Anda di halaman 1dari 7

I.

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Tanaman gambir (Uncaria gambir Roxb) merupakan komoditi ekspor terbesar di

wilayah Sumatera Barat. Volume ekspor tanaman gambir pada tahun 2000 sebesar 6.633 ton dan meningkat pada tahun 2004 menjadi 12.438 ton. Hal ini menunjukan terjadi peningkatan volume ekspor sebesar 87,49% dan peningkatan nilai 17,16% selama kurun waktu 5 tahun (Dhalimi 2006). Berdasarkan bukti empiris, selama ini daun gambir dimanfaatkan oleh masyarakat di wilayah Sumatera Barat sebagai kelengkapan untuk menyirih yang dipercaya dapat menguatkan gigi dan menghilangkan rasa nyeri pada gigi serta sebagai obat tradisional seperti obat luka, obat diare, dan penghilang rasa nyeri pada gigi. Selain itu getah dan daun gambir juga dimanfaatkan oleh beberapa negara importer gambir sebagai pewarna makanan dan penyamak kulit. Kozai et al (1995) melaporkan bahwa ekstrak gambir mempunyai daya hambat terhadap bakteri Streptococcus mutans yang menyebabkan terjadinya plak gigi. Terjadinya plak gigi dapat menyebabkan karies pada gigi dan berlanjut dengan gingivitis. Masalah ini banyak terjadi pada masyarakat, yang selain merusak gigi juga menyebabkan bau mulut. Beberapa bukti ilmiah mengenai khasiat tanaman gambir juga diketahui melalui hasil penelitian yang dilakukan oleh Kresnawati et al. (2009) yaitu ekstrak etanol daun gambir yang termetilasi memiliki aktivitas antioksidan yang lebih kecil dibandingkan sebelum dimetilasi. Idris (1997) melaporkan bahwa patogen Fusarium sp penyebab penyakit bercak daun tanaman klausena dapat dikendalikan dengan menggunakan pestisida nabati yang berasal dari ekstrak daun gambir. Hal tersebut menunjukan adanya komponen bioaktif yang terdapat pada tanaman gambir yang diduga berpotensi sebagai antimikroba. Menurut Mylliniemi (2004) terdapat beberapa kelompok senyawa kimia yang berpotensi sebagai zat antibakteri di antaranya senyawa fenol, alkohol, halogen, detergen, senyawa asam dan basa, senyawa ammonium kuarterner, dan gas khemosterilan. Flavonoid merupakan kelompok senyawa fenol dan paling banyak ditemukan hampir di semua jenis tumbuhan.

Hermawan (2009) menyebutkan bahwa komponen bioaktif utama pada daun gambir adalah flavonoid (terutama katekin sekitar 75%), zat penyamak (22-50%), serta sejumlah alkaloid, tanin dan turunan dihidro- dan oksonya. Literatur lain menyebutkan komponen kimia terbesar pada tanaman gambir terdapat pada bagian daun berupa senyawa flavonoid (katekin 50%), Pyrocatechol 20-30%, Gambir fluoresensi 1-3%, Catechu merah 3-5%, Quersetin 2-4%, Fixed Oil 1-2%, Lilin 1-2%, dan sedikit alkaloid (Lucida et al 2007). Berdasarkan banyak manfaat dan kegunaan yang dihasilkan dari tanamn gambir tersebut, maka penulis tertarik untuk menulis maklah ini dengan judul Pembuatan Obat Kumur Non Alkohol dari Tanaman Gambir. 1.2. Tujuan Adapun tujuan dari penuliusan maklah ini adalah untuk mengetahui pengaruh senyawa katekin dari gambir sebagai bahan pembuat obat kurmur non alkohol.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Tanaman Gambir (Uncaria gambir Roxb) Gambir adalah sejenis getah yang dikeringkan yang berasal dari ekstrak remasan daun dan ranting tumbuhan bernama sama (Uncaria gambir Roxb.). Klasifikasi Ilmiah: Kerajaan Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Gentianales : Rubiaceae : Uncaria : U. gambir Tanaman gambir tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian sampai 900 m dari permukaan laut. Tanaman ini membutuhkan cahaya matahari penuh serta curah hujan merata spanjang tahun. Bagian tanaman gambir yang dipanen adalah daun dan ranting yang selanjudnya diolah untuk menghasikan ekstrak gambir yang bernilai ekonomis (Zamarel dan Hada, 1991). Panen atau pemangkasan daun dilakukan setelah tanaman berumur 1,50 tahun. Pemangkasan dilakukan 2 3 kali setahun dengan selang 4 atau 6 bulan. Pemangkasan daun dan ranting harus segera diolah , karena jika pengolahan ditunda sampai 24 jam, getahnya akan berkurang. Dewasa ini produk gambir di Indonesia banyak diproduksi di Sumatra barat. Gambir adalah ekstrak air panas dari daun dan ranting tanaman gambir yang disedimentasikan dan kemudian dicetak dan dikeringkan. Hampir 95% produksi dibuat menjadi produk ini, yang dinamakan betel bite atau plan masala. Bentuk cetakan biasanya silinder, menyerupai gula merah. Warnanya coklat kehitaman. Gambir (dalam perdagangan antarnegara dikenal sebagai gambier) biasanya dikirim dalam kemasan 50kg. Bentuk lainnya adalah bubuk atau "biskuit". Nama lainnya dalah catechu, gutta gambir, catechu pallidum (pale catechu).

