KENAPA KOPERASI DI NEGARA-NEGARA KAPITALIS/SEMI-KAPITALIS LEBIH MAJU?

1 Tulus Tahi Hamonangan Tambunan FORUM EKONOMI INDONESIA Center for Industry, SME & Business Competition Studies University of Trisakti
1. Latar Belakang Permasalahan Ropke (1987) mendefinisikan koperasi sebagai organisasi bisnis yang para pemilik atau anggotanya adalah juga pelangggan utama perusahaan tersebut (kriteria identitas). Kriteria identitas suatu koperasi akan merupakan dalil atau prinsip identitas yang membedakan unit usaha koperasi dari unit usaha yang lainnya. Berdasarkan definisi tersebut, menurut Hendar dan Kusnadi (2005), kegiatan koperasi secara ekonomis harus mengacu pada prinsip identitas (hakikat ganda) yaitu anggota sebagai pemilik yang sekaligus sebagai pelanggan. Organisasi koperasi dibentuk oleh sekelompok orang yang mengelola perusahaan bersama yang diberi tugas untuk menunjang kegiatan ekonomi individu para anggotanya. Koperasi adalah organisasi otonom, yang berada didalam lingkungan sosial ekonomi, yang menguntungkan setiap anggota, pengurus dan pemimpin dan setiap anggota, pengurus dan pemimpin merumuskan tujuan-tujuannya secara otonom dan mewujudkan tujuan-tujuan itu melalui kegiatan-kegiatan ekonomi yang dilaksanakan secara bersama-sama (Hanel, 1989). Dalam sejarahnya, koperasi sebenarnya bukanlah organisasi usaha yang khas berasal dari Indonesia. Kegiatan berkoperasi dan organisasi koperasi pada mulanya diperkenalkan di Inggris di sekitar abad pertengahan (atau ada yang bilang dimasa revolusi industri di-Inggris) yang diprakarsai oleh seorang industrialis yang sosialis yang bernama Robert Own. Pada waktu itu misi utama berkoperasi adalah untuk menolong kaum buruh dan petani yang menghadapi problem-problem ekonomi dengan menggalang kekuatan mereka sendiri. Berdirinya koperasi buruh tersebut berfungsi membeli barang kebutuhan pokok secara bersama-sama dan memang ternyata bahwa harga di toko koperasi lebih murah jika dibandingkan dengan toko-toko yang bukan koperasi. Ide koperasi ini kemudian menjalar ke AS dan negara-negara lainnya di dunia. Di Indonesia, baru koperasi diperkenalkan pada awal abad 20. Sejak munculnya ide tersebut hingga saat ini, banyak koperasi di negara-negara maju (NM) seperti di Uni Eropa (UE) dan AS sudah menjadi perusahaan-perusahaan besar termasuk di sektor pertanian, industri manufaktur, dan perbankan yang mampu bersaing dengan korporat-korporat kapitalis. Sejarah kelahiran dan berkembangnya koperasi di negara maju (NM) dan negara sedang berkembang (NSB) memang sangat diametral. Di NM koperasi lahir sebagai gerakan untuk melawan ketidakadilan pasar, oleh karena itu tumbuh dan berkembang dalam suasana persaingan pasar. Bahkan dengan kekuatannya itu koperasi meraih posisi tawar dan kedudukan penting dalam konstelasi kebijakan ekonomi termasuk dalam perundingan internasional. Peraturan perundangan yang mengatur koperasi tumbuh kemudian sebagai tuntutan masyarakat koperasi dalam rangka melindungi dirinya. Sedangkan, di NSB koperasi dihadirkan dalam kerangka membangun institusi yang dapat menjadi mitra negara dalam menggerakkan pembangunan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Di Indonesia pengenalan koperasi memang dilakukan oleh dorongan pemerintah, bahkan sejak pemerintahan penjajahan Belanda telah mulai diperkenalkan. Gerakan koperasi sendiri mendeklarasikan sebagai suatu gerakan sudah dimulai sejak tanggal 12 Juli 1947 melalui Kongres Koperasi di Tasikmalaya. Pengalaman di tanah air kita lebih unik karena koperasi yang pernah lahir dan telah tumbuh secara alami di jaman penjajahan, kemudian setelah kemerdekaan diperbaharui dan diberikan kedudukan yang sangat tinggi dalam penjelasan undang-undang dasar. Dan atas dasar itulah kemudian melahirkan berbagai penafsiran bagaimana harus mengembangkan koperasi (Soetrisno, 2003).
1

Seminar Nasional Perkembangan Koperasi di Indonesia: Prospek dan Tantangan, 15 Agustus 2009, Center for Industry, SME & Business Competition Studies/Ilmu Ekonomi, FE-USAKTI, Jakarta.

1

secara makro pertanyaan yang paling mendasar berkaitan dengan kontribusi koperasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). koperasi sebenarnya bukanlah organisasi usaha yang khas berasal dari Indonesia.42% koperasi saja. yang dibahas di makalah ini adalah factor-faktor yang membuat koperasi di NM bisa berkembang dengan baik. keberadaan koperasi masih perlu upaya yang sungguh-sungguh untuk ditingkatkan mengikuti tuntutan lingkungan dunia usaha dan lingkungan kehidupan dan kesejahteraan para anggotanya. maka pertanyaan utama dari makalah ini adalah kenapa koperasikoperasi di NM.180 unit (88. pengentasan kemiskinan. Jadi.1 Fakta Dalam sejarahnya. dalam kata lain.55%. Sejak kemerdekaan diraih. Jumlah koperasi aktif. Kegiatan berkoperasi dan organisasi koperasi pada mulanya diperkenalkan di Inggris di sekitar abad pertengahan. Pada waktu itu misi utama berkoperasi adalah untuk menolong kaum buruh dan petani yang menghadapi problemproblem ekonomi dengan menggalang kekuatan mereka sendiri. misalnya. Oleh karena itu tidak heran kenapa peran koperasi di dalam perekonomian Indonesia masih sering dipertanyakan dan selalu menjadi bahan perdebatan karena tidak jarang koperasi dimanfaatkan di luar kepentingan generiknya. kerjasama untuk kepentingan bersama (gotong royong). Jumlah itu jika dibanding dengan jumlah koperasi per-Desember 1998 mengalami peningkatan sebanyak dua kali lipat. dan beberapa esensi moral lainnya. jumlah koperasi di seluruh Indonesia tercatat sebanyak 103. Kemudian di Perancis yang didorong oleh gerakan kaum buruh yang tertindas oleh kekuatan kapitalis sepanjang abad ke 19 dengan tujuan utamanya 2 . Menurut Merza (2006).000 orang. Sampai dengan bulan November 2001. Di dalamnya terkandung muatan menolong diri sendiri. Sangat banyak orang mengetahui tentang koperasi meski belum tentu sama pemahamannya. Data terakhir tahun 2006 ada 138. dan ketergantungan koperasi terhadap bantuan dan perkuatan dari pihak luar. Juga. setelah lebih dari 50 tahun keberadaannya. tetapi sekaligus diharapkan menjadi penyeimbang terhadap pilar ekonomi lainnya.000 unit lebih. tetapi yang aktif mencapai 28. Strata ini biasanya berasal dari kelompok masyarakat kelas menengah kebawah. Keberadaan koperasi sebagai lembaga ekonomi rakyat ditilik dari sisi usianyapun yang sudah lebih dari 50 tahun berarti sudah relatif matang. sebanyak 96. sebab tidak satu lembaga sejenis lainnya yang mampu menyamainya. sedangkan yang menjalan rapat tahunan anggota (RAT) hanya 35.730. diyakini sangat sesuai dengan budaya dan tata kehidupan bangsa Indonesia. Namun uniknya. Hingga tahun 2004 tercatat 130. kualitas perkembangannya selalu menjadi bahan perdebatan karena tidak jarang koperasi dimanfaatkan di luar kepentingan generiknya. yang sering dikatakan sebagai ekonomi-ekonomi yang kapitalis yang tidak cocok bagi pengembangan koperasi. juga mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan.000. masih sangat besar. Lembaga koperasi oleh banyak kalangan. dengan jumlah keanggotaan ada sebanyak 26. apalagi juga hanya sebagian kecil dari populasi bangsa ini yang mampu berkoperasi secara benar dan konsisten. lembaga yang namanya koperasi yang diharapkan menjadi pilar atau soko guru perekonomian nasional dan juga lembaga gerakan ekonomi rakyat ternyata tidak berkembang baik seperti di negara-negara maju (NM). Berdasarkan fenomena tersebut di atas. dan penciptaan lapangan kerja.14 persen). Sedangkan secara mikro pertanyaan yang mendasar berkaitan dengan kontribusi koperasi terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan anggotanya. Jumlah koperasi aktif perNovember 2001. Eksistensi koperasi memang merupakan suatu fenomena tersendiri.Lembaga koperasi sejak awal diperkenalkan di Indonesia memang sudah diarahkan untuk berpihak kepada kepentingan ekonomi rakyat yang dikenal sebagai golongan ekonomi lemah. di Indonesia. Perkembangan Koperasi di dalam Ekonomi Kapitalis dan Semi Kapitalis 2. sedangkan di Indonesia dimana keberadaan koperasi dikaitkan dengan idologi Pancasila malahan tidak berkembang baik? Jadi. bisa maju.703 unit.411 unit dengan anggota 27. terutama Pemerintah. 2.342 orang akan tetapi yang aktif 94.042. berdasarkan data Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM). dari segi kualitas. organisasi koperasi selalu memperoleh tempat sendiri dalam struktur perekonomian dan mendapatkan perhatian dari pemerintah. Pangsa koperasi dalam berbagai kegiatan ekonomi masih relatif kecil.708 unit dan yang tidak aktif sebesar 43.

