Anda di halaman 1dari 13

Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Yogyakarta, 12 -13 September 2006

ISSN : 0854 - 2910

DAMPAK RADIOAKTIF PENGGUNAAN ENERGI FOSIL BATUBARA DAN ENERGI NUKLIR DI PUSAT PEMBANGKIT LISTRIK Heni Susiati Pusat Pengembangan Energi Nuklir, BATAN ABSTRAK DAMPAK RADIOAKTIF PENGGUNAAN ENERGI FOSIL BATUBARA DAN ENERGI NUKLIR DI PUSAT PEMBANGKIT LISTRIK. Studi ini mengkaji hasil-hasil studi dampak radioaktif dalam pembangkitan listrik yang pernah dilakukan, terutama terhadap jenis pembangkit berbahanbakar batubara dan pembangkit nuklir. Batubara mempunyai peran penting dalam pemenuhan kebutuhan energi di dunia demikian juga di Indonesia. Pembakaran batubara untuk menghasilkan listrik merupakan satu sumber paparan radiasi primordial yang disebut material radioaktif alam (NORM = Naturally Occurring Radioactive Material) yang akan terjadi peningkatan paparannya terhadap manusia. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan informasi yang jelas dan menunjukkan bahwa energi nuklir merupakan teknologi yang mantap dan memberikan keuntungan dalam memproteksi lingkungan. Studi perbandingan dampak radioaktif oleh PLTU batubara dan PLTN telah banyak diteliti dan beberapa studi telah dipublikasikan. Pada prinsipnya PLTU batubara akan mengemisikan radionuklida seperti radon, uranium, thorium dan juga kalium, dan PLTN akan melepaskan gas mulia, tritium, dan halogen. Hasil studi menunjukkan bahwa dampak operasional pembangkit listrik batubara (PLTU) lebih radioaktif daripada pengoperasian PLTN. Kata kunci : radioaktif, batu bara, nuklir ABSTRACT RADIOACTIVE IMPACT OF THE COAL AND NUCLEAR ENERGY IN THE ELECTRICAL POWER PLANT. The study discusses the of radiological impact of emission associated with different mode of power generations, especially fossil fueled coal power plant and nuclear power plant. Coal plays an increasingly important role in meeting the energy needs in the world and also in Indonesia. The burning of coal in the electrical power plant is one source of primordial radioanuclides radiation which exposure to Naturally Occurring Radioactive Material (NORM) and it will be technologically enhanced exposure to man. The main objective of this paper is to provide clear information and to demonstrate that nuclear power is a mature technology that has protection environmental advantages. Comparative studies of coal fired power plant and nuclear power plant have been reported by many scientists and several published reports. Principally, the radionuclides emitted by coal fired power plant such as radon, uranium, and thorium, and also kalium. While nuclear power plants emit the noble gases, tritium, and halogens. The study result indicate that the impact of operational power station of coal more radioactive than the nuclear power plant. Key words : radioactive, coal, nuclear PENDAHULUAN Ujung Lemahabang (ULA) Semenanjung Muria merupakan lokasi terpilih untuk tapak PLTN yang letaknya berdekatan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara Tanjung Jati. Dalam kegiatannya, PLTU tersebut menggunakan batubara sebagai bahan bakar yang berasal dari alam dan mengandung material radioaktif (NORM = Naturally Occuring Radioactive Material), sehingga dapat menimbulkan terjadinya pemekatan radionuklida alam yang dinamakan TENORM (Technologically Enhanced Naturally Occuring Radioactive Materia). TENORM yang terbentuk dapat terikut dalam produk akhir atau sebagai sisa proses yang selanjutnya di daur-ulang ataupun dibuang ke lingkungan. TENORM yang didaur-ulang dan

Heni Susiati, PPEN-BATAN

384

Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Yogyakarta, 12 -13 September 2006

