Anda di halaman 1dari 18

Permasalahan Kota

September 8th, 2009 Kota adalah suatu daerah yang menjadi pusat kegiatan pemerintahan, ekonomi, dan kebudayaan. Sebuah kota menjadi semakin komplek dari waktu kewaktu, membawa permasalahan yang khas. Dari kota New York sampai Jogja. Permasalahan itu antara lain adalah: 1. Permukiman kumuh Slum area selalu muncul disetiap kota. Hal ini dikarenakan bahwa ada sebagian warga kota yang tidak mempunyai pendapatan yang cukup untuk membeli rumah didaerah pinggiran. Jadi mereka mendirikan rumah-rumah dipinggiran sungai, bawah jembatan layang, maupun yang lainnya. Biasanya, daerah permukiman kumuh dituduh sebagai sarang kriminalitas kota. Banyak hal yang telah digagas oleh pemerintah. Salah satunya adalah rusnawa. Rumah susun ini dibangun agar masyarakat yang tinggal di permukiman kumuh lebih terkontrol. Tapi terkadang pengguna rusun ini tidak tepat sasaran. Seperti contoh di Jogja, rusunawa di code banyak yang disewa oleh orang-orang dari Bantul. 2. Sampah Masalah sampah menjadi masalah yang klasik. Kota dengan penduduk yang banyak menghasilkan sampah yang banyak pula setiap harinya. Terkadang daya tampung kota tidak mencukupi untuk menampung sampah. Kebiasaan masyarakat membuang sampah disungai juga merupakan sebuah masalah yang serius. Hal ini bisa menyebabkan sungai mampet, menjadi sarang penyakit, dan tidak mampu mengalirkan air saat hujan tiba, yang akhirnya akan meluapnya air sungai. Sistem pembuangan sampah yang baik mutlak dimiliki oleh sebuah kota. Hal ini sungguh bermanfaat bagi kesehatan fisik dan psikologis warganya. Kota yang bersih dan sehat tentu saja lebih produktif dan menyenangkan daripada kota kumuh yang dipenuhi sampah. 3. Transportasi Kota luas dengan penduduk yang padat, memerlukan sistem transportasi yang baik pula. Hal ini dikarenakan tren kota yang menempatkan daerah permukiman di pinggir kota dan perkantoran di pusat kota. Setiap pagi dan petang arus lalu lintas menjadi sangat padat. Jika transportasi tidak baik maka akan terjadi kemacetan lalu lintas. Kemacetan tersebut merupakan pemborosan bbm dan waktu. Sebuah kota yang baik haruslah didukung oleh transportasi massal yang canggih, murah, dan mudah dijangkau sampai pinggiran kota. Dengan adanya transportasi yang baik maka,

kemacetan dapat dicegah, bbm bisa dihemat, waktu yang terbuang oleh kemacetan bisa berkurang (jam produktif jadi lebih banyak), perekonomian kota pun menjadi lancar.

300 Balita Jadi Target Perbaikan Gizi


Sriwijaya Post - Kamis, 16 Desember 2010 15:30 WIB

PALEMBANG -- Sebanyak 300 Balita yang mengalami persoalan tumbuh kembang, khususnya kecukupan gizi yang ada di beberapa kecamatan di kota Palembang, sepertinya menjadi perhatian Maya Susmaria dan pengurus Persatuan Istri PT PLN (Persero) Wilayah S2JB. Ratusan balita ini tidak hanya diberikan makanan tambahan selama satu bulan, tetapi terus dipantau hingga tiga bulan ke depan. Kamis (16/12) tadi pengurus PI PT PLN (Pesero) mendatangi Puskesmas Pembantu Kelurahan 30 Ilir. Di sini sudah hadir 50 orang Balita dan orang tua, Sekcam Ilir Barat (IB) II Altur Febriansyah SH dan beberapa lurah. Satu persatu Balita diberikan paket makanan tambahan untuk satu bulan, mencakup gula satu kilogram, beras (1 Kg), telur (1 Kg), kacang hijau (1 kg), susu bubuk (400 gram), susu cair siap minum dan makanan ringan (snack). Selain itu, orang tua Balita diberikan penyuluhan pentingnya gizi bagi anak dan secara rutin berkunjung ke Puskesmas. Kepada wartawan Maya Susmaria mengatakan, kegiatan peduli Balita ini merupakan tindaklanjut program pengurus PI pusat dalam rangka HUT PI ke 11, dimana secara nasional 5000 Balita kurang gizi atau bermasalah dengan gizi menjadi perhatian. "Kami bagian dari masyarakat sehingga begitu ada masalah di masyarakat khususnya persoalan gizi Balita, maka kami terpanggil untuk membantu. Setidaknya, para pengurus PI ingin meringankan beban ibu-ibu yang kebetulan ada masalah ekonomi keluarga," katanya. Dikatakan, persoalan gizi buruk atau kurang gizi semata-mata bukan saja persoalan ekonomi keluarga, tetapi lebih dari itu, yakni ketidaktahuan ibu-ibu soal gizi. "Nah, dalam kaitan itulah, jajaran Puskesmas diajak untuk memberikan penyuluhan dan pemberikan pemahaman bagi orang tua anak penting datang ke Puskesmas untuk menimbangkan berat badan anaknya," papar Maya. Maya pun mengakui, keterbatasan yang dimiliki Pengurus PI PT PLN (Persero) Wilayah S2JB karenanya tidak semua Balita menjadi perhatian. "Untuk tiga bulan ini, kita fokus kepada Balita yang ada di beberapa kecamatan saja," katanya. "Bantuan makanan tamabahan ini khusus untuk Balita yang mengalami masalah gizi, bukan untuk siapa-siapa. Kami akan berikan makanan tambahan hingga tiga bulan ke depan dan terus dievaluasi kecukupan gizi 300 anak Balita hingga bergizi," ungkap Maya.

