Anda di halaman 1dari 16

MULTIKULTURALISME (PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN #) Dosen : Bapak Sri Waluyo

Disusun Oleh : Firda Annisa : 12211885

Kelas : 2EA27 UNIVERSITAS GUNADARMA FAKULTAS EKONOMI JURUSAN MANAJEMEN

Kata pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Tugas Makalah Softskill Pendidikan Kewarganegaraan ini, tanpa adanya suatu halangan. Selain itu saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada

1. Bapak Nurhadi selaku Dosen Matakuliah Pendidikan Kewarganegaraan yang saat ini membimbing saya 2. Ke Dua Orang Tua Saya yang saat ini selalu meberikan dukungan Moral, Material dan Doa yang senantiasa di berikan kepada saya. 3. Teman Teman Sekelas 2EA27 yang selalu memberikan Semangat satu sama lain.

Saya menyadari bahwa saya masih dalam tahap belajar, dimana pengetahuan yang saya miliki masih sedikit. Sehingga masih banyak kesalahan dan kekurangannnya. Semoga tugas terstruktur ini akan bermanfaat bagi orang banyak. Demikian yang dapat saya tulis dan atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

Bekasi, 19 Mei 2013

Firda Annisa

Page 2 of 14

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ......................................................................................................... 1 Daftar Isi BAB II ........................................................................................................ 2 MULTIKULTURALISME 2.A Latar Belakang Multikulturalisme ............................................ 3 2.B Perumusan Masalah .................................................................... 4 2.C Tantangan Keindonesia-an .........................................................4 2.D Multikulturalisme ....................................................................... 5 2.E Masyarakt Multikultural. 6 2.F Multikultural dalam Pembentukan Identitas Diri ........... 8 2.G Budaya Politik Masyarakat Multikultural .................................. 9 2.H Demokrasi sebagai Budaya Politik Mayarakat Multikultural Modern ................................................................. 2.I Kesimpulan ................................................................................ 13 2.J Daftar Pustaka ............................................................................. 14 10

Page 3 of 14

BAB II MULTIKULTURALISME

2.A. Latar Belakang Multikulturalisme


Bangsa Indonesia mengalami tantangan yang sangat berat dan rumit, tantangan tersebut bisa dilihat dari beberapa aspek social ekonomi, social politik, social budaya, social religious, moralitas dan lingkngan hidup. Dari aspek social ekonomi terjadi kesenjangan yang semakin lebar antara mereka yang kaya dan mereka yang miskin. Terjadi akumulasi kekayaaan hanya pada sebagia kecil masyarakat, di lain pihak terjadi akumulasi utang bagi seluruh bangsa Indonesia, tidak peduli yang kaya atau yang miskin. Selain daripada itu telah terjadi perubahan dan peningkatan pola hidup yang sangat konsumtif. Dimana pola hidup yang sangat konsumtif membuat manusia terjebak pada usaha usaha mencari uang sebanyak banyaknya, dengan melupakan cara cara mencari uang yang wajar dan tidak melanggar hak orang orang lain. Berkaitan dengan ini mengingtkan tentang serang pemikir dari Belanda bernama A.Th. Van Leeuwen menyatakan bahwa kini telah muncul agama baru, yaitu agama ekonomi yang menawarkan keselamatan (pekerjaan, sandang, pangan, papan, kesejahteraan, kebebasan, dan keadilan bagi para pemeluknya). Para pemeluknya agama baru ini percaya bahwa uang adalah ilah-nya, sedang tempat beribadatnya tidak lain adalah pasar (bisa dalam bentuk bursa efek, mal, dan lain lain), sedang tata cara liturginya adalah persaingan bebas. Dari aspek social politik ada gejala yang menarik, bila terjadi pergantian kepemimpinan maka ada harapan baru, namun setelah berlangsung beberapa waktu maka terjadi kekecewaan, makin lama kepercayaan makin berkuran, hal ini berkaitan dengan kurangnya kemampuan untuk memanfaatkan momentum yang baik untuk memenuhi cita cita bersama sejak awal kemerdekaan yaitu terciptanya masyarakat yang adil dan makmur. Munculnya suatu krisis kepemimpinan politik. Kepemimpinan diperoleh lewat politik uang dan bukan lewat visi dan kompetensi. Berkaitan dengan aspek social ekonomi dan social politik, maka ada kecenderungan kuat telah terjadi kolusi dan nepotisme yang tidak wajar, sehingga menimbulkan masalah korupsi yang parah. Keparahaan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut, korupsi di Indonesia bagaikan sebuah pohon besar dengan akar yang tunggang menggambarkan bahwa korupsi telah terjadi dari strata paling atas sampai paling bawah. Sedang akar serabut menggambarkan bahwa korupsi telah menjalar kemana mana sehingga butuh usaha ekstra keras untuk menebangnya.
Page 4 of 14

