Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

PABRIKASI BAHAN ISOLATOR

D I S U S U N
OLEH: KELOMPOK 6 YOHAN PATOLAH JUSTICE VERONIKA SUPRIADI JAMAL NURUL IZRA MULYA R. NUR ALAM DESMAN SUHENDRA JURUSAN ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012/2013 D411 11 002 D411 11 112 D411 11 273 D411 11 285 D411 11 288 D411 11 305

PENDAHULUAN
Bahan isolator merupakan bahan yang sangat penting dalam jarigan distribusi listrik. Isolator jaringan tenaga listrik merupakan alat tempat menompang kawat penghantar jaringan, pada tiang-tiang listrik yang digunakan untuk memisahkan secara elektris dua buah kawat atau lebih agar tidak terjadi kebocoran arus

(leakage current) atau loncatan bunga api (flash over) sehingga mengakibatkan
terjadinya kerusakan pada sistem jaringan tenaga listrik. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mengetahui macam-macam bahan isolator. Malalui makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai cara pembuatan bahan-bahan isolator tersebut

beserta pabrikasinya.

PEMBAHASAN
Isolator merupakan bahan yang Dimana hal ini dikarenakan bahan tidak dapat menghantarkan arus listrik. isolator mempunyai nilai energy gap yang besar

atau dengan kata lain jarak pita terlarangnya lebar, sehingga energi listrik yang dapat diterapkan terlalu kecil untuk memindahkan elektron dari pita yang penuh ke pita yang kosong. Oleh karena elektron tidak dapat memperoleh energi yang mencukupi maka penghantaran tidak mungkin berlangsung. Jika kita berbicara mengenai pemakaian bahan isolasi ini dilakukan isolator pada jaringan distribusi listrik, seekonomis mungkin tanpa mengurangi

kemampuannya sebagai isolator. Sebab semakin berat dan besar ukuran isolator tersebut akan mempengaruhi beban penyangga pada sebuah tiang listrik. Bahan-bahan isolasi yang dipakai untuk isolator jaringan kebanyakan terbuat dari bahan padat, seperti bahan porselin, gelas, mika, ebonit, keramik, parafin, kuarts, dan veld spaat.

ISOLATOR PORSELEN
Isolator porselin dibuat dari dari bahan campuran tanah porselin, kwarts, dan veld spaat, yang bagian luarnya dilapisi dengan bahan glazuur agar bahan isolator tersebut tidak berpori-pori. Dengan lapisan glazuur ini permukaan isolator menjadi licin dan berkilat, sehingga tidak dapat mengisap air. Oleh sebab itu isolator porselin ini dapat dipakai dalam ruangan yang lembab maupun di udara terbuka. Meskipun memiliki banyak kelebihan, isolator ini jugam mempunyai kelemahan yakni diantaranya mudah pecah, berat, pada kondisi lingkungan yang berpolusi mudah untuk terbentuk lapisan konduktif di permukaannya. Hal ini yang dapat menyebabkan kegagalan isolasi yaitu flashover.

Proses Pengolahan Keramik


Salah satu bahan dasar dalam pembuatan keramik adalah tanah liat. Tanah liat digunakan karena pada saat dalam kondisi basah tanah liat mudah dibentuk tetapi setelah dibakar tanah liat akan menjadi tahan terhadap air dan kekuatan mekaniknya meningkat. Secara garis besar proses pembuatan keramik adalah sebagai berikut : 1. Setelah tanah liat dibersihkan dari kotoran-kotoran misalnya : kerikil; kemudian dicampur dengan air hingga homogen (tetapi tidak terlalu encer seperti bubur). 2. Selanjutnya adalah tahap pembentukan yaitu dengan : putaran, penekanan, cetakan, dan ekstrusi. 3. Selanjutnya setelah perangkat terbentuk, dikeringkan lalu diadakan pelapisan dengan gelas (gelazing). Pada proses ini kaca halus atau bahan dasar kaca atau campuran keduanya dipanaskan hingga meleleh, kemudian digunakan melapisi perangkat yang dikehendaki dengan cara mencelupkan benda atau permukaan yang diinginkan untuk dilapisi. Pelapisan dengan gelas semacam ini digunakan untuk memperkuat dan sekaligus menghiasi permukaan, akan menjadikan produk keramik ini semakin sedikit kemampuannya untuk menyerap air, mudah dibersihkan, menghilangkan retak-retak yang ada dipermukaannya. Dengan pelapisan gelas, arus bocor yang melalui permukaan isolator akan lebih kecil terutama pada keadaan basah dan sekaligus dapat menaikkan pelapisan 4. tegangan benda-benda terjadinya keramik loncatan yang busur api (flashover). dilakukan Untuk dengan besar dapat

