Anda di halaman 1dari 268

Seri MDGs No: 7

PEMETAAN DAN PENYEMPURNAAN ALUR DATA SEKTORAL UNTUK PEMANTAUAN PENCAPAIAN SASARAN PEMBANGUNAN MILENIUM INDONESIA

Koordinator Studi:

Dr. Soedarti Surbakti

BPS

Daftar Isi

Halaman

Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Singkatan dan Istilah I. II. III. Studi Pemetaan dan Penyempurnaan Alur Data Sektoral (Dr. Soedarti Surbakti) Data Sektoral Bidang Kesejahteraan Sosial (Drs. H. Bambang Ipujono, M.Si., Ir. Lucky Prakoso, M.Si.) Data Sektoral Bidang Pendidikan (Ade Cahyana, M.Sc., Siti Sofiah, M.Sc., Prayitno, S.E.)

i iii v 1 51 79 105

IV. Data Sektoral Bidang Kesehatan (Dr. Bambang Hartono, M.Sc., Hari Purwanto, M.Kes., M.Si., Machjati, S.K.M., M.Kes.) V. Data Sektoral Bidang Keluarga Berencana (KB) (Drs. Freddy Aritonang, M.M., Dra. Hitima Wardhani, M.P.H.)

133 169

VI. Data Sektoral Bidang Kehutanan (Ir. Basoeki Karyaatmadja, M.Si., Ir. Iman Santosa, M.Sc., Ir. Tuti Setiawati) VII. Data Sektoral Bidang Lingkungan Hidup (Ir. Sri Hudyastuti, Dra, Siti Aini Hanum, M.A., Drs. Maulyani Djajadilaga) VIII. Sistem Alur Data Dasar Terkait MDGs (Gema Purwana, S.E., M.Si., Ir. Isra Natalisa Ginting) IX. Data Sektoral Terkait MDGs di BPS (Drs. Abdul Rachman, S.E., Ir. Agus Subeno, M.S.)

181

211 235

iii

Daftar Lampiran

Lampiran: 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5. 1.6. 1.7. 1.8. 2.1 2.2 2.3 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 4.7 4.8 Daftar Nama Satuan Kerja Perangkat Daerah di Tingkat Kabupaten dan Propinsi Daftar Nama Penanggung Jawab Teknis Studi Alur Data Sektoral Pusat dan Daerah Kuesioner Studi Alur Data Sektoral Daftar Nama Peserta Rapat di Kantor Bupati Jeneponto Daftar Nama Narasumber di Kabupaten Jeneponto Daftar Nama Narasumber di Kabupaten Takalar Daftar Nama Responden Studi Alur Data Sektoral

Halaman:

35 36 37 43 44 45 46 47 66 71 73 124 126 127 128 129 130 131 132

Rangkuman Usulan Indikator MDGs Tingkat Kabupaten dan Kecamatan Formulir A Instrumen Pendataan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Formulir B Instrumen Pendataan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Formulir C Instrumen Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) Register Kegiatan Posyandu Laporan Bulanan Data Kesakitan Laporan Bulanan KIA, Gizi, Imunisasi, Pencegahan Penyakit Menular Data Keadaan Morbiditas Pasien Rawat Inap Rumah Sakit Data Keadaan Morbiditas Pasien Rawat Jalan Rumah Sakit Data Keadaan Morbiditas Pasien Rawat Inap Surveilans Terpadu Rumah Sakit Data Keadaan Morbiditas Pasien Rawat Jalan Surveilans Terpadu Rumah Sakit Data Status Imunisasi

iv

Lampiran: 5.1. 5.2. 5.3 5.4 5.5 5.6 6.1

Halaman: 159 161 162 165 166 167

Rekapitulasi Hasil Pendataan Keluarga Tingkat Kecamatan Register Hasil Pelayanan KB di Klinik KB Register Pendataan Keluarga Register Sub-Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa Laporan Bulanan Pengendalian Lapangan Program Keluarga Berencana Nasional Tingkat Kecamatan Laporan Bulanan Klinik KB Luas Penutupan Lahan Dalam Kawasan Hutan dan Luar Kawasan Hutan Berdasarkan Penafsiran Citra Satelit Landsat ETM+ s.d. Tahun .... Luas Kawasan Hutan Lindung dan Konservasi Survei Industri Survei Rumah Tangga Jadwal Kegiatan Penyusunan DDA Provinsi Indikator MDGs yang Tersedia di DDA Usulan Penyempurnaan Sistem Alur Data Sektoral

179 180 208 209 254 255 256

6.2 7.1 7.2 9.1 9.2 9.3

I. Studi Pemetaan dan Penyempurnaan Alur Data Sektoral


(Dr. Soedarti Surbakti) 1.1 Latar Belakang Dalam Undang-undang No 16 Tahun 1997, Sistem Statistik Nasional (SSN) yang dipakai di Indonesia meliputi tiga unsur, yaitu statistik dasar, statistik sektoral, dan statistik khusus. Pertama, statistik dasar adalah statistik yang pemanfaatannya ditujukan untuk keperluan yang bersifat luas baik oleh pemerintah maupun masyarakat dan umumnya dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistk (BPS). Kedua, statistik sektoral adalah statistik yang pemanfaatannya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan instansi tertentu dalam rangka penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan sektor. Statistik ini umumnya dikumpulkan oleh instansi melalui catatan administrasinya. Statistik yang ketiga adalah statistik khusus yaitu statistik yang dikumpulkan oleh masyarakat untuk kepentingan spesifik seperti dunia usaha dan lainnya. Dua jenis statistik yang pertama disebutkan diadakan untuk kepentingan pengambil kebijakan publik, pemerintah dan swasta, sedangkan statistik khusus umumnya tidak disiapkan untuk konsumsi publik. Undang-undang tersebut disusun ketika otonomi daerah belum diterapkan, sehingga kebutuhan data untuk kepentingan perencanaan, pemantauan, dan evaluasi pemerintah daerah belum tertampung atau bahkan mungkin tidak terpikirkan. Padahal untuk dapat menyusun suatu perencanaan yang baik pemerintah daerah (Pemda) harus dilengkapi dengan fakta tentang semua hal yang terjadi dalam masyarakat. Dengan perkataan lain, diperlukan data statistik yang, antara lain, dapat menunjukkan jenis program pembangunan apa yang dapat memenuhi keperluan masyarakat, bagaimana pembangunan tersebut dapat dipercepat, kelompok masyarakat mana yang perlu mendapat perhatian khusus, dan wilayah atau kecamatan mana yang perlu mendapat prioritas penanganan. 1

Pada saat ini pun penyelenggaraan statistik dasar masih mengacu pada kepentingan nasional, propinsi, dan hanya sedikit untuk kepentingan kabupaten/kota. Data statistik pada tingkat wilayah kecil terutama kecamatan hanya disediakan setiap 10 tahun sekali melalui sensus, padahal perencanaan, pemantauan dan evaluasi pembangunan sedikitnya harus disusun setiap tahun. Survei sampel yang diadakan oleh BPS selaku penyedia data nasional sampai saat ini belum dapat menghasilkan data untuk masing-masing tingkat kecamatan karena tidak didukung oleh peraturan yang memungkinkannya. Dalam PP Nomor 51 Tahun 1999 Pasal 68 disebutkan bahwa pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan statistik dasar bagi pemerintah daerah dibebankan pada anggaran daerah itu sendiri, artinya melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Peraturan ini juga disusun sebelum diberlakukannya otonomi daerah sehingga sudah saatnya disesuaikan. Dalam studi yang dilaksanakan tahun 2005 di 24 kabupaten/kota, terungkap bahwa badan perencanaan dan pembangunan daerah (Bappeda) tingkat kabupaten/kota menghadapi kesulitan dalam menyusun program pembangunan karena tidak adanya data pada tingkat kecamatan (Surbakti, 2005). Ada upaya dari berbagai pihak agar data kecamatan dikumpulkan oleh pemerintah pusat mengingat bahwa semua kabupaten/kota, tidak memandang apakah kabupaten/kota tersebut daerah yang maju atau masih terbelakang, membutuhkan data kecamatan untuk perencanaan, pemantauan dan evaluasi. Sebagai contoh ada upaya Departemen Kesehatan (Depkes) untuk melaksanakan kegiatan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) agar dapat memperoleh data kesehatan dasar pada tingkat kecamatan pada tahun 2007, tetapi gagal karena usulan anggarannya tidak disetujui. Contoh lain adalah usulan anggaran yang diajukan BPS untuk melaksanakan Susenas dengan sampel besar agar diperoleh data kecamatan pada tahun 2008 juga tidak disetujui. Oleh karena itu mau tidak mau daerah-daerah terpaksa menggunakan data yang berasal dari instansi sektor yang sebagian besar belum secara otomatis disiapkan untuk itu. Pemanfaatan data statistik sektoral saat ini memang masih kurang karena alasan kuantitas maupun kualitas data yang tersedia. Jarang sekali statistik yang sudah dikumpulkan dan disusun dengan susah payah 2

dipergunakan sebagai masukan dalam pengambilan keputusan pemerintah daerah. Bila akhirnya statistik digunakan juga, sering kali tidak konsisten angkanya. Ada pembuat kebijakan, terutama di bidang keuangan, yang mengatakan bahwa yang diajukan untuk menerima bantuan dipilih angka yang cenderung menggambarkan keadaan yang jelek dan yang diajukan untuk menerima penghargaan adalah angka yang cenderung menggambarkan keadaan yang baik, sehingga mereka enggan memakai data yang diajukan tersebut dan mencari data dari sumber lain. Suatu hasil studi menunjukkan bahwa pemanfaatan statistik dan indikator sebagai alat pemantauan, dan evaluasi program belum begitu populer di berbagai daerah (Surbakti, 2006). Dalam studi tersebut terungkap bahwa kunjungan atau inspeksi untuk melihat apa yang terjadi di lapangan, lebih banyak digunakan sebagai cara memantau kemajuan pembangunan daripada menghitung indikator dari waktu ke waktu. Padahal kunjungan sesaat oleh pejabat sering tidak cukup lama untuk mendapatkan gambaran semua yang terjadi di lapangan. Di samping kurangnya pengetahuan tentang dan minat dari sebagian pengambil keputusan pada evidence based policy (kebijakan yang berbasis fakta), sebab lain tidak tersedianya data sektoral tingkat kecamatan pada saat diperlukan adalah keterlambatan pihak produsen statistik sektoral di tingkat wilayah kecil. Hal ini diduga berkaitan dengan berbagai hal, antara lain, kurangnya pemahaman pejabat akan pentingnya data, rendahnya ketrampilan staf dalam hal pendataan, serta minimnya peralatan yang tersedia. Dalam rangka meningkatkan kualitas pemantauan terhadap pelayanan sosial kepada ibu dan anak melalui indikator millennium development goals (MDGs), selain data hasil survei, peran data statistik sektoral juga sangat penting. Sebabnya karena beberapa indikator MDGs memang sulit didapatkan dengan cara survei biasa. Sebagai contoh dapat disebutkan di sini bahwa data tentang penyakit menular, seperti kasus dan kematian karena HIV/AIDs, tidak mungkin dikumpulkan oleh petugas survei melalui wawancara biasa berdasarkan pengakuan responden tanpa pemeriksaan klinis.

Dari segi biaya, kalau dibandingkan dengan statistik dasar, statistik sektoral lebih murah. Untuk menyusun statistik dasar, yang umumnya berbasis masyarakat karena dikumpulkan dari masyarakat, diperlukan biaya besar untuk melatih petugas dan untuk mendatangi kemudian mewawancarai setiap anggota masyarakat yang tempat tinggalnya tersebar. Sementara itu statistik sektoral merupakan statistik yang diturunkan dari berbagai catatan administrasi. Lokasi, obyek yang dicatat dan petugasnya sudah tertentu. Ini berarti bahwa mengupayakan statistik sektoral yang cepat dan tepat sama dengan mengupayakan tertib administrasi yang memang sudah seharusnya dilakukan. Hanya saja untuk mengolah data sektoral menjadi indikator memang diperlukan upaya tambahan. Kalau diinginkan agar daya guna statistik sektoral dalam penyusunan perencanaan, pemantauan dan evaluasi meningkat, diperlukan statistik sektoral yang penyajiannya tepat waktu dan akurat. Rasanya langkah pertama yang sesuai ke arah itu adalah suatu studi untuk memetakan sambil menyempurnakan sistem alur data yang sedang berlangsung di berbagai instansi sektor. 1.2 Maksud dan Tujuan Dalam rangka membantu pemerintah daerah mendapatkan statistik dan indikator untuk memantau pencapaian target pembangunan dan membantu pemerintah pusat dalam memperoleh data sektoral dari daerah dengan cepat dan tepat, diperlukan suatu penataan kembali alur data sektoral yang kinerjanya terganggu setelah otonomi daerah. Agar sistem penataan, yang diharapkan dapat diterapkan di seluruh Indonesia, dapat berjalan dengan baik, maka sistem tersebut harus sudah teruji kelayakannya. Studi awal perlu dilakukan untuk melihat sistem perstatistikan yang ada di beberapa sektor, memetakan alur data dan mengidentifikasi permasalahan yang ada, untuk kemudian menyempurnakannya. Studi ini bertujuan untuk memetakan dan menyempurnakan jenis dan alur data sektoral yang terkait dengan indikator MDGs di kabupaten terpilih. 4

Secara rinci studi akan diarahkan untuk melakukan kegiatan sebagai berikut: a. Identifikasi sumber daya untuk melakukan kegiatan pendataan, mulai dari pengumpulan, pengolahan, dan pelaporan data sektoral, b. Identifikasi alur data dari sumbernya sampai ke pusat, c. Penelitian terhadap kuesioner atau instrumen menghasilkan indikator MDGs yang dipakai sektor, pendataan untuk

d. Penelitian terhadap cara penghitungan indikator MDGs wilayah kecil terutama kecamatan (pembilang dan penyebut bila perlu), dan e. Pengembangan materi teknis dan pendekatan untuk menyempurnakan sistem statistik sektoral. 1.3 Metodologi Studi dilakukan untuk memetakan alur data sektoral yang terkait dengan indikator MDGs di lima kabupaten, yaitu Bantaeng, Takalar dan Bone di Propinsi Sulawesi Selatan serta Polman dan Mamuju di Propinsi Sulawesi Barat. Waktu yang disediakan untuk menyelesaikan studi ini adalah dari bulan Maret 2007 sampai dengan bulan Juli 2007. Instansi yang dicakup dalam studi meliputi 7 instansi yang menghasilkan data yang terkait dengan MDGs. Ketujuh instansi tersebut menangani bidang sosial, pendidikan, kesehatan, keluarga berencana, kehutanan, lingkungan hidup, dan statistik. Alur data sektoral yang dipetakan dan dicoba disempurnakan meliputi jajaran di pusat, di propinsi, dan di kabupaten. Di tingkat pusat, instansi yang dicakup adalah: a. Departemen Sosial (Depsos), b. Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), c. Depertemen Kesehatan (Depkes), d. Badan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), e. Departemen Kehutanan (Dephut), f. Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH), dan g. Badan Pusat Statistik (BPS).

Di tingkat propinsi, dari namanya, instansi yang dicakup umumnya masih dapat mengindikasikan sektor yang sesuai, namun pada tingkat kabupaten nama satuan kerja perangkat daerah (SKPD) tersebut sudah agak berbeda dengan nama sektornya mengingat adanya penggabungan penanganan jenis-jenis data sektor oleh unit yang sama (daftar nama SKPD yang dicakup dalam studi dapat dilihat di Lampiran 1.1). Anggota tim studi berasal dari tiga unsur, yaitu tim pusat (penanggung jawab studi di tingkat ini dapat dilihat di Lampiran1.2), tim propinsi dan tim kabupaten. Anggota tim pusat terdiri dari ahli dalam sistem perstatistikan di beberapa departemen dan lembaga non-departemen yang terkait dengan MDGs. Mereka berasal dari satuan kerja yang berkaitan dengan data dan informasi. Sementara itu anggota tim propinsi dan kabupaten adalah staf dinas/unit kerja yang menangani indikator MDGs di propinsi dan kabupaten, yang umumnya adalah anggota tim Kelangsungan Hidup, Perkembangan, dan Perlindungan Ibu dan Anak (KHPPIA). Tim pusat bertugas merumuskan rencana studi, menyusun garis besar laporan tim propinsi dan kabupaten, meneliti instrumen pendataan yang digunakan sektor serta merumuskan indikator MDGs kecamatan dan menyempurnakan alur data sektoral agar informasi dari sumbernya cepat dan akurat sampai di pusat. Kombinasi metode riset antara observasi, pengisian kuesioner terstruktur, kelompok diskusi terfokus (focus group discussion atau FGD) dan laporan tertulis (self reporting) digunakan untuk memetakan alur data sektoral dan permasalahannya. Metode yang berbeda ini dilakukan oleh anggota tim studi yang dibagi menjadi beberapa kelompok. Kegiatan observasi terhadap fasilitas dan kegiatan perstatistikan di kantor dinas dilakukan oleh anggota tim pusat di Kabupaten Takalar. Data kuantitatif dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dari pihak dinas yang menghasilkan data administrasi terkait dengan indikator MDGs (lihat kuesioner studi di Lampiran 1.3). Dinas mengisi kuesioner yang dirancang untuk memperoleh keterangan tentang kegiatan pendataan mulai dari pengumpulan, pengolahan, analisis dan publikasi. Hasil pengumpulan data ini merupakan informasi kuantitatif dan digunakan untuk mengidentifikasi topik dalam FGD. FGD diikuti oleh tim kabupaten dan propinsi dengan fasilitator anggota tim dari pusat. Pendekatan pengumpulan data yang terakhir adalah penyusunan laporan tertulis oleh staf dari dinas yang 6

sebelumnya telah dilatih untuk itu. Mereka ditugasi untuk melaporkan kegiatan statistik mulai dari pengumpulan sampai dengan pengiriman dan diseminasi hasil. Sebelum studi dilakukan, suatu uji-coba untuk menguji kelayakan instrumen, prosedur studi, dan garis besar pelaporan diadakan di Kabupaten Jeneponto. Uji-coba dilakukan dalam satu setengah hari. Peserta uji-coba adalah anggota tim pusat dan anggota tim Propinsi Sulawesi Selatan dari Bappeda dan BPS, serta Unicef Jakarta dan Sulawesi Selatan. 1.4 Isi Buku Laporan Buku yang berjudul Pemetaan dan Penyempurnaan Alur Data Sektoral untuk Pemantauan MDGs merupakan laporan yang menyajikan proses kegiatan dan hasil studi tentang pemetaan dan penyempurnaan alur data sektoral. Pada bagian pertama buku ini disajikan secara ringkas rangkuman prosedur, pelaksanaan, dan hasil studi secara keseluruhan. Kemudian pada bagian berikutnya adalah penyajian hasil studi yang lebih spesifik diperoleh dari masing-masing sektor pembangunan dimulai dari bidang kesejahteraan sosial, pendidikan, kesehatan, KB, kehutanan dan lingkungan hidup. Dua bagian terakhir penyajian berkaitan dengan studi alur data dasar terkait MDGs yang dikumpulkan BPS melalui pendekatan rumah tangga, yaitu sensus dan survei, dan alur data sektoral yang dikumpulkan melalui pendekatan institusi sektor. 1.5 Tahapan Kegiatan Studi 1.5.1 Uji-Coba Instrumen di Jeneponto Sebelum petugas di lima kabupaten dilatih, sebagian aggota tim pusat dan propinsi melakukan uji coba untuk melihat kelayakan instrumen, pedoman, dan prosedur pelaksanaan studi. Setelah diadakan penjelasan tentang tujuan uji-coba kepada wakil dari seluruh dinas terkait di kantor Bupati Jeneponto (daftar peserta disajikan di Lampiran 1.4), diadakan kunjungan oleh tim ke dinas tersebut dan kemudian dilakukan wawancara dengan staf di satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang ada kaitannya dengan MDGs (nama narasumber disajikan pada Lampiran 1.5). Hasil uji coba yang perlu dilaporkan di sini adalah adanya kesepakatan untuk 7

mengubah kuesioner yang dipakai untuk menjaring informasi kuantitatif dari daerah tentang kegiatan statistik sektoral, walaupun perubahannya tidak signifikan. 1.5.2 Observasi Tak Terlibat

Kunjungan kepada unit kerja atau petugas pendataan dilakukan di SKPD terkait di Kabupaten Takalar selama satu sampai dua jam. Mereka diterima oleh staf yang nama-namanya seperti terlampir (lihat Lampiran 1.6). Hal-hal yang diamati meliputi a. Organisasi atau unit kerja yang menangani data, b. Sumber daya manusia (jumlah dan kemampuan), c. Fasilitas komputer/PC/listrik, d. Tempat/fasilitas ruangan, e. Biaya perekaman dan pengolahan data, f. Dukungan dan hambatan terhadap kegiatan statistik sektoral, dan g. Lain-lain yang perlu. Dari kunjungan tersebut diharapkan dapat diperoleh gambaran tentang proses pendataan terutama dalam tahapan pengolahan data. 1.5.3 Pengisian Kuesioner

Segera setelah penjelasan diberikan oleh tim pusat mengenai tujuan dan cara pengisian kuesioner, maka dalam rangka pelatihan di Makassar, anggota tim daerah diminta untuk mengisi kuesioner tentang kegiatan pendataan dalam unit kerja masing-masing. Waktu pengisian dijadwalkan paling lambat satu hari selama berada di Makassar. Manfaat utama dari kegiatan ini adalah dapat teridentifikasinya masalah pendataan sektor yang dijumpai di lapangan dan ini merupakan bahan utama yang menjadi fokus diskusi kelompok. Daftar nama petugas yang mengisi kuesioner terkait dengan indikator MDGs ada di Lampiran 1.7. Kuesioner yang hampir sama juga disiapkan untuk menghimpun keterangan mengenai pendataan di BPS daerah, namun karena BPS merupakan instansi yang vertikal, maka secara umum hasilnya tidak berbeda. Oleh karena itu kuesioner tidak disajikan di sini. 8

1.5.4

Pelaksanaan Diskusi Kelompok Terfokus

a. FGD pada kegiatan statistik sektor yang terkait dengan MDGs wilayah kecil dimaksudkan untuk menjaring informasi mengenai beberapa hal yang terkait dengan pendataan dan penyempurnaan sistem alur data terkait MDGs dan kebutuhan data sektor lainnya; b. Setiap kelompok terdiri dari peserta yang berasal dari SKPD bidang yang hampir sama yaitu kemiskinan, pendidikan dan pemberdayaan perempuan, kesehatan, kesehatan reproduksi, kehutanan, lingkungan hidup dan statistik; c. Indikator MDGs yang dibicarakan hanya yang berkaitan dengan catatan administrasi sektor, tidak mencakup indikator yang dihasilkan dari survei; d. Untuk setiap indikator atau pendataan, pimpinan diskusi mengajukan satu isu/kegiatan yang merupakan komponen alur data sektoral sebagai fokus diskusi, meliputi: i. ii. Pengumpulan hasil pendataan dari unit kerja terkecil oleh dinas, Inventory/penerimaan dokumen pendataan di dinas,

iii. Perekaman data, iv. Pengolahan data termasuk tabulasi data, v. Komponen penghitungan indikator: seperti pembilang dan penyebut, dan

vi. Penyusunan laporan dan diseminasinya. 1.5.5 Diskusi untuk Menyepakati Penyempurnaan Sistem Alur Data

a. Rekomendasi untuk perbaikan agar kegiatan yang terkait dengan alur data dapat berjalan lancar, b. Penyempurnaan sistem alur data terkait MDGs dari daerah ke pusat, dan c. Kebutuhan data sektor selain untuk MDGs yang sangat dibutuhkan daerah dan pusat.

1.5.6

Diskusi untuk Menyepakati Indikator MDGs untuk Wilayah Kecil

Diskusi didahului dengan pemaparan oleh wakil masing-masing sektor tentang indikator MDGs yang disepakati secara internasional, nasional, dan baru kemudian mencari kesepakatan tentang indikator kabupaten dan kecamatan. Indikator dipilih berdasarkan pada kemudahan dalam mengumpulkan data, menghitung indikator, serta sensitivitas indikator tersebut. Hasil kesepakatan tentang indikator wilayah kecil ini (lihat Lampiran 1.8) akan ditindaklanjuti dengan kegiatan pengumpulan data, baik melalui survei maupun pendataan sektor. 1.6 Gambaran Umum tentang Jenis dan Alur Data Sektoral Pada era otonomi daerah, kewenangan mengatur pemerintahan wilayah diserahkan kepada Pemda kabupaten/kota. Untuk melaksanakan ini Pemda difasilitasi dengan anggaran, antara lain, dana alokasi umum (DAU) yang penentuannya didasarkan pada beberapa faktor seperti jumlah penduduk, luas wilayah, indeks harga bahan bangunan, dan indeks pembangunan manusia. Sayangnya acuan ini tidak dilengkapi dengan petunjuk pelaksanaan bagaimana dana yang dialokasikan tersebut dibagi menurut bidang pembangunan maupun menurut wilayah di dalam kabupaten/kota. Oleh karena itu tidak ada suatu ikatan mengenai alokasi penggunaan dana tersebut antar-bidang pembangunan maupun antar-wilayah. Dengan tidak tersedianya data survei pada tingkat wilayah kecil, peran data dari catatan administrasi atau data statistik sektoral sebagai masukan dalam penyusunan perencanaan, pemantauan dan evaluasi menjadi besar. Sayang sekali bahwa produk statistik jenis ini sering tidak secara instan tersedia manakala dibutuhkan. Data statistik sektoral yang seharusnya tersedia dan mudah diakses oleh pembuat kebijakan tidak selalu demikian adanya. Sebetulnya tidak ada perubahan yang mendasar pada alur data statistik sektoral dari era sebelum ke era sesudah otonomi daerah. Data dikumpulkan oleh unit kerja yang paling bawah, dikirim ke unit di atasnya, yaitu kabupaten, ke propinsi dan akhirnya ke pusat. Sistem pengolahannya pun telah dirancang pusat dan hampir tidak ada perubahan yang signifikan dilakukan oleh propinsi atau kabupaten/kota. Cara diseminasi statistik 10

sektoral juga dibakukan dengan penerbitan di tingkat pusat, propinsi, dan kadang-kadang di tingkat kabupaten. Namun ada berbagai hambatan dalam penyediaan data di tingkat yang paling bawah sehingga ketersediaan data untuk pengambil kebijakan di tingkat kabupaten sampai di pusat menjadi lebih terlambat dibandingkan dengan kondisi saat sebelum dilaksanakannya otonomi daerah. Untuk melihat bagaimana gambaran umum kegiatan pendataan di tingkat kabupaten sampai ke pusat, berikut adalah ringkasan umum hasil yang diperoleh dari studi yang menyangkut data sektor yang berasal dari catatan administrasi. Penjelasan disajikan per bidang atau sektor pembangunan. 1.6.1 Bidang Kesejahteraan Sosial Kaitan langsung antara penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) dan MDGs terletak pada kemiskinan. Proporsi penduduk yang fakir miskin dapat menjadi indikator proksi untuk mengukur pencapaian tujuan pembangunan milenium yang ke satu yaitu mengenai kemiskinan dan kelaparan. PMKS pada umumnya, dan fakir miskin pada khususnya, belum seluruhnya didaftar dengan teratur walaupun telah dibangun Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial. Bila dilihat dari sisi organisasi, kemampuan petugas, maupun teknologi informasi, mengelola data di lingkup kantor sosial kabupaten masih sangat memprihatinkan. Dalam struktur organisasi kantor sosial tidak ada unit yang khusus menangani pendataan; semua data dikelola di seksi-seksi yang ada. Sudah begitu, kemampuan statistik dari staf, baik yang mengumpulkan maupun mengelola data, juga kurang memadai. Dengan sarana dan prasarana yang sangat terbatas, hampir semua kegiatan pengolahan data dilakukan dengan manual dan belum mengarah ke komputerisasi. Proses data--baik itu pengumpulan, pengolahan dan penyajian data-dilakukan secara konvensional. Selama ini pendataan di lapangan hanya mengandalkan para pekerja sosial masyarakat (PSM) yang ada di kelurahan dan pekerja sosial kecamatan (PSK) di kecamatan. Data-data yang ada tersebut oleh pegawai kantor sosial diambil dan dikumpulkan, kemudian dijumlahkan secara manual. Kegiatan ini dilakukan hanya sekali dalam 11

setahun. Setelah data tersebut terkumpul dilakukanlah pengolahan oleh pegawai di lingkungan sub-bagian tata usaha. Proses yang dilakukan juga hanya penjumlahan data secara manual. Hasil dari pengolahan ini adalah data matriks yang kemudian disimpan dalam bentuk hardcopy dan dalam alat penyimpan data. Data matriks tersebut lalu disusun dalam bentuk laporan yang selain digunakan sebagai bahan untuk perencanaan program juga diberikan ke atasan langsung, serta ada juga yang dikirim ke Pemda atau Bappeda. Alur data kesejahteraan sosial dari kabupaten, ke propinsi, dan pusat saat ini sangat berbeda dengan saat sebelum otonomi. Bila sebelumnya ada garis komando dari pusat ke daerah, maka pada saat ini kaitan pusat dan daerah hanya berupa garis koordinasi. Akibatnya laporan daerah tidak sampai ke pusat sehingga pasokan data dari daerah sering terputus. Hal ini dirasa sangat mengganggu terutama ketika dulu status instansi di pusat diubah dari departemen ke badan. Salah satu faktor yang juga menyebabkan keterlambatan data sampai ke publik adalah terbagi-baginya kegiatan pendataan di satuan-satuan kerja di pusat. Masing-masing direktorat jenderal mempunyai kegiatan pendataan yang kadang-kadang memakai sistem dan instrumen yang sama sekali berbeda. Upaya yang sekarang sedang dilakukan oleh Depsos adalah membakukan instrumen pendataan termasuk konsep dan definisinya dalam mengumpulkan data PMKS. Hal ini diharapkan agar data dari berbagai kabupaten/kota dapat diperbandingkan satu sama lain. 1.6.2 Bidang Pendidikan Instansi yang menangani sektor pendidikan diharapkan dapat menghasilkan indikator tentang partisipasi sekolah dan buta huruf untuk dapat memantau tujuan MDGs yang ke-2, yaitu mencapai pendidikan dasar. Di samping berguna dalam memantau pencapaian tujuan tersebut, indikator pendidikan juga bermanfaat untuk mengukur pencapaian tujuan MDGs yang ke-3, yaitu mempromosikan kesetaraan gender. Indikator tersebut dapat diturunkan, antara lain, dari data sekolah yang saat ini dikumpulkan. 12

Pendataan sekolah--mencakup siswa, guru, kelas, gedung dan peralatan pada jenjang sekolah SD sampai SMA--yang dilakukan di 5 wilayah studi masih merupakan lanjutan dari kegiatan lama. Data sekolah SD negeri dan swasta dikumpulkan dari sekolah oleh petugas kecamatan, data sekolah setingkat SMP dikumpulkan oleh petugas kabupaten. Sementara itu pihak sekolah setingkat SMA harus menyerahkan formulir isian langsung kepada dinas pendidikan. Tidak ada unit maupun petugas khusus yang menangani data di dinas kabupaten. Walaupun demikian setiap dinas disarankan untuk membentuk kelompok kerja data pendidikan (KK Datadik atau KKD) yang tugasnya merekam, dan mengolah data yang masuk ke dinas. Anggota KKD umumnya dikerahkan dari unit kerja yang mempunyai data. Dari pusat telah disiapkan perangkat komputer sekaligus perangkat lunaknya (sistem dan program) serta dalam APBN disediakan dana khusus untuk membiayai kegiatan KKD ini. Keluaran dari kegiatan KKD ini dirangkum dalam profil pendidikan kabupaten yang sayang sekali tidak selalu dicetak untuk diseminasi. Di samping itu data juga dikirim ke dinas di propinsi dan pusat dalam bentuk rekaman data melalui internet atau pos langsung ke Pusat Data Statistik Pendidikan Depdiknas. Terobosan ini belum dapat sepenuhnya meningkatkan kualitas dan kecepatan aliran data ke pusat, antara lain karena masih kurang trampilnya petugas yang mengisi instrumen di satuan-satuan pendidikan, tingginya mobilitas pengolah data dan masih kurangnya penguasaan teknologi informasi mereka. Ada dua kegiatan pendataan lain di bidang pendidikan yang penting peranannya, yaitu pendataan madrasah dan pendataan melalui survei. Pihak dinas mengumpulkan data statistik sekolah madrasah dan pesantren yang sudah terekam dari kantor cabang Departemen Agama (Depag) di tingkat kabupaten. Sekolah madrasah yang dicakup adalah madrasah ibtidaiyah (MI setingkat SD), madrasah tsanawiyah (MTs setingkat SMP), dan madrasah aliyah (MA setingkat SMA). Pendataan lain adalah survei dengan pendekatan rumah tangga yang disebut sebagai Sistem Informasi Pendidikan Berbasis Masyarakat (SIPBM). Di samping untuk merangsang kepedulian Pemda dan masyarakat untuk memahami permasalahan pendidikan, survei ini diharapkan dapat menjembatani kekurangan data 13

tentang berbagai hal menyangkut pendidikan yang terjadi dalam masyarakat, seperti data kelompok penduduk usia sekolah. Data statistik sekolah yang telah digabungkan dengan data madrasah dari Depag dihimpun di tingkat propinsi dan pusat di mana profil pendidikan tingkat propinsi dan tingkat pusat dibuat dalam bentuk publikasi cetak. Walaupun lambat terkumpul di pusat, data tersebut tetap juga dianalisis untuk digunakan menyusun kebijakan di tingkat nasional. Di tingkat kabupaten data statistik yang tersedia di dinas pendidikan belum sepenuhnya dianalisis untuk masukan kebijakan. Untuk sampai ke sana, terlebih dahulu diperlukan suatu upaya peningkatan kapasitas staf untuk dapat melakukan analisis. Indikator pendidikan yang disusun dari dua komponen data yang berasal dari Depdiknas dan Depag tersebut masih harus diperbaiki bila indikator dimaksudkan untuk menggambarkan pendidikan pada tingkat kecamatan. Pertama, cakupan harus ditambah dengan sekolah-sekolah kedinasan yang berada di bawah pengawasan instansi atau lembaga, dan kedua, data untuk wilayah pelayanan tertentu perlu dikoreksi dengan siswa dari wilayah lain menggunakan data kode tempat tinggal siswa agar sesuai wilayah administrasinya. Masalah lain yang dijumpai dalam penghitungan indikator untuk wilayah kecil adalah tidak tersedianya data penduduk secara tahunan. Oleh karena itu indikator wilayah kecamatan belum terbiasa untuk dihitung. Sekolah kedinasan setingkat SMA seperti sekolah perawat dan sekolah pelayaran yang keduanya tidak dikelola oleh dinas pendidikan kelihatannya belum tertampung di dalam sistem pendataan ini. Ada dua pendekatan untuk mencakup sekolah kedinasan negeri seperti ini dalam pencatatan, mengingat bahwa para siswa memang masih mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Pendekatan pertama adalah dengan mencakup sekolah kedinasan negeri dan swasta dalam kegiatan pendataan di kabupaten seperti halnya sekolah-sekolah lain. Pendekatan kedua, yang belum tentu benar karena otonomi daerah sudah diberlakukan, adalah dengan mengumpulkan informasi dari setiap departemen atau instansi yang mempunyai unit pelaksana teknis (UPT) sekolah. Data hasil pendekatan yang kedua masih harus ditambah lagi dengan hasil pendataan sekolah kedinasan swasta, 14

yang belum diketahui di mana informasinya berada. Oleh karena itu disarankan menempuh cara pertama untuk memperoleh data sekolah kedinasan. Masalah yang perlu dibenahi untuk mengitung indikator pada wilayah kecamatan adalah informasi lengkap mengenai tempat tinggal siswa. Dengan menggunakan data dasar dari sekolah yang di dalamnya terdapat informasi mengenai kecamatan tempat tinggal siswa, maka pemilahan data siswa menurut kecamatan dapat dilakukan. Data yang diperoleh melalui cara ini tidak terlalu sulit diolah tetapi ada sedikit pekerjaan tambahan di tingkat sekolah. 1.6.3 Bidang Kesehatan Untuk memantau pencapaian tujuan MDGs, banyak indikator yang dapat disumbangkan oleh sektor kesehatan ini. Indikator tersebut meliputi indikator gizi yang digunakan dalam pemantauan tujuan MDGs yang menyangkut pemberantasan kemiskinan dan kelaparan, indikator kematian dan imunisasi untuk memantau pencapaian tujuan yang berkaitan dengan penurunan angka kematian bayi, kemudian indikator tentang kematian ibu dan persalinan, serta indikator kasus kejadian dan kematian karena penyakit menular untuk memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lain yang merupakan tujuan MDGs yang ke-6. Sistem Pelaporan dan Pencatatan Terpadu Puskesmas (SP2TP) merupakan salah satu sumber data Puskesmas--dilaksanakan bulanan dengan formulir LB1 sampai LB4: melalui LB1 dikumpulkan data penyakit, melalui LB2 data obat-obatan, LB3 pemberantasan penyakit menular, KIA dan imunnisasi, serta LB4 tentang kegiatan Puskesmas termasuk kegiatan sanitasi lingkungan--yang penting. Data yang dilaporkan oleh Puskesmas bisa berasal dari kegiatan pelayanan kesehatan di Puskesmas, bisa juga dari kegiatan kader kesehatan atau bidan di desa. Formulir baku laporan bulanan LB1-4 tersebut diisi oleh petugas Puskesmas atau rumah sakit-mereka tidak secara khusus dilatih untuk menangani data--kemudian dikumpulkan di dinas kesehatan kabupaten dan diringkas untuk dilaporkan ke dinas kesehatan propinsi. 15

Di dinas kesehatan kabupaten, unit yang menangani data tidak ada, dan pekerjaan pengolahan data dilakukan dengan mengerahkan staf yang kurang sibuk dalam tugasnya sehari-hari. Perlu dikemukakan di sini bahwa di beberapa daerah di luar daerah studi ada dinas yang memiliki unit kerja seksi informasi kesehatan. Keluaran kegiatan pendataan ini oleh dinas di kabupaten dan juga propinsi secara tahunan dijadikan komponen utama buku Profil Kesehatan Kabupaten dan Profil Kesehatan Propinsi. Kemudian setelah dilengkapi dengan berbagai data kesehatan yang penting, di tingkat pusat data laporan ini diolah dan diterbitkan sebagai Profil Kesehatan Indonesia. Analisis data di tingkat kabupaten tidak banyak, umumnya menyangkut penentuan kejadian luar biasa (KLB) yang perlu penanganan cepat. Analisis lainnya banyak dilakukan di pusat dan propinsi dengan menggunakan data survei. Seperti halnya dengan indikator pendidikan, penyusunan indikator kesehatan untuk wilayah kecamatan juga mengalami permasalahan lewat catat, perbedaan batas wilayah pelayanan dengan wilayah administrasi, dan masalah data jumlah penduduk sebagai sasaran program. Masalah pertama adalah lewat cacah, yang terjadi karena belum tercakupnya secara komprehensif rumah sakit dan pelayanan kesehatan swasta dalam pendataan atau pengolahan data. Selain itu bisa terdapat perbedaan antara batas wilayah pelayanan dengan wilayah administrasi yang disebabkan karena data alamat yang tercantum dalam kartu pendaftaran tidak diolah. Sementara masalah komponen penghitungan indikator, seperti yang terjadi pada penghitungan indikator pendidikan, ketika data penduduk untuk kecamatan tidak tersedia secara teratur di tingkat kecamatan. Di tingkat pusat, masing-masing jenis laporan dari Puskesmas dan juga laporan rumah sakit dikelola oleh satuan yang berbeda. Oleh karena itu Pusat Data dan Informasi Depkes membutuhkan waktu yang lama untuk dapat menghimpun semua komponen data sehingga publik tidak dapat secara cepat mengakses data terkini bidang kesehatan. Bila sampai saat data harus dipublikasikan, maka masalah kelengkapan ini menyebabkan data yang disajikan kurang akurat. 16

1.6.4 Bidang Keluarga Berencana Sedikitnya ada tiga buah indikator yang dapat disumbangkan oleh sektor ini untuk memantau kemajuan MDGs. Indikator yang utama adalah prevalensi pemakaian alat KB oleh pasangan usia subur usia 15-49 tahun (PUS) sebagai salah satu alat pantau terhadap pencapaian tujuan MDGs yang ke- 5, yaitu meningkatkan derajat kesehatan ibu. Berikutnya adalah indikator prevalensi pemakaian kondom oleh PUS yang berguna untuk memantau pencapaian tujuan MDGs yang ke-6, yaitu memerangi HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya. Indikator yang ketiga adalah proporsi keluarga yang digolongkan dalam keluarga pra-sejahtera (pra-KS) dan sejahtera tahap I (KS I) dalam pendataan keluarga. Sebagai proksi indikator kemiskinan, indikator yang terakhir ini sangat penting peranannya mengingat sangat intensifnya program penanggulangan kemiskinan sehingga pelaksanaan program sangat memerlukan informasi tentang keluarga sasaran. Dalam penentuan keluarga sasaran program di wilayah kecil indikator ini menjadi makin strategis mengingat kelangkaan data kemiskinan yang bersifat mikro. Sistem pencatatan dan pelaporan di sektor KB saat ini masih mengikuti acuan dari pusat walaupun nama unit satuan kerja perangkat daerah yang menangani urusan keluarga berencana (SKPD-KB) berbeda antara kabupaten dan kota, seperti telah disebutkan di muka. Instrumen pendataan juga masih menggunakan formulir yang sama. Petugas pendataan adalah kader Sub-Petugas Pendataan Keluarga Berencana Daerah (Sub-PPKBD) dan PPKBD yang mendapat pengawasan dari petugas lapangan keluarga berencana (PLKB) dan petugas keluarga berencana (PKB). Masih tertatanya sistem pendataan ini antara lain disebabkan oleh persiapan yang matang untuk mengantisipasi penyerahan instansi ke daerah. Walaupun sistem pendataan tetap tidak berubah, namun dirasakan adanya perubahan dalam cakupan, kelengkapan, keakuratan, dan kecepatan penerimaan data di tingkat pusat. Hal ini diduga, antara lain, karena berkurangnya staf dan peralatan yang memadai, serta pengawasan yang melemah. Dari sisi cakupan dilaporkan bahwa dengan dikembangkannya sistem KB mandiri banyak akseptor yang pergi ke klinik swasta atau secara pribadi membeli alat di toko atau apotik. Pelaporan dari pihak pengelola KB swasta ini dirasakan makin menurun. 17

Para kader mendapat sedikit imbalan kerja dalam kegiatan pendataan di sektor KB ini. Kemampuan Pemda yang sangat bervariasi dalam pemberian insentif diduga menjadi salah satu penyebab bervariasinya keakuratan data KB yang dikumpulkan. Banyaknya PLKB/PKB berkualitas yang pindah ke unit lain dalam lingkungan Pemda setelah unit KB kabupaten diserahkan kepada daerah menjadi salah satu penyebabnya. Para pejabat di dinas merasa bahwa sistem alur data sektoral KB yang ada sekarang sudah sangat memadai. Walaupun demikian masih ada permasalahan yang dirasakan di pusat berkaitan dengan adanya keterlambatan pelaporan dari daerah. Untuk menanggulangi hal tersebut diusulkan agar dicoba alternatif lain dengan jalan mengirim laporan lansung ke pusat dengan tembusan kantor wilayah BKKBN di tingkat propinsi. Produk akhir dari kegiatan pendataan KB ini merupakan umpan balik dan analisis. Hasil pendataan berupa umpan balik dikirim dari pusat ke semua jajaran SKPD-KB di tingkat bawah dan di instansi lain yang terkait. Menurut dinas, saat ini tidak banyak dilakukan analisis terhadap hasil pendataan yang dilakukan. Analisis umumnya disusun oleh pusat, seperti analisis tentang kaitan antara kemiskinan dan pemakaian alat KB. Oleh karena itu agar Pemda kabupaten dapat memilih arah kebijakan di bidang KB yang tepat, kapasitas staf dinas di bidang analisis KB perlu ditingkatkan. 1.6.5 Bidang Kehutanan Tidak banyak indikator yang disediakan oleh sektor kehutanan untuk mengukur keberhasilan MDGs di bidang kelangsungan lingkungan hidup. Data tentang proporsi luas wilayah yang tertutup hutan baku disiapkan oleh pusat. Sementara itu data yang berasal dari dinas adalah luas kawasan hutan lindung, lahan kritis, kebakaran hutan, luas penghijauan dan hutan produksi serta perijinan. Walaupun demikian karena adanya keterbatasan tenaga yang trampil di bidang pendataan dan keterbatasan sarana pengolahan data, maka meskipun jumlah indikatornya sedikit tidak berarti data yang tersedia berkualitas. Tidak seperti umumnya kabupaten di Pulau Jawa, di mana yang bertanggung jawab mengumpulkan data dengan rincian desa adalah petugas lapangan di kecamatan, di lima kabupaten studi pegawai yang 18

ditugasi untuk mengumpulkan data adalah staf dari dinas. Data tersebut adalah data proporsi luas hutan lindung terhadap luas daratan yang disarankan dalam kesepakatan. Hasil pendataan oleh pihak dinas tersebut tidak dipublikasikan, tetapi analisis data dilakukan oleh dinas. Secara internal dinas, hambatan yang dihadapi dalam pengelolaan data adalah tidak adanya unit kerja yang menangani, sehingga kegiatan statistik yang tidak utuh dilakukan melainkan terpenggal-penggal. Sementara itu belum adanya kebijakan pemerintah daerah yang mengatur kegiatan statistik sektoral bidang kehutanan juga menjadi penyebab belum teraturnya sistem pengelolaan data. 1.6.6 Data Sektoral Bidang Lingkungan Hidup Data lingkungan hidup untuk menghitung indikator MDGs yang terkait dengan kelestarian lingkungan hidup dapat digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu: a. Emisi dan konsumsi zat perusak ozon yang pengukuran dan pengumpulannya belum dilakukan secara sempurna. Indikator ini disarankan untuk mengukur keberlangsungan lingkungan hidup di tingkat nasional, tetapi tidak untuk tingkat propinsi dan kabupaten/kota apalagi kecamatan, b. Data pencemaran air di sungai besar telah dikumpulkan pada tingkat propinsi mulai tahun 2007 dan di perairan lain di tingkat kabupaten akan mulai tahun 2008, dan c. Pencemaran udara, yang propinsi. pengukurannya telah dilakukan di ibukota

Di samping itu ada kelompok indikator lain yang dapat mengukur kondisi lingkungan hidup yang ingin dicapai MDGs bidang LH. Indikator tersebut terkait dengan sektor lain dan sudah lama dirintis, tapi dengan adanya keterbatasan dana dan data pada tingkat wilayah kecil maka rintisan ini dirasa sangat lambat kemajuannya. Hambatan lain yang dihadapi berkaitan dengan data teknis pencemaran adalah keterbatasam jumlah peralatan yang tersedia.

