Anda di halaman 1dari 17

TUGAS MANAJEMEN FARMASI PENYEDIAAN OBAT

OLEH : KELOMPOK I ADISTI NURARIFANILLAH ANDI ARFAN HARAHAP DELVINA EKA PUTRI DESI PANCA RIANA

PROGRAM PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS ANDALAS PADANG, 2012

PENYEDIAAN OBAT

Penyediaan obat adalah bagian dari proses multidisiplin, dimulai dengan penulisan resep hingga penyerahan obat, hal ini merupakan bagian yang sangat penting dalam pengobatan. Pengontrolan ketersediaan obat-obatan yang aman merupakan bagian penting pada kelangsungan sistem management obat dan merupakan subyek dari salah satu standar jaminan mutu di Departemen Kesehatan. Penyediaan obat diatur dalam kerangka kebijakan, prosedur, pelatihan staf dan pengukuran jaminan mutu. Dalam standar pengendalian manajemen obat kepala eksekutif bertangung jawab secara keseluruhan. Kepala bagian farmasi harus bertanggung jawab untuk memastikan sistem telah berjalan secara tepat dan aman serta memberikan laporan langsung kepada kepala eksekutif. Kegagalan komunikasi merupakan salah satu masalah yang sering terjadi dalam suatu manajemen. Sehingga, perlu adanya kekompakan dalam tim untuk mencapai sasaran Departemen Kesehatan dalam meminimalisir kesalahan pengobatan. Sistem penyediaan obat harus dipilih untuk memperkecil potensi kesalahan pengobatan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan metoda penyediaan obat : Memungkinkan penggunaan yang efisien dari petugas rumah sakit Pengendalian biaya, termasuk meminimalkan pemborosan Pastikan pemberian obat tepat waktu

Perlu adanya pertemuan antara legislative, professional dan kelompok lokal tertentu atau perwakilan dari pasien untuk keperluan pengobatan.

Penyediaan Obat Untuk Pasien Rawat Inap. Pengaturan Penyimpanan Obat-obatan di simpan dalam lemari pasien yang terkunci atau wadah lain yang aman. Perawat yang ditunjuk bertanggung jawab memastikan sistem untuk keamanan obat diikuti dan stok yang ada tersebut terlindungi. Farmasis bertanggung jawab atas pengisian stok obat, memberi informasi tentang obat dan lokasi lemari obat, secara teratur memeriksa dan menjamin kualitas produk pada saat penggunaan. Kunci lemari harus diberi label, disimpan terpisah dan dipegang seorang perawat. Kunci lemari obat harus disimpan pada sebuah cincin terpisah yang dapat diidentifikasi dengan mudah dan dilakukan oleh perawat yang ditugaskan bertanggung jawab. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan akses yang tidak perlu terhadap obat-obatan. Untuk pasien self-administration boleh memegang kunci cadangan untuk lemari obat mereka dan kunci asli disimpan oleh perawat yang ditunjuk bertanggung jawab. Lemari yang dapat dikunci harus tersedia terpisah untuk obat internal dan eksternal. Jika ruang kecil tidak memungkinkan lemari terpisah harus tetap diletakkan di rak terpisah. Sebuah lemari pendingin harus tersedia di semua area.

Pengecualian Obat obat yang tidak terkunci diantaranya:

Obat dalam kit darurat, dalam kotak label yang jelas dengan segel yang jelas, terus siap diakses.

Cairan Intravena, antiseptik dan larutan irigasi. Obat-obat yang dianggap aman untuk beberapa pasien.