ISSN : 0854 - 2910

dibuang ke lingkungan mempunyai potensi meningkatkan residu radioaktif di lingkungan, sehingga dapat meningkatkan paparan radiasi latar (background). Batubara merupakan bahan tambang yang mengandung unsur-unsur radioaktif alami berumur paruh panjang. Batubara mengandung uranium-238 (238U), thorium-232 (232Th), radium-226 (226Ra) dan kalium-40 (40K) yang kadarnya cukup bervariasi antara satu negara dengan negara lainnya. Radionuklida radium-226 dan radium-228, berturut-turut merupakan hasil peluruhan uranium dan thorium dengan waktu paruh 1.600 tahun. Radionuklida alami memang sudah terbentuk bersamaan dengan proses terbentuknya alam ini. Namun, radionuklida seperti U, Th, dan Ra biasanya terikat kuat dalam matrik batuan. Radionuklida ini dalam kadar yang sangat rendah terdapat pada setiap bagian kerak bumi. Kandungan radionuklida alam di dalam batubara bervariasi tergantung pada jenis dan lokasi penambangan batubara. Demikian juga, konsentrasi radionuklida di dalam abunya juga akan bervariasi dan cenderung lebih kaya dibandingkan unsur radionuklida yang terkandung di dalam batubara. Laju produksi abu batubara pada sistem pembangkit listrik tenaga uap kira-kira 10 % dari volume batubara. Lebih kurang 95 % abu akan tertinggal, masing-masing 20 % berupa bottom ash dan slag, lainnya 75 % berupa fly ash[1]. Banyak NORM/ TENORM yang dijumpai dengan konsentrasi yang sangat rendah dan menjadi bagian kehidupan sehari-hari manusia. Namun ada juga NORM/ TENORM yang mempunyai konsentrasi radionuklida tinggi dan mampu menaikkan paparan radiasi. Dampak lingkungan akibat polutan radioaktif alam dari pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batubara sudah banyak dilakukan penelitiannya, tetapi pengukuran dosis radiasi banyak dipusatkan pada nilai absolut dari paparan radiasi eksternal atau konsentrasi aktifitas per masa abu batubara. Sedangkan dampak radiasi yang nyata dari penumpukan/ terakumulasinya terhadap rona awal lingkungan radioaktif masih belum banyak dilakukan[2]. Dalam pengoperasian PLTN, cemaran yang disebabkan oleh zat radioaktif terhadap lingkungan dapat dikatakan hampir tidak ada. Gas radioaktif yang dapat ke luar dari sistem reaktor tetap tertahan di dalam sistem pengungkung PLTN, dan akan melewati sistem ventilasi yang berlapis-lapis. Gas yang lepas melalui cerobong aktivitasnya sangat kecil (sekitar 2 milicurie/ tahun), sehingga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan[1]. Sehingga dengan kondisi tersebut, PLTN dapat dipertimbangkan sebagai energi listrik alternatif yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam memenuhi kebutuhan listrik di Indonesia. Makalah ini dibuat untuk memberikan gambaran yang nyata mengenai problem lingkungan yang kemungkinan besar akan dihadapi baik di Indonesia maupun masyarakat di dunia pada masa mendatang oleh adanya peningkatan emisi radioaktif alam dari pembakaran batubara sebagai sumber energi listrik yang berpotensi meningkat risiko radioekologi terhadap makhluk hidup. Hasil penelitian yang telah dilakukan di beberapa negara menyebutkan bahwa PLTU batubara cenderung memberikan paparan yang lebih besar per individu kecuali untuk organ seperti kelenjar gondok yang hanya mencapai 1,9 mrem/ tahun[3]. Hal ini tentu berlawanan dengan opini masyarakat berkembang bahwa hanya PLTN saja yang

Heni Susiati, PPEN-BATAN

385

Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Yogyakarta, 12 -13 September 2006

ISSN : 0854 - 2910

mengemisikan zat radioaktif. Tulisan ini kiranya dapat memberikan informasi yang bermanfaat tentang dampak pencemaran radioaktif pembangkit listrik baik dari industri nuklir maupun non nuklir, dalam hal ini pembakaran batubara sebagai bahan bakar pada PLTU. Hasil studi ini juga dapat memberikan masukan dalam menentukan langkah kebijakan dalam pengelolaan lingkungan di lokasi kegiatan pengembangan fasilitas pembangkit listrik di Semenanjung Muria, Jepara. Khususnya dalam rangka menekan dampak negatif dan meningkatkan dampak positif kegiatan operasional fasilitas pembangkit listrik di daerah tersebut.

SUMBER PENCEMARAN DARI KEGIATAN PEMBANGKIT LISTRIK BATUBARA DAN NUKLIR Pembangkit Listrik Tenaga Batubara Batubara merupakan salah satu bahan bakar fosil yang banyak digunakan untuk pembangkit listrik. Listrik dibangkitkan dengan cara batubara dibakar untuk memanaskan air dalam bejana guna menghasilkan uap. Uap yang dihasilkan akan memutar turbin dan menghasilkan listrik. Dampak lingkungan terbesar dari penggunaan bahan bakar batubara adalah pelepasan polutan seperti CO2, NOx, CO, SO2, hidrokarbon dan abu serta abu layang (bottom dan fly ash) dalam jumlah yang relatif besar. Akibat pelepasan gas pencemar tersebut dapat menimbulkan dua masalah utama yaitu efek gas rumah kaca dan hujan asam. Tabel 1. Konsentrasi Radionuklida (Bq/kg) yang Terukur di Berbagai Residu Pembakaran Batubara[4].
238

234

Drax Eggborough Alberthaw High Mar Drakelow Burton barat

109,7 84,9 43,3

U Th Ra Ra Pb Po U Emisi abu layang (Fly ash) dari PLTU di Inggris 121,0 34,5 53,0 188,0 171,3 <3,60 88,0 30,6 74,0 125,4 139,8 <1,90 47,9 38,2 44,3 98,0 64,2 2,08 <200 208,0 74,0 <200 220,0 92,0 <400 290,0 158,0 PLTU Polish (1195 sampel abu dan 645 sampel slag)