19

1.6.7 Data Sektoral yang Terkait dengan MDGs di BPS BPS, selaku instansi vertikal, bertugas melayani kebutuhan data para pengambil kebijakan pembangunan dan masyarakat luas. Untuk dapat mengemban tugas ini BPS mengumpulkan data dengan pendekatan rumah tangga melalui kegiatan sensus dan survei, serta mengumpulkan data sekunder dari instansi sektor, yang di daerah saat ini ditangani oleh SKPD. Dalam kegiatan sensus atau survei, di samping mengumpulkan data dasar seperti ciri-ciri demografi, BPS juga mengumpulkan data untuk kepentingan berbagai sektor pembangunan. Dua jenis pendekatan pengumpulan data yang terkait dengan MDGs disajikan dalam buku ini, yaitu pertama, sistem alur data sensus dan survei penting yang terkait dengan MDGs dan kedua, yaitu pengumpulan data sekunder. Hasil kegiatan yang kedua tersebut dirangkum dalam terbitan yang dinamakan Daerah Dalam Angka (propinsi, kabupaten/kota, atau kecamatan) yang secara umum disingkat dengan DDA. Di tingkat nasional data sekunder tersebut, bersama-sama dengan data dasar, diterbitkan BPS dalam buku Statistik Indonesia. a. Data sensus dan survei

Pengamatan terhadap alur data dasar yang terkait dengan MDGs yang dicakup dalam studi ini adalah Sensus Penduduk Tahun 2000 (SP 2000) dan Survei Sosial Ekonomi Nasional Tahun 2006 (Susenas 2006). Peran utama SP 2000 dan sensus penduduk umumnya dalam MDGs adalah menyumbangkan data penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin sebagai rujukan penghitungan indikator serta data anak yang lahir hidup dan yang masih hidup sebagai komponen penghitungan indikator kematian anak dengan cara tidak langsung. Sementara itu dari Susenas 2006 dapat dihasilkan sekitar dua pertiga jumlah indikator MDGs yang mengacu pada Tujuan 1 sampai Tujuan 7. SP 2000 merupakan pekerjaan besar yang berkaitan dengan pengelolaan 85 000 dokumen desa, 660 000 dokumen blok sensus, 55 000 000 set dokumen rumah tangga (sekitar 212 000 000 dokumen penduduk yang bertempat tinggal tetap), dan 200 000 dokumen dari kelompok 20

penduduk bertempat tinggal tidak tetap. Walaupun begitu karena BPS didukung dengan organisasi, sumber daya dan staf di bidang teknologi informasi yang lumayan maka pekerjaan pengolahan data dapat diselesaikan tepat waktu. BPS di tingkat kabupaten/kota mempunyai unit kerja Seksi Informasi dan Pengolahan Data Statistik, di tingkat propinsi terdapat Bidang Informasi dan Pengolahan Data Statistik, dan di tingkat pusat ada Direktorat Sistem Informasi Statistik. Perekaman dan pengolahan awal terhadap dokumen desa, blok sensus, dan penduduk yang bertempat tinggal tidak tetap dilaksanakan di BPS tingkat kabupaten/kota, sementara dokumen yang berkaitan dengan penduduk yang bertempat tinggal tetap diolah di BPS pusat, seluruh BPS propinsi, dan 9 kabupaten di Jawa. Sistem dan program perekaman sudah disiapkan oleh BPS pusat. Hasil perekaman data tersebut secara berjenjang dikirim ke BPS pusat melalui media elektronik. Kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan pembersihan, konsistensi data, dan tabulasi akhir dilakukan di BPS pusat. Hasil SP 2000 dikirim kembali ke daerah yang bersangkutan untuk dilaporkan kepada Pemda. Susenas 2006 merupakan survei tahunan yang dilakukan BPS untuk mengumpulkan data tentang keadaan kesejahteraan masyarakat, mulai dari pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, fasilitas dan keadaan perumahan, serta pengeluaran rumah tangga baik untuk makanan maupun nonmakanan. Pada tahun 2006, Susenas menggunakan kuesioner pokok (kor) untuk mengumpulkan informasi umum kesejahteraan dari 278 352 rumah tangga dan menggunakan kuesioner modul untuk mengumpulkan informasi rinci mengenai keadaan sosial, budaya, dan perumahan dari 68 800 rumah tangga (merupakan sub-sampel dari 278 352 rumah tangga). Pembagian kerja perekaman data diatur sebagai berikut: BPS kabupaten/kota merekam data kor, BPS provinsi merekam data kor yang berpasangan dengan modul, dan BPS pusat merekam data modul. Sistem dan program perekaman dibuat oleh BPS pusat. Hasil perekaman ini dikirim ke BPS pusat secara berjenjang melalui media eletronik. Setelah melalui proses pembersihan dan pengecekan konsistensi data, dan akhirnya tabulasi, hasil Susenas 2006 dikirim ke daerah yang bersangkutan untuk dilaporkan ke Pemda. 21

b. DDA Data sektoral yang dirangkum dalam penerbitan DDA kecamatan, DDA kabupaten/kota, DDA propinsi bahkan dalam Statistik Indonesia, atau dapat dikatakan sebagai DDA nasional, dikumpulkan secara independen dari data sekunder yang tersedia di instansi sektor pada tingkat wilayah yang sama. Pada era sentralisasi sistem pengumpulan data semacam ini tidak bermasalah karena semua kegiatan pendataan di lingkungan sektor diatur langsung oleh pusat, sehingga data tidak berbeda-beda. Sejak era otonomi karena ada ketersumbatan dan ketidakseragaman alur data--terkadang laporan dikirim lewat propinsi dan terkadang tidak-maka data yang disajikan dalam DDA di tingkat kabupaten/kota, propinsi dan Statistik Indonesia sering tidak konsisten. Telah ada upaya meneliti konsistensi data antara DDA kecamatan dalam lingkup suatu kabupaten dengan DDA kabupaten tersebut, seperti yang dijumpai dalam uji-coba studi di BPS Jeneponto. Dari BPS Provinsi Sulawesi Selatan juga dilaporkan bahwa mereka memeriksa konsistensi beberapa statistik yang terkait dengan MDGs di kabupaten yang dicakup dalam studi dengan isi DDA provinsi. Hasilnya memang tidak konsisten. Hasil pengumpulan data sektor dipublikasikan dalam DDA oleh BPS dengan oplah yang terbatas. Dengan tambahan dana dari Bappeda jumlah oplah ini dapat diperbanyak untuk memenuhi kebutuhan paling tidak para pengambil kebijakan di daerah. Hal ini sangat berarti bagi para pengambil kebijakan, mengingat bahwa instansi sektor di lingkungan Pemda jarang menyusun publikasi yang menyangkut data yang dihasilkannya. Oleh karena itu DDA menjadi tumpuan banyak pembuat kebijakan maupun masyarakat konsumen data terutama di daerah. Di satu pihak DDA menjadi tumpuan para konsumen karena menghimpun data yang tersedia di tingkat kabupaten, tetapi di lain pihak tidak semua jenis data yang dibutuhkan ada di dalamnya. Sebagai contoh, adalah data yang disajikan dalam DDA umumnya dalam bentuk data absolut, bukan indikator seperti yang dibutuhkan sebagian besar konsumen. Akibatnya untuk memantau dan mengevaluasi kemajuan pembangunan, konsumen data masih harus mengumpulkan data tambahan, khususnya data penduduk kelompok tertentu (sebagai rujukan sasaran program) yang 22

tidak tersedia di publikasi ini. Untuk itu diperlukan perubahan mendasar agar konsumen DDA dapat lebih dilayani kebutuhannya. Salah satu perubahan yang diperlukan adalah memasukkan data penduduk menurut golongan umur sesuai dengan sasaran program pembangunan. Di samping itu DDA akan lebih berdaya guna bila indikator-indikator yang penting juga disajikan. 1.7 Alur Data Sektoral yang Diusulkan Tim Sistem alur data sektoral yang menurut seluruh anggota tim, baik pusat maupun daerah, lebih baik diuraikan berikut. Usulan alur data didasarkan pada hasil sidang masing-masing kelompok di Makassar. Ada tujuh sektor usulan penyempurnaan--sesuai dengan jumlah sektor yang dicakup dalam studi--diusulkan dalam sidang pleno. Usulan penyempurnaan tersebut kemudian disempurnakan oleh tim pusat atau instansi sektor yang terkait. Pada makalah masing-masing sektor dalam bagian lain buku ini usul penyempurnaan alur data yang terkait akan disajikan. Dalam bagian pertama buku ini hanya akan dibicarakan usulan penyempurnaan alur data sektoral melalui DDA setelah dipadukan dengan usulan pihak sektor pusat dan daerah (lihat Diagram 1.1). Dalam gambar terlihat bahwa berbagai pihak mengharapkan agar data sektoral dari tingkat kabupaten/kota dikirimkan ke BPS kabupaten/kota. Kemudian baik BPS maupun sektor di kabupaten masing-masing bertanggung jawab meneruskan ke BPS dan pemerintahan pada jenjang di atasnya. Hasil studi menunjukkan adanya ikatan yang erat antara Bappeda, BPS, dan instansi di lingkungan Pemda. Adanya ikatan pihak sektor di tingkat kabupaten tersebut telah diakui oleh seluruh anggota tim daerah dengan didukung bukti lancarnya data yang diberikan kepada BPS kabupaten. Data yang diberikan ini umumnya telah disepakati dalam bentuk hard copy. Sebagian anggota tim daerah berpendapat bahwa pengiriman soft copy data mentah dari sektor ke BPS kabupaten belum perlu. Alasan yang dikemukakan adalah bahwa sepanjang data yang diberikan oleh instansi sektor dalam format yang sesuai dengan permintaan BPS kabupaten, maka hal ini sudah cukup memadai. Kemudahan ini tentu berkat dukungan 23

Pemda yang selalu melayangkan himbauan, dalam bentuk tulisan maupun lisan, agar instansi sektor di lingkungan Pemda membantu menyediakan data untuk diterbitkan BPS, mengingat bahwa tidak semua dinas mempublikasikan datanya. Pemerintah Pusat

BPS

Pemerintah Provinsi

Gubernur Sekda BPS Provinsi Bappeda Provinsi Dinas/Badan/ Kantor/SKPD

Pemerintah Kabupaten/Kota

Bupati/Walikota Sekda
BPS Kabupaten/Kota Bappeda Kabupaten/Kota Dinas/Badan/ Kantor/SKPD

Keterangan: = = = = Instruksi Koordinasi Administratif Urgensi Koordinasi Teknis Permintaan/Penyampaian Kegiatan ini sangat Data diperlukan guna

meningkatkan kualitas

Diagram 1.1: Sistem Alur Data yang Diusulkan Tim

24

Terbitan DDA di tingkat kabupaten maupun provinsi merupakan kumpulan berbagai jenis data sektoral dan melengkapi data untuk kepentingan sektor yang diperoleh dari sensus dan survei. Oleh karena itu, kegiatan ini dapat dikatakan sebagai embryo sistem pemantapan tugas BPS sebagai pusat rujukan statistik dalam menunjang desentralisasi. Dalam era desentralisasi pusat rujukan sebaiknya tidak lagi berada di BPS pusat tetapi didesentralisasikan di semua jenjang pemerintahan terutama tingkat kabupaten/kota. Simpul dalam diagram usulan penyempurnaan alur data DDA ada tiga kelompok besar, yaitu BPS, pemerintah pusat tanpa BPS (yang untuk selanjutnya disingkat sebagai pemerintah pusat), dan pemerintah daerah atau Pemda. BPS terdiri dari BPS pusat, BPS provinsi dan BPS kabupaten/kota, sementara itu Pemda ada dua, yaitu Pemda provinsi dan Pemda kabupaten/kota. BPS kabupaten/kota berkoordinasi dengan pimpinan Pemda, secara administrasi dengan bupati/walikota guna mendapat dukungan moral dan material serta koordinasi secara teknis dengan Bappeda untuk memilih prioritas jenis data yang dibutuhkan Pemda dalam perencanaan, pemantauan, dan evaluasi program pembangunan. Dengan bekal tersebut, BPS kabupaten/kota menyampaikan permintaan data kepada pihak instansi sektor di kabupaten/kota. Data yang diperoleh kemudian diolah di BPS kabupaten/kota dan hasilnya dipublikasikan dan soft copy datanya dikirim ke BPS provinsi dan BPS Pusat. Dengan prosedur yang sama BPS provinsi melakukan koordinasi dan permintaan data pada instansi serupa di tingkat provinsi. Hasil olahan data kemudian juga diterbitkan dan dikirim ke pusat. Selama ini pengiriman data sektoral dari BPS di tingkat bawah ke BPS tingkat di atasnya hanya dalam bentuk buku dan tidak untuk dimasukkan ke dalam DDA. Hal ini menyebabkan sering kali tidak konsistennya angka DDA provinsi dan angka DDA seluruh kabupaten/kota atau data dalam DDA nasional (Statistik Indonesia) dengan angka seluruh DDA provinsi. Oleh karena itu diusulkan untuk mengubah sistem pencatatan data sektoral dengan berbasis pada angka kabupaten/kota. Sebuah studi konsistensi data di Provinsi Kalimantan Timur menunjukkan bahwa ketidakkonsistenan terjadi karena data di tingkat provinsi dibuat dengan kurang cermat antara lain karena memakai data tahun sebelumnya atau data prediksi. 25

Bila saat ini BPS kabupaten/kota, dengan mendapat dukungan dari seluruh jajaran Pemda, mampu mengumpulkan, mengolah dan mengorganisasi data untuk wilayahnya, pertanyaan yang kemudian perlu diajukan adalah mampukah BPS kabupaten/kota menjadi pusat rujukan statistik di kabupaten kota? Apakah BPS kabupaten/kota mampu mengikuti perkembangan teknologi modern untuk mengolah dan mengirim data DDA ke provinsi dan pusat secara cepat? Jawabannya seharusnya ya sebab kalau pekerjaan sebesar SP 2000 saja telah dapat dilewati dengan baik, maka tentu pekerjaan yang lebih kecil seperti DDA dapat dengan baik pula dilakukan. Hal yang perlu diperlihatkan oleh BPS pusat adalah kesungguhan untuk tetap mendukung kegiatan tersebut dari sisi teknis dan administratif dengan prioritas tinggi. 1.8 Kesepakatan Usulan Indikator MDGs untuk Wilayah Kecil Dalam sidang pleno yang dihadiri seluruh anggota tim studi telah dibicarakan bahan tentang kebutuhan indikator MDGs untuk melihat pencapaian target pembangunan milenium. Pemaparan bahan tentang kebutuhan indikator untuk melihat sasaran global, nasional dan kemungkinan sasaran pembangunan daerah telah dilakukan oleh tim Sekretariat Kerja Sama BPS-Unicef untuk Monitoring MDGs dan anggota tim pusat dari masing-masing instansi sektor. Bahan tersebut kemudian didiskusikan masing-masing kelompok dan hasilnya dilaporkan dalam sidang pleno untuk mendapat persetujuan. Berikut disajikan indikator MDGs yang tidak disarankan dan yang ditambahkan untuk dipakai pada tingkat wilayah kabupaten dan kecamatan (lihat Lampiran 1.8). Pengurangan dan penambahan tersebut dilakukan terhadap indikator yang dipakai Bappenas (2004). Tujuan 1: Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan Target 1: Menurunkan proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya di bawah $1 per hari menjadi setengahnya antara th. 1990-2015. Indikator kemiskinan yang dipakai dalam pemantauan MDGs nasional (Bappenas, 2004) adalah a. proporsi penduduk yang hidup di bawah garis 26

kemiskinan nasional, dan b. kontribusi kuantil pertama penduduk berpendapatan terendah terhadap konsumsi nasional. Indikator ini dihitung berdasarkan data pengeluaran dan konsumsi penduduk yang hanya dapat menghasilkan angka kemiskinan pada tingkat provinsi. Oleh karena itu dua indikator tersebut tidak disarankan oleh anggota tim untuk dipakai pada tingkat kabupaten/kota dan kecamatan. Menurut mereka data pengeluaran dan konsumsi rumah tangga dalam skala besar dianggap sulit untuk dikumpulkan dari masyarakat, begitu pula kalau harus dihitung konversinya ke dalam dollar. Ada dua jenis indikator yang diusulkan menjadi proksi indikator kemiskinan, yaitu proporsi penduduk yang tergolong pra-sejahtera dan sejahtera I dari sektor KB dan proporsi rumah tangga yang termasuk fakir miskin. Indikator yang terakir ini, untuk sementara waktu, diperoleh dari pendataan Bantuan Langsung Tunai (BLT) sampai Depsos dapat memperbaharuinya dengan pendataan PMKS yang baku. Target 2: Menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya antara tahun 1990-2015 Ada dua indikator yang dipakai pada tingkat nasional untuk melihat pencapaian target kedua ini. Indikator yang pertama adalah proporsi Balita kurang gizi dan yang kedua proporsi penduduk yang berada di bawah garis konsumsi minimum (2100 kkal per kapita per hari). Dengan alasan kesulitan dalam pengumpulan datanya, indikator yang kedua tidak disarankan untuk dipakai pada tingkat kabupaten/kota dan kecamatan. Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua Target 3: Memastikan pada tahun 2015 semua anak di mana pun, laki-laki maupun perempuan, dapat menyelesaikan pendidikan dasar Ada enam indikator yang disepakati menjadi alat ukur target ketiga tersebut yang kesemuanya disepakati oleh anggota tim untuk diangkat pada tingkat kabupaten dan kecamatan, yaitu APM-SD, APM-SMP, proporsi siswa kelas 1 yang mencapai kelas 5, proporsi siswa kelas 1 yang dapat menamatkan sekolan dasar, proporsi siswa kelas 1 yang dapat 27

menyelesaikan 9 tahun pendidikan 9 tahun, dan angka melek huruf remaja usia 15-24 tahun. Bahkan karena pentingnya pendidikan untuk dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, maka banyak tambahan indikator yang diusulkan oleh tim, yaitu: a. Angka partisipasi anak di pendidikan pra-sekolah (4-6 tahun), b. Angka partisipasi sekolah anak cacat, c. Angka kelulusan di pendidikan dasar, d. Angka putus sekolah, e. Angka melanjutkan ke SMP, dan f. Angka melanjutkan di SMA.

Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan perempuan Target 4: Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan pada tahun 2005 dan di semua jenjang pendidikan tidak lebih dari tahun 2015 Hanya satu dari beberapa indikator untuk mengukur keberhasilan target yang keempat ini, yaitu proporsi kursi DPR yang diduduki perempuan yang tidak dapat diterapkan pada tingkat kecamatan, karena badan legislatif ini hanya sampai pada tingkat kabupaten/kota. Oleh karena itu tim telah mengusulkan beberapa indikator sebagai cermin dari hasil upaya kegiatan yang terkait dengan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, yaitu: a. Presentase lurah/Kades perempuan, b. Presentase camat perempuan, c. Presentase perempuan dalam keanggotaan Baperjakat, d. Rasio pejabat perempuan di kantor kecamatan, e. Persentase perempuan sebagai pengurus partai, f. Persentase perempuan sebagai pengurus Orsos, dan g. Presentase peserta KB perempuan dibanding laki-laki. 28

Tujuan 4: Menurunkan Angka Kematian Anak Target 5: Menurunkan angka kematian Balita sebesar dua pertiganya, antara th. 1990-2015 Ada tiga indikator yang diusulkan Bappenas (2004) untuk tingkat nasional. Indikator tersebut adalah angka kematian bayi, angka kematian Balita, dan persentase anak di bawah satu tahun yang diimunisasi campak. Indikator angka kematian bayi maupun anak sulit diukur pada wilayah kecamatan, oleh karenanya ada beberapa proksi indikator yang diusulkan untuk menggantikannya, yaitu: a. Jumlah kematian bayi/ Balita (untuk perbandingan antar-tahun), b. Presentase Balita KEP, c. Presentase pemberian vitamin A pada Balita, d. Persentase rumah tangga yang mengkonsumsi garam beryodium, e. Proporsi anak yang diimunisasi campak <2 tahun, dan

f. Persentase pemberian vit A pada Balita.


Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu Target 6: Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempatnya antara tahun 1990-2015 Seperti juga dengan kematian anak, sulit untuk mendapatkan data angka kematian ibu, oleh karena itu tim menyarankan untuk menggunakan indikator proksi, yaitu: a. Status gizi WUS, b. Status gizi wanita hamil, c. Pemberian tablet Fe untuk wanita hamil, d. Persentase kunjungan K4, e. Pesentase remaja yang mendapat penyuluhan mengenai kesehatan reproduksi, dan f. Persentase perempuan usia subur yang memakai alat kontrasepsi.

29

Tujuan 6: Memerangi HIV/ AIDS, Malaria, dan Penyakit Menular lainnya Target 7: Mengendalikan penyebaran HIV/AIDS dan mulai menurunnya jumlah kasus baru pada tahun 2015 Dari empat indikator yang disarankan dipakai pada tingkat nasional (Bappenas, 2004), hanya dua yang disetujui tim untuk digunakan pada tingkat wilayah kecil, yaitu a. penggunaan kondom oleh para pemakai kontrasepsi, dan b. persentase anak muda usia 15-24 tahun yang mempunyai pengetahuan yang komprehensif tentang HIV/AIDS. Namun demikian tim beranggapan bahwa untuk wilayah kecil diperlukan indikator untuk mengukur penyakit menular HIV/AIDS, yaitu prevalensi HIV/AIDS untuk semua penduduk tidak hanya kelompok ibu hamil seperti yang dipakai pada tingkat nasional. Target 8: Mengendalikan penyakit malaria dan mulai menurunnya jumlah malaria dan penyakit lainnya Indikator yang berkaitan dengan jumlah kasus dan kematian karena penyakit malaria telah disetujui oleh tim. Sementara itu indikator untuk pencegahan efektif untuk penyakit ini tim mengusulkan pemakaian proporsi anak Balita tidur menggunakan kelambu yang direndam insektisida sebagai proksi indikator. Di samping itu tambahan indikator lainnya adalah proporsi anak Balita dengan gejala klinis malaria yang menerima pengobatan anti malaria. Dalam diskusi selanjutnya mengenai indikator untuk mengukur pengendalian penyakit menular lainnya, tim umumnya tidak berkeberatan terhadap indikator nasional yang dipakai. Sementara itu mengingat jenis penyakit di Indonesia yang berbeda, maka berikut adalah usulan indikator tambahan yang disepakati tim untuk mengukur pencapaian MDGs di tingkat kabupaten/kota dan kecamatan: a. b. c. d. e. f. g. h. 30 Prevalensi kasus tuberculosis, Angka penemuan penderita tuberculosis BTA positif baru, Angka kesembuhan tuberculosis yang diobati dengan DOTS, Prevalensi kusta, Insiden BDB (demam berdarah dengue), Presentase case fatality rate (CFR) diare, Persentase positif lyssa (rabies), dan Insiden avian flu.

Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup Target 9: Memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional Di antara tujuh indikator yang disarankan untuk menyusun indikator nasional, menurut tim ada tiga indikator yang tidak cocok digunakan pada lingkup wilayah kecil, yaitu energi yang dipakai per PDB, emisi CO2, dan konsumsi zat perusak ozon. Sebagai tambahan indikator tim mengusulkan: a. Rasio luas kawasan lindung terhadap luas daratan, b. Rasio hasil kegiatan reboisasi terhadap hutan yang perlu direhabilitasi/ reboisasi, c. Pencemaran udara, d. Pencemaran air, e. Persentase pabrik yang memenuhi baku mutu air limbah, f. Pemakaian pupuk kimia per hektar lahan, dan g. Pemakaian pupuk kimia per hektar per jenis tanaman pertanian. Target 10: Penurunan sebesar separuh, proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada 2015 Dua indikator yang berkaitan dengan akses penduduk terhadap air minum dan sanitasi dapat diterima tim sebagai indikator pada tingkat kabupaten/kota dan kecamatan yang mudah diperoleh melalui survei. Tambahan indikator yang diusulkan tim adalah persentase rumah tangga yang membuang sampah di lubang yang tertutup dan persentase rumah tangga yang berumah tidak layak huni. Target 11: Mencapai perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduduk miskin di permukiman kumuh pada tahun 2020

Indikator yang dipakai untuk mengukur pencapaian target 11 diharapkan dapat memberi gambaran tentang terjaminnya kehidupan penduduk di pemukiman kumuh. Untuk itu indikator yang dipakai untuk tingkat nasional disempurnakan sehingga menjadi proporsi rumah tangga dengan status 31

rumah milik sendiri, kontrak, dan sewa. Penambahan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa sistem perjanjian sewa yang saat ini cenderung tidak lagi dipakai dan lebih banyak dilakukan dengan sistem kontrak. Di samping itu penambahan indikator dari Depsos yaitu persentase rumah tangga yang tinggal di kawasan bencana dapat dimasukkan dalam Target 11. 1.9 Kesimpulan Studi Berdasarkan ringkasan hasil studi dapat disimpulkan bahwa banyak persamaan masalah alur data yang dicatat oleh instansi sektor yang teridentifikasi. Masalah tersebut menjadi hambatan yang sangat berarti bagi kelancaran arus informasi tentang keadaan di daerah dari produsen data di lingkungan Pemda sampai ke pusat. Hambatan tersebut terjadi karena terputusnya garis komando tentang alur data yang telah berubah menjadi garis koordinasi setelah adanya otonomi daerah. Koordinasi akan berjalan baik apabila semua pihak yang menjadi simpul alur data menyadari akan pentingnya data bagi semua pihak di tingkat kabupaten, provinsi, maupun di tingkat pusat. Upaya menyambung kembali garis komando telah dilaksanakan oleh instansi sektor Depdiknas melalui KK-Datadik dan hasilnya mulai terlihat nyata. Hal seperti ini telah pula mulai dirintis oleh Depsos dan KNLH dengan memperkenalkan instrumen, konsep, dan definisi yang dibakukan agar data yang diperoleh dapat diperbandingkan. BPS yang bergerak di bidang perstatistikan dan bertanggung jawab atas penyediaan data bagi pemerintah masih tetap dapat mempertahankan garis komando alur datanya karena statusnya yang tetap vertikal setelah diberlakukannya otonomi daerah. Dalam melakukan kegiatan ini BPS didukung dengan organisasi, anggaran, teknologi informasi dan sumber daya manusia yang lumayan trampil walaupun tidak memadai jumlahnya. Hal yang terakhir disebutkan ini karena banyaknya pemekaran wilayah dan pemerintah tidak memberikan kesempatan pada BPS untuk mengangkat pegawai sesuai dengan percepatan pemekaran, sehingga jumlah pegawai terus menerus secara relatif menurun.

32

Berikut disajikan butir-butir hasil studi yang secara umum terjadi di berbagai sektor: a. Di samping menyangkut sumber daya manusia yang diduga menjadi hambatan terhadap kualitas dan keterlambatan data yang dicakup, peralatan dan dana yang kurang memadai juga menjadi sebab terlambatnya laporan. b. Apresiasi terhadap kegiatan statistik dan pemanfaatan data sektoral untuk kebijakan masih rendah. c. Di daerah studi, tidak ada unit kerja yang khusus menangani pengelolaan data, sehingga tidak ada unit yang bertanggung jawab penuh atas terhimpunnya data dan informasi di dinas. d. Penerimaan laporan hasil pendataan dari propinsi ke pusat sering terlambat, karena banyak di antara sektor di kabupaten yang enggan mengirim laporan ke propinsi, lagi pula mereka belum memanfaatkan media elektronik. Kalau data dapat dikirim langsung dari kabuparen ke pusat dan propinsi sekaligus, maka jalur birokrasinya pendek. e. Ada hambatan dalam menyajikan indikator pada tingkat kecamatan, di antaranya karena masalah perbedaan antara cakupan data dengan batas wilayah administrasi, masalah lewat cacah, dan ketersediaan data penduduk sasaran program. f. Tidak semua indikator MDGs yang digunakan pada tingkat global, nasional dan propinsi dapat diterapkan di tingkat kabupaten dan kecamatan. Oleh karena itu diusulkan beberapa indikator baru yang dirasa lebih cocok.

1.10 Usulan Tindak Lanjut a. Guna membantu pemerintah daerah merencanakan, memantau, dan mengevaluasi program-program pembangunan yang didasarkan pada fakta di lapangan, diperlukan suatu kegiatan advokasi kepada para pejabat di tingkat kecamatan dan kabupaten dalam hal pemanfaatan data. Untuk itu, kegiatan pengembangan kapasitas terhadap staf di tingkat kabupaten dan kecamatan di bidang pengelolaan data sektoral perlu dilakukan secara berkesinambungan. 33

b. Pengelolaan data perlu disempurnakan agar data yang diperlukan untuk penyusunan kebijakan dapat disediakan secara baik dan berkesinambungan pula. Karenanya di setiap dinas sangat perlu dibentuk unit kerja yang khusus menangani data. Sebuah peraturan daerah atau surat keputusan tentang pendataan sebagai payung hukum sangat diperlukan, agar kegiatan tidak terhenti karena pergantian pejabat atau penguasa daerah. c. Suatu pengelolaan data akan berjalan dengan tepat dan cepat bila antara lain dilakukan dengan cara komputerisasi. Hal ini perlu dilakukan di tingkat kabupaten maupun di tingkat sumber data, yaitu kecamatan. d. Data penduduk sasaran program perlu secara tahunan disediakan oleh BPS dengan menyajikannya dalam penerbitan DDA. e. Sistem alur data sektoral di semua kabupaten/kota perlu dibangun kembali agar pemerintah pusat dapat selalu memperoleh atau dapat mengakses bahan masukan tentang kondisi di seluruh daerah secara cepat dan akurat untuk perencanaan, pemantauan, dan evaluasi di tingkat pusat. 1.11 Daftar Pustaka UU No. 16 Tahun 1977 tentang Statistik PP No. 51 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Statistik Bappenas. 2004. Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals). Bappenas, Jakarta. Surbakti, Soedarti, 2005. Review of Indicators and Identification of Statistical Data Use in Regional Planning. BPS-UNFPA, Jakarta. ------------------------, 2006. Upaya Pemantauan dan Evaluasi Program Pelayanan Sosial Ibu dan Anak Melalui Indikator Pembangunan Milenium di Indonesia. BPS, CIDA, dan Unicef, Jakarta

34

Lampiran 1.1

Daftar Nama Satuan Kerja Perangkat Daerah Tingkat Kabupaten yang Dicakup dalam Studi

Sulawesi Selatan
No.
1. 2. 3. Pendidikan

Bidang
Kemiskinan

Bantaeng
BPS kabupaten Dinas Sosial Dinas Pendidikan Nasional

Takalar
BPS kabupaten Dinas Sosial dan Kesatuan Bangsa Dinas Pendidikan dan Pengajaran

Bone
BPS kabupaten Badan Kesejahteraan Sosial Dinas Pendidikan Kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga Dinas Kesehatan Dinas KB dan Keluarga Sejahtera Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bapedalda

4. 5.

Kesehatan KB dan Keluarga sejahtera Kehutanan

Dinas Kesehatan Dinas KB, Kependudukan, dan Catatan Sipil Dinas Kehutanan, Perkebunan, dan Lingkungan Hidup Dinas Kehutanan, Perkebunan, dan Lingkungan Hidup

Dinas kesehatan Dinas KB

6.

Dinas Pertanian (Sub-Bidang Kehutanan) Dinas Tata Ruang, Kebersihan dan LH

7.

Lingkungan Hidup

Sulawesi Barat
No.
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Bidang
Kemiskinan

Polman
BPS kabupaten

Mamuju
BPS kabupaten Dinas KB, Kesos, dan Perlindungan Masyarakat Dinas Pendidikan Nasional Dinas Kesehatan Dinas KB, Kesos, dan Perlindungan Masyarakat Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kantor Pengendalian Dampak LH

Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat, dan Tenaga Kerja Pendidikan Dinas Pendidikan Kesehatan Dinas Kesehatan dan KB KB dan keluarga Dinas Kesehatan dan KB sejahtera Kehutanan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Lingkungan Kantor Lingkungan Hidup Hidup

35

Lampiran 1.2

Daftar Nama Penanggung Jawab Teknis Studi Alur Data Sektoral Pusat dan Daerah

No. 1 2 3

Nama Dr. Soedarti Surbakti Ade Cahyana, M.Sc. Dr. Bambang Hartono S.K.M., M.Sc.

Jabatan Koordinator Kepala Pusat Statistik Pendidikan Kepala Pusat Data dan Informasi Kesehatan Kepala Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial Plt. Direktur Pelaporan dan Statistik Asdep Urusan Data dan Informasi Lingkungan Kepala Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan Direktur Sistim Informasi Statistik Direktur Diseminasi Statistik Kepala Bidang Statistik Sosial Kepala Bidang Statistik Sosial

Instansi BPS Depdiknas Depkes

Drs. Bambang Ipujono, M.Si.

Depsos

Drs. Freddy Aritonang, M.M.

BKKBN

Dra. Siti Aini Hanum, M.A.

KNLH

7 8 9 10 11

Ir. Basoeki Karya Atmadja M.Sc. Gema Purwana, S.E. Drs. Abdul Rahman Ir. Hj. Diah Utami, M.Sc. Dadang Hardiwan, S.Si., M.Si.

Dephut BPS BPS BPS Propinsi Sulsel BPS Propinsi Sulbar

36

Lampiran 1.3

BPS

STUDI ALUR DATA SEKTORAL


[Rangkap 2]

I. PENGENALAN TEMPAT
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Propinsi Kabupaten Nama instansi Nama responden Pangkat/jabatan responden Alamat kantor/instansi Nomor telephone/fax

II. INVENTARISASI KEGIATAN PENGUMPULAN DATA


1. Apakah melakukan pengumpulan data melalui survei yang bersifat rutin? 1 Ya 2 Tidak [ke pertanyaan 3] Jika Ya, jenis dan nama survei yang bersifat rutin, apa saja? Siapa Nama Survei Rutin responden

2. No.

Jumlah sampel

Penyelenggara

3.

Apakah melakukan pengumpulan data melalui survei yang bersifat tidak rutin? 1 Ya 2 Tidak Jika Ya, jenis dan nama survei yang bersifat tidak rutin, apa saja? Nama Survei Tidak Rutin Siapa responden Jumlah sampel Penyelenggara

4. No.

37

Lampiran 1.3 (Lanjutan)


5. 6. No. Apakah melakukan pengumpulan data melalui pencatatan administrasi yang bersifat rutin? 1 Ya 2 Tidak Jika Ya, jenis data apa saja? Jenis Pendataan/Pencatatan yang Rutin Siapa/apa yang dicatat Jumlah dokumen Penyelenggara

7.

Apakah melakukan pengumpulan data melalui pencatatan administrasi yang bersifat tidak rutin? 1 Ya 2 Tidak Jika Ya, jenis pendataan apa saja? Jenis Pendataan/Pencatatan yang Tidak Rutin Siapa/apa yang dicatat Jumlah dokumen Penyelenggara

8. No.

9.

Apakah ada unit kerja yang khusus menangani data? 1 Ya 2 Tidak

[ke pertanyaan 10]

Jika Ya, unit apa namanya? .....................................................................................................

Berapa jumlah tenaganya? 10.

......... orang

Kalau tidak ada di mana data dikelola?................................................................. Apakah ada petugas khusus yang menangani data? 1 Ya 2 Tidak 3. Tidak tahu Jika Ya, berapa jumlah tenaganya? ........ orang Jika dilakukan di luar instansi/dinas kabupaten/kota, siapa pelaksananya? Jelaskan: ................................................................................................... Sebutkan jenis pendataan/pencatatan yang menghasilkan indikator Sebutkan Indikator MDGs: MDGs a. .............................................................................................................. ............................... b. .............................................................................................................. ............................... c. .............................................................................................................. ............................... d. ............................................................................................................... ............................... Apakah ada kegiatan pengumpulan data yang terkait dengan indikator MDGs tersebut sama? a. ........................................................................... 1 Ya 2 Tidak b. ........................................................................... 1 Ya 2 Tidak c. ........................................................................... 1 Ya 2 Tidak d. .............................................................................. 1 Ya 2 Tidak Apakah ada kegiatan pengolahan data yang terkait dengan indikator MDGs tersebut sama? a. .......................................................................... 1 Ya 2 Tidak b. .......................................................................... 1 Ya 2 Tidak c. .......................................................................... 1 Ya 2 Tidak d. .......................................................................... 1 Ya 2 Tidak Apakah ada kegiatan analisis data yang terkait dengan indikator MDGs tersebut sama? a. ................................................................................. 1 Ya 2 Tidak b. .................................................................................. 1 Ya 2 Tidak c. ................................................................................. 1 Ya 2 Tidak d. ................................................................................. 1 Ya 2 Tidak

11.

