Anda di halaman 1dari 14

CHAPTER 1 INTRODUCTION TO COST ACCOUNTING

Proses Produksi (Manufacturing Process) Proses produksi merupakan proses untuk mengubah bahan baku menjadi barang jadi melalui penggunaan tenaga kerja dan sumber daya lainnya. Penggunaan Data Akuntansi Penentuan harga pokok produksi (HPPd) dan penetapan harga Informasi HPPd per unit dapat bermanfaat bagi pengmabilan keputusan terkait : 1. 2. 3. 4. Penentuan harga jual produk Menghadapi persaingan Kontrak penawaran (tender) Analisis profitabilitas

Perencanaan dan pengendalian Perencanaan merupakan proses penetapan tujuan perusahaan dan menentukan alat untuk meraih tujuan tersebut. Akuntansi biaya mempertinggi proses perencanaan dengan menyediakan historical cost sebagai dasar untuk proyeksi ke depan. Manajemen dapat menganalisis data ini untuk mengestimasikan cost dan hasil operasi di masa depan, serta membuat keputusan terkait perolehan fasilitas tambahan, perubahan strategi pemasaran, dan ketersediaan modal. Perencanaan yang efektif mencakup : 1. 2. Pendefinisian tujuan operasi secara jelas Rencana produksi yang akan membantu dan mengarahkan perusahaan dalam mencapai tujuannya. Pengendalian merupakan proses pengawasan terhadap operasi perusahaan dan menetapkan apakah tujuan-tujuan yang diidentifikasi dalam proses perencanaan telah tercapai. Pengendalian yang efektif mencakup : 1. 2. 3. Penugasan tanggung jawab Pengukuran dan pembandingan hasilnya secara periodik Pengambilan tindakan koreksi jika diperlukan

Hubungan antara Akuntansi Biaya dan Akuntansi Keuangan Akuntansi keuangan fokus pada pengumpulan informasi yang akan digunakan dalam mempersiapkan laporan keuangan dalam rangka memenuhi kebutuhan investor, kreditur, dan pengguna eksternal lainnya. Sedangkan akuntansi biaya menyediakan informasi tambahan yang khusus dibutuhkan oleh manajemen dalam rangka membuat keputusan dari hari ke hari, serta menyediakan data yang dibutuhkan untuk mempersiapkan laporan keuangan. Misalnya, terkait

keputusan membuat sendiri atau membeli komponen produk tertentu, penilaian persediaan dalam neraca, dan penentuan harga pokok barang yang terjual dalam Laporan R/L.

Elemen Harga Pokok Produksi 1) Bahan Baku biaya atas bahan baku yang digunakan dalam proses produksi, melekat pada produk jadi dan biaya yang dapat ditelusur/diidentifikasi dengan mudah ke HPPd. 2) Tenaga Kerja Langsung upah yang dibayarkan kepada karyawan bagian produksi yang melakukan proses produksi secara langsung dan biaya yang dapat diidentifikasi dengan mudah ke HPPd. 3) Overhead Pabrik seluruh biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Arus Cost
Bahan Baku Tenaga Kerja Langsung Overhead Pabrik Barang dalam Proses Barang Jadi Harga Pokok Barang yang Terjual

CHAPTER 2 ACCOUNTING FOR MATERIALS

Pengendalian terhadap Bahan Baku Pengendalian Fisik akses terbatas, pemisahan tugas, akurasi pencatatan Pengendalian Investasi atas Bahan Baku 1) Order point suatu tingkat persediaan dimana pada tingkat tersebut harus dilakukan pemesanan kembali untuk menjaga keberlangsungan produksi. Unsur yang harus dipertimbangkan : Usage pemakaian barang untuk proses produksi dalam tiap harinya. Lead time estimasi jangka waktu yang dibutuhkan sejak tanggal terjadinya pemesanan sampai dengan tanggal kedatangan barang yang dipesan. Safety stock tingkat unit persediaan tertentu yang harus dimiliki perusahaan untuk tujuan antisipasi ketika terjadi keterlambatan pengiriman barang yang dipesan, sehingga proses produksi tidak terganggu jika ada keterlambatan. Perhitungan Order Point (Lead time x Usage) + Safety stock Metode ini hanya menentukan pada tingkat persediaan berapa harus dilakukan pemesanan kembali, tanpa menentukan berapa jumlah unit yang harus dipesan.

