Anda di halaman 1dari 26

BAB II LANDASAN TEORI

A. Manajemen Manajemen diperlukan untuk dapat mengatur aktivitas dalam suatu organisasi agar efektif dan efisien. Manajemen berasal dari kata to manage yang berarti mengatur/mengelola. Menurut M. Manullang (2005 : 5) Manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan sumber daya untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Menurut Stephen P. Robbins dan Mary Coulter (2002 : 6) Manajemen adalah proses mengkoordinasi kegiatan-kegiatan pekerjaan sehingga secara efisien dan efektif dengan dan melalui orang lain. Menurut Malayu S. P. Hasibuan (2011 : 2) Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Berdasarkan beberapa pengertian dari para ahli maka penulis menyimpulkan bahwa manajemen adalah suatu proses kegiatan dengan menggerakkan sumber daya

11

12

manusia yang ada untuk mencapai tujuan yang tekah direncanakan sebelumnya secara efektif dan efisien. Menurut Malayu S. P. Hasibuan (2011 : 20-21) Dalam manajemen terdapat unsur-unsur manajemen didalamnya yang digunakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan dimana terdiri dari : 1. Men yaitu tenaga kerja manusia, baik tenaga kerja pimpinan maupun tenaga kerja operasional atau pelaksana. 2. Money yaitu uang yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. 3. Methods yaitu cara-cara yang dipergunakan dalam usaha mencapai tujuan. 4. Materials yaitu bahan-bahan yang diperlukan untuk mencapai tujuan. 5. Machines yaitu mesin-mesin/alat-alat yang diperlukan atau dipergunakan untuk mencapai tujuan. 6. Market yaitu pasar untuk menjual barang dan jasa-jasa yang dihasilkan. Masih menurut Malayu S. P. Hasibuan (2011 : 40-41) Manajemen dibagi atas beberapa fungsi manajemen yaitu sebagai berikut : 1. Perencanaan (planning) adalah proses penentuan tujuan dan pedoman pelaksanaan dengan memilih yang terbaik dari alternatif-alternatif yang ada.

13

2. Pengorganisasian (organizing) adalah suatu proses penentuan, pengelompokkan dan pengaturan bermacam-macam aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuaan, menetapkan orang-orang pada setiap aktivitas, menyediakan alat-alat yang diperlukan, menetapkan wewenang yang secara relatif didelegasikan kepada setiap individu yang akan melaksanakan aktivitas-aktivitas tersebut. 3. Pengarahan (actuating) adalah mengarahkan semua bawahan agar mau bekerja sama dan bekerja efektif untuk mencapai tujuan. 4. Pengendalian (controlling) adalah pengukuran dan perbaikan terhadap

pelaksanaan kerja bawahan agar rencana-rencana yang telah dibuat untuk mencapai tujuan-tujuan dapat terselenggara.

B. Efektivitas Efektivitas ialah pencapaian atau pemilihan tujuan yang tepat dari beberapa alternatif lainnya. Efektif dapat diartikan sebagai pengukuran keberhasilan dalam pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Sebagai contoh jika sebuah pekerjaan bisa diselesaikan dengan pemilihan cara yang telah ditentukan, maka cara tersebut adalah efektif. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005 : 284) Efektivitas berasal dari kata efektif yang artinya adanya akibat, pengaruh, dapat membawa hasil.

14

Efektivitas artinya keefektifan yang berarti keadaan berpengaruh, keberhasilan, hal yang berkesan. Menurut T. Hani Handoko (2003 : 7) Efektivitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang ditetapkan. Menurut Syahu Sugian O (2006 : 76) Efektivitas adalah tingkat realisasi aktivitas-aktivitas yang direncanakan dan hasil-hasil yang diraih. Rumusnya : Efektivitas : Hasil yang direncanakan Hasil yang sesungguhnya x 100%

Berdasarkan definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas merupakan suatu konsep yang dapat memberikan gambaran suatu keadaan yang menghasilkan suatu keberhasilan atau mencapai suatu hasil yang sesuai target.

