Anda di halaman 1dari 6

2.2.32 Arsen Arsen (As) adalah suatu unsur kimia metaloid (semilogam) golongan VA dengan nomor atom 33.

Arsen berwujud bubuk putih, tanpa warna dan bau. Nama arsenik sendiri pertama kali berasal dari bahasa Persia zarnig dan bahasa Yunani arsenikon yang artinya kuning. Arsen merupakan bahan metaloid yang terkenal beracun dan memiliki tiga bentuk alotropik, yaitu kuning, hitam dan abu-abu (Anonim, 2009). 1. Arsen Inorganik Sebagian besar arsen di alam merupakan bentuk senyawa dasar yang berupa substansi inorganik. Arsen inorganik dapat larut dalam air atau berbentuk gas dan dapat terpapar pada manusia. Menurut National Institute for Occupational Safety and Health (1975), arsen inorganik dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan kronis, terutama kanker Senyawa Arsen dengan oksigen, klorin atau belerang dikenal sebagai arsen inorganik. Arsen trioksida (As2O3 atau As4O6) dan arsenat/arsenit merupakan bentuk arsen inorganik berbahaya bagi kesehatan manusia. Pada suhu di atas 1.073C senyawa arsen trioksida dapat dihasilkan dari hasil samping produksi tembaga dan pembakaran batubara. Arsen trioksida mempunyai titik didih 465C dan akan menyublim pada suhu lebih rendah. Kelarutan arsen trioksida dalam air rendah, kira-kira 2% pada suhu 25C dan 8,2% pada suhu 98C. Sedikit larut dalam asam membentuk asam arsenide (H3As03). Arsen trioksida sangat cepat larut dalam asam khlorida dan alkalis (Sukar, 2003). 1. Arsen Organik Senyawa dengan Carbon dan Hydrogen dikenal sebagai Arsen Organik. Arsen bentuk organik yang terakumulasi pada ikan dan kerang-kerangan, yaitu arsenobetaine dan arsenokolin mempunyai sifat nontoksik. Sebagaimana diketahui bahwa arsen inorganik lebih beracun dari pada arsen organik. Senyawa arsen organik sangat jarang dan mahal. Ikatan carbon-arsen sangat stabil pada kondisi pH Iingkungan dan berpotensi teroksidasi. Beberapa senyawa methylarsenic sebagaimana di dan trimethylarsenes terjadi secara alami, karena merupakan hasil dari aktivitas biologik. Di dalam air senyawa ini bisa teroksidasi menjadi methylarsenic acid Senyawa arsen organik lainnya seperti: arsenobetaime dan arsenocho/ine bisa ditemukan pada kehidupan laut dan sangat tahan terhadap degradasi secara kimiawi Berbagai macam senyawa arsen adalah sebagai berikut: (Sukar, 2003).

a.Asam arsenat (H3AsO4) b.Asam arsenit (H3AsO3) c.Arsen trioksida (As2O3) d.Arsin (Arsen Trihidrida AsH3) e.Kadmium arsenida (Cd3As2) f. Galium arsenida (GaAs) g.Timbal biarsenat (PbHAsO4) C.Karakteristik Arsen Arsen berwarna abu-abu, namun bentuk ini jarang ada di lingkungan. Arsen di air di temukan dalam bentuk senyawa dengan satu atau lebih elemen lain (Wijanto, 2005). Arsen secara kimiawi sering dapat digunakan sebagai pengganti dalam berbagai reaksi biokimia dan juga beracun. Ketika dipanaskan, arsen akan cepat teroksidasi menjadi oksida arsen, yang berbau seperti bau bawang putih. Arsen dan beberapa senyawa arsen juga dapat langsung tersublimasi, berubah dari padat menjadi gas tanpa menjadi cairan terlebih dahulu. Zat dasar arsen ditemukan dalam dua bentuk padat yang berwarna kuning dan metalik, dengan berat jenis 1,97 dan 5,73. Pemajanan Arsen ke dalam tubuh manusia umumnya melalui oral, dari makanan/minuman. Arsen yang tertelan secara cepat akan diserap lambung dan usus halus kemudian masuk ke peredaran darah (Wijanto, 2005). 2.2.33 Phosfor Fosfor merupakan mineral kedua terbanyak didalam tubuh setelah kalsium, yaitu 1% dari berat badan. Kurang lebih 58% fosfor di dalam tubuh terdapat sebagai garam kalsium fosfat, Fosfor juga penting untuk jaringan saraf, mendukung fungsi-fungsi sistem saraf, dan membantu agar sembuh dari kelelahan mental disertai sakit kepala dan kesulitan berkonsentrasi. Defisiensi akan meyebabkan mudah lupa, pusing, dan migrant. Fosfor di dalam tubuh penting untuk reaksi-reaksi kimia karena dapat menangkap, mentransfer,, dan menyimpan energi. Oleh karena itu, analisis kandungan fosfor dalam bahan pangan penting untuk dilakukan agar dapat mengetahui jumlah fosfor dan mengetahui kebutuhan fosfor yang diperlukan dalam tubuh dengan konsumsi makanan (Nansih, 2008). Fosfor dapat diabsorpsi secara efisien sebagai fosfor bebas di dalam usus setelah dihidrolisis dan dilepas dari makanan. Bayi dapat menyerap 85-90% fosfor berasal dari Air Susu Ibu/ ASI. Sebanyak 65-70% fosfor berasal dari susu sapi dan 50-70%

