Anda di halaman 1dari 18

DINAMIKA DALAM PENERJEMAHAN

Oleh: Ida Bagus. Putra Yadnya

1. Pendahuluan Pada hakekatnya terjemahan merupakan pengungkapan sebuah makna yang dikomunikasikan dalam bahasa sumber ke dalam bahasa target sesuai dengan makna yang dikandung dalam bahasa sumber. Perspektif tersebut menjadikan penerjemahan suatu fenomena yang tidak sederhana. Penerjemahan muncul tidak saja sebagai pengalihan kode (transcoding) atau sistem bahasa (struktur luar) tetapi juga pengalihan makna (apa di balik struktur luar). Fitur-fitur umum yang dimiliki oleh terjemahan adalah pengertian (a) adanya pengalihan bahasa (dari bahasa sumber ke bahasa target); (b) adanya pengalihan isi (content); dan (c) adanya keharusan atau tuntutan untuk menemukan padanan yang mempertahankan fitur-fitur keasliannya Karena bahasa merupakan bagian dari kebudayaan maka penerjemahan tidak saja bisa dipahami sebagai pengalihan bentuk dan makna tetapi juga budaya. Konsekuensinya adalah penerjemahan sebagai bentuk komunikasi tidak saja dapat mengalami hambatan kebahasaan tetapi juga segi budaya. Komunikasi antarbudaya tidak selalu mudah dan tergantung pada besarnya perbedaan antara kebudayaan yang bersangkutan. Walaupun secara teoritis penerjemahan tidak mungkin dilaksanakan akibat di samping adanya perbedaan sistem dan struktur juga semantik serta kebudayaan yang melatarbelakanginya, namun secara praktik kegiatan penerjemahan sampai batas-batas tertentu bisa dilakukan dengan cara mencari dan menemukan padanan di dalam bahasa target. Hal ini dimungkinkan akibat adanya sifat-sifat universal bahasa serta konvergensi kebudayaan-kebudayaan di dunia (Lihat Hoed, 1992:80). Individu yang berbeda akan memberikan respon yang berbeda terhadap objek yang sama. Hasil terjemahan oleh dua orang yang berbeda, sampai batas-batas tertentu, akan berbeda pula. Perbedaan ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor misalnya karena

2 adanya perbedaan perspektif dalam menangkap dunia bahasa sumber, kemampuan dan kreativitas berbahasa, pemahaman (lintas) budaya, pengetahuan penerjemah serta sasaran hasil terjemahan (target reader) yang ingin dituju. Tulisan ini mencoba memaparkan secara teoritis bahwa penerjemahan sebagai suatu proses adalah sesuatu yang dinamis yang dicerminkan oleh cara pandang dan strategi dalam penerjemahan. Paparan yang disajikan merupakan hasil sintesis dari kajian berbagai pustaka dengan harapan bisa memberikan pemahaman terhadap berbagai fenomena penerjemahan.

2. Pembahasan 2.1 Cara Pandang dalam Penerjemahan Bertolak dari gagasan bahwa bahasa merupakan lambang lisan dan tertulis suatu kebudayaan maka tidak ada bahasa yang tidak sempurna untuk mengungkapkan kebudayaannya (Moeliono, 1995b:1). Suatu pikiran, gagasan atau pesan tentu saja dapat diungkapkan dalam bahasa apapun yang digunakan oleh berbagai suku bangsa. Ini berarti bahwa suatu pikiran, gagasan atau pesan yang diungkapkan dalam suatu bahasa semestinya dapat pula diungkapkan atau dialihkan ke dalam bahasa lain. Dengan demikian secara umum dapat dikatakan bahwa pikiran, gagasan atau pesan yang diungkapkan dalam suatu bahasa dapat pula diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Walaupun secara teoritis kesepadanan bisa dicapai akibat adanya sifat universal bahasa dan konvergensi budaya tetapi fakta menunjukkan bahwa suatu bahasa (target) digunakan oleh penutur yang memiliki suatu budaya sering amat berbeda dengan budaya penutur bahasa lain (sumber) sehingga sulit menemukan padanan leksikal. Untuk menangani masalah kesenjangan atau perbedaan (mismatch) ini menurut Nida (1964) dan Larson (1988) perlu dilakukan penyesuaian (adjustment). Penyesuaian ini memerlukan suatu strategi yang sangat ditentukan oleh kompetensi penerjemah, metode penerjemahan dan sasaran terjemahan. Pengertian strategi dalam tulisan ini identik dengan pengertian metode yang digunakan Vinay dan Darbelnet (dalam Venuti (ed.), 2000:8493), prosedur oleh Newmark (1988:6893), dan penyesuaian (adjustment) oleh Nida (1964) dan Larson (1998), yakni suatu cara mencapai kesepadanan antara teks sumber dan teks target. Walapun Vinay dan Darbelnet (dalam Venuti (ed.), 2000:8493), dan Baker (1991) tidak membedakan metode dengan prosedur tetapi Newmark (1988) dan Machali

3 (2000) menilai perbedaan antara metode dan prosedur terletak pada satuan penerapannya. Metode penerjehaman berkenaan dengan keseluruhan teks sedangkan prosedur berlaku untuk kalimat dan satuan-satuan bahasa yang lebih kecil (seperti klausa, frasa, kata ). Oleh karena itu Baker (1991:17) menilai pilihan padanan selalu tergantung tidak hanya pada sistem bahasa atau sistem yang sedang ditangani oleh seorang penerjemah tetapi juga pada bagaimana cara, baik penulis teks sumber dan penerjemah, memanipulasi sistem bahasa bersangkutan. Dalam hal ini penerjemahan menjadi tidak bisa terlepas dari campur tangan penerjemah dan memiliki dinamika. Di dalam proses penerjemahan, penerjemah hanyalah seorang komunikator yang menjembatani alur informasi dari penulis dan pembaca yang semestinya bisa menghilangkan sedemikian rupa campur tangan atau subyektivitas. Untuk itu setiap penerjemah perlu memiliki suatu pedoman dalam pemadanan dan pengubahan (Machali, 2000:104). Newmark (1988) menilai bahwa sebuah teks yang akan diterjemahkan dapat ditarik ke sepuluh arah dalam analisis sebelum dialihkan. Dinamika penerjemahan ini digambarkan sebagai berikut:

