Anda di halaman 1dari 56

BAB I PENDAHULUAN

1.1;

Latar Belakang Masalah Kehadiran bahasa di muka bumi ini sama tuanya dengan kehadiran

manusia yang pertama. adanya bahasa tidak bisa disamakan dengan kelahiran seorang bayiyang dapat diketahui dengan pasti. ini merupakan salah satu penyebab para ahli yang berusaha memberikan keterangan tentang bahasa itu sendiri Bahasa memiliki arti penting bagi kehidupan manusia yang ditunjukkan dengan keberadaannya sebagai alat komunikasi. Dalam berkomunikasi, manusia dapat menggunakan bahasa secara lisan ataupun tulisan. Dalam berbahasa secara tulis ( ilmiah ), sehingga bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sudah memiliki bahasa nasional secara mutlak telah diakui dan dipergunakan oleh semua warga negara Indonesia. Apabila ditinjau dari kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yakni : a b c Lambang kebanggaan kebangsaan Indonesia. Lambang identitas nasional Alat yang menyatukan berbagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya masing masing kedalam kesatuan kebangsaan Indonesia. d Alat perhubungan antar daerah dan antar kebudayaan . Selain bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia juga berkedudukan sebagai bahasa negara, sesuai dengan

ketentuan yang tertera dalam Undang Undang Dasar 1945, bab XV, pasal 36. didalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi: a b c Bahasa resmi kenegaraan Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan Alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemereintah. d Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahasa Indonesia mempunyai kedudukan sebagai bahasa negara yang dipergunakan sebagai bahasa pengantar didalam dunia pendidikan, mempunyai peranan penting didalam pengajaran bahasa Indonesia khususnya dan bidang studi lain pada umummya. Bahasa merupakan sarana berkomunikasi antar-manusia untuk memperoleh informasi yang penting. Penguasaan berbahasa dapat diperoleh melalui pembelajaran. Pembelajaran bahasa sangat penting diajarkan di sekolah-sekolah, terutama pembelajaran bahasa Indonesia Pembelajaran bahasa Indonesia harus lebih diarahkan pada kemampuan dan keterampilan siswa untuk berkomunikasi baik secara lisan maupun tulis. Pembelajaran bahasa diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berbahasa siswa yang meliputi keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan ini saling berkaitan dan saling melengkapi dalam kegiatan komunikasi. Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang sangat penting bagi siswa. Keterampilan menulis siswa harus terus

ditingkatkan, terutama keterampilan menulis dalam sbuah kalimat bahasa Indonesia. Dalam penguasaan dan kemampuan berbahasa Indonesia tidak dijadikan alasan untuk mengakhiri kegiatan pengajaran bahasa Indonesia dan selalu menuntut perhatian pemakainya secara terus menerus. Oleh sebab itu sikap menumbuhkan kemampuan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar bagi pemakainya sangat diperlukan. Sesuai dengan kemajuan dan

perkembangan dunia pendidikan, demikian pula arus komunikasi dan informasi dalam pembangunan di Indonesia sekarang ini. Masalah tersebut mendorong kita untuk terus menerus mempelajari dan mendalami

pengetahuan bahasa Indonesia sehingga kita dapat membedakan mana bahasa Indonesia yang benar dan mana bahasa Indonesia yang salah. Setiap orang yang berbahasa harus mematuhi kaedah dan ejaan yang terdapat didalam suatu bahasa yang akan digunakan, kalau tidak demikian berarti dapat menimbulkan salah pengertian pada orang yang diajak berbicara atau pendengarnya. Oleh sebab itu dalam berbahasa kita harus dapat menyusun kalimat yang baik dan benar menurut ejaan dan kaedah bahasa Indonesia yang tentunya tidak terlepas dari sruktur seperti, harus ada subjek, predikat, dan objek. Dan kalimat yang dibuat dapat dipahami dengan baik oleh pembaca maupun oleh pendengannya. Untuk itu perlu diketahui susunan kalimat yang bisa dijadikan pedoman untuk menilai apakah kalimat yang dibuat oleh

seseoarang sudah benar atau belum. Kalimat yang benar mempunyai susunan sebagai berikut (Rosa, 1985 : 4 ) : Kalimat dibagi atas subjek dan predikat, lalu predikat itu dibagi lebih lanjut lagi atas predikat verbal, objek, dan keterangan. Kemudian keterangan terbagi lagi menjadi beberapa macam, misalnya keterangan waktu, keterangan tempat, dan lain lain. 2 Kalimat dibagi atas subjek, predikat dan keterangan, lalu keterangan dibagi atas objek dan keterangan waktu,kheterangan tempat dan lain lain. 3 Kalimat dibagi atas subjek, predikat, dan pelengkap lalu pelengakap dibagi atas keterngan temapat dan keterangan waktu dan seterusnya. 4 Kalimat dibagi atas subjek, predikat, objek, dan keterangan, sedangkan keterangan itu sendiri dibagi lagi atas keterangan tempat, keterangan waktu dan sebagainya. Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal bentuk bentuk kalimat termasuk diantaranya bentuk kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk. Penyusunan kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk harus sesuai dengan struktur dan kaedah bahasa Indonesia seperti harus mempunyai susunan subjek, predikat, objek, dan keterangan. Tertariknya penulis terhadap kalimat tunggal dan kalimat majemuk dalam bahasa Indonesia, sehingga penulis mencoba untuk mengangkat permasalahan ini dalam bentuk penelitian dengan judul Studi kemampuaan Mengubah Kalimat Tunggal menjadi Kalimat Majemuk Bahasa Indonesia pada Siswa Kelas V Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada tahun pelajaran 2009 2010. 1

1.2;

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan yang dapat

dikemukakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Bagaimanakah kemampuan mengubah kalimat tunggal dan kalimat majemuk bahasa Indonesia pada siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada tahun pelajaran 2009 2010?

1.3;

Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : Untuk mengetahui tingkat kemampuan dalam mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk bahasa Indonesia pada siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada tahun pelajaran 2009 2010. 1.3.2 Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut : a Penelitian ini diharapkan untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan khususnya bidang pendidikan dan pengajaran bahasa Indonesia.

Mengharapkan dari hasil penelitian ini dapat membantu guru bidang studi bahasa Indonesia kelas V Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada tahun pelajaran 2009 2010.

Untuk melihat dan mengevaluasi kemampuan siswa dalam mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk bahasa Indonesia.

Hasil penelitian ini dapat diharapkan kepada segenap para Guru dan Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada tahun Pelajaran 2009 2010. sebagai bahan informasi dan acuan tambahan dalam mata pelajaran bidang studi bahasa Indonesia.

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan refrensi bagi peneliti peneliti lainnya dalam disiflin ilmu yang sama.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1

Konsep Dasar

2.1.1 Pengertian Studi Kata studi sering kita mendengar dalam pergaulan sehari hari , umumnya dalam pendidikan telah banyak diungkapkan apalagi oleh para ahli, diantaranya : a Studi adalah mengadakan penyelidikan mengenai keadaan sesuatu (Shadily, 1978 : 563 ) b Studi adalah pelajaraan, penggunaan waktu dan pikiran untuk memperoleh ilmu pengetahuan (Poerwadarminta, 1976 : 965 ). 2.1.2 Pengertian Kemampuan Kemampuan dapat didefinisikan menurut para ahli sebagai berikut : a Chomsky (Kridalaksana,1982:8) mengatakan bahwa kemampuan adalah pengetahuan tentang sesuatu hal yang bersifat abstrak. b Poerwadaminta ( 1976 : 628 ) mengatakan bahwa kemampuan adalah kesanggupan atau kecakapan.