Dari aspek social budaya ada gejala gejala yang sangat memprihatikan, upamanya menggejalanya budaya kekerasan, entah itu kekerasan dalam rumah tangga maupun kekerasan social, bahkan kekerasan oleh Negara. Selain ada budaya kekerasan, juga muncul budaya kematian. Tentunya kecenderungan tersebut tidak dapat tidak harus dikaitkan dengan berkembangnya budaya materialistic, dimana materi bukan sekedar sebagai sarana melainkan sebagai tujuan dan jaminan kehidupan itu sendiri. Dari aspek social religious, penghayatan agama sekedar formalism (sangat meemntingkan dan menekankan bentuk bentuk peribadatan) dan legalisme (ketaatan buta terhadap hukum hukum agama secara hitam putih) yang lebih menyedihkan lagi adalah sering agama dipakai pembenaran terhadap pandangan, ide dan pendapat seseorang atau sekelompok orang. Padahal agama bertujuan untuk menghantar manusia bertemu dengan Allah. Setiap pertemuan dengan Allah selalu menantang manusia untuk menjadi lebih baik atau dengan perkataan lain setiap perjumpaan dengan Allah selalu menantang manusia untuk melakukan pertobatan (pembaharuan hidup agar sesuai dengan rencana Allah) secara terus menerus, akhirnya antara kehidupan beragama dan kehidupan social kemasyarakatan bagaikan rel kereta api yang tidak pernah beretemu. Kehidupan beragama yang begitu marak tidak menyebabkan kehidupan pribadi dan kehidupan social menjai lebih baik. Dari aspek moral, dapat terlihat bahwa telah terjadi proses pengabaian dan pembunuhan suara hati atau hati nurani. Dari aspek lingkungan hidup, tampak bahwa telah terjadi kerusakan ekosistem yang sangat mengkhawatirkan, salah satu gejala yang sangat menonjol adalah pada musim kemarau sebagian masyarakat mengalami kebanjiran dan longsor. Lebih lebih para pengambil kebijakan kurang memiliki kepedulian.

2.B. Perumusan Masalah


Berkaitan dengan subpokok-subpokok yang akan dikaitkan dengan pemicu multikultural, yaitu aliran-aliran yang tentu perlu dikaji lebih dalam subpokok-subpokok tersebut agar dapat dikaitkan dengan multikulturalisme, sehingga akan ada rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana Mayarakat multikulturalisme? 2. Apa pengertian multikulturalisme ? 3. Bagaimana multikultural dalam Pembentukan Identitas Diri ?

2.C. Tantangan Ke Indonesia-an


Page 5 of 14

Sejak tahun 1997 indonesia mengalami tantangan yang bersifat multidimensional (orang sering mememakai istilah Kristal = krisis Kristal). Tantangan yang diawali dengan masalah moneter, selanjutnya berkembang ke politik dan akhirnya bermuara pada masalah keadaban bangsa itu sendiri, sampai sekarang belum bisa diatasi secara tuntas, bahkan mungkin tantangannya menjadi semaknin rumit. Kerumitan tersebut semakin menjadi jadi berkaitan dengan kenyataan bahwa Indonesia merupakan sebuah Negara yang majemuk secara etnis dan budaya. Tantangan ini menjadi nyata dengan problem kekerasan antar etnis yang melanda Indonesia akhir akhir ini, bahkan telah memasuki dunia kampus, dunia pendidikan, mulai dari SD sampai perguruan Tinggi. Selanjutnya ada dua tantangan lain yang sangat menggejala yaitu korupsi dan kerusakan ekosistem yang sangat parah. Ketiga tantangan tersebut dapat mengancam Negara Kesatuan Republic Indonesia yang baru berusia 63 Tahun. Berkaitan dengan itu maka kita bisa mengerti mengapa para pendiri bangsa mencanangkan adagium Bhineka Tunggal Ika dan Soekarno selalu meneriakan perlunya usaha untuk merealisasikan apa yang disebutnya sebagai proses nation building. Namun rupanya selama 20 tahun pemerintahan Soekarno, proses tersebut belum selesai. Selama Orde Baru seolah olah masalah tersebut dapat diredam, karena pemerintah orde baru menggunakan pendekatan yang bersifat represif. Kini problem tersebut menggejala lagi setelah pendekatan represif mulai ditinggalkan. Mengusahakan nation building merupakan suatu pekerjaan rumah yang masih harus dilanjutkan. Dengan perkataan lain bagaimana adagium Bhineka Tunggal Ika dapat direalisasikan? Untuk itu dari sudut pendekatan budaya ditawarkan jawaban berupa usaha membangun sikap multicultural.

