Anda di halaman 1dari 23

REFERAT

PERAN KELUARGA BERENCANA DALAM UPAYA MENURUNKAN KEMATIAN MATERNAL DI INDONESIA

Disusun Oleh :
Wan Mohamed Izham (030.04.276) Aji Patriajati (030.05.012) Thrya Medhitya (030.05.220) Bramantya W.U (030.06.045) Damar Sajiwo (030.06.055) Dennys Bercia (030.06.058) Maydina Putri A (030.06.160) Reni Maulina (030.06.215)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT PERIODE 21 JANUARI 30 MARET 2013 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA 2013

KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya, akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah PERAN KELUARGA BERENCANA DALAM UPAYA MENURUNKAN KEMATIAN MATERNAL DI INDONESIA sebagai salah satu tugas dalam rangka mengikuti Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas Trisakti Periode 21 Januari 2013 30 Maret 2013. Kami mengucapkan terima kasih kepada Dr. Raditya W, SpOG selaku pembimbing kami dan dokter-dokter di Puskesmas yang turut membantu dalam menyusun tugas ini hingga referat ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya. Penyusun berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penyusun sendiri khususnya. Akhir kata penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini.

Jakarta, Maret 2013

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka kematian ibu merupakan angka yang didapat dari jumlah kematian ibu untuk setiap 100.000 kelahiran hidup, sehingga berkaitan langsung dengan kematian ibu. Kematian ibu adalah kematian wanita dalam kehamilan atau sampai dengan 42 hari pasca-terminasi kehamilan, yang disebabkan kehamilan, manajemen tatalaksana, maupun sebab lain. Penyebab kematian tersebut dapat berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan kehamilan, dan umumnya terdapat sebab utama yang mendasari.

Tingginya angka kematian ibu di Indonesia akibat resiko tinggi untuk melahirkan menjadi perhatian pemerintah. Sehingga diadakannya program keluarga berncana (KB) sebagai salah satu cara untuk mengurangi tingginya angka kematian ibu. banyaknya anakanak terlantar dan dengan jarak usia yang sangat dekat juga menjadi perhatian pemerintah. Alat kontrasepsi yang saat ini sudah tersedia bermacam-macam. Selain adanya alat kontrasepsi untuk wanita, juga tersedia alat kontrasepsi untuk pria. Hanya saja yang menjadi masalah saat ini, kurangnya pengetahuan akan metode memilih kontrasepsi,

keuntungan,kerugian, serta efek samping dari pemakaian alat kontrasepsi tersebut. Dan alat kontrasepsi yang sangat mudah di dapatkan seperti di minimarket. Tugas kita sebagai tenaga medis yaitu berusaha membantu masyarakat agar mereka mau menggunakan alat kontrasepsi untuk mewujudkan program pemerintah yaitu setiap keluarga memiliki anak 2 orang.

BAB II PEMBAHASAN

A.Definisi

Upaya peningkatkan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil Keluarga Berencana (Family Planning, Planned Parenthood) : suatu usaha untuk Menurut WHO (World Health Organisatio) Expert Commite 1970 definisi keluarga

yang bahagia sejahtera (Undang-undang No. 10/1992).

menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarakkehamilan dengan memakai kontrasepsi.

berencana adalah : Tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk : 1. Mendapatkan objektif-objektif tertentu 2. Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan 3. Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan 4. Mengatur interval antara kehamilan 5. Mengontrol waktu saat kelahirran dalam hubungan dengan umur suami istri 6. Menentukan jumlah anak dalam keluarga Dari tahun ketahun akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan ibu,kb dan reproduksi cenderung makin baik.