C. RTGC (Rubber Tyred Gantry Crane) 1. Pengertian RTGC (Rubber Tyred Gantry Crane) RTGC (Rubber Tyred Gantry Crane) merupakan suatu alat yang ada dilapangan penumpukan yang digunakan sebagai alat bongkar muat petikemas.

15

Menurut D.A. Lasse, (2012 : 34), crane lapangan terberat yang melayani kegiatan transfer petikemas baik untuk quay transfer operation maupun receipt/delivery operation adalah alat yang dibuat pertama kali oleh Paceco dan dinamakan Transtainer yang dikenal dalam dua tipe yaitu tipe yang berjalan di atas roda, disebut Rubber Tyred Gantry (RTG) dan tipe yang berjalan di atas rel dengan roda-roda baja disebut Rail-mounted Yard Gantry Crane. Menurut Referensi Kepelabuhan (2000 : 16), RTGC (Rubber Tyred Gantry Crane) adalah alat untuk mengangkut, men-stack dan membongkar/memuat petikemas dilapangan penumpukan. Menurut Dirk Koleangan (2008 : 53) RTGC (Rubber Tyred Gantry Crane) atau disebut juga transtainer adalah alat untk menurunkan atau memuat container dan menyusunnya di lapangan penumpukan (container yard). Berdasarkan definisi diatas maka penulis menyimpulkan bahwa RTGC (Rubber Tyred Gantry Crane) adalah suatu alat yang berada dilapangan penumpukan yang dapat mengangkut dan menurunkan petikemas serta dapat bergerak dari satu blok ke blok yang lainnya. 2. Spesifikasi RTGC (Rubber Tyred Gantry Crane) Jenis RTGC lebih banyak digunakan karena alasan operasional dimana lebih luwes dalam olah gerak dan mudah bergerak menjelajahi seluruh terminal. RTGC mampu melayani lima sampai enam row dalam setiap blok dengan

16

ketinggian sampai lima stack. Pada setiap blok tersedia satu jalur head truckchassis pengangkut petikemas untuk dimuat (lift on) atau diturunkan (lift off) dengan menggunakan RTGC. Spesifikasi : a) Mempunyai ketinggian antar 17 sampai 19 m, panjang antara 9 sampai 11,6m, span (rentang) antara 19,8 sampai 26,5 m; b) Masing-masing kaki berdiri diatas 1, 2 atau 4 roda; c) Posisi roda-rodanya dapat berputar hingga 90 diatas steel turning plates untuk memungkinkan RTGC bergerak ke arah melintang dan memanjang ketika pindah dari satu blok ke blok lain; d) Mobilitas RTGC mencapai 5,5 sampai 9 km/jam, kecepatan angkat antara 9 sampai 23 meter/menit dengan beban dan 18 sampai 49 meter/menit tanpa beban. Total angkatan sebanyak 18 sampai 23 box/jam.

D. Pelabuhan Menurut Referensi Kepelabuhanan (2000 : 7) Pelabuhan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik-turun penumpang dan atau bongkar muat

17

barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi. Menurut Bambang Triatmodjo (2009 : 3) Pelabuhan adalah daerah perairan yang terlindung terhadap gelombang yang dilengkapi dengan fasilitas terminal laut meliputi dermaga di mana kapal dapat bertambat untuk bongkar muat barang, krankran (crane) untuk bongkar muat barang, gudang laut dan tempat-tempat penyimpanan di mana kapal membongkar muatannya dan gudang-gudang di mana barang-barang dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama selama menunggu pengiriman ke daerah tujuan atau pengapalan. Menurut D. A. Lasse (2012 : 1) Pelabuhan adalah tempat dimana tersedia perlengkapan untuk memindahkan barang dan/atau penumpang ke dan dari alat angkut di perairan. Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka penulis menyimpulkan bahwa pelabuhan adalah suatu daerah perairan dimana didalamnya itu dapat dilakukan kegiatan bongkar muat, tempat turun penumpang, tempat kegiatan yang berhubungan dengan pelayaran dan dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelabuhan. 1. Fungsi Pelabuhan

