Anda di halaman 1dari 9

2.1 Konsep Dasar Traksi 2.1.1 Definisi Traksi Traksi adalah pemasangan gaya tarikan ke bagian tubuh.

Traksi digunakan untuk meminimalkan spasme otot, untuk mereduksi, menyejajarkan, mengimobilisasi fraktur, mengurangi deformitas, dan untuk menambah ruangan di antara kedua permukaan patahan tulang. Untuk itu, traksi diperlukan untuk reposisi dan imobilisasi pada tulang panjang. 2.1.2 Tujuan Pemasanagan Traksi Tujuan dari traksi adalah untuk menangani fraktur, dislokasi atau spasme otot dalam usaha untuk memperbaiki deformitas dan mempercepat penyembuhan, untuk menjaga mereka immobile sedang hingga mereka bersatu. 2.1.3 Jenis-Jenis Traksi 1. Traksi skeletas adalah traksi yang digunakan untuk meluruskan tulang yang cedera dan sendi panjang untuk mempertahankan traksi, memutuskan pins (kawat) ke dalam. Traksi ini menunjukkan tahanan dorongan yang diaplikasikan langsung ke sekeleton melalui pin, wire atau baut yang telah dimasukkan kedalam tulang (Taylor, 1987; Styrcula, 1994a dan Osmond, 1999). Untuk melakukan ini berat yang besar dapat digunakan. Traksi skeletal digunakan untuk fraktur yang tidak stabil, untuk mengontrol rotasi dimana berat lebih besar dari 25 kg dibutuhkan dan fraktur membutuhkan traksi jangka panjang (Styrcula, 1994a and Osmond, 1999).

2. Traksi kulit (skin traksi) adalah menarik bagian tulang yang fraktur dengan menempelkan plester langsung pada kulit untuk mempertahankan bentuk, membantu menimbulkan spasme otot pada bagian yang cedera dan biasanya digunakan untuk jangka pendek (48-72 jam). Traksi kulit menunjukkan dimana dorongan tahanan diaplikasikan kepada bagian tubuh yang terkena melalui jaringan lunak (Taylor, 1987; Styrcula, 1994a and Osmond, 1999). Hal ini bisa dilakukan dalam cara yang bervariasi : ekstensi adhesive dan non adhesive kulit, splint, sling, sling pelvis, dan halter cervical (Taylor, 1987; Styrcula, 1994a and Osmond, 1999). Dikarenakan traksi kulit diaplikasikan kekulit kurang aman, batasi kekuatan tahanan traksi. Dengan kata lain sejumlah berat dapat digunakan (Taylor, 1987; Styrcula, 1994a and Osmond, 1999). Berat harus tidak melebihi (3-4 kg) (Taylor, 1987; Osmond, 1999 dan Redemann, 2002). Traksi kulit digunakan untuk periode yang pendek dan lebih sering untuk manajemen temporer fraktur femur dan dislokasi serta untuk mengurangi spasme otot dan nyeri sebelum pembedahan (Taylor, 1987; Styrcula, 1994a and Dave, 1995).

