Anda di halaman 1dari 3

BULLETIN HARIAN

TIM PENANGGULANGAN DBD DEPARTEMEN KESEHATAN R.I.


Sekretariat : Jl. Percetakan Negara 29 Jakarta Pusat Telp./Fax : (021) 4265974 42802669 Email : skdklb@ppmplp.depkes.go.id

(NEWSLETTER)

Edisi : Senin 08 Maret 2004

KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI INDONESIA

Memasuki awal tahun 2004 di Indonesia, jumlah kasus DBD mengalami peningkatan yang cukup bermakna. Sejak tanggal 1 Januari 2004 sampai dengan 5 Maret 2005 secara kumulatif, jumlah kasus DBD yang dilaporkan dan telah ditangani sebanyak 26.015 kasus, dengan kematian mencapai 389 (CFR = 1,53%). Sedangkan KLB DBD pada tahun 1998 jumlah penderita 71.776 orang dengan kematian 2.441 jiwa (CFR = 3,4%). Pada tahun 1998 perhatian masyarakat tertuju pada euforia reformasi sehingga perhatian terhadap KLB DBD kurang. Diharapkan dengan upaya penanggulangan yang dilakukan, angka kumulatif penderita DBD sampai bulan Desember 2004 tidak melebihi kumulatif penderita DBD tahun 1998. Saat ini, peningkatan kasus DBD hanya terjadi di beberapa wilayah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat dan Sulawesi. Beberapa daerah sudah dapat dikendalikan, namun berbagai upaya masih perlu lebih ditingkatkan untuk menanggulangi meningkatnya kasus DBD. Gambaran tentang kasus yang terjadi di beberapa propinsi di Indonesia dapat dilihat pada lampiran Bulletin ini. Dari 30 Propinsi se Indonesia, Propinsi yang dilaporkan adanya KLB DBD sebanyak 12 Provinsi yang meliputi : Nangroe Aceh Darussalam, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Bali, NTB dan NTT. Departemen Kesehatan menyatakan telah terjadi KLB DBD Nasional pada tanggal 16 Pebruari 2004, dengan pernyataan ini diharapkan Pemerintah dapat menggerakkan seluruh sumber daya dan komponen yang ada di masyarakat untuk menanggulangi KLB DBD secara cepat dan tepat. Berbagai upaya Pemerintah telah dilakukan untuk menanggulangi KLB DBD ini melalui : 1. Penyediaan dan peningkatan sarana pelayanan kesehatan di semua rumah sakit agar mampu memberikan pengobatan kasus-kasus DBD secara cepat dan tepat sehingga angka kematian dapat ditekan serendah-rendahnya. Sejak tanggal 20 Pebruari 2004 Pemerintah Pusat melalui Menteri Kesehatan telah membuat Kebijakan untuk membebaskan biaya bagi penderita DBD yang tidak mampu yang dirawat di Kelas III di rumah sakit (Nomor : 143/Menkes/II/2004). 2. Melakukan pengasapan (fogging) di lokasi-lokasi yang tinggi prevalensinya agar penyebaran penyakit dapat segera dikendalikan melalui pemberantasan vektor nyamuk Aedes Aegypti dewasa bersama-sama masyarakat dan sektor swasta. Fogging dilakukan pada fokus-fokus penularan. 3. Melakukan penggerakan masyarakat untuk melaksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui 3 M (menguras bak mandi, menutup tandon air dan mengubur barang