Obat-obat yang termasuk kategori self-administration. Inhaler Tablet sublingual atau spray gliseril trinitrat Kontrasepsi oral dan produk terapi penggantian hormon Oinments dan krim Preparat insulin

Harus ada resep yang valid untuk obat. Dokter dapat menentukan bahwa pasien dapat memiliki akses siap dengan obat (inhaler atau trinitrat gliseril), selain itu adalah keputusan perawat (yang harus didokumentasikan) apakah obat bisa di tempatkan di loker samping tempat tidur pasien. Order Obat Bangsal Keselamatan dan keamanan adalah kunci masalah di sini. Staf bangsal cenderung menerima bahwa apa yang diberikan oleh apotek benar tanpa diperiksa kembali. Prosedur dan dokumentasi perlu untuk meminimalkan peluang penyalahgunaan dan kesalah pahaman. Permintaan stok rutin dilakukan secara tertulis dari perawat penangung jawab kepada tenaga farmasis. Disertai dengan tanda tangan dari perawat pemesan dan tanda tangan farmasis yang memberikan obat. Buku pencatatan pemesanan stok minimal disimpan selama dua tahun. Kemudian perawat penangung

jawab pemesanaan stok rutin memberikan rekap laporan kepada tenaga farmasis, tenaga farmasis memberikan laporan kepada atasannya. Sistem ini memungkinkan kontrol farmasi lebih besar atas kualitas dan kuantitas obat-obatan disimpan di bangsal. Tanggung jawab untuk pemesanan stok rutin obat dilakukan dari staf perawat kepada teknisi farmasi atau asisten, yang memeriksa dan meninjaunya kembali setiap waktu yang telah ditentukan, biasanya mingguan. Daftar stok harus didasarkan pada penggunaan dan disepakati antara perawat yang ditunjuk dan anggota dari staf farmasi, biasanya seorang teknisi. Stok obat biasanya dikirim ke bangsal, dalam kotak terkunci, kepada staf keperawatan untuk disimpan. Supplai obat yang telah diterima dibuat catatannya dan disimpan di bangsal dan di apotek, yang memuat tanda tangan dari perawat yang menerima obat-obatan. Supplai Obat ke pasien Individual Dispensing obat dari non-stok. Alasan penyerahan obat kepada individual mungkin termasuk untuk meminimalkan risiko bahwa pasien yang salah menerima obat terutama obat-obat khusus atau toksik, jaminan bahwa resep harus dilihat oleh farmasi, atau untuk mengontrol persediaan non-formularium. Ini dapat digunakan untuk mempromosikan pasien untuk kembali ke apotek ketika mendapatkan obatobatan khusus ketika pasien pulang. Di dalam label biasanya tidak menyertakan petunjuk penggunaan. Penyerahan obat sekali-henti. Konsepnya adalah untuk menggabungkan penyerahan obat pasien rawat inap dan pasien yang sudah boleh pulang ke dalam

satu supplai tunggal, diberi label dengan petunjuk penggunaan. Kemasan asli pabrik biasanya dibagikan dan pasien dipulangkan dengan apa yang tersisa setelah digunakan di rumah sakit. Sejumlah besar item yang secara individual dibagikan tidak dapat ditangani dalam troli obat-obatan yang konvensional, sehingga setiap pasien biasanya memiliki obat-obatan di dalam lemari di samping tempat tidur, yang juga dapat digunakan oleh pasien sendiri. Hal ini juga dapat mengurangi risiko medication error dengan membatasi pilihan obat pada waktu pemberian obat dan memungkinkan perawat untuk memberikan perawatan pasien lebih individual. Isi lemari obat harus dijaga agar selalu up-to-date dengan perubahan resep untuk memeriksa bahwa jumlah paket dan label masih sesuai atau sudah kosong, yang semuanya dapat dilakukan oleh seorang apoteker atau teknisi. Obat-obatan pasien. Pasien dirawat di rumah sakit biasanya diminta untuk membawa obat-obatan mereka untuk memfasilitasi rekaman sejarah pengobatan mereka. Rekam medic ini secara rutin dikembalikan ke apotek untuk penghancuran ketika supplai pasokan rumah sakit diperoleh. Namun, langkah untuk mengeluarkan resep dalam perawatan primer menggunakan kemasan asli pabrik telah memberikan keyakinan lebih besar dalam kegunaan yang terus menerus, tetapi hanya untuk pasien untuk siapa mereka awalnya disediakan. Di banyak rumah sakit obat-obat pasien secara rutin dikembalikan ke rumah pasien, sesegera mungkin setelah masuk, dengan keluarga atau pengasuh, dengan berbagai masukan, apakah obat-obatan yang cocok untuk digunakan. Obat-obatan secara legal adalah properti pasien, namun pasien mungkin akan bingung mengenai apakah obat sebelumnya masih harus diambil, mungkin karena obat debit, meskipun