3. Traksi manual merupakan lanjutan dari traksi, kekuatan lanjutan dapat diberikan secara langsung pada tulang dengan kawat atau pins. Traksi ini menunjukkan tahanan dorongan yang diaplikasikan terhadap seseorang di bagian tubuh yang terkena melalui tangan mereka. Dorongan ini harus constant. Traksi manual digunakan untuk mengurangi fraktur sederhana sebelum aplikasi plesrer atau selama pembedahan. Hal ini juga digunakan selama pemasangan traksi dan jika ada kebutuhan secara temporal melepaskan berat traksi (Taylor, 1987; Styrcula, 1994a and Osmond, 1999). 2.1.4 Prinsip-Prinsip Traksi Efektif Pemasangan traksi menimbulkan adanya kontratraksi (gaya yang bekerja dengan arah yang berlawanan). Umumnya berat badan klien dan pengaturan posisi tempat tidur mampu memberikan kontratraksi. Kontratraksi harus dipertahankan agar traksi tetap efektif. Traksi harus berkesinambungan agar reduksi dan imobilisasi fraktur efektif. Traksi kulit pelvis dan serviks sering digunakan untuk mengurangi spasme otot dan biasanya diberikan sebagai traksi intermitten. Prinsip traksi efektif adalah sebagai berikut. 1. Traksi skelet tidak boleh putus. 2. Beban tidak boleh diambil kecuali bila traksi dimaksudkan intermitten. 3. Tubuh klien harus dalam keadaan sejajar dengan pusat tempat tidur ketika traksi dipasang. 4. Tali tidak boleh macet. 5. Beban harus tergantung bebas dan tidak boleh terletak pada tempat tidur atau lantai. 6. Simpul pada tali atau telapak kaki tidak boleh menyentuh katrol atau kaki tempat tidur. 2.1.5 Komplikasi Dan Pencegahan Pencegahan dan penatalaksanaan komplikasi yang timbul pada klien yang terpasang traksi adalah sebagai berikut. 1. Dekubitus, pencegahannya : 1) Periksa kulit dari adanya tanda tekanan dan lecet, kemudian berikan intervensi awal untuk mengurangi tekanan. 2) Perubahan posisi dengan sering dan memakai alat pelindung kulit (misal pelindung siku) sangat membantu perubahan posisi. 3) Konsultasikan penggunaan tempat tidur khusus untuk mencegah kerusakan kulit. 4) Bila sudah ada ulkus akibat tekanan, perawat harus konsultasi dengan dokter atau ahli terapi enterostomal, mengenai penanganannya. 2. Kongesti paru dan pneumonia, pencegahannya : 1) Auskultasi paru untuk mengetahui status pernapasan klien. 2) Ajarkan klien untuk napas dalam dan batuk efektif.

3) Konsultasikan dengan dokter mengenai penggunaan terapi khusus, misalnya spirometri insentif, bila riwayat klien dan data dasar menunjukkan klien berisiko tinggi mengalami komplikasi pernapasan. 4) Bila telah terjadi masalah pernapasan, perlu diberikan terapi sesuai indikasi. 3. Konstipasi dan anoreksia, pencegahannya : 1) Diet tinggi serat dan tinggi cairan dapat membantu merangsang motilitas gaster. 2) Bila telah terjadi konstipasi, konsutasikan dengan dokter mengenai penggunaan pelunak tinja, laksatif, supposituria, dan enema.
3) Kaji dan catat makanan yang disukai klien dan masukan dalam program diet sesuai kebutuhan. 4. Stasis dan infeksi saluran kemih, pencegahannya : 1) Pantau masukan dan keluaran berkemih. 2) Anjurkan dan ajarkan klien untuk minum dalam jumlah yang cukup, dan berkemih setiap 2-3 jam sekali. 3) Bila tampak tanda dan gejala terjadi infeksi saluran kemih, konsultasikan dengan dokter untuk menanganinya. 5. Trombosis vena profunda, pencegahannya : 1) Ajarkan klien untuk latihan tumit dan kaki dalam batas traksi. 2) Dorong untuk minum yang banyak untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi yang menyertainya, yang akan menyebabkan stasis. 3) Pantau klien dari adanya tanda-tanda trombosis vena dalam dan melaporkannya ke dokter untuk menentukan evaluasi dan terapi.

