Anda di halaman 1dari 13

Strangulasi

Silviana Tirtasari (406107079)

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Penulisan

Strangulasi atau vascular compromied adalah keadaan dimana vasa dari suatu saluran terjepit sehingga terjadi hipoksia jaringan sampai anoksia jaringan. Misal pada GIT, angina pectoris, angiopathy perifer pada diabetes. Gejala yang ditimbulkan pada strangulasi adalah nyeri yang continous. Apabila sudah ada gejala strangulasi ( nyeri colic berubah menjadi nyeri yang continous) , gold period untuk dilakukan operasi emergensi adalah maksimal 6 jam. Jika lebih dari gold periode, ditakutkan jaringan yang mengalami strangulasi sudah terlanjur iskemik dan mati. Organ abdomen dibagi menjadi dua kategori, yaitu : hollow viscus atau berlumen (tuba fallopi, GIT, ureter, traktus billiaris dan traktrus pankreatikus) dan solid (ginjal, hepar, spleen, pankreas) Hollow viscus organ akan menunjukan gejala nyeri kolik, apabila masih belum ada strangulasi. Gejala yang muncul jika terjadi di GIT akan ada obstipasi, distensi, dan mual muntah hingga syok hipovolemik. Jika pada akhirnya terjadi strangulasi, maka akan terjadi vascular compromised dan menyebabkan kematian jaringan usus, dan terjadi nyeri continous, dapat pula terjadi intususepsi atau malah peritonitis jika sampai terjadi perforasi.

Kepaniteraan Klinik Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 31 Juli 1 September 2012

Strangulasi

Silviana Tirtasari (406107079)

1.2.

Ruang Lingkup Pembahasan

Pada kesempatan kali ini penulis berusaha mengulas mengenai strangulasi dan dan aspek radiologinya. Hal hal yang akan dibahas dalam referat ini meliputi definisi strangulasi, etiologi strangulasi, dan aspek-aspek radiologinya.

1.3.

Tujuan Penulisan

Referat ini disusun untuk melengkapi tugas kepaniteraan klinik Radiologi di RS Sumber Waras. Dan diharapkan dapat menambah pengetahuan penulis serta sebagai bahan informasi bagi para pembaca, khususnya kalangan medis.

1.4.

Teknik Pengumpulan Data

Penulis menggunakan metode pengumpulan data secara tidak langsung, melalui studi kepustakaan, yaitu dari buku-buku referensi dan pustaka elektronik yang berkaitan dengan tema referat ini.

1.5.

Sistematika Penulisan

Kepaniteraan Klinik Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 31 Juli 1 September 2012

Strangulasi

Silviana Tirtasari (406107079)

Bab I, Pendahuluan, membahas tentang latar belakang penulisan, ruang lingkup pembahasan, tujuan penulisan, teknik pengumpulan data, dan sistematika penulisan.

Bab II, Strangulasi Membahas tentang definisi strangulasi, etiologi strangulasi, dan aspek-aspek radiologinya. Bab III, Kesimpulan Kesimpulan dari referat ini. Bab IV, Lampiran Foto-foto dan gambar-gambar yang berhubungan dengan strangulasi

Kepaniteraan Klinik Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 31 Juli 1 September 2012

Strangulasi

Silviana Tirtasari (406107079)

BAB II STRANGULASI

Strangulasi merupakan keadaan terjepitnya suatu saluran, yang mengakibatkan gangguan oksigenasi jaringan. Sebelum mengetahui adanya kelainan congenital yang kasat mata (kelainan organ dalam), kita pasti memerlukan anamnesis dan beberapa pemeriksaan penunjang, karena segalanya akan lebih mudah ketika sudah tersistematis. Hal ini harus kita bedakan menjadi kasus medical atau kasus bedah. Sedangkan kasus bedah sendiri terbagi menjadi elective dan emergency. 1. Anamnesis : (dari anamesis dapat didapatkan info hingga 80%, jika dapat menganamnesis secara benar sehingga kita mengerti patofisiologi. - Apakah keluhan utama pasien? Misal sulit BAB dan distensi abdomen - Sejarah kesehatan pasien : adakah trauma, biasanya jika ada riwayat trauma yang bermasalah adalah solid organ. - Lokasi nyeri, apakah somatik atau visceral (pastikan dengan pemeriksaan palpasi, jika visceral pain saat palpasi dengan penekanan tidak terasa sakit) - Bagaimana rasa nyerinya? Apakah terus menerus atau hilang timbul 2. Pemeriksaan fisik : - Inspeksi : distensi, caput medusa, kemerahan, tanda herniasi - Auskultasi : hiperperistaltik, atau bising usus menghilang - Perkusi : tympani, dull, shifting dullness, atau sonor
Kepaniteraan Klinik Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 31 Juli 1 September 2012 4

