Anda di halaman 1dari 62

BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Peranan ruangan perawatan intensif (ICU) dalam memberikan pelayanan kesehatan di rumah sakit, dari waktu ke waktu semakin dituntut untuk memberikan pelayanan prima dalam bidang kesehatan kepada masyarakat. Kebutuhan ini sejalan dengan dua hal penting, yaitu semakin ketatnya kompetisi sektor rumah sakit dan seiring dengan peningkatan kesadaran serta tuntutan pasien terhadap kualitas pelayanan rumah sakit. Salah satu pelayanan yang sentral di rumah sakit adalah pelayanan Intensive Care Unit (ICU). Saat ini pelayanan di ICU tidak terbatas hanya untuk menangani pasien pasca-bedah saja tetapi juga meliputi berbagai jenis pasien dewasa, anak, yang mengalami lebih dari satu disfungsi/gagal organ. Kelompok pasien ini dapat berasal dari Unit Gawat Darurat, Kamar Operasi, Ruang Perawatan, ataupun kiriman dari Rumah Sakit lain. Intensive Care Unit (ICU) adalah suatu bagian dari rumah sakit yang terpisah, dengan staf khusus dan perlengkapan yang khusus, yang ditujukan untuk observasi, perawatan dan terapi pasien-pasien yang menderita penyakit, cedera atau penyulit-penyulit yang mengancam jiwa atau potensial mengancam jiwa dengan prognosis dubia. ICU juga diindikasikan pada pasien-pasien yang secara fisiologis tidak stabil dan memerlukan dokter, perawat, perawatan napas yang terkoordinasi dan berkelanjutan, sehingga memerlukan perhatian yang teliti, agar dapat dilakukan pengawasan yang konstan dan titrasi terapi. Sebagian besar pasien yang dirawat di ICU umumnya mengalami kelemahan akibat organ-organ tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik, sehingga mereka sangat bergantung pada sarana, prasarana serta peralatan khusus untuk menunjang fungsi-fungsi vital seperti alat bantu napas (ventilator), EKG, pulse oksimetri dan sebagainya yang memerlukan pantauan terus menerus. Untuk kebutuhan cairan dan nutrisi, dapat
1

diperoleh secara enteral maupun parenteral. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga penentuannya harus melihat dan mempertimbangkan semua aspek yang ada kasus per kasus. Selain itu jumlah, perhitungan kalori, jenis nutrien, serta saat pemberian juga mempengaruhi keadaan pasien secara keseluruhan. Selain itu pasien ICU juga harus mendapatkan terapi obat-obatan yang mengakibatkan efek yang beragam pada tubuh pasien. Kondisi-kondisi yang demikianlah yang menyebabkan sebagian besar pasien ICU banyak yang mengalami gangguan eliminasi urin dan bowel, serta gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Maka dari itu dibutuhkan pengkajian secara komplit dan terus menerus agar dapat memberikan intervensi-intervensi tepat pada pasien.

B. RUMUSAN MASALAH 1. Apa yang dimaksud dengan ruang ICU? 2. Bagaimana di ICU? 3. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien post laparatomi peritonitis di ICU ? 4. Mengapa pada pasien post laparotomi mengalami edema? 5. Apa hubungan sepsis dengan edema? pola eliminasi urin dan bowel serta gangguan

keseimbangan cairan elektrolit pada pasien post laparatomi peritonitis

C. TUJUAN 1. Mengetahui gambaran ruang ICU.

2. Mengetahui di ICU.

pola

eliminasi

urin

dan

bowel

serta

gangguan

keseimbangan cairan elektrolit pada pasien post laparatomi peritonitis

3. Mengetahui asuhan keperawatan yang tepat pada pasien post laparatomi peritonitis di ICU. 4. Mengetahui alasan mengapa pada pasien post laparotomi mengalami edema. 5. Mengatahui hubungan antara sepsis dengan edema.

D. MANFAAT 1. Mahasiswa dapat mengetahui sedikit gambaran tentang ruang ICU 2. Mahasiswa dapat memahami pola eliminasi dan kebutuhan cairan elektrolit pasien ICU sehingga dapat merumuskan asuhan keperawatan yang tepat.

BAB II TINJAUAN TEORI A. Eliminasi Urin dan Bowel Eliminasi adalah proses pembuangan sisa metabolisme tubuh baik berupa urin atau bowel (feses). Eliminasi urin
4

Urine normal adalah pengeluaran cairan yang prosesnya tergantung pada fungsi organ-organ eliminasi urine seperti ginjal, ureter, bladder dan uretra. Eliminasi urine normal sangat tergantung pada individu, biasanya miksi setelah bekerja, makan atau bangun tidur. Normalnya miksi sehari 5-6 kali. Karakteristik urine normal: Warna : kuning jernih Bau Jumlah : khas amoniak : tergantung usia, intake cairan, status kesehatan, pada orang dewasa jumlahnya 1200 - 1500 ml per hari. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Eliminasi Urine: 1. Pertumbuhan dan perkembangan 2. Sosio Kultural 3. Psikologi 4. Kebiasaan seseorang 5. Tonus otot 6. Intake cairan dan makanan 7. Kondisi penyakit 8. Pembedahan 9. Pengobatan 10. Pemeriksaan diagnostik Masalah-masalah Eliminasi Urine 1. Retensi urine 2. Inkontinensi urine

3. Enurisis

Perubahan Pola Berkemih 1. Frekuensi 2. Urgency 3. Dysuria 4. Polyuria 5. Urinarry suprrssion

ELIMINASI BOWEL (BAB) KARAKTERISTIK FESES NORMAL DAN ABNORMAL Karakteristik Normal Abnormal Kemungkinan penyebab Warna Dewasa kecoklatan Bayi kekuningan Hitam/seperti ter. : :Pekat / putih Adanya (obstruksi pemeriksaan pigmen empedu empedu); diagnostik

menggunakan barium Obat (spt. Fe); PSPA

(lambung, usus halus); diet tinggi buah merah dan sayur hijau tua (spt. Bayam)

Merah

PSPB

(spt.

Rektum),

beberapa makanan spt bit. Pucat Malabsorbsi lemak; diet

tinggi susu dan produk susu dan rendah daging.

Orange hijau Konsistensi Berbentuk, lunak, agak cair / lembek, basah.

atau Infeksi usus

Keras, kering

Dehidrasi, motilitas kurangnya usus

penurunan akibat kurang serat,

latihan, gangguan emosi dan laksantif abuse. Diare Peningkatan motilitas usus (mis. akibat iritasi kolon oleh bakteri). Bentuk Silinder (bentukMengecil, bentukKondisi obstruksi rektum rektum) dgn pensil dewasa Jumlah Tergantung diet (100 gr/hari) Bau Aromatik makanan dimakan flora bakteri. Unsur pokok Sejumlah bagian dicerna, potongan bakteri yang mati, protein, kecilPus kasar Mukus Parasit Darah Infeksi bakteri Kondisi peradangan Perdarahan gastrointestinal Malabsorbsi dalamSalah makan :Tajam, pedas yang dan Infeksi, perdarahan 400 atau 2,5 cm u/ orangseperti benang

dipengaruhi oleh

makanan yg tdk

sel epitel, lemak,Lemak

unsur-jumlah besar
7

unsur cairan

keringBenda asing

pencernaan (pigmen empedu dll) Faktor-fakor yang mempengaruhi proses defekasi 1. Usia : bayi kontrol defekasi belum berkembang, usia kontrol defekasi menurun. 2. Diet : makanan bersifat mempercepat proses produksi feses, juga kuantitas makanan. 3. Intake Cairan : Cairan kurang feses lebih keras karena absorbsi cairan meningkat 4. Aktifitas : Tonus otot abdomen, pelvis dan diafragma akan membantu proses defekasi. 5. Psikologis : Cemas, takut, marah, akan meningkatkan peristaltik sehingga menyebabkan diare. 6. Pengobatan 7. Gaya Hidup : Kebiasaan untuk melatih pola BAB sejak kecil secara teratur, fasilitas BAB dan kebiasaan menahan BAB. 8. Penyakit : diare, konstipasi. 9. Anastesi dan Pembedahan : biasanya 24-48 jam. 10. Nyeri : bisa mengurangi keinginan BAB. 11. Kerusakan sensori motorik. Masalah Umum pada Eliminasi 1. Konstipasi 2. Fecal Impaction
8

