Anda di halaman 1dari 20

PERCOBAAN II PENGARUH INDUKTOR DAN INHIBITOR TERHADAP EFEK FARMAKOLOGI

I.

TUJUAN Mempelajari penagaruh beberapa senyawa kimia terhadap enzim

pemetabolisme obat dengan mengukur efek farmakologinya.

II.

DASAR TEORI

Metabolisme obat terutama terjadi di hati,yakni di membran endoplasmic reticulum(mikrosom)dan di cytosol.Tempat metabolisme yang lain (ekstra hepatik) adalah:dinding usus,Ginjal,Paru,Darah,Otak dan Kulit,juga di lumen kolon(oleh flora usus). Tujuan metabolisme obat adalah mengubah obat yang non polar (larut lemak) menjadi polar (larut air)agar dapat diekskresikan melalui ginjal atau empedu.dengan perubahan ini obat aktif umumnya diubah menjadi inaktif.Tapi sebagian berubah menjadi lebih aktif(jika asalnya prodrug),kurang aktif,atau menjadi toksik. Reaksi metabolisme yang terpenting adalah oksidasi oleh enzim cytocrome P450 (cyp)yang disebut juga enzim monooksigenase atau MFO (Mixed Fungtion Oxidase) dalam endoplasmic reticulum (mikrosom)hati.Interaksi dalam metabolisme obat berupa induksi atau inhibisi enzim metabolisme,terutama enzim cyp. Induksi berarti peningkatan sistem enzim metabolisme pada tingkat transkripsi sehingga terjadi peningkatan kecepatan metabolisme obat yang menjadi substrat enzim yang bersangkutan. Inhibisi enzim metabolisme berarti hambatan yang terjadi secara langsung dengan akibat peningkatan kadar substrat dari enzim yang dihambat juga terjadi secara langsung. (Mardjono,2007)

Proses metabolisme dapat mempengaruhi aktivitas biologis,masa kerja,dan toksisitas obat.Oleh karena itu pengetahuan tentang metabolisme obat penting dalam studi.suatu obat dapat menimbulkan suatu respon biologis dengan melalui dua jalur,yaitu:

a. Obat aktif setelah masuk melalui peredaran darah,langsuns berinteraksi dengan reseptor dan menimbulkan respon biologis. b. Pra-obat setelah masuk ke peredaran darah mengalami proses metabolisme menjadi obat aktif,berinteraksi dengan reseptor dan menimbulkan respon biologis(bioaktivasi)

Secara umum tujuan metabolisme obat adalah mengubah obat menjadi metabolit tidak aktif dan tidak toksik(bioinaktivasi atau detoksifikasi),mudah larut dalam air dan kemudian diekskresikan dari tubuh.Hasil metabolit obat bersifat lebih toksik dibanding dengan senyawa induk(biootoksifikasi)dan ada pula hasilmetabolit obat yang mempunyai efek farmakologis berbeda dengan senyawa

induk.contoh:Iproniazid,suatu obat perangsang system syaraf pusat,dalam tubuh di metabolis menjadi isoniazid yang berkhasiat sebagai antituberkolosis. (Siswandono,2000) Obat obat paling sering dieleminasi oleh biotransformasi dan / atau ekskresi ke dalam urine atau empedu. Hati adalah tempat utama metabolisme obat, tetapi obat-obat tertentu bisa mengalami biotransformasi di dalam jaringan-jaringan lain. Beberapa obat diberikan dalam bentuk senyawa tidak aktif (prodrug) dan harus dimetabolisme menjadi bentuk aktifnya.

Reaksi-reaksi metabolisme obat

Ginjal dapat mengeliminasi obat-obat yang lipofilik karena obat-obat tersebut mudah menembus membrane sel d an diabsorpsi kembali dalam tubulus distal. Oleh karena itu, obat-obat yang larut dalam lipid pertama-tama harus dimetabolisme dalam hati yang menggunakan dua set reaksi, disebut Fase I dan Fase II. 1. Fase I : Reaksi-reaksi fase I berfungsi untuk mengubah molekul

lipofilik menjadi molekul yang lebih polar dengan menambahkan suatu polar atau membuka gugus polar, seperti OH atau NH2 . Metabolisme fase I bisa meningkatkan, mengurangi atau tidak mengubah aktifitas farmakologik obat. a. Reaksi-reaksi fase I yang menggunakan system P-450

