Anda di halaman 1dari 20

PRAKTIKUM 1 FISIOLOGI CAIRAN TUBUH 1

SASARAN PEMBELAJARAN Setelah melakukan pengamatan dan pembelajaran ini, mahasiswa diharapkan sudah mampu 1. Mengukur tinggi badan dan berat badan yang valid dan realiabel 2. Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan 3. Menghitung IMT 4. Menghitung kebutuhan cairan tubuh perhari pada keadaan normal PERALATAN YANG DIBUTUHKAN 1. Antropometris set 2. Timbangan DESKRIPSI KEGIATAN 1. Instruktur mempersiapkan 2 alat pengukur tinggi badan (satu pada timbangan dan satu yang dilengketkan di dinding yang biasa digunakan di tempat praktek). Begitu pula timbangan ada 2 alat timbangan. 2. Instruktur membagi 2 kelompok agar tidak saling mengganggu, dan membagi tugas agar ada yang memeriksa dan yang menjadi orang coba; dan kemudian bertukar peran. (5 menit) 3. Praktikan melakukan pengukuran secara bergantian (20 menit) 4. Instruktur memimpin diskusi tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran, menghitung IMT dan mengklasifikasikannya serta menghitung kebutuhan cairan perhari. (15 menit). LAPORAN PRAKTIKUM Strukur Laporan Praktikum pada prinsipnya sama untuk semua praktikum, dan untuk bab hasil dan pembahasan untuk praktikum fisiologi cairan tubuh 1 ini, adalah sebagai berikut: Buat tabel hasil pemeriksaan tinggi badan dan berat badan, hasil perhitungan IMT, dan kebutuhan cairan tubuh perhari untuk semua anggota kelompok. Narasikan dan

beri penjelasan teoritis terhadap fenomena yang ditemukan.

ACUAN TEORI ACUAN 1 Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 1. Validitas=sahih Alat ukur yang valid adalah alat ukur yang benar-benar mengukur ciri yang dikehendaki (tepat ukur) yang berlangsung secara cermat (teliti). Ketepatukuran selain berarti secara tepat mengukur apa yang memang akan diukur (sensitivitas), juga dengan pengukur tersebut tidak terukur hal lain, selain yang akan diukur (spesifitas). Ketelitian menggambarkan memenuhi syarat reliabilitas. bahwa pengukuran yang dilakukan

Validitas berkaitan dengan 3 unsur, yaitu: (1) alat ukur, (2) metode ukur, dan (3) pengukur

2. Reliabilitas=konsisten Alat ukur disebut reliabel bila alat ukur tersebut menghasilkan nilai yang konsisten pada obyek ukur yang sama yang dilakukan berkali-kali, tidak menyimpang dari nilai yang sebenarnya.

Faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran Selain faktor alat ukur, untuk mendapatkan data hasil pengukuran yang akurat perlu juga dipertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran, antara lain benda yang diukur, proses pengukuran, kondisi lingkungan, dan orang yang melakukan pengukuran. Dalam pengukuran, biasanya kita mendapatkan kesalahan. Untuk itu kita

harus -

memperhatikan

faktor

faktor

yang

dapat

mempengaruhi

hasil

pengukuran, yaitu : Ketepatan ( Accuracy ) Ketelitian ( Precision ) Kepekaan ( sensitivity ) Kesalahan matematis ( Mathematics error ) Kesalahan acak ( Random error )

ACUAN 2 IMT=Indeks Massa Tubuh 1. Rumus Indeks Massa Tubuh (IMT) = BB /TB2 BB dalam (kg) dan TB dalam (m) 2. Klasifikasi Tabel 1.
KLASIFIKASI BERAT BADAN UNTUK ORANG ASIA (WHO 1988) (Immanuel S, 2007)