2) Economic Order Quantity suatu jumlah unit yang paling ekonomis untuk dipesan oleh perusahaan karena mengkombinasikan biaya atas persediaan (ordering cost dan carrying cost) pada jumlah yang paling minimal. Ordering cost biaya yang terjadi dan diakui oleh karena terjadinya pemesanan barang (contoh : biaya komunikasi, biaya administrasi pemesanan) Carrying cost biaya yang selalu terjadi, melekat pada persediaan, tidak dapat dihindari, ketika perusahaan mempunyai persediaan barang (contoh : biaya penyimpanan/gudang, gaji bagian gudang)

=
C = ordering cost

N = jumlah kebutuhan per tahun

K = carrying cost

Prosedur Pengendalian Bahan Baku Pembelian dan penerimaan bahan baku Penyimpanan bahan baku Permintaan dan pemakaian bahan baku Personel untuk Pengendalian Bahan Baku 1) Petugas bagian pembelian 2) Petugas penerimaan 3) Penjaga gudang 4) Pengawas departemen produksi Prosedur selama Pemesanan Bahan Baku Dokumen yang biasa digunakan dalam pemesanan bahan baku, antara lain : Permintaan pembelian (purchase requisition) Order pembelian (purchase order) Faktur pembelian (vendors invoice) Laporan penerimaan (receiving report) Memo debit dan memo kredit Akuntansi untuk Bahan Baku Catatan persediaan harus menunjukkan (1) jumlah bahan baku yang ada (2) cost bahan baku. Untuk menentukan cost atas bahan baku yang dikeluarkan/dipakai, dapat menggunakan metode : FIFO, LIFO, atau Average. Flow of material urutan yang sesungguhnya dimana bahan baku dikeluarkan untuk digunakan dalam proses produksi Flow of cost urutan dimana unit cost ditetapkan untuk bahan baku yang dikeluarkan

Jurnal terkait Bahan Baku Pembelian bahan baku Persediaan BB xxx xxx

Utang dagang/Kas Pemakaian bahan baku

Jika hanya bahan baku yang digunakan : Persediaan BDP Persediaan BB xxx xxx

Jika bahan baku dan bahan penolong yang digunakan : Persediaan BDP BOP Persediaan bahan xxx xxx xxx

Scrap Material, Spoiled dan Defective Goods Scrap material barang sisa yang secara alami ditimbulkan dari proses produksi ketika dijual diakui sebagai Scrap Revenue dan dilaporkan dalam Other Income atau sebagai pengurang Work in Process atau Factory Overhead. Spoiled goods barang cacat (tidak sempurna) dan secara ekonomis tidak dapat diperbaiki dibebankan ke Factory Overhead Defective goods barang cacat (tidak sempurna), tetapi secara ekonomis masih dapat diperbaiki biaya untuk perbaikan dibebankan ke Factory Overhead / Work in Process

CHAPTER 3 ACCOUNTING FOR LABOR Direct Labor Cost jumlah upah tenaga kerja yang langsung dapat ditelusur ke produk. Indirect Labor Cost jumlah upah tenaga kerja yang timbul dari berbagai pekerjaan terkait proses produksi, tetapi tidak dapat dengan mudah diidentifikasi ke produk. Perencanaan Upah Tarif berdasarkan jam kerja (hourly rate plan) Tarif berdasarkan jumlah unit produk yang dihasilkan (piece rate plan) Modifikasi keduanya Pengendalian terhadap Biaya Tenaga Kerja Kartu jam kerja dan time ticket Departemen penggajian bertanggung jawab untuk menghitung jumlah gaji dan upah karyawan

Akuntansi untuk Biaya Tenaga Kerja Pengakuan gaji dan upah Gaji dan Upah Utang gaji dan upah 10.000 10.000

Distribusi gaji dan upah (jika gaji terdiri dari tenaga kerja langsung dan tidak langsung) Persediaan BDP 7.000 BOP Gaji dan upah 3.000 10.000

Masalah Khusus terkait Biaya Tenaga Kerja Premi shift Dana pensiun Bonus Tunjangan cuti dan libur

CHAPTER 4 ACCOUNTING FOR FACTORY OVERHEAD Prosedur Akuntansi untuk BOP 1) Mengidentifikasi pola perilaku cost 2) Menyusun anggaran biaya overhead pabrik 3) Mengakumulasikan biaya overhead aktual 4) Mengaplikasikan estimasi biaya overhead pabrik ke produksi 5) Menghitung dan menganalisis selisih antara aktual dan yang diaplikasikan Identifikasi Pola Perilaku Biaya Variable cost cost cost Fixed cost Semivariable cost cost

volume

volume

volume

Analisis BOP Semivariable Observation method mengandalkan kemampuan pengamat untuk mendeteksi pola perilaku cost dengan menelaah data cost dan volume masa lalu. High-low method berdasarkan perilaku cost pada titik ekstrim (tertinggi dan terendah volume produksi).

