Anda di halaman 1dari 91

kagrataangora Lives in Life. Kini fajar berganti senja, mengantar bulan mengganti mentari terlelap.

Dan bahtera kian merapat ke dermaga. Meski masih sekian miles tapi itu kian pasti. Menuju sebuah tempat dimana semua orang harus kembali. Telah banyak cerita kau perankan. Begitu banyak manis yang kau kecap. Juga pahit yang kau telan mentah. Entah berapa bulir peluh yang menetes. Meski kakimu kian tak mampu berpijak. Letih dengan riuh hujan yang mengutuki. Tapi ini adalah karunia-Nya. Mengecap manisnya kehidupan dalam detak jantung. Merasakan sayatan luka dalan hela nafas. Dan semua itulah yang membuatmu kian mengerti usia.

Kau tahu, aku dan dia tidak banyak bedanya. Kami dua gadis muda yang sama-sama tengah kasmaran. Tapi aku iri padanya karena ia bisa kasmaran terang-terangan.

Ia bisa bilang padamu, ayo kita menjelajah muka bumi. Kita singgahi kota-kota bersejarah, kita akrabi rupa-rupa manusianya, kita tulis catatan perjalanan bersama. Namun cukuplah kita cetak empat atau lima eksemplar, untuk simpanan masa tua, untuk gagah-gagahan ke anak cucu kelak. Itu rencanaku. Hanya tidak pernah kusebutkan. Ia bisa menatap matamu, membisikkan terimakasih karena telah hadir dalam hidupnya, jadi bintang benderang yang memberi arah. Itu kalimatku. Hanya tidak pernah kukatakan. Sambil kau genggam tangannya, sambil kau hujani ia dengan pujian berkaitan penampilannya, disampaikannya bahwa ia menginginkanmu sebagai masa depannya. Itu permintaanku. Hanya tidak pernah (keras-keras) kuucapkan. Kau begitu terharu saat ia mengaku menyisipkan namamu di setiap doanya. Itu aku. Malam ini, subuh nanti, dari dulu, sampai entah kapan. pinkberryoghurt reblogged this from namasayakinsi

Satu hal mengapa saya begitu menganggumi Hatta, adalah saat memutuskan hubungan dwitunggalnya dengan Soekarno karena sudah tak sejalan, tapi dia, Hatta, tetap mencintai Soekarno apa adanya. Bagi saya, mungkin itulah salah satu bentuk persahabatan yang mengharukan yang pernah terjadi. Waktu itu, Hatta, setelah berpisah dengan Soekarno, tidak henti-hentinya mengkritik Soekarno atas kebijakkan-kebijakkan yang dibuatnya dalam masa kepemerintahannya. Satu kritik teramat pedas, tertulis dalam tulisannya Demokrasi Kita. Manusia berubah, begitu pula Soekarno, dan Hatta mungkin tak mampu memahami keinginannya Soekarno. Begitu pula Soekarno kepada Hatta. Tapi apakah mereka saling membenci? Kisah permusuhan tersebut, berakhir, ketika Soekarno akan menghembuskan nafas terakhir. Hatta datang mengunjungi Soekarno dalam pengasingan. Dia marah sahabatnya diperlakukan semena-mena dalam penguasaan orde baru. Dia memang tak berucap, tapi air matanya mengalir deras saat melihat sahabatnya yang dulu gagah berani, kini lemah tak berdaya dan siap menghilang nyawa.

Kadang menyedihkan memang, orang-orang yang kita pikir dulu akan selamanya disamping kita, ternyata berubah dan kita sama sekali tak mengenali mereka lagi. Mereka menjadi asing, kata-kata bahkan kalimat yang keluar dari mulut mereka menjadi salah semua. Tak ada lagi senyuman dan pelukkan hangat, karena kita memang sudah terlalu berbeda. Ah iyah, hidup jadi begitu pelik, ketika merasa sendiri, terasing, tanpa teman. Tapi saya ingin mencoba mengerti Soekarno, dia berubah karena memang dia memang harus berubah (mungkin untuk menemukan dirinya). Tapi (pula), bukan salah Hatta tak mampu memahaminya lalu meninggalkannya. Menyedihkan, tetapi mungkin memang itulah jalannya. Karena teman hanyalah titipan, mereka datang untuk menjadikan kita lebih manusia, bahkan terkadang membantu kita untuk menemukan diri kita sendiri. Tak perlu patah hati karena berbeda dan akhirnya tak sejalan, tak lagi sama dalam banyak hal. Asal kasih tak pernah henti, selipkan nama mereka dalam setiap pembicaraan kepadaNya. Mereka memang telah jauh, tapi kenangan tentang mereka akan selalu di hati. Tuhan, doa sederhana saya pagi ini, jagalah orang-orang terkasih yang sudah ada di hati. Amin.

Bapak Entah mengapa, kemarin saya mendadak mewek di atas motor ojek, ketika melewati seorang bapak dengan dua anak perempuannya membawa alat pancingan. Saya teringat waktu SD, bapak seringkali mengajak saya dan adik pergi memancing, walau seringkali gagal dan pulang-pulang ke pasar membeli ikan, agar ibu percaya kami sukses memancing. Hahahaha. Yah beginilah perempuan. Siapapun pendamping kami kelak, bapak akan selalu jadi cinta pertama di hati. Tidak peduli sebaik apapun suami nanti, bapak akan selalu tampak sempurna. I love you, forever, and ever. Bapak :*

PEREMPUAN YANG SELALU MENGGELITIK PINGGANGKU Cerita pendek yang begitu manis ini adalah karya Martin Aleida Terbit di Kompas, 18 November 2012. Dan saya teringat kalimat Eropa Boi, Eropa!!!

Queenaraku, Kuingat benar. Jauh sebelum Ibu-Bapakmu memperkenalkan dunia luar dengan mendaftarkanmu ke playgroup, berkali-kali kau memintaku lagi untuk mendongeng. Kau menarik-narik lengan bajuku, membelai jenggotku. Merengek meminta aku memulai. Tapi, aku tak pernah bisa, kecuali mengulang cerita Si Kancil yang cerdik dan buaya yang besar kuat tetapi dungu. Pendiam, pemalu, acapkali salah tingkah, itulah takdir kakekmu ini. Aku bukan si pencerita yang baik untuk kau, cucu semata loyangku. Yang kupunya hanya kaki yang selalu enteng menghampirimu, dan tangan, yang acapkali semutan, untuk mengecup kening dan rambutmu. Mengagumi matamu

Manakala pelupuk matamu sudah kuyu, sementara dongengku belum sudah, sadarlah aku sesungguhnya kau sudah bosan. Ya, jangankan kau, Si Kancil yang cemerlang dan buaya yang bebal itu pun mencibirku sebagai seorang yang majal daya khayalnya.

Aku bukan seorang pencipta. Lebih sebagai pengelana. Dari pengembaraanku aku ingin memetikkan sebuah kisah untukmu.

Kemarin, setelah bertahun tak pernah dicium kamoceng, aku bersih-bersih di kamar. Kutata kembali buku-buku yang sudah renta dan berdaki kulitnya. Di celah buku ketemukan ini. Guntingan koran LUnita yang terbit di Roma setengah abad lampau. Kertasnya sudah kusam.

Kalau jatuh ke tangan pemulung, dia hanya layak untuk pembungkus terasi. Kliping itu mengingatkan aku pada pengalaman yang menceriakan hati, tetapi juga meninggalkan luka lantaran kecewa.

Tataplah guntingan koran ini. Lihat. Di bawah fotoku, yang sedang melambaikan tangan (dengan peci yang membuat aku kelihatan dungu) setiba di stasiun kereta-api Stazione Termini Roma, mengalir sebaris keterangan: Seorang mahasiswa Indonesia berkunjung ke Italia sebagai tamu resmi LUnita.

Foto dan kata-kata di guntingan koran ini seperti kerlip rama-rama yang datang mengantarkan terang, memancing fantasiku untuk menguntai cerita untukmu, sekarang. Golekkanlah kepalamu di lenganku. Akan kupejamkan matamu dengan belaian kisah tentang bagaimana kekaguman pada seorang perempuan, yang telah menenung Kakekmu ini, sehingga dia menjadi begitu pandir dalam kesetiaan. Aku percaya, kau akan sakit perut terpingkal-pingkal dikocok tawa. Bagaimana mungkin aku bisa jadi sebodoh itu, seperti buaya yang dikadali sang kancil.

Nanti, pengalamanku itu akan kutuliskan baik-baik dengan tulis-tangan tebal-tipis di atas kertas bergaris halus-kasar. Gaya menulis orang jadul, sebagaimana kata Ibumu. Dan akan kuselipkan di antara buku-bukuku. Kalau kau sudah dewasa, dan aku mungkin sudah tiada, bacalah! Saat itu kau tentu sudah memahami arti ketulusan hati dan kesetiaan seseorang yang pandir. Dan orang itu adalah Kakekmu ini, ketika dia masih seorang mahasiswa di sebuah negeri bersalju.

Beruntung, hampir limapuluh tahun lalu, aku dapat beasiswa belajar teknik kapal selam di Moskow. Sungguh mati, Uni Soviet waktu itu bukan surga di bumi. Tetapi, aku sudah merasa seperti berdiri di pintu masuk sebuah taman yang menjanjikan. Setiap bulan aku menerima stipendiya (beasiswa) 90 rubel, dipotong dua rubel untuk bayar obsyezitie (asrama). Dengan uang itu, setiap akhir bulan aku leluasa ngluyur di tokok-toko buku, yang menjual bacaan dengan murah. Dalam bahasa Rusia, aku membaca The Call of the Wild dan The White Fang, yang mencitrakan anjing, binatang kesayangan kita, sebagai lambang pencari kebebasan, karangan novelis Amerika Serikat, Jack London. Novel-novel itu laris seperti kerupuk di Uni Soviet.

Gara-gara buku aku jadi tak bisa menabung. Padahal, aku sudah lama berangan-angan melihat Italia, negeri di mana catatan peradaban masa lalu bisa dibaca dalam berbagai peninggalan berbatu pualam. Alamnya menawan. Cuma ada beberapa kawan yang coba mementahkan hajatku itu. Jangan pernah ke Italia! Orang-orang tak bersahabat di sana. Banyak pelancong yang tertipu. Penjambret di mana-mana, seperti lalat yang tak pernah kenyang. Karena itu Takhta Suci dibangun Tuhan di sana.

Tapi, aku keras kepala. Kuturuti kehendak hatiku. Tak punya duit, aku tak kehabisan akal. Di kios-kios penjualan surat kabar di Moskow hanya ada koran partai komunis dari berbagai penjuru dunia. Kubeli LUnita, dan dengan bahasa Italia yang terbata-bata, dibantu kamus, aku mengadu nasib. Kulayangkan surat pembaca ke koran itu.

Signore, nekat aku menyapa. Saya mahasiswa Indonesia di Moskow. Sejak kecil mimpi mau ziarah ke Italia. Tapi, tabungan saya hanya cukup untuk membeli tiket kereta-api. Saya siap bekerja apa saja untuk membiayai hidup beberapa hari di sana.

Kiambang bertaut. Surat itu dimuat dan dapat tanggapan. Beberapa keluarga bergairah ingin menjadi tuan rumahku. Namun, belum sempat aku menyurati mereka, tiba-tiba datang telegram dari LUnita yang mengambil-alih semua kebaikan hati orang-orang yang bersimpati padaku. Koran itu menyatakan siap menyambutku sebagai tamu resmi.

Begitulah, ke mana saja singgah aku disambut. Tak kulupakan bagaimana hangatnya aku didaulat di kantor koran tersebut. Juga anak-anak muda yang menerimaku dengan tulus. Tetapi, bukan itu benar yang ingin kukisahkan kepadamu. Pun tidak tentang kota maupun wanita Italia berambut jagung yang memang cantik jelita.

Musim panas, Sabtu sore, minggu ketiga Juli 1962. Kutinggalkan stasiun kereta-api Bellorusskii Wokzal menuju Belarus, terus menyeberang ke Polandia. Aku menempati coupe paling ujung untuk dua penumpang. Temanku satu coupe seorang perempuan berusia 60-an. Melihat perawakannya yang tidak begitu tinggi untuk rata-rata orang Rusia, dan gerak-geriknya yang gesit seperti marmut, kukira dia berasal dari Asia Tengah. Dia mendapat tempat-tidur sebelah bawah, aku di atas. Kalau siang, tempat-tidur bertingkat itu kami lipat jadi tempat duduk.

Uni Soviet diperintah orang-orang bertangan besi, tetapi mencintai musik. Di sana, perempuan tak bisa meninggalkan negerinya seorang diri. Karena itu, saya terheran-heran melihat

perempuan teman sekeretaku itu yang mengelana sebatang kara. Mungkin dia seorang pejabat, kupikir. Tetapi, yang kudengar, pejabat yang bepergian ke luar negeri, harus ada yang mengawal. Khawatir kalau-kalau membelot mencari kebebasan ke negara musuh. Atau memang ada pengawal yang mengawasinya dari gerbong lain?

Ah, itu urusan dalam negeri di mana aku hanya sekadar menumpang. Tapi, perempuan ini memang unik. Selama perjalanan dua malam, sebelum sampai di perbatasan Polandia, di BrestLitovsk, aku sering dia bangunkan dengan sikap yang kaku, agak kasar malah. Mencolek pinggangku dari bawah.

Molodoi celowek [Anak muda], tolong tanya kondektur, sudah sampai mana kereta kita?

Seperti seekor tupai yang terusik, turunlah aku mencari kondektur ke gerbong lain sambil ngedumel di dalam hati: Cerewet amat Ibu Rusia ini, kayak suaminya saja aku dia perlakukan, sesuka hatinya menggelitikku di tengah malam begini.

Senin siang rangkaian kereta berhenti di Brest-Litovsk. Di perbatasan itu kereta tertahan dua jam lebih, karena harus mengganti roda, dari yang lebar (di Soviet rel kereta-api lebih lebar) ke yang lebih sempit di Polandia. Selama ganti roda, kami memilih tetap berada di dalam gerbong. Aku duduk menghadapnya seperti seorang anak yang sedang menanti nasihat dari ibunya.

Anda datang dari mana? Senyum, tanpa menatap mataku, dia memantik percakapan.

Iz Indanezii [Dari Indonesia].

Selama ngobrol hampir dua jam lebih, wajahnya yang semula mengesankan seorang yang tertutup, tidak supel, lama-lama mencair, dan menampakkan jati diri seorang ibu yang berhati terbuka.

Setiap tahun saya mengunjungi tiga makam orang yang saya cintai. Kontan pikiranku yang nakal berbisik, tentulah waktu mudanya dia cantik sekali sehingga dia punya banyak kekasih. Yang pertama di Ukraina, yang kedua di sekitar Moskow, dan yang ketiga di Polandia, sambungnya lagi.

Cinta pertamanya adalah suaminya, seorang komandan pasukan tank, yang gugur dalam Perang Dunia II. Yang kedua, putra pertamanya, seorang perwira infantri, yang tewas di sekitar Moskow. Ketiga, putra bungsunya, yang sirna di Polandia sebagai penerbang pesawat tempur.

Saat berbicara kelihatan dia bersusah-payah menyembunyikan kesedihan di wajahnya. Katanya, dia menghabiskan beberapa tahun untuk mencari makam putra bungsunya yang tewas di Polandia itu. Semua biaya perjalanan selama mencari anaknya itu, katanya, ditanggung pemerintah. Sampai akhirnya dia menemukan makam putra bungsunya itu di Katowice, Polandia. Kalau sebelumnnya saban tahun dia mengadakan perjalanan ziarah ke kedua makam di negerinya sendiri, maka untuk perjalanan duka yang ketiga dia harus melintasi perbatasan.

Kereta bertolak kembali. Tiap setengah jam dia menggelitik pinggangku dari bawah, memintaku menemui kondektur, menanyakan sudah sampai di mana kami. Senin sore, kereta berhenti di Katowice. Ibu yang telah memberikan tiga yang terbaik dalam hidupnya untuk Patrioticeskaya

Woina, perang patriotik habis-habisan dalam Perang Dunia II, di mana jutaan tentara maupun rakyat biasa Soviet terbunuh, menunjukkan kebaikan hatinya kepadaku. Kuanggap sebagai imbalan untuk gelitik dan kerepotanku mondar-mandir mencari kondektur. Kedua pojok mulutnya tersungging, dia senyum menatap mataku, dan dengan enteng tangannya memberikan semua bekalnya kepadaku: roti hitam, apel, keju serta sosis. Salamku untuk Emakmu, katanya mengelus kedua pipiku. Dia juga meninggalkan alamat, dan berharap aku berkenan mengunjunginya suatu ketika.

Desember 1962. Bingkai tingkap asramaku memutih dibalut es. Kujenguk keluar. Hanya ada warna putih. Seluruh alam berselimut salju. Pada saat seperti itu terasa benar bahwa aku berada di perantauan yang jauh, di mana batang kelapa, pohon singkong maupun akar bakau adalah mimpi di balik dunia yang lain. Aku teringat Emakku. Dengan siapa aku cinta dan hormat begitu tinggi. Perempuan Rusia teman segerbongku itu tertawa seperti dikocok perutnya ketika kuceritakan bahwa aku tidak hanya mencium Emakku menjelang tidur. Aku juga kerap menggumulnya, mencium pipinya, merenggut kakinya untuk kucium, hingga dia merasa malu melihat kebiasaanku yang berlebihan itu.

Pahit rasanya kalau rindu tak terpuaskan. Entah bagaimana, lamunanku pada kampung halaman mendorong hatiku untuk melangkahkan kaki keluar asrama. Berdesak-desakan dengan angin yang perih membekukan pipi, aku menguak butir-butir salju menuju Ceremuskinskaya Ulitsa, tempat tinggal perempuan Rusia, kawan seperjalananku.

Begitu tiba, buru-buru kuketuk pintu. Ibu! Ini aku, mahasiswa Indonesia. Kawanmu! kataku mantap. Beberapa kali kuulangi ketukan dan kuucapkan kembali kata-kata itu. Diam. Hanya butir-butir salju yang menyahut, menumpuk di sepatuku.

Aku terpacak di bendul pintu. Sesaat kemudian, tiba-tiba pintu terkuak. Dia berdiri dengan anggun. Kujulurkan tanganku. Cepat dia tangkap dan genggam kuat-kuat. Tanpa canggungcanggung kudekap dia. Aku rindu negeriku, kangen Emakku, maka aku ke sini, ucapku tanpa malu-malu.

Melihatku kedinginan, dia langsung mempersilakan aku masuk. Dia sibuk menyiapkan minuman, nyamikan, dan menghidangkannya. Sebagai balasan kuberikan majalah Druzhba, sekalipun kusangka dia sudah membacanya. Di situ aku menulis kisah pertemuanku dengannya, terutama upayanya bertahun-tahun mencari jiwa manusia ketiga yang telah dia sumbangkan untuk tanah airnya. Hatimu Seputih Salju.

Begitulah aku memujanya yang kuungkapkan dalam judul tulisanku itu.

Dia letakkan album foto di pangkuanku, membukakan halaman di mana dia kelihatan sedang berdiri di samping suaminya. Di lembar foto yang lain, dia tampak begitu hangat dengan kedua putranya. Mereka tertawa lepas, saling beradu pipi.

Liliana meninggal musim gugur lalu, katanya seperti menggigil sambil mengusap airmatanya. Kecelakaan lalu lintas.

Yang di dalam foto-foto ini adalah Ibu.

Bukan. Bukan. Saya saudara kembar Liliana.

Apa salah saya, sehingga Ibu harus berbohong. Kalau Ibu tak mau saya kunjungi, katakan terus terang. Saya datang dari negeri yang jauh. Mengapa Ibu memperdaya?

Dia gugup, menghampiri pangkuanku, mengatupkan album foto yang terbuka di pangkuanku, dan membawanya ke dalam kamar.

Saya tahu saudara mengasihi, mengagumi, Liliana. Terima kasih. Saya tak bisa berbuat apa-apa untuk membalas kebaikan saudara, katanya bergetar.