Secara garis besar definisi ini mencakup beberapa komponen dalam pelayanan kependudukan/KB yang dapat diberikan sebagai berikut : 1. Komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) Tujuan : a) Meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktek KB sehingga tercapai pena,bahan peserta baru b) Membina kelestarian peserta KB c) Meletakkan dasar bagi mekanisme sosio-kultural yang dapat menjamin berlangsungnya proses penerimaan KIE dapat dikelompokan menjadi 3 kegiatan : KIE massa KIE kelompok KIE perorangan

Menurut media yang digunakan, kegiatan KIE dapat diperinci sebagai berikut : - Radio - Televisi - Mobil unit penerangan - Penerbitan / publikasi - Pers / surat kabar - Film - Kegiatan promosi - pameran
6

2. Konseling Konseling merupakan tindak lanjut dari KIE. Bila seseorang telah termotivasi melalui KIE, maka selanjutnya ia perlu diberikan konseling. Jenis dan bobot konseling yang diberikan sudah tentu terrggantung pada tingkatan KIE yang telah diiterimanya. Konseling dibutuhkan bila seseorang menghadapi suatu masalah yang tidak dapat dipecahkannya sendiri. Tujuan konseling adalah : 1. Memahami diri secara lebih baik 2. Mengarahkan perkembangan diri sesuai dengan potensinya 3. Lebih realistis dalam melihat diri dan masalah yang dihadapi, sehingga : Mampu memecahkan masalah secara kreatif dan produktif Memiliki taraf aktualisasi diri sesuai dengan potensi yang dimiliki Terhindar dari gejala-gejala kecemasan dan salah penyesuaian diri Mampu menyesuaikan dengan situasi dan lingkungan Memperoleh dan merasakan kebahagiaan

Dalam konseling diadakan percakapan dua arah untuk : 1. Membahas dengan calon peserta berbagai pilihan kontrasepsi yang tersedia 2. Memberikan informasi selengkap mungkin mengenai konsekuensi pilihannya, baik ditinjau dari segi medis, teknis maupun hal-hal lain yang non medis agar tidak menyesal kemudian. 3. Membantu calon peserta KB memutuskan pilihannya atas metode kontersepsi yang sesuai dengan keadaan khusus pribadi dan keluarganya 4. Membantu peserta KB dalam menyesuaikan diri terhadap kondisi barunya, terutama bila ia mengalami berbagai permasalahan (nyata/tidak nyata/ semu)

5. Informasi yang diberikan meliputi : Arti keluarga berencana Manfaat keluarga berencana Cara ber-KB atau metode kontrasepsi dan penjelasannya Pola perencanaan keluarga dan penggunaan kontrasepsi yang rasional Rujukan pelayanan kontrasepsi

Hal-hal yang perlu diperhatikan supaya konseling berhasil dengan baik adalah bahwa konseling merupakan suatu kegiatan dalam hubungan antar-manusia, di mana kita melakukan serangkainan tindakan yang akhirnya akan membantu peserta/calon peserta memecahkan permasalahan yang akan dihadapinya, antara lain masalah pemilihan dan penggunaan kontrasepsi yang paling cocok dengan keadaan dan kebutuhan yang dirasakannya. Bila setiap calon peserta KB, sebelum memakai kontrasepsi melalui proses konseling yang baik, maka kelangsunga pemakaian akan lebih tinggi. Tehnik-tehnik konseling yang biasa dipergunakan : 1. Cara supportif; untuk memberikan dukungan kepada peserta/calon peserta, karena mereka dalam keadaan bingung dan ragu-ragu yaitu dengan menangkan/menenteramkan dan menumbuhhkan kepercayaan bahwa ia mempunyai kemampuan untuk membantu dirinya sendiri. 2. Katarsis; dengan member kesempatan kepada mereka untuk mengungkapkan dan menyalurkan semua perasaan yang dimilikinya untuk menimbulkan perasaan lega. 3. Membuat refleksi dan kesimpulan atas ucapan-ucapan serta perasaan-perasaan yang tersirat dalam ucapan-ucapannya 4. Memberi semua informasi yang diperlukannya untuk membantu peserta/calon peserta membuat keputusan

3. Pelayanan kontrasepsi (PK) Mempunyai dua tujuan : 1. Tujuan umum : Pemberian dukungan dan pemantapan penerimaan gagasan KB yaitu dihayatinya NKKBS 2. Tujuan pokok : Penurunan angka kelahiran yang bermakna

