Anda di halaman 1dari 17

PITIRIASIS VERSICOLOR

Pendahuluan Tinea versikolor atau disebut pitiriasis versikolor disebabkan ragi lipofilik dari genus Malassezia, yang merupakan infeksi superfisial yang paling sering sering terjadi dan memiliki angka kejadian kekambuhan yang tinggi setelah selesai pengobatan1. Gejala klinis yang sering muncul adalah makula hipo atau hiperpigmentasi pada bagian dada, leher dan lengan atas 2-4 Eichstedt pertama menemukan bahwa tinea versikolor adalah infeksi jamur pada tahun 1846. Selama beberapa tahun diyakini bahwa ragi adalah jenis jamur yang normal ada dipermukaan kulit. Kemudian pada tahun 1889 Baillon memastikan bahwa jamur yang menyebabkan tinea versikolor adalah jenis ragi dan memiliki nama Malassezia dan dimasukkan kedalam spesies microsporum dari dermatophytes. Pada tahun 1951 Gordon mendreskripsikan karakteristik dari M.furfur dan menggantikan namanya menjadi Pityrosporum orbiculare. Sehingga pada saat ini M.furfur juga sering disebut P. orbiculare, P. ovale, dan M. ovalis3,5,6 Tinea versikolor merupakan infeksi jamur tersering di wilayah khatulistiwa dan nomer dua tersering di Indonesia5,6. Angka kejadian semakin bertambah pada musim panas. Faktor yang mempengaruhi tinea versikolor ada yang dari dalam dan luar tubuh3,6. Gejala klinis utma yang diberikan oleh tinea versikolor cukup bermacam-macam warna makula yang timbul, yang kadang disertai adalah rasa gatal yang jarang atau bahkan tidak ada. Sehingga alasan utama pasien untuk datang berobat adalah alasan kosmetik adanya macula yang mengganggu kosmetik 5-8. Penegakan diagnosis untuk penyakit ini yang utama adalah secara klinis dan anamnesis serta dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis penyakit yang sering disebut panu tersebut2,3,8. Dalam pengobatan tinea versikolor dapat diterapi secara topikal dan sistemik tergantung pada tingkat keparahan dari penyakit tersebut. Pilihan obat bermacam-macam untuk terapi penyakit disebabkan oleh jamur Malassezia furfur ini2,3,9. Pencegahan penyakit tersebut sangat dibutuhkan karena penyakit tersebit sangat sering terjadi kekambuhan2.

Pitiriasis Versikolor

Page 1

Defenisi Tinea versikolor atau disebut pitiriasis versikolor disebabkan ragi lipofilik dari genus Malassezia, yang merupakan infeksi superfisial yang paling sering sering terjadi dan memiliki angka kejadian kekambuhan yang tinggi setelah selesai pengobatan1. Gejala klinis yang sering muncul adalah macula hipo atau hiperpigmentasi pada bagian dada, leher dan lengan atas2-4. Pitiriasis versikolor adalah infeksi jamur universal dan paling sering ditemukan di daerah tropis, istilah berhubungan dengan gejala perubahan warna kulit yang disebabkan oleh infeksi jamur tersebut. Perubahan warna kulit yang terjadi dapat berwarna putih (hipopigmentasi), coklat kehitaman (hiperpigmentasi) dan merah muda.3,5,6 Sinonim Tinea versikolor, kromofitosis, dermatomikosis, liver spots, tinea flava, pitiriasis versikolor flava, panu dan panau.2,3 Epidemiology Spesis Malassezia adalah ragi saprofytik yang tumbuh pada kulit normal pada bagian kepala, punggung dan leher yang merupakan daerah pada tubuh yang memiliki kandungan lemak yang banyak10,11. Penyakit ini sering mengenai anak muda terutama pada masa pubertas. Pada masa ini terjadi peningkatan sebum dalam kelenjar sebasea yang mengakibatkan peningkatan kemungkinan terjadinya pertumbuhan jamur tersebut secara berlebihan. Pertumbuhan yang berlebihan tersebut juga dapat disebabkan oleh perubahan hormonal, malnutrisi, penggunaan kontrasepsi oral dan hiperhidrosis12. Angka kejadian pitiriasis versikolor di dunia sebesar 2025% populasi dunia menderita penyakit ini. Pada daerah tropis angka kejadian pitiriasis versikolor pada daerah tropis sebesar 30-40% populasi diwilayah tropis menderita penyakit ini tetapi hanya 60% dari populasi yang menunjukkan gejala klinis penyebab1,7,11,15. Di Indonesia yang berada disekitar garis ekuator memiliki suhu sekitar 300 sepanjang tahun dan memiliki kepadatan pendudukan mencapai 70%. pitiriasis versikolor merupakan dermatomikosis nomer 2 terbanyak di Indonesia 12.
10,13