18

a. Gateway, sebagai pintu utama arus keluar-masuknya barang perdagangan dari dan ke daerah belakang pelabuhan yang bersangkutan. b. Interface, sebagai titik temu yang mempertemukan moda transportasi darat dengan moda transportasi laut. c. Link, sebagai mata rantai yang merupakan bagian atau salah satu bagian penting dari keseluruhan rangkaian transportasi. d. Industry Entity, sebagai pengembangan industry yang ada dipelabuhan yang berorientasi pada kegiatan ekspor. 2. Peran Pelabuhan a. Simpul dalam jaringan transportasi; b. Tempat kegiatan alih moda transportasi; c. Pintu gerbang kegiatan perekonomian; d. Tempat distribusi, produksi dan konsolodasi barang; e. Mewujudkan wawasan nusantara dan kedaulatan negara. Referensi Kepelabuhanan (2000 : 3).

E. Bongkar Muat

19

Barang-barang yang diangkut dengan menggunakan kapal laut biasanya melalui beberapa proses kegiatan yaitu mulai dari penyimpanan barang-barang/muatan yang masuk ke daerah pelabuhan yang disimpan di gudang maupun dilapangan penumpukan, kemudian diangkut didermaga dan selanjutnya dimuat diatas kapal. Berdasarkan buku dari Biro Pusat Statistik (1996 : 3) Bongkar adalah pembongkaran barang dari kapal, baik barang yang diangkut dari pelabuhan asal di Indonesia ataupun dari luar negeri. Muat adalah pemuatan barang ke kapal untuk diangkut ke pelabuhan tujuan di Indonesia atau ke luar negeri. Menurut Keputusan Menteri Perhubungan No. 33 Tahun 2001 pasal 1 ayat 22, kegiatan bongkar muat adalah barang dari dan atau ke kapal meliputi kegiatan pembongkaran barang dari palka kapal keatas dermaga di lambung kapal atau sebaliknya (stevedoring), kegiatan pemindahan barang dari dermaga dilambung kapal ke gudang/lapangan penumpukan atau sebaliknya (cargodoring) dan kegiatan pengambilan barang dari gudang/lapangan penumpukan di bawa ke atas truk atau sebaliknya (receiving/delivery). Berdasarkan P. P. No. 17 Tahun 1988 yang dikutip dalam buku Peraturan Angkutan Laut (1992 : 61) Usaha bongkar muat adalah kegiatan jasa yang bergerak dalam kegiatan bongkar muat dari dan ke kapal, yang terdiri dari kegiatan stevedoring, cargodoring dan receiving/delivery.

20

Berdasarkan pengertian-pengertian diatas maka penulis menyimpulkan bahwa pengertian bongkar muat adalah kegiatan membongkar dan memuat barang dari dan ke kapal/dermaga/lapangan penumpukan yang meliputi kegiatan stevedoring, cargodoring dan receiving/delivery. Menurut R. P. Suyono (2005: 310) pelaksanaan kegiatan bongkar muat dibagi dalam 3 (tiga) kegiatan yaitu : 1. Stevedoring Stevedoring adalah pekerjaan membongkar barang dari kapal ke

dermaga/tongkang/truk atau memuat barang dari dermaga/tongkang/truk ke dalam kapal sampai dengan tersusun ke dalam palka kapal dengan menggunakan derek kapal atau derek darat atau alat bongkar muat lainnya. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Perusahaan Bongkar Muat (PBM). 2. Cargodoring Cargodoring adalah pekerjaan melepaskan barang dari tali/jala-jala di dermaga dan mengangkut dari dermaga ke gudang/lapangan penumpukan kemudian selanjutnya disusun di gudang/lapangan penumpukan atau sebaliknya. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Perusahaan Bongkar Muat (PBM). 3. Receiving/Delivery