Reaksi-reaksi fase I yang paling sering terlibat dalam metabolisme obat dikatalis oleh system sitokrom P-450 (juga disebut fungsi campuran mikrosomal oksidase) Obat + O2 + NADPH +H+ Obatdimodifikasi +H2O + NADP+

Oksidasi berlangsung dengan obat mengikat bentuk oksidasi sitokrom P-450, kemudian oksigen direduksi menjadi NADPH : sitokrom P-450 oksidoreduktase. b. Ringkasan system P-450 : P-450 adalah sebuah keluarga enzim

(isozim) yang terjadi dalam kebanyakan sel, tetapi terutama sangat banyak dalam hati. Nama P-450 berasal dari puncak spektrofotometer yang terlihat kerika enzim tersebut direaksikan dengan karbon monoksida (yang menghambat aktivitas fungsi campuran oksidase). Beberapa isozim mempunyai spesifitas yang luas pada 448 nm. Banyak obat yang dapat menginduksi penimgkatan kadar sitokrom P-450, yang menyebabkan suatu peningkatan kecepatan metabolisme obat penginduksi tersebut atau obat-obat lain yang dibiotransformasi oleh system P-450. c. Reaksi fase I yang tidak melibatkan system P-450 : Reaksi ini meliputi

oksidasi amin (misalnya, oksidasi katekolamin atau histamine), dehidrogenasi alcohol (misalnya, oksidasi etanol ) dan hidrolisis (misalnya, hidrlisis parakainamid) 2. Fase II: Fase Ini terdiri dari reaksi-reaksi konjugasi. Jika metabolit dari

metabolisme fase I sifatnya sudah cukup polar, metabolisme tersebut dapat diekskresikan oleh ginjal. Namun, banyak metabolit yang sangat lipofilik untuk ditahan dalam tubulus ginjal. Reaksi konjugasi lanjutan dengan suatu substrat endogen seperti asam glukoronat, asam sulfurat, asam asetat atau asam amino menghasilkan persenyawaan polar, biasanya lebih larut dalam air yang paling sering bersifat tidak aktif secara terapeutik. Konjugat yang sangat polar tersebut kemudian bisa diekskresikan oleh ginjal. (Mycek, 2001) Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Metabolisme Obat

1. Faktor genetik atau keturunan Faktor genetik atau keturunan ikut berperan terhadap adanya

kecepatan metabolisme obat. Studi terhadap kecepatan asetilasi isoniazid menunjukkan bahwa perbedaan kemampuan asetilasi dari individu-individu. 2. Perbedaan spesies atau galur Pada manusia, fenilasetat terkonjugasi dengan glisin dan glutamine, sedangkan pada kelinci dan tikus terkonjugasi glisin saja. 3. Perbedaan jenis kealmin Studi efek hormon androgen, seperti testosteron, pada system mikrosom hati menunjukkan bahwa rangsangan oksidasi pada tikus

jantan ternyata berhubungan dengan aktivitas anabolik dan tidak berhubungan dengan efek androgenik. 4. Perbedaan umur Bayi dalam kandungan dan bayi baru lahir jumlah enzim-enzim mikrosom hati yang diperlukan untuk memetabolisme obat relatif masih sedikit sehingga sangat peka terhadap obat. 5. Penghambatan enzim metabollisme Pemberian terlebih dahulu atau secara bersama-sama suatu senyawa yang menghambat kerja suatu enzim-enzim metabolisme dapat meningkatkan intensitas efek obat, memperpanjang masa kerja obat dan kemungkinan juga meningkatkan efek samping dan toksisitas. 6. Induksi enzim pemetabolisme Peningkatan aktivitas enzim metabolisme obat-obat tertentu atau proses induksi enzim mempercepat proses metabolisme dan

menurunkan kadar obat bebas dalam plasma sehingga efek farmakologis obat menurun dan masa kerjanya menjadi lebih singkat. 7. Faktor lain-lain Faktor lain dapat mempengaruhi metabolisme diantaranya diet,