menuangkan bahan pelapis pada permukaannya. Terakhir adalah tahap pembakaran. Maksud dari pembakaran adalah untuk mendapatkan kekuatan mekanik, kemampuan isolasi dan ketahanan terhadap air yang lebih tinggi. Selama pembakaran, struktur kristal dari tanah liat (bahan dasar keramik) akan berubah , air yang dikandung akan hilang. Selama pembakaran juga akan terjadi lubang-lubang kecil. Untuk menutupi lubanglubang tersebut digunakan bahan yang disebut feldspar.

Feldspar selama pembakaran akan meleleh sehingga mengisi lubanglubang kesil tersebut, sekaligus berfungsi juga sebagai bahan penguat. Untuk pembuatan isolator keramik diperlukan suhu yang berkisar antara 1300o C hingga 1500o C dalam jangka waktu 20 hingga 70 jam. Kenaikan suhu dari suhu normal hingga suhu diatas adalah perlahan-lahan. Setelah mencapai suhu yang diinginkan, pendinginannya dilakukan secara perlahan-lahan sebelum dikeluarkan dari oven. lalu setelah kering diletakkan di ruang baker agar tidak berhubungan langsung dengan nyala api atau lilitan elemen pemanas jika yang digunakan pemanas listrik. Hal iniuntuk menghindari pemanasan yang tidak merata dan pembentukan jelaga. Bagian dasar dari benda tidak perlu dilapis dengan gelas agar tidak melekat pada dasar ruang pembakaran jika sudah dingin. Perlu diingat bahwa dalam proses pembuatan perangkat dari keramik sejak masih basah hingga selesai dibakar akan terjadi pengecilan dimensi.

Penggunaan Isolator Porselen


Untuk isolator porselen sendiri ia banyak digunakan pada saluran udara tegangan rendah (SUT R) isolator harus terbuat dari bahan porselen yang diglasir, mempunyai kualitas isolator arus listrik tinggi, tidak berlapis-lapis, tidak berlubang, dan tidak cacat. Isolator dengan bahan porselen digunakan pada isolator jenis pasak (pin type insulator), jenis pos (post type insulator), jenis gantung (suspension type insulator), dan jenis cincin (spool

type insulator)

ISOLATOR GELAS
Isolator gelas pada umumnya terbuat dari bahan campuran antara pasir silikat, dolomit, dan phospat. Komposisi dari bahan-bahan tersebut dan cara pengolahannya dapat menentukan sifat dari siolator gelas ini. Isolator gelas memiliki sifat

mengkondensir (mengembun) kelembaban udara, sehingga lebih mudah debu melekat dipermukaan isolator tersebut. Makin tinggi tegangan sistem makin mudah pula terjadi peristiwa kebocoran arus listrik (leakage current) lewat isolator tersebut,yang berarti mengurangi fungsi isolasinya. Oleh karena itu isolator gelas ini lebih banyak dijumpai pemakaiannya pada jaringan distribusi sekunder. Kelemahan isolator gelas ini adalah memiliki kualitas tegangan tembus yang rendah, dan kekuatannya berubah dengan cepat sesuai dengan perubahan temperatur. Oleh sebab itu bila terjadi kenaikan dan penurunan suhu secara tiba-tiba, maka isolator gelas ini akan mudah retak pada permukaannya. Berarti isolator gelas ini bersifat mudah dipengaruhi oleh perubahan suhu disekeli-lingnya. Tetapi bila isolator gelas ini mengandung campuran dari bahan lain, maka suhunya akan turun. Selain dari pada itu, isolator gelas ini harganya lebih murah bila dibandingkan dengan isolator porselin.