2.2 Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Traksi 2.2.1 Pengkajian Yang perlu dikaji pada klien dengan traksi, yaitu : Dampak psikologik dan fisiologik masalah muskuloskeletal dengan terpasangnya traksi. Adanya tanda-tanda disorientasi, kebingungan, dan masalah perilaku klien akibat terkungkung pada tempat terbatas dalam waktu yang cukup lama. Tingkat ansietas klien dan respon psikologis terhadap traksi. Status neurovaskuler, meliputi suhu, warna, dan pengisian kapiler. Integritas kulit. Sistem integumen perlu dikaji adanya ulkus akibat tekanan. Dekubitus. Sistem respirasi perlu dikaji adanya kongesti paru, stasis pneumonia. Sistem gastrointestinal perlu dikaji adanya konstipasi, kehilangan nafsu makan (anoreksia). Sistem perkemihan perlu dikaji adanya stasis kemih, dan ISK. Sistem kardiovaskuler perlu dikaji adanya perubahan dan gangguan pada kardiovaskuler. Adanya nyeri tekan betis, hangat, kemerahan, bengkak, atau tanda Homan positif (tidak nyaman ketika kaki didorsofleksi dengan kuat) mengarahkan adanya trombosis vena dalam. Sedangkan pengkajian secara umum pada pasien traksi, meliputi : 1. Status neurology. 2. Kulit (decubitus, kerusakan jaringan kulit). 3. Fungsi respirasi (frekuensi, regular/ irregular). 4. Fungsi gastrointestinal (konstipasi, dullness). 5. Fungsi perkemihan (retensi urine, ISK). 6. Fungsi cardiovaskuler (nadi, tekanan darah, perfusi ke daerah traksi, akral dingin). 7. Status nutrisi (anoreksia). 8. Nyeri. 2.2.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul : 1. Kurang pengetahuan mengenai program terapi. 2. Ansietas berhubungan dengan status kesehatan dan alat traksi. 3. Nyeri berhubungan dengan traksi dan imobilisasi. 4. Kurang perawatan diri (makan, higiene, atau toileting) berhubungan dengan traksi. 5. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan proses penyakit dan traksi. 6. Risiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pertahanan primer tidak efektif, pembedahan.
2.2.3 Intervensi keperawatan 1. Dx. Keperawatan : Kurang pengetahuan mengenai program terapi. Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama4X24 jam, diharapkan pengetahuan klien mengenai program terapi bertambah. Kriteria Hasil : Klien mengerti dengan program terapi, klien menunjukkan pemahaman terhadap program terapi (menjelaskan tujuan traksi, berpartisipasi dalam rencana perawatan. Intervensi : 1) Diskusikan masalah patologik. R/ Membantu perencanaan dasar. 2) Jelaskan alasan pemberian terapi traksi. R/ Agar klien mengetahui tujuan pemasangan traksi. 3) Ulangi dan berikan informasi sesering mungkin. R/ Membuat pasien lebih kooperatif. 4) Dorong partisipasi aktif klien dalam rencana perawatan. R/ Membantu dalam proses kemandirian pasien. 2. Dx. Keperawatan : Ansietas berhubungan dengan status kesehatan dan alat traksi. Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 4X24 jam, diharapkan klien menunjukkan penurunan ansietas. Kriteria Hasil : Klien berpartisipasi aktif dalam perawatan, mengekspresikan perasaan dengan aktif. Intervensi :

1) Jelaskan prosedur, tujuan, dan implikasi pemasangan traksi. R/ Membantu klien untuk mengerti mengenai regimen terapi.

2) Diskusikan bersama klien tentang apa yang dikerjakan dan mengapa perlu dilakukan. R/ Membantu klien untuk mengerti mengenai regimen terapi. 3) Lakukan kunjungan yang sering setelah pemasangan traksi. R/ Memantau keadaan klien setelah dilakukan pemasangan traksi. 4) Dorong klien mengekspresikan perasaan dan dengarkan dengan aktif. R/ Membantu mengkaji tingkat ansietas klien. 5) Anjurkan keluarga dan kerabat untuk sering berkunjung. R/ Support dan dukungan akan mengurangi ansietas yang dialami klien. 6) Berikan aktivitas pengalih. R/ Mengurangi ansietas klien selama program terapi. 3. Diagnosa Keperawatan : Nyeri berhubungan dengan traksi dan imobilisasi. Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 4X24 jam, diharapkan klien menyebutkan peningkatan kenyamanan. Kriteria Hasil : Klien mampu mengubah posisi sendiri sesering mungkin sesuai kemampuan traksi, klien dapat beristirahat nyenyak. Intervensi : 1) Berikan penyangga berupa papan pada tempat tidur dari kasur yang padat. R/ Membantu posisi klien lebih nyaman. 2) Gunakan bantalan kasur khusus. R/ Meminimalkan terjadi ulkus. 3) Miringkan dan rubah posisi klien dalam batas-batas traksi. R/ Membantu dalam sirkulasi ke area traksi. 4) Bebaskan linen tempat tidur dari lipatan dan kelembaban. R/ Membantu mencegah terjadinya dekubitus.