Peraturan perundangan yang mengatur koperasi tumbuh kemudian sebagai tuntutan masyarakat koperasi dalam rangka melindungi dirinya. dan China. Menurut sektor. yakni sekitar 32.8%).7%). baru koperasi diperkenalkan pada awal abad 20.651 17. masing-masing pada posisi ke 9. disusul oleh ritel (24.669 21. sebagian besar dari 300 koperasi terbesar itu adalah koperasi-koperasi industri makanan dan pertanian. lima (5) besar negara di mana sumbangan dari koperasi terhadap produk domestik bruto (PDB) terbesar adalah dari NM (Tabel 2).898 46.102 86.914 23. Dalam kasus Indonesia. Yang sangat menarik dari laporan ini adalah bahwa sebagian besar dari 300 koperasi terbesar itu berasal dari NM. Ide koperasi ini kemudian menjalar ke AS dan negara-negara lainnya di dunia. Perancis dan Inggris. Di NM koperasi lahir sebagai gerakan untuk melawan ketidakadilan pasar. Italia. dan memberi jaminan kehidupan bagi sekitar 3 miliar orang.6%. Spanyol. baik oleh pemerintah kolonial maupun pemerintahan bangsa sendiri setelah kemerdekaan (Soetrisno. Dengan nilai ini. terutama Amerika Utara.218 1. Sejarah kelahiran dan berkembangnya koperasi di NM dan NSB memang sangat diametral. Diperkirakan koperasi-koperasi di dunia secara total mengerjakan lebih dari 100 juta orang. Sedangkan. hal ini ditegaskan di dalam Undang-undang (UU) Dasar 1945 Pasal 33 mengenai sistem perekonomian nasional. 2001).155 Total aset (dollar AS) 14.1. Sejak munculnya ide tersebut hingga saat ini. di dunia ada sekitar 800 juta orang yang menjadi anggota koperasi.556 15. 2006). dan perbankan yang mampu bersaing dengan korporat-korporat kapitalis. 1993).656 25. Oleh karena itu kesadaran antara kesamaan dan kemuliaan tujuan negara dan gerakan koperasi dalam memperjuangkan peningkatan kesejahteraan masyarakat ditonjolkan di NSB. industri manufaktur.746 31. Jerman.986 14.164 3 . Berbagai peraturan perundangan yang mengatur koperasi dilahirkan dan juga dibentuk departemen atau kementerian khusus yakni Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah dengan maksud mendukung perkembangan koperasi di dalam negeri. Sebanyak 300 koperasi terbesar di dunia (Global 300) berdasarkan nilai omset memiliki nilai aset sekitar 30-40 triliun dollar AS dan omset tahunan 963 miliar dollar AS. dan keuangan/asuransi (21.711 22.161 157. Bahkan dengan kekuatannya itu koperasi meraih posisi tawar dan kedudukan penting dalam konstelasi kebijakan ekonomi termasuk dalam perundingan internasional. Di Indonesia. UE dan Jepang. Tabel 1: Sepuluh Besar Koperasi di Dunia Nama Zen-Noh (National Federation of Agricultural Co-operatives) 2 Zenkyoren 3 Crédit Agricole Group 4 Nationwide Mutual Insurance Company 5 National Agricultural Cooperative Federation (NACF) 6 Groupama 7 Migros 8 The Co-operative Group 9 Edeka Zentrale AG 10 Mondragon Corporation Sumber: ICA (2006) No 1 Negara Jepang Jepang Perancis AS Korea Perancis Swis Inggris Jerman Spanyol Tahun didirikan 1948 1951 1897 1925 1961 1899 1925 1863 1898 1956 Omset (dollar AS) 53. dari NSB.680 32. setelah Kanada.951 398. 2. di NSB koperasi dihadirkan dalam kerangka membangun institusi yang dapat menjadi mitra negara dalam menggerakkan pembangunan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.7. Masih menurut laporan ICA (2006) tersebut. 300 koperasi tersebut sebagai satu kelompok menjadi ekonomi terkuat no 10 di dunia untuk periode 2004. hanya Korea yang masuk di dalam daftar 10 besar.779 16.657 14.dan 6. Pada posisi teratas adalah AS.1 Di Tingkat Dunia Menurut data dari laporan tahunan 2006 dari International Co-operative Alliance (ICA. 8.314 177.membangun suatu ekonomi alternatif dari asosiasi-asosiasi koperasi menggantikan perusahaan-perusahaan milik kapitalis (Moene dan Wallerstein.215 4. banyak koperasi di negara-negara maju (NM) seperti di Uni Eropa (UE) dan AS sudah menjadi perusahaanperusahaan besar termasuk di sektor pertanian. Seperti yang dapat dilihat di Tabel 1. oleh karena itu tumbuh dan berkembang dalam suasana persaingan pasar. disusul oleh Jepang.235. Sekitar 20% lebih dari jumlah koperasi yang ada diciptakan oleh perusahaan-perusahaan multinasional.

Pada tahun 1995. Di Finlandia. Di Inggris. 50% dari produksi telor. Sedangkan di Irlandia. dan pertanian merupakan sektor di mana peran koperasi sangat besar.2 9. Kredit sebagai kebutuhan universal bagi umat manusia terlepas dari kedudukannya sebagai produsen maupun konsumen dan penerima penghasilan tetap atau bukan adalah anggota potensial dari koperasi kredit (Soetrisno. Austria. Pangsa PDB (%) 16. dan koperasi-koperasi kehutanan bertanggung jawab untuk 76% dari produksi kayu. Misalnya. 2001). 260 anggota. yakni Baywa (fungsi multi) dengan penghasilan 3. koperasi S-Group punya 1. Di sektor perbankan di negara-negara seperti Perancis. Di Denmark. dan pada tahun 1995 satu koperasi pertaniannya dari subsektor susu masuk 20 besar di EU. Finlandia dan Siprus. 47 anggota dan 5. dengan jumlah anggota tercatat sebanyak 18 ribu orang dan memberi kesempatan kerja ke 300 orang. dua koperasinya yang masuk di dalam 20 koperasi pertanian terbesar di Uni Eropa (UE) adalah Metsaliitto (kayu) dengan penghasilan 3.Tabel 2: Lima Besar Negara dengan Pangsa PDB terbesar dari Koperasi Negara Finlandia Selandia Baru Swis Belanda Norwegia Sumber: ICA (2006). Di Norwegia. yakni MD Foods (produk-produk susu) dan Danish Crown (daging) masuk 20 koperasi pertanian terbesar di UE berdasarkan nilai omset pada tahun 1995. Milk Marque. Di perdagangan ritel.468.369 miliar ecu.1 13.397 juta ecu. bank koperasi Raifaissen sangat maju dan penting peranannya. anggota 10365 orang. ada dua koperasi dari Jerman yang masuk 20 koperasi pertanian terbesar di UE. Di negara-negara Skandinavia.9 11.5 juta dari jumlah populasi 4.101 pekerja. Koperasikoperasi susu bertanggung jawab untuk 99% dari produksi susu. dan Kerry Group (6000) 4 .0 2.572 anggota yang mewakili 62% dari jumlah rumah tangga di negara tersebut. dengan kantor-kantor cabangnya di kota maupun desa.946 pekerja. dan mengerjakan 6020 orang. Grup-grup koperasi dari Pellervo bertanggung jawab untuk 74% dari produk-produk daging.0 10.8 juta orang adalah anggota koperasi. koperasi menjadi soko guru perekonomian dan mempunyai suatu sejarah yang sangat panjang. dan Valio (produk-produk susu) dengan penghasilan 1.133 juta ecu dengan 117. Avonmore (13245). Di Jerman. koperasi-koperasi konsumen memegang 17. penghasilan MD Foods mencapai 1.000.681 miliar ecu dengan 8919 petani sebagai anggota dan mengerjakan 3678 orang.542 juta ecu dan mengerjakan 10794 orang.393. dan menangani sekitar 34. sedangkan Danish Crown hampir mencapai 1. dan 2. dengan omset mencapai 2.577 miliar ecu dengan 12560 orang anggota dan 6965 pekerja. menurut data ICA (1998a). 1999).1. masuk 20 koperasi pertanian terbesar di UE. Sektor lainnya adalah pariwisata. sekitar 20 juta orang (atau 1 dari 4 orang) adalah anggota koperasi.5 persen di Swiss. 96% dari produk-produk susu. koperasi-koperasi pertaniannya yang juga masuk di dalam kelompok besar tersebut adalah The Irish Dairy Board (jumlah anggota: 71). Di Sweden. Suatu studi dari Eurostat (2001) di tujuh negara Eropa menunjukkan bahwa pangsa dari koperasi-koperasi dalam menciptaan kesempatan kerja mencapai sekitar 1 persen di Perancis dan Portugal hingga 3.2 Eropa Di Eropa koperasi tumbuh terutama melalui koperasi kredit dan koperasi konsumen yang kuat hingga disegani oleh berbagai kekuatan. koperasi produk-produk susu. Bahkan 2 (dua) bank terbesar di Eropa milik koperasi yakni "Credit Agricole" di Perancis dan RABO-Bank di Netherlands. koperasi-koperasi konsumen memegang 25% dari pasar. Pada tahun 1995.5% dari pasar pada tahun 2004. koperasi-koperasi konsumsi merupakan pionir dari penciptaan rantai perdagangan ritel modern (Furlough dan Strikwerda. diantaranya menciptakan kesempatan kerja untuk 440 ribu orang.5 juta orang) adalah anggota koperasi. 1 dari 3 orang (atau 1. Salah satu sektor dimana koperasi sangat besar perannya adalah perbankan.790 juta ecu.000 ecu.7% dari jumlah ekspor ikan. Pada tahun 1995. koperasi-koperasi perikanan bertanggung jawab untuk 8.2% dari jumlah deposito di bank-bank di negara tersebut. pada tahun 2004 koperasi-koperasi konsumen meguasai pasar 37% dan dua koperasi pertaniannya. yakni Arla dengan omset 1. Pada tahun itu.783 anggota. dan koperasi yang jumlahnya mencapai 8106 unit telah memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian negara tersebut. Biro perjalanan swasta terbesar di negara itu adalah sebuah koperasi. diperkirakan sekitar 9. pangsa pasar dari bank-bank koperasi mencapai sekitar 1/3 dari total bank yang ada. dan RHG (fungsi multi) dengan penghasilan 1. 34% dari produk-produk kehutanan.