Strangulasi

Silviana Tirtasari (406107079)

- Palpasi : tender, rebound tenderness - rectal touche : keluar cairan atau ada hematokezia 3. Pemeriksaan penunjang : Laboratory : darah dan urine X rays plain abdomen (foto polos) & contras (perhatika letak ileusnya untuk menentukan jenis foto yang akan digunakan OMD atau enema, jika memakai metode yang enema dapat juga menjadi terapi non operatif, misalnya terjadi intususepsi yang masih ringan) USG , CTscan MRI

Strangulasi sendiri dapat terjadi pada beberapa penyakit, tergantung dari organ mana yang mengalami strangulasi. Sedangkan bentuk strangulasi yang paling sering ditemukan adalah hernia strangulata dan torsio tetis. Hal ini lah yang akan kita bahas lebih lanjut.

Kepaniteraan Klinik Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 31 Juli 1 September 2012

Strangulasi

Silviana Tirtasari (406107079)

A. Hernia Strangulata Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan. Bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia, disebut hernia inkarserata atau hernia strangulata. Hernia inkarserata berarti isi kantong terperangkap, tidak dapat kembali ke dalam rongga perut disertai akibatnya yang berupa gangguan pasase atau vaskularisasi. Hernia strangulata merupakan hal yang serius dan dapat mengancam jiwa dimana isinya dapat mengalami iskemi dan kematian Masuknya usus dalam kantong hernia dan terjadinya cekikan pada cincin hernia mengakibatkan kongesti pada vena sehingga terjadi edema pada usus dengan meningkatnya tekanan sehingga suplai arteri juga tersumbat menyebabkan gangren pada usus. Pasien dengan hernia strangulata akan nampak toksik, dehidrasi, dan demam. Pada abdomen terdapat tanda-tanda obstruksi yaitu peningkatan peristaltik, abdomen yang distensi dan muntah. Pada hernia tampak tegang, tidak dapat dimasukkan, warna kulit kemerahan atau kebiruan, dan tidak ada bunyi peristaltik pada hernia. Pada keadaan ini perlu dilakukan tindakan yang cepat yaitu resusitasi cairan dan elektrolit serta memasang pipa nasogastrik. Penderita diberikan antibiotik segera setelah itu dilakukan operasi untuk melepaskan cekikan dan menilai viabilitas usus, usus yang gangren dibuang dan yang viabel dilakukan anastomis end to end dan dimasukkan kedalam kavum abdomen. . Hernia inkarserata berarti isi kantong terperangkap, tidak dapat kembali ke dalam rongga perut disertai akibatnya yang berupa gangguan pasase atau vaskularisasi. Kematian pada hernia strangulata berhubungan dengan lamanya strangulasi dan umur pasien. Semakin lama terjadinya strangulata semakin meningkatnya kerusakan yang terjadi oleh karena itu hernia strangulata merupakan bedah emergency. Hernia inkaserata
Kepaniteraan Klinik Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 31 Juli 1 September 2012 6

Strangulasi

Silviana Tirtasari (406107079)