Guna mencapai tujuan tersebut maka ditempuh kebijaksanaan mengkategorikan tiga fase untuk mencapai sasaran yaitu : 1. Fase menunda perkawinan/kesuburan Fase menunda kehamilan bagi PUS dengan usia istri kurang dari 20 tahun dianjurkan untuk menunda kehamilannya. Alasan menunda/mencegah kehamilan : Umur dibawah 20 tahun adalah usia yang sebiknya tidak mempunyai anak dulu karena berbagai alasan Prioritas penggunaan kontrasepsi Pil oral, karena peserta masih muda Penggunaan kondom kurang menguntungkan, karena pasangan muda masih tinnggi frekuensi ber-sanggamanya, sehinngga akan mempunyai kegagalan tinggi Penggunaan IUD-mini bagi yang belum mempunyai anak pada masa ini dapat dianjurkan, terlebih bagi calon peserta dengan kontra-indikasi terhadap Pil oral Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan : a) Reversibilitas yang tinggi, artinya kembalinya kesuburan dapat terjamin hampir 100%, karena pada masa ini peserta belum mempunyai anak. b) Efektivitas yang tinggi, karena kegagalan akan menyebabkan terjadinya kehamilan dengan resiko-tinggi dan kegagalan ini merupakan kegagalan program 2. Fase menjarangkan kehamilan
9

Periode usia istri antara 20-30/35 tahun merupakan periode usia paling baik untuk melahirkan, dengan jumlah anak 2 orang dan jarak antara kelahiran antara 2-4 tahun. Hal ini dikenal sebagai Catur Warga Alasan menjarangkan kehamilan : a) Umur antara 20-30 tahun merupakan usia yang terbaik untuk mengandung dan melahirkan b) Segera setelah anak pertama lahir, maka dianjurkan untuk memakai IUD sebagai pilihan utama c) Kegagalan yang menyebabkan kehamilan cukup tinggi namun disini tidak/kurang berbahaya karena yang bersangkutan berada pada usia mengandung dan melahirkan yang baik d) Di sini kegagalan kontrasepsi bukanlah kegagalan program Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan : Efektifitas cukup tinggi Reversibilitas cukup tinggi karenapeserta masih mengharapkan punya anak lagi Dapat dipakai 2-4 tahun yaitu sesuai dengan jarak kehamilan anakyang direncanakan Tidak menghambat air susu ibu (ASI), karena ASI adalah makanan terbaik untuk bayi sampai umur 2 tahun dan akan mempengaruhi angka kesakitan dan kematian anak. 3. Fase menghentikan/mengakhiri kehamilan/kesuburan Periode umur penduduk diatas 30 tahun, terutama di atas 35 tahun, sebaiknya mengakhiri kesuburan setelah mempunyai 2 orang anak. Alasan mengakhiri kesuburan : Ibu-ibu dengan usia di atas 30 tahun dianjurkan untuk tidak hamil/tidak punya anak lagi, karena alas an medis dan alas an lainnya Pilihan utama adalah kontrasepsi mantap Pil oral kurang dianjurkan karena usia ibu yang relative tua dan mempunyai kemungkinan timbulnya akibat sampingan dan komplikasi
10

Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan : Efektifitas sangat tinggi. Kegagalan menyebabkan terjadinya kehamilan dengan resiko tinggi bagi ibu dan anak, disamoing itu akseptor ftersebut memang tidak mengharapkan lagi punya anak Dapat dipakai untuk jangka panjang Tidak menambah kelainan yang sudah ada. Pada masa usia tua kelainan seperti penykit jantung, darah tinggi, keganasan dan metabolic biasanya meningkat, oleh arena itu sebbaiknya tidak diberikan cara kontrasepsi yang menambah kelainan tersebut. 4. Pelayanan infertilitas Kurang lebih 10% dari pasangan usia subur di Indonesia menurut sensus 1980, tidak/belum berhasil mempunyai anak. Sesuai dengan tujuan Progran Nasional K/KB yaitu Norma Keluarga Kecil yang Bahagia Sejahtera, seyogianya diberikan pelayanan infertilitas kepada mereka ini. 5. Pendidikan seks (sex education) Dulu orang beranggapan bahwa pada waktunya orang akan tahu sendiri tentang seks. Kenyataannya tidaklah demkian. Berapa banyak dari para remaja kita yang mengalami kecelakaan karena ketidaktahuannya. Berapa persen pula dari perkawinan berakhir dengan perceraian atau berantakan kaarena ketidaktahuan itu? Jawabannya dapat terlihat di masyarakat kita. Karena itu masalah Sex Education atau Family Life Education sudah tidakdapat ditunda lagi pelaksanaannya 6. Konsultasi pra-perkawinan dan konsultasi perkawinan Kebutuhan akan hal ini secara nyata telah diperlihatkan oleh masyarakat kita dengan adanya masa pertunangan, serta nasihat perkawinan 7. Konsultasi genetik