12.

13.

14.

38

Lampiran 1.3 (Lanjutan)


III. PENDATAAN/PENGUMPULAN DATA ADMINISTRASI (PER PENDATAAN)
1. 2. 3. Instansi/Sektor: ............................................................................................................................. Nama indikator MDGs apa saja: ................................................................................................. Nama unit pelayanan penghasil data:: ......................................................................................... Apakah kegiatan yang terkait dengan MDGs merupakan: 1. Kegiatan lama sebelum otonomi 3. Kegiatan baru sesudah otonomi 2. Kegiatan lama yang dimodifikasi 4. Lainnya (jelaskan:...........................................) Siapa yang menyiapkan instrumen untuk kegiatan tersebut? 1. Pusat 3. Kabupaten 2. Propinsi 4. Lainnya (jelaskan: ............................................) Siapa yang melakukan pencatatan? 1. Institusi unit pelayanan/unit kerja terkecil Siapa/apa yang dicatat? 1. Penerima pelayanan 2. Lainnya (jelaskan:............................................) 2. Lainnya (jelaskan:............................................)

4.

5. 6. 7.

Apakah pada kegiatan pengumpulan data yang terkait dengan MDGs mencakup rincian menurut: 1. Jenis kelamin 1 Ya 2 Tidak 2. Umur 1 Ya 2 Tidak 3. Tempat tinggal 1 Ya 2 Tidak 4. Status ekonomi 1 Ya 2 Tidak Siapa dalam unit pelayanan yang mengumpulkan data/mencatat statistik? 1. Pegawai tetap yang khusus mengumpulkan data 3. Tenaga honorer 2. Pegawai tetap yang tidak khusus 4. Tenaga mitra mengolah data 5. Lainnya (jelaskan:........................) Apakah petugas pengumpul data statistik mendapat pelatihan sebelumnya? 1 Ya 2 Tidak Apakah bentuk penyusunan data statistik telah dibakukan? 1. Ya, berupa daftar isian 3. Tidak 2. Ya, berupa narasi/data kualitatif 4. Lainnya (jelaskan:..........................................) Berapa lama proses pengumpulan data statistik di unit pelayanan .............. minggu

8.

9. 10.

11. 12.

Siapa yang ditugasi dinas di kabupaten untuk mengumpulkan data statistik dari unit pelayanan/unit kerja terkecil? 1. Pegawai tetap yang khusus mengumpulkan data 3. Tenaga honorer 2. Pegawai tetap yang tidak khusus 4. Tenaga mitra mengolah data 5. Lainnya (jelaskan:...............................) Apakah ada biaya untuk proses pengumpulan data statistik di unit pelayan/unit kerja terkecil? 1 Ya 2 Tidak Bila Ya dari mana saja biaya tersebut diperoleh? ....................................................................... Menurut petugas, apa ada kesulitan dalam proses pengumpulan data statistik? 1 Ya 2 Tidak Jika Ya , apa saja kesulitannya? (Jelaskan:.....................................................................................................................................) Menurut saudara, apa saja saran perbaikan untuk proses pengumpulan data statistik? ......................................................................................................................................................... .........................................................................................................................................................

13. 14. 15. 16. 17.

39

Lampiran 1.3 (Lanjutan)


IV. PELAKSANAAN PENGOLAHAN DATA LAPORAN STATISTIK (PER PENDATAAN)
1. 2. Apakah ada petugas khusus yang mencatat penerimaan data statistik dari petugas pengumpul data? Apakah dilaksanakan perekaman data? Bila Ya, apa ada unit khusus yang ditugasi? 3. 4. 5. Sistem perekaman data yang dilakukan 1 Ya 1 Ya 1 Ya 1 Komputer 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Manual

Bila menggunakan unit komputer, berapa banyak unit komputer yang digunakan? ............. unit Apakah ada petugas khusus pengolah data? 1. Pegawai tetap yang khusus mengolah data 3. Tenaga honrer 2. Pegawai tetap yang tidak khusus 4. Tenaga mitra mengolah data 5. Lainnya skan:..................................) Berapa banyak petugas yang melaksanakan pengolahan data? Berapa lama dilaksanakannya pengolahan data? Apakah petugas pengolahan mendapatkan pelatihan terlebih dahulu? 1 Ya Apakah ada biaya untuk proses pengolahan datanya? 1 Ya ............orang ........ minggu 2 Tidak 2 Tidak

6. 7. 8. 9.

10.

Bila Ya, dari mana saja biaya pengolahan data tersebut diperoleh? .................................................................................................................................................... Bila menggunakan komputer, siapa yang menciptakan/menyiapkan program perekaman data? 1. Pusat 3. Kabupaten 2. Propinsi 4. Lainnya (jelaskan: ...............................................) Bagaimana sistem pengiriman data/dokumen hasil pengolahan? 1. Kirim melalui Pos (Disket/CD), hard copy 2. Menggunakan Internet 3. Fax 4. Diantar langsung 5. Tidak dikirim 1 1 1 1 1 Ya Ya Ya Ya Ya 2 2 2 2 2 Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak

11.

12.

Dalam bentuk apa hasil dari pengolahan ini? 1. Data elektronis individu 2. Data elektronis agregat 3. Tabulasi 4. Lainnya (jelaskan: ....................................................)

1 Ya 1 Ya 1 Ya 1 Ya

2 2 2 2

Tidak Tidak Tidak Tidak

13.

Apakah hasil kegiatan pengolahan data yang terkait dengan MDGs dirinci menurut: 1. Jenis kelamin 1 Ya 2 2. Kelompok umur 1 Ya 2 3. Tempat tinggal 1 Ya 2 4. Status ekonomi 1 Ya 2

Tidak Tidak Tidak Tidak

14. 15. 16. 17.

Berapa persen tingkat pemasukan datanya pada setiap periode pengumpulan? .........persen Menurut petugas pengolah data, apa ada kesulitan dalam proses pengolahan? 1 Ya 2 Tidak Jika Ya, apa saja kesulitan tersebut? Uraikan: ............................................................. Menurut saudara apa saja saran perbaikan dalam pengolahan? ....................................

40

Lampiran 1.3 (Lanjutan)


V. PENYUSUNAN INDIKATOR MDGs, ANALISA, DAN PUBLIKASI (PER PENDATAAN)
1. Apakah di Dinas Kabupaten dilakukan penghitungan indikator MDGs? 1. Ya 2. Tidak Bila tidak, dimana dilakukan penghitungan indikator MDGs? 1. Pusat 3. Lainnya (jelaskan: ................................. 2. Propinsi .............................................................) Untuk menyusun indikator, apakah data yang diolah dari laporan statistik sudah cukup memadai untuk menyusun pembilang dari indikator MDGs? 1. Cukup 3. Tidak sama sekali (sebutkan: 2. Tidak (hanya sebagian pembilang/penyebut) .........................................................) Kalau tidak cukup dari mana saja diperoleh agar pembilang menjadi cukup, jelaskan: ................................................................................................................................................. Dari mana diperoleh angka penyebut? 1. BPS 4. Mengumpulkan dari lapangan 2. Dinas kependudukan 5. Lainnya (jelaskan: .............................. 3. BKKBN ...........................................................) Apakah indikator yang dihasilkan dari penghitungan pembilang dibagi penyebut dapat dipilah menurut: 1. Jenis kelamin 1 Ya 2 Tidak 2. Kelompok umur 1 Ya 2 Tidak 3. Tempat tinggal 1 Ya 2 Tidak 4. Status ekonomi 1 Ya 2 Tidak Siapa saja yang membutuhkan indikator-indikator tersebut? 1. Instansi internal 2. Pemda/BAPPEDA 3. Dinas Kabupaten/kota 4. Dinas Propinsi 7. 1 Ya 1 Ya 1 Ya 1 Ya 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak

2.

3. 4.

5.

6.

5. Lainnya ( jelaskan: ..........................................) 1 Ya Dimana dilaksanakan proses penulisan publikasi? 1. Pusat 1 Ya 2. Dinas propinsi 1 Ya 3. Dinas kabupaten 1 Ya 4. Lainnya (jelaskan: ......................................) 1 Ya

8. 9. 10. 11. 12. 13. 14.

Apakah ada petugas khusus yang melaksanakan kegiatan analisa data? 1 Ya 2 Tidak Apakah petugas analisa data mendapatkan latihan penulisan analisis terlebih dahulu? 1 Ya 2 Tidak Berapa lama dilaksanakannya penulisan analisis: Berapa banyak petugas yang melaksanakan penulisan analisis Apakah ada biaya untuk proses penulisan? 1 Ya 2 Tidak Bila Ya, dari mana saja biaya penulisan itu diperoleh? ................................................................................................................................................. Dalam proses analisa, indikator-indikator apa saja yang dianalisis? ................................................................................................................................................. ........ minggu ............orang

..

41

Lampiran 1.3 (Lanjutan)


15. Siapa saja yang membutuhkan analisis tersebut? 1. Instansi internal 1 2. Pemda/BAPPEDA 1 3. Dinas Kabupaten/kota 1 4. Dinas Propinsi 1 5. Lainnya ( jelaskan: ..........................................) 1 Ya Ya Ya Ya Ya 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak

16. 17.

Apakah hasil analisis tersebut dicetak dalam bentuk publikasi? 1 Ya Berapa banyak publikasi yang dihasilkan/dicetak

2 Tidak ........... buah

Sebutkan nama-nama publikasinya: ....................................................................................... 18. Kemana saja publikasi tersebut didistribusikan? 1. Instansi pusat 1 2. Instansi propinsi 1 3. Seluruh instansi di kabupaten/kota 1 4. Lainnya (jelaskan:.......................................) 1

Ya Ya Ya Ya

2 2 2 2

Tidak Tidak Tidak Tidak

19. 20. 21.

Menurut petugas analisis, apa ada kesulitan dalam proses penulisan tersebut? 1 Ya 2 Tidak Jika Ya, jelaskan kesulitan penulisan publikasi tersebut? .............................................................................................................................................. Menurut saudara apa saja saran perbaikan untuk proses penulisan publikasi? ..............................................................................................................................................

VI. ALTERNATIF ALUR DATA SEKTORAL


1. 2. Apakah saudara pernah mendengar bahwa BPS Pusat/Propinsi/Kabupaten mengumpulkan data jenis ini? 1 Ya 2 Tidak Menurut saudara data yang paling akurat untuk dikirim ke BPS berasal dari mana? 1. Unit pelayanan 3. Dinas propinsi 2. Dinas Kabupaten 4. Departemen/Pusat Menurut saudara data yang dikirim tersebut adalah: 1. Data dasar 2. Data rekap 3. Tabel 4. 5. 1 Ya 1 Ya 1 Ya 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak

3.

4. Lainnya (jelaskan:.................................) 1 Ya 2 Tidak Menurut saudara dalam bentuk apa data tersebut dikirim? 1. Dokumen/kertas 2. Data elektronik Menurut saudara data tersebut perlu dikirim ke BPS? 1 Ya 2 Tidak Bila Ya data tersebut dikirim ke mana? 1. Pusat 2. Propinsi 3. Kabupaten Apakah BPS pernah meminta data sektoral untuk penyusunan daerah dalam angka? 1 Ya 2 Tidak Apakah BPS dapat memperoleh data dalam bentuk: Data mentah 1 Ya Data agregat 1 Ya Publikasi 1 Ya Lainnya (........................................ ...........) 1 Ya 2 2 2 2 Tidak Tidak Tidak Tidak

6. 7.

42

Lampiran 1.4

Daftar Nama Peserta Rapat di Kantor Bupati Jeneponto


No. (1) N a m a (2) Instansi (3)

01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34.

Wuriyanto N. Fify Joseph Uskar Baso M. Natsir R. Djohan Syamsuddin L. Amir Sarifuddin Din Hajad Kurniawan Kamaluddin Wahab Dr. Soedarti Surbakti Purwo Handoko Maulyani Djajadilaga Dadang Herdiwan Lucky Prakoso Prayitno Guruh Wahyu Diah Utami Lilies Listiowaty Ashfiani Tashan La Ode Syafiuddin, M.Sc. A. Muh Yusuf M. Ilyas Abd. Rakhman, S. Sos. Bheta Tharnkamol S. Machjati Hitima Wardhani Husain H. Muh Mukhtaf Patau Zainuddin Arifin Kammu Marthina Kondorum Suciati S.M. Andi Yemi

Unicef Unicef Makassar Dinas Pendidikan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabid Litbang-Bappeda Kebersihan Kasubag Pembuatan Program Dinas kependudukan, Capil, dan KKB Kabid Fispra-Bappeda Koordinator Studi (BPS) BPS Sulbar KNLH BPS Sulbar Depsos Depdiknas BPS Sulsel BPS Sulsel Bappeda Sulbar Bappeda Sulbar Sekretariat Unicef-BPS Bappeda Bappeda Dinas Pendidikan Unicef Unicef Depkes BKKBN Kasi Perekonomian Lingkungan Hidup Sosial Kantor Ketahanan Pangan & Penyuluhan Dinas Pertanian Daerah Bappeda propinsi/Bidang Kesos Bappeda

43

Lampiran 1. 5

Daftar Nama Narasumber di Kabupaten Jeneponto

No.
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. H. Arifin, S.K.M.

N a m a

Sektor

H. Sudirman, S.K.M., M.Kes. Rahmi, S.K.M. Baso Lalo Zainudin, Drs.

Kesehatan

Kehutanan

Kesejahteraan Sosial Rasyid Paulus, S.H. Dr. Hasanuddin, M.Pd. H. Jabar Tanto Samsubair, S.E. Ir. Muchtar Patau Abd. Haris S.E. LH Statistik Pendidikan KB

44

Lampiran 1.6

Daftar Nama Narasumber di Kabupaten Takalar

No.
1. 2. 3. 4. 5. 6.

N a m a
Dr. A. Munir, M.Kes. Ir. Suhady W.S. Hj. Rusmaidah Drs. Kaharudin Eddy Poernomo Usman, S.E. Kesehatan Kehutanan Sosial KB LH Statistik

Sektor

45

Lampiran 1.7
Daftar Nama Responden Uji Coba Data Sektoral
No. Sulawesi Selatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Dinas KB Dinas Tata Ruang, LH dan Kebersihan Dinas Kehutanan Perkebunan dan LH Bapedalda Dinas Kehutanan, Perkebunan dan LH Bapedalda Provinsi Bapedalda Provinsi Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan BKKBN Provinsi Dinas KB dan Keluarga Sejahtera Dinas Kesejahteraan Sosial Badan Kesos dan Linmas Dinas Kesos Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Kesos dan Kesbang Bappeda Bappeda Bappeda Takalar Dinas Kehutanan Dinas Kesehatan Tk. I Kaharudin Mahmud Eddy Poernomo Belluano Isrun Hamid, S.Hut. Drs. H. Naris Patha Muchtar Patau A. Isma Muhammad Fadullah H. Muhammad Dahniar Drs. H. Ridwan, M.Hd. Muhammad Tahir, S.E. Abdillah, S.E. Drs. Jamaris Drs. A. Gunadil Ukra, M.M. Suandi, S.E. Dra. Hj. Rosnaedah Ir. Anwar Hamido, M.Si. Andi Gunawan Faisal Sahing Hariani Samal, S.Hut., M.Si. Rosmiati Kabid Ikap Penata Tk. I/Kasi Amdal Staf Subdin LH Sekretaris Kepala Bidang LH Kasubdit SDM Staf Bag. Program Penata Tk.I/Kasubag Program Pembina IVa/Staf Penata Tk. I/Kasi PPID Ka. Subdin Ikap Staf Subag Perencanaan Pembina/Kabag TU Kasi PKT Pembina/Kabid Tata Usaha Kasubid Kesehatan Staf Sosek Kasubid Jasa Staf Subag Program Penata Muda Tk. I Instansi Nama Responden Jabatan

Sulawesi Barat 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan Kependudukan Dinas KB Kesos dan Perlindungan Masyarakat BKKBN Provinsi Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil Dinas Kesehatan/KB Badan Kesejahteraan Sosda Dinas KB, Kesos dan Perlindungan Masyarakat Dinas Sosial Dinas Kesehatan Provinsi Dinas Kesehatan Provinsi Dinas Kesehatan Muh. Muhram R., S.Pd. Abd. Rahman M., S.E. Juniar, S.E. Adam Malik Fajar, S.E. A. Angu Fatimah M. Akbar Sidrah, S.Pd. St. Fifi Samsam, S.E., M.M. Marwah Andi Teluri Bulaeng Wahyuddin Hj. Mudra S. Pengatur Muda II a Staf Perencanaan Kasubag Program & Keuangan Staf Penata Muda III/A Staf Staf III/A Kasi Kependudukan, Penata Tk.I Kasubag Perencanaan Staf Kasie Yayasan Pahlawan Staf Staf Kesga Staf Perencanaan Dinkes Pengelola Gizi

46

Lampiran 1.8 Rangkuman Usulan Indikator MDGs Tingkat Kabupaten dan Kecamatan
INDIKATOR MDG Tujuan 1: Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan Target 1: Menurunkan proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya di bawah $1 perhari menjadi setengahnya antara th. 1990-2015 Proporsi penduduk yang termasuk dalam kategori pra 1 sejahtera dan sejahtera I (yang disepakati masyarakat) 2 Proporsi penduduk yang kualitas hidupnya rendah (fakir miskin) Kabupaten Kecamatan Sumber Data

9 9

9 9

Sektor KB Survei/Sektor Kesos

Target 2: Menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya antara th. 1990-2015 3 4 Proporsi Balita kurang gizi Proporsi penduduk yang berada di bawah garis konsumsi minimum (2100 kkal per kapita per hari) 9 X 9 X Survei Survei

Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar Untuk Semua Target 3: Memastikan pada th. 2015 semua anak dimanapun, laki-laki maupun perempuan, dapat menyelesaikan pendidikan dasar 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Angka partisipasi murni di sekolah dasar (7-12 tahun) Angka partisipasi anak di pendidikan pra sekolah (4-6 tahun) Angka partispasi murni di sekolah lanjutan pertama Angka partisipasi murni anak cacat Proporsi murid kelas 1 yang berhasil mencapai kelas 5 Proporsi murid di kelas 1 yang berhasil menamatkan sekolah dasar Proporsi murid di kelas 1 yang berhasil menyelesaikan sembilan tahun pendidikan dasar Angka kelulusan Angka putus pekolah Angka melanjutkan ke SMP Angka melanjutkan ke SMA Angka melek huruf remaja (15-24 tahun) 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 Survei/Sektor Pendidikan Survei/Sektor Pendidikan Survei/Sektor Pendidikan Sektor Sosial/ Pendidikan Survei/Sektor Pendidikan Sektor Pendidikan Sektor Pendidikan Sektor Pendidikan Sektor Pendidikan Sektor Pendidikan Sektor Pendidikan Survei

47

Lampiran 1.8 (Lanjutan)


INDIKATOR MDG Kabupaten Kecamatan Sumber Data

Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan perempuan Target 4: Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan pada th.2005 dan di semua jenjang pendidikan tidak lebih dari th.2015 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Rasio APM anak perempuan terhadap anak laki-laki di tingkat sekolah dasar (7-12 tahun) Rasio APM anak perempuan terhadap anak laki-laki di tingkat sekolah lanjutan pertama (13-15 tahun) Rasio melek huruf perempuan terhadap anak lakilaki (15-24 tahun) Kontribusi perempuan dalam kerja nafkah/upahan di sektor non pertanian Proporsi kursi DPR yang diduduki perempuan Presentase camat perempuan Presentase lurah/Kades perempuan Presentase perempuan dalam keanggotaan Baperjakat Rasio pejabat perempuan di kantor kecamatan Persentase perempuan sebagai pengurus partai Persentase perempuan sebagai pengurus Orsos Presentase peserta KB perempuan dibanding lakilaki 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 X X 9 X 9 9 9 9 Survei/Sektor Pendidikan Survei/Sektor Pendidikan Survei/Sektor Pendidikan Survei Sekr. DPR Pemda Pemda Pemda Pemda Sekr. Partai Politik Sekr. Partai Politik Survei/Sektor KB

Tujuan 4: Menurunkan Angka Kematian Anak Target 5: Menurunkan angka kematian Balita sebesar dua pertiganya, antara th. 1990-2015 29 30 31 32 33 34 35 36 Angka kematian bayi Jumlah kematian bayi Angka kematian Balita Presentase Balita KEP Persentase rumah tangga menggunakan garam yodium Presentase pemberian vitamin A pada Balita Proporsi anak usia satu tahun yang diimunisasi campak Proporsi anak yg diimunisasi campak < 2 th 9 X 9 9 9 9 9 9 X 9 X 9 9 9 9 9 Survei/Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan Survei/Sektor Kesehatan Survei/Sektor Kesehatan Survei/Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan Survei/Sektor Kesehatan Survei/Sektor Kesehatan

48

Lampiran 1.8 (Lanjutan)


INDIKATOR MDGs Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu Target 6: 37 38 39 40 41 42 43 44 Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempatnya antara th. 1990-2015 Angka Kematian Ibu Status gizi WUS Status gizi wanita hamil Presentase pemberian Fe pada ibu hamil Proporsi pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih Presentase kunjungan K4 Presentase remaja yang mendapat penyuluhan tentang kesehatan reproduksi Angka pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur (PUS) usia 15-49 tahun X 9 9 9 9 9 9 9 X 9 9 9 9 9 9 9 Survei/Sektor Kesehatan Survei/Sektor Kesehatan Survei/Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan Survei/Sektor Kesehatan Survei/Sektor Kesehatan Survei/Sektor Kesehatan Survei/Sektor KB Kabupaten Kecamatan Sumber Data

Tujuan 6: Memerangi HIV/ AIDS, Malaria, dan Penyakit Menular lainnya Target 7: Mengendalikan penyebaran HIV/ AIDs dan mulai menurunnya jumlah kasus baru pada th. 2015 Angka pemakaian kontrasepsi kondom pada 45 pasangan usia subur (PUS) usia 15-49 tahun 46 47 Proporsi penduduk usia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan komprehensif mengenai HIV/AIDS Prevalensi HIV/AIDS

9 9 9

9 9 9

Survei/Sektor KB Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan

Target 8: Mengendalikan penyakit malaria dan mulai menurunnya jumlah malaria dan penyakit lainnya 9 48 Prevalensi malaria 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 Proporsi anak Balita tidur menggunakan klambu yg direndam insektisida Proporsi anak Balita dengan gejala klinis malaria yang menerima pengobatan anti malaria Prevalensi kasus tuberculosis DOTSangka penemuan penderita tuberculosis BTA positif baru DOTSangka kesembuhan penderita tuberculosis Prevalensi kusta Insiden DBD (demam berdarah dengue) Persentase CFR (case fatality rate) diare Persentase positive lyssa (rabies) Insiden avian influenza 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9

9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9

Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan

49

Lampiran 1.8 (Lanjutan)


INDIKATOR MDGs Tujuan 7: Target 9: 59 60 61 62 63 64 65 66 Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup Memadukan prinsip- prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional Proporsi luas lahan yang tertutup hutan Rasio luas kawasan lindung terhadap luas daratan Rasio luas kawasan yang sudah berhail di-reboisasi terhadap luas kawasan hutan yang perlu direhabilitasi/ direboisasi Proporsi titik pemantauan kualitas air sungai yang memenuhi baku mutu Proporsi titik pemantauan kualitas udara yang memenuhi baku mutu udara ambien Persentase pabrik yang memenuhi baku mutu air limbah Pemakaian pupuk kimia perhektar lahan pertanian Pemakaian pupuk kimia per hektar per jenis tanaman pertanian 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 Sektor Kehutanan Sektor Kehutanan Sektor Kehutanan Sektor LH Sektor LH Sektor LH Sektor LH Sektor LH Kabupaten Kecamatan Sumber data

Target 10: Penurunan sebesar separuh, proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada 2015 67 68 69 70 71 Persentase rumah tangga dengan akses terhadap sumber air minum terlindung Persentase rumah tangga yang menggunakan biomassa untuk memasak Persentase rumah tangga dengan akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak Persentase rumah tangga yang membuang sampah di lubang yang tertutup Persentase rumah tangga/keluarga berumah tidak layak huni Mencapai perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduduk miskin di pemukiman kumuh pada tahun 2020 9 9 9 9 9 9 Survei Survei/Sektor Kesos Sektor Pertanahan 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 Survei Survei Survei Survei Survei/Sektor Kesos

Target 11:

72 73 74

Persentase rumah tangga dengan status tempat tingggal milik sendiri, sewa, atau kontrak Persentase rumah tangga/keluarga yang tinggal di kawasan rawan bencana Proporsi rumah tangga dengan sertifikat kepemilikan dari BPN

50

II. Data Sektoral Bidang Kesejahteraan Sosial


(Drs. H. Bambang Ipojono, M.Si., Ir. Lucky Prakoso, M.Si.)

2.1 Pendahuluan Pembangunan kesejahteraan sosial bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia termasuk di dalamnya penyandang masalah kesejahteraan sosial, meningkatkan rasa kepedulian serta partisipasi sosial masyarakat. Hal lain yang penting untuk dipahami adalah bahwa tujuan dari pada pembangunan nasional Indonesia adalah membangun manusia seutuhnya dalam artian meningkatkan kualitas fisik, mental dan spiritual dengan tidak membedakan antara penduduk perempuan dan laki-laki sebagai sasaran program pembangunan kesejahteraan sosial. Adapun sasaran pokok dari pembangunan kesejahteraan sosial itu adalah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). PMKS diartikan sebagai seorang, keluarga atau masyarakat yang karena sesuatu hambatan, mendapatkan kesulitan atau gangguan sehingga mereka tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya (jasmani, rohani, dan sosial) secara memadai dan wajar. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 20042009 disebutkan bahwa Departemen Sosial bertugas untuk mewujudkan rasa aman bagi masyarakat rentan dan penyandang masalah kesejahteraan sosial. Untuk keperluan perencanaan, pemantauan, dan evaluasi program-program tersebut diperlukan data yang berkualitas: lengkap, akurat, relevan, konsisten, dan berkesinambungan guna mencapai tujuan pembangunan tersebut. Dalam rencana strategis (Renstra) Departemen Sosial dijelaskan bahwa rasa aman dan kesejahteraan sosial bisa dicapai melalui berbagai macam program seperti program pelayanan dan rehabilitasi sosial, program pemberdayaan fakir miskin, komunitas adat terpencil, dan PMKS lainnya sehingga diperlukan rencana tahunan guna merumuskan sasaran program, prioritas, lokasi dan kegiatan.

51

Kemiskinan sebagai salah satu akar permasalahan sosial, dewasa ini mendapat prioritas tinggi dalam pembangunan seperti tercermin dalam berbagai komitmen baik global maupun nasional. Dalam kesepakatan internasional tentang pembangunan milenium (Millennium Development Goals atau MDGs), penanggulangan kemiskinan dan kelaparan ditempatkan sebagai sasaran utama. Salah satu kebijakan yang tertuang dalam RPJMN adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat yang di antaranya memuat target menurunkan angka kemiskinan dari 16,7 % pada tahun 2004 menjadi 8,2 % pada tahun 2009. Masalah kemiskinan merupakan salah satu persoalan mendasar yang menjadi pusat perhatian pemerintah. Salah satu aspek penting untuk mendukung strategi penanggulangan kemiskinan adalah tersedianya data kemiskinan yang akurat dan tepat sasaran. Pengukuran kemiskinan yang dapat dipercaya dapat menjadi instrumen tangguh bagi pengambil kebijakan dalam memfokuskan perhatian pada kondisi hidup orang miskin. Data kemiskinan yang baik dapat digunakan untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah terhadap kemiskinan, membandingkan kemiskinan antar-waktu dan daerah, serta menentukan target penduduk miskin dengan tujuan untuk memperbaiki taraf hidup mereka. Penanganan PMKS memerlukan program yang efektif, efisien, dan berkesinambungan mengingat sasaran program yang jumlahnya tidak sedikit dan tersebar di seluruh Indonesia. Umumnya mereka kurang mampu dari berbagai aspek kehidupan. Karena itu dibutuhkan data, antara lain, yang menyangkut jumlah, tempat tinggal, karateristik individu, dan jenis masalah yang mereka hadapi. Tanpa data yang berkualitas maka akan sulit merumuskan program untuk menangani PMKS yang pencapaian sasarannya dapat dievaluasi, proses pelaksanaannya dapat dipantau, dan rencana pengembangannya dapat dirumuskan secara ilmiah. Data PMKS khususnya data kemiskinan sampai pada tingkat kabupaten dan kota yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik dan Departemen Sosial dalam rangka mendukung program pengentasan kemiskinan masih sangat terbatas jenis dan ragamnya. Informasi yang sudah tersedia dipandang tidak cukup memadai untuk keperluan yang lebih spesifik dalam rangka perumusan kebijakan dan perancangan program, baik itu 52

pengentasan kemiskinan maupun penanganan PMKS sampai kepada akar sasarannya. Diperlukan data dan informasi yang dapat memberikan gambaran tentang PMKS maupun kemiskinan tidak saja pada tingkat nasional dan provinsi tetapi juga sampai pada tingkat kabupaten dan kota. Data PMKS yang dikumpulkan BPS hanya mencakup mereka yang tinggal dalam rumah tangga tidak termasuk penyandang masalah yang tinggal dalam panti atau lembaga. Untuk perumusan kebijakan yang lengkap diperlukan juga data penyandang masalah yang tinggal di dalam panti atau lembaga. Ada 27 jenis PMKS yang telah diidentifikasi oleh Departemen Sosial yaitu: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) 21) 22) 23) 24) Anak Balita terlantar, Anak terlantar, Anak korban tindak kekerasan, Anak Nakal, Anak jalanan, Anak cacat, Wanita rawan sosial ekonomi, Wanita korban tindak kekerasan, Lanjut usia terlantar, Lanjut usia korban tindak kekerasan, Penyandang cacat, Penyandang cacat bekas penderita penyakit kronis, Tuna susila, Pengemis, Gelandangan, Bekas narapidana, Korban penyalahgunaan NAPZA, Keluarga fakir miskin, Keluarga berumah tidak layak huni, Keluarga bermasalah sosial psikologi, Komunitas adat terpencil, Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, Korban bencana alam, Korban bencana sosial atau pengungsi, 53

25) 26) 27)

Pekerja migran terlantar, Penyandang HIV/AIDS, dan Keluarga rentan.

Data dari 27 jenis PMKS ini belumlah lengkap dikarenakan tidak adanya pendataan dan informasi kesejahteraan sosial yang menyeluruh dari ke-27 jenis PMKS tersebut. Ketersediaan data dan informasi PMKS merupakan persoalan yang sangat penting dilakukan karena data tersebut diperlukan untuk merumuskan kebijakan, program dan kegiatan pembangunan kesejahteraan sosial secara menyeluruh. Untuk ketersediaan data dan informasi yang tepat waktu, akurat dan dapat dipertanggung jawabkan, maka diperlukan alur data yang berkesinambungan mulai dari tingkat kabupaten, kota, provinsi sampai ke tingkat pusat. Berfungsinya alur data memang membutuhkan kesiapan di tingkat daerah maupun di tingkat pusat, mulai dari sumber daya manusianya sampai ke sarana dan prasarana yang tersedia. Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial Departemen Sosial sebagai lembaga yang mewadahi data permasalahan kesejahteraan sosial, mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun pusat, merasa bertanggung jawab untuk dapat melengkapi dan memperluas ketersediaan data, baik data-data PMKS maupun fakir miskin. Untuk memenuhi tujuan tersebut dirasa perlu melakukan pengumpulan data yang menyeluruh dari ke-27 jenis PMKS. Sebelum dilaksanakannya pengumpulan data secara sensus, perlu dilakukan uji coba pengumpulan data PMKS. Keseluruhan rangkaian kegiatan ini didahului dengan melakukan kajian awal tentang jenis dan variabel PMKS, konsep dan definisinya, serta mengidentifikasi variabel PMKS yang datanya telah dikumpulkan oleh BPS serta mendefinisikan dan memformulasikan variabel PMKS lainnya yang datanya belum dikumpulkan oleh BPS. Dari 27 jenis PMKS yang ditangani oleh Depsos, hanya dua jenis yang mendapat perhatian sebagai sasaran MDGs yaitu keluarga fakir miskin dan penyandang HIV/AIDS. Mengingat bahwa pengendalian penyakit lebih banyak ditangani oleh Depkes, maka dalam studi ini HIV/AIDS tidak dimasukkan dalam indikator MDGs lingkup kesejahteraan sosial. 54

2.2 Tujuan Pemetaan Alur Data Kesejahteraan Sosial Studi pemetaan alur data kesejahteraan sosial bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang kegiatan pendataan sektor kesejahteraan sosial, yaitu PMKS, khususnya fakir miskin mulai dari pengumpulan sampai pengiriman data dari daerah ke pusat. Dari pembahasan mengenai informasi ini akan diusulkan penyempurnaan jenis dan alur data sektoral yang terkait dengan indikator MDGs di kabupaten terpilih, yaitu Bantaeng, Bone, Takalar, Mamuju dan Polman. Secara rinci studi akan diarahkan untuk melakukan kegiatan sebagai berikut: a. Identifikasi sumber daya untuk melakukan kegiatan pendataan PMKS, mulai dari pengumpulan, pengolahan, dan pelaporan data sektoral, b. Identifikasi alur data PMKS dari sumbernya sampai ke pusat, c. Penelitian terhadap kuesioner atau instrumen pendataan, d. Penelitian terhadap cara penghitungan indikator MDGs wilayah kecil terutama kecamatan (pembilang dan penyebut bila perlu), dan e. Penyempurnaan daftar indikator MDGs yang terkait dengan PMKS dan penyempurnaan alur data PMKS. 2.3 Kondisi Umum Alur Data Sektor Kesejahteraan Sosial

2.3.1 Alur Data Sektor Kesejahteraan Sosial Sebelum Otonomi Daerah a. Pada masa sebelum otonomi daerah Departemen Sosial masih mempunyai hubungan hirarki dengan Kanwil sosial provinsi dan kantor departemen (Kandep) sosial kabupaten/kota. Kanwil dan Kandep sosial sebagai kaki tangan Departemen Sosial di daerah memegang peranan dalam pengelolaan data, baik itu pengumpulan, pengolahan maupun pelaporan hasilnya. b. Kegiatan pengumpulan data PMKS yang dilakukan oleh pekerja sosial masyarakat (PSM) dan petugas sosial kecamatan (PSK) pada saat itu sangat membantu Kanwil sosial provinsi dan Kandep sosial kabupaten/kota di daerah dalam pengumpulan data dilapangan. Pendataan yang dilakukan oleh para PSM bersama PSK dari rumah ke rumah penduduk untuk melakukan pendataan secara langsung hanya menggunakan instrumen sederhana, yang berisi pertanyaan tentang beberapa karakteristik PMKS. 55

Gambar 2.1: Sistem Alur Data Sebelum Otonomi Daerah


DEPSOS/ PUSDATIN

Kanwil

KANDEP

PSM dan PSK

PSM dan PSK

PSM dan PSK

Keterangan Gambar 2.1: Data PMKS yang telah dikumpulkan oleh para PSM dan PSK di tingkat desa atau kelurahan kemudian direkap dan diserahkan ke Kandep sosial kabupaten/kota. Data yang sudah terkumpul di Kandep dari seluruh desa/kelurahan kemudian di rekap kembali dan diserahkan ke Kanwil sosial provinsi. Di tingkat Kanwil seluruh data yang terkumpul dari Kandep-Kandep kemudian direkap kembali dan baru diserahkan ke Kantor Pusat Departemen Sosial. c. Hasil dari pengumpulan data dilapangan yang sudah dilakukan oleh para PSM dan PSK di serahkan ke Kandep sosial kabupaten/kota, proses pengolahan data yang dilakukan di tingkat Kandep sosial kabupaten/kota ini masih manual. Rekapan dari hasil pendataan ini kemudian diserahkan ke Kanwil sosial provinsi.

56

d. Di tingkat Kanwil sosial provinsi data hasil rekapan dari beberapa Kandep sosial kabupaten/kota kemudian diolah secara manual dengan menggunakan program Microsoft Excel dan Microsoft Word, bahkan ada beberapa Kanwil provinsi yang masih manual. Data hasil rekapan inilah yang kemudian dikirim melalui Pos ke Departemen Sosial. Pengelolaan data yang dilakukan di tingkat Kandep kabupaten/kota maupun Kanwil provinsi masih secara manual, ini dikarenakan terbatasnya kemampuan sumber daya manusia (SDM) dan sarana pengolahan data. e. Data-data hasil pengolahan manual dari seluruh Kanwil sosial provinsi yang masuk ke Departemen Sosial kemudian digunakan oleh masingmasing unit operasional di pusat sebagai bahan pembuatan kebijakan dan program Departemen Sosial. 2.3.2 Alur Data Sektor Kesejahteraan Sosial Setelah Otonomi Daerah

a. Ketika Departemen Sosial dilikuidasi menjadi Badan Kesejahteraan Sosial Nasional (BKSN) selama kurang lebih satu setengah tahun, mekanisme alur data dari daerah ke pusat tidak berjalan dengan baik dan bahkan sempat terhenti. Hal ini diakibatkan karena Kanwil sosial provinsi dan Kandep sosial kabupaten/kota tidak dapat bekerja karena ketidak jelasan struktur dan kelembagaan di daerah maupun BKSN di pusat. b. Dibentuknya struktur dinas sosial provinsi dan dinas sosial kabupaten/ kota oleh pemerintah daerah setempat tidak sepenuhnya berdiri sendiri, bahkan ada dinas sosial yang digabung dalam satu lembaga dengan dinas/instansi lain. Dinas sosial provinsi, kabupaten, dan kota tidak lagi menjadi kaki tangan Departemen Sosial di daerah, karena secara struktur dinas dibentuk oleh pemerintah daerah dan tidak langsung bertanggung jawab ke Departemen Sosial. c. Fungsi dan peran PSM dan PSK sebagai petugas pengumpul data sudah tidak ada. Keberadaan mereka tidak jelas di daerah. Secara otomatis proses pengumpulan data di lapangan yang selama ini mereka lakukan sudah tidak dilanjutkan. Peran dinas sosial kabupaten/kota dalam pengumpulan data di lapangan sangat diharapkan sekali. Akan tetapi karena minimnya SDM dan anggaran yang ada, maka proses pendataan seperti pelatihan guna memahami definisi konsep, instrumen 57

pendataan dan operasionalisasi di lapangan belum berjalan dengan baik. d. Kondisi infrastruktur di dinas sosial provinsi maupun dinas sosial kabupaten/kota masih sangat terbatas akibat dari proses otonomi ini. Bahkan ada kantor dinas sosial yang masih mengontrak dengan sarana yang terbatas dan alat pengolahan data yang dimiliki pun sampai saat ini masih kurang. Proses pengolahan data yang dilakukan masih manual dan tersebar di beberapa seksi bagian. Di dinas sosial provinsi dan dinas sosial kabupaten/kota tidak ada bagian khusus yang menangani pengolahan data. Kegiatan pengolahan data yang dilakukan di dinas sosial provinsi maupun di dinas sosial kabupaten/kota tidak sepenuhnya didukung oleh anggaran APBD, karena kurangnya kepedulian pemerintah daerah setempat terhadap pentingnya data sektor sosial bagi kelangsungan penanganan permasalahan kesejahteraan sosial di daerah. e. Pada akhir tahun 2006 Pusdatin Kesos Departemen Sosial melakukan pengadaan perangkat komputer untuk seluruh dinas/instansi sosial provinsi dan dinas sosial kabupaten/kota di Indonesia sebanyak dua unit komputer yang sudah terisi program aplikasi PMKS. Hal ini dilakukan agar pengolahan data yang selama ini manual dapat dilakukan secara elektronik dan dapat dihubungkan ke pusat. f. Kegiatan pelatihan dan pemantapan juga diadakan oleh Pusdatin Kesos Departemen Sosial bagi seluruh tenaga komputer dari dinas/instansi sosial provinsi, kabupaten, dan kota yang menangani pendataan berupa pelatihan pengumpulan dan pengolahan data dengan menggunakan instrumen maupun menggunakan program aplikasi PMKS. Walaupun demikian frekuensi pelatihan masih dirasakan sangat kurang dibandingkan dengan kebutuhan dan mobilitas staf di daerah yang sangat tinggi.

g. Karena masalah pendataan seperti definisi konsep dan metodologi yang seringkali tidak baku di daerah, maka mulai awal tahun 2007 Pusdatin Kesos Departemen Sosial sudah mulai melakukan penyeragaman instrumen pendataan PMKS bagi seluruh dinas/instansi sosial provinsi, kabupaten dan kota. Instrumen PMKS yang sekarang) digunakan ini (lihat Formulir A, B dan C berturut-turut di Lampiran 2.1, 2.2, dan 2.3) 58

merupakan penyempurnaan dari instrumen yang ada sebelumnya. Masing-masing instrumen digunakan berturut-turut untuk pendataan penyandang PMKS di masyarakat, pendataan penyandang PMKS di lembaga, dan pendataan, antara lain, pekerja sosial masyarakat dan organisasi sosial. Pusdatin Kesos berharap instrumen yang sekarang ini dapat digunakan di seluruh dinas/instansi sosial provinsi, kabupaten dan kota sebagai instrumen standar pendataan PMKS di lapangan. Pada saat laporan ini disusun belum ada respons yang berarti dari daerah terhadap upaya Depsos untuk memperbaiki ketersediaan dan kualitas data PMKS. h. Data penerima BLT yang dikumpulkan BPS pada pelaksanaan program bantuan langsung tunai (BLT) kepada penduduk miskin, digunakan Depsos untuk menentukan sasaran program-program penanganan PMKS. Gambar 2.2: Sistem Alur Data Setelah Otonomi Daerah
DEPSOS/ PUSDATIN

Pemerintah Provinsi

Dinsos Provinsi

Pemerintah Kab/Kota

Dinsos Kab./Kota

Keterangan Gambar 2.2:

Data PMKS yang dikumpulkan oleh dinas sosial kabupaten/kota hanya diperuntukkan untuk kepentingan pemerintah kabupaten/kota, begitu pula data PMKS yang dikumpulkan oleh dinas sosial provinsi hanya diperuntukkan bagi kepentingan pemerintah provinsi saja. Untuk data PMKS yang ada di dinas sosial provinsi maupun di dinas sosial kabupaten/kota tidak menjadi keharusan untuk menyerahkan data tersebut ke Departemen Sosial. 59

2.4

Mekanisme dan Prosedur Pengolahan Data Hasil Studi Alur Data di Provinsi Sulawesi

a. Prosedur pengelolaan data di dinas sosial kabupaten/kota berupa data PMKS saat ini masih sangat memprihatinkan. Dengan belum adanya dasar hukum atau peraturan daerah (Perda) yang mengatur tentang pengelolaan data di dinas sosial kabupaten/kota, pengelolaan data yang dilakukan masih manual baik itu input datanya, pengolahannya maupun pelaporan datanya. Instrumen yang digunakan untuk menjaring data PMKS disusun sendiri oleh dinas sosial provinsi maupun kabupaten/ kota. Walaupun pertanyaan yang ada dalam instrumen sangat sederhana, akan tetapi untuk kepentingan dinas sosial provinsi maupun kabupaten/kota sudah cukup memadai untuk menjaring data dan informasi yang dibutuhkan. b. Dalam penanganan pengolahan data di dinas sosial provinsi dan kabupaten/kota secara khusus tidak ada bagian yang menangani pengolahan data, semua data-data dikelola di seksi-seksi yang ada dalam struktur organisai dinas sosial. Dengan sarana dan prasarana yang sangat terbatas semua kegiatan pengolahan data dilakukan dengan manual. c. Data-data yang diolah pun hanya sebatas data-data PMKS. Jenis data PMKS tersebut adalah anak Balita, anak cacat, wanita rawan sosial ekonomi, lanjut usia, penyandang cacat, dan tuna susila. Banyak datadata yang ada masih kurang akurat kebenarannya. Ini dikarenakan masih minimnya anggaran, sarana dan SDM yang ada di dinas sosial kabupaten. d. Proses pengumpulan, pengolahan dan penyajian datanya dilakukan secara manual dengan keterbatasan SDM yang ada. Umumnya dalam pengolahan data digunakan program aplikasi Microsoft Excel atau Microsoft Words, sedangkan program aplikasi PMKS yang di kembangkan oleh Pusdatin Kesos Departemen Sosial belum sepenuhnya digunakan.

