Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH TOKSIKOLOGI UJI TOKSISITAS AKUT

DISUSUN OLEH: MUHAMMAD FURQON AMALIA ULFA DIAH AYU WULANDARI HERLINA AGUSTYANI NURMANINGTIAS FITRI R. DWI JUSTITIA APRILIA KELOMPOK : 1 KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN FARMASI PURWOKERTO 2012 (G1F009001) (G1F011001) (G1F011003) (G1F011005) (G1F011007) (G1F011009)

BAB I PENDAHULUAN Uji toksisitas diperlukan untuk penelitian obat baru selain uji farmakokinetik dan uji farmakodinamik. Uji farmakokinetik dilakukan melalui penelitian kondisi obat di dalam tubuh, menyangkut absorbsi, distribusi, redistribusi, biotransformasi, dan ekskresi obat. Sedangkan uji farmakodinamik dilakukan untuk mengetahui efek biokimia, fisiologi obat, serta mekanisme kerja obat. Uji toksisitas suatu senyawa dibagi menjadi dua golongan yaitu uji toksisitas umum dan uji toksisitas khusus. Uji toksisitas umum meliputi berbagai pengujian yang dirancang untuk mengevaluasi keseluruhan efek umum suatu senyawa pada hewan uji. Pengujian toksisitas umum meliputi: pengujian toksisitas akut, subakut, dan kronik. Pengujian toksisitas khusus meliputi uji potensiasi, uji kekarsinogenikan, uji kemutagenikan, uji keteratogenikan, uji reproduksi, kulit dan mata, serta perilaku (Loomis, 1978). Ketoksikan akut adalah derajat efek toksik suatu senyawa yang terjadi secara singkat (24 jam) setelah pemberian dalam dosis tunggal. Jadi yang dimaksud dengan uji toksisitas akut adalah uji yang dilakukan untuk mengukur derajat efek suatu senyawa yang diberikan pada hewan coba tertentu, dan pengamatannya dilakukan pada 24 jam pertama setelah perlakuan dan dilakukan dalam satu kesempatan saja. Data kuantitatif uji toksisitas akut dapat diperoleh melalui 2 cara, yaitu dosis letal tengah (LD50) dan dosis toksik tengah (TD50). Namun yang paling sering digunakan adalah dengan metode LD50.

BAB II ISI A. PENGERTIAN UJI TOKSISITAS AKUT Uji toksisitas akut merupakan uji untuk menentukan Dosis Lethal (LD50), dimana LD50 didefinisikan sebagai dosis tunggal suatu zat yang secara statistik diharapkan akan membunuh 50 % hewan percobaan. Uji toksisitas akut ini dilakukan dengan memberikan zat kimia yang sedang diuji sebanyak satu kali selama masa pengujian dan diamati dalam jangka waktu minimal 24 jam atau lebih (7-14 hari). Uji toksisitas akut dirancang untuk menentukan efek toksik suatu senyawa yang akan terjadi dalam waktu yang singkat setelah pemejanan atau pemberiannya dengan takaran tertentu. Takaran dosis yang dianjurkan paling tidak empat peringkat dosis, berkisar dari dosis terendah yang tidak atau hampir tidak mematikan seluruh hewan uji sampai dengan dosis tertinggi yang dapat mematikan seluruh atau hampir seluruh hewan uji. Biasanya pengamatan dilakukan selama 24 jam, kecuali pada kasus tertentu selama 7-14 hari. Pengamatan tersebut meliputi: gejala-gejala klinis seperti nafsu makan, bobot badan, keadaan mata dan bulu, tingkah laku, jumlah hewan yang mati, serta histopatologi organ (Loomis, 1978). Menurut Laurence dan Bennet (1995), dari uji toksisitas akut dapat diperoleh gambaran kerugian yang terjadi akibat peningkatan dosis tunggal dan bagaimana kematian dapat terjadi. Uji toksisitas akut dapat memberikan gambaran tentang gejalagejala ketoksikan terhadap fungsi penting seperti gerak, tingkah laku, dan pernafasan yang dapat menyebabkan kematian. LD50 dapat dihubungkan dengan Efektif Dosis 50 (ED50) yaitu dosis yang secara terapeutik efektif terhadap 50 % dari sekelompok hewan percobaan. Hubungan tersebut dapat berupa perbandingan antara LD50 dengan ED50 dan disebut Indeks Terapeutik (IT), yaitu perbandingan antara dosis obat yang memberikan efek terapi yang samar dengan dosis obat yang menyebabkan efek toksik yang nyata. Makin besar indeks terapeutik suatu obat makin aman obat tersebut. Faktorfaktor yang berpengaruh pada LD50 sangat bervariasi antara jenis yang satu dengan jenis

