Anda di halaman 1dari 13

CARA PENGAWETAN KAYU

undefined undefined, undefined


Author: Antok | Filed Under: Pengawetan Kayu

1. Cara rendaman: kayu direndam di dalam bak larutan baha pengawet yang telah ditentukan konsentrasi (kepekatan) bahan pengawet dan larutannya, selama beberapa jam atau beberapa hari. Waktu pengawetan (rendaman) kayu harus seluruhnya terendam, jangan sampai ada yang terapung. Karena itu diberi beban pemberat dan sticker. Ada beberapa macam pelaksanaan rendaman, antara lain rendaman dingin, rendaman panas, dan rendaman panas dan rendaman dingin. Cara rendaman dingin dapat dilakukan dengan bak dari beton, kayu atau logam anti karat. Sedangkan cara rendaman panas atau rendaman panas dan dingin lazim dilakukan dalam bak dari logam. Bila jumlah kayu yang akan diawetkan cukup banyak, perlu disediakan dua bak rendaman (satu bak untuk merendam dan bak kedua untuk membuat larutan bahan pengawet, kemudian diberi saluran penghubung). Setelah kayu siap dengan beban pemberat dan lain-lain, maka bahan pengawet dialirkan ke bak berisi kayu tersebut. Cara rendaman panas dan dingin lebih baik dari cara rendaman panas atau rendaman dingin saja. Penetrasi dan retensi bahan pengawet lebih dalam dan banyak masuk ke dalam kayu. Larutan bahan pengawet berupa garam akan memberikan hasil lebih baik daripada bahan pengawet larut minyak atau berupa minyak, karena proses difusi. Kayu yang diawetkan dengan cara ini dapat digunakan untuk bangunan di bawah atap dengan penyerang perusak kayunya tidak hebat. 2. Cara pencelupan: kayu dimasukkan ke dalam bak berisi larutan bahan pengawet dengan konsentrasi yang telah ditentukan, dengan waktu hanya beberapa menit bahkan detik. Kelemahan cara ini: penetrasi dan retensi bahan pengawet tidak memuaskan. Hanya melapisi permukaan kayu sangat tipis, tidak berbeda dengan cara penyemprotan dan pelaburan (pemolesan). Cara ini umumnya dilakukan di industri-industri penggergajian untuk mencegah serangan jamur blue stain. Bahan pengawet yang dipakai Natrium Penthachlorophenol. Hasil pengawetan ini akan lebih baik baila kayu yang akan diawetkan dalam keadaan kering dan bahan pengawetnya dipanaskan lebih dahulu. 3. Cara pemulasan dan penyemprotan : cara pengawetan ini dapat dilakukan dengan alat yang sederhana. Bahan pengawet yang masuk dan diam di dalam kayu sangat tipis. Bila dalam kayu terdapat retak-retak, penembusan bahan pengawet tentu lebih dalam. Cara pengawetan ini hanya dipakai untuk maksut tertentu, yaitu : a. Pengawetan sementara (prophylactic treatment) di daerah ekploatasi atau kayu-kayu gergajian untuk mencegah serangan jamur atau bubuk kayu basah. b. Untuk membunuh serangga atau perusak kayu yang belum banyak dan belum merusak kayu (represif). c. Untuk pengawetan kayu yang sudah terpasang. Cara pengawetan ini hanya dianjurkan bila serangan perusak kayu tempat kayu akan dipakai tidak hebat (ganas). 4. Cara pembalutan : cara pengawetan ini khusus digunakan untuk mengawetkan tiangtiang dengan menggunakan bahan pengawet bentuk cream (cairan) pekat, yang dilaburkan/diletakkan pada permukaan kayu yang masih basah. Selanjutnya dibalut sehingga terjadilah proses difusi secara perlahan-lahan ke dalam kayu. 5. Proses vakum dan tekanan (cara modern) :

Proses ini ada 2 macam menurut kerjanya : 1. Proses sel penuh antara lain :

Proses Bethel Proses Burnett

2. Proses sel kosong antara lain :


Proses Rueping Proses Lowry

Keduanya berbeda pada pelaksanaan permulaan. Proses Rueping langsung memasukkan bahan pengawet dengan tekanan sampai 4 atmosfer, kemudian dinaikkan sampai sekitar 7-8 atmosfer. Sedangkan pada proses lowry tidak digunakan tekanan awal, tapi tekanan langsung sampai 7 atmosfer. Beberapa jam kemudian tekanan dihentikan dan bahan pengawet dikeluarkan dan dilakukan vakum selama 10 menit untuk membersihkan permukaan kayu dari larutan bahan pengawet. Lainnya ditunggu ya.....