60

e. Data yang sudah terkumpul di dinas/kantor sosial kabupaten/kota kemudian diolah secara manual dan dibuatkan rekapannya. Kegiatan pengelolaan data ini dilakukan hanya sekali dalam setahun. Hasil dari proses pengolahan yang berupa data matriks rekapan kemudian disimpan dalam alat penyimpan data. Informasi tersebut kemudian di berikan ke atasan langsung dan juga digunakan sebagai bahan untuk perencanaan program. Selain itu matriks rekapan data dikirim juga ke Pemda atau Bapeda sebagai laporan dinas sosial setempat. 2.5 Kendala Alur Data Sektor Kesejahteraan Sosial di Tingkat Daerah a. Belum ada anggaran khusus untuk melakukan pengelolaan data dari APBD setempat. b. Perhatian dari pemerintah daerah setempat akan pentingnya data sektor kesejahteraan sosial bagi kelangsungan program pena-nganan PMKS dan data kemiskinan masih rendah. c. Akibat dari otonomi daerah banyak SDM dari bidang sosial yang dipindahkan dari dinas sosial dan digantikan dengan SDM dari bidang lain. Rendahnya pengetahuan SDM dalam hal pengelolaan data ini menjadi kendala yang sama di setiap dinas sosial kabupaten/kota. d. Sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan pengelolaan data di daerah baik itu berupa komputer, telepon, ruang khusus pengolahan data, sarana listrik, dll. masih belum memadai. 2.6 Usulan tentang Sistem Alur Data Sektor Kesejahteraan Sosial

Dalam sidang kelompok telah didiskusikan antara lain bagaimana upaya pusat dan daerah agar data Kesos yang dikumpulkan daerah dapat sampai ke tingkat pusat secara cepat. Informasi tentang sumber data Kesos diperoleh dari anggota tim pusat dan daerah, yaitu dari catatan administrasi sektor Kesos dan masyarakat yaitu keluarga/rumah tangga, Orsos, dan perusahaan. Hasil diskusi tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.3.

61

Gambar 2.3: Usulan Sistem Alur Data Kesejahteraan Sosial dari Daerah ke Pusat Hasil Studi Alur Data Setoral Program/ kegiatan
Catatan administrasi

Dinas Sosial kabupaten/ SKPD

Dinas Sosial provinsi

Departemen Sosial

Statistik sektoral

Data dasar Masyarakat (Keluarga, rumah tangga, Orsos, LSM, perusahaan)


Data dasar

BPS kabupaten

BPS provinsi

BPS pusat

Statistik dasar

Data khusus

Orsos LSM Perusah

Statistik khusus

Keterangan Gambar 2.3: Program atau kegiatan pendataan PMKS yang dilakukan oleh dinas sosial kabupaten dilaksanakan langsung ke masyarakat dan melibatkan unsur-unsur di masyarakat seperti kecamatan, kelurahan dan desa. Program ini berlangsung kurang lebih selama satu tahun anggaran dan hasilnya berupa catatan administrasi yang terdiri dari laporan dan rekapitulasi per kecamatan yang kemudian hasilnya dikirim ke dinas sosial provinsi sebagai bahan laporan. Di dinas sosial provinsi semua laporan-laporan yang masuk dari semua dinas sosial kabupaten, kemudian hasilnya direkap kembali untuk kemudian dikirim ke Departemen Sosial RI sebagai bahan perencanaan dan kebijakan untuk tahun mendatang. Laporan hasil dari seluruh provinsi sebagai statistik sektoral kemudian dipublikasikan oleh Departemen Sosial. 62

Untuk kegiatan pendataan yang dilakukan oleh masyarakat dengan melibatkan lembaga swadaya masyarakat, orsos dan perusahaan hasilnya berupa data dasar yang dapat dimanfaatkan oleh dinas sosial kabupaten maupun BPS kabupaten. Di BPS kabupaten catatan administrasi maupun data dasar yang didapatkan dari dinas sosial kabupaten maupun masyarakat kemudian diproses, hasilnya dikirim ke BPS provinsi. Hasil seluruh laporan rekapan provinsi kemudian dikirimkan ke BPS pusat sebagai statistik dasar. Di tingkat dinas sosial kabupaten maupun dinas sosial provinsi terkait dengan data dasar maupun catatan administrasi diperlukan adanya koordinasi dengan BPS kabupaten maupun BPS provinsi, karena koordinasi ini sangat penting guna mendapatkan data yang berkualitas sebelum data tersebut dikirim ke pusat sebagai statistik sektoral maupun statistik dasar. Data dasar yang dihasilkan oleh masyarakat seperti LSM, Orsos dan perusahaan berupa statistik khusus hanya digunakan untuk kalangan sendiri. 2.7 Usulan Perbaikan Jenis Indikator MDGs Tidak semua indikator yang digunakan pada tingkat global maupun nasional serta propinsi dapat diterapkan pada tingkat kabupaten dan kecamatan. Untuk melihat kemungkinan indikator PMKS lain masuk dalam lingkup indikator MDGs sebagai pengganti indikator yang tidak dapat diterapkan, telah dilakukan diskusi secara intensif oleh kelompok FGD sektor kesejahteraan sosial. Mengingat jumlah PMKS yang ditangani Depsos ada 27 jenis dan tidak mungkin memasukkannya semua walaupun hampir semua PMKS yang ditangani erat hubungannya dengan kemiskinan, maka dipilih beberapa indikator yang sangat signifikan saja. Dengan berbagai pertimbangan kelompok mengusulkan tambahan indikator MDGs tingkat wilayah kabupaten/kota dan kecamatan: a. Angka partisipasi murni anak penyandang cacat yang diharapkan dapat disediakan oleh sektor pendidikan, karena sekolah yang menampung anak cacat (SLB) ada di bawah koordinasi dinas pendidikan; b. Keluarga berumah tidak layak huni, dan c. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. 63

Dengan demikian indikator yang merupakan kontribusi dari Depsos ada tiga: persentase fakir miskin, persentase keluarga berumah tidak layak huni, dan persentase keluarga yang tinggal di daerah rawan bencana. 2.8 2.8.1 Kesimpulan dan Saran Kesimpulan

a. Data dasar maupun catatan administrasi PMKS sangat dibutuhkan oleh pusat, provinsi, dan kabupaten/kota sebagai acuan kegiatan program. b. Pengelolaan data di dinas sosial provinsi/kabupaten/kota belum sepenuhnya didukung oleh anggaran, sarana, prasarana, maupun SDM yang memadai sehingga tingkat keberhasilannya masih rendah. c. Persepsi mengenai PMKS dan kemiskinan di setiap dinas sosial provinsi/kabupaten/kota, baik itu berupa instrumen pendataan, definisi konsep, program input data dan pelaporannya masih belum sama dan terstandar. Pusdatin Depsos telah menyempurnakan instrumen dan metodologi pelaksanaan pendataan untuk penyeragaman pemahaman dan kegiatan tentang PMKS di pusat dan daerah dengan melaksanakan kegiatan pelatihan dan pemantapan bagi tenaga pengelola data sektor sosial. d. Frekuensi pelatihan untuk meningkatkan mutu SDM di bidang pendataan Kesos di daerah masih belum memadai. e. Pengadaan data Kesos dan arusnya dari daerah ke pusat masih mengalami hambatan besar. 2.8.2 Saran

a. Data base PMKS dan kemiskinan perlu dibentuk untuk digunakan sebagai data tambahan, agar dapat dimanfaatkan untuk tujuan perencanaan, koordinasi, pemantauan, dan evaluasi program pembangunan nasional. b. Perlu ditingkatkan anggaran pendataan sesuai dengan kemampuan daerah baik itu yang bersumber dari APBD maupun dari APBN, guna mendukung pelaksanaan pendataan yang akurat dan tepat waktu. 64

c. Perlu ada kesamaan persepsi, pandangan dan sosialisasi tentang indikator sektor sosial antara propinsi dan nasional sehingga instrumen yang digunakan pusat, propinsi dan kabupaten/kota dapat sama, akurat dan diterima serta dipahami oleh semua pihak baik para pengumpul data maupun responden/masyarakat. d. Perlu dilakukan pelatihan di tingkat pengumpul data agar penguasaan instrumen di lapangan dapat berjalan tanpa hambatan. Oleh karena data-data kesejahteraan sosial memiliki tingkat kesulitan yang tinggi diperlukan metode pengumpulan data yang sesuai dengan tingkat kesulitan yang ada. e. Perlu ditingkatkan kerja sama dan koordinasi antar-instansi terkait di tingkat kabupaten maupun provinsi untuk pengumpulan data dan informasi yang lebih berkualitas, termasuk data dan informasi yang dikumpulkan oleh mitra kerja seperti UPT, LSM, Orsos dan lembaga lain. f. Dengan kajian pengembangan data base yang dilaksanakan Pusdatin Kesos, diharapkan akan terpenuhi kebutuhan data dan informasi yang specific sektoral dan belum tercakup oleh data BPS.

g. Perlu diciptakan kemudahan dalam mengakses data, baik di pusat, provinsi, kabupaten/kota maupun instansi lain. 2.9 Daftar Pustaka 1. Departemen Sosial RI dengan Badan Pusat Statistik, Laporan Hasil Kajian Awal Variabel PMKS, 2006. 2. Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia, Organisasi dan Tata Kerja Departemen Sosial, 2005. 3. Departemen Sosial RI, Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial, 2005. 4. Departemen Sosial RI, Indikator Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Ditinjau Dari Mutu Kesejahteraan Sosial, 2004.

65

IV. Studi Alur Data Sektor Kesehatan


(Dr. Bambang Hartono, S.K.M, M.Sc., Hary Purwanto, M.Kes., M.Si., Machjati, S.K.M, M.Kes.)

4.1 Situasi Umum


4.1.1 Keadaan Umum Sistem Informasi Kesehatan Pada hakikatnya Sistem Informasi Kesehatan (SIK) merupakan bagian fungsional dari Sistem Kesehatan, yaitu suatu sistem yang memberikan pelayanan yang terpadu, meliputi pelayanan pencegahan penyakit, pelayanan pengobatan, rehabilitatif dan peningkatan kesehatan. Dalam hal ini Sistem Informasi Kesehatan seharusnya mampu menghasilkan data dan informasi yang akurat dan tepat waktu untuk mendukung pengambilan keputusan di semua tingkat sistem kesehatan, yaitu tingkat pusat, tingkat propinsi dan tingkat kabupaten/kota. Sejak diberlakukannya desentralisasi, penyampaian data dan informasi dari tingkat kabupaten/kota ke propinsi dan pusat tidak berjalan dengan baik. Berbagai kabupaten/kota sebagai daerah otonom tidak lagi merasa perlu menyampaikan data/informasi ke jenjang yang lebih tinggi sehingga di tingkat nasional tidak lagi diperoleh data/informasi kesehatan yang lengkap dan akurat. Untuk mengatasi hal tersebut, Departemen Kesehatan berupaya untuk menata kembali SIK-nya, di antaranya adalah dengan menerbitkan berbagai Keputusan Menteri Kesehatan, sebagai berikut:

a. Keputusan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI Nomor


1747/MenKes-Kesos/SK/XII/2000 tentang Pedoman Penetapan Standar Pelayanan Minimal dalam bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota,

b. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 551/MenKes/SK/V/2002


tentang Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan Nasional,

c. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 932/MenKes/SK/VIII/ 2002


tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengembangan Kesehatan Daerah Kabupaten/Kota, dan Sistem Informasi

105

d. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1410/MenKes/SK/X/ 2003


tentang Penetapan Penggunaan Sistem Informasi Rumah Sakit di Indonesia (Sistem Pelaporan Rumah Sakit) Revisi Kelima. Penataan kembali SIK merupakan tantangan yang cukup berat, khususnya bila dikaitkan dengan situasi saat ini, ketika telah terjadi perubahan sistem pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi. Upaya untuk mewujudkan jaringan komunikasi data di antara institusi manajemen maupun penyelenggara kesehatan menjadi pilihan. Pengembangan komunikasi data yang berbasis pada teknologi informasi maju makin menjadi tuntutan. 4.1.2 Sub-sistem Informasi Kesehatan

Di Departemen Kesehatan terdapat berbagai sub-sistem informasi kesehatan yang telah lama berkembang: a. b. c. d. e. f. Sub-sistem Informasi Puskesmas (SIMPUS), Sub-sistem Informasi Rumah Sakit, Sub-sistem Surveilans Terpadu, Sub-sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi, Sub-sistem Informasi Obat, Sub-sistem Informasi Sumber Daya Manusia, yang meliputi: Sub-sistem Informasi Kepegawaian, Sub-sistem Informasi Pendidikan Tenaga Kesehatan, Sub-sistem Informasi Pendidikan dan Latihan Pegawai, dan Sub-sistem Informasi Tenaga Kesehatan, dan g. Sub-sistem Informasi Ilmu Pengetahuan Kesehatan. Dari sub-sistem tersebut di atas, sub-sistem yang terkait dengan indikator MDGs bidang kesehatan adalah Sub-sistem Informasi Puskesmas, Subsistem Informasi Rumah Sakit dan Sistem Terpadu Penyakit serta Subsistem Pemantauan Status Gizi.

106

4.2. Indikator MDGs Bidang Kesehatan Indikator MDGS bidang kesehatan adalah sebagai berikut: a. Prevalensi Balita kurang gizi, b. Angka kematian Balita, c. Angka kematian bayi, d. Proporsi anak kurang 1 tahun yang diimunisasi campak, e. Angka kematian ibu, f. Proporsi persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan, g. Prevalensi HIV di antara ibu hamil usia 15-44 tahun, h. Prevalensi penyakit malaria, i. j. Kematian penyakit malaria, Proporsi penduduk di daerah malaria yang mencegah dan mengobati secara efektif, Kematian TBC,

k. Prevalensi TBC, l. m. Proporsi kasus TBC yang ditemukan, dan n. Proporsi TBC yang diobati dengan DOTS. 4.3 Pengelolaan Data di Daerah Studi

4.3.1 Daerah Studi Studi pemetaan data sektoral ini dilakukan di 5 (lima) kabupaten: tiga kabupaten di Sulawesi Selatan yaitu Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Bone dan Kabupaten Takalar serta dua kabupaten di Sulawesi Barat, yaitu Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Mamuju. Pemetaan data sektoral ini dilakukan dengan mengumpulkan informasi dari kabupaten dan dari isian kuesioner yang respondennya adalah petugas kabupaten serta masukan dari diskusi terfokus. Diinformasikan oleh Kabupaten Bantaeng dan Polewali Mandar bahwa yang menjadi responden/pemberi informasi tentang pengelolaan data adalah pengelola program di Puskesmas, RS, dinas kesehatan kabupaten serta petugas Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) dan petugas SP2TP di dinas kesehatan kabupaten serta pengelola profil kesehatan. 107

4.3.2

Indikator MDGs Bidang Kesehatan diusulkan di daerah Studi

Untuk memperoleh data indikator MDGs, di dalam diskusi kelompok terfokus yang pesertanya berasal dari 2 propinsi dan 5 kabupaten yang menjadi daerah studi telah disepakati indikator MDGs, yaitu: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) 21) 22) 23) 24) 25) 27) 108 Prevalensi Balita kurang gizi, Angka kematian bayi di kecamatan dengan indikator proxy jumlah kematian bayi, Angka kematian Balita, Persentase Balita gizi buruk, Persentase rumah tangga yang menggunakan garam yodium, Presentase pemberian vitamin A pada Balita, Proporsi anak yg diimunisasi campak sebelum usia 1 tahun, Angka kematian ibu, Status gizi WUS, Status gizi wanita hamil, Persentase pemberian Fe pada ibu hamil, Persentase persalinan yang ditolong tenaga kesehatan terlatih, Persentase ibu hamil yang melaporkan kunjungan keempat (K4), Persentase penduduk usia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan komprehensif mengenai HIV/AIDS, Prevalensi HIV/AIDS, Prevalensi malaria, Proporsi anak Balita yang tidur menggunakan kelambu yang direndam insektisida, Prevalensi TB, Angka kematian karena tuberkulosis, Angka penemuan penderita TB BTA + baru, Angka kesembuhan penderita TB diobati dengnan DOTS, Prevalensi kusta, Insiden DBD, Case fatality rate (CFR) diare, Presentase positive lyssa, dan Insiden avian influenza.

Terkait dengan penghitungan indikator, ditemukan kesulitan karena tidak lengkapnya data yang diterima. Pembilang dan penyebut perlu dikoreksi agar sesuai dengan target sasaran yang ingin dicapai, namun semua kabupaten tidak mampu melakukannya, disebabkan: tidak adanya tenaga yang khusus menangani pengolahan data, data pembilang maupun penyebut sering tidak mengacu pada rujukan populasi yang sama sehingga populasi sering berubah atau tidak konsisten, dan data hasil pelayanan oleh dokter praktek atau klinik swasta tidak dilaporkan sehingga cakupan tidak menyeluruh.

Karena itu diusulkan agar dilakukan pertemuan pihak-pihak yang terkait dengan pengelolaan program maupun pengelolaan data supaya mereka berupaya melakukan perbaikan yang diperlukan untuk meningkatkan akurasi data SIK. 4.3.3 Proses Pengelolaan Data

Meskipun pada era otonomi daerah wewenang telah diberikan kepada daerah untuk mengembangkan sistem informasinya sendiri sesuai kondisi daerah, namun pada kenyataannya banyak daerah masih meneruskan kegiatan sistem informasi yang mengacu pada pengalamannya, yaitu dengan menggunakan mekanisme sistem pelaporan yang telah ada. Pengelolaan data di propinsi dan kabupaten di daerah studi secara umum dilaksanakan oleh unit/bagian program, tidak ada satu unit pun di propinsi maupun kabupaten yang secara khusus melakukan pengelolaan data. Data yang diperoleh dari hasil pelayanan di unit-unit kesehatan, dikumpulkan secara pasif dan aktif oleh pengelola program di dinas kesehatan kabupaten yang kemudian disatukan oleh subbagian program untuk penyusunan buku Profil Kesehatan Kabupaten. Hanya di Kabupaten Takalar data profil dikelola di bidang pelayanan kesehatan (Yankes). Dalam kegiatan pengumpulan data dari sarana pelayanan kesehatan, baik rumah sakit, maupun Puskesmas dan masyarakat digunakan register atau buku pencatatan yang telah baku. Pencatatan data pelayanan dilakukan setiap hari. Data harian ini selanjutnya direkap dalam formulir laporan sebagai berikut:

109

Untuk pelayanan di Puskesmas digunakan formulir LB1 dan LB3 (lihat Lampiran 4.2 dan 4.3), Untuk pelayanan di rumah sakit digunakan formulir RL2a, RL2b, RL2a1, RL2b1 dan RL2c (lihat Lampiran 4.4-4.8), dan Untuk kegiatan yang dilaksanakan langsung di masyarakat dicatat dalam register kegiatan Posyandu (Lampiran 4.1) yang mencakup gizi, KIA, diare, imunisasi dan keluarga berencana.

Selanjutnya apabila formulir tersebut diteliti, baik di formulir pelaporan Puskesmas maupun rumah sakit tidak dicantumkan variabel jenis kelamin, meskipun sebenarnya tercantum pada register harian. Di samping itu penggunaan alamat pasien atau penderita yang berkunjung ke Puskesmas atau rumah sakit, sering kali menggunakan alamat yang tidak rinci sehingga akan menyulitkan bila dilakukan rekapitulasi penderita menurut wilayah. Bahkan sering kali Puskesmas memberikan pelayanan kepada pasien yang tinggal di luar wilayahnya. Meskipun sistem pelaporan untuk pelayanan oleh swasta seperti rumah sakit swasta, dokter praktek, bidan praktek maupun klinik swasta/bersama telah diatur dalam prosedur/mekanisme pelaporan hasil pelayanan, namun pada umumnya dokter praktek swasta maupun bidan praktek swasta tidak menyampaikan laporan ke Puskesmas yang bertanggung jawab di wilayah mereka praktek, lebih lagi di daerah perkotaan. Dengan demikian pada masa mendatang, untuk pengumpulan data hendaknya dirancang sebagai berikut: Untuk perbaikan formulir pelaporan penyakit, gizi dan imunisasi (LB1, LB3, RL1a,1b, 2a, 2b, 2a1, 2b1, 2c) dirinci menurut jenis kelamin. Untuk pengisian alamat pasien digunakan kode desa/kecamatan/ kabupaten/kota, sehingga dalam proses agregasi/tabulasi dapat dipilah menurut wilayah pasien. Untuk kelengkapan data yang mencakup pelaporan dokter dan bidan praktek swasta perlu dilakukan kerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dan dinas kesehatan kabupaten/kota terkait dengan izin praktek dan pelaporan kegiatan pelayanan prakteknya.

110

Pengumpulan data pada 5 kabupaten di Sulsel dan Sulbar, dapat digambarkan sebagai berikut: (a) Di Puskesmas, data hasil pelayanan dikumpulkan oleh pengelola program di Puskesmas, lalu petugas Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) mengkoordinasikannya untuk direkap ke dalam laporan-laporan LB1, LB2, LB3 dan LB4, selanjutnya dikirim ke petugas SP2TP kabupaten. Sementara itu pengelola program di Puskesmas juga melaporkan data hasil pelayanannya kepada pengelola program di dinas kesehatan kabupaten. (b) Untuk data hasil pelayanan di rumah sakit, Kabupaten Bone menyatakan bahwa pengumpulan data yang bersumber dari RS, klinik swasta, dokter/bidan praktek menjadi tangung jawab pengelola Puskesmas kabupaten. Di Kabupaten Polman, pengelola program harus menjemput data yang bersumber dari rumah sakit, sementara data yang bersumber dari klinik swasta, dokter dan bidan praktek belum bisa tercakup. Di tiga kabupaten lainnya perolehan data masih terbatas, yaitu dari Puskesmas dan RS milik pemerintah, meskipun laporan dari RS juga tidak selalu diterima. (c) Dilaporkan oleh Kabupaten Bone, bahwa yang mengumpulkan data yang sifatnya insiden/KLB adalah petugas surveilans melalui laporan W1 dan W2. Proses pengolahan data ini kemudian penyimpanan, pengolahan, dan publikasi. ditindaklanjuti dengan

1) Penyimpanan hasil pengolahan Empat dari lima (80%) kabupaten studi menyatakan bahwa mereka menyimpan hasil pengolahan datanya dalam bentuk hard copy dan soft copy. 2) Diseminasi hasil pengolahan Tiga dari empat (75%) kabupaten yang melaporkan tersebut menyatakan bahwa mereka mengirimkan hasil pengolahan data tersebut ke Dinkes propinsi dan pusat. 3) Bentuk publikasi hasil pengolahan Seluruh kabupaten di daerah studi melaporkan bahwa hasil dari pengolahan data dipublikasikan dalam buku Profil Kesehatan Kabupaten, namun demikian Kabupaten Bone dan Takalar menginformasikan bahwa buku profil tersebut digandakan dalam jumlah yang masih terbatas. 111

Jenis data indikator MDGs yang diolah dari masing-masing kabupaten tampak beragam, namun minimal menyangkut indikator kesehatan ibu dan anak, pelayanan gizi dan status gizi serta penyakit menular tertentu. Tidak ada unit khusus yang mengolah data, data sudah direkap baik di Puskesmas maupun rumah sakit. Setelah sampai di kabupaten, data dimanfaatkan oleh seksi pengelola program di dinas kesehatan kabupaten dan sub-bagian program/perencanaan. 4.3.4 Sumber Daya
1) Tenaga Pengelola Data

Bila ditanyakan siapa penanggung jawab pengolah data, jawabannya juga beragam. Kabupaten Polewali Mandar menyatakan bahwa penanggung jawab pengolah data adalah pengelola SIK di Puskesmas atau rumah sakit. Kabupaten Mamuju menyebutkan bahwa penanggung jawab pengolah data ada di masing-masing seksi di dinas kesehatan kabupaten, sedangkan di Sulawesi Selatan, Kabupaten Bantaeng menyebutkan bahwa penanggung jawab pengolah data adalah Subag program/perencanaan dan di Kabupaten Takalar adalah pengelola program di Puskesmas. Dengan demikian maka baik di unit pelayanan maupun di dinas kesehatan kabupaten, ada data yang dikelola oleh pemegang program/seksi (Kabupaten Bantaeng dan Poliwali Mandar) dan ada data yang dikelola oleh pengelola data/SIK (Kabupaten Takalar dan Mamuju). Setidaknya data di Puskesmas telah diagregasi atau direkapitulasi. Keragaman ini kemungkinan disebabkan karena tidak adanya unit yang secara khusus menangani data. Tentang kualifikasi tenaga pengolah data, Kabupaten Bantaeng menyebutkan bahwa terdapat 2 orang S1 Kesehatan Masyarakat, sementara pada saat ujicoba di Kabupaten Jeneponto terdapat 1 orang S1 Kesehatan Masyarakat yang ditunjuk sebagai pengelola SIK dengan surat keputusan kepala dinas kesehatan, dibantu oleh 2 orang S1 Kesehatan Masyarakat.

112

Dari hasil pengumpulan data inventarisasi sumber daya SIK yang dilakukan oleh Pusat Data dan Informasi pada pertengahan tahun 2007 diperoleh informasi bahwa terdapat 2 orang tenaga pengelola SIK di Kabupaten Takalar yang masing-masing berpendidikan S1 Kesehatan Masyarakat, sementara di Kabupaten Bone terdapat 3 orang S1 Kesehatan Masyarakat. 2) Peralatan Pengolah Data Ketersediaan sarana di Sulawesi Selatan berbeda dengan Sulawesi Barat. Di Sulawesi Selatan, di setiap Puskesmas tersedia 1 unit komputer untuk mengolah data, sementara di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat hanya tersedia 1 unit komputer di Dinas Kesehatan Kabupaten untuk mengolah data. Kelihatannya sarana ini diperoleh dari pengadaan sarana pengolah data daerah melalui DIPA Pusdatin tahun 2005. Mengenai lamanya proses pengumpulan data disebutkan oleh 2 kabupaten yaitu Polewali Mandar di Sulawesi Barat dan Takalar yaitu selama 2 minggu, dan untuk proses pengolahan data, kedua kabupaten ini juga menyebutkan waktu proses pengolahan data, yaitu untuk Kabupaten Poliwali Mandar 3 minggu dan Kabupaten Takalar 2 minggu. Kelihatannya yang dimaksud di sini adalah waktu pengumpulan dan pengolahan untuk data bulanan. 3) Biaya Pengelolaan Data Terdapat 2 kabupaten yang memberikan informasi tentang biaya untuk pengelolaan data, yaitu Kabupaten Poliwali Mandar yang menyatakan tidak semua kegiatan pengumpulan data ada dananya, dan Kabupaten Takalar yang menyatakan bahwa dana yang tersedia adalah dalam rangka penyusunan buku Profil Kesehatan Kabupaten. Tentang biaya untuk pengolahan data diinformasikan bahwa di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan tidak tersedia biaya khusus untuk pengolahan data, sementara di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, tersedia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa meskipun terbatas, terdapat biaya untuk pengelolaan data. 113

4.3.5

Alur Data

Alur pengumpulan data terkait indikator MDGs bidang kesehatan pada umumnya masih mengikuti mekanisme dari sub-sistem yang pernah berjalan seperti Sub-sistem Informasi Puskesmas, Sub-sistem Informasi Rumah Sakit dan Sistem Terpadu Penyakit serta Sub-sistem Pemantauan Status Gizi sebagai berikut: a) Alur data dari Puskesmas (Bagan 4.1) Data Puskesmas yang berasal dari kegiatan harian, baik dari kegiatan dalam gedung maupun luar gedung Puskesmas dan Puskesmas pembantu serta bidan di desa, dikumpulkan di Puskesmas oleh masing-masing pengelola program di Puskesmas, misalnya program kesehatan ibu dan anak, pemberantasan penyakit, promosi kesehatan dan lainnya. Data tersebut kemudian diagregasi oleh pengelola SP2TP ke dalam formulir laporan bulanan Puskesmas (LB1 dan LB3). Laporan bulanan tersebut kemudian dikirimkan ke dinas kesehatan kabupaten. Kemudian dilakukan rekapitulasi seluruh Puskesmas oleh petugas SP2TP kabupaten untuk dikoordinasikan dengan pengelola program di dinas kesehatan kabupaten. Selanjutnya rekapitulasi laporan Puskesmas diteruskan ke dinas kesehatan propinsi dan pusat (Departemen Kesehatan).

b) Alur data dari Rumah Sakit (Bagan 4.2) Data dari rumah sakit baik pemerintah maupun swasta yang berasal dari kegiatan harian, meliputi pelayanan rawat jalan dan rawat inap, dikumpulkan oleh petugas rekam medik rumah sakit. Data tersebut kemudian diagregasi oleh petugas rekam medik dalam formulir laporan bulanan rumah sakit sebagai berikut: - Laporan data keadaan morbiditas pasien rawat inap rumah sakit (RL2a)

114

- Laporan data keadaan morbiditas pasien rawat jalan rumah sakit (RL2b). - Laporan data keadaan morbiditas pasien rawat inap surveilans rumah sakit (RL2a1). - Laporan data keadaan morbiditas pasien rawat jalan surveilans rumah sakit (RL2b1). - Laporan data status imunisasi (RL2c). Laporan tersebut secara bersamaan dikirimkan ke dinas kesehatan kabupaten, dinas kesehatan propinsi dan Departemen Kesehatan (Ditjen Pelayanan Medik). Untuk melakukan upaya pemberantasan penyakit menular, penanggulangan kejadian luar biasa (KLB) penyakit dan keracunan, serta penanggulangan penyakit tidak menular diperlukan suatu sistem surveilans penyakit secara terpadu yang bersumber dari Puskesmas, rumah sakit dan laboratorium dengan menggunakan formulir STP Pus STP RS dan STP Lab. Data STP tersebut di atas kemudian diagregasi dalam formulir STP.PUS.KAB., STP.RS.KAB. dan STP.LAB.KAB oleh dinas kesehatan kabupaten. Selanjutnya rekapitulasi laporan STP tersebut diteruskan ke dinas kesehatan propinsi dan pusat (Departemen Kesehatan).

c) Alur data Sistem Terpadu Penyakit /STP (Bagan 4.3)

d) Alur Pemantauan Status Gizi (Bagan 4.4) Untuk memantau status gizi Balita, telah dikembangkan survei pemantauan status gizi yang dilakukan secara berkala, yang dilakukan oleh tim pemantau gizi Puskesmas dengan menggunakan formulir F1/PSG-KADARSI dan F2/PSG-KADARSI dan F3/PSGKADARSI. Formulir pengumpulan data F1/PSG dan FII/PSG yang telah diisi lengkap oleh TPG Puskesmas, segera dikirim ke Dinkes kabupaten/kota. Selanjutnya FII/PSG dari seluruh kecamatan direkapitulasi pada formulir FIII/PSG. Selanjutnya rekapitulasi FIII/PSG tersebut diteruskan ke dinas kesehatan propinsi dan pusat (Departemen Kesehatan). 115

Bagan 4.1 Alur Data dari Puskesmas (SP2TP)

Pusdakes PUSAT Program Terkait Tk. Pusat

Bagian Informasi Binkesmas

Dinkes Dati I Bagian TU Subag. Rencana Program Terkait Tk. ProvinsiI

Dinkes Dati II Subbag. TU GFK

Program Terkait Tk. Dat II

KEPALA PUSK

Tata Usaha

KIA

P2M

PKM

PKL

PKL

Yankes Swasta

BIDES

PUSTU

KETERANGAN:

GARIS LAPORAN SP2TP LAPORAN TEMBUSAN HASIL OLAHAN/REKAP

GARIS UMPAN BALIK KOREKSI DATA GARIS PEMBINAAN

116

Bagan 4.2 Alur Data dari Rumah Sakit (SP2RS)

RL1; RL2a; RL2b; RL3; RL4; RL5; RL6 Ditjen Yanmed RL4a (Khusus RS Vertikal Depkes)

RL1; RL2a; RL2b; RL3; RL4; RL5; RL6 Dinas Kesehatan provinsi

Dinas Kesehatan kabupaten/kota

RL1; RL2a; RL2b; RL2a1; RL2b1; RL2c

RL2.1; RL2.2; RL2.3; RL3; RL4; RL5;

R.S. TNI & POLRI/ Dep. Lain/BUMN

Depkes, Pemda

RL1; RL2A; RL2B; RL3 RL4; RL5; RL6 R.S.

TNI & POLRI/Dep. Lain/BUMN Swasta

R.S.

Swasta

117

Bagan 4.3 Alur Sistem Terpadu Penyakit


Ditjen Surveilans Ditjen PPM & PL Depkes Form. STP.PUS.KAB Form. STP.RS.KAB Form. STP.LAB.KAB Ditjen Surveilans Dinas Kesehatan provinsi Rumah Sakit Sentinel Formulir STP.RS.SEN Form. STP.PUS.KAB Form. STP.RS.KAB Form. STP.LAB.KAB Ditjen Surveilans Dinas Kesehatan kab/kota Form. STP.PUS Form. STP.RS Form. STP.LAB Ditjen Surveilans Puskesmas Puskesmas Sentinel Formulir STP.PUS.SEN

Ditjen Surveilans Rumah Sakit

Ditjen Surveilans Laboratorium

Distribusi data surveilans dari Unit Surveilans kepada Unit Surveilans yang akan melakukan kompilasi data Distribusi data surveilans dari Unit Surveilans yang melakukan kompilasi data kepada semua Unit Surveilans yang melakukan pengirimkan data Distribusi data surveilans dari PUSKESMAS dan Rumah Sakit Sentinel

118

Bagan 4.4 Alur Pemantauan Status Gizi

Pusat

Umpan balik laporan

Laporan data

Provinsi

Data Elektronik

Umpan balik

Laporan data

Kab/kota

Umpan balik

Formulir & kuesioner

Puskesmas

Memantau penimbangan dan mengisi formulir

Sub-desa kelurahan (Sampel Balita dan keluarga sesuai dengan jumlah yang telah dihitung dan dipilih secara acak sesuai ketentuan-lihat Bag. metodologi)

Keterangan:

Umpan balik Arus pelaporan

119

Indikator MDGs Bidang Kesehatan Bila mengamati kegiatan pengolahan data menjadi indikator dari masing-masing indikator MDGs, tampak dari 5 kabupaten di daerah studi adanya keragaman indikator yang diolah, yang secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut: Angka kematian bayi (AKB), angka kematian Balita (AKABA), angka kematian ibu (AKI): Dua dari lima kabupaten (60%) menyebutkan indikator yang diolah hanya angka kematian bayi saja, sementara 3 lainnya mengolah AKB, AKABA, AKI. Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu: Hanya 1 dari 5 kabupaten studi yang tidak menyebutkan indikator cakupan kunjungan ibu hamil K4 dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, sementara 3 dari 4 kabupaten yang mengolah indikator pelayanan tersebut juga mengolah indikator cakupan pemberian Fe ibu hamil. Indikator lainnya yang dilaporkan diolah adalah presentase ibu hamil kurang energi protein (KEK) dan presentase diare ditolong oleh kader. Status Gizi Balita: Hanya Kabupaten Bantaeng yang tidak mengolah indikator status gizi. Indikator yang diolah oleh 4 kabupaten lainnya terlihat beragam, yaitu presentase Balita kurang gizi, presentase bayi BGM dan presentase Balita BGM. Diinformasikan oleh pengelola program dari Direktorat Gizi Masyarakat bahwa istilah BGM (bawah garis merah) diterjemahkan sebagai gizi buruk. Indikator Pelayanan Kesehatan Anak: Hanya Kabupaten Bantaeng yang tidak menyebutkan mengolah indikator cakupan pemberian Vit A, sementara indikator presentase anak yang diimunisasi hanya tidak disebutkan diolah oleh kabupaten Takalar. Di samping itu hanya kabupaten Bone yang menyebutkan mengolah persentase rumah tangga yang menggunakan garam beryodium Insiden dan Prevalansi Penyakit Menular: Seluruh kabupaten di daerah studi menyebutkan mengolah indikator prevalensi TB dan hanya 3 kabupaten (60%) di antaranya yaitu Kabupaten Bone, Polewali Mandar dan Mamuju yang juga mengolah indikator persentase TB yang sembuh dengan pengobatan DOTS. Prevalensi malaria, hanya dilaporkan diolah di Kabupaten Mamuju, sementara Kabupaten Bone dan Takalar juga mengolah indikator penyakit menular lainnya seperti kusta, HIV/AIDS, rabies, DBD, diare, avian influensa.

120

4.3.6

Kesulitan yang Ditemukan

Kesulitan yang dihadapi pada proses pengelolaan data di beberapa kabupaten adalah sebagai berikut: 1) Data yang diterima sering tidak lengkap dan tidak akurat, 2) Data dari dokter praktek dan klinik swasta tidak terlaporkan, 3) Tenaga pengelola merangkap pekerjaan lain, 4) Belum ada unit atau seksi khusus menangani pengelolaan data, 5) Biaya pengelolaan data yang terbatas, dan 6) Luasnya wilayah kerja dan kondisi geografis menyebabkan petugas tidak mampu menjangkau seluruh wilayah. Selain kesulitan tersebut di atas, adanya hambatan karena keterbatasan sarana, biaya dan kemampuan tenaga yang kurang memadai serta kondisi geografis, menyebabkan proses pengumpulan data menjadi terlambat. Demikian pula kurangnya koordinasi dan komitmen terhadap pentingnya data, masih dirasakan baik di dinas kesehatan propinsi maupun kabupaten.