Aku mematung di sofa. Tak percaya dengan apa yang terjadi di ruang tamu itu. Perlahan aku bangkit dan beringsut mau pergi. Dari belakang terasa tangannya memegangi bahuku. Maafkan ucapnya lembut tersendat. Aku tak memalingkan muka, terus melangkah menerabas bulir salju. Merasa sedang dipermainkan.

Seminggu kemudian, aku datang kembali. Ketika bersalaman, kuperhatikan baik-baik jarinya, terutama telunjuknya yang suka menggelitikku. Aku mematut-matut diri di depannya. Aku tak salah ingat, tinggi kami sama. Kutatap matanya lama-lama. Juga kening dan kerut di lehernya. Aku tak pernah salah, dialah perempuan itu. Maaf, Liliana sudah tak ada Begitulah dia terus mengulang-ulang kata yang menyakitkan itu. Dia membiarkan aku masuk. Membiarkan aku termangu.

Minggu berikutnya aku datang lagi. Dan datang, datang lagi, dengan keyakinan persahabatan tak boleh mati. Hatiku kecut ketika menerima surat dari dosenku, yang meminta aku supaya berhenti berkunjung ke rumah perempuan itu. Dasar kepala batu, aku tetap saja datang bertandang. Mengapa persahabatan harus dibungkam dengan cara licik begitu, pikirku. Sampai pun ketika sepasang Tentera Merah mencegatku di pintu, mencekal leher bajuku. Durak..! Sinting! Maki mereka berbareng, meludahi mukaku. Aku beranjak, menepiskan ludah yang membeku di pipiku. ***

(Kepada Djoko Sri Moeljono, ilham cerita ini) 1. mayanggnayam likes this 2. marianagustin likes this 3. justflownaway likes this 4. brain-without-heart likes this 5. namasayakinsi reblogged this from muhammadakhyar and added: Endingnya kenapa.. ahsdkajhsdkjahksdjhakjhd. Tapi setuju sama opini Pak Akhyar. Secara keseluruhan, 6. orrisasmaya likes this 7. empatbelasnovember likes this 8. abdurrahmanhadi reblogged this from muhammadakhyar 9. akanokoizumi likes this 10. namasayakinsi likes this 11. muhammadakhyar posted this

TOLONG DOAKAN SAYA Jangan tapi Karena jika doakan tolong hanya saya berumur mintakan kesehatan untuk percuma berumur dapat dinikmati di tempat panjang, saya. panjang, tidur.

Jangan doakan saya cepat menikah, tapi tolong mintakan jodoh untuk saya. Karena percuma menikah cepat-cepat, jika tidak dengan orang yang seperasaan dan sejalan. Jangan tapi Karena jika Jangan tapi Karena jika tolong doakan mintakan kekayaan tidak dapat saya kaya raya, kebahagiaan untuk saya. itu sia-sia membawa kebahagiaan. jadi cinta menguasai yang ada untuk di penguasa, saya. bumi, dalamnya.

doakan saya tolong mintakan percuma dibenci seluruh mahluk

Tolong doakan saya.

jangan galau, nanti mati agaknya terasa aneh nan konyol pernyataan ini tapi bagiku bukanlah perkara begitu pernyataan ini penting artinya bagi kita berperilaku sungguh galau bagiku itu kesia-siaan saja betapa sedih mati dalam keadaan galau ibarat mati dalam kesia-sian belaka bukankah mati nan indah yang kita idamkan wahai kawanku

masih belum sirna cerita adik-adik di Palestina amat jauh dari istilah galau merona mereka teramat teladan betapa mulianya karena mereka hafal Quran senyum mereka saat mati bukan kegalauan tapi suatu kemuliaan dan kebahagiaan sedangkan aku? masih saja sering dirundung galau mudahnya terasuk oleh syaitan yang menelusup syahdu walau galau pasti terjadi, janganlah ia jadi terlalu sematkan nuansa pejuangan agar ia cepat berlalu wahai hati jangan kau galau karena itu dari diri sendiri terlena di dalamnya bukanlah karakter pencinta sejati murnikan dengan cinta yang hakiki, itulah cinta pada Illahi tinggalkanlah galau dihati biar saat mati nanti kan kurasakan cinta abadi dari sang pemilik hati wahai penduduk langit dan bumi saksikanlah aku seorang muslim yang tak mau galau ketika mati ERWAN MACHMUDDIN, INI BENAR BENAR MEMBUAT AKU MENGHARU BIRU !!!! *kejar erwan untuk salaman POSENYAAA, JAWARAAAA!! Apalgi redaksinyaaa :) baguus :) FOTONYA JUARA !!!, Baru sadar ane, itu dirimu wan lagi tidur-tidur di lereng bromo KEREN !! potonya keren banget #ngek -_-

friendship Temen tuh cuman titipan, Nay. Alfi bener banget. Segalanya adalah titipan dari yang Maha Kuasa. Orang-orang yang hadir dalam hati kita, kemarin, hari ini, dan esok -yang entah siapa- cuman titipan, yang tugasnya sebagai perantara untuk kita. Dan begitupula kita, yang fungsinya juga hanya sebagai perantara, pelengkap yang mungkin singgah untuk sementara atau selamanya di hati seseorang. Tuhan mengirimkan mereka -orangorang di masa lalu dan masa kini- memiliki fungsi yang berbeda-berbeda. Ada yang seringkali membuat kita naik darah hingga membuat kita membencinya setengah mati, padahal ternyata Tuhan menitipkan kita untuk berlatih kesabaran. Ada yang juga tetap setia menemani kita, apapun kondisi kita, tetap mencintai kita walau kita sudah jauh berubah, mungkin Tuhan ingin mengingatkan kita bahwa sahabat itu nyata. Hidup memang tak cukup hanya melihat dari kacamata kita saja, orang yang kita pikir jahat karena kita merasa tersakiti, mungkin memang sengaja dikirim Tuhan untuk membantu kita naik level, dia ujian bagi kita untuk membantu kita menjadi manusia yang lebih baik lagi. Mereka yang di masa lalu, di saat ini, dan di masa depan, datang karena kita yang membutuhkan. Membantu kita menjadi manusia. Untuk itu, terimakasih kepada mereka yang saat ini masih di hati dan tak ingin lekaslekas pergi. Terimakasih juga bagi yang sudah berlalu dan mungkin tidak akan kembali. Dan selamat datang bagi yang mencoba ingin singgah untuk sementara, dan semoga untuk selamanya. Kalian semua berarti.

kerudungku Waktu itu malam, di angkot hanya saya berdua dengan seorang perempuan berkerudung. Setelah beberapa saat, perempuan yang berkerudung itu turun sambil

menyerahkan bayaran pada supir angkot. Tinggallah saya hanya berdua di dalam angkot. Neng duitnya kurang neng! Tapi perempuan berkerudung itu tetap saja berlalu meninggalkan angkot. Saya hanya memandangi kejadian tersebut. Tiba-tiba si bapak marah, tidak kepada saya tentunya dia hanya mencoba mencurahkan kekesalannya, Astagfirullah, padahal pake jilbab, tapi kelakuan jelek banget. Bayar ongkos kurang, ditagih pura-pura ga denger. Padahal pake jilbab loh neng. Perempuan itu berlalu, si bapak tetap mengomel, dan saya hanya mampu terdiam. Hingga saya turun dan menyerahkan uang pembayaran sambil tidak lupa mengucapkan terimakasih. Si bapak membalasnya dengan senyuman. Padahal pake jilbab. Saya merasa tertohok sekali mendengar kata-kata si Bapak. Saya baru sadar betapa pakaian yang saya kenakan setiap hari ini, seharusnya menjaga saya dalam berkelakuan baik, bertingkah laku sebagaimana perempuan seharusnya. Saya jadi terkenang masamasa suram saat saya sebenarnya sadar-tapi saya purapura tidak sadar- bahwa seorang perempuan seharusnya menjulurkan kerudungnya ke bagian dada, dan betapa tingkah laku saya jauh sekali dari cerminan seorang perempuan muslimah shalehah (bukan berarti sekarang iyah juga sih). Saya jadi berkontemplasi panjang, panjang sekali. Bahwa, tanggung jawab setelah memilih untuk berkerudung ini seharusnya menjadi permulaan untuk -tidak hanya sekedar menjalankan perintahNya- tapi lebih dari itu, bahwa pakaian ini ternyata seharusnya menjaga saya tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara utuh, menyeluruh, segala yang berhubungan dengan hidup saya, termasuk dalam bertingkah laku dan berucap. Ah iyah, Tuhan memang tak mampu kita lihat, tapi kasih dan tanganNya, begitu panjang hingga mampu menyentuh hati yang paling dalam. Dan Dia dapat ditemukan dalam hal-hal kecil dan sederhana, dan tak terduga. Jangan (pura-pura) tutup mata hati untuk melihatNya. Selamat malam, semoga segera menemukanNya :

Cowok yang jago musik, cerdas kalo diajak ngobrol, atau jago olahraganya memang kadang-kadang nambah nilai ke-lelakian-nya. Tapi tetep, yang paling laki itu yang berani bilang, saya mau nikah sama kamu, karena Allah.

You might be married to the worst man ever, like Asyah was married to Pharaoh but it didnt change her and her loyalty and love to Allah (S.W.T). You might be married to the best of men, like a Prophet of Allah (S.W.T), and still not be saved from the punishment - like the wife of Prophet Lut (A.S). You might be not married to any man, like Maryam (A.S), and Allah (S.W.T) can make your rank higher than any women on the Earth. Know your priorities. Love and trust is with Allah (S.W.T) first. The only relationship where youll never have your heart broken is the relationship between you and Allah (S.W.T).

Hendaklah setiap kalian berbuat semampunya untuk menolong pasangannya mencintai Allah dan mendapat ridha-Nya. Betapa banyak perempuan yang telah menjadi perantara bagi keshalihan suaminya.

Hidup adalah misteri, tempat kita memasuki alam ketidaktahuan dengan menebar ikhtiar, amal, dan segala yang bisa bertumbuh. Kita tidak tahu dengan cara seperti apa itu semua akan berkembang biak. Kita juga tidak tahu seperti apa itu akan memantulkan manfaatnya kembali kepada kita. Kita hanya perlu memastikan, bahwa fungsi kita sebagai perantara dalam hidup ini kita tunaikan dengan sebaik mungkin.

Terimakasih Saya bingung harus mulai darimana. Empat bulan yang lalu, waktu saya harus pindah dari Bandung ke Depok, saya benarbenar merasa desperate sekali. Bagaimana tidak, saya kehilangan lahan bermain saya, kehilangan sahabat-sahabat baik, dan banyak lahan lainnya. Tapi Tuhan berbaik hati, dia tidak membiarkan saya sendiri. Dia mengirimkan orang-orang baik hati ini kepada saya, mereka adalah Tery Marlita dan Muhammad Akhyar. Hingga pada hari ini, saya masih tidak percaya. Hal yang saya pikir tidak mungkin terjadi, bisa terjadi juga. Akhirnya saya resmi punya sekolah yang benar-benar dimulai dari awal. Maka saya akan semakin percaya bahwa, Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?. Saya bingung untuk mencari jawabannya. Nikmat yang mana lagi? Selamat datang Sekolah Bermain Matahari, cepat besar kau nak :) Terimakasih untuk Mapau, Gama, Ikhma, Ifa, Ipit, Isni, Nadhrah, Nim, Fadel, Dhani, dan Aisha yang sudah menyempatkan hadir untuk berbagi kepada malaikat-malaikat yang akan kita temui setiap sabtu-minggu selama tiga bulan ke depan, saya cuman mau bilang bersabarlah, hahaha. Terimakasih untuk langkah awal bersama ini, semoga berlanjut terus hingga nanti, hingga pendidikan Indonesia sudah bisa mandiri. Semoga. i believe the children are our future. teach them well and let them lead the way whitney houston.

Allah tak pernah janjikan langit selalu biru, jalan hidup tanpa batu, matahari tanpa hujan, kebahagiaan tanpa kesedihan, sukses tanpa perjuangan. Tapi Allah janjikan kemudahan bersama kesulitan, rahmat dalam ujian, ganjaran buat kesabaran, keteguhan dalam perjuangan. Bukankah indahnya pelangi baru kita rasakan setelah turunnya hujan?

saya tidak ada kuasa apapun terhadap diri saya sendiri, atas keberjalanan semua hal dalam hidup. Saat saya sedang rapuh dan terjatuh, saya butuh sesuatu yang menyokong saya agar tetap bangkit lagi. Dan saya tidak menemukannya kepada siapapun selain Tuhan. Saya seringsekali menangis, dan diam-diam saya berbicara denganNya dengan bahasa yang hanya dipahami kami berdua. Entah mengapa saya menjadi lebih aman, lebih tenang. Ah iyah saya lupa, bahwa kita ini adalah makhluk sosial, tidak akan benar-benar bisa mengatasi kesepian dan kesendirian. Sekalipun disaat kita benar-benar merasa ingin sendiri, kita tetap ingin ditemani. Benar kalau ada yang mengatakan, bahwa Tuhan, diciptakan manusia untuk menyatakan, bahwa sebenarnya kita ini seringkali berada dalam ketiadaan dan kekosongan. Tapi di sanalah Tuhan bersemayam. Tuhan, membuat saya aman, nyaman dan tidak merasa sendirian. Ada tempat yang mampu diandalkan walau Dia tidak terlihat. Bahwa hidup ini adalah tentang kepercayaan. Saya menuhankan Dia, yang tidak terlihat dengan kasat mata, karena saya butuh pegangan dan sesuatu yang saya percayai itu. Tapi kepercayaan, juga, berhubungan dengan pertanyaan. Bagi saya, iman itu adalah sebuah pertanyaan. Begitu juga cinta adalah sebuah pertanyaan. Iman dan cinta saya pada Tuhan, seringkali menjadi pertanyaan besar dan terus menerus yang tidak pernah selesai. Tapi bagi saya itulah kuncinya. Semakin saya mempertanyakan, saya merasa makin menemukannya dengan cara yang berbeda. Saya malah khawatir, jika suatu saat saya tidak bertanya-tanya lagi tentang Dia, jangan-jangan saya sudah membunuhNya dari hati saya, hingga Dia larut dan menggenang lalu hilang. 2 WEEKS Hanya ada senja dan seorang perempuan yang tidak ada tetapi yang tetap menunggu dengan segala kemungkinannya dan aku sedang menuju ke sana untuk menjemput kemungkinan-kemungkinan itu. Seno Gumira Ajidarma dalam Senja Di Pulau Tanpa Nama (via -sur)

andai setiap orang yang menikah itu tahu bahwa mereka harus bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat. bahwa konsep keberlanjutan keturunan berarti pula keberlanjutan lingkungan kehidupan bagi keturunan mereka. andai mereka tahu bahwa mungkin- suatu ketika- anak mereka akan bertanya; kenapa kami yang menanggung semua ini? sebelum terlambat (via -sur) *seruput teh manis* Perkara Atheis Saya sampai tidak habis pikir, ada seorang muslim, dengan lugasnya meneriakkan, Si Cupu Atheis. Detik itu juga saya terdiam dan bengong dalam waktu yang cukup lama, kemudian mengakhirinya dengan ketawa keras-keras. Lalu berdoa, Ya Tuhan kami yang sungguh baik hatinya, tolonglah rendahkan hati hamba-hambaMu yang terlalu merasa tinggi imannya. Saya punya teman-teman (bahkan teman baik sekali) yang agnostik dan atheis, dan tentu saya tidak akan sampai hati meneriakkan dihadapannya, Si Cupu Atheis. Mereka yang tidak percaya Tuhan (atheis) dan yang-masih-bingung-dengan-keyakinannyaterhadap-Tuhan (agnostik), saya rasa tidak benar-benar secupu itu yang dikatakan oleh muslim-yang-merasa-imannya-sudah-baik-sekali-itu. Teman saya seorang atheis, dengan kasihnya merawat adik-adik yang bekerja di jalanan tanpa pamrih. Teman saya lainnya seorang agnostik, menghargai bumi dengan sepenuh hati, dia akan sangat kesal melihat orang yang membuang sampah sembarangan, selalu menggunakan kendaraan umum, dan sungguh dia mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Teman saya yang lain yang bermahzab Nietzsche, jangan-jangan lebih memikirkan solusi untuk bangsa ini dibandingkan mereka yang sibuk menjalin hubungan vertikal dengan Tuhan hingga lupa hubungan horizontal dengan manusia (ingatkah kalian cerita Robohnya Surau Kami buah karya AA Navis, jika belum membaca, cobalah cerna ceritanya, saya jamin kalian akan menangis karena malu).

Lalu sampai disini? Apakah saya akan sampai hati meneriakkan mereka Cupu Atheis? Ah iyah, tentu, tentu teman, saya memang bukanlah muslim yang baik betul, tapi saya percaya Islam adalah dien bagi diri saya, pengatur hidup saya dari ujung kuku kaki hingga ujung rambut. Tapi menghargai perbedaan tentu bukan hal yang susah, iyakan? Saya rasa semua manusia didunia ini sama-sama beriman, hanya saja yang kita imani berbeda-beda. Saya pada Allah saya, dan biarlah mereka tetap pada apa yang imani. Bukan berarti saya tak pernah diskusi tentang agama dengan mereka, sering bahkan. Hanya saja, perkara agama tentu masing-masing dari kita akan merasa menang, saya tetap akan pada Islam saya dan begitupula mereka. Lalu kenapa perbedaan ini tidak dimahfumkan saja. Hingga pada satu titik, saya akan berdoa,Semoga Tuhan saya yang berkuasa pada tiap-tiap manusia, yang mengatur kuat-lemah genggaman tangan pada hati hamba-hamba-Nya. Kita semua sama, terpenjara dalam kesendirian hanya saja ada yang terkurung di ruang gelap tanpa cahaya sementara yang lain menghuni kamar berjendela - Khalil Gibran Selamat pagi, semoga tetap waras :) Tiap-tiap diri akan merasai mati dan Kami menguji kamu dengan kesusahan dan kesenangan sebagai cobaan dan kepada Kamilah kamu semua akan dikembalikan. Q.S. Al Anbiya ayat 35

Taraksa: 2 (Berikut adalah kisah kedua dari Taraksa. Taraksa adalah hasil racikan anak-anak EPIK Media. Bagi para penikmat sastra yang kadung terpikat pada kisah pertama; selamat mengeksplorasi sambungannya :) -regards, Kinsyu)