5) Observasi setiap keluhan klien. R/ Membantu dalam mengidentifikasi terjadinya gangguan komplikasi dan rencana perawatan selanjutnya. 4. Dx. Keperawatan : Kurang perawatan diri (makan, higiene, atau toileting) berhubungan dengan traksi. Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 4X24 jam, diharapkan klien mampu melakukan perawatan diri. Kriteria Hasil : Klien hanya memerlukan sedikit bantuan pada saat makan, mandi, berpakaian, dan toileting. Intervensi : 1) Bantu klien memenuhi kebutuhannya sehari-hari, seperti makan, mandi, dan berpakaian. R/ Membantu klien dalam ADL. 2) Dekatkan alat bantu di samping klien. R/ Memudahkan klien untuk memenuhi perawatan dirinya secara mandiri. 3) Tingkatkan rutinitas. R/ Memaksimalkan kemandirian klien. 5. Dx. Keperawatan : Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan proses penyakit dan traksi. Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 4X24 jam, diharapkan klien menunjukkan mobilitas yang meningkat. Kriteria Hasil : Klien melakukan latihan yang dianjurkan. Menggunakan alat bantu yang aman. Intervensi : 1) Dorong klien untuk melakukan latihan otot dan sendi yang tidak diimobilisasi. R/ mencegah terjadinya kaku otot dan sendi. 2) Anjurkan klien untuk menggerakkan secara aktif semua sendi. R/ mencegah terjadinya kaku otot dan sendi. 3) Konsultasikan dengan ahli fisioterapi. R/ Membantu dalam menentukan program terapi selanjutnya. 4) Pertahankan gaya tarikan dan posisi yang benar. R/ Menghindari komplikasi akibat ketidaksejajaran.

6. Dx. Keperawatan : Risiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pertahanan primer tidak efektif, pembedahan. Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 4X24 jam, diharapkan tidak terjadi kerusakan integritas kulit. Kriteria Hasil : Tidak ditemukan adanya dekubitus dan nyeri tekan. Intervensi : 1) Periksa kulit dari adanya tanda tekanan dan lecet. R/ Membantu dalam pemberian intervensi awal untuk mengurangi tekanan. 2) Rubah posisi dengan sering dan memakai alat pelindung kulit (misal pelindung siku). R/ Mencegah terjadinya luka tekan dan sangat membantu perubahan posisi. 3) Konsultasikan penggunaan tempat tidur khusus. R/ Mencegah kerusakan kulit. 4) Bila sudah ada ulkus akibat tekanan, perawat harus konsultasi dengan dokter atau ahli terapi enterostomal, mengenai penanganannya. R/ Membantu dalam intervensi dan penatalaksanaan lebih lanjut. 2.2.4 Evaluasi Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan dapat tercapai tujuan dan kriteria hasil. 1. Klien mengerti dengan program terapi, klien menunjukkan pemahaman terhadap program terapi (menjelaskan tujuan traksi, berpartisipasi dalam rencana perawatan. 2. Klien berpartisipasi aktif dalam perawatan, mengekspresikan perasaan dengan aktif, dan tingkat ansietas klien menurun. 3. Nyeri berkurang, klien mampu mengubah posisi sendiri sesering mungkin sesuai kemampuan traksi, klien dapat beristirahat nyenyak.

4. Klien hanya memerlukan sedikit bantuan pada saat makan, mandi, berpakaian, dan toileting. 5. Mobilitas klien meningkat, klien melakukan latihan yang dianjurkan, menggunakan alat bantu yang aman. 6. Tidak ditemukan adanya dekubitus dan nyeri tekan. Kulit tetap utuh, atau tidak terjadi luka tekan lebih luas.

DAFTAR PUSTAKA Lukman, Ningsih, Nurna. 2011. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta : Salemba Medika.