2.D. Multikulturalisme
Apa itu Multikulturalisme? Mengingat Multikulturalisme berkaitan dengan Budaya. Ada banyak definisi budaya yang pernah diajukan oleh para ahli, sehingga Raymond Williams menyatakan bahwa istilah culture merupakan salah satu istilah yang paling sulit didefinisikan di dalam kamus bahasa inggris. Selain dari pada itu multikulturalisme juga menunjuk pada kemajemukan budaya dan akhirnya multikulturalisme juga mengacu pada sikap khas terhadap kemajemukan budaya tersebut. Multikulturalisme meliputi sebuah pemahaman, penghargaan dan penilaian atas budaya seseorang, serta sebuah penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis lain. Multikulturalisme meliputi sebuah penilaian terhadapa budaya budaya orang lain, bukan dalam arti menyetujui seluruh aspek dari budaya budaya tersebut, melainkan mencoba melihat bagaimana sebuah budaya yang asli dapat mengekspresikan nilai bagi anggota anggotanya sendiri.
Page 6 of 14

Sedangkan bagi H.A.R. Tilaar multikulturalisme merupakan upaya untuk menggali potensi budaya sebagai capital yang dapat membawa suatu komunitas dalam menghadapi masa depan yang penuh resiko. Pengertian lain diusulkan oleh Dwicipta dalam tulisannya yang berjudul : Sastra Multikultural sebagai Multikulturalisme jangan dipahami sebagai suatu doktrin politik dengan suatu kandungan program maupun suatu aliran filsafat dengan suatu keketatan teori tentang ruang hidup manusia di dunia, melainkan sebagai suatu perspektif atau suatu cara pandang tentang kehidupan manusia. Dari empat definisi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa multikulturalisme di satu pihak merupakan suatu pendekatan yang menawarkan paradigm kebudayaan untuk mengerti perbedaan perbedaan yang selama ini ada di tengah tengah masyarakat kita dan di dunia. Namun, multikulturalisme bukan merupakan cara pandang yang menyamakan kebenaran kebenaran local, melainkan justru mencoba membantu pihak pihak yang saling berbeda untuk dapat membangun sikap saling menghormati satu sama lain terhadap perbedaan perbedaan dan kemajemukan yang ada, agar tercipta perdamaian dan dengan demikian kesejahteraan dapat dinikmati oleh seluruh umat manusia.

Ada Lima Jenis Multikulturalisme 1) Multikulturalisme Isolasionis : mengacu pada visi masyarakat sebagai tempat kelompok kelompok budaya yang berbeda menjalani hidup mandiri dan terlibat dalam saling interaksi minimal sebagai syarat yang niscaya untuk hidup bersama. 2) Multikulturalisme Akomodatif : mengacu pada visi masyarakat yang bertumpu pada satu budaya dominan, dengan penyesuaian penyesuaian dan pengaturan yang pas untuk kebutuhan budaya minoritas. 3) Multikulturalisme Mandiri : mengacu pada visi masyarakat dimana kelompok kelompok budaya besar mencari kesetaraan dengan budaya dominan dan bertujuan menempuh hidup mandiri dalam satu kerangka politik kolektif yang dapat diterima. 4) Multikulturalisme Kritis atau Interaktif : merujuk pada visi masyarakat sebagai tempat kelompok kelompok cultural kurang peduli dalam menciptakan satu budaya kolektif yang mencerminkan dan mengakui perspektif mereka yang berbeda beda. 5) Multikulturalisme Kosmopolitan : mengacu pada visi masyarakat yang berusaha menerobos ikatan ikatan cultural dan membuka peluang bagi para individu yang Page 7 of 14

kini tidak terikat pada budaya khusus, secara bebas bergiat dalam eksperimen eksperimen antarkultur dan mengembangkan satu budaya milik mereka sendiri.

