dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu, pertama melalui
pengamatan langsung serta penilaian tingkah laku siswa selama
proses belajar mengajar (praktek berlangsung). Kedua setelah
proses belajar yaitu dengan cara memberikan tes kepada siswa
untuk mengukur pengetahuan, keterampilan dan sikap. Ketiga
beberapa waktu setelah proses belajar selesai dan kelak dalam
lingkungan kerjanya.
Sedangkan menurut Leighbody (1968) dalam melakukan
penilaian hasil belajar keterampilan sebaiknya mencakup:
pertama, kemampuan siswa menggunakan alat dan sikap kerja.
Kedua, kemampuan siswa menganalisis suatu pekerjaan dan
menyusun urutan pekerjaan. Ketiga kecepatan siswa dalam
mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya. Keempat
kemampuan siswa dalam membaca gambar dan atau symbol.
Kelima keserasian bentuk dengan yang diharapkan dan atau
ukuran yang telah ditentukan.
Dengan demikian, penilaian hasil belajar psikomotor atau
keterampilan harus mencakup persiapan, proses dan produk.


78


Penilaian dapat dilakukan pada saat proses belajar (unjuk kerja)
berlangsung dengan cara mengetes peserta didik atau bisa juga
setelah proses belajar (unjuk kerja) selesai.
Tidak jauh berbeda dengan penilaian kognitif, penilaian
psikomotor pun dimulai dengan pengukuran hasil belajar.
Perbedaannya adalah pengukuran hasil belajar ranah kognitif
dilakukan dengan tes tertulis, sedangkan pengukuran hasil
belajar ranah psikomotor dilakukan dengan menggunakan tes
unjuk kerja, lembar tugas atau lembar pengamatan.
Jenis tagihan dalam penilaian ranah psikomotor, dilihat
dari caranya dapat dibedakan menjadi dua cara, yaitu penilaian
kelas dan penilaian berkala. Penilaian kelas adalah penilaian
yang dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan
pembelajaran. Penilaian dapat dilakukan dengan cara
mengamati setiap peserta didik di saat mereka sedang belajar,
mengerjakan tugas dan menjawab setiap pertanyaan yang
ditagih.
Penilaian berkala atau ujian blok adalah penilaian yang
dilakukan secara berkala, tidak terus menerus dan hanya pada
waktu tertentu saja. Penilaian dengan sistem blok (ujian blok)
ini dilakukan setelah peserta didik mempelajari beberapa
indikator dalam satu kompetensi dasar atau jika jumlah
kompetensi dasar yang ditentukan banyak maka ujian blok
dapat dilakukan antara satu sampai dengan tiga kompetensi
dasar. Hal ini bisa menyebabkan pelaksanaan ujian blok antara
mata ajar yang satu dengan mata ajar lainnya tidak bersamaan
waktunya. Namun adanya ujian blok dapat dilakukan sebagai
pengganti ujian akhir semester dengan materi yang diujikan
adalah indikator atau kompetensi dasar yang belum diujikan.

79

Kriteria atau rubrik adalah pedoman yang digunakan
dalam melakukan penilaian kinerja atau hasil kerja peserta
didik. Dengan menggunakan kriteria ini, penilaian yang bersifat
subyektif dapat dihindari paling tidak dapat dikurangi. Dengan
krtieria ini dapat memudahkan seorang guru untuk menilai
prestasi yang telah dicapai oleh seorang peserta didik. Dan
siswapun termotivasi untuk mencapai prestasi semaksimal
mungkin.
Pada umumnya kriteria ini terdiri atas dua hal yang saling
berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya. Hal yang
pertama adalah skor, misalnya 1, 2, 3, 4, dan 5 dan hal yang
kedua adalah krtieria yang harus dicapai untuk memenuhi skor
tersebut. Banyak sedikitnya gradasi skor tergantung jenis skala
penilaian yang digunakan serta hakekat kerja yang akan dinilai.
Berikut ini adalah contoh kriteria dan penggunaannya dalam
lembar penilaian.
Contoh Format Kriteria (rubrik) Lembar Penilaian



No
Butir
Aspek Psikomotor (keterampilan)
Skor
1 2 3 4 5
1
2
3
4
5
6
7
8
9


Berilah tanda cek ( \ ) pada kolom skor yang tersedia dengan
ketentuan; skor 5 = sangat tepat, skor 4 = tepat, skor 3 = agak
tepat, skor 2 = kurang tepat dan skor 1 = tidak tepat.


80


Dalam lembar penelitian tersebut seorang guru harus teliti
untuk menilai apakah aspek keterampilan yang muncul itu
sangat tepat, sehingga harus diberi nilai 5 atau sangat tidak
tepat sehingga diberi nilai 1. Dengan demikian lembar penilaian
ini harus dilakukan secermat mungkin sehingga bisa
menggambar-kan kemampuan siswa yang sebenarnya.
Lembar pengamatan sedikit berbeda dengan lembar
penilaian. Dalam lembar pengamatan, skor yang digunakan
tidak banyak variasinya, bahkan biasanya cenderung hanya ada
dua pilihan yaitu ya dengan skor dan tidak dengan skor 0.
Berikut ini contoh kriteria (rubrik) pada lembar pengamatan
(observasi) dan penggunaannya.
Contoh Format Kriteria (rubrik) Lembar Observasi




No. Aspek Psikomotor (keterampilan) Jawaban
Starting Position Ya Tidak
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Biasanya kriteria (rubrik) selalu muncul bersamaan atau
bahkan menempel dengan lembar penilaian atau lembar
pengamatan (observasi). Hal ini dikarenakan tanpa kriteria
(rubrik) maka lembar penilaian atau lembar pengamatan
Berilah tanda cek ( \ ) pada kolom Ya jika unjuk kerja yang
dinyatakan sesuai dan benar atau kolom Tidak jika unjuk kerja
yang dinyatakan tidak sesuai dengan yang ditentukan atau tidak
muncul sma sekali. Kata Ya dengan skor 1 sedangkan kata
Tidak dengan skor 0.

81

(observasi) tidak dapat digunakan. Bahkan dengan adanya
kriteria (rubrik) ini maka penilaian dan pengamatan terhadap
peserta didik menjadi lebih obyektif.
Dalam melakukan penskoran, hal pertama yang harus
diperhatikan adalah ada atau tidak adanya perbedaan bobot
antara setiap aspek keterampilan (psikomotor) yang ada dalam
lembar penilaian atau lembar pengamatan. Biasanya jika tidak
ada perbedaan bobot maka penskoran akan lebih mudah. Skor
yang diperoleh (skor akhir) harus sama dengan skor yang telah
ditentukan dalam tiap-tiap butir.
Selanjutnya untuk menginterpretasikan hasil belajar yang
diperoleh, dibandingkan dengan acuan yang telah ditetakan.
Oleh karena itu proses pembelajaran harus menggunakan
pendekatan kompetensi. Acuan yang digunakan untuk
menginterpretasikan hasil penilaian dan pengamatan kerja
siswa yaitu acuan kriteria (rubrik).
Setelah skor tiap peserta didik diperoleh maka langkah
selanjutnya adalah menghitung peserta didik yang sudah lulus
dan peserta didik yang belum lulus, kemudian dibuat
prosentase.
Langkah selanjutnya hasil penilaian psikomotor dianalisis.
Caranya yaitu dengan membuat tabel spesifikasi yang mampu
menunjukkan standar kompetensi, kompetensi dasar,
pencapaian indikator bahkan aspek psikomotor mana yang
belum dikuasai peserta didik ditunjukkan. Selanjutnya aspek
psikomotor yang sudah dan yang belum dikuasai oleh peserta
didik tersebut dituliskan dalam kolom tersendiri yaitu kolom
keterangan ketercapaian ketuntasan, sepeti pada contoh
berikut :


82


Contoh Format Tabel Analisis Hasil Tes Psikomotor
Sekolah :
Mata ajar :
Kelas/Smt : / .
Jenis Tagihan :
Nama Peserta didik :
Guru Mata ajar :
Standar
Kompetensi/
Kompetensi Dasar
Jumlah
Item
Soal
Jumlah
Soal yang
betul
Prosentase
kelulusan
Kompetensi
Keterangan
Ketercapaian
Ketuntasan
3.


3.1 .......
.....................



Dengan analisis penilaian di atas, seorang guru dapat
membantu peserta didik untuk mencapai ketuntasan belajar
dengan mengadakan program remidial. Program remidial
dilaksanakan dengan cara diuji ulang, tetapi sebelumnya
dilaksanakan pengarahan (pendalaman) terhadap kompetensi
yang belum dikuasai.

3. Penilaian Aspek Afektif
Life skill merupakan bagian dari kompetensi lulusan
sebagai hasil proses pembelajaran. Pophan (1995), mengatakan
bahwa ranah afektif menentukan keberhasilan seseorang.
Artinya ranah afektif sangat menentukan keberhasilan seorang
peserta didik untuk mencapai ketuntasan dalam proses
pembelajaran.
Seorang peserta didik tidak memiliki minat atau karakter
terhadap mata ajar tertentu, maka akan kesulitan untuk
mencapai ketuntasan belajar secara maksimal. Sedangkan
peserta didik yang memiliki minat atau karakter terhadap mata

83

ajar, maka hal ini akan sangat membantu untuk mencapai
ketuntasan pembelajaran secara maksimal.
Berdasarkan hal di atas, maka seorang guru lain
membantu semua peserta didik belajar, guru juga harus
mampu membangkitkan atau karakter peserta didik untuk
belajar. Ini merupakan tanggung jawab seorang guru sebagai
pengajar dan pendidik. Selain itu juga ikatan emosional sering
diperlukan untuk membangun karakter kebersamaan, rasa
sosialis yang tinggi, persatuan, nasionalisme dan lain
sebagainya. Berkenaan dengan hal ini, maka sekolah (guru)
dalam merancang program pembelajaran harus memperhatikan
ranah afektif.
Menurut Krathwohl (1961), bila ditelurusi hampir semua
tujuan kognitif mempunyai komponen afektif. Peringkat ranah
afektif menurut taksonomi Krathwohl ada lima, yaitu: receiving
(attending) responding, valuing, organization dan charac-
terization.
Pada peringkat receiving/attending (menerima), peserta
didik memiliki keinginan untuk memperhatikan suatu fenomena
khusus (stimulus). Misalnya keadaan kelas, berbagai kegiatan
sekolah (kegiatan musik, ekstrakurikuler), buku dan lain
sebagainya. Di sini seorang guru hanya bertugas mengarahkan
perhatian (fokus) peserta didik pada fenomena yang menjadi
obyek pembelajaran afektif. Misalnya guru mengarahkan dan
memotivasi peserta didik untuk membaca buku, mengerjakan
tugas, memberi motivasi belajar, senang bekerja sama dan lain
sebagainya. Jika hal ini terus-menerus dilakukan maka akan
menjadi kebiasaan. Kebiasaan ini adalah kebiasaan yang positif
yang sangat diharapkan dalam mendukung ketuntasan belajar.