230

226

228

210

210

235

232

40

Total

39,6 19,1 28,6

Abu (rata-rata) Abu (median) Abu (range) Slag (rata-rata) Slag (median) Slag (range)

146 131 18870 108 9 17487

102 101 16275 79 79 17261

631 654 351484 549 561 231103

PLTU di Kroasia Abu layang Bottom ash dan slag 8700 3400 2400 2000 20 60 400 200 150 290 11.700 5.900

Produk dari batubara dan pembakaran batubara Brasil

Heni Susiati, PPEN-BATAN

386

Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Yogyakarta, 12 -13 September 2006

ISSN : 0854 - 2910

Batubara Bottom ash Fly ash

72 156 144

72 120 192

62 84 144

72 70 440

62 96 80

Limbah pembakaran batubara Amerika Fly ash Bottom ash dan slag 96 26 96 26 67 19 111 26 96 22 200 52 207 52 5 1 63 15 1003 255

Sumber: IAEA, 2003 Selain itu, batubara umumnya mengandung radionuklida alam atau NORM maka pembakaran batubara akan menyebabkan terjadinya pemekatan radionuklida alam atau TENORM. Abu batubara dapat meningkatkan paparan radiasi terhadap lingkungan. Paparan radiasi yang dihasilkan dari PLTU batubara secara umum lebih besar daripada paparan radiasi dari PLTN. Tabel 2. Konsentrasi Aktifitas (Bq/kg) dalam Residu PLTU[4] Negara Hungaria Amerika Serikat Mesir Jerman Sumber: IAEA, 2003 Hal ini tentu berlawanan dengan anggapan umum bahwa hanya PLTN yang menghasilkan radioaktivitas yang berbahaya bagi lingkungan. Pada kenyataannya, PLTU batubara cenderung memberikan paparan radiasi yang lebih besar per individu kecuali untuk organ seperti kelenjar gondok karena adanya lepasan gas mulia (I-131) yang dilepaskan pada operasi normal PLTN. Lepasan radionuklida utama tahunan untuk PLTU batubara adalah berupa radium-226 (0,0172 Ci) dan radium-228 (0,0108 Ci)[3]. Beberapa contoh konsentrasi NORM dalam pembakaran batubara di beberapa negara disajikan dalam Tabel 1 dan Tabel 2. Besarnya konsentrasi sangat bervariasi tergantung kadar, jenis, lokasi penambangan, dan negara asal batubara tersebut[4]. Dari tabel tersebut terlihat bahwa besarnya konsentrasi NORM dari pembakaran batubara asal negara Kroasia adalah relatif paling tinggi di antara batubara asal negara lainnya. Deret 238U 200 2.000 100 600 (fly ash) 16 41 (fly ash) 41 90 (slag) 6 166 (fly ash) 68 245 (slag) Deret 232Th 20 300 30 300 (fly ash) 9 11 (fly ash) 24 34 (slag) 3 120 (fly ash) 76 170 (slag) K 300 800 100 1.200 (fly ash) 125 742 (fly ash) 337 1.240 (slag)
40

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) PLTN memanfaatkan panas yang dihasilkan dari pembelahan inti atom uranium berbasis pada reaksi fisi nuklir pada suatu reaktor nuklir. Panas digunakan untuk menghasilkan uap air yang berfungsi untuk menggerakkan turbin, yang akan menghasilkan listrik. Uranium merupakan bahan bakar nuklir. Uranium terdapat di alam dan ditambang dengan teknik penambangan konvensional, kemudian diproses untuk digunakan sebagai bahan bakar dalam reaktor nuklir. Uranium mengandung 2 (dua) isotop utama yaitu U-238 dan U-235, dimana atom U-235 merupakan atom fisil dengan kadar hanya sekitar 0,7 % di alam. Beberapa reaktor nuklir

Heni Susiati, PPEN-BATAN

387

Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Yogyakarta, 12 -13 September 2006

