Anda di halaman 1dari 2

Menurunnya populasi jeruk Garut secara extrim lebih diutamakan karena serangan penyakit citrus vein phloem degeneration

(CVPD) yang bersumber dari sebuah bakteri (bukan virus) bernama lybers bacteri aniaticum. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti Jepang, Prancis, dan LIPI diketahui bahwa bakteri yang menggerogoti tanaman jeruk tidak menular lewat tanah ataupun biji yang diambil dari tanaman jeruk yang terserang penyakit, tetapi ditularkan melalui serangga sejenis kutu loncat jeruk (diaphorina citry). Kutu loncat jeruk menularkan penyakit dengan cara mengisap cairan daun berpenyakit, kemudian mengisap daun jeruk yang sehat. Sekarang tinggal bagaimana memberantas serangga penular secara efektif agar penyakit ini tidak menyebar luas. PENYAKIT CVPD Jasad mirip mikoplasma Penyakit CVPD merupakan penyakit cukup gawat yang timbul dan menyerang tanaman jeruk. Penyakit ini menyerang bagian daun tanaman jeruk dimana pada serangan lanjut tanaman akan menghasilkan buah yang kecil, buah tidak dapat berkembang lagi dan akhirnya gugur (Dirjen Tanaman Pangan, 1992). Penyakit ganas pada jeruk pertama-tama diketahui terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sekarang penyakit ini telah didapatkan pula di Sumatra. Penyakit ganas ini mirip dengan penyakit Greening di India, Muangthai dan Filipina juga menyerupai penyakit likubin di Taiwan, Stubborn di California, Tunas kuning di Cina (Departemen Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan, 1981). Di Filipina penyakit ini juga disebut sebagai leaf-mottle jellows (Pathak, 1976). Penyakit berkembang terus sehingga pada waktu orang menanam.jeruk dengan rasa tidak pasti. Pohon jeruk keprok dulu dapat mencapai umur puluhan tahun, di Jawa sekarang pohon-pohon inihanya dapat memberikan hasil 2-3 kali. Dewasa ini jeruk Garut dapat dikatakan punah karena CVPD, demikian juga dengan jeruk Tawangmangu. Di beberapa lokasi penyakit sedemikian meluasnya sehingga tempat-tempat ini dianggap sebagai daerah endemis yaitu Gumilia (Cilacap), Junggo dan Punten (Batu), Pulung dan Plaosan (Magetan), Wonorejo / Karangpawitan (Garut), Kutoarjo, Ogan Komering Ilir dan beberapa lokasi di Lampung. Di Pulau-pulau lain penyakit ini ditemukan di Pontianak, Ujung Pandang, Banteng dan Jeneponto (Tirtawidjaya, 1983). Kerusakan yang ditimbulkan Adanya serangan sejenis bakteri dalam tubuh tanaman juga bisa mengakibatkan merananya pertumbuhan tanaman. Tanaman jeruk yang terserang CVPD menyebabkan sebagian/seluruh tajuk tanaman menjadi menguning. Daun- daun yang kuning terasa lebih kaku, tebal dengan urat daun menonjol terang dan umumnya berdiri tegak. Bercak-bercak gelap juga tampak pada daun-daun yang menguning (Rukmana, 1996). Pada daun tua yang semula sehat, lama-lama akan berubah seperti daun muda warnanya memucat dan menguning tetapi kalau diraba akan terasa sangat tebal. Setiap kali tanaman membentuk pucuk dan tunas, setiap kali pula pucuk dan tunas tersebut mengalami klorosis. Akibat klorosis tanaman tidak mampu lagi melakukan fotosintesa sehingga daun tidak mampu lagi memberi makanan pada seluruh bagian tanaman. Pertumbuhan tanaman akan menjadi sangat merana dan akhirnya tanaman menjadi layu, kering dan mati. CVPD yang menyerang daun, dimana pada serangan lanjut akan menyebabkan kemunduran hasil (tanaman menghasilkan buah yang kecil, buah tidak dapat berkembang lagi dan akibatnya gugur) dan buah yang tidak gugur berkualitas rendah sekali. CVPD merusak sel tanaman dan penyakit ini telah menimbulkan kerusakan yang sangat hebat pada perkebunan jeruk di Indonesia. Penyakit ini cepat sekali menyebar dan sulit diberantas (Sarwono,1986; Sunaryono, 1987; Rukmana, 1996).