Cerita ini adalah naskah dasar dari kisah Taraksa. Ditulis pertama kali oleh Sutansyah Marahakim. Nomor 2 : Yang Terjatuh Kelopak mata yang kubuka seolah tidak berpengaruh apa apa pada jumlah cahaya yang retina terima. Tidak ada apa apa. Itu yang kukira. Kemudian pikiranku mulai berputar dan menanyakan apakah arti tidak ada apa-apa. Bukankah ada berarti terasa. Ter ukur secara zat, dan kemudian kepalaku mulai berpindah pada pertanyaan pertanyaan mengenai makna kasat mata. Tanpa mata, dunia ini seolah tidak ada. Setelah sekian lama aku mencoba memahami apa yang terjadi, satu hal yang kusadari adalah buliran pasir di kaki ku terasa terlalu besar untuk kusebut pasir dan tetap terlalu rapuh untuk kusebut kerikil. Beberapa diantaranya merangkak ke pergelangan, yang lain masih tetap terkulai mati seperti sebagaimana seharusnya bulir pasir. Namun aku kira ini hanya fase awal dari indera ku yang memberontak dari tidur. Bukan hanya kulit pergelangan kaki ku yang mencoba menipu, namun telinga ini pun mulai menggaungkan nyanyian merdu tak selesai, berganti-gantian datang dan menyelesaikan satu sama lain. Bulu kudukku merinding ketika punggungku mengucurkan keringat sembari bergetar karena menggigil. Aku mencoba berkata kata namun suara yang kukeluarkan sama sekali berbeda dengan apa yang kuharapkan. Satu

demi satu perangkat tangkap-duniaku mengamuk tak terkontrol, mereka membabi buta meninggalkan akal sehat, seolah marah akan diskriminasi yang kulakukan selama bertahun tahun pada mereka, lelah menjadi anak tiri dari bola mata. Hingga setelah berjam jam aku kehilangan pegangan akan apa yang nyata dan pura pura, mereka hentikan protes serta demonstrasi. Yang aku bayangkan aku meringkuk di sebuah pojok yang bukan pojok, dikurung dalam kegelapan menakutkan. Sungguh ketika semua hal yang terjadi sama sekali tak terjawab alasan serta pasti, maka kita hanya bisa menyerah pada balada kegelisahan yang panik. Dan disana aku berdiam; Aku rasa itu yang tubuhku lakukan meski dalam pikiran, ke empat inderaku masih riuh melakukan makar sepihak, menyiksaku dalam tiap detik yang kuhitung dari ketukan tetes air yang jatuh. Tetes air. Aku tersadar bahwa semenjak pertama aku jatuh ke tempat ini, tetap ada ketukan tetes air. Lalu hening. Lalu aku merasakan sesuatu yang besar, bersiap siap untuk mengarungi realita yang sama sekali berbeda. Aku dengar batu kerikil yang jatuh menggelinding di sebelah kiriku. Aku mendengar namun bisa kulihat jatuhnya dengan amat jelas meski komposisi warna dan bentuknya sama sekali berbeda. Kerikil itu tidak berwarna selayaknya kerikil, tidak berbentuk

seperti kerikil, juga sama sekali tidak bergulir jatuh sebagaimana kerikil jatuh. Aku tahu itu kerikil. Seperti aku tahu dinding berlumut abu abu mengelilingi seluruh tempat ini dari harumnya, juga air terjun setinggi 20 meter di atas kepalaku yang kucicipi ketika tetesan air dari stalagnit gua menelusup ke bibir. Aku melihat. Tapi kali ini tidak dengan bantuan cahaya. Perlahan lahan mulai terasa arti dari segala penipuan para indera. Mereka tidak mengkhianatiku, paling tidak niatnya tidak seperti itu. Ini adalah sebuah penyesuaian diri besar besaran, sebuah persiapan akan apa yang akan datang. Beberapa siap lebih cepat, sisanya harus melewati pergulatan tanpa akal yang nyaris menghancurkanku. Hanya hampir. Salah satu indera yang tidak menipuku semenjak awal adalah kulit yang mengelilingi pergelangan. Aku tidak pernah salah. Bulir bulir yang kuinjak memang bukan pasir dan bukan kerikil. Beberapa diantaranya merayapi kaki karena masih menyisakan sedikit nyawa, masih mencoba bergerak meski tak menyala. Seratus juta atau lebih kunang kunang tanpa cahaya tergeletak, menghampar di sekujur gua ini. mereka tak bergerak dan terinjak injak oleh makhluk pertama di tempat ini semenjak entah kapan. Mereka tidak tidur, mereka mati. Sebuah kuburan raksasa dari salah satu makhluk suci desaku, Sang Khadyota. Dari yang menyala akan mati di lembah gulita. Bangkit kemudian aku tanya; Manusia dan perjuangan. Khadyota dan pembimbing malam. Sang kelinci putih bersinar lebih gelap demi reruntuhan dan penyelamatan. Kembali. Kembali. Kembali, Berhentilah terlena (kemudian) pahami bahwa melihat tak selalu berarti tahu

Jadi ini awal dari perjalananku. Sebuah tempat yang mati. Yang sepenuhnya gelap namun justru mengajariku untuk melihat. Aku pun sekarang dengan jelas membangun sebuah dunia yang sama sekali berbeda. Semua bentuk yang tidak seharusnya, warna warna salah tempat, gerakan gerakan tak logis dan mungkin seluruh langit akan terus menguak kesalahan ini terus menerus. Namun salah-benar, kata kepala desa, harus perlahan kulepaskan. Standar itu semua milik dunia fana, dan ini bukanlah perjalanan mengarungi salah satunya. Sekarang aku mengerti mengapa kepala desa membiarkan kedua sayap meninggalkan punggungku. Orientasi arah dunia ku berbalik berkat kejatuhan ini. Atas menjadi depan dan bawah menjadi belakang. Maka perjalanan langitku pun dimulai tepat ketika salah satu kunang-kunang mulai menyala dan terbang. Tidak begitu dengan diriku. Aku tidak butuh terbang untuk menuju langit. Yang aku lakukan adalah meniti langkah demi langkah. Aku berjalan. Nomor 2 : Yang Terjatuh Naskah : Sutansyah Marahakim Ilustrasi : Wicky Syailendra Adaptasi Cerita : Anissa Rahma Sukardi

Visi. Seberapa sering kita melihat untuk menangkap sebuah bentuk yang kita yakini? Konsep atas apa itu indah maupun cela. Gambaran itu seolah hanya dibentuk oleh bola mata. Atau bagaimana dengan keyakinanmu tentang haluan arah? Tentang atas atau bawah, depan atau belakang. Semua seolah ditulis penunjuk pasti yang tidak mungkin keliru. Namun, setelah kejatuhanku, persepsi adalah hal yang pertama aku pelajari. Sebuah titik, dimana aku belajar menguraikan bahasa universal yang digunakan semesta untuk bercerita dan saling memahami. Dan sungguh, ia tidak berbatas pada seberapa lebar aku membuka pelupuku ataupun mata fanaku. Semua kupelajari ketika kusadari, langit sendiri adalah sebuah perjalanan bukan pendakian tanpa gravitasi. Hitam. Aku yakin, inilah hitam yang paling kelam yang pernah aku kenal. Ketika bukan hanya mata yang direnggut, namun juga berani dan percaya. Selama ini, warna langit desa tanpa terang bulan selalu memaksaku meringkuk dan menyalakan sekerjap api untuk merasakan aman. Disini, bukan terang yang hilang tapi terang seakan tidak pernah hadir. Hingga kukira, langit telah memuntahkanku mentah-mentah, tidak menerima usahaku untuk menjelajahnya, kemudian mendaratkanku di dasar jurang terdalam yang disimpan jagat raya. Karena indraku terdisorientasi, tidak mampu memindai rana, dan terutama citra. Seperti direnggut kejatuhan sesaat setelah kepak-ku gugur.

Setelah tersungkur, aku terdiam gelisah di sudut gulita yang tidak aku kenal. Berusaha meretas celah-celah pengelihatan yang mungkin bisa aku dapatkan. Tapi tidak disini rupanya. Gelap dianyam rapat-rapat oleh pekat, tidak menyisakan sedikit ruang pun untuk titik cahaya rapuh mencuri celah. Kemudian, diantara kemelut yang dicipta indraku sendiri untuk saling berebut mencari jawab atas tanya repetitif penuh kekalutan, tetesan itu jatuh dan mendamaikan. Air. Menetes dalam interval yang tidak terburu-buru. Lalu hening kembali. Sesaat itu aku melangkah. Merasakan sebuah dataran asing yang mulanya kukira tempat pembuangan. Kemudian, terdengar desing pelan dari lesap yang kemudian bergulir ke permukaan. Kerikil-kerikil yang tak kulihat dengan mata. Telinga seolah beralihfungsi, tidak hanya untuk mendengar, namun menerjemahkan. Maka kutahu, kerikil itu berjatuhan, walau dengan warna asing yang herannya tetap bisa kupahami. Masih belum ada cahaya ditempat itu. Namun siapa sangka? Keterasingan mampu membantuku mengerti. Atas sebuah konsep yang mungkin bila dikenalkan dalam terang, akan ditolak nalarku dengan pasti. Dikenalkan pada ragaku, sebuah pembaharuan atas persepsi. Bahwa penglihatan lebih dari sekedar sepasang bola mata ataupun selapis retina. Karena pengetahuan, berbicara dalam bahasa yang berbeda. Walau tanpa cahaya, namun aku tahu dan aku melihat. Sejelas air terjun yang harum deras sejuknya, terbentang di atas kepala. Kulangkahkan lagi kaki, dan gelombang yang tadinya kuabaikan kini dirasa oleh telapak. Kutangkap dan kubiarkan ia menyulut kembali. Sensor tubuhku yang tadi hampir hilang fungsi. Dan saat itu aku merasakan

titik-titik kehidupan. Sedikit sekali, renik dan hampir tak terdeteksi. Tapi setidaknya, pernah ada. Beberapa dari kehidupan itu terseok untuk merangkak ke pergelangan, namun kemudian diam. Sisa hidupnya sudah mati, dan jatuh dalam kumpulannya yang tersebar. Membentuk peristirahatan raksasa untuk makhluk-makhluk yang pernah memiliki cahaya. Sang Khadyota, kunang-kunang suci. Tempat itu mungkin lembah yang mati. Sisa-sisa cahaya yang redup kemudian hilang sama sekali. Seperti supernova. Tapi justru disitu aku belajar. Bahwa malam tidak selalu kelam, dan gelap tidak selalu mencekam. Dan yang terpenting adalah bisikan Sang Khadyota yang dialirkan pada telinga kemudian diresapi oleh jiwa: pahamilah, bahwa melihat tidak selalu berarti tahu Ternyata, kejatuhan tidak menghambat perjalananku. Ia hanya membalikanku, menunjukan relativitas arah yang berubah: bahwa apa yang semula atas kini menjadi depan dan apa yang semula bawah menjadi belakang. Pada saat itu juga aku bisa melihat hampar lapis langit tempat aku akan memulai pengembaraanku untuk mencari. Terbentang dihadapanku, bukan di atasku. Dan sesungguhnya, bukan sayap yang aku butuhkan. Diiringi satu nyala dari kunang-kunang yang terbang, hanya langkah kaki pasti yang menuntunku mengawali perjalanan.

Taraksa adalah kisah yang terinspirasi dari petilan #nokturna. Cerita ini akan diangkat sebagai naskah seni pertunjukan: Teater EPIK vol. 5. Terinspirasi dari semangat konten-berbagi #nokturna, perjalanan Taraksa akan kami bagikan kembali kepada teman-teman melalui jejaring media kami, salah satunya melalui tulisan ini.

Untuk info lebih lanjut :

@taraksa_ @majalahEPIK www.majalahepik.com

Letakkan prasangka baik kita pada-Nya, pada jalan yang kita pilih, dan yakinkan bahwa jika ini baik, Dia akan selalu menemani. Karena, sesungguhnya Dia, ada di sisi prasangka hambaNya pada diriNya

ibu bapak Love your parents. We are so busy growing up, we often forget they are also growing old - unknown Beberapa waktu yang lalu orangtua saya mengunjungi saya dan adik di Bogor, karena kebetulan bapak lagi ada kerjaan di jakarta. Di hari mereka datang, saya kebetulan sedang ada agenda melakukan sesuatu. Ntah kenapa saya kesal betul hari itu, karena jadinya saya harus ke Bogor dan itu memberatkan apalagi saya lagi capek-capeknya. Saya bilang pada ibu saya, Udah makanannya di titipin ke adek, nanti kalo sempet saya ke Bogor, lalu ibu saya bilang, Yah kita kan maunya ketemu sama kamunya, nak.

Akhirnya saya ke Bogor, dan banyak-banyak mengucapkan istighfar. Sambil mengeluh, Ah ibu ga ngerti anaknya banget. Tapi selama di kereta ntah kenapa saya jadi berkontemplasi. Ya Allah, berdosa banget hamba udah ngeluh, alhamdulillah masih dikunjungi orangtua, masih dikesempatan buat ketemu orangtua walau cuman sebentar. Pas liat ibu senyum liat saya datang, ada yang bergemuruh di dada. Ibu keliatan tua sekali. Detik itu saya sadar, saya juga sudah bertambah tua, umur saya terus bertambah, dan begitu juga orangtua saya. Detik itu juga saya salami ibu dan memeluknya erat. Tuhan, jangan ambil dia dulu, begitu juga bapak. Makin kesini, saya makin sadar. Bener kalo kata Raditya Dika, seharusnya semakin bertambah umur, kita tidak berharap jauh-jauh dari ibu bapak kita, seharusnya kita selalu ingin dekat dengannya. Tapi, di dunia ini segalanya adalah titipin. Kita pada orangtua kita, adalah titipan dari Tuhan. Kalau kata Kahlil Gibran, Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu. Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu. Saya memang tidak akan selalu bersama orangtua saya selama-lamanya, karena saya akan punya kehidupan saya sendiri. Sama seperti waktu ibu bapak saya menikah dan meninggalkan orangtua mereka untuk memulai kehidupan sendiri. Tapi tetap, mereka akan selalu jadi orangtua saya seberapapun jauh saya pergi. Dan tetap tanpa keikhlasan dan ridho mereka, hidup saya tidak akan pernah berjalan sempurna. Dan sewaktuwaktu jika Tuhan memberikan umur yang panjang untuk mereka dan saya, saat rambut mereka sudah memutih dan kaki-tangan sudah tak kuat lagi untuk bekerja, tugas sayalah untuk merawat mereka. Ah iyah, saya tidak tahu masih punya banyak waktu atau tidak untuk terus dekat-dekat dengan mereka, untuk bisa bilang, Ibu Bapak, saya cinta kalian karena Allah, untuk bisa kasih kado saat mereka bertambah umurnya, dan untuk-untuk hal lain yang mengembangkan senyum mereka. Seberapa banyak uang yang saya punya, tetap tidak akan pernah bisa membalas jasa mereka. Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka telah memelihara dan mendidikku sewaktu aku kecil.

Tapi saya percaya, paling tidak doa yang anak shaleh/shaleha, mungkin bisa menolong mereka kelak di akhirat. Maka, semoga di sisa umur mereka dan saya, saya masih bisa menjadi anak yang shaleha untuk mereka dan karena Allah. Aamiin.

Anakku Terakhir kali umi ingin mengatakan padamu, carilah lelaki yang memiliki impian yan keinginan yang begitu besar akan surga, Karena jika kau bertemu lelaki semacam ini. Semua langkah hidup, pilihan, keputusan untuk diri dan keluarganya akan disandarkan pada Allah pemilik surga. Jangan hanya mencari lelaki hanya karena mapan, prestise, dan kemuliaan yang dicanangkan orang, namun hatinya tak dekat dengan Allah, tak dekat dengan mesjid, tak dekat dengan orang dhuafa. Karena lelaki seperti ini hanya akan membuat kau tersenyum saat di dunia namun menangis di akhirat kelak potongan dari tulisan Mely raharjo (via taufiqsuryo) #repost :P Perempuan cantik itu banyaaaak banget, dimana-mana. Yang membedakan akhirnya magnetnya. Content-nya.

Berdoalah another randomness: berdoalah berdoalah kepada Tuhan, kau ingin pendamping hidup yang tak perlu tampan tapi jika memandang wajahnya ada kesejukkan, ada getaran di bagian rusukmu, ada buih-buih

kebahagiaan membumbung di kepalamu, dan ada semburan serat-serat warna merah di pipimu. berdoalah kepada Tuhan, kau ingin pendamping hidup yang mengingatkanmu untuk memuja Tuhan kalian, bersama. karena dia ingin ada di surga nanti bersamamu dan dengan anak-anakmu. bukan dia sendirian. berdoalah kepada Tuhan, kau ingin pendamping hidup yang dapat diajak berdiskusi apa saja. mendengarkan celotehanmu tanpa terliaht bosan. kemudian membimbingmu dengan nasehat-nasehat yang menyejukkan hatimu. berdoalah gila ini ditulis lama banget. draft tumblr gue menyimpan banyak kegalauan ternyata. hahaha setahun yang lalu. HAHAHA Kabar Dari Laut Aku Mau Lupa Berujuk memang benar tolol pula membikin hubungan kelasi tiba-tiba bisa sendiri kembali dengan ketika dengan di laut tujuan itu, kau; pilu, biru. sekarang, darah, garang;

Di tubuhku ada bertambah lebar juga, dibekas dulu kau cium lagi akupun sangat lemah serta menyerah. Hidup berlangsung Pembatasan cuma Dan tawa gila

luka mengeluar napsu dan

antara buritan dan tambah menjatuhkan pada whisky tercermin dan

kemudi. kenang. tenang. memuji, terdampar,

Dan kau? Apakah kerjamu sembahyang Atau di antara mereka juga Burung mati pagi hari di sisi sangkar?

Chairil Anwar saya baru sadar, kenapa beliau begitu melegenda 1 MONTH AGO 19

Sebenarnya Perempuan. Tulisan ini menjawab tulisan Kurniawan Gunadi. Saya akan bercerita tentang perempuan, sedikit saja. Karena kami sendiri begitu kompleks, bahkan kami terkadang sering tidak tahu apa yang kami mau. Dan jika ada perempuan yang berteriak tidaaak atas tulisan saya, saya paham, karena manusia diciptakan berbeda-beda. Sebenarnya perempuan, adalah wanita yang mudah jatuh cinta. Bayangkan, kami akan dengan mudahnya jatuh cinta pada dia yang berada di rahim, padahal belum pernah melihatnya sama sekali. Karena kami adalah perasa, kami merasakan ada cinta yang begitu tulus, mengalir dalam darah, mengikuti detak jantung kami, dan keinginan berjuang bersama. Apalagi dengan dia yang sudah berada di hadapan kami, memberikan kenyamanan, menyediakan pundak, mengulurkan tangan memberikan bantuan, hingga tempat mengeluh dikala resah. Sssst, kami begitu mudah jatuh cinta. Karena setiap senyum yang diberikan, akan membuat kupu-kupu di perut kami berterbangan senang. Karena setiap pertolongan yang diberikan membuat aliran darah melaju cepat, memompa jantung tanpa jeda, membuat girang senang. Karena setiap keluh kesah yang diceritakan, menyisakan hangat dihati dan menghasilkan semburat merah di wajah. Sayangnya, kami akan lebih memilih diam, tidak mengatakannya. Karena kami takut, kami takut sekali kami tenggelam dalam asumsi yang berlebihan. Perempuan, senang sekali menarik benang merah dari setiap kejadian. Menghubung-hubungkannya dalam diam. Kemudian terisak dalam keheningan. Akhirnya banyak bertanya, Benarkah perasaan ini? Hingga nanti berakhir lelah, kemudian kami memutuskan untuk menyerah.