sama seperti sebelumnya, telah diberi label dengan nama obat yang berbeda, mungkin menyebabkan dosis dobel. Sistem ini menempatkan tanggung jawab yang signifikan pada dokter umum, serta perawat konseling pasien pada obat-obatan yg dibawa pulang, untuk menjelaskan yang obat-obatan yang mana yang harus diminum di rumah. Rumah sakit perlu untuk meminta disclaimer yang akan ditandatangani ketika obat-obatan diserahkan kembali, karena risiko-risiko ini. Strategi alternatif adalah untuk obat-obatan pasien, dengan izin mereka, untuk dikirim ke apotek rumah sakit, dalam tas yang diberi label dengan nama pasien, nomor registrasi, bangsal dan jumlah kontainer, untuk diisi ulang (jika sesuai) atau penghancuran ketika resep debit diberikan. Masalah yang mungkin timbul dalam proses ini, yang mungkin timbul terutama di bangsal bedah, adalah bahwa dokter mungkin tidak meresepkan pasien yang berkelanjutan, pengobatan jangka panjang, dengan asumsi dokter tidak perlu diberi informasi dan pasien memiliki persediaan di rumah. Penundaan terjadi saat ini dikoreksi untuk melegitimasi kembalinya obat kepada pasien. Rumah sakit dengan sistem administrasi komputerisasi perlu diperiksa pada interval tertentu untuk mengidentifikasi mereka yang pulang tanpa resep yang ditebus, atau ketika apotek ditutup, atau sebelum obat pasien mencapai departemen. Pasien dan atau dokter mungkin merasa tidak terima oleh kerugian melalui sistem tersebut dan tidak mau memiliki obat-obatan untuk dibawa selanjutnya, dengan kelemahan yang melekat dalam sistem pertama. Pasien mungkin diminta untuk menandatangani formulir sanggahan jika mereka tidak mau memiliki obat-obatan mereka kembali ke apotek di bawah sistem ini, berikut penjelasan tentang risiko.

Keuntungan dari kepememilikan kotak obat untuk setiap pasien adalah bahwa obat-obatan pasien tidak hilang dalam sistem. Mereka dapat digunakan, jika perlu, selama tinggal di rumah sakit, dan sisanya dikeluarkan di debit dengan konseling pasien. Sebelum menggunakan, kesesuaian mereka harus dinilai, dengan berbagai cara yang dilakukan oleh apoteker, teknisi, dokter atau perawat di rumah sakit berbeda. Nilai penghematan keuangan secara keseluruhan bervariasi dengan biaya dari langkah ini dan juga jenis pasien yang bersangkutan. Namun, manfaat yang signifikan dalam perawatan pasien telah dicapai dengan, setidaknya, tanpa biaya tambahan. Kriteria penerimaan juga bervariasi antara rumah sakit. Contoh dari persyaratan minimum adalah bahwa obat harus:

masih diperlukan oleh pasien dapat diidentifikasi secara positif, tanpa pencampuran dengan produk lain atau kekuatan lain. Kemungkinan kesalahan pengeluaran terjadi harus

dipertimbangkan perlu diperhatikan tanggal daluarsa obat, sediaan-sediaan mata hanya bias digunakan ketika diperoleh supplai baru diberi label secara benar dengan nama pasien, nama produk dan kekuatan, alamat pemasok dan tanggal pengeluaran

hanya satu jenis atau merek. Batch campuran dalam countainer yang sama tidak akan diterima