bekas yang dapat menampung air hujan). Di DKI Jakarta dan beberapa kota di Jawa Tengah, PSN ini diintensifkan melalui Kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB) dengan merekrut Juru Pemantau Jentik (Jumantik). 4. Melaksanakan Pertemuan Nasional Penanggulangan KLB DBD di Jakarta,pada tanggal 5 Maret 2004 yang dihadiri oleh Pejabat Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, Kepala Dinas Kesehatan dan Tim Penggerak PKK Kabupaten/Kota yang menghasilkan kesepakatan-kesepakatan sebagai berikut : 1). Seluruh instansi pemerintah terkait di Pusat dan Daerah perlu mengambil langkah cepat dan tepat untuk meredam kepanikan masyarakat dengan : a. Melaksanakan upaya intensifikasi pencegahan penyebaran kasus DBD dengan mengutamakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara serentak dan periodik melalui : - Pemberdayaan masyarakat dengan mengaktifkan kembali (revitalisasi) Pokjanal DBD di Desa/Kelurahan maupun Kecamatan dengan focus pemberian penyuluhan kesehatan lingkungan dan pemeriksaan jentik berkala. - Intensifikasi pengamatan (surveilans) penyakit DBD dan vektor dengan dukungan laboratorium yang memadai. - Merekrut warga masyarakat sebagai Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dengan fungsi utama melaksanakan kegiatan pemantauan jentik, pemberantasan sarang nyamuk secara periodik dan penyuluhan kesehatan. - Meningkatkan peran media massa dalam penanggulangan KLB DBD. b. Mengupayakan Pemanfaatan Sumber Pembiayaan dari Alokasi Dana Penanggulangan Darurat oleh Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk mendukung pelaksanaan program penanggulangan KLB DBD. c. Menyiapkan sumber daya bantuan dari pemerintah Pusat melalui Departemen Kesehatan dalam penanggulangan KLB meliputi: bantuan teknis, logistik dan biaya operasional. d. Melakukan kajian sero-epidemiologis untuk mengetahui penyebaran virus dengue. e. Mengupayakan Peraturan Daerah (Perda) Propinsi maupun Kabupaten/Kota yang mengatur pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk secara berkala, serentak dan berkesinambungan, guna mengendalikan penyakit DBD agar tidak menjadi KLB/Wabah. Penyusunan Perda ini berdasarkan ketentuan dan Peraturan Perundangan yang berlaku. 2. Meningkatkan pelayanan tanggap darurat (emergency) dalam penanganan penderita KLB DBD dengan: a. Menyiagakan sarana pelayanan kesehatan seperti: Puskesmas, Rumah Sakit, PMI dan Laboratorium, baik milik Pemerintah maupun Swasta untuk mendukung kegiatan penanggulangan KLB DBD. b. Manajemen sarana pelayanan kesehatan wajib memberikan pelayanan cepat dan tepat bagi tersangka penderita KLB DBD guna menekan angka kematian. Pemerintah menyadari bahwa peran serta masyarakat termasuk swasta sangat penting dalam penanggulangan KLB DBD, untuk itu Departemen Kesehatan memberikan penghargaan dan ucapan terima kasih atas bantuan peran serta masyarakat termasuk perusahaan swasta dan media massa yang telah peduli ikut serta berperan aktif bersama-sama dalam penanggulangan KLB DBD antara lain :

1. 2. 3. 4. 5. 6.

PT Baygon Indonesia Tbk yang telah memberikan bantuan logistik berupa barang yang telah didistribusikan ke beberapa wilayah. APNI atas bantuannya mencetak 55.000 lembar Leaflet. Produsen Obat Nyamuk Garuda. Produsen Domestos Nomos yang telah membantu dalam media informasi melalui Televisi. SCTV yang ikut membantu keluarga penderita DBD melalui SCTV Peduli dan Posko DBD. PT Bank BNI Tbk.

Diharapkan peran serta aktif masyarakat termasuk swasta akan terus berlanjut sehingga kegiatan penanggulangan DBD dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Upaya Pemerintah Pusat melalui Departemen Kesehatan dalam penanggulangan KLB DBD kali ini untuk mencapai: 1. Penanggulangan KLB DBD ditargetkan dapat selesai dalam waktu 3 (tiga) bulan. 2. Penurunan insidens kasus DBD sebesar 90% dari waktu KLB DBD. 3. Case Fatality Rate (CFR) : < 1%. 4. Angka kasus tahun 2004 kurang dari kasus 2003 (<35.000). 5. Kasus pada tahun 2005 kurang dari 10.000. Bulletin ini diterbitkan tiap hari untuk memuat berita aktual kegiatan Tim Penanggulangan DBD.

Jakarta, 8 Maret 2004