Scattergraph method menggambarkan (memplotting) titik-titik observasi dan kemudian menggambarkan dengan menghubungkan masing-masing titik yang bersangkutan. BOP Dianggarkan Setelah BOP diklasifikasikan ke dalam BOP tetap dan BOP variabel, selanjutnya anggaran BOP disiapkan untuk tingkat produksi yang diekspektasikan. Pemisahan komponen biaya tetap dan biaya variabel memungkinkan perusahaan untuk menyiapkan anggaran fleksibel. Anggaran fleksibel menunjukkan estimasi cost untuk tingkat volume produksi yang berbeda-beda. BOP Aktual Prosedur khusus untuk menghitung BOP aktual bergantung pada sifat alami dan organisasi perusahaan. Seluruh BOP diposting ke buku besar dan dipisahkan ke dalam akun bahan penolong (indirect material), tenaga kerja tidak langsung (indirect labor), dan untuk tiap biaya produksi tidak langsung lainnya. Distribusi Beban Departemen Jasa Direct distribution mendistribusikan cost departemen jasa secara langsung ke departemen produksi Sequential distribution mendistribusikan cost departemen jasa secara regresif ke departemen jasa lainnya dan kemudian ke departemen produksi Algebraic distribution didasarkan pada pertimbangan bahwa departemen jasa tidak sekedar menyediakan jasa, tetapi juga menerima jasa dari departemen jasa lainnya. Aplikasi BOP ke Produksi Dasar Penentuan Tarif BOP Ditetapkan Dimuka Biaya tenaga kerja langsung Jam tenaga kerja langsung Jam mesin Activity based costing (ABC) Akuntansi untuk BOP Saat pengakuan biaya penyusutan pabrik Biaya penyusutan pabrik xxx xxx

Akumulasi penyusutan pabrik Saat pembebanan BOP BOP Biaya penyusutan pabrik Saat pembebanan BOP ke HPPd Persediaan BDP BOP xxx xxx xxx

xxx

Chapter 5 JOB COST ACCOUNTING (sama dengan yang tersaji dalam Manajerial Accounting Garrison Chapter 3) Chapter 6 PROCESS COST ACCOUNTING GENERAL PROCEDURES Perbandingan Basic Cost System Biaya Bahan, Biaya Tenaga Kerja, dan BOP Dalam process costing, biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja dibebankan secara langsungn ke departemen tempat terjadinya biaya tersebut. Sedangkan biaya bahan penolong dan biaya tenaga kerja tidak langsung yang tidak dapat dihubungkan secara langsung dengan departemen tertentu akan dibebankan ke BOP. Process costing membutuhkan pencatatan yang lebih sederhana karena beberapa bahan baku dan tenaga kerja tidak dipisahkan menjadi langsung dan tidak langsung. Sedangkan BOP ditetapkan dimuka dalam process costing dibebankan ke departemen, bukan ke tiap job. Penyusunan Laporan Harga Pokok Produksi dengan Process Costing Langkah-langkah penyusunan 1) Menyusun laporan produksi (production report) untuk mengidentifikasi unit BDP awal, unit masuk proses produksi, unit jadi dan ditransfer, dan unit BDP akhir. 2) Menghitung biaya produksi yang diperhitungkan terdiri dari biaya untuk BDP awal dan biaya untuk periode berjalan 3) Menentukan unit ekuivalen produksi jumlah unit jadi dan ditransfer ditambah dengan unit BDP akhir dengan tingkat penyelesaian tertentu 4) Menghitung biaya produksi per unit, baik untuk bahan baku, tenaga kerja, dan BOP. 5) Menentukan harga pokok persediaan untuk barang jadi dan BDP akhir. Ilustrasi Laporan Harga Pokok Produksi PT Hanny Laporan Biaya Produksi Bulan Januari 2010 Biaya diperhitungkan : BDP awal BB BTKL BOP Biaya bulan ini BB BTKL xxx (d) xxx (e) xxx (a) xxx (b) xxx (c) xxx