9. The truth (the facts of the matter) 1. SL writer 5. TL readership

2. SL norm. 3. SL culture 4. SL setting and tradition

TEXT

6. TL norms 7. TL culture 8. TL setting and tradition

10. Translator

Gambar tersebut di atas mengindikasikan bahwa penerjemahan menurut Newmark (1988) bukanlah sesuatu yang statis tetapi dinamis dan ditentukan oleh cara pandang atau pendekatan yang diterapkan terhadap teks sebagai poros. Teks sumber (yang akan diterjemahkan) ditentukan oleh sepuluh faktor, yakni

4 (1) penulis yang memiliki gaya (style) penulisan sendiri atau idiolek dalam bahasa sumber sehingga harus ditentukan kapan harus dipertahankan atau dinormalisasi dalam penerjemahan; (2) norma-norma yang biasa berlaku dalam bahasa sumber mengenai penggunaan leksikal dan gramatikal secara konvensional bagi jenis teks yang akan diterjemahkan yang tergantung pada topik dan situasi; (3) (4) kebudayaan yang menjadi latar bahasa sumber; latar ruang dan waktu (setting) serta tradisi penulisan atau penerbitan (seperti misalnya format tertentu sebuah teks dalam buku, terbitan periodik, surat kabar, dsb. yang dipengaruhi oleh tradisi dan waktu); (5) pembaca teks target (seperti harapan pembaca sesuai dengan tingkat pemahamannya mengenai topik dan gaya bahasa yang mereka gunakan); (6) norma-norma yang dimiliki oleh bahasa target seperti halnya yang dimiliki oleh bahasa sumber; (7) (8) kebudayaan yang menjadi latar bahasa target; latar ruang dan waktu (setting) serta tradisi penulisan atau penerbitan yang berhubungan dengan teks target; (9) kebenaran (truth) atau substansi yang dibicarakan (berupa kebenaran referensial, yakni apa yang dideskripsikan atau dilaporkan yang diyakini kebenarannya); dan (10) penerjemah termasuk pandangan dan prasangka yang kemungkinan bersifat pribadi dan subyektif atau juga bersifat sosial dan kultural yang menyangkut faktor loyalitas kelompok dari penerjemah yang mungkin mencerminkan asumsi penerjemah yang bersifat nasional, politis, etnik, religius, klas sosial, seks dsb. Oleh karena itu Hoed (dalam Machali, 2000:xixii) menilai bahwa dalam proses penerjemahan kesepuluh faktor tersebut harus dipertimbangkan karena berakibat pada perlunya audience design, pemilihan metoda dan teknik serta pengambilan keputusan. Kalau tujuan teks sumber hanya menyampaikan suatu informasi atau suatu instruksi pada pembaca maka menurut Zaky (2001) makna referensial dari kata atau ungkapan menjadi sangat penting sedangkan efek dari gaya atau nada kurang penting.

5 Tetapi sebaliknya bila berhubungan dengan teks sumber yang ditujukan tidak saja untuk menyampaikan pesan tetapi juga membangkitkan dampak tertentu pada pembaca melalui penggunaan gaya tertentu maka pemadanan dari efek stilistik seperti itu merupakan bagian yang penting dari kegiatan penerjemahan tersebut. Pertimbangan lain yang perlu dilakukan penerjemah sebelum menerjemahkan adalah menentukan pembaca ideal. Sekalipun pembaca tersebut memiliki tingkat akademik, profesional dan intelektual yang sama dengannya tetapi kemungkinan pula pembaca tersebut juga memiliki perbedaan harapan (expectation) tekstual dan budaya yang signifikan.( Lihat Coulhard (1992:12) dalam Kate James (2002). Dengan demikian, sebagai proses pemadanan tidak saja berarti pengalihan informasi dari satu bahasa ke dalam bahasa lain tetapi juga memperhatikan sudut pandang pengguna terjemahan (translation user) di samping memahami secara penuh pesan yang ingin disampaikan dalam bahasa sumber. Terlepas dari berbagai kemungkinan keputusan yang bisa diambil oleh penerjemah dalam proses penerjemahan sebagai akibat dari keragaman faktor penentu tersebut di atas Machali (2000:105) memberikan suatu pegangan dasar dalam proses penerjemahan. Machali menilai bahwa gambar dinamika penerjemahan Newmark tersebut di atas, menunjukkan bahwa yang terletak paling atas adalah truth kebenaran berupa fakta atau substansi permasalah yang akan diterjemahkan yang dibahas dalam teks atau field menurut Halliday. Sejauh perubahan yang ada tidak menyebabkan perubahan truth (tetap mempertahankan makna referensial) maka kesepadanan masih dapat berterima. Perubahan atau pergeseran lain yang menyangkut kaidah bahasa (nomor 2 dan 6 dalam dinamika di atas) tidak membuat bergesernya truth sehingga masih berterima. Dinamika tersebut di atas memberi peluang terjadinya campur tangan penerjemah. Machali (2000:106) mengungkapkan bahwa campur tangan penerjemah dalam proses penerjemahan disebabkan oleh (1) merupakan terjemahan manusia (human translation) bukan terjemahan mesin (machine translation); (2) bahasa bukanlah sebuah jaket pengaman yang mengikat pemakainya (penerjemah) untuk hanya memilih satu bentuk tertentu; dan (3) penerjemah (manusia) mempunyai keunikan (pandangan, prasangka, dll.) yang ikut mempengaruhi dalam proses penerjemahan

