Anda di halaman 1dari 3

TUGAS

HUKUM PERJANJIAN INTERNATIONAL

IMPLEMENTASI KONVENSI WINA 1969 KE HUKUM NASIONAL INDONESIA

Meli Agusningrum Hidayat B2A008143 Universitas Diponegoro 2010

IMPLEMENTASI KONVENSI WINA 1969 KE HUKUM NASIONAL INDONESIA

Konvensi Wina 1969 (Vienna Convention on The Law of Treaties 1969, May 23th, 1969) adalah konvensi yang mengatur mengenai Perjanjian Internasional Publik antar Negara sebagai subjek utama hukum internasional. Konvensi ini kali pertama dibuka untuk dapat diratifikasi pada tahun 1969 dan baru berlaku pada tahun 1980. Indonesia meratifikasi dengan UndangUndang Nomor 1 Tahun 1982. Sebelum adanya Konvensi Wina 1969 perjanjian antar negara, diselenggarakan semata-mata berdasarkan asas-asas seperti, good faith, pacta sunt servanda dan perjanjian tersebut terbentuk atas persetujuan dari negara-negara di dalamnya dan juga berdasarkan kebiasaan internasional yang berbasis pada praktek Negara dan keputusankeputusan Mahkamah Internasional atau Mahkamah Permanen Internasional meskipun sekarang sudah tidak ada lagi, maupun pendapat-pendapat para ahli hukum internasional. Konvensi Wina 1969 dianggap sebagai induk perjanjian internasional karena konvensi inilah yang pertama kali memuat ketentuan mengenai perjanjian internasional. Melalui konvensi ini semua ketentuan baik secara teknis maupun substansi mengenai perjanjian internasional diatur, mulai dari ratifikasi, reservasi hingga pengunduran diri Negara dari suatu perjanjian internasional. Sebagai subjek hukum internasional, negara Indonesia sadar akan pentingya hubungan internasioanal mengembangkan kembali definisi dari Perjanjian Internasional yang tertera dalam Konvensi Wina 1969. Hal ini dapat dilihat pada pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri : Perjanjian Internasional adalah perjanjian dalam bentuk dan sebutan apapun, yang diatur oleh hukum internasional dan dibuat secara tertulis oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan satu atau lebih negara, organisasi atau subyek hukum internasional lainnya, serta menimbulkan hak dan kewajiban pada Pemerintah Republik Indonesia yang bersifat hukum publik.

Sebagai implementasi dari Konvensi Wina 1969, pemerintah Indonesia mengaturnya dalam peraturan perundang-undangannya. Dapat dilihat dari pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 24 tahun 2000 tentang perjanjian Internasional : Perjanjian Internasional adalah perjanjian, dalam bentuk dan nama tertentu, yang diatur dalam hukum internasional yang dibuat secara tertulis serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik. Dalam pengesahan perjanjian internasional diatur di dalam Undang-undang No.24/2000 tentang Perjanjian Internasional. Undang-undang tersebut mengatur tatacara pengesahan suatu perjanjian internasional sesuai dengan jenis perjanjiannya. Masalah ini diatur di Pasal 10, yaitu pengesahan perjanjian internasional dilakukan dengan undang-undang apabila perjanjian tersebut berkenaan dengan: a. Masalah politik, perdamaian, pertahanan, dan keamanan negara; b. Perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah Republik Indonesia; c. Kedaulatan atau hak berdaulat negara; d. Hak asasi manusia dan lingkungan hidup; e. Pembentukan kaidah hukum baru; f. Pinjaman dan/atau hibah luar negeri. Selanjutnya Pasal 11 mengatur pengesahan perjanjian internasional yang materinya tidak termasuk materi sebagaimana diatur di dalam Pasal 10, dilakukan dengan keputusan presiden. Kemudian pemerintah akan menyampaikan salinan keputusan presiden tersebut kepada DPR. Sesuai dengan adanya asas pacta sunt servanda dalam Perjanjian Internasional, setiap Perjanjian yang telah diratifikasi oleh Indonesia mengikat Negara Indonesia dan rakyatnya untuk ditaati, dengan itikad baik.