Untuk koperasi-koperasi yang tidak mengeluarkan dividen.900 ribu ecu. Dairy Farmers of America.3 juta ecu hingga 1. industri. Fasilitas untuk ‘mengunci’ secara legal aset-aset dari sebuah koperasi dengan cara ini mulai diberlakukan pada tahun 2004. dan UNCAA untuk input-input dan produk-produk daging dengan omset 1. pada tahun 2001 tercatat jumlah koperasi mencapai 29.T. surplus dikembalikan ke anggota-anggotanya dalam bentuk bonus atau lainnya sesuai keterlibatan mereka di dalam koperasi. dan suatu saham modal nol atau nominal. Sekitar 90% lebih distribusi listrik desa di AS dikuasai oleh koperasi. tiga koperasi di Perancis masuk 20 koperasi pertanian terbesar di EU.527. Salah satu koperasi yang sangat besar adalah koperasi kredit (credit union) yang jumlah anggotanya mencapai sekitar 80 juta orang dengan rata-rata jumlah simpanannya 3000 dollar (Mutis. 5 . 2 Di Inggris. misalnya dalam pemantauan kepemilikan saham karyawan dan menyalurkan gaji karyawan. 79% dari sapi. Data 2002 menunjukkan bahwa pada tahun itu. 2. Dengan demikian pabrik Coca Cola cukup membeli sunkis dari koperasi Sunkis yang dimiliki oleh para petani sunkis (Mutis.1 miliar ecu (Campina). yang dimiliki oleh anggota dan memberikan layanan kepada anggotanya pula (Mulyo. tetapi bentuk-bentuk legal lainnya juga digunakan. Lebih dari 30 koperasi punya penghasilan tahunan lebih dari 1 miliar dollar AS. di AS 1 dari 4 orang (atau sekitar 25% dari jumlah pendudu) adalah anggota koperasi. dengan penghasilan paling kecil 1. Ada banyak koperasi yang juga membayarkan dividen kepada anggota sesuai saham mereka di koperasi. walaupun negaranya sangat kecil.933 unit. 2005). yakni Campina Melkunie (produk-produk susu).346 miliar ecu (VTN) hingga terbesar 3. 2001).3 juta ecu. 2001). koperasikoperasi pertanian bertanggung jawab untuk 72% dari produksi susu.yang semuanya di bidang produksi susu dengan omset antara 1.5%. Belanda. Jumlah ini paling besar di antara kelompok NM.. tetapi koperasinya sangat maju. dan Greenery/VTN (buah-buahan dan sayur-sayuran). Di negara-negara Eropa Timur.1. Belanda juga punya banyak koperasi yang berkecimpung di sektor pertanian yang masuk 20 koperasi pertanian terbesar di UE. Dalam suatu upaya untuk tetap bisa bertahan. Di Slovakia. pertanian dan enerji. Jumlah kesempatan kerja yang diciptakan oleh ketiga koperasi susu tersebut mencapai antara 2010 hingga 6426 orang. yang dibatasi oleh saham-saham atau oleh garansi. Mayoritas perdagangan bunga di negara ini digerakkan oleh koperasi bunga yang dimiliki oleh para petani setempat. bersama dengan suatu ketentuan yang menetapkan pembubaran altruistik. Di negara tetangganya Belgia. Cebeco Handelsrand (input dan produksi pertanian). Koperasi Sunkis di California mensuplai bahan dasar untuk pabrik Coca Cola. Misalnya. Koperasi di pertanian terfokus pada kegiatankegiatan berikut ini: pemasaran produk-produk pertanian. Friesland Dairy Foods (produk-produk susu). dan Land O’ Lakes. Selain di sektor kredit. dan yang terkait dengan pelayanan-pelayanan petani lainnya.3 Amerika Utara Sementara itu.6 miliar ecu. 2004). Di Slovenia. Begitu pentingnya peran koperasi kredit ini sehingga para buruh di Amerika Serikat (seperti juga di Kanada) sering memberikan julukan koperasi kredit sebagai “bank rakyat”. kebanyakan koperasi adalah dalam bentuk perusahaan-perusahaan P. Salah satu adalah Rabo Bank milik koperasi yang adalah bank ketiga terbesar dan konon bank ke 13 terbesar di dunia. dan koperasi farmasinya memiliki pangsa pasar sekitar 19. Socopa untuk daging dengan 1. Farmland. Contoh lain adalah perdagangan bunga. pemasokan bahan baku/input. Demeco (daging). 2 Di Perancis jumlah koperasi tercatat sebanyak 21 ribu unit yang memberi pekerjaan kepada 700 ribu orang. yakni Sodiaal untuk produkproduk susu dengan omset hampir mencapai 2. sejak tahun 1980an banyak koperasi yang masuk di dalam Undang-undang perusahaan. 45% dari gandum.3Beberapa koperasi pertanian yang sangat maju di AS adalah Agrilink. Mereka menguasai kurang lebih 28% hingga 30% pangsa pasar (Zeuli dan Cropp. sehingga pabrik tersebut tidak perlu membuat kebun sendiri. dan 77% dari produksi kentang. koperasi-koperasi susu bertanggung jawab untuk 75% dari produksi susu di dalam negeri.19 juta petani sebagai anggotanya (banyak dari mereka menjadi anggota dari lebih dari 1 koperasi.523. banyak koperasi yang mengadopsi prinsip dari ‘kepemilikan bersama’. koperasi-koperasi konsumen bertanggung jawab terhadap 14. jumlah anggota paling sedikit 50 orang (Cebeco) dan terbanyak 17850 orang (VTN) dan jumlah pekerja paling sedikit 3000 orang (Dumeco) dan terbanyak 7490 orang (Friesland). Namun demikian. bentuk koperasi-koperasi tradisional adalah yang disebut 'bona fide co-operative' dibawah undang-undang Industrial and Provident Societies.99 miliar ecu. Pada tahun 1995 berdasarkan omset tahunannya. terdapat lebih dari 700 koperasi yang mengerjakan hampir 75 ribu orang. 3 Di AS. Koperasi di AS terutama sangat penting di pertanian. Di Negara Paman Sam ini koperasi kredit berperan penting terutama di lingkungan industri. Coberco (produk-produk susu).463. Di Polandia. sedangkan di Italia terdapat 70400 koperasi yang mengerjakan hampir 1 juta orang pada tahun 2005. koperasi juga sangat maju. di Hongaria.4% dari makanan nasional dan penjualan-penjualan eceran umum pada tahun 2004. Ini artinya bahwa koperasi tidak dapat diakhiri dan aset-asetnya didistribusikan untuk keuntungan pribadi. ada sekitar 27 ribu lebih koperasi pertanian dengan sekitar 156. koperasi di AS juga kuat di sektor-sektor lainnya termasuk. Cenex Harvest States.

342. 2002 Sektor Pertanian Perdagangan besar/Groseri Keuangan Komunikasi enerji Peringkat keras dan lumber Lainnya Sumber: Zeuli dan Cropp (2002).000 Co-operative Limited 5 5 Calgary Co-op Assn Ltd.8 6. sekitar 70% dari jumlah penduduk adalah anggota koperasi.682. 100 koperasi terbesar di AS. sebanyak 250 ribu produsen mandiri tergantung pada pemasaran dan produksi koperasi untuk kehidupan mereka.785. Koperasi-koperasi non-keuangan menghasilkan omset mendekati 30 miliar dollar Kanada rata-rata/tahun.php?s1=info_coop&page=intro).gc. Jumlah koperasi 41 18 12 16 6 7 Omset (juta dollar AS) 58 26.000 1. Banyak koperasinya yang memiliki pangsa yang cukup besar di pasar global. di Kanada 4 dari setiap 10 orang (atau sekitar 33% dari jumlah populasinya) adalah anggota paling sedikit satu koperasi.006. atau sekitar 4 dari setiap 10 penduduk di negara tersebut. banyak koperasi mendirikan industri pupuk dan di sektor pertambangan. Paling tidak. yang dimiliki oleh anggota dan masyarakat yang dilayaninya. minyak. secara individu menciptakan paling sedikit 346 juta dollar AS dan dalam total mencapai 119 miliar dollar AS pada tahun tersebut (Zeuli dan Cropp. tingkat survival jangka panjang dari perusahaanperusahaan koperasi hampir dua kali lipat dari perusahaan-perusahaan non-koperasi.749 Aset ($) 2.361. Misalnya koperasi-koperasi gula menguasai sekitar 35% dari produksi gula dunia. Di propinsi ini sendiri.) Sumber: Pemerintah Kanada (http://www. perikanan.413.117. barang-barang konsumen. Koperasi-koperasi di Kanada terutama sangat penting di perdesaan dan wilayahwilayah terpencil. Hal yang sangat menarik adalah bahwa.000 (Alta.agr.000 313. bahan-bahan bangunan Supermarket.000 United Farmers of Alberta 1. penyulingan minyak. dan di Saskatchewan sekitar 55% dari jumlah populasinya. memberikan pelayanan kepada 120 juta anggota. menurut suatu penelitian tahun 2001 yang dilakukan oleh Menteri Industri dan Perdagangan Québec (dikutip dari ICA).175.5 Menurut ICA. Di sektor pertanian. diperingkat menurut omset. bahan-bahan kebutuhan produksi pertanian/petani.1 10.7 8.959. kerajinan. banyak koperasi yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan pengeboran minyak bumi. Koperasi-koperasi di Kanada memiliki aset dengan nilai lebih dari 20 miliar dollar Kanada. Tabel 4: Lima Besar Koperasi Non-Keuangan di Kanada berdasarkan Omset Peringkat 2006 2005 1 1 2 3 4 2 3 4 Nama Federated Co-operatives Limited.Pada tahun 2002 jumlah koperasi di negara adi daya ini tercatat mencapai 48 ribu unit di hampir semua jalur bisnis.000 845. Minyak. dan sejumlah koperasi keuangan dinilai sebagai tempat terbaik untuk bekerja di negara itu. 925. dan manufaktur lainnya. Gerakan koperasi the Desjardins (koperasi tabungan dan kredit) dengan lebih dari 5 juta anggota adalah pencipta kesempatan kerja terbesar di Propinsi Québec. farmasi. bahan-bahan bangunan Makanan.000 549.058. bahan-bahan baku keperluan petani Produk-produk makanan seperti susu dll.543. Koperasi (termasuk koperasi kredit atau credit union) mengerjakan lebih dari 160 ribu orang.000 Kegiatan Utama Agropur Coopérative 2.624. La Coop fédérée Total Omset ($) 5.000 3. Lima besar koperasi non-keuangan di Kanada berdasarkan omset diperlihatkan di Tabel 4.284.ca/rcs-src/coop/index_e. biro perjalanan 6 .004. Tabel 3: 100 Koperasi terbesar menurut Omset dan Sektor Bisnis di AS.2 9. Jumlah koperasi di negara tersebut mencapai 8800 unit yang mempekerjakan secara langsung 150 ribu orang. Di seluruh negara itu.759. minyak. dimana mereka memenuhi kebutuhan produsen-produsen di pertanian.699. 2002) (Tabel 3). 7 koperasi masuk di dalam 500 besar perusahaan-perusahaan Kanada. Grosir.

