Anda di halaman 1dari 3

TINJAUAN PUSTAKA Sembung (Blumea balsamifera L.

DC) Menurut Sulaksana dan Darmono (2005) daun sembung diklasifikasikan sebagai Kingdom Plantae, Subkingdom Tracheobionta, Superdivisi Spermatophyta Divisi Magnoliophyta, Kelas Magnoliopsida, Subkelas Asteridae, Ordo Asterales, Famili Asteraceae, Genus Blumea dan Spesies Blumea balsamifera. Tanaman sembung (Blumea balsamifera) dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Tanaman Sembung (Blumea balsamifera) (Foto Penelitian, 2007) Sifat Fisik Sembung Sembung (Blumea balsamifera) merupakan tumbuhan asal Nepal (Dalimartha, 2005). Sembung termasuk tanaman perdu yang tumbuh tegak, tingginya dapat mencapai 4 meter, batangnya berkayu lunak dan berambut halus. Daunnya tunggal, bentuk daun bulat telur sampai lonjong, bagian pangkal dan ujung lancip, pinggir daun bergerigi, permukaan daun bagian atas berambut agak kasar dan kaku serta bagian bawah berbulu halus seperti beludru (Mulyani dan Gunawan, 2002). Daunnya mengeluarkan aroma seperti kamper apabila diremas. Tanaman ini tumbuh di daerah berketinggian hingga 2200 m di atas permukaan laut. Perbanyakannya dapat dilakukan dengan biji atau pemisahan tunas yang keluar dari akar (Mursito, 2002). Tumbuhan ini dapat tumbuh baik di tempat terbuka maupun di tempat yang agak terlindungi, sering tumbuh di tepi-tepi sungai, tanah ladang, pekarangan, baik di lahan berpasir maupun tanah yang agak basah (Mulyani dan Gunawan, 2002). Daun sembung dalam skala besar diambil dari kebun sebanyak 4 kali setahun. Produksi daun sembung segar di Vietnam adalah 50 ton/ha. Sembung di Indonesia belum dibudidayakan, namun penggunaan bahan baku untuk obat di Indonesia pada tahun 1998 mencapai 23.812,55 kg (Susiarti, 2000). Sifat Kimia Sembung Sembung memiliki kandungan zat aktif yaitu minyak atsiri 0,5% (sineol, borneol, landerol, dan kamper), flavanol, tanin, damar dan ksantoksilin (Mursito,

2002). Menurut Ragasa (2005), daun sembung memiliki kandungan zat aktif yaitu minyak atsiri 0,5% (sineol, borneol, landerol, limonene, beta-eudesmol, betacamphene, myrcene dan kamper), flavonoid, tanin, damar, saponin dan ksantoksilin. Tanin. Tanin secara umum merupakan senyawa polifenol yang alami, bersifat dapat berikatan dengan protein atau polimer lainnya seperti selulosa, hemiselulosa dan pektin untuk membentuk suatu senyawa komplek yang stabil (Tangendjaja et al., 1992). Tanin dalam konsentrasi rendah mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen (Robinson, 1995). Cannas (2001) melaporkan bahwa tanin memiliki kemampuan untuk membentuk komplek dengan beberapa molekul meliputi karbohidrat, protein, mineral dan enzim pencernaan. Menurut Fahey dan Jung (1989), tanin memiliki kemampuan untuk membentuk komplek dengan protein dan enzim pencernaan sehingga mengganggu proses pencernaan pakan yang berakibat pada terhambatnya pertumbuhan ternak. Saponin. Robinson (1995) mengemukakan bahwa saponin merupakan senyawa yang menimbulkan busa jika dikocok dalam air. Saponin termasuk salah satu senyawa sterolin atau glikosida sterol berdasarkan ketidaklarutannya dalam air dan tidak beracun terhadap hewan. Menurut Widowati (2007), saponin adalah senyawa surfaktan serta bersifat imunostimulator dan antikarsinogenik. Menurut Tarmudji (2004), saponin dapat meningkatkan penyerapan gizi dalam usus karena dalam konsentrasi rendah dapat meningkatkan permeabilitas sel-sel mukosa usus. Senyawa saponin dalam dosis yang cukup tinggi dapat menekan dan menurunkan sistem kekebalan (Cheeke, 2001), sehingga terjadi perlambatan pertumbuhan. Khasiat Sembung Sembung dikenal memiliki banyak kegunaan terutama sebagai tumbuhan obat tradisional. Bagian tanaman yang digunakan adalah bagian daun. Daun sembung memiliki khasiat sebagai antiradang, memperlancar peredaran darah, mematikan pertumbuhan bakteri (bakterisidal) dan menghangatkan badan (Mursito, 2002). Efek farmakologi yang telah diketahui adalah bersifat sebagai analgenik

(mengurangi rasa sakit) (Mulyani dan Gunawan, 2002). Zainuddin (2006) mengatakan bahwa senyawa aktif yang terkandung di dalam tanaman obat seperti saponin dan tanin bersifat antiviral, antibakteri serta immunomodulator sehingga dapat meningkatkan nafsu makan ternak, ternak menjadi lebih sehat, pertumbuhan optimal dan tidak menimbulkan bau ammonia yang menyengat dalam kandang.

1.1 Latar Belakang Bangsa Indonesia telah lama mengenal dan menggunakan obat tradisional, misalnya dari tumbuhan, binatang dan mineral. Penggunaan tumbuh-tumbuhan tersebut sebagai ramuan obat untuk penyakit-penyakit tertentu. Ini merupakan suatu bukti bahwa didalam ramuan obat tersebut terdapat senyawa-senyawa kimia yang sangat berkhasiat. ( Hariana, 2004) Tumbuh-tumbuhan termasuk salah satu sumber bahan alam hayati yang memegang peranan penting sebagai sumber zat kimia berkhasiat yang terdapat dialam. Kimia bahan alam selalu menarik perhatian para ahli kimia untuk mencari senyawa baru. Senyawa kimia beserta derivat-derivatnya yang bermanfaat untuk kehidupan pada tumbuhan merupakan proses yang sangat menarik untuk dipelajari sehingga mendorong perhatian peneliti untuk mengenal dan mengetahui struktur senyawa hasil isolasi senyawa kimia yang terkandung pada tumbuhan. Indonesia termasuk salah satu negara yang mempunyai banyak tumbuhan berkhasiat. Salah satu tumbuhan tersebut adalah Merambung,yang lebih sering disebut Sembung Jawa (Vernonia arborea Buch-Ham.) Bagian yang sering digunakan sebagai obat adalah daun, akar yang berfungsi sebagai