Standar Nasional Indonesia SNI 01-5008.8-1999

KAYU BENTUKAN (Moulding) JATI Spesifikasi : lantai, dinding, pintu, meja taman, kursi taman dan jambangan bunga
1. Ruang lingkup

Standar ini meliputi acuan, definisi, lambang dan singkatan, istilah, spesifikasi, syarat bahan baku, cara pembuatan, syarat mutu, cara uji, syarat lulus uji, syarat penandaan dan pengemasan, sebagai pedoman pengujian kayu bentukan (moulding) jati (Tectona grandis L.f) yang diproduksi di Indonesia. 2. Acuan

2.1. SNI 01-2027-1990 Moulding kayu 2.2. SNI 01-2029-1990 Kayu gergajian jati 3. Definisi

Kayu bentukan (moulding) jati adalah kayu gergajian jati yang dibentuk secara khusus melalui mesin pembentuk/pengolah serta mempunyai tujuan penggunaan tertentu. Pada standar ini terdiri

dari beberapa spesifikasi, sortimen, bentuk dan ukuran yang berfungsi sebagai lantai, dinding, pintu, meja taman, kursi taman dan jambangan bunga. 4. Lambang dan Singkatan
A B C p d I bh tmp adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah diameter cacat Mutu Prima Mutu Standar Mutu Lokal panjang diameter isi buah tiap meter panjang 4.10. 4.11. 4.12. 4.13. 4.14. 4.15. 4.16. 4.17. kel dlm klp tdk TP TTP Kp Tm adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah keliling kedalaman kelompok tidak tampak pandang tidak tampak pandang keping tidak menggerombol

4.1. 4.2. 4.3. 4.4. 4.5. 4.6. 4.7. 4.8. 4.9.

5.

Istilah

5.1. Air masuk berat adalah salah satu warna yang diakibatkan oleh air masuk Dengan penampakan pada permukaan kayu berwarna coklat sampai kehitam-hitaman. 5.2. Alur hitam (Alh) adalah alur yang berwarna hitam pada permukaan kayu yang disebabkan oleh endapan yang berwarna gelap pada pori kayu. 5.3. Alur mata kayu (Amk) adalah cacat pada kayu moulding, mempunyai alur yang rata berasal dari mata kayu yang digergaji secara Flat Sawn. 5.4. Bontos tidak rata adalah keadaan penampang dari pada kayu yang tidak rata akibat salah teknis pembikinan karena pisau tidak tajam. 5.5. Cacat terbuka adalah semua bentuk cacat yang mengakibatkan lubang pada permukaan atas kayu sehingga kelihatan terbuka. 5.6. Doreng adalah perubahan warna yang penampakannya pada kayu berwarna hitam kusam mengikuti lingkaran tumbuh dan merembet disekitarnya (belobor). 5.7. Eksterior I adalah perekat yang dalam penggunaannya tahan terhadap cuaca dalam waktu relatif lama. 5.8. Groove adalah bagian dari pada kayu yang dibuat berbentuk alur sebagai pasangan Tongue (lidah) dengan tujuan untuk memberikan kekuatan sambungan antara dua keping kayu. 5.9. Gubal adalah bagian dari kayu yang terdapat diantara kulit dan kayu teras dengan warna lebih terang dari kayu terasnya serta kurang awet. 5.10. Gumpil adalah terlepasnya sebagian kecil daripada kayu dari bentuk asalnya. 5.11. Kadar air adalah jumlah air yang terdapat dalam suatu benda atau kayu dinyatakan dalam persen.