DAERAH

Tarik Ulur Pembangunan Tol Tengah Kota Surabaya


Oleh : Soekardjito | 18-Des-2010, 06:03:01 WIB KabarIndonesia - Surabaya, Pembangunan tol tengah kota Surabaya guna mengurai permasalahan lalu lintas masih terjadi tarik ulur antara eksekutif dan legislatif di kota Surabaya. Setelah beberapa waktu lalu Walikota Surabaya, Tri Rismaharani dengan tegas menolak rencana pembangunan tol tengah kota yang akan dibangun oleh investor dalam negeri, yakni PT Marga Jawaraya Tol. Akan tetapi PT Marga Jawaraya Tol melakukan lobi terhadap DPRD Kota Surabaya membuahkan hasil. Palu diketok saat paripurna Kamis (17/12) malam agar proyek tol tengah kota direalisasikan. "Kita akan membahas hal ini dengan walikota," ujar Wisnu Wardhana, Ketua DPRD Kota Surabaya Di saat Paripurna berlangsung, puluhan Akademisi dari ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) menggelar aksi menolak pembangunan tol tengah kota ini karena dinilai merusak tatanan kota Surabaya. Beberapa perwakilan pengunjuk rasa ini diterima langsung oleh Ketua DPRD, Wisnu Wardahana dan beberapa anggota dewan lainnya di Ruang Badan Kehormatan (BK), berlangsung panas setelah ada pengusiran terhadap salah satu perwakilan pengunjuk rasa, yakni Isa Anshori yang dinilai melecehkan lembaga DPRD Kota Surabaya. "Tolong cabut pernyataan Anda. Kalau tidak silahkan keluar dari ruangan ini. Anda telah melecehkan kami," hardik Adies Kadir, anggota DPRD Kota Surabaya dari Fraksi Golkar . Sementara itu, pihak Pemerintah Kota Surabaya berencana akan mengajukan revisi Perda tentang Tol Tengah Kota Surabaya ini. (*) Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/ Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://www.kabarindonesia.com//

Daerah Khusus Ibukota Jakarta


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari Untuk kegunaan lain dari Jakarta, lihat Jakarta (disambiguasi). "DKI" beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain dari DKI, lihat DKI (disambiguasi).

Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta, Jakarta Raya) adalah ibu kota negara Indonesia. Jakarta merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki status setingkat provinsi. Jakarta terletak di bagian barat laut Pulau Jawa. Dahulu pernah dikenal dengan nama Sunda Kelapa (sebelum 1527), Jayakarta (1527-1619), Batavia, atau Jacatra (1619-1942), dan Djakarta (1942-1972). Jakarta memiliki luas sekitar 661,52 km (lautan : 6.977,5 km), dengan penduduk berjumlah 7.552.444 jiwa (2007)[4]. Wilayah metropolitan Jakarta (Jabotabek) yang berpenduduk sekitar 23 juta jiwa, merupakan metropolitan terbesar di Indonesia atau urutan keenam dunia.

Masalah Sampah di Kota Bandung


03 Mei 2010 Pengirim : Yane Lilananda Belawati Email : Bandung selalu identik dengan sebutan yang indah-indah. Kota kembang, kota asri, kota agamis, kota bermartabat, Paris van Java, dan lain-lain. Saya juga setuju dengan hal tersebut, apalagi sebagai pendatang di Kota Bandung ini, saya belum terlalu mengunjungi banyak tempat. Saya tinggal di Bandung sudah hampir setahun. Tetapi saya merasa kecewa dengan keadaan di Bandung ini. Ketika saya pergi ke pasar tradisional, ternyata keadaannya sangat mengkhawatirkan. Setiap sudutnya dipenuhi sampah. Saat pergi ke terminal, yang saya lihat sampah berserakan di mana-mana. Di jalan, di kampus, bahkan di sekitar masjid, selalu ada sampah. Banjir yang akhir-akhir ini terjadi pun tidak luput dari masalah sampah. Aliran sungai yang seharusnya mengalir bebas di kali, harus meluap ketika hujan besar karena sampah. Nah, yang menjadi masalah adalah pemeliharaan sampah di Kota Bandung ini ternyata masih acak-acakan. Kepada seluruh elemen masyarakat, pemerintah, mari kita menjaga kebersihan terutama dari hal yang bernama sampah, karena sampah bukan masalah sepele yang bisa terus kita abaikan. Lingkungan pun ingin diperhatikan. Lingkungan ingin lepas dari jerat-jerat sampah. Jangan sampai Bandung ini benar-benar menjadi kota sampah. Yang perlu ditingkatkan adalah kesadaran masyarakat mengenai masalah sampah. Caranya, bisa dengan penyuluhan yang dilakukan oleh mahasiswa sebagai agent of change dan pemerintah setempat. Yane Lilananda Belawati Jln. Desa Cipadung No. 108 Cibiru, Kota Bandung Telf. 081395959959 Pikiran Rakyat - 03 Mei 2010

Sabtu, 18 Desember 2010 , 08:18:00

Waspadai Pesatnya Pertumbuhan Balikpapan Empat Jam, Ichsanuddin Noorsy Suntik Wawasan Pengusaha Balikpapan