FCG melalui Kiwi Dairies dan NZDG memiliki sejumlah merek konsumen yang sangat kuat. dan menghasilkan output sebanyak 11 miliar dollar AS.1. Kedua tujuan ini mempromosikan penggabungan dua tipe yang teridentifikasi dari penghematanpenghematan biaya-biaya. 2002). (4) FCG punya suatu hubungan kontraktual dengan produsen-produsennya yang harus punya satu bagian dari stok susu FCG untuk setiap kilo dari susu yang akan diserahkannya. dan perusahaan susu terbesar ke empat di dunia (http://fonterra. Koperasi-koperasi pertanian menghasilkan output sekitar 90 miliar dollar AS dengan 91% dari jumlah petani di negara tersebut sebagai anggota. FCG adalah korporasi terbesar di SB. Koperasi menjadi wadah perekonomian pedesaan yang berbasis pertanian. selain di SB. koperasi-koperasi tersebut tidak hanya mampu selama ini bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar non-koperasi. dan Tip Top. dan dua yang kecil berbasis regional yang beroperasi di SB. 2004). FCG cocok dengan definisi dari suatu generasi baru dari koperasi dalam banyak hal: (1) koperasi tersebut dimiliki dan diawasi oleh pemakai (dengan pemberian suara berdasarkan jumlah susu yang diserahkan bukan berdasarkan satu orang-satu suara). Seperti telah dijelaskan di atas bahwa koperasi lahir pertama kali di Eropa yang juga merupakan tempat lahirnya sistem ekonomi kapitalis. yang berarti juga harga jual rata-rata per satu unit output menjadi murah. tetapi mereka juga menyumbang terhadap kemajuan ekonomi dari negara-negara kapitalis tersebut. peran koperasi juga sangat besar. Kedua. Kanada dan Finlandia mampu menjadi pesaing terkuat perusahaan raksasa ritel asing yang mencoba masuk ke negara tersebut (Mutis. Tahun 1996 ada 14 koperasi susu di SB. Negosiasi-negosiasi antara Kiwi dan NZDG yang akhirnya membuat terbentuknya FCG sangat lama dan alot. koperasi-koperasi pertanian punya anggota lebih dari 2 juta petani (90% dari jumlah petani). mereka berusaha untuk mengarahkan perusahaannya agar berbentuk koperasi. Tahun 2000.300 anggota dan fasilitasfasilitas produksi di Brazil dan Australia. Misalnya dari Trechter (2005) mengenai the Fonterra Cooperative Group (FCG) di Selandia Baru (SB) dan the Australian Wheat Board (AWB). (3) FCG bukan sepenuhnya suatu koperasi berdasarkan keanggotaan karena koperasi itu harus menerima pemasok-pemasok baru. yang berarti biaya ratarata. pemasaran susu di SB telah berubah dari suatu sektor yang terfrakmentasi ke dalam sejumlah koperasi yang saling bersaing ke satu sektor yang didominasi oleh satu koperasi. Menurut website-nya.com). Koperasi-koperasi konsumennya memegang 55% dari pasar dalam pembelian-pembelian supermarket dan mempunyai suatu penghasilan sebesar 700 juta dollar AS. Tujuan utama dari didirikannya FCG adalah untuk mencapai penghematan biaya-biaya dan untuk menyediakan suatu landasan yang lebih efektif untuk bisa bersaing di pasar-pasar susu global. 2. Koperasi konsumen di Singapura. menyumbang sekitar 20% dari cadangan devisa SB. Kiwi Cooperative Dairies (Kiwi) dan New Zealand Dairy Group (NZDG) mendominasi industri susu di SB dan mereka adalah pesaing-pesaing berat. FCG punya sekitar 12. penggabungan itu diharapkan bisa membuat FCG mampu merealisasikan skala ekonomis. Bahkan salah satu bank besar di Jepang adalah koperasi. Di Korea Selatan. Bahkan di beberapa negara tersebut. Dalam suatu jangka waktu yang relatif pendek. Banyak studi-studi kasus atau laporan-laporan mengenai keberhasilan dari koperasi-koperasi di NM. Peters and Brownes. FCG secara cepat memperluas pengaruhnya di pasar susu di Australia dengan membeli Australian Food Holdings.2 Faktor-faktor Keberhasilan: Pembelajaran Bagi Koperasi Indonesia Hebatnya perkembangan dari koperasi-koperasi di negara-negara maju tersebut memberi kesan bahwa koperasi tidak bertentangan dengan ekonomi kapitalis. yakni bank Nurinchukin bank (Rahardjo. diantaranya Anchor. dengan 7% dari PDB negara itu. Sebaliknya. 1 dari setiap 3 keluarga adalah anggota koperasi. Fasilitas-fasilitas dan posisi-posisi yang duplikat dieliminasi lewat penggabungan itu. Peran koperasi di pedesaan Jepang telah menggantikan fungsi bank sehingga koperasi sering disebut pula sebagai “bank rakyat” karena koperasi tersebut beroperasi dengan menerapkan sistem perbankan. bagian dari National Food dan upaya-upaya yang sedang dilakukan untuk memperluas kepemilikannya dari Koperasi Bonlac dari 25% ke 50%. Di negara-negara Asia lainnya dengan tingkat pembangunan ekonominya yang sudah relatif tinggi seperti Singapura dan Korea Selatan. Dengan membangun perusahaan yang berbentuk koperasi diharapkan masyarakat setempat mempunyai peluang besar untuk memanfaatkan potensi dan asset ekonomi yang ada di daerahnya (Mulyo. Koperasi-koperasi di subsektor perikanan memiliki pangsa 71%. seperti juga di misalnya Jepang. 2003). Pendirian FCG waktu itu diharapkan bisa meningkatkan kemampuan dari industri susu SB untuk bersaing di pasarpasar internasional. (2) keuntungan-keuntungan dibagikan berdasarkan pemakaian. Sekarang hanya ada satu koperasi susu yang besar. 7 . Pertama. yakni FCG .4 Asia Di Jepang. rasionalisasi dari rantai suplai diharapkan dapat menciptakan penghematanpenghematan yang substansial. Di Singapura 50% dari jumlah populasinya adalah anggota koperasi.2.

dan mempersentasikan laporan-laporan keuangan secara regular. Di dalam konteks Australia dan pasar gandum global. dan (5) terlibat aktif dalam produk-produk yang mempunyai tren-tren yang meningkat atau prospek-prospek masa depan yang bagus (jadi mengembangkan kesempatan yang sangat tepat).tanggung jawab yang didefinisikan secara jelas. (4) mempertahankan relasi-relasi yang baik antara manajemen dan dewan direktur/pengurus dengan tugastugas dan tanggung jawab. Menurut mereka. sedangkan perusahaan non-koperasi harus mengeluarkan uang untuk mencari bahan baku murah. dsb. (2) menerapkan struktur organisasi yang tepat yang merefleksikan dan mempromosikan suatu kultur terbaik yang cocok terhadap bisnis bersangkutan (antara lain kondisi pasar/persiangan dan sifat produk atau proses produksi dari produk bersangkutan). ringan. Tetapi ini juga bisa ditiru/dilakukan oleh perusahaan-perusahaan lain (nonkoperasi). Menurutnya. lewat anggotanya koperasi tersebut bisa melacak bahan baku yang lebih murah. (2) pengetahuan yang unik mengenai produk atau proses produksi. (3) kreatif dalam pendanaan (jadi tidak hanya tergantung pada kontribusi anggota. reputasi. dan (4) punya pendanaan yang cukup. Sedangkan menurut Pitman (2005) dari hasil penelitiannya terhadap kinerja berbagai macam koperasi di Wisconsin (AS). penemuan-penemuan material baru yang bisa menghasilkan output lebih murah. dan pengambil keputusan yang demokrasi. Dalam menghadapi perubahan-perubahan tersebut. Pada tahun 2001 AWB ekspor lebih dari 15 juta mt. (3) melakukan rapat-rapat atau pertemuan-pertemuan bisnis dengan memakai agenda yang teratur. tetapi juga lewat penjualan saham ke nonanggota atau pinjam dari bank). koperasi yang berhasil adalah koperasi yang melakukan hal-hal berikut ini: (1) memakai komite-komite. (2) selalu memberikan informasi yang lengkap dan up to date kepada anggota-anggotanya sehingga mereka tetap terlibat dan suportif.Karakteristik penting lainnya dari FCG adalah bahwa koperasi tersebut mempunyai suatu fokus yang kuat pada pembuatan produk-produk yang bervariasi yang menciptakan kesetiaan pembeli dan harga premium. AWB adalah pemain utama. Loyd (2001) menegaskan bahwa koperasi-koperasi perlu memahami apa yang bisa membuat mereka menjadi unggul di pasar yang mengalami perubahan yang semakin cepat akibat banyak faktor multi termasuk kemajuan teknologi. salah satu yang harus dilakukan koperasi untuk bisa memang dalam persaingan adalah menciptakan efisiensi biaya. Jadi. Didirikan oleh pemerintah Australia pada tahun 1939 dan memberikan otoritas untuk mengekspor gandum. AWB memegang saham terbesar kedua (17%) dari penjualan-penjualan di pasar gandum global. AWB punya saham 3% dari jumlah ekspor dan 12% dari ekspor pertanian Australia. Faktor-faktor keunggulan kompetitif dari koperasi harus datang dari: (1) sumber-sumber tangible seperti kualitas atau keunikan dari produk yang dipasarkan (misalnya formula Coca-Cola Coke) dan kekuatan modal. kemajuan teknologi. baik kualitasnya. dan makin banyaknya pesaingpesaing baru dalam skala yang lebih besar. 8 . (6) mengembangkan aliansi-aliansi dengan koperasikoperasi lainnya.nya. dan (iii) kapabilitas atau kompetensi-kompetensi inti yakni kemampuan yang kompleks untuk melakukan suatu rangkaian pekerjaan tertentu atau kegiatan-kegiatan kompetitif (misalnya proses inovasi dari 3M). prosedur-prosedur parlemen. (5) mengikuti praktek-praktek akutansi yang baik. (ii) sumber-sumber bukan tangible seperti brand name.. menurutnya. dan (7) mengembangkan kebijakan-kebijakan yang jelas terhadap konfidensial dan konflik kepentingan. Pada tahun 2001. dll. Keunggulan kompetitif disini didefinisikan sebagai suatu kekuatan organisasional yang secara jelas menempatkan suatu perusahaan di posisi terdepan dibandingkan pesaing-pesaingnya. (4) terapkan suatu strategi yang cemerlang yang bisa merespons secara tepat dan cepat setiap perubahan pasar. AWB juga memiliki suatu sejarah yang panjang. kriteria-kriteria kunci untuk memulai suatu koperasi yang berhasil adalah sebagai berikut: (1) memiliki kepemimpinan yang visioner yang bisa “membaca” kecenderungan perkembangan pasar. dan (4) mempunyai orientasi bisnis yang kuat. di koperasi produksi komoditas-komoditas pertanian. mengatakan bahwa koperasi harus memiliki keunggulan-keunggulan kompetitif dibandingkan organisasi-organisasi bisnis lainnya untuk bisa menang dalam persaingan di dalam era globalisasi dan perdagangan bebas saat ini. (3) punya suatu misi yang didefinisikan secara jelas dan fokus. faktor-faktor kunci yang menentukan keberhasilan koperasi adalah: (1) posisi pasar yang kuat (antara lain dengan mengeksploitasikan kesempatan-kesempatan vertikal dan mendorong integrasi konsumen). Misalnya. penasehat-penasehat dan ahli-ahli dari luas secara efektif. (3) sangat memahami rantai produksi dari produk bersangkutan. gandum dan mempunyai pembelipembeli di lebih dari 40 negara. Sedangkan best practices menurut mereka adalah termasuk: (1) anggota sepenuhnya memahami industri-industri atau sektor-sektor yang mereka guleti dan kekuatankekuatan serta kelemahan-kelemahan dari koperasi mereka. Berdasarkan penelitian mereka tehadap perkembangan dari koperasi-koperasi pekerja di AS Lawless dan Reynolds (2004) memberikan beberapa kriteria kunci dan praktek-praktek terbaik. perubahan pola persaingan. (2) struktur organisasi atau pola manajemen yang diterapkan sepenuhnya didukung oleh anggota (sistem manajemen bisa secara kolektif atau dengan suatu struktur hirarki manajemen/dewan pengurus. peningkatan pendapatan masyarakat yang membuat perubahan selera pembeli. dan pola manajemen yang diterapkan (misalnya tim manajemen dari IBM). selain faktor-faktor di atas. ini bukan suatu keunggulan kompetitif yang sebenarnya dari koperasi. Menurutnya satu-satunya keunggulan kompetitif sebenarnya dari koperasi adalah hubungannya dengan anggota. Peterson (2005). tahan lama.