2.1.3 Mengubah Menurut KBBI (2002:1234) mengubah berasala dari kata ubah yang diatambah vdengan awalan me sehingga menjadi mengubah yang artinya menjadi lain dari semula, menukar bentuk (warna, rupa). jadi mengubah adalah suatu perihal atau proses untuk mengatur kembali susunann kata dalam kalimat sehingga menyebabkan sesuatu yang berubah dalam bentuk lain dari yang semula sehingga terjadi pengaturan yang menghasilkan sesuatu yang mempunyai makna. 2.2 Kalimat Tunggal 2.2.1 Pengertian Kalimat Tunggal Menurut pakar bahasa Indonesia Tarigan, ( 1984 : 89 ) kalimat tunggal adalah susunan kata dalam kalimat yang mempunyai predikat verba. Sedangkan pakar bahasa Indonesia yang lain seperti soegiarto ( 1984 : 60 ) mengatakan bahwa kalimat tunggal adalah kalimat kalimat yang mempunyai satu klausa, hal ini juga berrti ada satu P dalam kalimat tunggal. Badudu, (1981 :65) mengatakan kalimat tunggal adalah kalimat yang memiliki atau mempunyai ciri ciri sebagai berikut : 1 2 Terdiri dari satu klausa, dengan pengisi P. Terdiri dari objek, pelaku, keterangan ini semua bergantung pada predikat. 2.2.2 Macam Macam Kalimat Tunggal Badudu, (1981 : 65) membagi kalimat tunggal menjadi empat yaitu : Menurut jenisnya kalimat tunggal terbagi menjadi empat jenis antara lain :

Kalimat Nominal kalimat nominal adalah kalimat yang mengacu kepada sesuatu benda baik secara konkret maupun abstrak, contoh dalam kehidupan sehari hari, misalnya benda konkret seperti buku, kunci, kendaraan, pohon dan lain lain. Dan benda abstrak contohnya agama, pengetahuan, kehendak, peraturan, pikiran, nafsu dan lain lain. Oleh karena itu, kata benda disebut juga dengan istilah kata nama (Nomina). Kata benda sangat perlu dikenali karena akan berfungsi sebagai subjek, objek, atau pelengkap. Ciri ciri umum nomina : 1 Nomina tidak boleh diingkarkan dengan kata tidak. Kata pengingkar nomina adalah bukan,. Bentuk ingkar kalimat paman saya wartawan adalah paman saya bukan wartawan. Tidak boleh *paman saya tidak wartawan karena wartawan adalah nomina. 2 Nomina / kata benda ( KB ) dapat berkombinasi dengan ajektiva/kata sifat (KS), baik diantara oleh yang (sangat) maupun tidak. Artinya, konstruksi *KB+KS dan KB + yang (sangat) + KS*akan mengahiskan makna yang jelas dan logis. Kata kata seperti buku, pohon, orang, pengetahuan, pacar, dan pikiran tergolong sebagai kata benda karena dapatmasukkedalam dua konstruksi kombinasi itu.

Kalimat Ajektiva

kalimat ajektiva adalah kelompok kata yang menyatakan sifat tau keadaan. Kata sifat yang menjadi inti prase ajektiva dapat diberi pewatas depan dan pewatas belakang. Dalam contoh berikut ini tampak kata keterangan dapat menjadi pewatas depan dan pewatas belakang, sedangkan kata benda, kata kerja, dan kata sifat hanya menjadi pewatas belakan. Selain itu, ada pula frase ajektiva yang dibentuk dengan penggabungan dua kata sifat bersinonim dan berantonim. Kata yang bercetak tebal didalam contoh adalah inti frase ajektiva. Contoh : frase ajektiva berpwatas depan berupa kata keterangan. Cukup bijak, lebih cepat. Paling layak,selalu baik. b frase ajektiva berpewatas belakang berupa kata ketrangan. Cepat sekali, indah nian. Lambat amat,pandai benar. c frase ajektiva berpewatas belakang berupa kata benda. Biru laut, bulat telur. Kuning gading,merah jambu. d frase ajektiva berpewatas belakang berupa kata kerja. Cepat tanggap, layak terbang. Salah urus, siap pakai. e frase ajektiva yang merupakan gabungan dua kata sifat yang bersinonim. Aman sentosa, basah kuyup. Cantik jelita,muda belia. f frase ajektiva yang merupakan gabungan dua kata sifat yang berantonim. Baik buruk, besar sekali. Kaya miskin,tinggi rendah. 3 Kalimat Verbal Kalimat verbal atau kata kerja adalah kelompok kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan. Inti frasa verbal tentulah kata kerja. Kata kerja yang menjadi inti didampingi oleh kata lain yang disebut pewatas atau a

10

modifier. Letak pewatas pada frasa verbal sebagian besar didepan dan sebagian kecil dibelakang ini frasa. Kata yang dicetak tebal dalam contoh dibawah ini adalah inti frasa verbal. Contoh : 1 Frasa verbal berpewatas depan. Akan datang, hendak membantu, wajib mengetahui, bisa masuk, boleh pulang, ingin pergi. 2 Frasa verbal berwatas depan Meneliti ulang, membangun kembali, tidur lagi. 3 Frasa verbal berwatas gbungan yang terdiri tas dua kata. Harus mau datang Masuh akan kembali Sudah boleh bekerja Contoh farasa verbal 1 Frasa verbal sebagai P : pemerintah / akan menaikkan / harga BBM S 2 P O

Frasa verbal sebagai S : lari pagi / menyehatkan / badan S P Frasa verbal sebagai O : kakek / mencoba / tidur lagi / di sofa O

Frasa verbal sebagai pelaku :

11

adikku / merasa / tidak berbuat salah 5 Frasa verbal sebagai keterangan : Saya / datang / untuk membantu anda S P Ket.

Kata Tugas Kata Tugas adalah kata yang hanya memiliki makna gramatikal dan tidak memiliki makna leksikal. Dengan kata lain jenis kategori kata ini hanya bermakna jika telah dikaitkan dengan kata lain. Ada lima jenis kata tugas, yaitu : preposisi, konjungtor, interjeksi, artikula, dan partikel penegas. Preposisi atau kata depan adalah kata yang menandai hubungan antara makna konstituen (unsur kalimat) di depan dan di belakangnya. Misalnya: akan, antara, bagi, dari, ke, di, sejak, dll. Konjungtor / konjungsi atau kata sambung adalah kata tugas yang berfungsi menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa. Contoh : dan, agar, dengan, sebab, oleh karena itu, baik, maupun., jangankan, pun, dll. Interjeksi atau kata seru adalah kata tugas yang

mengungkapkan rasa hati seperti kejijikan, kekesalan, kekaguman, dll. Secara struktual, interjeksi tidak bertalian dengan unsur kalimat lain. Contoh: Idih, Kau suka menggoda aku, ah!

12

Nah, ini dia yang aku cari! Sialan, baru masuk kuliah sudah diberi tugas banyak sekali! Artikula adalah kata tugas yang membatasi makna nomina. Artikula ada yang menyatakan gelar (sang, sri, hang, dang), makna kelompok (para), dan membendakan (si). Contoh : Sang juara, Cris John, mendapat penghargaan dari pemerintah. Hang Tuah pergi merantau menyebrangi Selat Malaka. Dang Merdu adalah tokoh terkenal dalam hikayat melayu. Para petani masih menggunakan pestisida. Sri Paus belum berencana mengunjungi Sri Sultan. Si kancil tidak lagi bisa mencuri. Partikel penegas adalah satuan bahasa yang hanya berfungsi memberikan penegasan makna pada unsur bahasa yang diiringinya. Ada empat macam partikel, yaitu lah, -kah,-tah, dan pun. Partikel lah, -kah,dan tah menjadi klitika (ditulis serangkai dengan kata yang diikutinya), sedangkan partiel pun tidak. Partikel lah berfungsi memberi penegasan pada kalimat perintah. Partikel pun berfungsi memberi penegasan pada kalimat berita. Partikel kah, dan tah berfungsi memberi penegasan pada kalimat tanya. Contoh: Duduklah di depan!