. Angka kejadian pitiriasis

versikolor tertinggi terjadi pada saat musim panas, ini berhubungan dengan sifat dari jamur

Pitiriasis Versikolor

Page 2

Pada sebuah penelitian di Argentina, pasien laki-laki dan perempuan yang menderita pitiriasis versikolor memiliki jumlah yang sama. Pasien yang menderita pitiriasis versikolor terbanyak adalah pasien pada rentan umur diantara 20-30 tahun. pitiriasis versikolor paling banyak di temukan pada bagian punggung pasien.6 Etiology Pitiriasis versikolor disebabkan oleh Malassezia Furfur yang merupakan spesies dari genus malassezia, Family Filobasidiaceae, Ordo Tremellales, Class Hymenomycetes, Filum Basidiomycota dan Kingdom Fungi. Malassezia yang memiliki 13 spesies diantaranya M. Furfur, M. Sympodialisis, M. restricta, M. glabosa, M. Obtusa, M. caprae, M. slooffiae, M. japonica, M. nana, M. yamatoensis, M. equine, M. pachydermatis. Dari sejumlah spesies diatas, M. furfur dan M. sympodialis merupakan spesis terbanyak yang ditemukan pada pasien penderita pitiriasis versikolor di Jakarta14. Pada penelitian lainnya ditemukan M. glabosa pada 955 pasien yang menderita pitiriasis versikolor di Amerika5,11. Spesies Malassezia merupakan jamur yang senang hidup didaerah dengan kelembaban tinggi, temperatur yang tinggi dan daerah yang memiliki tingkat kepadatan yang cukup tinggi.11,14 M. furfur dapat di kultur dari daerah lesi yang mengalami kelainan sebagai patogen dan pada kulit normal sebagai flora normal dapat ditemukan di daerah yang memiliki kelenjar sebum di tubuh7. M. furfur bersifat lipofilik, dapat tumbuh in vitro hanya pada penambahan olive oil dan lanolin. Pada kondisi tertentu M. furfur berubah dari bentuk saprofitic menjadi bentuk parasitik mycelial yang dapat menyebabkan timbulnya gejala klinis. Faktor yang berperan dalam hal tersebut adalah suhu yang meningkat, kelembaban yang meningkat, herediter, cushings sindrom, immunosupresan dan malnutrisi8,12,. Pada pasien yang telah sembuh pengobatan dan dilakukan pemeriksaan kultur, masih dapat di temukan M. furfur pada lesi tersebut. Ini yang mengakibatkan pitiriasis versikolor merupakan penyakit yang sering terjadi kekambuhan5. Pada penelitian ditemukan bahwa 80% pasien pitiriasis versikolor akan mengalami kambuhan setelah 2 tahun. Sehingga membutuhkan pengobatan yang berkelanjutan dan pencegahan. Faktor lain yang berperan dalam angka kejadian pitiriasis versikolor adalah penggunaan minyak atau lotion pada pasien meningkatkan angka kejadian.1