2005). Nello (2000) memberikan sejumlah langkah yang harus diambil agar koperasi pertanian bisa 4 Lihat misalnya Cummins (1993) dan Warman (1994). Tetapi di atas segalanya. Kemudian. koperasi yang bisa berhasil atau paling tidak yang bisa survive dalam era persaingan yang semakin ketat ini. mereka menyimpulkan bahwa langkah-langkah seperti itu adalah sangat tetap agar koperasi-koperasi pertanian bisa survive atau tetap kompetitif dalam kondisi seperti yang digambarkan di atas. masing-masing dengan daya beli yang lebih besar. dewan direktur bertanggung jawab dalam menyeleksi manajer yang berkualitas. (5) pemilik atau dewan direktur bisa memimpin dengan baik (dewan direktur yang lebih banyak diambil dari luar bisa menaikkan kemampuannya untuk membuat keputusan-keputusan strategis) . 9 . dan melakukan aliansi strategis dengan koperasikoperasi lainnya atau dengan perusahaan-perusahaan berorientasi investor. dan (6) punya keinginan menjadi “yang paling hebat di kelompoknya” vs. Perkembangan-perkembangan tersebut memberi kesan bahwa koperasi-koperasi di California mungkin semakin mengalami kesulitan untuk bersaing dalam iklim bisnis pertanian saat ini dengan persaingan yang semakin ketat dari produk-produk luar negeri termasuk dari China. McKenna (2001) menjabarkan sejumlah karakteristik dari koperasi yang berhasil. (3) keputusan-keputusan didasarkan pada informasi yang kredibel. Menurut mereka. Di NM koperasi terutama di pertanian saat ini sedang mengalami perubahan akibat persaingan global yang semakin sengit dan perubahan selera konsumen. para anggota juga harus aktif memonitor kinerja dari koperasi. Industri-industri yang memasok petani (bibit. kualitas dari manajer atau dewan direktur sangatlah krusial. Dan untuk mendapatkan direktur-direktur berkualitas adalah tugas para anggota untuk memilih mereka. Selain itu. akibat persaingan dari produk-produk pertanian dari luar negeri dan perubahan pola konsumsi. Pada tahun 1969 terdapat 2. Pada waktu bersamaan. yang menyisakan lebih sedikit jumlah pemain untuk bersaing mendapatkan bisnis dari sisa produsen yang masih ada. Pada waktu yang sama. Mereka harus memastikan bahwa dengan langkah-langkah yang cepat koperasi mereka bisa mendapatkan keberhasilan-keberhasilan yang maksimum. koperasi-koperasi pertanian tersebut yang menghadapi pembeli yang lebih sedikit. Akhirnya. (6) memakai/mengerjakan manajer professional (ini juga meningkatkan kinerja koperasi). manajemen dan direktur yang efektif dalam arti cepat mengambil suatu keputusan yang tepat dalam merespons terhadap perkembangan-perkembangan bisnis terkait (misalnya perubahan pasar atau masuknya pesaing-pesaing baru) sangat menentukan keberhasilan suatu koperasi. dkk. Dari penemuan tersebut. perusahaanperusahaan kunci di industri-industri tersebut dalam banyak kasus juga merupakan koperasi pemasok-pemasok dan pembeli-pembeli lokal produk-produk pertanian. bersaing lebih agresif satu dengan yang lainnya untuk mendapatkan pembeli/keuntungan. sedangkan banyak lainnya sedang mengalami kesulitan-kesulitan keuangan. “menambah rantai nilai”. RGA dan TVG tutup terutama akibat kombinasi dari sejumlah faktor berikut: (1) kurangnya pendidikan dan pengawasan dari dewan direktur/pengurus. Sebagai tambahan. Ini artinya pilihan menjadi lebih sedikit bagi koperasi saat harus menetapkan membeli dari dan menjual kepada siapa. suatu penurunan 30%. banyak yang merespons dengan melakukan perubahan structural. baik yang sedang berlangsung saat ini maupun kemungkinankemungkinan yang akan terjadi di masa depan. mengembangkan suatu strategi yang kuat. bekerja sama. (2) mempunyai suatu visi yang lebih luas dari hanya memproduksi bahan baku (produsen perlu memahami apa artinya menanam dalam nilai tambah). setiap individu pembeli produk-produk pertanian menjadi sangat penting bagi koperasi koperasi lokal pemasok dan pemasaran produkproduk pertanian. Mereka harus bisa membaca perkembangan tren-tren di pasar domestik dan global. dan pada tahun 1997 jumlahnya merosot ke 1.911.250 petani di negara tersebut.730. adalah yang dipimpin oleh dewan direktur berkualitas. (2000) menemukan banyak manajer-manajer koperasi lokal melakukan perubahan struktural dengan cara bergabung.4 Dari penelitian mereka. Saat seperti ini dimana koperasi-koperasi lokal berjuang untuk menghadapi tantangan-tantangan seperti itu. Sedangkan bagi Anderson dan Henehan (2003). telah terjadi konsolidasi dari produksi pertanian.(Barr. diantara faktor-faktor kunci lainnya. (2) manajemen yang tidak efektif. dan (3) keanggotaan yang pasif.Keeling (2005) meneliti mengapa dalam beberapa tahun belakangan ini banyak koperasi-koperasi besar di California termasuk dua yang terkenal Tri-Valley Growers (TVG) dan the Rice Growers Association (RGA) telah tutup. hasil studi tersebut mendukung hipotesis awal bahwa. Mereka harus bisa merespons secara cepat dan tepat setiap perubahan yang terjadi. Di AS. Diantaranya yang paling menonjol adalah: (1) menerapkan strategi yang rasional yang cocok dengan lingkungan bisnisnya yang berlaku untuk bisa tetap beroperasi.) dan industri-industri pengolahan produk-produk pertanian sedang mengalami suatu periode dari konsolidasi. pupuk dll.859. akuisisi. dewan dan manajemennya. Dari penelitiannya terhadap perkembangan koperasi pertanian dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh koperasi di Uni Eropa (UE). Saat jumlah petani menurun dan jumlah produksi per petani meningkat. Vandeburg. yang mengurangi daya tawar dari koperasi lokal tersebut. Dari pengamatannya terhadap perkembangan koperasi di AS. (4) keuangan baik. ratarata skala usaha petani meningkat. dan mengimplementasikan suatu struktur keuangan yang baik.

khususnya AS dan di beberapa negara di Eropa. yakni: (i) skala usaha koperasi harus layak secara ekonomi. dalam kata lain bagaimana koperasi lokal dan koperasi regional bisa bekerja sama untuk jangka panjang). 2003a. (2) menciptakan kesempatan atau kemampuan petani untuk mengeksploit skala ekonomis dan meningkatkan kapasitas mereka untuk bersaing pada suatu pasar yang lebih besar (misalnya pasar ekspor). 6 Dukungan belanja rumah tangga baik sebagai produsen maupun sebagai konsumen sangat penting untuk menunjang kelayakan bisnis perusahaan koperasi. masalah-masalah struktural dan kontrol. Oktober 29-20. dewan direktur dan organisasi koperasi untuk meningkatkan kepuasan anggota. Selain studi-studi kasus di atas. Masih dalam kaitan ini.edu/uwcc (University of Wisconsin Center for Cooperatives). yang antara lain adalah (1) menghilangkan ketidakunggulan dari petani-petani skala kecil yang terfregmentasi dengan cara membantu mereka untuk mengkonsentrasi suplai.berkembang dengan baik. Pesan paling utama dari Larson untuk koperasi-koperasi lokal adalah bahwa kinerja keuangan yang solid sangat penting. model-model keberhasilan koperasi di dunia umumnya berangkat dari tiga kutub besar. (4) program-program SDM. kesulitan lingkungan-lingkungan ekonomi dan politik. sedikit sekali perhatian diberikan kepada kondisi-kondisi ekonomi dimana koperasi-koperasi diharapkan melakukan berbagai aktivitas. (4) membantu petani untuk bisa memperbaiki kualitas dalam proses produksi. dan dengan cara itu menolong petani untuk memenuhi permintaan-permintaan yang meningkat dari konsumen untuk produk-produk makanan yang bervariasi. dan harapan-harapan yang tidak realistic dari peran dari koperasi. 7 Didaratan Eropa koperasi tumbuh melalui koperasi kredit dan koperasi konsumen yang kuat hingga disegani oleh berbagai kekuatan. menstabilkan harga produsen. kredit (simpan-pinjam) dapat menjadi platform dasar menumbuhkan koperasi. Rangkuman dari hasil Konferensi Tahunan Koperasi-Koperasi Petani. struktur kontrol. (3) mengembangkan atau menyempurnakan strategi dan keahlian pemasaran (mensegmentasikan pasar hanya permulaan). sering kali telah membuat koperasi-koperasi menjadi organisasi-organisasi birokrasi yang sangat tergantung pada dukungan pemerintah dan politik. Faktor-faktor internal terutama adalah keterbatasan partisipasi anggota. (1991) menyimpulkan bahwa buruknya kinerja koperasi di Afrika Sub-Sahara (atau di banyak negara berkembang (NB) pada umumnya) disebabkan oleh sejumlah faktor yang bisa dibedakan antara faktor-faktor eksternal diluar kontrol koperasi dan faktor-faktor internal. penyimpanan dan lain sebagainya sesuai standar-standar internasional yang berlaku. 7(iii) posisi koperasi produsen yang menghadapi dilema bilateral monopoli 5 Hasil lengkapnya (termasuk makalah-makalah dan/atau power point. insentif. Koperasi sering diharapkan bahkan di paksa berfungsi sebagai kesejahteraan sosial dan sekaligus sebagai organisasi ekonomi. kredit seperti di Perancis dan Belanda dan produsen yang berkembang pesat di daratan Amerika. Oleh karena itu. RABO-Bank di Netherlands Nurinchukin 10 . Promosi yang sifatnya dari atas ke bawah telah menghalangi anggota untuk aktif berpartisipasi dalam pembangunan koperasi. Bentuk-bentuk organisasi dan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan diatur oleh pihak luar. dan pendidikan dari anggota. dan spesifik regional (spesialisasi). Dengan membandingkan koperasi perdesaan di Belanda dengan di Afrika Sub-Sahara. Diantaranya dari Larson. Pada akhirnya penjumlahan keseluruhan transaksi para anggota harus menghasilkan suatu volume penjualan yang mampu mendapatkan penerimaan koperasi yang layak dimana hal ini ditentukan oleh rata-rata tingkat pendapatan atau skala kegiatan ekonomi anggota. beberapa pengamat koperasi di Indonesia juga mencoba mengevaluasi keberhasilan koperasi di NM. Nevada (AS)5menghasilkan beberapa butir penting yang disampaikan oleh pembicara-pembicara mengenai tantangan yang dihadapi oleh koperasi pada era sekarang ini.wisc.b. Promosi koperasi yang tidak diskriminatif. Soetrisno melihat ada beberapa syarat agar koperasi bisa maju. Braverman. Sedangkan faktor-faktor eksternal terutama adalah intervensi pemerintah yang terlalu besar yang sering didorong oleh donor. dan kesalahan manajemen. yakni tanpa memberi perhatian pada hal-hal seperti dinamik-dinamik internal. aman. pembungkusan. Misalnya menurut Soetrisno (2001. yakni sebagai berikut: (1) membangun suatu sistem koperasi yang menyatukan peran lokal dan peran regional. 2001 di Las Vegas. Gentil (1990) menegaskan bahwa agar koperasi maju maka hubungan antara pemerintah dan koperasi yang didefinisikan ulang. dan (5) mengembangkan dan melaksanakan suatu strategi e-commerce. 6(ii) koperasi harus memiliki cakupan kegiatan yang menjangkau kebutuhan masyarakat luas.c). Dari evaluasinya. (2) menciptakan penghasilan yang cukup (atau menaikkan profit). (1991). Linstad (1990) mengatakan bahwa di banyak NB sering kali pemerintah melihat dan menggunakan koperasi sebagai suatu alat untuk menjalankan agenda-agenda pembangunannya sendiri. dan meningkatkan kekuatan tawar dari petani-petani (anggotanya). dkk. (5) memperbaiki kinerja manajemen. (3) memperbaiki kualitas dan menaikkan orientasi pasar. koperasi-koperasi harus mempunyai tujuan-tujuan penggerak/peningkatan kinerja. dan (6) menjamin sumber pendanaan yang cukup. Menurut mereka. Bahkan 2 (dua) bank terbesar di Eropa milik koperasi yakni "Credit Agricole" di Perancis.power point dari para pembicara) dari konferensi ini dan konferensi pada tahun-tahun sebelumnya atau sesudahnya dapat dilihat di alamat berikut ini: www. dkk. yaitu konsumen seperti di Inggris. problem yang paling signifikan adalah cara bagaimana koperasi itu dipromosikan oleh pemerintah. yang dengan sendirinya memberi beban sangat berat kepada struktur manajemen koperasi yang pada umumnya lemah. Jadi koperasi telah gagal untuk berkembang menjadi unit-unit yang mandiri dan sepenuhnya berdasarkan anggota. Menurut Braverman.