fosfor berasal dari susunan makanan normal dapat diabsorpsi oleh anak dan orang dewasa. Bila konsumsi fosfor rendah, taraf absorpsi dapat mencapai 90% dari konsumsi fosfor. Fosfor sebagai bagian dari asam fosfat yang terutama terdapat di dalam serealia tidak dapat dihidrolisis, oleh karena itu dapat diabsorpsi. Faktor-faktor makanan lain yang menghalangi absorpsi fosfor adalah Fe++, Mg++, asam lemak tidak jenuh dan antasid yang mengandung alumunium, karena membentuk garam yang tidak larut air (Nansih, 2008). Pada penetapan fosfor banyak digunakan bahan-bahan khusus diantaranya

ammonium molibdat, ammonium vanadat, asam nitrat pekat, dan air bebas ion. Amonium molibdat (H24Mo7N6O24) merupakan senyawa berbentuk serbuk kristal berwarna putih (Nansih, 2008).

2.2.34 Sianida Sianida adalah zat beracun yang sangat mematikan. Sianida telah digunakan sejak ribuan tahun yang lalu. Sianida juga banyak digunakan pada saat perang dunia pertama. Efek dari sianida ini sangat cepat dan dapat mengakibatkan kematian dalam jangka waktu beberapa menit. Hidrogen sianida disebut juga formonitrile, sedang dalam bentuk cairan dikenal sebagai asam prussit dan asam hidrosianik. Hidrogen sianida adalah cairan tidak berwarna atau dapat juga berwarna biru pucat pada suhu kamar. Bersifat volatile dan mudah terbakar. Hidrogen sianida dapat berdifusi baik dengan udara dan bahan peledak.Hidrogen sianida sangat mudah bercampur dengan air sehingga sering digunakan. Bentuk lain ialah sodium sianida dan potassium sianida yang berbentuk serbuk dan berwarna putih (Anonim, 2013). Sianida dalam dosis rendah dapat ditemukan di alam dan ada pada setiap produk yang biasa kita makan atau gunakan. Sianida dapat diproduksi oleh bakteri, jamur dan ganggan. Sianida juga ditemukan pada rokok, asap kendaraan bermotor, dan makanan seperti bayam, bambu, kacang, tepung tapioka dan singkong. Selain itu juga dapat ditemukan pada beberapa produk sintetik. Sianida banyak digunakan pada industri terutama dalam pembuatan garam seperti natrium, kalium atau kalsium sianida. Sianida yang digunakan oleh militer NATO (North American Treaty Organization) adalah yang jenis cair yaitu asam hidrosianik (HCN). Asam sianida adalah bersifat asam lemah, garam sianida baik KCN maupun NaCN dalam ruangan yang berkelembapan tinggi mudah bereaksi dan membentuk gas HCN :

KCN + H2O HCN + KOH Bila kita membuka botol wadah yang berisi KCNdi dalam laboratorium kita akan membau gas HCN dengan contoh reaksi seperti di atas tersebut. Adanya air disekitar ruangan tidak cepat membentuk HCN, kecuali bila kita menghirup udara di sekitar ruangan tersebut, sehingga reaksi pembentukan gas HCN akan terjadi

(Anonim, 2013).