Pitiriasis Versikolor

Page 3

Spesies Malassezia dapat dibedakan berdasarkan nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, morfologi, dan secara molekular biologi. M pachydermatis merupakan genus malassezia yang dapat tumbuh eksogen tanpa membutuhkan lemak untuk bertumbuh. M. sympodialis merupakan penyebab kelainan kulit pada bayi dan neonatus. Cara Penularan Sebagian besar kasus pitiriasis versikolor terjadi karena aktivasi Malassezia pada tubuh penderita sendiri (autothocus flora), walaupun dilaporkan adanya penularan dari individu lain. Kondisi patogen terjadi bila terdapat perubahan keseimbangan hubungan antara hospes dengan ragi sebagai flora normal kulit. Dalam kondisi tertentu malassezia akan berkembang ke bentuk miselial dan bersifat lebih patogenik. Patogenesis Pitiriasis versikolor muncul ketika M. furfur berubah bentuk menjadi bentuk miselia karena adanya faktor predisposisi, baik eksogen maupun edogen. Faktor eksogen meliputi panas dan kelembaban. Hal ini merupakan penyebab sehingga pitiriasis versikolor banyak dijumpai di daerah tropis dan pada musim panas di daerah sub tropis. Faktor eksogen lainnya adalah penutupan kulit oleh pakaian atau kosmetik dimana mengakibatkan peningkatan konsentrasi CO2, mikroflora dan pH. Faktor endogen berupa malnutrisi, dermatitis seboroik, sindrom cushing, terapi immunosupresan, hiperhidrosis dan riwayat keluarga yang positif. Disamping itu diabetes melitus, pemakaian steroid jangka panjang, kehamilan dan penyakit berat memudahkan timbulnya pitiriasis versikolor. Pada pasien dengan cushing sindrom mengalami penigkatan kortisol dalam darah juga berarti terjadi peningkatan lemak dalam tubuh yang berperan dalam mendukung pertumbuhan M. furfur. Patogenesis dari makula hipopigmentasi oleh adanya toksin yang langsung menghambat pembentukan melanin dan adanya C9 dan C11 asam decarbosilat yang dihasilkan oleh Pityrosporum yang merupakan inhibitor kompetitif dari tirosinase. Tirosinase adalah enzim yang berpran dalam pembentukan melanin. Mekanisme lainnya adalah M. furfur menghambat pertumbuhan stratum korneum. Mekanisme dari macula hiperpigmentasi adalah terjadi penipisan stratum korneum oleh M. furfur yang mengakibatkan munculnya reaksi

Pitiriasis Versikolor

Page 4

radang sehingga muncul macula tersebut dan juga karena ada penimpisan stratum korneum mengakibatkan meningkatnya kemungkinan infeksi sekunder15. Gejala Klinis Pitiriasis versikolor paling sering mengenai usia belasan walaupun pada beberapa penelitian ditemukan paling banyak terjadi pada rentan usia 20-30 tahun2,12. Pada penderita umunya hanya mengeluhkan adanya bercak/makula atau berupa plak berwarna putih (hipopigmentasi) atau kecoklatan (hiperpigmentasi) yang berbatas tegas dan rasa gatal yang ringan pada umunya muncul saat berkeringat1,3,4,16,. Pada pasien dengan kulit terang akan muncul bercak hiperpigmentasi atau eritama sedangkan pasien dengan kulit gelap atau hitam bercak muncul berupa bercak hipopigmentasi. Pasien sering mengeluhkan adanya bercak yang mengganggu kosmetik pasien7. Ukuran dan bentuk lesi sangat bervariasi bergantung lama sakit dan luasnya lesi. Pada lesi baru sering dijumpai makula skuamosa folikular. Sedangkan pada lesi primer tunggal berupa makula dengan batas sangat tegas tertutup skuama halus. Pada kulit hitam atau kecoklatan umumnya berwarna putih sedang pada kulit putih atau terang cenderung berwarna coklat atau kemerahan. Makula umunya khas berbentuk bulat atau oval tersebar pada daerah yang terkena. Pada beberapa lokasi yang selalu lembab, misalnya pada daerah dada, kadang batas lesi dab skuama menjadi tidak jelas18. Lesi pitiriasis versikolor terutama dijumpai dibagian atas dada dan meluas ke lengan atas, leher, tengkuk, perut atau tungkai atas/bawah. Dilaporkan adanya kasus-kasus dimana lesi hanya dijumpai pada bagian tubuh yang tertutup atau mendapat tekanan pakaian, misalnya pada bagian yang tertutup pakaian dalam. Dapat pula dijumpai lesi pada lipatan axial, inguinal atau pada kulit muka dan kepala.1,-5,10 Untuk menunjukkan adanya skuamasi secara sederhana dapat dilakukan garukan dengan kuku, akan nampak batas yang jelas antara lesi dan kulit normal8. Pada kasus yang lama tanpa pengobatan, lesi dapat bergabung membentuk gambaran seperti pulau yang luas berbentuk polisiklik. Lesi yang kecil biasanya berbentuk bulat atau oval. Beberapa kasus didaerah berhawa dingin dapat sembuh total. Pada sebagian besar kasus pengobatan akan menyebabkan lesi berubah menjadi macula hipopigmentasi yang menetap hingga beberapa bulan tanpa adanya skuama.
Pitiriasis Versikolor Page 5