4.3.7

Usulan

Usulan agar data menjadi lengkap, akurat dan tepat waktu disebutkan oleh 3 kabupaten di 2 propinsi yang dilakukan studi sebagai berikut: Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan 1) Perlu peningkatan kualitas petugas pengelola data melalui pelatihan manajemen data, 2) Perlu penambahan dana dan sarana untuk pengolahan data, dan 3) Perlu penjaringan data dari rumah sakit swasta dan praktek dokter swasta,

121

Kabupaten Poliwali Mandar dan Mamuju, Sulawesi Barat 1) Perlu meningkatkan pemahaman kepada semua pihak, baik eksekutif maupun legislatif, di semua tingkatan wilayah tentang pentingnya data, 2) Perlu diciptakan koordinasi yang intensif antara sektor dan BPS, sehingga tidak terjadi perbedaan angka pada jenis data yang sama, 3) Perlu adanya Perda yang mengatur pengelolaan data di kabupaten, 4) Perlu adanya unit pengelola data di dinas kesehatan kabupaten, 5) Perlu SK bupati yang menunjuk petugas khusus yang menangani data di seluruh dinas kesehatan (satuan kerja perangkat daerah), dan 6) Perlu dukungan sarana dan prasarana serta peningkatan pelatihan manajemen data bagi pengelola data. 4.4 Kesimpulan

a. Penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan di daerah studi telah menghasilkan indikator MDGs meskipun antara daerah yang satu dengan lainnya tidak sama jenis indikatornya. b. Di dalam proses pengumpulan maupun pengolahan data masih dihadapi kendala-kendala karena keterbatasan sarana, tenaga, biaya, serta belum adanya pengelola data yang purna waktu. c. Kendala-kendala tersebut kelihatannya berpangkal pada tidak adanya unit yang khusus mengelola data. d. Belum semua data yang dikumpulkan mencakup data dari berbagai unit pelayanan di wilayah kecamatan maupun kabupaten. e. Beberapa indikator yang ingin diperoleh datanya di tingkat kecamatan, masih perlu dibicarakan dengan unit-unit program. f. Beberapa usulan untuk memperbaiki penyelenggaraan sistem informasi kesehatan perlu diperhatikan dan ditindaklanjuti agar bisa diperoleh data yang lebih lengkap, akurat dan tepat waktu.

122

4.5 1. 2. 3. 4.

Daftar Pustaka Departemen Kesehatan R.I. Petunjuk Pengisian Formulir Pencatatan SP2TP. Ditjen Binkesmas, Tahun 1997. Departemen Kesehatan R.I. Petunjuk Pengisian Formulir Pelaporan SP2TP. Ditjen Binkesmas, Tahun 1997. Departemen Kesehatan R.I. Buku Pedoman Sistem Informasi Manajemen Puskesmas, Buku 1. Ditjen Binkesmas, Tahun 1997. Departemen Kesehatan R.I. Kebijakan Dan Strategi Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS). Kepmenkes R.I. No. 511/Menkes/SK/V/2002. Depkes RI, Jakarta 2002. Departemen Kesehatan R.I. Keputusan Menteri Kesehatan R.I. Pedoman Sistem Informasi Rumah Sakit. Ditjen Pelayanan Medik, Tahun 2003. Departemen Kesehatan R.I. Kepmenkes R.I No. 1479/Menkes/SK/X/2003, Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu. Ditjen P2M & PL Tahun 2004. Departemen Kesehatan R.I. Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA). Ditjen Binkesmas. Jakarta, 2004. Departemen Kesehatan R.I. Petunjuk Teknis Pemantauan Status Gizi (PSG) dan Keluarga Sadar Gizi (Kadarsi). Ditjen Binkesmas, Tahun 2007. Departemen Kesehatan R.I. Petunjuk Teknis Pencatatan dan Pelaporan Program Imunisasi. Ditjen PP-PL Dit SEPIM KESMA, Tahun 2007. Pemerintah Daerah Propinsi Sulawesi Selatan. Laporan Daerah Tentang Studi Alur Data Sektoral di Propinsi Sulawesi Selatan, Tahun 2007. Pemerintah Daerah Propinsi Sulawesi Barat. Laporan Daerah Tentang Studi Alur Data Sektoral di Propinsi Sulawesi Barat, Tahun 2007.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

123

124
REGISTER KEGIATAN POSYANDU Bulan : Tahun : KIA Bayi Btl 1 14 24 25 26 27 2 K1 K4 Diukur cm BCG I II III I Btl Kapsul Jml dpt Jml dapat Jml 1-4 tahun LILA <23,5 II III IV I II III Balita Anak Balita Ibu hamil WUS DPT Polio Sirup Fe Balita Vit A Bayi 0-11 bulan GIZI WUS Imunisasi Hepatitis 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Feb Agust Yodium kolos ASI Eksklusif DDTK trum I IV 15 16 17 18 19 20 21 22 Jml DDTK 23 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

Puskesmas : Kecamatan :

Jml

No

Nama

Kader

Posyandu

Aktif S K D N KEP S K D N KEP

Lampiran 4.1

REGISTER KEGIATAN POSYANDU Bulan : Tahun :

Puskesmas : Kecamatan :

DIARE Jml Kader Aktif Jml Diobati Campak ISPA DESA

No

Nama

Posyandu

39

40

41

42

43

Lampiran 4.1 (Lanjutan)

125

126
LB1 Halaman 1 Yang lapor : Bulan : Tahun : LAPORAN BULANAN DATA KESAKITAN JUMLAH PENDERITA 0-7 hr 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 8-28 hr 1-<1 th 1-4 th 5-9 th 10-14 th 15-19 th 20-44 th 45-54 th 55-59 th 60-69 th >'70 th 14 TOTAL 15 Pelapor

Kode Puskesmas : Puskesmas : Kecamatan : Puskesmas Pembantu yang ada : Kabupaten/Kota : Propinsi :

N0

JENIS PENYAKIT

01

PENYAKIT INFEKSI PADA USUS

0101 Kolera

0102 Diare (termasuk tersangka kolera)

0103 Disentri

0104 Infeksi penyakit usus yg lain

02

PENYAKIT TUBERKULOSA

0201 TB Paru

0202 TB Selain Paru

03

PENYAKIT BAKTERI

0301 Kusta I/T (MB)

0302 Kusta B/L (PB)

dst

dst

.. dst.

Mengetahui Pimpinan Puskesmas

Lampiran 4.2

( NIP

( NIP

Lampiran 4.3
Kode Puskesmas: Puskesmas: Kecamatan: Puskesmas Pembantu yang ada: Kabupaten/Kota: Propinsi: LB3 Halaman 1 dan 2 Yang lapor: Bulan: Tahun:

LAPORAN BULANAN KIA, GIZI IMUNISASI, PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR

N0 1 I GIZI

KEGIATAN JUMLAH 2 1 Jumlah anak balita dapat vit A dosis tinggi (200.000 IU) 2 Jumlah ibu nifas dapat vit A dosis tinggi 3 Jumlah ibu hamil dapat tabel tambah darah (Fe) 30 tablet (Fe1) 4 Jumlah ibu hamil dapat tabel tambah darah (Fe) 90 tablet (Fe3) 5 Jumlah balita dapat sirup tambah darah (Fe) botol I 150 cc (FeBal I) 6 Jumlah balita dapat sirup tambah darah (Fe) botol II 300 cc (FeBal 2) 7 Jumlah bayi <1th ditimbang 8 Jumlah anak balita 1-4 th ditimbang 9 Jumlah bayi dan anak balita dengan Berat Badan di Bawah Garis Merah 15

10 Jumlah bunil mendapat kapsul yodium 11 Jumlah penduduk lainnya mendapat kapsul yodium 12 Jumlah WUS (Wanita Usia Subur) baru yang diukur LILA (Lingkar Lengan Atas) 13 Jumlah WUS baru yang diukur < 23,5 cm II KIA 1 Jumlah kunjungan K1 ibu hamil 2 Jumlah kunjungan K4 ibu hamil 3 . Dst III 1 2 3 4 IV A IMUNISASI Jumlah bayi 9-11 bulan divaksinasi campak Jumlah bayi 2-11 bulan divaksinasi DPT1 Jumlah bayi 0-11 bulan divaksinasi Hepatitis B1 . Dst

B C D E

PENGAMATAN PENYAKIT MENULAR ACUTE FLACCID PARALYSIS (AFP) 1 Jumlah kasus AFP baru (0-15 tahun) ditemukan 2 Jumlah kasus AFP 0-15 tahun dilacak TETANUS NEONATORUM MALARIA DBD (Demam Berdarah Dengue) RABIES

Mengetahui Pimpinan Puskesmas

Penagggung Jawab KIA-GIZI, IMUNISASI, P2M

( NIP

( NIP

127

128
DATA KEADAAN MORBIDITAS PASIEN RAWAT INAP RUMAH SAKIT Formulir RL2a Halaman No. Kode RS
GOLONGAN SEBAB-SEBAB SAKIT 4 Kolera Demam tifoid dan paratifoid Sigellosis dst dst .. dst. PASIEN KELUAR (HIDUP DAN MATI) MENURUT GOLONGAN UMUR 0-28 hr 29 hr- 1 th 1-4 th 5-14 th 15-24 th 25-44 th 45-64 th 65+ th 5 6 7 8 9 10 11 12 PASIEN KEL (H+M) MEN SEX JML PASIEN KELUAR (H+M) Lk Pr 13 14 15 JML PASIEN KEL MATI 16

NAMA RS :

Nomor Nomor No Daftar Urut DTD Terperinci 1 2 3

01

001

A00

02

002

A01

03

003

A02

Lampiran 4.4

DATA KEADAAN MORBIDITAS PASIEN RAWAT JALAN RUMAH SAKIT

NAMA RS :

Formulir RL2b Halaman No. Kode RS


GOLONGAN SEBAB-SEBAB SAKIT 4 Kolera Demam tifoid dan paratifoid Sigellosis dst dst .. dst. PASIEN KELUAR (HIDUP DAN MATI) MENURUT GOLONGAN UMUR PASIEN KEL (H+M) MEN SEX JML PASIEN JML PASIEN KELUAR (H+M) KEL MATI 0-28 hr 29 hr- 1 th 1-4 th 5-14 th 15-24 th 25-44 th 45-64 th 65+ th Lk Pr 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Nomor Nomor No Daftar Urut DTD Terperinci 1 2 3

01

001

A00

02

002

A01

03

003

A02

Lampiran 4.5

129

130
Formulir RL2a1 Halaman No. Kode RS
GOLONGAN SEBAB-SEBAB SAKIT N0 URUT 17

DATA KEADAAN MORBIDITAS PASIEN RAWAT INAP SURVEILANS TERPADU RUMAH SAKIT

NAMA RS :

Nomor Nomor No Daftar Urut DTD Terperinci 1 2 3 4


Kolera Demam tifoid dan paratifoid Sigellosis

KASUS BARU MENURUT GOLONGAN UMUR 0-28 hr 29 hr- 1 th 1-4 th 5-14 th 15-24 th 25-44 th 45-64 th 5 6 7 8 9 10 11 65+ th 12
KASUS BARU MEN SEX JML KASUS JML BARU KUNJUNGAN Lk Pr 13 14 15 16

01

001

A00

02

002

A01

03 dst dst .. dst.

003

A02

Lampiran 4.6

DATA KEADAAN MORBIDITAS PASIEN RAWAT JALAN SURVEILANS TERPADU RUMAH SAKIT

NAMA RS :

Formulir RL2b1 Halaman No. Kode RS


GOLONGAN SEBAB-SEBAB SAKIT

Nomor Nomor No Daftar Urut DTD Terperinci 1 2 3 4


Kolera Demam tifoid dan paratifoid Sigellosis

KASUS BARU MENURUT GOLONGAN UMUR 0-28 hr 29 hr- 1 th 1-4 th 5-14 th 15-24 th 25-44 th 45-64 th 5 6 7 8 9 10 11 65+ th 12

KASUS BARU MEN SEX JML KASUS JML N0 BARU KUNJUNGAN URUT Lk Pr 13 14 15 16 17

01

001

A00

02

002

A01

03 dst dst .. dst.

003

A02

Lampiran 4.7

131

132
Formulir RL2c No. Kode RS : Umur/Sex
KEADAAN PASIEN

Nama RS : PENYEBAB SAKIT TBC Dipteri Pertusis Tetanus Campak Neonatorum Paru Polio 11 12 13 14 15 16 17 18 0 3 TK Hidup Mati 1 2 5 6 7 8 9 10 Tetanus STATUS IMUNISASI**)

No. L 3 4 P

Nomor Rekam Medis Pasien

Lampiran 4.8

V. Data Sektoral Bidang Keluarga Berencana (KB)


(Drs. Freddy Aritonang, M.M., Dra. Hitima Wardhani, M.P.H.

5.1
5.1.1

Pendahuluan
Latar Belakang

Program KB di Indonesia sebelum dan sesudah ICPD -1994 mengalami perubahan secara nyata. Pada awalnya pelayanan KB menekankan pada aspek demografis, yaitu pengendalian angka kelahiran. Pasca ICPD-1994 kebijakan pelayanan KB lebih mengedepankan aspek hak azasi manusia (HAM) dalam arus pembangunan sesuai dengan perkembangan pembangunan nasional dan internasional. Dengan demikian program KB di Indonesia mengalami perubahan orientasi dari nuansa demografis ke nuansa kesehatan reproduksi yang di dalamnya terkandung pengertian bahwa KB adalah suatu program yang dimaksudkan untuk membantu pasangan atau perorangan dalam mencapai tujuan reproduksinya. Pelayanan kontrasepsi tidak hanya dilihat sebagai layanan pengaturan kelahiran belaka, tetapi telah dikaitkan dengan pelayanan masalah kesehatan reproduksi secara umum. Pada tingkat pelayanan kesehatan primer dan pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif, pengaturan kelahiran menggunakan kontrasepsi telah diarahkan sebagai layanan yang bersifat multi-guna, termasuk untuk menjaga kesehatan ibu dan anaknya, serta memperbaiki kehidupan seksualnya. Untuk memantau perkembangan dan kesinambungan program KB nasional di lapangan, BKKBN telah mengembangkan sistem pencatatan dan pelaporan program KB nasional. Pengumpulan data melalui sistem catatan administrasi dimaksudkan untuk memantau perkembangan program KB di setiap tingkatan wilayah sampai dengan tingkat pusat. Di lain pihak pembangunan millenium secara global telah disepakati dan indikator yang merujuk pada tujuan dan target telah dikembangkan. Salah satu indikator yang menjadi tujuan dan target MDGs dapat pula diperoleh 133

dari sistem pencatatan dan pelaporan BKKBN. Data yang dapat dikontribusikan untuk memonitor pencapaian indikator MDGs tersebut adalah persentase angka pemakaian kontrasepsi di antara PUS yang dianggap sebagai salah satu proksi untuk mengukur tingkat kesehatan ibu. Selain itu program KB dapat memberikan kontribusi dalam memberikan data tentang peserta KB kondom untuk memberikan gambaran pemakaian kondom sebagai perlindungan terhadap penyakit HIV/AIDS. Guna mengintegrasikan sistem pencatatan dan pelaporan yang ada dan dikaitkan dengan evaluasi pencapaian tujuan MDGs, maka perlu dilakukan identifikasi sistem informasi yang ada untuk dikaji kemungkinan adanya peluang dan kendala dalam memantau indikator MDGs. Untuk tujuan dimaksud telah dilakukan suatu pilot survei di beberapa kabupaten/kota dan provinsi yang sasarannya adalah instansi sektor pembangunan yang terkait dengan target MDGs. Untuk mengetahui gambaran alur data mendapatkan indikator MDGs tersebut di sektor BKKBN, telah dilakukan beberapa tahapan kegiatan yang diuraikan dalam makalah ini. Makalah ini disusun berdasarkan empat sumber informasi, pertama, hasil observasi ke SKPD KB, kedua, hasil pembahasan atas jawaban kuesioner yang diisi oleh para anggota diskusi terarah, ketiga, masukanmasukan pada forum sosialisasi hasil studi ini di internal BKKBN, dan keempat, referensi yang dikembangkan oleh BKKBN pusat, baik dari buku pedoman maupun buku-buku petunjuk teknis yang masih berlaku saat ini. Berikut ini disampaikan sistematika materi makalah. Bab I: Pendahuluan, meliputi latar belakang, dasar hukum pelaksanaan pengumpulan data di BKKBN; di Bab II diuraikan situasi umum pengelolaan data meliputi kelembagaan pengelolaan data, sistem pencatatan dan pelaporan KB nasional, serta hambatan dalam pengelolaan data. Bab III membahas alur data yang terkait dengan indikator MDGs, dirinci mulai dari pengumpulan data, penerimaan dan perekaman dokumen, sampai proses pengolahan data. Bab IV merupakan kesimpulan dan saran. Diharapkan temuan-temuan ini dapat memberikan gambaran bagaimana alur sistem pencatatan dan pelaporan BKKBN dapat memberikan kontribusi terhadap monitoring indikator MDGs. 134

5.1.2

Dasar Hukum Pelaksanaan Pengumpulan Data di BKKBN

Berdasarkan Keppres No. 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas dan Fungsi, Kewenangan Lembaga Pemerintah Non-Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah dan terakhir diubah dengan Keppres RI Nomor 9 tahun 2004, BKKBN mempunyai tugas melaksanakan pemerintahan di bidang keluarga berencana dan keluarga sejahtera sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. BKKBN sejak berdiri pada tahun 1970, bahkan sebelum ditetapkan sebagai lembaga non-departemen, telah memberikan perhatian terhadap pentingnya data dan informasi dalam perencanaan, pelaksanaan dan monitoring program KB. Hal ini dapat diketahui dengan dibentuknya unit setingkat Bbiro yang secara khusus menangani pengelolaan data. Selanjutnya dengan berkembangnya program KB, pengelolaan data dilakukan oleh unit pada tingkat deputi. Perkembangan program juga diikuti dengan perubahan struktur organisasi. Melalui Surat Keputusan Menteri Pemberdayaan Perempuan/Kepala BKKBN Nomor 150/HK-010/B5/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja BKKBN, ditetapkan bahwa pengelolaan data program KB nasional di pusat dikoordinir oleh Deputi Informasi Keluarga dan Pemaduan Kebijakan Program (IKPK). Deputi ini membawahi lima direktorat yaitu: o o o o o Direktorat Pelaporan dan Statistik, Direktorat Pengolahan dan Teknologi Informasi, Direktorat Analisa dan Evaluasi Program, Direktorat Penyajian Data dan Penyebarluasan Informasi, dan Direktorat Pemaduan Kebijakan Program.

Pengelolaan data di provinsi, berdasarkan Keputusan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan/Kepala BKKBN Nomor 70/HK-010/B5/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja BKKBN Provinsi dan Kabupaten/Kota, ditangani oleh unit khusus yaitu bidang informasi keluarga dan analisa program (IKAP). Pada studi pemetaan ini di Provinsi Sulawesi Selatan, bidang IKAP dibantu oleh tiga seksi yaitu seksi pelaporan dan statistik, seksi pengolahan, penyebarluasan informasi dan data, dan seksi analisa, 135

sedangkan di Provinsi Sulawesi Barat, sebagai provinsi pengembangan pada era desentralisasi, pengelolaan data dilakukan oleh bidang pelatihan dan informasi keluarga dibantu oleh dua seksi yaitu seksi pengolahan dan pelaporan serta seksi analisis dan informasi. Di tingkat kab/kota pengelolaan data program sangat beragam tergantung dari kebijakan pemerintah daerah, namun sesuai Surat Keputusan Kepala BKKBN No. 276/HK-010/B5/2004 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang KB dan KS bagi kabupaten/kota, salah satu kewenangan wajib yang harus dilakukan di kabupaten dan kota adalah penyediaan data dan informasi keluarga serta penduduk yang lengkap dari waktu ke waktu.

5.2 Situasi Umum Pengelolaan Data di BKKBN


5.2.1 Kelembagaan Sesuai dengan keputusan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan/ Kepala BKKBN No.70/HK.010/B5/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Provinsi dan Kabupaten/Kota, BKKBN tingkat provinsi masih bersifat vertikal kecuali provinsi DKI Jakarta, sedangkan di tingkat kabupaten/kota bersifat otonomi. Kemudian sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, mekanisme koordinasi BKKBN pusat/provinsi dengan pihak kabupaten/kota dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dalam hal ini melalui bupati/walikota cq satuan kerja perangkat daerah keluarga berencana (SKPD-KB) kabupaten/kota. Nomenklatur SKPD-KB di kabupaten/kota sangat beragam, tergantung kepada kebijakan daerah masing-masing. Pada lokasi studi pemetaan ini bentuk kelembagaannya antara lain: o Kabupaten Bone: Dinas Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera, berdasarkan Perda No. 13 tahun 2003 tentang Pembentukan Organisasi Tata Kerja Dinas Keluarga Berencana. Kabupaten Takalar: Dinas Keluarga Berencana, berdasarkan Perda No. 10 tahun 2003 tentang Pembentukan Organisasi Tata Kerja Dinas Keluarga Berencana dan diperkuat lagi dengan SK Bupati No. 101.

136

Kabupaten Mamuju: Dinas KB, Kesos dan Linmas, berdasarkan Perda No. 13 Tahun 2003 tentang status kelembagaan dan pembentukan organisasi dinas KB, kesejahteraan sosial dan perlindungan masyarakat. Kabupaten Polewali Mandar: Dinas Kesehatan dan KB, berdasarkan Perda No. 4 tahun 2005 dan Perda No. 9 tahun 2006 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Dinas-dinas Daerah Kabupaten Polewali Mandar. Kabupaten Bantaeng: Dinas Kependudukan, Catatan Sipil dan Keluarga Berencana, berdasarkan Perda No. 3 tahun 2003.

Dengan beragamnya nomenklatur tersebut, institusi yang melaksanakan pengelolaan data program KB juga bervariasi. Di lokasi studi sebagian kabupaten mempunyai unit khusus bidang pengelola data dan informasi yaitu yang dikepalai oleh pejabat eselon III yaitu Kabupaten Takalar dan Kabupaten Bone, sedangkan di Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Polewali Mandar data tidak dikelola secara khusus. Di Kabupaten Mamuju data KB dikelola oleh Kasubag TU yang juga menangani data Kesos dan Linmas, di Kabupaten Polewali Mandar oleh Kasubag KB yang menangani pula kegiatan operasional program KB dan melekat pada Bidang Kesejahteraan Keluarga dan KB. Dengan kata lain SKPDKB di kabupaten dan provinsi pengembangan tidak ada unit pengelola data secara khusus, sehingga mekanisme alur data belum berjalan secara efektif. Namun ada beberapa instansi yang melakukan pengelolaan data berdasarkan surat keputusan bupati dan surat keputusan kepala badan/dinas/kantor. 5.2.2 Sistem Pencatatan dan Pelaporan Program KB Nasional Monitoring dan evaluasi menjadi ciri penting dalam perkembangan program KB. Penerapan sistem informasi yang up to date merupakan salah satu dari sasaran program KB. Untuk itu telah dikembangkan sistem pencatatan dan pelaporan Program KB Nasional, yang meliputi tiga hal: 1) Pelayanan kontrasepsi, 2) Pengendalian lapangan, dan 3) Pendataan keluarga. 137

Ketiga sub-sistem tersebut saling berhubungan, di mana hasil pendataan keluarga menjadi dasar penentuan sasaran untuk kegiatan operasional pelayanan kontrasepsi dan pengendalian lapangan. Hasil pelayanan kontrasepsi dicatat dan dilaporkan dengan menggunakan mekanisme dalam Sub-sistem Pencatatan dan Pelaporan Pelayanan Kontrasepsi, dan hasil operasional pengendalian lapangan dicatat dan dilaporkan dengan menggunakan mekanisme dalam Sub-sistem Pencatatan dan Pelaporan Pengendalian Lapangan. Secara rinci untuk menjelaskan masing-masing sistem pencatatan dan pelaporan tersebut, adalah sebagai beikut: 1) Pelayanan Kontrasepsi Pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi adalah suatu kegiatan mencatat dan melaporkan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan kontrasepsi, dilakukan oleh klinik KB dan dokter/bidan praktek swasta. Pengumpulan data laporan hasil pelayanan KB dan keadaan logistik alat kontrsepsi dilakukan sebulan sekali di klinik KB tingkat kecamatan. Laporan bulanan pelayanan kontrasepsi ini dicatat dalam formulir F/II/KB/04 (Lampiran 5.6) Data bulanan berasal dari catatan hasil pelayanan oleh klinik KB pemerintah maupun swasta serta yang dilakukan dokter maupun bidan praktek swasta. Isi laporan bulanan klinik KB terdiri dari 1) jumlah Klinik KB yang melaporkan hasil pelayanannya, 2) hasil pelayanan kontrasepsi yang diberikan pada setiap klinik, 3) pelayanan komplikasi, kegagalan dan pencabutan implant, persediaan alat kontrasepsi dan 4) pelayanan Askeskin pada penggunaan alat kontrasepsi. Sesuai dengan mekanisme yang telah ditetapkan oleh BKKBN pusat, di setiap awal bulan, laporan dari klinik dikirim ke kabupaten melalui petugas lapangan keluarga berencana (PLKB) atau penyuluh KB (PKB) dan kepala unit pelaksana teknis daerah (UPTD) pengawas PLKB (PPLKB). Laporan yang diterima di tingkat kabupaten kemudian disusun rekapitulasinya dan dikirim ke BKKBN propinsi, dan tembusan ke BKKBN pusat cq Direktorat Pelaporan dan Statistik. Langkah yang sama dilakukan di tingkat provinsi, yang merekapitulasi laporan dari seluruh kabupaten/kota 138

di wilayahnya kemudian dikirim hasilnya ke BKKBN pusat cq. Direktorat Pelaporan dan Statistik dan mitra kerja. Selain itu juga terdapat laporan yang bersifat tahunan, yang berisi data tentang 1) jumlah klinik, 2) personil yang ada serta jenis pelatihan KB yang telah diikuti serta 3) peralatan yang dimiliki untuk pelayanan KB di klinik yang bersangkutan. Semua data tersebut dicatat dalam formulir K/0/KB/04. Laporan ini dilakukan satu kali dalam satu tahun, pengumpulan datanya dilakukan oleh klinik KB yang ada dan laporan dikirim ke kecamatan dan diteruskan ke pengelola data di kabupaten. Untuk data tahunan, mekanisme pelaporannya sama dengan laporan bulanan, dilakukan setiap bulan Februari. 2) Pengendalian Lapangan Pencatatan dan Pelaporan Pengendalian Lapangan Program KB Nasional adalah suatu mekanisme pencatatan dan pelaporan untuk memonitor pelaksanaan operasional program di lini lapangan. Pelaporan dilakukan rutin setiap bulan dan satu kali dalam satu tahun. Laporan yang dilakukan sekali dalam setahun dikenal dengan data potensi wilayah, dicatat dalam formulir (K/0/Kec-Dal/04) berisi tentang 1) cakupan wilayah kerja (desa/kelurahan, dusun, RW, RT), 2) jumlah petugas lapangan (jumlah PLKB/KB & Pengelola Program KB Desa/Kelurahan), 3) institusi masyarakat pedesaan (PPKBD, Sub-PPKBD, Kelompok KB, Kelompok kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR), Bina Keluarga Lansia (BKL), Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS), 4) tempat pelayanan kontrasepsi pemerintah dan swasta, 5) jumlah pusat informasi dan konsultasi remaja, jumlah kader/motivator yang pernah dilatih kesehatan reproduksi remaja. Untuk data bulanan yang berupa laporan bulanan pengendalian lapangan berisi tentang 1) keadaan umum institusi masyarakat, 2) kegiatan operasional di lapangan, 3) rapat koordinasi program KB Nasional tingkat kecamatan dan desa/kelurahan, 4) Tim KB Keliling (TKBK) dari kecamatan ke desa, 5) pembinaan ketahanan keluarga dalam bentuk pertemuan bina 139

keluarga (BKB, BKR, BKL), 6) pembinaan kesejahteraan keluarga dalam pertemuan dan kelompok kegiatan UPPKS, 7) serta pembinaan Pasangan Usia Subur (PUS) dan kesertaan ber-KB. Data berasal dari catatan kader KB di tingkat dusun yang disebut SubPos Pembantu Keluarga Berencana Desa (Sub-PPKBD) dilaporkan kepada kader KB di tingkat desa Pembina Pos KB Desa (PPKBD), selanjutnya oleh PLKB/PKB yang mengelola program KB di tingkat desa merekapitulasi data tersebut dan dilaporkan kepada UPTD KB/PPLKB di kecamatan. Kemudian rekapitulasi data kecamatan oleh UPTD KB/PPLKB dilaporkan ke kabupaten dan selanjutnya pelaporan disampaikan secara berjenjang sampai ke tingkat pusat. Mekanisme pelaporan dilakukan seperti pelaporan pelayanan kontrasepsi. 3) Pendataan Keluarga Pendataan keluarga merupakan proses pengumpulan data keluarga dengan periode satu kali dalam satu tahun pada bulan Juli s.d. September. Tujuan dilaksanakannya pendataan keluarga adalah untuk memperoleh data basis keluarga dan anggota keluarga yang dapat memberikan gambaran secara tepat dan menyeluruh mengenai keadaan di lapangan sampai tingkat keluarga tentang hasil-hasil pelaksanaan program keluarga berencana nasional yang dapat digunakan untuk kepentingan operasional langsung di lapangan, serta untuk kepentingan penetapan kebijakan, perencanaan, pengendalian dan penilaian oleh pengelola dan pelaksana program KB di semua tingkatan. Data yang dikumpulkan meliputi data demografi, kesertaan ber-KB, pentahapan keluarga sejahtera, serta data individu anggota keluarga. Data demografi terdiri dari 31 variabel, kesertaan ber-KB 11 variabel, pentahapan keluarga 26 variabel dan data individu 11 variabel. Data dikumpulkan melalui kunjungan dari rumah ke rumah setiap keluarga oleh kader KB di tingkat dusun (Sub-PPKBD), kemudian kader tersebut melaporkan hasil pendataan kepada PPKBD yang berada di tingkat desa. Selanjutnya masing-masing PPKBD melaporkan hasil rekapitulasinya kepada PLKB/PKB. PLKB/PKB kemudian merekap dari semua hasil rekapitulasi PPKBD dan melaporkan hasil rekapitulasi tersebut kepada 140

kepala UPTD KB/PPLKB sebagai atasan langsung PLKB yang berkedudukan di kecamatan. Hasil rekapitulasi tersebut diantar langsung atau dikirim ke pengelola data KB di kabupaten/kota. Data hasil dari pendataan keluarga ini juga disusun rekapitulasinya di tingkat propinsi dan dikirim ke pusat. Mekanisme alur data dari masing-masing sistem pencatatan dan pelaporan yang dibakukan di BKKBN dapat digambarkan seperti pada Diagram 5.1, Diagram 5.2, dan Diagram 5.3. Diagram 5.1

141

Diagram 5.2

142

Diagram 5.3

143

Dengan memperhatikan bagan alur pencatatan dan pelaporan Program KB Nasional, maka di setiap tingkatan wilayah (kabupaten/kota, provinsi dan pusat) dilakukan pengumpulan, validasi, pengolahan, rekapitulasi, analisis dan penyajian data pada masing-masing unit kerja pengelola data dan informasi sesuai struktur organisiasi yang ada. Namun di tingkat kecamatan semua fungsi pengelolaan data dan informasi hanya dilakukan oleh kepala unit pelaksana teknis (Ka UPT)/PPLKB.

5.3

Hambatan dalam Pengelolaan Data

5.3.1 Tenaga
Mekanisme pelaporan yang telah ditentukan oleh BKKBN pusat dalam era desentralisasi ini dapat berjalan dengan baik apabila tersedia dukungan tenaga, sarana dan dana yang cukup memadai. Namun pada era desentralisasi ini, jumlah petugas PLKB/PKB sangat berkurang, sebagian dari mereka alih tugas sesuai dengan kebijakan pemerintah daerah masingmasing, misalnya PLKB/PKB dipindah tugaskan menjadi staf ke dinas lain, ada yang menjadi kepala desa, bahkan ada yang menjadi camat. Dengan berkurangnya tenaga PLKB/PKB maka pelaksanaan pengelolaan data di lapangan agak terhambat. Kondisi yang ideal adalah setiap desa dibina oleh satu petugas PLKB/PKB. Kenyataan sekarang satu PLKB/PKB membina 2 sampai dengan 5 desa. Sebagai contoh di Kabupaten Takalar terdapat 77 desa, sedangkan jumlah PLKB/PKB 41 orang, sehingga setiap PLKB/PKB membina rata-rata dua desa. Di Kabupaten Mamuju, terdapat 121 desa, sedangkan jumlah PLKB/PKB hanya 39 orang, sehingga rata-rata setiap PLKB/PKB harus membina 2 sampai dengan 3 desa. Sementara itu di karena tidak semua kecamatan mempunyai Ka UPT KB/PPLKB, maka para PLKB/PKB juga harus merangkap sebagai Ka UPT KB/PPLKB. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut adalah dengan cara memanfaatkan tenaga Sub-PPKB dan PPKBD di dusun dan desa/kelurahan sebagai kepanjangan tangan dari tenaga PLKB/PKB. Hampir di setiap desa terdapat kader PPKBD, dan di tingkat RW/dusun terdapat Sub-PPKBD. Jumlah Sub-PPKBD bahkan melebihi jumlah RW/dusun, misalnya di Kabupaten Takalar, satu dusun lebih dari satu orang 144

Sub-PPKBD khususnya di kota. Kemauan menjadi kader Sub-PPKBD berasal dari masyarakat sendiri, alasannya untuk mengisi kekosongan waktu serta untuk menambah pergaulan di masyarakat, khususnya bagi remaja yang berpendidikan minimal lulusan SMP, SMA bahkan ada pula yang sarjana. Namun di lain pihak Sub PPKBD dan PPKBD tersebut, selain menjadi kader untuk program KB, juga dimanfaatkan oleh sektor-sektor lain. Pada umumnya sektor lain memberikan insentif yang lebih besar dibandingkan dengan yang diberikan oleh SKPD KB, sehingga perhatian PPKBD/Sub PPKBD terhadap pengelolaan data KB di lapangan menjadi sangat berkurang, akibatnya kualitas data dan cakupan laporan menjadi rendah. Dalam menyikapi hal tersebut beberapa SKPD KB di daerah memberi dukungan pembiayaan/insentif yang berasal dari APBD. Sebagai contoh di Kabupaten Takalar, biaya operasional PPKBD dari dana APBN hanya Rp 25.000,- setahun untuk 72 dari 77 desa yang ada, sedangkan dana dari APBD sebesar Rp 15.000,- per bulan bagi PPKBD dan Rp 10.000,- per bulan bagi Sub-PPKBD. Faktor lain yang menyebabkan rendahnya cakupan laporan adalah tidak tersedianya petugas penghubung dokter dan bidan prakterk swasta sehingga data hasil pelayanan dokter dan bidan praktek swasta menjadi lebih kecil dari seharusnya (undercoverage). 5.3.2 Sarana

Pengelolaan data dilakukan dengan menggunakan komputer, tetapi tidak menggunakan program aplikasi khusus, hanya entry di komputer dengan program secara sederhana. Hal ini dilakukan baik di provinsi maupun di tingkat kabupaten. Dalam mengolah data individu anggota keluarga hasil pendataan keluarga sudah dikembangkan oleh BKKBN pusat. Tampaknya karena kapasitas komputer di provinsi dan kabupaten/kota tidak memadai, maka pengolahan dilakukan secara manual dengan program sederhana bukan program aplikasi khusus.

145

Jumlah komputer yang tersedia untuk pengelolaan data di wilayah studi dirasakan sangat kurang, kecuali di kantor BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan. Sementara itu penggunaan komputer tidak hanya untuk pengelolaan data tetapi juga untuk keperluan adminsitrasi lainnya, sehingga menjadi kendala untuk menyediakan data tepat waktu. Selain itu juga tidak tersedia ruangan khusus untuk pengelolaan data. 5.3.3 Anggaran Anggaran didapat baik dari APBD maupun APBN. Namun ada kabupaten yang tidak dapat menerima dana APBD untuk pengelolaan data karena dianggap tidak terdaftar programnya dalam Permendagri No. 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Besarnya dana APBD sangat bervariasi, tergantung kepada perhatian Pemda dan pihak legislatif terhadap pentingnya data. Anggaran pendataan keluarga yang bersumber dari APBN adalah sebesar Rp 300.000,- per desa, tetapi biasanya diberikan tidak sesuai dengan jumlah desa yang ada, misalnya di Kabupaten Mamuju hanya diberikan bagi 111 desa dari 121 desa yang ada. Di Kabupaten Takalar bahkan hanya Rp 200.000,- per desa untuk 64 desa dari 77 desa yang ada. Kedua kabupaten ini beruntung karena perhatian Pemda terhadap pentingnya data cukup tinggi. Dana operasional pendataan keluarga dari APBD sebesar Rp 350.000/desa di Kabupaten Mamuju, dan Rp 96 juta di Kabupaten Takalar.

5.4
5.4.1

Alur Data Terkait Monitoring Indikator MDGS


Pengumpulan Data

Secara global telah disepakati bahwa guna memantau dan mengevaluasi MDGs telah dikembangkan berbagai indikator yang dapat merujuk pada tujuan dan target. Untuk mendapatkan data dan informasi di wilayah kecil telah diidentifikasi data yang terdapat dalam sistem pencatatan administrasi dan yang dilakukan melalui survei. Data yang digunakan untuk menghitung indikator MDGs atau proksinya diperoleh dari Sistem Pencatatan dan Pelaporan Pendataan Keluarga di kabupaten dan kecamatan. Informasi tersebut antara lain:

146

a. Persentase pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur (PUS) usia 1549 tahun; b. Persentase pemakaian kontrasepsi kondom pada pasangan usia subur (PUS) usia 1549 tahun; c. Proporsi penduduk yang termasuk dalam kategori keluarga pra-sejahtera dan keluarga sejahtera I; d. Persentase bayi usia 01 tahun yang ikut Posyandu; e. Persentase Balita usia 15 tahun yang ikut Posyandu; f. Jumlah ibu yang hamil; dan g. Jumlah anak usia sekolah (7-15 tahun) yang sekolah dan tidak bersekolah menurut jenis kelamin. Data tentang persentase pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur (PUS) usia 1549 tahun dan persentase pemakaian kontrasepsi kondom pada pasangan usia subur (PUS) usia 15-49 tahun digunakan untuk proksi pengukuran tingkat kesehatan ibu. Pemilahan data berdasarkan jenis kelamin secara langsung dapat dilakukan di setiap tingkatan wilayah. Misalnya, KB MOP dan kondom untuk laki-laki, sedangkan KB suntikan, pil, IUD dan implant untuk perempuan. Data tentang proporsi penduduk yang termasuk dalam kategori keluarga pra-sejahtera dan keluarga sejahtera I diusulkan dapat digunakan sebagai pelengkap dalam mengukur tingkat kemiskinan. Data tentang persentase bayi usia 0-1 tahun yang ikut posyandu, persentase Balita usia 1-5 tahun ikut Posyandu, jumlah ibu yang hamil diusulkan sebagai data denominator untuk pengukuran indikator pencapaian MDGs lainnya. Demikian juga data tentang jumlah anak usia sekolah (7-15 tahun) yang sekolah dan tidak bersekolah menurut jenis kelamin dapat diusulkan dalam mengukur tingkat pendidikan dasar dan menengah. Seluruh data dari sektor BKKBN di atas dapat diperoleh dari hasil pendataan keluarga yang dicatat dengan menggunakan instrumen register yang disebut R/I/KS (Lampiran 5.1). Dalam register tersebut dapat diketahui PUS ber-KB maupun yang tidak ber-KB menyangkut nama, alamat, jenis alat kontrasepsi yang digunakan, hasil pelayanan pemerintah dan swasta, serta tingkat kesejahteraannya (Pra-KS, KS I, KS II, KS III, dan KS III plus).