. dan kebijakan yang digulirkan tidak mendukung pengembangan koperasi rakyat. 3.342 orang akan tetapi yang aktif 94.. 9 Menurutnya. pemerintah kurang menjalankan perannya sebagai pembina koperasi. Koperasi aktif Jumlah . Sumber: Menegkop & UKM Mengenai jumlah koperasi yang meningkat cukup pesat sejak krisis ekonomi 1997/98. Tahun 2006 tercatat ada 138. juga mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan.menjadi akar memperkuat posisi tawar koperasi. pada dasarnya sebagai tanggapan terhadap dibukanya secara luas pendirian koperasi dengan pencabutan Inpres 4/1984 dan lahirnya Inpres 18/1998. namun 30 persennya belum aktif.3 23.6 47. diantaranya 104. sedangkan yang menjalan rapat tahunan anggota (RAT) hanya 35. 8 Soetrisno (2001) mengamati bahwa baik di NSB maupun di NM ada contoh-contoh koperasi yang berhasil yang mempunyai kesamaan yaitu koperasi peternak sapi perah dan koperasi produsen susu. Sehingga orang bebas mendirikan koperasi pada basis pengembangan dan hingga 2001 sudah lebih dari 35 basis pengorganisasian koperasi. Kamis.00 % RAT (% dari koperasi aktif . Misalnya.3 47..999 aktif. salah satu penyebabnya adalah keterbatasan modal yang dialami banyak koperasi untuk mengembangkan usaha mereka. Selama periode 2006-2007.000 103. Jumlah itu jika dibanding dengan jumlah koperasi per-Desember 1998 mengalami peningkatan sebanyak dua kali lipat. tetapi yang aktif mencapai 71.703 unit.738 149.766 117. Hingga tahun 2004 tercatat 130. Sedangkan menurut Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin). jumlah koperasi di seluruh Indonesia tercatat sebanyak 103. Penyebab lainnya..965 141.20 71.9 46.42% koperasi saja. di NM dan NSB nampaknya terletak pada keserasian struktur pasar dengan kehadiran koperasi. Potret Singkat Kinerja Koperasi di Indonesia Berdasarkan data resmi dari Departemen Koperasi dan UKM. sampai dengan bulan November 2001. Menurutnya.730..000. 86. 8dan pendidikan dan peningkatan teknologi menjadi kunci untuk meningkatkan kekuatan koperasi (pengembangan SDM).0 70. Ia memberi contoh. 1998-2007* Periode Des. menurut Soetrisno (2003a. 9Informasi terakhir dari Triyatna (2009).c).. dengan jumlah keanggotaan ada sebanyak 26..042.1 70.180 unit (88. .8 41.180 .50 71. keberhasilan universal koperasi produsen susu. 27.000 koperasi di Indonesia.818 94. Disamping itu hampir di setiap negara menunjukkan adanya koperasi kredit yang kuat seperti Credit Union di Amerika Utara dan lain-lain.000 orang. Hal ini merupakan salah satu imbas kenaikan harga bahan bakar minyak tahun 2004 lalu. Jumlah koperasi aktif. Kredit sebagai kebutuhan universal bagi umat manusia terlepas dari kedudukannya sebagai produsen maupun konsumen dan penerima penghasilan tetap atau bukan adalah "potensial customer-member" dari koperasi kredit (Soetrisno.411 unit dengan anggota 27.7%. perbankan juga kerap tidak berpihak pada koperasi kecil.793 units.001 27.0 78.1% sedangkan laju pertumbuhan koperasi tidak aktif sekitar 5.4 28.3 27. atau sekitar 70% dari jumlah koperasi dan sisanya 44.708 unit dan yang tidak aktif sebesar 43.6 49. jumlah koperasi tahun 2007 mencapai 149.077 110.793 Jumlah anggota (juta orang) . 40.10 bank di Jepang dan lain-lain. yang diberitakan di Kompas..794 non-aktif (Tabel 4). Adi Sasono. kebijakan pemerintah yang menyebabkan koperasi pasar tradisional semakin tersingkir oleh pasar modern. sehingga anggota koperasi kekurangan modal untuk tabungan. baik besar maupun kecil.7 24. Corak koperasi Indonesia adalah koperasi dengan skala sangat kecil.730 132.402 94. jumlah koperasi aktif tumbuh 6. Koperasi kecil kerap kesulitan mendapat pinjaman modal untuk pengembangan usaha. 2001). 93.7 .99 9 * Lihat lampiran untuk data paling akhir (September 2008) dan menurut propinsi.50%.800 93.000 unit lebih. Dengan demikian koperasi terbukti merupakan kerjasama pasar yang tangguh untuk menghadapi ketidakadilan pasar.906 123..1 .708 104.9 76. Jumlah koperasi aktif per-November 2001. sebanyak 96. Corak ketergantungan yang tinggi kegiatan produksi yang teratur dan kontinyu menjadikan hubungan antara anggota dan koperasi sangat kukuh.3 81. Tabel 4: Perkembangan Usaha Koperasi. per 31 Mei 2007 terdapat 138. 1998 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Jumlah unit 52.4 46.181 130. 11 .14 persen).. 96. .5 27.

tetapi hanya menyentuh sebagian dari populasi koperasi yang ada.55 23.71 34.77 54. Untuk volume usaha. Dengan demikian walaupun program pemerintah cukup gencar dan menimbulkan distorsi pada pertumbuhan kemandirian koperasi. Sehingga pada dasarnya masih besar elemen untuk tumbuhnya kemandirian koperasi (Soetrisno. hubungan antara koperasi aktif dan kondisi ekonomi atau pendapatan per kapita bisa positif atau negatif.090 2003 0.122 695 2001 0.72 .63 31.71 37.09 4. pendapatan per kapita yang tinggi yang membuat prospek pasar output baik.7%.872 2004 0.11 Daftar Pustaka Namun demikian. memberi suatu insentif bagi perkembangan aktivitas koperasi karena pelaku-pelaku koperasi melihat besarnya peluang pasar ( ceteris paribus). Menurut data paling akhir yang ada yang dikutip oleh Triyatna (2009). jumlah koperasi dan jumlah koperasi aktif sebagai persentase dari jumlah koperasi bervariasi antar propinsi. 2000 0. Berdasarkan data propinsi 2006.649 2. Tabel 5: Perkembangan Usaha Koperasi. 2000-2006* Periode Rasio modal sendiri dan modal luar Volume usaha (Rp miliar) SHU (Rp miliar) SHU terhadap volume usaha (%) 3.Salah satu indikator yang umum digunakan untuk mengukur kinerja koperasi adalah perkembangan volume usaha dan sisa hasil usaha (SHU).164 2005 0.279 2006 0. jumlah usaha kecil dan menengah (UKM) setiap tahun meningkat? Apakah peningkatan tersebut mencerminkan perkembangan kewirausahaan ( demand-pull) atau suatu refleksi dari tingginya jumlah pengangguran atau tingkat kemiskinan (supply-push). pengorganisasian koperasi tidak lagi taat pada penjenisan koperasi sesuai prinsip dasar pendirian koperasi atau insentif terhadap koperasi. Selama periode 2006-2007.54 5.9% dan modal luar 5. Oleh karena itu jenjang pengorganisasian yang lebih tinggi harus mendorong kembalinya pola spesialisasi koperasi.58 26.8 triliun rupiah tahun 2006. 10 12 . kenapa.. pertumbuhan SHU sekitar 7. Fenomena yang bisa disebut efek demand-pull.1 5.583 1.131 2007 .730 3. pada tahun 2007 jumlah SHU koperasi aktif mencapai 3.1 triliun rupiah tahun 2006. Keadaan ini menimbulkan kesulitan pada pengembangan aliansi bisnis maupun pengembangan usaha koperasi kearah penyatuan vertikal maupun horizontal.684 1. Hingga akhir 2002. nilainya naik dari hampir 23. menurut data BPS. .761 3. menurut Soetrisno (2001).470 miliar rupiah sedangkan modal luar koperasi aktif sekitar 23.91 5. 3.470 * Lihat lampiran untuk data paling akhir (September 2008) dan menurut propinsi.134 2002 0. Fenomena yang dapat disebut supply-push.1 triliun rupiah tahun 2000 ke hampir 54. Dari sisi penawaran (pasar input. (Tabel 5).324 miliar rupiah. Pertanyaan sekarang adalah kenapa jumlah koperasi atau proporsi koperasi aktif berbeda menurut propinsi? Apakah mungkin ada hubungan erat dengan kondisi ekonomi yang jika diukur dengan pendapatan atau produk domestic regional bruto (PDRB) per kapita memang berbeda antar propinsi? Secara teori. pendapatan per kapita yang tinggi yang menciptakan peluang pasar atau peningkatan penghasilan bagi individu petani atau produsen bisa menjadi suatu faktor disinsentif bagi kebutuhan para petani atau produsen untuk membentuk koperasi. atau pasar output dalam kondisi booming.851 2. sedangkan SHU dari 695 miliar rupiah tahun 2000 ke 3. posisi koperasi dalam pasar perkreditan mikro menempati tempat kedua setelah Bank Rakyat Indonesia (BRI)-unit desa sebesar 46% dari KSP/USP dengan pangsa sekitar 31%.00 8. 2003c). 11 Pertanyaan ini sama dengan pertanyaan. Dari sisi permintaan (pasar output).. Sementara itu dilihat dari populasi koperasi yang terkait dengan program pemerintah hanya sekitar 25% dari populasi koperasi atau sekitar 35% dari populasi koperasi aktif.. Data yang ada menunjukkan bahwa kedua indikator tersebut mengalami peningkatan selama periode 2000-2006..75 6. dalam hal ini petani atau produsen). Sumber: Menegkop & UKM Memasuki tahun 2000 koperasi Indonesia didominasi oleh koperasi kredit yang menguasai antara 55%-60% dari keseluruhan aset koperasi.72 38.