Berikut adalah beberapa contoh lesi pada pitiriasis versikolor

Gamba 1. A. Makula Hiperpigmentasi pada punggung, B. Makula Eritematous pada axial, C. Makula hipopigmentasi pada lengan atas, D. Makula Hipopigmentasi pada dada 5,16,19

Diagnosis Diagnosis klinis pitiriasis versikolor ditegakkan berdasarkan adanya makula hipopigmentasi, hiperpigmentasi atau kemerahan yang berbatas sangat tegas, tertutp skuama halus. Pemeriksaan dengan lampu wood akan menunjukkan adanya pendaran (florosensi) berwarna kuning muda pada lesi yang bersisik. Pemeriksaan mikroskopi sedaian skuama dengan KOH memperlihatkan kelompok sel ragi bulat berdinding tebal dengan misselium kasar, sering terputus-putus (pendekPitiriasis Versikolor Page 6

pendek), yang akan lebih mudah dilihat dengan penambahan zat tinta Parker blue-black atau biru laktofenol. Gambaran ragi dan misselium tersebut sering dilukiskan sebagai meat boll and spaghetti. Pengambilan skuama dapat dilakukan dengan kerokkan menggunakan skapel tumpul atau menggunakan selotip yang dilekakan pada lesi. Pembuktian dengan biakan malassezia tidak diagnostik oleh karena Malessezia merupak flora normal kulit2,3,5,8,12,16,20.

Gambar 2. A. M. furfur pada pewarnaan KOH, B. M. furfur pada pewarnaan dengan tinta Parker Blue5,8 Pada pemeriksaan biopsy menunjukkan stratum korneum yang tipis bersama dengan hifa dan spora. Pada lesi, terdapat hiperkeratotik dan koloni hifa dan spora, subepidermal fibroplasias, tidak ada melanosit dan minimal infiltrate sel radang.

Gambar 3. Gambaran histopatology pada pitiriasis versikolor dengan pewarnaan HE21

Pitiriasis Versikolor

Page 7

Diagnosis Banding Pitiriasis versikolor sering di diagnosis banding dengan MH tipe TT, vetiligo, pitiriasis alba, pitiriasis rosea, dermatitis seboroik, sefilis sekunder. Vetiligo dibedakan dengan adanya total depigmentasi pada lesi dan ukuran lesi pada vetiligo lebih besar dibanding pitiriasis versikolor dan kloasma dibedakan dengan tidak dijumpainya skuama. Dermatitis seboroik, pitiriasis rosea, sufulis sekunder, pinta dan tinea corporis umumnya menunjukkan adanya tingkat inflamasi yang lebih hebat. Eritrasma umunya menyerupai pitiriasis versikolor bentuk hiperpigmentasi atau eritematosa, tetapi memberikan floresensi kemerahan pada pemeriksaan dengan lampu wood. Membedakan pitiriasis versikolor dengan MH tipe TT adalah pada lesi MH terdapat anastesi, dan anhidrosis, serta pada pemeriksaan fisis lainnya ditemukan tanda-tanda pembesaran saraf dan lainnya yang mendukung kearah MH.1,3,5,8,10,22, 1. Morbus Hansen Makula hipopigmentasi yang terdapat pada penderita Morbus Hansen mempunyai ciri-ciri yang khas yaitu makula anestesi, alopesia, anhidrosis, dan atrofi. Lesi dapat satu atau banyak, berbatas tegas dengan ukuran bervariasi. Terdapat penebalan saraf perifer. Kelainan ini terjadi karena menurunnya aktivitas melanosit. Pada pemeriksaan histopatologi jumlah melanosit dapat normal atau menurun. Terdapat melanosit dengan vakuolisasi dan mengalami atrofi serta menurunnya jumlah melanosom.

Gambar 4. Gambar macula hipopigmentasi pada MH tipe BL23

Pitiriasis Versikolor

Page 8

2. Vitiligo Vitiligo adalah suatu hipomelanosis yang didapat bersifat progresif, seringkali familial ditandai dengan makula hipopigmentasi pada kulit, berbatas tegas, dan asimtomatis. Makula hipomelanosis yang khas berupa bercak putih seperti putih kapur, bergaris tengah beberapa millimeter sampai beberapa sentimeter, berbentuk bulat atau lonjong dengan tepi berbatas tegas dan kulit pada tempat tersebut normal dan tidak mempunyai skuama. Vitiligo mempunyai distribusi yang khas. Lesi terutama terdapat pada daerah yang terpajan (muka, dada bagian atas, dorsum manus), daerah intertriginosa (aksila, lipat paha), daerah orifisium (sekitar mulut, hidung, mata, rektum), pada bagian ekstensor permukaan tulang yang menonjol (jari-jari, lutut, siku). Pada pemeriksaan histopatologi tidak ditemukan sel melanosit dan reaksi dopa untuk melanosit negatif. Pada pemeriksaan dengan lampu Wood makula amelanotik pada vitiligo tampak putih berkilau, hal ini membedakan lesi vitiligo dengan makula hipomelanotik pada kelainan hipopigmentasi lainnya22,24

