Anda di halaman 1dari 9

PP 60/2007 DAN HUBUNGANNYA DENGAN PENYELAMATAN SUMBER DAYA KELAUTAN

HUKUM DAN KEBIJAKAN KELAUTAN

AHDIAT P 0201212401

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

Pendahuluan Konservasi sumber daya ikan merupakan rangkaian yang tidak bisa dipisahkan dari upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan . Termasuk di dalamnya, pengelolaan kawasan konservasi perairan, jenis ikan, dan genetik ikan untuk menjamin ketersediaan dan keberlanjutannya. Merujuk Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan beserta perubahannya (UU No 45/2009) dan PP No 60/2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan, paling tidak memuat dua hal penting paradigma baru dalam konteks konservasi. Pertama, pengelolaan diatur dengan sistem zonasi. Ada empat pembagian zona dalam kawasan konservasi perairan. Yakni, zona inti, perikanan berkelanjutan, pemanfaatan, serta zona lainnya. Perlu diketahui, zona perikanan berkelanjutan tidak pernah diatur dalam regulasi pengelolaan kawasan konservasi. Baik, menurut UU No 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya maupun PP No 68/1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Kedua, dalam hal kewenangan, pengelolaan kawasan konservasi selama ini menjadi monopoli pemerintah pusat. Namun, sekarang sudah didesentralisasikan kepada pemda. Ini berdasarkan UU No 27/2007 tentang Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, PP No 60/2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan, serta Peraturan MenKP No Per.02/Men/2009 tentang Tata Cara Penetapan Kawasan Konservasi Perairan. Pemda diberi kewenangan mengelola kawasan konservasi di wilayahnya. Ini selaras dengan mandat UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, khususnya terkait pengaturan pengelolaan wilayah laut dan konservasi. Paradigma baru tersebut, kini telah menghapus kekhawatiran akan berkurangnya akses nelayan di kawasan konservasi perairan. Apalagi, hak-hak tradisional masyarakat juga diakui dalam pengelolaan kawasan. Termasuk, wilayah yang diatur oleh adat tertentu, seperti Sasi (Maluku), Panglima Laut (Aceh), dan Awigawig (Bali). Dalam penerapan paradigma tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan terus melakukan asistensi, pembinaan dan fasilitasi kegiatan konservasi di daerah. Pemerintah Pusat juga telah melaksanakan desentralisasi dalam pendanaan. Misalnya, melalui akses Dana Alokasi Khusus dan Dekonsentrasi Provinsi bagi pemda. Menggeser paradigma lama bahwa konservasi hanya terbatas pada upaya perlindungan dan pelestarian belaka, memang bukan hal yang mudah. Kementerian Kelautan dan Perikanan sangat menyadari pentingnya sosialisasi dan pelibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan. Untuk itu, kerja sama dengan para pihak termasuk LSM terus diperkuat. Antara lain, melalui kerja sama dengan konsorsium Marine Protected Are Governance (MPAG), yang terdiri dari sejumlah LSM seperti WWF, TNC, CTC, CI dan WCS. Sebagai kawasan khas yang memiliki akses terbuka (open access) bagi siapa saja, pengawasan kawasan perairan sangat membutuhkan peran aktif berbagai pihak. Kementerian Kelautan dan