21

Receiving/Delivery adalah pekerjaan memindahkan barang dari tempat penumpukan di gudang/lapangan penumpukan dan menyerahkan sampai tersusun diatas kendaraan di pintu gudang/lapangan penumpukan atau sebaliknya. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Perusahaan Bongkar Muat (PBM). Menurut D. A. Lasse (2012 : 30) jenis-jenis untuk alat bongkat muat petikemas ada 8 (delapan), tetapi alat bongkar muat yang digunakan oleh PT. Pelabuhan Indonesia IV Cabang Bitung khususnya di lapangan penumpukan hanya 6 (enam) alat yaitu : 1. RTGC (Rubber Tyred Gantry Crane) RTGC (Rubber Tyred Gantry Crane) adalah alat untuk mengangkat dan menurunkan petikemas yang mudah bergerak menjelajahi seluruh lapangan penumpukan dan juga mampu melayani lima sampai enam row dalam setiap blok dengan ketinggian sampai lima stack.

Gambar II. 1 RTGC (Rubber Tyred Gantry Crane)

22

2. Top Loader Top Loader adalah alat angkat untuk melakukan pelayanan lift on dan lift off yang mampu mengangkat beban sampai pada ketinggian 3-5 stack petikemas isi atau 8-10 stack petikemas kosong.

Gambar II. 2 Top Loader 3. Reach Stacker Reach Stacker merupakan alat angkat yang dirancang sebagai crane lapangan yang mobilitas pergerakannya melebihi top loader dimana dapat menjangkau sampai dengan 3 row dan ketinggian 5 stack dan juga spreader yang dapat berputar hingga 90 derajat sehingga dapat mengangkut petikemas dalam posisi melintang maupun membujur.

23

Gambar II. 3 Reach Stacker 4. Head Truck dan Chassis Merupakan suatu pasangan head truck-chassis yang melakukan kegiatan pengangkutan di berbagai lokasi kegiatan mulai dari terminal, dari dan ke dermaga, CFS, lapangan penumpukan dan kegiatan lainnya yang masih berhubungan dengan pengangkutan petikemas.

Gambar II. 4 Head Truck dan Chassis 5. Fork Lift

24

Fork Lift adalah alat angkut muatan ke dan dari dermaga, dan di sekitar terminal, di gudang atau lapangan yang digunakan untuk melakukan kegiatan stuffing dan un-stuffing untuk menutusun muatan ke dalam petikemas.

Gambar II. 5 Fork Lift 6. Mobile Crane Mobile Crane merupakan peralatan berat yang digunakan di lingkungan kerja pelabuhan untuk melayani kegiatan bongkar muat seperti memindahkan dan mengangkat dalam radius terbatas saja.

25

Gambar II. 6 Mobile Crane

F. Petikemas 1. Pengertian Petikemas Berikut beberapa pengertian tentang petikemas yang penulis kutip dari para ahli, yaitu sebagai berikut : Menurut R. P. Suyono (2005 : 263) Petikemas adalah satu kemasan yang dirancang secara khusus dengan ukuran tertentu, dapat dipakai berulang kali, dipergunakan untuk menyimpan dan sekaligus mengangkut muatan yang ada didalamnya. Menurut Amir MS (1999 : 113) Petikemas adalah peti yang terbuat dari logam yang dimana didalamnya digunakan untuk barang-barang yang disebut muatan umum. Menurut Dirk Koleangan (2008 : 6) Petikemas adalah semua media yang didalamnya dapat dimasukkan sesuatu barang atau tempat mengisi barang. Menurut Soedjono Kramadibrata (2002 : 280) Petikemas adalah suatu kotak besar terbuat dari bahan campuran baja dan tembaga (antikarat) dengan pintu yang dapat terkunci dan pada tiap sisi-sisi dipasang suatu piting sudut dan