System unit dosis. Sistem unit dosis telah diadopsi cukup luas di Amerika Utara dan banyak negara Eropa tetapi terbatas di Inggris. Konsepnya adalah bahwa apotek menyediakan obat-obatan untuk bangsal dalam paket unit tunggal, baik sesaat sebelum waktu pemberian atau setiap hari atau (untuk waktu tinggal yang lama) setiap minggu, dengan menempatkannya di laci lemari obat, troli atau kaset pasien. Sejauh mungkin dosis obat cair yang dikemas dalam wadah individu dan tablet dan kapsul secara individual dibungkus dalam foil atau plastik. Idealnya, suntikan disusun ke dalam jarum suntik, dilarutkan atau diencerkan jika perlu. Setiap paket sepenuhnya diberi label dengan isinya (tetapi belum tentu nama pasien), yang memungkinkan identifikasi positif dari isi sampai dengan saat administrasi, sehingga mengurangi potensi kesalahan. Jumlah dosis yang diberikan sudah cukup sampai kunjungan berikutnya. Keuntungan utama dari sistem ini adalah pengurangan potensi kesalahan pengobatan. Dalam uji coba di Leeds, menggantikan sistem bangsal stok lengkap, ditemukan pengurangan sejumlah 54% dalam tingkat kesalahan administrasi obat. Waktu perawatan dapat dihemat, bahkan jika bisa dirilis, itu akan menjadi tidak cukup untuk mengimbangi kebutuhan tenaga farmasi tambahan. Penyediaan Obat Untuk Pasien Rawat Jalan. Tiga pilihan yang tersedia : penyerahan obat oleh apotek rumah sakit, penyerahan obat oleh apoteker komunitas dari resep dokter rumah sakit, atau rujukan pasien kembali ke dokter mereka. Pilihan untuk merujuk pasien kembali ke dokter mereka untuk meresepkan tergantung pada penerimaan dari pengalihan tanggung

jawab klinis. Keuntungan utama dari penyerahan obat untuk pasien rawat jalan dari departemen farmasi rumah sakit adalah:
segera dimulainya pengobatan menyediakan obat-obat yang hospital-only fasilitas untuk memasok bahan uji klinis kenyamanan pasien, yang mungkin secara klinis penting dan tidak mungkin

dapat 'diuangkan'
akses yang mudah ke pembuat resep ketika muncul pertanyaan mempertahankan compliance sesuai dengan formularium rumah sakit

Penghematan keuangan juga sering dikutip sebagai alasan untuk penyerahan obat oleh rumah sakit tetapi perlu dievaluasi secara cermat. Rumah sakit membayar PPN pada obat-obatan, di mana penyerahan obat oleh apoteker farmasi masyarakat adalah gratis dan keuntungan yang diperoleh melalui kontrak rumah sakit mungkin tidak cukup untuk mengimbangi perbedaan ini. Diskon bervariasi dengan kelompok produk yang berbeda, sehingga beberapa klinik mungkin lebih ekonomis dipasok melalui rumah sakit, selain melalui apotek masyarakat. Biaya staf juga penting, terutama untuk apotek rawat jalan khusus, dimana staf kurang dimanfaatkan dapat berarti biaya per resep jauh lebih tinggi daripada biaya penyerahan obat oleh apoteker masyarakat. Faktor yang paling signifikan, bagaimanapun, mungkin adalah jumlah yang ditentukan dan apakah mengikuti formularium. Pedoman nasional di Inggris adalah minimal 14 hari pengobatan harus diberikan, jika dilakukan peresepan