yang lain dan antara individu satu dengan individu yang lain dalam satu jenis. Beberapa faktor tersebut antara lain: Spesies, Strain dan Keragaman Individu Setiap spesies dan strain yang berbeda memiliki sistem metabolisme dan detoksikasi yang berbeda. Setiap spesies mempunyai perbedaan kemampuan bioaktivasi dan toksikasi suatu zat (Siswandono dan Bambang, 1995). Semakin tinggi tingkat keragaman suatu spesies dapat menyebabkan perbedaan nilai LD50. Variasi strain hewan percobaan menunjukkan perbedaan yang nyata dalam pengujian LD50 (Lazarovici dan Haya, 2002). Perbedaan Jenis Kelamin Perbedaan jenis kelamin mempengaruhi toksisitas akut yang disebabkan oleh pengaruh langsung dari kelenjar endokrin. Hewan betina mempunyai sistem hormonal yang berbeda dengan hewan jantan sehingga menyebabkan perbedaan kepekaan terhadap suatu toksikan (Lazarovici dan Haya, 2002). Hewan jantan dan betina yang sama dari strain dan spesies yang sama biasanya bereaksi terhadap toksikan dengan cara yang sama, tetapi ada perbedaan kuantitatif yang menonjol dalam kerentanan terutama pada tikus (Lu, 1995). Umur Hewan-hewan yang lebih muda memiliki kepekaan yang lebih tinggi terhadap obat karena enzim untuk biotransformasi masih kurang dan fungsi ginjal belum sempurna (Ganong, 2003). Perbedaan aktivitas biotransformasi akibat suatu zat menyebabkan perbedaan reaksi dalam metabolisme (Mutschler, 1991). Sedangkan pada hewan tua kepekaan individu meningkat karena fungsi biotransformasi dan ekskresi sudah menurun. Berat Badan Penentuan dosis dalam pengujian toksisitas akut dapat didasarkan pada berat badan. Pada spesies yang sama, berat badan yang berbeda dapat memberikan nilai LD50 yang berbeda pula. Semakin besar berat badan maka jumlah dosis yang diberikan semakin besar (Mutschler, 1991). Cara Pemberian Lethal dosis dipengaruhi pula oleh cara pemberian. Pemberian obat melalui suatu cara yang berbeda pada spesies yang sama akan memberikan hasil yang berbeda. Menurut Siswandono dan Bambang (1995), pemberian obat peroral tidak

langsung didistribusikan ke seluruh tubuh. Pemberian obat atau toksikan peroral didistribusikan ke seluruh tubuh setelah terjadi penyerapan di saluran cerna sehingga mempengaruhi kecepatan metabolisme suatu zat di dalam tubuh (Mutschler, 1991). Faktor Lingkungan Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi toksisitas akut antara lain temperatur, kelembaban, iklim, perbedaan siang dan malam. Perbedaan temperatur suatu tempat akan mempengaruhi keadaan fisiologis suatu hewan. Kesehatan hewan Status hewan dapat memberikan respon yang berbeda terhadap suatu toksikan. Kesehatan hewan sangat dipengaruhi oleh kondisi hewan dan lingkungan. Hewan yang tidak sehat dapat memberikan nilai LD50 yang berbeda dibandingkan dengan nilai LD50 yang didapatkan dari hewan sehat (Siswandono dan Bambang, 1995). Diet Komposisi makanan hewan percobaan dapat mempengaruhi nilai LD50. Komposisi makanan akan mempengaruhi status kesehatan hewan percobaan. Defisiensi zat makanan tertentu dapat mempengaruhi nilai LD50 (Balls et al., 1991). Keracunan akut dihasilkan dari jumlah racun yang relatif besar memasuki tubuh dihitung dengan periode menit, jam, atau beberapa hari. Evaluasi tidak hanya mengenai LD50, tetapi juga terhadap kelainan tingkah laku, stimulasi, aktivitas motorik, dan pernapasan mencit atau hewan percobaan lainnya untuk mendapatkan gambaran tentang sebab kematian (Darmansjah, 1995). Tingkat keracunan senyawa kimia atau obat berdasarkan nilai LD50 dan klasifikasi toksisitas akut dapat dilihat pada tabel di bawah ini