11

Dengan program KB, maka orang akan mempunyai anak yang relative lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang hidup puuhan tahun yang lalu. Untuk itu diperlukan jaminan bahwa anak ang dilahirkan itu bebas dari kelainan genetic yang akann membebani orang tuanya dan masyarakat 8. Test keganasan Jelaslah bahwa usaha Pelayanan Keluarga Berencana terutama bergerak di bidang health maintenance. secara berkala, kita sudah terbiasa melakukan servis pada mobil kita. Namun kebiasaan untuk secara berkala melakukan servis pada tubuh kita sendiri, belumlah membudaya. Melalui program Keluarga Berencana, maka pelayanan yang bersifat health maintenance ini dapat dikembangkan. Hal inni pada gilirannya akan sangat meningkatkan pennerimaan NKKBS. 9. Adopsi Di Indonesia anak-anak yang terlantar, yang karena satu dan lain hal tidak dapat diasuh dan dibesarkan oleh orang tuanya sendiri, cukup banyak. Di lain pihak, pasangan infertile yang berjumlahh kira-kira 10% dari PUS itu, sebagian tidak pernah akan mempunyai anaknya sendiri. Alangkan indahnya jika kita dapat mempertemukan anak-anak terlantar itu dengan orang tua yang mau mengasuhnya.

12

Tujuan Program KB

Tujuan

umum

adalah

membentuk keluarga kecil cara

sesuai

dengan agar usia

kekutan diperoleh

sosial ekonomi suatu keluarga dengan

pengaturan kelahiran anak, pendewasaan :

suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Tujuan lain meliputi dari pengaturan kelahiran, perkawinan, peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.

Kesimpulan

tujuan program KB adalah

Memperbaiki kesehatan dan

kesejahteraan ibu, anak, keluarga dan bangsa; Mengurangi angkakelahiran untuk menaikkan taraf hidup rakyat dan bangsa; Memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan KB dan KR yang berkualitas, termasuk upaya-upaya menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan reproduksi.

Tujuan KB berdasar RENSTRA 2005-2009 meliputi:


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Keluarga dengan anak ideal Keluarga sehat Keluarga berpendidikan Keluarga sejahtera Keluarga berketahanan Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya Penduduk tumbuh seimbang (PTS)

Sasaran Program KB Sasaran program KB tertuang dalam RPJMN 2004-2009 yang meliputi:
1.

Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk menjadi sekitar 1,14 persen Menurunnya angka kelahiran total (TFR) menjadi sekitar 2,2 per perempuan. Menurunnya PUS yang tidak ingin punya anak lagi dan ingin

per tahun.
2. 3.

menjarangkan kelahiran berikutnya, tetapi tidak memakai alat/cara kontrasepsi (unmet need) menjadi 6 persen.
4.

Meningkatnya pesertaKB laki-laki menjadi 4,5persen.

13

5.

Meningkatnya penggunaan metode kontrasepsi yang rasional, efektif, dan Meningkatnya rata-rata usia perkawinan pertama perempuan menjadi 21 Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak. Meningkatnya Meningkatnya jumlah keluarga prasejahtera jumlah institusi dan keluarga sejahtera-1 masyarakat dalam

efisien.
6.

tahun.
7. 8.

yang aktif dalam usaha ekonomi produktif.