3. Diare 4. Incontinencia Alvi 5. Hemoroid

B. Keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh Kebutuhan cairan dan elektrolit adalah suatu proses dinamik karena metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang tetap dalam berespons terhadap stressor fisiologis dan lingkungan. Keseimbangan cairan adalah esensial bagi kesehatan. Dengan kemampuannya yang sangat besar untuk menyesuaikan diri, tubuh mempertahankan keseimbangan, biasanya dengan proses-proses faal (fisiologis) yang terintegrasi yang mengakibatkan adanya lingkungan sel yang relatif konstan tapi dinamis. Kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan cairan ini dinamakanhomeostasis. (Erfendi)
Komposisi Cairan dan Elektrolit yang Normal

o Komposisi Cairan Tubuh Kandungan air pada saat bayi lahir adalah sekitar 75% BB dan pada saat berusia 1 bulan sekitar 65% BB. Komposisi cairan pada tubuh dewasa pria adalah sekitar 60% BB, sedangkan pada dewasa wanita 50% BB. Sisanya adalah zat padat seperti protein, lemak, karbohidrat, dll. Air dalam tubuh berada di beberapa ruangan, yaitu intraseluler sebesar 40% dan ekstraseluler sebesar 20%. Cairan ekstraseluler merupakan cairan yang terdapat di ruang antarsel (interstitial) sebesar 15% dan plasma sebesar 5%.

o Komposisi Elektrolit
9

Air melintasi membran sel dengan mudah, tetapi zat-zat lain sulit melintasinya atau membutuhkan proses khusus supaya dapat melintasinya; oleh sebab itu komposisi elektrolit di luar dan di dalam sel berbeda. Cairan intraseluler banyak mengandung ion K, Mg dan fosfat; sedangkan cairan ekstraseluler banyak mengandung ion Na dan Cl. Komposisi Elektrolit Cairan Intra dan Ekstraseluler CIS Plasma Natrium Kalium Calsium Magnesium Clorida HCO3 HPO4 SO4 Asam organik 15 150 2 27 1 10 100 20 Interstitial 142 4 5 3 103 27 2 1 5

CES 144 4 2,5 1,5 114 30 2 1 5

C. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit Macam-macam gangguan cairan : 1. Dehidrasi Dehidrasi adalah gangguan dalam keseimbangan cairan atau air pada tubuh. Hal ini terjadi karena pengeluaran air lebih banyak daripada pemasukan (misalnya minum). Gangguan kehilangan cairan tubuh ini disertai dengan gangguan keseimbangan zat elektrolit tubuh. Dehidarasi terjadi karena :
10

kekurangan zat natrium; kekurangan air; kekurangan natrium dan air.

Dehidrasi terbagi dalam tiga jenis berdasarkan penurunan berat badan, yaitu Dehidrasi ringan (jika penurunan cairan tubuh 5 persen dari berat badan), dehidrasi sedang (jika penurunan cairan tubuh antara 5-10 persen dari berat badan), dan dehidrasi berat (jika penurunan cairan tubuh lebih dari 10 persen dari berat badan). Selain mengganggu keseimbangan tubuh, pada tingkat yang sudah sangat berat, dehidrasi bisa pula berujung pada penurunan kesadaran, koma, hingga meninggal dunia, atau tidak. Dan Jangan coba-coba menurunkan berat badan dengan cara dehidrasi karena anda akan menanggung resiko gangguan pada ginjal. 2. Syok hipovolemik Syok hipovolemik adalah suatu keadaan akut dimana tubuh kehilangan cairan tubuh, cairan ini dapat berupa darah, plasma, dan elektrolit (Grace, 2006). Syok hipovolemik adalah suatu keadaan dimana terjadi kehilangan cairan tubuh dengan cepat sehingga dapat mengakibatkan multiple organ failure akibat perfusi yang tidak adekuat. Perdarahan merupakan penyebab tersering dari syok pada pasien-pasien trauma, baik oleh karena perdarahan yang terlihat maupun perdarahan yang tidak terlihat. Perdarahan yang terlihat, perdarahan dari luka, atau hematemesis dari tukak lambung. Perdarahan yang tidak terlihat, misalnya perdarahan dari saluran cerna, seperti tukak duodenum, cedera limpa, kehamilan di luar uterus, patah tulang pelvis, dan patah tulang besar atau majemuk. D. Gangguan Keseimbangan Elektrolit

11

Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit sangat sering terjadi pada pasien usia lanjut (usila). Gangguan tersebut meliputi dehidrasi, hipernatremia, hiponatremia. Dalam penatalaksanaan keseimbangan cairan dan elektrolit pada usila, pengertian mengenai perubahan fisiologi yang menjadi faktor predisposisi gangguan tersebut sangat penting. Secara umum, terjadi penurunan kemampuan homeostatik seiring bertambahnya usia. Secara khusus terjadi penurunan respon haus terhadap kondisi hipovolemik dan hiperosmolaritas. Disamping itu terjadi penurunan laju filtrasi glomerolus, kemampuan fungsi konsentrasi ginjal, renin, aldosteron, dan penurunan respon ginjal terhadap vasopresin. Peningkatan kadar atrial natriuretic peptide (APN) akan menyebabkan supresi sekresi renin ginjal, aktivitas renin plasma, angiotensin II plasma dan kadar aldosteron. Selain efek kehilangan natrium dari ginjal secara tidak langsung ini APN juga menimbulkan akibat hilangnya natrium dari ginjal melalui kerja natriuretik langsungnya sehingga terjadi gangguan kapasitas ginjal untuk menahan natrium. Sebagai konsekuensi perubahan-perubahan ini, kapasitas seseorang yang berusia lanjut menghadapi berbagai penyakit, obat-obatan dan stres fisiologis menjadi berkurang sehingga meningkatkan resiko timbulnya perubahan keseimbangan cairan dan natrium yang signifikan secara klinis. 1. Hiponatremia Definisi : kadar Na+ serum di bawah normal (< 135 mEq/L) Causa : CHF, gangguan ginjal dan sindroma nefrotik, hipotiroid, penyakit Addison Tanda dan Gejala :

Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam beberapa jam, pasien Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam satu jam, bisa terjadi

mungkin mual, muntah, sakit kepala dan keram otot.

sakit kepala hebat, letargi, kejang, disorientasi dan koma.

12

Mungkin pasien memiliki tanda-tanda penyakit dasar (seperti

gagal jantung, penyakit Addison).

Jika hiponatremia terjadi sekunder akibat kehilangan cairan,

mungkin ada tanda-tanda syok seperti hipotensi dan takikardi 2. Hipernatremia Definisi : Na+ serum di atas normal (>145 mEq/L) Causa : Kehilangan Na+ melalui ginjal misalnya pada terapi diuretik, diuresis osmotik, diabetes insipidus, sekrosis tubulus akut, uropati pasca obstruksi, nefropati hiperkalsemik; atau karena hiperalimentasi dan pemberian cairan hipertonik lain. Tanda dan Gejala : iritabilitas otot, bingung, ataksia, tremor, kejang dan koma yang sekunder terhadap hipernatremia. 3. Hipokalemia Definisi : kadar K+ serum di bawah normal (< 3,5 mEq/L) Etiologi

Kehilangan K+ melalui saluran cerna (misalnya pada muntahsedot nasogastrik, diare, sindrom malabsorpsi,

muntah,

penyalahgunaan pencahar) Diuretik Asupan K+ yang tidak cukup dari diet Ekskresi berlebihan melalui ginjal Maldistribusi K+ Hiperaldosteron

Tanda dan Gejala : Lemah (terutama otot-otot proksimal), mungkin arefleksia, hipotensi ortostatik, penurunan motilitas saluran cerna yang
13

menyebabkan ileus. Hiperpolarisasi myokard terjadi pada hipokalemia dan dapat menyebabkan denyut ektopik ventrikel, reentry phenomena, dan kelainan konduksi. EKG sering memperlihatkan gelombang T datar, gelombang U, dan depresi segmen ST. 4. Hiperkalemia Definisi : kadar K+ serum di atas normal (> 5,5 mEq/L) Etiologi :

Ekskresi renal tidak adekuat; misalnya pada gagal ginjal akut Beban kalium dari nekrosis sel yang masif yang disebabkan akut, hemolisis, perdarahan saluran cerna atau

atau kronik, diuretik hemat kalium, penghambat ACE.

trauma (crush injuries), pembedahan mayor, luka bakar, emboli arteri rhabdomyolisis. Sumber eksogen meliputi suplementasi kalium dan pengganti garam, transfusi darah dan penisilin dosis tinggi juga harus dipikirkan.

Perpindahan dari intra ke ekstraseluler; misalnya pada asidosis,

digitalisasi, defisiensi insulin atau peningkatan cepat dari osmolalitas darah.