BOP

xxx (f)

xxx xxx

Total biaya diperhitungkan

Unit ekuivalen produksi Unit jadi dan ditransfer Unit BDP akhir (ekuivalen)

BB xxx (g) xxx (i) xxx (k)

BK xxx (h) xxx (j) xxx (l)

Total unit ekuivalen produksi

Biaya produksi per unit Bahan baku ( a + d ) / k = xxx (m)

Tenaga kerja ( b + e ) / l = xxx (n) BOP ( c + f ) / l = xxx (o) xxx (p)

Total biaya produksi per unit

Harga pokok persediaan Unit jadi dan ditransfer (g) x (p) = xxx Unit BDP akhir HPPd Bahan baku Tenaga kerja BOP (i) x (m) = xxx (j) x (n) = xxx (j) x (o) = xxx xxx Chapter 7 PROCESS COST ACCOUNTING ADDITIONAL PROCEDURES Unit yang Hilang dalam Produksi Unit yang hilang biasanya diperlakukan sebagai product cost. Cost atas unit yang hilang dimasukkan sebagai bagian dari cost seluruh unit jadi dan unit dalam proses. Unit barang menyerap cost unit yang hilang. Efeknya, cost per unit atas unit yang tersisa lebih besar daripada jika tidak terjadi kehilangan. Unit Tambahan yang Diperoleh dalam Produksi Unit yang bertambahn dalam proses produksi biasanya disebabkan karena penambahan bahan baku dalam suatu departemen, sehingga untuk departemen selanjutnya, unit yang akan diproduksi menjadi bertambah. Kenaikan unit ini memiliki efek berlawanan dengan unit yang hilang dan membutuhkan penyesuaian terhadap unit cost. Perhitungan unit cost yang disesuaikan ini mirip dengan perhitungan cost untuk unit yang hilang, hanya saja efeknya akan menurunkan unit cost.

Joint Product and By-Product Produk yang dihasilkan dari proses produksi dibagi menjadi 2 kategori, yaitu : Joint product tujuan utama dari proses (produk utama) By product produk sampingan, memiliki nilai relatif lebih kecil daripada joint product.

Akuntansi untuk joint product Biaya bahan baku, tenaga kerja, dan overhead yang terjadi selama proses joint disebut joint cost. Pemisahan produk dapat diidentifikasi pada split-off point. Dasar pembagian joint cost ke joint product, antara lain : Ukuran unit fisik seperti volume, ukuran (size), atau tingkatan Nilai jual relatif untuk tiap produk Analisis kimia, teknik, dan lain-lain Akuntansi untuk by-product Dalam akuntansi untuk by-product, praktek umumnya adalah tidak membuat alokasi cost pemrosesan sampai dengan split-off point. Cost yang terjadi sampai dengan poin tersebut dibebankan ke produk utama. Penjualan atas by-product biasanya diakui sebagai Miscellaneous Income, dan dilaporkan sebagai Other Income dalam Laporan R/L. Chapter 8 STANDARD COST ACCOUNTING MATERIALS AND LABOR Jenis Standar Ideal Standard standar yang tidak mentoleransi kondisi inefficient seperti waktu yang hilang, barang sisa, atau barang cacat. Standar ini hanya bisa dicapai dalam kondisi operasi yang paling efisien. Attainable Standard standar yang mentoleransi kondisi inefficient yang tidak dapat dieliminasi, seperti waktu yang hilang, barang sisa, atau barang cacat. Standar ini tetap dapat memotivasi dan meningkatkan efisiensi, tetapi juga layak dan memungkinkan untuk dicapai. Prosedur Standard Cost Elemen standard cost terdiri dari bahan baku, tenaga kerja langsung, dan BOP Standard cost, actual cost, dan selisih diantara keduanya dicatat dalam akun yang tepat Seluruh selisih dianalisis dan diinvestigasi, dan kemudian diambil tindakan yang tepat Penentuan Standard Cost untuk Bahan Baku dan Tenaga Kerja Material standard cost estimasi kuantitas bahan baku yang dibutuhkan untuk tiap unit produk dan cost per unit untuk baha baku yang digunakan. Labor cost standard estimasi jam tenaga kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi tiap unit produk dan tarif tenaga kerja per unit produk. Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan standar untuk bahan baku dan tenaga kerja :