oleh rumah sakit untuk pasien rawat jalan, dan 7 hari untuk mereka yang dirawat di kecelakaan dan darurat. Penyerahan obat oleh farmasi rumah sakit tidak mungkin selalu berarti kontak langsung dengan pasien. Sebagai alternatifnya, obat-obatan diberi label untuk pengobatan standar di departemen (misalnya Gawat Darurat) yang mana staf medis atau perawat dapat memasukkan nama pasien, sebuah daftar masalah diperlukan untuk mempertahankan jejak audit dan mengurangi potensi penyalahgunaan obat. Kelemahan pada pemberian obat oleh rumah sakit termasuk waktu menunggu yang lama, walaupun mungkin ada ruang untuk apotek untuk mengambil tindakan yang menghasilkan peningkatan yang signifikan. Kelemahan utama untuk rumah sakit adalah bahwa ia mengalihkan apoteker dan teknisi dari peran klinis ke bangsal. Kendali obat di rumah sakit Penanganan kendali obat di rumah sakit tunduk pada undang-undang, panduan National Health Systems (Duthie dan laporan Aitkin) dan kebijakan penanganan obat lainnya yang terpercay. Beberapa variasi antara rumah sakit karena itu tak terelakkan. Peresepan Resep selalu diperlukan dalam praktek di rumah sakit. Mereka harus memenuhi persyaratan dari Peraturan Penyalahgunaan Obat Tahun 2001 jika mereka diserahkan di apotek untuk pasien individual. Resep faksimili tidak dapat diterima untuk memfasilitasi penyediaan obat pada resep debit. CD tidak dapat dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam arah kelompok pasien ini.

Pemesanan Stok obat untuk bangsal, ruang operasi atau departemen lain diperoleh dengan kakak atau adik bertindak bertanggung jawab, dengan menggunakan daftar permintaan duplikat yang desain standar di seluruh nasional (dan biasanya juga digunakan di rumah sakit swasta) untuk memenuhi persyaratan hukum. Tanda tangan mereka harus diperiksa terhadap daftar yang disediakan oleh manajemen perawat. Praktisi departemen operasi belum secara hukum berwenang untuk permintaan. Hanya satu buku permintaan boleh digunakan dalam setiap lingkungan atau departemen, tetap terkunci, dan yang baru harus diperlakukan sebagai alat tulis terkontrol, ditebar hanya dalam farmasi. Semua permintaan resmi dan salinan harus disimpan selama minimal 2 tahun.

Penjagaan Rekaman Pendaftaran obat di bangsal dan ruang lain diwajibkan oleh panduan pada NHS (National Health System). Penggunaan mereka harus dianggap sebagai keharusan. Saldo persediaan CD (controlled drugs) harus direkonsiliasi untuk praktek yang baik' setidaknya sekali setiap 24 jam oleh dua orang perawat, menurut Duthie. Jika ketidaksesuaian tidak muncul, frekuensi ini meminimalkan jumlah perawat untuk dipertanyakan. Register harus disimpan selama minimal 2 tahun sejak tanggal catatan terakhir. Perawat kedua harus memeriksa semua aspek administrasi dari CD menurut Duthie, tetapi belum persyaratan perundang-undangan. Sister atau acting sister (perawat yang bertanggung jawab) tidak dapat menyediakan CD, selain untuk

administrasi untuk pasien, dan ini memiliki implikasi ketika dosis CD diperlukan mendesak dari lingkungan lain. Administrasi tersebut harus dicatat dalam daftar bangsal dari mana obat ini diambil, disaksikan oleh seorang perawat dari bangsal itu. Jika praktek seperti ini diperbolehkan di rumah sakit, akan didefinisikan dalam kebijakan obat-obatan. Pembuangan Stok yang kadaluarsa di rumah sakit di luar lingkup peraturan. Destruksi tidak harus dihadiri oleh orang yang diotorisasi dan dapat diwakilkan kepada perawat dan farmasis. Pengaturan lokal juga harus didefinisikan untuk destruksi ampul yang digunakan sebagian. Obat milik pasien dapat dihancurkan dalam farmasi tanpa