B. TUJUAN DAN SASARAN UJI TOKSISITAS AKUT Tujuan dilakukannya uji toksisitas akut adalah untuk menentukan potensi ketoksikan akut dari suatu senyawa dan untuk menentukan gejala yang timbul pada hewan coba, adanya efek toksik yang khas (kualitatif) serta mode of death (kualitatif). Sasaran uji toksisitas akut adalah organ hati, ginjal, hemopoetik dari hewan uji. C. TATA CARA PELAKSANAAN UJI TOKSISITAS AKUT Dalam tata cara pelaksanaan uji toksisitas akut (Lu, 2006), terdapat beberapa indikator yang diamati, yaitu : Pemilihan Spesies Hewan Pada dasarnya tidak ada satu hewan pun yang sempurna untuk uji toksisitas akut yang nantinya akan digunakan oleh manusia. Walaupun tidak ada aturan tetap yang mengatur pemilihan spesies hewan coba, yang lazim digunakan pada uji toksisitas akut adalah tikus, mencit, marmut, kelinci, babi, anjing, monyet. Pada awalnya, pertimbangan dalam memilih hewan coba hanya berdasarkan avaibilitas, harga, dan kemudahan dalam perawatan. Namun, seiring perkembangan zaman tipe metabolisme, farmakokinetik, dan perbandingan catatan atau sejarah avaibilitas juga ikut dipertimbangkan. Hewan yang paling sering dipakai adalah mencit dengan mempertimbangkan faktor ukuran, kemudahan perawatan, harga, dan hasil yang cukup konsisten dan relevan. Secara umum, dalam penentuan LD50 digunakan tikus dan mencit. Hewan ini dipilih karena murah, mudah didapat, dan mudah ditangani. Selain itu, terdapat

banyak data toksikologi tentang jenis hewan ini, suatu fakta yang mempermudah perbandingan toksisitas zat-zat kimia. Kadang kala, dipakai spesies yang bukan tikus. Hal ini, terutama dilakukan bila LD50 pada tikus dan mencit sangatlah berbeda, atau bila pola maupun laju bitransformasi pada manusia sangat berbeda dari tikus atau mencit. Penentuan LD50 sebaiknya dilakukan pada kedua jenis kelamin, juga pada hewan dewasa dan yang masih muda, karena kerentanannya mungkin berbeda.

Perlakuan Hewan Percobaan Hewan coba dikarantina terlebih dahulu selama 7 14 hari. pengkarantinaan ini bertujuan untuk menghilangkan stres akibat transportasi. Serta untuk mengkondisikan hewan dengan suasana lab. Pada waktu pengkarantinaan, temperatur dan kelembaban harus diperhatikan. Temperatur yang cocok untuk karantina adalah temperatur kamar serta kelembapan yang sesuai antara 40 60%. Pemberian senyawa pada hewan coba (mencit) memiliki dosis maksimum yaitu 5000mg/KgBB dan juga mempunyai batas maksimum volume cairan yang boleh diberikan pada hewan uji. Dosis yang diberikan dapat diperhitungkan dengan beberapa cara, yaitu: 1. Berdasarkan ED50 senyawa uji dari hasil uji farmakologi dengan hewan uji dengan jalur pemberian yang sama. 2. Berdasarkan harga LD50 senyawa uji pada hewan uji yang sama (5 10% LD50 intra vena). 3. Berdasarkan kelipatan dosis yang disarankan untuk digunakan pada manusia. 4. Berdasarkan tabel konversi perhitungan dosis anta-jenis hewan, berdasarkan nisbah (ratio luas permukaan badan mereka).