makanan, keadaan kekurangan gizi, gangguan keseimbangan hormon, kehamilan, pengikatan obat oleh protein plasma, distribusi obat dalam jaringan dan keadaan patologis hati, missal kanker hati. (Siswandono, 2000) Fenobarbital : fenobarbiton, luminal Senyawa hipnotik ini terutama digunakan pada serangan grand mal atau status epilipticus berdasarkan sifatnya yang dapat memblokir pelepasan muatan listrik di otak. Untuk mengatasi efek hipnotiknya, obat ini dapat dikombinasikan dengan kofein. Resorpsinya di usus baik (70-90%) dan lebih kurang 50% terikat pada protein; plasma-t-nya panjang, lebih kurang 3-4 hari, maka dosisnya dapat diberikan sehari sekaligus. (Tan Hoan Tjay, 2007) Efek barbiturat terhadap hati yang paling dikenal ialah efek terhadap system metabolisme obat di mokrosom. Barbiturat bersama-sama dengan sitokrom P-450

secara kompetitif mempengaruhi biotransformasi obat serta zat endogen dalam tubuh, misalnya horomon steroid. Sebaliknya beberapa senyawa dapat menghambat biotransformasi barbiturat. Interaksi obat tersebut bahkan terjadi pada barbiturat dan senyawa lain yang dioksidasi lewat system enzim mikrosomal yang berbeda. Pemberian barbiturat secara kronik menaikkan jumlah protein dan lemak pada retikulo endoplasmic hati, serta menaikkan aktivitas enzim glukoronid transferase dan enzim oksidase sitokrom P-450. Induksi enzim ini menaikkan kecepatan metabolisme beberapa obat dan senyawa endogen termasuk hormon steroid, kolesterol, garam empedu, vitamin K dan D. Toleransi terhadap barbiturat antara lain disebabkan karena merangsang aktivitas enzim yang merusak barbiturat itu sendiri. Efek induksi ini tidak terbatas hanya pada enzim mikrosomal saja, tetapi juga terjadi pada enzim mitokondria, yaitu - Amino Levukanic Acid (ALA) sintetase, dan enzim sitoplasma yaitu Aldehid dehidrogenase. (Amir Syarif, 2007) Simetidin Perintang H2 pertama ini menduduki reseptor histamin H2 di mukosa lambung yang memicu produksi asam klorida ( reseptor H2 terdapat pula di Susunan Syaraf Pusat dan pembuluh darah). Dengan demikian seluruh sekresi asam dihambat olehnya yakni baik yang basal (alamiah) maipun yang disebabkan oleh rangsangan makanan, insulin atau kofein. Juga produksi pepsin dan seluruh getah lambung berkurang, pH-nya dapat meningkat sampai pH 6-7. (Tan Hoan Tjay, 2007) Simetidin menghambat sitokrom P-450 sehingga menurunkan aktivitas enzim mikrosom hati. Jadi obat lain yang merupakan substrat enzim tersebut akan terakumulasi bila diberikan bersama dengan simetidin. Obat yang metabolismenya dipengaruhi oleh simetidin antara lain warfarin, fenitoin, kafein, teofilin, fenobarbital, karbamazepin, diazepam, propanolol, metoprolol, dan imipramin. (Amir Syarif , 2007) III. ALAT DAN BAHAN ALAT : Jarum suntik Stopwatch Beaker glass

BAHAN : Induktor enzim : Luminal ( phenobarbital ) Inhibitor enzim : simetidina Hewan uji : mencit

IV.

SKEMA KERJA

1 kelas dibagi 3 kelompok, masing-masing memperoleh 5 ,mencit

Kelompok I (kontrol), hewan uji diberikan Phenobarbital 80mg/kgBB dosis tunggal scr i.p

Kelompok II (induktor), hewan uji dengan perlakuan Phenobarbital scr i.p selama 3 hari tiap 24 jam

Kelompok III (inhibitor), seperti kelompok I dberikan bersama simetidin scr i.p 80mg/kgBB 1 jam sebelumnya.