Insufisiensi adrenal Pseudohiperkalemia. Sekunder terhadap hemolisis sampel darah

atau pemasangan torniket terlalu lama

Hipoaldosteron

Tanda dan Gejala : Efek terpenting adalah perubahan eksitabilitas jantung. EKG memperlihatkan perubahan-perubahan sekuensial seiring dengan peninggian kalium serum. Pada permulaan, terlihat gelombang T runcing (K+ > 6,5 mEq/L). Ini disusul dengan interval PR memanjang, amplitudo gelombang P mengecil, kompleks QRS melebar (K+ = 7
14

sampai 8 mEq/L). Akhirnya interval QT memanjang dan menjurus ke pola sine-wave. Fibrilasi ventrikel dan asistole cenderung terjadi pada K+ > 10 mEq/L. Temuan-temuan lain meliputi parestesi, kelemahan, arefleksia dan paralisis ascenden. E. Balance cairan
Rumus Menghitung IWL ( Insensible Water Loss)

*Rumus menghitung balance cairan CM CK IWL Ket: CM : Cairan Masuk CK : Cairan Keluar *Rumus IWL IWL = (15 x BB )
24 jam Cth: Tn.A BB 60kg dengan suhu tubuh 37C IWL = (15 x 60 ) = 37,5 cc/jam 24 jam *jika dlm 24 jam ----> 37,5 x 24 = 900cc

F. ICU Intensive Care Unit (ICU) Intensive Care Unit (ICU) atau Unit Perawatan Intensif (UPI) adalah tempat atau unit tersendiri di dalam rumah sakit yang menangani pasien-pasien gawat karena penyakit, trauma atau komplikasi penyakit lain. Intensive Care Unit (ICU) merupakan cabang ilmu kedokteran yang memfokuskan diri dalam bidang life support atau organ support pada pasien-pasien sakit kritis yang kerap membutuhkan monitoring intensif. Pasien yang membutuhkan perawatan intensif sering memerlukan support terhadap instabilitas hemodinamik (hipotensi), airway atau respiratory compromise dan atau gagal ginjal, kadang ketiga-tiganya. Perawatan intensif biasanya hanya disediakan
15

untuk pasien-pasien dengan kondisi yang potensial reversibel atau mereka yang memiliki peluang baik untuk bertahan hidup. Karena penyakit kritis begitu dekat dengan kematian, outcome intervensi yang diberikan sangat sulit diprediksi. Banyak pasien yang akhirnya tetap meninggal di ICU. Klasifikasi Intensive Care Unit (ICU) : 1. ICU Primer (standar minimal) Merupakan Intensive Care Unit (ICU) yang mampu melakukan resusitasi dan ventilasi bantu < 24 jam serta pemantauan jantung. ICU ini berkedudukan di rumah sakit tipe C atau B1. 2. ICU Sekunder (menengah) Merupakan Intensive Care Unit (ICU) yang mampu melakukan ventilasi bantu lebih lama dari ICU primer serta mampu melakukan bantuan hidup lain, tetapi tidak terlalu kompleks. ICU ini berkedudukan di rumah sakit tipe B2. 3. ICU Tersier Merupakan Intensive Care Unit (ICU) yang mampu melakukan semua aspek perawatan atau terapi intensif. ICU ini berkedudukan di rumah sakit tipe A. Kriteria Ruangan Intensive Care Unit (ICU) : 1. Letak dekat UGD, OK, ruang pulih, laboratorium, radiologi, sumber air, listrik, pencahayaan baik dan memenuhi syarat 2. Unit terbuka luas 16-20 m2/tt tertutup luas 24-28 m2/kamar 3. Kamar isolasi 4. Tempat tidur khusus Setiap unit perawatan intensif harus memiliki sumber energi elektrik, air, oksigen, udara terkompresi, vakum, pencahayaan, temperatur dan sistem kontrol lingkungan yang menyokong kebutuhan pasien serta tim perawatan intensif dalam kondisi normal maupun emergensi.

16

Peralatan monitoring yang harus tersedia bagi tiap-tiap pasien antara lain pemantau denyut jantung, frekuensi respirasi, level oksigen arterial dan EKG. Peralatan Standar di Intensive Care Unit (ICU). Sumber O2, udara tekan, penghisap sentral, Peralatan lain : a. Alat untuk mempertahankan jalan nafas, melakukan ventilasi, bantu hemodinamik (kantong pompa infus, penghangat darah) b. Monitoring portable c. Selimut pengatur suhu tubuh

Peralatan standar di Intensive Care Unit (ICU) meliputi ventilasi mekanik untuk membantu usaha bernafas melalui endotracheal tubes atau trakheotomi; peralatan hemofiltrasi untuk gagal ginjal akut; peralatan monitoring; akses intravena untuk memasukkan obat, cairan, atau nutrisi parenteral total, nasogastric tubes, suction pumps, drains dan kateter; serta obat-obatan inotropik, sedatif, antibiotik broad spectrum dan analgesik.

Indikasi Pasien Masuk Intensive Care Unit (ICU):


1. Pasien sakit kritis, pasien tak stabil yang memerlukan terapi

intensif, mengalami gagal nafas berat, pasien bedah jantung


2. Pasien yang memerlukan pemantauan intensif invasif dan non

invasif, sehingga komplikasi berat dapat dihindari atau dikurangi


3. Pasien

yang memerlukan terapi intensif untuk mengatasi

komplikasi akut, walaupun manfaatnya minimal (misal penderita tumor ganas metastasis, komplikasi infeksi, dsb). Indikasi pasien keluar dari ICU :

17

1. Pasien tidak memerlukan lagi terapi intensive karena membaik dan stabil 2. Terapi intensive tidak bermanfaat pada : - Pasien Usia lanjut ( > 65 tahun) yang mengalami gagal tiga organ atau lebih, setelah di ICU selama 72 jam - Pasien mati batang otak/koma yang mengalami keadaan vegetative - Pasien dengan berbagai macam diagnosis seperti penyakit paru Obstruksi menahun, kanker dengan metastasis dan gagal jantung terminal

STANDAR MINIMUM PELAYANAN INTENSIVE CARE UNIT Tingkat pelayanan ICU harus disesuaikan dengan kelas rumah sakit. Tingkat pelayanan ini ditentukan oleh jumlah staf, fasilitas, pelayanan penunjang, jumlah, dan macam pasien yang dirawat. Pelayanan ICU harus memiliki kemampuan minimal sebagai berikut: Resusitasi jantung paru. Pengelolaan jalan napas, termasuk intubasi trakeal dan penggunaan ventilator sederhana. Terapi oksigen. Pemantauan EKG, pulse oksimetri yang terus menerus. Pemberian nutrisi enteral dan parenteral. Pemeriksaan laboratorium khusus dengan cepat dan menyeluruh. Pelaksanaan terapi secara titrasi. Kemampuan melaksanakan teknik khusus sesuai dengan kondisi pasien. Memberikan tunjangan fungsi vital dengan alat-alat portabel selama transportasi pasien gawat. Kemampuan melakukan fisioterapi dada.
18

G. PERITONITIS Peritonitis adalah peradangan peritoneum, suatu lapisan endotelial tipis yang kaya akan vaskularisasi dan aliran limpa. Peritonitis merupakan suatu peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum). Peradangan ini merupakan komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ-organ abdomen (misalnya apendisitis, salpingitis, perforasi ulkus gastroduodenal), ruptura saluran cerna, komplikasi pascaoperasi, iritasi kimiawi, atau dari luka tembus abdomen. ETIOLOGI Infeksi bakteri Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal Appendisitis yang meradang dan perforasi Tukak peptik (lambung / dudenum) Tukak thypoid Tukan disentri amuba / colitis Tukak pada tumor Salpingitis Divertikulitis Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli, streptokokus dan hemolitik, stapilokokus aurens, enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii.

19

PATOFISIOLOGI Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi rongga abdomen ke dalam rongga abdomen, biasanya diakibatkan dan peradangan iskemia, trauma atau perforasi tumor, peritoneal diawali terkontaminasi material. Awalnya material masuk ke dalam rongga abdomen adalah steril (kecuali pada kasus peritoneal dialisis) tetapi dalam beberapa jam terjadi kontaminasi bakteri. Akibatnya timbul edem jaringan dan pertambahan eksudat. Caiaran dalam rongga abdomen menjadi keruh dengan bertambahnya sejumlah protein, sel-sel darah putih, sel-sel yang rusak dan darah. Respon yang segera dari saluran intestinal adalah hipermotil tetapi segera dikuti oleh ileus paralitik dengan penimbunan udara dan cairan di dalam usus besar.

Secara langsung dari luar Operasi yang tidak steril Terkontaminasi talcum venetum, lycopodium, sulfonamida, terjadi peritonitis yang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing, disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa, ruptur hati melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas, otitis media, mastoiditis, glomerulonepritis. pnemokokus. GEJALA DAN TANDA Penyebab utama adalah streptokokus atau

20

Syok (neurogenik, hipovolemik atau septik) terjadi pada beberapa penderita peritonitis umum.