6 2.2 Strategi dalam Penerjemahan Penerjemahan adalah usaha mengalihkan amanat dari bahasa sumber dengan cara menemukan padanan, yakni suatu bentuk dalam bahasa sasaran dilihat dari segi semantik sepadan dengan suatu bentuk bahasa sumber. Walaupun kemungkinan adanya suatu kesepadanan didasarkan atas keuniversalan bahasa dan budaya namun masalah

kesepadanan bukanlah identik dengan kesamaan karena perdebatan mengenai kedua konsep tersebut lebih banyak terkait dengan penerjemahan karya sastra khususnya puisi yang melihat kesepadanan sebagai tuntutan untuk menghasilkan kesamaan (Lihat Machali, 2000:106). Kesepadanan dalam kajian terjemahan selalu dikaitkan dengan fungsi teks dan metode penerjemahan. Konsep kesepadanan dalam penerjemahan telah dianalisis, dievaluasi dan diperbincangkan dari berbagai perspektif yang berbeda. Pluralitas perspektif tersebut diwarnai oleh berbagai pendapat seperti Vinay dan Darbelnet, Jakobson, Nida dan Taber, Catford, House, dan Baker. Kesepadanan merupakan isu sentral dalam penerjemahan karena menyangkut perbandingan teks dalam bahasa yang berbeda. Vinay dan Darbelnet (1995) dalam Leonardi (2000) memandang penerjemahan yang beorientasi mencari padanan (equivalence-oriented translation) sebagai suatu prosedur menciptakan kembali replika situasi yang sama sebagaimana situasi aslinya dengan menggunakan ungkapan yang berbeda. Perspektif perpadanan Jakobson (1959/2000) dalam Venuti (2000:113) didasarkan atas konsepsinya tentang terjemahan, yakni intralingual (dalam satu bahasa) berupa parafrasa, interlingual (antara dua bahasa) dan intersemiotic (antar sistem tanda), dan menyatakan bahwa penerjemahan menyangkut dua pesan yang sepadan dalam dua kode (code) yang berbeda. Nida dan Taber (1964) membedakan kesepadanan dalam terjemahan ke dalam 2 jenis (1) kesepadanan formal dan (2) kesepadanan dinamis. Kesepadanan formal pada dasarnya dihasilkan dari proses penerjemahan yang berorientasi pada bahasa sumber dan diarahkan untuk mengungkap sejauh mungkin bentuk dan isi dari pesan asli. Oleh karena itu dalam proses penerjemahan segala usaha ditujukan untuk mereproduksi elemen formal termasuk (1) unit gramatikal, ketaatasasan penggunaan kata dan (2) makna yang sesuai dengan konteks teks sumber. Berlawanan dengan kesepadanan formal, kesepadanan dinamis berorientasi pada prinsip kesepadanan efek yang diperoleh melalui pemusatan perhatian

7 dalam penerjemahan lebih utama ke arah tanggapan penerima mencapai tingkat kealamian pesan bahasa sumber. Padanan alami ini mengandung pengertian sesuai

dengan (1) bahasa dan budaya target, (2) konteks pesan tertentu, dan (3) khalayak pembaca bahasa target. Berbeda dengan Nida dan Taber, pendekatan Catford terhadap kesepadanan dalam penerjemahan lebih bersifat linguistik. Catford (1965) membedakan tiga jenis terjemahan dalam tiga kriteria yang berbeda, yakni (1) berdasarkan jangkauan penerjemahan (terjemahan penuh (full translation) vs terjemahan tidak penuh (partial translation), (2) berdasarkan rank gramatikal pada tataran mana kesepadanan penerjemahan dibangun (rank-bound translation vs unbounded translation), dan (3) berdasarkan tingkatan bahasa yang dicakup dalam penerjemahan (total translation vs restricted translation). Dalam kaitannya dengan perpadanan, Catford mengidentifikasi dua jenis kesepadanan, yaitu (1) kesepadanan formal (formal equivalence) yang selanjutnya dirubah ke dalam istilah korespondensi formal (formal correspondence) dan (2) kesepadanan tekstual (textual equivalence) yang terjadi bila suatu teks atau sebagian dari teks bahasa target dalam siatuasi tertentu sepadan dengan teks atau sebagian teks bahasa sumber. Sebagaimana yang dikutip oleh Lionardi (2000), konsep kesepadanan House (1977) berorientasi pada fungsi. House membedakan kesepadanan dalam kesepadanan semantik dan pragmatik dan berargumentasi bahwa dari segi fungsi kedua teks sumber dan teks target haruslah sebanding (match). Konsep kesepadanan yang lebih rinci dikemukakan oleh Baker (1992). Dia melihat pengertian kesepadanan dalam berbagai tataran dalam hubungannya dengan proses penerjemahan termasuk berbagai aspek penerjemahan yang mengintegrasikan pendekatan linguistik dan komunikatif. Dengan mengutip Culler (1976), Baker dalam bukunya In Other Words: A Course Book on Translation (1992:10) mengungkapkan bahwa bahasa tidaklah nomenclature dengan pengertian bahwa suatu konsep dari suatu bahasa bisa jadi berbeda sama sekali dengan bahasa lainnya karena setiap bahasa mengartikulasikan dunia secara berbeda. Selanjutnya Baker juga menjelaskan dengan berbagai ilustrasi bahwa masalah kesepadanan bisa muncul dalam berbagai tingkatan. Menurutnya kesepadanan bisa terjadi pada tingkat (1) kata dan di atas kata seperti kolokasi, idiom dan ungkapan, (2) gramatikal, (3) tekstual, dan (4) pragmatik.