ISSN : 0854 - 2910

menggunakan uranium alam untuk bahan bakar, tetapi saat ini sebagian besar telah menggunakan uranium yang diperkaya. Jenis reaktor thermal yang banyak digunakan untuk pembangkit listrik di dunia saat ini adalah reaktor berpendingin ringan (LWR)[1]. Limbah dari PLTN berawal sejak dari ujung muka sampai ujung paling akhir daur bahan bakar nuklir yaitu dimulai dari penambangan uranium sampai penyimpanan limbah lestari, dan juga tidak kalah pentingnya adalah limbah yang dihasilkan selama beroperasinya PLTN. Dampak terhadap lingkungan dari proses penambangan adalah limbah radioaktif berupa air hasil tambang yang bersifat asam dan mengandung ion logam yang terlarut seperti uranium, thorium, radium dan timah. Hilangnya lahan pertanian dan hutan akibat penambangan dapat menimbulkan erosi dan berakibat banjir. Pada proses konversi dan pengkayaan uranium, limbah yang dihasilkan berupa limbah padat terutama dalam bentuk abu, limbah gas dari proses ini mengandung uranium halus. Selain itu dihasilkan pula uranium deplesi dalam jumlah sangat besar. Pada tahap fabrikasi bahan bakar, limbah yang dihasilkan berupa padatan dan cairan yang telah terkontaminasi dengan uranium dan atau plutonium. Sejumlah kecil limbah gas dibangkitkan selama operasi reaktor dan juga limbah padat dalam bentuk komponen yang terkontaminasi. Kandungan radioaktif dari limbah olah ulang, berupa produk hasil belah terkungkung dalam bahan bakar bekas yang diumpankan dalam pabrik olah ulang (pada sistem daur tertutup) atau disimpan (daur terbuka). Limbah dekomisioning berupa limbah padat aktifitas rendah, aktifitas menengah dan limbah aktifitas tinggi atau limbah transuranium. Emisi radioaktif rata-rata dari 1.000 MW (e) reaktor nuklir dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Emisi Radioaktif Rata-rata dari 1.000 MW(e) Reaktor Nuklir Jenis Polutan Gas Mulia Tritium dalam efluen udara Tritium dalam efluen cairan C-14 I-131 Partikulat Cairan, kecuali Tritium Sumber: IAEA, 1994[4] Emisi Radioaktif (GBq/tahun) (218 40). 103 (5,9 2,4). 103 (27 1,8). 103 345 80 1,75 0,33 4,5 2,9 132,4 49,5

Bukti yang ada mengindikasikan bahwa dampak dari siklus bahan bakar nuklir terhadap lingkungan (udara, air, tumbuhan, dan manusia) lebih kecil daripada dampak yang ditimbulkan oleh PLTU batubara seperti terlihat pada Tabel 4. Pada Tabel 4, keluaran dari pembangkit PLTU batubara dan PLTN, di mana pelepasan polutan yang paling besar adalah dari PLTU batubara, sedangkan sejumlah kecil radiasi dihasilkan dari PLTN adalah dalam bentuk gas mulia (kripton dan xenon). Beberapa radiasi dari PLTU batubara terdiri dari logam berat, yang jauh lebih berbahaya daripada dalam bentuk gas mulia[1] yang dihasilkan oleh PLTN. Zat radioaktif yang dilepaskan ke lingkungan dari

Heni Susiati, PPEN-BATAN

388

Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Yogyakarta, 12 -13 September 2006

ISSN : 0854 - 2910

pengoperasian PLTN adalah gas mulia yang bersifat inert, yaitu sukar bereaksi/ bersenyawa dengan unsur lain, sehingga dampaknya berupa dosis eksternal. Tabel 4. Perbandingan keluaran (efluen) dari berbagai pembangkit listrik pada 1.000 MW(e) JENIS BAHAN BAKAR PLTU BATUBARA PLTN 2,3 juta (ton) 30 (ton)*

Konsumsi Bahan Bakar/ tahun Pelepasan Polutan (Ton) Sox 1,4 x 105 0 NOx 20.860 0 CO 522 0 Hidrokarbon 209 0 Aldehyde 54 0 Abu 4.490 0 Pelepasan Nuklida (Ci) Ra-226 0,0172 0 Ra-228 0,0108 0 Kr-85 + Xe-133 0 Gas Mulia (PWR) 600 Gas Mulia (BWR) 1,11 x 106 I-131 (PWR) 0 I-131 (BWR) 0,85 *30 ton bahan bakar nuklir diperlukan untuk pengisian 1/3 dari teras reaktor per tahun. Sumber: Robert, tahun 1994[5]

HASIL DAN PEMBAHASAN Kajian terhadap hasil pembakaran PLTU batubara sebagai sumber listrik perlu dilakukan, terutama dari aspek radioekologi. Sampai sekarang informasi dari produk pembakaran batubara khususnya hasil-hasil polutan radioaktif (NORM/ TENORM) di Indonesia, khususnya di calon tapak PLTN Ujung Lemahabang, Semenanjung Muria masih belum dilakukan penelitian secara maksimal. Pembangkit listrik yang menggunakan batubara menghasilkan volume abu sekitar 10 % dari volume batubara dan permasalahannya di dalam abu tersebut mengandung uranium dan thorium serta anak peluruhannya, sehingga mempunyai potensi memberikan paparan radiasi. Lebih dari 90% abu yang dihasilkan terdiri dari 20% bottom ash dan slag, sedang sisanya adalah 75% berupa abu terbang (fly ash). Abu biasanya juga mengandung silikon, alumunium, besi dan kalsium. Sekitar 70% - 80% abu batubara yang dihasilkan dibuang ke landfill atau kolam. Sebagian abu terbang, bottom ash, dan boiler slag seringkali digunakan sebagai pengganti semen dan beton, atau sebagai pengisi konstruksi bangunan. Disini perlu diperhatikan adanya potensi dampak negatif jangka panjang akibat terakumulasinya NORM/ TENORM tersebut. Pada prinsipnya jalan masuk paparan material radioaktif dari PLTU dan PLTN adalah lewat jalur ingesti yaitu melalui bahan-bahan makanan yang telah terkontaminasi ataupun