Demam Distensi abdomen Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal, difus, atrofi umum, tergantung pada perluasan iritasi peritonitis.

Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang jauh dari lokasi peritonitisnya.

Nausea Vomiting Penurunan peristaltik.

H. Laparatomi Laparatomi adalah pembedahan perut sampai membuka selaput perut. Laparatomi merupakan salah satu jenis operasi yang di lakukan pada daerah abdomen. Operasi laparatomy di lakukan apabila terjadi masalah kesehatan yang berat pada area abdomen, misalnya trauma abdomen. Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasien-pasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut. Ada 4 cara, yaitu; 1. Midline incision 2. Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah ( 2,5 cm), panjang (12,5 cm).

21

3. Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy. 4. Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian bawah 4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi appendictomy. ETIOLOGI Etiologi sehingga di lakukan laparatomy adalah karena di sebabkan oleh beberapa hal (Smeltzer, 2001) yaitu :
1. 2. 3. 4. 5.

Trauma abdomen (tumpul atau tajam) Peritonitis Perdarahan saluran pencernaan. Sumbatan pada usus halus dan usus besar. Masa pada abdomen

Komplikasi: 1. Ventilasi paru tidak adekuat 2. Gangguan kardiovaskuler : hipertensi, aritmia jantung. 3. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. 4. Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan Latihan-latihan fisik Latihan napas dalam, latihan batuk, menggerakan otot-otot kaki, menggerakkan otot-otot bokong, Latihan alih baring dan turun dari tempat tidur. Semuanya dilakukan hari ke 2 post operasi

22

POST LAPARATOMI Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasien-pasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut. Tujuan perawatan post laparatomi; 1. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan. 2. Mempercepat penyembuhan. 3. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi. 4. Mempertahankan konsep diri pasien. 5. Mempersiapkan pasien pulang. Komplikasi post laparatomi: Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.

Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 - 14 hari setelah operasi. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak. Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi, ambulatif dini dan kaos kaki TED yang dipakai klien sebelum mencoba ambulatif. Buruknya intregritas kulit sehubungan dengan luka infeksi. Infeksi luka sering muncul pada 36 - 46 jam setelah operasi. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens, organisme; gram positif. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan. Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik. Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi. Dehisensi luka
23

merupakan terbukanya tepi-tepi luka. Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi. Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu pembedahan, ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah. I. Sepsis Sepsis adalah infeksi berat dengan gejala sistemik dan terdapat bakteri dalam darah.(Surasmi, Asrining 2003, hal 92). Sepsis adalah keadaan terinfeksi oleh mikroorganisme yang

menghasilkan pus (Kamus Keperawatan, 1999). Septisemia menunjukkan munculnya infeksi sistemik pada darah yang disebabkan oleh penggandaan mikroorganisme secara cepat dan zat-zat racunnya yang psikologis yang sangat besar. Sepsis merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang m e n y e b a r m e l a l u i d a r a h d a n jaringan lain. Terapi cairan pada Sepsis Terapi cairan merupakan hal yang penting dalam penanganan sepsis karena relatif terjadi hipovolemia dan diikuti dengan ekstravasasi cairan dari kompartemen vaskuler. Tujuan dari resusitasi cairan dalam sepsis ini adalah untuk mengembalikan tekanan pengisian dan arterial untuk memperbaiki perfusi end-organ dan metabolisme aerob, sementara meminimalkan overhidrasi yang berlebihan, yang dapat mengarah pada edema pulmonal, ileus paralitik, dan sindrom menekan kompartemen. Untuk mencapai tujuan ini, dokter menggunakan beberapa indeks perbedaan untuk mengatur terapi cairan dan terapi lainnya. Usaha yang intensif dibuat untuk menghindari overhidrasi. Namun, untuk mempertahankan hidrasi intravaskuler, terapi cairan dalam sepsis akan menyebabkan keseimbangan cairan positif yang sangat besar. Meskipun diperlukan, terapi cairan belumlah cukup untuk mempertahankan
24

dapat mengakibatkan perubahan

homeostasis fisiologis, dan terapi tambahan seperti pressor atau bahkan inotropik kadang-kadang diperlukan.

J. Terapi nutrisi Nutrisi enteral

Nutrisi Enteral merupakan pemberian nutrient melalui saluran cerna dengan menggunakan sonde (tube feeding). Nutrisi enteral direkomendasikan bagi pasien-pasien yang tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisinya secara volunter melalui asupan oral. Pemberian nutrisi enteral dini (yang dimulai dalam 12 jam sampai 48 jam setelah pasien masuk ke dalam perawatan intensif [ICU] lebih baik dibandingkan pemberian nutrisi parenteral. Contoh : Cordaron, Nutriplex K. Terapi obat 1. Pumpitor Pumpitor kapsul, termasuk golongan obat Keras. Mengandung Omeprazole. Indikasi : Ulcus duodenum, ulkus lambung jinak, refluks esofagitis erosif, sindroma Zollinger-Ellison. 2. Trogyl Merupakan salah satu golongan obat Metronidazol. Dalam

perdagangan metronidazol terdapat dalam bentuk basa dan garam hidroklorida. Sebagai basa berupa serbuk kristal berwarna putih hingga kuning pucat. Sedikit larut dalam air dan dalam alkohol. Injeksi metronidazol jernih, tidak berwarna, larutan isotonik mengandung natrium
25

fosfat, asam sitrat dan natrium klorida. Metronidazol hidroklorida sangat larut dalam air dan larut dalam alkohol, dalam perdagangan berupa serbuk berwarna putih. Obat ini merupakan golongan atau kelas terapi anti infeksi. Absorbsi : Oral : diabsorbsi dengan baik; topikal : konsentrasi yang dicapai secara sistemik setelah penggunaan 1 g secara topikal 10 kali lebih kecil dari pada penggunaan dengan 250 mg peroral. Ekskresi : urin (20% hingga 40% dalam bentuk obat yang tidak berubah): feses (6% hingga 15%) Efek Samping: Mual, muntah, gangguan pengecapan, lidah kasar dan gangguan saluran pencernaan;, rash , mengantuk (jarang terjadi), sakit kepala, pusing , ataksia, urin berwarna gelap, erytema multiform, pruritus, urtikaria, angioedema dan anafilaksis, juga dilaporkan abnormalitas tes fungsi hati, hepatitis, jaundice, trombositopenia, anemia aplastic, myalgia, athralgia; pada pengobatan intensif dan jangka panjang dapat terjadi peripheral neuropathy, transient epilepsi-form seizure dan leukopenia. 3. Doribact Salah satu jenis Antibiotik.

4. Lasix Lasix merupakan obat yang mengandung furosemid. Furosemid adalah obat golongan diuretik, yang dapat mencegah tubuh menyerap terlalu banyak garam. Furosemid diberikan untuk membantu mengobati retensi cairan (edema) dan pembengkakan yang disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif, penyakit hati, penyakit ginjal, atau

26

kondisi medis lainnya. Obat ini bekerja dengan bertindak pada ginjal untuk meningkatkan aliran urin.

Furosemid juga digunakan sendiri atau bersama-sama dengan obat lain untuk mengobati tekanan darah tinggi (hipertensi). Tekanan darah tinggi menambah beban kerja jantung dan arteri.

L. Pemeriksaan Penunjang

Albumin Albumin adalah protein yang larut air, membentuk lebih dari 50% protein plasma, ditemukan hampir di setiap jaringan tubuh. Albumin diproduksi di hati, dan berfungsi untuk mempertahankan tekanan koloid osmotik darah sehingga tekanan cairan vaskular (cairan di dalam pembuluh darah) dapat dipertahankan.