2.E. Masyarakat Multikuktural


Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan ratusan suku dengan budayanya masing masing, dalam dunia yang semakin terbuka maka perjumpaan dan pergaulan antar suku semakin mudah. Di satu sisi kenyataan ini menimbulkan kesadaran akan perbedaan dalam berbagai aspek kehidupan. Perbedaan bila tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan konflik, yangbahkan akhir akhir ini sudah menjadi kenyataan. Di lain pihak kenyataan ini juga menimbulkan kesadaran perlunya dan pentingnya dialog dalam kehidupan yang makin terbuka saat ini. Dengan demikian sikap multicultural merupakan sikap yang terbuka pada perbedaan. Mereka yang memiliki sika multicultural berkeyakinan : perbedaan bila tidak dikelola dengan baik memang bisa menimbulkan konflik, namun bila kita mampu mengelolanya dengan baik maka perbedaan justru memperkaya dan bisa sangat produktif. Salah satu syarat agar sikap multicultural efektif adalah bila kita mau menerima kenyataan hakiki bahwa manusia adalah makhluk sempurna, manusia adalah makhluk yang selalu menjadi. Padahal agar dapat menjadi, manusia membutuhkan sesamanya. Dengan perkataan lain sikap yang seharusnya mendasari masyarakat multicultural adalah sikap renah hati, bahwa tidak ada seseorang pun yang mampu memeliki kebenaran Absolut, karena kebenaran Absolut melampaui ruang dan waktu, padahal manusia adalah makhluk yang berjalan bersama menuju kebenaran Absolut tersebut. Untuk itu kita perlu mengembangkan sikap hormat akan keunikan masing masing prbadi / kelompok tanpa membeda bedakan entah atas dasar gender, agama dan etnis. Selain daripada itu perlu juga mengembangkan sikap hormat pada masing masing pribadi / kelompok dengan cara cara berada mereka masing masing. Namun ada satu tantangan yang harus kita hadapi dan atasi yaitu essensialisme bdaya. Apa itu essensialisme budaya? A.L Kroeber dan Clyde Kluckhon pernah melakukan studi terhadap definisi definisi kebudayaan yang pernah dirumuskan oleh para ahli, mulai dari Mathew Arnold sampai D.M. Taylor dn mereka mengumpulkan tidak kurang dari 171 definisi. Dari studi tersebut Kroeber dan Kluckhon berhasil mengelompokan menjadi 13 kategori, kemudian disederhanakan menjadi 6 kategori, yaitu definisi yang bersifat deskriptif, historis, normati, psikologis, struktual dan genetis. Bila keenam kategori tersebut disederhanakan
Page 8 of 14