8 Penerjemahan itu sendiri menyangkut pemilihan padanan yang paling mendekati untuk unit bahasa bahasa sumber dalam bahasa target. Berdasarkan pada tingkat unit bahasa yang akan diterjemahkan Riazi (2003) mengelompokkan pendekatan terhadap penerjemahan menjadi (1) penerjemahan pada tataran kata (word for word translation), (2) penerjemahan pada tataran kalimat, dan (3) penerjemahan konsepsual (unit terjemahan bukan pada tingkatan kata atau kalimat) Secara garis besar terdapat beberapa kemungkinan kesepadanan dalam penerjemahan, yakni (1) sepadan sekaligus berkorespondensi, (2) sepadan tapi bentuk tidak berkorespondensi, dan (3) sepadan dan makna tidak berkorespondensi karena beda cakupan makna. Penerjemahan sebagai proses pemadanan tidaklah sesederhana definisi yang umum diterima, yakni mengungkapkan makna ke dalam bahasa lain. Pada prakteknya penerjemahan bisa menjadi rumit, dibuat-buat (artificial) dan dipandang menipu (fraudulent) karena sebagaimana yang dikemukakan oleh Newmark (1988:5) by using another language you are pretending to be someone you are not. Pengertian pemadanan sebagai pengalihan makna mengacu pada pengungkapan kembali makna (berkonteks budaya) yang terdapat dalam teks bahasa sumber (unit terjemahan) ke dalam teks bahasa sasaran. Secara leksikal kata pengalihan tersebut di atas mengandung pengertian adanya proses pemindahan, penggantian, dan pengubahan. Pengertian pemindahan mengacu pada konsep bahwa penerjemahan adalah

penyesuaian budaya berbahasa bahasa sumber ke dalam budaya berbahasa bahasa sasaran. Seperti yang dinyatakan Catford (1965:1), bahasa adalah tingkah laku manusia yang berpola. Bahasa sebagai salah satu subsistem kebudayaan memiliki aturan-aturan dalam pemakaiannya Di dalam kebudayaan manapun orang berbicara dalam bahasa dan bereaksi dalam pola kebudayaannya sendiri. Nida (1964:147-149) menunjukkan bahwa penerima pesan atau amanat hanya bisa bereaksi terhadap pesan yang dikomunikasikan padanya dalam bahasanya sendiri dan hanya bisa mengekspresikan respon tersebut dalam konteks budaya di mana mereka hidup. Dengan demikian penerjemahan bukan sekedar menumpangkan bangun budaya sumber pada bangun budaya target atau sebaliknya, tetapi juga menyusun kembali (restructuring) (bandingkan dengan Widyamartaya,

1989:38-39.) Dalam proses penyusunan kembali bangun budaya secara kebahasaan diperlukan penggantian sebagai konsekuensi dari kenyataan bahwa dalam penerjemahan

9 (misalnya saja penerjemahan Indonesia-Inggris) melibatkan dua bahasa yang tidak serumpun dan bertipologi berbeda. Produk pengalihan makna muncul di permukaan (dalam surface structure) berupa transcoding, penggantian satu kode dengan kode yang lain (sistem bahasa sumber ke dalam sistem bahasa sasaran). Perbedaan sistem linguistik sebagai refleksi sifat arbitrer dan sui generis bahasa menjadikan pengalihan muncul sebagai pemadanan dan di dalam pencaharian padanan tersebut diperlukan pengubahan yang sampai batas-batas tertentu bersifat wajib senhingga terjadi pergeseran bentuk dan makna. Hal ini mungkin bisa menimbulkan kesan terjemahan itu sama dengan penyelewengan seperti yang diilustrasikan oleh Bambang Kasaswanti Purwo (1995) dengan contoh: Nafasnya berbau jengkol di mana berbau jengkol diterjemahkan garlic smell. Sudah pasti di dalam kamus manapun tidak diketemukan jengkol = garlic atau sebaliknya garlic = jengkol. Dari sisi ini mungkin bisa dikatakan nyeleweng namun bagaimana kalau jengkol diterjemahkan secara akurat sebagai a kind of bean atau lebih tepat lagi, dengan istilah Latin Pithecolobium. Apakah amanat yang dikandung oleh kata jengkol itu sampai dengan terjemahan yang tepat dengan istilah bahasa Latin? Tentu saja makna bau sekali pada kata bahasa Indonesia tersebut tidak tersampaikan (sepadan) dengan melalui kata bahasa Latin itu. Fenomena ini mengindikasikan bahwa bahasa sebagai sebuah sistem sulit untuk disepadankan secara lintas sistem namun yang dimungkinkan adalah menyepadankan pola konsepsi kedua sistem tersebut. Ini sekaligus juga berarti bahwa terjemahan (secara idiomatik atau parsial) merupakan sesuatu yang mungkin untuk dilakukan karena adanya jembatan pemahan (bridgehead of comparability) yang berisikan tahapan interpretasi dari sebuah konsep yang belum dipahami (Lihat Sutjiati 2003:15). Pandangan ini bertolak dari strategi dasar dalam menginterpretasi sistem linguistik yang menganggap bahwa penutur bahasa bersifat konsisten dan benar dalam kepercayaannya. Oleh karena itu bagaimanapun tingkat perbedaan antara dua bahasa pastilah ada sejumlah persamaan antara kepercayaan masing-masing penutur dan pemahaman tentang dunia yang dapat digunakan sebagai dasar penerapan penerjemahan (Periksa Foley, 1997:172). Penerjemahan tidak sebatas menghilangkan jurang ketidaksepadanan dengan mencari kata lain yang memiliki makna yang mirip tetapi menemukan menurut Thriveni (2002) cara yang tepat untuk mengungkapkan sesuatu dalam bahasa lain.