kehadiran orang yang berwenang tapi di sini catatan harus terpisah dari register departemen. Pertimbangan khusus diterapkan untuk zat ilegal yang diambil dari pasien dan kebijakan ini harus disepakati dg penasihat hukum rumah sakit dan termasuk dalam kebijakan obat-obatan lokal. Penyimpanan Di rumah sakit swasta, obat-obat terkontrol di apotek dan di bangsal harus disimpan di lemari besi, lemari atau ruang yang baik sesuai dengan spesifikasi rinci diberikan dalam Penyalahgunaan Obat (Penitipan Aman) Peraturan 1973 atau memiliki sertifikat polisi untuk mengkonfirmasi keamanannya. Persyaratan hukum untuk NHS rumah sakit adalah bahwa CD disimpan dalam wadah terkunci (tidak ada spesifikasi), hanya untuk dibuka oleh orang yang secara sah, misalnya saudara perempuan atau adik, atau seseorang yang bertindak atas namanya. Lemari CD tidak

boleh digunakan untuk penyimpanan yang lain (termasuk barang berharga pasien) untuk meminimalkan kesempatan ketika akses diperlukan. Namun, telah

dikemukakan bahwa ampul kalium klorida mungkin disimpan di sana untuk menghindari administrasi sengaja di tempat natrium klorida. CD yang diserahkan untuk pasien individu dalam skema self-administration dapat disimpan di lemari mereka di samping tempat tidur. Uji klinis Sebuah uji klinis merupakan investigasi oleh dokter atau dokter gigi yang melibatkan pemberian produk obat kepada pasien untuk menilai keamanan produk dan efikasi. Apoteker memiliki peran kunci dalam organisasi dan manajemen uji klinis, yang jauh lebih luas dari fungsi pengadaan obat, dan ini tercermin dalam pedoman dari Royal Pharmaceutical Society. Di dalam panduan ini menjelaskan bahwa salah satu apoteker harus ditunjuk untuk mengambil tanggung jawab khusus untuk uji klinis dan menjelaskan, meninjau dari rekomendasi untuk protokol, menyiapkan pengujian, penyerahan dan pelangsungan administrasi obat. Medical Research Council (Dewan Riset Medis) mendukung keterlibatan apoteker dalam merencanakan pengujian. Semua studi penelitian yang melibatkan pasien harus memiliki komite etik, yaitu tidak tergantung pada penyidik lokal atau seorang anggota panitia apoteker. Status peraturan dari produk dalam penyelidikan harus diperiksa apakah ada lisensi produk, ditulis konfirmasi adalah bahwa pembebasan yang diperlukan dan / atau sertifikat telah diterima. Zat tanpa lisensi produk memerlukan sertifikat pembebasan dan obat-obatan dengan lisensi produk, surat pembebasan dikeluarkan (tabel di

bawah). Untuk dokter atau dokter gigi yang ingin melaksanakan uji klinisnya sendiri pada produk yang telah dilisensi namun di mana, misalnya, dosis, rute atau indikasi tidak tercakup oleh lisensi produk, pembebasan dokter atau dokter gigi sertifikat (DDX) diperlukan. CTC Sertifikat uji klinis CTX DDX

Pembebasan sertifikat uji Sertifikat pembebasan klinis dokter atau dokter gigi

Mengijinkan Mengijinkan penggunaan Memungkinkan praktisi penggunaan obat dalam obat dalam uji coba tanpa untuk melakukan uji coba memiliki CTC. Sebagian percobaan non-komersial besar uji coba dilakukan menggunakan ini