Tubagus Feridhanusetyawan. Singapore: APEC Secretary APEC (1999). dan Erwidodo (2002). Cable. E. Conry. Bank Dunia (2000b). Agricultural Cooperative Service. John dan Tom Webb (2004). Huntingdon (ed. Friedman.C. Info. Erwidodo. Policy Issues in International Trade and Commodities Study Series No. Feridhanusetyawan Tubagus dan Mari Pangestu (2003). USDA-Agricultural Cooperative Service. Report 30. London: HarperCollins. Nagler. Kansas City. Report by the Network for Economic Development Management... Friedman. Brown. Lexus dan Pohon Zaitun. Halifax. “State Incorporation Statutes for Farmer Cooperatives”. Derek C. “A Pilot Study on Co-operatives. Betina Dimaranan. Bank Dunia (2000a). “Trends in Global Market and Implications for Farm Policy and Cooperatives”. J. Asia Pacific Economic Review. National Interest. Memahami Globalisasi. 4:371-406 Amy M. Henehan (2003)” What Gives Cooperatives A Bad Name. UWCC Staff Paper No.121. D. Nova Scotia.)(1999). “Effects of AFTA and APEC Trade Policy Reform on Indonesia Agriculture”.: Rowman & Littlefield 13 . Berger. “Corn Belt Grain Cooperatives Adjust to Challenges of 1980s. Washington. Mari Pangestu. Indonesia in a Reforming World Economy: Effects on Agriculture. (1993). Cummins. “Four Faces of Global Culture”. Bandung: ITB Furlough. Boediono (1998). “Resource Mobilization and the Creation of US Producer Cooperatives”. Aldrich. Birchall. Tom Hertel dan Will Martin (1997).4. Adelaide. Clive (2001). Robert E. “Economic Growth and Policy Reform in the APEC Region: Trade and Welfare Implications by 2005”. dan P.C. “Globalization and Global Governance”. Monika Huppi. Oxford: Oxford University Press. April. Economic Committee of APEC.C. Lucian Cernat. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. dan Alessandro Turrini (2002). The International Co-operative Movement . Howard dan Robert N. Journal of Economic Literature. dan Lorenz Pohlmeier (1991).)(2002).”makalah dalam the NCR 194 Meeting. University of Wisconsin Center for Cooperatives Anderson. Luis Guasch. J. September. Bulletin of Indonesian Economic Studies. dan Hermanto Siregar (2004). Luxembourg: Eurostat. Washington. Economic and Industrial Democracy. Bank Dunia (2003). Menkhaus dan Alan C. University of Adelaide. NBER. August. World Bank Discussion Papars. Many Globalizations: Cultural Diversity in the Contemporary World . Jones dan Louis Putterman (1993). The Lexus and the Olive Tree. “Duty and Quota-Free Access for LDCs: Further Evidence from CGE Modelling”. Lanham. Kym. Bonin. “Penggunaan Suku Bunga Sebagai sasaran Operasional Kebijakan Moneter di Indonesia”.C. Fox (1986). APEC (1997). USA Berger. Avishay. Trade and the Environment .. Anis. ”Promoting Rural Coperatives in Developing Countries. The Case of Sub-Saharan Africa”. Consumers Against Capitalism? Consumer Cooperation in Europe. Vincent (1999). dan Brian M. Buletin Ekonomi Moneter Dan Perbankan. “Trade Liberalization in Asia Pacific: A Global CGE Approach”. The Indonesian Quarterly. Feridhanusetyawan. dan Samuel P. Development Indicators 2000. 49. Juli 8-10. Juli. London: Royal Institute of International Affairs. Barr. (1997). Manchester: Manchester University Press. Baldwin. Center for International Economic Studies. Dubuque. Washington.W6904. G. Human Resource Development Working Group.). makalah dalam the 12 th IAFEP conference. “Institutions and Agricultural Cooperatives in Wyoming”. D. “Indonesian Trade Liberalization: Estimating The Gains”. John P. North America and Japan. Bruce L. No. MI. Development Indicators 2003.” ACS Research Report Number 117. Stern (1984). Ellen dan Carl Strikwerda (ed. Global Economic Prospects and the Developing Countries 2000. Tubagus. C. Dale J.:United States Department of Agriculture. Yoga (2002).H. Feridhanusetyawan.: The World Bank.Affandi. Poised for 1990s. Cambridge Mass. New York dan Geneva: UNCTAD Braverman. Martin (1999). The Legal Environment of Business.J. dalam Randy Stringer. November 7-8. Ferrera dan K.14. “Theoretical and Empirical Studies of Producer Cooperatives: Will Ever the Twain Meet?”. D. 29. Peter L. “The Impact of Trade Liberalization in APEC”.R. Singapore: APEC Secretary. Associations and Foundations”. D. makalah dalam the 8 th Annual Farmer Cooperatives Conference. (1982). 31: 1290-1320 Bora. David E. Missouri Anderson. Oktober. 3(1). NBER Working Paper NO.C. XXV(4). dan Kym Anderson (ed. Eurostat (2001). (2005). Schroeder (2004). D. August. Mutuals. Fundamental Differences”. Tubagus (1997). “Learning to Manage the Co-operative Difference”.C. D.R. IA: Wm. “ The Impact of Trade Liberalization on Labor Markets in the Asia Pacific Region”. Crook. Washington. Thomas (2002). “Two Waves of Globalization: Superficial Similarities. Washington. 1840-1990. “Globalization and its Critics”. “The Optimal Monetary Policy Instruments: The Case Of Indonesia”. Baarda. “Indonesia’s Monetary Policy Dilemma–Constraints Of Inflation Targeting”. 39(1). Bijit. Peter L. The Economist. Chowdhury. Chatham House Papers. Chamard. Johnston (1997). 5(3). 37(2). Thomas (2000). The Journal Of Developing Areas. Terry N. Washington.

Ekonomi Pembangunan. makalah dalam the Rocky Mountain Farmers Union Leadership Roundup. “A New Cooperative Structure for the 21 Processing Cooperative Law”. Washington. Washington. New Zealand. Juli.). Geneva: International Co-operative Alliance (http://www. (1979). Hill. Hansmann. Anthony (2001). “Pengaruh tingkat suku bunga domestik riil terhadap nilai tukar riil dan cadangan devisa di Indonesia periode 1992. “Lessons in Cooperative Failure: The Rice Growers Association Experience”. Washington. Jatnika. “Kebijakan Moneter. Policy Research Working Paper No. Lipsey. Jakarta: Program Studi Ilmu Ekonomi Pascasarjana FEUI dan ISEI. Cambridge: Polity Press. “What’s the Value of Cooperatives?”. July. Industrial Relations. D. “Unions versus Cooperatives”. R.html. Key Criteria & Best Practices”. Cheyenne. 22 Sept. Hakim.3.S. Jennifer J. II(4). Yogyakarta: Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas. Dominique (1990).12”. Cambridge. Lawless.). Henry (1996). makalah dalam Seminar Akademik Tahunan Ekonomi I. dan David Korten (2003). J. Marxism and the Cooperative Movement”. D. Bernard (2001).coop.org/statistics. Greg dan Anne Reynolds (2004). “Marx. Cambridge University Press. 18:342-57 Jossa. “Cooperatives as Tools for Development”. “An APEC Food System: Implications for Welfare and Income Distribution by 2005”. Seri Kajian Global. April. edisi ke 2. Ferry dan Sugiharso Safuan (2004). Januari 16-17. Department of Agricultural and Resource Economics University of California. J. Producer Cooperatives: The Record to Date”. dalam Ian Vàsquez (ed. Abdul (2004).C. Olav (1990). “Has Agricultural Trade Liberalization Improve Welfare in the Least-Developed Countries? Yes”.C. Bruno (2005). Gilbert. “U. 29:3-18. Journal of Economic Education. Global Fortune: The Stumble and Rise of World Capitalism. Loyd. Hanson. 1998”. Kalmi. Derek C. D. dalam International Forum on Globalization. Brookings Paper on Economic Acticity. Scollay dan T. ICA (1998a). Geneva: International Co-operative Alliance (http://www. Seri Kajian Global. “The Case of Missing Organizations: Co-operatives and the Textbooks”.Gentil. Firman dan Sugiharso Safuan (2004). Madison. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. “Statistics and Information on European Co-operatives”. Runaway World-Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita. Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi: Pengujian Hipotesis Ekspektasi Rasional dengan Analisis VAR”. Jakarta.C. Yogyakarta: EKONISIA. “Koperasi Sebagai Strategi Pengembangan Ekonomi Pancasila”. Cetakan kedua. Jakarta: Program Studi Ilmu Ekonomi Pascasarjana FEUI dan ISEI. Working Papers W-398.html. Jurnal Ekonomi Rakyat. Ekonomi Koperasi.coop. Seminar Akademik Tahunan Ekonomi I. (1980). Globalization in Question: The International Economy and The Possibilities of Governance. The Ownership of Enterprise. edisi kedua. Annual Report 2006. (1997). Lindstad.1-2002. Desember. (1995).: The World Bank. D. Paul dan Grahame Thompson (1999). Thomas (2001).coop. 1. MA: Belknap Press. Roderick (2000). Martin (2002). “Liberalism in the New Millennium”. “Worker Cooperatives: Case Studies. Working Paper. Hendar dan Kusnadi (2005). UWCC Staff Paper No. Las Vegas. R. Helsinki School of Economics. Yogyakarta: Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas. “The Japanese Cooperative Sector”. London: Weidenfeld and Nicolson Llosa. (2005).: the World Bank. Ingco. Oktober 29-30.C.M.). Herbert Gintis. dan Bo Gustafsson (eds. Las Vegas. Cambridge Journal of Economics. ”Support of Informal Self-Help and Cooperative Groups”. Panu (2006). Jerry. makalah. An Introduction to Positive Economics. Debi Barber. 28(2): 509-17 Krugman. Wahl (1999). Richard G.” The Disappearance of Co-operatives from Economics Textbooks”.) ICA (2006). Moene.: Cato Institute. Accountability and Efficiency . makalah dalam makalah dalam Seminar Bank Dunia mengenai ”Donor Support for the Promotion of Rural Cooperatives in Developing Countries: Special Emphasis SubSaharan Africa”. Desember. Journal of Economic Issues. Giddins. APEC Study Center.. 14 .) ICA (1998b). Mark dan Hitomi Sato (1994). WY. “Globalisasi Membantu Kaum Miskin?”. Jones. Keeling.: the World Bank. Halwani. P. Hariyono (2003). “Latest ICA Statistics of July 1. Oktober 29. makalah dalam Farmer Cooperatives Conference”. Globalisasi Perangkap Negara-negara Selatan.1748. Jakarta: Ghalia Indonesia. “Globalisasi Kemiskinan & Ketimpangan. Karl Ove dan Michael Wallerstain (1993). makalah dalam Farmer Cooperative Conference. Vargas (2000).org/statistics. McKenna. Markets and Democracy Participation. 31(3): 281-95 Hirst. Klinedinst.html. Irawan. “Growing World Trade: Causes and Consequences”. Januari 16-17. “Positioning for Peformance: Reshaping Co-ops for Success in the 21st Century”. Ekonomi Internasional dan Globalisasi Ekonomi. mimeo. Geneva: International Co-operative Alliance (http://www. Davis Khor. University of Wisconsin Center for Cooperatives. September. makalah dalam Seminar Bank Dunia mengenai ”Donor Support for the Promotion of Rural Cooperatives in Developing Countries: Special Emphasis SubSaharan Africa”. Lembaga Penerbit FE-UI. McKinsey & Company Mander. Hendra (2002). dalam Samuel Bowles. (2001). February. Merlinda D.org/statistics. Washington.

