Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Skizofrenia merupakan sekumpulan gejala klinis psikopatologis yang bervariasi meliputi kognitif, emosi, persepsi dan aspek tingkah laku lainnya. Manifestasi klinis yang bervariasi ini berbeda tiap orangnya, bersifat parah dan menetap. Penyakit ini biasanya terjadi sebelum usia 25 tahun, berlangsung seumur hidup dan berakibat pada kehidupan sosialnya. Obat antipsikotik merupakan obat yang efektif untuk penatalaksanaan skizofrenia akut maupun maintenance serta gangguan psikosis lainnya. Obat

antipsikotik terdiri dari lini pertama dan lini kedua. Walaupun dengan farmakologi, kinetik, efikasi dan toleransi yang berbeda, tetapi yang terpenting adalah respon dan toleransi yang berbeda tiap pasien terhadap obat tersebut. Respon yang berbeda antar pasien menunjukkan bahwa obat antipsikotik lini pertama (first-generation antipsychotics-FGAs) tidak selamanya cocok untuk semua pasien. Baik obat antipsikotik lini pertama maupun lini kedua memiliki sejumlah efek samping diantaranya berat badan bertambah, dislipidemia, hiperprolaktinemia, disfungsi seksual, gejala ekstrapiramidal, efek antikolinergik, sedasi dan hipotensi postural. Efek samping merupakan penyebab utama putus obat. Walaupun obat antipsikotik merupakan pengobatan utama untuk skizofrenia, namun penelitian menunjukkan intervensi psikososial, teemasuk psikoterapi, dapat memperbaiki klinis dari skizofrenia. Seperti halnya agen farmakologis yang memperbaiki ketidakseimbngan kimiawi dalam tubuh, strategi non farmakologis berguna untuk pengobatan non organik. Pasien skizofrenia memberikan

perkembangan yang lebih baik dengan menggunakan kombinasi terapi psikososial dan obat antipsikotik daripada menggunakan obat antipsikotik sendiri.

1.2.

Rumusan Masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang maka dapat dirumuskan

permasalahannya adalah etiologi schizofernia.

BAB II ETIOLOGI SKIZOFERNIA Etiologi skizofrenia merupakan integrasi faktor biologis, faktor psikososial, dan faktor lingkungan. Model ini mendalilkan bahwa seseorang mungkin memiliki suatu kerentanan spesifik (diatessis) yang jika dikenai oleh suatu pengaruh lingkungan yang menimbulkan stress, memungkinkan perkembangan skizofrenia. Komponen lingkungan mungkin biologikal (seperti infeksi) atau psikologis (misal kematian orang terdekat). Sedangkan dasar biologikal dari diatesis selanjutnya dapat terbentuk oleh pengaruh epigenetik seperti penyalahgunaan obat, stress psikososial, dan trauma. Kerentanan yang dimaksud disini haruslah jelas, sehingga dapat menerangkan mengapa orang tersebut dapat menjadi skizofrenia. Semakin besar kerentanan seseorang maka stressor kecilpun dapat menyebabkan menjadi skizofrenia. Semakin kecil kerentanan maka butuh stressor yang besar untuk membuatnya menjadi penderita skizofrenia. Sehingga secara teoritis seseorang tanpa diatessis tidak akan berkembang menjadi skizofrenia, walau sebesar apapun stressornya. 1) Faktor Neurobiologi Penelitian menunjukkan bahwa pada pasien skizofrenia ditemukan adanya kerusakan pada bagian otak tertentu. Namun sampai kini belum diketahui bagaimana hubungan antara kerusakan pada bagian otak tertentu dengan munculnya simptom skizofrenia. Terdapat beberapa area tertentu dalam otak yang berperan dalam membuat seseorang menjadi patologis, yaitu sistem limbik, korteks frontal, cerebellum dan ganglia basalis. Keempat area tersebut saling berhubungan, sehingga disfungsi pada satu area mungkin melibatkan proses patologis primer pada area yang lain. Dua hal yang menjadi sasaran penelitian adalah waktu dimana kerusakan neuropatologis muncul pada otak, dan interaksi antara kerusakan tersebut dengan stressor lingkungan dan sosial.