10 Terdapat banyak strategi alternatif untuk menangani masalah ketidaksepadanan (non-equivalence) dalam proses penerjemahan. Berbagai strategi pemadanan telah diusulkan oleh berbagai pakar. Vinay dan Darbelnet (dalam Venuti, 2000:84--93)

misalnya melihat banyak sekali alternatif pemadanan dan menyarikannya dalam dua kategori besar yakni (1) pemadanan langsung (direct translation) dan (2) pemadanan oblik (oblique translation) yang terdiri dari tujuh strategi berbeda; Larson (1998:169 193) mengelompokkan strategi pemadanan berdasarkan apakah suatu konsep bahasa sumber dimiliki/ dikenal dalam bahasa target atau tidak dan mengusulkan tidak kurang dari sembilan alternatif cara pemadanan. Hampir sama dengan Vinay dan Darbelnet, Bell (1991: 70--71) juga menunjukkan tujuh cara berbeda untuk bisa mengalihkan makna teks bahasa sumber ke dalam bahasa target; Baker (1991:26--44) mencatat paling sedikit ada delapan alternatif cara menangani ketidaksepadanan; Newmark (1988:68--93) bahkan melihat tidak kurang dari enambelas alternatif, dan Machali (2000:6273) walaupun menyadari banyaknya alternatif yang ada tetapi dalam kasus-kasus penerjemahan InggrisIndonesia melihat hanya 5 strategi yang menonjol. Walaupun terdapat berbagai alternatif penerapan namun suatu cara pemadanan sangat ditentukan oleh kedekatan tipologi bahasa serta perbedaan budaya sumber dan target. Di samping itu strategi tersebut tidak hanya bisa diterapkan secara sendiri-sendiri tetapi mungkin juga dikombinasikan dengan strategi yang lainnya sekaligus. Mengkaji berbagai alternatif yang telah dikemukakan oleh berbagai pakar tersebut di atas strategi pemadanan bisa dikelompokkan berdasarkan orientasi penerjemah ke dalam (1) strategi pemadanan yang berorientasi pada bahasa sumber , (2) strategi yang berorientasi pada bahasa target (dampak pemadanan) dan (3) strategi yang berorientasi pada makna, yakni apakah suatu konsep bahasa sumber dikenal/ dimiliki (known/shared) atau tidak (unknown) dalam bahasa target. Strategi pemadanan yang berorientasi pada bahasa sumber termasuk dalam katagori direct translation yang dikemukakan Vinay dan Darbelnet dalam Venuti, (2000) dan Bell (1991) meliputi: (a) borrowing yakni mengambil dan membawa item leksikal dari bahasa sumber ke dalam bahasa target tanpa modifikasi formal dan semantik. Strategi ini merupakan cara pemadanan yang paling sederhana. Borrowing yang sudah lama dan digunakan secara luas bahkan sudah tidak dianggap lagi sebagai item leksikal pinjaman tetapi

11 sebagai bagian dari leksikon bahasa target, misalnya dalam bahasa Inggris menu, (dalam bahasa Indonesia juga), rendeavous sudah tidak dianggap lagi sebagai pinjaman; (Baker, (1991:36) menyebutnya sebagai loan word yang diterapkan pada penerjemahan item bermakna budaya culture-specific dan konsep modern. Tidak jarang pula kata pinjaman ini disertai dengan penjelasan (explanation); (b) Calque, semacam borrowing tertentu di mana suatu bahasa meminjam suatu bentuk ekspresi bahasa lain kemudian menterjemahkannya secara harfiah masing-masing elemennya sehingga menghasilkan (1) lexical calque dengan mempertahankan struktur bahasa target sambil memperkenalkan modus ekspresi baru seperti yang terlihat dalam penerjemahan complements of the season dari bahasa Inggris ke dalam compliments de la saison dalam bahasa Perancis , atau (2) structural calque yang sekaligus memperkenalkan konstruksi baru ke dalam bahasa target, seperti frasa science fiction dalam bahasa Inggris dipadankan dengan science fiction pula dalam bahasa Perancis (Lihat Vinay dan Darbelnet dalam Venuti, 2000:85). Strategi ini identik dengan through-translation yang dikemukakan Newmark (1988:84) dan loan translation yang ditawarkan oleh Bell (1991), yakni pemadanan melalui substitusi linear elemen suatu bahasa dengan elemen bahasa yang lain (biasanya frasa benda); dan (c) literal translation, yakni pengalihan langsung teks sumber ke dalam teks target yang sepadan secara gramatikal dan idiomatik (Lihat Vinay dan Darbelnet dalam Venuti (2000:86--88). Literal translation bagi Bell (1991) merupakan penggantian struktur sintaksis bahasa sumber dengan struktur bahasa target (biasanya pada tingkat klausa) yang isomorfis atau mendekati isomorfis dalam hal jumlah dan tipe item leksikal dan bersinonim, Misalnya klausa Saya suka musik dalam bahasa sumber (Indonesia) berpadanan dengan I like music dalam bahasa target (Inggris). Newmark (1988:68-70) beranggapan bahwa pemadanan literal merupakan prosedur dasar penerjemahan baik penerjemahan semantik maupun komunikatif untuk mencapai hasil yang cermat dan rentangannya berkisar dari kata-ke-kata, kelompok kata-ke-kelompok kata, kolokasi-ke-kolokasi, klausa-ke-klausa, kalimat-ke-kalimat. Namun demikian

semakin panjang unit terjemahan tersebut semakin jarang terjadi padanan satu-lawan-