KLASIFIKASI Kurus Normal Obesitas Derajat Obesitas Pre-obes Obes I Obes II

IMT (kg/m2) <18,5 18,5-22,9 23

RISIKO MORBIDITAS Rendah Sedang

23 24,9 25 29,9 30

Ringan Sedang Berat

ACUAN 3 Homeostasis cairan tubuh manusia Sel adalah unit fungsi dasar dari tubuh manusia. Agar sel tubuh dapat

melakukan tugas individualnya,diperlukan lingkungan yang stabil termasuk pemeliharaan suplai nutrient yang mantap dan pembuangan sisa metabolisme secara kontinyu. Regulasi cermat dari cairan tubuh membantu menjamin lingkungan internal yang stabil. Komposisi Cairan Tubuh Semua cairan tubuh adalah air larutan pelarut, substansi terlarut (zat terlarut). Air Air adalah senyawa utama dari tubuh manusia. Rata-rata pria dewasa 60% berat badannya adalah air dan rata-rata wanita mengandung 55% air dari berat badannya. Distribusi air dalam tubuh terdiri : cairan intrasel : 40 % BB

cairan ekstrasel : 20 % BB Cairan ekstrasel terbagi dalam cairan intravaskuler : 5 % BB cairan interstitial : 15 % BB

Cairan intravaskuler 5 % adalah plasma, volume sel darah merah 3 % BB, volume darah 8 % BB Faktor-faktor yang mempengaruhi cairan tubuh meliputi : 1. Sel-sel Lemak : Mengandung sedikit air, sehingga air tubuh menurun dengan peningkatan lemak tubuh. 2. Usia : Air tubuh menurun dengan peningkatan usia. Bayi premature mungkin mengandung 80% air dari berat badannya. Bayi lahir cukup bulan kira-kira 70% dari berat badannya. Bayi 6 bulan-1 tahun kira-kira 60% dari BB nya.Lansia mengandung air 45-55% dari berat badannya. 3. Jenis Kelamin : Wanita mempunyai air tubuh yang kurang secara proporsional,karena lebih banyak mengandung lemak tubuh. Substansi Terlarut (Solut)

Selain air, cairan tubuh mengandung dua jenis substansi terlarut yaitu : elektrolit dan non elektrolit. 1. Elektrolit : Substansi yang terpisah dalam larutan dan akan menghantarkan arus listrik. Elektrolit berdisosiasi menjadi ion negative dan positif dan diukur dengan kapasitasnya berikatan satu dengan yang lain atau dengan berat molekul dalam gram. Jumlah kation dan anion dalam larutan selalu sama. Kation adalah ion yang membentuk muatan positif dalam larutan. Anion adalah ion yang membentuk muatan negative dalam larutan. 2. Non elektrolit : substansi seperti glukosa dan urea yang tidak berdisosiasi dengan larutan dan diukur berdasarkan berat (mg/dl). Non elektrolit lain yang secara klinis penting adalah kreatinin dan bilirubin Kompartemen Cairan Cairan tubuh didistribusi antar dua kompartemen cairan utama : kompartemen intraseluler dan kompartemen ekstraseluler. Cairan Intraseluler (CIS) CIS adalah cairan yang terkandung dalam sel. Pada orang dewasa, kirakira 2/3 dari cairan tubuh adalah intraseluler (kira-kira 25 L) pada rata-rata orang dewasa (70 kg). Hanya dari cairan tubuh bayi adalah CIS. Cairan Ekstraseluler (CES) CES adalah cairan di luar sel.Ukuran relative dari CES menurun dengan peningkatan usia. Pada bayi baru lahir kira-kira cairan tubuh terkandung dalam CES. Setelah usia 1 tahun volume relative CES menurun sampai kirakira 1/3 dari volume total. Lebih jauh CES dibagi menjadi : 1. Cairan Interstisial (CIT) : cairan disekitar sel, sama dengan kira-kira 8 L pada orang dewasa. Cairan limfe termasuk didalamnya. Volume CIT pada bayi baru lahir hampir 2 X lebih besar dibandingkan pada orang dewasa 2. Cairan Intravaskuler (CIV) : Cairan yang terkandung dalam pembuluh darah. Volume CIV pada anak-anak relative sama dengan orang dewasa. Volume darah orang dewasa rata-rata 5-6 L, 3 L nya adalah plasma. Sisanya terdiri dari eritrosit, leukosit dan trombosit. 3. Cairan Transeluler (CTS) : Cairan yang terkandung di dalam rongga

khusus

dari

tubuh.