Cara Pemberian Secara umum, toksikan harus diberikan melalui jalur yang biasa digunakan pada manusia. Jalur oral paling sering digunakan. Bila akan diberikan per oral, zat tersebu harus diberikan dengan sonde.

Jalur dermal dan inhalasi kini makin sering digunakan, bukan hanya untuk zat yang digunakan manusia lewat jalur tersebut, tetapi juga untuk menilai bahayanya bagi kesehatan para peneliti yang menangani zat kimia tersebut. Jalur pareteral terutama dipakai untuk menilai toksisitas akut obat parenteral. Disamping itu, injeksi intrafena dan intraperitoneal biasanya segera diikuti dengan penyerapan yang lengkap atau hampir lengkap; karenanya jenis pemberian ini juga dipakai bersamaan dengan LD50 oral dan dermal untuk menilai laju dan luasnya penyerapan lewat jalur oral dan dermal. Dosis dan Jumlah Hewan Untuk menentukan LD50 secara tepat perlu dipilih suatu dosis yang akan membunuh sekitar separuh jumlah hewan-hewan itu, dosis lain yang akan membunuh lebih dari separuh (kalau bias kurang dari 90%), dan dosis ketiga yang akan membunuh kurang dari separuh (kalau bias lebih dari 10%) dari heawn-hewan itu. Sering digunakan empat dosis atau lebih dengan harapan bahwa sekurangkurangnya tiga diantaranya akan berada dalam rentang dosis yang dikehendaki. Secara umum, LD50 akan lebih tepat bila digunakan lebih banyak hewan untuk tiap dosis dan bila rasio antara dosis yang berurutan lebih kecil. Banyak peneliti menggunakan 40-50 hewan per LD50 dan memilih rasio 1,2-1,5. Namun, peneliti lain (misalnya Weil,1952) menyarankan penggunaan 4 hewan untuk tiap dosis dan rasio sebesar 2,0 antara dosis yang berurutan. Belakangan ini diajukan uji sederhana yang lain (Bruce, 1985) yang menggunakan hanya enam sampai Sembilan hewan untuk setiap uji. Dilain pihak, kadang kala diperlukan penentuan LD50 yang lebih tepat, maka rasio antara dosis-dosis yang berturutan harus lebih kecil. Misalnya, rasio 1,2 dipergunakan (Lu dkk., 1965). Untuk menunjukan tiadanya variasi harian yang berarti dan tiadanya perbedaan yang besar dalam toksisitas antar adonan (batch). Dnegan menggunakan malation dengan adonan yang sama, tetapi dengan rasio antar dosis berurutan sebesar 2, pada 100 kali penentuan LD50, tidak dapat ditemukan perbedaan antar adonan karena besarnya confidence off limits. Dalam menentukan LD50 pada hewan besar misalnya anjing, umunya digunakan jauh lebih sedikit hewan.

Pengamatan dan Pemeriksaan Setelah toksikan diberikan, jumlah hewan yang mati dan waktu kematiannya harus diamati untuk memperkirakan LD50 . Hal yang lebih penting lagi, tanda-tanda toksisitanya harus dicatat. Tabel 1 mencantumkan daftar organ dan sistem yang mungkin dipengaruhi beserta tanda-tanda khusus toksisitasnya Jangka waktu pengamatan harus cukup panjang sehingga efek yang muncul lambat, termasuk kematian, tidak luput dari pengamatan. Jangka waktu itu biasanya 7-14 hari tetapi dapat jauh lebih lama. Hal ini bertujuan untuk mengetahui perubahan gejala yang terjadi setelah diberi perlakuan dengan membandingkan gejala atau perilaku sebelum perlakuan. Autopsi kasar harus dilakukan pada semua hewan yang mati dan pada beberapa hewan yang hidup, terutama hewan yang tampak sakit pada akhir percobaan. Autopsy dapat memberikan informasi yang berharga tentang sasaran, terutama bila kematian tidak terjadi segera setelah pemberian zat kimia. Mungkin juga diperlukan pemeriksaan histopatologik organ tubuh dan jaringan tertentu. Kriteria Pengamatan meliputi: 1. Pengamatan terhadap gejala gejala klinis. 2. Perubahan berat badan. 3. Jumlah hewan yang mati pada masing masing kelompok uji. 4. Histopatologi organ.