12 satu. Pemadanan ini sering dijumpai pada penerjemahan antara dua bahasa yang serumpun terlebih lagi bila kedua bahasa tersebut memiliki budaya yang sama. Strategi yang berorientasi pada bahasa target (dampak pemadanan) sangat beragam dan Vinay dan Darbelnet (dalam Venuti, 2000) menggolongkannya dalam istilah pemadanan oblik (oblique translation). Termasuk dalam kelompok strategi ini adalah: (a) transposisi (transposition), yakni menggantikan elemen bahasa sumber dengan elemen bahasa target yang secara semantik berpadanan namun secara formal tidak berpadanan misalnya karena perubahan kelas kata (Lihat Bell, 1991; Newmark 1988:8588; Vinay dan Darbelnet (dalam Venuti, 2000:88); dan Machali, 2000:6368). Strategi pemadanan dengan melakukan pergeseran bentuk ini sudah lama diperkenalkan oleh Catford (1965:73--83) dengan istilah shifts yang mencakup pergeseran level (level shifts), kategori (category shifts), dan struktur (structure shifts); (b) modulasi (modulation), yakni pergeseran sudut pandang atau perspektif (Lihat Newmark 1988:8889; Machali, 2000:6971; dan Vinay dan Darbelnet (dalam Venuti, 2000:89). (c) equivalence, yakni penggantian sebagian bahasa sumber dengan padanan fungsionalnya dalam bahasa target . Dengan kata lain suatu situasi yang sama dapat diungkapkan ke dalam dua teks dengan menggunakan metode stilistika dan struktural yang sama. Contoh klasik dari pemadanan ini adalah pemadanan bunyi-bunyi onomatopik seperti kukuruyuk (bunyi ayam) berpadanan dengan cock-a-doodle-do dalam bahasa Inggris, ngeong (suara kucing) berpadanan dengan miaow, dan dor (suara senapan/pistol) berpadanan dengan bang.. Strategi ini bersifat tetap atau pasti (fixed) dan termasuk dalam phraseological repertoire idiom, klise, peribahasa, dan sejenis (Lihat Vinay dan Darbelnet dalam Venuti, 2000:90; Bell (1991) (d) Adaptasi (adaptation), yakni pengupayaan padanan kultural antara dua situasi tertentu. Strategi ini digunakan pada kasus pemadanan di mana situasi yang diacu oleh pesan bahasa sumber tidak dikenal/ dimiliki (unknown) dalam budaya bahasa target sehingga penerjemah harus menciptakan situasi yang bisa dianggap sepadan. (Lihat Vinay dan Darbelnet dalam Venuti, 2000:90--91; Bell (1991; dan Machali

13 2000: 71). Strategi ini identik dengan konsep pemadanan kultural (cultural

equivalent) dari Newmark (1988:82-83) dan konsep substitusi kultural (cultural substitution) dari Baker (1991:3134) dan Larson (1998:187190). Ungkapan kultural yang konsepnya tidak sama antara bahasa sumber dan bahasa sasaran memerlukan adaptasi seperti misalnya salam resmi pembuka surat Dear Sir dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi Dengan Hormat, bukan Tuan yang terhormat dalam bahasa Indonesia (Machali, 2000:6--7) atau sebaliknya dari bahasa Inggris (Amerika) kata dalam olah raga (permainan bola) rugby bisa dipadankan melalui adaptasi dengan sepakbola Amerika ke dalam bahasa Indonesia. (e) Pemadanan fungsional (functional equivalent), suatu strategi yang sangat umum digunakan dalam penerjemahan kata berkoneks budaya dengan cara menggunakan kata-kata yang bebas muatan budaya (culture free word) dan kadang-kadang dengan ungkapan spesifik baru (Newmark, 1988:83). Cara ini menetralisir atau menggeneralisasi kata-kata bahasa sumber dan tidak jarang cara ini disertai dengan penambahan uraian khusus. Strategi ini dinilai sebagai suatu analisis komponensial budaya dan cara yang paling akurat dalam penerjemahan karena dengan

dekulturalisasi kata-kata budaya strategi ini menduduki daerah pertengahan atau universal antara bahasa atau budaya bahasa sumber dengan bahasa dan budaya bahasa target. Menggunakan strategi ini kata baccalaurat misalnya bisa berpadanan dengan French secondary school leaving exam; Sejm dengan Polish parliament (lihat Newmark,1988:83), dan berem (bahasa Bali) dengan Balinese wine dalam bahasa Inggris. (f) Pemadanan deskriptif (descriptive equivalent) merupakan eksplikasi, yakni pemadanan yang dilakukan dengan memberikan deskripsi dan kadang-kadang dipadukan dengan fungsi. Misalnya Samurai dideskripsikan sebagai the Japanese aristocracy from the eleventh to the nineteenth century; dan fungsinya adalah to provide officers and administrators. (Newmark, 1988:8384) Strategi yang berorientasi pada makna, yakni apakah suatu konsep bahasa sumber dikenal/ dimiliki (known/shared) atau tidak (unknown) dalam bahasa target dikemukakan oleh Larson (1998). Untuk memperoleh suatu padanan yang wajar Larson menilai perlu mempertimbangkan tiga hal: (1) ada konsep yang terdapat dalam teks sumber