84


Responding (tanggapan) merupakan partisipasi aktif
peserta didik, yaitu sebagai bagian dari perilakunya. Pada
peringkat ini peserta didik tidak hanya memperhatikan
fenomena khusus tetapi juga beraksi terhadap penomena yang
ada. Hasil belajar pada peringkat ini yaitu menekankan di
perolehnya respon, keinginan memberi respon atau kepuasan
dalam memberi respon. Peringkat tertinggi pada kategori ini
adalah minat, yaitu hal-hal yang menekankan pada pencarian
hasil dan kesenangan pada aktivitas khusus. Misalnya senang
bertanya, senang membaca buku, senang membantu sesama,
senang dengan keberhasilan dan lain sebagainya.
Valuing (menilai) melibatkan penentuan nilai, keyakinan
atau sikap yang menunjukkan derajat internalisasi dan
komitmen. Derajat rentangnya mulai dari menerima suatu nilai,
misalnya keinginan untuk meningkatkan keterampilan, sampai
pada tingkat komitmen. Valuing atau penilaian berbasis pada
internalisasi dari seperangkat nilai yang spesifik. Hasil belajar
pada peringkat ini berhubungan dengan perilaku yang
konsisten dan stabil agar nilai dikenal secara jelas. Dalam
tujuan pembelajaran, penilaian ini diklasifikasi sebagai sikap
dan apresiasi.
Pada peringkat organization (organisasi) antara lain yang
satu dengan nilai yang lain dikaitkan dan konflik antar nilai
diselesaikan, serta mulai membangun sistem nilai internal yang
konsisten. Hasil belajar pada peringkat ini yaitu berupa
konseptualisasi nilai atau organisasi sistem nilai, misalnya
pengembangan filsafat hidup.
Pada ranah afektif peringkat tertinggi adalah charac-
terization (karakteristik) nilai. pada peringkat ini peserta didik
memilih sistem nilai yang mengendalikan perilaku sampai pada

85

suatu waktu tertentu terbentuk pola hidup. Hasil belajar pada
peringkat ini adalah berkaitan dengan pribadi, emosi dan rasa
sosialis.
Menurut Anderson (1981), pemikiran, sikap dan perilaku
yang diklasifikasikan sebagai ranah afaktif memiliki kriteria
antara lain:
a. Perilaku itu melibatkan perasaan dan emosi seseorang
b. Perilaku itu harus tipikal perilaku seseorang
c. Kriteria lainnya yaitu intensitas, arah dan target
Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari
perasaan. Beberapa perasaan lebih kuat dari yang lain. Misal
cinta lebih kuat dari suka atau senang. Arah berkaitan dengan
oritentasi positif dan negatif dari perasaan yang menunjukkan
apakah perasaan. Arah ini menunjukkan perasaan itu baik atau
buruk misalnya senang pada mata ajar tertentu dimaknai positif
sedangkan cemas atau kurang bahkan tidak senang pada mata
ajar tertentu dimaknai negatif. Jika intensitas dan arah
perasaan ditinjau bersama-sama maka karakteristik afektif
berada pada skala yang berkelanjutan. Sedangkan target
mengacu pada obyek, aktivitas atau ide sebagai arah dari
perasaan. Bila kecemasan sebagai karakteristik afektif yang
ditinjau, maka ada beberapa kemungkinan target. Kemung-
kinannya peserta didik beraksi terhadap sekolah, kelas, situasi
dan kondisi sekolah, mata ajar atau proses pembelajaran itu
sendiri. Lalu unsur ini bisa merupakan target dari kecemasan.
Kadang-kadang target ini bisa diketahui olehs so, namun
kadang-kadang juga tidak diketahui. Seringkali peserta didik
merasa tegang ketika sedang ujian (tes) di kelas. Ini menun-
jukkan bahwa peserta didik tersebut cenderung sadar bahwa
target ketegangan adalah ujian (tes) di kelas.


86


Karakteristik ranah afektif yang penting diantaranya sikap,
minat, konsep diri, nilai dan moral.
a. Sikap menurut Fishbein dan Ajzen (1975), yaitu suatu
predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif
atau negatif terhadap suatu obyek, situasi, konsep dan orang.
Sikap disini adalah sikap peserta didik terhadap sekolah dan
terhadap mata ajar. Menurut Popham (1999), mengatakan
bahwa ranah sikap peserta didik penting untuk ditingkatkan.
Sikap peserta didik terhadap mata ajar matematika harus
lebih positif dibanding sebelum mengikuti pelajaran.
Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan
guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Oleh karena
itu, seorang guru harus membuat rencana pembelajaran
termasuk pengalaman belajar yang membuat sikap peserta
didik terhadap mata ajar menjadi lebih positif.
b. Menurut Getzel (1966), mnat adalah suatu disposisi yang
terorganisasikan melalui pengalaman yang mendorong
seseorang untuk memperoleh obyek khusus, aktivitas,
pemahaman dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau
pencapaian. Hal yang penting dalam minat adalah
intensitasnya. Secara umum minat termasuk karakteristik
afektif yang memiliki intensitas tinggi. jika so berminat
terhadap sesuatu maka orang tersebut akan melakukan
langkah-langkah konkrit untuk mencapai halt sebagai.
c. Konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu
bersangkutan terhadap kemampuan dan kelemahan yang
dimilikinya. Arah konsep diri bisa positif bisa juga negatif.
Intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinu
yaitu mulai dari yang rendah sampai yang tinggi.

87

d. Nilai menurut Tyler (1973), adalah suatu obyek, aktivitas atau
ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat,
sikap individu. Bahkan beberapa ahli mengatakan bahwa
nilai merupakan kunci bagi lahirnya sikap dan perilaku
seseorang. Manusia mulai belajar llmenilai obyek, aktifitas
dan ide sehingga obyek ini pengatur penting minat, sikap dan
kepuasan. Sekolah (guru) harus membantu peserta didik
untuk menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan
signifikan bagi peserta didik dalam memperoleh kebahagiaan
personal dan memberi kontribusi positif terhadap
masyarakat.
e. Moral secara bahasa berasal dari bahasa latin mores yang
artinya tata cara, adat kebiasaan sosial yang dianggap
permanen sifatnya bagi ketertiban dan kesejahteraan
masyarakat. Moral menyinggung akhlaq, tingkah laku,
karakter seseorang atau kelompok yang berperilaku pantas,
baik dan sesuai dengan hukum yang berlaku. Proses belajar
akhlaq (moral) memegang peranan penting, begitu juga
perkembangan kognitif memberikan pengaruh besar terhadap
sifat perkembangan tingkah laku (moral).
Penilaian pada aspek afektif dapat dilakukan dengan
menggunakan angket / kuesioner, inventori dan pengamatan
(observasi). Prosedurnya sama yaitu dimulai dengan penentuan
definisi konseptual dan definisi operasional. Definisi konseptual
kemudian dijabarkan menjadi sejumlah indikator. Indikator ini
menjadi isi pedoman kuesioner, inventori dan pengamatan.
Langkah pembuatan instrumen sikap dan minat adalah sebagai
berikut: (1) pilih ranah afektif yang akan dipilih misalnya, sikap
atau minat, (2) tentukan indikator sikap atau minat, misalnya,
indikator peserta didik yang berminat terhadap mata ajar biologi


88


adalah banyak bertanya, kehadiran di kelas, disiplin dalam
berpakaian, rajin dan tepat waktu mengumpulkan tugas yang
diberikan oleh guru, kelengkapan dan kerapihan buku catatan
dan lain sebagainya; (3) pilih tipe skala yang digunakan,
misalnya skala Likert dengan empat skala, misal sangat senang,
senang, kurang senang dan tidak senang; (4) telaah instrumen
oleh sejawat; (5) perbaiki instrumen; (6) siapakah inventori
laporan diri; (7) tentukan skor inventori; dan (8) buat hasil
analisis inventori skala sikap dan minat.
Contoh Format Lembar Pengamatan Sikap Siswa
NO

SIKAP








NAMA

K
E
T
E
R
B
U
R
U
K
A
N

K
E
T
E
K
U
N
A
N

B
E
L
A
J
A
R

K
E
R
A
J
I
N
A
N

T
E
N
G
G
A
N
G

R
A
S
A

K
E
D
I
S
I
P
L
I
N
A
N

K
E
R
J
A
S
A
M
A

R
A
M
A
H

D
E
N
G
A
N

T
E
M
A
N

H
O
R
M
A
T

P
A
D
A

O
R
A
N
G

T
U
A

K
E
J
U
J
U
R
A
N

M
E
N
E
P
A
T
I

J
A
N
J
I

K
E
P
E
D
U
L
I
A
N

T
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

N
I
L
A
I

R
A
T
A
-
R
A
T
A

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Sikap untuk masing-masing sikap di atas dapat berupa
angka. Pada akhir skor tersebut dikomulatifkan, kemudian
dikonversikan ke dalam bentuk kualitatif. Skala penilaian sikap
dibuat dengan rentang 1 5. Penafsiran angka-angka tersebut
adalah ; 1 = sangat kurang, 2 = kurang, 3 = cukup, 4 = baik dan
5 = amat baik.

89

Sedangkan untuk penilaian minat dapat menggunakan
skala bertingkat dengan rentangan 1 4 tergantung pertanyaan
atau pernyataan yang telah ditetapkan. Jawaban selalu diberi
skor 4, sering diberi skor 3, jarang diberi skor 2 dan tidak
pernah diberi skor 1.
Contoh Format Kuesioner Penilaian Minat Peserta Didik
Mata ajar : ...
Nama siswa :
Kelas/smt : /
Guru Mata ajar : ..
Tugas : Berilah tanda cek ( \ ) pada kolom frekuensi
(selalu, sering, jarang dan tidak pernah)
sesuai dengan kenyataan yang saudara alami
terhadap kenyatan berikut ini.
No. Pertanyaan/pernyataan
Frekuensi
Selalu Sering Jarang
Tidak
Pernah
1.

2.

3.

4.

dst

...
...
...
...
...
...
...
...

Jumlah skor

Dari hasil total skor yang diperoleh kemudian
dikategorikan menjadi 4 kategori, yaitu tidak berminat, kurang
berminat, berminat dan sangat berminat.
Inventori digunakan untuk menilai konsep diri peserta
didik dengan tujuan untuk mengetahui kekuatan dan
kelemahan diri peserta didik. Rentangan nilai yang digunakan


90


yaitu antara 1 sampai dengan 2. Jika jawaban Ya maka diberi
skor 2 dan jika jawaban Tidak diberi skor 1. Hasil skor
dijumlahkan dan dikalikan dengan jumlah pernyataan,
kemudian dikelompokkan menjadi kategori; tidak positif, kurang
posistif, positif dan sangat positif.

Contoh Format Penilaian Konsep Diri Peserta Didik
Nama Sekolah :
Mata ajar :
Nama siswa :
Kelas/smt : /
No. Pernyataan
Alternatif
jawaban
Ya Tidak

1.

2.

3.

4.

5.

dst















Jumlah skor .









91

BAB VIII
KARAKTERISTIK PENILAIAN
PADA TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

A. Sistem Penilaian Berkelanjutan
Implementasi kurikulum yang berbasis kompetensi tidak
hanya diarahkan untuk semata-mata mencapai penilaian
pengetahuan peserta didik belaka, tetapi kompetensi secara
utuh yang merefleksikan pengetahuan (kognitif), keterampilan
(psikomotor) dan sikap (afektif), sesuai dengan karakteristik
masing-masing mata pelajaran. Dalam hal ini, kurikulum
tersebut menuntut proses pembelajaran di sekolah pada
penguasaan kompetensi-kompetensi yang telah ditetapkan.
Kurikulum Berbasis Kompetensi, harus memperhatikan:
1. Definisi tentang apa yang dipelajari dan apa yang dinilai
2. Spesifikasi peringkat unjuk kerja atau standar
3. Menekankan pada komparasi antara unjuk kerja peserta
didik dengan standar atau kriteria
Pengembangan sistem penilaian dilakukan untuk
mengetahui seberapa jauh peserta didik telah menguasai
kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Sistem penilaian ini
harus mencakup seluruh kompetensi dasar dengan indiaktor-
indikator yang telah ditetapkan. Sistem penilaian berbasis
kompetensi yang direncanakan adalah sistem penilaian yang
berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator
ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan
kompetensi yang telah dikuasai dan yang belum dikuasai, serta
untuk mengetahui kesulitan peserta didik dalam menguasai
kompetensi yang telah ditetapkan.


