Anda di halaman 1dari 6

Cara membaca materi ini

1. Semua huruf yang tebal merupakan inti dari pokok dari suatu kalimat atau paragraf. 2. Penjelasan terdiri atas 5 pokok bahasan, yakni Pengertian aset (Halaman 1) Karakterisitik Utama Aset (Halaman 2) Karakterisitik Pendukung (Halaman 3) Pengukuran (Halaman 4) Penilaian (Halaman 5) 3. Huruf yang miring tebal miring garis merupakan kata penegas dari suatu pengertian atau penjelasan. Dalam materi yang ada dibuku, tidak semua materi akan kita presentasekan kedalam diskusi karna masalah kompleksitas dan kerumitan tata bahasa yang susah dipahami (jangan sampai menimbulkan salah persepsi). So, SELAMAT MEMBACA

Aset
Ada tiga sumber definisi aset yang diungkapkan dalam buku suwadjono, yakni aset sebagai manfaat ekonomi, sumber ekonomi, dan non sumber ekonomi. Aset sebagai manfaat ekonomi dikemukakan oleh FASB (Financial Accounting Standard Board), IASC (International Accounting Standard Comitte), dan AASB (Australian Accounting Standard Board). FASB di SFAC (Standard Financial Accounting Concept) no. 6 paragraf 25 menjelaskan bahwa aset adalah manfaat ekonomik masa datang yang cukup pasti yang diperoleh atau dikuasai/dikendalikan oleh suatu entitas sebagai akibat transaksi atau kejadian masa lalu. IASC mendefisinikan aset adalah masa manfaat ekonomik masa datang yang dapat dikendalikan perusahaan akibat adanya transaksi dimasa lalu. Menurut AASB, aset adalah jasa potensial atau masa manfaat ekonomik masa detang yang dikuasai oleh entitas akibat adanya transaksi dimasa lalu. Dalam pengertian diatas, definisi aset yang diungkapkan oleh FASB dan AASB memiliki konsepsi yang lebih luas daripada definisi aset yang diungkapkan oleh IASB. Menurut FASB dan AASB, aset dikuasai oleh entitas diimana entitas memiliki makna yang luas (bisa berbicara di sektor privat/swasta dan sektor pemerintahan/birokrat), sedangkan definisi yang diungkapkan IASB hanya sebatas penguasaan aset yang dikuasai oleh perusahaan, dimana IASB mendefinisikan aset hanya dapat dikuasi oleh perusahaan (tidak berbicara secara luas). Aset sebagai sumber ekonomi dikemukakan oleh APB (Accounting Principles Board) no. 4 paragraf 57 dimana aset didefinisikan sebagai sumber ekonomik (jasa berwujud) karna adanya unsur kelangkaan sehingga suatu entitas harus mengendalikannya dari akses pihak lain melalui transaksi ekonomik. APB juga mendefinisikan aset sebagai non sumber ekonomik. Aset sebagai non sumber ekonomik diartikan sebagai jasa tak berwujud (goodwill, rugi selisih kurs, dan pos penyesuaian) yang digunakan dalam kegiatan produktif. Di Indonesia, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai dewan standar penyusunan standar keuangan di Indonesia menganut definisi aset yang dikemukakan oleh IASC, yakni aset sebagai manfaat ekonomik masa datang. Berikut ringkasan definisi aset dari penjelasan diatas. Manfaat Ekonomik Manfaat masa datang