Gambar 4. Vitiligo 22,24. 3. Hipopigmentasi Post Inflamasi Berbagai proses inflamasi pada penyakit kulit dapat pula menyebabkan hipopigmentasi misalnya Lupus eritematosus diskoid, Dermatitis atopik, Psoriasis, Parapsoriasis gutata kronis, dan lain-lain. Predileksi dan bentuk kelainan hipopigmentasi yang terjadi sesuai dengan lesi primernya. Hal ini khas pada kelainan hipopigmentasi yang terjadi sesudah menderita psoriasis25.

Pitiriasis Versikolor

Page 9

Hipomelanosis terjadi segera setelah resolusi penyakit primer dan mulai menghilang setelah beberapa minggu hingga beberapa bulan terutama pada area yang terpapar matahari22,25. Patogenesis proses ini dianggap sebagai hasil dari gangguan transfer melanosom dari melanosit ke keratinosit. Pada dermatitis, hipopigmentasi mungkin merupakan akibat dari edema sedangkan pada psoriasis mungkin akibat meningkatnya epidermal turnover. Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit yang berhubungan sebelumnya. Jika diagnosis belum berhasil ditegakkan maka biopsi pada lesi hipomelanosis akan menunjukkan gambaran penyakit kulit primernya25.

Ganbar 5. Hipopigmentasi Post Inflamasi 25 4. Pitiriasis Alba Pitiriasis alba sering dijumpai pada anak berumur 3 16 tahun (30 40%). Wanita dan pria sama banyak. Lesi berbentuk bulat atau oval. Pada mulanya lesi berwarna merah muda atau sesuai warna kulit dengan skuama kulit diatasnya. Setelah eritema menghilang, lesi yang dijumpai hanya hipopigmentasi dengan skuama halus. Pada stadium ini penderita datang berobat terutama pada orang dengan kulit berwarna. Bercak biasanya multipel 4 20. Pada anak-anak lokasi kelainan pada muka (50 60%), Paling sering di sekitar mulut, dagu, pipi, dan dahi. Lesi dapat dijumpai pada ekstremitas dan badan. Lesi umumnya asimtomatik tetapi dapat juga terasa gatal dan panas22,26. Pada pemeriksaan histopatologi tidak ditemukan melanin di stratum basal dan terdapat hiperkeratosis dan parakeratosis. Kelainan dapat dibedakan dari Vitiligo dengan adanya batas

Pitiriasis Versikolor

Page 10

yang tidak tegas dan lesi yang tidak amelanotik serta pemeriksaan menggunakan lampu Wood. Kelainan hipopigmentasi ini dapat terjadi akibat perubahan-perubahan pasca inflamasi dan efek penghambatan sinar ultraviolet oleh epidermis yang mengalami hiperkeratosis dan parakeratosis.

Gambar 6. Pitiriasis alba pada anak-anak 26 Pengobatan Pengobatan ini harus dilakukan secara holistik, tekun, serta konsisten. Obat-obatan yang dapat dipakai yaitu1,2,3,8,9,16,17,18,27,: 1. Topikal: ditujukan untuk lesi yang minimal. Sedian obat topical antara lain solision, sampo, paint atau cat, cream dan ointment. Suspensi selenium sulfide (selsun yellow) yang dapat dipakai sebagai shampoo 2 3 kali seminggu selama 2 4 minggu. Obat ini digosokkan pada lesi dan didiamkan 15 30 menit sebelum mandi. Obat ini memiliki kekurangan yaitu bau yang kurang sedap dan kadang bersifat iritatif dan mengakibatkan kulit menjadi kering sehingga menyababkan pasien kurang taat melakukan pengobatan2,3. Salisil spiritus 10%. Derivat-derivatazol, misalnya Mikonazol 2%, Klotrimazol 1%, Isokonazol 1%, dan Ekonazol 1%.Dioleskan 1 2 kali sehari selama 2 3 minggu. Mikonasol memilliki struktur yang sama dengan econazole, obat ini melakukan penetrasi sampai ke stratum korneum dan bertahan selama 4 hari setelah pemakaian. Kurang 1% diserap masuk