tanpa tanda-tanda strangulasi baik pada pemeriksaan fisis maupun laboratorium sebaiknya dicoba dikembalikan, jika berhasil operasi dapat ditunda 1 atau 2 hari kemudian. Pemakaian prostetik mesh pada hernia strangulata sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan resiko terjadinya translokasi bakteri dan infeksi pada luka. B. Torsio Testis Definisi Torsio testis ialah terpuntirnya testis pada funikulus spermatikus/mesorchium pada epididimis. Keadaan ini merupakan kegawatdaruratan karena dapat terjadi nekrosis testis. Angka kejadian sangat jarang (1 : 4000 pria, 25 thn), Biasa terjadi pada sebelum dewasa ataupun dewasa, bahkan pada saat dalam kandungan. paling sering pada usia 12 18 tahun. keterlambatan diagnose dan pengobatan dapat menyebabkan spermatogenesis terganggu bahakan terhenti , nekrosis, dan ganggren testis.Jika detorsio dilakukan pada 4 jam selama gejala mengurangi 10% daripada dilakukan lebih dari 24 jam. Etiologi Belum diketahui pasti penyebab terjadinya keadaan ini. Faktor predisposisi antara lain: Kriptorchkismus Hidrokel Gubernakulum tidak terbentuk Spasme kremaster Posisi transversal pada skrotum Mesorchium panjang dan sempit Kecendrungan mesorchium melekat pada satu pole testis
7

Kepaniteraan Klinik Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 31 Juli 1 September 2012

Strangulasi

Silviana Tirtasari (406107079)

Kurang menyatunya dinding skrotum dengan testis Bell clapper deformity

Faktor pencetus, antara lain : Kontraksi m. cremaster yang tiba-tiba dan kuat, misalnya karena suhu dingin dengan tiba-tiba, ketakutan, batuk dan trauma Patofisiologi Testis akan masuk ke dalam skrotum melalui saluran ari-ari. peritonium pada abdomen berinvaginasi melalui saluran dan secara parsial akan menutup testis dan epididimis kemudian membentuk tunika vaginalis. Jika tunika vaginalis menutup secara penuh tapi penurunan terlalu tinggi maka ada kecendrungan terjadi kelainan. Jika terpilinnya pada intravaginal, testis dapat terputar didalam tunika vaginalis yang menyebabkan konstriksi pembuluh darah. Jika terpilinnya di ekstravaginal,biasanya terjadi pada bayi premature bahkan pada masa intrauterine. Manifestasi Klinik Torsio testis dapat memperlihatkan skrotum yang lunak dan bengkak, tapi skrotum tampak lebih rumit, khususnya pada anak yang lebih muda, menegaskan pentingnya pemeriksaan genital pada evaluasi nyeri abdomen. Walaupun pada anak yang lebih muda hanya tampak gejala berupa nyeri abdomen, muntah, dan demam ringan, pemeriksaan akan menampakkan skrotum yang lunak dan bengkak dengan peninggian testis. Hilangnya reflex kremaster adalah tanda penting lainnya. Torsio juga dipertimbangkan pada anak laki-laki dengan undeseden testis Diagnosa Banding Proses penyakit lainnya yang dapat juga memperlihatkan adanya nyeri abdomen yang tiba-tiba dan muntah adalah intususepsi dan kolik renal. Pada anak perempuan,
Kepaniteraan Klinik Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 31 Juli 1 September 2012 8

Strangulasi

Silviana Tirtasari (406107079)

kehamilan ektopik dan rupture kista korpus luteal atau abses tuba-ovarium juga harus dipertimbangkan.

Tes Laboratorium Terdapat leukositosis pada lebih dari 50% pasien, dan urinalisis biasanya normal Diagnostik radiologi Warna-aliran Doppler ultrasound memiliki sensitifitas sekitar 82-86% dengan spesifisitas hampir 100% untuk torsi testis. Skintigrafi untuk torsi testis memiliki sensitivitas antara 80-100% dan spesifisitas 89% sampai 100%. Karena torsi bersifat intermiten, tes diagnostik dapat negatif ada, pada konsultasi

waktu pemeriksaan. Jika kecurigaan untuk

diagnosis masih

dengan urologi atau ginekologi dan dianjurkan dirujuk ke Rumah Sakit.

Penatalaksanaan Pada torsio awal (1-2 jam) dilakukan terapi konservatif dengan melakukan Detorsi manual. bila berhasil lakukan orkidopeksi beberapa saat kemudian. Jika pasien memiliki gejala selama 12 jam, segera lakukan tindakan bedah. Sambil

menunggu operasi, upaya pada adalah tepat, yang dicapai ke lateral dengan

detorsion manual memutar testis dalam dilakukan dilakukan dari pasien

dalam kegawatdaruratan open-book dari medial

setelah

administrasi analgesia yang setelah detorsion untuk memiliki kelainan pada

memadai. Orkidopeksi kedua testis biasanya menghindari rekurensi; sekitar 40%

testis bellclapper kontralateral.