Bagi berita/artikel ini kepada rekan atau kerabat lewat Facebook

BALIKPAPAN- Babak baru kepengurusan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Balikpapan periode 2010-2015, dibawah kepemimpinan Rendy Susiswo Ismail SE SH, telah dimulai, Jumat (17/12) kemarin. Selain kegiatan pelantikan yang dilakukan Ketua Umum Kadin Kaltim H Fauzi Ahmad Bahtar dan dihadiri Wawali HM Rizal Effendi SE serta ratusan undangan, acara juga dibarengi dengan bisnis gathering yang menghadirkan pakar ekonomi dari Jakarta, DR Ichsanuddin Noorsy, yang begitu lugas membeber kebijakan ekonomi makro dan mikro, mulai nasional hingga lingkup Kaltim dan Balikpapan. Tak cukup berbicara di bisnis gathering, Ichsanuddin Noorsy juga diundang berbicara di rapat pertama pleno pengurus Kadin usai Salat Jumat di Hotel Blue Sky. Sehingga, dalam catatan koran ini, secara keseluruhan hampir empat jam Ichsanuddin Noorsy menyuntik wawasan pengusaha Balikpapan, terutama jajaran pengurus baru Kadin Balikpapan. Menurut Ichsanuddin Noorsy, pesatnya pertumbuhan ekonomi Kaltim dan Balikpapan, tetap harus diwaspadai. Masalahnya, geliat kemajuan ekonomi itu tidak akan berarti apa-apa, jika ujungnya tidak memberikan kesehjateraan pada masyarakat, khususnya pelaku usaha. Jangan terlalu bangga dengan masuknya investor luar, kalau ujungnya justru menyengsarakan masyarakat. Sudah banyak contoh untuk itu. Jangan sampai Kaltim dan Balikpapan menerima dampak besarnya, ujar dia. Contohnya kata dia, ketika Pemrov Kaltim getol meluncurkan proyek free way atau jalan tol yang menghubungkan Balikpapan-Samarinda dan daerah lainnya. Pertanyaannya, lebih ideal mana jalan tol atau membangun proyek rel kereta api. Sebab, jika jalan tol terbangun, tanpa sadar kita sudah dijejali kepentingan investor luar seperti dari Jepang, yang begitu leluasa memasarkan produk mobil. Sementara kalau kereta api, yang bisa menikmati benefitnya adalah masyarakat banyak dan semua sektor ekonomi, tanpa harus khawatir dampak membeludaknya kendaraan dan lainnya, tutur dia. Intinya, tandas dia, tidak ada satupun agenda investasi luar tanpa kepentingan dibelakangnya. Jangan sampai kita dimainkan investor, yang biasanya selalu mengincar aspek publik, seperti pengolahan air bersih, sehingga kita jadi tidak berdaya. Ini yang terjadi di level nasional, ketika in vestor luar menguasai sektor telekomunikasi dan sektor lainnya, sergah dia.

Lalu solusi apa yang dia tawarkan? Sudah saatnya tegasnya, tiga unsur yakni penguasa, pengusaha dan tokoh masyarakat (khususnya pelaku UMKM), bersatu padu berkerja sama dalam memb angun daerah. Tanpa kerja sama, sulit bagi kita menciptakan kemandirian dan selamanya tergantung pada investasi luar. Kasarnya, kita teramat gampang dijajah oleh pemodal dari luar, tukas dia. Jangan mau Kaltim dan Balikpapan, khususnya Kadin yang membawahi pelaku usaha disusupi politik belah bambu, karena itu tidak pernah bisa mengangkat posisi Kadin, tuturnya. EMPAT MASALAH Terkait Balikpapan, Ichsanuddin Noorsy mengingatkan, perlu mengantisipasi empat masalah. Yakni, konsumsi, perumahan (property), powerplant-listrik (sumber energy) dan air bersih. Saat ini, terang dia, Balikpapan menghadapi persoalan buruknya tata ruang dan musrenbang, semisal agenda pembangunan kawasan pelabuhan sebagai pintu distribusi. Tapi, di saat yang sama, pemerintah kota menyetujui masuknya pusat retail besar seperti Carfeour, Hypmermart dan lainnya. Yang terjadi, pelaku UMKM lokal bakal terjepit. Ini diperparah belum jelasnya penataan kawasan industri. Padahal sudah banyak contoh seperti di Batam, karena gagal dalam penataan, maka kawasan industry bukannya menciptakan public benefit, tapi justru kekumuhan, banjir dan problem kota lainnya, ucap dia. Karena itu, Balikpapan dinilainya perlu menciptakan intermodal transportasi terpadu, jika tidak ingin mengalami problem yang sama seperti Batam. Makanya, wali kota Balikpapan kedepani, harus bisa sejalan dan memahami problem ini, karena beragam problem itu sejujurnya sudah terjadi di Balikpapan, katanya. Ia mencatat, ada lima problem dampak kemajuan Balikpapan yang kini terjadi. Yakni, human trafficking yang ditandai makin banyaknya anak baru gede (ABG) yang menjual diri, kekumuhan kota, naiknya angka kejahatan, jadi salah satu tempat tujuan urbanisasi yang memicu masalah sosial seperti makin rendahnya disiplin sosial dan penegakan hukum yang mudah ditransaksikan, serta munculnya kecemasan baru di sebagian kalangan akibat kalah bersaing akibat gagalnya pemerataan pembangunan. Bisnis gathering sendiri, selain menghadirkan narasumber Ichsanuddin Noorsy, juga Ketua Kadin Kaltim H Fauzi A Bahtar, Pemimpin Bank Indonesia (BI) Balikpapan Tutuk SH Cahyono, dengan moderator wakil ketua Kadin Balikpapan, Ir Muhammad Adam. (rud)