Jadi, salah kami tidak mudah percaya (lagi)? 5.44 pm Saya rasa kita sudah berhenti disini saja. Kenapa? Karena kita tidak akan kemana-mana. Maksudnya? Perempuan itu berhenti, melepaskan genggaman tangan dan kemudian pergi menghilang. Dan laki-laki itu baru saja merasa sepi, sendiri. Ini namanya kehilangan. - Depok pada senja sore hari. Poto ini saya temukan di sini hari ini, dan saya teringat tulisan saya hampir dua tahun yang lalu. Dia pahlawan saya, semoga kalian juga kembali mengingat jasanya :) #IndonesiaJujur Yuk! Pagi ini saya tersentak dengan berita, ada seorang ibu yang harus mengungsi dari rumahnya akibat didemo warga di sekitar. Alasannya, si ibu berjiwa mulia ini, melaporkan sekolah tempat anaknya menimba ilmu karena melakukan pencotekkan massal. Mengenaskan. menyedihkan. dan sangat mengerikan. Calon-calon generasi pemimpin bangsa, diajarkan untuk melakukan pencotekkan masal. ini lah wajah Indonesia sebenarnya, Kita disiapkan untuk jadi robot pengejar nilai, bukan mendidik manusia untuk menjadi manusia. Manusia yang diharapkan memiliki banyak kecakapan agar bisa membuat negara ini lebih maju. Teman saya, bernama Gemuruh Geo pernah berkata, jika ada orang yang menyontek maka nilai kita baik, jika nilai kita baik maka IP kita baik, jika IP kita baik, kita gampang dapet kerja, kalo kita udah kerja, kita dapet gaji, nah, gaji kita kan di pake buat makan, akhirnya hasil dari contekkan itu mengalir ke darah kita, kalo kita punya anak, di darah anak kita mengalir darah hasil contekkan, dan begitu seterusnya Saya ga munafik, dulu saya melakukan contek, ga sering memang, tapi kalo udah kepepet banget, yah mau gimana lagi daripada ngulang (atau dulu bahasa gaulnya remedi). Tapi setelah ngobrol dengan Geo panjang lebar, saya memutuskan untuk

berhenti melakukannya sekalipun udah diujung tanduk. Saya mulai nyontek itu sejak SMP, baik jadi pelaku pencontekkan ataupun yang memberikan contekkan, yang paling lucu adalah, seringkali teman yang saya beri contekkan, nilainya lebih baik daripada saya. Tapi bagi saya tidak mengapa, asal semua senang. Tapi sekarang saya jadi mikir, jadi selama ini saya sekolah buat apa sih? Buat dapet nilai bagus doang? Biar nantinya bisa kuliah di tempat bagus pula, kalo sudah kuliah di tempat bagus, bisa dapet tempat kerja enak deh, dengan gaji gede pula. Yah, kalo sudah begitu, kalo menurut saya, apa bedanya kita dengan robot yang di program, ga punya jiwa. Balik lagi, ke ide dasar kenapa perlu adanya sekolah, adalah biar anak-anak bisa memiliki kemampuan di bidangnya masing-masing, melakukan apa yang mereka bisa dan mereka suka, prinsip skhole pada zaman Yunani dulu. tapi dari video RSA, yang dibuat oleh Sir Ken Robinson, kata Sir Ken, segala mengenai pendidikan berubah saat zaman Revolusi Industri, sekolah jadi terseret dalam sistem kapitalis, yah akhirnya sampai jadi kayak sekarang. Kita sekolah (tampaknya) agar punya ijazah doang terus kalo punya ijazah bisa kerja dimana-mana deh, bukan memanusiakan manusia, agar dapat melakukan sesuai dengan bakat dan kemampuan yang dia miliki. Hal ini, bisa jadi bahwa mindset kebahagiaan di tiap kepala manusia adalah dimana kita punya banyak uang. padahal, kebahagiaan sendiri subjektif. Padahal, pada UU Sisdiknas, Bab II, pasal 3, tertulis jelas, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tapi tampaknya elemen yang bertanggung jawab atas keberjalanan sistem pendidikan, telah lupa, apa yang mereka telah rancangkan di UU Sisdiknas ini sendiri. Mereka lupa esensi pendidikan yang sesungguhnya, yaitu memanusiakan manusia, bukan mengejar ijazah. bagi saya, ijazah itu hanyalah sebuah selembar bonus, atas keberhasilan kita mengenyam pendidikan. Miris sih, tapi yah mau bagaimana lagi, makanya saya salut banget dengan ibu Siami (ibu yang ada di berita yang saya baca) yang berjuang untuk mendidik anaknya untuk tetap jadi manusia. Yah, ibu mana yang ingin anaknya terkotori. Kalo kata pak Ki Hadjar Dewantara, dalam bukunya Menuju Manusia Merdeka, setiap anak sebenernya sudah punya dasarnya sendiri, nah bagaimana orangtua atau orang-orang terdekatnya, mendidik dia untuk jadi lebih baik. Sama hal yang dilakukan oleh ibu Siami, dia ingin

mendidik anak menjadi anak yang baik. Tapi, saya tak menyalahkan seratus persen, apa yang dilakukan oleh warga-warga yang marah dengan ibu Siami, karena mereka juga merupakan korban, korban dari kekacauan implementasi sistem pendidikan yang di Indonesia. Siapa yang pernah mencerdaskan mereka, bahwa fungsi sekolah yang utama bukan mengejar nilai baik, tapi memanusiakan manusia pada utuhnya. tidak ada bukan? Sekali lagi, mereka cuman korban, korban ketidak-tahuan fungsi sekolah ataupun pendidikan khususnya. Bagi saya sebenarnya sendiri, contek atau ga itu masalah prinsip, kayak agama. makanya saya ga terlalu repot buat nyuruh orang untuk berhenti nyontek, tapi bukan berarti kita harus mendiamkan yang mereka lakukan, tapi kalo sudah dikasih tahu tapi tak mau mendengarkan apa boleh buat, itu pilihan mereka. mungkin hidayah-nya belum nyampe, sama kayak berdakwah, iyah ga? Tapi saya sepakat banget, menyontek itu adalah biang atau awal dari korupsi. lah kok iso? Kita biasanya melakukan sesuatu dari hal yang paling gampang, kemudian terasa enak, kita melakukan kembali, akhirnya jadi besar. Saya yakin, dulu Gayus nyuri di perpajakkan, tidak langsung bermilyar-milyar, pasti dari yang kecil-kecil dulu, eh ternyata ketagihan, akhirnya, yah kayak kasus kemaren, sampe ber-milyar-milyar. Apa yang saya tulis di atas ini, cuman bentuk kesedihan saya terhadap salah kaprahnya pemikiran orang-orang tentang pendidikan, pendidikan dan sekolah bukanlah hanya mengejar ijazah, ijazah hanyalah bonus atas keberhasilan kita, saat kita sungguhsungguh mempelajari apa yang dihadapkan di kita. Saya tak pernah menyesal nilai jelek saat saya benar-benar tak bisa di suatu mata pelajaran, buat apa nilai kita baik jika kita tak paham sedikitpun dengan pelajaran tersebut. lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikkan - Soe Hok Gie Akhir kata, saya salut sekali dengan kegigihan Ibu Siami melawan kemunafikkan, hingga berbuah pengasingan. Saya sendiri, belum tentu bisa sehebat ibu Siami, semoga suatu hari nanti, bangsa ini, bisa memiliki ibu Siami-ibu Siami lainnya, aamiin. Jadi kau tak pernah mencintaiku? Gadis di yang duduk di depanku duduk menatap tajam dengan muka memerah dan mata berair sendu, air matanya belum mengering. Tidak. Jawabku dengan penuh keyakinan. Aku bohong. Aku masih ingat pertamakali bertemu dengannya, di sebuah buku kafe. Kami masuk ke dalam tempatnya bersama-sama. Penuh. Tinggallah dua buah sofa dengan satu buah

meja. Dia sibuk dengan notebook dan ransel coklat. Dan aku dengan Aleph-nya Paulo Coelho. Resepsionis yang menerima kami bertanya, siapa yang mau mengalah. Dia melirikku dengan kacamahitamnya, gadis ini manis sekali dengan wajahnya memelas seolah-seolah berkata, Izinkanlah aku. Tapi tidak, dia malah berkata, Kita bisa berbagi tempat duduk jika kau mau? Aku diam. Akulah yang lebih dulu sepersekian detik datang ke dalam kafe itu, bukan dia. Jika ada yang berwenang mengatakan hal itu seharusnya lah aku, bukan dia. Tapi gadis ini sungguh manis dengan wajah memelasnya. Lagi pula aku hanya ingin membaca buku dan menikmati secangkir espresso. Apa salahnya, toh dia juga tampak sibuk dengan notebooknya. Boleh. Jawabku waktu itu. Aku tidak pernah percaya bahwa cinta bisa datang dengan sekali pandang. Tapi dengannya, kepercayaanku luntur berserakkan. Dia dengan headphones-nya sambil mendendangkan Yellow milik Coldplay, sibuk dengan kertas-kertasnya yang berserakkan sambil bergulat dengan notebook-nya, dan sesekali menaikkan kacamatanya dengan jari manisnya. Sungguh, mencoba bertahan agar tak terperangkap lebih dalam lagi dalam magnetnya. Kamu suka Paulo Coelho juga? Tanyanya tiba-tiba sambil meneguk cappucino yang tampaknya sudah dingin. Buku ini hadiah teman. The Alchemist lebih bagus kalo menurutku. Oh, mungkin setelah ini aku akan membacanya. Aku kembali sibuk dengan bukuku dan dia kembali sibuk dengan dunianya. Kania. Dia menyodorkan tangannya saat aku beranjak dari sofaku untuk pergi. Bagas.

Aku mencintaimu karena alam semesta membantu menemukanmu. Paulo Coelho benar. Dan takdir tidak bekerja sendirian, dia bergerak imbang. Takdirku dan takdirmu berjalan pada arah yang bersama, bertemu pada satu titik keyakinan yang sama. Sayang, aku mengikari takdirku. Aku percaya takdir yang membawa kita berdua, dan aku juga percaya cinta tak hanya dipilih tapi juga memilih. Tapi aku takut kisah romantis kita berdua tak sampai pada akhir bahagia. Kenapa? Aku tak tahu jawabannya. Kali ini aku tidak berbohong. Ketakutanku tidak beralasan. Selamat tinggal. Gadis itu beranjak pergi dari sofanya, persis tempatku duduk setahun yang lalu aku dengan espresso dan dia dengan cappucino-nya. Hanya kali ini dia yang beranjak pergi. Air mata menyelinap di sudut mata. Semoga kau lebih bahagia tanpaku. 1 MONTH AGO 23

Takdirmu tak akan timpang. Jadi, keluar dari kungkungan stigma yang membebani tadi. Cara termudah tentu dengan memperkokoh pijakan kaki sendiri. Beri dirimu penghargaan yang sepantasnya dia dapatkan. Beri dia bekal yang baik. salah satu bentuk penghargaan adalah jangan bebani dia dengan kekhawatiran yang tak perlu. Kata orang kekhawatiran itu tak memperbaiki masa depan, tapi jelas dia merenggut kebahagiaan di hari ini. Hiduplah dengan tenang. Apakah hidupmu sudah tenang? Perlahan kacamata mu akan semakin bersih. Semua akan terlihat lebih jelas. Apalagi yang berupa pertanda Tuhan. Light will guides you home. Asal bisa melihat cahaya, kan?

Rumah Kaca 1 MONTH AGO 16

Pergi ke Mars #4 oktira: Awan mirip UFO itu menembus atmosfer, melesat cepat. farewell bola oh bumi earth hati

biru

yang

menenangkan

perjalanan ini bukan tanpa tujuan, sesungguhnya bukan pula untuk Mars. Perjalanan ini membawa misi. please find your sister, only you can do it.. . Hanya itu yang kuingat dari lelaki tua berambut putih itu, selebihnya adalah cat tembok putih, sprei putih, lantai putih, dan putih.. . bahkan bau karbol bercampur obat di ruangan itu masih membuatku mual. Itukah kenangan terakhir bersamamu? Kematian adalah janji yang tertepati. Pembebasan diri dari ngilu duniawi menuju sesuatu yang entah tak terdeskripsikan. Lalu, engkau bebankan padaku sesuatu yang berat ini. Harus kemanakah aku mencarinya? Sinyal pendeteksi keberadaannya sudah lama hilang. Mungkin saja dia sudah sampai di galaksi lain, menemukan cinta dan impiannya, bahagia disana. Lalu kenapa masih kau pedulikan dia? Bukankah biasanya kau tak pernah? Sampai detik ini pun, aku masih tak mengerti mengapa aku melakukan ini. Tapi kupikir, ini permintaan terakhirmu, biar saja kulakukan. Kasihan aku padamu, anakanakmu tak pernah menjadi anak manis dan penurut sesuai keinginanmu. Tapi, bukankah orang akan memanen sesuai apa yang ia tanam? Aku sudah hilang akal, tak tahu harus Angkasa ini terlalu luas. Bolehkah aku menyerah saja? Hey Lelaki dan sist, tua itu tahukah kemana aku mencarinya.

dimana sudah

kamu? pergi kamu?

bahkan lelaki pujaanmu pulanglah aku seperti orang gila mencarimu

itu

masih

saja

mencintaimu

cerita sebelumnya Pergi ke mars, Pergi ke mars #1, Pergi ke mars #2, Pergi ke mars #3 (via oktira-deactivated20120916) 1 MONTH AGO Pergi ke Mars #5 -sur: Gimana, bagus gak? Kalau tampilan bisa membunuh, gue udah mati sekarang. Kau membelalak dan terdiam. Semburat merah muda mengisi pipi. Lo tuh selalu punya cara unik untuk bicara ya. Karena gue punya seseorang yang tepat untuk mendengar. Tuh kan? Aku cuma membalas dengan senyum. Kau memang tak akan tahu tentang keajaiban kaos hitam bertuliskan aku ingin hidup seribu tahun lagi itu terlihat manis. Ah, pasti ini bagus buat lo.tiba-tiba kau sudah menyodorkan satu jaket hitam kanvas. Serius? Kau mengangguk. Ku coba mengenakannya. Kau membantuku dari belakang. Hey,kau berbisik pelan, kalau suatu hari aku pergi, apa kau akan kehilangan? 5

Satu detik ragaku kaku. Kau mengancingkan jaket, dan mendorongku ke depan cermin. Nah! bolehlah jadi cover majalah-kau mengelus dagu. National Geographic animal!lanjutmu tersenyum dan tertawa girang. Tapi tiba-tiba aku lupa cara tertawa. Kadang gue pikir tentang orang yang pergi lalu menghilang entah kemana. suaramu halus mengisi ruang dari belakang. Andai orang-orang terdekat tak tahu apakah dia telah mati, maka mungkin dia tidak benar-benar mati. Mereka bisa menciptakan hal yang terbaik tentangnya. Beberapa saat kita hanya menatap cermin. Mencari, mengais, entah apa. Itu adalah dialog terakhir sebelum kau pergi. _dialog terinspirasi Before Sunrise dan Down by Law sebelumnya: pergi-ke-mars-4 1 MONTH AGO Peretas Seumpama pagi, kita pun lekas pergi Sebagai sore, kita segera sampai Dari dan ke pangkuan kelam Di mana kita jadi penelusur gua gelita Meraba, menaswir gema cinta Terpisah dari yang selain desah Raga melenggang bagai ganggang Sukmaku menggapai sukmamu, bersitaut serupa kiambang Larut dalam kelucak ombak pasang Kulumur landai lampingmu sampai pasir menyerpih Kudentur-dentur ceruk curammu hingga berbuih Hingga kau-aku terhempas, terlepas, di altar tarikh Peramlah separuh perih, sampai kaulihat rakit dinakhodai cahaya fajar pertama dari kaki langit Selebihnya biar kusemat di jantungku, betapapun sakit 3

Sebab, selagi selat susut semata kaki, kita akan mulai saling mencari Dipandu denyut nadi Kuharap kita akan bersua di sebuah bukit hening yang menyimpan mata air bening, di mana letih terbaring seluruh luka pulih, seiring kita tandai segala yang asing Dan di tanah yang tabah itu, hidup akan tumbuh Kau bagian dariku, aku bagian dirimu, dua jiwa satu tubuh Senantiasa saling butuh. Tanpa yang lain kita tak penuh, tak utuh Sitok Srengenge, Kompas 5 Agustus 2012

Musim Tak pernah henti cinta mencintai sampai usai tak letih silih mengisi Dulu sebelum menyatu aku bergelar lapar kau bernama dahaga Sama-sama baru tiba dari hampa Lalu dibimbing waktu aku melahapmu kau meregukku Sejak itu kita bukan lagi yang sediakala Betapa perkasa cinta Ia jelmakan kita jadi manusia Kuhasratkan kau rebah di tanah sebab aku petani yang tabah setia membajak dan mencangkulimu memupuk dan mengairimu Hingga kau bunting melahirkan nasi ribuan piring Kadangkala aku pekerja pabrik gula merawat ladang tebu

atau menjaga gerak mesin Agar tak cuma tapi semua yang dekat tetap bisa menikmati Dalam dambaku kau seindah musim selalu murung dan setiap kausaksikan kawanan meninggalkan hutan tropis yang hampir Kubuka sawah dan menadah gairah yang sebelum kau berpaling sebagai musim membuatku gering rindu Aku bergantung Tak perlu kuminta kau jadi yang Cinta ibarat bunga: merekah sudah itu layu lalu luruh demi Petani dan tak terpisah Sitok Srengenge, Kompas 5 Agustus 2012

gilingmu aku kita manismu basah menangis burung habis kebun rimbun kering peluhmu padamu kumau indah buah musim

Nomor 1 : Yang Terculik Naskah : Sutansyah Marahakim Ilustrasi : Fiona Priscilla Tambunan Adaptasi Cerita : Anissa Rahma Sukardi Semua bermula dari lembah yang bergelora. Aku ingat rona api menggeliat jelita, perayaan desa di tengah kemahadayaan semesta. Malam itu hanya milik warga desa. Selayaknya sebuah pesta, membawa sukacita, membuang jauh nestapa. Sesaat ini kami biarkan lupa.

Sebuah kisah diantara tenda-tenda dan nyala terang bulan. Mereka berdansa dan bersuka-ria, aku tertawa meski tak ikut bersulang bersama. Pada setitik waktu yang disakralkan, kami berbagi keceriaan juga setitik kesederhanaan. Dunia yang tak pernah lelah bercerita, di dalamnya kami menjelajah. Juga aku, memandangi sesosok yang menari disana. Ini adalah desa tua ditengah belantara. Namun melodi dari ujung seruling membuat umur tak lagi penting. Lagu itu. Mungkinkah sesekali ia lantunkan untukku? Adalah sebuah canda dari gadis yang kudamba. Lalu rasa yang menjangkit, menarikku dari pojok sendiri menuju lingkaran yang tak kupahami. Seulas senyum, dalam lesung yang merona. Aku benci kata cinta namun apa daya. Menyapaku dengan suara sebening air di dasar telaga. Mengajakku untuk bergerak dalam raga yang mendadak lupa segala. Karena semua indera yang kupunya, terbuai hangat auranya. Chiandra. Yang diinginkan dan dirindukan sukma. Auranya kurekam dalam kirana, nyanyian mimpi semesta. Inilah kisahnya, sebuah perjalanan nyata dan tak nyata hanya untuk mengembalikan Chiandra. Dan di relung malam milik kalian yang bertanya tanpa sadar, cerita ini akan kutebarkan. Akan kuulang lagi, bagi kalian, bagaimana malam yang berawal penuh suka cita itu berubah menjadi lara bagiku. Ketika purnama hendak lepas dari geliat mendung,

mereka memanggil jiwa-jiwa yang terkesima dan rela. Dari bumi yang dengan mata naifnya, melihat keindahan purnama sebagai Dewi yang elok di kala malam. Dan kali ini, jiwa yang terculik itu adalah miliknya. Milik Chiandra. Lingkar perayaan itu berangsur-angsur menyebar dalam sudut yang berbeda. Aku terduduk, sendiri dan mengagumi. Chiandra, dengan serulingnya meniupkan nada yang mengecupi telinga. Kututup kedua mata agar buai nadanya menelisiki jiwa. Kemudian, untaian itu menjadi sunyi, dan nalarku kembali bertanya. Ada apa? Mengapa berhenti? Mata adalah indera pertama yang tak percaya. Figurnya yang pesona, kini sirna. Perlahan, ditelan malam yang semakin tua. Dipandu temaram cahaya dari bulan, yang mungkin saja hampir sekarat. Tangan-tangan yang terpejam, menarik raga Chiandra, seolah-olah ingin meleburnya bersama Dewi malam, dalam kerajaannya yang angkuh juga rapuh. Dan saat itu, aku juga jatuh terduduk. Setelah gaung detik yang kuhabiskan dalam kejut, Chiandra tak lagi ada di tanah ini. Aku mencari, berlari, kadang teriak dalam frustasi. Namun selalu berakhir dalam simpuhan takluk. Sedangkan, apa yang mereka lakukan? Saudara-saudaraku hanya menatap purnama dengan kenaifan. Seperti itulah dunia yang bergulir bersamaku. Mereka terpaku pada rembulan yang bulat sempurna, sendirian di langit malam. Menatap dengan takjub dalam kekosongan. Kuhentakkan bahu seorang pemuda desa. Ia hanya balik menghentak, dan menyuruhku menatap bulan. Benderang memang. Tapi tetap saja aku tak paham.

Atau justru mereka yang tak paham? Bahwa lingkar putih nan megah itu, kini menahan Chiandra dibalik kuasanya. Tak ada isak lara atau lirih peratapan. Tak sadarkah mereka? Atau mereka terlalu terbuai pada fakta, bahwa salah satu dari kami kini menjadi bagian dari malam yang penuh mimpi dan imaji. Aku berlari lagi ke tengah kerumunan. Mencari pertolongan. Tapi visi mereka hanya tertuju pada purnama. Yang sejujurnya, sangat ingin aku ledakan! Amarah dan kecewa. Ingin kugugat Sang Permaisuri saat itu juga. Ingin kurampas darinya, jiwa yang dari pertama bukan miliknya. Jiwa yang aku sayangi. Namun semuanya berkata Taraksa cari perkara. Aku seperti serigala yang terbuang dari kawanannya, yang menempuh jalannya sendiri. Mungkin memang itu diriku. Tapi itu tak akan mengurungkan gigihku. Apapun. Apapun akan kukorbankan. Untuknya. Untuk Chiandra. Ternyata, adalah kepala desa yang akan membantuku menjemput Chiandra yang ditawan bulan. Tapi, tentu saja ada setiap harga dari sebuah pengorbanan. Raga dan jiwaku, semua harus menyatu dengan sihir malam. Sebagai kontrak yang mencegah aku untuk ingkar. Bahwa apa yang kuucap dengan janji, tak dapat di tarik kembali. Persetujuanku saat itu adalah awal pertarungan dengan ketakutanku dan ketidaktahuanku.