26

kunci putar sehingga antara satu petikemas dengan petikemas lainnya dapat digunakan dengan mudah disatukan atau dilepaskan. Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli, maka penulis menyimpulkan bahwa petikemas adalah suatu tempat berupa peti yang berfungsi untuk menyimpan dan mengangkut muatan untuk di bawa dari tempat yang satu ke tempat lainnya serta dapat dipakai berulang kali. 2. Jenis dan Ukuran Petikemas a. Jenis Petikemas Jenis-jenis petikemas menurut Engkos Kosasih dan Hananto Soewedo (2009 : 114) dibagi dalam beberapa jenis yaitu : 1) General Cargo Container General Cargo Container adalah petikemas yang dipakai untuk mengangkut muatan umum. 2) Special Ventilated Container Special Ventilated Container adalah petikemas yang dipakai untuk mengangkut muatan yang basah, bau maupun yang mudah rusak. 3) Open Top/Side Container

27

Open Top/Side Container adalah petikemas yang terbuat dari steel untuk mengangkut alat berat, mesin, traktor dan sebagainya. Muatan dimasukkan dari atas maupun dari sisi samping petikemas. 4) Flat Rack Container Flat Rack Container adalah petikemas yang berlantai dasar kuat/kokoh yang dipakai untuk mengangkut mesin-mesin atau alat berat. 5) Dry Bulk Container Dry Bulk Container adalah petikemas yang dipakai untuk mengangkut muatan curah. 6) Tank Container Tank Container adalah tangki yang dilindungi dengan rangka besi untuk mengangkut muatan cair atau gas. 7) Refrigerated Container Refrigerated Container adalah petikemas yang dilengkapi dengan mesin pendingin untuk mengangkut muatan seperti buah-buahan, daging dan sayur. b. Ukuran Petikemas

28

Menurut Engkos Kosasih dan Hananto Soewedo (2009 : 116) panjang dan tinggi petikemas dapat berubah-ubah sedangkan lebarnya tetap 8 feet. Panjang petikemas antara lain : 10, 20, 35, 40, 45. Umumnya yang dipakai di Indonesia adalah 20 dan 40. Masih menurut pengarang buku yang dikutip dari ISO, ukuran petikemas dan berat keseluruhannya untuk standar ISO yaitu sebagai berikut :

Tabel II. 1 Ukuran Petikemas ISO Type Code External Height mm ft - in IA 2438 8 00 I AA 2591 8 6 IB 2438 8 00 I BB 2591 8 6 IC 2438 8 00 I CC 2591 8 6 ID 2438 8 00 IE 2438 8 00 IF 2438 8 00 Series 1 External Width External Length mm ft mm ft - in 2438 8 12000 40 00 2438 8 12000 40 00 2438 8 9000 30 00 2438 8 9000 30 00 2438 8 6000 20 00 2438 8 6000 20 00 2438 8 3000 10 00 2438 8 2000 65 2438 8 1500 5 00 Maximum Gross Weight kgs lbs 30480 67200 30480 67200 25400 56000 25400 56000 20320 44800 20320 44800 10160 22400 7110 15700 5080 11200

3. Kapasitas Petikemas

29

Menurut Dirk Koleangan (2008 : 17-18) kapasitas muat petikemas adalah sebagai berikut : a. Maximum Gross Weight Adalah jumlah berat maksimum dari muatan dan container kosong. b. Tare (Tare Weight) Adalah berat dari container kosong termasuk kelengkapan dari sesuatu container. c. Pay Load Adalah jumlah berat muatan yang dapat dimasukkan dalam container yang bersangkutan, termasuk pembungkus/kemasan muatan tersebut. d. Cubic Feet Capacity Adalah jumlah ruangan (isi) container dalam kubik kaki. e. Cubic Meter Capacity Adalah jumlah ruangan (isi) container dalam meter kubik. 4. Status Petikemas