Wednesday, March 18, 2009

Masalah kemacetan di kota Jakarta


Ada apa ya? Tumben sekali sudah macet dari depan Universitas Borobudur? sepenggal pembicaraan sekelompok murid yang terjebak macet didalam mobil antar jemput mereka. Seringkali masalah kemacetan selalu dikaitkan dengan lampu lalu lintas yang tidak berfungsi atupun polisi lalu lintas yang belum melakukan tugas mereka pada saat jam-jam macet karena para murid masuk sekolah. Tidak dapat dipungkiri, akhir-akhir ini setelah jam masuk para pelajar sekolah dasar sampai sekolah menengah atas dimajukan lebih awal 30 menit, kemacetan bukannya semakin mereda malah semakin parah. Buktinya dapat terlihat di jalan arteri daerah pinggiran Kalimalang Jakarta Timur maupun jalan bebas hambatan mulai dari pintu TOL Bekasi Barat sampai dengan pintu TOL Pondok Gede Timur. Biasanya jika kita berangkat pukul 05.45 saja kita masih bisa telat sampai di sekolah tujuan di daerah Jakarta Timur. Jadi paling tidak bagi yang bersekolah di daerah Jakarta Timur harus berangkat pukul 05.15 paling lambat agar mencegah terjebak macet di jalan. Sebenarnya keadaan seperti ini dapat makin diperburuk lagi jika hari sedang hujan. Jalan akan menjadi rawan kecelakaan, becek, dan macet karena banyak kendaraan roda dua yang meminggirkan kendaraanya karena takut terkena hujan. Titik kemacetan yang biasanya tidak terlalu mandek pun bisa menjadi macet total dan tidak bisa bergerak sama sekali. Terutama di jalan-jalan yag rusak infrastrukturnya dan jalan-jalan yang rawan banjir.

Fenomena ini semakin diperparah oleh hasil survey yang baru-baru ini dilakukan oleh BPS. Menurut survey, sekurang-kurangnya ada 250 unit kendaraan roda empat yang dilepas ke jalanjalan di daerah Jakarta. Belum lgi yang ada di daerah Depok, Tanggerang, Banten, Bogor, maupun Bekasi. Bayangkan saja jika mobil sebanyak itu menuju satu tujuan yang sama, yaitu kota megapolitan yang paling sibuk se-Asia Tenggara yaitu Jakarta? Seharusnya pemerintah kota setempat bisa membuat solusi yang sangat bijaksana dalam menaggulangu kemacetan ini. Bukannya malah mengeluarkan peraturan baru yang menambah parah kemacetan di daerah Jakarta. Serta perbaikan di infrastuktur jalan-jalan yang sering dilalui oleh kendaraan bermotor. Dan ini harus menjadi pekerjaan rumah bagi pemda kota, khususnya Pemda kota Jakarta.

Masalah Transportasi di kota Bandung


Maret 19, 2008 in Bandung euy ! Semakin lama masalah transportasi di kota Bandung tampaknya semakin parah. Jumlah kendaraan semakin bertambah, sementara lebar jalan tidak mampu mengatasi pertambahan jumlah kendaraan yang demikian cepat. Kemacetan terutama terjadi pada jam-jam sibuk (rusu'h hours) pada pagi ketika orang memulai aktivitas dan pergi ke sekolah, kantor, pasar, dsb. Repotnya, pada jam ini beberapa pasar tumpah yang beroperasi sejak tengah malam masih menyisakan kesibukan yang memakan sebagian (seperempat) badan jalan, misal di pasar Suci dekat Pusdai. Ada pedagang, ada pembeli yang tawar-menawar dengan pedagang, ada tukang becak, tukang ojek, angkot yang sembarangan berhenti dan ngetem. Dibeberapa tempat seperti Dayeuh Kolot, atau daerah Gunung Batu, delman juga ikutan ngetem. Rasanya bagus nih kalau ada mahasiswa FSRD yang mengambar kesibukan pagi hari di pasar tumpah Bandung yang riuh rendah. Pada hari libur, ternyata lalu lintas tidak jadi lengang, malah dalam beberapa kasus dan pada beberapa ruas jalan seperti dago, cihampelas, kopo, sukajadi, pasar baru, dalem kaum mana lagi ya. macet parah. Di dago tumbuh menjamur factory outlets, di Cihampelas pusat per-jeans-an, sukajadi ada Paris van Java, pasar baru jelas ada pasar baru (walaupun sudah lama tetap saja baru, ini kayak kayak panjang yang walaupun sudah dipotong-potong kecil, tetap saja disebut kacang panjang). Tumbuhnya berbagai pusat perbelanjaan (supermarket, mall) di tempat-tempat strategis bikin riuh rendah suasana. Solusinya ? he he jangan tanya saya, saya bukan ahli transportasi kan Pakar di ITB soal transportasi itu bejibun, sayangnya Pemda kayaknya enggan menggunakan jasa konsultan dari ITB dalam hal ini, kenapa ya ? Pemda kota bandung sudah berusaha mengatasinya, misal dengan simulasi jalur beberapa waktu lalu, tapi tokh tidak mengatasi problematika yang ada saat ini. Hingga saat ini belum ada lagi terobosan lain dari Pemda