92


Hasil penilaian dianalisIs untuk menentukan tindakan
perbaikan berupa program remedial. Apabila peserta didik
belum tuntas atau belum menguasai kompetensi yang telah
ditetapkan maka peserta didik tersebut harus mengikuti
program pembelajaran dan diuji ulang (remedial). Sedangkan
peserta didik telah menguasai kompetensi diberi pengayaan.
Peserta didik yang telah lulus atau tuntas dan menguasai
kompetensi dasar yang telah ditetapkan maka peserta didik
tersebut melanjutkan ke kompetensi dasar berikutnya. Dalam
sistem penilaian berkelanjutan, guru harus membuat kisi-kisi
dan rancangan penilaian secara menyeluruh untuk satu
semester dengan teknik yang tepat.
Pengembangan sistem penilaian berbasis kompetensi dasar
(penilaian berkelanjutan) mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Standar kompetensi yaitu kemampuan yang harus dimiliki
oleh peserta didik suatu jenjang pendidikan dalam mata ajar
tertentu. Hal ini memiliki implikasi yang signifikan dalam
perencanaan, metodologi dan pengolahan penilaian.
2. Kompetensi dasar yaitu kemampuan minimal dalam mata
ajar tertentu yang harus dimiliki oleh peserta didik suatu
jenjang pendidikan.
3. Rencana penilaian yaitu jadwal kegiatan penilaian dalam satu
semester yang dirancang dan dikembangkan bersamaan
dengan rencana pembelajaran (silabus)
4. Proses penilaian yaitu proses pemilihan dan pengembangan
teknik penilaian, sistem pencatatan dan pengolahan proses.
5. Proses implementasi dengan menggunakan berbagai teknik
penilaian.
6. Pencatatan dan pelaporan yaitu pengelolaan sistem penilaian
dan pembuatan pelaporan.

93

Karena komponen ini merupakan karakteristik dari pada
penilaian berbasis kompetensi dasar. Dengan demikian seorang
guru harus mampu menguasai dan melaksanakannya.

B. Teknik Penilaian pada Tingkat Satuan pendidikan
Dalam penilaian pada kurikulum tingakt satuan
pendidikan (penilaian berkelanjutan), semua indikator di tagih
atau diuji dan hasilnya dianalisis untuk menentukan
kompetensi dasar yang sudah dikuasai dan belum dikuasai oleh
peserta didik. Untuk melaksanakan penilaian pada tingkat
satuan pendidikan diperlukan teknik penilaian dan ujian yang
tepat. Penentuan teknik penilaian yang digunakan berdasarkan
kompetensi dasar yang ingin di tagih atau dinilai serta di telaah
oleh teman sejawat dalam mata ajar yang sama.
Pengembangan penilaian pada tingkat satuan pendidikan
bersifat hirarkis (secara berurutan) yaitu standar kompetensi,
kompetensi dasar, pencapaian indikator, materi pokok dan
instrumen penilaian.
Standar kompetensi, kompetensi dasar dan materi pokok di
kembangkan oleh Balitbang Departemen Pendidikan Nasional.
Sedangkan pencapaian indikator dan instrumen penilaian
dikembangkan oleh masing-masing daerah atau sekolah. Dalam
pembuatan soal diharapkan mampu menampung keperluan
daerah sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Standar
kompetensi dikembangkan dan dijabarkan ke dalam beberapa
kompetensi dasar, kemudian kompetensi dasar dikembangkan
dan dijabarkan ke dalam beberapa indikator. Setiap indikator
dikembangkan dan dijabarkan lagi ke dalam berbagai bentuk
tagihan seperti soal ujian, tugas, kuesioner, portofolio, skala


94


sikap dan lain sebagainya. Untuk lebih jelasnya lihat skema
berikut:



Banyak teknik dan metode yang dapat dilakukan untuk
mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar peserta
didik, baik yang berhubungan dengan proses belajar maupun
hasil belajar. Teknik atau metode pengumpulan informasi
tersebut pada prinsipnya adalah cara penilaian kemajuan dan
perkembangan belajar peserta didik berdasarkan standar
kompetensi, kompetensi dasar, serta pencapaian indikator yang
harus dicapai. Penilaian kompetensi dapat dilakukan atas dasar
pencapaian indikator-indikator yang telah ditetapkan yang
memuat satu atau lebih ranah. Berdasarkan pencapaian
indikator-indikator yang dapat ditentukan cara penilaian yang
sesuai dan tepat. Ada tujuh pendekatan teknik atau yang dapat
digunakan yaitu teknik atau metode penilaian unjuk kerja,
project work, tertulis, produk, portofolio, sikap dan penilaian
diri.

1. Teknik Penilaian Unjuk Kerja
Teknik penilaian unjuk kerja merupakan proses penilaian
yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam
melakukan suatu hal. Teknik ini sangat cocok untuk menilai
ketercapaian ketuntasan belajar (kompetensi) yang menuntut
peserta didik untuk melakukan tugas/gerak (psikomotor).
Misalnya praktikum, presentasi, rule playing, menggunakan
alat, dan lain-lain.

95

Dalam menentukan proses penilaian unjuk kerja harus
memperhatikan hal-hal berikut:
a. Langkah-langkah kinerja yang diharapkan dilakukan peserta
didik untuk menunjukkan kinerja dari suatu komponen.
b. Kelengkapan dan ketepatan aspek yang akan dinilai dalam
kinerja tersebut
c. Kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk
menyelesaikan tugas
d. Upaya kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak,
sehingga semu yang ingin dinilai dapat diamati.
e. Kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan
yang akan diamati.
Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan
menggunakan teknik pengamatan atau observasi terhadap
berbagai konteks untuk menentukan tingkat ketercapaian
kemampuan tertentu dari suatu kompetensi dasar. Pengamatan
atau observasi terhadap unjuk kerja peserta didik dapat
menggunakan alat/instrumen berupa:
a. Skala penilaian (rating scale), penilaian unjuk kerja dengan
rating scale memungkinkan seorang guru memberikan nilai
tengah terhadap penguasaan/ ketercapaian ketuntasan
belajar dari suatu kompetensi. Rating scale terentang dari
sangat kompeten sampai sangat tidak kompeten. Misalnya:
rentang 1 = sangat tidak kompeten, 2 = tidak kompeten, 3 =
agak kompeten (cukup), 4 = kompeten dan 5 = sangat
kompeten.
b. Daftar cek (check list), penilaian unjuk kerja dapat juga
dilakukan dengan menggunakan lembar observasi. Lembar


96


observasi adalah lembar yang digunakan untuk
mengobservasi keberadaan suatu benda/gejala-gejala yang
timbul sebagai aspek psikomotorik dari suatu obyek yang
sedang diamati. Lembar observasi pada umumnya berbentuk
check list (\) karena hanya berupa daftar pertanyaan atau
pernyataan yang jawabannya tinggal memberi tanda check list
pada jawaban yang ssuai dengan keadaan yang sebenarnya.
Kelemahannya adalah guru atau penilai hanya mempunyai
dua pilihan mutlak, benar-salah, ya-tidak, baik-buruk dan
lain-lain. Dengan menggunakan check list peserta didik
mendapatkan apabila kriteria penguasaan kompetensi
tertentu dapat diamati oleh guru/penilai. Akan tetapi jika
tidak dapat diamati maka peserta didik tidak mendapat skor.
2. Teknik Penilaian Project Work
Project work merupakan penilaian terhadap suatu tugas
yang mencakup beberapa kompetensi yang harus diselesaikan
oleh peserta didik dalam periode atau waktu tertentu. Tugas
tersebut dapat berupa investigasi terhadap suatu proses atau
kejadian yang dimulai dari perencanaan, pengumpulan data,
pengorganisasian, pengolahan data dan penyajian data.
Sedangkan menurut keputusan menteri (Kepmen) NO.
53/4/2001 tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan
Minimal Penyelenggaraan Persekolahan Bidang Pendidikan
Dasar dan Menengah (DIKDASMEN), Proyek Work mempunyai
pengertian:
a. Akumulasi tugas yang mencakup beberapa kompetensi dan
harus diselesaikan oleh peserta diklat (pada semester akhir).

97

b. Suatu model pembelajaran yang diadopsi untuk mengukur
dan menilai ketercapaian kompetensi secara kumulatif.
c. Merupakan suatu model penilaian diharapkan untuk menuju
profesionalisme
d. Lingkup kegiatan: dilakukan dari membuat proposal,
persiapan, pelaksanaan (proses) sampai dengan kegiatan
kulminasi (penyajian, pengujian dan pameran).
Dalam melakukan penilaian project work harus
memperhatikan hal-hal berikut ini:
a. Kemampuan pengolahan, kemampuan peserta didik dalam
memilih topik, mencari informasi, mengelola waktu
pengumpulan data serta penulisan laporan.
b. Relevansi, kesesuaian mata pelajaran dengan
mempertimbangkan tahapan pengetahuan, pemahaman dan
keterampilan dalam pembelajaran.
c. Keaslian, proyek yang dilakukan peserta didik adalah hasil
karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru
berupa petunjuk, arahan serta dukungan proyek kepada
peserta didik.
Project work dapat berfungsi juga sebagai:
a. Merupakan bagian internal dari proses pembelajaran
terstandar, bermuatan pedagogis dan bermakna bagi peserta
didik
b. Memberi peluang kepada peserta didik untuk
mengekspresikan kompetensi yang dikuasai secara utuh.
c. Lebih efisien dan menghasilkan produk yang memiliki nilai
ekonomis.


98


d. Menghasilkan nilai penguasaan kompetensi yang dapat
dipertanggung- jawabkan dan memiliki kelayakan untuk
disertifikasi.
Penilaian project work dilakukan dari mulai perencanaan,
proses pengerjaan sampai akhir proyek. Untuk itu seorang guru
atau asesor perlu memperhatikan hal-hal atau tahapan yang
perlu dinilai. Pelaksanaan penilaian dapat juga menggunakan
rating scale atau check list.

Contoh Format Teknik Penilaian Project Work
Mata Pelajaran : .
Nama Proyek : .
Alokasi Waktu : .
Guru Pembimbing : .
Nama Siswa :
NIS :
Kelas :
No. ASPEK SKOR (1-5)
1 PERENCANAAN:
a. Persiapan
b. Rumusan Judul

2 PELAKSANAAN:
a. Sistematika Penulisan
b. Keakuratan Sumber Data/Informasi
c. Kuantitas Sumber Data
d. Analisis Data
e. Penarikan Kesimpulan

3 LAPORAN PROYEK:
a. Performans
b. Presentasi / Penguasaan

TOTAL SKOR




99


a. Aspek yang dinilai disesuaikan dengan proyek dan kondisi
siswa/sekolah.
b. Skor diberikan berdasarkan ketetapan dan kelengkapan
jawaban yang diberikan peserta didik, semakin lengkap dan
akurat makna semakin besar skor yang diberikan.