2) Hipotesa Dopamin Menurut hipotesa ini, skizofrenia terjadi akibat dari peningkatan aktivitas neurotransmitter dopaminergik. Peningkatan ini mungkin merupakan akibat dari meningkatnya pelepasan dopamine, terlalu banyaknya reseptor dopamine, turunnya nilai ambang, atau hipersentivitas reseptor dopamine, atau kombinasi dari faktorfaktor tersebut. Munculnya hipotesa ini berdasarkan observasi bahwa : Ada korelasi antara efektivitas dan potensi suatu obat antipsikotik dengan kemampuannya bertindak sebagai antagonis reseptor dopamine D2. Obat yang meningkatkan aktivitas dopaminergik- seperti amphetamine-dapat menimbulkan gejala psikotik pada siapapun 3) Faktor Genetika Penelitian tentang genetik telah membuktikan faktor genetik/keturunan merupakan salah satu penyumbang bagi jatuhnya seseorang menjadi skizofrenia. Resiko seseorang menderita skizofrenia akan menjadi lebih tinggi jika terdapat anggota keluarga lainnya yang juga menderita skizofrenia, apalagi jika hubungan keluarga dekat. Penelitian terhadap anak kembar menunjukkan keberadaan pengaruh genetik melebihi pengaruh lingkungan pada munculnya skizofrenia, dan kembar satu telur memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami skizofrenia. 4) Faktor Psikososial Teori Psikoanalitik. Freud beranggapan bahwa skizofrenia adalah hasil dari fiksasi perkembangan, yang muncul lebih awal daripada gangguan neurosis. Jika neurosis merupakan konflik antara id dan ego, maka psikosis merupakan konflik antara ego dan dunia luar. Menurut Freud, kerusakan ego (ego defect) memberikan kontribusi terhadap munculnya simptom skizofrenia. Disintegrasi ego yang terjadi pada pasien skizofrenia merepresentasikan waktu dimana ego belum atau masih baru terbentuk. Konflik intrapsikis yang berasal dari fiksasi pada masa awal serta kerusakan ego-yang mungkin merupakan hasil dari relasi objek yang buruk-turut memperparah simptom

skizofrenia. Hal utama dari teori Freud tentang skizofrenia adalah dekateksis objek dan regresi sebagai respon terhadap frustasi dan konflik dengan orang lain. Harry Stack Sullivan mengatakan bahwa gangguan skizofrenia disebabkan oleh kesulitan interpersonal yang terjadi sebelumnya, terutama yang berhubungan dengan apa yang disebutnya pengasuhan ibu yang salah, yaitu cemas berlebihan. Secara umum, dalam pandangan psikoanalitik tentang skizofrenia, kerusakan ego mempengaruhi

interprestasi terhadap realitas dan kontrol terhadap dorongan dari dalam, seperti seks dan agresi. Gangguan tersebut terjadi akibat distorsi dalam hubungan timbal balik ibu dan anak.. Berbagai simptom dalam skizofrenia memiliki makna simbolis bagi masing-masing pasien. Misalnya fantasi tentang hari kiamat mungkin mengindikasikan persepsi individu bahwa dunia dalamnya telah hancur. Halusinasi mungkin merupakan substitusi dari ketidakmampuan pasien untuk menghadapi realitas yang objektif dan mungkin juga merepresentasikan ketakutan atau harapan terdalam yang dimilikinya. Teori Psikodinamik. Berbeda dengan model yang kompleks dari Freud, pandangan psikodinamik setelahnya lebih mementingkan hipersensitivitas