147

Catatan hasil pelayanan kontrasepsi di service point dicatat setiap hari pelayanan dengan menggunakan formulir register klinik KB yang disebut R/I/KB (Lampiran 5.2), yang juga berisi identitas PUS peserta KB yang telah dilayani, menyangkut nama, alamat (wilayah binaan maupun yang di luar wilayah binaan klinik KB yang bersangkutan), dan jenis alat kontrasepsi yang digunakan. Tingkat kesejahteraan akseptor yang dilayani di klinik KB tidak dapat diketahui, saat ini sedang dalam proses pengembangan oleh BKKBN pusat. Upaya untuk mengetahui tingkat kesejahteraan PUS peserta KB yang dilayani di klinik KB, sementara ini dilakukan melalui pencatatan dan pelaporan hasil pelayanan KB yang menggunakan Askeskin. Catatan dalam register tersebut dilaporkan ke kabupaten/kota dengan menggunakan laporan bulanan klinik KB yang disebut F/II/KB (Lampiran 5.6), berisi hasil pelayanan kontrasepsi oleh pemerintah, dokter dan bidan praktek swasta. Hasil pembinaan peserta KB menurut tempat tinggal dicatat dan dilaporkan setiap bulan dengan menggunakan register Sub-PPKBD yang disebut R/I/Sub PPKBD (Lampiran 5.4) dan dilaporkan secara berjenjang sesuai dengan mekanisme dan alur pencatatan pelaporan pengendalian lapangan tersebut di atas. Untuk pelaporan tingkat kecamatan, laporan bulanan pengendalian lapangan tingkat kecamatan disebut F/I/Kec-Dal (Lampiran 5.5). Dengan demikian, untuk pelaporan data ke tingkat lebih atas secara berjenjang baik untuk pendataan keluarga, pelayanan kontrasepsi, maupun pengendalian lapangan masing-masing menggunakan formulir rekapitulasi. Masing-masing sistem berisi data pembilang dan penyebut yang diperlukan untuk menghitung presentase peserta KB terhadap PUS dan presentase pemakaian kontrasepsi kondom, dari formulir yang telah tersedia di setiap tingkatan wilayah. Waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan data dari pendataan keluarga sekitar tiga bulan, Juli s/d September, sedangkan untuk data bulanan dikumpulkan rata-rata satu minggu di tiap tingkatan wilayah, sehingga data bulan yang bersangkutan akan menjadi laporan pada bulan berikutnya. 148

1) Kesulitan Pengumpulan Data a) Banyak variabel yang dikumpulkan tetapi tidak diperlukan dalam pelaksanaan operasional program KB, pada akhirnya membebani petugas pengumpul data di lapangan dan mengakibatkan akurasi data rendah. Saat ini terdapat 81 variabel dalam pendataan keluarga, termasuk variabel data individu anggota keluarga. Data yang dianggap kurang bermanfaat bagi program KB dari aspek demografis misalnya tentang pendidikan; b) Tenaga kader yang terampil kurang karena tidak tersedianya anggaran untuk melakukan pelatihan bagi mereka; c) Provinsi dan kabupaten pengembangan tidak mempunyai tenaga khusus untuk melakukan pengelolaan data KB; d) Dukungan dana operasional dari APBN (Rp 300.000 per desa) dan APBD (tergantung pada kebijakan daerah) untuk operasional pengumpulan data pendataan keluarga rendah; e) Sumber data yang terbawah berada di tingkat RT/RW, desa/kelurahan yang dilakukan oleh institusi masyarakat pedesaan (sub-PPKBD dan PPKBD), dikoordinir oleh petugas lapangan KB (PLKB). Namun pada era desentralisasi sekarang ini banyak PLKB beralih fungsi ke strukural di kantor lain dan akibat pemekaran wilayah, sehingga menghambat kelancaran alur mekanisme yang sudah ada; f) Ada perubahan lembaga dalam bentuk penggabungan beberapa instansi menjadi dinas, badan atau kantor. Unit kerja yang menangani program KB hanya setingkat bidang/Subdin atau setingkat seksi. Hal ini mengakibatkan pengelolaan data dan informasi tidak berada dalam satu unit kerja khusus.

g) Cakupan pelayanan Askeskin tidak bisa menggambarkan hasil pelayanan KB menurut tingkat kesejahteraannya, karena belum semua PUS miskin mendapat Askeskin.

149

2) Usulan Perbaikan a) Variabel yang sudah dikumpulkan oleh sektor lain dan tidak diperlukan dalam intervensi program KB sebaiknya dihilangkan saja; b) Dalam era otonomi ini, komitmen secara berjenjang dari tingkat pusat sampai dengan kabupaten dan dari pihak legislatif maupun eksekutif sangat diperlukan. Hal ini yang akan menjadi acuan dalam menggerakkan aparat di tingkat kecamatan ke bawah, komitmen dimaksud misalnya dalam bentuk instruksi Mendagri, instruksi gubernur dan instruksi bupati, dll; c) Perlu adanya perhatian dari SKPD KB di kabupaten. Bagi SKPD KB yang tidak mempunyai unit pengelola data secara khusus maka perlu penunjukan petugas yang secara khusus menangani data KB; d) Mengoptimalkan peranan Sub-PPKBD dan PPKBD sebagai kepanjangan tangan PLKB/PKB di desa. Dengan demikian kualitas data dapat lebih ditingkatkan; e) Meningkatkan kemitraan dan kerja sama dengan IDI atau IBI dalam pencatatan dan pelaporan hasil pelayanan kontrasepsi oleh dokter dan bidan praktek swasta diharapkan dokter/bidan secara proaktif melaporkan hasil pelayanan, sehingga hasilnya dapat tetap terpantau; f) Koordinasi yang intensif dengan sektor penghasil data (misalnya BPS), sehingga dapat saling berbagi pengalaman dalam melakukan pengumpulan data yang baik;

g) Perlu dilakukan pemantauan secara berjenjang di setiap wilayah terhadap pelaksanaan pengumpulan data dalam upaya menjaga kualitas data; h) Perlu ditetapkan standar pemantauan berupa formulir atau check list sebagai instrumen untuk mengecek pelaksanaan dan hasil pelaksanan pendataan keluarga; i) Penyederhanaan formulir pendataan dan pencatatan pelaporan.

150

5.4.2

Penerimaan dan Perekaman Dokumen

Penerimaan dokumen baru dapat dilakukan di tingkat kecamatan, karena di tingkat desa/kelurahan ke bawah proses pengumpulan data di setiap tingkat lini lapangan dilakukan oleh kader Sub-PPKBD atau PPKBD. Pengumpulan dokumen data dilakukan melalui mekanisme pertemuan rutin dengan PLKB/PKB, selanjutnya PLKB/PKB dan UPT KB/PPLKB menyampaikannya secara langsung ke petugas pengelola data di kabupaten pada pertemuan setiap bulan. Untuk memudahkan penelusuran dan pengolahan data, penyimpanan dokumen dilakukan dengan memilah-milah menurut bulan laporan dan jenis laporan atau bulan laporan dan sumber wilayah pelapor. Data di tingkat desa dan kecamatan direkam secara manual berupa catatan dan register, sedangkan di tingkat kabupaten/kota dan provinsi menggunakan komputer dengan program sederhana. Program aplikasi untuk perekaman data sebenarnya sudah dikembangkan oleh BKKBN pusat cq Direktorat Pengolahan dan Teknologi Informasi dan telah disosialisasikan ke tingkat kabupaten/kota dan provinsi. Diharapkan setiap kabupaten/kota dan provinsi mempunyai data basis keluarga dan individu anggota keluarga. 1) Kesulitan dalam Penerimaan dan Perekaman Dokumen a) Petugas lapangan yang menerima dokumen/melaporkan di tingkat desa/kelurahan dan kecamatan terbatas. Tidak semua kecamatan mempunyai tenaga Ka UPT KB/PPLKB, sehingga tugas tersebut dirangkap oleh PLKB. Kondisi tersebut mengakibatkan beban kerja petugas lapangan semakin besar dan waktu yang diperlukan untuk perekaman data menjadi lebih lama dari yang seharusnya, sehingga perekaman dokumen menjadi tidak sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan; b) Pengiriman laporan dari daerah yang sulit dijangkau, misalnya daerah kepulauan dan daerah terpencil, sering terhambat karena dengan dukungan anggaran yang sangat terbatas tidak mungkin untuk melaksanakan pengiriman laporan tepat waktu, sehingga sering cakupan laporan menjadi rendah; 151

c) Kemampuan kader yang bervariasi, latar belakang pendidikan yang rendah, sehingga pemahaman terhadap pentingnya data kurang, akibatnya keakurasian data masih rendah; d) Sarana pengolahan data yang kurang memadai. Program aplikasi dikembangkan oleh BKKBN pusat memerlukan komputer dengan kapasitas yang cukup besar sedangkan di kabupaten/kota belum mempunyai komputer dengan kapasitas yang sesuai; e) Kemampuan petugas pengelola data di bidang teknologi informasi di beberapa kabupaten/kota masih rendah. Pelaksanaan perekaman data dilakukan secara manual dan tidak merekam data individu keluarga. 2) Upaya Perbaikan Penambahan petugas lapangan, disertai peningkatan perhatian terhadap tunjangan fungsional bagi mereka merupakan salah satu upaya peningkatan kualitas dan mutu data. Saat ini dirasakan bahwa pemberian tunjangan jabatan fungsional bagi PLKB/PKB kurang memadai dibandingkan dengan tunjangan kesejahteraan bagi staf biasa yang lebih besar jumlahnya. Ratarata tunjangan PLKB/PKB hanya Rp 250.000,- per bulan, tergantung kepada kredit point yang dikumpulkan sedangkan tunjangan kesejahteraan dari Pemda tidak ada. Kenyataan tersebut membuat kecenderungan bagi petugas PLKB/PKB untuk memilih menjadi staf biasa atau jabatan struktural lainnya daripada menjadi PLKB/PKB. Keadaan ini dapat ditangani dengan upaya-upaya berikut: a) Memaksimalkan fungsi institusi masyarakat, atau pemerintah desa dan kecamatan menunjuk petugas di wilayah tersebut untuk menggantikan tugas dan fungsi PLKB/PKB; b) Penempatan tenaga/petugas yang sesuai dengan kemampaun dengan bidang yang ditangani; c) Peningkatan pengetahuan dan keterampilan petugas kabupaten/kota yang menangani data dalam bidang teknologi informasi pengelolaan data;

152

d) Penyediaan sarana komputer yang mempunyai kapasitas memadai di tingkat kabupaten/kota; e) Pengembangan program aplikasi oleh BKKBN pusat untuk perekaman data yang sederhana dan mudah dioperasikan. 3) Proses Pengolahan Data BKKBN telah mempunyai program aplikasi pengolahan data berbasis teknologi (WebI), dapat menghasilkan output berupa cross tabulasi dari data basis keluarga dan individu anggota keluarga. Indikator MDGs yang diinginkan seharusnya dapat diolah dengan menggunakan program aplikasi tersebut di tingkat kabupaten. Hasil pengolahan saat ini hanya berupa data rekapitulasi, yang disebarluaskan kepada Pemda dan instansi lainnya di masing-masing wilayah, BKKBN provinsi, dan BKKBN pusat. Data yang dikirim adalah data agregat dalam bentuk print out. Penghitungan persentase pemakaian kontrasepsi oleh PUS 15-49 tahun serta persentase pemakaian kondom oleh PUS 15-49 tahun dapat ditentukan dengan mengetahui jumlah akseptor secara keseluruhan dan jumlah akseptor kondom (sebagai pembilang), serta jumlah PUS 15-49 tahun (sebagai penyebut). Ketiga data tersebut dapat secara langsung diperoleh dari baris jumlah pada instrumen formulir rekapitulasi yang digunakan di tingkat kecamatan. 4) Kesulitan dalam Pengolahan Proses penerimaan, perekaman, validasi dan pengolahan di tingkat kecamatan dilakukan oleh satu orang yaitu oleh Ka UPT KB/PPLKB namun tidak semua kecamatan mempunyai tenaga KA UPT KB atau PPLKB. Agar mekanisme pengolahan di tingkat kecamatan dapat berjalan maka tugas tersebut dikerjakan oleh PLKB/PKB sehingga kualitas data masih rendah khususnya dalam memenuhi ketepatan waktu. Upaya untuk perbaikannya harus dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak dan memanfaatkan seluruh potensi yang ada di daerah yang bersangkutan, sehingga kebutuhan tenaga dan dana pengelolaan data dapat terpenuhi. 153

5.5
5.5.1

Kesimpulan dan Saran


Kesimpulan

Data untuk memantau pencapaian indikator MDGs, khususnya mengukur tingkat kesehatan ibu dan memerangi HIV AIDS tersedia dalam sistem alur pencatatan dan pelaporan yang dikembangkan oleh BKKBN dan telah dibakukan dalam buku petunjuk teknis serta menjadi pegangan pengelolaan data dan informasi di setiap tingkatan wilayah sampai dengan tingkat lini lapangan. a. Dalam era desentralisasi ketersediaan pengelola data program KB nasional sangat bergantung kepada komitmen pemerintah daerah terhadap pentingnya program KB. Hal ini dapat diketahui dari bentuk kelembagaan yang menangani program KB. Jika program KB ditangani oleh pejabat eselon II atau eselon III, maka tersedia unit khusus yang menangani data. Selain itu bentuk kelembagaan yang utuh atau merger juga mempengaruhi ketersediaan unit kerja pengelola data dan informasi di kabupaten/kota tersebut. b. Dalam era desentralisiasi terdapat keterbatasan tenaga, sarana dan anggaran untuk melaksanakan sistem alur data yang telah dibakukan oleh BKKBN Pusat. 5.5.2 Saran

a. Dilakukan advokasi terhadap para pemangku kebijakan di kabupaten/ kota dan kecamatan tentang pentingnya data dalam perencanaan, monitoring dan evaluasi, dengan harapan mereka memberikan dukungan terhadap pengelolaan data. b. Menambah tenaga petugas lapangan, melalui pengangkatan tenaga baru atau dengan menarik kembali para petugas lapangan yang telah dialih-fungsikan ke kantor, dinas atau lembaga lainnya di kabupaten/kota. Selain itu menambahkan tunjangan fungsional yang layak bagi PLKB/PKB. c. Meningkatkan dukungan anggaran bagi pengelolaan data untuk operasional, peralatan dan peningkatan kapasitas tenaga pengelola data dalam bidang teknologi informasi melalui APBD. 154

d. Dilakukan penyediaan sarana teknologi informasi dengan kapasitas sesuai dengan kebutuhan dalam pengelolaan data. e. Alur data yang diusulkan dari sistem pencatatan dan pelaporan indikator MDGs yang terdapat dalam sistem Pencatatan dan Pelaporan Program KB Nasional adalah seperti digambarkan pada Diagram 5.4.

Diagram 5.4

USULAN ALUR DATA INDIKATOR MDGs SEKTOR KB

BAPENAS

UB

BKKBN PUSAT

UB

BPS PUSAT
Rek.Prov.Indik-MDGs

Rek.Prov.Indik-MDGs

Rek.Prov.Indik-MDGs

PEMDA PROVINSI
Rek.Kab.Indik-MDGs

BKKBN PROVINSI

UB

BPS PROVINSI
Rek.Kab.Indik-MDGs

Rek.Kab.Indik-MDGs

PEMDA KAB/KOTA SKPDKB

UB

BPS KAB/KOTA

Rek.Kec.Indik-MDGs

CAMAT PPLKB/UPTD KB
Indik-MDGs

Keterangan
Laporan Tembusan Umpan Balik

PENGUMPUL DATA DESA/KEL

DUSUN/RW RT

155

5.6 Daftar Istilah


1. Peserta KB adalah pasangan usia subur yang sedang menggunakan salah satu metode kontrasepsi. 2. Peserta KB Baru adalah pasangan usia subur yang baru pertama kali menggunakan alat/cara kontrasepsi atau pasangan usia subur yang kembali menggunakan metode kontrasepsi setelah mengalami kehamilan/keguguran. 3. Peserta KB Lama adalah peserta KB yang sedang menggunakan salah satu metode kontrasepsi secara terus menerus tanpa diselingi kehamilan. 4. PPKBD (Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) adalah seorang atau beberapa orang kader dalam wadah organisasi yang secara sukarela berperan aktif melaksanakan/mengelola Program Keluarga Berencana Nasional di tingkat Desa/Kelurahan atau yang setara. 5. Sub PPKBD (Sub Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) adalah seorang atau beberapa orang kader dalam wadah organisasi yang secara sukarela berperan aktif melaksanakan/mengelola Program Keluarga Berencana Nasional di tingkat Dusun/RW atau yang setara. 6. Kelompok Kegiatan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) adalah kelompok yang melakukan kegiatan ekonomi produktif untuk meningkatkan pendapatan keluarga dalam rangka mewujudkan keluarga berkualitas, beranggotakan keluarga yang berstatus masih PUS maupun bukan PUS. 7. Kelompok Kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB) merupakan kelompok kegiatan untuk membina keluarga yaitu keluarga yang memiliki anak Balita. Keluarga ini adalah keluarga-keluarga yang sedang berusaha agar anaknya, yang sedang dalam tahap paling menentukan pertumbuhannya dimasa yang akan datang, dapat bertumbuh berkembang dengan sehat baik secara fisik, mental, sosial, intelektual maupun emosinya. 8. Kelompok Kegiatan Bina Keluarga Remaja (BKR) merupakan kelompok kegiatan untuk membina keluarga yang memiliki anak usia sekolah dan remaja. Keluarga dalam kelompok ini biasanya menghadapi masalah dalam mempersiapkan anaknya agar dapat mencapai kedewasaan penuh, baik secara fisik, mental, intelektual, sosial maupun emosinya agar lebih siap mandiri sebagai calon-calon pendiri keluarga.

156

9. Kelompok Kegiatan Bina Keluarga Lanjut Usia (BKL) merupakan kelompok kegiatan untuk membina keluarga lansia. Keluarga lansia ini adalah keluarga yang salah seorang atau lebih anggota keluarganya sudah memasuki fase lanjut usia. Mereka harus menyesuaikan diri dengan kenyataan adanya kemunduran fisik, mental, sosial dan kemungkinan juga ekonominya. 10. Pentahapan Keluarga Sejahtera adalah perkembangan keluarga dilihat dari segi tahapan pencapaian tingkat kesejahteraannya. Keluarga dikelompokkan menjadi lima tahapan, yaitu keluarga pra- sejahtera, keluarga sejahtera I, keluarga sejahtera II, keluarga sejahtera III dan keluarga sejahtera III plus. a. Keluarga Pra Sejahtera adalah keluarga-keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya (basic needs) secara minimal, seperti kebutuhan akan pangan, sandang, papan, kesehatan dan pendidikan. b. Keluarga Sejahtera Tahap I adalah keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan sosial psikologisnya (sociopsychological needs), seperti kebutuhan ibadah, makan protein hewani, pakaian, ruang untuk interaksi keluarga, dalam keadaan sehat, mempunyai penghasilan, bisa baca tulis latin dan keluarga berencana. c. Keluarga Sejahtera Tahap II adalah keluarga-keluarga yang disamping telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, juga telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan sosial psikologisnya, akan tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan pengembangannya (developmental needs) seperti kebutuhan untuk peningkatan agama, menabung, berinteraksi dalam keluarga, ikut melaksanakan kegiatan dalam masyarakat dan mampu memperoleh informasi. d. Keluarga Sejahtera Tahap III adalah keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar, kebutuhan sosial psikologis dan kebutuhan pengembangannya, namun belum dapat memberikan sumbangan (kontribusi) yang maksimal terhadap masyarakat, seperti secara teratur (waktu tertentu) memberikan sumbangan dalam bentuk material dan keuangan untuk kepentingan sosial kemasyarakatan serta berperanserta secara aktif menjadi pengurus lembaga kemasyarakatan atau yayasan-yayasan sosial, keagamaan, kesenian, olah-raga, pendidikan dan sebagainya. e. Keluarga Sejahtera Tahap III Plus adalah keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhannya, baik yang bersifat dasar, sosial psikologis maupun yang bersifat pengembangan serta telah dapat pula memberikan sumbangan yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat. 157

5.7 Daftar Pustaka


BKKBN, 2007, Pedomanan Tata Cara Pencatatan dan Pelaporan Pelayanan Kontrasepsi Program KB Nasional. BKKBN, 2007, Pedoman Tata Cara Pencatatan dan Pelaporan Pengendalian Lapangan Program KB Nasional. BKKBN, 2007, Pedoman Tata Cara Pencatatan dan Pelaporan Pendataan Keluarga.

5.8 Daftar kontributor dalam pertemuan sosialisasi internal Sektor BKKBN


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Dra. Kasmiyati, M.Sc. (Kepala PUSNA); Drs. Bahari Harahap, M.Sc. (Direktur DITVAL); Rahmat Santoso, S.E., M.P.A. (Direktur DITTEK); Dra. Wartati Djamin (Kasubdit di DITRAN); Mukhtar Bakti, S.H., M.A. (Kasubdit di DITLAP); Drs. Satrio P. Hindarto, M.Sc. (Kasubdit di DITJAK); Hendar Sutisna, S.E., M.A. (Kasubdit di DITTEK); Dra. Sri Rahayu, (Plt. DITFOR), Dra. Awan Indiati (Kasubag di PULAP);

Daftar kontributor dalam penulisan buku ini dari Provinsi dan SKPD KB: Provinsi Sulawesi Barat: 1. Fajar, S.E. 2. Sidrah, S.Pd. 3. Andi Angki Fatiman, P.Si. Provinsi Sulawesi Selatan: 4. Drs. A. Abdila 5. Drs. Kaharudina Mahmud 6. Drs. Taher

(Dinas KB, Kesos dan Linmas Kab. Mamuju) (Dinas Kesehatan & KB Kab. Polman) (BKKBN Sulbar)

(Dinas KB dan KS) (Dinas KB Kab. Takalar) (BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan)

158

REK.KEC.R/I/KS/07

REKAPITULASI HASIL PENDATAAN KELUARGA TINGKAT KECAMATAN


PENGENALAN
1. DESA/KELURAHAN YAN : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .TAHUN : .. 2. KECAMATAN :........................ NO. KODE KECAMATAN 3. KABUPATEN/KOTA NO. KODE KABUPATEN/KOTA NO. KODE PROVINSI 4. PROVINSI :........................ :........................

TEMPAT

CAKUPAN WILAYAH KELUARGA

CAKUPAN RUMAH TANGGA DAN KELUARGA

JUMLAH DUSUN/RW

JUMLAH RUKUN TETANGGA JUMLAH RUMAH TANGGA JUMLAH KEPALA KELUARGA JUMLAH KEPALA KELUARGA MENURUT STATUS PENDIDIKAN

NO URUT

DESA/KELURAHAN

JUMLAH KEPALA KELUARGA MENURUT JENIS KELAMIN JUMLAH KEPALA KELUARGA MENURUT STATUS PERKAWINAN

JUMLAH KEPALA KELUARGA MENURUT STATUS PEKERJAAN

JUMLAH KELUARGA MENDAPATKA JUMLAH JIWA DALAM N KREDIT KELUARGA MIKRO/ BANTUAN MODAL

JUMLAH WANITA USIA SUBUR (15-49 TAHUN) YA TI-DAK LAKI LAKI PEREM PUAN JUMLAH

YANG ADA YANG ADA YANG DI DATA KA-WIN TAMAT SLTA BEKERJA TAMAT AK/PT YANG DI DATA LAKI LAKI PE-REM PUAN

YANG DI DATA

YANG ADA

YANG DI DATA

YANG ADA

TIDAK BEKERJA TIDAK TAMAT TAMAT SD - SLTP SD

DUDA/ JANDA/ BELUM KAWIN (16) (17) (18) (19) (20)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(21)

(22)

(23)

(24)

(25)

(26)

JUMLAH
KELUARGA PRA SEJAHTERA DAN ANGGOTA KELUARGA

JUMLAH
KELUARGA SEJAHTERA I DAN ANGGOTA KELUARGA

JUMLAH

Lampiran 5.1

159

160
KELUARGA HASIL PENTAHAPAN KELUARGA SEJAHTERA PASANGAN USIA SUBUR JUMLAH PESERTA KB BUKAN PESERTA KB 7 - 15 TAHUN PUS MENURUT KELOMPOK UMUR SEKOLAH SWAS-TA HAMIL TIDAK SEKOLAH 60 TA16-21 22-59 HUN KE TA-HUN TA-HUN ATAS PASA PEME NGAN RINTAH USIA SU30-49 <20 TA- 20-29 BUR TA-HUN TA-HUN HUN INGIN ANAK SEGERA INGIN ANAK DI TUNDA TIDAK INGIN ANAK LAGI LAKI LAKI (32) (33) (34) (35) (36) (37) (38) (39) (40) (41) (42) (43) (44) (45) (46) (47) (48) (49) PEREM PUAN LAKI LAKI PEREM PUAN PESERTA KB YANG IMPLANT NYA PERLU DICABUT TAHUN DEPAN (50) (51) KE-LUARKE-LUARKE-LUAR-KE-LUARKEGA GA GA PRA GA LUARGA SEJAHSEJAHSEJAH- SEJAHSEJAHTERA TERA III TERA TERA I TERA III II Plus JUMLAH (52) (53) (54) (55)

JUMLAH JIWA MENURUT KELOMPOK UMUR

BAYI (0-<1 TH) BALITA (1-<5 TH) MENGIKUTI MENGIKUTI KEGIATAN KEGIATAN POSYANDU POSYANDU

5-6 TAHUN

IKUT

TIDAK IKUT

IKUT

TIDAK IKUT

(27)

(28)

(29)

(30)

(31)

KELUARGA PRA SEJAHTERA DAN ANGGOTA KELUARGA

KELUARGA SEJAHTERA I DAN ANGGOTA KELUARGA

....... .........................................

PPLKB/PENGELOLA KB KECAMATAN

Lampiran 5.1 (Lanjutan)


....................................................

R/I/KB/04

REGISTER HASIL PELAYANAN KB DI KLINIK KB


BULAN
: . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ., .. . . . . . .

NOMOR SERI KARTU PELAYANAN KB BARU NAMA JUMLAH ANAK MENURUT METODE KONTRASEPSI METODE JENIS
(11) (14) (12) (13) (10) (8) (9) (15) (7) (4) (6) (5)

HASIL PELAYANAN PESERTA KB ALAMAT UMUR PELAYANAN ULANG KEGAGALAN KOMPLIKASI BERAT PENCABUTAN IMPLANT ASKESKIN KETERANGAN

TANGGAL

LAMA

BARU

(1)

(2)

(3)

IUD

(I)

JENIS KOMPLIKASI 1. Ekspulsi Kapsul (IP5/IP3) 2. Migrasi Kapsul (IP5/IP3)

MOW

(OW)

MOP

(OP)

Kondom (K)

JUMLAH HASIL PELAYANA N PESERTA KB

Implant (IPN)

Suntikan (S)

3. Pembengkakan (IP5/IP3, S) Infeksi/Abses (IP5/IP3, S, 4. MO) 5. Hematoma (IP5/IP3, S, MO) 6. Translokasi (IUD)

Lampiran 5.2

Pil

(P)

161

R/I/KS/07

162
REGISTER PENDATAAN KELUARGA
TAHUN :
KECAMATAN
:

JUMLAH KELUARGA YANG A: PETUGAS PENDA : TANGGAL : TANDA TANGAN :


KELUARGA JUMLAH ANGGOTA KELUARGA MENURUT KELOMPOK UMUR ISTERI KELOMPOK UMUR PESERTA KB PASANGAN USIA SUBUR BUKAN PESERTA KB

RT DUSUN/RW

DESA/KELURAHAN

A. DATA DEMOGRAFI DAN KB

NO URUT RU MAH TANG GA NAMA < 20 20-29 30-49 TATATAHUN HUN HUN DUDA/ JANDA/ BELUM KAWIN TAMAT SD SLTP TATAMAT MAT SLTA AK/PT YA TIDAK TAMAT SD PEMESWASRINTA TAH

NO URUT KE PALA KELUARGA

NAMA KEPALA KELUARGA

KEPALA KEPALA KELUARG KEPALA KELUARGA A KELUARGA MENURUT MENURUT MENURUT JENIS STATUS STATUS PERKAWINAN KELAMIN PEKERJAAN KEPALA KELUARGA MENURUT TINGKAT PENDIDIKAN JUM LAH BALITA 1 - < 5 7 - 15 TAHUN BAYI < 1 TAHUN WA TAHUN NITA 60 TANO 16-21 22-59 USIA 5-6 TA HUN URUT TATATIDAK TIDAK HUN SUBUR KE TIDAK MENGI MENGI PUS HUN HUN SEKOLAH MENGI MENGI (15-49 ATAS SEKOLAH KUTI KUTI TI- LAKI- PEREM KUTI KUTI TAHUN) POS POS DAK LAKI PUAN POS POS LAKI- PEREM LAKI- PEREM YANDU YANDU YANDU YANDU LAKI PUAN LAKI PUAN PESERTA KB YANG IMPLANT NYA PERLU DICABUT TAHUN DEPAN

KELUARGA MENDAPAT JUMLAH KAN KREDIT JIWA DALAM KELUARGA MIKRO/ BANTUAN MODAL

TIPEBE DAK LAKIKAREM KER- BE LAKI WIN PUAN JA KERJA

HAMIL

INGIN INGIN TIDAK ANAK ANAK INGIN DI SE ANAK TUNGERA LAGI DA

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13) (14) (15) (16)

(17)

(18)

(19)

(20)

(21)

(22)

(23)

(24)

(25)

(26)

(27)

(28)

(29)

(30)

(31)

(32)

(33)

(34)

(35)

(36)

(37)

(38)

(39)

(40)

(41)

(42)

JUMLAH

KELUARGA PRA SEJAHTERA DAN ANGGOTA KELUARGA

JUMLAH KELUARGA SEJAHTERA I DAN ANGGOTA KELUARGA

Lampiran 5.3

JUMLAH

B. TAHAPAN KELUARGA SEJAHTERA KELUARGA SEJAHTERA TAHAP III PLUS KELUARGA SEJAHTERA TAHAP III KELUARGA SEJAHTERA TAHAP II
SELURUH ANGGOTA PALING KELUARGA KURANG MEM SEKALI PEROLEH SEMINGGU PALING SELURUH KURANG ANGGOTA SATU KELUARGA STEL MAKAN PAKAIAN DAGING/ BARU IKAN/ DALAM TELUR SE TAHUN
KELUARGA MEMPER OLEH INFOR MASI DARI SURAT KABAR/ MAJALAH/ RADIO/TV (52) (53) (54) (55) (56) (57) (58) (59) (60) (61) (62) (63) (64) (65) (66) (67) (68) (69) (70) PASA KEBIASAAN TIGA BULAN KELUARGA NGAN ADA SEBAGIAN KELUARGA TERAKHIR SERING USIA SEORANG MAKAN PENG SELURUH KELUARGA LUAS IKUT SUBUR KELUARGA HASILAN BERSAMA ATAU ANGGOTA DALAM LANTAI DALAM DENGAN BERUPAYA KELUARGA PALING LEBIH KELUARGA RUMAH KEADAAN KEGIA ANAK 2 ANGGOTA KURANG DI MENING UMUR PALING SEHAT TAN ATAU KELUARGA KATKAN TABUNG SEMINGGU 10 - 60 KURANG SEHINGGA MASYA LEBIH YANG SEKALI DALAM PENGE TAHUN 8 M2 DAPAT RAKAT MENG BEKERJA DIMAN TAHUAN BENTUK BISA UNTUK MELAK DI LING GUNA UNTUK FAATKAN UANG AGAMA BACA SETIAP SANAKAN KUNGAN KAN MEMPER UNTUK MAUPUN TULISAN PENGHUN TUGAS/ TEMPAT ALAT/ OLEH BARANG BERKOMU LATIN I RUMAH FUNGSI TINGGAL OBAT PENG NIKASI MASINGKONTRA HASILAN MASING SEPSI KELUARGA SECARA TERATUR DENGAN SUKA RELA MEM BERIKAN SUM BANGAN MATERIIL UNTUK KEGIATAN SOSIAL ADA ANGGOTA KELUARGA YANG AKTIF SEBAGAI PENGURUS PER KUMPULAN KELUARGA KELUARGA KELUARGA KELUARGA KELUARGA PRA SEJAHTER SEJAHTERA SEJAHTERA SEJAHTERA SOSIAL/ A I II III III PLUS YAYASAN/ SEJAHTERA INSTITUSI MASYA RAKAT

HASIL TAHAPAN KELUARGA SEJAHTERA

NO URUT RU MAH TANG GA

NO URUT ANGGOTA RUMAH BILA PASA KE KELUARGA YANG DI NGAN BILA ADA PALA PADA MEMILIKI TEMPATI USIA ANGGOTA KELU UMUMNYA PAKAIAN KELUARGA KELUARGA SUBUR ARGA ANGGOTA

PADA UMUMNYA ANGGOTA KELUARGA SEMUA MELAK ANAK SANAKAN YANG UMUR MEM IBADAH INGIN SAKIT KELUARGA BERBEDA PUNYAI 7 - 15 TH SESUAI BER KB DIBAWA MAKAN UNTUK DI DALAM ATAP, DENGAN PERGI KE KE DUA KALI RUMAH, LANTAI KELUARGA AGAMA DAN SARANA SARANA SEHARI BEKERJA/ DAN BERSE KEPER PELAYANAN KESE ATAU SEKOLAH DINDING KOLAH CAYAAN KONTRA HATAN LEBIH DAN BE YANG MASINGSEPSI PERGIAN BAIK MASING (50) (51)

KELUARGA SEJAHTERA I

(43)

(44)

(45)

(46)

(47)

(48)

(49)

KELUARGA MENURUT INDIKATOR PRA SEJAHTERA KELUARGA MENURUT INDIKATOR SEJAHTERA I

CATATAN :

Kode Jawaban :

Lampiran 5.3 (Lanjutan)

V = Ya X = Keluarga tidak dapat memenuhi Indikator tersebut - = Indikator tersebut tidak berlaku untuk keluarga yang bersangkutan

163

164
INDIVIDU ANGGOTA KELUARGA N A M A HUBUNGAN DENGAN KK PEKERJAAN (75) (76) (77) [81) (78) (79) [80) JENIS KELAMIN TANGGAL BULAN DAN TAHUN KELAHIRAN PENDIDIKAN TERAKHIR STATUS PERKAWINAN PERUBAHAN [MUTASI] (74)
Hubungan KK
2 = Istri

C. DATA ANGGOTA KELUARGA

No. Urut

Nomor Kode Keluarga Indonesia

Nomor Kode Anggota Keluarga

(71)

(72)

(73)

Catatan :

Jenis Kelamin
1 = Kepala Keluarga 1 = laki-laki 2 = Perempuan

Pekerjaan
2 = Pegawai Swasta

Pendidikan
1 = Pegawai Pemerintah1 = Belum Sekolah , karena belum masuk usia SD

Status PerkawinaMutasi
1 = Belum Kawin 2 = Kawin 1 = Meninggal 2 = Pindah

Cara Pengisian kolom -kolom ditulis dengan angka-angka yang sesuai jawaban responden

Lampiran 5.3 (Lanjutan)

3 = Anak 4 = Lainnya

Petani Nelayan Pensiunan Usaha Sendiri Tidak Bekerja Lain-lain

3 4 5 6 7 8

= = = = = =

2 = Masih sekolah SD Tidak tamat SD Tamat SD Masih sekolah SLTP Tamat SLTP Masih sekolah SLTA Tamat SLTA 9 = 9 = masih sekolah AK/PT 10= Tamat AK/PT 0 = Tidak pernah sekolah

3 4 5 6 7 8

= = = = = =

3 = Duda/Janda 4 = Cerai

3 = Menikah

Lampiran 5.4
R/I/Sub PPKBD/04

REGISTER SUB PEMBANTU PEMBINA KELUARGA BERENCANA DESA


1. NAMA SUB PPKBD 2. RT PASANGAN USIA SUBUR
NO NAMA ISTRI (1) (2) NAMA SUAMI (3) UMUR ISTRI Jan (Tahun) (4) (5)

3. DUSUN / RW *): .................................................. 4. DESA/KELURAH : ........................................TAHUN : ..............

HASIL PEMBINAAN KESERTAAN BER KB


Feb Maret April (6) (7) (8) Mei (9) Juni (10) Juli Agust Sept (11) (12) (13)

*)
Nop (15) Des (16)

KETERANGAN

Okt (14)

(17)

Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) Jumlah Peserta KB Aktif IUD MOW MOP Kondom Implant Suntikan Pil KODE ALKON I OW OP K IP S P

Jumlah Pasangan Usia Subur bukan Peserta KB a. Hamil b. Ingin Anak Segera c Ingin Anak Ditunda d Tidak Ingin Anak Lagi PARAF KETUA SUB PPKBD H IAS IAT TIAL

PARAF PPKBD *) Coret yang tidak perlu. KETERANGAN : 1) PUS Ingin Anak Segera 2) PUS Ingin Anak Ditunda

165

166
LAPORAN BULANAN PENGENDALIAN LAPANGAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA NASIONAL TINGKAT KECAMATAN
BULAN
NO. KODE KECAMATAN NO. KODE KABUPATEN/KOTA : :

F/I/KEC-Dal/04

: . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . TAHUN

:.....................

KECAMATAN

:..................................

KABUPATEN/KOTA

:..................................

I.
YANG MELAPOR DILAPORKAN NO (1) 1 2 3 4 5 6 Jumlah Keluarga yang menjadi Anggota kelompok kegiatan UPPKS Jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan KS I yang menjadi anggota kelompok kegiatan UPPKS
Jumlah Keluarga yang menjadi Anggota kelompok kegiatan UPPKS menggunakan bantuan Modal

KEADAAN UMUM
U R A I A N (2)

IV.

PEMBINAAN KESEJAHTERAAN KELUARGA


JUMLAH (3)

NO (2) (3)

U R A I A N

(1)

Desa/Kelurahan

PPKBD

Sub PPKBD

Kelompok Kegiatan BKB

Jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan KS I yang menjadi anggota kelompok kegiatan UPPKS menggunakan bantuan Modal

Kelompok Kegiatan BKR

Kelompok Kegiatan BKL

Jumlah Keluarga yang menjadi Anggota kelompok kegiatan UPPKS berusaha Jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan KS I yang menjadi anggota kelompok kegiatan UPPKS berusaha

Kelompok Kegiatan UPPKS

II.
JUMLAH (3) (1) 1 Pasangan Usia Subur (PUS) Peserta KB Aktif : a. IUD b. MOW c. d. Kondom BKB (3) f. (4) (5) BKR BKL e. Implant Suntikan MOP :(I) : ( OW ) : ( OP ) :(K) :(I) :(S) :(P) Pasangan Usia Subur bukan Peserta KB :(H) a. Hamil b. Ingin Anak Segera c. Ingin Anak Ditunda d. Tidak Ingin Anak Lagi : ( IAS ) : ( IAT ) : ( TIAL ) 2 NO

KEGIATAN OPERASIONAL

V.

PEMBINAAN PUS DAN KESERTAAN BER KB


URAIAN (2) JUMLAH (3)

NO (2)

U R A I A N

(1)

Rakor Program KB Nasional tingkat Kecamatan

Rakor Program KB Nasional tingkat Desa/Kelurahan

TKBK dari Kecamatan ke Desa/Kelurahan

III. PEMBINAAN KETAHANAN KELUARGA

NO

U R A I A N

(1)

1 3

(2) Jumlah Keluarga yang menjadi Anggota Kelompok Kegiatan

g. Pil

Jumlah Pertemuan/Penyuluhan

Jumlah Keluarga yang menjadi Anggota kelompok kegiatan Hadir dalam Pertemuan/Penyuluhan

KETERANGAN : 1) PUS Ingin Anak Segera 2) PUS Ingin Anak Ditunda

= Apabila PUS menginginkan anak dalam waktu kurang dari 2 tahun. = Apabila PUS menginginkan anak dalam waktu 2 tahun ke atas.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ., . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . PPLKB/Pengelola Program KB Kecamatan,

CATATAN :

Lampiran 5.5

Laporan ini harus sudah dikirimkan ke alamat yang dituju paling lambat tanggal 7 bulan berikutnya.

( .................................)

Lampiran 5.6
F/II/KB/04
1. 2. 3. 4. BKKBN Kab/Kota Dinkes Kab/Kota CAMAT Arsip

LAPORAN BULANAN KLINIK KB


NAMA KLINIK KB A L A M A T NAMA KECAMATAN STATUS KLINIK KB NO
(1)

: . : . : . : 1. Pemerintah 2. Swasta YANG ADA


(3)

NO. KODE KLINIK KB NO. KODE KECAMATAN B U L A N

: : : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

TEMPAT PELAYANAN KB
(2)

YANG DILAPORKAN
(4)

1 2

Jumlah Dokter Praktek Swasta Jumlah Bidan Praktek Swasta

I.
NO
(1)

HASIL PELAYANAN PESERTA KB BARU


METODE KONTRASEPSI
(2)

KLINIK KB
(3)

DOKTER PRAKTEK SWASTA


(4)

BIDAN PRAKTEK SWASTA


(5)

JUMLAH
(6)

1 2 3 4 5 6 7

I U D MOW MOP Kondom Implant Suntikan P I L JUMLAH

II.
NO
(1)

PELAYANAN KOMPLIKASI, KEGAGALAN DAN PENCABUTAN IMPLANT


PENCABUTAN IMPLANT METODE KONTRASEPSI
(2)

KOMPLIKASI BERAT
(3)

KEGAGALAN
(4)

OLEH KLINIK KB (5)

OLEH DOKTER (6)

OLEH BIDAN (7)

JUMLAH
(8)

1 2 3 4 5

I U D MOW MOP Implant Suntikan JUMLAH

III.
NO
(1)

PERSEDIAAN ALAT KONTRASEPSI


PERSEDIAAN ALAT KONTRASEPSI
(2)

I U D ( unit )
(3)

KONDOM ( lusin )
(4)

IMPLANT ( set )
(5)

SUNTIKAN ( vial )
(6)

P I L ( strip )
(7)

1 2 3 4

Sisa Akhir Bulan Lalu Diterima Bulan Ini Dikeluarkan Bulan Ini Sisa Akhir Bulan Ini

IV.
NO
(1)

PELAYANAN ASKESKIN
METODE KONTRASEPSI
(2)

P B
(3)

KOMPLIKASI BERAT
(4)

KEGAGALAN
(5)

PENCABUTAN IMPLANT
(6) ., ,.

1 2 3 4 5 6 7

I U D MOW MOP KONDOM Implant Suntikan PIL

PIMPINAN KLINIK KB,

( . . . . . . . . . . . . . . . .. )

CATATAN : Laporan bulanan Klinik KB ini sudah harus dikirim ke BKKBN Kabupaten/Kota selambat-lambatnya tanggal 7 bulan berikutnya.