Teknik pengolahan gambir di Indonesia dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu pengolahan gambir cara rakyat, cara Cina, dan cara Eropa. Pada pengolahan gambir cara rakyat daun dipisahkan dari ranting . Selanjudnya daun dicelupkan selama 1 1,50 jam dalam air mendidih dan setiap 0,50 jam dibalik . Daun kemudian dikempa dan dimasak kembali selama 0,50 jam dan ekstrak gambir yang diperoleh diendapkan selama 12 jam. Padatan hasil ekstraksi dipisahkan dan ditiriskan kemudian dicetak dan dikeringkan dengan dijumur atau dipanaskan di atas bara api. Gambir antara lain digunakan sebagai zat pewarna industri tekstil, ramuan makan sirih ,ramuan obat,. Penyamak kulit dan ramuan cat. Gambir juga dapat menghambat pertumbuhan jamur dan cukup menghambat dalam pertumbuhan bakteri dan anti jamur. Gambir mengandung senyawa fungsional yang termasuk dalam golongan senyawa polifenol. Senyawa polifenol dalam gambir terutama adalah katekin (Heyne, 1987). Gambir komersial diperoleh dengan pengolahan daun gambir dengan metoda perebusan, pengepresan, dan pengeringan padatan. Dalam perdagangan, salah satu komponen mutu gambir ditentukan berdasarkan pada kandungan katekinnya. Untuk gambir Mutu I, II, dan III kandungan katekin minimal secara berurut-urut adalah 40 persen, 30 persen, dan 20 persen (Risfaheri et al., 1993).

2.2. Senyawa Polyfenol Pada Tanaman Gambir Senyawa Polifenol alami merupakan metabolit sekunder tanaman tertentu, termasuk dalam atau menyusun golongan tanin. Tanin adalah senyawa fenolik kompleks yang memiliki berat molekul 500-3000. Tanin dibagi menjadi dua kelompok atas dasar tipe struktur dan aktivitasnya terhadap senyawa hidrolitik terutama asam, tanin terkondensasi (condensed tannin) dan tanin yang dapat dihidrolisis (hyrolyzable tannin) (Naczk et al., 1994 dan Hagerman et al., 2002). Polifenol memiliki spektrum luas dengan sifat kelarutan pada suatu pelarut yang berbedabeda. Hal ini disebabkan oleh gugus hidroksil pada senyawa tersebut yang dimiliki berbeda jumlah dan posisinya. Ekstraksi suatu bahan pada prinsipnya dipengaruhi oleh suhu, makin tinggi suhu yang digunakan, makin tinggi ekstrak yang diperoleh. Namun demikian, bahan hasil ekstraksi dengan berbagai tingkat suhu belum tentu memberikan hasil yang siknifikan dari