terhadap berbagai stimulus. Hambatan dalam membatasi stimulus menyebabkan kesulitan dalam setiap fase perkembangan selama masa kanak-kanak dan

mengakibatkan stress dalam hubungan interpersonal. Menurut pendekatan psikodinamik, simptom positif diasosiasikan dengan onset akut sebagai respon terhadap faktor pemicu/pencetus, dan erat kaitannya dengan adanya konflik. Simptom negatif berkaitan erat dengan faktor biologis, dan karakteristiknya adalah absennya perilaku/fungsi tertentu. Sedangkan gangguan dalam hubungan interpersonal mungkin timbul akibat konflik intrapsikis, namun mungkin juga berhubungan dengan kerusakan ego yang mendasar. Tanpa memandang model teoritisnya, semua pendekatan psikodinamik dibangun berdasarkan pemikiran bahwa simptom-simptom psikotik memiliki makna dalam skizofrenia. Misalnya waham kebesaran pada pasien mungkin timbul setelah harga dirinya terluka. Selain itu, menurut pendekatan ini, hubungan

dengan manusia dianggap merupakan hal yang menakutkan bagi pengidap skizofrenia. Teori Belajar. Menurut teori ini, orang menjadi skizofrenia karena pada masa kanak-kanak ia belajar pada model yang buruk. Ia mempelajari reaksi dan cara pikir yang tidak rasional dengan meniru dari orangtuanya, yang sebenarnya juga memiliki masalah emosional. Teori Tentang Keluarga. Beberapa pasien skizofrenia-sebagaimana orang yang mengalami nonpsikiatrik-berasal dari keluarga dengan disfungsi, yaitu perilaku keluarga yang patologis, yang secara signifikan meningkatkan stress emosional yang harus dihadapi oleh pasien skizofrenia. Antara lain: konsep Double Bind yang dikembangkan oleh Gregory Bateson untuk menjelaskan keadaan keluarga dimana anak menerima pesan yang bertolak belakang dari orangtua berkaitan dengan perilaku, sikap maupun perasaannya. Akibatnya anak menjadi bingung menentukan mana pesan yang benar, sehingga kemudian ia menarik diri ke dalam keadaan psikotik untuk melarikan diri dari rasa konfliknya itu. Teori Sosial. Beberapa teori menyebutkan bahwa industrialisasi

dan urbanisasi banyak berpengaruh dalam menyebabkan skizofrenia. Meskipun ada data pendukung, namun penekanan saat ini adalah dalam mengetahui

pengaruhnya terhadap waktu timbulnya onset dan keparahan penyakit.

BAB III KESIMPULAN

Kesimpulan dari makalah ini dapat schizofrenia dapat disebabkan faktor distres-stres, neurobiologik, ketidakseimbangan dopamin dan serotonin, faktor genetika, faktor psikososial dan psikodinamik yang dapat memicu terjadinya ketidakseimbangan, hal ini merupakan teori yang dipercaya sebagai dasar terjadinya schizofrenia.

DAFTAR ISI Kaplan. 2007. Schizophrenia. In: Sadocks. Kaplan & Sadokss Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/ Clinical Psychiatry. New York: Lippincott Williams & Wilkins, 488-489. Taylor, D., Paton, C., and Kapur,S. 2009. Schizophrenia. Prescribing Guidelines. London: Informa, 9-10. Maslim, R., 2003. Diagnosis Gangguan Jiwa: Ringkasan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta: PT. Nuh Jaya Loebis, B., 2007. Skizofrenia: Penanggulangan Memakai Antipsikotik. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap. Universitas Sumatera Utara.Meltzer, H.Y., 2002. Atypical Antipsychotics Drugs. In: Maj, M. and Sartorius, N. Schizophrenia. West Sussex: Wiley, 120-122. MOH. 2003. Clinical Practice Guidelines: Schizophrenia.

http://www.gov.sg/moh/pub/cpg/cpg.htm diakses tanggal 14 Agustus 2012.