Proses Pembuatan Gelas


Ada 2 metode untuk membuat gelas, yakni: proses pendinginan dengan cepat dan proses polimerisasi. Dimana komponen komonen utama yang dibutuhkan dalam pembuatan gelas adalah sbb: pasir, soda, feldspar, borax dan cullet. Selain itu pada pembuatan gelas adapula yang disebut bahan stabilisizer yang berguna untuk menurunkan kelarutan di dalam air, tahan terhadap serangan bahan kimia lain termasuk materi-materi lain yang terdapat di atmosfer. Contonhya : kalsium karbonat, timbal oksida, barium karbonat dan seng oksida. Adapun tahapan dari pembuatan gelas adalah sbb:

1.

Persiapan bahan baku (batching) Pada tahap ini dilakukan penggilingan, pengayakan bahan baku serta

pemisahan dari pengotor-pengotornya. Serbuk bahan baku ditimbang sesuai komposisi, termasuk bahan-bahan aditif lain yang diperlukan seperti zat pewarna atau zat-zat sesuai dengan produk kaca yang dikendaki. Pengadukan campuran bahan baku dalam suatu mixer dilakukan agar campuran menjadi homogen sebelum dicairkan. 2. Pencairan (melting/fusing) Bahan baku yang sudah homogen, diayak dahulu sebelum dimasukkan ke dalam tungku (furnace) bersuhu sekitar 1500oC sehingga campuran akan mencair. Selama proses pencairan, masing-masing bahan baku akan saling berinteraksi membentuk reaksi-reaksi kimia berikut :

Leburan Kaca 3. Pembentukan (forming/shaping) Bahan kaca yang berbentuk cair lalu dialirkan ke dalam alat-alat yang berfungsi untuk membentuk kaca padat sesuai yang diinginkan. Ada beberapa jenis proses pembentukkan kaca, di antaranya adalah : a. Proses Fourcault., Bahan cair dialirkan secara vertikal ke atas melalui sebuah bagian yang dinamakan "debiteuse". Bagian ini terapung di permukaan kaca cair dengan celah sesuai dengan ketebalan kaca yang diinginkan. Di atas debiteuse terdapat bagian sirkulasi air pendingin yang akan mendinginkan kaca hingga 650 670oC. Pada suhu tersebut kaca berubah menjadi pelat padat dan akan bergerak dengan didukung oleh roda pemutar (roller) yang menarik kaca tersebut ke atas. b. Proses Colburn (Libbey-Owens), Jika proses Fourcault , gerakan kaca berlangsung secara vertikal, maka pada proses Colburn kaca akan bergerak secara vertical kemudian diikuti gerakan horizontal setelah melewati roda-roda penjepit yang membentuk leburan gelas menjadi lembaran-lembaran. c. Proses Pilkington (float process), Bahan cair dialirkan ke dalam sebuah kolam berisi cairan timah (Sn) panas. Kecepatan aliran bahan cair ini merupakan pengatur tebal tipisnya kaca lembaran yang akan diproses. Kaca akan mengapung di atas cairan timah karena perbedaan densitas di antara keduanya. Kaca ini tetap berupa cairan dengan pasokan panas yang berasal dari pembakar di bagian atas kolam. Pengendalian temperatur di dalam kolam dilakukan agar kaca tetap rata di kedua sisinya serta pararel. Bahan yang biaanya digunakan untuk keperluan ini adalah gas nitrogen murni. Selanjutnya, aliran kaca melewati daerah pendinginan (masih di dalam kolam) dan keluar dalam bentuk kaca lembaran bersuhu 600oC.

4. Annealing Fungsi tahapan ini adalah untuk mencegah timbulnya tegangan-tegangan antar molekul pada kaca yang tidak merata sehingga dapat menimbulkan kepecahan. Proses annealing kaca terdiri dari 2 aktivitas, yaitu : (1) menahan kaca dengan waktu yang cukup di atas temperatur kritik tertentu untuk menurunkan regangan internal, dan (2) mendinginkan kaca sampai temperatur ruang secara perlahan-lahan untuk menahan regangan sampai titik maksimumnya. Proses ini berlangsung di dalam "annealing lehr". Untuk jenis kaca lembaran, annealing lehr ini dilewati oleh kaca-kaca yang bergerak di atas roda berjalan. 5. Finishing dan pengendalian kualitas (Quality Control) Beberapa proses penyelesaian akhir pada industri gelas adalah cleaning and

polishing, cutting, enameling, dan grading.