3. Penilaian Tertulis
Penilaian tertulis (pencil and paper test) yaitu jenis tes
dimana guru dalam mengajukan butir-butir pertanyaan atau
soal dilakukan secara tertulis dan jawaban yang diberikan oleh
peserta didik dilakukan secara tertulis pula.
Dalam penilaian tertulis, soal-soal diberikan dalam bentuk
tertulis dan jawaban tes juga tertulis. Ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam pelaksanaan penilaian tertulis
diantaranya:
a. Tempat pelaksanaan tes harus kondusif dan jauh dari
kegaduhan/keramaian. Suasana yang kondusif, nyaman dan
jauh dari kegaduhan sangat mendukung konentrasi peserta
didik yang mengikuti tes tertulis
b. Ruang tempat tes, khususnya tempat duduk peserta didik
diantara sedemikian rupa, sehingga kemungkinan kerjasama
dalam menjawab soal tes atau melakukan kecurangan-
kecurangan dapat diminimalis.
c. Sistem pencahayaan diruang terharus diatur, jangan gelap
atau remang-remang dan juga jangan terlalu terang.
d. Lembar soal diberikan satu-persatu dengan cara terbalik,
kemudian dibuka bersama-sama sehingga setiap peserta
didik mempunyai kesempatan waktu yang sama untuk
mengerjakan soal tersebut.


100


e. Seorang guru yang bertindak sebagai pengawas dalam
pelaksanaan tes bersikap dan bertidnak wajar, jangan terlalu
over atau banyak gerak sehingga dapat mengganggu
konsentrasi peserta tes.
f. Sebelum pelaksanaan tes, guru atau pengawas membacakan
tata tertib tes. Apabila terjadi penyimpangan, sanksi yang
diberikan mengacu pada tata tertib tersebut.
g. Sebagai bukti mengikuti tes, dibuatkan daftar hadir yang diisi
oleh peserta didik yang mengikuti tes.
h. Apabila waktu tes sudah habis, maka pengawas
mengingatkan peserta untuk segera mengakhiri pekerjaan
dan meninggalkan ruangan.
i. Untuk menghindari kesulitan dikemudian hari, dibuat berita
acara pelaksanaan tes yang ditandatangani oleh semua
pengawas dan identitas berita acara pelaksanaan di isi
lengkap.
Pelaksanaan tes tertulis dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Bentuk penilaian uraian (subjektive test) guru yang
menggunakan alat test yang berbentuk subjective test, dalam
membuat soal sekaligus dengan kunci jawaban disertai
dengan pedoman jawaban dan pedoman penskorannya.
Pedoman jawaban betul atau soal-soal yang telah disusun
digunakan sebagai patokan dalam pemeriksaan lembar
jawaban tes uraian. Pemeriksaan hasil tes dengan jalan
membandingkan antara lembar jawaban dengan kunci
jawaban.
Dalam pemeriksaan hasil tes bentuk subjektive test harus
memperhatikan hal-hal berikut:

101

1) Pengolahan dan penentuan nilai hasil tes didasarkan pada
standar mutlak, artinya penentuan nilai secara mutlak
berdasarkan prestasi individu.
2) Pengolahan dan penentuan nilai hasil tes didasarkan pada
standar relatif artinya penentuan nilai berdasarkan pada
prestasi kelompok
b. Bentuk penilaian objektive test memeriksa atau mengoreksi
jawaban soal-soal tes objektive pada umumnya menggunakan
kunci jawaban. Ada beberapa macam kunci jawaban yang
dapat dipergunakan untuk mengoreksi test objective,
diantaranya: pertama, kunci berdamping (strip keys), kedua,
kunci sistem karbon (carbon system keys), ketiga, kunci
sistem tusukan (prinprick sistem keys) dan keempat, kunci
berjendela (windows keys).
1) Kunci berdamping (strip keys)
Kunci jawabawan berdamping terdiri atas jawaban-jawaban
betul yang ditulis dalam satu kolom yang lurus dari atas ke
bawah. Kunci jawaban jenis ini dipergunakan untuk
memeriksa jawaban-jawaban yang ditulis pada kolom satu
yang disusun lurus dari atas ke bawah.
Cara menggunakan jenis kunci jawaban ini yaitu dengan
meletakkan kunci jawaban tersebut berjajar dengan lembar
jawaban yang akan diperiksa. Kemudian cocokan jawaban,
apabila jawaban cocok dengan kunci jawaban beri tanda
plus (+) sedangkan jawaban yang tidak cocok beri tanda (-).
2) Kunci sistem karbon (carbon system keys)
Pemeriksaan hasil tes yang menggunakan kunci jawaban
sistem karbon, peserta didik diminta untuk membubuhkan
tanda silang pada huruf abjad yang jawabannya dianggap
paling benar oleh peserta didik. Kunci jawaban ini


102


diletakkan di atas lembaran jawaban yang sudah
ditumpangi karbon. Pada kunci jawaban sudah dibubuhi
tanda berupa lingkaran-lingkaran untuk setiap jawaban
yang betul. Jawaban peserta didik yang berada di luar
lingkaran berarti jawabannya salah, sedangkan jawaban
yang berada di dalam lingkaran jawabannya betul. Lembar
jawaban.
3) Kunci sistem tusukan (prinprick sistem keys)
Pada dasarnya kunci jawaban sistem tusukan sama
dengan kunci jawaban sistem karbon. Perbedaannya bahwa
dalam kunci jawaban sistem tusukan, untuk jawaban betul
diberi tusukan dengan jarum besar/paku. Sementara
lembar jawaban peserta didik berada di bawahnya.
Tusukan tadi akan menembus lembar jawaban yang berada
di bawahnya. Lembar jawaban yang betul adalah pilihan
jawaban yang berlubang sedangkan jawaban yang salah
adalah tidak berlubang.
4) Kunci jawaban berjendela (window keys)
Apabila kunci jawaban sistem berjendela akan dipakai
untuk mengoreksi lembar jawaban peserta didik, maka ada
beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya:
a) Ambillah blangko lembar jawaban yang masih kosong
(belum dipergunakan.
b) Pilihan jawaban yang betul diberi lubang (bulatan seperti
jendela)
c) Lembar jawaban diletakkan dibawah kunci jawaban
jendela
d) Melalui lubang-lubang tersebut kemudian buang garis
vertical dengan pencil berwarna. Apabila tanda garis
tersebut tepat mengenai tanda-tanda silang yang dibuat

103

oleh peserta didik pada lembar jawaban ini berarti
jawaban pserta didik betul dan apabila tanda bergaris
tidak mengenai tanda-tanda silang maka jawaban
peserta didik salah.

4. Penilaian Produk
Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses
pembuatan dan kwalitas suatu produk. Penilaian jenis ini
meliputi penilaian kemampuan peserta didik terhadap proses
pembuatan suatu produk, misalnya produk teknologi, makanan,
karya seni dan lain sebagainya.
Ada tiga hal harus diperhatikan dalam pelaksanaan
penilaian produk, diantaranya:
a. Tahap persiapan, tahap ini meliputi penilaian kemampuan
peserta didik dalam merencanakan, menggali dan
mengembangkan gagasan serta mendesain produk.
b. Tahap proses/pembuatan produk, meliputi penilaian
kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan
menggunakan bahan, alat, metode dan teknik.
c. Tahap penilaian produk, tahap ini meliputi penilaian produk
yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan.
Dalam teknik penilaian produk dapat digunakan dua cara yaitu
penilaian holistik dan penilaian analitik.
a. Penilaian dengan cara holistik yaitu penilaian yang
berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya
dilakukan pada tahap appraisal.
b. Penilaian dengan cara analitik yaitu berdasarkan aspek-aspek
produk, biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang
terdapat pada semua tahap proses pengembangan.



104


Contoh Format Penilaian Produk
Mata Ajar : Biologi
Nama Proyek : Pembuatan Nata de Coco
Alokasi Waktu : ..
Nama Siswa : ..
Kelas/Smt : ..
No. Tahapan Skor (1-5)*
1 Tahap perencanaan bahan
2 Tahap proses pembuatan
a. Persiapan alat dan bahan
b. Teknik pengolahan
c. K3 (keselamatan kerja, keamanan
dan kebersihan)

3 Tahap terakhri (hasil produk)
a. Bentuk fisik
b. Inovasi

Total Skor

Catatan:
* Skor diberikan dengan rentang nilai antara 1-5 dengan ketentuan
semakin lengkap jawaban serta ketepatan dalam proses pembuatan
maka semakin tinggi skor yang diberikan

5. Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio sangat cocok untuk mengetahui
perkembangan aspek psikomotor peserta didik dengan cara
menilai kumpulan karya/tugas yang mereka kerjakan.
Penilaian portofolio merupakan proses penilaian yang
berkalnjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang
menunjukkan perkembangan kemampuan khususnya aspek
psikomotor/unjuk kerja peserta didik dalam satu periode
tertentu. Penilaian jenis ini pada dasarnya menilai karya-karya

105

peserta didik secara individual dalam satu periode tertentu per
mata pelajaran.
Setiap akhir periode pembelajaran hasil karya atau tugas
belajar dikumpulkan dan dinilai bersama-sama guru dalam
peserta didik, sehingga penilaian portofolio dapat memberikan
gambaran secara jelas tentang perkembangan/kemajuan belajar
peserta didik.
Dalam melakukan penilaian portofolio harus memper-
hatikan hal-hal berikut:
a. Asli, artinya karya/tugas yang dinilai adalah asli sebagai hasil
karya peserta didik, bukan bajakan/jiplakan karya orang
lain.
b. Adanya rasa saling kepercayaan antra guru dan peserta didik,
baik dalam proses penilaian maupun dalam proses menjaga
rahasia tentang pengumpulan informasi hasil belajar (bukan
nilai), karya/tugas belajar peserta didik, sehingga tidak bocor
ke pihak lain yang memungkinkan berdampak negatif pada
proses belajar, penilaian lbahkan pendidikan.
c. Join Ownershif, antara guru dengan peserta didik memiliki
rasa saling memiliki terhadap berkas-berkas portofolio,
sehingga ada upaya dari peserta didik untuk terus
memperbaiki hasil karyanya.
d. Identitas yang tercantum dalam portofolio sebaiknya berisi
tentang keterangan/bukti yang mampu menumbuhkan
semangat peserta didik untuk terus menerus meningkatkan
karya kreativitasnya yang lebih baik lagi.
e. Adanya kesesuaian antara hasil informasi hasil belajar atau
karya dengan pencapaian indiktor dari setiap kompetensi
dasar/standar kompetensi yang tercantum dalam kurikulum.


106


f. Penilaian portofolio mencakup penilaian proses belajar dan
hasil belajar.
g. Penilaian portofolio terintegrasi dengan kegiatan proses
pembelajaran. Hal ini sangat bermnfaat bagi seorang guru
untuk melakukan diagnosa serta untuk mengetahui
perkembangan/kemajuan belajar peserta didik.
Metode/teknik penilaian portofolio memerlukan langkah-
langkah sebagai berikut:
a. Menjelaskan kepada peserta didik bahwa tidak hanya
merupakan kumpulan karya/tugas yang dipergunakan oleh
guru untuk penilaian, melainkan digunakan juga oleh peserta
didik itu sendiri. Dengan melihat portofolionya peserta didik
dapat mengetahui kemampuan, keterampilan, bakat dan
minat yang dimiliki terhadap suatu mata pelajaran. Proses ini
akan terjadi secara spontan, tetapi memerlukan waktu untuk
belajar memahami dan meyakini hasil penilaian mereka
sendiri.
b. Menentukan bersamaan antar peserta didik dengan guru
terhadap sampel-sampel portofolio apa saja yang akan dibuat.
Kemungkinannya portofolio antara peserta didik yang satu
dengan yang lain bisa berbeda. Misal untuk mengetahui
kemampuan menulis peserta didik mengumpulkan karang-
karangannya, sedangkan untuk mengetahui kemampuan
menggambar maka peserta didik mengumpulkan hasil
gambar-gambarnya.
c. Kumpulkan dan simpanlah semua portofolio masing-masing
peserta didik dalam satu map folder di rumah masing-masing
atau loker masing-masing sekolah.