5.12. Kelainan arah serat adalah kelainan arah umum dari pada serat terdiri dari : serat berombak (werut), serat berpadu, serat miring, serat putus, more dan serat mahkota. 5.13. Komponen mebel adalah bagian dari spesifikasi mebel di luar kelengkapan lainnya, yang terdiri dari satu sortimen atau beberapa sortimen. 5.14. Kuku macan adalah cacat pada kayu, berupa titik-titik hitam menyerupai mata kayu, pada umumya berkelompok, berasal dari cacat buncak-buncak pada kayu bundar. 5.15. Kulit tumbuh adalah kulit yang sebagian atau seluruhnya tumbuh di dalam kayu yang biasanya terdapat pada alur atau di sekeliling mata kayu. 5.16. Lubang gerek kecil/lubang jarum (Lgk) adalah sejenis lubang kecil yang berdiameter < 1,5 mm yang diakibatkan oleh serangan penggerek kecil. 5.17. Lubang kapur adalah lubang yang terdapat pada kayu yang berisi kapur atau bekas kapur. 5.18. Mata kayu sehat (Mks) adalah mata kayu yang berpenampang keras atau lebih keras dari kayu disekitarnya, tumbuh rata dan kuat pada kayu serta bebas dari pembusukan. 5.19. More adalah kelainan arah serat yang penampakannya pada permukaan kayu seperti berombak. 5.20. Moulding adalah kayu gergajian yang dibentuk secara khusus melalui moulder sehingga dapat digunakan pada bangunan dan alat-alat rumah tangga. 5.21. Moutaiser adalah lubang pada bagian kayu yang sengaja dibuat, berbentuk lonjong panjang sebagai tempat masuknya tenon, dengan tujuan memberikan kekuatan sambungan dari suatu komponen. 5.22. Pecah adalah terpisahnya serat kayu yang melebar sehingga merupakan celah dengan lebar maksimum 6 mm. 5.23. Permukaan kasar adalah kesalahan teknis pembikinan yang menyebabkan permukaan kayu tidak rata. 5.24. Permukaan tampak pandang (TP) adalah bagian atau sisi yang tampak dari arah satu sudut pandang, setelah dipasang/dirangkai. 5.25. Permukaan tidak tampak pandang (TTP) adalah bagian atau sisi yang tidak tampak dari arah satu sudut pandang, setelah dipasang/dirangkai. 5.26. Perubahan warna adalah timbulnya warna lain dari pada warna asli kayu, yang disebabkan perubahan zat-zat kimiawi dan lainnya, terdiri dari kebiruan, kehijauan, kemerahan (merah mahoni), doreng dan air masuk berat.

5.27. Presisi adalah ketepatan dan ketelitian dalam perakitan. 5.28. Profil adalah bentuk daripada kayu hasil proses moulding sesuai dengan permintaan (order). 5.29. Retak adalah terpisahnya serat kayu yang merupakan celah dengan lebar tidak melebihi 1 mm. 5.30. Serat terpadu (werut) adalah arah serat yang tidak teratur/berlainan arahnya satu sama lain. 5.31. Serat berombak/werut adalah permukaan kayu yang kasar diakibatkan oleh penggerjajian pada kayu yang berserat tidak teratur. 5.32. Serat mahkota adalah kelainan arah serat yang disebabkan oleh cara menggergaji, yang penampakannya pada permukaan (muka lebar) kayu berupa corak garis-garis lengkung dari lingkaran tahun. 5.33. Serat miring adalah arah serat yang menyimpang/tidak sejajar dengan arah sumbu kayu. Dianggap serat miring apabila penyimpangannya mulai dari setengah muka lebar, asal tidak serat putus. 5.34. Serat putus adalah arah serat kayu yang dimulai dari satu sisi panjang dan berakhir pada sisi panjang lainnya. 5.35. Tenon adalah bagian lebih pada ukuran baku dari suatu keping kayu yang sengaja dibuat sebagai pasangan moutaiser dengan tujuan untuk memberikan kekuatan sambungan dari suatu komponen. 5.36. Tongue (lidah) adalah bagian lebih dari pada kayu yang sengaja diberikan (dibuat) sebagai pasangan groove (alur) dengan tujuan untuk memberikan kekuatan sambungan antara dua keping kayu. 5.37. Ukuran baku adalah ukuran yang telah ditetapkan/disepakati sesuai dengan permintaan. 5.38. Ukuran kurang adalah kurangnya ukuran dari persyaratan ukuran baku, antara lain disebabkan oleh kayu kurang/kayu pas pada bahan bakunya, sehingga mengakibatkan tidak terserutnya dalam pembuatan moulding. 5.39. Warna gelap adalah kelainan warna kayu yang diakibatkan oleh proses pengeringan atau lainnya sehingga kayu berwarna gelap. 5.40. Warna terang adalah warna asli teras yang tidak dipengaruhi oleh salah warna (discolouration) yang timbul.