Heni Susiati, PPEN-BATAN

389

Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Yogyakarta, 12 -13 September 2006

ISSN : 0854 - 2910

melalui pernafasan. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa penelitian dampak material radioaktif dari hasil pembakaran PLTU batubara masih sangat terbatas. Lain halnya dengan dampak pelepasan efluen dari PLTN yang telah banyak didokumentasikan. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa paparan radiasi dari pembakaran batubara pada PLTU secara umum akan mengeluarkan dosis radiasi lebih banyak daripada PLTN dengan kapasitas yang sama, seperti terlihat pada Tabel 5.
40 35 Dosis Individu Maksimum (mrem/th) 30 25 20 15 10 5 0 badan tulang paru-paru kelenjar gondok ginjal hati PLTN PWR sumsum

PLTU batubara PLTN BWR Organ

Gambar 1. Paparan Radiasi terhadap Manusia (Dosis Individu Maksimum) dari PLTU batubara dan PLTN 1.000 MW(e) Gambar 1 menunjukkan data-data hasil perhitungan yang dilakukan oleh Mc Bride dan kawan-kawan, yaitu hasil perhitungan dosis individu maksimum dan dosis populasi dari pelepasan material radioaktif PLTU dan PLTN 1.000 MW(e). Dari tabel tersebut menunjukkan bahwa dosis individu maksimum PLTU lebih besar jika dibandingkan dengan PWR (kecuali dosis pada kelenjar gondok), tetapi lebih kecil bila dibandingkan dengan BWR kecuali dosis pada tulang. Sedangkan untuk dosis populasi PLTU batubara rata-rata mempunyai nilai lebih tinggi baik dibandingkan dengan PLTN jenis PWR maupun BWR, kecuali dosis pada kelenjar gondok pada BWR, Tabel 5. Pelepasan polutan pada PLTU batubara dengan ketinggian cerobong 50 meter akan memberikan dosisi populasi yang lebih besar jika dibandingkan ketinggian cerobong pada 100, 200 meter maupun pada ketinggian 300 meter. Sedangkan dosis populasi dari PLTN mempunyai nilai lebih kecil dibandingkan dosis populasi dari PLTU batubara[5],[6].

Heni Susiati, PPEN-BATAN

390

Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Yogyakarta, 12 -13 September 2006

ISSN : 0854 - 2910

Tabel 5. Paparan Radiasi terhadap Manusia dari PLTU batubara dan PLTN 1.000 MW(e) Organ Dosis Populasi** Max. (orang-rem/th) PLTU batubara PLTN PLTN (BWR) (PWR) Tinggi Cerobong (m) 50 100 200 300 23 24 9 34 23 55 32 21 223 29 21 50 29 19 192 23 19 43 26 31 18 180 21 18 41 25 29 13 21 20 8 37 8 9 8 9 12 9 10 8 13

Seluruh badan Tulang Paru-paru Kelenjar Gondok Ginjal Hati Sumsum

37 34 Sumber: Mc. Bride, tahun 1977[2]

PLTU batubara menghasilkan produk yang lebih radioaktif dibandingkan dengan PLTN karena tingginya jumlah radon, uranium dan thorium yang dihasilkan. EPA melaporkan konsentrasi thorium dan uranium dari pembakaran batubara pada PLTU dalam satu tahun akan melepaskan 5,2 dan 12,8 ton thorium di udara. Disamping itu juga akan dilepaskan unsur-unsur hasil peluruhan yang juga merupakan unsur-unsur berbahaya seperti radium, radon, polonium, bismuth, dan Pb. Sehingga secara akumulasi pemakaian batubara di Amerika sampai saat ini akan menghasilkan 477,027,320 millicurie[7]. Sebagai perbandingan, menurut laporan Badan Nasional Amerika untuk Proteksi dan Pengukuran Radiasi (NCRP) menghitung bahwa radioaktivitas batubara rata-rata sebesar 4,27 mikrocurie/ton. Menurut laporan NCRP No. 92 dan 95, paparan radiasi terhadap populasi dari operasional 1.000 MW(e) PLTN dan PLTU batubara adalah 490 orang-rem/tahun untuk PLTU batubara dan 4.8 orang-rem/tahun untuk PLTN. Selanjutnya, dosis radiasi efektif ekuivalen populasi di sekitar PLTU batubara adalah 100 kali jika dibandingkan dengan PLTN. Jika dihitung dosis radiasi per orang yang berada di sekitar PLTU batubara akan menerima dosisnya tiga kali lebih besar daripada dosis radiasi yang dikeluarkan PLTN[7][8].