30

Dalam pengangkutan petikemas dari suatu negara ke negara lainnya petikemas mempunyai 2 (dua) status yang menurut R. P. Suyono (2005 : 272) adalah sebagai berikut : a. Full Container Load (FCL) Ciri-cirinya adalah : 1) Berisi muatan dari satu shipper dan dikirim oleh satu consignee. 2) Petikemas diisi (stuffing) oleh shipper dan petikemas yang sudah diisi diserahkan di container yard (CY) pelabuhan muat. 3) Dipelabuhan bongkar, petikemas diambil oleh consignee di CY dan diunstuffing oleh consignee. 4) Perusahaan pelayaran tidak bertanggung jawab atas kerusakan dan kehilangan barang yang ada dalam petikemas. b. Less than Container Load (LCL) Ciri-cirinya adalah : 1) Petikemas berisi muatan dari beberapa shipper dan ditujukan oleh beberapa consignee. 2) Muatan diterima dalam keadaan breakbulk dan diisi (stuffing) di container freight station (CFS) oleh perusahaan pelayaran.

31

3) Dipelabuhan bongkar, petikemas di-unstuffing di CFS oleh perusahaan pelayaran dan diserahkan kepada beberapa consignee dalam keadaaan breakbulk. 4) Perusahaan pelayaran bertanggung jawab atas kerusakan dan kehilangan barang yang diangkut dalam petikemas. 5. Keuntungan dan Kerugian Memakai Petikemas Menurut Dirk Koleangan (2008 : 21 - 22) keuntungan dan kerugian dalam memakai petikemas yaitu sebagai berikut : a. Keuntungan memakai petikemas : 1) Kecepatan bongkar/muat yang tinggi sehingga dapat mengurangi biaya dan waktu kapal di pelabuhan. 2) Akibat kerusakan dan kehilangan muatan sangat kecil. 3) Tidak terjadi double handling. 4) Dapat dilakukan door to door service dengan intermodal transport. 5) Kondisi pembungkus asli dari muatan tidak membutuhkan standard packing, karena cukup aman didalam petikemas. 6) Menghemat penggunaan tenaga kerja.

32

7) Dapat memudahkan sistem pengawasan pergerakan petikemas dengan menggunakan komputer. b. Kerugian memakai petikemas : 1) Perubahan organisasi serta perubahan tata kerja dalam sistem transport dan bongkar/muat petikemas. 2) Port of call kapal petikemas terbatas hanya bagi pelabuhan-pelabuhan yang memiliki sarana terminal petikemas. 3) Biaya investesi termasuk pembangunan terminal petikemas maupun sarana-sarana penunjang lainnya sangat tinggi. 4) Dibutuhkan skill yang lebih tinggi bagi para pekerja, terutama didalam bidang teknik. 5) Dengan adanya containerisasi dapat mengakibatkan pengangguran.

G. Manajemen Operasi Dalam setiap lembaga, semua kegiatan harus dilaksanakan sebaik-baiknya atau seoptimal mungkin. Artinya jika memperoleh manfaat, keuntungan atau kebaikan selalu diusahakan sebanyak mungkin, sedangkan jika harus menanggung pengorbanan, membayar atau menanggung kerugian sebaiknya diusahakan sesedikit mungkin. Dasar pemikiran inilah yang dianut dalam manjemen operasi.

33

Secara umum, kegiatan operasi merupakan suatu kegiatan yang berhubungan dengan penciptaan/pembuatan barang, jasa atau kombinasinya melalui proses transformasi dari masukan sumber daya produksi menjadi keluaran yang diinginkan. Manajemen operasi terdiri dari dua kata yaitu manajemen dan operasi. Menurut Pangestu Subagyo (2000 : 1) Manajemen adalah tindakan untuk mencapai tujuan yang dilakukan dengan mengkoordinasi kegiatan orang lain. Fungsi-fungsi atau kegiatan-kegiatan manajemen meliputi perencanaan, organisasi, koordinasi,

pengarahan dan pengawasan. Operasi adalah kegiatan mengubah bentuk untuk menambah manfaat atau menciptakan manfaat baru dari suatu barang atau jasa. Sehingga pengertian manajemen operasi adalah penerapan ilmu manajemen untuk mengatur kegiatan produksi atau operasi agar dapat dilakukan secara efisien. Menurut Eddy Herjanto (2003 : 3) Manajemen Operasi adalah penggunaan fungsi manajemen dalam mengoperasikan kegiatan sumber daya produksi baik yang menghasilkan barang maupun jasa. Menurut Jay Heizer dan Barry Render (2005 : 4) Manajemen operasi adalah serangkaian aktivitas yang menghasilkan nilai dalam bentuk barang dan jasa dengan mengubah input menjadi output. Berdasarkan pengertian dari beberapa ahli diatas maka penulis menyimpulkan bahwa manajemen operasi adalah perapan dari ilmu manajemen yang melaksanakan