9.

penyelenggaraan pelayanan Program KB Nasional. Ruang Lingkup KB Ruang lingkup KB antara lain: Keluarga berencana; Kesehatan reproduksi remaja; Ketahanan dan pemberdayaan keluarga; Penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas; Keserasian kebijakan kependudukan; Pengelolaan SDM aparatur; Penyelenggaran pimpinan kenegaraan dan kepemerintahan; Peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur negara.

Strategi Program KB Strategi program KB terbagi dalam dua hal yaitu: 1. 2. Strategi dasar Strategi operasional

Strategi dasar

Meneguhkan kembali program di daerah Menjamin kesinambungan program

Strategi operasional

Peningkatan kapasitas sistem pelayanan Program KB Nasional Peningkatan kualitas dan prioritas program Penggalangan dan pemantapan komitmen Dukungan regulasi dan kebijakan Pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas pelayanan
14

Dampak Program KB Program keluarga berencana memberikan dampak, yaitu penurunan angka kematian ibu dan anak; Penanggulangan masalah kesehatan reproduksi; Peningkatan

kesejahteraan keluarga; Peningkatan derajat kesehatan; Peningkatan mutu dan layanan KBKR; Peningkatan sistem pengelolaan dan kapasitas SDM; Pelaksanaan tugas pimpinan dan fungsi manajemen dalam penyelenggaraan kenegaraan dan pemerintahan berjalan lancar.

Faktor-faktor dalam memilih metode kontrasepsi : 1. Faktor pasangan motivasi dan rehabilitas : Umur Gaya hidup Frekuensi sanggama Jumlah keluarga yang diinginkan Pengalaman dengan kontraseptivum yang lalu Sikap kewanitaan Sikap kepriaan

2. Faktor kesehatan kontraindikasi absolut atau relative : Status kesehatan Riwayat haid Riwayat keluarga Pemeriksaan fisik Pemeriksaan panggul

3. Faktor metode kontrasepsi penerimaan dan pamakaina berkesinambungan : Efektivitas


15

Efek saping minor Kerugian Komplikasi-komplikasi yang potensial Biaya

Dalam hal memilih metode kontrasepsi, kita harus dapat memandangnya dari dua sudut : Pihak calon akseptor Pihak medis/petugas KB

Macam-macam metode kontrasepsi: I. Metode Sederhana 1. Tanpa alat a. KB alamiah = natural family planning fertility awareness methods periodic abstinens pantang berkala Metode Kelender ( Ogino-Knaus) Metode Suhu Badan Basal ( Termal) Metode Lendir serviks ( Billings) Metode Simpto- Termal.

b. Coitus interruptus. 2. dengan alat a. Mekanis (Barrier) Kondom pria Barier Intra-vaginal:
16

Diafragma. cervical cap Spons (Sponge) Kondom Wanita

b. Kimiawi Spermisid Vaginal cream Vaginal foam Vaginal jelly Vaginal suppositoria Vaginal tablet (busa) Vaginal soluble film

II. Metode Modern: 1. Kontrasepsi Hormonal a. Per-oral:

17

Pil oral kombinasi (POK) Mini-pil Morning-after pil.

b. Injeksi/ Suntikan (DMPA< NET-EN, Microspheres, Microcapsules). c. Sub-Kutis: Implant (Alat kontrasepsi bawah kulit = AKBK ): Implant Non-biodegradable(Norplant, Norplant-2, ST-1435, Implanon ) Implant biodegradable (Capronor, Pellets)

2. Intra Uterine Devices (IUD, AKDR) 3. Kontrasepsi Mantap: a. Pada Wanita: Penyinaran: Radiasi Sinar-X, Radium, Cobalt, dll. Sinar laser.