5.41. Warna sedang adalah warna kayu yang di antara warna gelap dan terang atau kombinasi dari kedua warna tersebut. 6. Spesifikasi

Spesifikasi moulding kayu jati yang termasuk dalam standar ini adalah: 6.1. Spesifikasi lantai, terdiri dari sortimen: a. b. c. d. e. f. Parket blok Jari-jari parket Parket mosaik Lam parket Finihsed flooring Listoni

6.2. Spesifikasi dinding, terdiri dari sortimen: a. Papan dinding (wall panel) b. Lis sudut bawah (skirting) c. Lis sudut atas (ceiling list) 6.3. Spesifikasi pintu, terdiri dari sortimen: a. b. c. d. Rangka (rangka bawah, rangka atas, rangka sisi, rangka tengah) Papan daun pintu (panel) Tulang kaca Lis kaca

6.4. Spesifikasi meja taman, terdiri dari komponen: a. Kaki, terdiri dari sortimen kaki meja dan palang (sundukan) meja b. Daun meja, terdiri dari sortimen rangka daun meja dan ruji-ruji daun meja 6.5. Spesifikasi kursi taman, terdiri dari komponen: a. Kaki, terdiri dari sortimen kaki kursi, tangan kursi dan palang (sundukan) kursi b. Dudukan, terdiri dari sortimen ruji-ruji dudukan dan palang (sundukan) dudukan c. Sandaran, terdiri dari sortimen ruji-ruji sandaran dan palang (sundukan) sandaran 6.6. Spesifikasi jambangan bunga, terdiri dari komponen: a. Dinding jambangan, terdiri dari sortimen kaki jambangan, palang jambangan dan dinding jambangan b. Dasaran

Ukuran sortimen moulding kayu jati dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini. Tabel 1. Ukuran sortimen moulding kayu jati
No. 1 I 1. 2. 3. 4. 5. 6. Spesifikasi/Sortimen 2 LANTAI Parket blok Jari-jari parket Parket mosaik Lam parket Finished floorning Listoni Ukuran (mm) Tebal (t) Lebar (l) Panjang (p) 3 4 5

8 - 20 30 - 80 > 200 6 - 12 20 - 29 100 - 145 8 400 - 580 400 - 580 8 - 14 40 - 80 > 200 13 - 20 60 - 150 > 400 15 - 25 80 - 150 > 400

II DINDING 1. Papan dinding (wall panel) 2. Lis sudut bawah (Skirting) 3. Lis sudut atas (ceiling list) III PINTU IV 1. 2. 3. 4. V 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. VI 1. 2. 3. 4. MEJA Kaki Palang (rail) Daun meja Ruji (slat) KURSI Kaki Palang Tangan kursi Sandaran Ruji Galar Pangkon Dasaran JAMBANGAN BUNGA Kaki Palang Daun Dasaran

8 - 15 9 - 20 *)

60 - 150 60 - 150 *)

> 600 > 1.200 *)

*)

*)

*)

30 - 100 45 - 100 425 - 730 25 - 75 40 - 75 440 - 1.800 20 - 30 40 - 116 360 - 1.800 15 - 17 30 - 65 200 - 1.300

30 - 70 18 - 97 30 - 60 20 - 43 16 - 43 24 - 38 16 - 25 16 - 25

42 - 140 30 - 97 43 - 205 43 - 99 25 - 99 57 - 83 25 - 72 25 - 72

440 - 1.000 375 - 1.800 290 - 990 452 - 1.800 402 - 1.560 550 - 1.530 350 - 1.800 350 - 1.800