34

aktivitasnya atau terfokus pada hasil, dimana menghasilkan suatu nilai dalam bentuk barang dan jasa secara efisien.

H. Manajemen Produksi Kegiatan produksi dimaksudkan untuk melakukan suatu aktivitas atau kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa serta kegiatan-kegiatan lainnya yang mendukung atau menunjang untuk mencapai produk tersebut. Berikut adalah beberapa pengertian mengenai manajemen produksi dari beberapa ahli : Sofjan Assauri (2008 : 19) Manajemen Produksi adalah proses pencapaian sumber-sumber daya untuk memproduksi atau menghasilkan barang-barang atau jasa-jasa yang berguna sebagai usaha untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi. Eddy Herjanto (2003 : 3) Manajemen Produksi adalah kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa yang telah direncanakan oleh perusahaan untuk ditawarkan kepada konsumen. T. Hani Handoko (2008 : 3) Manajemen Produksi adalah usaha-usaha pengelolaan secara optimal penggunaan sumber daya dalam proses transformasi bahan mentah menjadi berbagai produk atau jasa. Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka penulis menyimpulkan bahwa manajemen produksi adalah suatu aktivitas atau kegiatan mengelola sumber daya-

35

sumber daya untuk menghasilkan suatu barang atau jasa sebagai produk dari perusahaan tersebut untuk nantinya ditawarkan kepada konsumen-konsumen.

I. Teori Uji Bertanda Wilcoxon (The Signed Rank Test) Uji urutan bertanda Wilcoxon pertama kali diperkenalkan oleh Frank Wilcoxon pada tahun 1945 sebagai penyempurnaan dari uji tanda. Pada uji urutan bertanda tersebut, disamping memperhatikan tanda perbedaan (positif atau negatif) juga memperhatikan besarnya beda dalam menentukan apakah ada perbedaan nyata antara data pasangan yang diambil dari sampel atau sampel yang berhubungan. M. Iqbal Hasan (2008 : 304-305). Langkah-langkah pengujian urutan bertanda Wilcoxon ialah sebagai berikut : 1. Menentukan formulasi hipotesis H0 : Jumlah urutan tanda positif dengan jumlah urutan negatif adalah sama (tidak ada perbedaan nyata antara pasangan data). H1 : Jumlah urutan tanda positif dengan jumlah tanda negatif adalah berbeda (ada perbedaan nyata antara pasangan data). 2. Menentukan taraf nyata () dengab T tabelnya. 3. Menentukan kriteria pengujian dimana : H0 diterima apabila T0 T

36

H0 ditolak apabila T < T


0

4. Menentukan nilai uji statistik (nilai T0)

Tahap-tahap pengujian ialah sebagai berikut : a) Menentukan tanda beda dan besarnya tanda beda antara pasangan data. b) Mengurutkan bedanya tanpa memperhatikan tanda atau jenjang. 1) Angka 1 untuk beda yang terkecil dan seterusnya. 2) Jika terdapat beda yang sama, diambil rata-ratanya. 3) Beda nol tidak diperhatikan. c) Memisahkan tanda beda positif dan negatif atau tanda jenjang. d) Menjumlahkan semua angka positif dan angka negatif.
e) Nilai terkecil dari nilai absolut hasil penjumlahan merupakan nilai T0 yaitu

nilai uji statistik.


5. Membuat kesimpulan dimana menyimpulkan H0 diterima atau ditolak.