Nilai normal : Dewasa Anak Bayi Bayi baru lahir 3,8 - 5,1 gr/dl 4,0 - 5,8 gr/dl 4,4 - 5,4 gr/dl 2,9 - 5,4 gr/dl

Penurunan albumin mengakibatkan keluarnya cairan vascular (cairan pembuluh darah) menuju jaringan sehingga terjadi edema (bengkak). Penurunan albumin bisa juga disebabkan oleh :

27

1. Berkurangnya sintesis (produksi) karena malnutrisi, radang menahun, sindrom malabsorpsi, penyakit hati menahun, kelainan genetik. 2. Peningkatan ekskresi (pengeluaran), karena luka bakar luas, penyakit usus, nefrotik sindrom (penyakit ginjal). NATRIUM (Na) Natrium adaiah salah satu mineral yang banyak terdapat pada cairan elektrolit ekstraseluler (di luar sel), mempunyai efek menahan air, berfungsi untuk mempertahankan cairan dalam tubuh, mengaktifkan enzim, sebagai konduksi impuls saraf. Nilai normal dalam serum : Dewasa Anak Bayi 135-145 mEq/L 135-145 mEq/L 134-150 mEq/L

Nilai normal dalam urin: 40 - 220 mEq/L/24 jam

Penurunan Na terjadi pada diare, muntah, cedera jaringan, bilas lambung, diet rendah garam, gagal ginjal, luka bakar, penggunaan obat diuretik (obat untuk darah tinggi yang fungsinya mengeluarkan air dalam tubuh). Peningkatan Na terjadi pada pasien diare, gangguan jantung krohis, dehidrasi, asupan Na dari makanan tinggi,gagal hepatik (kegagalan fungsi hati), dan penggunaan obat antibiotika, obat batuk, obat golongan laksansia (obat pencahar). Sumber garam Na yaitu: garam dapur, produk awetan (cornedbeef, ikan kaleng, terasi, dan Iain-Iain.), keju,/.buah ceri, saus tomat, acar, dan Iain-Iain.

28

KALIUM (K) Kalium merupakan elektrolit tubuh yang terdapat pada cairan vaskuler (pembuluh darah), 90% dikeluankan melalui urin, rata-rata 40 mEq/L atau 25 -120 mEq/24 jam wa laupun masukan kalium rendah. Nilai normal : Dewasa Anak Bayi 3,5 - 5,0 mEq/L 3,6 - 5,8 mEq/L 3,6 - 5,8 mEq/L

Peningkatan kalium (hiperkalemia) terjadi jika terdapat gangguan ginjal, penggunaan obat terutama golongan sefalosporin, histamine, epinefrin, dan Iain-Iain. Penurunan kalium (hipokalemia) terjadi jika masukan kalium dari makanan rendah, pengeluaran lewat urin meningkat, diare, muntah, dehidrasi, luka pembedahan. Makanan yang mengandung kalium yaitu buah-buahan, sari buah, kacang-kacangan, dan Iain-Iain. KLORIDA(Cl) Merupakan elektrolit bermuatan negatif, banyak terdapat pada cairan ekstraseluler (di luar sel), tidak berada dalam serum, berperan penting dalam keseimbangan cairan tubuh, keseimbangan asam-basa dalam tubuh. Klorida sebagian besar terikat dengan natrium membentuk NaCI(natrium klorida).

Nilai nomal : Dewasa Anak 95-105 mEq/L 98-110 mEq/L


29

Bayi Bayi baru lahir

95 -110 mEq/L 94-112 mEq/L

Penurunan klorida dapat terjadi pada penderita muntah, bilas lambung, diare, diet rendah garam, infeksi akut, luka bakar, terlalu banyak keringat, gagal jantung kronis, penggunaan obat Thiazid, diuretik, dan Iain-lain. Peningkatan klorida terjadi pada penderita dehidrasi,cedera kepala, peningkatan natrium, gangguan ginjal,penggunaan obat kortison, asetazolamid, dan Iain-Iain.

KALSIUM (Ca) Merupakan elektrolit dalam serum, berperan dalam keseimbangan elektrolit, pencegahan tetani, dan dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi gangguan hormon tiroid dan paratiroid.

Nilai normal : Dewasa 9-11 mg/dl (di serum) ; <150 mg/24 jam (di urin & diet rendah Ca) ; 200 - 300 mg/24 jam (di urin & diet tinggi Ca) Anak Bayi 9 -11,5 mg/dl 10 -12 mg/dl

Bayi baru 7,4 -14 mg/dl. lahir

Penurunan kalsium dapat terjadi pada kondisi malabsorpsi saluran cerna, kekurangan asupan kalsium dan vitamin D, gagal ginjal kronis, infeksi yang luas, luka bakar, radang pankreas, diare, pecandu alkohol, kehamilan. Selain itu penurunan kalsium juga dapat dipicu oleh

30

penggunaan

obat

pencahar,

obat

maag,

insulin,

dan

Iain-Iain.

Peningkatan kalsium terjadi karena adanya keganasan (kanker) pada tulang, paru, payudara, kandung kemih, dan ginjal. Selain itu, kelebihan vitamin D, adanya batu ginjal, olah raga berlebihan, dan Iain-Iain, juga dapat memacu peningkatan kadar kalsium dalam tubuh.

PEMERIKSAAN KADAR GULA DARAH Pemeriksaan terhadap kadar gula dalam darah vena pada saat pasien puasa 12 jam sebelum pemeriksaan (gula darah puasal nuchter) atau 2 jam setelah makan (gula darah post prandial).

Nilai normal gula darah puasa : Dewasa Anak Bayi baru lahir 70 -110 mg/dl 60-100 mg/dl 30-80 mg/dl

AGD (Analisa Gas Darah) Gas darah arteri memungkinkan untuk pengukuran pH (dan juga keseimbangan asam basa), oksigenasi, kadar karbondioksida, kadar bikarbonat, saturasi oksigen, dan kelebihan atau kekurangan basa. Pemeriksaan gas darah arteri dan pH sudah secara luas digunakan sebagai pegangan dalam penatalaksanaan pasien-pasien penyakit berat yang akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah juga dapat menggambarkan hasil berbagai tindakan penunjang yang dilakukan, tetapi tidak dapat menegakkan suatu diagnosa hanya dari penilaian analisa gas darah dan

31

keseimbangan asam basa saja, tetapi harus menghubungkan dengan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan data-data laboratorium lainnya. Tujuan Indikasi Pasien dengan penyakit obstruksi paru kronik Pasien deangan edema pulmo Pasien akut respiratori distress sindrom (ARDS) Infark miokard Pneumonia Klien syok Post pembedahan coronary arteri baypass Resusitasi cardiac arrest Klien dengan perubahan status respiratori Anestesi yang terlalu lama Menilai tingkat keseimbangan asam dan basa Mengetahui kondisi fungsi pernafasan dan kardiovaskuler Menilai kondisi fungsi metabolisme tubuh

Rentang nilai normal pH mmol/L PCO2 mEq/L PO2 atau lebih HCO3 : 22-26 mEq/L : 80-100 mmHg saturasi O2 : 95 % : 35-45 mmHg BE :02 : 7, 35-7, 45 TCO2 : 23-27

32

Kultur darah

Kultur darah adalah uji laboratorium untuk memeriksa bakteri dalam sampel darah. Darah biasanya diambil dari vena, biasanya dari bagian dalam siku atau bagian belakang tangan. Tes ini dilakukan untuk mendeteksi gejala infeksi darah seperti bakteremia atau septicemia. Kultur darah bertujuan mengidentifikasi jenis bakteri yang menyebabkan infeksi. Ini membantu menentukan pengobatan terbaik.

Hasil Normal Nilai normal berarti tidak ada mikroorganisme tumbuh di media pertumbuhan. Hasil Abnormal Sebuah hasil positif berarti bahwa dalam darah telah terpapar bakteri. Namun, kontaminasi dari sampel darah dapat menyebabkan hasil positif palsu, yang berarti tidak memiliki infeksi sejati.

33

BAB III PEMBAHASAN

A. KASUS

B. ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN
34

FORMAT PENGKAJIAN PADA SISITEM URINARI PENGKAJIAN HARI KE 9 I. Identitas diri klien : Tuan W : 69 tahun : Laki-laki : : : : : : : -

Nama Umur Jenis kelamin Alamat Status perkawinan Agama Suku Pendidikan Pekerjaan Lama bekerja

Tanggal masuk ruang ICU Tanggal pengkajian Sumber informasi II. Riwayat Penyakit : 1. 2. -

: 29 Mei 2012 : 6 Juni 2012 : Bapak Sudiman S.Kep.,Ns. (Perawat

Pelaksana Bagian ICU RSUP DR SARDJITO) Peritonitis e/c Perforasi Colon Sigmoid post Laparatomy Sepsis : Obat-obatan yang dikonsusmsi : Pumpitor 1 x 1A Trogyl 3 x 500 mg Doribact 3 x 500 mg Lasix 1 ampul Pola nutrisi/metabolik : Nutriflex 1000 cc Ringer Laktat 1000 cc
35

III. Pengkajian saat ini Parenteral

Intake makanan Intake cairan :

3. a. b. c. d.