Tabel 1 Tanda Toksik pada Organ atau Sistem Sistem Membran Autonomik Perilaku Tanda Toksik niktitans melemas,

eksoftalmos,

hipersekresi hidung, saliva, diare, keluar air seni, piloereksi Sedasi, gelisah, posisi duduk kepala ke atas, pandangan lurus ke depan, kepala terduduk, depresi

berat, sering menjilat-jilat tubuh Peka terhadap nyeri, righting reflex, refleks kornea, Sensorik refleks labirin, penempatan dan tulang belakang, peka terhadap bunyi dan sentuhan, fonasi Aktivitas meningkat atau berkurang, fasikulasi, tremor, konvulsi, ataksia, lemas Denyut jantung meningkat atau berkurang, sianosis, vasokontriksi, vasodilatasi Hipopnea, dispnea, terengah-engah, midriasis,

Neuromuskuler Kardiovaskuler Pernafasana dan Mata Gastrointestinal, gastrourinary Kulit (Sumber : McNamara, 1976)

miosis, lakrimasi, ptosis Salivasi, berdahak, diare, ingusan, berak atau kencing berdarah, konstipasi Piloereksi, menggigil, eritema, edema, nekrosis, bengkak

D. ANALISIS HASIL DAN EVALUASI Data gejala gejala klinis yang didapat dari fungsi vital, dapat dipakai sebagai pengevaluasi mekanisme penyebab kematian secara kualitatif. Data hasil pemeriksaan histopatologi digunakan untuk mengevaluasi spektrum efek toksik. Data jumlah hewan yang mati digunakan untuk menentukan nilai LD50. Jika pada batas dosis maksimum tercapai, namun belum diketahui LD50-nya, maka hasil yang didapat tertulis LD50 lebih dari 5000mg/KgBB. 15 Dan jika sampai pada batas volume maksimum yang boleh diberikan pada hewan uji, namun belum menimbulkan kematian, maka dosis tertinggi tersebut dinyatakan sebagai LD50 semu (LD0). Hubungan Dosis-Respon Bila frekuensi atau efek lain dihubungkan terhadap dosis dalam skala logaritmik, dieproleh suatu kurva berbentuk S. Bagian tengan kuva itu (antara 16% dan 84% respon) cukup lurus untuk memperkirakan LD50 atau ED50. Akan tetapi, banyak bagian kurva dapat diluruskan denga menggambarkan titik-titik tersebut berdasarkan nilai basis probit. Prosedur ini terutama bergunan untuk memperhitunkan, misalnya LD5 atau LD95, dengan menggunakan ujung-ujung ekstrem dari kurva. Unit probitsesuia dengan deviasi normal di sekitar nilai rata-rata (mean). Namun untuk menghindari angka negatif, unit-unit probit diperoleh dengan menambahkan 5 pada deviasi-deviasi itu.

Potensi Relatif Potensi suatu toksikan sangat beragam. Agar nilai LD50 lebih ada artinya dianjurkan juga untuk menentukan simpang bakunya (atau confidence limit) dan kemiringan (slope) pada kurva dosisi-respon. Jika confidence limit dari dua LD50 tumpang tindih, zat yang LD50-nya lebih kecil mungkin itdak lebih toksik daripada zat lainnya. Kemiringan kurva penting untuk membandingkan dua zat yang LD40-nya hampir sama. Zat yang membentuk kurva yang lebih datar akan menyebabkan lebih banyak kematian daripada zat lainnya pada dosis yang lebih kecil daripada LD50.