13

Siapa pun boleh duduk di depan. Siapakah yang duduk di depan itu? Apatah saya yang harus duduk di depan?

2.3;

Kalimat Majemuk

2.3.1 Pengertian Kalimat Majemuk Gorys Keraf (1972 : 124) mengatakan bahwa kalimat majemuk adalah kalimat yang merupakan gabungan dari dua atau lebih kalimat tunggal. Hal itu berarrti dalam kalimat majemuk terdapat lebih dari satu kalusa, seperti contoh dibawah ini : Seorang manajer harus mempunyai wawasan yang luas dan harus S P1 O1

menjunjung tinggi etika profesi P2 O2

Anak anak bermain layang layang dihalaman kampus ketika S1 P1 O1 Ket

para dosen, karyawan, dan mahasiswa menikmati hari libur. S2 P2 O2

Setelah mencermati kedua contoh diatas jelaslah bahwa kalimat majemuk setidaknya mempunyai lebih dari satu predika, sedangkan subyek sebenarnya ganda, dapat tidak tampak ganda seperti contoh diatas. 2.3.2 Ciri- ciri Kalimat Majemuk

14

Ciri-ciri kata-kata majemuk menurut Gorys Keraf (1972 : 126) dalam bukunya Tata Bahasa Indonesia meliputi : 1 2 3 4 5 Gabungan itu membentuk satu arti yang baru Gabungan itu dalam hubungannya keluar membentuk satu pusat yang menarik keterangan-keteeangan atas kesatuan itu, bukan atas bagian-bagiannya. Biasanyan terdiri dari kata-kata dasar Frekwensi pemakaiannya tinggi Terutama kata kata majemuk yang bersifat edosentris terbentuk menurut hukum DM. Pada umumnya kata majemuk yang berafiksasi juga memiliki ciri ciri sebagaimana yang disebutkan di atas. Sebagai Contoh kalimat dibawah ini : a b Mereka tiga bersaudara Musik itu dimainkan oleh tiga bersaudara.

Kedua kalimat diatas memiliki majemuk yang sama yakni tiga bersaudara. Akan tetapi kedua majemuk tersebut berdasarkan struktur konstruksinya adalah berbeda. Dalam kalimat mereka bertiga bersaudara, terdiri dari

mereka tiga (jumlahnya). Mereka bersaudara (bukan jumlah). Tiga bersaudara : Kbi = Bi + K Ud + Up (bertingkat) kata majemuk diatas termasuk edosentris. Sementara pada kalimat yang kedua yaitu : musik ini dimainkan oleh tiga bersaudara berkonstruklsi ekosentris karena strukturnya terdiri dari kata bilangan ( bi) + kata kerja (K) yang termasuk kata majemuk bertingkat. 2.3.3 Macam-macam Kalimat Majemuk

15

Dalam usaha menggolongkan kata majemuk, ada yang berusaha memasukkan sistem penggolongan menurut sistem bahasa lisan. Misalnya yang terkenal pegolongan yang didasarkan atas hasil karya Panini dalam Gorys Keraf, ahli tata bahasa sansekerta. Berdasarkan sifat dan sturktur kata kata majemuk dalam bahasa sansekerta membuat penggolongan kata majemuk sebagai berikut (Keraf, 1972 : 127) : 1 Dwan Dwa : kalau penggolongan itu mempunyai derajat yang sama (bersifat kopulatif). Kalau kita hubungkan dengan sifat kata majemuk sebagai telah disebut di atas, maka kata majemuk Dwan Dwa ini bersifat eksosentris, seperti laki-bini, tua-muda, besar-kecil, sanaksaudara dan sebagainya. 2 Tatpurusa yaitu kata majemuk yang bagiannya yang kedua memberikan penjelasan pada bagian yang pertama. Sifatnya edosentris yang termasuk golongan ini adalah majemuk yang bagiannya yang kedua terdiri dari kata benda, kata kerja atau kata tugas seperti : Matahari, rumahmakan, rumahsakit, saputangan, kamar tidur dan lainlain. 3 Karmadharaya yaitu bagian yang kedua menjelaskan bagian yang pertama, tetapi bagian yang menjelaskan itu terdiri dari kata kata sifat. Kata majemuk semacam bersifat edosentris, misalnya orang tua, rumah besar, hari besar dan lain-lain.

16

Di samping itu ada macam- macam kata majemuk lain yang lebih sesuai dengan struktur bahasa, sansekerta, antara lain, bahuvrihi.

Kata majemuk itu sebenarnya adalah kata majemuk Dwan Dwa atau Tatpurusa, tetapi berfungsi untuk menjelaskan satu kata benda. Apakah pembagian tata bahasa sansekerta itu dapat diterapkan dalam tata bahasa Indonesia ? sejauh struktur itu tidak bertentangan denganb mempelajari bentuk-bentuk tersebut kita dapat mengerti struktur bahasa sansekerta yang masuk dalam bahasa Indonesia seperti kata majemuk : bumiputra, maharaja, purbakala dan sebagainya. Dimana menurut struktur bahasa Indonesia inti dari gabungan itu harus terletak di depan dari bagian yang menerangkan. Dalam bahasa sansekerta keadaan itu terbalik. Berdasarkan jenis kalimat, kalimat majemuk digolongan dalam dua

jenis antara lain : a Kalimat majemuk setara Kalimat majemuk setara adalah kalimat yang mempunyai hubungan antara klausa yang satu atau dengan klausa yang lain dalam satu kalimat sehingga koordinatif / sederajat / setara. Sangatlah tepat dan memang memenuhi syarat jika kalimat kalimat yang digabung disebut dengan istilah klausa, didalam kalimat majemuk kita mengenal namanya konjungtor yang menghubungkan kalusa dalam kalimat majemuk setara , dengan jumlah yang cukup banyak dan dapat

17

juga sebagai penghubung klusa dalam kalimat, bisa kita lihat dalam tabel dibawah ini : Jenis Hubungan Penjumlahan Fungsi Kata Penghubung Menyatakan penjumlahan dan, serta, baik, maupun. atau gabungan kegiatan, keadaan, peristiwa, dan Pertentangan proses. Menyatakan bahwa hal yang dinyatakan dalam kalusa pertama Bertentangan dengan Pemilihan klausa kedua Menyatakan pilihan diantara dua Perurutan Kemungkinan Menyatakan yang berurutan b Kalimat Majemuk Bertingkat Seperti yang telah dijelaskan pada majemuk setara bahwa majemuk bertingkat sangat berbeda, perbedaannya terletak pada derajat klausa pembentuknya yang tidak setara karena klausa kedua merupakan perluasan dari klausa pertama. Karena itu, kongjuktor yang kejadian lalu, kemudian atau tetapi,sedangkan, bukanya, melainkan.

menghubungkan klausa klausa kalimat majemuk bertingkat juga berbeda dengan kongjuktor pada kalimat majemuk setara. Dalam tabel ini dapat

18

dilihat jenis hubungan antar klausa, konjungtor, dan fungsinya dalam kalimat majemuk bertingkat, seperti pada tabel dibawah ini. No a. Jenis Hubungan Waktu Kata penghubung Sejak, sedari, sewaktu, se- mentara, seraya, setelah, sambil, sehabis, sebelum, b. Syarat ketika, tatkala, hingga, sampai Jika(lalu), seandainya, an-daikata, andaikata, c. Tujuan asalkan, kalau, apabila,

bilamana, manakala

19

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penentuan Subjek Penelitian Metode yang digunakan untuk menentukan subjek dalam penelitian ini adalah metode populasi. Poerwadarmita, (1989: 659), menyatakan bahwa Populasi merupakan sekelompok subjek baik manusia, gejala, nilai, bendabenda atau peristiwa yang merupakan sasaran sesungguhnya pada penelitian. Selanjutnya, Nazir (1993 : 325), mengatakan bahwa populasi adalah kumpulan individu dengan kualitas serta ciri-cirinya yang telah ditetapkan. Oleh karena itu yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah Siswa Kelas V Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada tahun pelajaran 2009 -2010, sebanyak 27 orang.