Heni Susiati, PPEN-BATAN

391

Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Yogyakarta, 12 -13 September 2006

ISSN : 0854 - 2910

80 70
badan

60 50 Organ 40 30 20 10 0 226Ra 228Ra 228Th 230Th 232Th 210Po 210Pb 227Ac Radionuklida

tulang paru-paru kelenjar gondok ginjal hati sumsum

Gambar 2. Prosentase Kontribusi Radionuklida terhadap Dosis Populasi PLTU batubara 1.000 M.W(e) (Sumber: Mc Bride dkk., 1997) Gambar 2 menunjukkan prosentase dari peran paparan radionuklida terhadap dosis populasi dari PLTU batubara. Hasilnya menunjukkan bahwa nuklida radium (226Ra dan merupakan kontributor utama paparan radiasi terhadap sumsum, sedangkan
[1] 210 228

Ra) Po Pb

merupakan kontributor utama paparan radiasi terhadap organ seluruh tubuh. Sedangkan Po dan keduanya berperan sebagai kontributor utama paparan radiasi terhadap ginjal .

210 210

Dari Gambar 2 tersebut juga terlihat bahwa tidak hanya PLTN saja yang menghasilkan radioaktivitas yang berbahaya bagi lingkungan. Pada kenyataannya, PLTU batubara cenderung memberikan paparan radiasi yang lebih besar per individu kecuali untuk organ seperti kelenjar gondok yang hanya mecapai 1,9 mrem/ tahun. Gambar 2 juga menunjukkan lepasan radionuklida utama yang dikeluarkan oleh PLTU batubara selama satu tahun adalah berupa radium-226 dan radium-228 yang masing-masing mempunyai umur paruh panjang. Hal ini tentu berlawanan dengan opini masyarakat bahwa hanya PLTN saja yang menghasilkan radioaktif. Dosis individu maksimum yang diterima oleh masyarakat sekitar PLTN terlihat lebih tinggi yaitu 3,2 mrem/tahun karena adanya lepasan Iodium radioaktif (I-131).

Heni Susiati, PPEN-BATAN

392

Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Yogyakarta, 12 -13 September 2006

ISSN : 0854 - 2910

Tabel 6. Prosentase Kontribusi Radionuklida terhadap Dosis Populasi PLTN 1.000 M.W(e)[1]
Organ
14

Prosentase Radionuklida (%) C PWR 54,6 61,8 36,3 27,8 3H PWR 26,2 17,1 39,9 29,1
135

mX

135

Xe

133

Xe PWR 17,7 19,9 21,6 23,2

88

Kr+88 Rb BWR

131

I PWR 0,04 0,03 0,07 17,7

133

e BWR Seluruh badan Tulang Paru-paru Kelenjar Gondok 71,7 46,7 10,6 8,0 16,1 3,9 6,2 9,8 2,3 5,2 6,2 2,0 65,4 BWR 10,4 BWR 6,6 BWR 4,7

BWR 6,0 4,0 9,7 2,0

PWR 0,2 0,1 0,3 9,5

0,5 0,4 0,9 67,8

Sumber: Mc Bride dkk., 1997. Tabel 6 menunjukkan bahwa prosentase paparan radionuklida terhadap organ populasi, terlihat jelas bahwa karbon-14 merupakan kontributor utama paparan radiasinya terhadap seluruh badan baik untuk PLTN jenis PWR maupun BWR. Sedangkan Tritium dari emisi PWR akan sangat berperan terhadap paparan di organ tubuh penduduk. Emisi gas-gas radionuklida dari PLTN tersebut akan menghasilkan konsentrasi dosis maksimum apabila gas-gas tersebut diemisikan lepasannya pada ketinggian 20 m dalam jangkauan lepasan dari titik sumber mencapai jarak 500 m[1]. Dengan data-data diatas, McBride, dkk[2] menyimpulkan bahwa masyarakat Amerika yang tinggal dekat PLTU akan terpapar radiasi lebih tinggi dibandingkan mereka yang tinggal dekat dengan PLTN yang memenuhi ketentuan peraturan yang berlaku. Sesuai dengan peraturan, emisi yang dikeluarkan oleh PLTN dikendalikan sangat ketat agar tidak melebihi batas yang diizinkan, sedangkan emisi dari PLTU batubara dibiarkan bebas. Sumber radiasi dari batubara bukan hanya dari uranium dan thorium, tetapi juga dari hasil peluruhannya seperti radium, radon, polonium, bismuth, dan timbal. Selain itu juga K-40 yang secara alamiah ada di dalam batubara. Oleh karena itu dari data yang ada menunjukkan bahwa operasional PLTU batubara juga berperan dalam meningkatkan potensi paparan radiasi terhadap kondisi alam di daerah sekitar PLTU, karena fasilitas ini sebagai sumber utama pelepasan material radioaktif ke lingkungan[9]. Hal ini tentu akan menyebabkan dampak terhadap kesehatan lebih berbahaya daripada dampak yang diakibatkan oleh PLTN. Demikian juga akan meningkatkan radiasi latar/ background jika dibandingkan dengan PLTN. Oleh karena itu perlu dilakukan pengaturan seperti yang berlaku pada operasional PLTN. Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika Serikat menyatakan bahwa di dalam batubara kandungan rata-rata uranium adalah 1,3 ppm, dan kandungan thoriumnya rataratanya adalah 3,2 ppm. Ini artinya di dalam 1 ton batubara terdapat sekitar 1,3 gram uranium, dan 3,2 gram thorium
[10]