Efek toksik diperoleh dari pengamatan dengan menghitung % kematian (mortalitas) hewan uji pada tiap konsentrasi. Jumlah hewan uji yang mati dalam tiap vial selama 24 jam dihitung. Persen kematian diperoleh dari hasil perkalian rasio dengan 100% yaitu hewan uji yang mati dibagi jumlah hewan uji awal dikali 100% untuk tiap replikasi. Lalu dibandingkan dengan control dan dilakukan analisis hasil sehingga diperoleh LD50 (Meyer et al., 1982). Dari persen kematian, dicari angka/nilai probit tiap kelompok hewan uji melalui table, menentukan log dosis tiap-tiap kelompok kemudian dibuat grafik dengan persamaan garis lurus hubungan antara nilai probit vs log konsentrasi y = bx + a. Di mana y : angka probit dan x : log konsentrasi, kemudian ditarik garis dari harga probit 5 (=50% kematian) menuju sumbu X, sehingga akan didapatkan log konsentrasi. Log konsentrasi diantilogkan untuk mendapatkan harga LD50 atau LD50 dapat juga dihitung dari persamaan garis lurus tersebut dengan memasukkan nilai (probit dari 50% kematian hewan coba) sebagai y sehingga dihasilkan x sebagai nilai log konsentrasi. LD50 dihitung dan diperoleh dari antilog nilai x tersebut (Priyanto, 2009). Metode analisis dapat dilakukan dengan metode manual dan metode program analisis probit. Metode analisis probit manual menggunakan table probit untuk menaksir nilai probit dengan mengkonversi nilai persen kematian hewan uji pada tiap konsentrasi ke nilai probit dalam table dengan mata, lalu regresi dihitung dengan cara manual menggunakan kalkulator, kemudian sebagai pembanding nilai LD50 dihitung menggunakan program analisis probit untuk memperkirakan regresi linear dan mengkoversi persen respon kematian keprobit secara otomatis, selanjutnya rata-rata nilai LD50 yang diperoleh melalui manual dan program analisis probit dibandingkan apakah

berbeda signifikan atau tidak menggunakan uji dua sampel tidak berhubungan/uji t (Independent Samples T Test). Uji t ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan rata-rata antara dua kelompok sampel yang tidak berhubungan (Atmoko,2009).

E. LETHAL DOSE 50 Lethal Dose 50 adalah suatu besaran yang diturunkan secara statistik, guna menyatakan dosis tunggal sesuatu senyawa yang diperkirakan dapat mematikan atau menimbulkan efek toksik yang berarti pada 50% hewan coba setelah perlakuan6,16. LD50 merupakan tolak ukur kuantitatif yang sering digunakan untuk menyatakan kisaran dosis letal. Beberapa pendapat menyatakan tidak setuju, bahwa LD50 masih dapat digunakan untuk uji toksisitas akut. Namun demikian, ada juga beberapa kalangan yang masih setuju,bahwa LD50 masih dapat digunakan untuk uji toksisitas akut dengan pertimbangan antara lain : Jika lakukan dengan baik, uji toksisitas akut tidak hanya mengukur LD50, tetapi juga memberikan informasi tentang waktu kematian, penyebab kematian, gejala gejala sebelum kematian, organ yang terkena efek, dan kemampuan pemulihan dari efek nonlethal. Hasil uji ini dapat digunakan untuk pertimbangan pemilihan design penelitian subakut. Hasil uji ini dapat langsung digunakan sebagai perkiraan risiko suatu senyawa terhadap konsumen atau pasien. Uji LD50 tidak membutuhkan waktu yang lama. Hasil dari uji LD50 yang harus dilaporkan selain jumlah hewan yang mati, juga harus disebutkan durasi pengamatan. Bila pengamatan dilakukan dalam 24 jam setelah perlakuan, maka hasilnya tertulis LD50 24 jam. Namun seiring perkembangan, hal ini sudah tidak diperhatikan lagi, karena pada umumnya tes LD50 dilakukan dalam 24 jam pertama sehingga penulisan hasil tes LD50 saja sudah cukup untuk mewakili tes LD50 yang diamati dalam 24 jam. Bila dibutuhkan, tes ini dapat dilakukan lebih dari 14 hari. Contohnya, pada tricresyl phosphat, akan memberikan pengaruh secara neurogik pada hari 10 14, sehingga bila diamati pada 24 jam pertama tidak akan menemukan hasil yang berarti. Dan apabila demikian maka penulisan hasil harus disertai dengan durasi