Uji Air Pola eliminasi urin Frekuensi dalam 24 jam : 7 kali Jumlah Warna Bau : 1440 ml : kuning pekat : (tidak diketahui)

IV. Pemeriksaan Fisik TD HR RR Nadi 1. 2. 3. 4. Vital Sign : 128/68 : 88 kali/menit : 24 kali/menit : 86 kali/menit

Suhu : 37C Distensi (-) Luka operasi tertutup kassa Rembes pada luka operasi (+) Peristaltik (+) Uretra eksternal Palpasi distensi ginjal Nyeri Genital eksterna : (tidak diketahui) : (tidak diketahui) : (tidak diketahui) : (tidak diketahui)

Kelihan yang dirasakan saat ini :

V. Pemeriksaan penunjang 1. AGD (Analisis Gas Darah) FiO2 Ph PCO2 PO2 HCO3 : 70% : 7,475 : 32,8 mmHg : 109,3 mmHg : 24,4 mEq/L
36

Pukul 10.00

2. 3. 4.

BE AaDO2 Sat O2 FiO2 Ph PCO2 PO2 Sat O2 BE HCO3 AaDO2 Elektrolit Na K Cl

: 0,6 mEq/L : 329,8 : 98,6% : 40% : 7,495 : 32,2 mmHg : 80,5 mmHg : 96,8% : 1,6 mEq/L : 25,0 mEq/L : 145,1 : 144

Pukul 20.37

GDS (Gula Darah Sewaktu) : 150 mEq/L : 3,68 mEq/L : 115 mEq/L

Kultur Darah

Stafilokokus epidermis Imipinen 28 Tetrasiklin 27 Amilesin 26 Ciproflox 21 Vankomisin 20 ANALISA MASALAH Data Masalah Penyebab

37

Na 150 mEq/L

Hipernatremia

Pemberian hipertonik terapi

cairan (RL), diuretik

(Lasix), penggunaan obat antibiotik. Cl 115 mEq/L Hiperkloremia Peningkatan natrium Ringer laktat 1000cc Kultur darah Stafilokokus epidermis Infeksi Kemungkinan: -perawatan luka yang kurang memperhatikan teknik aseptik kesalahan menutup berat

waktu ketegangan pada dan

pembedahan, yang dinding muntah, abdomen yang dehisensi

sebagai akibat dari batuk menyebabkan

luka atau eviserasi. Penggunaan dalam volume besar Ringer 1000cc Laktat Edema jaringan gangguan elektrolit. menyebabkan keseimbangan

GDS 144 mg/dl Hiperglikemia

Intake

makanan

nutriplex 1000cc

38

PENGKAJIAN HARI KE 10 VI. Identitas diri klien Nama Umur Jenis kelamin Alamat Status perkawinan Agama Suku Pendidikan Pekerjaan Lama bekerja Tanggal pengkajian Sumber informasi VII. Riwayat Penyakit : o Peritonitis e/c perforasi colon sigmoid o Post Laparatomy o Sepsis VIII. 4. a. b. 5. Pengkajian saat ini Enteral : Cordaron 2 x 200 mg Parenteral : Pumpitor 1x 1A Trogyl 3 x 500 mg Doribact 3 x 50 mg Farmadol 1 gr Lasix 1 ampul iv bolus :
39

: Tuan W : 69 tahun : Laki-laki : : : : : : : : 29 Mei 2012 : 7 Juni 2012 : Bapak Sudiman S.Kep.,Ns. (Perawat

Tanggal masuk ruang ICU

Pelaksana Bagian ICU RSUP DR SARDJITO)

: :

Obat-obatan yang dikonsumsi

Pola nutrisi/metabolik

Intake makanan

Parenteral : Pada 4 jam pertama Kabiven 500 ml

Enteral : Puasa Intake cairan : Parenteral : 6. e. f. g. h. 7. TD HR RR Pada 4 jam pertama Ringer Laktat 450 ml

Enteral : Puasa Pola eliminasi urin Frekuensi dalam 4 jam Jumlah Warna Bau Pemeriksaan Fisik Vital sign : 130/80 mmHg : 112 kali/menit : 12 kali/menit Distensi (-) Peristaltik (+) Luka post operasi tertutup kassa Rembes pada daerah luka operasi (-) : 1 kali : 300 ml : kuning pekat : tidak diketahui

Suhu : 37C

Keluhan yang dirasakan saat ini : 1) Uretra eksternal 3) Nyeri 4) Genital eksterna 8. : (tidak diketahui) : (tidak diketahui) : (tidak diketahui) 2) Palpasi distensi ginjal : (tidak diketahui)

Pemeriksaan penunjang :
40

DR Albumin Tp BUN Cr GDS (Gula Darah Sewaktu) Elektrolit AGD (Analisa Gas Darah)

Note : Hasil belum diketahui saat pengkajian dilakukan ANALISA MASALAH Data HR 112x/menit Masalah
Tachycardia (pulse >100/menit)

Penyebab Sepsis

FORMAT PENGKAJIAN SISTEM GASTRO INTESTINAL Identitas diri klien Nama Umur Jenis kelamin Alamat Status perkawinan Agama Suku Pendidikan Pekerjaan : Mr. X : 69 tahun : lelaki :: kawin : islam :::41

Lama bekerja Tanggal masuk RS Tanggal pengkajian Sumber informasi

:: 24 Mei 2012 : 6 Juni 2012 : lembar monitoring 24 jam ICU : peritonitis

RIWAYAT PENYAKIT Keluhan utama saat masuk RS Riwayat penyakit sekarang Riwayat penyakit dahulu ::-

Diagnosa medik pada pada saat MRS, pemeriksaan penunjang dan tindakan yang telah dilakukan, mulai dari pasien MRS (UGD/Poli) a. b. Masalah atau Dx medis pada saat MRS Tindakan yang telah dilakukan di Poliklinik atau UGD Peritonitis Pasien dirawat di ICU setelah dilakukan post operasi laparotomi dengan pembuatan stoma, data sebagai berikut : TD HR : 110-130 : 112-142 x irregular

Compos mentis Terpasang drain Urine 50 cc PENGKAJIAN KEPERAWATAN 1. 2. 3. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan Pola nutrisi / metabolik Pola Eliminasi (Buang air besar) Pengetahuan tentang penyakit/perawatan : Program diit RS : pasien dipuasakan, dengan pemberian nutriflex 1000 cc ada peristaltik PEMERIKSAAN FISIK a. Keluhan yang dirasakan saat ini P : 24 x 70/170
42

TD : 123/73 BB/TB :

N : 88 x/menit IMT : 24,2

S: 37,2 C

b. 1. 2. 3. 4. 5. 6. c.

Observasi kulit : Warna: ( )pucat ( +)kering ( )kemerahan ( )lesi Turgor : ( + )elastis ( + )edema Mulut dan tenggorokan ( )lembab ( )jaundice ( + )bersisik ( + )merah

Kesulitan/ggn bicara : ada karena terpasang ventilator Kesulitan menelan 1. 2. 3. 4. 5. 6. d. 1. 2. 3. 4. Bibir : ( )bengkak, ( )luka, ( )warna Lidah : ( ) bengkak, ( )luka, ( )warna Membran mukosa : ( )bengkak, ( )luka, ( )warna Gigi : ( )perubahan warna, kondisi gigi ( )utuh Gusi : ( )perdarahan, ( ) bengkak, ( )warna Bau nafas abnormal : seperti buah, bau alkohol, dll Abdomen Inspeksi : Warna ( )pucat Pigmentasi ( ) Kontur ( )simetris ( )cekung Auskultasi : Bising usus : frekuensi per menit Suara abdomen Perkusi Palpasi Massa ( ) Nyeri ( + ), lokasi?, karakteristik?, skala?, kapan timbul? ( )datar ( )bengkak ( )distensi ( )jaundice/kuning ( )kemerahan

Petikhe ( ), kemerahan ( ), skar( )

43

FORMAT PENGKAJIAN SISTEM GASTRO INTESTINAL Identitas diri klien Nama Umur Jenis kelamin Alamat Status perkawinan Agama Suku Pendidikan Pekerjaan Lama bekerja Tanggal masuk RS Tanggal pengkajian Sumber informasi : Mr. X : 69 tahun : lelaki :: kawin : islam ::::: 24 Mei 2012 : 7 Juni 2012 : lembar monitoring 24 jam ICU : peritonitis

RIWAYAT PENYAKIT Keluhan utama saat masuk RS Riwayat penyakit sekarang Riwayat penyakit dahulu ::-

Diagnosa medik pada pada saat MRS, pemeriksaan penunjang dan tindakan yang telah dilakukan, mulai dari pasien MRS (UGD/Poli) a. Masalah atau Dx medis pada saat MRS Peritonitis b. Tindakan yang telah dilakukan di Poliklinik atau UGD Pasien dirawat di ICU setelah dilakukan post operasi laparotomi dengan pembuatan stoma, data sebagai berikut : TD HR : 110-130 : 112-142 x irregular