3.2 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data merupakan prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan dan selalu terkait dengan masalah penelitian yang ingin dipecahkan. Masalah memberi arah dan

mempengaruhi metode pengumpulan data (Nazir, 1983). Penjelasan di atas memberi inspirasi betapa penting peranan metode dalam mengumpulkan data

20

dalam sebuah penelitian. Maka, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tes dengan batas pengertian sebagai berikut :

3.2.1 Metode tes a Tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data atau keteranganketerangan yang diinginkan tentang seseorang dengan cara boleh dikatakan tepat dan cepat. Tes merupakan metode pengumpulan data yang sifatnya mengevaluasi hasil proses (pra test dan post test) intrumentnya dapat berupa soal-soal ujian dan soal-soal tes (Hariwijaya, 2007:87). Apabila ditinjau dari jenis tes yang dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang kemampuan mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk dalam bahasa Indonesia pada siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada tahun pelajaran 2009 -2010, maka penulis mempergunakan jenis tes essay dan tes objektif. Tes essay adalah suatu bentuk tes yang terdiri dari suatu pertanyaan atas suatu suruhan yang menghendaki jawaban yang berupa uraian-uraian yang relatif panjang. Bentuk-bentuk pernyataan atau suatu suruhan yang meminta kepada murid untuk menjelaskan, membandingkan,

menginterprestasikan dan mencari perbandingan. Semua bentuk pernyataan atau suruhan tersebut mengharapkan pengertian mereka terhadap materi yang dipelajari (Nurkencana, 1983:27).

21

Tes objektif dapat diartikan sebagai item-item yang dapat dijawab dengan jalan memilih salah satu alternatif yang benar dari sejumlah alternatif yang tersedia, atau dengan mengisi jawaban yang benar dengan beberapa perkataan atau simbul (Nurkencana,1983 : 27). 3.2.2 Metode Observasi Di dalam pengertian psikologis, observasi disebut pula dengan pengamatan, meliputi pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra. Jadi, mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, dan pengecap (Arikunto, 1998 : 146). Penggunaan metode ini dimaksudkan untuk melihat atau memantau secara langsung pelaksanaan pembelajaran di sekolah tempat lokasi penelitian. Dengan demikian, data yang akan diproleh melalui metode ini merupakan realita di lapangan yang diadapat oleh peneliti. 3.2.3 Metode Dokumentasi Margono (1997: 181) menjelaskan bahwa metode dokumentasi adalah cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis. Kaitannya dengan penelitian ini adalah mengumpulkan data yang peneliti lakukan melalui sumber teknis, arsip atau catatan tertulis. Data-data tertulis ini sangat penting peranannya selain untuk melengkapi data yang diperoleh melalui pengamatan (observasi) dan wawancara. Dengan menggunakan metode ini diperoleh data seluas-luasnya tentang perangkat pembelajaran para guru dan keperluan dokumentasi lainnya. 3.3 Metode Analisis Data

22

Metode yang digunakan dalam menganalisis data pada penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif yaitu pendekatan kuantitatif dengan dasar pijakan pada realitas dan kondisi real (defacto) tentang fenomenafenomena di lapangan. Gejala-gejala yang nampak menjadi sumber data dan bahan-bahan serta material yang akan diteliti, yang terkadang tidak selalu relevan dengan asumsi dasar atau gambaran yang digambarkan dan dibangun sebelumnya (Moleong, 2002:47). Oleh karena itu, dengan pendekatan ini pengembangan dan pengumpulan data selalu disesuaikan dengan fenomena yang berkembang di lapangan. Untuk mengukur kemampuan menentukan jenis kata, maka

dalam mendapatkan hasil yang akurat, penulis menganalisis hasil kemampuan anak tersebut dengan menggunakan berikut. a. SMi b. Mi c. SDi =......... = x = 1/3 x SMi Mi rumus-rumus sebagai

1) Kemampuan Individual Untuk mengetahui tingkat kemampuan individual

dipergunakan norma relatif skala tiga sebagai berikut: - Kemampuan tinggi : Mi + 1 SDi (ke atas) - Kemampuan sedang : Mi 1 SDi (di antara) - Kemampuan rendah : Mi - 1 SDi (ke bawah) 2) Indek Prestasi Kelompok

23

Indeks prestasi kelompok dapat dihitung dengan membagi nilai rata-rata dengan nilai maksimal yang mungkin dicapai dalam tes, dan kemudian mengalikan hasil bagi ini dengan seratus, atau secara singkat dapat dilihat seperti di bawah ini: M IPK = SMi Keterangan : IPK M SMi 100% = Indek Prestasi Kelompok = Mean (Nilai rata-rata) = Skor Maksimal Ideal = Bilangan tetap X 100

Lihat Pedoman IPK: 00 30 = Sangat kurang 31 54 = Kurang 55 69 = Normal (sedang) 70 89 = Tinggi 90 100 = Sangat tinggi (Nurkancana, dkk, 1986:118).

24

BAB IV ANALISA DAN PENYAJIAN DATA

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Sejarah singkat berdirinya Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada berada didesa Tanak Beak Kecamatan Narmada memiliki latar belakang yang kiranya dapat dicermati bersama, bahwa Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada ini didirikan pada tanggal 21 Juli 1952. Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada ini didirikan berdasarkan beberapa pertimbangan yakni : 1 Sedikitnya Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada sehingga masayarakat bersama para pemuka agama berinisiatif untuk membangun sekolah Madrasah dengan melihat beberapa hal antara lain: a Jarak antar desa yang satu dengan yang lain cukup jauh, tidak memungkinkan untuk pergi sekolah Khususnya Madrasah. b Alat sarana saat itu belum ada sehingga untuk menjangkau

kesekolah lain cukup jauh.

25

Jumlah penduduk cukup padat sehingga memungkinkan

saat itu khusus nya anak anak membangun sebuah lembaga

untuk

pendidikan.khususnya Madrasah. d Masih minimnya lembaga pendidikan khususnya Madrasah Ibtidaiyah pada waktu itu yang ada di Kecamatan Narmada.

Sehingga memungkinkan sekali berdirinya sekolah dasar di Madrasah Ibtidaiyah Kecamatan Narmada. e Keinginan masyarakat yang cukup tinggi untuk menyekolahkan anakanaknya pada lembaga pendidikan Berdasarkan pertimbangan itulah yang memacu gerak

masyarakat untuk membangun sekolah dasar dan berkat kebersamaan masyarakat jualah Madrasah Ibtidaiyah itu berkembang sesuai tuntutan yang berlaku, sehingga pada tahun 1952 Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada tersebut mendapat piagam pendirian

berdasarkan surat keputusan kepala kantor Wilayah Departemen pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan nomor NSM: 112520105005. Adapun status Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada adalah sudah terdaftar. 4.1.1; Letak Geografis Gedung Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada, terletak di lokasi yang cukup strategis yaitu berada di pinggir jalan, dengan luas tanah 922 m2. Sebelah Utara : Dekat dengan masjid

26

Sebelah Selatan Sebelah Timur Sebelah Barat

: Dekat rumah penduduk : Dekat dengan rumah penduduk : Jalan raya dan rumah penduduk

4.1.2; Keadaan siswa 4.1.2.1; Keadaan Siswa Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Siswa menduduki peranan yang sangat penting dalam proses belajar mengajar, karena siswa yang menjadi tolak ukur berhasil tidaknya proses belajar mengajar. Oleh karena itu keberadaan dan peran aktif siswa mutlak di perlukan dalam proses pembelajaran. Adapun jumlah siswa yang terdapat di Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada di lihat pada tabel berikut ini : Tabel 1 : Data Keadaan dan Jumlah Siswa Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada No 1 2 3 4 5 Tingkat Kelas Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV Kelas V Jenis Kelamin L P 12 16 10 10 12 12 13 10 13 15 Jumlah 28 23 20 25 27

6 Kelas VI 11 12 23 JUMLAH 67 79 146 Sumber Data : Data Siswa Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak.

27

Dari data di atas, jelaslah bahwa jumlah siswa Siswa Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada sebanyak 146 orang siswa, dengan 67 laki dan 79 perempuan.