46 - 52 25 - 50 10 - 27 10 - 52

46 - 133 450 - 650 46 - 70 350 - 1.070 50 - 82 308 - 1.160 45 - 133 341 - 524

Keterangan : *) Ukuran dan bentuk sesuai dengan permintaan pasar

7. Klasifikasi

Berdasarkan penampilanya, mutu moulding kayu jati dibagi menjadi 3 (tiga) kelas, yaitu: 7.1. Mutu Prima : dengan tanda mutu A 7.2. Mutu Standar : dengan tanda mutu B 7.3. Mutu Lokal : dengan tanda mutu C 8. Syarat Bahan Baku 8.1. Semua bahan baku yang akan diproses menjadi moulding, harus memenuhi Standar Nasional Indonesia Mutu Kayu Gergajian Jati sesuai dengan spesifikasi dan sortimen yang diinginkan, dengan terlebih dahulu menentukan permukaan atas/tampak pandang (TP) dan permukaan bawah/tidak tampak pandang (TTP). 8.2. Ukuran bahan baku harus diolah sedemikian rupa, untuk mendapatkan ukuran/presisi moulding yang tepat. 8.3. Semua bahan baku industri karena cacat dan ukurannya tidak dapat menghasilkan mutu moulding yang dikehendaki, harus ditolak uji. 8.4. Untuk moulding yang memerlukan persyaratan kadar air tertentu, bahan baku industrinya terlebih dahulu harus dikeringkan. 9. Cara Pembuatan 9.1. Proses pembuatan moulding dikerjakan sedemikian rupa, sehingga dapat menghasilkan bentuk dan ukuran yang dikehendaki dengan mutu terbaik. 9.2. Pembuatan moulding untuk komponen mebel dan pintu selain memenuhi butir 1 juga dapat menghasilkan kontruksi yang kompak dan mengandung nilai artistik tersendiri, dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan hak cipta tentang rancang bangun (design) 9.3. Pelaksanan merakit mebel dan pintu dikerjakan dengan presisi yang baik, bertujuan untuk memenuhi kekuatan, keawetan dan penampilan yang baik, sehingga harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: a. Khusus untuk mebel taman harus menggunakan lem (perekat) yang memenuhi persyaratan perekatan untuk tipe Eksterior I. b. Apabila pada sambungan pasak kayu (dowel), maka harus digunakan pasak kayu dari jenis kayu dan dengan kandungan kadar air yang sama. c. Apabila pada sambungan diperlukan pasak bukan dari kayu, maka harus terbuat dari bahan yang tidak mudah berkarat. d. Untuk rakitan diusahakan agar warna kayu antar komponen maupun sortimennya seragam, misal warna gelap dengan warna gelap, warna terang dengan warna terang. 10. Syarat Mutu 10.1. Syarat Kadar Air

Kecuali ditentukan lain, kadar air moulding spesifikasi lantai, dinding dan pintu tidak lebih dari 12%, sedangkan untuk meja taman dan jambangan bunga tidak lebih dari 15%. 10.2. Syarat ukuran 10.2.1. Sistem satuan Sistem satuan ukuran yang diterapkan adalah satuan internasional. Untuk ukuran panjang, lebar dan tebal dinyatakan dalam satuan militer (mm). 10.2.2. Alat ukur Alat ukur yang digunakan untuk mengukur dan menguji moulding kayu jati harus dikalibrasi oleh instansi yang berwenang. 10.2.3. Toleransi Ukuran Toleransi ukuran panjang, lebar dan tebal moulding kayu jati adalah sebagai berikut:

Ukuran panjang dan lebar adalah 0,2 mm. Ukuran tebal adalah 0,4 mm.

10.3. Syarat Mutu Penampilan 10.3.1. Syarat umum a. Tidak diperkenankan adanya cacat serat putus dan lubang gerek sedang/besar (Lgs/Lgb). b. Salah warna kebiruan dan air masuk yang timbul setelah proses pengeringan dianggap bukan cacat. 10.3.2. Syarat khusus Persyaratan khusus mutu penampilan moulding kayu jati per sortimen/spesifikasi dapat dilihat pada Lampiran A. 11. Cara Uji 11.1. Prinsip Pengujian Pengujian dilakukan secara kasat mata (visual) terhadap kecermatan penetapan ukuran dan penelitian cacat yang nampak. 11.2. Peralatan Pengujian Peralatan yang digunakan meliputi : meteran, jangka sorong, kertas milimiter/planimeter, pisau, kaca pembesar dan alat pengukur kadar air. 11.3. Syarat Pengujian