Lingkaran yang sakral mulai menyatu. Shaman dan titahnya berupa rapalan yang tak sedikitpun kumengerti. Hingga ditorehkan dua mata burung hantu di punggungku. Luka yang merupakan simbol ketakberdayaan meraih segala daya. Agar belenggu gravitasi lepas dari tubuhku. Agar daratan tak lagi mengikatku. Agar segala keduniawian melepaskan cengkramannya padaku. Lalu, perlahan sayap-sayap itu tumbuh. Dari punggungku, mata burung hantu melebur menjadi sesuatu yang berhasil mengakali keterbatasan mortal. Seluruh nadiku sepertinya luruh, bersama dengan kepak membisingkan indera. Meninggalkan tipu daya semesta. Menghantarku ke undakan langit untuk memulai perjalanan. Seketika lepas landas, rasanya kemenangan sudah ada ditanganku. Namun rupanya, aku terlalu percaya. Karena kini sayap-sayapku luruh dan aku terjatuh. Tapi daratan yang berbeda seakan menyambutku. Dengan kegelapan yang membingungkan raga hingga buta.

Taraksa adalah kisah yang terinspirasi dari petilan #nokturna. Cerita ini akan diangkat sebagai naskah seni pertunjukan: Teater EPIK vol. 5. Terinspirasi dari semangat konten-berbagi #nokturna, perjalanan Taraksa akan kami bagikan kembali kepada teman-teman melalui jejaring media kami, salah satunya melalui tulisan ini.

Untuk info lebih lanjut :

@taraksa_ @majalahEPIK www.majalahepik.com

araksa: 1

(Berikut adalah kisah pertama dari Taraksa. Bukan saya yang nulis, bukaaan, saya masihlah ikan teri di dunia permainan kata untuk bisa nulis yang sepuitis ini.

Taraksa adalah hasil racikan anak-anak EPIK Media, yang seperti namanya, epik. Bagi teman-teman Tumblr penikmat sastra; saya ucapkan selamat mencerna, menghayati, menikmati :) -regards, Kinsyu)

Yang Muda, Yang Berkarya Mulai saat ini, saya akan secara reguler membagikan kisah-kisah Taraksa hasil karya teman-teman EPIK Media. Ini adalah bentuk dukungan terhadap teman-teman EPIK Media yang berusaha menghidupkan sastra dan teater secara berdampingan. Sebagai pengenalan singkat, majalah Epik mempunyai konsep awal memvisualkan isi majalah dalam bentuk garapan teater. Majalah ini lalu sempat vakum beberapa bulan, sebelum akhirnya bergiat mengembalikan lalu-lintas ide awak-awak dan pembacanya melalui berbagai cara. Salah satu usaha yang mereka lakukan adalah dengan diskusi terbuka via twitter dengan hash-tag #nocturna. Dari diskusi tersebut, terkumpul jubelan ide yang akhirnya dijadikan landasan sebuah skrip. Nah, untuk rangkaian pertama, namanya Taraksa. Wah, jangan-jangan penjelasan saya malah bikin tambah mumet *-*

Bagaimana kalau kita simak saja penjelasan langsung dari Pemimpin Redaksi EPIK Media? ;) Monggo

Apa itu EPIK Media? Sebermula adalah majalah, lalu perjalanan dari naskah ke naskah.

Kira-kira seperti itu kisah dibalik Teater EPIK ini jika hendak menyitir dengan sedikit perubahan salah satu bait sajak Sapardi. Pada mulanya bentuk Teater EPIK ini hadir sebagai ujung tombak pemasaran Majalah EPIK sekemas majalah yang berdiri dengan dasar konsep: penuangan kembali esei kritis dari sudut pandang mahasiswa. Di awal keberadaannya, teater ini sendiri hanya mencoba menyajikan rupa berbeda dari pembahasan tema majalah di tiap edisinya. Pementasan ditujukan untuk memberikan pembaca sensasi bermacam yang lebih dari sekadar lembaran dan tulisan.

Seiring dengan perjalanan, bentukan teater ini mendapatkan sorotan yang menjanjikan, sehingga kerap kali Teater EPIK diberikan kesempatan untuk merambah raga eksplorasi pementasan, dari musikalisasi puisi hingga bentukan pengisi acara. Pada perlawatan itulah perlahan bentuk teater ini berubah, bersamaan dengan hadirnya para penggiat baru, dari sekadar alat promosi majalah menjadi suatu wadah yang menaungi. Dan pada momen ini hingga Desember nanti, kami hendak menyebutnya semacam inaugurasi, perayaan kehadiran EPIK kembali. Kami masih mengingatnya dengan

terang, sudah hampir 8 bulan Majalah EPIK tidak memasuki siklus hidup media cetak, pun juga ruang di dunia maya yang tak lagi terurus selama kurang lebih 1 caturwulan; membuat 27 Mei 2012 kemarin hanya akan menjadi sekadar peristiwa jika kami tak terus membangun cerita dari EPIK Media.

Maka, selama kurang lebih 2 bulan ke belakang, kami mencoba berkemas, utamanya adalah mempersiapkan tim yang cerkas. Namun, persoalan tak berhenti disana, upaya untuk menghidupkan lagi lalu-lintas ide bukanlah perihal mudah.

Setelah coba berdiskusi kesana kemari (sembari mengadakan pameran fotografi) akhirnya munculah kesimpulan sederhana, Bagaimana jika kita mulai dari akun twitter dengan melemparkan konten-berbagi untuk sekadar mencari ide dari teman-teman?

Dan hadirlah #nokturna, yang tanpa disangka-sangka, mendapat sambutan hangat dari khalayak. Selama 2 minggu itu, kami dibuat cukup takjub.

Begitu banyak perspektif yang sebelumnya belum pernah kami dengar, buah pikiran dari mereka yang tak kami ketahui keberadaannya. Lalu lahirlah pokok obrolan di antara tim kami, yang berkutat pada hendak di-apa-kan #nokturnaini?.

Proses perunutan kembali berbagai ide #nokturna dari teman-teman berakhir pada serbesit ide untukmenjadikan #nokturnasebagai landasan awal sebuah skrip.

Setelah melalui penggodokan yang sampai-sekarang-masih-belum-berkesudahan, kami coba menghadirkan #nokturnasebagai serangkaian acara, dan salah satu rangkaian yang pertama kami sebut sebagai Taraksa, Teater EPIK.vol. 5.

Terinspirasi dari konten-berbagi #nokturna, kisah mengenai Taraksasendiri akan perlahan kami bagikan kembali kepada teman-teman melalui berbagai jejaring media kami. Sebagai dasar dari rangkaian acara ini, #nokturna, akan tetap hidup sebagai bentuk aksi promosi dan sarana berbagi.

Dan yang tentunya menjadi tak kalah penting dari Taraksa dan#nokturna, Tim Redaksi akan menghadirkan Majalah EPIK sekali lagi.

Salam hangat,

Pemimpin Redaksi

Untuk info lebih lanjut :

@taraksa_

@majalahEPIK

www.majalahepik.com Anonymous asked: Kinsia, Kinsia, Kamu cantik. Saya doakan Kinsia jodohnya dekat. ^^ btw, Selamat udah wisuda. Kuliahnya beneran di Negeri Jiran ? Ikhwal Subhanallah, ini gimana ngeresponnya gimana (.___.)

Ikhwal, what you see was just a tip of an iceberg. You need to experience the unyengunyeng version of Kinsyu before making such a flattering statement. Tapi saya terharu sama doanya. Aamiin ya Robbal alamiin. Terimakasih ya. Baik pisan (.___.) Mengenai kuliah, ya! Anda benar! Saya menuntut ilmu di negeri Jiran yang sering diberi gelar negerinya Siti Nurhaliza. Namun amat disayangkan, saya belum pernah ketemu Siti Nurhaliza (.___.) Berat Berkaitan dengan postingan tante Dewi yang ini, saya amat setuju bahwa hubungan baik dan harmonis antara mertua-menantu di kehidupan pernikahan kelak #eaa adalah amat penting. Bagi beberapa orang, mungkin, yang penting itu anaknya lah. Orangtuanya mah urusan belakangan. Lagipula kan belum tentu tinggal satu kota atau berdekatan. Eh, jangan salah. Ngaruh banget lho beneran *woo anak kecil sotoy woo* :B Beberapa hari yang lalu, sambil tidur-tiduran unyu, saya sempat kepikiran untuk nanti di masa depan, mengatakan sesuatu kepada mamah calon. Saya bahkan sudah membayangkan situasinya. Misalnya si mamah calon mengajak saya (atau saya yang ngajak beliau) hangout atau belanja keperluan atau makan bareng berdua saja. Nah, di sela-sela obrolan santai, diselipkanlah kata-kata yang bunyinya kurang lebih seperti berikut: Tante, tante jangan sebel sama saya ya, jangan terlintas cemburu atau ngerasa saya bikin anak tante jauh. Segimanapun si XXX itu jalan-jalan melulu, nelpon-nelpon,

jarang di rumah, sibuk nyiap-nyiapin surprise, kado, atau apalah, di hatinya tante punya posisi sendiri yang nggak akan pernah tergantikan siapapun. Aaaaaaaa, cheesy. Soalnya, berdasarkan pengamatan saya (entah ngamatin siapa ckck), ibu-ibu yang punya anak cowok seringkali merasa insecure saat harus melepas Bang Ganteng mereka mengarungi bahtera rumah tangga bersama gadis pilihannya. Sebab? Sebaaab, nanti perhatiannya udah seratus persen tercurah ke istri. Prioritasnya keluarga baru. Makanan favorit ganti jadi masakan istri, bukan masakan ibu lagi. Pulang kampungnya jarang, malah ke kampung istri. Ehh. Oleh karena itu, diperlukan saling memahami dan kerjasama yang baik antara Ibu dan istri. Ibarat pesan lagu dangdut, jangan ada dusta dan dendam yang terpendam di antara kita. Kalau dari awal aja udah saling berebut perhatian, udah ada rasa takut atau rasa nggak nyaman karena prasangka-prasangka jelek, kesono-sononya gimana dong? Eh berasa mamah Dedeh. Ahahahaha. Berat emang ini pembahasannya berat. Apalagi jika malam minggu masih ngedate sama laptop. Ctar.

growing up There is no growth in the comfort zone; there is no comfort in the growth zone. Kata-kata ini dikutip oleh penulis sebuah artikel ekonomi yang terbit di Kompas beberapa waktu yang lalu. Intinya menceritakan bahwa sebuah perusahaan yang tak pernah mengalami masalah, tidak akan pernah tumbuh dan malah tak baik bagi

perusahannya. Kemungkinan terbesar adalah bangkrut, karena perusahaan tak berkembang, stagnan di satu titik saja, zona nyamannya. Tapi saya rasa, kutipan ini berlaku untuk semua hal, tidak hanya untuk perusahaan. Tapi juga manusia. Makin bertambah umur, ternyata tak membuat saya makin dewasa. Saya tak ingin punya masalah, inginnya selalu bahagia di zona nyaman saya. Tak boleh ada yang mengganggu. Saya selalu ingin menjadi anak-anak yang bahagia. Tapi sayangnya hidup seringkali tak sesuai dengan ekspektasi. Jadilah saya lebih banyak mengeluh dan merengek saat hidup tak sesuai dengan apa yang saya mau, persis seperti anak kecil yang tak dituruti permintaannya. Maunya selalu sejalan dengan apa yang saya inginkan. Karena saya tahunya itu cara yang paling tepat untuk bahagia. Apalagi jika sedang punya masalah, saya lebih memilih untuk kabur, menyendiri dan pura-pura amnesia, tapi nyatanya masalahnya tak selesai, dan takkan pernah selesai jika saya tak menghadapinya. Tapi bukanlah ingin menyusahkan saat Tuhan memberikan saya ujian, dia hanya ingin saya terus tumbuh dan berkembang, salah satunya untuk menjadi dewasa. Untuk juga naik level satu ke level lainnya. Tentu Tuhan dengan senang hati telah menyiapkan banyak ujian untuk saya agar saya terus naik level dan hingga nanti sampai pada level yang tertinggi, berada di sisiNya. Beberapa waktu yang lalu, saya ngeluh luar biasa, gara-gara ditempatkan oleh kantor tempat saya mengajar, untuk mengajar didaerah yang lumayan jauh dari tempat saya tinggal. Saya mengeluh dan merengek pada Tuhan, teganyaa hidup. Maunya saya, saya mengajar didekat-dekat saja, biar tidak capek. Saya merengek kepada kantor, bahkan ingin membayar ganti rugi dan mengundurkan diri. Sampai kemarin tiba pada obrolan antara saya dengan teman saya yang juga seorang pengajar, Waktu pertama kali ngajar, juga kerasa beratnya, Nay. Karena butuh makanya saya bertahan. Tapi sekarang sudah menikmati kok. Karena butuh makanya saya bertahan. Ah, sungguh saya tertampar. Karena saya ngerasa ga butuh, makanya saya ngeluh dan merengek terus-menerus. Padahal, coba

kalo saya diposisi dia, bisa apa saya. Mungkin Tuhan saat mendengar rengekkan saya mengatakan seperti ini, Lo tuh udah gue kasih ujian biar lo belajar, tapi lo-nya sih ga bisa lihat sisi positifnya. Akhirnya saya memutuskan untuk tetap bertahan, dicoba dulu. Saya mencoba rasanya kerja susah, buat dapet penghasilan yang ga seberapa. Biar saya lebih apresiasi terhadap uang. Saya mau nyoba pulang malam balik kerja, berhadapan dengan peraturanperaturan yang tidak saya suka, untuk tahu bahwa dunia tidak pernah sesuai dengan apa yang saya mau. Dan yang paling penting, adalah menikmati hidup yang terjadi. Jalani, seberapa sulitpun itu. Lagipula, kesulitan yang saya rasakan belum sebanding dengan kesulitan-kesulitan yang dihadapi orang lain. Saya masih bisa tidur nyenyak, tanpa perlu takut ada tembakkan sewaktu-waktu yang menghancurkan tempat tinggal saya. Saya tak perlu gelisah, menghadapi hari esok karena tak punya apa-apa. Bahkan saya tidur dikasur yang nyaman, bukan beralaskan kardus bekas tanpas bantal. Saya masih jauh jauh jauh lebih beruntung, karena itu seharusnya saya tidak mengeluh. Dan seharusnya lagi saya harus lebih bisa dewasa dalam menghadapi hidup. Karena keluhan saya bukan apa-apa. Dan saya harus tetap percaya, bahwa kesulitan selalu bersama kemudahan.

Cinta yang abadi bukanlah sesuatu yang ditakdirkan, cinta yang abadi adalah sesuatu yang diperjuangkan terus menerus sehingga cinta itu tetap ada, tetap bertahan, tetap membara, tetap penuh pesona, tetap menggelisahkan, tetap misterius, dan tetap terus menerus menimbulkan tanda tanya : Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku? Mengajar bukan profesi. Mengajar adalah kegemaran. Aku telah mencapai sebuah kesimpulan yang menakutkan bahwa aku adalah unsur penentu di dalam kelas. Pendekatan pribadikulah yang menciptakan iklimnya. Suasana hatikulah yang membuat cuacanya. Sebagai seorang Guru, aku memiliki kekuatan yang sangat

besar untuk membuat hidup seseorang menderita atau gembira. Aku bisa menjadi alat penyiksa atau pemberi ilham, bisa bercanda atau mempermalukan, melukai atau menyembuhkan. Dalam semua situasi, reaksikulah yang menentukan, apakah sebuah krisis akan memuncak atau mereda dan apakah seseorang akan diperlakukan sebagai manusia atau direndahkan. Haim Ginott, adalah guru sekolah, psikolog anak, dan psikoterapi dan edukator orangtua. :) 1 MONTH AGO 23

Maha Baik Allah Maha Baik. Mungkin berulang-ulang kali saya bersyukur kepadaNya, takkan cukup membalas kebaikkan dan kasih sayangnya kepada saya. Ah, sungguh Allah Maha Baik dengan segala yang telah Dia berikan kepada saya. Dia benar-benar tahu apa yang saya butuhkan, saat ini, esok hari, dan hari-hari selanjutnya. Sungguh Allah Maha Baik, bagi mereka yang percaya akan selalu ada kebaikkan yang terjadi dalam hidup ini. 1 MONTH AGO 20

Namanya Em. Nama aslinya jelas bukan Em. Em adalah nama kreasiku untuk melabeli seorang pemuda seusiaku yang membantu orangtuanya melayani pembeli di kedai kopi tak jauh dari kampus. Em.

Paduan dua huruf itu rasanya cocok menggambarkan sosoknya. Posturnya yang kecil, wajahnya yang kekanakan, serta gerakannya yang sok gesit bila antrian mulai mengular. Baju kaus yang dipakainya juga selalu unik. Ia punya beragam varsity t-shirts, kaus putih bertuliskan part time millionaire, kaus abu-abu bergambar robot, The Beatles atau Sesame Street, bahkan jersey baseball gedombrongan. Hanya dengan curi-curi memperhatikan Em, kegiatan antri mengantri jadi tak bosan. Aku tahu, Em mengenal mukaku. Mungkin aku satu-satunya pelanggan kedai kopi yang tidak pernah minum kopi. Em juga hafal dengan pesananku yang tunggal,homemade chocolate cookies. Berdasarkan fakta itu, kurasa Em bahkan mengingat jadwal kunjunganku, hari Selasa. Sebab, chocolate cookies yang sedap, renyah, dan tenarnya bukan kepalang itu hanya tersedia saban Selasa. Kadang aku datang pagi, kadang agak petang. Jika saat aku tiba semua cookieskeburu habis terjual, Em akan berkata dengan raut wajah digelayut rasa bersalah, Maaf ya, cookiesnya habis. Mau croissant? atau, Maaf ya, cookiesnya baruuuu saja habis. Puff, mungkin? suatu kali, Maaf, cookiesnya diborong mbak-mbak yang tadi. Suka carrot cake?

Mau tidak mau aku batal merengut melihat usahanya menawarkan kue alternatif. Pada hari-hari kehabisan cookies, aku memboyong pulang satu kue rekomendasi Em. *** Aku selalu berbantah-bantahan dengan hatiku sendiri mengenai alasan kunjungan rutin ke kedai kopi itu. Berikut pembelaan logikaku: Poin pertama, kelezatan cookiesnya memang tiada tara. Poin ke dua, interior kedai kopinya apik, berkonsep coffee house ala Britania Raya. Poin ke tiga, musik akustik yang diputar amat membuai, padan dengan aroma kopi, aroma kue, dan tata lampunya yang temaram. Poin ke empat, daya tarik Em. Hatiku, yang agak jarang kuturuti, memprotes dan mendakwa bahwa Em seharusnya ditempatkan di poin satu. Sidang logika versus hati itu sering terjadi di tengah malam, saat aku mulai dikuasai kantuk. Akibatnya putusan sidang selalu digantung sampai waktu yang tidak ditentukan. *** Hari selasa tiba (lagi). Aku tidak ke kedai kopi pagi-pagi demi mengejar praktikum. Tidak pula sempat singgah tengah hari karena menghadiri rapat panitia lomba foto jurnalistik yang belum ada judul, belum ada tema, belum selesai proposalnya hingga belum ada pembiaya. Rapat itu memerangkapku hingga hari beranjak petang. Kukerahkan segala daya untuk memberi tanda. Kumulai dengan menyandang tas diam-diam, lalu kugoyang-goyangkan

kakiku, disusul dengan pamer kuap yang cukup lebar. Namun tak ada aksi dan reaksi dari peserta rapat yang lain. Mereka gagal menangkap dan menerjemahkan tanda dariku, aku gagal kabur. Rapat baru berakhir saat hari gelap pekat. Aku berlari menyongsong apapun yang tersisa dan disisakan, merasa dapat berkah bila nanti kutemukan lampu depan kedai kopi masih menyala. Kekhawatiranku ternyata berlebihan. Kedai kopi masih lebih dari sekedar hidup. Pembeli tampak ramai, di dalam kedai maupun di bawah kanopi luar. Jam besar klasik yang menghias dinding kedai kopi berdentang delapan kali. Baru pukul delapan malam rupanya. Aku terkekeh, jadi juga mengecap bahagia. Buru-buru kuambil antrian di belakang sepasang muda-mudi yang tangannya saling melingkar di pinggang, mabuk cinta. Dari tempatku berdiri aku bisa melihatnya jelas. Senyumku mengembang. Hati bersorak merayakan kemenangan. Halo Em. *** Em di Selasa kali ini terlihat lain. Rambutnya dipangkas pendek, senyumnya simpul dan cepat hilang. Em seperti bukan Em. Ia meracik kopi dan mengambilkan kue dengan agak lambat biarpun antrian panjang. Hingga tiba giliranku memesan. Chocolate cookie? ia mengerling. Aku mengangguk dua kali.