107

d. Berilah identitas waktu dari setiap bahan informasi
perkembangan peserta didik sehingga bisa terlihat perbedaan
kualitas dari waktu ke waktu.
e. Sebaiknya tentukan kriteria penilaian sampel portofolio
beserta bobotnya dengan para peserta didik sebelum mereka
membuat karyanya. Kemudian diskusikan cara penilaian
lkwalita tugas belajar/karya dengan peserta didik sehingga
mengetahui standar dan guru harus berusaha mencapai
standar itu.
f. Seorang guru meminta kepada peserta didik untuk menilai
hasil karyanya secara berkesinambungan. Guru dapat
membimbing peserta didik bagaimana cara menilai dengan
memberi keterangan tentang kelebihan dan kekurangan
karya/tugas belajar tersebut serta bagaimana cara
memperbaikinya. Hal ini dapat dilakukan pada saat
membahas portofolio.
g. Setelah portofolio dinilai dan hasilnya belum memuaskan
maka peserta didik diberi kesempatan untuk memperbaikinya
(remedial). Namun antara guru dan peserta didik terlebih
dahulu dibuat perjanjian tentang batas maksimal remedial
serta jangka waktunya.
h. Akan lebih baik jika dibuat jadwal untuk membahas
portofolio dengan mengundang orang tua/wali peserta didik
untuk menjelaskan betapa pentingnya portofolio supaya
orang tua/wali dapat mengetahui perkembangan/
pertumbuhan belajarnya.





108


Contoh Format Penilaian Portofolio

Sekolah : .
Mata Pelajaran : .
Durasi Waktu : 1 semester
Nama Siswa :
Kelas/semester :
No. SK/KD/PI Waktu
Kriteria
Ket.
. . ..
1. .


2. .


3. .




6. Penilaian Sikap
Aspek afektif sangat menentukan keberhasilan peserta
didik untuk mencapai ketuntasan dalam pembelajaran. Seorang
peserta didik yang tidak memiliki minat/karakter terhadap mata
pelajaran tertentu, maka akan kesulitan untuk mencapai
ketuntasan belajar secara maksimal. Sedangkan peserta didik
yang memiliki minat/karakter terhadap mata pelajaran, maka
akan sangat membantu untuk mencapai ketuntasan secara
maksimal.
Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap
dan nilai. sedangkan menurut para ahli mengatakan bahwa
sikap seseorang dapat meramalkan perubahannya bila seorang
telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. ciri-ciri hasil
belajar afektif akan tampak pada berbagai tingkah laku peserta
didik seperti perhatiannya yang antusias dalam mengikuti

109

proses pembelajaran, kedisiplinan dalam belajar, memiliki
motivasi yang tinggi untuk mengetahui lebih jauh tentang apa
yang sedang dipelajarinya, penghargaan dan rasa hormat
terhadap guru mata pelajaran yang bersangkutan.
Sikap pada awalnya berskala dari perasaan (suka atau tidak
suka) yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam
merespon suatu obyek. Sikap sebagai ekspresi dari pandangan
hidup/nilai yang telah diyakini seseorang. Sikap dapat
diarahkan dan dibentuk sehingga memunculkan tindakan
perilaku (melalui pembiasaan) yang diinginkan.
Sikap pada dasarnya terdiri atas tiga komponen yaitu:
a. Kompoenn afektif yaitu perasaan yang dimiliki oleh seseorang
atau penilaiannya terhadap suatu obyek.
b. Komponen kognitif adalah kepercayaan atau keyakinan
seseorang mengenai obyek.
c. Komponen konatif adalah kecenderungan untuk berperilaku
atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan
kehadiran obyek sikap.
Secara umum aspek sikap/afektif yang perlu dinilai dalam
proses pembelajaran terhadap berbagai mata pelajaran
mencakup hal-hal berikut:
a. Penilaian sikap terhadap materi pelajaran. Disini peserta
didik perlu mempunyai sikap positif terhadap materi
pelajaran. Berawal dari sikap positif inilah akan melahirkan
minat belajar, kemudian mudah diberi motivasi serta lebih
mudah dalam menyerap materi pelajaran.
b. Penilaian sikap terhadap guru. Peserta didik perlu memiliki
sikap positif terhadap guru, apakah tidak memiliki sikap
positif akan cenderung mengabaikan apa yang dibelajarkan
oleh gurunya. Sehingga peserta didik yang memiliki sikap


110


positif akan mudah menyerap materi yang diajarkan oleh
gurunya.
c. Penilaian sikap terhadap proses pembelajaran. Peserta didik
perlu memiliki sikap positif terhadap proses pembelajaran,
strategi, metodologi serta teknik atau model pembelajaran
yang digunakan oleh guru. Proses pembelajaran yang
menarik, nyaman dan menyenangkan dapat menumbuhkan
motivasi belajar peserta didik sehingga pencapaian hasil
belajar bisa maksimal. Hal ini kembali kepada guru untuk
pandai-pandai mencari metode yang kira-kira dapat
mendorong/merangsang peserta didik untuk belajar serta
merasa tidak penuh.
d. Penilaian sikap yang berkaitan dengan nilai atau norma yang
berhubungan dengan suatu materi pelajaran. Peserta didik
harus memiliki sikap yang tetap terhadap satu kasus/
kejadian dari suatu materi yang sedang dipelajarinya dengan
dilandasi nilai-nilai positif terhadap kasus/kejadian tersebut.
Misal pesert didik mempunyai sikap positif terhadap upaya
sekolah melestarikan lingkungan dengan mengadakan
program penghijauan/kebun sekolah.
e. Penilaian sikap yang berkaitan dengan kompetensi afektif
litnas kurikulum yang relevan dengan mata pelajaran. Peserta
didik memiliki sikap positif terhadap berbagai kompetensi
setiap kurikulum yang terus mengalami perkembangan
sesuai dengan kebutuhan (litnas kurikulum).
Metode/teknik penilaian yang dapat dilakukan untuk
melakukan proses penilaian sikap diantaranya:
a. Observasi perilaku, perilaku atau perbuatan seseorang yang
seringkali dilakukan menggambarkan kecenderungan
seseorang terhadap suatu obyek. Misal seseorang yang sering

111

membaca novel dapat dipahami sebagai kecenderungan yang
senang pada cerita novel. Hasil observasi dapat dijadikan
umpan balik dalam pembinaan peserta didik. Observasi
perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan
buku penghubung/kendali peserta didik yang mencatat
berbagai kejadian-kejadian yang berkaitan dengan peserta
didik selama di sekolah.
b. Pertanyaan langsung
Guru dapat menanyakan secara langsung (wawancara)
tentang sikap kepada peserta didik yang berkaitan dengan
suatu obyek/peristiwa. Contoh guru mengajukan pertanyaan
tentang bagaimana upaya penanggulangan narkoba di
lingkungan sekolah. Kemudian dari jawaban peserta didik
guru dapat mengambil kesimpulan tentang sikap peserta
didik tersebut terhadap suatu obyek/peristiwa. Dalam
penilaian sikap peserta didik, guru dapat menggunakan
metode ini melakukan pembinaan terhadap peserta didik.
c. Laporan pribadi
Metode/teknik penilaian sikap seperti ini, dimana guru
meminta kepada peserta didik untuk membuat laporan/
ulasan yang berisi tentang pandangan/tanggapannya
terhadap suatu masalah, keadaan atau suatu hal yang
menjadi obyek sikap. Contoh peserta didik diminta untuk
menulis ulasannya tentang peristiwa pembalakan hutan yang
akhir-akhir ini sering terjadi di Indonesia. Dari laporan yang
ditulisnya guru dapat memahami kecenderungan sikap yang
dimiliki peserta didik.
Sebagaimana dikatakan diawal bahwa hasil penilaian sikap
dapat digunakan sebagai umpan balik untuk melakukan
pembinaan terhadap peserta ddiik. Guru dapat memantau


112


setiap perubahan perilaku yang dimunculkan peserta didik
dengan melakukan pengamatan. Hal ini akan tampak sekali
pada mata pelajaran pendidikan agama dan akhlaq mulai,
PKn dan kepribadian, serta estetika dan jasmani. Setiap
perubahan perilaku peserta didik secara keseluruhan dapat
dirangkum dengan menggunakan lembar pengamatan
berikut:

Contoh Format Lembar Pengamatan Perubahan
Perilaku Peserta Didik

Sekolah :
Mata Pelajaran :
Sikap/Perilaku :
Nama Siswa :
Kelas/semester :
No.
Gambaran
Perilaku Awal
Perubahan Perilaku Ketercapaian
Pertemuan
I
Pertemuan
II
Pertemuan
III
SR R T ST

1





2





3



Catatan :
SR : Perubahan sangat rendah
R : Perubahan rendah
T : Perubahan tinggi
ST : Perubahan sangat tinggi

113

7. Penilaian Diri
Penilaian diri atau evaluasi diri merupakan teknik/metode
penilaian dimana peserta didik diminta untuk menilai dirinya
sendiri yang berkaitan dengan status, proses dan tingkat
ketercapaian kompetensi yang sedang dipelajarinya dari suatu
mata pelajaran tertentu. Teknik penilaian ini dapat mengukur
dengan sekaligus untuk aspek kognitif, psikomotor, dan afektif.
a. Menilai aspek kognitif, peserta didik diminta untuk menilai
penguasaan pengetahuan dan keterampilan berfikir sebagai
hasil belajar dari suatu mata pelajaran tertentu. Evaluasi diri
peserta didik didasarkan pada acuan/kriteria yang telah
disiapkan.
b. Menilai aspek psikomotor, peserta didik diminta untuk
menilai kecakapan/keterampilan yang telah dikuasainya
berdasarkan kriteria/acuan yang sudah ditetapkan oleh guru
c. Menilai aspek afektif; peserta didik diminta untuk membuat
tulisan yang memuat tentang curahan/perasaannya terhadap
suatu obyek tertentu. Untuk selanjutnya peserta didik
diminta untuk melakukan evaluasi diri sendiri dengan
kriteria/acuan yang sudah ditetapkan oleh guru.
Menilai diri/evaluasi diri dapat memberikan manfaat/dampak
positif terhadap perkembangan kepribadian seorang peserta
didik diantaranya:
a. Menumbuhkan rasa percaya diri, karena peserta didik
diminta untuk menilai dirinya sendiri.
b. Peserta didik dapat mengetahui kekurangan dan kelemahan
diri sendiri, metode ini merupakan ajang intropeksi diri
c. Memberikan motivasi untuk membiasakan dan melatih
peserta didik untuk berbuat jujur dan obyektif dalam
menyikapi suatu hal


114


Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam melakukan
penilaian diri/evaluasi diri diantaranya:
1. Menentukan standar kompetensi, kompetensi dasar dan
pencapaian indikator yang akan dinilai
2. Menentukan kriteria / acuan yang akan digunakan
3. Merancang dan merumuskan format penilaian (pedoman
penskoran, skala penilaian, kriteria penilaian dan lain-lain).
4. Meminta peserta didik melakukan evaluasi diri
5. Guru menganalisis hasil penilaian secara acak
6. Hasil analisis daripada hasil evaluasi diri peserta didik
disampaikan kepada peserta didik (hasil evaluasi diri peserta
didik dapat juga dijadikan umpan balik untuk melakukan
pembinaan terhadap peserta didik).