11.3.1. Untuk memudahkan pengujian, moulding kayu yang akan diuji harus diatur menurut masing-masing spesifikasi dan sortimen. 11.3.2. Moulding kayu yang akan diuji harus dapat dibolak-balik sehingga semua permukaan kayu dapat dilihat secara keseluruhan. 11.3.3. Pengujian dilakukan pada siang hari atau di tempat yang terang (dengan pencahayaan yang cukup), sehingga dapat mengamati semua kelainan yang terdapat pada kayu. 11.3.4. Pengujian dilakukan secara sensus(100%), sedangkan untuk keperluan pemeriksaan dilakukan terhadap moulding contoh yang diambil secara acak, sebagaimana tercantum pada Tabel 2. Tabel 2. Jumlah batang moulding contoh Jumlah Populasi Jumlah contoh 100 101 s/d 1.000 > 1.000 100% 100 10%

11.4. Pelaksanaan Pengujian 11.4.1. Penetapan kadar air Ada 2 cara penetapan kadar air, yaitu langsung dengan alat pengukur kadar air (moisture meter) atau di laboratorium, lihat cara penetapan kadar air pada SNI kayu lapis penggunaan umum. 11.4.2. Penetapan ukuran a. Penetapan panjang, lebar dan tebal moulding Apabila tidak ada kesepakatan lain, maka penetapan panjang, lebar dan tebal moulding kayu jati disesuaikan dengan SNI kayu bentukan (moulding) rimba, yang menetapkan cara pengukuran moulding dengan Initial Size dan atau Actual Size. b. Satuan moulding Dalam perdagangan ada 3 cara menghitung atau menentukan satuan moulding, yang lazim dijumpai yaitu: o Satuan isi dalam meter kubik (m3) yang dihasilkan dari perhitungan Initial Size atau Actual Size, yaitu dengan mengalikan luas penampang lintang/bontos dengan panjang moulding. Cara menghitung luas penampang lihat Gambar 1. Luas initial sizes = t x 1 Luas actual sizes adalah dengan menggunakan kertas milimeter atau dengan alat planimeter.

Gambar 1. Cara menghitung luas penampang moulding o

Satuan luas dalam meter persegi (m2), yang dihasilkan dari perkalian antara lebar moulding dengan panjang moulding, baik sebelum maupun sesudah dirakit. Contoh perhitungan luas moulding untuk Tongue and Groove ( T & G ) seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Cara menghitung dalam meter lari (running meter) o o

Satuan panjang dalam meter lari (running meter). Satuan jumlah, yaitu perhitungan dengan jumlah keping/buah/set dari komponen atau hasil rakitan.

11.4.3. Penetapan Mutu Penampilan Penetapan mutu penampilan setiap sortimen moulding/komponen/rakitan didasarkan kepada persyaratan cacat, sedangkan penetapan mutu terhadap rakitan untuk kekuatan dan keteguhan rekatnya akan ditetapkan dengan ketentuan khusus. Langkah penetapan mutu penampilan berdasarkan persyaratan cacat adalah dengan cara mengamati, mengukur/menghitung setiap cacat yang terdapat pada moulding, kemudian dilakukan penilaian dan penetapan mutu sesuai dengan persyaratannya. Mutu moulding ditetapkan dengan menilai sortimen/komponen yang mengandung cacat terberat. a. Penilaian cacat gumpil Penilaian terhadap cacat gumpil dinyatakan dalam ada atau tidak ada, untuk beberapa sortimen perlu diukur dimensinya, kemudian bandingkan dengan muka tebal dan panjang moulding kayu.