Perikanan sendiri telah memiliki unit kerja pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan, yang mendukung penuh pelaksanaan konservasi sumber daya ikan. Pemberdayaan masyarakat juga menjadi kunci keberhasilan konservasi. Antara lain, melalui upaya pembentukan dan optimalisasi Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) di sekitar kawasan konservasi. Melalui upaya ini, banyak kasus pemboman ikan, pencurian telur penyu dan pelanggaran lainnya diproses sesuai hukum atas peran aktif dan partisipasi masyarakat. Panduan Praktis Tahun 2012, Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan, telah berkontribusi dalam pengelolaan kawasan konservasi seluas 3,2 juta hektar dan penambahan luas kawasan konservasi perairan di Indonesia menjadi 15,78 juta hektar. Untuk menilai efektivitas pengelolaan sebuah kawasan konservasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menyusun panduan praktis. Panduan itu juga digunakan untuk mengevaluasi, sejauh mana efektivitas pengelolaan sebuah kawasan konservasi. Panduan itu dikenal dengan Pedoman Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (E-KKP3K). Dengan pedoman ini, efektivitas pengelolaan sebuah kawasan konservasi bisa ditinjau secara komprehensif, sekaligus bermanfaat bagi perencanaan pengembangan kawasan di masa mendatang. Mekanisme penghargaan kepada pengelola kawasan juga akan diterapkan berdasarkan E-KKP3K ini dengan penghargaan tahunan bertajuk KKP Award. Sejumlah upaya pengelolaan telah dilaksanakan, seperti fasilitasi dan pembinaan kawasan konservasi perairan daerah, ujicoba Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, pelatihan pengelolaan perikanan berkelanjutan, bimbingan teknis pengelolaan kawasan, rehabilitasi habitat, penanaman vegetasi pantai, fasilitasi pengembangan kelembagaan serta penyusunan rencana pengelolaan dan zonasi kawasan. Mekanisme pelaksanaannya dilaksanakan melalui pertemuan konsultasi, pembahasan, focus group discussion dan sebagainya. Capaian penambahan luas kawasan tahun 2012 merupakan roadmap penting, dalam pencapaian target luas kawasan konservasi perairan 20 juta hektar tahun 2020. Apalagi, Presiden SBY pada event World Ocean Conference (WOC) di Manado tahun 2009, telah menyampaikan komitmen pencapaian luas 20 juta hektar pada masyarakat dunia. Untuk mendukung komitmen ini, Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan pun terus bekerja mengawal penambahan luas kawasan ini agar target penambahan luas yang tersisa, sekitar 4,2 juta hektar dapat terealisasi pada akhir 2020. Tentu saja kerja sama dan kontribusi para pihak sangat dibutuhkan untuk mewujudkan target tersebut.

Kawasan Konservasi Perairan Berdasarkan Permen KKP No 2/2009 dalam ketentuan umum bahwa: 1. Kawasan Konservasi Perairan adalah kawasan perairan yang dilindungi, dikelola dengan sistim zonasi untuk mewujudkan pengelolaan sumberdaya ikan dan lingkungan secara berkelanjutan. 2. Taman Nasional Perairan adalah kawasan konservasi perairan yang mempunyai kosistim asli yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian ilmu pengetahuan, pendidikan kegiatan yang menunjang perikanan yang berkelanjutan, wisata perairan dan rekreasi 3. Suaka alam Perairan adalah kawasan konservasi perairan dengan ciri khas tertentu untuk tujuan perlindungan keanekaragaman jenis ikan dan ekosistimnya. 4. Taman Wisata Perairan adalah kawasan konservasi perairan dengan tujuan untuk dimanfaatkan bagi kepentingan wisata perairan dan rekreasi 5. Suaka perikanan adalah kawasan perairan tertentu baik air tawar, payau, maupun laut dengan kondisi dan ciri tertentu sebagai tempat berlindung berkembang biak jenis sumber daya ikan tertentu sebagai daerah perlindungan. Untuk mewujudkan konservasi sumberdaya perairan telah ditetapkan berdasarkan azas pada PP No 60 th. 2007 di pasal 2 ayat (1) : 1. Manfaat : Pelaksanaan konservasi SDI dapat memberikan manfaat bagi kemanusiaan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, pengembangan yang berkesinambungan serta peningkatan kelestarian sumber daya. 2. Keadilan : Pelaksanaan Konservasi SDI memperhatikan aspek kebenaran, keseimbangan, keadilan serta tidak sewenang-wenang. 3. Kemitraan : Pelaksanaan konservasi SDI dilakukan berdasarkan kesepakatan kerjasam antar pemangku kepentingan yang berkaitan dengan konservasi sumberdaya perairan. 4. Pemerataan : Pelaksanaan konservasi SDI dapat memberikan manfaat ekonomi yang dapat dinikmati oleh sebagian masyarakat secara merata. 5. Keterpaduan : Pelaksanaan konservasi SDI dilakukan secara terpadu, bulat dan utuh, saling menunjang dengan memperhatikan kepentingan nasional, sector lain dan masyarakat setempat. 6. Keterbukaan : Pelaksanaan konservasi SDI dilakukan secara transparan, dan memberikan akses kepada masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur dan tidak diskriminatif. 7. Efisiensi : Harus memperhatikan efisiensi dari segi waktu,proses dan biaya. 8. Kelestarian : Harus memperhatikan daya dukung lingkungan dan kelestarian sumberdaya hayati yang terkandung didalamnya. (Pedum, 2010)