C. Langkah-langkah Penilaian
Sebelum melakukan proses penilaian, seorang guru
terlebih dahulu merancang format penilaian dengan mengikuti
langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menetapkan pencapaian indikator dari setiap standar
kompetensi dan kompetensi dasar.
Indikator merupakan ukuran, karakteristik, ciri-ciri,
pembuatan atau proses yang berkontribusi atau
menunjukkan ketercapaian suatu kompetensi dasar.
Pencapaian indikator dari suatu standar kompetensi atau
kompetensi dasar menentukan pencapaian indikator dari
setiap standar kompetensi atau kompetensi dasar dengan
menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur.
Misalnya: mengidentifikasi, menyimpulkan, menyebutkan,
menggambarkan, mengkonstruksi, mengasumsikan dan lain-
lain.

115

Setiap pencapaian indikator dikembangkan oleh seorang
guru dengan memperhatikan perkembangan dan kemampuan
(intake) setiap peserta didik. Standar kompetensi dapat
dijabarkan menjadi beberapa kompetensi dasar, setiap
kompetensi dasar dapat dijabarkan menjadi beberapa
pencapaian indikator. Setiap penjabaran disesuaikan dengan
keluasan dan kedalaman dari setiap standar kompetensi dan
kompetensi dasar. Pencapaian indikator yang menjadi bagian
dari pengembangan silabus dan rencana pembelajaran dan
penilaian (RPP) menjadi acuan dalam merancang format
penilaian (penentuan metode/teknik penilaian).
2. Melakukan pemetaan standar kompetensi, kompetensi dasar
dan pencapaian indikator
Proses pemetaan ini dikenal dengan istilah
pengembangan silabus. Kemudian hasil pengembangan
silabus ini dijabarkan lagi secara terperinci dalam format
Rencana Pembelajaran dan Penilaian (RPP). RPP ini dibuat
untuk setiap pertemuian dengan durasi waktu disesuaikan
dengan program semester yang telah ditetapkan.
Pengembangan silabus dan RPP dirancang dan dibuat oleh
setiap guru mata pelajaran dengan bimbingan dan arahan
dari kepala sekolah dan tim kurikulum.
Apabila pengembangan silabus dan RPP selesai dirancang,
untuk selanjutnya menentukan teknik dan metode penilaian.
Untuk menentukan teknik dan metode penilaian mengacu pada
penilaian indikator dari setiap standar kompetensi dan
kompetensi dasar untuk masing-masing mata pelajaran. Untuk
lebih jelasnya dalam menentukan teknik dan metode penilaian
memperhatikan ciri/aspek indikator tersebut, misalnya:


116


1. Apabila aspek pencapaian indikator menuntut untuk
melakukan sesuatu maka teknik dan metode penilaian
menggunakan pendekatan unjuk kerja.
2. Apabila aspek pencapaian indikator menuntut untuk
memahami suatu deskripsi/konsep maka teknik dan metode
penilaian menggunakan pendekatan tertulis (obyektif dan
subjective test).
3. Apabila aspek pencapaian indikator menuntut untuk memuat
unsur investigasi terhadap suatu hal maka teknik dan
metodenya menggunakan pendekatan project work.
4. dan lain-lain

D. Bentuk Tagihan
Dalam membuat soal tagihan harus menggunakan tingkat
berfikir dari yang sederhana atau konkrit terus bertingkat
berlevel sampai akhirnya ampai pada berfikir kompleks, dengan
proporsi yang sebanding dengan jenjang pendidikan. Pada
jenjang pendidikan menengah, tingkat berfikir yang terlibat
sebaiknya didominasi oleh tingkat pemahaman, aplikasi dan
analisis. Namun semua ini tergantung pada karakteristik mata
ajar.
Bentuk tagihan yang digunakan di sekolah dapat
dikategorikan menjadi dua yaitu tes obyektif dan tes non
obyektif. Tagihan atau tes obyektif disini dapat dilihat dari
sistem penskorannya yaitu siapa saja yang memeriksa lembar
jawaban peserta didik akan menghasilkan nilai atau skor yang
sama. Sedangkan tes non obyektif adalah tes atau tagihan yang
sistem penskorannya dipengaruhi oleh keadaa psikis si
korektor. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa tes obyektif
adalah tes yang sistem penskorannya obyektif tanpa di

117

pengaruhi oleh kondisi korektor, sedangkan tes non obyektif
sistem penskorannya dipengaruhi oleh subyektivitas si korektor.
Beberapa bentuk tagihan yang digunakan dalam sistem
penilaian berbasis kompetensi yakni:
1. Bentuk tagihan pilihan ganda: bentuk tes ini bisa
menyangkut banyak materi mata ajar, dimana penskorannya
bersifat obyektif dan dapat dikoreksi melalui komputerisasi.
Dalam membuat bentuk tes ini yang berkualtias ternyata
sangat sulit, selain itu juga terdapat kelemahan yaitu peluang
main tebak serta kerjasama antara peserta tes sangat besar.
Biasanya bentuk tes pilihan ganda dipilih jika melibatkan
banyak peserta didik dan memerlukan koreksi yang singkat.
Bentuk tes pilihan ganda ini menuntut pengawas ujian untuk
teliti dalam melakukan pengawasan saat ujian. Pedoman
utama dalam membuat tes pilihan ganda antara lain: (1)
pokok soal harus jelas dan mengacu pada indikator, (2) pokok
soal dirumuskan secara jelas dan tidak menimbulkan
penafsiran yang berbeda atau benda tetapi hanya
mengandung satu makna dalam setiap itemnya serta pilihan
jawaban homogen, (3) menggunakan bahasa Indonesia yang
baku dan mudah dipahami oleh peserta didik dan panjang
kalimat relatif sama, (4) tidak ada petunjuk jawaban yang
benar dan hindari menggunakan pilihan semua jawaban
atau pilihan semua jawaban salah, (5) pilihan jawaban angka
diurutkan, (6) semua pilihan jawaban logis, (7) pokok soal
tidak menggunakan pernyataan-pernyataan yang bersifat
negatif ganda sehingga bisa menimbulkan salah interpretasi
terhadap pernyataan yang dimaksud, (8) letak pilihan
jawaban benar ditentukan secara acak, (9) grafik/tabel/grafik
dan sejenisnya dan soal harus jelas dan berfungsi, (10) semua


118


soal mempunyai satu jawaban yang benar atau paling benar,
dan (11) butir soal tidak tergantung pada soal sebelumnya.
2. Bentuk tagihan uraian: tagihan yang berbentuk uraian
biasanya disebut juga dengan tes essay. Bentuk tes ini
memiliki keunggulan dibandingkan dengan bentuk tagihan
pilihan ganda, yaitu menuntut peserta didik untuk
mengembangkan kemampuan berfikirnya khususnya pada
aspek analisis, sintesis dan evaluasi. Bentuk tes ini bertujuan
ini agar siswa mengungkapkan pikirannya ke dalam suatu
kerangka terstruktur, menguraikan hubungan dan
mempertahankan pendapat secara tertulis. Bentuk tes uraian
ini memiliki kriteria sebagai berikut: (1) soal mengacu pada
indikator, (2) menggunakan bahasa baku, sederhana dan
mudah dipahami oleh peserta didik, (3) apabila terdapat
grafik/tabel/gambar dan lain sebagainya maka harus
ditampilkan secara jelas, berfungsi dan komunikatif, (4)
hanya mengandung variabel-variabel, informasi-informasi dan
besaran-besaran fisika yang relevan saja, (5) pertanyaan di
rumuskan secara jelas sehingga tidak menimbulkan
penafsiran ganda dikalangan peserta didik, (6) setiap soal
hanya mengandung satu pertanyaan saja, (7) siapkan kunci
jawaban secara lengkap beserta pedoman penskorannya.
Bentuk tagihan uraian dapat dibedakan menjadi 2
diantaranya.
a. Uraian obyektif. Bentuk tagihan ini cocik untuk mata ajar
yang batasannya jelas seperti lmata ajar matematika,
fisika, biologi kimia (eksakta). Agar hasil penskorannya
bersifat obyektif maka diperlukan pedoman. Obyektif
disini berarti hasil penilaian atau penskoran akan sama
walau dikoreksi oleh korektor yang lain dengan syarat

119

memiliki latar pendidikan yang seuai dengan mata ajar
yang diujikan. Penskoran dilakukan secara analitik yaitu
setiap langkah pengerjaan di beri skor, misalnya peserta
didik yang menjawab dengan menulis rumusnya atau
langkah-langkahnya maka diberi skor, menghitung
hasilnya diberi skor dan menganalisis kesimpulannya juga
diberi skor. Sistem penskoran dalam bentuk tagihan ini
bersifat hirarkis sesuai dengan langkah pengerjaan soal.
Bobot skor ditentukan oleh tingkat kesulitan soal
tersebut. Soal yang lebih sulit maka bobot skornya lebih
besar dibandingkan dengan soal yang lebih mudah.
b. Uraian non obyektif : bentuk tagihan ini dikatakan non
obyektif karena sistem penilaian yang dilakukan
cenderung dipengaruhi oleh subyektivitas korektor.
Bentuk tagihan ini menuntut kemampuan peserta didik
untuk menyampaikan, memilih, menyusun dan
memadukan gagasan atau ide yang telah dimilikinya
dengan menggunakan kata-kata sendiri. Tingkat berfikir
tinggi dan bisa menggali informasi kemampuan penlaran,
kreativitas peserta didik karena kunci jawaban yang
disediakan tidak hanya satu. Bentuk tagihan ini cocok
digunakan untuk mata ajar sosial (non eksakta).
Walaupun sistem penilaiannya bersifat subjektif, namun
bila disediakan pedoman penskoran yang jelas maka hasil
penilaian diharapkan lebih obyektif. Selain itu juga
bentuk tagihan ini memiliki keunggulan diantaranya
dapat mengukur tingkat berfikir peserta didik dari tingkat
terendah sampai tingkat tertinggi yaitu dari hapalan
sampai dengan evaluasi. Namun pertanyaan yang
menekankan pada hapalan (diawali dengan kata apa,


120


siapa, dimana dan lain sebagainya) sebaiknya
dihindarkan agar kualitas tes baik. Adapun kelemahan
bentuk tagihan uraian non obyektif antara lain: (1) istem
penskoran bersifat subyektivitas dari pada korektor, (2)
memerlukan waktu yang lama untuk mengoreksi lembar
jawaban, (3) materi yang diujikan terbatas, dan (4) adanya
efek fluffing. Untuk meminimalisasi kelemahan tersebut
dapat dilakukan metode berikut ini: (1) pertanyaan tidak
perlu memerlukan jawaban yang panjang sehingga bisa
mencakup materi yang lebih luas, (2) dalam mengoreksi
lembar jawaban tidak melihat namun peserta didik agar
terhindar sifat subyektivitas, (3) mengoreksi lembar
jawaban secara keseluruhan tanpa dijeda, dan
(4) menyiapkan pedoman penskoran.
3. Bentuk tagihan jawaban atau isian singkat: bentuk tagihan
ini cocok digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan
dan pemahaman peserta didik. Cakupan materi yang diujikan
bisa banyak, namun tingkat berfikir yang diuji cenderung
rendah dan hanya memancing respon refleks saja.
4. Bentuk tagihan dijodohkan: bentuk tagihan ini cocok untuk
mengetahui pemahaman peserta didik tentang fakta dan
konsep. Cakupan materinya luas, namun tingkat berfikir
yang terlibat cenderung rendah.
5. Bentuk tagihan performans: bentuk tagihan ini cocok untuk
mengukur kemampuan seseorang dalam melakukan tugas
tertentu, misalnya praktek di laboratorium. Peserta didik yang
diuji diminta untuk mendemonstrasikan kemampuan dan
keterampilan yang mereka miliki dalam bidang tertentu.
6. Bentuk tagihan portofolio: bentuk tagihan ini cocok untuk
mengetahui perkembangan unjuk kerja para peserta didik

121

dengan menilai kumpulan-kumpulan karya-karya atau tugas
yang mereka kerjakan. Cara ini dapat dilakukan dengan baik
jika peserta didik yang dinilai tugas atau karyanya tidak
banyak.