Pitiriasis Versikolor

Page 11

kedalam darah. Efek samping dari pengguanaan obat ini adalah rasa terbakar dan muncul rekasi alergi. Obat ini termasuk aman untuk pasien hamil. Klotrimazol diserap kurang dari 0.5% oleh kulit yang intak. Berefek fungisidal 3 hari setelah pemakaian dan sebagian kecil dimetabolisme di hati dan keluar melalui empedu. Pada penggunaan secara topikal akan menimbulkan rasa tersengat, eritema, gatal, deskuamasi dan urtikaria. Ekonazol merupakan derifat dari mikonazol berkerja menembuh stratum korneum bahkan sampai ke lapisan dermis kulit. Kurang dari 1% diserap oleh darah. Efek samping yang sering muncul adalah lokal eritema, rasa tersengat, rasa terbakar, dan gatal9,28.29 Sulfur prespitatum dalam bedak kocok 4 20%. Sulfur terbukti baik untuk pengobatan pitiriasis versikolor, Tolsiklat, Tolnaftat,. Tolnaftat sangat efektif untuk pitiriasis versikolor yang disebabkan oleh M. furfur, hampir tidak ada laporan mengenai rekasi alergi dari obat tersebut. Tersedia dalam bentuk krim 1%, gel, bedak dan solution. Obat ini digunakan selama 7 sampai 21 hari. Haloprogrin. Larutan Tiosulfasnatrikus 25%. Larutan ini dioleskan 2 kali sehari sehabis mandi. Obat ini digunakan selama 2 minggu3.

2. Sistemik: digunakan pada kondisi tertentu misalnya jika adanya resistensi pada obat topikal, lesi yang luas, dan sering terjadinya kekambuhan. Ketokonazol dengan dosis 1 x 200 mg selama 10 hari atau 400 mg dosis tunggal. Ketokonazol tersedia dalam bentuk tablet 200 mg, merupakan turunan imidazol dengan struktur mirip mikonazol dan klotrimazole. Obat ini bersifat lipofiliki dan larut dalam air dalam kondisi asam. Penyerapan obat berfariasi secara individu, menghasilkan kadar plasma yang cukup untuk menekan berbagai macam jamur. Penyerapan akan menurun pd pH lambung yang tinggi, pada pemberian antagonis H2 atau bersama dengan antasida dan penggunaan bersama dengan antikolinerjik akan menurunkan absorbs dan bioavibilitas obat tersebut. Dalam waktu 2 jam 90-99% obat tersebut sudah berikatan dengan albumin. Ketokonazol dimetabolisme di hepar dan 90% diekskresi melalui empedu dan saluran cerna dalam bentuk tidak aktif. Pada pasien yang mengalami gangguan ginjal, tidak berpengaruh terhadap obat tersebut. Obat tersebut berisifat hepatotoksic sehingga
Pitiriasis Versikolor Page 12