14 dikenal/dimiliki (known atau shared) dalam bahasa target, (2) ada konsep yang terdapat dalam bahasa sumber tidak dikenal/dimiliki (unknown) dalam bahasa target, dan (3) ada item leksikal dalam teks yang berujud key terms, yakni kata atau ungkapan yang penting bagi tema dan pengembangan teks. Alternatif strategi pemadanan konsep teks bahasa sumber yang dimiliki dalam bahasa target mencakup (a) pemadanan non-literal dengan pertimbangan bahwa karena struktur leksikal kedua bahasa berbeda maka cara pengungkapan suatu konseppun akan berbeda pula; (b) frasa despriptif, yakni pemadanan suatu konsep (sebuah kata) dengan beberapa kata yang menjelaskan konsep tersebut, seperti misalnya lebak (bahasa Bali) menjadi seratus tujupuluh lima (bahasa Indonesia) dan are (bahasa Bali/Indonesia) dengan one hundred square meters (bahasa Inggris), (c) pengunaan kata-kata yang berhubungan seperti sinonim, dan (d) penggunaan kata-kata yang memiliki hubungan generik-spesifik. Ketika konsep yang harus diterjemahkan mengacu pada sesuatu yang baru atau tidak dikenal dalam budaya target maka usaha yang harus dilakukan oleh penerjemah tidak saja mencari cara yang sesuai untuk merujuk sesuatu yang sudah menjadi bagian pengalaman penutur bahasa target tetapi juga dia harus mencari jalan untuk mengungkapkan konsep yang baru bagi penutur bahasa target tersebut. Beckman dan Callow (1974:191--211) menawarkan tiga cara strategi mencari ungkapan padanan (equivalent expression) dalam bahasa target, yakni (1) kata-kata generik dengan frasa deskriptif, (2) kata-kata pinjaman, dan (3) substitusi budaya (cultural substitution). Larson (1998:179190) sendiri mengajukan berbagai alternatif strategi pemadanan konsep bahasa sumber yang tidak dikenal atau baru bagi bahasa target, yakni (1) dengan menyatakan secara eksplisit bentuk (form) dan fungsi (function) dari suatu konsep, (2) menggunakan kata generik sebagai item leksikal padanan disertai modifikasi, (3) memodifikasikan kata-kata pinjaman (loan words), dan (4) melalui substitusi kultural (cultural substitution). Istilah bentuk (form) dalam strategi pemadanan yang menyatakan secara eksplisit bentuk (form) dan fungsi (function) dari suatu konsep, tidaklah sama pengertiannya dengan bentuk dalam istilah linguistik (linguistic form) tetapi mengacu pada bentuk pisik (physical form). Strategi ini memiliki empat alternatif: (a) suatu konsep (THING atau EVENT) dalam bahasa dan budaya bisa memiliki bentuk dan sekaligus

15 fungsi yang sama seperti misalnya konsep indra hidung yang memiliki fungsi untuk mencium dan telinga yang memiliki fungsi untuk mendengar; (b) bentuk mungkin sama tetapi fungsi yang berbeda misalnya, roti mungkin dikenal dalam kedua budaya tetapi dalam budaya yang satu roti mungkin sebagai makanan pokok yang selalu dihidangkan untuk makan pagi tetapi dalam budaya yang lainnya mungkin merupakan hidangan khusus seperti dalam pesta (bagi masyarakat Indonesia); (c) kemungkinan bentuk yang sama tidak ditemukan tetapi THING atau EVENT yang memiliki fungsi yang sama dikenal dalam dua bahasa dan budaya, misalnya roti bagi budaya Barat kemungkinan menjadi makanan utama tetapi bagi budaya Nusantara makanan utamanya adalah nasi. Dalam hal ini roti dan nasi memiliki bentuk yang berbeda tetapi memiliki fungsi yang sama dalam dua budaya; dan (d) tidakadanya korespondensi bentuk dan fungsi dalam kedua budaya sehingga penerjemah harus menggunakan frasa deskriptif baik untuk mengungkapkan bentuk maupun fungsinya. Fungsi THING atau EVENT seringkali bersifat unik secara kultural dan tidak dikenal oleh kelompok lain. Bila tidak ditemukan korespondensi antara bentuk dan fungsi penyesuaian perlu dilakukan dengan memertimbangkan dua prinsip: (1) bentuk yang diacu oleh kata bisa diganti, dihilangkan, dideskripsikan atau sebaliknya disesuaikan untuk menghindari kesalahan, zero atau makna obscure , dan (2) fungsi yang diacu oleh suatu kata bisa dibuat eksplisit untuk menghindari kesalahan, zero, atau makna obscure Pemadanan konsep bahasa sumber yang tidak dikenal/ dimiliki (unknown) dalam bahasa target dapat pula dilakukan dengan menggunakan kata generik sebagai item leksikal padanan disertai modifikasi. Modifikasi bisa dilakukan dengan (a)

mengeksplisitikan bentuk, (b) mengekplisitkan fungsi, (c) mengeksplisitkan bentuk dan fungsi, dan (d) memodifikasi dengan perbandingan untuk THINK atau EVENT yang tidak ada dalam bahasa target. Memodifikasi kata-kata pinjaman (loan words) bisa dilakukan dengan pengklasifikasian atau dengan deskripsi bentuk dan fungsi. Pemadanan konsep melalui substitusi kultural merupakan pengalihan makna kata-kata yang mengacu THING atau EVENT yang tidak sama benar tetapi dimiliki oleh bahasa target. Dalam hal ini acuan dunia nyata dan budaya target sebagai pengganti acuan yang tidak dikenal dari budaya sumber tersebut. Walaupun strategi ini sampai batas-batas tertentu selalu menyebabkan

16 distorsi makna namun harus diakui juga bahwa substitusi kultural bisa memberikan dampak padanan yang dnamis.

3. Simpulan Penerjemahan tidaklah semata-mata masalah pengalihan bahasa (linguistic transfer), atau pengalihan makna (transfer of meaning) tetapi juga pengalihan budaya (cultural transfer). Walaupun hakekat penerjemahan bisa dikatakan sebagai usaha pencarian padanan suatu teks bahasa sumber dalam bahasa target dan di dalam proses penerjemahan, penerjemah hanyalah seorang komunikator yang menjembatani alur informasi dari penulis dan pembaca namun pilihan padanan selalu tergantung tidak hanya pada sistem bahasa atau sistem yang sedang ditangani oleh seorang penerjemah tetapi juga pada bagaimana cara, baik penulis teks sumber dan penerjemah, memanipulasi sistem bahasa bersangkutan. Dengan demikian proses penerjemahan menjadi tidak bisa terlepas dari subyektivitas atau campur tangan penerjemah dan memiliki dinamika.