4.1.3; Keadaan Guru Guru merupakan orang yang bertanggung jawab dalam proses belajar mengajar. Guru berkewajiban dalam menjelaskan materi pelajaran, membimbing dan mengarahkan siswa dengan arah pencapaian tujuan pembelajaran yang telah di canangkan. Dalam hal ini, di butuhkan kemampuan dan profesionalisme guru dalam melaksanakan tugasnya, baik sebagai guru pendidikan umum lebih-lebih guru pendidikan yang berciri khas agama Islam. Oleh karena kapasitas dan kualitas guru merupakan faktor yang tidak dapat di abaikan. Adapun keadaan guru Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak

Kecamatan Narmada dapat di lihat pada tabel berikut ini: Tabel 2 : Data Keadaan Guru Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada No 1 2 3 4 Nama Kurdi, S.Ag Hj. Nurimin, S.Pd Marwi, A. Ma MuAzzin, A. Ma L/ P L L L L Status TKT Peg. GTY PNS GTT GTT S1 S1 D2 D2 Ijazah Jurusan PAI PAI PGMI/SD PGMI/SD

28

5 6 7 8 9 10 11 12 13

Amilin, S. Pdi Suari hardani, A. Ma Muslihataen, A. Ma Nurul Wathan, A. Ma Asri Irmayani, A. Ma Nursulasatun aida, A. Ma Haeri Amrullah, A. Ma Siti Maryam, A. Ma Saniwati

P P P P P P L P P

PNS GTT GTT GTT GTT GTT GTT GTT GTY

S1 D2 D-2 D-2 D-2 D-2 D2 D2 PA

PAI PGMI/SD PGMI/SD PGMI/SD PGMI/SD PGMI/SD PGMI/SD PGMI/SD PGMI/SD

Sumber Data : Data Keadaan Siswa Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada (Dokumentasi 23 januari 2010). 4.1.4; Sarana dan Prasarana Gedung Siswa Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada di bangun di atas tanah seluas 9,22 m2 dan luas bangunan. Untuk lebih rincinya dapat di lihat pada tabel berikut : Tabel 3 : Keadaan Gedung Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada No 1 2 3 4 5 Gedung / Ruangan Ruang Belajar Ruang Guru Ruang Kepala Sekolah Ruang Wakil kepala sekolah Ruang TU Jumlah 6 buah 1 buah Keterangan

29

6 7

Ruang UKS/PMR Ruang BK

8 9

Ruang Tamu

1 buah

WC/ Kamar Mandi Sumber Data : Data Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada (Dokumentasi 23 januari 2010). Mengenai sarana dan prasarana lainnya di Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada ini untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada tabel berikut ini: Tabel 4 : Sarana dan Prasarana Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada

A 1 2 3 4 A 1 2 3 4 5

Jenis Sarana /Perlengkapan Di Ruang Kelas Meja Siswa Kursi Siswa Papan Tulis Papan Absensi Ruang Guru Meja guru Kursi Guru Papan Program Lemari Meja Panjang

Jumlah 103 103 6 6

Keterangan

8 7 1 2 -

30

6 7 B 1 2 3 C 1 2 3 4 D 1

Kursi Lipat Tempat Guci Air Minum Ruang Kepala Sekolah Buffet Tiang Bendera Lambang Garuda Indonesia BP/BK Meja Guru Kursi Guru Rak Lemari Ruang Tamu Meja/Kursi Tamu

1 1

1 -

Sumber Data : Data Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada (Dokumentasi 23 januari 2010). 4.2; Persiapan Pembelajaran dalam mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk Sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar, guru mengadakan persiapan pembelajaran sebagai pedoman pembelajaran yang efektif dan efisien, persiapan pembelajaran tersebut dapat disajikan pada tabel 05. Tabel 05. Data Persiapan Pembelajaran dalam mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk Pada Siswa Kelas V Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada Tahun Pelajaran 2009/2010.

31

No 1. 2. 3. 4. 5.

Aspek yang diteliti Persiapan Pembelajaran Guru menyusun RPP (Rencana Pembelajaran) Bahan pelajaran sesuai dengan kurikulum Rumusan KTSP yang jelas dan lengkap Kegiatan pembelajaran sesuai dengan tujuan, dan bahan Jenis dan prosedur penilaian tercantum dalam rencana pembelajaran (RPP)

Subyek Penelitian I II Ya Tidak Ya Tidak

4.3; Pelaksanaan Pembelajaran dalam mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk Tabel 06. Data Pelaksanaan Pembelajaran dalam mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk Pada Siswa Kelas V Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada Tahun Pelajaran 2009-2010 Subjek Penelitian I II Ya Tidak Ya Tidak

No 1. 2. 3. 4. 5.

Aspek yang diteliti Guru Guru menyampaikan kondisi kondusif untuk belajar siswa Guru memberikan penjelasan tentang masalah tugas tentang menyusun paragraf. Guru menyiapkan sarana untuk melakukan diskusi Guru merangsang siswa mengembangkan rasa ingin tahu dengan berpartisipasi dalam diskusi. Guru menilai hasil kerja siswa dan hasil diskusi. Siswa Siswa diberi kesempatan untuk aktif dalam pembelajaran Siswa diberi kesempatan untuk

1. 2.

32

3.

menanggapi masalah, atau memberi saran serta mengeluarkan ide-ide dalam proses pembelajaran. Siswa diberi kesempatan untuk membuat kesimpulan diskusi tentang menyusun paragraf.

4.3.1 Pelaksanaan Pembelajaran dalam mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk pada awal dan akhir siklus I Dalam pelaksanaan pembelajaran menyusun paragraf dengan pola pengembangan kalimat topik melalui kegiatan berikut : a Tahap Perencanaan Dalam kegiatan ini, guru melakukan persiapan pembelajara yang meliputi: 1 Membuat rencana pembelajaran yang akan digunakan pada saat kegiatan dilakukan. 2 3 b Menyusun tes hasil belajar untuk mengetahui hasil belajar siswa Membuat pedoman penskoran

Tahap Pelaksanaan Pada kegiatan ini, peneliti melaksanakan kegiatan

pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun untuk meningkatkan kemampuan mengubah kalimat tunggal menjadi
kalimat majemuk

Kegiatan pembelajaran dapat dibagi menjadi tiga fase tahap pembukaan atau tahap prainstruksional meliputi kegiatan; (1) Memeriksa kehadiran siswa, (2) memeriksa kesiapan alat dan bahan

33

pelajaran baik alat tulis kelas maupun alat tulis siswa, (3) Menuliskan topik dan tujuan pembelajaran di papan tulis. Tahap ini kegiatan pembelajaran diawali dengan penjelasan guru tentang konsep dasar tentang mengubah kalimat tunggal menjadi
kalimat majemuk. Penanaman konsep ini dilakukan melalui kegiatan