2.2.35 Pestisida Pestisida adalah substansi kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan berbagai hama. Kata pestisida berasal dari kata Pest yang berarti Hama, dan Cida yang berarti Pembunuh. Jadi pestisida diartikan secara sederhana berarti pembunuh hama (Sudarmo, 2010). Dose adalah banyaknya racun (biasanya dinyatakan dalam berat, mg) yang diperlukan untuk masuk dalam tubuh organisme dan dapat mematikannya, misalnya lethal dose (LD) dinyatakan dalam mg/kg (mg bahan aktif per kg berat tubuh organisme sasaran). Konsentrasi, adalah perbandingan (persentase, precentage) antara bahan aktif dengan bahan pengencer, pelarut dan/atau pembawa (Butarbutar, 2011). Cara pemakaian pestisida (application methods) : 1. Penyemprotan (spraying) : merupakan metode yang paling banyak digunakan. Biasanya digunakan 100-200 liter enceran insektisida per ha. Paling banyak adalah 1000 liter/ha sedang paling kecil 1 liter/ha seperti dalam ULV. 2. Dusting : untuk hama rayap kayu kering Cryptotermes, dusting sangat efisien bila dapat mencapai koloni karena racun dapat menyebar sendiri melalui efek perilaku trofalaksis. 3. Penuangan atau penyiraman (pour on) misalnya untuk membunuh sarang (koloni) semut, rayap, serangga tanah di persemaian dsb. 4. Injeksi batang : dengan insektisida sistemik bagi hama batang, daun, penggerek dll. 5. Dipping : perendaman / pencelupan seperti untuk biji / benih, kayu. 6. Fumigasi : penguapan, misalnya pada hama gudang atau hama kayu. 7. Impregnasi : metode dengan tekanan (pressure) misalnya dalam pengawetan kayu (Butarbutar, 2011). Cara masuk insektisida ke dalam tubuh serangga :

1. 2. 3.

Melalui dinding badan, kulit (kutikel). Melalui mulut dan saluran makanan (racun perut). Melalui jalan napas (spirakel) misalnya dengan fumigan (Butarbutar, 2011).

Dalam bidang pertanian pestisida merupakan sarana untuk membunuh hama tanaman. Dalam konsep Pengendalian Terpadu Hama, pestisida berperan sebagai salah satu komponen pengendalian. Prinsip penggunaannya adalah : Harus kompatibel dengan komponen pengendalian lain, seperti komponen hayati. Efisien untuk mengendalikan hama tertentu. Meninggalkan residu dalam waktu yang tidak diperlukan Tidak boleh persistent, jadi harus mudah terurai Dalam perdagangan (transport, penyimpanan, pengepakan, labeling) harus memenuhi persyaratan keamanan yang maksimum. Harus tersedia antidote untuk pestisida tersebut. Sejauh mungkin harus aman bagi lingkungan fisik dan biota. Relatif aman bagi pemakai (LD50 dermal dan oral relatif tinggi). Harga terjangkau bagi petani (Sudarmo, 2010). Pestisida adalah bahan yang beracun dan berbahaya, yang bila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan.

Dampak negatif tesebut akan menimbulkan berbagai masalah baik secara langsung ataupun tidak, akan berpengaruh terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia seperti keracunan. Dampak negatif yang terjadi dari penggunaan pestisida pada pengendalian hama adalah keracunan, Khususnya para petani yang sering / intensif menggunakan pestisida. Pestisida dalam bentuk teknis (technical grade) sebelum digunakan perlu diformulasikan dahulu. Formulasi pestisida merupakan pengolahan (processing) yang ditujukan untuk meningkatkan sifat-sifat yang berhubungan dengan keamanan, penyimpanan, penanganan (handling), penggunaan, dan keefektifan pestisida. Pestisida yang dijual telah diformulasikan sehingga untuk penggunaannya pemakai tinggal mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan dalam manual. Formulasi pestisida yang dipasarkan terdiri atas bahan pokok yang disebut bahan aktif (active ingredient) yang merupakan bahan utama pembunuh organisme pengganggu dan bahan ramuan (inert ingredient) (Anonim, 2013).

DAFTAR PUSTAKA Nasih. 2008. Penetapan Kadar Fosfor dalam Buah Apel. repository.

usu.ac.id/bitstream/123456789/14443/1/09E00886.pdf Anonim, 2013. Hydrogen Cyanide (HCN). UN. available from :

www.atsdr.cdc.gov/mhmi/mmg8.pdf. Diakses tanggal 02 Mei 2013. Sukar, 2003. Sumber dan Terjadinya Arsen di Lingkungan.

http://www.ekologi.litbang.depkes.go.id/data/vol%202/sukar22. pdf. Diakses tanggal 02 Mei 2013. Wijanto, S.E, 2005. Limbah B3 dan Kesehatan. http://www.dinkesjatim.go.id/images/ datainfo/200504121503 - LIMBAH%20B-3.pdf. Diakses tanggal 02 Mei 2013. Butarbutar. 2011. Pestisida. www.koperasisubur.com. Diakses tanggal 02 Mei 2013. Sudarmo, S. 2010. Pestisida. Kanisius. Yogyakarta.