Pendekatan Konservasi Sumberdaya Ikan dilakukan berdasarkan : Pendekatan Kehati-hatian, Pertimbangan Bukti Ilmiyah, Pertimbangan Kearifan Lokal, Pengelolaan Berbasis Masyarakat, Keterpaduan Pengembangan Wilayah Pesisir, Pencegahan Tangkap Lebih (over fishing), Alat tangkap dan cara cara penangkapan ramah Lingkungan termasuk kegiatan Budidaya Ramah Lingkungan, Pertimbangan Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat, Sustainable Yeald, Perlindungan Ekosistim Perairan, Jenis dan Genetik dan Pengelolaan Adaptif. Dalam melakukan Konservasi Ekosistim dilakukan terhadap tipe ekosistim perairan baik laut dan perairan tawar yang terkait dengan sumber daya ikan seperti : Laut, Padang lamun, Terumbu karang, Mangrove, Estuaria, Pantai, Rawa, Sungai, Danau, Waduk, Embung dan Ekosistim Perairan Buatan seperti kolam, sawah dsb. Konservasi sumberdaya ikan dilakukan berdasarkan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Perlindungan habitat dan Populasi Ikan Rahabilitasi Habitat dan Populasi Ikan Penelitian dan Pengembangan Pemanfaatan Sumber daya Ikan dan Jasa Lingkungan Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pengawasan dan Pengendalian ( Monev)

Dalam melakukan pengelolaan Sumberdaya ikan terutama stok ikan yang berada di habitatnya dilakukan dengan mengatur waktu dan cara-cara penangkapan seperti adanya sistim buka tutup daerah penangkapan ikan (fishing ground) dengan pertimbangan tingkat kerusakan habitat ikan, Musim Berkembangbiak, dan tingkat pemanfatan yang berlebih. Konservasi Sampai Level Genetik Apabila berbicara tentang konservasi jenis ikan berdasarkan PP No. 60/2007 pasal 21 tujuannya adalah: (1) Melindungi jenis ikan yang terancam punah, (2) Mempertahankan keanekaragaman jenis ikan, (3) Memelihara keseimbangan dan kemantapan ekosistem, dan (4) Memanfaatkan sumber daya ikan secara berkelanjutan. Dijelaskan pula kegiatannya melalui: (1) penggolongan jenis ikan, (2) penetapan status perlindungan jenis ikan, (3) pemeliharaan, (4) pengembangbiakan, dan (5) penelitian dan pengembangan. Dalam PP No. 60/2007 disebutkan bahwa penggolongan jenis ikan terdiri dari: (1) Jenis ikan yang dilindungi, dan (2) Jenis ikan yang tidak dilindungi. Dengan kriteria jenis ikan yang dilindungi adalah (1) Terancam punah, (2) Langka, (3) Daerah penyebarannya terbatas (endemik), (4) Terjadi penurunan jumlah populasi K uda Laut K im a K er a ng Du yung, ikan di alam secara drastis, dan (5) Tingkat kemampuan reproduksi rendah.