Sebagai orang awam dalam masalah per-transportasi-an, tulisan ini hanya berdasarkan common sense saja, jadi jelas tidak boleh dianggap sebagai pandangan pakar transportasi. Pertama, Bandung perlu angkutan massal yang bagus. Terlalu banyak angkot yang sukasuka berhenti dan jalan lagi jelas memberikan masalah tambahan bagi transportasi Bandung. Apalagi tidak ada lokasi khusus untuk pemberhentian angkot tersebut. Ada beberapa armada bis yang melayani beberapa trayek tertentu seperti CicaheumLeuwipanjang, Dipatikukur-Cileunyi (UNPAD), mana lagi ya. tapi ya itu jumlahnya sangat terbatas, dan bisnya sudah tua-tua dan rasanya ukurannya kegedean untuk jalanjalan di Bandung yang relatif kecil. Jadi Bandung perlu bis-bis ukuran tiga perempat, mungkin seperti ukuran bis Antapani-KPAD (yang inipun sudah tua armadanya) yang lebih diperbanyak. Mungkin juga kalau ada yang ukurannya lebih kecil dari bis tiga perempat itu, misal seukuran mobil Elf akan membantu. Membuat busway dengan meniru Jakarta jelas tidak mungkin bagi Bandung, karena rusa jalan yang ada saat ini terlampau sempit, kecuali mungkin untuk daerah-daerah tertentu seperti Soekarno Hatta dan Sudirman. Solusi sarana transportasi yang reasonable untuk kota Bandung, yang tidak makan tempat atau ruas jalan banyak mungkin monorail. Saya dengar sudah ada kajian tentang kemungkinan monorail ini, tetapi belum ada follow up nya so far Kedua, komplek-komplek perumahan bagusnya dilengkapi dengan berbagai sarana-prasana dan fasilitas publik yang mencukupi, dari pasar, toko atau super market, sarana pendidikan, taman untuk rekreasi dan hiburan, rumah sakit atau klinik, dan lainnya, sehingga orang tidak harus keluar komplek perumahan untuk mencari berbagai kebutuhannya. Ini mestinya bisa dilakukan terutama untuk komplek-komplek besar seperti Riung Bandung, Margahayu, kota Parahyangan, dll. Untuk komplek kecil mungkin susah, tetapi jika komplek tersebut berdekatan, bisa dibuat cluster untuk sarana publik bersama mereka. Dengan self-contained nya komplek-komplek perumahan, masyarakat tidak perlu keluar dari kompleknya untuk mencari berbagai keperluan, sehingga hal ini bisa mengurangi volume kendaraan di jalan raya. Lebih bagus kalau pabrik atau instansi pemerintah membuat komplek perumahan karyawan atau pegawainya dalam komplek yang berdekatan dengan tempat kerja mereka.

Mengenai bentuk transportasi alternatif, saya kurang sependapat pak! Mengapa? Permasalahan kota Bandung banyak bermuara pada perilaku manusia. Jadi kita perbaiki dulu itu sebelum mencoba alternatif baru yang mungkin membuat kota ini tambah ruwet. Nanti malah ada demo sopir angkot. Saya masih cukup optimis, penataan angkot, terutama perilaku dan tempat berhenti akan membuat sistem transportasi kota ini berubah secara signifikan tanpa khawatir ada demo.

Soal angkutan massal alternatif sooner rather than later menurut saya perlu ada pak. Pasti akan ada konsekwensi demo dari sopir atau pemilik angkot, ini bisa dicarikan jalan

keluarnya misal dengan pengalihan rute angkot tersebut, rekrutmen para sopir angkot untuk kendaraan umum alternatif, dan share publik terhadap kendaraan umum (dan fasilitasnya) yang akan dibuat. Waktu blue bird masuk Bandung, sopir taxi armada lainnya juga demo tapi sekarang kayaknya sudah solved (?)

Menurut saya ada cara cerdas untuk bicara dengan walikota. Rektor ITB telpon atau SMS walikota Bandung. Jalan pintas seperti banyak dilakukan orang sekarang. Masa sih seorang rektor ITB kalo nelpon atau SMS masih tidak ditanggapi segera? He3x. Atau cara ini dianggap kurang sopan? [...] Masalah Transportasi di kota Bandung [...] Pa,setelah saya baca artikelnya tentang masalah transportasi, isinya menarik sekali.. Saya mahasiswa yang sedang menulis tugas akhir tentang city logistics,kalau bapa punya artikel tentang city logistics atau artikel lainnya tentang masalah transportasi di bdg yg di sebabkan oleh angkutan barang, boleh ya pa di publikasikan.. ^_^..

Kalo saya mahasiswa tingkat 1 SAPPK yang sedang observasi untuk tugas pertama saya. Kebetulan saya mengambil tema kemacetan di wilayah perbelanjaan cihampelas. Salam kenal pak dan semua teman-teman yg posting di sini.. Assalamualaikum, Pak.. Pak, sudah lama sebenarnya saya ingin mengangkat tema mengenai Transportasi di kota bandung dalam bentuk tulisan dan mempublikasikannya ke surat kabar lokal di KOta bandung. Saya, lahir di kota bandung, tetapi di besarkan dikota lain di Sumatera. Saya dibesarkan dan tinggal di kota Palembang. Berbicara sistem transportasi di kota bandung, saya sedikit kecewa. ternyata kota Bandung dengan segala nilai plus di dalamnya (katakan saja, kota Bandung dikenal dengan kulinernya aatu wisata alam yang lain) belum bisa membuat nyaman warga nya sendiri. Bertransportasi, saya rasa di alami oleh semua lapisan masyarakat di tiap waktu. Mengingat kota Bandung adalah salah satu kota besar di Indonesia, mengapa sistem transportasi nya belum bisa dikatakan canggih. JIka saya bandingkan sistem trasportasi yang ada di kota saya (palembang). kota Palembang ternyata memiliki sistem trasportasi yang lebih baik. contoh kasus seperti ini: a. Keadaan di lampu merah Di Palembang, lampu hijau digunakan hanya untuk satu sisi arus kendaraan saja. Di Bandung, lampu hijau digunakan untuk memberi instruksi kendaran dapat berjalan untuk dua arus kendaraan yang berlawanan. Keadaan ini dapat di lihat di perempatan simpang dago. b. Kenapa, jalan-jalan di Kota Bandung banyak di buat menjadi satu arah