Semuanya tujuh ribu lima ratus. Ada lagi? Ada Em. Saya ingin bertanya. Dimana kamu ngumpetin Em yang biasanya dan kenapa pake diumpetin segala. You look tired, cuma itu yang bisa kusebutkan sembari menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan. Im not tired. Im just a little bit sad, Em menyodorkan uang kembalian dan bungkusan kertas berisi kueku. Kuhindari matanya, sepenuhnya berpura-pura fokus pada bungkusan kertas. Aku tidak sanggup melihat apakah ia menjawab dengan senyum atau sayu. Tidak sanggup bertanya apa-apa lagi, atau bersimpati. Aku terlalu dibanjiri rasa akibat interaksi remeh yang kuinisiasi. Setelah mengucap terimakasih dan tersenyum sekilas pada Em, kuraih bungkusan kue dari atas meja kasir. Bungkusannya terasa lebih berat. Kuintip isinya, ada empat keping chocolate cookies berjejer di dasar kertas. Apa ia salah hitung? Aku tidak pernah membeli lebih dari satu kepingcookie dalam setiap kunjungan. Tega sekali Em melupakan detail remeh seperti itu. Itu hadiah, Em seolah membaca wajah bingungku. Soalnya mulai Selasa depancookiesnya udah nggak ada lagi. Lho? Kenapa? Sepi peminat ya? Jangan dong, kan masih ada saya yang beli, aku memelas, tak peduli citra diri dan keadaan. Em tertawa kecil.

Bukan karena itu, kok. Pembuat cookies yang paling ahli di sini mau pindah ke Jerman. Ilmunya belum sempat diwariskan ke pegawai yang lain. Jadi terpaksa ditiadakan. Siapa? Bu Sita? Bu Sita mau pindah ke Jerman? aku menyebutkan nama pemilik kedai kopi ini. Aku dan teman-temanku mengenal baik Bu sita, ibu kandung Em. Beliau senang mengobrol dengan para pelanggan, terutama mahasiswi-mahasiswi rumpi. Dari Bu Sita kami semua tahu bahwa Em bukan pegawai biasa. Ia pegawai VIP. Lho, Ibu saya nggak kemana-mana, saya yang mau pindah ke Jerman. Mau lanjut kuliah. Aku tertegun. Hatiku menghentikan pesta. Di saat aku akhirnya tahu bahwa sekeping olahan tepung yang begitu kugemari ternyata adalah hasil karyanya, Em mengumumkan perpisahan. Mau jadi apa hari-hari Selasaku nanti? Demi melihat aku yang mematung, dan demi ketenteraman suasana antrian, Em mengambil kembali bungkusan kertasku dan menuangkan isinya ke atas piring putih. Ini, kamu cari tempat duduk dulu. Malam ini boleh pulang agak larut kan? Saya pengen ngobrol. Jangan khawatir, nanti pulangnya pasti saya anter, pake vespa antik, dapet bonus pinjeman jaket, hehe. *** Kami duduk di salah satu meja di bawah naungan kanopi. Em memintaku menandatangani baju kaus Oxford University miliknya, yang sudah lebih dulu dipenuhi

tandatangan teman dekat dan anggota keluarganya. Aku memilih tempat di lengan sebelah kanan. Em bilang padaku, baju kaus ini favoritnya. Aku tidak berani bilang padanya bahwa di antara semua baju yang pernah ia pakai, baju itu juga favoritku. Em bilang padaku, malam itu adalah kali pertama ia merasakan nongkrong di kedai kopinya sendiri. Aku bilang pada Em, malam ini pertama kalinya aku minum kopi sungguhan. Em bilang padaku, bila ada libur panjang yang mengizinkannya pulang, ia akan mengajariku membuat cookies andalannya. Aku bilang padanya, ia harus sabar dan ulet dalam mengajar nanti, because Im a hopeless cook. Em mengaku kadang ia ngeri pada asupan makanan manis yang terus menerus kutumpuk setiap minggu. Aku berjanji pada Em aku akan menguranginya, mungkin malah menghentikan sama sekali. Kujelaskan alasanku secara implisit. Aku cuma suka hari Selasa, kataku. Saya juga suka hari Selasa, kata Em. *** P/S: Aku sudah tahu nama aslinya: Juni.

TS & JS* Perahu Kertas Bersama Kinsyu (Part 1)

*Tanya Sendiri Jawab Sendiri, bhahaha :B TS: Sudahkah Anda membaca novel Perahu Kertas? JS: Sudah! Pertama beli, saya baca sampai seperempat jalan, lalu saya mogok dan ngambek karena kemunculan tokoh Wanda. To be brutally honest, in my opinion loh ya, tokoh Wanda dan segala kelakuannya itu sinetron banget. Berbulan-bulan kemudian, saya rujuk lagi sama novel tersebut. Saya mencoba membacanya dari awal, menguatkan diri menghadapi bab-bab yang ada Wandanya, hingga badai Wanda pun berlalu. Pada halaman-halaman setelahnya, saya larut. Ada keterikatan emosi yang tidak bisa saya jelaskan. Ahei. Saking sukanya, saya bahkan membawa buku itu liburan ke Pulau Perhentian (The Hub Island) dan berfoto bersamanya dengan latar belakang laut yang biru dan jernih. Prikitiw.

TS: Jelaskan bagian favorit Anda di Perahu Kertas dan Mengapa? (5 Poin) JS: Bagian favorit saya dari keseluruhan novel adalah bab Sakola Alit. Bu Ugy dan Pak Guru Rangginang. Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Sungguh endearing dan menghangatkan jiwa raga. Selain itu hmm.. (berpikir sambil menyulam), saya juga suka banget bagian Noni dan Kugy baikan. Itu banjir. Beneran banjir. (membuang peralatan menyulam) (membalik meja dengan emo) Ada lagi! Tapi aneh sih. Saya malah nangis dahsyat saat Eko dan Keenan bertukar makian Setan Alas Keparat! dan Tokai Berantakan. Aneh kan? (tertawa) TS: Selanjutnya, bagaimana pendapat Anda tentang karakter Kugy Alisa Nugroho?

JS: Seumur-umur baca novel dan buku cerita berbagai jenis, saya belum pernah merasa begini terwakilkan dengan keberadaan sebuah karakter. Buat saya, Kugy itu macam deskripsi. Semuanya terlalu dekat. Ya sifatnya. Mimpinya.Passionnya. Minusnya. Slebornya. Nih ya. Bukan sulap bukan sihir.. Lalu sandal khusus kamar mandi dari bahan plastik berwarna pink elektrik seolah menyempurnakan keajaiban penampilan Kugy sore itu. Kebetulan macam apa ini *berkaca-kaca*

Bedanya, Kugy versi Maudy Ayunda 25 kali lipat lebih eye-candy. Khikhikhikhik. TS: Adakah karakter ini mengajarkan Anda sesuatuk? JS: Cetar. HAHAHAHAHAHAHAgangerti. Mengenal tokoh Kugy itu kayak dikasih cermin gede. Saya mikirnya, si Kugy mah curang, suka ngilang-ngilang kalau dihadapkan pada pilihan atau masalah, tapi nanti pastiiii ada orang baik yang bantu menyelesaikan, atau malah masalahnya beres sendiri seiring waktu. Lalu saya berkaca. Eh, si Kinsyu juga sering gitu sih (.__.)

Kugy dan lingkungannya juga jadi refleksi buat saya dalam memandang sekeliling. Betapa beruntungnya punya orang-orang suportif yang banyak memaklumi dan berusaha akur pada ketidakbiasaan kami. Dalam kasus Kugy; K-Family, Noni dan Eko, Ojos, Remi. Dalam kasus Kinsyu; KLM Family, High Five, Gerub, Sysd, TDI, tuh kan tuh kan serasa menang award mehehe maap. Banyak lagi yang lainnya. Kugy kamarnya rapi, saya jadi kesentil, jadi seniman siapa bilang harus berantakan. Kugy bisa nyetir (walaupun hanya ada satu kalimat yang mengindikasikan hal itu hahaha), saya bertekad juga pengen berani nyetir. Kugy nggak ngeluh disuruh bikin kopi dan fotokopi pada awal karirnya di ADvocado. Okesip. Boleh galau asal struggle B-) TS: Bagaimana pula dengan tokoh Keenan? JS: Percaya atau enggak, ini emang kedengerannya absurd sih, saya pernah kenal sama satu orang yang Keenan banget. Ganteng, spontan, artistik, kuliah ekonomi tapi passionnya ngelukis, suka Bali, suka Bandung. Saya rasa kalau orang itu baca Perahu Kertas juga dia pasti kaget dengan kemiripan-kemiripan tersebut. Cuma satu bedanya. Mengenai sekolah dan karir, orang itu nggak rebel kayak Keenan. Dia memilih untuk hormat, tunduk dan taat kepada orangtua dan guru; sebagaimana yang tercantum dalam Tri Prasetya Pelajar. TS: Apakah ada kemistri atau kisah cinta yang terjalin diantara Kugy dan Keenan KW? Nantikan jawabannya di TS JS Perahu Kertas bersama Kinsyu (Part 2). Berlayar Lebaran.

dunia yang basi zuhdibaikberuntung:

dunia yang basi itu adalah dunia penuh hipster - orang-orang yang malu jika tidak ikut tren. mereka pikir dengan mengikuti tren, mereka tidak jadi basi. duh, padahal tren itu cepat basi jika semua orang mengikutinya. adanya media sosial membuat kita jadi lebih hip. dari Gangnam Style sampai #SaveKPK, semua orang tahu dan ikut menikmati. kalau kita hip di area hiburan, indera saya masih menerima. tapi kalau sudah mulai ke politik dan tema nasionalisme, duh, pusing kepala saya. ribuan orang ikut-ikutan #SaveKPK, menjadikan isu KPK versus Polisi seperti tentara kebaikan lawan tentara kejahatan. kenyataanya siapa yang tahu? saya tidak bilang KPK itu tidak putih. saya juga tidak bilang polisi itu tidak hitam. tapi saya memang betul bertanya, siapa yang sebenarnya tahu? lalu presiden diburu-buru untuk turun tangan dan menyatakan sikap, lalu semua orang jadi pintar dengan memberikan komentar tentang pemerintah harusnya begini, harusnya begitu. yang paling pintar saat ini adalah wartawan! uh, dengan keberanian yang super, para wartawan itu menulis ini itu. salah satu wartawan yang cerdas dari kantor Tempo menulis judul berita, Once: Where Are You, Mr.President?. ah, apa signifikansi dari Once dalam perihal ini? ingat dulu waktu Susno Duadji disebut sebagai pemeran dalam drama Cicak versus Buaya. oh, dia dulu dihina-hina oleh masyarakat. Lalu yang bersangkutan tiba-tiba membuat buku lalu masuk acara trendi bernama Kick Andy. Lalu sekarang Susno disebut ksatria dan siap maju pada pemilihan Gubernur Sumatera Selatan! mudahnya kita terlarut dalam informasi-opini hingga orang bisa jadi pahlawan bisa jadi bajingan dalam waktu singkat. yang paling bikin pusing kepala adalah semua yang berita terkait dengan negara tetangga bernama Malaysia. Saat Malaysia ingin menjadikan salah satu budaya asal Indonesia sebagai bagian dari budayanya, kita semua jadi heroik dan nasionalis! menyebut Malaysia sebagai bangsa pencuri dan tidak punya budaya.

saya masih ingat, pagi-pagi saya menyimak berita di MetroTV di awal tahun 2012. Malaysia dianggap mengklaim salah satu produk budaya kita, lalu dengan cerdasnya berita dilanjutkan dengan Bukan kali ini saja Malaysia mengklaim produk budaya Indonesia, blablablabla, bahkan lagu kebangsaan Malaysia disinyalir meniru lagu Bubuy Bulan. aduh. terakhir ketika Kerajaan Selangor meminta restu kepada pemerintah Palembang untuk menjadikan motif songket Palembang sebagai motif kain kerajaan Selangor. beritanya relatif netral, tapi komentar masyarakat di bawahnya grrr, menunjukkan kita belum cukup dewasa menginsyafi nasionalisme dan kebudayaan bangsa. lalu semua orang bicara nasionalisme. pantang bagi saya menyebut diri saya nasionalis sejati. dan saya selalu skeptis terhadap orang-orang yang menyebut dirinya nasionalis sejati. bagi saya, orang Indonesia sejati itu orang-orang yang hidup di perbatasan Kalimantan, di Sabang, di Rote, di Merauke, di Jaya Wijaya, di Sangire Talaud, di Maluku! bagi saya, orang Indonesia sejati itu orang-orang eksodus asal Timor Timur yang hidup di pengungsian Atambua! bagi saya, orang Indonesia sejati itu orang-orang yang mengadu nasib ke negeri asing tapi masih mempertahankan jati dirinya, mengadu nasib ke negeri asing lalu suka rela kembali membangun bangsanya. mereka yang dalam diamnya memendam harapan akan masa depan Indonesia yang lebih baik. mereka yang dalam kesederhanaannya menjaga nasionalisme tanpa pernah meminta disebut nasionalis! orang-orang trendi yang tak pernah keluar dari nikmatnya produk-produk trendi, lalu mengutarakan kenasionalisannya lewat twitter dan facebook -karya trendi bangsa Amerika - bagi saya, maaf, kurang nasionalis. -

dunia yang cepat bergerak ini membuat saya benar-benar pusing dan secara sadar atau tidak sadar telah membuat hati kita banal. nasionalisme menjadi banal dan menjadi cepat basi. dulu saya percaya bahwa vox populi vox Dei. tapi kalau sekarang, ooh, kepercayaan saya ada di titik nadir. saya yakin Tuhan tidak akan buat dunia sebasi ini. tapi jika memang Tuhan ingin membuat dunia sebasi ini, saya hanya bisa berdoa, Tuhan, berikanlah kami petunjuk mana yang benar dan mana yang salah. Tuhan, berikanlah kami kekuatan untuk tetap ada pada jalur yang benar heheh Zuhdi sekali :)

Selamat Pagi! 15 Oktober 2012, 6:24 AM Semalam saya melakukan diskusi lumayan berat dengan salah seorang teman, sebut saja X (ngiung-ngiung, buat yang ngerasa ngertilah yah kenapa ga usah sebut nama #penting). Kita ngobrolin doa, takdir, dan Tuhan. Saya mau cerita dulu, saya suka suka banget dengan sebuat kalimat penuh pasrah dari seorang Nabi kita bernama Zakaria, isinya begini, Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu ya Tuhanku.. Kalau bagi saya, doa ini terlampau bagus sekali (tentu saja karena yang berdoa itu adalah Nabi), di sini posisinya Zakaria sedang mengadu, meratap betapa dia galau karena belum memiliki keturunan untuk meneruskan tugasnya. Saat itu umur Zakaria (kalau tidak salah) hampir menyentuh 100 tahun #cmiiw. Berarti selama 100 tahun sebelumnya, dia sudah mengalami banyak hal dalam hidupnya, sudah banyak yang dilalui, tapi tak pernah sedikitpun dia kecewa atas doanya, kepada Tuhannya. Di sini

tersirat juga rasa syukur yang begitu besar, saya memaknainya rasa syukur tentang apapun yang telah dia lalui atas apapun yang terjadi pada seratus tahun ke belakang. Dan jika diserap lagi maknanya (menurut saya, semoga Allah mengampuni saya), ada begitu besar kepercayaannya kepada Tuhan penciptaannya. Sungguh mulia Zakaria AS, nabi kita semua. Hidup ini dimulai dengan kata percaya. Muhammad Saw itu memiliki julukkan yang terpercaya. Dan Khadijah adalah orang yang paling mempercayai beliau, untuk mempercayai tentang Tuhan yang diceritakan Nabi Saw. Semuanya dimulai dengan kata percaya. Lalu kita ikut mempercaya Muhammad atas pesan-pesan dari Tuhan yang dibawanya. Menurut hadits Arbain, tentang Islam, Iman, dan Ihsan. Kalau dari pandangan saya Islam (dengan rukun Islamnya) dan Iman (dengan rukun imannya), adalah saling melengkapi. Islam artinya kita melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh Tuhan, syahadat, shalat, puasa, bayar zakat, dan naik haji bila mampu, tapi takkan lengkap jika kita tidak beriman kepada Tuhan, Malaikat-malaikatNya, RasulNya, KitabNya, Hari AkhirNya, dan ketentuan-ketentuan tetap (Qada dan Qadar-Nya). Kita takkan bisa berIslam saja, tanpa beriman, dan takkan sempurna jika berIman tanpa berIslam. Kemudian tahap ketaatan paling tinggi adalah Ihsan, percaya bahwa dia melihat segala yang kita lakukan. Semuanya dilandasi dengan rasa percaya. Zakaria percaya kepada Tuhan akan dikabulkan doaNya. Dan Muhammad butuh kepercayaan umat agar mampu berdakwah dengan baik, dan dengan baiknya pula Tuhan mengirimkan Khadijah padanya. Dan semua ini karena sebuah hal bernama takdir. Takdir yang telah ditetapkan Tuhan saat kita masih berbentuk nutfah di dalam rahim, yang kemudian Tuhan dengan sigapnya menuliskan di Lauhul Mahfuz pada data-data kita. Luar biasa. Bukan Tuhan tentunya jika tak mampu mengatur segala hal dengan sedemikian sempurna. Dari sini, saya mau menarik benang merah dari tulisan saya. Zakaria dalam doanya, ada kepasrahan, ada rasa syukur yang begitu besar, ada rasa kepercayaan akan takdir-takdir selanjutnya dan juga sebelumnya. Dan Zakaria AS, sukses membuat saya berfikir panjang saat membaca doa yang dia panjatkan. Percaya akan takdir yang telah dibuat

Tuhan untuk kita semua. Einstein bilang, Tuhan tidak sedang bermain dadu dalam menciptakan dunia ini, termasuk segala isinya. Tentu mereka yang mengaku muslim harus percaya, bahwa takdir utama kita diutus untuk hidup di dunia sesuai dengan perintahnya yaitu, Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu. Sesederhana itu. Dia tidak menciptakan manusia, kecuali untuk menyembahNya, yah tentunya pengertian ayat ini akan berlanjut pada penjelasan yang panjang, dan tidak akan saya tuliskan di sini. Sungguh, saya menuliskan ini karena terlalu lama bergemuruh di dalam otak dan harus segera dilahirkan. Kepada Allah saya mohon ampun. Jika ada kritik sila di sampaikan. Wallahu alam bish shawabi ~

Surat Terbuka untuk M. Nuh Saudaraku, Muhammad Nuh, tolong klarifikasi berita ini REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA Hingga saat ini, siswi SMP di Depok yang menjadi korban pemerkosaan, SA (14 tahun) belum kembali bersekolah. Ia masih trauma terhadap perlakuan sekolahnya, SMP Yayasan Budi Utomo yang melakukan pengusiran terhadapnya beberapa waktu lalu. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), M Nuh mengaku belum mengetahui secara detail mengenai kasus tersebut. Ia juga belum bertemu secara langsung dengan SA. Namun ia mengatakan, kemungkinan SA adalah siswi nakal dan hanya mengaku diperkosa. Akan tetapi dalam kondisi tertentu, bisa saja karena kenakalannya maka sekolah mengembalikannya ke orangtuanya. Soalnya ada yang sengaja, kadang-kadang ada yang sama-sama senang, ngakunya diperkosa, kata Mendikbud, M Nuh yang ditemui usai jumpa pers di kantornya, Jakarta, Kamis (11/10).