Diamati lama waktu terjadi hipnotis dan lama waktu tidur dengan parameter righting reflek

Dicatat waktu hilangnya reflek balik badan, hitung durasi waktu tidur masing-masing kelompok

Dibandfingkan hasilnya menggunakan uji statistik analisa varian pola searah dengan taraf kepercayaan 95%

V.

DATA PENGAMATAN

Data perhitungan dosis dan volume pemberian tiap mencit.


BM Phenobarbital BM Phenobarbital-Na Dosis Phenobarbital Dosis Phenobarbital-Na : : 232,24 : 254,22 : 80 mg/kg BB 80 mg/kg BB = 87,57 mg/kg BB mencit

Penimbangan mencit (Jumat, 5 April 2013) Mencit 1 Mencit + tara Tara = 159,6 gram = 131,3 gram

Mencit = 28,3 gram Mencit 2 Mencit + tara Tara = 157,4 gram = 131,3 gram

Mencit = 26,1 gram Mencit 3 Mencit + tara Tara = 157,5 gram = 131,3 gram

Mencit = 26,2 gram Mencit 4 Mencit + tara Tara = 158,5 gram = 131,3 gram

Mencit = 27,2 gram Mencit 5 Mencit + tara = 154,2 gram Tara = 131,3 gram

Mencit = 22,9 gram Pembuatan larutan stok: Sediaan Phenobarbital ampul dengan dosis 100 mg/mL, dibuat 10 mg/mL sebanyak 10 mL
VI.

V1 V1 V1

C1 100 mg = =

V2

C2

10 mL . 10 mg 1 mL ad 10 mL

Mencit 1

Dosis :

87,57 mg/kg BB = 2,47 mg/28,3 gram BB mencit = 0,25 mL

Volume pembelian : Mencit 2 Dosis :

87,57 mg/kg BB = 2,285 mg/26,1 gram BB mencit = 0,23 mL

Volume pemberian : Mencit 3 Dosis :

87,57 mg/kg BB = 2,294 mg/26,2 gram BB mencit = 0,23 mL

Volume pemberian : Mencit 4 Dosis :

87,57 mg/kg BB = 2,3819 mg/27,2 gram BB mencit = 0,24 mL

Volume pemberian : Mencit 5 Dosis :

87,57 mg/kg BB = 2,0053 mg/22,9 gram BB mencit = 0,2 mL

Volume pemberian :

Penimbangan mencit (Sabtu, 6 April 2013) Mencit 1 Mencit + tara = 99 gram Tara = 75,2 gram

Mencit = 23,8 gram Mencit 2 Mencit + tara = 100,2 gram Tara = 75,2 gram

Mencit = 25 gram Mencit 3 Mencit + tara = 99,2 gram Tara = 75,2 gram

Mencit = 24 gram Mencit 4 Mencit + tara = 101,6 gram Tara = 75,2 gram

Mencit = 26,4 gram

Mencit 5 Mencit + tara = 96,5 gram Tara = 75,2 gram

Mencit = 21,3 gram Dosis dan volume pemberian, Mencit 1 Dosis : 87,57 mg/kg BB = 2,0842 mg/23,8 gram BB mencit = 0,21 mL

Volume pemberian : Mencit 2 Dosis :

87,57 mg/kg BB = 2,1892 mg/25 gram BB mencit = 0,22 mL

Volume pemberian : Mencit 3 Dosis :

87,57 mg/kg BB = 2,1016 mg/24 gram BB mencit = 0,21 mL

Volume pemberian : Mencit 4 Dosis :

87,57 mg/kg BB = 2,3118 mg/26,4 gram BB mencit = 0,23 mL

Volume pemberian : Mencit 5 Dosis :

87,57 mg/kg BB = 1,8652 mg/21,3 gram BB mencit = 0,19 mL

Volume pemberian :

Perhitungan mencit (Minggu, 7 April 2013) Mencit 1 Mencit + tara = 96,6 gram Tara = 72,1 gram

Mencit = 24,5 gram Mencit 2 Mencit + tara = 97,5 gram Tara = 72,1 gram

Mencit = 21,4 gram

Mencit 3 Mencit + tara = 96,5 gram Tara = 72,1 gram

Mencit = 24,4 gram Mencit 4 Mencit + tara = 98,7 gram Tara = 72,1 gram

Mencit = 26,6 gram Mencit 5 Mencit + tara = 94,5 gram Tara = 72,1 gram

Mencit = 22,4 gram

Dosis dan volume pemberian, Mencit 1 Dosis : 87,57 mg/kg BB = 2,1454 mg/22,4 gram BB mencit = 0,21 mL