b. Penilaian cacat-cacat, retak, pecah, ukuran kurang, sudut tidak siku, bontos tidak rata, permukaan kasar dan celah pada sambungan Penilaian cacat-cacat, retak, pecah, ukuran kurang, sudut tidak siku, bontos tidak rata, permukaan kasar dan celah pada sambungan dinyatakan dalam ada atau tidak ada. c. Penilaian cacat serat kasar Penilaian terhadap cacat serat kasar dinyatakan dalam hilang tidaknya apabila diserut dan untuk beberapa sortimen diukur panjangnya kemudian dibandingkan dengan panjang moulding serta dinilai berat tidaknya. d. Penilaian cacat lubang gerek Penilaian terhadap cacat lubang gerek dinyatakan dalam besarnya diameter lubang, yaitu termasuk Lgk atau bukan serta dihitung jumlahnya. e. Penilaian cacat lubang kapur Penilaian terhadap cacat lubang kapur dinyatakan dalam ada tidaknya, untuk beberapa sortimen dihitung jumlahnya. f. Penilaian cacat mata kayu Penilaian terhadap cacat mata kayu dinyatakan dalam: o Sehat tidaknya mata kayu, apakah mata kayu sehat (Mks) atau kayu busuk (Mkb). o Jumlah Mks/Mkb pada tiap keping. o Diameter Mks/Mkb, dengan cara merata-ratakan panjang dan lebar Mks/Mkb. g. Penilaian cacat alur mata kayu (Amk) Penilaian terhadap cacat alur mata kayu dinyatakan dalam jumlah Amk, untuk beberapa sortimen diukur jarak antar Amk dan memutus serat atau tidak. h. Penilaian cacat kuku macan Penilaian terhadap cacat kuku macan dinyatakan dalam jumlah kelompok. Dianggap satu kelompok apabila terdiri dari tiga titik atau lebih pada kotak yang berukuran 1 cm x 1 cm. i. Penilaian cacat gubal Penilaian terhadap cacat gubal dinyatakan dalam perbandingan tebal gubal dengan tebal moulding, untuk beberapa sortimen dihitung jumlahnya. j. Penilaian cacat kelainan arah serat Penilaian terhadap cacat arah serat dinyatakan dalam ada tidaknya serat berpadu, serat berombak/werut, more, serat mahkota, serat miring dan serat putus. Khusus untuk cacat serat mahkota dinilai rapat tidaknya. Rapat apabila jarak antara serat < 20 cm. k. Penilaian cacat kulit tumbuh Penilaian terhadap cacat kulit tumbuh dinyatakan dalam jumlah, diameter dan pada sortimen tertentu diamati terbuka tidaknya. l. Penilaian cacat salah warna Penilaian terhadap cacat salah warna dinyatakan dalam kehijauan, kemerahan, doreng dan air masuk berat. Untuk beberapa sortimen dihitung luasnya kemudian dibanding dengan luas permukaan dalam persen. m. Penilaian cacat alur hitam/alur minyak Penilaian terhadap cacat alur hitam/alur minyak dinyatakan dalam luasnya dibanding dengan luas permukaan dalam persen. n. Penilaian cacat air masuk berat Penilaian terhadap cacat air masuk dinyatakan dalam luasnya dibanding dengan luas permukaan dalam persen.

12. Syarat Lulus Uji 12.1. Toleransi Penyimpangan Moulding contoh dikatakan lulus uji atau dianggap benar apabila penyimpangan masih dalam batas toleransi. Besarnya toleransi penyimpangan tercantum pada Tabel 3. Tabel 3. Toleransi penyimpangan No. Unsur Toleransi Penyimpangan

1. Jumlah Batang 0% (tidak ada toleransi) 2. Pengukuran 5% (dari jumlah batang) 3. Mutu 5% (dari jumlah batang) 12.2. Perhitungan Persen Penyimpangan
jumlah batang yang salah % penyimpangan = ---------------------------- X 100% jumlah batang yang diperiksa

13. Syarat Penandaan dan Pengemasan Moulding yang sudah diukur, diuji dan diperiksa atau ditetapkan mutunya harus dibundel dan dikemas sesuai dengan cara pengemasan yang sudah distandardisasi. Satu bundel moulding hanya boleh terdiri dari satu macam ukuran dan bentuk moulding. Tanda-tanda yang dibubuhkan pada bundel/kemasan dengan menggunakan bahan yang tidak mudah luntur dan mudah dilihat, yang meliputi: a. b. c. d. e. f. g. Negara asal, yaitu Indonesia Nama pabrik (tanda pengenal perusahaan) Ukuran moulding (panjang total moulding, lebar dan tebal profil) Jumlah potongan moulding Nomor kemasan, nomor lot/partai Tujuan pengiriman Mutu dengan tanda : - Mutu Prima dengan tanda huruf A - Mutu Standar dengan tanda huruf B - Mutu Lokal dengan tanda huruf C