Farmasi harus memiliki salinan dari semua protokol percobaan, termasuk kode, untuk studi baik di rumah sakit atau pelayanan masyarakat. Rencana perlu dibuat untuk melanggar kode dalam keadaan darurat. Semua obat-obatan, atau bahan-bahan penyusunnya, untuk uji klinis harus dipesan, disimpan dan diserahkan oleh apotek rumah sakit. Stok terpisah tidak boleh disimpan di tempat lain di rumah sakit. Catatan yang akurat harus mengandung penerimaan, pengeluaran,, masalah, administrasi dan pembuangan dan audit yang secara teratur dilakukan oleh staf farmasi. Pembuangan produk yang tidak digunakan dalam uji coba yang disponsori perusahaan harus sesuai dengan petunjuk perusahaan. Sebuah sistem komputer, CLINTIS, telah dikembangkan tersebut untuk membantu administrasi uji coba farmasi.

Biaya untuk pekerjaan yang dilakukan dalam mendukung uji klinis merupakan masalah sulit tetapi diperlukan jika apotek memberikan dukungan yang diperlukan tanpa merugikan ke layanan normal. Sebagai contoh, sebuah tim teknisi farmasi on-call uji klinis didirikan dengan sekitar 30% dari dana dari biaya yang dikenakan kepada perusahaan farmasi.

Masa Depan Sistem penyedianan obat rawat inap telah melibatkan banyak waktu, space dan stakeholher di apotek untuk mengurangi kuantitas yang disupplaikan ke bangsal dari yang tersedia dalam jumlah besar dari produsen atau kemasan luar. Kecenderungan penggunaan kemasan asli pabrik memungkinkan memikirkan kembali tentang bagaimana apotek beroperasi. Sejumlah rumah sakit, terutama di Perth, telah mengembangkan suatu tatanan lingkungan perakitan dengan sebuah perjanjian grosir. Data-data ini dibandingkan dengan daftar saham dan kebutuhan dihitung secara otomatis, yang dikirim melalui pertukaran data elektronik untuk grosir. Pesanan dikirim dengan diberi label untuk tujuan akhir, menghilangkan biaya rehandling di rumah sakit. Menghemat tempat, stok dan waktu telah dilaporkan tetapi belum bisa dipastikan bagaimana pengaruhnya terhadap biaya bila layanan tersebut secara luas diadopsi. Otomasi menjadi lebih layak dengan adanya ketersediaan sistem robot yang menangani paket pasien, sekarang merupakan bagian penting dari praktek modern. Sebuah produk yang diminta melalui sistem komputer farmasi untuk diterbitkan sebagai bekal lingkungan atau untuk penyerahan dapat dipilih secara otomatis

menggunakan barkode paket. Kemubajiran diminimalkan dengan cara memilih lebih dulu produk yang memiliki tanggal kadaluarsa lebih dulu. Scanning barcode juga memungkinkan untuk mengidentifikasi produk yang berbeda, kekuatan atau ukuran kemasan. Produk dapat dikemas sangat kompak karena setiap celah dapat diisi tanpa memperhatikan setiap kebutuhan manusia untuk seleksi, posisi yang hafal dengan mesin computer. Di seluruh sistem bisa juga kurang lantai ruang dari jumlah yang setara dari rak konvensional sebagai lantai penuh ke langit-langit tinggi (hingga 3 meter) dapat dimanfaatkan. Laporan Audit Komisi mengutip salah satu manfaat dari memasang sistem robot di Wirral Hospital sebagai pengurangan kesalahan dispensing melaporkan 19-7 per total 100.000 item. Tingkat kesalahan sebelumnya sebanding dengan 16,3 dan 17,6 per 100.000 item dilaporkan dari rumah sakit lain. Manfaat lainnya termasuk waktu perputaran apotek berkurang, sistem pemesanan disederhanakan,

meningkatkan kehandalan pelayanan dan penggunaan staf yang lebih efisien. Karena itu jelas bahwa, setidaknya untuk fungsi penyerahan obat (dispensing), sistem otomatis seperti memenuhi seluruh kriteria yang disyaratkan dari proses penyediaan obat.