Volume pemberian : Mencit 2 Dosis :

87,57 mg/kg BB = 2,2212 mg/25,4 gram BB mencit = 0,22 mL

Volume pemberian : Mencit 3 Dosis :

87,57 mg/kg BB = 2,1267 mg/24,4 gram BB mencit = 0,21 mL

Volume pemberian : Mencit 4 Dosis :

87,57 mg/kg BB = 2,329 mg/26,6 gram BB mencit = 0,23 mL

Volume pemberian : Mencit 5 Dosis :

87,57 mg/kg BB = 1,961 mg/22,4 gram BB mencit = 0,1961 mL = 0,20 mL

Volume pemberian :

Perhitungan mencit (Senin, 8 April 2013) Mencit 1 Mencit + tara = 87,5 gram Tara = 64,1 gram

Mencit = 23,4 gram Mencit 2 Mencit + tara = 87,6 gram Tara = 64,1 gram

Mencit = 23,5 gram Mencit 3 Mencit + tara = 86,6 gram Tara = 64,1 gram

Mencit = 22,5 gram Mencit 4 Mencit + tara = 89,3 gram Tara = 64,1 gram

Mencit = 25,2 gram Mencit 5 Mencit + tara = 84,5 gram Tara = 64,1 gram

Mencit = 20,4 gram

Dosis dan volume pemberian, Mencit 1 Dosis : 87,57 mg/kg BB = 2,0491 mg/23,4 gram BB mencit = 0,51 mL

Volume pemberian : Mencit 2 Dosis :

87,57 mg/kg BB = 2,5579 mg/23,5 gram BB mencit

Volume pemberian : Mencit 3 Dosis :

= 0,51 mL

87,57 mg/kg BB = 1,9703 mg/22,5 gram BB mencit = 0,49 mL

Volume pemberian : Mencit 4 Dosis :

87,57 mg/kg BB = 2,2067 mg/25,2 gram BB mencit = 0,55 mL

Volume pemberian : Mencit 5 Dosis :

87,57 mg/kg BB = 1,7864 mg/20,4 gram BB mencit = 0,45 mL

Volume pemberian :

Perhitungan konsentrasi larutan stok sebenarnya BM Phenobarbital = 232,24 BM Phenobarbital Na = 254,22 Dosis Phenobarbital = 80 BB mencit BB mencit

Dosis Phenobarbital Na = 254,22 x 80mg = 87,57 232,24 Perhitungan dosis berat mencit I berat mencit II berat mencit III = 19,9 g = 19,4 g = 17,4 g

Perhitungan Phenobarbital Na Dosis mencit Dosis untuk mencit 20 g = = =

Dosis untuk mencit I Dosis untuk mencit II Dosis untuk mencit III

Vp untuk mencit I = Vp untuk tikus II = Vp untuk tikus III =

= 0,44 ml = 0,42 ml = 0,38 ml

KONTROL Berat Badan Mencit I Berat tara + mencit I = 82,8 g Berat tara Berat mencit I = 64,1 g _ = 18,7 g

Mencit II Berat tara + mencit I = 80,4 g Berat tara Berat mencit I = 64,1 g _ = 19,3 g

Mencit III Berat tara + mencit I = 86,7 g Berat tara = 64,1 g _

Berat mencit I

= 22,6 g

Dosis dan volume pemberian Mencit I Dosis mencit = Volume pemberian Mencit II Dosis mencit = Volume pemberian Mencit III Dosis mencit = Volume pemberian = = =

Perhitungan simetidin Konsentrasi stok = 10 mg/ml Dosis untuk mencit I Dosis untuk mencit II Dosis untuk mencit III = = = = = =