ASET

Sumber Ekonomik Unsur Kelangkaan Non Sumber Ekonomik

Dari definisi yang dijelaskan diatas, maka dapat diketahui karakteristik aset tersebut. Ada tiga karakteristik utama dari aset itu sendiri, yakni 1. manfaat ekonomik dimasa datang yang cukup pasti 2. dikuasai atau dikendalikan oleh entitas 3. timbul akbiat transaksi dimasa lalu penjelasan per poin 1. manfaat ekonomik dimasa datang yang cukup pasti, artinya adalah aset harus mengandung manfaat ekonomik dimasa datang yang cukup pasti. masa manfaat tersebut terukur dan dapat dikaitkan kemampuannya untuk mendatangkan pendapatan atau aliran kas dimasa datang. 2. Dikuasai atau dikendalikan oleh entitas. Dalam konsepsi aset, kriteria suatu aset tidak perlu dimiliki, namun cukup dikuasai atau dikendalikan. Makna dari dimiliki disini memuat unsur yuridis atau legal dimana aset memerlukan proses yang disebut sebagai transfer hak milik. Ketika aset dikaitkan dengan makna dimiliki, maka akan banyak akun/pos yang tidak termasuk sebagai aset sehingga tidak dilaporkan didalam neraca. Lain halnya bila aset dimaknai dengan kata dikuasai. Dikuasai memiliki arti kemampuan entitas untuk mendapatkan, memelihara/menahan, menukarkan, menggunakan manfaat ekonomik dan mencegah akses pihak lain terhadap manfaat ekonomik. Namun bukan berarti, aset tidak perlu dimiliki entitas, hanya saja kriteria dimiliki merupakan salah satu cara penguasaan aset, sedangkan penguasaan aset dapat dimiliki dengan cara pembelian, penjualan, pemberian, penemuan, penjanjian, produksi, dan lain-lain. 3. Transaksi masa lalu. Aset diperoleh akibat adanya transaksi yang terjadi dimasa lalu. Namun, transaksi masa lalu hanya merupakan syarat perlu, bukan syarat cukup untuk dapat dikatakan sebagai aset. Maksudnya adalah, kejadian transaksi masa lalu belum menjamin bahwa entitas akan memperoleh aset tersebut. Contoh, ketika perusahaan melakukan proyek pembangunan jalan untuk memudahkan akses perusahaan dalam menjangkau pelanggan. Pengerjaan jalan diproyeksikan akan berjalan selama 5 tahun. Namun ketika pembangunan berada ditahun ke-2, terjadinya sebuah bencana alam yang tidak dapat dihindari. Sehingga aset yang diproyeksikan akan diperoleh perusahaan ditahun ke-5 telah berakhir ditahun ke-2 akibat adanya bencana alam. Dari kasus diatas, dapat ditarik kesimpulan, bahwa walaupun terjadinya transaksi dimasa lalu, belum menjamin entitas akan mempunyai hak penguasaan suatu aset. Maka daripada itu, transaksi masa lalu hanya merupakan syarat perlu, bukan syarat cukup.

Selain karakterisitik utama, aset juga memiliki karakterisitik pendukung. Ada lima karakterisitik pendukung aset, yaitu 1. melibatkan kos atau non kos 2. berwujud atau tak berwujud 3. adanya daya tukar atau daya guna 4. terpisahkan 5. berkekuatan hukum penjelasan per poin 1. Melibatkan kos, artinya kos diartikan sebagai pengeluaran sumber ekonomik (contoh sumber ekonomik adalah kas). Contoh, perolehan aset berupa tanah dengan cara transaksi jual beli. Dari transaksi jual beli, perusahaan akan mengeluarkan sumber ekonomiknya (kas) untuk memperoleh tanah, sehingga aset melibatkan kos dalam perolehannya. Namun, walaupun tanpa adanya pengeluaran sumber ekonomik, tetap bisa dikatakan sebagai aset (non kos). Contoh, perusahaan memperoleh hadiah dari pemerintah berupa tanah karna pengabdiannya dalam memberdayakan masyarakat. Perolehan aset dengan cara hadiah tetap bisa dikatakan sebagai aset. 2. Berwujud artinya memiliki bentuk secara fisis (contoh, tanah, gudang & kas). Tidak berwujud berarti non fisis (contoh, hak paten, hak cipta,& goodwill). 3. Adanya daya tukar/daya guna. Karena aset harus dapat menciptakan manfaat ekonomik dimasa datang yang terukur, maka aset tersebut harus mempunyai daya tukar/guna, sehingga manfaat ekonomik dapat mengalir ke entitas. 4. Terpisahkan, khusus untuk penganut paham Chambers dan MacNeal bahwa goodwill bukan bagian dari aset. Alasan mereka mengemukakan bahwa goodwil bukan bagian dari aset karena pengakuan goodwill penuh dengan penilaian subjektif dan hipotesis , sedangkan aset merupakan sumber ekonomik yang dapat diukur dalam sebuah nilai . Pengukuruan goodwill akan menyesatkan informasi laporan neraca. 5. Berkekuatan hukum. Pegakuan aset dengan kekuatan hukum bukan merupakan syarat mutlak untuk dapat dikatakan sebagai aset. Mengingat dari kriteria utama aset dimana aset cukup dikuasai perusahaan. Makna dikuasai tidak mengandung makna yuridis (hukum), sehingga tanpa kekuatan hukum pun, entitas dapat mengakui suatu aset yang diperolehnya.