17 4. Pustaka Acuan Baker, Mona. 1991. In Other Words: A Coursebook on Translation. London and New York: Routledge. Bassnett, McGuire, S. 1980. Translation Studies. London and New York: Methuen, revised edition 1991,Routledge Bassnett, Susan dan Andr Lefevere (Eds.). 1995. Translation, History and Culture. USA: Cassell. Beckman, J., dan J. Callow .1974. Translating the Word of God, Grand Rapids, Michigan: Zondervan. Bell, Roger T. 1991. Translation and Translating: Theory and Practice. London: Longman Catford, J.C. 1965. A Linguistic Theory of Translation. London: Oxford University Press. Foley, William A. 1997. Anthropological Linguistics: An Introduction. UK:Blackwell Publisher Inc. Gutt, Ernst-August (1991).2000. Translation as Interlingual Interpretive Use dalam Lawerence Venuti (Ed.). The Translation Studies Reader, pp376-396. New York:Routledge. Halliday, M A K dan Raquaiya Hasan.1986. Language, Context, and Text: Aspects of Language in a Social-semiotic Perspective. Victoria: Deakin University Press. Hatim, Basil dan Ian Mason. 1990. Discourse and the Translator. London: Longman Hatim, Basil 1999. The Translator as Communicator. New York:Routledge. Hatim, Basil. 2001. Teaching and Researching Translation. England: Pearson Education Limited. Hoed, Benny H.. 1992. Kala dalam Novel, Fungsi dan Penerjemahannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hoed, Benny H. 1994. Linguistik, Semiotik, dan Kebudayaan Kita. Pidato Pengukuhan Guru Besar pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Hornby, Mary Snell, Franz Pochhacker, and Klaus Kaindl (Eds.). 1992. Translation Studies: An Interdiscipline, Amsterdam/Philadelphia: John Benyamins Publishing Company. Houbert, Frederic. 1998 , Translation as a Communication Process dalam Translation Journal and the Authors 1998 Volume 2, No. 3 July 1998; Available from: URL:http://accurapid.com/journal/htm James, Kate .2002, Cultural Implications for translation dalam Translation Journal and the Authors 2002 Volume 6, No. 4 October 2002; Available from: URL:http://accurapid.com/journal/htm Karamanian, Alejandra Patricia. 2002. Translation and Culture dalam Translation Journal and the Authors 2002 Volume 6, No. 1 January 2002. Available from: URL:http://accurapid.com/journal/htm Larson, Mildred L. 1998. Meaning-Based Translation: A Guide to Cross-Language Equivalence. (Second Edition).USA: University Press of America, Inc. Machali, Rochayah. 2000. Pedoman Bagi Penerjemah. Jakarta:Penerbit PT Grasindo Macura, Vladimr. 1995. Culture as Translation dalam Bassnett, Susan dan Andr Lefevere (Eds.). 1995. Translation, History and Culture. USA: Cassell.

18 Moeliono, Anton. M. 1995a. Implikasi Penerjemahan dalam Pengembangan Bahasa Indonesia. Materi Ceramah disampaikan pada Penataran Calon Penerjemah Buku Ajar Perguruan Tinggi. Proyek PS2PT, Dikti. Moeliono, Anton. M. 1995b .Beberapa Aspek Masalah Penerjemahan ke Bahasa Indonesia dan Aspek Teoretis dalam Penerjemahan. Dikutip dari Anton Moeliono, Kembara Bahasa, Gramedia. Materi Ceramah disampaikan pada Penataran Calon Penerjemah Buku Ajar Perguruan Tinggi. Proyek PS2PT, Dikti Newmark, P. 1988. A Textbook of Translation. London: Prentice-Hall. Nida, Eugene (1964). 2000. Principles of Correspondence dalam Lawerence Venuti (Ed.). The Translation Studies Reader, pp.126147. New York:Routledge. Nida, Eugene dan Charles Taber. 1974. The Theory and Practice of Translation. Leiden: E.J. Brill. Purwo, Bambang Kaswanti. 1995. Mendaki ke Penerjemahan yang Benar dan Baik dalam Forum Biblika. Nomor: 5, Tahun 3. Lembaga Alkitab Indonesia. Riazi, Abdolmehdi Ph.D. 2003. The Invisible in Translation: The Role of Text Structure, dalam Translation Journal and the Authors 2003 Volume 7, No. 2, April 2003; Available from: URL:http://accurapid.com/journal/htm Snell, Mary-Hornby. 1995. Linguistic Transcoding or Cultural Transfer? A Critique of Translation Theory in Germany dalam Bassnett, Susan dan Andr Lefevere (Eds.). 1995. Translation, History and Culture. USA: Cassell Sutjiati Beratha, Ni Luh. 2003. Peran Semantik dalam Penerjemahan. Pidato Pengenalan Jabatan Guru Besar Tetap pada Fakultas Sastra Universitas Udayana. Denpasar 12 April 2003. Toury, Gideon (1995). 2000. The Nature and Role of Norms in Translation dalam Lawerence Venuti (Ed.). The Translation Studies Reader, pp199211. New York:Routledge. Thriveni, C. 2002, Cultural Elements in Translation: The Indian Perspective dalam Translation Journal and the Authors 2002 Volume 6, No. 1 January 2002; Available from: URL:http://accurapid.com/journal/htm Venuti, Lawrence (Ed.) 2000. The Translation Studies Reader. New York:Routledge. Vinay, Jean-Paul dan Jean Darbelnet.(1995). 2000. A Methodology for Translation Diterjemahkan oleh Juan C. Sager dan M.J. Hamel dalam Lawerence Venuti (Ed.). The Translation Studies Reader, pp. 84112. New York:Routledge. Widyamartaya, A.1989. Seni Menterjemahkan. Yogyakarta:Penerbit Kanisius. Zaky, Magdy,2001 Translation and Language Varieties dalam Translation Journal and the Authors 2001 Volume 5, No. 3 July 2001; Available from: URL:http://accurapid.com/journal/htm