Vp untuk mencit I Vp untuk tikus II

= =

= 0,16 ml = 0,16 ml

Vp untuk tikus III

= 0,14 ml

TABEL
cara pemberian Inhibitor i.p Control i.p Induksi i.p Pemberian phenobarbital 08.06 08.09 08.14 08.09 08.11 08.13 08.18 08.21 08.24 08.27 08.30 Simetidin 09.10 09.12 09.14 Reflek balik badan Hilang kembali 08.23 12.30 08.27 12.30 08.32 12.30 09.28 10.13 09.16 9.39 09.25 10.15 08.25 11.09 08.36 12.30 08.41 12.30 08.42 12.30 09.41 11.58 Onset (detik) 1020 1080 1080 4284 3780 4032 2040 900 1020 900 4260 Durasi (detik) 14820 14580 14280 2700 1380 3000 10620 14040 13740 13680 8220

UJI ANAVA Induksi 234 229 228 X= 230,33 x = 691 x2 = 159.181 nT = 3 XT = 584,33 x t = 1.753 x2 t = 373.887 nT = 9 x2 t = x2 t- (xT)2 / n = 373.887 (1.753)2 = 32.441,556 9 x2 b = (x1)2 + . + (xn)2 (xt)2 n1 nn nT (691)2 + (334)2 + (728)2 (1.753)2 3 3 3 9 = 159.160,333 + 37.185,333 + 176.661,333 341.445,444 = 31.561,5555 2 x w = x2 t - x2 b = 32.441,556 31.561,5555 = 880.001 Rjkb = x2 b K1 = 31.561,555 31 = 15.780,7775 Kontrol 124 88 122 X=111,33 x =334 x2 = 38.004 nT = 3 Inhibisi 247 243 238 X= 242,67 x = 728 x2 = 176.702 nT = 3

Rjkw = x2w = N-k Fhitung = Rjkb Rjkw Ftabel = 5,14 10,92

880.001 = 146.666,8333 9 3

= 0,1076

Fhitung < Ftabel Kesimpulan : berarti tidak ada perbedaaan yang signifikan pada pengaruh induksi dan inhibisi terhadap metabolisme obat.

PEMBAHASAN Proses metabolisme merupakan proses dimana molekul obat diubah menjadi senyawa yang lebih polar (mudah larut dalam air) dan mudah diekskresikan dari tubuh. Obat mengalami metabolisme dengan jalur kemungkinan bioaktivasi (prodrug setelah dimetabolisme menjadi obat aktif.),bioinaktivasi (obat aktif menjadi tidak aktif setelah dimetabolisme) dan biotoksifikasi (obat aktif yang dimetabolisme menjadi senyawa yang toksis). Percobaan kali ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh beberapa senyawa kimia terhadap enzim pemetabolisme obat dengan mengukur efek farmakologinya. Hewan uji yang digunakan adalah mencit, digunakan mencit yang mempunyai sistem metabolisme menyerupai manusia, lebih ekonomis, dan mudah didapatkan. Organ pemetabolisme terbesar adalah hati. Obat yang digunakan pada pecobaan ini yaitu Phenobarbital yang mempunyai dosis 80mg/kgBB. Phenobarbital berfungsi sebagai induktor yaitu senyawa kimia yang dapat mempercepat kerja dari enzim metebolisme. Phenobarbital memiliki efek hipnotik/sedatif sehingga lebih mudah dilakukan pengamatan. Pemberian

Phenobarbital dilakukan secara intraperitonial agar efek yang ditimbulkan lebih cepat karena di dalam rongga perut terdapat banyak pembuluh darah. Pada kontrol, hewan uji hanya diberikan Phenobarbital 80mg/kgBB. Adanya kontrol berfungsi sebagai pembanding sehingga diketahui perbedaan efek yang ditimbulkan antara pemberian Induktor dan Inhibitor. Pada induktor, hewan uji diberi Phenobarbital selama 3 hari berturut-turut tiap 24 jam dan saat praktikum diberi lagi Phenobarbital 80mg/kgBB. Phenobarbital diberikan 3 hari berturut-turut karena Phenobarbital dapat mengalami auto induksi akibat pemakaian selama 3 hari sampai 7 hari dimana menginduksi dirinya sendiri, disini melibatkan enzim sitokrom P450 dan glukoranil transferase untuk metabolisme Phenobarbital. Oksidasi obat-obatan tertentu oleh sitokrom P450 menghasilkan senyawa yang sangat reaktif, yang dalam keadaan normal di ubah menjadi metabolit yang stabil. Tapi, bila enzimnya diinduksi atau kadar obatnya tinggi, maka metabolit yang terbentuk banyak sekali. Karena inaktivasinya tidak cukup cepat. Sehingga obat akan berefek lebih cepat dan dieksresi lebih cepat pula. Parameter yang paling berpengaruh disini adalah durasi karena yang dilihat adalah kadar obat di dalam plasma sehingga yang dilihat obat tersebut berefek sampai