167

VI. Data Sektoral Bidang Kehutanan


(Ir. Basoeki Karyaatmadja, M.Sc., Ir. Iman Santosa, M.Sc., Ir.Tuti Setiawati) 6.1 Pendahuluan Sejalan dengan Undang-Undang No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan, visi pembangunan kehutanan ialah terwujudnya penyelenggaraan kehutanan untuk menjamin kelestarian hutan dan peningkatan kemakmuran rakyat. Berdasarkan visi tersebut, Departemen Kehutanan menyelenggarakan pengurusan hutan untuk memperoleh manfaat yang optimal dan lestari serta untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan. Misi Departemen Kehutanan dalam pembangunan kehutanan, antara lain: a. Menjamin keberadaan hutan dengan luasan yang cukup dan sebaran yang proporsional, b. Mengoptimalkan aneka fungsi hutan dan ekosistem perairan yang meliputi fungsi konservasi, lindung dan produksi kayu, non-kayu dan jasa lingkungan untuk mencapai manfaat lingkungan sosial, budaya dan ekonomi yang seimbang dan lestari, dan c. Memantapkan koordinasi antara pusat dan daerah. Dalam rangka mendukung pelaksanaan pengelolaan hutan yang lestari dibutuhkan, antara lain, ketersediaan data dan informasi kehutanan yang lengkap, akurat dan mutakhir. Ketersediaan data dan informasi yang lengkap dan mutakhir sangat diperlukan untuk monitoring dan evaluasi hasil pelaksanaan kegiatan pembangunan sektor kehutanan. Sampai saat ini data dan informasi kehutanan dirasakan masih belum memadai. Hal ini disebabkan, antara lain, kurang lancarnya arus data dari daerah. Secara umum kondisi alur data kehutanan dari daerah sampai ke pusat dapat dilihat pada Diagram 6.1.

169

Diagram 6.1 Kondisi Alur data Kehutanan Kabupaten Kabupaten Kabupaten Kabupaten Provinsi Provinsi Instansi Terkait

Pusat (Nasional )

UPT Pusat di daerah UPT Pusat di daerah

Eselon I Pusat Ybs


Terganggu atau terputus

6.2 Hasil Kegiatan Studi Alur Data 6.2.1 Umum Instansi dinas yang menangani urusan kehutanan yang terkait dalam kegiatan uji-coba dan studi alur data sektoral yaitu Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Kehutanan, Perkebunan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Jeneponto, Dinas Pertanian Rakyat Kabupaten Takalar, Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bone, Dinas Kehutanan, Perkebunan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantaeng, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Polewali Mandar, serta Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Mamuju.

170

Secara umum, kondisi yang dijumpai di daerah studi adalah sebagai berikut: a. Dasar Hukum Sampai saat ini di dinas yang menangani urusan kehutanan baik di tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten, belum ada dasar hukum atau peraturan daerah yang jelas untuk mengatur tentang pengelolaan data sektor kehutanan di lingkup dinas tersebut. b. Pengelolaan Data Pengelolaan data sektor kehutanan di Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan berada di Sub-bagian Program, Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bone di Seksi Data dan Pelaporan, Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Mamuju di Seksi Perencanaan Evalap, sedangkan pengelolaan data di Dinas Kehutanan, Perkebunan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantaeng, Dinas Pertanian Rakyat Kabupaten Takalar, Dinas Kehutanan, Perkebunann dan Lingkungan Hidup Kabupaten Jeneponto, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Polewali Mandar pada umumnya dilakukan oleh suatu seksi di masing-masing bidang, sehingga data masih tersebar di masing-masing bidang. Di masing-masing dinas provinsi/kabupaten tersebut belum ada sistem/mekanisme yang mengatur alur data. Selain belum ada tenaga/petugas khusus yang menangani proses pengumpulan dan pengolahan data, juga sarana/prasarana untuk pengolahan data berupa perangkat keras maupun software/perangkat lunak dan anggaran serba terbatas. Ketersediaan data kehutanan di dinas provinsi dan kabupaten saat ini masih terbatas, meskipun kegiatan pengumpulan data kehutanan dilakukan secara rutin maupun secara insidentil. Data disajikan dalam bentuk data agregat (dalam bentuk tabulasi) dan peta. Data luas kawasan hutan dan produksi hasil hutan secara rutin disampaikan ke Bappeda provinsi dan BPS provinsi guna penyusunan buku daerah dalam angka. Hambatan yang dihadapi dalam pengelolaan data, antara lain:

171

1) Belum ada kebijakan daerah yang mengatur tentang pengelolaan data. Tanpa kebijakan daerah yang jelas, komitmen dan pemahaman tentang pengelolaan data sektor (khususnya kehutanan) masih mengambang. Hal ini terlihat jelas dalam penjabaran program dan kegiatan yang belum menempatkan kegiatan pengelolaan data kehutanan pada level prioritas; 2) Belum ada unit kerja khusus yang menangani pengelolaan data kehutanan. Hal ini merupakan salah satu implikasi dari kurangnya komitmen dan belum adanya kebijakan daerah tentang pengelolaan data sektor kehutanan. Pengelolaan data kehutanan masih ditangani secara parsial, padahal salah satu upaya mewujudkan sistem alur data yang baik diperlukan unit kerja khusus yang menangani pengelolaan data secara menyeluruh; 3) Tugas pokok dan fungsi sub-bagian/seksi yang terkait dengan pengelolaan data belum sepenuhnya terjabarkan. Masih terdapat seksi yang tugas pokok dan fungsinya menangani pengumpulan data namun belum terjabarkan dalam program dan kegiatan. Akibatnya, data dan informasi yang dihasilkan belum mampu memenuhi sasaran yang diamanatkan dalam tugas pokok dan fungsi seksi yang bersangkutan; 4) Belum ada dukungan sistem pengelolaan data kehutanan yang terpadu antar-lembaga baik internal sektor maupun lintas-sektor. 5) Kesepahaman dan kesamaan persepsi tentang sistem alur data kehutanan, baik secara vertikal (pusat dan daerah) maupun secara horisontal (lintas-sektor), belum terwujud, dan 6) Anggaran, kualitas dan kuantitas SDM serta apresiasi terhadap pentingnya data masih terbatas. Berdasarkan kondisi tersebut di atas, maka untuk memperbaiki sistem yang ada saat ini perlu dilakukan berbagai hal, antara lain, mengupayakan agar daerah (provinsi) memiliki kebijakan/peraturan yang mengatur tentang mekanisme pengelolaan data yang akan menjadi payung hukum bagi upaya mewujudkan sistem alur data sektoral yang baik. Sebagai salah satu upaya mewujudkan sistem pengelolaan data yang baik, antara lain, melalui penataan kelembagaan yang akan mendukung sistem tersebut. Untuk itu, diperlukan unit organisasi khusus yang menangani pengelolaan data sektor kehutanan pada dinas kehutanan, juga 172

perlu dilakukan penjabaran Tupoksi sub-bagian/seksi ke dalam program dan kegiatan yang utuh. Diperlukan sistem pengelolaan data yang terpadu, baik internal sektor maupun lintas-sektor. Sistem ini dapat dibangun sejalan dengan pengembangan SDM, kebijakan daerah dan kelembagaan yang mendukung pengelolaan data kehutanan: a. Diperlukan dukungan anggaran khusus pengelolaan data, khususnya APBD. Dengan dukungan penganggaran yang cukup akan dapat disajikan data kehutanan yang akurat dan lengkap, b. Pengelolaan data kehutanan provinsi dapat dilaksanakan oleh dinas kehutanan provinsi, mengingat beragamnya sumber data, jenis data dan lembaga sumber data. Dinas kehutanan provinsi diharapkan mampu mengemban fungsi fasilitasi antara kabupaten, pusat dan sektor terkait lainnya, c. Sosialisasi tentang arti pentingnya data, pelatihan guna peningkatan kuantitas dan kualitas SDM serta penempatan personil sesuai keahlian, dan d. Peningkatan koordinasi dengan berbagai instansi terkait. 6.2.2 Pengumpulan dan Pengolahan Data yang Terkait dengan MDGs

a. Pengumpulan Data Tujuan MDGs yang terkait dengan sektor kehutanan yaitu memastikan kelestarian lingkungan hidup. Indikator yang dinilai adalah (1) Proporsi luas lahan yang tertutup hutan, (2) Rasio luas kawasan hutan lindung/konservasi terhadap luas wilayah daratan. Data indikator MDGs untuk sektor kehutanan dapat diperoleh dari beberapa kegiatan pada beberapa instansi kehutanan di provinsi/kabupaten maupun UPT Departemen Kehutanan yang berkedudukan di Sulawesi Selatan. Data luas lahan yang tertutup hutan, luas kawasan lindung (hutan lindung + hutan konservasi) diperoleh dari Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wil. VII Makassar, sedangkan data luas wilayah daratan provinsi/kabupaten diperoleh dari Bappeda/BPS provinsi/kabupaten. 173

Kegiatan pengumpulan data yang dilakukan dinas provinsi/kabupaten memerlukan waktu sekitar 2 minggu sampai dengan 2 bulan. Kesulitan memperoleh data, antara lain, adalah keterbatasan ketersediaan data, akses data, fasilitas, anggaran, SDM, dan belum adanya prosedur/sistem yang baku. Kegiatan monitoring dan evaluasi yang terkait dengan indikator MDGs seperti luas penutupan kawasan hutan dilakukan oleh Departemen Kehutanan dan BPKH setiap 3 (tiga) tahun dengan pemanfaatan citra satelit Landsat 7 ETM+. Untuk memperoleh data luas penutupan lahan yang akurat perlu dilakukan kegiatan pengecekan lapangan (ground check), sedangkan untuk memperoleh data luas kawasan hutan selain berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan tentang penunjukan kawasan hutan dan perairan provinsi, perlu diperhatikan juga data luas penunjukan parsial, mutasi kawasan hutan seperti tukar-menukar kawasan hutan serta perubahan peruntukan/pelepasan. Data penutupan lahan yang tersedia di Departemen Kehutanan saat ini baru dapat dirinci menurut provinsi dan kabupaten, karena di Departemen Kehutanan belum tersedia peta batas administrasi sampai dengan kecamatan. Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data tentang luas penutupan lahan oleh Departemen Kehutanan yaitu peta penutupan vegetasi hasil penafsiran citra landsat dan peta kawasan hutan. Data penutupan lahan diperoleh dengan cara overlay kedua peta tersebut. Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data luas kawasan lindung, khususnya hutan lindung dan hutan konservasi dan data pendukung lainnya yaitu berupa format tabel isian sebagaimana terlampir. Data luas kawasan lindung tersebut diperoleh dari Keputusan Menhut tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi serta Mutasi Kawasan Hutan. Di masa yang akan datang, untuk meningkatkan akurasi data penutupan lahan, dirasakan perlu untuk memperhitungkan angka luasan keberhasilan kegiatan rehabilitasi hutan terhadap penutupan lahan berdasarkan penafsiran citra satelit. Hal ini penting mengingat adanya periodisasi penafsiran setiap 3 tahun, adanya areal yang tertutup awan 174

sehingga tidak bisa ditafsir serta keterbatasan resolusi citra yang menyebabkan tidak semua hasil rehabilitasi dapat terpantau oleh citra satelit. b. Pengolahan Data Data yang diperoleh dari hasil pengumpulan diolah secara manual dan digital. Setelah menjadi rekapitulasi, selanjutnya data diolah menjadi indikator. Adapun indikator yang diolah meliputi: Luas lahan yang tertutup hutan diperoleh dari penjumlahan seluruh jenis tutupan vegetasi hutan, Luas kawasan hutan per fungsi pokok kawasan hutan, dan Luas wilayah daratan provinsi dirinci per kabupaten/kota. Penentuan pembilang dan penyebut untuk kedua indikator tersebut dilaksanakan dengan cara sebagai berikut: Luas lahan yang tertutup hutan (sebagai pembilang) diperoleh dari penjumlahan seluruh jenis tutupan vegetasi hutan. Penyebutnya adalah luas daratan provinsi/kabupaten, dan Luas kawasan lindung (sebagai pembilang) diperoleh dari hasil penjumlahan luas hutan lindung (HL) dan hutan konservasi (HK). Penyebutnya adalah luas wilayah daratan provinsi/kabupaten yang diperoleh dari hasil penjumlahan luas wilayah daratan kabupaten/ kota/kecamatan. Untuk meningkatkan akurasi data penutupan lahan, maka perlu ditambahkan secara manual angka luasan keberhasilan kegiatan rehabilitasi hutan terhadap penutupan lahan berdasarkan hasil penafsiran citra satelit dalam perhitungan indikator proporsi luas lahan yang tertutup hutan. c. Tindak Lanjut/Laporan Hasil pengolahan data kehutanan baik manual maupun digital selanjutnya dikirim ke instansi terkait baik pusat maupun daerah. Arsip disimpan dalam bentuk soft copy dan hard copy yang akan digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain, memenuhi permintaan data dari berbagai pihak. 175

6.2.3

Usulan indikator

Anggota kelompok diskusi bidang kehutanan mengusulkan adanya tambahan indikator di bidang ini yang cocok dengan ketersediaan data di daerah. Indikator tersebut adalah rasio luas kawasan hutan yang sudah berhasil direboisasi terhadap kawasan hutan yang perlu direhabilitasi/ direboisasi. 6.2.4 Usulan perbaikan alur data kehutanan

Berdasarkan hasil rapat internal Departemen Kehutanan, usulan alur data kehutanan yang terkait dengan indikator MDGs yang akurat dan tepat waktu dari kabupaten sampai ke tingkat provinsi dan nasional adalah sebagai digambarkan pada Diagram 6.2.

Diagram 6.2

6.3
176

Kesimpulan dan Saran

6.3.1

Kesimpulan

Pengelolaan data kehutanan yang terkait dengan indikator MDGs di dinas yang menangani urusan kehutanan baik tingkat provinsi maupun kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat belum terlaksana secara optimal, yang antara lain disebabkan oleh: a. Kesulitan akses data yang mutakhir tentang luas kawasan hutan dan luas penutupan lahan, b. Keterbatasan fasilitas, anggaran, kualitas dan kuantitas SDM untuk pengumpulan dan pengelolaan data, c. Belum adanya prosedur/sistem yang mengatur mekanisme pengelolaan data, d. Kurangnya komitmen/apresiasi terhadap pentingnya data, dan e. Penempatan personil yang kurang sesuai dengan keahliannya. 6.3.2 Saran

a. Upaya yang perlu dilakukan untuk mengoptimalkan pengelolaan data di tingkat kabupaten/provinsi, antara lain: Sosialisasi akan arti pentingnya data, Pelatihan guna meningkatkan kuantitas dan kualitas SDM, Penempatan personil yang sesuai keahliannya, Peningkatan koordinasi antar-instansi terkait, Dukungan dari pemerintah kabupaten/provinsi baik dalam hal penyediaan anggaran, sarana prasarana serta penetapan kebijakan, dan Penyusunan prosedur yang mengatur mekanisme pengelolaan data. b. Untuk studi alur data kehutanan lanjutan, agar dipertimbangkan penambahan angka luas hasil rehabilitasi terhadap angka luas penutupan lahan. 6.4 Daftar Pustaka 177

1. Undang-Undang Nomor 41 tentang Kehutanan sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 tahun 2004. 2. Peraturan Menteri Kehutanan No. P.13/Menhut-II/2005 tanggal 6 Mei 2005 yang telah disempurnakan dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.17/Menhut-II/2005, Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.35/Menhut-II/2005, Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.46/Menhut-II/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kehutanan. 3. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 890/Kpts-II/1999 tanggal 14 Oktober 1999 tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Sulawesi Selatan.

6.5 Kontributor Penyempurnaan Draft Laporan Studi Alur Kehutanan Dalam Rapat Internal Departemen Kehutanan 1. 2. 3. 4. Ir. Wachyono Supatria DR. Drs. Wardoyo M.F. Drs. Sofar Tambunan Sopandi, S. Hut.

Data

Lampiran 6.1 178

Tabel 1 : LUAS PENUTUPAN LAHAN DALAM KAWASAN HUTAN DAN LUAR KAWASAN HUTAN BERDASARKAN PENAFSIRAN CITRA SATELIT LANDSAT 7 ETM + S/D TAHUN .

No 1 1

PROVINSI/ KABUPATEN 2 A. Hutan B. Non Hutan C. Data tidak lengkap Total

KAWASAN HUTAN (X 1.000 Ha) HUTAN TETAP HPK HPT HP Jml KSA-KPA HL 3 4 5 6 7 8

APL Jml 9 (X 1.000 Ha) 10

JUMLAH (X 1.000 Ha) 11

367.63 608.45 81.24 80.89 770.59 399.80 56.19 0.53 456.52 418.41 111.77 179.57 709.75 361.75 348.35 33.18 743.28 -

#### #### #### #### ####

####

####

##### ##### ##### ##### ##### ##### ##### ##### ##### 24.42 ##### ##### ##### ##### ##### 93.24 70.03 15.64 ##### ##### ##### ##### ##### ##### ##### 24.42 ##### ##### ##### ##### #####

187.66 191.26 1,363.19 89.65 1,644.09 88.43 980.98 18.51 1,087.92 192.97 2,123.17 300.07 2,616.21 101.53 4,491.62 34.79 4,627.93 56.85 840.10 59.41 956.36

9,696.43 1,861.32 1,954.07 363.44 4,178.83 785.89 1,184.98 42.93 2,013.80 1,379.56 2,747.29 686.87 4,813.72 1,055.47 7,467.51 129.99 8,652.97 248.39 1,284.58 131.97 1,664.94

#### #### #### #### #### 24.82 #### ####

#### #### 20.52 #### #### 12.21 #### 1.10 5.23 #### #### 37.96 #### #### #### #### #### #### #### #### #### #### #### ####

#### #### #### #### #### 1.88 #### #### #### #### 0.00 #### #### 0.00

#### ##### 7.06 ##### #### ##### ##### ##### 2.65 94.72 0.48 95.20 #### ##### ##### ##### #### ##### #### ##### 46.09 72.55 #### ##### ##### ##### 72.55 #####

Total

Sumber :

Lampiran 6.2 179

Tabel 2 : LUAS KAWASAN HUTAN LINDUNG DAN KONSERVASI


No. PROVINSI/ KABUPATEN Luas Daratan (Ha) 1 2 3 Hutan Lindung (Ha) 4 Luas Kawasan Lindung Hutan Konservasi (Ha) 5 Jumlah (Ha) 6

JUMLAH

Sumber :

180

VII. Data Sektoral Bidang Lingkungan Hidup


(Ir. Sri Hudyastuti, Dra. Siti Aini Hanum, M.A., Drs. Maulyani Djajadilaga) 7.1 Latar Belakang

Kerusakan lingkungan hidup di Indonesia saat ini sudah sangat memprihatinkan. Karena sifatnya public goods maka penanggulangannya tidak hanya menjadi kewajiban pemerintah, namun seluruh lapisan masyarakat juga mempunyai tanggung jawab untuk memelihara dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Dalam mengelola lingkungan hidup agar lebih efisien dan efektif, pemerintah sangat membutuhkan data dan informasi. Namun, bila dicermati selama ini belum seluruh kebijakan publik di bidang lingkungan hidup yang dihasilkan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dirumuskan berdasarkan data dan informasi yang relevan. Tentu saja keputusan yang dibuat tanpa dasar data dan informasi yang akurat besar kemungkinan meleset dari sasaran yang diinginkan. Di satu pihak disadari bahwa lingkungan hidup itu mempunyai arti yang sangat luas, multi-disiplin ilmu, dan pengelolaannya multi-sektor sehingga data dan informasinya pun tersebar pada berbagai lembaga. Di lain pihak, komitmen lembaga-lembaga terkait belum tentu sama besarnya dalam menghadapi masalah lingkungan hidup sehingga data dan informasi yang diharapkan dari sektor tertentu belum tentu tersedia. Inilah kendala dan sekaligus tantangannya bagaimana data dan informasi lingkungan dapat saling dipertukarkan tanpa harus mengorbankan kepentingan masingmasing lembaga tersebut. Studi Pemetaan Alur Data Sektoral untuk indikator millenium development goals (MDGs), bertujuan untuk mendapatkan gambaran berapa jauh tersedia indikator yang dapat digunakan untuk memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional, merupakan sarana yang baik untuk memperbaiki sistem pendataan di bidang lingkungan hidup. 181

Laporan sementara ini disusun setelah melalui proses pembahasan oleh tim penyusun, pembahasan di daerah atau lokasi kegiatan yaitu di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, dan pembahasan internal di Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 7.2 Tugas dan Fungsi Kementerian Negara Lingkungan Hidup Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 Tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara, Kementerian Negara Lingkungan Hidup mempunyai tugas membantu Presiden dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi di bidang lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Kementerian Negara Lingkungan Hidup menyelenggarakan fungsi sebagai berikut: a. Perumusan kebijakan nasional di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan; b. Koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan; c. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya; d. Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. 7.2.1 Kegiatan Monitoring dan Evaluasi Dalam struktur organisasi Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH) terdapat unit kerja yang mempunyai tugas melaksanakan pemantauan kualitas lingkungan yaitu Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan (PUSARPEDAL). Selain itu beberapa unit kerja melakukan pemantauan dalam rangka pelaksanaan program-program pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan. Khusus untuk data dan informasi lingkungan dari daerah, sarana yang digunakan adalah laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) yang dikelola oleh Asisten Deputi Urusan Data dan Informasi. Evaluasi terhadap semua data lingkungan yang dikumpulkan oleh KNLH dan sektor-sektor terkait dilakukan oleh Asisten Deputi Urusan Data dan 182

Informasi. Hasil evaluasi tersebut kemudian dipublikasikan setiap tahun melalui Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI). Selain itu evaluasi juga dilakukan oleh unit-unit kerja lainnya yang antara lain menghasilkan peringkat kota bersih (ADIPURA), peringkat kinerja industri (PROPER), dan peringkat kinerja kabupaten/kota dalam penghijauan (MIH Menuju Indonesia Hijau). 7.2.2 Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) merupakan suatu kumpulan informasi yang memuat tentang keterkaitan antara pembangunan dan lingkungan hidup pada masing-masing daerah, dan diterbitkan secara berkala sekali setahun oleh propinsi dan kabupaten/kota. Penyusunan laporan SLHD dimulai tahun 1982 ketika Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup mengembangkan Neraca Lingkungan Hidup (NLH). Pada tahun 1986 NLH berubah menjadi Neraca Kependudukan dan Lingkungan Hidup Daerah (NKLD) seiring dengan perubahan organisasi menjadi Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Selanjutnya pada tahun 1994 singkatan NKLD tetap dipertahankan walaupun kepanjangannya berubah menjadi Neraca Kualitas Lingkungan Hidup Daerah. Pada tahun 1995 negara-negara Asia-Pasifik (Economic and Social Commission for Asia and the PacificESCAP) menyepakati penggunaan metoda S-P-R (State-Pressure-Response) dari UNEP (United Nation Environment Program) untuk penyusunan State of the Environment Report (SoER) oleh setiap negara dengan maksud agar status lingkungan hidup secara global diketahui. Dengan menerapkan metoda S-P-R dalam analisisnya maka mulai tahun 2001 laporan NKLD dikembangkan menjadi laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD). Tujuan penyusunan laporan SLHD adalah sebagai berikut: a. Menyediakan data, informasi, dan dokumentasi untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan pada semua tingkat dengan memperhatikan aspek daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup daerah; 183

b. Meningkatkan mutu informasi tentang lingkungan hidup sebagai bagian dari sistem pelaporan publik serta sebagai bentuk dari akuntabilitas publik; c. Sebagai sumber informasi utama bagi rencana pembangunan tahunan daerah (Repetada), program pembangunan daerah (Propeda), dan kepentingan penanam modal (investor); dan d. Menyediakan informasi lingkungan hidup sebagai sarana publik untuk melakukan pengawasan dan penilaian pelaksanaan Tata Praja Lingkungan (good environmental governance) di daerah; serta sebagai landasan publik untuk berperan dalam menentukan kebijakan pembangunan berkelanjutan bersama-sama dengan lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Laporan SLHD terdiri dari (a) analisis mengenai kondisi lingkungan hidup yang terjadi di daerah dalam satu tahun serta upaya penanggulangannya, menggunakan metoda S-P-R dengan tujuan agar analisis yang dibuat memperlihatkan keterkaitan antara berbagai faktor lingkungan dapat disampaikan lebih komperhensif (b) kumpulan data lingkungan hidup dengan 5 parameter kunci (air, udara, lahan dan hutan, pesisir dan laut serta keanekaragaman hayati). 7.3 7.3.1 Pembangunan Milenium Tujuan MDGs

Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium Perserikatan BangsaBangsa (PBB) pada tahun 2000, sebanyak 189 negara anggota PBB sepakat untuk mengadopsi Deklarasi Milenium. Deklarasi ini menghimpun komitmen para pemimpin dunia untuk menangani isu perdamaian, keamanan, pembangunan, hak asasi dan kebebasan fundamental. Komitmen tersebut kemudian diterjemahkan menjadi MDGs yang mempunyai delapan tujuan. Salah satu tujuan dari MDGs adalah memastikan keberlanjutan lingkungan hidup yang mempunyai 3 target dan masing-masing target dilengkapi dengan indikator-indikator pencapaian.

184

7.3.2

Indikator MDGs

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa terdapat 3 target untuk tujuan memastikan keberlanjutan lingkungan hidup. Salah satu dari target tersebut adalah memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional. Untuk target tersebut PBB telah menentukan indikator sebagai berikut: a. Proporsi luas lahan yang tertutup hutan; b. Rasio luas kawasan lindung terhadap luas daratan; c. Konsumsi energi per unit PDB; d. Emisi CO2 dan konsumsi zat perusak ozon CFC, dan e. Proporsi penduduk yang menggunakan energi dari kayu bakar. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) kemudian mengusulkan 2 (dua) indikator sebagai proxy dari emisi CO2 yaitu a. Proporsi titik pemantauan kualitas air sungai yang memenuhi baku mutu, dan b. Proporsi titik pemantauan kualitas udara yang memenuhi baku mutu udara ambien. Selain itu dalam pertemuan konsultasi dengan pemerintah daerah propinsi dan beberapa kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, diusulkan 2 (dua) indikator baru yaitu a. Persentase pabrik yang mempunyai instalasi pengolahan air limbah (IPAL), dan b. Persentase lahan pertanian yang menggunakan pupuk kimia. Indikator proporsi luas lahan yang tertutup hutan dan rasio luas kawasan lindung terhadap luas daratan dibahas dalam laporan tersendiri yang terpisah dari dokumen ini.

185

7.4

Pembahasan Indikator Internasional (PBB)

7.4.1 Konsumsi Energi Konsumsi energi dimasukkan sebagai indikator MDGs karena kontribusinya yang besar dalam peningkatan gas rumah kaca terutama CO2. Di berbagai negara, pemanfaatan energi untuk berbagai kebutuhan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Di lain pihak, peningkatan tersebut sering tidak diiringi dengan efisiensi pemanfaatannya sehingga jumlah energi yang digunakan tidak sebanding dengan produk domestik bruto (PDB). Efisiensi energi inilah yang diharapkan dapat diterapkan oleh seluruh negara penandatangan MDGs sehingga emisi gas rumah kaca dapat dikurangi. Konsumsi energi dapat dibagi menurut sektor pengguna dan menurut jenis bahan baku energi yang digunakan. Menurut sektor pengguna, konsumsi energi dapat dibagi berdasarkan sektor yang merupakan pengguna energi terbesar, yaitu a. Industri, b. Transportasi, c. Rumah tangga, dan d. Komersial. Menurut jenisnya, sumber energi dibagi atas 5 jenis, yaitu a. Batubara, b. Bahan bakar minyak (BBM), c. Gas bumi, d. Listrik, dan e. Liquid petroleum Gas (LPG). Berdasarkan pembagian dua kelompok tersebut maka data yang diperlukan untuk menghitung konsumsi energi di Indonesia adalah sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 7.1. 186

Tabel 7.1 Proxy Konsumsi Energi


No. 1. 2. 3. Data Konsumsi BBM untuk pembangkit listrik menurut jenis BBM Konsumsi BBM sektor transportasi menurut jenis BBM Konsumsi energi listrik (PLN) menurut jenis pelanggan (industri, rumah tangga, komersial, dll) Konsumsi energi non-PLN sektor industri menurut jenis bahan bakar Konsumsi energi non-PLN sektor rumah tangga dan komersial menurut jenis bahan bakar Kapasitas simpan dan jumlah penjualan BBM dari stasiun pompa bensin umum (SPBU) Sumber Data Pertamina, PLN Pertamina PLN Skala Regional, Nasional Regional, Nasional Kecamatan, Kabupaten/Kota Kecamatan, Kabupaten/Kota Kecamatan, Kabupaten/Kota Kecamatan, Kabupaten/Kota

4. 5.

Survei Survei

6.

Survei, Pencatatan

7.4.2

Emisi CO2

Efek rumah kaca (greenhouse effect) disebabkan oleh keberadaan gas rumah kaca (GRK) di troposfer. Gas rumah kaca tersebut menyebabkan terperangkapnya radiasi gelombang infra merah sebagai hasil radiasi balik dari permukaan bumi yang menerima radiasi matahari. Hasil penelitian Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa keberadaan GRK sebesar 350 ppm (part per million) dianggap masih normal dan sesuai untuk iklim bumi. Namun kenaikan GRK menjadi 430 ppm seperti yang terjadi pada saat ini menyebabkan meningkatnya suhu rata-rata bumi dan mendorong terjadinya perubahan iklim global. Gas rumah kaca yang yang diketahui mempunyai kontribusi terhadap pemanasan global adalah CO2, CH4, CO, N2O dan NOx. Lebih dari 75 % komposisi GRK di atmosfir adalah CO2 sehingga apabila kontribusi CO2 dari berbagai kegiatan dapat dikurangi secara signifikan maka ada peluang bahwa dampak pemanasan global terhadap perubahan iklim akan berkurang. 187

Berdasarkan panduan yang dikeluarkan oleh IPCC pada tahun 2006, sumber-sumber utama emisi CO2 adalah: a. Penggunaan energi, b. Proses industri, c. Perubahan lahan (tataguna lahan), d. Pertanian dan peternakan, dan e. Limbah. a. Penggunaan Energi Secara garis besar sumber emisi CO2 dari sektor energi dapat dibagi dua yaitu yang berasal dari proses pembakaran dan dari proses penguapan (fugitive emission). Emisi CO2 dari proses pembakaran dapat dibedakan berdasarkan sumbernya yaitu tidak bergerak (stationary combustion) dan bergerak (mobile combustion). Sumber emisi CO2 dari pembakaran tidak bergerak antara lain berasal dari 1) Industri energi seperti pembangkit tenaga listrik (PLN), pengilangan minyak, dan pengolahan batubara; 2) Industri manufaktur seperti industri besi dan baja, kimia, pulp dan kertas, pengolahan makanan, mesin, kayu dan produk kayu, tekstil dan kulit, dan 3) Rumah tangga dan gedung atau perkantoran komersial. Data yang diperlukan untuk menghitung emisi CO2 sebagai hasil pembakaran dari sumber tidak bergerak adalah banyaknya bahan bakar (dalam satuan volume atau berat) yang digunakan untuk membangkitkan energi oleh masing-masing sumber tidak bergerak seperti tersebut di atas. Untuk pembakaran bergerak, sumber utamanya adalah dari transportasi. Cara terbaik untuk menghitung emisi CO2 dari energi sumber bergerak adalah dengan menggunakan data penjualan bahan bakar minyak untuk kegiatan transportasi secara nasional. Emisi CO2 yang berasal dari proses penguapan bahan bakar (fugitive emission) pada umumnya berasal dari penambangan, proses, penyimpanan 188

dan pengiriman batubara serta dari sistem pengolahan dan distribusi minyak dan gas alam. Data minimal yang diperlukan untuk menghitung fugitive emission ini adalah jumlah produksi batubara, minyak mentah dan turunannya (bensin, solar, avtur dan minyak tanah), dan gas alam (termasuk LPG atau liquefied petroleum gas). Data utama dan pelengkap yang dapat digunakan untuk menghitung emisi CO2 dari penggunaan energi dapat dilihat pada Tabel 7.2. Tabel 7.2 Proxy Emisi CO2 dari Sektor Energi
No. 1. 2. 3. 4. Data Konsumsi bahan bakar untuk industri energi menurut jenis bahan bakar Konsumsi BBM sektor transportasi menurut jenis BBM Jumlah penjualan BBM dari stasiun pompa bensin umum (SPBU) Konsumsi bahan bakar untuk pembangkit energi dari sektor industri menurut jenis bahan bakar Konsumsi bahan bakar dari sektor rumah tangga dan komersial menurut jenis bahan bakar Jumlah produksi batubara Jumlah produksi dan impor minyak mentah Jumlah produksi BBM menurut jenisnya Jumlah produksi gas alam Jumlah produksi dan impor LPG Sumber Data Pertamina, PLN Pertamina Survei Survei Skala Regional, Nasional Regional, Nasional Kecamatan, Kabupaten/Kota Kecamatan, Kabupaten/Kota Kecamatan, Kabupaten/Kota Nasional, Propinsi, Kabupaten/Kota Nasional Nasional Nasional Nasional

5.

Survei

6. 7. 8. 9. 10.

Survei, Pencatatan Pertamina Pertamina Pertamina Pertamina

b. Proses Industri 1) Proses dan Produk Industri Proses produksi dari beberapa jenis industri juga menghasilkan emisi CO2. Jenis-jenis industri itu antara lain, sebagai berikut: 189

(a) Industri mineral seperti pabrik semen, kapur, dan kaca/gelas, (b) Industri kimia, seperti pabrik amoniak, karbit, abu soda, dan petrokimia, (c) Industri besi, seperti pabrik besi dan baja, dan metalurgi, dan (d) Industri berbahan baku minyak bumi seperti parafin dan pelumas. 2) Tinjauan Proses dan Produk (a) Industri Mineral (1) Produk Semen Di pabrik semen, CO2 dihasilkan dari proses produksi clinker. Ada 2 pendekatan untuk menghitung emisi CO2 dari pabrik semen, yaitu berdasarkan jumlah produksi clinker dan berdasarkan jumlah produksi semen. Untuk penggunaan data jumlah produksi semen diperlukan data fraksi clinker yang terdapat pada semen. (2) Produk Kapur Kalsium oksida (CaO) atau kapur mentah dihasilkan dari batu kapur yang dibakar untuk menguraikan karbonat. Proses ini biasanya dilakukan dalam tungku yang berputar pada suhu yang sangat tinggi. Selain menghasilkan kalsium oksida, proses tersebut juga melepaskan CO2 ke udara. Data minimum yang diperlukan untuk menghitung emisi CO2 dari produk kapur adalah jumlah produksi kapur. (3) Produk Kaca/Gelas Industri kaca/gelas dapat dibagi atas 4 kategori utama, yaitu kontainer (wadah), kaca datar (jendela), gelas serat, dan gelas khusus. Bahan baku utama gelas yang menghasilkan CO2 selama proses pencairan adalah batu kapur (CaCO3), dolomit, dan soda ash (Na2CO3). Dalam prakteknya produsen gelas/kaca juga menggunakan bubuk gelas bekas (daur ulang) sebagai bahan baku. Ada 2 pendekatan untuk menghitung emisi CO2 dari produk gelas atau kaca ini, yaitu berdasarkan jumlah produksi gelas/kaca dan berdasarkan proses produksinya (penggunaan kaca/gelas daur ulang dalam proses produksi). 190

(b) Industri Kimia (1) Amoniak (NH3) Amoniak (NH3) merupakan produk industri kimia utama yang digunakan sebagai bahan baku produk industri lainnya. Umumnya bahan baku yang digunakan adalah gas alam yang kandungan utamanya adalah CH4, sedangkan nitrogen didapat dari udara melalui proses distilasi. Data minimal yang dibutuhkan adalah jumlah produksi amoniak, jumlah produksi pupuk urea, kebutuhan bahan bakar per unit output, dan parameter-parameter default. (2) Karbit Berdasarkan bahan dasarnya ada 2 macam karbit, yaitu karbit silika (SiC) dan karbit karbon (CaC2). Karbit silika diproduksi dari pasir silika atau kuarsa dan petroleum coke, sedangkan karbit karbon dibuat dengan memanaskan batu kapur yang kemudian mengurangi CaO dengan petroleum coke. Ada 3 alternatif perhitungan yang dapat digunakan yaitu berdasarkan konsumsi petroleum coke atau berdasarkan jumlah produksi karbit atau berdasarkan jumlah bahan baku. (3) Abu Soda Abu soda atau sodium karbonat (Na2CO3) digunakan sebagai bahan baku oleh banyak industri termasuk gelas atau kaca, sabun dan detergen, pulp dan kertas, dan instalasi pengolahan air. Ada 4 proses berbeda untuk memproduksi abu soda. Tiga proses pertama yaitu monohydrate, sodium sesquicarbonate (trona) dan karbonasi langsung disebut sebagai proses alam, sedangkan proses yang keempat, yaitu solvay, disebut sebagai proses sintetik. Perhitungan emisi CO2 memerlukan data jumlah trona yang digunakan atau data jumlah produksi abu soda, tergantung ketersediaannya. 191

(4) Petrokimia dan Karbon Hitam Produk petrokimia yang mempunyai kontribusi besar terhadap emisi CO2 adalah methanol, ethylene dan propylene, ethylene dichloride, ethylene oxyde, dan acrylonitrile. Data yang diperlukan adalah jumlah produksi petrokimia per jenis (methanol, ethylene dan propylene, ethylene dichloride, ethylene oxyde, dan acrylonitrile). (c) Industri Besi dan Logam (1) Besi Baja dan Arang Besi Arang besi adalah produk padat yang diperoleh dari karbonisasi batubara yaitu dengan memanaskan batubara pada suhu tinggi. Data yang diperlukan untuk menghitung emisi CO2 adalah jumlah produksi arang besi atau besi/baja atau sinter atau pelet. (2) Logam Campuran (Ferroalloy) Logam campuran (ferroalloy) adalah campuran besi dengan suatu logam seperti silikon, mangan, dan krom. Proses peleburan campuran logam tersebut menghasilkan gas CO, terutama jika proses peleburan tersebut terbuka dan semi terbuka. Gas CO sendiri dalam beberapa waktu akan berubah menjadi CO2. Perhitungan yang cermat untuk mengetahui emisi CO2 dari proses peleburan logam campuran memerlukan data jumlah campuran bahan dan kandungan karbon dari setiap bahan tersebut. Hal ini sulit dilakukan kecuali oleh produsennya sendiri yang melakukan pemantauan secara kontinu. Perhitungan yang lebih mudah untuk mengetahui emisi CO2 dari proses peleburan logam campuran ini adalah berdasarkan jumlah produksi per jenis logam campuran. (3) Aluminium Di dunia, produksi aluminium pada umumnya menggunakan proses elektrolitik Hall-Herout. Teknologi yang digunakan pada umumnya adalah prebake dan Sderberg. Emisi CO2 kebanyakan berasal dari reaksi elektrolisis dari anode karbon dengan alumina (Al2O3). Konsumsi anoda carbon prebake dan perekat Sderberg sangat berpengaruh pada besarnya CO2 yang diemisikan. 192

Cara termudah untuk menghitung emisi CO2 dari produksi aluminium adalah berdasarkan pada jumlah produksi dan teknologi yang digunakan. Perhitungan yang lebih cermat dapat dilakukan apabila tersedia data spesifik seperti konsumsi anoda prebake dan perekat Sderberg, kandungan sulfur dalam anoda prebake dan perekat Sderberg, kandungan debu dalam anoda prebake, dan kandungan bahan pengikat dalam perekat Sderberg. Data tersebut dapat dikumpulkan melalui laporan produksi harian (log book). (4) Magnesium Magnesium diproduksi melalui proses elektrolisis atau penurunan panas. Bahan baku yang digunakan adalah dolomit, magnesit, karnalit, serpentin dan air laut. Dari bahan baku tersebut hanya dolomit dan magnesit yang mengemisikan CO2. Secara teori, dari setiap kilogram magnesium yang dihasilkan 3,62 kg CO2 untuk bahan dasar dolomit dan 1,81 kg CO2 untuk bahan dasar magnesit. Dalam kenyataannya, emisi CO2 per kilogram magnesium akan lebih besar dari perhitungan teori karena adanya magnesium yang hilang selama proses produksi. Perhitungan emisi CO2 yang sedehana dari produksi magnesium ini adalah berdasarkan produksi magnesium nasional per jenis bahan baku (dolomit atau magnesit). Cara penghitungan lain yang lebih teliti adalah dengan menghitung emisi CO2 dari masing-masing pabrik penghasil magnesium. (5) Timah Ada 2 cara untuk menghasilkan timah, yaitu dengan cara langsung (primer) yaitu dengan memproses bijih timah dari alam dan cara tidak langsung (sekunder) yaitu dengan daur ulang timah bekas terutama dari baterai bekas. Untuk cara primer ada 2 tipe proses yaitu paduan proses sintering dan peleburan, dan langsung peleburan. Sekitar 78 % produksi timah dunia dihasilkan melalui paduan proses sintering dan peleburan. 193

Emisi CO2 terbesar terjadi pada proses peleburan di tungku peleburan tradisonal maupun tungku peleburan imperial. Cara sederhana untuk menghitung emisi CO2 dari produk timah adalah berdasarkan jumlah produksi timah dari peleburan langsung dan jumlah produksi timah dari tungku peleburan imperial. Perhitungan yang lebih akurat dapat dilakukan jika kita mempunyai data seluruh bahan baku yang digunakan dan tipe tungku dari masing-masing pabrik. d) Produk Non-Energi dari Minyak Bumi Produk-produk non-energi dari minyak bumi seperti pelumas, parafin dan aspal banyak dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Dari sekian banyak produk non-energi tersebut hanya penggunaan pelumas dan parafin yang signifikan menghasilkan CO2. Dalam perhitungan emisi CO2 dari pelumas dan parafin, selain faktor emisi, faktor oksidasi selama penggunaan (ODU) juga harus diperhitungkan. (1) Pelumas Pelumas dihasilkan di kilang minyak dari proses pemisahan minyak mentah atau di pabrik petrokimia. Digunakan secara luas di sektor industri dan transportasi. Penghitung sederhana emisi CO2 dari penggunaan pelumas ini adalah berdasarkan total konsumsi pelumas. (2) Parafin Parafin digunakan dalam berbagai produk seperti lilin, semir, pelapis kertas, produk makanan, dan surfaktan (dalam detergen). Emisi CO2 dari parafin ini terjadi ketika produk-produk turunannya dibakar selama penggunaan (seperti lilin) dan ketika dibakar di insinerator sebagai bagian dari sampah atau ketika digunakan dalam pengolahan air limbah (sebagai surfaktan). Mengingat sulitnya mendapatkan data akurat penggunaan parafin dan produk turunannya maka perhitungan emisi CO2 yang paling mudah adalah berdasarkan jumlah produk parafin secara nasional.