Kepaniteraan Klinik Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 31 Juli 1 September 2012 9

Strangulasi

Silviana Tirtasari (406107079)

Teknik operasi dilakukan bila: Viable, lakukan orkidopeksi Tidak viable, lakukan orkidektomi Orkidopeksi testis kontralateral untuk prevensi

Prognosis Umumnya viable dalam 4 jam setelah torsio Maksimum survival 70 90 % 5 12 jam Mungkin masih baik 12 24 jam Hasil meragukan bila lebih dari 24 jam Dianjurkan orkidektomi bila lebih dari 4 jam Tergantung jumlah putaran dan lamanya torsio

Kepaniteraan Klinik Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 31 Juli 1 September 2012

10

Strangulasi

Silviana Tirtasari (406107079)

BAB III KESIMPULAN

Pneumotoraks merupakan suatu keadaan dimana rongga pleura terisi oleh udara, sehingga menyebabkan pendesakan terhadap jaringan paru yang menimbulkan gangguan dalam pengembangannya terhadap rongga dada saat proses respirasi. Oleh karena itu, pada pasien sering mengeluhkan adanya sesak napas dan nyeri dada. Berdasarkan penyebabnya, pneumotoraks dapat terjadi baik secara spontan maupun traumatik. Pneumotoraks spontan itu sendiri dapat bersifat primer dan sekunder. Sedangkan pneumotoraks traumatik dapat bersifat iatrogenik dan non iatrogenik. Dan menurut fistel yang terbentuk, maka pneumotoraks dapat bersifat terbuka, tertutup dan ventil (tension). Dalam menentukan diagnosa pneumotoraks seringkali didasarkan pada hasil foto rntgen berupa gambaran translusen tanpa adanya corakan bronkovaskuler pada lapang paru yang terkena, disertai adanya garis putih yang merupakan batas paru (colaps line). Dari hasil rntgen juga dapat diketahui seberapa berat proses yang terjadi melalui luas area paru yang terkena pendesakan serta kondisi jantung dan trakea. Pada prinsipnya, penanganan pneumotoraks berupa observasi dan pemberian O2 yang dilanjutkan dengan dekompresi. Untuk pneumotoraks yang berat dapat dilakukan tindakan pembedahan. Sedangkan untuk proses medikasi disesuaikan dengan penyakit yang mendasarinya. Tahap rehabilitasi juga perlu diperhatikan agar pneumotoraks tidak terjadi lagi.

Kepaniteraan Klinik Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 31 Juli 1 September 2012

11

Strangulasi

Silviana Tirtasari (406107079)

DAFTAR PUSTAKA

1.

Guyton, Arthur, C. Hall, John, E. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta : EGC; 1997. p. 598.

2.

Sudoyo, Aru, W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. K, Marcellus, Simadibrata. Setiati, Siti. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2006. p. 1063.

3.

Rahajoe, Nastiti. Supriyatno, Bambang. Budi, Darmawan. Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi 1. Jakarta : Badan Penerbit IDAI, 2008.

4.

Sjamsuhidajat, R dan Wim De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah, Penerbit buku Kedokteran, ECG, edisi 2, Jakarta.2005

5.

Moffat, David, dan Omar Faiz. Anatomy at a Glance, Blackwell Science Publishing, 2002

6. 7.

Mattler, Front. Van De Graaff Human Anatomy. McGrawHill.2001 Denny,F.W, Vaughan, V.C : Nelson Text Book Pediatrics, 15th Ed. W.B. Saunders Company, Philadelphia.

8.

Alsagaff, Hood. Mukty, H. Abdul. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya : Airlangga University Press; 2009. p. 162-179

9.

Schiffman, George. Stoppler, Melissa, Conrad. Pneumothorax (Collapsed Lung). Cited : 2011 January 10. Available from :

http://www.medicinenet.com/pneumothorax/article.htm

Kepaniteraan Klinik Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 31 Juli 1 September 2012

12

Strangulasi

Silviana Tirtasari (406107079)

10.

Malueka, Rusdy, Ghazali. Radiologi Diagnostik. Yogyakarta : Pustaka Cendekia Press; 2007. p. 56

Kepaniteraan Klinik Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 31 Juli 1 September 2012

13