Sementara itu pemeliharaan jenis ikan dilakukan melalui kegiatan: (1) koleksi ikan hidup pada suatu media terkontrol sebagai habitat buatan dan (2) mengambil dari habitat alam atau dari hasil pengembangbiakan. Sedangkan untuk konservasi sumberdaya genetik ikan dilakukan melalui: (1) Pemeliharaan, (2) Pengembangbiakan, (3) Penelitian; dan (4) Pelestarian gamet. Kemudian untuk memahami tentang pemanfaatan jenis ikan dan genetik ikan dapat dilakukan melalui kegiatan: (1) Penelitian dan pengembangan, (2) Pengembangbiakan, (3) Perdagangan, (4) Aquaria, (5) Pertukaran, dan (6) Pemeliharaan untuk kesenangan. Pemanfaatan jenis ikan dan genetik ikan dilakukan dengan kriteria: (1) Jenis ikan yang dilindungi dan jenis ikan yang tidak dilindungi, (2) Pengambilan dari alam, (3) Memiliki izin pengambilan, (4) Pengambilan ikan untuk pengembangbiakan dan aquaria sebagai titipan Negara, dan (5) Wajib membayar pungutan perikanan. Pemanfaatan jenis ikan dan genetik ikan untuk penelitian dan pengembangan dapat dilakukan dengan persyaratan: (1) Terhadap jenis ikan yang dilindungi dan jenis ikan yang tidak dilindungi, (2) Orang perseorangan, perguruan tinggi, lembaga swadaya dan lembaga penelitian dan pengembangan, (3) Wajib mendapat izin dari Menteri, (4) Izin orang asing melakukan penelitian dan pengembangan mengikuti ketentuan perundang-undangan. Pemanfaatan jenis ikan dan genetik ikan untuk pengembangbiakan dapat dilakukan : (1) Terhadap jenis ikan yang dilindungi dan jenis ikan yang tidak dilindungi, (2) Orang perseorangan, kelompok masyarakat, badan hukum Indonesia, lembaga penelitian, dan/atau perguruan tinggi, (3) Wajib mendapat izin dari Menteri, (4) Izin dikeluarkan setelah memenuhi persyaratan teknis dan administrasi. Pemanfaatan jenis ikan dan genetik ikan untuk perdagangan dapat dilakukan terhadap : (1) jenis ikan yang dilindungi hasil pengembangbiakan generasi II (F2) dan seterusnya, generasi I (F1) yang ditetapkan oleh Menteri), (2) jenis ikan yang tidak dilindungi, (3) Jenis ikan yang dapat diperdagangkan berdasarkan ketentuan hukum internasional. Pemanfaatan jenis ikan dan genetik ikan untuk perdagangan dapat dilakukan : (1) Untuk jenis ikan yang tidak dilindungi berlaku kuota, (2) Orang perseorangan, dan/atau korporasi, (3) Wajib mendapat izin dari Menteri, (4) Untuk eksport, import, dan re-eksport yang dilengkapi surat-surat administarsi, (5) Wajib dikenakan tindakan karantina. Pemanfaatan jenis ikan dan genetik ikan untuk aquaria dapat dilakukan : (1) Untuk jenis ikan yang dilindungi dan jenis ikan yang tidak dilindungi, (2) Badan hukum Indonesia, lembaga penelitian, atau perguruan tinggi, (3) Wajib mendapat izin dari Menteri, (4) Bertanggung jawab atas kesehatan, keselamatan dan keamanan ikan, (5) Bentuk kegiatan koleksi ikan hidup, koleksi ikan mati dan peragaan. Kemudian pemanfaatan jenis ikan dan genetik ikan untuk pertukaran dapat dilakukan dengan kondisi: (1) Untuk jenis ikan yang dilindungi dan jenis ikan yang tidak dilindungi, (2) Pemerintah, pemerintah daerah, badan hukum Indonesia, atau perguruan tinggi, (3) Wajib