a) Tren harga bahan baku b) Penggunaan jenis bahan baku yang berbeda sehubungan dengan proses yang baru atau perkembangan pasar c) Pengaruh negosiasi tingkat upah tenaga kerja dengan serikat tenaga kerja d) Kemungkinan penghematan jam tenaga kerja sehubungan dengan penggunaan mesin dan peralatan lain pendukung proses produksi. Pencatatan Standard Cost untuk Bahan Baku dan Tenaga Kerja Selisih bahan baku selisih harga dan selisih kuantitas Kuantitas aktual x harga aktual Selisih harga Kuantitas aktual x harga standar Selisih kuantitas Unit ekuivalen x kuantitas standar x harga standar Selisih tenaga kerja selisih tarif dan selisih efisiensi jam kerja Jam aktual x tarif aktual Selisih tarif Jam aktual x tarif standar Selisih efisiensi Unit ekuivalen x jam standar x tarif standar Jurnal terkait Biaya Bahan Baku dna Biaya Tenaga Kerja Langsung Mencatat biaya bahan baku Persediaan BDP Selisih unfavourable Selisih favourable Persediaan BB Mencatat biaya tenaga kerja langsung Persediaan BDP Selisih unfavourable Selisih favourable Gaji dan Upah Analisis Selisih bahan baku (unfavourable) a) Cara pembelian yang tidak efisien b) Menggunakan bahan baku yang sangat berbeda untuk eksperimen c) Kenaikan harga pasar Selisih bersih Selisih bersih

Chapter 9 STANDARD COST ACCOUNTING FACTORY OVERHEAD BOP Dianggarkan Prinsip Anggaran Manajemen harus menetapkan tujuannya secara jelas tujuan harus realistis dan memungkinkan untuk diraih Anggaran harus mempertimbangkan perkembangan ekonomi, iklim bisnis global, kondisi industri, dan juga menganalisis tren perubahan. Harus ada rencana yang konsisten untuk dianalisis hasil aktualnya dengan anggaran. Anggaran harus cukup fleksibel Tanggung jawab untuk biaya forecasting harus ditetapkan secara jelas

Penyiapan Anggaran Fleksibel untuk BOP Karena biaya dipengaruhi oleh tingkat produksi, maka langkah pertama adalah menentukan standar volume produksi. Standard production merupakan volume dimana perhitungan awal biaya didasarkan. Jenis kapasitas produksi, antara lain : Kapasitas teoritis jumlah unit maksimal yang dapat diproduksi dengan penggunaan seluruh fasilitas dan personel yang tersedia secara efisien. Kapasitas praktek tingkat produksi yang menyediakan penggunaan seluruh fasilitas dan personel, tetapi masih mentoleransi waktu menganggur (idle time) terkait gangguan operasi. Kapasitas normal tingkat produksi yang akan memenuhi kebutuhan normal atas permintaan penjualan selama satu periode. Analisis Selisih Dua Metode Volume variance Selisih antara denominator (dasar pembebanan BOP) menurut standar dengan denominator aktual pada tarif BOP standar. Misal donominatornya adalah jam kerja langsung, maka : Selisih volume BOP = (Jam aktual Jam standar) x tarif BOP standar Controllable variance (selisih anggaran) Selisih antara jumlah BOP standar pada kapasitas yang sesungguhnya dengan jumlah BOP aktual yang terjadi dan diakui dalam satu periode tertentu. Selisih anggaran BOP = BOP standar pada kapasitas aktual BOP aktual Perhitungan BOP standar pada kapasitas aktual : BOP variable = unit ekuivalen x jam aktual x tarif BOP aktual BOP tetap = unit akuivalen x jam standar x tarif BOP standar = xxx = (xx) xxx

Chapter 10 COST ANALYSIS FOR MANAGEMENT DECISION MAKING Direct Costing (Variable Costing) dan Absorption Costing (Full Costing) Direct costing HPPd terdiri dari cost yang berhubungan langsung dengan volume (variable cost), yaitu bahan baku, tenaga kerja langsung, dan BOP variabel. Dalam metode ini, BOP tetap diklasifikasikan sebagai period cost. Absorption costing HPPd terdiri dari variable cost dan fixed cost, yaitu bahan baku, tenaga kerja lngsung, BOP variabel, dan BOP tetap. Dalam metode ini, BOP tetap diperlakukan sebagai product cost. Ilustrasi Variable Costing dan Full Costing BB BTKL BOP Variabel BOP Tetap Harga Jual = $ 2/unit = $ 4/unit = $ 1/unit = $ 30.000 = $ 20/unit Unit produksi Unit terjual Persediaan awal = 6.000 unit = 5.000 unit =0