Untuk permasalahan yang ini, saya tidak bisa berkomentar apa-apa. mengingat saya baru tinggal di kota bandung selam lebih kurang dua tahun. c. Banyak jalan di gunakan untuk aktivitas yang semestinya Beberapa jalan di kota bandung, di jadikan tempat usaha seperti berjualan. d. Fungsi Jembatan penyebrangan Hal ini terlintas ketika saya melihat jembatan penyebrangan yang ada di Jalan merdeka (di depan BIP). apakah jembatan itu fungsional (menurut saya, tidak). sampai saat ini, hanya itu yang menjadi perhatian saya. Saya tertarik dengan tulisan ini. Saya mahasiswa Arsitektur ITENAS Bandung, di Itenas banyak mahasiswa dari jakarta dan luar pulau jawa. dan saya sendiri orang Bandung asli Pendapat mereka tentang kota Bandung adalah membingungkan dan payah dalam segi transportasi. karena baru pertama di Bandung, tidak seperti yang mereka bayangkan akan kota ini. kuliner, fahion, musik, atmosfir, wanita2cantik. berarti kota ini oke buat di jelajahi, ahrg Beberapa ruas jalan utama pada jam-jam tertentu dijadikan 1 arah, dialihkan, dibelokan, berubah-ubah, ga pasti, fuihh. atau dilarang belok ke kanan, dengan signage yang cukup terabaikan dan tersembunyi dari pandangan mata dan akhirnya di tilang pak polisi.. Kemacetan tak terhindari pada saat weekend apalagi dago dan riau yang sering mereka kunjungi. Memang tidak seperti jakarta keadaannya, namun Bandung kini kian Jakarta. Dengan di bukannya jalan tol Bandung -Jakarta, hanya 2 jam. Plat Be menginvasi kota. Tak terhindari tanpa infrastruktur kota dan sistem transportasi yang mengimbangi. Bandung tidak dipersiapkan, dicemooh orang jakarta, padahal plat Be yang bertengger memacetkannya, selain Bandung sendiri tidak mepersiapkannya menurut saya. banyak masalah yang ditimbulkan, banyak ide yang diusulkan, banyak desain yang ditawarkan, banyak ahli yang tersedia disini. menunggu apalagi atuh Bapa Bandung? semoga dengan senjata tulisan seperti ini cukup memberikan kontribusi untuk Bandung walau kecil amin buat Bandung hmm, saia mahasiswa tingkat akhir d bio itb yang sedang melakukan TA di jakarta, udah sekitar 5 bulan saia ada di jakarta,, masalahnyaa saia lebih apal peta dan transportasi jakarta daripada di bandung,, tanya kenapaa??

<> sering Boss buku produk ITB di kantor saya juga banyak kok makasih, salam hormat

sampai kapan pun transportasi di kota bandung nggak akan beres, karena yang mengelola kota lebih mementingkan nilai proyek dibandingkan manfaat dalam jangka panjang. Contoh nyatanya, mereka lebih mendahulukan membangun jalan tol gasibu-ujungberung dibanding membangun jaringan jalan non tol misalkan jalan lingkar utara. Ga semua orang bakal menikmati jalan tol tersebut karena kebanyakan pengguna jalan di bandung menggunakan kendaraan roda dua yang tentu saja nggak boleh masuk jalan tol.

saya juga tertarik untuk mempelajari, meneliti tentang transportasi kota bandung dari sisi kebijakan pemerintah, barangkali siapa saja yang memiliki tulisan, artikel tentang tema tersebut, boleh dong di info kan, terima kasih atas kerja sama dan bantuannya. (Yayat DH, Mhs Pasca Unjani, Cimahi)

Menyoal Permasalahan Kota-Kota Besar Indonesia dalam Kaitannya dengan Kondisi Sosial Masyarakat
Menyoal Permasalahan Kota-kota Besar Indonesia dalam kaitannya dengan Kondisi Sosial Masyarakat (Rachmat Rhamdhani Fauzi)

Beberapa waktu yang lalu ketika saya mengakses mailing list Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), ada sebuah pesan yang cukup menarik perhatian. Surat yang datang dari Bapak M. Danil Daud tersebut menyatakan masalah yang timbul dan mengemuka seputar masalah perkotaan dan tata kota. Beliau mengatakan bahwa kota-kota besar di Dunia sudah terlalu padat. Kepadatan itu terjadi karena pertumbuhan populasi penduduk dunia yang semakin meningkat secara signifikan dari waktu ke waktu. Meningkatnya populasi dunia adalah hal yang wajar terjadi dari dulu, peningkatannya pun berbanding lurus dengan deret ukur. Jumlah dari penduduk dunia yang terus bertambah ini juga terjadi karena angka natalitas selalu lebih besar dari angka mortalitas.

Perkembangan kota-kota yang semakin tak teratur pun terjadi bukan hanya semata-mata karena pertumbuhan populasi yang besar. Kecenderungan angka urbanisasi lebih besar dari angka reurbanisasi. Dengan kata lain, orang lebih senang melakukan migrasi ke kota daripada ke luar kota. Mungkin hal ini muncul karena adanya pandangan bahwa kota dapat menyediakan kehidupan yang lebih baik dari pada tinggal di pedesaan. Memang semua fasilitas kehidupan tersedia di kota. Dan terjadilah berbagai efek dari memadatnya kota tersebut. Kota menjadi semakin tidak teratur, baik dilihat secara fisik maupun dari kacamata kehidupan sosial yang terjadi. Permasalahan ini sebetulnya tidak timbul baru-baru ini. Pada awal abad ke 20, ketika Revolusi Industri bergulir, orang mulai menyadari masalah yang timbul pada kota-kota modern di Eropa. Populasi meningkat dengan cepat karena era mesin menyebabkan pabrik-pabrik yang ada di kota memerlukan buruh dalam jumlah besar. Muncul beberapa teori perencanaan kota dari Arsitek-arsitek terkenal saat itu. Le Corbusier menyodorkan The Radiant City, Ebenezer Howard dengan The Garden City, dan Frank Lloyd Wright dengan Broadacre City-nya. Ketiganya mencoba mengatasi masalah perkotaan yang ada dengan berdasarkan idealisme mereka sendiri. Ide-ide tentang perencanaan kota yang muncul kemudian lebih merupakan perkembangan atau kombinasi dari konsep yang di bawa oleh ketiga arsitek besar tadi. Sekarang coba kita meninjau masalah yang terjadi di Indonesia berkaitan dengan masalah yang terjadi pada kota-kota besar di dunia. Seberapa besarkah relevansi antara masalah perkembangan kota di dunia dengan yang ada di Indonesia. Ternyata, justeru masalah yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia lebih kompleks dan lebih besar intensitasnya dari pandangan orang selama ini terhadap masalah urban internasional. Kasus perkotaan yang terjadi di Indonesia, secara umum, mirip dengan apa yang terjadi di dunia. Yang menjadikannya berbeda adalah karena kondisi sosial kultural yang ada di Indonesia memiliki kekhususan tersendiri. Sentralisasi menjadi tema sentral yang mengemuka. Pemusatan penduduk pada satu daerah urban menimbulkan masalah-masalah yang cukup pelik. Indonesia dengan penduduk yang terbesar kelima di dunia, mayoritas penduduknya tinggal di Pulau Jawa yang merupakan pulau terkecil dari lima pulau utama Kepulauan Indonesia.