pengamatan. Pada umumnya, semakin kecil nilai LD50, semakin toksik senyawa tersebut. Demikian juga sebaliknya, semakin besar nilai LD50, semakin rendah toksisitasnya. Potensi ketoksikan akut senyawa pada hewan coba dibagi menjadi beberapa kelas, adalah sebagai berikut :

Beberapa hal yang dapat mempengaruhi nilai LD50 antara lain spesies, strain, jenis kelamin, umur, berat badan, gender, kesehatan nutrisi, dan isi perut hewan coba. Teknis pemberian juga mempengaruhi hasil, yaitu meliputi waktu pemberian, suhu lingkungan, kelembaban dan sirkulasi udara. Selain itu, kesalahan manusia juga dapat mempengaruhi hasil ini. Oleh karena itu, sebelum melakukan penelitian, kita harus memperhatikan faktor faktor yang mempengaruhi hasil ini. F. MANFAAT UJI TOKSISITAS AKUT Uji toksisitas akut merupakan bagian dari uji toksisitas kuantitatif yang dilakukan dalam jangka waktu yang singkat sebagai akibat dari pemaparan jangka pendek suatu bahan kimia, pada uji ini mempunyai manfaat sebagai pengukur derajat toksikan suatu zat kimia pada dosis tinggi, waktu pemaparan pendek dengan efek parah dan mendadak, dimana organ absorpsi dan eksresi yang terkena. G. PEMBAHASAN ARTIKEL PENELITIAN ILMIAH

UJI TOKSISITAS AKUT EKSTRAK MENIRAN (Phyllanthus niruri, L) TERHADAP GINJAL MENCIT BALB/C ACUTE TOXICITY TEST OF Phyllanthus niruri,L ON KIDNEY OF BALB/C MICE

Meniran (Phyllanthus niruri L) merupakan herbal yang dipercaya memiliki efek hepatoprotektor dan diuretik yang telah lama digunakan untuk menanggulangi masalah gangguan hepar seperti menghambat replikasi virus hepatitis b dan hiv, menurunkan kadar SGOT dan SGPT yang tinggi dalam darah serta penyakit batu ginjal. Secara farmakologik mengalami proses farmakokinetik dan farmakodinamik.Meniran ini di absorpsi di usus,didistribusikan ke seluruh tubuh untuk proses metabolosme di hepar dan diekskresi melalui ginjal. Sehingga memungkinkan terjadi efek toksik pada organ yang dilewatinya, termasuk ginjal.Mengingat banyaknya penggunaan bahan ini di masyarakat, minimnya penelitian yang membahas tentang efek toksik dari bahan tersebut, serta belum ditemukannya standar dosis yang baku dalam penggunaan tumbuhan tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya efek pemberian Meniran secara akut terhadap gambaran makroskopis dan mikroskopis ginjal Metode yang digunakan dalam Penelitian eksperimental adalah dengan rancangan Post Test-Controlled Only Group Design ini menggunakan 25 ekor mencit Balb/c jantan, dibagi menjadi 5 kelompok secara random, yaitu satu kelompok kontrol (K) diberi pakan standar, dan 4 kelompok perlakuan (P1, P2, P3, P4) masing-masing diberi ekstrak herba Meniran dengan dosis 5 mg/kgBB, 50 mg/kgBB, 500 mg/kgBB, dan 2000 mg/kgBB melalui sonde lambung 1 kali, dan diamati 1 minggu. Pada hari ke-8 mencit diterminasi untuk diukur volume ginjal dan diamati gambaran mikroskopisnya. Data makroskopis dianalisis dengan uji Kruskall-Wallis sedangkan data mikroskopis dianalisis dengan uji oneway-Anova dilanjutkan uji Post-Hoc dengan sasaran yang di baca adalah perubahan struktur histologist tubulus kontortus proksimal ginjal yang mengalami penyempitan atau penutuan tubulus. Hal ini disebabkan karena setiap zat larut dalam air diekskresikan melalui ginjal memiliki potensi untuk mengganggu kenormalan epitel tubulus dan terdapat zat yang bersifat toksik dalam ekstrak meniran sehingga menyebabkan kerusakan pada tubulus. Hasil percobaan menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna pada gambaran makroskopis antara kelompok kontrol dan perlakuan dan antar perlakuan dengan nilai