Chris (2005). Shavaeddin.23. Nello. 2(XVI). Gilbert (1999b). Manajemen Koperasi. APEC Study Center. “Koperasi Indonesia: Potret dan Tantangan”. Noer (2003a). Inc. “Development Policies in Indonesia and the Growth of Cooperatives”. The Indonesian Indicator. 29 September. Samuelson. Dawam M. dan J. Discussion Paper No. “Recolonization: The Uruguay Round. Scollay. (2002a). Ekonomi Koperasi II. Mulyo. “Globalization: The Past in Our Future. ”Pasang Surut Perkembangan Koperasi di Dunia dan Indonesia”.Mubyarto (2000). Michigan State University. Masalah dan Dasar Kebijaksanaan. Jakarta: Karunika. mimeo. ”Satu Nuansa.C. Teori dan Praktek.pdf). Geneva: UNCTAD. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Pohlmeler. INOVASI. Robert Schuman Centre for Advanced Studies. (1990). Chakravarty (1990). Paul A. Soetrisno. Rachman Soejoedono (2002). Norton & Company. The Global Economy and Developing Countries: Making Openness Work . Food. II(5). dan J. “Apa Kabar Koperasi Indonesia”. Vernon. dan William D. Bandung. “Searching for a Cooperative Competitive Advantage”. Madison. College of Agriculture. Washington. Soetrisno. Sugiharto (2007). Soetrisno.C. November Muelgini. Tiktik Sartika dan Abd. 4(2). Noer (2003b). Policy Issues in International Trade and Commodities Series No. ”Social science knowledge and institutional innovation”. Jangkung Handoyo (2004). and Environmental Science. Tokyo: McGraw Hill KMgakusha. Desember. E. Wayne (1997). New Zealand. Pengantar Teori Ekonomi. Ltd. (1994). Marburg: University of Marburg. mimeo. Ekonomi Pembangunan: Proses. Sumarsono. edisi ke 9. ” Revitalisasi Ekonomi Kerakyatan Melalui Pemberdayaan Gerakan Koperasi”. “An Integrated Approach to Agricultural Trade and Development Issues: Exploring the Welfare and Distribution Issues”.85. Samuelson. No. EUI Working Paper RSC No. Gilbert (1999a). Jakarta. Thoby (2001). Ekonomi Skala Kecil/Menengah dan Koperasi. Paul A. Jakarta: Ghalia Indonesia. The Economic Theory of Cooperative Enterprises in Developing Countries. Florence. Yogyakarta: BPFE. edisi ke 14. Instrans. Rosyidi. Subyakto. 9 Agustus. dan J. Staff Paper P02-07. Jakarta Stiglitz. R. Jurnal Ekonomi Rakyat. (2002). “Cooperatives in Wisconsin”. Demokrasi Ekonomi dan Ekonomi Kerakyatan”. Noer (2003c). (2002b). Jurnal Ekonomi Rakyat. Suherman (1996). Januari 16-17. Cambridge: Cambridge University Press. RAPA. Ltd. R. Rodrik. makalah dalam the World Bank Seminar on “Donor Support for the Promotion of Rural Cooperatives in Developing Countries: Special Emphasis SubSaharan Africa”. Rusidi dan Maman Suratman (2002). Institutional Change. dan J. Dawam M. “Measuring the Gains from APEC Trade Liberalization: An Overview of CGE Assessments”. Yoke (2004). Scollay. D. Peterson.W. W. New York: W.M. With Special Reference of Indonesia. Nordhaus (1992). “An APEC Food System: Trade and Welfare Implications by 2005”. Merajut Kekuatan Ekonomi Rakyat”. R. Partomo. Second Critical Study on Cooperative Legislation and policy Reform. makalah dalam Seminar Akademik Tahunan Ekonomi I. (1997). [http://agecon. D. Susan Senior (2000). Prisma. Raghavan. “Wajah Koperasi Tani dan Nelayan di Indonesia: Sebuah Tinjauan Kritis”. R. (1999). makalah. “Recent Developments in the World Bank’s Approach to Cooperative Support in Africa”.lib. Kompas. Ropke. Penang: Third World Network Rahardjo. International Edition. Department of Applied Economics. D. Lynn (2005). Agustus. APEC Study Center. May. “The Impact of Trade Liberalization on Export and GDP Growth in Least Developed Countries”. Ravi dan Garry Conan (2002). Nafziger. Pitman. Lorenz (1990). An Introductory Analysis. Soetrisno. Media Ekonomi. Jakarta: FE-UI.edu/mn/p02-07. Jakarta. Prentice-Hall International. APEC Study Center. Gilbert (2001). mimeo. Washington. Joseph (2006). D. GATT and the South. New York dan Geneva: UNCTAD Shankar. Nayyar. Making Globalization Work. Sadono. Economics.: Overseas Development Council. 15 . (1973).11. Sonny (2003). Singapura: McGraw Hill. Jakarta: Program Studi Ilmu Ekonomi Pascasarjana FEUI dan ISEI Mutis. European University Institute. Penang: Third World Network. “Fluktuasi Makroekonomi dan Respons Kebijakan yang Optimal di Indonesia”. Institut Manajemen Koperasi Indonesia. Bunga Rampai 20 Pokok Pemikiran Tentang Koperasi . mimeo. Rahardjo. New Zealand. Gilbert (2000) “Measuring the Gains from APEC Trade Liberalization: An Overview of CGE Assessments”. II(5). New Delhi: ICA. Economics. Kompas. New Zealand. North. mimeo. Scollay. “The Role of Agricultural Cooperatives in the European Union: A Strategy for Cypriot Accession?”. Scollay. Noer (2001). The Economics of Developing Countries. Jakarta: Graha Ilmu. Harsoyono dan Bambang Tri Cahyono (1990). University of Wisconsin Center for Cooperatives. Elan (1997). University of Minnesota. ”Respons komponen-komponen permintaan agregat terhadap kebijakan moneter Indoneia”.2000/42. “Rekonstruksi Pemahaman Koperasi.umn. Peran Strategis BUMN dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia Hari Ini dan Masa Depan . “Prospek Sektor Pertanian Indonesia pada Era Pemanasan Global”.C. edisi revisi. edisi kedua. Agustus. Working Paper PPSK – Bank Indonesia. D. Jochen (1985). Ruttan. Membangun Sistem Ekonomi. S. PT Elex Media Komputindo dan BUMN Executive Club. Solikin (2004). Sukirno (1985). and Economic Performance. Jumat. Satriawan. Pendekatan Kepada Teori Ekonomi Mikro & Makro . edisi ke 3.

Toffler. Young. “Merancang dan Memelihara Jaringan Distribusi Barang Yang Tangguh Dan Efisien Di Indonesia. (2004). Washington. Jakarta: Ghalia Indonesia. Tambunan. Todaro. Singgih Riphat dan Syahrir Ika (ed. NY: ILR Press. “Koperasi sebagai Pelaksana Distribusi Barang: Realita dan Tantangan (Sebuah Pendekatan Pragmatis)”. (1984). Nyoman dan Yudi Pramadi (1997). Jakarta: Institut Bankir Indonesia bekerja sama dengan Jurnal Keuangan dan Moneter.H. Future Shock. Bisnis & Keuangan.D. Addison-Wesley Publishing Company. Wolf.C. April. makalah dalam NETSeminar. McNamara (2000). Las Vegas. December 13. London: Pan Book Ltd. Jr. Global Trade Analysis: Modelling and Applications.50. University of Wisconsin at River Falls. K. Whyte. Cambridge University Press. Kimberly A dan Robert Cropp (2005). laporan penelitian. dan Curtin Institute of Technology. “Profil Keunggulan Bersaing KUD Jatinom”. dalam Thomas W. Globalisasi dan Perdagangan Internasional. World Bank Technical Paper No. Triyatna. Warman. Joan R. Making Mondragon: The Growth and Dynamics of the Worker Cooperative Complex. Why Globalization Works. D.Suryana (2000). Huff (1997). Fulton. Martin’s. (2006). Zeuli. Tulus T. dalam Marzuki Usman. Tjager I. Geneva: United Nations Conference on Trade and Development. semua edisi. A1457. Widiyanto. edisi ke-4. D. Vandeburg. and Strategic Alliances among Local Cooperatives”. Susan Hine. Alvin (1980). “Investment and Finance in Agricultural Service Cooperatives”.21.: the World Bank UNCTAD (1997).” ACS Research Report 123. Forum TI-ITS. Trade and Development Report 1997. Marc (1994). Ithaca.Von Pischke (1986). UNCTAD (1999).H. Turto dan J. “Koperasi. David (2005). Ekonomi Pembangunan.: United States Department of Agriculture. Madison. Washington. Geneva: United Nations Conference on Trade and Development. Cooperatives: Principles and Practices in the 21 st Century. University of Wisconsin.). Ibnu (1998). Muresk Institute of Agriculture. Jakarta: P>T. 15 September. Jennifer M. Selasa. Suwandi. Tambunan. Economic Development: An Introduction. dan Kevin T. Nevada Verhagen. makalah dalam the NCR-194 Annual Meeting. and Alternatives. New York: St. Issues. Koperasi. Organisasi Ekonomi Yang Berwatak Sosial. Trechter. Murray McGregor and Roy Murray-Prior. “A Neo-Institutional Assessment of Cooperative Evolution: Comparing the Australian Wheat Board and the Fonterra Dairy Group”. New Haven dan London: Yale University Press. Zuvekas. dan Karen M. Trade and Development Report 1999. William Foote dan Kathryn King Whyte (1991). Acquisitions. (1979). Amsterdam. Jakarta: Salemba Empat. Semarang: BPMA-Undip. Problematika dan Pendekatan. Agricultural Cooperative Service.C. Martin (2004). April. “Free Trade in the Pacific Rim: On What Basis?”. Widiyanto (1996). Ima (1985). 16 . Linda M. “Pasar Modal Dalam Menghadapi Persaingan Internasional Pada Era Globalisasi”. 7 Juli 2009. Jakarta: Bharata Karya Aksara. Peluang dan Tantangan Pasar Modal Indonesia Menghadapi Era Perdagangan Bebas. Semarang. Turtiainen. Michael P. Joint Ventures. Dekopin Sudah Babak Belur”. “Cooperative Grain Marketing: Changes.). hal.. Western Australia. Kompas. Economic Development.. Cooperation for Survival. Stefanus Osa (2009). “Driving Forces and Success Factors for Mergers. Quantum Pustaka. Tulus T. Perekonomian Indonesia Sejak Orde Lama hingga Pasca Krisis. Clarence. Hertel (ed.

Lampiran Sumber: Menegkop & UKM 17 .