Pengukuran bukan merupakan kriteria untuk mendefisinikan aset tetapi merupakan kriteria pengakuan aset. Pengukuran adalah penentuan jumlah rupiah (kos) yang harus dilekatkan pada suatu objek aset pada saat terjadinya transaksi yang nantinya akan dijadikan dasar untuk mengukur aset tersebut. Pengukur aset pada saat pemerolehan yang paling objektif adalah jumlah rupiah yang terlibat dalam transaksi pertukaran antara dua pihak (antara penjual & pembeli) yang sama-sama sepakat atas rupiah yang diterima pembeli dan rupiah yang diterima oleh penjual. Jumlah rupiah tersebut akan menjadi pengukur aset yang diperoleh kesatuan usaha (entitas) dan akan menjadi bahan olah akuntansi yang disebut kos (kos sebagai agregat harga). Dalam konsepsi pengukuran, aset diakui pada saat pemerolehan dan pada saat pembebanan. Pada saat pemerolehan, aset diukur atas dasar pengeluaran untuk kapital (objek kos dicatat sebagai aset) dan pengeluaran untuk pendapatan (objek kos dicatat sebagai biaya). Contoh aset diukur atas dasar pengeluaran untuk kapital adalah perolehan tanah yang terjadi akibat adanya transaksi jual beli secara utuh. Untuk aset diukur atas dasar pengeluaran untuk pendapatan dicontohkan seperti penyewaan kendaraan untuk kegiatan operasional perusahaan. Pada saat pembebanan, aset diukur atas dasar kos takketerhabisan (masa manfaat ekonomi aset belum dimanfaatkan untuk menghasilkan pendapatan) dan kos keterhabiskan (masa manfaat ekonomi aset telah habis dimanfaatkan untuk menghasilkan pendapatan). Besar kecilnya kos yang harus dicatat pertama-kali sebagai pengukur sebuah aset pada saat pemerolehan ditentukan oleh dua hal yaitu 1. Batas Kegiatan/Tujuan pemerolehan 2. Jenis penghargaan penjelasan per poin 1. Batas Kegiatan/Tujuan Pemerolehan, mendefisinikan bahwa kos diukur atas semua pengeluaran (pengorbanan sumber ekonomik) yang terjadi hingga aset tersebut siap untuk dipakai atau sesuai dengan tujuan pemerolehannya. Adanya kos utama dan kos tambahan yang terjadi pada saat transaksi perolehan aset. Contoh, seperti transfer hak milik atas tanah yang dibeli perusahaan. Selain biaya pemerolehan (kos utama), ada kos-kos tambahan yang akan menambah nilai tanah, seperti biaya kepengurusan akta tanah, sehingga kos tambahan harus diakumulasi kedalam kos utama (kos tambahan muncul ketika terjadi transfer hak milik sehingga aset tersebut siap digunakan). 2. Jenis penghargaan. Ada dua jenis penghargaan yang dapat digunakan untuk mengukur kos, yaitu kos tunai (cash cost) dan nontunai/nonkas. Kos tunai merupakan jumlah rupiah yang dikeluarkan, sedangkan nontunai/nonkas merupakan kos tunai yang terkandung (nilai aset yang digunakan untuk saling bertukar/barter dengan aset lainnya)

Penilaian. Dalam konsepsi akuntansi, definisi dari penilaian adalah proses penentuan jumlah rupiah yang harus diletakan dalam tiap elemen atau pos aset di neraca . Penilaian pos aset dimaksudkan untuk menentukan berapa jumlah rupiah yang harus diletakan pasa setiap pos aset dan apa dasar penilaiannya. Tujuan penilaian aset adalah menyediakan informasi yang dapat membantu investor dan kreditor dalam menilai jumlah, saat, dan ketidakpastian aliran kas bersih ke bedan usaha menyediakan informasi semantik berupa: posisi keuangan, profitabilitas, likuiditas, dan solvensi. Hendriksen dan Van Breda (1992) mendefinisikan konsep dan basis penilaian aset atas dasar aliran aset dan waktu. Berikut skema penilaian Hendriksen dan Van Breda Nilai masukan (Perolehan Aset) Masa lalu Sekarang Masa datang Kos Historis Kos Pengganti Kos Harapan Nilai keluaran (Penjualan Aset) Harga jual masa lalu Harga jual sekarang Nilai realisasi harapan

Nilai Masukan adalah nilai/jumlah rupiah yang dikeluarkan pada saat pemerolehan aset. Kos Historis adalah kos yang menunjukan jumlah rupiah yang dikeluarkan atas dasar transaksi yang terjadi dimasa lalu (histori). Kos Pengganti adalah kos yang menunjukan jumlah rupiah yang dikeluarkan atas dasar kesepakatan antara penjual dan pembeli pada saat itu (harga kesepakatan). Kos Harapan adalah kos yang menunjukan jumlah rupiah yang dikeluarkan secara bertahap (bagian demi bagian) untuk mengharapkan nilai manfaat ekonomik aset dimasa datang. Nilai Keluaran adalah nilai rupiah/kas yang diterima pada saat penjualan aset. Harga jual masa lalu adalah jumlah kas yang diterima akibat adanya transaksi dimasa lalu. Contoh perolehan piutang (jumlah piutang yang akan diterima berdasarkan piutang yang terjadi dimasa lalu). Harga jual sekarang adalah jumlah kas yang diterima atas dasar nilai pasar yang berlaku pada saat (jika pasar normal) atau nilai likuidasi/nilai perolehan dikurang masa manfaat ekonomik (jika pasar tidak normal). Contohnya seperti pengedaran saham dibursa efek. Nilai realisasi harapan adlaah jumlah kas yang diharapkan diterima atas penjualan aset yang akan dijual dimasa datang. Contoh, penjualan tanah (nilai tanah akan mengalami peningkatan setiap tahun, sehingga ketika dijual kembali, nilai tanah akan sangat tinggi)