Permasalahan yang terjadi karena pemadatan penduduk beraneka ragam. Dimulai dari masalah fisik sampai masalah sosial. Masalah fisik yang terjadi contohnya seperti munculnya permukiman kumuh, pencemaran udara, sulitnya air bersih, menumpuknya sampah, kemacetan yang terjadi hampir setiap detik, dan segudang permasalahan lainnya. Masalah sosial yang muncul tidak kalah peliknya dengan masalah fisik. Deviasi yang terlalu besar dari masyarakat berdasarkan tingkat pendidikan, status sosial, kekayaan, dll menimbulkan permasalahan seperti pengangguran, kriminalitas, segregasi sosial, dan masalah lainnya yang diakibatkan ketimpangan yang ada. Lantas apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalah fisik, sosial, ekonomi yang timbul dengan menggunakan perancanaan kota dan wilayah sebagai solusi? Saya tertarik dengan ide besar dari Bu Marwah Daud Ibrahim yang ingin mengembangkan potensi kedaerahan Indonesia. Artinya, masyarakat Indonesia diberikan pemahaman bahwasanya daerah akan menjadi sebuah aset yang luar bisa bermanfaat jika dikembangkan dengan optimal. Proyek konkret yang sudah dirintis dan tengah dikembangkan oleh Bu Marwah adalah proyek agropolitan di Sulawesi, yang tentunya mengembangkan potensi daerahnya dengan perkebuanan. Indonesia mempunyai Sumber Daya Alam yang sungguh luar biasa potensinya untuk bisa didayagunakan. China bangkit dengan sebuah kebijakan dari pemerintahnya yang benar-benar melihat peluang. Dengan bermodalkan jumlah penduduk yang besar dan lahan yang sangat luas, China bangkit dengan diawali pengembangan pertaniannya. Setiap orang diberikan tanah oleh negara untuk dikelola. Hasilnya, sungguh luar biasa. Pertumbuhan ekonomi China naik dengan cepat. Dan diramalkan tahun 2050 perekonomian China akan mengalahkan Amerika. Mengapa kita tidak belajar dari kesuksesan China. Setidaknya, dari segi jumlah penduduk dan luas lahan, kita sedikit banyak mempunyai kesamaan. Bahkan kita diuntungkan dengan kesuburan tanah yang lebih baik. Belum lagi, potensi laut kita yang menjadi nilai tambah tersendiri. Sudah saatnya rakyat Indonesia melakukan trasnformasi paradigma bahwa kekuatan kita (SDA) sebetulnya belum dioptimalkan. Salah satu cara untuk mewujudkan pandayagunaan SDA adalah dengan merencanakan program desentralisasi, sehingga orang tidak bertumpuk di kota tetapi kembali ke desa. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana caranya dapat menyadarkan masyarakat untuk bisa membangun daerahnya untuk kepentingan bangsa. Bukannya pro terhadap konsep Broadacre-nya Frank Lloyd Wright, yang mengutamakan desentralisasi secara ekstrem, tetapi lebih kepada menyesuaikan teori perencanaan kota yang ada

terhadap konteks Indonesia. Dan penyebaran kembali (desentralisasi) adalah satu solusi. Pada prakteknya, peran pemerintah diharapkan lebih optimal untuk secara adil memberikan kesejahteraan pada penduduk kota dan penduduk desa Depok, 7 November 2006

trusz saya mau bertanya,,kira2 cara jitu memberikan pengertian kpada masyarakat tentang desentralisai???? Saya juga bukan ahli demografi, bidang saya arsitektur, tapi sedikit-sedikit punya ketertarikan terhadap urban planning. Pertama harus dipahami bahwa desentralisasi hanya bisa diwujudkan jika pemerintah dapat menjamin bahwa dengan desentralisasi, taraf kehidupan masyarakat tidak akan lebih rendah dari sebelumnya. Pemerintah harus bisa memastikan bahwa kualitas kehidupan masyarakat sebagai objek desentralisasi dapat dicapai dengan baik (bahkan lebih baik jika dibandingkan tetap tinggal di daerah urban). Dalam hal ini perlu kesiapan sarana dan prasarana daerah, kaitannya kepada pemerintah daerah juga. manajemen dan operasionalnya harus rapi dan tertata dengan baik, misalnya dalam hal penyediaan lapangan pekerjaan sebagai petani. Cara jitu buat memberikan pengertian kepada masyarakat? Tidak ada cara yang paling jitu atau tidak jitu, semuanya tergantung kepada pelaksanaan. Mungkin jaminan bahwa taraf hidup bisa lebih baik di daerah, dapat dijadikan sebagai penarik minat masyarakat. (dalam hal ini pemerintah harus siap menggerakan semua elemen yang terkait, kembali pada poin awal yang saya sampaikan).