E. Jenis Tagihan
Untuk memperoleh data dan informasi sebagai dasar
penentuan tingkat keberhasilan peserta didik dalam
penguasaan kompetensi dasar yang diajarkan (mentari ajar)
diperlukan adanya berbagai jenis tagihan.
Dalam melakukan penilaian pada tingkat Satuan
Pendidikan untuk mengetahui kemampuan peserta didik
terdapat materi-materi yang diajarkan, maka perlu merancang
perangkat-perangkat penilaian berupa tagihan-tagihan.
Tagihan-tagihan ini dirancang sedemikian rupa sehingga
merupakan sistem penilaian yang berbasis kompetensi untuk
Tingkat Satuan Pendidikan yang berkaitan dengan aspek
kognitif, psikomotorik dan afektif.
Jenis tagihan yang digunakan dalam sistem penilaian
berbasis kompetensi yang berkaitan erat dengan aspek kognitif,
psikomotor dan afektif antara lain:
1. Pertanyaan lisan di kelas: materi yang ditanyakan berupa
konsep, prinsip atau teorema. Pertanyaan ini diajukan kepada
peserta didik, kemudian diberi kesempatan berfikir
selanjutnya so guru dapat memiliki cara acak untuk
menentukan siapa di antara peserta didik itu yang harus
menjawab pertanyaan yang diajukan tersebut. Jawaban
tersebut sifatnya bebas dan para peserta didik mempunyai
kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengemukakan
argument atau gagasannya. Jawaban peserta didik tersebut


122


tanpa mengatakan benar atau salah kemudian dilemparkan
lagi kepada peserta didik yang lain untuk memberikan
klarifikasi terhadap jawaban yang pertama. Setelah ajang
diskusi atau debat diantara para peserta didik mengalami
kebuntuan maka seorang guru langsung menyimpulkan
jawaban siswa yang benar. Pertanyaan kuis seperti ini dapat
dilakukan diawal dan diakhir proses pembelajaran.
Penskoran pertanyaan lisan dapat dilakukan dengan pola
kontinum 0 sampai dengan 10 atau 0 sampai dengan 100.
untuk memudahkan penskoran dibuat rambu-rambu
jawaban yang akan dijadikan acuan.
2. Kuis pertanyaan yang diajukan peserta didik, dimana
pertanyaan itu hanya menanyakan hal-hal yang prinsip saja
dari materi yang telah diajarkan sebelumnya dan bentuknya
berupa isian singkat. Hal ini dilakukan untuk mengetahui
penguasaan materi (kompetensi) peserta didik. Waktu yang
diperlukan relatif singkat, kurang dari 15 menit. Kuis ini
biasanya dilakukan di awal pembelajaran. Apabila ada
peserta didik yang belum menguasai kompetensi maka
sebaiknya seorang guru menjelaskan kembali materi tersebut
secara singkat dengan menggunakan metode yang berbeda.
3. Ulangan harian: biasanya dilakukan secara periodik,
misalnya setelah menyelesaikan belajar sebanyak 1 atau 2
pokok bahasan atau beberapa indiaktor maka dilakukan
penilaian (ulangan harian) untuk mengetahui penguasaan
materi peserta didik. Soal yang dibuat biasanya berbentuk
uraian obyektif maupun uraian non obyektif. Tingkat berfikir
yang terlibat sebaiknya mencakup pemahaman, aplikasi dan
analisis.

123

4. Tugas individu: jenis tagihan ini biasanya diberikan setiap
minggu dengan bentuk soal atau tes uraian obyektif maupun
uraian non obyektif. Tingkat berfikir yang terlibat sebaiknya
aflikatif, analisis dan bila memungkinkan sampai dengan
sintesis dan evaluasi. Tugas individu untuk materi ajar
tertentu terkait dengan aspek psikomotor, misalnya peserta
didik diberi tugas untuk melakukan observasi lapangan
dalam mata ajar biologi.
5. Tugas kelompok: tugas ini diberikan untuk menilai
kemampuan kerjasama peserta didik dalam sebuah tim.
Bentuk tagihan atau tes yang digunakan biasanya bentuk
soal uraian dengan tingkat berfikir yang tinggi dan komplek
yaitu aplikasi dan evaluasi. Bila memungkinkan peserta didik
diminta untuk menggunakan data-data sebenarnya melalui
pengamatan terhadap suatu fenomena atau gejala. Selain itu
juga dapat dilakukan melalui pengamatan terhadap rencana
suatu proyek, karena proyek yang sesungguhnya
menggunakan data-data yang sesuai dengan di lapangan.
Seperti halnya dengan tugas individu, tugas kelompok juga
berkaitan dengan aspek psikomotor.
6. Ujian blok: jenis tagihan ini bertujuan untuk melakukan
penilaian terhadap materi yang telah diajarkan dengan sistem
blok. Bentuk tagihan atau soal yang dipakai biasanya
berbentuk pilihan ganda, uraian, campuran, antara pilihan
ganda dan uraian. Materi yang diujikan berdasarkan
indikator-indikator yang telah ditetapkan. Tingkat berfikir
yang terlibat mulai dari tingkat pemahaman sampai dengan
tingkat evaluasi.
7. Ujian semester: ujian yang dilakukan pada akhir semester,
dengan bentuk soal tagihan pilihan ganda, uraian atau


124


campuran antara pilihan ganda dan campuran. Materi yang
diujikan berdasarkan indikator-indikator yang telah
ditetapkan. Tingkat berfikir yang terlibat yaitu mulai dari
pemahaman sampai dengan evaluasi.
8. Laporan praktikum atau laporan kerja praktek: jenis tagihan
ini hanya dipakai untuk mata ajar tertentu yang ada kegiatan
praktikumnya, seperti biologi, fisika, kimia.
9. Ujian praktek atau response: jenis tagihan ini dipakai pada
mata ajar yang ada kegiatan praktikumnya, seperti biologi,
fisika dan kimia. Ujian praktek atau responsi bertujuan
untuk mengetahui penguasaan akhir peserta didik baik dari
aspek kognitif maupun psikomotor. Ujian response dapat
dilakukan di awal praktek atau setelah melakukan praktek.
Ujian response yang dilakukan sebelum praktek bertujuan
untuk mengetahui kesiapan peserta didik untuk melakukan
praktek di laboratorium, sedangkan ujian responsi yang
dilakukan setelah praktek bertujuan untuk mengetahui
kompetensi dasar praktek yang dikuasai atau capai peserta
didik dan yang belum.
Jenis-jenis tagihan dalam sistem penilaian berbasis
kompetensi meliputi tingkat berfikir yang berkaitan dengan
pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural.
Pengetahuan deklaratif meliputi konsep, fakta-fakta dan
prinsip, sedangkan pengetahuan prosedural meliputi proses
strategi, aplikasi dan keterampilan.

F. Kesahihan dan Kehandalan Tes
Suatu tes sebagai salah satu perangkat dalam melakukan
penilaian harus memiliki bukti kesahihan dan kehandalan
sehingga betul-betul menilai apa yang seharusnya di nilai dan

125

hasilnya dapat dibandingkan. Kesahihan dan kehadnalan tes
tidak berlaku universal tergantung pada situasi dan kondisi
serta tujuan penilaian itu sendiri. Alat tes yang memiliki
kesahihan untuk tujuan tertentu belum tentu sahih untuk
tujuan yang lain. Kesahihan suatu tes dapat dikategorikan
menjadi tiga yaitu:
a. Kesahihan isi atau sering juga disebut dengan kesahihan
kurikuler, yang dapat dilihat dari kisi-kisi tesnya, yaitu
matriks yang menunjukkan bahan tes serta tingkat berfikir
yang terlibat dalam mengerjakan tes. Dalam sistem penilaian
yang berbasis kompetensi di sekolah menekankan pada
kesahihan isi, yaitu menunjukkan seberapa jauh materi ujian
dengan kompetensi dasar yang hendak diukur.
b. Kesahihan konstruk, diperoleh dari hasil analissi faktor, yaitu
jumlah faktor yang diukur suatu tes. Bukti kesahihan
konstruk diperoleh dari penggunaan tes yaitu data empiris.
Pada dasarnya konstruk yang diukur adalah satu (dimensi
alat ukur adalah satu). Apabila yang dinilai adalah
kemampuan membaca, maka yang dinilai adalah kemampuan
membaca saja dan tidak ada unsur lainnya yang dinilai,
misalnya kemampuan mendengar dan menulis.
c. Kesahihan kriteria, kesahihan ini dilihat dari daya
prediksinya. Kesahihan prediktif merupakan koefisien yang
menunjukkan seberapa jauh skor tes dapat digunakan untuk
memorediksi atau meramalkan keberhasilan peserta didik
pada masa yang akan mendatang. Kesahihan prediktif juga
memerlukan data empiris untuk dapat menghitung besarnya
daya prediksi. Misalnya seberapa besar tes try out dapat
digunakan untuk meramal keberhasilan korelasi antara tes
ujian nasional sebagai predictor dengan kelulusan ujian tes


126


sebagai kriteria. Semakin besar koefisien maka semakin sahih
tes try out ini.
Kehandalan suatu tes memberikan informasi tentang besarnya
kesalahan pengukuran. Keandalan suatu tes dapat dikate-
gorikan menjadi tiga yaitu:
a. Konstruksi internal, besarnya konsistensi internal diperoleh
dari data hasil tes karena untuk mencari indeks ini cukup
dilakukan satu kali tes.
b. Konsistensi stabilitas merupakan tingkat kestabilan hasil
pengukuran yang dilakukan paling minimal dua kali untuk
peserta didik yang sama dalam waktu yang berbeda, dengan
asumsi tidak ada efek tes.
c. Konsistensi antar penilai, keandalan antar penilai diperoleh
dari besarnya korelasi hasil penskoran dari dua orang peserta
didik terhadap lembar jawaban tes yang sama. Menurut Feldt
(1989) besarnya indeks keandalan ini adalah 0 sampai
dengan 1, sedangkan yang dapat diterima adalah minimum
0,70. semakin andal suatu tes maka kesalahan
pengukurannya semakin kecil.
Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa besarnya indeks
keandalan digunakan untuk menghitung besarnya kesalahan
pengukuran. Kesalahan pengukuran dapat dibedakan menjadi
dua yaitu:
1. Kesalahan pengukuran acak artinya kesalahan karena
kondisi yang diukur dan yang mengukur bervariasi serta
pemilihan bahan ujian yang tidak tepat.
2. Kesalahan pengukuran statistik artinya kesalahan karena
alat ukur atau cara penskoran yang cenderung murah atau
mahal untuk semua peserta didik.