. Jika dihitung untuk seluruh batubara yang dibakar di PLTU batubara,

maka akan didapatkan nilai 28 ton uranium dan 70 ton thorium. Oleh karena itu untuk satu PLTU batubara dengan kapasitas 1.000 MW(e) akan dihasilkan sekitar 28 ton uranium dan 70

Heni Susiati, PPEN-BATAN

393

Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Yogyakarta, 12 -13 September 2006

ISSN : 0854 - 2910

ton thorium pertahun. Jika PLTN dengan kapasitas 1.000 MW(e) membutuhkan 30 ton uranium selama satu tahun, maka PLTU batubara membakar atau menghamburkan uranium tiga kali jumlah yang dibutuhkan PLTN selama satu tahun[7][8]. Meskipun di dalam PLTN terdapat banyak sekali unsur radioaktif yang dihasilkan, tetapi sistem keselamatan PLTN membuat jumlah lepasan radiasi ke lingkungan relatif kecil. Dalam kondisi normal, seseorang yang tinggal di radius 1 6 km dari pusat reaktor akan menerima dosis radiasi tambahan tidak lebih daripada 0,005 miliSievert pertahun. Nilai ini jauh lebih kecil daripada yang diterima dari alam (kira-kira 2 miliSievert per tahun) atau 1/400 nilai radiasi alam[11]. Penelitian di Jepang oleh K. Okamoto[12] juga melaporkan bahwa diantara banyak radionuklida yang dilepaskan dari pembakaran batubara maka radionuklida
210

Pb dan

210

Po

merupakan radionuklida yang penting untuk dikaji dampaknya terhadap lingkungan karena sifat radionuklida tersebut yang sangat volatil dan dilepaskan dengan laju yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis radionuklida yang lain. Penelitian di Jepang juga membandingkan dosis kolektif dari PLTU batubara dan PLTN yaitu dengan data sebagai berikut[12]: Tabel 7. Perbandingan Dosis Kolektif antara PLTU batubara dan PLTN (orang-rem/ tahun)[12] PLTU batubara Dosis Populasi Jepang 1,2 ~ 6,7 x 10 (A) 18 ~ 23 (B) 2,9 x 10 ~ 1,7 x 10
5 4 2 5

PLTN 1,7 x 104 (terutama dari 3H dan 85Kr) Per 1.000 MW PLT 13 5,2 ~ 8,2 x 105 Efek Kecelakaan PLTN Harrisburg 3,3 x 10
3

Efek PLTU Suess 4,6 x 10 Sumber: K. Okamoto

Dari tabel 7 tersebut juga terlihat bahwa dosis kolektif yang dihasilkan oleh PLTU batubara mempunyai nilai lebih tinggi dibandingkan dengan dosis kolektif dari PLTN, kecuali bila terjadi kecelakaan seperti kasus kecelakaan PLTN Harrisburg. Sehubungan dengan rencana pembangunan PLTN di Ujung Lemahabang yang lokasi tapaknya tidak jauh dari operasional PLTU Tanjungjati yang mempunyai potensi meningkatkan paparan radioaktivitas alam di daerah tersebut maka studi ini dapat digunakan sebagai masukan dalam menentukan langkah kebijaksanaan dalam pengelolaan lingkungan di lokasi kegiatan pengembangan fasilitas pembangkit listrik di Semenanjung Muria, Jepara. Khususnya dalam rangka menekan dampak negatif dan meningkatkan dampak positif kegiatan operasional fasilitas pembangkit listrik di daerah tersebut. Disamping juga diperlukan suatu penelitian yang lebih lengkap mengenai rona awal radioaktivitas guna mendukung perolehan data tingkat

Heni Susiati, PPEN-BATAN

394

Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Yogyakarta, 12 -13 September 2006