Contoh

CTS dan

meliputi intraocular

cairan dan

cerebrospinal,pericardial,pleural,sinovial sekresi lambung

cairan

Gambar 1. Kompartemen Cairan Tubuh dan Volumenya

KONSEP DASAR PENGATURAN CAIRAN & ELEKTROLIT 1. Mekanisme homeostasis yg memantau dan mengatur komposisi cairan tubuh peka terhadap perubahan dlm cairan ekstraseluler. 2. Tidak ada reseptor secara langsung memantau keseimbangan cairan,reseptor dapat memantau volume dan konsentrasi osmotik plasma. 3. Perbedaan tekanan osmotik dapat menyebabkan transpor aktif garam dan diikuti transpor pasif air. 4. Air dan elektrolit dalam tubuh meningkat bila yg masuk >> daripada yg keluar. 5. Hormon yg mengendalikan keseimbangan cairan dan elektrolit : Anti Diuretik Hormon (ADH)

Aldosteron

Kadar aldosteron - aldosteron keluar K dr cairan pompa ion peritubuler. sekresi aldo steron Na ditahan, K reabsorbsi Na, ditukar dgn

- konsentrasi K tinggi ekskresi

- Atrial Natriuretic Peptide (ANP)

KESEIMBANGAN NATRIUM & KALIUM Perhatian : kontributor utama konsentrasi osmotik CES & CIS pengaruhi langsung fungsi normal semua sel

Ada 2 aturan umum : 1. Masalah yg sering pd gangguan elektrolit ok tidak seimbang masuk & keluar ion Na. 2. Gangguan keseimbangan K jarang tetapi lebih bahaya. NATRIUM :

kation dominan di CES NaCl & NaHCO3 Normal Na CES : 136-142 mEq/l CIS : 10 mEq/l

Jumlah Na di CES menunjukkan keseimbangan 2 faktor : 1. Uptake Na melalui digestif. 2. Ekskresi Na di renal & pulmo.

KALIUM : - kation dominan di CIS : 160 mEq/l

CES : 3,8-5 mEq/l - 98 % di CIS - Konsentrasi di CES menunjukkan keseimbangan antara : 1. Masukan melalui epitel digestif. 2. Keluaran melalui urine KESEIMBANGAN KALSIUM 99 % total Ca di tulang Kation penting di CES & CIS Peranan penting : - matriks mineral tulang - transmisi impuls saraf - kontraksi otot - koagulasi darah - sekresi hormon - adesi interseluler - second messenger intrasel utk proses : eksositosis * kemotaksis * sekresi hormon * aktivitas enzim * fertilisasi Dikendalikan scr ketat oleh interaksi : Absorbsi gastrointestinal Ekskresi ren Resorpsi tulang Sistem vit D - hormon paratiroid

KESEIMBANGAN MAGNESIUM Manusia mengandung sekitar 29 gr :

- 60 % tersimpan di tulang - di cairan tubuh : * terutama di CIS (26 mEq/l) * di CES (1,5-2,5 mEq/l) Kofaktor thd reaksi enzimatik spt : - fosforilasi glukosa dlm sel - penggunaan ATP pd kontraksi serat otot - sbg komponen struktural tulang * Intake 24-32 mEq/l (0,3-0,4 g) per hari KESEIMBANGAN FOSFAT Dibutuhkan utk mineralisasi tulang Di cairan tubuh : - pembentukan energi - aktivasi enzim - sintesa asam nukleat Konsentrasi di plasma 1,8-2,6 mEq/l Direabsorbsi di tub kont proksimal di rangsang oleh calcitriol Keluar mell feses & urin 30-45 mEq/l per har

Gambar 2. Elektrolit dan bahan lainnya pada intraseluler dan Ekstraseluler

ACUAN 4 Faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan air dan zat terlarut 1. Membran Setiap kompartemen cairan dipisahkan oleh membrane permeable selektif yang memungkinkan gerakan air dan beberapa zat terlarut. Meskipun molekul kecil seperti urea dan air bergerak bebas diantara semua kompartemen, tetapi substansi tertentu sedikit bergerak, Contoh protein plasma terbatas terhadap CIV karena pemeabilitas yang rendah dari membrane kapiler terhadap molekul besar.Permeabilitas membrane yang selektif membantu untuk mempertahankan komposisi dari setiap kompartemen sementara memungkinkan gerakan nutrient dari plasma ke sel-sel dan gerakan produk sisa keluar sel dan akhirnya kedalam plasma. Membran semipermeabel tubuh meliputi : Membran sel : memisahkan CIS dari CIT, dan terdiri atas lipid dan protein Membran kapiler : memisahkan CIV dan CIT