lagi maka akhirnya hanya ada dua kategori, yaitu yang bersifat normative dan yang bersifat deskriptif, Yang menarik adalah bahwa kedua kategori tersebut cenderung melihat kebudayaan sebagai kata benda, sebagai sesuatu yang sudah jadi, sudah selesai, maka tidak berubah lagi. Oleh karena itu layaklah bahwa kebudayaan dijadikan pegangan dan acuan oleh mereka yang terkait dengan kebudayaan tersebut dalam menentukan sikap, perilaku terhadap sesamanya dan lingkungannya. Pandangan seperti inilah cenderung melihat budaya sebagai suatu hakikat (essensi) yang tidak bisa berubah lagi. Pandangan ini dicirikan sebagai pandangan essensialisme. Dalam panangan ini terkandung pengertian bahwa ada kebenaran yang bersifat tetap, stabil dan tidak berubah, dan akhirnya manusia dilihat sebagai hasil dari kebudayaan dimana mereka hidup ; mereka yang berbeda adalah orang lain, orang asing atau orang dalam yang sudah menyimpang. Bahaya yang terkandung dalam pandangan ini adalah munculnya sikap eksklusif, dan yang lebih berbahaynya lagi bila sikap eksklusif tersebut berkembang menjadi sikap memaksakan pandangannya atau keyakinannya pada orang lain. Oleh karena itu pandangan tersebut di atas ditolak oleh mereka yang menganut faham konstruksionisme. Dalam pandangan ini, kebudayaan dipandang sebagai kata kerja. Suatu proses yang berlangsng terus. Dengan demikian kebudayaan bersifat dinamis, kebudayaan kini dilihat sebagai interaksi manusia dengan sesamanya, dengan dunia dan dengan Allah. Dengan demikian kebudayaan di konstruksikan oleh mereka yang terlibat dalam kebudayaan itu sendiri, kebudayaan dikontruksikan oleh para stakeholders-nya. Pandangan ini memungkinkan perubahan di dalam kebudayaan yang bersangkutan, karena situasi social yang ada di luar kebudayaan tersebut mengalami perubahan. Berhadapan dengan beraneka ragam budaya yang terus menerus berinteraksi dalam dunia yang sudah mulai kehilangan sekat sekat budayanya, sikap konstruksionisme budaya lebih masuk akal dan lebih sesuai dengan perkembangan pemikiran dalam perputaran zaman. Dalam pandangan ini manusia terus menerus berada dalam proses membentuk sekaligus dibentuk oleh budayanya. Manusia disatu pihak merupakan hasil dari kebudayaan, artinya manusia itu lahir, dibesarkan dan dididik dalam kebudayaan tertentu. Namun di lain pihak manusia juga merupakan agen pembaru kebudayaannya, artinya manusia dengan kemampuannya, entah itu kemampuan spiritual maupun kemampuan moralnya, mamu mengkonstruksi kebudayaan yang baru. Atau dengan perkataan lain manusia adalah subyek dan obyekkebudayaan. Atau dengan perkataan lain sebagaimana diungkapkan oleh van pauren yang menguti kata kata Immanuel Kant bahwa cirri khas kebudayaan terdapat dalam kemampuan manusia untuk mengajar dirinya sendiri.

Page 9 of 14

2.F. Multikulturalisme dalam Pembentukan Identitas Diri


Multikulturalisme berhadapan dengan dua aspek yag harus mendapat perhatian berimbang. Keanekaragaman di satu pihak, dan kesamaan di pihak lain. Yang menjadi tujuan dalam masyarakat multicultural adalah menciptakan kehidupan bersama yang harmonis dan dinamis dalam keberagaman. Maka hanya memperhatikan aspek keberagamaan, atau hanya memperhatikan kesamaan, akan menjadi sikap yang tidak berimbang dalam membangun masyarakat multicultural. Dengan kata lain pembntukan identitas diri oleh kebudayaan tidak hanya menekankan aspek perbedaan melainkan kesamaan. Bagian ini menggali esensi kebudayaan dengan berbicara sekitar apa itu kebudayaan dan kebudayaan sebagai identitas diri keragaman budaya dan nilai nilai bersama. Tidak bisa disangkal bahwa manusia itu tidak bisa hidup sendiri. Sejak awal bahkan untuk adanya saja manusia membutuhkan orang lain. Interaksi dan Korelasi dengan sesama membuat setiap orang sanggup membangun kepribadiannya sebagaimana adanya. Walaupun setiap orang memiliki perbedaan karena sejak adanya selalu membentuk ruang dan waktu sendiri yang tak pernah bisa direbut oleh orang lain, manusia selalu masuk dalam satu komunias budaya tertentu. Kesamaan lingkungan seperti geografis, kesamaan nasib, keluarga, nilai nilai, praktik keagamaan, kebiasaan, adat istiadat dari komunitas budaya ikut membentuk identitas komunitasnya.ini membuat tidak hanya memiliki identitas diri sebaai persona tetapi jua punya cirri cirri yang bisa sama dengan orang lain komunitasnya. Karena dengan menjadi komunitas budaya seseorang membentuk personalitasnya tetapi sekaligus juga dilingkupi oleh budaya dan diidentifikasikan dengan kelompok orang dalam budayanya. Pengaruh budaya itu bukan pilihan melainkan merupakan satu keterlemparan. Secara otomatis setiap orang di besarkan dalam satu lingkup budaya tertentu. Dan tentu sekali orang tidak dapat dipersalahkan karena keterlemparan itu. dan konsekuen dengan itu orang juga tidak dapat membanggakan secara berlebihan karena keterlemparan tersebut, apalagi sampai tidak menyenangi orang lain hanya karena dia berbudaya lain, dan bertindak laku sesuai dengan budayanya.