mendapat izin dari Menteri, (4) Berdasarkan kesetarann jenis ikan yang ditukarkan. Pemanfaatan jenis ikan dan genetik ikan untuk pemeliharaan untuk kesenangan dapat dilakukan : (1) Untuk jenis ikan yang dilindungi dan jenis ikan yang tidak dilindungi, (2) Orang perseorangan, (3) Jenis ikan yang telah dikembangbiakkan (4) Wajib mendapat izin dari Menteri, (5) Bertanggung jawab atas kesehatan, keselamatan, keamanan ikan,dan fasilitas sesuai standar pemeliharaan jenis ikan. Untuk penyelenggaraan konservasi jenis ikan dan genetik ikan sebagaimana telah diuraikan diatas, adalah paradigma baru penyelenggaraan konservasi jenis ikan dan genetik ikan berdasarkan UU No. 31/2004 dan peraturan turunannya yaitu PP No. 60/2007. Namun kondisi di atas secara deyure belum operasional, mengingat perlu penyelarasan dengan Departemen Kehutanan, karena pada periode sebelumnya bahwa penyelenggaraan konservasi jenis ikan dan genetik ikan dilaksanakan oleh Departemen Kehutanan sebagai mandat dari UU No. 5/1990. Dengan disyahkannya PP No. 60/2007, telah terjadi kesepakatan penyelarasan urusan antara DKP dengan Departemen Kehutanan. Konservasi dan Hak-Hak Nelayan Perkembangan pemahaman konservasi saat ini, sangat berbeda dan telah terjadi pergeseran paradigma pemahaman konservasi sebelumnya, sebagaimana sering menjadi momok, khususnya bagi masyarakat nelayan. Pengertian Kawasan Konseravsi Perairan (KKP) menurut UU 31/2004 tentang Perikanan dan PP 60/2007 tentang Konservasi Sumberdaya Ikan, paling tidak memuat dua hal penting yang menjadi paradigma baru dalam pengelolaan konservasi. Pertama, Pengelolaan KKP diatur dengan sistem zonasi, yakni: zona inti, zona perikanan berkelanjutan, zona pemanfaatan dan zona lainnya. Zona perikanan berkelanjutan tidak pernah dikenal dan diatur dalam regulasi pengelolaan kawasan konservasi menurut UU 5/1990 dan PP 68/1998. Kedua, dalam hal kewenangan, pengelolaan kawasan konservasi yang selama ini menjadi kewenangan pemerintah pusat (BKSDA, Balai TN). Berdasarkan undang-undang 27/2007 dan PP 60/2007 serta Permen Men KP no 02/2009, Pemerintah daerah diberi kewenangan dalam mengelola kawasan konservasi di wilayahnya. Hal ini sejalan dengan mandat UU 32/2004 tentang pemerintahan daerah terkait pengaturan pengelolaan wilayah laut dan konservasi. Secara detil bagaimana pemerintah daerah melakukan pencadangan kawasan konservasi diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: Per.02/Men/2009 tentang Tata Cara penetapan kawasan konservasi perairan. Lebih lanjut, pengaturan mengenai kawasan konservasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil telah diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: Per.17/Men/2008 sebagai peraturan turunan dari UU 27 tahun 2007. Dengan pengaturan zona sebagaimana dikemukakan, serta perkembangan desentralisasi dalam pengelolaan kawasan konservasi, kekhawatiran akan mengurangi akses nelayan itu sangat tidak