ISSN : 0854 - 2910

radioaktivitas di daerah Semenanjung Muria sebagai data background/ baseline sebelum beroperasinya PLTU batubara Tanjungjati dan PLTN Ujung Lemahabang. KESIMPULAN Berdasarkan dari studi dampak radioaktif penggunaan PLTU batubara dan PLTN yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Kajian terhadap emisi radioaktif alam yang dihasilkan melalui pembakaran PLTU batubara sebagai pembangkit listrik perlu dilakukan guna menghindari kesalahpahaman akibat adanya potensi peningkatan radiasi terhadap lingkungan di sekitar fasilitas PLTU dan PLTN, khususnya di daerah Ujung Lemahabang, Jepara. 2. Dosis radiasi individu maksimum dari PLTU mempunyai nilai lebih besar dari nilai dosis radiasi individu dari PWR kecuali untuk dosis kelenjar tiroid, tetapi lebih rendah nilainya dibandingkan dengan nilai dosis individu dari PLTN BWR, kecuali pada tulang. 3. 4. 5. Operasi PLTU batubara akan menghasilkan emisi polutan zat radioaktif yang lebih besar bila dibandingkan dengan operasi PLTN. Emisi polutan radioaktif dari operasi PLTN masih jauh lebih kecil daripada dosisi yang diterima dari radiasi alam. Perlu ditetapkan suatu peraturan yang ketat dari emisi radioaktif yang dihasilkan oleh PLTU batubara. DAFTAR PUSTAKA 1. MCBRIDE J.P, MOORE R.E., WITHERSPOON J.P., dan BLANCO R.E., Radiological Impact of Airborne Effluents of CoalFired and Nuclear Power Plants, Oak Ridge National Laboratory, Tennessee, 1977. 2. DJAROT S.W., Studi NORM dan TENORM dari Kegiatan Industri Non Nuklir, Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (Journal of Waste Management Technology), Pusat Pengembangan Pengelolaan Limbah Radioaktif ISSN 1410-9565, Volume 6 Nomor 2 Desember 2003. 3. L. Mlja1 M. Kriman, Radiological impact of Coal-Fired Thermal Power Plant a Decade of Systematic Environmental Monitoring, ERICo Velenje, Koroka 58, SI-3320 Velenje, Slovenia. 4. 5. 6. IAEA, Extent of Environmental Contamination by Naturally Occuring Radioactive Material (NORM) and Technological Options for Mitigation, TRS no. 419, Vienna, 2003. ROBERT G. COCHRAN, The Nuclear Fuel Cycle: Analysis and Management, American Nuclear Sociaty, LA. Grange Park, USA, 1992. SUNARKO, Kajian Komparatif Terhadap Pembangkitan Listrik Batubara dan Nuklir, Jurnal Pengembangan Energi Nuklir, Volume 6, Nomor 3 & 4 September Desember 2004.

Heni Susiati, PPEN-BATAN

395

Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Yogyakarta, 12 -13 September 2006

ISSN : 0854 - 2910

7. 8. 9.

National Council on Radiation Protection (NCRP), Public Radiation Exposure From Nuclear Power Generation in the US., Report No.92, 1987. National Council on Radiation Protection (NCRP), Radiation Exposure of the US. Population from Consumer Products and Miscellaneous Sources, Report No.95, 1987. VLADO VALKOVIC, Radioactivity in The Environment, Elsevier, Amsterdam, First Edition, 2000.

10. U.S. Environmental Protection Agency, Office of Radiation and Indoor Air, Diffuse NORM Wastes-Waste Characterization and Preliminary Risk Assessment, Draft, RAE9232/1-2, SC&A, Inc., and Rogers & Associates Engineering Corporation, Salt Lake City, Utah, May 1993. 11. Alex Gabbard, Coal Combustion: Nuclear Resource or Danger, http://www.orl.gv/info/ornlreview/rev26-34/text/colmain.html. 12. K. Okamoto, Effect of The Foodchain in Radioactivities Released from Thermal Power Plants, Department of Applied Mathematics, University of New South Wales, Kensington, N,S.W., Australia,.

DISKUSI

PERTANYAAN: (Ida NF PPEN BATAN) 1. Jenis Emisi radioaktif yang dilepaskan oleh PLTU batubara dan PLTN berbeda, apa bisa dipakai perbandingan/dibandingkan? JAWABAN: 1. Jenis emisi radioaktif antara 2 PLT tersebut memang berbeda tetapi dampak dari radionuklida tersebut sama karena radionuklida tersebut akan menghasilkan paparan atau radiasi yang sama baik radiasi , , atau dan paparan radiasi merupakan bahaya radiasi eksternal dan internal terhadap tubuh manusia.

PERTANYAAN: (Teddy A Teknik Fisika UGM) 1. Data yang digunakan diambil/diacu dari mana? 2. Batubara yang digunakan jenis apa? JAWABAN: 1. Data-data diambil dari hasil-hasil penelitian yang sudah dipublikasikan dan juga laporan-laporan seperti USEPA atau NCRP. 2. Kebanyakan batubara yang digunakan untuk PLTU adalah lignit dan sebagian negara juga ada yang menggunakan batubara jenis bituminus.

Heni Susiati, PPEN-BATAN

396