Biaya operasional variabel = $ 3/unit Biaya operasional tetap = $ 10.000

Full Costing Bahan Baku = 2 Bahan Baku

Variable Costing = 2

Tenaga kerja langsung = 4 BOP variabel BOP tetap HPPd/unit = 1 = 5 30.000 : 6.000 = 12 Laporan R/L Penjualan HPP Persediaan awal HPPd BTUD Persediaan akhir HPP Laba kotor Beban operasional B.operasional variabel B.operasional tetap Laba Bersih (15.000) (10.000) 15.000 0 72.000 72.000 (12.000) (60.000) 40.000 100.000

Tenaga kerja langsung = 4 BOP variabel HPPd/unit = 1 = 7

Laporan R/L Penjualan Beban variabel Persediaan awal HPPd BTUD Persediaan akhir HPP variabel B.operasional variabel Total beban variabel Margin Kontribusi Beban tetap BOP tetap B.operasional tetap Laba Bersih (30.000) (10.000) 10.000 0 42.000 42.000 (7.000) (35.000) (15.000) (50.000) 50.000 100.000

Kelebihan Variable/Direct Costing Lebih mudah dipahami terkait data biaya, volume, pendapatan, dan laba karena menyajikan penekanan pada hubungan diantara penjualan dan biaya produksi variable yang berbanding lurus dengan penjualan. Membantu perencanaan manajemen, karena menyajikan gambaran yang jelas tentang bagaimana perubahan dalam volume produksi mempengaruhi biaya dan laba. Kelemahan Variable/Direct Costing Direct costing merupakan metode inventory costing yang tidak berterima umum untuk tujuan pelaporan eksternal. Walaupun telah menggunakan teknik statistik untuk memisahkan biaya variabel dan biaya tetap, namun hasilnya masih tetap mungkin mengandung kesalahan (error). Karena persediaan tidak mencerminkan total biaya produksi, maka direct costing tidak menyajikan penilaian yang realistis.

Pelaporan Tersegmen untuk Analisis Profitabilitas Analisis profitabilitas segmen mensyaratkan seluruh biaya diklasifikasikan ke dalam : direct (traceable) cost atau indirect (nontraceable) cost. Direct cost merupakan biaya yang dapat ditelusur secara langsung ke segmen yang dianalisis. Sedangkan indirect cost merupakan biaya yang tidak dapat diidentifikasi/ditelusur secara langsung ke segmen. Indirect cost dalam analisis segmen dikenal sebagai common cost. Cost-Volume-Profit (CVP) Analysis Analisis CVP merupakan suatu teknik yang menggunakan tingkat variabilitas cost untuk mengukur pengaruh perubahan volume dalam menghasilkan laba. Contribution Margin Ratio and Margin of Safety Contribution margin merupakan selisih antara harga jual dengan biaya variabel yang menggambarkan besarnya kontribusi atas penjualan yang terjadi untuk menutup biaya tetap. CM = Sales revenue Variable cost Contribution margin ratio merupakan perbandingan/proporsi diantara contribution margin dengan penjualan yang menggambarkan besarnya bagian penjualan yang menjadi bagian margin kontribusinya.
= 100%

Break Even Analysis

Titik awal analisis CVP adalah penentuan break even point (BEP) perusahaan. BEP didefinisikan sebagai suatu titik dimana pendapatan dari penjualan cukup untuk menutup seluruh biaya untuk memproduksi dan menjual produk, tetapi tidak ada laba yang dihasilkan. Pendekatan untuk menentukan BEP Pendekatan persamaan Sales revenue = Fixed cost + Variable cost Pendekatan margin kontribusi BEP (unit) = Fixed Cost CM/unit BEP (Rp) = Fixed Cost CMR Margin of safety Margin of safety mengindikasikan jumlah dimana penjualan dapat menurun sebelum perusahaan akan mengalami kerugian (batas penurunan jumlah penjualan).
=