Membran epithelial : memisahkan CIT dan CIV dari CTS Selain selektifitas membrane, gerakan air dan zat terlarut ditentukan oleh

2. Proses Transpor beberapa proses transport. Difusi : Gerakan acak dari partikel pada semua arah melalui larutan atau gas. Partikel bergerak dari area dengan konsentrasi tinggi ke area dengan konsentrasi rendah sepanjang gradient konsentrasi. Contoh difusi adalah gerakan oksigen dari alveoli paru ke darah dari kapiler pulmoner. Transpor aktif : Gerakan substansi dari area dengan konsentrasi lebih rendah atau sama ke area dengan konsentrase sama atau lebih besar. Contoh transport aktif : gerakan natrium,kalium, hydrogen, glukosa dan asam amino. Transpor aktif penting untuk mempertahankan keunikan komposisi baik CES dan CIS. Filtrasi : Gerakan air dari zat terlarut dari area dengan tekanan hidrostatik tinggi ke area dengan tekanan hidrostatik rendah. Tekanan hidrostatik adalah tekanan yang dibuat oleh berat cairan. Filtrasi penting dalam mengatur cairan keluar dari arteri ujung kapiler. Osmosis : Gerakan air melewati membrane semipermeabel dari area dengan konsentrasi zat terlarut rendah ke area dengan konsentrasi zat terlarut lebih tinggi.Osmosis dapat terjadi melewati semua membrane bila konsentrasi zat terlarut pada kedua berubah. Istilah berikut dihubungkan dengan osmosis 1. Tekanan osmotic : jumlah tekanan hidrostatik diperlukan untuk menghentikan aliran osmotic air. 2. Tekanan onkotik : tekanan osmotic dihasilkan oleh koloid (protein) . 3. Diuresis osmotic : peningkatan urin disebabkan oleh substansi seperti manitol,glukosa atau media kontras yang dikeluarkan dalam urin dan mengurangi reabsorbsi air ginjal Konsentrasi Cairan Tubuh 1. Osmolalitas : Pengukuran kemampuan larutan untuk menciptakan tekanan osmotic dan dengan demikian mempengaruhi gerakan air disebut osmolalitats.Osmolalitas juga bisa diartikan sebagai pengukuran konsentrasi cairan tubuh (rasio zat terlarut terhadap air). Perubahan

dalam osmolalitas ekstraseluler dapat mengakibatkan perubahan pada volume cairan ekstraseluler dan intraseluler. Penurunan osmolalitas CES gerakan air dari CES ke CIS. Peningkatan osmolalitas CES gerakan air dari CIS ke CES. 2. Tonisitas : tonisitas istilah lain untuk osmolalitas efektif. Contoh osmolalitas efektif adalah natrium,glukosa dan manitol (molekul ini tidak melewati membrane sel dengan cepat dan akan mempengaruhi gerakan air. Beberapa istilah tonisitas : 1. larutan isotonic : larutan yang mempunyai osmolalitas sama efektifnya dengan cairan tubuh, contoh normal salin (0,9%) 2. larutan hipotonik : larutan yang mempunyai osmolalitas efektif lebih kecil dari cairan tubuh, contoh NaCl 0,45% 3. larutan hipertonik : larutan yang mempunyai osmolalitas efektif lebih besar dari cairan tubuh, contoh NaCl 3%

Gambar 3. Perubahan Sel dalam Cairan Isotonik, Hipotonik dan Hipertonik

Gambar 4. Perubahan Cairan Intra dan Ekstrasel pada Penambahan Cairan NaCl dari berbagai Tonus

ACUAN 5 PERHITUNGAN BALANCE CAIRAN Balance cairan adalah perhitungan dan pencatatan semua asupan serta haluaran cairan dalam 24 jam untuk mengetahui keseimbangan cairan klien, yaitu sebagai hasil pengurangan antara intake dan output. Komponen balance cairan Input : Eksternal : intake oral, enteral maupun parenteral Internal : produk metabolisme sekitar 5 ml/kgBB/hari

Output : Insensible water loss (IWL)/kulit : kurang lebih 6 ml/kgBB/hari Paru-paru : kurang lebih 350-400 ml/hari Sensible water loss (SWL)/keringat : kurang lebih 100 ml/hari

