Anda di halaman 1dari 5

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kejang adalah masalah neurologic yang relative sering dijumpai. Diperkirakan bahwa 1 dari 10 orang akan mengalami kejang suatu saat selama hidup mereka. Dua puncak usia untuk insidensi kejang adalah decade pertama kehidupan dan setelah usia 60 tahun. Kejang terjadi akibat lepas muatan proksimal yang berlebihan dari suatu populasi neuron yang sangat mudah terpicu(focus kejang) sehingga mengganggu fungsi normal otak. Namun. Kejang juga terjadi dari jaringan otak normal di bawah kondisi patologik tertentu, seperti perubahan keseimbangan asam-basa atau elektrolit. Kejang itu sendiri, apabila berlangsung singkat, jarang menimbulkan kerusakan, tetapi kejang dapat merupakan manifestasi dari suatu penyakit mendasar yang membahayakan, misalnya gangguan metabolisme, infeksi intrakranium, gejala putus-obat, intoksikasi obat, atau ensefalopati hipertensi. Bergantung pada lokasi neuron-neuron focus kejang ini, kejang dapat bermanifestasi sebagai perubahan tingkat kesadaran dan gangguan dalam fungsi motorik, sensorik, atau autonom. Kejang dapat terjadi hanya sekali atau berulang. Kejang rekuren, spontan, dan tidak disebabkan oleh kelainan metabolism yang terjadi bertahun-tahun disebut epilepsi. Skenario 2 Kejang Seorang anak perempuan berumur 10 tahun yang dating di Poliklinik Penyakit Saraf setelah mengalami serangan kejang untuk kedua kalinya. Kedua serangan kejang tersebut berlangsung kira-kira selama 3 menit, diikuti dengan gangguan kesadaran. Setelah kesadarannya kembali

normal pasien dapat bermain game kembali. Pada saat tersebut pasien tidak mengalami demam. Orang tua pasien menyatakan belum pernah periksa ke dokter maupun minum obat anti kejang setelah serangan kejang yang pertama kali. Dikatakan juga oleh orang tua pasien bahwa pada kejang yang kedua ini sebelum kejang pasien sedang bermain game di computer. Sebelum berumur satu tahun, pasien sering mengalami kejang pada saat badannya panas. Orangtua pasien mendapatkan laporan dari sekolah, bahwa pasien sering pingsan pada saat upacara. Di poliklinik dokter mengatakan akan dilakukan pemeriksaan EEG dan pemeriksaan laboratorium serta diberi obat untuk mengatasi kejangnya. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana mekanisme kejang dan macam-macamnya? 2. Termasuk jenis kejang apakah kejang yang terdapat dalam scenario? 3. Apakah ada hubungan kejang sebelumnya dengan kejang sekarang yang tanpa disertai demam pada pasien? 4. Adakah hubungan pingsan saat upacara dengan kejang yang terjadi? 5. Faktor-faktor apa saja yang dapat menimbulkan kejang? 6. Macam-macam obat anti kejang dan cara kerjanya? 7. Bagaimana cara pemeriksaan EEG dan pemeriksaan penunjang lainnya? 8. Cara penatalaksanaan, DD (differential diagnosis), dan prognosis? C. Tujuan Pembelajaran 1. Menjelaskan anatomi, histology system saraf pusat dan tepi 2. Menjelaskan fisiologi saraf pusat dan tepi 3. Menjelaskan anatomi, histologi, dan fisiologi saraf cranial

4. Menjelaskan klasifikasi, kausa, pathogenesis, patofisiologi dari kelainan pada system saraf pusat dan tepi 5. Menjelaskan dasar-dasar diagnosis kelainan system saraf pusat dan tepi 6. Menjelaskan macam-macam cara diagnosis kelainan system saraf pusat dan tepi 7. Menjelaskan penatalaksanaan, prognosis, dan rehabilitasi pada penderita kelainan system saraf pusat dan tepi 8. Melakukan pemeriksaan pada system saraf pusat dan tepi 9. Menyusun data dari symptom, pemeriksaan fisik, prosedur klinis, dan pemeriksaan laboratorium untuk mengambil kesimpulan suatu diagnosis penyakit susunan saraf D. Manfaat Pembelajaran 1. Mampu menjelaskan anatomi, histology system saraf pusat dan tepi 2. Mampu menjelaskan fisiologi saraf pusat dan tepi 3. Mampu menjelaskan anatomi, histologi, dan fisiologi saraf cranial 4. Mampu menjelaskan klasifikasi, kausa, pathogenesis, patofisiologi dari kelainan pada system saraf pusat dan tepi 5. Mampu menjelaskan dasar-dasar diagnosis kelainan system saraf pusat dan tepi 6. Mampu menjelaskan macam-macam cara diagnosis kelainan system saraf pusat dan tepi 7. Mampu menjelaskan penatalaksanaan, prognosis, dan rehabilitasi pada penderita kelainan system saraf pusat dan tepi 8. Mampu melakukan pemeriksaan pada system saraf pusat dan tepi 9. Mampu menyusun data dari symptom, pemeriksaan fisik, prosedur klinis, dan pemeriksaan laboratorium untuk mengambil kesimpulan suatu diagnosis penyakit susunan saraf

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan Dari masalah yang terdapat di skenario dan pembahasan yang telah dilakukan berdasarkan teori-teori yang terdapat pada tinjauan pustaka, maka dapat ditarik kesimpulan antara lain : 1. 2. Diagnosis sementara untuk penyakit pasien dalam skenario adalah epilepsy jenis petit mal. Kejang demam yang dialami pasien ketika berumur 1 tahun diduga menjadi penyebab munculnya sikatrik di otak yang kemudian dapat berkembang memicu terjadinya epilepsy pasien di usia 10 tahun.
4

B.

Saran Dari permasalahan yang terdapat dalam scenario, dokter dapat menyarankan kepada pasien : 1. 2. Apabila seseorang memiliki riwayat epilepsy, harus lebih memperhatikan preventifnya. Pengobatan sebaiknya dilakukan secara teratur sesuai dengan saran dokter berdasarkan jenis atau tipe epilepsy apa yang diderita oleh pasien. 3. Pasien disarankan untuk tidak mengendarai sepeda dan kendaraan bermotor selama 3 tahun terakhir setelah pengobatan dihentikan.