Tanya jawab antara guru dan siswa. Dalam hal ini guru menjadi fasilitator didalam pelaksanaan pembelajaran berlangsung. Sebagai lanjutan tahap di atas guru meminta siswa untuk membuka buku paket bahasa dan sastra Indonesia kelas V untuk Madrasah Ibtidaiyah. Setelah guru menunggu reaksi dari siswa, jika ada siswa yang menanyakan kegiatan apa yang harus dilakukan, guru memberikan petunjuk secara singkat dan jelas kemudian siswa diminta untuk berdemostrasi pengamatan terhadap sesuatu dengan

menggunakan kerangka. Kegiatan berikutnya adalah diskusi tentang hasil pengamatan berdasarkan kelompok. Pembentukkan kelompok berdasarkan kelas keseluruhannya terdiri dari 7 kelompok yang beranggotakan 6 orang tiap kelompok. Guru memberikan lembaran kertas kepada setiap kelompok untuk menuliskan jawaban. Pada saat proses diskusi berlangsung tugas guru adalah membimbing atau memfasilitasi pelaksanaan diskusi serta memantau dan memperhatikan siswa pada masing-masing kelompok. Guru mencatat kegiatan siswa, siapa saja yang aktif, yang serius dan antusias terhadap tugas yang diberikan.

34

Guru mempersilakan siswa untuk mempertanyakan hal-hal yang dianggap kurang jelas selama dalam mengerjakan soal. Kegiatan lanjutan dari diskusi kelompok adalah diskusi kelas. Setiap kelompok diskusi diminta untuk menunjukkan seorang juru bicara yang akan mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya, kelompok lain menanggapi dan membandingkan pendapat tersebut dengan pendapat kelompoknya atau memberikan pertanyaan dan pemilihan kelompok yang akan presentasi tugasnya dipilih acak oleh guru. Yang menjawab pertanyaan bukan hanya juru bicara tetapi semua siswa yang ada didalam kelompok bersangkutan. Dalam fase ini guru hanya bertugas sebagai fasilitator dan motivator yang mengatur jalan diskusi. Siswa yang memberikan tanggapan atau pertanyaan didata dan dicatat dalam hasil observasi. Setelah diskusi kelas selesai guru menjawab serta memberikan penguatan terhadap masalah-masalah yang dipertanyakan oleh siswa dalam diskusi tadi, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempertanyakan hal-hal yang kurang jelas setelah selesai presentasi oleh setiap kelompok, kelompok diberikan sedikit penghargaan yaitu tepuk tangan. c Evaluasi Pembelajaran Siklus I Setelah proses pembelajaran dilaksanakan, maka dilakukan evaluasi yang diberikan kepada siswa untuk mengubah kalimat tunggal

35

menjadi kalimat majemuk dengan memperhatikan partisipasi, motivasi,

dan kerja sama. Untuk tahap evaluasi guru memberikan latihan membuat karangan bebas dengan menggunakan aspek penilaian, hal ini untuk mengukur kemampuan siswa dalam menguasai materi yang telah diberikan atau tidak. Hasil evaluasi tentang kemampuan mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk kelas V Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak dapat dilihat pada tabel 07 berikut Tabel 07 : Data hasil siklus I kemampuan mengubah kalimat tunggal dan kalimat majemuk bahasa Indonesia pada siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak Kecamatan Narmada tahun pelajaran 2009 2010
N o N a m a si s w a S ar ia h S el a m et S u pa rd i N o m or S o al 1 4 Skor

2 3

3 5

4 3

5 4

6 4

7 3

8 5

9 3

1 0 4

11 2

1 2 3

1 3 3

1 4 4

1 5 5

1 6 2

1 7 4

1 8 2

1 9 2

2 0 2

6 5 7 0

36

1 0 1 1

U s w at u n H . S ya fi I S u m ar ni S a m su l H ad i S ah la n Ef en di R of ik a N ur ai ni . F ai zu l M ul ia ti M u ha m m

5 5

5 7 6 0

7 0

5 0

6 0

6 0 6 5 6 0

37

1 2 1 3 1 4 1 5

1 6

1 7

1 8

1 9

2 0 2

ad A d M as na h M ar zu ki Ju na ed i Iz zu l L ai li S u ni W at i H ai ru l W as ia h W ah y u A ni sa A Li n da Y an i M as it ah Li

6 5 5 5 7 6 6 0

7 0

6 8

6 0

5 0

4 0 5

38

2 2

2 3

2 4

2 5

2 6

2 7

sa W id iy an ti H id ay an a, L S u di N o vi ta Ri zk ik a A y u H R ez i S ul to m i M .S o hi b ul E M u ha m m ad H

7 0

6 3

5 5

5 9

5 5

8 5

Jumlah Rata rata

1677 62,11 65 14

SKBM Jumlah siswa tuntas

39

Jumlah siswa tidak tuntas Presentase ketuntasan Sumber: Data diolah Keterangan. Kriteria keberhasilan penelitian : Indikator keberhasilan dalam penelitian ini yaitu : 1 Keberhasilan siswa secara individu tercapai apabila siswa mendapat nilai 65 2 Keberhasilan belajar kelompok siswa secara kelompok tercapai apabila 80 % siswa mendapat nilai 65. Keberhasilan secara kelompok dapat diperoleh dengan menggunakan rumus : KK = x 100 %

11 51,85

Keterangan : KK X Z : Keberhasilan Klasikal : Jumlah Siswa yang memperoleh nilai 65 : Jumlah Siswa

Penilaian proses dilaksanakan dengan pengamatan terhadap aspek keberhasilan siswa dalam memperhatikan materi pembelajaran atau dalam kegiatan diskusi.

Penilaian hasil yaitu memperhatikan siswa belajar dari segi; (1) ketepatan jawaban dengan standar penilaian; (2) keaktifan dalam pelaksanaan belajar mengajar, (3) Keaktifan memberikan

tanggapan/gagasan dalam berdiskusi.

40

Berdasarkan hasil belajar siswa tersebut di atas menunjukkan bahwa persentase ketuntasan belajar yang dicapai yaitu 57,14 % dalam kategori belum mencapai target indikator keberhasilan yang ditetapkan, yaitu minimal 80 % siswa tuntas. Dengan demikian, penelitian perlu dilanjutkan pada Siklus II. d. Refleksi Pembelajaran Hasil penilaian pada pelaksanaan siklus I menunjukkan bahwa kemampuan menyusun paragraf dengan pola pengembangan kalimat topik pada awal dan akhir paragraf (deduktif-induktif) siswa didapatkan nilai kuatitatif yaitu rata-rata nilai klasikal 63,70 atau 64 % dan 57,14 % untuk jumlah siswa yang memperoleh nilai standar minimal keatas. Berdasarkan nilai observasi dan catatan guru, kelemahan yang ditemukan dalam pelaksanaan siklus I ini dapat dipecahkan dengan cara sebagai berikut : a Secara umum kemampuan siswa dalam menyusun paragraf dengan pola pengembangan kalimat topik pada siklus I hanya mampu mencapai angka 63,70 atau 64 % untuk pencapaian klasikal dan 57,14 %. b Dibutuhkan rencana pembelajaran yang lebih baik agar siswa termotivasi dalam mengikuti pelajaran c Merancang metode pembelajaran yang menyenangkan sesuai dengan dunia siswa. d Guru memotivasi siswa untuk aktif bertanya

41

Bimbingan dan pengawasan dalam proses pembelajaran perlu ditingkatkan agar kebutuhan siswa mampu menguasai materi.