Feses Urine

: kurang lebih 100-200 ml/hari : kurang lebih 1 ml/kg BB/jam

Rumus balance cairan : INPUT OUTPUT

Tabel 2. Kebutuhan Cairan Tubuh (Masukan dan Pengeluaran) perhari

ACUAN 6 OEDEMA Udem menunjukkan adanya cairan yang berlebihan di jaringan tubuh. Pada umumnya kelebihan caiaran terjadi pada kompartemen cairan ekstra sel (edema ekstrasel), tetapi dapat juga melibatkan kompartemen intrasel (edema intrasel) 1. Udem Intrasel Ada dua kondisi yang memudahkan terjadinya pembekakan intrasel, yaitu : 1.1pada keadaan depresi metabolisme jaringan 1.2pada keadaan nutrisi sel tidak adequate contohnya, bila aliran darah ke jaringan menurun, pengiriman oksigen dan nutrient berkurang. Jika aliran darah menjadi sangat rendah untuk mempertahankan metabolism jaringan normal, maka pompa ion membrane sel menjadi tertekan. Bila hal ini terjadi, ion natrium yang biasanya masuk ke dalam sel, tidak dapat lagi dipompa keluar sel, dan kelebihan ion natrium

dalam sel menimbulkan osmosis air ke dalam sel. Kadang-kadang hal ini dapat meningkatkan volume intrasel suatu jaringan, bahkan pada seluruh tungkai yang iskemik, contohnya sampai dua atau tiga kali volume normal. Bila hal ini terjadi, biasanya merupakan awal terjadinya kematian jaringan. Edema intrasel juga dapat terjadi pada jaringan yang meradang. Peradangan biasanya mempunyai efek langsung pada membrane sel yaitu meningkatnya permeabilitas membrane, dan memungkinkan natrium dan ion-ion lain berdifusi masuk ke dalam sel, yang diikuti dengan osmosis air ke dalam sel.

2. Udem Ekstrasel 2.1Filtrasi cairan kapiler yang berlebihan Untuk memahami penyebab filtrasi kapiler yang berlebihan, akan membantu bila kita mengingat kembali penentu filtrasi kapiler. Secara matematis, dapat dinyatakan sebagai berikut :

Filtrasi = Kf x (Pc Pif Oc + Oif) Keterangan :


- Kf : koefisien filtrasi kapiler (produk dari permeabilitas dan area permukaan kapiler) - Pc - Pif - Oc - Oif : tekanan hidrostatik kapiler : tekanan hidrostatik cairan interstisial : tekanan osmotic koloid plasma kapiler : tekanan osmotic koloid cairan interstisial

Dari persamaan ini, kita dapat melihat bahwa setiap perubahan berikut dapat meningkatkan kecepatan filtrasi, yaitu : 2.1.1 Peningkatan koefisien filtrasi (misalnya: permiabilitas membran meningkat) 2.1.2 Peningkatan tekanan hidrostatik kapiler

2.1.3 Penurunan tekanan osmotik koloid plasma

2.2Kegagalan sistem limfatik atau hambatan pada system limfatik Bila terjadi hambatan limfatik, edema dapat semakin berat, karena protein plasma yang bocor ke dalam ruang interstisial tidak mempunyai jalan lain untuk keluar.peningkatan konsentrasi protein meningkatkan tekanan osmotic koloid cairan intertisial, yang akan menarik cairan dari kapiler lebih banyak lagi. Hambatan aliran limfe dapat berlangsung berat, khususnya bila terjadi infeksi pada kelenjar limfe, seperti yang terjadi pada infeksi nematode filaria. Hambatan juga dapat terjadi pada jenis kanker tertentu atau setelah pembedahan yang menyebabkan pembuluh limfe diangkat atau mengalami obstruksi. Contohnya, sejumlah besar pembuluh limfe diangkat selama mastektomi radikal, yang akan mengganggu perpindahan cairan dari area payudara dan lengan dan menyebabkan edema dan pembengkakan ruang jaringan. Beberapa pembuluh limfe pada akhirnya akan tumbuh kembali setelah pembedahan tersebut dilakukan,sehingga edema interstisial baisanya hanya berlangsung sementara.