Compos mentis Terpasang drain Urine 50 cc

44

PENGKAJIAN KEPERAWATAN 1. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan Pengetahuan tentang penyakit/perawatan : 2. Pola nutrisi / metabolic Program diit RS : pasien dipuasakan, dengan pemberian nutriflex 1000 cc 3. Pola Eliminasi (Buang air besar) 200 cc, ada peristaltik PEMERIKSAAN FISIK a. Keluhan yng dirasakan saat ini TD : 102,61 37,2 C BB/TB : 70/170 ( )jaundice ( + )bersisik IMT : 24,2 ( + )merah b. Observasi kulit : 1) Warna: ( )pucat 2) ( +)kering 3) ( )kemerahan 4) ( )lesi 5) Turgor : ( + )elastis 6) ( + )edema c. Mulut dan tenggorokan Kesulitan/ggn bicara : ada karena terpasang ventilator Kesulitan menelan 1) Bibir : ( )bengkak, ( )luka, ( )warna 2) Lidah : ( ) bengkak, ( )luka, ( )warna 3) Membran mukosa : ( )bengkak, ( )luka, ( )warna 4) Gigi : ( )perubahan warna, kondisi gigi ( )utuh 5) Gusi : ( )perdarahan, ( ) bengkak, ( )warna 6) Bau nafas abnormal : seperti buah, bau alkohol, dll d. Abdomen 1) Inspeksi : o Warna ( )pucat o Pigmentasi ( )
45

P : 12 x/ menit

N : 112 x/menit

S:

( )lembab

( )jaundice/kuning

( )kemerahan

o Kontur ( )simetris cekung 2) Auskultasi :

( )datar

( )distensi

( )bengkak

o Petikhe ( ), kemerahan ( ), skar( ) o Bising usus : frekuensi per menit o Suara abdomen 3) Perkusi 4) Palpasi o Massa ( ) o Nyeri ( ), lokasi?, karakteristik?, skala?, kapan timbul?

PENGKAJIAN KEPERAWATAN Nama No RM : Mr. X :7 Umur : 69 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Hari rawat ke : 10 Berat badan : 70 kg Tinggi badan : 170 cm Nadi : 117 kali/menit

Tekanan darah : 130/80 mmHg Pernafasan : 12 kali/menit

Suhu : 37C

Cairan, Elektrolit dan Asam Basa Alasan dirawat dirumah sakit : Peritonitis e/c perforasi colon sigmoid post laparatomy Riwayat hospitalisasi 46

Program terapi medis Enteral : Head up 30 Cordaron 2x200 mg

Parenteral : Pumpitor 1x1 Trogyl 3x500 mg Doribact 3x500 mg Lasix 1 ampul ekstra IV

Transfusi Hb >10 Transfusi Albumin >3,5

1.

Berat Badan :

Tidak dapat dikaji perubahan berat badannya karena keterbatasan alat dan pasien 2. Kepala

Kesadaran: compos mentis, pasien bisa merespon jika dipanggil 3. Mata

Tidak ada edema ataupun cekung Pupil mata berespon positif terhadap cahaya Ukuran pupil 3 mm
47

4.

Tenggorokan dan mulut

Bibir : kering Terpasang ventilator 5. Sistem Kardiovaskuler : normal : tidak ada : : reguler

Vena jugularis Edema Irama EKG Frekuensi nadi

Kekuatan denyut nadi : Tekanan darah sistolik Pukul 06.00 Pukul 07.00 Pukul 08.00 Pukul 09.00 Tekanan darah diastolic Pukul 06.00 Pukul 07.00 Pukul 08.00 Pukul 09.00 : 102 mmHg 130 mmHg 130 mmHg 125 mmHg : 61 mmHg 80 mmHg 70 mmHg 80 mmHg

Bunyi jantung 6. Edema Suhu Ekstremitas Warna kulit

Ekstremitas dan Integritas Kulit : kaki dan tangan : hangat : merah muda

48

Turgor kulit

: oedem dan keriput/tidak elastis

Tangan dan Kaki dapat digerakan 7. Sistem Pernapasan

20 kali/menit Terpasang NRM O2 10L/menit 8. Sistem gastrointestinal

Abdomen : lembut dan ada bising usus 9. Sistem Perkemihan

Urine Output Hari ke 9 8 jam pertama 8 jam kedua 8 jam terakhir Hari ke 10 pekat (1,1 cc/kg BB/jam,ini aku ngitung sendiri, kalo di data anastesi yg B1 B2 dst, itu 0,6 cc/kgBB/jam) 10. Sistem neuromuskular : hipotonisitas : menurun : 570 ml ( 1 cc/kg BB/jam) : 520 ml ( 0,9 cc/kg BB/jam) : 350 ml ( 0,6 cc/kg BB/jam) : 300 ml pada pukul 10.00 WIB, warna kuning

Tonus otot Reflex tendon 11.

Cairan Masuk dan Keluar Hari ini : Kabiven


49

Cairan msauk Line 1 :

500 ml

Line 2 :

Ringer Laktat

= =

450 ml 100 ml 15,6 ml 1065,6 ml

Farmadol 1000 mg Line 3 : Total Input : Vascon 3 x 5,2 ml

= =

Cairan Keluar IWL Urin

= =

300 ml 186 ml

(terdapat kenaikan suhu pada pukul 09.00, suhu 38,7C) Total Output Balance Cairan 4 Jam = 486 ml

= 1065,6 ml 486 ml = 579,6 ml

12.

Balance Cairan Hari sebelumnya hari ke 9 : = = = 1379 ml 1737 ml 3129 ml

Cairan masuk 8 jam pertama 8 jam kedua 8 jam terakhir

Cairan Keluar 8 jam pertama 8 jam kedua 8 jam terakhir

: = = = 570 ml 1090 ml 1440 ml

50

IWL (10 ml/kg BB/hari) 8 jam pertama 8 jam kedua 38,9C) 8 jam terakhir

: = = 233 ml 572 ml (suhu

700 ml

Balance cairan 8 jam pertama 8 jam kedua 8 jam terakhir = = = 609 ml 75 ml 989 ml

Balance kumulatif

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Diagnosa : Risk For Imbalance Fluid Volume Definisi : Resiko penurunan dan peningkatan peralihan yang tajam dari intravaskuler, interstisial, dan atau cairan intrasel yang mungkin mempengaruhi kesehatan. Mengacu pada kehilangan, penambahan cairan tubuh atau keduanya Faktor resiko : NOC
51

Pembedahan abdomen Sepsis Obstruksi intestinal

a.

Fluid Balance Definisi : Keseimbangan cairan pada kompartemen intraseluler dan ekstraseluler tubuh Indikator: Klien mampu menunjukkan tekanan darah, CVP, MAP Klien menunjukkan keseimbangan jumlah intake dan output, kestabilan berat badan, turgor kulit, kelembaban membran mukosa, serum elektrolit yang normal, berat jenis urin

b.

Hydration Definisi : Cairan yang cukup pada bagian intrasel dan ekstrasel dalam tubuh. Indikator : Klien mampu mencapai turgor kulit yang elastis Klien menunjukkan kelembapan membran mukosa Klien mampu mencapai keseimbangan intake cairan, urin output, dan serum sodium. Klien mampu menunjukkan fungsi kognitif yang normal.

NIC a. Fluid/Electrolyte Management Definisi : Regulasi dan pencegahan komplikasi yang

berhubungan dengan perubahan level, cairan dan atau elektrolit. Aktivitas :


52

Monitor level serum elektrolit yang abnormal. Monitor status hemodinamik, seperti level CVP, MAP, PAP, dan PCWP

Monitor hasil laboratorium yang relevan terhadap keseimbangan cairan.

Pelihara catatan rekam medis yang akurat mengenai cairan dan elektrolit.

b.