4.3.2; Pelaksanaan Pembelajaran dalam mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk pada awal dan akhir siklus II a Tahap Perencanaan Dalam hasil belajar siswa pada siklus II menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk masih rendah. Oleh sebab itu, pelaksanaan siklus II, kegiatan pembelajaran lebih ditekankan pada pengembangan kalimat mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk. Perencanaan tindakan pada siklus II ini hampir sama dengan siklus I, namun penyusunan perencanaan mengacu pada hasil refleksi siklus I. Persiapan yang dilakukan pada siklus II diantaranya : 1 Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang efektif dan lebih menyenangkan siswa yang berorientasi pada penguasaan unsur-unsur kaliamat secara umum (aspek kalimat). 2 Menyusun tes hasil belajar dalam bentuk umum untuk mengetahui hasil belajar siswa. 3 b Membuat padanan periskaran Pelaksanaan Tindakan Dalam siklus ini diikuti oleh 27 siswa yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Pada awal pembelajaran sebagian siswa memperhatikan penjelasan dari guru, namun ada

42

beberapa siswa yang tidak memperhatikan, akan tetapi pelaksanaan pembelajaran tetap lancar. Pada kegiatan inti siswa sudah mulai paham tentang materi yang diajarkan oleh guru, walaupun ada beberapa siswa yang belum bisa, kemudian pada siklus II ini terdapat beberapa peningkatan dalam proses pembelajaran seperti : kegiatan belajar mengajar berjalan lancar, siswa tidak mau mengajukan pertanyaan dan bergairah mengikuti pembelajaran, serta siswa sudah mampu mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk melalui objek yang ada.

Evaluasi Pembelajaran Siklus II Hasil evaluasi tentang kemampuan mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk pada siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyah pada siklus II dapat dilihat pada tabel 8 sebagai berikut :

N a m a si s w a S ar ia h S el a m et S u pa

N o m or S o al 1 4

Skor

2 3

3 5

4 3

5 4

6 4

7 3

8 5

9 3

1 0 4

11 2

1 2 3

1 3 3

1 4 4

1 5 5

1 6 2

1 7 4

1 8 2

1 9 2

2 0 2

6 7 7 5

43

rd i U s w at u n H . S ya fi I S u m ar ni S a m su l H ad i S ah la n Ef en di R of ik a N ur ai ni . F ai zu l M ul ia ti M u ha

7 5

6 4 6 5

7 0

5 0

6 3

6 0 6 0 6 0

44

m m ad A d M as na h M ar zu ki Ju na ed i Iz zu l L ai li S u ni W at i H ai ru l W as ia h W ah y u A ni sa A Li n da Y an i M as it

7 5 6 6 8 0 6 9

7 2

8 5

7 1

5 5

5 5

45

ah Li sa W id iy an ti H id ay an a, L S u di N o vi ta Ri zk ik a A y u H R ez i S ul to m i M .S o hi b ul E M u ha m m ad H 2 2 2 3 3 4 3 4 2 2 3 3 4 2 2 2 3 3 4 4 8 0

8 5

6 5

7 1

6 0

7 0

8 5

Jumlah Rata rata

1877 69,51

46

SKBM Jumlah siswa tuntas Jumlah siswa tidak tuntas Presentase ketuntasan

65 22 5 81,48

keterangan : Indikator keberhasilan dalam penelitian ini yaitu : 1 Keberhasilan siswa secara individu tercapai apabila siswa mendapat nilai 65 2 Keberhasilan belajar kelompok siswa secara kelompok tercapai apabila 80 % siswa mendapat nilai 65. Keberhasilan secara kelompok dapat diperoleh dengan menggunakan rumus : KK = x 100 %

Keterangan : KK X Z : Keberhasilan Klasikal : Jumlah Siswa yang memperoleh nilai 65 : Jumlah Siswa

Penilaian proses dilaksanakan dengan pengamatan terhadap aspek keberhasilan siswa dalam memperhatikan materi pembelajaran atau dalam kegiatan diskusi.

Penilaian hasil yaitu memperhatikan siswa belajar dari segi; (1) ketepatan jawaban dengan standar penilaian; (2) keaktifan dalam pelaksanaan belajar mengajar, (3) Keaktifan memberikan anggapan /gagasan dalam berdiskusi.

47

Berdasarkan hasil belajar siswa tersebut diatas menunjukkan bahwa persentase ketuntasan belajar yang dicapai yaitu 80,51 % telah mencapai target indikator keberhasilan yang ditetapkan yaitu minimal 80 % siswa tuntas. Dengan demikian penelitian dihentikan pada siklus II d Refleksi Pembelajaran Berdasarkan hasil evaluasi, observasi, dan wawancara yang diperoleh antusias siswa dalam belajar meningkat yang diikuti oleh peningkatan kemampuan mengkomunikasikan masalah dan

keterlibatannya dalam memecahkan masalah secara bersama. Disamping itu, hasil evaluasi menunjukkan bahwa indikator keberhasilan belajar siswa secara kelompok telah mencapai target yang ditetapkan yaitu 80 % siswa tuntas. Dari hasil penelitian yang dilakukan dalam kasus siklus ini dapat diketahui peningkatan aktifitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk diperoleh rata-rata nilai klasikal 68,89 % dan 80,51 % untuk jumlah siswa yang memperoleh nilai standar minimal ke atas. Dari tindakan siklus II ternyata target yang sudah ditetapkan sudah tercapai, sehingga pelaksanaan penelitian dihentikan pada siklus II. Namun mengingat ada beberapa hal siswa yang masih dibawah target, maka perlu mendapat perhatian dan penanggulangan khusus dari guru bidang studi yang bersangkutan. Misalnya memberikan

48

bimbingan belajar, bimbingan pribadi, dan bimbingan social sesuai dengan masalah yang dihadapi siswa tersebut. 4.4 Evaluasi Pembelajaran Mengubah Kalimat Tunggal Menjadi Kalimat Majemuk Berdasarkan hasil observasi bahwa pelaksanaan pembelajaran mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk pada awal dan akhir kalimat menunjukkan hasil yang cukup maksimal. Hal ini merupakan keberhasilan seorang guru dalam memprakarsai teknik atau metode yang signifikan untuk dipraktekkan. Pada pembelajaran mengubah kalimat baik dalam siklus I maupun dalam siklus II terdapat tindakan-tindakan cermat yakni belajar dengan cara diskusi kelompok, diskusi kelas dan cara kerja sama dalam menyelesaikan tugas. Maka dapat diklasifikasi menurut nilai rata-rata hasil tes. Tabel 09. Nilai Tes Akhir Siklus I Dan Siklus II Pembelajaran Mengubah Kalimat Tunggal Menjadi Kalimat Majemuk Tahun Pelajaran 2009-2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Nama
Sariah Selamet Supardi Uswatun H. SyafiI Sumarni Samsul Hadi Sahlan Efendi Rofika Nuraini. Faizul Muliati Muhammad Ad Masnah Marzuki

Nilai Nilai Siklus I Siklus II 65 67 70 75 55 75 57 64 60 65 70 70 50 50 60 63 60 60 65 60 60 60 65 75 55 66

Keterangan Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Tidak ada peningkatan Meningkat Tidak ada peningkatan Meningkat Tidak ada peningkatan Meningkat Meningkat

49

14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Junaedi Izzul Laili Suni Wati Hairul Wasiah Wahyu Anisa A Linda Yani Masitah Lisa Widiyanti Hidayana, L Sudi Novita Rizkika Ayu H Rezi Sultomi M.Sohibul E Muhammad H

Jumlah nilai Rata-rata nilai Persentase ketuntasan

76 60 70 68 60 50 40 57 70 63 55 59 55 85 1677 62,11 51,58

80 69 72 85 71 55 55 80 85 65 71 60 70 85 1877 69,51 81,84

Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Tidak ada peningkatan Tidak ada peningkatan Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat

Pada siklus I dapat diperoleh nilai 62,11atau 63 % untuk rata-rata pencapaian kelas dan 51,58 % dari jumlah seluruh siswa yang mendapat nilai standar minimal ke atas. Pada tahap ini terlihat bahwa hasil belajar siswa kurang maksimal sehingga dibutuhkan perbaikan lebih lanjut dan bimbingan khusus. Hal tersebut disebabkan siswa masih kurang bergairah dalam mengikuti pelajaran siswa malu bertanya terhadap materi yang belum dikuasai, siswa kurang aktif di dalam kelas, dan kurangnya kemampuan siswa berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Berdasarkan pemantauan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pada pelaksanaan siklus I, siswa belum mampu mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk, sehingga hasil yang didapatkan kurang maksimal. Data hasil penelitian siklus II, dapat diperoleh nilai 69,51 atau 70 % dari rata-rata pencapaian kelas dan 81,84 % atau 82 % siswa yang memperoleh nilai standar minimal ke atas.