mungkin. Justru hak-hak tradisional masyarakat sangat diakui dalam pengelolaan kawasan konservasi. Masyarakat diberikan ruang pemanfaatan untuk perikanan di dalam kawasan konservasi (zona perikanan berkelanjutan, zona pemanfaatan maupun zona lainnya), yang dalam konteks pemahaman konservasi terdahulu (sentralistis) hal ini belum dilakukan. Kata kunci pengelolaan kawasan konservasi perairan adalah Dikelola Dengan Sistem Zonasi dengan tujuan untuk perikanan yang berkelanjutan. Lebih lanjut, pengelolaan kawasan konservasi ini dikelola oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangannya. Dalam hal ini dapat melibatkan masyarakat melalui kemitraan antara unit organisasi pengelola dengan kelompok masyarakat dan/atau masyarakat adat, lembaga swadaya masyarakat, korporasi, lembaga penelitian, maupun perguruan tinggi. Jadi pengelolaan kawasan konservasi tidak hanya dilakukan oleh pemerintah pusat saja, tetapi juga oleh pemerintah provinsi dan kabupaten sesuai kewenangannya. Pada tingkat pemerintah, DKP telah membentuk Unit Pelaksana Teknis, yaitu Balai Kawasan Konservasi Perairan (BKKPN) yang berkedudukan di Kupang dan Loka Kawasan Konservasi Perairan (LKKPN) yang ada di Pekan Baru. Sedangkan Pemerintah Daerah, untuk mengelola KKLD, dapat pula dibentuk UPT daerah atau bahkan dapat ditingkatkan menjadi Badan Layanan Umum (BLU) jika memang kegiatan konservasi di wilayah tersebut cukup menjanjikan sehingga perlu dikelola secara professional. Sebagaimana diatur peraturan-perundangan yang telah dikemukakan, pemerintah daerah diberi kewenangan dalam mengelola kawasan konservasi di wilayahnya. Dalam hal ini, fungsi DKP hanya mendorong daerah untuk mengembangkan potensi daerahnya sesuai dengan peraturan perundangan yang ada. Dalam konteks pengelolaan KKLD, Sebenarnya pemerintah pusat hanya memfasilitasi dan menetapkan kawasan konservasi. Proses identifikasi, pencadangan maupun Pengelolaannya secara keseluruhan dilakukan oleh pemerintah daerah. Sebenarnya pengembangan KKLD ini telah mulai didorong dan juga atas inisiatif daerah sejak berdirinya DKP. KKLD sendiri dalam istilah perundang-undangan memang tidak di atur, nama ini sudah terlanjur popular. Istilah yang dikenal perundang-undangan adalah kawasan konservasi perairan dan/atau kawasan konservasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Lebih lanjut, Kawasan konservasi perairan laut dikenal sebagai KKL. Sedangkan KKL yang pengelolaannya dilaksanakan oleh pemerintah daerah sering disebut Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD). Kedepan, antar satu KKLD dengan KKLD lainnya akan saling terhubung membentuk sebuah jejaring yang kuat/tangguh (resilient) baik dari sisi ekologis maupun manajemennya, sehingga fungsi kawasan betul-betul dapat mendukung perikanan yang berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat Sebaiknya pengelolaan kawasan konservasi dilakukan sesuai dengan kewenangannya. Pengelolaaan KKP di daerah tentunya harus berbasis masyarakat dan bermitra dengan

masyarakat. Contoh, mengenai mata pencaharian alternative masyarakat yang telah dikembangkan di kawasan konservasi, seperti: pengelolaan kepiting bakau, pengelolaan jasa wisata bahari, budidaya rumput laut, kegiatan partisipasi jender (missal: pembuatan kerupuk ikan, kerajinan masyarakat, dan lain-lain). Perans erta masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi merupakan hal yang utama, mengingat masyarakatlah yang sebenarnya sehari-hari berada pada KKP, tidak sedikit yang bergantung terhadap sumberdaya di KKP tersebut. Sehingga kemitraan dan kerjasama yang mengedepankan peran masyarakat utamanya bagi peningkatan kesejahteraan adalah sangat penting.