Pengendalian dan pemberantasan penyakit Untuk mendapatkan pertanaman jeruk yang sehat, agar ditanam bibit yang bebas penyakit ganas ini dan memberantas vektor serangganya dengan insektisida (perfekthion). Di daerah yang masih belum bebes dari penyakit ganas tersebut supaya diadakan pencegahan masuknya bibit / bahan tanaman jeruk yang terkena penyakit tersebut, serta mengadakan pengamatan vektor serangga tersebut di pertanaman secara teratur. Di daerah yang telah terkena penyakit ganas ini tetapi tidak endemik perlu dilakukan pemusnahan tanaman sakit (Tirtawidjaya, 1983). Untuk memberantas penyakit ini pada tanaman yang menunjukkan gejala ringan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. Melindungi tanaman dengan mengguna- kan insektisida (Basudin 60 EC) dengan intensif untuk menahan populasi vektor (Psyllidae, Diaphorina citri). 2. Eradikasi sebagian dengan pemang kasan ranting/batang yang telah menunjukkan gejala dengan memper- hatikan bahwa tempat pemotongan tersebut agak jauh ke arah bagian ranting/cabang yang tidak memperlihatkan gejala. Sebaiknya dilakukan pemupukan dengan N agar gejala dengan mudah dapat terlihat sehingga eradikasi sebagian dapat segera dilakukan (Departemen Ilmu Hama Dan Penyakit Tumbuhan, 1981) Untuk memperpanjang umur produktivitasnya, tanaman jeruk yang sakitnya belum terlalu berat dapat disuntik (infuse) dengan antibiotik Oksitetrasiklin atau Terramycin 1000 ppm sebanyak 1 liter per pohon. Penyuntikan diulangi tiap tahun/tiap 2 tahun. Sedangkan untuk membantu regenerasinya tanaman harus dipupuk dan diairi secukupnya (Hutagalung, 1985; Tirtawidjaya, 1982; 1983). Akan tetapi pada tanaman jeruk yang sudah parah sakitnya infuse Oksitetrasiklin ini kurang efisien. Selain tidak menyem- buhkan tanaman sakit, pengobatan yang harus dilakukan berulang-ulang ini dirasa terlalu mahal oleh petani. Disamping itu pengaruh antibiotik terhadap konsumen buah jeruk belum diketahui (Semangun, 1991; Rukmana, 1996). Di daerah-daerah endemik dianjurkan untuk mengadakan eradikasi total, diikuti dengan masa tanpa jeruk/Rutaceae lainnya selama paling sedikit 1 tahun. Eradikasi harus dilakukan bersama-sama oleh semua penanam jeruk di daerah tersebut. Juga perlu dilakukan tindakan penghentian penanaman baru yang cukup lama. Tanaman yang sudah berproduksi dapat dibiarkan sampai tanaman-tanaman ini tidak menghasilkan lagi kemudian dibongkar. Sebelum pembongkaran, penyemprotan dengan insektisida perlu dilakukan untuk mematikan vektor yang terdapat pada tanaman sakit. Membongkar/membasmi tanaman- tanaman sakit yang dapat merupakan sumber infeksi/sumber inokulum. Tanaman yang dapat menjadi inang D. Citri seperti kemuning (Murraya paniculata) dan rumput babadotan (Ageratum conizoides) perlu juga ditiadakan selama masa tenggang waktu. Mengingat adanya tanda-tanda bahwa alat- alat pertanian dapat menularkan penyakit, dianjurkan agar gunting pangkas, pisau okulasi kadang-kadang dipanaskan selama 10-15 menit, misalnya dengan api lilin (Tirtawidjaya, 1982;1983; Sunaryono, 1987; Sarwono, 1986; Departemen Ilmu Hama Dan Penyakit Tumbuhan, 1981).