Monitor tanda dan gejala retensi cairan. Monitor tanda-tanda vital Monitor manifestasi ketidakseimbangan elektrolit Fluid Monitoring

Definisi : Pengumpulan dan analisis data pasien untuk meregulasi keseimbangan cairan Aktivitas : Tentukan riwayat dari jumlah dan tipe intake cairan dan kebiasaan eliminasi Tentukan faktor resiko yang mungkin terjadi untuk ketidakseimbangan cairan. Monitor berat badan Monitor intake dan output Monitor nilai serum dan elektrolit urin Monitor level serum albumin dan total protein

53

Monitor status tekanan darah, denyut jantung, dan pernafasan

Jaga keakuratan rekam medis mengenai intake dan output

Monitor membran mukosa, turgor kulit, dan rasa haus. Monitor warna, kuantitas, dan berat jenis urin Kelola cairan dengan tepat

2. Diagnosa : Risk For Infection Definisi : Resiko untuk terinfeksi organisme pathogen

Faktor Resiko : Ketidakadekuatan pertahanan primer: Kerusakan kulit (pemasangan kateter)

Stasis cairan tubuh Prosedur invasive

NOC a. Risk Control Infectious Process Definisi : aksi individu untuk mencegah, mengeliminasi, atau menurunkan terjadinya infeksi. Indikator : Resiko infeksi dapat termonitor dengan baik Lingkungan yang bersih dan terjaga

54

Strategi control infeksi yang efektif Penggunaan universa precaution Intake cairan tercukupi Perubahan status kesehatan secaraumum termonitor dengan baik

NIC a. Infetion Control Definisi : meminimalkan akuisisi dan transmisi agen infeksi

Aktivitas : Batasi jumlah pengunjung Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah masuk ruangan pasien Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan perwatan kepada pasien Gunakan universal precaution Meningkatkan intake nutrisi yang sesuai Tingkatkan pemasukan cairan Mendorong klien untuk beristirahat

3. Diagnosa : Bathing Self Care Deficit Definisi : Terganggunya kemampuan untuk melakukan atau memenuhi aktivitas mandi dan kebersihan secara mandiri Batasan karakteristik : Ketidakmampuan untuk menggunakan kamar mandi

55

NOC

Ketidakmampuan untuk mengeringkan tubuh Ketidakmampuan untuk membersihkan tubuh

Faktor yang berhubungan : Kelemahan Gangguan kognitif

1. Ostomy Self Care Definisi : Tindakan mandiri untuk mempertahankan ostomi untuk kebutuhan eliminasi Indikator : Mengukur stoma agar sesuai dengan kantong ostomi Mempertahankan perawatan kulit di sekitar ostomi Mengosongkan kantong ostomi Mengganti kantong ostomi Memonitor komplikasi yang berhubungan dengan stoma Memonitor jumlah dan konsistensi feses

2. Self Care - Bathing Definisi : Klien mampu untuk membersihkan tubuhnya sendiri secara mandiri ,dengan atautanpa alat bantu Indikator : Membersihkan wajah Membersihkan anggota tubuh bagian atas Membersihkan anggota tubuh bagian bawah Membersihkan area perineal Mengeringkan tubuh

3. Self Care - Hygiene

56

Definisi : Klien mampu mempertahankan kebersihan diri dan penampilan secara mandiri dengan atau tanpa alat bantu Indikator : NIC: a. Ostomy Care Definisi : pemeliharaan eliminasi melalui stoma dan perawata jaringan sekitarnya. Aktifitas : 1. Memonitor irisan atau penyembuhan stoma 2. Memonitor komplikasi post op seperti obstruksi intestinal, paralytic ileus, kebocoran anastonotic, atau pelepasan mococutaneuse; dengan tepat 3. Irigasi ostomy ; dengan tepat 4. Bantu pasien dalam melakukan self care 5. Memeriksa perawatan ostomy self care 6. Memonitor pola eliminasis b. Self Care Assistance : Bathing/Hygien Definisi : membantu pasien untuk melakukan personal hygien Aktifitas : Mempertimbangkan budaya pasien jika mempromosikan aktifitas self care Mempertimbangkan usia pasien jika mempromosikan aktifitas self care Menentukan jumlah dan tipe bantuan yang diperlukan Mempertahankan kebersihan oral Mengeramasi rambut menggunakan shampoo Menyisir rambut Mempertahankan penampilan yang bersih Mempertahankan kebersihan tubuh

57

Menyediakan lingkungan yang teraupetik dengan memastikan kehangatan, kenyamanan, privasi, dan pengalaman personal Monitor integritas kulit pasien Definisi : Terganggunya kemampuan untuk melakukan atau memenuhi aktivitas berpakaian dan berhias secara mandiri Batasan karakteristik :

1. Diagnosa : Dressing Self Care Deficit

NOC

Ketidakmampuan untuk mengambil atau memilih pakaian Ketidakmampuan untuk mengenakan pakaian bagian atas Ketidakmampuan untuk mengenakan pakaian bagian bawah Ketidakmampuan untuk mempertahankan penampilan yang memuaskan

Self Care - Dressing Definisi : Kemampuan untuk berpakaian secara mandiri dengan atau tanpa alat bantu Indikator : NIC : a. Self Care Assistance : Dressing/Grooming Definisi : membantu pasien dalam berpakaian dan berpenampilan Aktifitas : Mempertimbangkan budaya pasien jika mempromosikan aktifitas self care Mempertimbangkan usia pasien jika mempromosikan aktifitas self care
58

Memilih dan mengambil pakaian Mengenakan pakaian pada anggota tubuh bagian atas Mengenakan pakaian pada anggota tubuh bagian bawah Mengancingkan pakaian Melepas pakaian pada anggota tubuh bagian atas Melepas pakaian pada anggota tubuh bagian bawah

Menyediakan baju pribadi ;dengan tepat Memberikan bantuan dalam berpakaian; jika dibutuhkan Memfasilitasi pasien dengan menyisir rambut ; dengan tepat Memberikan privasi saat pasien sedang berpakaian Membantu menali, mengancing, dan menutup resleting; jika diperlukan Tawarkan untuk mencuci baju ; seperlunya Tempat memindahkan baju ke laundry

BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN

B. IMPLIKASI KEPERAWATAN Perawat lebih memperhatikan lagi prinsip kesterilan dalam merawat luka sehingga tidak sampai terjadi infeksi berlanjut dan mengurangi komplikasi akibat pembedahan. Perawat dapat memberikan edukasi kepada klien cara mengatasi nyeri post op dengan tekhnik non farmakologi. Perawat dapat membantu klien dalam perawatan atau kebersihan diri klien berhubungan dengan imobilisasi.
59

Perawat lebih meningkatkan pengembangan penelitian terkait nyeri pasca operasi serta hubungannya dengan kualitas tidur. Perawat membantu klien ataupun keluarga dalam memecahkan masalah dengan memberikan pilihan-pilihan yang terbaik untuk klien. Perawat melindungi hak-hak klien dalam mendapatkan pelayanan dan pengobatan yang sesuai.

C. SARAN

60

DAFTAR PUSTAKA

Dr.

Sutisna

Himawan

(editor).

Kumpulan

Kuliah

Patologi.

FKUI

Brunner / Suddart. 1984. Texbook of Medical Surgical Nursing. Fifth edition IB. Lippincott Company. Philadelphia.

Soeparman, dkk. 1987.Edisi 2. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Medical-news. Sepsis. Terdapat pada : <http://www.newsmedical.net/health/What-is-Sepsis>. Diakses pada tanggal 8 Juni 2012 Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol 3. Jakarta: Kedokteran EGC. Harnawatiaj. 2010. Konsep Dasar Pemenuhan Kebutuhan Eliminasi Fekal. Terdapat pada : <http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/14/konsepdasar-pemenuhan-kebutuhan-eliminasi-fecal/> diakses pada tanggal 8 Juni 2012. Septiawan, Catur E. 2008. Perubahan Pada Pola Urinarius. Terdapat pada: <www.kiva.org> diakses pada tanggal 8 Juni 2012. Sjamsuhidajat. 2004. Buku Ajar Medikal Bedah. Jakarta: Kedokteran EGC. Supratman. 2000. Askep Klien Dengan Sistem Perkemihan. Jakarta: Kedokteran EGC. Siregar, C. Trisa. 2004. Kebutuhan Dasar Manusia Eliminasi BAB. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Apotik Indica. Hasil pemeriksaan laboratorium. Terdapat <www.farmasiku.com> diakses pada tanggal 8 Juni 2012 pada

61

Medicastore. Trogyl. Terdapat pada <http://medicastore.com/obat/TROGYL.html> diakses pada tanggal 8 Juni 2012 Dinkes. Metronidazol. Terdapat pada <http://dinkes.tasikmalayakota.go.id/informasi-obat/metronidazol.html> diakses pada tanggal 8 Juni 2012 Ratnadita, Adelia. Lasix. Terdapat pada <http://health.detik.com/lasix-obatuntuk-atasi-edema> diakses pada tanggal 8 Juni 2012 Hamiwanto, Saiful. AGD. Terdapat <https://sites.google.com/site/asidosis/analisis-gas-darah-agd> pada tanggal 8 Juni 2012 pada diakses

NANDA, 2009-2011, Nursing Diagnosis: Definitions and Classification , Philadelphia, USA. NANDA, 2012-2014, Nursing Diagnosis: Definitions and Classification , Philadelphia, USA. NOC, Sue Moorhead, et al,. 2007, Nursig Outcomes Classification, 4th ed. Mosby Elsevier. USA. NIC, Gloria M. Bulechek, et al,. 2008, Nursing Intervention Classfication, 5th ed. Mosby Elsevier. USA

62

Beri Nilai