2.G. Budaya Politik Masyarakat Multikultural


Salah satu aspek yang penting dalam menata kehidupa bersama masyarakat Multikultural adalah budaya Politik. Suatu masyarakat bangsa akan berkembang sehat kalau budaya politknya sesuai dengan situasi masyarakat bangsa tersebut. Keanekaragaman bdaya dalam masyarakat multikultural juga merupakan kondisi yang menuntu adanya budaya politik yang sesuai. Pertanyaannya adalah budaya politik mana yang lebih sesuai dengan Page 10 of 14

masyarakat multikultural? Sampai saat ini jawabannya adalah demokrasi. Tidak berarti demokrasi adalah sistem paling baik melainkan sistem yang, dibandingkan dengan sistem lain, masih lebih memadai dengan bagi masyarakat multkultural. Gejala ini tampak sejalan dengan apa yang dinyatakan Fukuyama dalam karyanya The End of History and The Last Man Fukuyama memproklamirkan kemenangan kapitalisme dan demokrasi liberal menyusul runtuhnya rezim komunis di Eropa Timur dan Uni Soviet.

Demokrasi : Apa itu? Scara Etimologis, Demograsi berasal dari kata Yunani demos : rakyat, dan kratein : memerintah. Demokrasi artinya pemerintah dengan pengawasan rakyat. Sistem ini pertama tama berkembang di polis polis Yunani, dan hanya berlaku untuk warga negara tidak berlaku bagi budak dan orang asing. Demokrasi di polis Yunani ini pernh mendapat kecaman dari Sokrates dan Plato terutama karena kadang kadang pemimpinnya hanya dipilih dengan cara membuang Undi. Demokrasi kemudian dikembangkan oleh Aristoteles. Menurut Aristoteles suatu bentuk negara dikatakan baik apabila diarahkan pada kepentingan umum, yakni kepentingan setiap individu. Karena itu menurutnya, ada Tiga dasar untuk membangun sebuah negara yang baik, ialah : keebasan prbadai, pemerntahan yang brdasarkan undang undang dan kelompok mayoritas yang memegang kekuasaan. Pemerintah oleh rakyat dapat dilakukan secara langsung atau melalui waki wakil Rakyat ; secara langsung terdapat dalam demokrasi murni, dan secara perwakilan dalam demokrasi perwakilan. Pemiiran Modern mengartikan demokrasi sebagai ide politis filosofis tentang kedaulatan rakyat. Hal ini berarti semu kekuasaan politik dikembangkan pada rakyat itu sendiri sebagai subyek asali otoritas ini. Dalam pemikiran modern ditambahkan syarat untuk berdemokrasi secara benar jika seluruh rakyat menggunakan rasionya dan mempunyai hatinurani. Dan hendaknya Rakat sendiri bebas dan setara. Dengan demikian meereka berperan serta dalabagaimanapunm mengambil keputusan tentang maslah masalah politik yang menjadi perhatian mereka. Bagaimanapun, rakyatseara keseluruhan dapat menjalankan kekuasaan tertinggi secara bersama hanya pada tingkat yang sangat terbatas. Karena itu proses hukum harus ditungkan dalam undang undang dasar. Proses semacam ini memungkinkan pembentukan kebijakan politik dengan pemilihan secara bebas dan rahasia wakil wakil rakyat yang menduduki jabatan dalam jangka waktu tertentu. Wkil wakil ini dipilih menurut prinsip prinsip yang ditentukan oleh suatu mayoritas tertentu dan mereka diberikan hak dan kewajiban yang digariskan secara jelas.