50

Berdasarkan hasil pelaksanaan siklus II menunjukkan bahwa tingkat kemampuan mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk siswa meningkat dan maksimal walaupun masih terdapat nilai kurang yang diperoleh siswa. Dari hasil tersebut terlihat bahwa pencapaian nilai akhir tujuan pembelajaran mencapai 69,51 atau 70 % dari rata-rata pencapaian kelas dan 81,84 % atau 82 % siswa yang memperoleh nilai standar minimal ke atas. Untuk mengetahui hal tersebut di atas penulis menganalisis data dengan tahap-tahap rumus sebagai berikut : 1. Mencari Kemampuan Individual a b c d 1 atas 2 Sedang = Mi + SDi = 50 + ( 1x 16,66 ) = 66,66 sampai dengan 33,34 3 Rendah = Mi SDi ke bawah = 50 - (1x16,66) = 33,34 ke bawah. Dengan demikian, maka siswa yang memperoleh skor 66,66 keatas dikategorikan tinggi. Siswa yang memperoleh skor antara 33,34 sampai dengan 66,66 berkategori sedang. Sedangkan siswa yang Mencari skor maksimal ideal ( Smi)= 100 Mencari angka rata-rata ideal ( Mi ) = X Smi = x 100 = 50 Mencari standar deviasi ideal ( SDi) 1/3 x Mi = 1/3 x 50 = 16,66 Membuat Pedoman. : Tinggi = Mi + 1 SDi ke atas = 50 + ( 1 x 16,66 ) = 66,66 ke

51

memiliki

kemampuaan

33,34

ke

bawah

dikategorikan

rendah.

Berdasarkan perhitungan tersebut maka dapat diketahui kategori kemampuan mengubah kalimat tunggal dan kalimat majemuk, Berdasarkan tersebut di atas diketahui bahwa jumlah siswa yang mencapai kategori tinggi sebanyak 10 orang. Sedangkan siswa yang mencapai kategori sedang sebanyak 17 orang, dan tidak ada satu pun yang mencapai kategori rendah. Dengan demikian, maka prosentase kemampuan mengubah kalimat tunggal dan kalimat majemuk adalah sebagai berikut : 1. Mencari Kemampuan Individual a. Tingkat kemampuan mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk tinggi = 11orang = 10X 100% 27 b = 37,03 %

Tingkat kemampuan mengubah kalimat tunggal dan kalimat majemuk sedang = 16 orang = 16 X 100% 27 = 59,29 %

2. Mencari kemampuan kelompok M IPK = SMi X 100 % = 100 69,51 = 69,51 kategori Normal

Berdasarkan hasil analisis data dan perhitungan di atas, maka hasil kemampuan siswa dengan kemampuan individual dalam menentukan

52

kemampuan mengubah kalimat tunggal dan kalimat majemuk adalah Tingkat kemampuan siswa tinggi dengan jumlah 10siswa adalah 37,03 % dari jumlah siswa 27 orang siswa, yang memiliki kemampuan mengubah kalimat tunggal dan kalimat majemuk sedang dengan jmlah siswa 16 siswa adalah 59,29 % sedangkan yang memiliki kemampuan dalam menentuka jenis kata yang rendah tiadak ada (0) sedangkan untuk mencari kemampuan kelompok (IPK) dalam menentukan jenis kata dalam wacana bahasa Indonesia adalah 69,51% dikategorikan tinggi. Dengan demikian siswa yang memperoleh nilai 65,81 % ke atas mempunyai taraf kemampuan tinggi dalam menggunakan kemampuan mengubah kalimat tunggal dan kalimat majemuk bahasa Indonesia, dan siswa yang memperoleh nilai berkisar dari 37,03 % sedangkan dikategorikan memiliki kemampuan rendah dalam menggunakan

kemampuan mengubah kalimat tunggal dan kalimat majemuk bahasa Indonesia tidak ada(0). Jadi kemampuan mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk bahasa Indonesia pada siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyah NW Tanak Beak tahun pelajaran 2009-2010 di lihat dari hasil analisa data yang diberikan oleh guru dengan metode tes terhadap kemampuan kemampuan mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk bahasa Indonesia dikategorikan normal mencapai 65,81 %

53

BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan Dari hasil analisis data yang dilakukan penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut :

1.Tingkat kemampuan siswa dalam kemampuan mengubah kalimat tunggal dan kalimat majemuk bahasa indonesia dengan mencari kemampuan individual sbagai berikut ; a Siswa yang memiliki kategori tinggi sebanyak 11 orang mencapai 40,74 % b siswa yang memiliki kategori sedang sebanyak 16 orang mencapai 59,29 % c Sedangkan siswa yang memiliki kategori rendah tidak ada (0).

2. Tingkat kemampuan siswa dalam kemampuan mengubah kalimat tunggal dan kalimat majemuk pada bahasa Indonesia dengan mencari kemampuan Indeks prestasi kelompok (IPK) adalah 69,51 % berada pada kemampuan normal. 5.2 Saran Saran Sehubungan dengan hasil yangf telah dicapai di atas, maka perlu adanya saran saran yang diharapkan dapat digunakan sebagai masukan yang berharga , khususnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia dalam

54

kemampuan mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk bahasa Indonesia pada siswa kelas V Madrasah Ibtidiyah NW Kecamatan Tanak Beak tahun pelajaran 2009 2010 a. Siswa Mendorong dan membimbing siswa ntuk lebih aktif dalam belajar khususnya dalam kemampuan menggunakan jenis kata dalam wacana sehingga bagi siswa menjadi modal untuk dapat meningkatkan kemampuan yang lebih dalam belajar. c Guru Guru sebagi pasilitator dalam pemberian materi belajar siswa dapat memberikan motivasi secara terencana dan berkesinanbungan kepada peserta didik, baik oleh guru maupun orang tua. Di samping itu, hendaknya kerja sama yang lebih erat agar lebih ditingkatkan melalui wadah yang sudah ada, sehingga kemampuan siswa termotivasi dalam semangat belajar dan menanbah kesadaran peserta didik untuk gemar belajar. d Sekolah Sekolah sebagai sarana pembelajaran untuk siswa yang harapkan untuk memberikan dan mendukung dalam belajar mengajar dengan sumber pendanaan yang memadai untuk meningkatkan mutu pengajar, mutu

KBM, dan mutu siswa sehingga kemampuan yang diinginkan dapat tercapai.

55

Peneliti lain Perlu diadakan penelitian lanjutan karena peneliti terbatas pada kemampuan kemampuan mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk bahasa Indonesia, sedangkan faktor faktor yang menyebabkan siswa kurang mampu mengubah kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk bahasa Indonesia pada siswa kelas V Madrasah Ibtidiyah NW Kecamatan Tanak Beak tahun pelajaran 2009 2010 masih kurang maksimal.

56