TUGAS : PERMASALAHAN KOTA DAN SOLUSINYA


Kota adalah suatu daerah yang menjadi pusat kegiatan pemerintahan, ekonomi, dan kebudayaan. Sebuah kota menjadi semakin komplek dari waktu kewaktu, membawa permasalahan yang khas dari Sabang sampai Merauke. Permasalahan itu antara lain adalah: 1. Permukiman Ada beberapa masalah perkotaan yang berhubungan dengan permukiman, salah satunya adalah permukiman kumuh (Slum area). Keadaan ini selalu muncul disetiap kota. Hal ini dikarenakan bahwa ada sebagian warga kota yang tidak mempunyai pendapatan yang cukup untuk membeli rumah didaerah pinggiran. Jadi mereka mendirikan rumah-rumah dipinggiran sungai, bawah jembatan layang, maupun yang lainnya. Biasanya, daerah permukiman kumuh dituduh sebagai sarang kriminalitas kota. Masalah lain yang juga berkaitan erat dengan masalah permukiman adalah masalah air dan penataan ruang. Permasalahan air yang terjadi disebabkan karena kerusakan lingkungan di wilayah Bandung Utara seperti kerusakan hutan sebagai wilayah tangkapan air, berubahnya fungsi lahan konservasi menjadi peruntukan lain yang tidak mendukung fungsi konservasi. Akibat yang ditimbulkan adalah : Pertama Masalah kelangkaan air baku, kedua Menurunnya permukaan air tanah, ketiga Menurunnya kualitas air tanah, keempat, Banjir, dan kelima Erosi dan sedimentasi. Konsep dekonsentrasi planologis dengan terciptanya kota-kota kecil disekitar Kota Bandung dengan fungsi tertentu dan diarahkan sebagai Counter Magnet tidaklah mudah. Bahkan cenderung semakin menyatu. Tidak jelasnya struktur perkotaan berakibat dengan semakin beratnya kota sebagai inti untuk menanggung aktivitas penduduk Komentar : Banyak hal yang telah digagas oleh pemerintah. Salah satunya adalah rusunawa dengan tata ruang yang sederhana dan layak huni dengan fasilitas yang cukup memadai. Rumah susun ini dibangun agar masyarakat yang tinggal di permukiman kumuh lebih terkontrol. Tapi terkadang pengguna rusun ini tidak tepat sasaran. Seperti contoh di Jogja, rusunawa di code banyak yang disewa oleh orang-orang dari Bantul. 2. Sampah Masalah sampah menjadi masalah yang klasik. Kota dengan penduduk yang banyak menghasilkan sampah yang banyak pula setiap harinya. Terkadang daya tampung kota tidak mencukupi untuk menampung sampah. Kebiasaan masyarakat membuang sampah disungai juga merupakan sebuah masalah yang serius. Hal ini bisa menyebabkan sungai mampet, menjadi

sarang penyakit, dan tidak mampu mengalirkan air saat hujan tiba, yang akhirnya akan meluapnya air sungai. Komentar : Sistem pembuangan sampah yang baik mutlak dimiliki oleh sebuah kota. Hal ini sungguh bermanfaat bagi kesehatan fisik dan psikologis warganya. Kota yang bersih dan sehat tentu saja lebih produktif dan menyenangkan daripada kota kumuh yang dipenuhi sampah. 3. Transportasi Kota luas dengan penduduk yang padat, memerlukan sistem transportasi yang baik pula. Hal ini dikarenakan tren kota yang menempatkan daerah permukiman di pinggir kota dan perkantoran di pusat kota. Setiap pagi dan petang arus lalu lintas menjadi sangat padat. Jika transportasi tidak baik maka akan terjadi kemacetan lalu lintas. Kemacetan tersebut merupakan pemborosan bbm dan waktu. Pertambahan penduduk dan infra struktur perkonomian yang semakin terus meningkat menyebabkan pergerakan lalu lintas semakin membesar. Kondisi ini tidak diantisipasi dengan prasarana yang ada terutama jaringan jalan. Indikasi seriusnya masalah ini adalah : a. Kapasitas jalan menurun (perbandingan panjang jalan dan jumlah kendaraan sudah tidak proposional.) b. Pelayanan angkutan umum belum memadai, seharusnya angkutan umum terpadu sudah berjalan, serta lebih banyak menggunakan bus. c. Pengaturan lalu lintas yang tidak berjalan dengan baik. d. Sarana parkir yang kurang , dan trotoar yang menjadi tempat PKL. Komentar : Sebuah kota yang baik haruslah didukung oleh transportasi massal yang canggih, murah, dan mudah dijangkau sampai pinggiran kota. Dengan adanya transportasi yang baik maka, kemacetan dapat dicegah, bbm bisa dihemat, waktu yang terbuang oleh kemacetan bisa berkurang (jam produktif jadi lebih banyak), perekonomian kota pun menjadi lancar. 4. Penduduk Permasalahan utama kependudukan dari segi kualitas dan kuantitas akan langsung menyangkut pada perkembangan kota yang diindikasi dengan : a. Meluasnya kawasan perkotaan yang mengarah pada koridor Barat-Timur. b. Meluasnya kawasan perkotaan yang mengancam daerah konservasi Utara-Selatan. c. Berkembangnya kawasan perkotaan di kota-kota tertentu seperti Cimahi, Batu Jajar, Cicalengka, Cikeruh, Cimanggung dll. d. Meningkatnya pertumbuhan dan konsentrasi penduduk di bagian timur Bandung dan sebaliknya terjadi penurunan di kota lama. e. Meningkatnya kepadatan penduduk di perbatasan kota inti dan pinggiran. Dengan bertambahnya penduduk dan kegiatan kota lainnya menimbulkan masalah perkotaan dan sudah menjadi masalah regional seperti : Pengelolaan Limbah padat, Udara, serta Penduduk Komuter.