obat tersebut tidak berefek. Jadi bukan onsetnya atau waktu mula kerja obat sampai obat tersebut memberikan efek. Namun pada percobaan ini kami akan membahas tentang kedua parameter tersebut. Rata-rata onset dan durasi dari kontrol lebih besar dari rata-rata onset dan durasi dari induktor. Menurut teori onset dan durasi yang tercepat adalah induktor kemudian kontrol. Hal ini terjadi karena enzim sitokrom P450 yang berperan dalam metabolisme Phenobarbital diinduksi atau kadar obatnya tinggi, maka metabolit yang terbentuk banyak sekali. Karena inaktivasinya tidak cukup cepat, sehingga obat akan berefek lebih cepat dan dieksresi lebih cepat pula dibandingkan dengan kontrol yang diberi Phenobarbital hanya sekali pada saat percobaan. Pemberian Phenobarbital pada hewan uji dapat menyebabkan hewan uji tersebut tidur, bangun dan tidur kembali. Hal ini Phenobarbital memiliki efek redistribusi. Dilakukan uji anava untuk onset dan durasi. Keduanya menghasilkan data F hitung lebih kecil dari F tabel yang berarti tidak ada perbedaan signifikan onset dan durasi antar kelompok sehingga uji pasca anava tidak perlu dilakukan. Obat diberikan bersamaan induktor dapat mempercepat metabolisme obat tersebut dengan meningkatkan aktivitas enzim metabolisme, ini menyebabkan kadar obat bebas dalam plasma turun dan masa kerjanya lebih singkat.

VII.

KESIMPULAN Disimpulkan bahwa pemberian obat bersamaan pemberian induktor dapat mempengaruhi kecepatan metabolisme obat dengan mempengaruhi aktivitas enzim metabolisme. Induktor mempercepat kerja dari enzim metabolisme sehingga memberikan onset dan durasi lebih cepat. Pada perhitungan anava meskipun hasilnya tidak ada perbedaan signifikan onset dan durasi antara induktor dan kontrol (F hit F tabel), namun jika dilihat dari waktu onset dan durasi, pada pemberian induktor lebih cepat daripada kontrol.

DAFTAR PUSTAKA Mardjono, Mahar, 2007, Farmakologi dan Terapi, Jakarta; Universitas Indonesia Press. Mycek, Mary J., dkk. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar edisi II. Widya Medika:Jakarta Siswandono. 2000. Kimia Medisinal edisi I. Airlangga University Press:Surabaya Syarif, Amir dkk.2007. Farmakologi dan Terapi edisi V. FK UI Press:Jakarta Tjay, T. H., Rahardja, K. 2002. Obat-obat Penting Khasiat dan Penggunannya edisi V. PT. Elex Media Computindo; Jakarta

Mengetahui, Dosen Pembimbing

Semarang, 21 Maret 2011 Praktikan,

Djatmika, S.Si, Apt.

Ade Infania (1041111001)

FX. Sulistiyanto, ST., Apt.

Alifa Rahmatul F. (1041111005)

Amalia Maris (1041111009)

Aprina Indrianita (104)

Betty Rusthi C. (104)

Barru Ambiyal K. (1041111175)

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

PENGARUH INDUKTOR DAN INHIBITOR TERHADAP EFEK FARMAKOLOGI

Disusun oleh : Ade Infania (1041111001) Alifa Rahmatul F. (1041111005) Amalia Maris (1041111009) Aprina Indrianita (104) Betty Rusthi C. (104) Barru Ambiyal K. (1041111175)

PROGRAM STUDI S1 FARMASI SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI YAYASAN PHARMASI SEMARANG 2011