127

Menurut Allen dan Yen (1979), mengatakan bahwa besarnya
kesalahan acak dapat dihitung dengan formula sebagai berikut:

Se = ) rxx' - (1 Sx

Catatan:
Se = besarnya kesalahan pengukuran
Sx = simpangan baku skor
rxx = indeks keandalan tes
Formula di atas menunjukkan bahwa apabila indeks keandalan
tes besar maka kesalahan pengukuran kecil, begitu juga
sebaliknya jika indeks keandalan tes kecil maka kesalahan
pengukuran besar.

G. Indeks Sensitivitas
Indeks sensitivitas pada prinsipnya merupakan kemampuan
peserta didik antara setelah dan sesudah mengikuti proses
pembelajaran. Indeks ini menyatakan tingkat keberhasilan
peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran dan
keberhasilan seorang guru sebagai pengajar dan pendidik.
Besarnya indeks yang baik adalah positif dan besar. Indeks ini
dinyatakan dengan formula sebagai berikut:

IS =
T
RB - RA


Catatan :
RA = jumlah peserta didik yang menjawab benar setelah
mengikuti proses pembelajaran
RB = jumlah peserta didik yang menjawab benar sebelum
mengikuti proses pembelajaran
T = jumlah peserta didik yang mengikuti ujian


128


H. Evaluasi Hasil Penilaian
Seorang guru harus melakukan evaluasi terhadap hasil tes dan
menetapkan standar keberhasilan. Misalnya jika semua peserta
didik sudah menguasai kompetensi dasar yang telah ditetapkan,
maka peserta didik dapat melanjutkan belajar untuk materi
selanjutnya dari mata ajar tersebut, dengan catatan seorang
guru harus memberi program perbaikan (remedial) kepada
peserta didik yang belum mencapai ketuntasan belajar dan
program pengayaan kepada peserta didik yang telah menguasai
kompetensi.
Evaluasi terhadap penilaian proses dan hasil belajar
bertujuan untuk mengetahui ketuntasan peserta didik dalam
menguasai kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Dari hasil
evaluasi terhadap hasil penilaian tersebut dapat diketahui
kompetensi dasar, materi atau indikator yang belum dikuasai
peserta didik. Dengan mengevaluasi hasil penilaian terhadap
proses dan hasil belajar maka, seorang guru akan mendapatkan
manfaat yang besar untuk melakukan program perbaikan yang
tepat. Jika ditemukan sebagian peserta didik yang gagal, maka
perlu dikaji kembali apakah instrumen penilaiannya terlalu
sulit, apakah instrumen penilaiannya sudah sesuai dengan
indikator yang telah ditetapkan, atau metode pembelajaran
(metode, media, teknik) yang digunakan sudah tepat dan sesuai
dengan situasi dan kondisi sekolah. Jika instrumen
penilaiannya terlalu sulit maka perlu diperbaiki, tetapi jika
instrumen penilaiannya ternyata tidak sulit maka, mungkin
metode pembelajarannya harus diperbaiki dan seterusnya.




129

BAB IX
LAPORAN PENILAIAN HASIL BELAJAR
DAN MANFAATNYA

A. Pengertian dan Bentuk Laporan Proses dan Hasil Belajar
Penilaian pada dasarnya bertujuan untuk mendapatkan
informasi tentang perkembangan proses dan hasil belajar para
peserta didik dan hasil mengajar guru. Informasi mengenai hasil
penilaian proses dan hasil belajar serta hasil mengajar
yaituberupa penguasaan indikator-indikator dari kompetensi
dasar yang telah ditetapkan, oleh peserta didik informasi hasil
penilaian ini dapat digunakan sebagai sarana untuk memotivasi
peserta didik dalam pencapaian kompetensi dasar, melak-
sanakan program remidial serta mengevaluasi kompetensi guru
dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran.
Pemamfaatan informasi hasil penilaian proses dan hasil
belajar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran harus
didukung oleh peserta didik, orang tua atau wali peserta didik,
kepala sekolah, guru dan civitas sekolah lainnya. Dukungan ini
akan diperoleh apabila mereka mendapat informasi hasil
penilaian yang lengkap dan akurat. Oleh karena itu diperlukan
laporan perkembangan proses dan hasil belajar peserta didik
untuk guru atau sekolah, orang tua atau wali siswa dan untuk
peserta didik itu sendiri.
Pada dasarnya pelaporan kegiatan hasil belajar merupakan
kegiatan mengkomunikasikan dan menjelaskan hasil penilaian
guru tentang pertumbuhan dan perkembangan anak.
Laporan hasil penilaian proses dan hasil belajar meliputi
aspek kognitif, psikomotor dan efektif. Tidak semua mata ajar
dinilai aspek psikomotornya. Mata ajar yang dinilai aspek


130


psikomotornya yaitu mata ajar yang melakukan kegiatan
praktek. Sedangkan untuk aspek kognitif dan afektif dinilai
untuk seluruh mata ajar. Informasi aspek kognitif dan
psikomotor diperoleh melalui sistem penilaian sesuai dengan
tuntutan indikator-indikator dari kompetensi dasar yang telah
ditetapkan. Sedangkan aspek afektif diperoleh melalui lembar
pengamatan yang sistematik, kuesioner dan imventori.
Penilaian proses danhasil belajar baik aspek kognitif,
psikomotor maupun afektif tidak dijumlahkan, karena dimensi
yang diukur berbeda. Hal ini untuk menghindari hilangnya
karakteristik spesifik peserta didik. Masing-masing aspek
tersebut dilaporkan sendiri-sendiri dan memiliki makna yang
penting. Kemampuan seorang peserta didik jika dilihat dari
aspek kognitif, psikomotor dan maupun afektif pada umumnya
cenderung tidak sama. Ada peserta didik yang memiliki
kemampuan kognitif tinggi, namun memiliki kemampuan
psikomotor dan afektif cukup. Namun ada juga yang memiliki
kemampuan kognitif cukup, psikomotor tinggi dan afektif
cukup.
Hasil penilaian aspek kognitif dan psikomotor dapat berupa
nilai angka maupun deskriptif terhadap kompetensi dasar yang
telah ditetapkan. Standar minimal ketuntasan belajar 75. Jika
seorang peserta didik memperoleh nilai lebih dari atau sama
dengan 75, maka dapat dikatakan peserta didik tersebut tuntas
belajar. Akan tetapi jika memperoleh nilai kurang dari 75, maka
peserta didik tersebut belum tuntas belajar dan harus
diremidial. Hasil penilaian berupa deskripsi kualitatif dapat
dilaporkan dalam bentuk deskripsi mengenai ketercapaian
kompetensi.

131

Penentuan batas kelulusan harus memperhatikan dua
aspek yaitu kognitif dan psikomotor, sedangkan untuk afektif
merupakan tambahan informasi tentang kondisi peserta didik
yang berkaitan dengan minat, sikap, moral dan konsep diri.
Hasil penilaian afektif berupa nilai huruf dengan kategori A
(sangat baik), B (baik), C (cukup) dan D (kurang). Atau bisa juga
dalam bentuk kualitatif, misalnya : sangat tinggi, tinggi, sedang
dan rendah. Hasil penilaian afektif bertujuan untuk mengetahui
sikap, minat, konsep diri dan moral peserta didik.

B. Teknik Melaporkan Hasil Belajar
Pada umumnya orang tua peserta didik mengharapkan
jawaban dari pertanyaan sebagai berikut :
1. Bagaimana keadaan anak waktu belajar di sekolah secara
akademik, fisik, sosial dan emosional.
2. Sejauh mana anak berpartisipasi dalam kegiatan
pembelajaran di sekolah.
3. Kompetensi apa yang dikuasai dan yang belum dikuasai
dengan baik.
4. Apa yang harus dilakukan oleh orang tua peserta didik untuk
membantu dan mengembangkan prestasi belajar anaknya.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka informasi
yang harus disampaikan kepada orang tua peserta didik
sebaiknya menggunakan teknik berikut ini :
1. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami
2. Menitikberatkan kekuatan pada apa yang telah dicapai anak
3. Memberikan perhatian pada pengembangan dan pembe-
lajaran anak


132


4. Berkaitan erat dengan hasil belajar yang harus dicapai dalam
kurikulum
5. Menginformasikan dengan benar tentang tingkat pencapaian
hasil belajar.

C. Manfaat Informasi Hasil Penilaian Proses dan Hasil Belajar
1. Untuk Peserta didik
Informasi hasil belajar peserta didik dapat diperoleh melalui
ujian, kuesioner atau angket, wawancara dan pengamatan.
Informasi penilaian hasil belajar sangat bermanfaat bagi
peserta didik diantaranya :
a. Mengetahui kemajuan belajar diri.
b. Untuk mengetahui indikator-indikator yang telah
ditetapkan yang belum dikuasai.
c. Memotivasi diri untuk belajar lebih baik lagi.
d. Memperbaiki strategi belajar.
2. Untuk Orang Tua
Informasi hasil penilaian hasil belajar bermanfaat bagi orang
tua atau wali peserta didik untuk memotivasi putra-putrinya
agar belajar lebih baik lagi dan mencari strategi untuk
membantunya belajar. Agar informasi ini bermanfaat maka
harus memberikan informasi yang akurat. Informasi ini dapat
digunakan sebagai :
a. Membantu dan memberikan motivasi putra-putrinya
belajar.
b. Membantu sekolah untuk meningkatkan hasil belajar
peserta didik.
c. Membantu sekolah dalam melengkapi fasilitas belajar.



133

3. Untuk Guru dan sekolah
Informasi yang diperlukan oleh guru bersifat global untuk
semua rombongan belajar yang diajarnya, sedangkan kepala
sekolah memerlukan informasi global untuk semua
rombongan belajar dalam satu sekolah. Informasi ini dapat
digunakan untuk :
a. Mengetahui kekuatan dan kelemahan peserta didik dalam
satu rombongan belajar dan sekolah yang mencakup
semua mata ajar.
b. Mendorong para guru untuk lebih baik lagi dalam
memberikan pelayanan belajar kepada peserta didik.
c. Membantu guru dalam mencari strategi yang lebih tepat.
d. Mendorong sekolah untuk memberikan fasilitas belajar
yang lebih baik lagi.


















134


DAFTAR PUSTAKA


Depdiknas, Dikmenum. 2003. Pedoman Umum Pengembangan
Penilaian.

E. Mulyasa. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. PT.
Remaja Rosdakarya. Bandung.

Gronlund, N.E. 1971. Measurment and Evaluation in Education.
New York.

I. Masidjo. 1995. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di
Sekolah. Kanisius. Yogyakarta.

Mimin Haryati. 2007. Model dan Teknik Penilaian pada Tingkat
Satuan Pendidikan. Gaung Persada Press. Jakarta

Nana Sudjana. 1998. Penilaian Hasil Proses Belajar. PT Remaja
Rosdakarya. Bandung.

______________. 2006. Penilaian Hasil Belajar Mengajar. PT Remaja
Rosdakarya. Bandung.

Ngalim Purwanto. 1989. Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran.
PT Remaja Rosdakarya. Bandung.

Ruchji Subekti dan Harry Firman. 1986. Evaluasi Hasil Belajar
dan Pengajaran Remedial. Universitas Terbuka. Kurnia.
Jakarta.

Saifudin Azhar. 2007. Reliabilitas dan Validitas. Pustaka Pelajar.
Yogyakarta

Suharsimi. Arikunto. 2007. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.
Bumi Aksara. Jakarta.

Thorndike, R.L., Hagen, Elizabeth. 1969. Measurement and
Evaluation in Psycology and Education. Toronto, John Wiley
and Sons, Inc.