diperlukan pemeriksaan fungsi hepar saat memulai, selama dan setelah pengobatan. Ketokonazol menurunkan jumlah testoteron dalam serum, namun akan kembali normal saat obat tersebut dihentikan. Obat tersebut meningkatkan efek dari obat antikoagulan dan kortikosteroid 2,3,9,28,29. Itrakonazol dengan dosis 200 mg per hari secara oral selama 5 7 hari atau 100mg/hari selama 15 hari sampai 1 bulan atau 400mg dosis tunggal. Obat ini bersifat keratinofilik dan lipofilik. Cara kerja dari obat ini adalah dengan menghambat C-demethylation pada sintesis ergosterol yang sangat berperan dalam pembentukan membrane jamur. Obat ini merupakan anti jamur derivate Trazol dengan spectrum luas dan lebih kuat dari pada Ketokonazol dan disarankan untuk kasus yang relaps atau tidak responsef terhadap pengobatan lainnya. Obat tersebut juga tersedia dalam bentuk injeksi intravena 10mg/ml sering digunakan pada kasus aspiergilosis blastomicosis dan histoplasmosis. Pada penggunan secara oral penyerapan akan lebih baik jika diberikan bersama dengan makanan. Efek terhadap enzim hati lebih sedikit dibandingkan dengan ketokonazol. Pada pasien dengan peningkatan enzim hepar akan meningkatkan jumlah itrakonazol dalam plasma. pada sebuah penelitian menunjukkan penggunaan itrakonazol 400mg dosis tunggal lebih baik dibandingkan dengan penggunaan 200mg/hari atau 100mg/hari selama 1 bulan2,3,9,27,28,29. Flukonazole 50mg/hari atau 150mg/minggu selama 1 bulan atau 400mg dosis tunggal, pada anak-anak 3-6mg/kgBB/hari. Sedian obat tersebut yang ada di Indonesia 150 mg dan 50 mg. Obat tersebut diserap sempurna melalui saluran cerna tanpa dipengaruhi ada atau tidaknya makanan dalam lambung atau tingkat keasaman lambung. Flukonazol tesebar rata keseluruh cairan tubuh juga pada saliva dan sputum. Waktu paruh eliminasi obat ini adalah 25jam dan di ekskresi melalui ginjal. Efek samping dari obat ini adalah gangguan saluran cerna. Obat ini akan meningkatkan kadar plasma fenitoin dan sulfunilurea dan menurunkan kadar plasma warfarin dan siklosporin. Efek samping dari obat ini adalah mual dan muntah pada penggunaan diatas 200mg. pasien yang mengkonsumsi diatas 800mg/hari disarankan agar digunakan bersama dengan antiemetic2,3,9,27,28,29. Selain itu, pakaian, kain seprai, handuk harus dicuci dengan air panas. Kebanyakan pengobatan akan menghilangkan infeksi aktif (skuama) dalam waktu beberapa hari, tetapi untuk menjamin pengobatan yang tuntas, pengobatan ketat ini harus diteruskan selama
Pitiriasis Versikolor Page 13

beberapa minggu. Daerah hipopigmentasi belum akan tampak normal, namun lama-kelamaan akan menjadi coklat kembali sesudah terkena sinar matahari. Prognosis Prognosis dari penyakit ini adalah baik jika dilakukan pengobatan secara holistik, tekun, dan konsisten. Pengobatan ini harus diteruskan selama 2 minggu setelah fluoresensi negative dengan pemeriksaan lampu Wood dan sediaan langsung pun juga negatif. Pencegahan Pencegahan dapat dilakukan dengan selalu menjaga higienitas perseorangan, hindari kelembaban kulit yang berlebihan, dan menghindari kontak langsung dengan penderita. Penyakit ini merupakan penyakit yang memiliki angka keambuhan sangat tinggi sekitar 80% dalam 2 tahun sehingga diperlukan pengobatan yang berkelanjutan dan pencegahan dengan menggunakan sampo selenium sulfide sekali seminggu dapat membatuh mencegah angka kekambuhan penyakit tersebut. Cara lain untuk mencegah kekambuhan dari pitiriasis versikolor disarankan pemakaian 50% propilen glikol dalam air untuk mencegah kekambuhan. Pada daerah endemic dapat disarankan memakai ketokonazol 200 mg/hari selama 3 hari setiap bulan atau itrakonazole 200 mg sekali sebulan5.

Pitiriasis Versikolor

Page 14

Daftar Pustaka 1. Straten MRV. Hossain MA. Ghannium MA. Cutaneus infections dermatophytosis, onycomicosis, and tinea versicolor. 2003. Cleveland. Elsevier 2. Radiono S. Pitiriasis Versicolor. dalam: Budimulja U, Kuswadji, Bramono K, Menaldi SR, Dwihastuti P, Widaty S. Dermatomikosis Superfisialis. Jakarta. Kolompok Studi Dermatomikosis Indonesia, Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. 2004. hal 19-23 3. Budimulja U. Mikosis : Pitiriasis Versikolor dalam: Djuanda A. Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Ed.VI. Jakarta : balai Penerbit FKUI. 2010. hal 100-1