Page 11 of 14

2.H. Demokrasi sebagai Budaya Politik Mayarakat Multikultural Modern


Sudah disadari bahwa dalam masyarakat multikultural ada keanekaragaman. Di sini di temkan adanya kanekaragaman budaya, suku, agama, keyakian, nilai, cara berpikr, dengan segala kepentingannya masing masing di belakngnya. Tidak jarang kita menemukan berbagai kepentingan yang tidak hanya berbeda melainkan juga bahkan bertentangan satu sama lain. Kepentingan kepentingan ni bukan haya harus dipenuhi, melainkan juga berlomba lomba untuk dipenuh bahkan dengan mengabaikan kepentingan kelompok aau pihak lain. Saling mendahului dan bahkn saling meniadakan. Artinya bukan hanya ada kemungkinan bahwa kepentingan kentingan itu cua menejar prioritas untuk dipenuhi terlebih dahulu dari kelompok lain, melainkan juga ada kemungkinan keinginan lain, bahwa kepentingan kelompoknya terpenuhi dan atau sehingga kepentingan kelompok lainnya tidak terpenuhi. Keanekaragaman semacam itu dalam masyarakt multikulturl harus di akomodasi dalam satu komunitas kehidupan bersama. Perbedaan perbedaan bahkan pertentangan pertentangan itu harus di ramu dalam satu budaya politik yang mengkondisikan satu komunitas yang harmonis dan dinamis.persoalannya adalah bagaimana menemukan budaya politik dan kebijakan publik yang dapat menampung semua kepentingan itu sehingga sanggup membangun satu komunitas yang bekembang secara sehat. Memang ada wilayah keanekaragaman yang bisa disepakati, tetapi ada juga yang tidak bisa disepakati sama sekali. Misalnya, masalah keyakinan agama merupakan hal yang tdak bisa di kompromi. Batas batasnya sangat jelas kalau masuk satu agama berarti serta merta meninggalkan agama lain. Bahkan bisa dimusuhkan oleh kelompok agama yang di masuki, bahkan diminta bersaksi untuk meyatakan bahwa agama yang di tinggalkan itu salah da yang di masuki ituah yang benar. Tidak aneh bahwa ada peralihan agama di anggap sebagai pertobatan oleh pihak agama yang di masuki, dan sebagai murtad oleh pihak agama yang di tinggalkan. Fakta sediit banyak menunjukan bahwa budaya politik demokrasi lepas dari kelemahan kelemahannya, masih merupakan budaya politik yang cukup relevan untuk menciptakan satu komunitas masyarakat multikultural. Artinya sampai sekarang masyarakat multikultural belum menemukan satu budaya politik lain yang lebih memadai dari budaya politik demokrasi. Memamg harus diakui bahwa sistem politik dalam faham demokrasi bukan yang terbaik dan anpa kelemahan. Kelemahan kelemahan yang sering dikemukakan adalah bahwa budaya demokrasi penuh dengn gejolak dan dinamika yang kadang kadang justru sedikit banyak mengganggu stabilitas dalam masyarakat. Budaya demokrasi dianggap menyedot energi dan biaya dalam pengamblan keputusan karena harus mempertimbangkan banyak kepentigan. Bahkan yang paling dikritik pada zaman Yunani kuno adalah bahwa
Page 12 of 14

demokrasi menghasilkan kesepakatan dan pemimpin pemimpin yang kurang bermutu karena rakyat hanya melakukan voting untuk mengambil keputusan atau membuang undi untuk memilih pemimpin. Namun Demokrasi tetap dianggap sebagai budaya politik yang memadai dalam masyarakat multikultural karena menghargai kebebasan dan kesetaraan. Dan kelemahan kelemahan itu dapat dihinarkan kalau demokrasi dilakukan dalam public reason dan pulic delibration. Artinya demokrasi itu menggunakan akal sehat untuk kepentingan bersama dan atas pertimbangan yang matang dan mendalam. Masyarakat multikultural merupkan arena bagi berkemang dan hidupnya budaya politik demokrasi dmana semua kepentingan mendaatkan tempat, perhatian, dan penghargaan. Dalam budaya politik demokrasi, bukan hanya kesepakatan kesepakatan yang dicari melainkan jugaadanya pegakuan terhadap hal hal yang tidak dapat disepakati menyangkut soal keykinan dan nilai nilai kelompok dan agama misalnya. Prinsip demokrasi adalah kebebasan dan kesetaraan. Kebebasan mengandaikan keanekaragaman dan kesetaraan mengandaikan kesaaan atau tidak adanya diskriminasi. Di sinilah letak ketegangan bagaimana menemukan satu kebijakan publik yang di satu pihak tetap menjaga kebebasan, dan di piak lain tetap menjaga kesetaraan. Di satu pihak tetap mengakui adanya keanekaragaman tetapi di pihak lain memperjuangkan adanya kesetaraan.