Nuh menambahkan hal itu sulit untuk dibuktikan apakan benar SA merupakan korban pemerkosaan atau bukan. Akan tetapi kalau memang SA menjadi korban, maka harus dilindungi, traumatiknya juga harus dipulihkan. Kalau memang jadi korban, harus dilindungi, kasihan dia, sudah kena musibah sekolahnya juga tidak selesai, imbuhnya. Jika benar itu kalimat anda, artinya wartawannya tidak salah kutip, saya akan berusaha untuk memaafkan anda, betapapun beratnya. Tapi sebelumnya, saudara Nuh, coba anda pikirkan beberapa hal berikut ini: Yang pertama, saudara Nuh, tengoklah data kekerasan terhadap perempuan di Indonesia: Banyak sekali fakta membuktikan bahwa anak-anak sering menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual. Data dari Biro Pusat Statistik tahun 2006 menyebutkan bahwa telah terjadi 99.377 kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah 19 tahun, 51.676 atau lebih dari 50 persennya dialami oleh anak berusia 9 tahun ke bawah. Pusat Krisis Terpadu (PKT) RSCM di Jakarta pernah mengeluarkan data yang menunjukkan bahwa dari bulan Juni 2000 hingga Juni 2005 telah terjadi 1200 kasus kekerasan seksual terhadap anak. Dari jumlah itu, 68 di antaranya dialami oleh anak laki-laki sementara sisanya oleh anak perempuan. Jadi, siapa bisa mengatakan bahwa anak laki-laki aman dari tindak kekerasan dan pelecehan seksual? Meski secara presentase jumlah korban anak laki-laki relatif lebih kecil dibanding anak perempuan, namun kemungkinan itu tetap, dan selalu, terbuka. Masih menurut data PKT RSCM, selama periode Januari hingga Mei 2008 terdapat 298 kasus kekerasan dan pelecehan yang korbannya adalah perempuan dan anak-anak. Dari jumlah seluruh kasus tersebut, 15 di antaranya adalah kasus perkosaan pada perempuan dewasa, 75 kasus perkosaan terhadap anak perempuan, 42 kasus kekerasan seksual lain terhadap anak perempuan, 21 kasus kekerasan seksual yang mengenai anak laki-laki, 113 kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), 15 kasus penderaan terhadap anak, dan 15 kasus lain di luar kategori yang sudah disebutkan. Jika dihitung, maka rata-rata dalam sehari terdapat dua anak yang menjadi korban kekerasan seksual.

Penting untuk dicatat, saudaraku, bahwa kasus yang sedemikian banyaknya itu pun masih merupakan pucuk gunung es dari besaran masalah yang sesungguhnya. Kasus yang terungkap atau dilaporkan jauh lebih kecil dari pada insiden sesungguhnya. Alasan tidak melaporkan kasus kekerasan seksual yang dialami anak biasanya karena takut anak mengalami trauma yang lebih besar lagi sementara orang tua dan keluarga tidak tahu bagaimana membantu anak keluar dari trauma tersebut. Persepsi keluarga bahwa ini adalah aib yang harus disembunyikan, serta ketakutan berurusan dengan pihak berwajib juga menghalangi penanganan memadai yang sesungguhnya sangat dibutuhkan korban. Tidak berbuat apa-apa ketika mengetahui sebuah pelecehan atau kekerasan seksual terjadi adalah tindakah salah. Diam bisa diartikan sebagai tindakan persetujuan. Padahal, seperti dikatakan oleh seorang ahli, Stephen J. Sossetti, dampak pelecehan seksual pada anak adalah membunuh jiwa. Anak-anak berhak tumbuh dalam situasi yang aman dan sehat. Jika masyarakatbukan hanya konselor dan terapispeka terhadap gejala yang muncul dan merespon secara tepat dan cepat, tidak hanya pelecehan akan berhenti terhadap satu anak, tapi juga anak-anak lain akan terlindungi. Fakta kedua mengenai perkosaan, saudaraku Nuh, adalah bahwa pelakunya adalah orang dekat yang dikenal baik oleh korban. Termasuk pacar. Data nasional memang tidak ditemukan (memangnya negara peduli?). Tetapi dua organisasi non-pemerintah yang bekerja menangani kasus kekerasan terhadap perempuan menunjukkan angkanya lumayan menyentak:

Cahaya Perempuan Women Crises Center, Bengkulu, menyebutkan sepanjang semester 2 tahun 2011 saja mereka telah menangani 56 kasus kekerasan terhadap perempuan dengan rincian: Jika dilihat dari tabel di atas kasus kekerasan berbasis gender dan seksualitas yang paling banyak diterima yaitu kekerasan dalam pacaran 33,92 % (19 kasus) dari 56 kasus, kekerasan terhadap istri 32, 14% (18 kasus), kekerasan terhadap anak 10,71% (6 kasus), Perkosaan 8,92% (5 kasus), incest 7,14% (4 kasus), traffiking 3,57% (2 kasus), percobaan perkosaan 1,78% (1 kasus), dan pencabulan 1,78% (1 kasus). Divisi Pendampingan Rifka Annisa, Yogyakarta, sepanjang 2011 (Januari Desember) 2011 menerima sebanyak 347kasus baru dengan perincian 219 kasus kekerasan terhadap istri; 40 kasus kekerasan dalam pacaran; 35 kasus pelecehan seksual; 43 kasus perkosaan; 9 kasus kekerasan dalam keluarga (artinya melibatkan anak sebagai korban); dan 1 kasus trafikking Itu baru dua lembaga. Sebagai menteri, dirimu pasti memiliki akses lebih baik untuk mengetahui data-data lain dari sumber-sumber lain. Cobalah sendiri.

Maksud saya, Muhammad Nuh, sebagai orang yang punya kekuasaan menentukan merah-hitamnya kualitas pendidikan di negeri yang besar ini, cobalah berhati-hati mengeluarkan pendapat. Sangat mungkin, atau malah saya yakin, pendapat anda mengenai kasus yang menimpa SA ini tak hanya menyakiti SA dan keluarganya, tapi bahkan ratusan, atau ribuan keluarga perempuan lain yang anaknya, saudara, kerabat perempuannya, atau bahkan ibu mereka, menjadi korban kekerasan seksual. Sebagai bapak dan kepala keluarga, apalagi dengan kecerdasan yang membuat anda dipercaya menduduki posisi nomor satu untuk urusan pendidikan, apa sulitnya membayangkan dampak dari pendapat anda itu, tentu. Ah, sebenarnya sih bukan kecerdasan yang diperlukan. Tapi kepekaan. Kedua, mengutip pendapat Guru Besar Psikologi Universitas Atmajaya, Prof. Irwanto, PhD, ada empat jenis hak perlindungan yang harus didapatkan oleh anak, salah satunya adalah hak untuk mendapatkan perlindungan seksual. Yang lainnya adalah perlindungan fisik, emosional dan perlindungan dari penelantaran. Untuk itu, yang penting diketahui oleh orangtua adalah mengenali gejala yang dialami oleh anak yang mengalami pelecehan seksual, yang tidak selalu jelas. Kepekaan orangtua menjadi langkah awal untuk mencegah kejahatan atau menyembuhkan trauma pada korban. Pertanyaan saya untukmu, saudara Nuh yang terpelajar, adakah yang sudah dunia pendidikan kita berikan untuk melindungi anak-anak kita dari segala bentuk pelecehan seksual? Saya kira anda setuju bahwa kejadian yang menimpa SA bukanlah tanggung jawab pribadinya. Ketika anda dan kita semua mengarahkan telunjuk ke hidung SA, maka jangan lupa ada tiga jari lain yang mengarah ke diri kita sendiri. Pelecehan seksual terhadap anak terus-menerus terjadi karena anak tidak pernah mendapatkan informasi yang benar dan adekuat tentang cara melindungi diri dari pelecehan seksual. Anak-anak juga jarang diajar mengenai bagian-bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh oleh sembarang orang dewasa selain ibunya. Anak juga tidak tahu bahwa tindakan orang dewasa yang menyentuh bagian pribadinya, atau bahkan memperkosanya, adalah tindakan yang salah. Tidak banyak anak yang tahu bagaimana membedakan antara sentuhan aman dan tidak aman, apalagi mempertahankan diri jika ia mengalami perlakuan yang tak semestinya dari orang lain. Di sisi lain, media dan lingkungan sosial anak juga mempengaruhi kematangan dan keingintahuan anak-anak dewasa ini. Mereka sangat mudah mengakses televisi, internet, dan materi-materi informasi yang tak bertanggungjawab, untuk mendapatkan pengetahuan mengenai seks, yang tidak mereka dapatkan jawabannya dari orang tua.

Data dan fakta sebagaimana dipaparkan di atas menunjukkan perlunya pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas benar-benar dibutuhkan dan seyogianya diperkenalkan sejak usia dini. Dalam jangka panjang, pendidikan seks yang benar dan adekuat dan ditanamkan sejak dini akan mampu mencegah terjadinya pelecehan seksual, kekerasan berbasis gender, dan kehamilan yang tak dikehendaki (KTD). Program ini juga sejalan dengan UU no 23/2002 mengenai Perlindungan Hak Anak, yang menegaskan bahwa setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi sesuai dengan martabat mereka sebagai manusia dan harus dilindungi dari kekerasan dan diskriminasi. Untuk mendapatkan kehidupan seksual yang sehat dan bertanggungjawab pada masa remaja dan dewasa, seseorang harus belajar mengenai beberapa hal. Pertama, sebagai bekal, ia harus menguasai informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas. Kedua, ia harus memiliki sikap yang benar mengenai berbagai aspek yang tercakup dalam kesehatan reproduksi dan seksualitas, danketiga ia harus menguasai beberapa keterampilan hidup yang memadai. Beberapa informasi, sikap dasar, serta beberapa jenis keterampilan hidup tersebut sudah bisa didapatkan sejak usia dini. Misalnya, informasi mengenai tubuh, persamaan dan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dan norma-norma sosial dan budaya di lingkungan tempat tinggalnya. Sedangkan di antara keterampilan dasar yang dibutuhkan untuk membangun kehidupan seksual yang sehat dan bertanggungjawab adalah keterampilan komunikasi, keterampilan menolak, keterampilan mendapatkan pertolongan, mencari informasi, membangun persahabatan dan hubungan interpersonal yang sehat, dan keterampilan mengelola emosi. Selama ini pemerintah, sadar atau tidak, sudah melakukan pembiaran terhadap kekerasan yang dialami banyak perempuan dan anak-anak dengan mengingkari hak mereka mendapatkan keterampilan hidup yang akan melindungi mereka: mengajarkan mereka berkata tidak, memiliki self-esteem yang tinggi hingga tak usah terbutakan oleh apa yang mereka duga sebagai cinta, dan dengan demikian melindungi cita-cita dan masa depan mereka dari kekejaman mereka yang tak berperikemanusiaan dan tak bermoral. Saya benci, dan teramat sakit, harus mengingatkanmu pada kasus yang menimpa Izzun bulan April lalu, yang membuatnya kehilangan hidupnya di tangan orang yang ia percaya mencintainya. Izzun, wahai Nuh yang dikaruniai kecerdasan tinggi, bernama

lengkap Izzun Nahdliyah, keagungan perempuan nahdliyyin, perempuan pengikut NU. Tak cukupkah kematiannya memberikan pelajaran kepadamu, kepada kita semua, mengenai bagaimana seharusnya pendidikan memberikan perlindungan terhadap anakanak kita semua? Ya, semuanya. Termasuk anak-anakmu, saudara-saudara, dan kerabat perempuan di sekitarmu. Saya juga amat enggan, dan perih, kalau harus mengingatkanmu tentang nasib Putri dari Langsa, yang mengakhiri hidupnya karena dituduh menjadi anak perempuan penjaja seks. Tidak cukupkah dua kematian itu untuk menahan lidah kita dari menyakiti mereka yang harusnya kita lindungi dengan cara yang kita bisa? Ketiga anak ini, almarhumah Izzun, almarhumah Putri, dan kini SA, termasuk di antaranya. Berapa kematian lagi dibutuhkan untuk membuat kita semua mulai berpikir mengenai pentingnya perlindungan untuk anak-anak kita? Tak hanya anak-anak perempuan, tapi juga anak-anak lelaki? Terakhir, saudaraku seiman, Muhammad Nuh, mari, jangan nistakan dirimu dengan mematikan nuranimu melalui pernyataan yang dangkal dan asal, di saat kau sebenarnya memiliki kesempatan melakukan hal-hal yang lebih mulia dan terpuji Nurul Agustina, Ibu seorang putri. sesungguhnya saya juga merasa ikut tergugat dengan tulisan ini.

Lukas Aryo & Nurhayati 365karakter: 72 tahun umur mereka. Aku cuma ingin kita jadi tua sama-sama. Tapi kita sudah tua kan? Iya, dan akan jadi lebih tua dan terus sama-sama.

Terus bagaimana kalau aku dipanggil Tuhan duluan? Ya kita tetap sama-sama. Aku dengan kenangan tentang kamu Seperti apa? Banyak. Kalau aku sebut satu-satu, kita keburu mati sama-sama Hahahaha! Contohnya apa? Satu saja. Apa yah mmm masakan sayur nangka kamu Cuma itu? Apa spesialnya? Enak! Kenyangnya beda! Makan sayur nangka buatan kamu hangat -hangat seperti dipeluk kamu erat. Nanti malam aku masakin kamu sayur nangka yah. Lima puluh dua tahun kamu makan sayur nangka. Lima puluh dua tahun yah kita nikah. Lima puluh dua tahun aku kalau bangun pagi, lihatnya muka kamu. Lima puluh dua tahun aku bertahan kentut-kentutmu yang sembarangan. Lima puluh dua tahun aku tidur berteman bau minyak kayu putihmu itu Lima puluh dua tahun dan anak-anak sudah punya anak-anak. Lima puluh dua tahun dan rumah kita yang itu dan begitu saja Aku benci perubahan, apalagi kalau sudah nyaman. Lima puluh dua tahun dan perutku yang makin buncit. :Lima puluh dua tahun dan marahku yang pake ngambek sama manyun.

Lima puluh dua tahun dan apa lagi yah Lima puluh dua tahun dan kita tetap nyambung ngobrol, bahkan hal kayak gini. ak ini terlalu unyu :> Harapan #3 Dalam hidup gue. Cowok-cowok itu cuman punya dua tempat, yang gue anggep kayak saudara sendiri atau resmi jadi harapan dalam hidup. Nah sejauh ini semua temen cowok gue masuk dalam kolom temen-cowok-banget-kayak-saudarasendiri. Aku mengoceh panjang lebar sambil terus memandangi layarnotebook bermain Plants vs Zombies dengan serius. Kalo Agaz gimana ceritanya tuh? Tanya Tira tiba-tiba Aku menghentikan permainan dengan memilih tombol pause, dan menoleh ke Tira yang asik membolak-balik majalah Annisa dengan cover gadis-gadis hijaber cantik. Aku menarik nafas panjang. Sudah lama tidak mendengar nama itu. Dia kesalahan. Jawabku serius, Tira kemudian memandangiku juga dengan serius merasa bersalah mungkin, Kesalahan dalam penentuan algoritmik diharusnya masuk dalam kolom hati bagian apa. Aku tertawa, Tira juga. Algoritmik gimana? Tira bertanya dengan serius sambil menggarukkan kepala. Begini, dalam sistem komputerisasi, yang berperan sebagai otak utama akan mengatur informasi-informasi yang meneruskan pesan-pesan sehingga terjadilah suatu perintah. Dalam hal Agaz, otak menerima asumsi-asumsi terlalu banyak -kita sebut informasi- kemudian dia mengirimkan pesan ke hati, bahwa this is the right man. Aku kembali mengambil nafas panjang, Tapi ternyata informasi yang gue dapatkan -dalam hal ini adalah asumsi yang gue buat- ternyata salah. Cinta ga pernah salah kali, Lan. Tira tertawa, Kalo salah tandanya itu bukan cinta. Tira masih asik tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala. Aku hanya diam, Tira benar cinta tidak pernah salah, cinta itu proses tak mungkin hanya satu pihak saja bekerja, itu bukan cinta namanya. Tuhan kepada umat-Nya, itu cinta. Ibu kepada anaknya, itu juga

cinta. Karena itu yang bekerja dua pihak, bukan hanya satu. Aku tersenyum, ada secuil lega di dalam hati tak perlu ada yang disesali ternyata. Ah Tiraaaa. Aku bangun dari dudukan meja notebook kemudian memeluk erat Tira, yang dipeluk kebingungan lalu membalas erat pelukkanku. Ini juga yang namanya cinta. Seperti ini! Lanjutan Harapan #2 1 MONTH AGO Harapan #2 14

Banu mendatangiku dan Rima dengan jaket kulit, rambut gondrong, dan motor Tiger miliknya. Sungguh, Banu adalah salah satu sahabatku yang paling tampan yang pernah aku kenal, tapi sayang sekali dia adalah sahabat baikku, jadi tak mungkin kupacari. Selain tampan, Banu juga adalah lelaki yang baik hati dan juga sangat melankolis, hahaha. Ntah sudah berapa banyak Banu menolongku, mulai dari menemani ke rumah sakit, menemani makan pagi, bahkan menjadi tempat mengomel yang paling baik disaat aku sedang mengalami fasa-peluruhan-sel-telur. Banu sangat tergila-gila dengan Soekarno, ntah sudah berapa kali dia menghabiskan hidupnya dengan membaca Di Bawah Bendera Revolusi dan itu sudah menjadi standar biasa kalau ingin memulai obrolan dengannya. Aku? Aku sangat setia dengan lelaki dibalik layar, pendiam dan tenang, namanya Bung Hatta. Walau sering berselisih paham, kami memang seperti pasangan dwitunggal, diam-diam (mungkin) saling mengagumi walau seringkali tak sepaham. Bagi Banu, aksi-seperti demo adalah hal paling utama, dia orator paling unggul di kampus, gagal menjadi Ketua Senat, tak membuat orang-orang berpaling dari kharismanya. Sedangkan bagiku, aksi tak terlalu penting. Kita tak perlu terus-terusan mengkritik pemerintah tanpa solusi yang jelas, bagiku demo tak pernah memberikan solusi yang nyata. Tapi kami saling mengerti, bahwa hidup akan selalu melengkapi. Banu pernah punya pacar, tapi kemudian putus karena katanya Banu terlalu sibuk dengan segala kegiatannya. Setelah putus dia jadi sedikit galau, ehem, tidak sedikit, dia sempat membuat puisi, lagu, dan hampir setiap hari aku menampung curhatan cintanya. Lalu, dia sempat kembali jatuh hati seorang cewek lagi. Tapi mengalami stagnansi di hubungannya, jadilah aku sebagai cheerleader untuknya, menyemangati agar segera move on.