p=0.078, sedangkan terdapat perbedaan bermakna pada gambaran mikroskopis ginjal antar kelompok yaitu: K-P3 (p=0.026), K-P4, P1-P4, P2-P4 (p=0.000), P1-P3 (p=0.009), dan P3-P4 (p=0.002). Hal ini sesuai dengan tahapan gangguan fungsi organ dimana dimulai gangguan biokimia dilanjutkan histologis selanjutnya anatomis yang berakhir manifestasi tampakan makroskopis. Karena hanya diberikan 1 kali di awal dan jangka waktu yang sempit sehingga tidak menimbulkan perubahan makroskopis. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak Meniran secara akut tidak menimbulkanperbedaan terhadap gambaran makroskopis ginjal antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dan antar kelompok perlakuan, akan tetapi pemberian ini menimbulkan perbedaan terhadap gambaran mikroskopis ginjal antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dan antar kelompok perlakuan.

DAFTAR PUSTAKA
Atmoko,T.A. 2009. Uji Toksisitas dan Skrining Fitokimia Ekstrak Tumbuhan Sumber Pakan Orangutan terhadap Larva Artemia salina L. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam VI. Bengkulu. Balls M, James, dan Jacqueline. 1991. Animals and Alternatives in Toxicology. Great Britain at the University Press : Cambridge. Bruce, R.D. 1985. An up-and-down procedure for acute toxicity testing. Fundam. Appl. Toxicol. 5 : 151-157. Darmansjah I. 1995. Toksikologi Dasar dalam Farmakologi dan Terapi . Bagian Farmakologi Universitas Indonesia : Jakarta. Ganong WF. 2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran (terjemahan). Edisi ke20. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta. Laurence DR dan PN Bennet. 1995. Clinical Pharmacology. Longman Singapore Publisher (Ptc.) LTD : Singapore. Lazarovici P dan Haya. 2002. Chimeric Toxin: Mechanisms of Action and Therapeutic Applications. Taylor and Francis Group. Loomis TA. 1978. Toksikologi Dasar. IKIP Press : Semarang. Lu FC. 1995. Toksikologi Dasar : Asas, Organ, Sasaran, dan Penilaian Resiko. Edisi ke-2. UI Press : Jakarta. ------------. 2006. Toksikologi Dasar : Asas, Organ, Sasaran, dan Penilaian Resiko. Edisi ke-2. UI Press : Jakarta. McNamara, B.P. 1976. Concepts in health evaluation of commercial an dindustrial chemicals. In : New Concepts in Safety Evaluation . Washington D.C. : Hemisphere. Meyer,B.N.,et al. 1982. Brine Shrimp:A Convenient General Bioasaay for Active Plant Constituents. Planta Medica.

Mutschler E. 1991. Dinamika Obat (terjemahan). Edisi ke-5. Penerbit ITB : Bandung. Priyanto. 2009. Toksikologi : Mekanisme, Terapi Antidotum, dan Penilaian Resiko, (Cetakan I). Lembaga Studi dan Konsultasi Farmakologi : Jakarta. Siswandono dan Bambang. 1995. Kimia Mediasinal. Airlangga University Press : Surabaya.

Anda mungkin juga menyukai