4. Chapman SW. Miscellaneous Mycoses and Algal Infections : Malasseziasis. in: Fauci
AS, et all. Harrison's Principles of Internal Medicine. New York. McGraw Hill. 2008. p: 5. Heffernan MP. Yeast Infections: Candidiasis, Pityriasis (Tinea) Versicolor. in: Freedberg IM, Eizen AZ, Wolf K, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine 6th Ed. New York. : McGraw Hill. 2003. p: 2006-18 6. Guisano G. et al. Prevalenceof Malassezia species in pityriasis versicolor lesions in northeast Argentina. 2010. Argentina 7. Rai MK. Wankhade S. Tinea Versicolor An Epidemiology. 2009. Maharashtra. J Microbial Biochem Technol. 8. Arenas R. Pityriasis Versicolor in: Tropical Dermatology. Texas. Landes Bioscience. 2001. p: 12-6 9. Anti Fungal agent in: Goodman and Gilmans manual of pharmacology and therapeutics. New York: Mc Graw Hill. 2008 p: 798-811 10. Patel S. Meixner JA. Smith MB. McGinnis MR. Superficial mycoses and dermatophytes : Pityriasis versicolor. in Tyring SK, Lupi O, Hengge UR. Tropical Dermatology. China Elsevier Inc. 2006. P187-8 11. Sharma R. Sharma G. Sharma M. Anti-Malassezia furfur activity of essential oils againt causal agent of Pityriasis versicolor disease. 2012. India. Departemen of Botany University of Rajasthan. 12. Gothamy ZMGE. A Review of Pityriasis Versicolor. 2004. Cairo. Departement of Dermatology & Venereology AIn-Shams University.

Pitiriasis Versikolor

Page 15

13. Havlickova B. Czaika VA. Friedrich M. Epidemiological trend in skin mycoses worldwide. 2008. Germany. Blackwell Publishing Ltd. 14. Krisanti RIA. Bramono K. Wisnu IM. Identification of Malassezia species from pityriasis versicolor in Indonesia and its relationship with clinical characteristics. 2008 Jakarta. Blackwell Publishing

15. Choi S. Fungal Infections : Pityriasis Versicolor. in : Arndt KA, Hsu JTS. Manual of
Dermatologic Therapeutics, 7th Ed. New York. Lippincott Williams & Wilkins. 2007. p: 91-2 16. Khachemoune A. Dermatologic Disorders : Tinea versicolor. in: Current Medical Diagnosis and Treatment. 2011. New York. : McGraw Hill. 17. Hay RJ. Fungal and yeast infections. in: ABC of Dermatology. 4th Ed. London. BMJ Publishing group Ltd. 2003. p: 101-4 18. Berkshire R. Tinea Versicolor. NHF Foundation Trust. 2008

19. Paris LC. Tinea Versicolor. in: Frankel DH. Field Guide to Clinical Dermatology, 2nd Ed.
New York. Lippincott Williams & Wilkins. 2006. p: 65-6 20. James WD. Berger TG. Elston DM. Diseases Resulting from Fungi and Yeast : pityriasis versicolor. in: Andrews Diseases of the Skin Clinical Dermatology. 10th ed. Canada. Elsevier Inc. 2006 p. 313-4. 21. Hinshaw M. Longley JB. Fungal diseases : Diseases caused by Malassezia Furfur. in: Elder DE. Lever's Histopathology of the Skin, 9th Ed. New York. Lippincott Williams & Wilkins. 2005. p: 609 22. Bahadoran P. Hypomelanoses and Hypermelanoses. in: Freedberg IM, Eizen AZ, Wolf K, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine 6th Ed. New York. : McGraw Hill. 2003. p: 838,58. 23. Kosasih A. Wisnu IM. Daili ESS. Menaldy SL. Kusta dalam: Djuanda A. Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Ed.VI. Jakarta : balai Penerbit FKUI. 2010. hal:73-88.

24. Callen JP. Vitiligo. in: Frankel DH. Field Guide to Clinical Dermatology, 2nd Ed. New
York. Lippincott Williams & Wilkins. 2006. p: 158-9 25. Callen JP. Hipopigmentasi postinflammatori. in: Frankel DH. Field Guide to Clinical Dermatology, 2nd Ed. New York. Lippincott Williams & Wilkins. 2006. p: 1554-5

Pitiriasis Versikolor

Page 16

26. Jansen T. Seborrheic Dermatitis. in: Freedberg IM, Eizen AZ, Wolf K, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine 6th Ed. New York. : McGraw Hill. 2003. p. 1998-1200 27. Bigby M. Casulo C. Pityriasis Versicolor. 28. Setiabudy R. Bahry B. Obat Jamur dalam : Farmako dan Terapi ed. 5 Jakarta : Balai Penerbit FKUI 2011. hal: 571-84

Pitiriasis Versikolor

Page 17

Anda mungkin juga menyukai