Operatif, medis operatif Wanita: Ligasi tuba fallopii Elektro-koagulasi tuba fallopii Fimbriektomi salpingektomi Ovarektomi bilateral Histerektomi
18

Fimbriotexy (fimbrial Cap) Ovariotexy

Penyumbatan Tuba Fallopii secara Mekanis: Penyempitan tuba fallopii: a. Hemoclip b. Tubalband / falope Ring / Yoon band c. Spring-loaded clip d. Filshie clip Solid Plugs (Intra-tubal devices): a. Solid Silastic Intra-tubal Devices b. Polyethylene Plug c. Ceramic dan proplast Plugs d. Dacron dan Teflon Plungs Penyumbatan Tuba Fallopii secara kimiawi: Phenol (Carbolic acid ) compounds. Quinacrine Methyl-2-cyanoacrylate (MCA) Ag-nitrat Gelatin- Resorcinol- Formaldehyde (GRF) Ovabloc

b. Pada pria Operatif medis operatif pria:


19

Vasektomi/vasektomi tanpa pisau (VTP)

Penyumbatan vas deferens secara mekanis: penyempitan vas deferens: a. vaso-clips. b. Plungs Intra Vas Devices: a. Intra vassal Thread (IVD) b. Reversible Intravas device (R-IVD) c. Shug Vas Valves a. Phaser (Bionyx Control) b. Reversible intravasal Occlusive Devices (RIOD) Penyumbatan vas deferens secara kimiawi: Quinacrine Ethanol Ag-nitrats

Secara keseluruhan, terdapat 3 intervensi yang efektif dalam perbaikan kesehatan maternal, yaitu: - Tenaga terampil dalam pertolongan persalinan - Tatalaksana obstetri gawat darurat yang memadai - Keluarga Berencana Mekanisme Keluarga Berencana (KB) dalam memperbaiki kesehatan maternal, antara lain: - Menunda kehamilan dan persalinan
20

- Mencegah kehamilan dengan usia reproduksi ekstrem. - Mencegah paritas tinggi, karena berhubungan dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. - Mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan abortus yang tidak aman. - Menunda usia pertama hamil, sehingga mencegah komplikasi seperti fistula. Dari hasil penelitian PATH dan UNPF tahun 2006, dan PRB tahun 2009, ternyata KB mampu mencegah: - Sepertiga dari total kematian ibu. - Lebih dari 80 juta kehamilan yang tidak diinginkan per tahun. - Sekitar 20 juta aborsi yang tidak aman per tahun. - 685.000 anak yang kehilangan ibunya akibat kematian terkait kehamilan

21

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan . KB artinya mengatur jumlah anak sesuai kehendak Anda, dan menentukan sendiri kapan Anda ingin hamil. Layanan KB di seluruh Indonesia sudah cukup mudah diperoleh. Ada beberapa metoda pencegahan kehamilan, atau penjarangan kehamilan, atau kontrasepsi, bisa Anda pilih sendiri. Kesimpulan dari tujuan program KB adalah: Memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan ibu, anak, keluarga dan bangsa; Mengurangi angka kelahiran untuk menaikkan taraf hidup rakyat dan bangsa; Memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan KB dan KR yang berkualitas, termasuk upaya-upaya menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan reproduksi.

B. Saran Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan indikator utama kesehatan suatu negara. Upaya meningkatkan kesehatan ibu, baik dalam lingkup rumah tangga, sosial, dan masyarakat luas, harus secara sadar dilakukan berbagai pihak. Upaya-upaya ini termasuk upaya yang bersifat promotif dan preventif.

22

DAFTAR PUSTAKA

1. Saifuddin, Prof. dr. Abdul Bari, SpOG(K), MPH, dkk. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; Jakarta. 2. Saifuddin, Prof. dr. Abdul Bari, SpOG(K), MPH, dkk. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; Jakarta. 3. Arjoso, S. Rencana Strategis BKKBN. Maret, 2005. BKKBN,

1999. Kependudukan KB dan KIA. Bandung, Balai Litbang. 4. NRC-POGI, 1996. Buku Acuan Nasional Pelayanan Keluarga Berencana. Makalah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia. www. bkkbn.go.id 5. WHO. Maternal mortality in 2000. Department of Reproductive Health and Research WHO, 2003. 6. De Cheney AH, Nathaan L. Currentobstetric and gynecologic diagnosis and treatment. 9thedition. Mc. Graw Hill,Inc. 2003.

23