Demokrasi Deliberatif Sbuah model budaa demokrasi yang banyak diwacanakan adalah demokrasi deliberatif. Mdel demokrasi ini terutama muncul di dunia ketiga karena kegagalan demokrasi liberal yang berbasiskan pada sistem perwakilan. Biasanya disebabkan karena lembaga lembaga formal tidak berfungsi dengan baik seperti partai partai politik, pemilu parlemen, pemerintah.

o Demokrasi Deliberatif Menenkankan Partisipasi warga negara dalam pemerintahan lokal dan juga kemitraan negara masyarakt melalui pembukaan ruang publik bagi organisasi organisasi masyarakat sipil berhubungan dengan negara, terutaa di tingkat lokal. Itu berarti ruang publik itu punya akses tidak hanya ke pemerintahan lokal, melainkan juga ke negara melalui pemerintahan lokal.
Page 13 of 14

Musyawarah pada tingkat masyarakat sipil tanpa intervensi negara. Hak rkyat sebagai warga negara untuk menentukan masa depannya yang bisa dicapai dengan berbagai kebijakan haus dihargai dan keiatan masyarakat sendiri sebagai pemegang kedaulatan tetap endapat tempat. Kata kuncinya demokras deliberatif adalah partispasi dan dialog setara diantara warga di dalam satu komunitas untuk merumuskn kebijakan terbaik. Akal sehat. Kata sifat delberatif yang kata bendanya adalah deliberation artinya pertimbangan yang mendalam. Karena itu pertimbangan menjadi penting. Kemufakatan terjadi bukan terutama karena suara mayoritas melainkan karena pertimbangan akal sehat. Itu berrti demokrasi delibratif mempertimbangkan kepentingan semua pihak yang bersma sama membentuk satu masyarakat bangsa. Karena itu demokrasi deliberatif adalah demokrasi yang terbuka, yang siap berdialog, siap menjelaskan segala sesuatu seara gamblang.

Public Reason Seperti sudah dikatakan konsep bersama untuk menghadapi kepentingan bersama dalam masyarakat plural tidak dapat diambil dari satu budaya atau keyakinan tertentu karena tidak ada budaya, keyakinan, agama, nilai, yang di anut secara bersama atau oleh seluruh lapisan masyarakat multikultural. Karena itu instrumen yang paling bisa menjadi arena bersama untuk berdialog dan berdiskusi menemukan konsep bersama unuk menghadapi masalah bersama dalam masyarakat plural adalah akal budi. Maka akal budi menjadi sarana untuk berdialog, yang berfungsi sebagai public reason ntuk bertukar pendapat dalam menentukan konstitusi dan ketentuan bersama demi mengejar tujuan bersama. Satu hal yang diyakini di sini bahwa dalam masyarakat multikultural yang berbeda beda suku keyakinan, bahasa, semua anggota memiliki akal budi sebagai manusia.

Page 14 of 14

2.I. Kesimpulan

Isu Multikulturaisme, baik sebagai kerngka wacana maupun sebagai agenda praktis perjuangan politik, tidak perlu diperlawankan dengan agenda feminis yang berupaya untuk memajukan kesetaraan dan keadilan jender. Meskipun di sana sini masih nampak adanya ketegangan konseptual dan praktis antara kedua isu besar ini, namun ada satu hal yang saya lihat bisa menjadi kerangka kerja bersama baik bagi kaum multikulturalis maupun bagi kaum feminis, yaitu : kesadaran akan keanekargaman budaya, bangsa, kepentingan dan suara sekaligus pengakuan bahwa keanekaragaman itu bisa menyumbang pemahaman aka realitas dan gugus tindakan kita menjadi lebih kaya dan kreatif hendaknya bisa menjadi titik pijak untuk menolak model model homogenisasi, penyeragaman dan pnindasan wajah baru yang di lancarkan oleh siapapun aktornya (negara dan aparatusnya, budaya patriarkal yang dominan dengan para seepuh dan barisan penjaganya, agama dan agamawan pasar dan korporasi).

Page 15 of 14

2.J. Daftar Pustaka

Indeks, Multikulturalisme. Jakarta, 2009

Page 16 of 14