jumlah senyawa polyfhenol yang dihasilkan, perlu dilakukan proses lanjutan agar ekstrak senyawa polyfhenol akan didapatkan dalam konsentrasi tinggi.Oleh sebab itu, ekstraksi bahan pada suhu yang berbeda perlu dilakukan. Untuk memperoleh hasil ekstraksi yang tinggi , tidak hanya ditentukan oleh temperature ektraksi tapi juga ditentukan oleh jenis solvent yang digunakan. Hasil senyawa polyfhenol tertinggi akan didapatkan dengan menggunakan solvent Etyl ecetat (Smith at al 2003). Metode dalam proses ekstraksi juga mempengaruhi untuk menghasilkan konsentrasi senyawa polyfhenol tertinggi. Ada dua metode yang dianjurkan untuk ektraksi ini adalah : 1. Maserasi Maserasi merupakan proses perendaman sample dengan pelrut organic yan gdigunaan pada temperature ruangan. Proses ini sangat baik terutama dalam proses isolasi perendaman bahan alam. Karena dengan perendaman sample tumbuhan akan terjadi pemecahan dinding dan membrane sel akibat adanya perbedaan tekanan di dalan dan di luar sel, sehingga metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan lrut dalam pelrut organic dan ektraksi senyawa akan lebioh semburna karena diatur lama perendaman yang dilakukan. Pemilihan pelarut dangat menentukan hasil yang didapat dari proses ektraksi. Pada penelitian ini menggunakan pelarut Etyl asetat yang bersifat polar. 2. Sokletasi Menggunakan soklet dengan pemanasan dan pelarut akan dapat dihemat karena terjadi sirkulasi pelarut yang selalu membasahi sample. Proses ini dangat baik pada senyawa yang tidak terpengaruh oleh panas. Salah satu senyawa penyusun golongan tannin adalah Katekin (Catechins) yang merupakan senyawa polyphenolik antioxidant dan merupakan senyawa flavanoid dan lenih sfesipik Flavan-3-ols. Senyawa ini banyak terkandung dalam gambir dengan kisaran 40 73 % konsentrasi. Selain itu juga Catechin banyak terkandung dalam Tea (Camellia Sinensis), dan terdapat juga dalam biji coklat. Catechin hidrat (berbentuk d, l, dan dl) mempunyai titik leleh

930 C, dan bentuk anhidridanya mempunyai titik leleh lebih tinggi, yaitu 174~1750 C. Catechin tersebut larut di dalam air mendidih dan alkohol dingin. Untuk bahan obat, importir Jerman Barat mensyaratkan kadar catechine gambir 40 - 60%, dan perusahaan farmasi Ciba Geigy mensyaratkan kadar catechin minimal 60,5%. Untuk menyamak kulit,perusahaan pengolah kulit Cuirplastek R. Bisset dan Cie mensyaratkan kandungan tanin 40%. Catechin merupakan senyawa polyphenolik memiliki sifat yang tidak stabil jika disimpan terlalu lama, mudah teroksidasi oleh cahaya dan panas. Senyawa ini akan mudah terdegradasi jika berada pada pH lebih dari 6,5 dan merupakan senyawa yang sangat reaktif. Jika dalam bentuk kristal Catechin akan berwarna Unggu dan dan menghasilkan warna violet dengan FeCl3, Melting point berkisar 131-132 oC.
OH OH OH O

OH OH

Gambar 1. Struktur Kimia Katekin

2.3. Obat Kumur Non Alkohol Selama ini, obat kumur yang diolah dari tanaman gambir yang beredar di pasaran masih mengandung kadar alkohol cukup tinggi. Hal itu menyebabkan sebagian konsumen merasa kurang nyaman saat berkumur. Selain itu, penggunaan obat kumur yang mengandung alkohol sebanyak 25 persen atau lebih disinyalir bisa meningkatkan risiko kanker mulut, tenggorokan, dan faring.

III. BAHAN DAN METODE


3.1. Bahan