See! Aku dan Banu are really truly bestfriend! Kami sama dan melengkapi, tak ditakdirkan untuk sehidup-semati. Banu! Ujarku sambai melambaikan tangan. Banu kemudian berjalan ke arahku sambil membawa helmnya. Eh kita ga pergi pake motor kan? Kan gue pake rok, kan gue susah duduk gaya cewek klo naik motor itu. Duh, ribet banget yah lo, Lan. Yah udah kita naik angkot ajah. Aku menyengir senang. lanjutan Harapan Bersabar Terimakasih sebelumnya kepada saudari saya @alfisyahriyani yang sudah berbagi kisah ini. Pada suatu hari Rasulullah saw dan Abu Bakar, sedang berjalan di sekitar suku Badui. Abu Bakar -ntah mengapa- dia dihina oleh orang-orang Badui Arab ini. Pada saat pertama kali dihina, Abu Bakar hanya diam saja dan terus berjalan tanpa memperdulikan omongan orang-orang tersebut, lalu Rasulullah saw melihatnya sambil tersenyum. Karena diabaikan, maka orang-orang Badui tersebut makin menghina Abu Bakar dan semakin kasar. Tapi Abu Bakar tetap tidak mempedulikan, dia terus berjalan bersama Rasulullah saw, dan Rasulullah makin lebar senyumnya. Dan karena diabaikan, maka orang-orang Badui tersebut, makin kasar pula menghina Abu Bakar untuk ketiga kalinya. Tapi kali ini, Abu Bakar tidak bisa bersabar lagi, dia marah kepada orang-orang Badui tersebut. Saat dia marah, Rasulullah meninggalkannya tanpa salam. Maka, Abu Bakarpun sadar, dan segera mengejar Rasulullah. Kemudian dia bertanya, Ya Rasulullah, mengapa anda pergi tanpa mengucapkan salam? Kemudian Rasulullah menjawab, Sewaktu kau diejek oleh orang Badui pertama kali dan kamu bersabar, malaikat melewati kita sambil tersenyum, maka karena itu aku tersenyum. Kedua kalinya kau dihina, dan masih bersabar, malaikat kembali lewat dengan tersenyum maka akupun tersenyum semakin lebar. Namun, ketiga kalinya kau dihina dan kau marah,

disampingmu datanglah setan. Karena itu aku pergi meninggalkanmu tanpa mengucapkan salam. (Dari, Ibn Ajlan dari Said Almagburi dari Abuhurairah r.a.) Sungguh bersabar itu, tidak pernah ada batasnya. Mendengar kisah Abu Bakar ini, saya sungguh malu, karena sering kali lalai untuk bersabar dan lebih mengikuti hawa nafsu setan dalam diri untuk memuaskan amarah saya. Padahal, sesungguhnya kesabaran itu tanpa batas.

hujan, senja, dan doa dalam rindu Kalau rindu itu berbentuk hujan. Mungkin di tempatmu sekarang, hujan akan mengalir deras, karena ia mengirimkan pesan-pesan rindu tiada henti. Kalau rindu berbentuk senja. Kujamin malam takkan datang, dan matahari akan tetap bertahan, menyampaikan rindu dalam semburat cahayanya. Tapi walau rindu itu seindah senja dengan semburat cahayanya atau hujan dengan bau romantisnya. Aku tetap akan memilih rindu dalam bentuk doa. Karena pesan akan selalu lebih indah jika tersampaikan langsung melalui-Nya. Langsung menyelinap ke dalam relung hatimu yang terdalam, mengingatkan bahwa aku ada

Samsoe Bassaroedin dan Yayah Inayah: Merintis Kasih di Penghujung Senja Question: Akhir-akhir ini, banyak anak muda yang galau dalam masalah jodoh. Ada saran untuk menyembuhkan kegalauan tersebut? Ibu Yayah: Pernah ada yang bertanya begini, Memohon udah. Ikhtiar udah. Kok, belum diberi juga? Teteh, nggak marah sama Allah? Jawab saya, mengapa harus marah terhadap takdir Allah? Mengapa harus marah kepada apa yang Allah timpakan kepada kita? Apapun yang Allah takdirkan, maka itu yang terbaik bagi kita. Dalam rukun iman, salah satunya kita wajib mengimani takdir dari Allah SWT. Buruk menurut kita, belum tentu buruk menurut Allah kan, ya?

Apakah belum menikah atau lambat menikah adalah takdir buruk? Saya tidak mengartikan itu. Jadi, saya tidak suka dengan pertanyaan Mengapa belum menikah?. Lho, itu hak prerogatif Allah. Mengapa harus dipertanyakan? Jadi, nggak usah galau anak muda.. (tertawa). Allah telah menakdirkan jodoh kita sejak kita berusia 40 hari. Kalau memang kita beriman kepada Allah mengapa harus galau. Dan tentunya, ada usaha yang ditempuh secara syari. Insya Allah, rezeki Allah pun baik. Kalau misalnya kita lihat ada yang rumah tangganya kacau beliau, bukan berarti salah mengawalinya. Namun hal tersebut adalah ujian berikutnya. Memangnya setelah nikah tidak ada ujian lagi? Untuk mencapai derajat yang tinggi, pasti di situ ada ujian, kan? This link, is really recommended to open! Marry Me! Beberapa minggu yang lalu, waktu saya ngobrol panjang dengan Kak Kaca, banyak hal yang menyadarkan saya tentang hal bernama menikah. Pada saat saya berumur 19 tahun, itu sekitar 4 tahun yang lalu (astaga tua banget gue cuy!), saya sebenarnya bercita-cita menikah di umur 20 tahun, dan itu tanpa persiapan dan juga tanpa usaha untuk mendapatkan jodoh yang tepat. Saya pengen nikah, biar ada temen halal yang bisa diajak kemana saja dan kapan saja, tanpa perlu risih. Dan ternyata, saya belum berhasil mewujudkan mimpi saya yang waktu itu. Setahun yang lalu, saya bercita-cita kembali, harus banget nikah tahun 2012. Alasannya? Saya mau punya temen hidup satu visi-dan-misi yang mampu menemani saya untuk mencapai mimpi-mimpi saya, dan tentunya menjaga segala yang telah saya miliki saat ini, termasuk stabilitas iman. Suami itu menurut saya, adalah orang yang paling tepat (setelah ibu) yang mampu menjaga stabilitas iman yang sering naik-turun. Apalagi, kehidupan pasca-kuliah itu, mengerikan (kata orang-orang), yang pasti kita kehilangan teman-teman dekat yang dulu selalu menjaga kita dengan aman. Belum lagi, bagi saya, pasca-kuliah itu, pencarian jati diri yang sesungguhnya dimulai, idealisme-idealisme masa menjadi mahasiswa dulu mulai diuji kesungguhannya, istiqomah atau tidak diri kita ini atas apa yang sudah dibangun dulu. And, for sure, we need life-long-partner to remind us, walking beside us, together and forever.

Setelah mengobrol banyak dengan beberapa orang tentang menikah. Saya menarik kesimpulan bagi saya sendiri, menikah itu adalah keberuntungan, dimana kesiapan bertemu dengan kesempatan, dan keberuntungan itu yang kita buat sendiri.Menikah itu bukan lagi jadi sekedar kebutuhan, dimana kita butuh life-long-partnerhanya sekedar untuk mengingatkan kita bangun pagi, ngingetin tahajud, shalat, puasa, ngaji, dan berlaku baik-baik, menikah tidak sesederhana itu. Kitalah, diri kita sendiri yang seharusnya bisa konsisten untuk melakukan itu semua. Saya tidak ingin menikah untuk berubah jadi lebih baik, dan saya juga nggak kepingin memperbaiki diri agar bisa menikah. Saya mau jadi manusia yang baik -sesuai dengan keinginan Tuhan saya- yah untuk diri saya sendiri, bukan untuk siapa-siapa dan bukan untuk apa-apa. Tahun lalu saya merasa bersalah sekali dengan diri saya, dan sulit sekali memaafkannya. Dan (bodohnya) saya pikir dengan menikah bisa menyelesaikan masalah saya. Karena, saya tidak akan galau lagi. Karena saya punya temen ngobrol sepanjang malam. Karena saya akan mencari orang yang juga gemar membaca buku, biar saya punya teman diskusi sepanjang waktu. Tapi bukan itu, point-nya ternyata. Kak Kaca mengingatkan saya, dia bilang, Kalau kamu belum selesai dengan dirimu sendiri. Bagaimana mungkin menambahkan orang lain, Dek.Thats the point. Dan saya tersadar, benar-benar tersadar. Saya harus selesai urusan dengan diri saya sendiri. Saya tidak boleh tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Menikah juga buka perlombaan. Waktu saya tahu sahabat baik saya menikah tahun lalu, ada perasaan gue juga mauuu tahun ini. Tahun ini bahkan, orang-orang terdekat saya malah mulai menikah satu-per-satu. Takut ditinggal? Pasti! Mungkin kalau di arena balap, kita boleh saling mendahului. Dan menikah tidak terjadi di arena balapan. Ini masalah nikah! Masalah menghabiskan sisa 2/3 umur kita, dan jangan sampai gelap mata karena liat orang lain bisa duluan, lalu kamu jadi tergesa-gesa dan ingin mendahului. Karena setiap orang, sudah punya takdirnya masing-masing, and the importan things that you must remember is, youll have your own fate. Your prince charming, will come at the right time and with right reason. Saya selalu berangan-angan, life-long-partner saya ini seperti apa sih nantinya. Setiap perempuan (begitu juga laki-laki) pasti punya checklists-nya sendiri. Ada yang ingin ganteng, tinggi, jago basket (anak SMA banget ini, haha), mantan aktivis kampus, atau hobi baca buku. Tapi, kamu yakin, orang-orang yang sesuai dengan checklist ini adalah

yang tepat bagi kamu? Kadang mereka yang dikirimkan oleh Tuhan -dan berbeda jauh dengan checklists milik kamu ini- adalah yang paling tepat kamu. God always knows what you need, guys. Tapi walau, Tuhan Maha Baik dan Maha Tahu Segalanya atas kebutuhan kita. Saya percaya Dia tidak egois, Dia adalah tempat curahan terbaik. Dia tahu, tapi Dia menunggu. Dia tahu yang terbaik buat kita, tapi Dia menunggu kita untuk memohon agar makin meyakinkan Dia bahwa kita percaya dengan pilihan terbaiknya. Dan doa akan selalu jadi kuncinya. Saya ga tau, prince charming saya ini datang kapan. Hari ini, besok, bulan depan, tahun depan, atau tiga tahun lagi. Kayak saya bilang di atas, menikah itu salah satu bentuk keberuntungan, dia datang saat kesiapan bertemu dengan kesempatan. Jadi saya cuman butuh siap-siap (dan tidak berhenti berdoa), jika nanti kalau kesempatannya udah datang, i can face it! Getting married isnt going to solve our inabilities to wake up for Fajr or get up for qiyam. We need to develop our own selves without expecting marriage to somehow magically change our lives. Marriage can be a great tool of self-improvement and can help us change for the best, with Allahs will. Marriage is amongst the greatest blessings that Allah (swt) can bestow on a person; and the creation of a family, and taking care of that family, is amongst the greatest acts of worship. But if we are not personally working on ourselves now, how can we expect that it will be easier with the additional baggage of another individual who is also imperfect? -Maryam Amirebrahimi Terimakasih yang merelakan waktunya untuk membaca tulisan ini, selamat pagi dan semoga kebaikkan selalu bersama dengan kita! Aamiin!

Harapan Lo sadar ga sih kalo lo itu PHP, Lan. Aku lalu berhenti mengunyah siomaynya sambil mendelikkan mata ke arah Rima yang duduk di depanku. Hah? Pizza Hut Delivery service? Eh itu PHD yah? Aku tertawa keras, karena memang tidak tahu akronim dari PHP.

Yang ditanya malah mendenguskan hidungnya, mencubit-cubit lenganku. Itu, pemberi harapan palsu, masak lo ga tau sih. Kagak gaul banget nih anak sekarang. Jawab Rima sambil menyeruput es jeruknya dalam-dalam. Aku memutar-mutar bola mata sambil mengaduk-ngaduk siomay dengan kuah kacangnya. Kemudian menarik nafas panjang dan mencoba mencerna kalimat pemberi harapan palsu. Kok gue ga ngerasa gitu yah Malah kayaknya gue deh yang sering dikasih harapan palsu, kayak waktu itu gue janjian sama Andara, dia bilang jam 10, eh tau-taunya ngaret sampe jam 12 coba. Kali ini Rima yang menarik nafas panjang, tapi kali ini gelasnya yang berisi es jeruk sudah habis, jadi yang dia lakukan hanya memainkan es batu-es batu di dalamnya. Lo sadar ga, kalo gaya temenan lo sama cowok-cowok di sekitar lo itu, kayak lo temenan sama gue. Deket banget, ga ada bates. Aku buru-buru memotong kalimatnya, merasa tersindir betul dengan kalimatnya barusan. Seakan-akan, aku. Tapi gue ga pernah meluk-meluk mereka, atau bahkan nyium-nyium mereka kayak gue ke lo. Aku memotong kalimat Rima seenaknya, sambil memonyongkan mulut. Lagian gue udah anggep mereka kayak saudara cowok gue sendiri kok, lagian cowokkan paling logic orangnya. Lagian mereka kan, ga kayak kita yang lebih sering pake perasaan buat apa-apa. Lanjutku sambil memandang jauh ke depan. Iyah perasaan. Kita, perempuan, lebih senang menggunakan perasaan dibandingkan logika saat jatuh cinta. Semuanya kita jadikan asumsi, setiap tindakan seorang laki-laki yang (mungkin) kita sukai, akan selalu diiringi dengan hipotesis yang terbentuk dalam otak kita, otak perempuan. Hingga pada akhirnya, asumsi akan makin senang menggeliat dan tumbuh jika dibiarkan, padahal jika asumsi itu pada akhirnya salah, akan ada bagian di dalam tubuh yang terbunuh. Dia bernama hati. Karena itu, aku lebih memilih untuk mematikan segala asumsi-asumsi yang seringkali muncul di dalam otakku, daripada dia harus terluka karena kecewa.

Ah elo tuh-kan. Kebanyakan gaul sama cowok, sampe ga bisa ngbedain lagi mana yang suka sama lo, mana yang ngga, iyahkan? Eh kip, es jeruk satu lagi dong?! Rima mengangkat gelasnya sebagai tanda minta diisi kembali ke Akip, penjaga warung kopi yang hanya mengacungkan jempolnya sebagai tanda yoi. Emang kalo cowok suka sama kita gimana sih? Kan gue maunya langsung dilamar, Ya. Lo tahu sendiri kan Jawabku seenaknya sambil tertawa lepas. Ah elo sih, kelamaan jomblo. Dikasih kode melempem. Perempuan dan laki -laki itu beda dunia, Lan. Yah lo ngerasa mereka ga ada perasaan apapun kan sama lo, tapi apa iyah mereka juga sama kayak mereka. Mereka juga manusia kok, punya perasaan. Apa lo emang ga bisa milah-milah cara temenan antara cewek dengan cowok? Sial lo! Jawabku sambil mencubit lengannya dengan keras, yang dicubit hanya bisa mengaduh, Mereka nggak mungkinlah suka sama gue. Apa menariknya gue coba? Lagian gue sama mereka udah temenan lama juga Jawabku menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Beep. Beep. Hapeku bergetar ada pesan singkat masuk. Banu, sahabat baikku. Eh temenin gue nyari laptop case di BEC dong, lo dimana? Segera saja kubalas. Di Nyawang. Gue jemput kesana yak, Lan. Padahal gue belom jawab iyak, loh Ban. Eh, gue harus nemenin Banu nih. Kataku pada Rima. Kemana?

BEC, nemenin nyari laptop case doang. Rima tersenyum tipis, menaikkan kedua alis matanya, dan memutar-mutar ujung rambutnya yang panjang. Yakin nyari laptop case doang. Ya ampun, Rimmmm. Banu itu udah kayak kakak gue sendiri. Hati-hati yah, Lan Hati-hati apaan? Rima menarik nafas panjang, dan masih tetap tersenyum tipis penuh arti. Hati-hati sama hati, Lan.

Diari Bersama Hari ini saya ingin bercerita mengenai Diari. #eaa Saya yakin, dahulu kala di zaman SD atau SMP beberapa dari kita pasti pernah punya buku Diari. Kita tulisi ia dengan rajin, kita catat setiap kejadian yang berkesan (bahkan kita buat deskripsi-deskripsi mendetail mengenai gebetan baru kita MHAHAHA kelakuan ckckck). Meskipun, bak kata Deichanela dan Raditya Dika semangat menggebu-gebu untuk mengisi Diari itu biasanya luntur sebulan kemudian. Beberapa tahun berlalu. Kita masihlah individu yang doyan mencurah. Bedanya, kita tidak lagi bercerita dalam Diari. Fungsi buku tulis tebal nan cantik yang biasanya dilengkapi kunci+gembok tersebut mulai tergantikan dengan wujudnya Media Sosial: Notes Facebook, Status Twitter, Text Post Tumblr, juga Blog.

Curahan kita pun sudah tidak disembunyikan di bawah bantal :p Kita memilih membaginya kepada teman, komunitas, dan strangers orang-orang yang kebetulan lewat dan membaca. Rajin mengisi Diari, baik Diari Tradisional maupun Diari Modern, ternyata mempunyai manfaat tersendiri. We can keep track on what weve done and experienced. Misalnya ketika kita tiba-tiba iseng membuka lembar lama atau dalam kasus Diari Modernbrowsing-browsing notes dan tumblr post lama, kita menemukan pemikiran kita dahulu kala, puisi kacang, ide-ide yang terbengkalai, tulisan yang kacau balau namun punya potensi jika digarap ulang dan dipercantik, momen lawak tersesat di tempat baru atau momen haru berbuka puasa bareng di Mesjid. And since we let people to see what we write or what we think, as well as welcome them to comment and share, kita seperti punya Diari Bersama. Begitu bukan? :) Jadi, mari menulisi Diari. Hujan Kota ini. Kota yang begitu canggih, cermin majunya peradaban. Gedung-gedung dan manusia bagai berlomba membangun diri. Kota ini hari ini dibasahi hujan. Tangan kecil seorang anak perempuan digenggam ibunya lebih erat, mereka berjalan beriringan, berusaha menghindari genangan-genangan air di sepanjang jalan. Pria

berdasi berbagi tempat berteduh di bawah kanopi dengan seorang nenek tua berseragam Laundry & Cleaning. Seketika kota ini jadi lebih terjamah, lebih manusiawi. Aku dan payungku yang tua, menerobos jalanan dengan tenang. Kudengarkan lagu dari tanah air untuk menyamankan mood. Bagiku, balad cengeng yang dinyanyikan penyanyi lokal dengan penuh penghayatan adalah perangkat penyempurna romantisme hujan. Asal petir tak menyambar-nyambar liar, hujan itu manis. Aku dan sepatu kulitku yang separuh basah, sedikit lagi mencapai destinasi kami. Kupandangi saja sepasang benda coklat itu dengan miris; segera setelah matahari muncul kembali nanti, sepatuku harus dijemur, kalau tidak mau bau dan berjamur. Aku dan tas sandang abu-abuku akhirnya masuk juga ke bangunan yang dituju. Wajahwajah ingin tahu menoleh sebentar ketika pintu kaca yang kubuka berderit. Mungkin bagi mereka, selembar kain yang melindungi rambutku bukan pemandangan biasa. Kutebar senyum seadanya. Beberapa membalas senyumku, yang lainnya memalingkan muka tak acuh. Aku keluar dari bangunan dengan langkah riang, membawa yang kuidam-idamkan setelah jauh, jauh, berjalan. Tetes-tetes gerimislah yang sedari tadi memerintahkan hatiku untuk memboyong pulang kopi dalam cangkir kertas, serta kue cokelat yang di permukaannya bertabur potongan kacang. Maka nanti, di depan jendela kamar, di depan pemandangan kota yang mengabur karena bulir-bulir air, aku akan duduk menyesap yang cair, menyantap yang padat. Tentu, balad cengeng jadi syarat yang tak boleh alpa.

Semoga dengan semua romantisme buatan ini, karanganku bertambah dua halaman.

Biasa Kelak, karena isinya hanya terdiri dari penghuni-penghuni biasa pula. Cuma aku, kamu, dan anak-anak kita. Rumah kita nanti akan kita bangun dengan hal-hal yang biasa saja. Biasa mengaji dikala magrib Biasa shalat disaat waktunya Biasa menghabiskan banyak waktu untuk sekedar membaca buku Biasa saling membangunkan dikala sepertiga malam Biasa saling bertukar hafalan bacaan Biasa berdiskusi membahas banyak hal Biasa saling menegur satu sama lain jika ada hal yang salah Biasa berkata jujur Biasa mengatakan tolong dan terimakasih Biasa memilih naik turun-gunung, melihat senja di pantai, atau sekedar membaca buku ditaman, dibandingkan ke pusat perbelanjaan Biasa mencium, memeluk, dan saling menyayangi satu sama lain Biasa menyantunin kaum papa Biasa mengasihi teman sebaya Semuanya akan biasa-biasa saja. Karena kita memang hanya akan melakukan hal yang biasa-biasa saja. Tapi semoga, itu semua bisa menjadi titik awal untuk membangun sebuah keluarga yang luar biasa. Amin.