194

7.4.3

Kebutuhan Data

Rincian kebutuhan data untuk menghitung emisi CO2 dari proses dan produk industri dapat dilihat pada Tabel 7.3. Tabel 7.3 Proxy Emisi CO2 dari Proses dan Produk Industri
No.
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17.

Data
Jumlah produksi semen/clinker per tahun Jumlah produksi semen/clinker per tahun Jumlah produksi gelas/kaca per jenis per tahun Jumlah produksi amoniak per tahun Jumlah produksi amoniak per tahun Jumlah produksi abu soda per tahun Jumlah produksi petrokimia per jenis Jumlah produksi karbon hitam per tahun Jumlah produksi besi/baja per jenis per tahun Jumlah produksi logam campuran per jenis per tahun Jumlah produksi aluminium menurut teknologi pembuatan per tahun Jumlah produksi magnesium per jenis bahan baku per tahun Jumlah produksi timah per tahun Jumlah penjualan pelumas dari bengkel kendaraan bermotor per tahun Jumlah penggunaan lilin dalam rumah tangga per tahun Jumlah produksi, ekspor, dan impor pelumas per tahun Jumlah produksi, ekspor, dan impor parafin per tahun

Sumber Data
Survei, pencatatan Survei, pencatatan Survei, pencatatan Survei, pencatatan Survei, pencatatan Survei, pencatatan Survei, pencatatan Survei, pencatatan Survei, pencatatan Survei, pencatatan Survei, pencatatan Survei, pencatatan Survei, pencatatan Survei Survei Survei, pencatatan Survei, pencatatan

Skala
Kabupaten/kota, propinsi Kabupaten/kota, propinsi Kabupaten/kota, propinsi Kabupaten/kota, propinsi Kabupaten/kota, propinsi Kabupaten/kota, propinsi Kabupaten/kota, propinsi Kabupaten/kota, propinsi Kabupaten/kota, propinsi Kabupaten/kota, propinsi Kabupaten/kota, propinsi Kabupaten/kota, propinsi Kabupaten/kota, propinsi Kabupaten/kota Kecamatan, kabupaten/kota Nasional Nasional

195

a. Perubahan Lahan Perubahan lahan (land use change) berpengaruh pada penambahan atau pengurangan emisi CO2 secara nasional. Untuk kepentingan inventarisasi gas rumah kaca, IPCC membagi tataguna lahan (land-use) atas 6 kategori: 1) Lahan hutan, 2) Lahan pertanian dan perkebunan termasuk agro forestry (hutan tanaman industri HTI), 3) Padang rumput, 4) Lahan basah seperti sungai, danau, rawa, dan situ, 5) Lahan terbangun, dan 6) Lahan lainnya. Setiap kategori dapat dibagi menjadi dua sub-kategori lahan terkelola (managed land) dan lahan tidak terkelola (unmanaged land), sedangkan untuk keperluan perhitungan stok karbon maka masing-masing kategori dibagi menjadi lahan tersisa dan konversi lahan dari kategori tersebut ke kategori lain. Pedoman dari IPCC memungkinkan kita untuk menghitung perubahan stok karbon dari perubahan lahan secara sederhana berdasarkan ketersediaan data yang minimal. Perubahan-perubahan biomasa di atas tanah dan di bawah tanah, yang sebenarnya sangat berpengaruh terhadap perubahan karbon, dapat menggunakan nilai-nilai konstanta yang sudah ditentukan secara default oleh IPCC. Data minimal tersebut adalah luas lahan untuk masing-masing kategori dalam tahun yang berbeda (series). Di Indonesia, Badan Pertanahan Nasional (BPN) membagi tataguna lahan atas 6 kelompok, yaitu 1) 2) 3) 4) 5) 6) Lahan non-pertanian, Lahan sawah, Lahan kering, Lahan perkebunan, Lahan hutan, dan Lahan lainnya.

196

Berdasarkan hal tersebut, maka data sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 7.4.

yang

diperlukan

adalah

Tabel 7.4 Proxy Emisi CO2 dari Perubahan Lahan No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Data Luas lahan non-pertanian Luas lahan sawah Luas lahan kering Luas lahan perkebunan Luas lahan hutan Luas lahan lainnya Sumber Data BPN BPN BPN BPN BPN BPN Skala Kecamatan, kabupaten/kota Kecamatan, kabupaten/kota Kecamatan, kabupaten/kota Kecamatan, kabupaten/kota Kecamatan, kabupaten/kota Kecamatan, kabupaten/kota

b. Pertanian dan Peternakan Emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian dan peternakan adalah gas metan (CH4), namun gas metan ini dalam perjalanan waktu akan berubah menjadi CO2 sehingga sektor ini perlu dihitung kontribusinya terhadap total emisi CO2. Emisi CH4 dari lahan pertanian terutama berasal dari sawah dan penggunaan pupuk urea, sedangkan dari peternakan terutama dari fermentasi kotorannya. Data yang diperlukan untuk menghitung emisi CH4 dari sektor pertanian dan peternakan adalah sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 7.5.

197

Tabel 7.5 Proxy Emisi CH4 dari Sektor Pertanian No. 1. 2. 3. Data Luas lahan sawah dan tipe pengairannya Jumlah penggunaan pupuk urea per hektar lahan pertanian Jumlah populasi hewan ternak menurut jenis hewan Sumber Data Survei Survei Survei Skala Kecamatan, kabupaten/kota Kecamatan, kabupaten/kota Kecamatan, kabupaten/kota

c. Limbah Limbah yang dimaksud adalah limbah rumah tangga (sampah), sludge, dan limbah industri. Dalam kasus Indonesia, maka limbah padat rumah tangga atau sampah lebih siginikan untuk dihitung emisinya mengingat hampir semua sampah tersebut dikelola secara terbuka di tempat pembuangan akhir (TPA), dan emisi CH4 yang dihasilkan belum dimanfaatkan dan langsung terbuang ke udara. Gas CH4 yang dihasilkan dapat dikonversikan menjadi setara dengan CO2. Perhitungan sederhana emisi CH4 dari sampah adalah dengan menggunakan data jumlah sampah yang terangkut ke TPA, sedangkan komposisi sampah yang menentukan faktor emisi dapat menggunakan data regional yang sudah ditentukan sebagai nilai default oleh IPCC. Berdasarkan hal tersebut maka data yang diperlukan adalah data seperti pada Tabel 7.6. Tabel 7.6 Proxy Emisi CH4 dari Sampah No. 1. Data Jumlah sampah yang terangkut ke TPA per tahun Konsumsi Bahan Perusak Ozon Sumber Data Survei, pencatatan Skala Propinsi, kabupaten/kota

7.4.4

Indonesia tidak menghasilkan bahan-bahan perusak ozon seperti CFC, halon, dan aerosol. Meskipun demikian masih ada peralatan-peralatan yang beredar di Indonesia dan masih menggunakan bahan-bahan perusak ozon tersebut. Karena tidak dihasilkan di Indonesia, maka bahan-bahan tersebut 198

harus diimpor dari negara penghasil. Dengan demikian maka untuk menghitung konsumsi bahan perusak ozon dapat digunakan data jumlah impor bahan-bahan tersebut yang bersumber dari BPS atau langsung dari Bea Cukai, sedangkan sebagai data pendukung adalah penggunaan peralatan rumah tangga yang diduga masih menggunakan bahan perusak ozon (lihat Tabel 7.7). Tabel 7.7 Proxy Konsumsi Bahan Perusak Ozon
No. 1. 2. Data Jumlah impor bahan perusak ozon per jenis bahan per tahun Jumlah penggunaan kulkas dan alat pendingin ruangan di rumah tangga menurut tahun pembuatan Sumber Data Pencatatan Bea Cukai Survei Skala Nasional Kabupaten/kota, kecamatan

7.5 7.5.1

Indikator Usulan Bappenas dan Daerah Usulan Bappenas

Bappenas mengusulkan penambahan indikator untuk emisi CO2 yaitu a. Proporsi titik pemantauan kualitas air sungai yang memenuhi baku mutu, dan

b. Proporsi titik pemantauan kualitas udara yang memenuhi baku mutu udara ambien.
Kedua tambahan indikator yang diusulkan tersebut secara teknis dapat dihitung dan datanya dapat diukur. Namun jika dikaitkan dengan emisi CO2 usulan tersebut kurang relevan karena a. Tidak ada kaitan antara emisi CO2 dengan kualitas air sungai yang digambarkan dengan proporsi titik pemantauan kualitas air sungai yang memenuhi baku mutu, dan b. Kualitas udara digambarkan dengan konsentrasi dari parameterparameter tertentu yang tidak menggambarkan sumbernya. Bisa saja kondisi udara yang buruk di suatu tempat disebabkan oleh sumber yang berada di tempat lain, atau bahkan lintas-negara. Kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan misalnya, menyebabkan menurunnya kualitas udara di Singapore dan Malaysia. 199

Meskipun demikian proporsi titik pemantauan kualitas air sungai yang memenuhi baku mutu dapat digunakan sebagai indikator dalam pencapaian target ke-10 yaitu penurunan separuh proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada 2015. Hampir seluruh kabupaten/kota di Indonesia telah mempunyai peralatan pemantauan kualitas air sehingga data kemungkinan besar akan tersedia. Pengukuran kualitas udara di Indonesia saat ini hanya dilakukan satu kali dalam setahun pada satu lokasi di setiap ibukota propinsi sehingga sangat sulit untuk menghitung proporsi titik pantau yang memenuhi baku mutu pada setiap lokasi. 7.4.2 Usulan Daerah

Kelompok kerja daerah untuk studi ini mengusulkan penambahan indikator, yaitu: 1) Persentase pabrik yang mempunyai IPAL, 2) Persentase lahan pertanian yang menggunakan pupuk kimia, dan 3) Persentase pemakaian pupuk kimia per hektar per jenis tanaman pertanian. Intalasi pengolahan air limbah (IPAL) memang menimbulkan emisi CO2. Namun emisi CO2 tersebut tidak siginifikan untuk dihitung secara nasional. Selain itu keberadaan IPAL saja tidak mencerminkan berapa besar CO2 yang diemisikan dari IPAL tersebut. Akan lebih berarti jika yang dipantau adalah jumlah penggunaan surfaktan dalam proses pengolahan limbah, dan surfaktan yang menimbulkan emisi CO2. Usulan kedua dari daerah dapat diterima dengan sedikit perubahan yaitu menjadi jumlah penggunaan pupuk urea per hektar lahan pertanian. Usulan ini sesuai dengan pedoman yang dikeluarkan oleh IPCC.

200

7.6 Identifikasi Ketersediaan Data di Daerah


7.6.1 Tinjauan di Kabupaten Jeneponto a. Struktur Organisasi Fungsi pengelolaan lingkungan hidup di Kabupaten Jeneponto berada pada Dinas Kehutanan, Perkebunan dan Lingkungan Hidup sebagaimana diatur pada Peraturan Bupati Jeneponto Nomor 13 Tahun 2005 tentang Tugas Pokok dan Rincian Tugas Jabatan Dinas Kehutanan, Perkebunan dan Lingkungan Hidup. Dalam peraturan tersebut pengelolaan lingkungan hidup secara operasional menjadi tanggung jawab Bidang Lingkungan Hidup dibantu oleh 2 (dua) seksi yaitu Seksi Pemantauan, Pencegahan dan Pemulihan Lingkungan, dan Seksi Pengendalian Dampak Lingkungan (lihat Gambar 7.1).
Kepala Dinas

Kel. Jabatan Fungsional

Bagian Tata Usaha

Subbag Umum

Subbag Keuangan

Bidang Perkebunan

Bidang Kehutanan

Bidang Lingkungan Hidup

Seksi Produksi dan Perlindungan Produksi

Seksi Usaha Tani

Seksi Perlindungan dan Peredaran Hasil Hutan

Seksi Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah

Seksi Pemantauan, Pencegahan dan Pemulihan

Seksi Pengendalian Dampak Lingkungan

Gambar 7.1. Struktur Organisasi Dinas Perkebunan, Kehutanan & Lingkungan Hidup

201

Sebelum tahun 2005 fungsi pengelolaan lingkungan hidup di Kabupaten Jeneponto berada pada Dinas Pariwisata dan Lingkungan Hidup. b. Tugas Pokok Berdasarkan Peraturan Bupati Jeneponto Nomor 13 Tahun 2005 tentang Tugas Pokok dan Rincian Tugas Jabatan Dinas Kehutanan, Perkebunan dan Lingkungan Hidup, tugas pokok Bidang Lingkungan Hidup yang berkaitan dengan pengumpulan dan pengolahan data adalah sebagai berikut: 1) Inventarisasi pencemaran dan kerusakan lingkungan; 2) Inventarisasi dan pencatatan terhadap jenis kegiatan yang wajib dilengkapi dengan pemantauan, pencegahan dan pemulihan lingkungan, dan 3) Melaksanakan pengawasan dan pemantauan lingkungan hidup terhadap kegiatan pemrakarsa usaha masyarakat dan kegiatan usaha lainnya. c. SDM dan Sarana Penunjang Bidang Lingkungan Hidup mempunyai staf sebanyak 10 orang (termasuk 3 orang pejabat struktural). Karena Bidang Lingkungan Hidup ini merupakan gabungan dari Dinas Perkebunan dan Kehutanan, maka sebagian besar staf mempunyai latar belakang pendidikan atau keahlian di bidang kehutanan dan pertanian. Untuk sarana penunjang pengelolaan data, Bidang Lingkungan Hidup belum mempunyai komputer dan printer. Selama ini mereka menggunakan sarana yang ada di Bagian Tata Usaha. d. Hasil Survei 1) Wawancara Dalam wawancara dengan Kepala Bidang Lingkungan Hidup didapatkan fakta-fakta sebagai berikut: (a) Belum pernah dilakukan survei rutin yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup sehingga formulir relatif tidak terisi, 202

(b) Survei yang tidak rutin pernah dilakukan dalam rangka pengkajian dokumen Amdal yang diajukan oleh pemrakarsa proyek, (c) Dilakukan pencatatan terhadap dokumen Amdal yang telah selesai diproses atau telah disetujui, yang dikirim oleh pemrakarsa proyek, (d) Tidak ada satu pun data yang merupakan indikator MDGs untuk sektor lingkungan yang dikumpulkan oleh Bidang Lingkungan Hidup, (e) Dengan adanya dana alokasi khusus (DAK) dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH), maka mulai tahun 2007 Bidang Lingkungan Hidup akan mulai melakukan pemantauan kualitas air dan menyusun Status Lingkungan Hidup Daerah. Data akan disampaikan kepada KNLH paling lambat pada bulan Januari 2008, dan (f) Pengelolaan data dilakukan oleh masing-masing bidang dan tidak ada staf yang khusus mengelola data. 2) Tinjauan Buku Daerah Dalam Angka (DDA) Berdasarkan buku Kabupaten Jeneponto Dalam Angka Tahun 2005 yang diterbitkan oleh BPS Kabupaten Jeneponto, terdapat beberapa data yang dapat digunakan sebagai proxy dari indikator MDGs khususnya untuk emisi CO2: (a) Jumlah listrik PLN yang terjual, dan (b) Luas sawah yang diairi oleh irigasi teknis. 7.6.2 Hasil Diskusi dan Laporan Daerah Diskusi dilakukan dengan melibatkan Bapedal provinsi dan kabupaten/kota yang hasilnya kemudian dituangkan dalam laporan daerah. Bapedal daerah provinsi dan kabupaten/kota yang terlibat adalah a. Bapedal Provinsi Sulawesi Selatan, b. Bapedal Provinsi Sulawesi Barat, c. Bapedal Kabupaten Bone, d. Dinas Tata Ruang, Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Takalar, dan e. Dinas Kehutanan, Perkebunan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantaeng. 203

Dari diskusi dan laporan daerah tersebut terungkap hal-hal sebagai berikut: 1) Metoda penghitungan emisi CO2 dari berbagai sumber merupakan suatu hal yang baru diketahui, 2) Data pendukung untuk penghitungan indikator MDGs masih sangat kurang, 3) Adanya keterbatasan SDM (jumlah dan kualitas) dan anggaran untuk pengumpulan dan pengolahan data terutama di kabupaten/kota, 4) Kurangnya koordinasi antar-instansi yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup, 5) Tidak adanya pedoman pengumpulan dan pengolahan data terutama yang terkait dengan indikator pencapaian tujuan MDGs sektor lingkungan, 6) Daerah Dalam Angka (DDA) meskipun tidak lengkap merupakan sarana untuk mendapatkan data sektor yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup, 7) Laporan status lingkungan hidup daerah dapat dijadikan sarana untuk pengumpulan data yang terkait dengan indikator MDGs, 8) Minimnya sarana dan prasarana pengolahan data, dan 9) Terputusnya alur data dan informasi dari kabupaten/kota ke provinsi. 7.6.3 Usulan Alur Data

Pelaksanaan otonomi daerah menyebabkan terputusnya sistem pelaporan berjenjang terutama dari kabupaten/kota ke provinsi. Di lain pihak provinsi berkeberatan jika untuk mendapatkan data lingkungan dari kabupaten/kota harus melalui BPS provinsi yang bersumber dari BPS kabupaten/kota. Pihak provinsi beralasan bahwa data yang ada di BPS provinsi pada umumnya terlambat setahun. Diskusi kelompok akhirnya memutuskan bahwa institusi lingkungan di kabupaten/kota selain kepada BPS di kabupaten/kota bersangkutan juga akan menyampaikan laporan ke Bapedal provinsi. Selain itu karena data untuk indikator MDGs sebagian besar berada di sektor terkait, maka perlu dibentuk tim data MDGs sektor lingkungan di tingkat kabupaten/kota melalui 204

keputusan kepala daerah (bupati/walikota). Alur data selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 7.2 di bawah ini.

Gambar 7.2. Alur Data MDGs Sektor Lingkungan Hidup 205

7.7

Kesimpulan

Dari pembahasan indikator, kunjungan lapangan, diskusi, dan laporan daerah, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: a. Sektor lingkungan hidup di daerah belum pernah melakukan pendataan atau mengukur parameter yang berkaitan dengan indikator MDGs. b. Institusi pengelola lingkungan hidup di kabupaten/kota rentan terhadap perubahan organisasi sehingga data sering hilang. c. Saat ini hanya sebagian kecil saja data indikator dari sektor yang terkait dengan lingkungan hidup yang dapat dikumpulkan per kabupaten/kota atau kecamatan. d. Pencapaian setiap indikator MDGs terutama untuk tujuan memastikan keberlanjutan lingkungan hidup, memerlukan kerja sama antara sektorsektor yang terkait terutama dalam proses pengumpulan data.

e. Ketersediaan SDM dan Sarana pengumpulan dan pengolahan data di tingkat provinsi jauh lebih baik dibandingkan dengan tingkat kabupaten/kota.
7.8 Rekomendasi

Untuk mengatasi berbagai kendala dan hambatan dalam proses pengumpulan dan pengolahan data yang terkait dengan indikator MGGs sektor lingkungan hidup, maka direkomendasikan hal-hal sebagai berikut: a. Membentuk tim data MDGs di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. b. Pembuatan pedoman pengumpulan dan pengolahan data. c. Pembuatan basis data lingkungan. d. Pelatihan pengumpulan dan pengolahan data. e. Penyediaan sarana dan anggaran untuk pengumpulan dan pengolahan data. f. Pemanfaatan teknologi informasi (internet dan email) sebagai sarana pertukaran data antar-sektor.

g. Membentuk satuan tugas fungsional pengelola data. 206

h. Membentuk atau mengaktifkan kembali lembaga pengelola data seperti Kantor Pengelola Data Elektronik (KPDE) yang bertugas untuk mengumpulkan dan menyimpan data yang dihasilkan oleh seluruh sektor/dinas di kabupaten/kota dan provinsi. Alternatif lain adalah memanfaatkan BPS kabupaten/kota sebagai gudang data pengelolaan lingkungan hidup. i. j. Mewajibkan untuk mengumpulkan data sektoral di lembaga pengelola data elektronik atau di BPS di kabupaten/kota. Terkait dengan standarisasi tata guna lahan (land use) untuk kepentingan penghitungan emisi CO2, perlu diadakan pertemuan koordinasi antara Kementerian Negara Lingkungan Hidup dengan Badan Pertanahan Nasional, Bakosurtanal, Departemen Kehutanan, dan Departemen Pertanian.

7.9 Daftar Pustaka a. Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. b. Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 1 Tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia. c. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), 2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories.

207

Lampiran 7.1

SURVEI INDUSTRI
Nama Industri/Perusahaan :

Alamat :
Jenis Industri : Nama dan Jumlah Produk : No. 1. 2. 3. dst Pemakaian Bahan Baku : No. 1. 2. 3. dst Nama Bahan Baku Nama Produk

. .
Jumlah Produk per Tahun Satuan/Unit % Ekspor

Wujud Bahan Baku

Jumlah Bahan Baku per Tahun

Satuan/ Unit

% Impor

Penggunaan Energi a. Listrik (PLN): Ya/Tidak b. Pembangkit Sendiri (Generator): Ya/Tidak Penggunaan BBM jika menggunakan generator listrik sendiri: No. 1. 2. 3. 4. 5. Jenis BBM Bensin Solar Minyak Tanah Minyak Diesel Lain-lain Jumlah Pemakaian Satuan/Unit

Penggunaan energi lain selain listrik dalam proses produksi: Ada/Tidak Ada Jika ada: No. Jenis Bahan Bakar Jumlah Pemakaian 1. Batubara 2. Kayu/Biomassa 3. Arang 4. Lain-lain

Satuan/Unit

208

Lampiran 7.2

SURVEI RUMAH TANGGA


Nama Responden: ... Alamat : Penggunaan energi untuk memasak No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. LPG Gas (PGN) Briket batubara Kayu bakar Lainnya Kg per bulan Kg per bulan --- per bulan Jenis Energi Minyak Tanah Jumlah Pemakaian Unit/Satuan Liter per bulan Kg per bulan

Penggunaan Cold Storage (Kulkas): Ada/Tidak Ada Jika ada: No. 1. 2. Penggunaan pendingin ruangan (AC): Ada/Tidak Ada) Jika ada: No. 1. 2. 3. Merk Type Tahun Pembelian Kondisi Baru/Bekas Baru/Bekas Baru/Bekas Merk Type Tahun Pembelian Kondisi Baru/Bekas Baru/Bekas

209

VIII. Sistem Alur Data Dasar Terkait Sektor MDGs


(Gema Purwana, S.E., M.Si, Ir. Isra Natalisa Ginting)

8.1 Pendahuluan Badan Pusat Statistik (BPS) merupakan lembaga pemerintah nondepartemen yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Sesuai dengan Undang-undang Statistik Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik, BPS mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang kegiatan statistik dalam rangka menyediakan data statistik yang lengkap, akurat, dan mutakhir. Secara khusus, diamanatkan dalam undang-undang itu bahwa BPS mempunyai tugas menyelenggarakan statistik dasar, yaitu statistik yang memiliki ciri-ciri lintas-sektor, berskala nasional, dan makro. Pemanfaatan statistik dasar ditujukan untuk keperluan yang bersifat luas, baik bagi pemerintah maupun masyarakat luas. Agar dapat menyajikan data statistik dasar, BPS melakukan pengumpulan data secara terus-menerus atau berkala dengan periode pelaksanaan yang terencana. Data yang telah dikumpulkan, baik data yang masih berupa dokumen maupun data yang sudah merupakan hasil pengolahan, mengalir dari daerah ke BPS melalui suatu sistem alur data yang telah dibangun. Selama ini arus data ini berlangsung relatif baik, didukung oleh struktur organisasi BPS yang sebagai instansi vertikal memiliki perwakilan di daerah, yaitu BPS provinsi dan BPS kabupaten/kota. Tulisan ini menguraikan alur data dasar di BPS yang dilakukan dengan pertolongan dua buah contoh. Contoh pertama adalah alur data Sensus Penduduk 2000 (SP2000) yang merupakan contoh alur dari data yang dikumpulkan melalui sensus yang ruang lingkupnya seluruh Indonesia dan periodenya sepuluh tahun sekali. Data SP 2000 dapat dikatakan besar tetapi waktu yang tersedia untuk pengolahan cukup singkat. Data demografi hasil SP2000 digunakan sebagai sumber data untuk evaluasi MDGs. Indikator yang digunakan untuk evaluasi MDGs adalah angka kemiskinan, angka kematian bayi (AKB), angka kematian balita (Akaba) dan angka kematian ibu (AKI) (Surbakti, 2007). 211

Contoh kedua adalah alur data Survei Sosial Ekonomi Nasional 2006 (Susenas 2006), yang merupakan contoh survei tahunan. Meskipun hanya survei, Susenas mencakup seluruh Indonesia namun waktu pengolahannya termasuk singkat. Susenas adalah survei rumah tangga mengenai berbagai karakteristik sosial-ekonomi penduduk, terutama yang erat kaitannya dengan pengukuran tingkat kesejahteraan masyarakat. Sejak tahun 2002, data Susenas digunakan untuk analisis gender, dan penghitungan indikator MDGs di tingkat kabupaten/kota. Indikator-indikator untuk evaluasi MDGs yang disusun dari data modul konsumsi Susenas antara lain: a. Proporsi penduduk yang hidup di bawah US $1 per hari untuk tingkat nasional dan propinsi, b. Kontribusi kuantil pertama penduduk yang berpendapatan terendah terhadap konsumsi nasional dan propinsi, c. Proporsi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan propinsi dan nasional, d. Kesenjangan kemiskinan untuk tingkat propinsi dan nasional, e. Proporsi penduduk yang berada di bawah garis konsumsi minimum (2100 kkal/kapita/hari) untuk tingkat propinsi dan nasional, f. Proporsi penduduk yang mengkonsumsi kurang dari 55 gram protein untuk tingkat propinsi dan nasional, dan

g. Proporsi pengeluaran makanan terhadap total pengeluaran untuk tingkat propinsi dan nasional (Aryago, 2007). Untuk melengkapi uraian mengenai alur data serta memberikan gambaran mengenai unit-unit kerja yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan alur data, akan digambarkan terlebih dahulu struktur organisasi di BPS serta jajarannya di daerah, terutama struktur organisasi yang berkaitan dengan pengolahan data. Pada bagan organisasi, unit kerja yang terkait dengan pengolahan data akan diberi arsir. 8.2 Struktur Organisasi Struktur organisasi BPS didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 103 tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan Susunan 212

Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non-Departemen. Bagan struktur organisasi BPS dapat dilihat pada Gambar 8.1. BPS dipimpin oleh seorang Kepala serta dibantu oleh seorang Sekretaris Utama dan empat orang deputi. Sekretaris Utama, yang mempunyai tugas di bidang administratif, membawahkan empat biro sedangkan masing-masing deputi, yang mempunyai tugas di bidang teknis, membawahkan beberapa direktorat. Di samping itu terdapat tiga unit setingkat eselon dua yang bertanggung jawab langsung kepada kepala yaitu Inspektorat, Pusat Pendidikan dan Pelatihan dan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Inspektorat mempunyai tugas melaksanakan pengawasan fungsional di lingkungan BPS, Pusat Pendidikan dan Pelatihan mempunyai tugas melaksanakan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan di bidang komputer, bidang statistik, serta pendidikan dan pelatihan fungsional dan kepemimpinan. Struktur organisasi STIS berlandaskan Keputusan Presiden Nomor 163 Tahun 1998. STIS adalah suatu perguruan tinggi kedinasan di lingkungan BPS dan dipimpin oleh seorang Ketua.

Gambar 8.1. Struktur Organisasi Badan Pusat Statistik

213

BPS mempunyai kantor perwakilan di setiap provinsi dan kabupaten/kota yang merupakan instansi vertikal yang disebut BPS provinsi dan BPS kabupaten/kota. Jumlah BPS provinsi sebanyak 33 dan BPS kabupaten/kota sebanyak 457. Unit kerja di BPS yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan kebijakan di bidang metodologi dan informasi statistik, termasuk bidang pengolahan data dan penyajian data adalah Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik (MIS). Deputi Bidang MIS membawahkan 3 (tiga) direktorat yaitu Direktorat Metodologi Statistik, Direktorat Diseminasi Statistik dan Direktorat Sistem Informasi Statistik. Setiap direktorat di bawah Deputi Bidang MIS masing-masing membawahkan 4 (empat) sub-direktorat. Sub-direktorat di lingkungan Direktorat Metodologi Statistik terdiri dari Desain Statistik, Klasifikasi dan Pembakuan Statistik, Kerangka Contoh Induk dan Pemetaan Statistik. Subdirektorat di lingkungan Direktorat Diseminasi Statistik terdiri dari Rujukan Statistik, Publikasi Statistik, Layanan Statistik serta Dokumentasi dan Perpustakaan Statistik. Sub-direktorat di lingkungan Direktorat Sistem Informasi Statistik terdiri dari Integrasi Pengolahan, Jaringan Komunikasi Data, Pengembangan Basis Data dan Pengelolaan Teknologi Informasi. Struktur organisasi dalam lingkungan Deputi Bidang MIS ditunjukkan pada Gambar 8.2.

Gambar 8.2. Struktur Organisasi Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik 214

Seluruh unit kerja di lingkungan Deputi Bidang MIS mempunyai hubungan kerja dengan BPS provinsi melalui Bidang Integrasi Pengolahan Data dan Diseminasi Statistik (IPDS). Hubungan kerja yang dimaksud di sini adalah dalam bidang metodologi statistik, diseminasi statistik, serta sistem informasi statistik. Seperti telah dikemukakan sebelumnya, BPS mempunyai kantor perwakilan di setiap propinsi. Gambar 8.3 menyajikan bagan struktur organisasi BPS provinsi. BPS provinsi dipimpin oleh seorang kepala BPS provinsi yang masing-masing membawahkan 1 bagian dan 5 bidang yaitu Bagian Tata Usaha, Bidang Statistik Sosial, Statistik Produksi, Statistik Distribusi, Neraca Wilayah dan Analisis serta Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik. BPS provinsi juga membawahkan seluruh BPS kabupaten/kota di lingkungan provinsi bersangkutan.

Gambar 8.3. Struktur Organisasi BPS Provinsi BPS tingkat kabupaten/kota juga mempunyai unit kerja yang sama dengan BPS provinsi. BPS kabupaten/kota dipimpin oleh seorang kepala BPS kabupaten/kota yang masing-masing membawahkan 1 sub-bagian dan 5 seksi yaitu Sub-bagian Tata Usaha, Seksi Statistik Sosial, Statistik Produksi, Statistik Distribusi, Neraca Wilayah dan Analisis serta Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik. 215

Di tingkat kecamatan terdapat aparat BPS yang disebut dengan koordinator statistik kecamatan (KSK)/mantri statistik, yang bertanggung jawab kepada kepala BPS kabupaten/kota dan bertugas sebagai pengumpul data statistik yang secara langsung berhubungan dengan responden. Struktur organisasi BPS kabupaten/kota ditunjukkan pada Gambar 8.4 berikut ini.

Gambar 8.4. Struktur Organisasi BPS Kabupaten/Kota Selanjutnya, seperti halnya dengan setiap direktorat di bawah Deputi Bidang MIS yang mempunyai hubungan kerja dengan bidang IPDS, bidang IPDS di BPS provinsi juga mempunyai hubungan kerja dengan BPS kabupaten/kota melalui Seksi Integrasi Pengolahan Data dan Diseminasi Statistik (IPDS). Sesuai dengan lingkup tugasnya yang hanya meliputi satu wilayah, maka Bidang IPDS pada masing-masing BPS provinsi dan Seksi IPDS pada masing-masing BPS kabupaten/kota melakukan kegiatan BPS dalam lingkungan Deputi MIS. Pada Gambar 8.3 dan Gambar 8.4, unit-unit kerja tersebut juga diberi warna (arsir).

216

8.3

Pengumpulan Data

8.3.1 Cara Pengumpulan Data Seperti telah dijelaskan pada pendahuluan, BPS melaksanakan tugas pemerintahan di bidang kegiatan statistik sesuai dengan UU No 16 Tahun 1997. Salah satu kegiatan statistik adalah pengumpulan data. Berdasarkan tujuan pemanfaatannya, jenis statistik terdiri dari: Statistik dasar, Statistik sektoral, dan Statistik khusus.

Pada dasarnya ketiga jenis statistik di atas terbuka pemanfaatannya untuk umum, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Statistik diselenggarakan melalui pengumpulan data yang dilakukan dengan cara seperti berikut: Sensus Sensus diselenggarakan sekurang-kurangnya sekali dalam sepuluh tahun oleh BPS, meliputi sensus penduduk, sensus pertanian dan sensus ekonomi. Survei Survei diselenggarakan secara berkala dan sewaktu-waktu untuk memperoleh data yang rinci. Survei antar-sensus dilakukan pada pertengahan dua sensus sejenis untuk menjembatani dua sensus tersebut. Kompilasi Data Kompilasi produk administrasi dilaksanakan dengan memanfaatkan berbagai dokumen produk administrasi. Hasil kompilasi produk administrasi milik instansi pemerintah terbuka pemanfaatannya untuk umum, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hasil kompilasi produk administrasi milik lembaga, organisasi perorangan dan atau unsur masyarakat lainnya juga terbuka pemanfaatannya untuk umum dengan tetap memperhatikan hak perorangan atau lembaga yang dilindungi undang-undang. Cara lain sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 217

8.3.2 Jenis Data Yang Dikumpulkan Jenis data yang dikumpulkan pada kegiatan pengumpulan data di atas adalah: Data statistik sosial, mencakup antara lain data tentang penduduk, demografi, ketenagakerjaan, kemiskinan, kesejahteraan rakyat, kesehatan dan gizi, pendidikan, sosial budaya, tenaga kerja. Data statistik ekonomi, antara lain mencakup data mengenai pertanian, industri, pertambangan, energi dan konstruksi, perdagangan, transportasi, jasa, pariwisata, harga dan keuangan.

8.3.3 Persiapan dan Implementasi Berbagai persiapan dilakukan terlebih dahulu sebelum melakukan pengumpulan data. Rincian kegiatan yang dilakukan dalam rangka persiapan adalah: Penentuan Metodologi Penyusunan Kuesioner Pengambilan Sampel Pembuatan Buku Pedoman Pelaksanaan Pelaksanaan Uji Coba

Hasil persiapan tersebut di atas kemudian diikuti oleh serangkaian kegiatan yang intinya adalah pelaksanaan sebenarnya di lapangan. Rincian implementasi kegiatan adalah sebagai berikut: Pembuatan Buku Pedoman Pelaksanaan Pelatihan Instruktur dan Petugas Pelaksanaan lapangan Pemantauan Pelaksanaan Lapangan Penyediaan Posko yang berfungsi untuk membantu memecahkan permasalahan lapangan Evaluasi Hasil Pelaksanaan Lapangan

218

8.4 Pengolahan Data Rangkaian kegiatan selanjutnya setelah pengumpulan data adalah pengolahan data. Proses pengolahan data memegang peranan yang sangat penting karena sangat tergantung pada sarana dan prasarana yang tersedia pada masing-masing pusat pengolahan data. Selain itu juga jadwal pengumuman hasil pelaksanaan lapangan baik sensus maupun survei harus ditepati. Hal ini menyebabkan proses pengolahan data sering terpaksa dilakukan selama 24 jam untuk mencapai target penyelesaian. Oleh karena itu, pembentukan pusat pengolahan data harus dilakukan secara cermat. Sarana dan prasarana yang harus diperhitungkan antara lain ketersediaan sumber daya manusia, perangkat komputer dan perlengkapannya, daya listrik, ruangan, pendingin ruangan. 8.4.1 Persiapan Pada prinsipnya rincian kegiatan persiapan pengolahan data adalah sama untuk jenis kegiatan pengumpulan data yang berbeda. Secara garis besar kegiatan persiapan meliputi: Pembentukan pusat pengolahan data Penyusunan Sistem Pengolahan Data Penyusunan Aturan Validasi Pembuatan Program Pengolahan Data Pembuatan Buku Pedoman Pengolahan Data Pedoman Sistem Pengolahan Data Pedoman Editing dan Coding Pedoman Operasional Program

8.4.2 Implementasi Dari berbagai kegiatan persiapan pengolahan data kemudian dilakukan kegiatan lanjutan yaitu pelaksanaan sesungguhnya. Rangkaian kegiatan implementasi adalah sebagai berikut: 219

Pembuatan Buku Pedoman Pengolahan Data Pelatihan Pengolahan Data Pelaksanaan pengolahan data Pemantauan Pelaksanaan Pengolahan Data Penyediaan posko yang berfungsi untuk membantu memecahkan permasalahan pengolahan data Evaluasi Hasil Pengolahan Data Penjelasan Sistem Pengolahan Data

8.4.3

Secara umum penyusunan sistem pengolahan dilakukan oleh Direktorat Sistem Informasi Statistik (Direktorat SIS). Seperti telah dijelaskan terdahulu, kegiatan pengumpulan data dilakukan dengan berbagai macam cara. Untuk jenis data yang berbeda sistem pengolahan data juga bisa berbeda sesuai dengan hasil yang ingin disajikan nantinya. Dalam penyusunan sistem pengolahan data harus diperhatikan cara pengumpulan datanya serta waktu yang dibutuhkan mulai dari persiapan sampai dengan penyajian datanya. Rangkaian materi yang harus disusun dalam sistem pengolahan data umumnya tergantung dari hal-hal berikut: Dokumen yang Diolah Pusat Pengolahan (Pusat, Daerah, Pusat dan Daerah) Perangkat Keras (Komputer, Scanner, Printer) Perangkat Lunak (Pembuat: Direktorat SIS, Unit Subject Matter) Organisasi Pengolahan (Penanggung Jawab) Sistem Komputer (Stand-alone, Jaringan) Tahap Pengolahan Manajemen File Jumlah Komputer dan Petugas Cara Pengiriman File Jadwal

220

8.5 Sistem Alur Data Secara garis besar sistem alur data terdiri dari dua unit yaitu Direktorat SIS sebagai pembuat sistem dan program seperti ditunjukkan Gambar 8.5 dan Direktorat SIS sebagai nara sumber sistem dan program seperti ditunjukkan Gambar 8.6.
BPS DIT. SIS
Pembuat Sistem & Program

BPS PROPINSI DIT. SM BIDANG IPDS BIDANG SM


Nara Sumber Materi Nara Sumber Materi

BPS KAB/KOTA SEKSI IPDS SEKSI SM


Nara Sumber Materi

Progra m Layak implementasi Clean Data

Proses Pengolahan

Proses Pengolahan

Clean Data

Clean Data

Central Repository Pengolahan Lanjutan

Back-up Clean Data

Gambar 8.5. Bagan Sistem Alur Data (Direktorat SIS pembuat sistem dan program)

Bagan pada Gambar 8.5 menggambarkan sistem alur data antara BPS, BPS provinsi dan BPS kabupaten/kota. Bagan tersebut menjelaskan bahwa BPS, dalam hal ini Direktorat SIS adalah pembuat sistem dan program sedangkan direktorat di lingkungan subject matter sebagai nara sumber materi. Subject matter yang dimaksud di sini adalah direktorat-direktorat di lingkungan Deputi Bidang Statistik Sosial, Deputi Bidang Statistik Ekonomi, dan Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik. Setelah program dinyatakan layak untuk diimplementasikan oleh Direktorat SIS dan subject matter maka file program dikirim ke masingmasing BPS provinsi yang akan meneruskannya ke masing-masing BPS kabupaten/kota dan mengolah data di lingkungan provinsi bersangkutan. Seperti halnya dengan pembagian tugas di BPS, maka bidang subject matter di BPS provinsi dan seksi subject matter di BPS kabupaten/kota 221

ditunjuk sebagai nara sumber materi. Sebagai penanggungjawab proses pengolahan adalah Seksi IPDS di BPS kabupaten/kota dan Bidang IPDS di BPS provinsi. Selanjutnya hasil pengolahan berupa clean data dibuat salinannya, satu copy disimpan di BPS kabupaten/kota dan satu copy lainnya dikirim ke BPS provinsi. Bidang IPDS di BPS provinsi menggabung seluruh data dari BPS kabupaten/kota dan membuat salinannya, satu copy disimpan di BPS provinsi dan satu copy lainnya dikirim ke BPS. Direkorat SIS di BPS melakukan penggabungan clean data dari seluruh BPS provinsi dan dibuat salinannya (back-up clean data) untuk disimpan dalam central repository. Untuk selanjutnya data dapat digunakan untuk pengolahan data lanjutan. Khusus untuk kegiatan sensus, seluruh sistem pengolahan data dilakukan oleh unit kerja di lingkungan Deputi MIS, dalam hal ini Direktorat Sistem Informasi Statistik (Dit. SIS). Untuk kegiatan lainnya di luar sensus, pada umumnya unit kerja di lingkungan subject matter menyusun sendiri sistem pengolahan datanya sedangkan Direktorat SIS sebagai nara sumber sistem dan program. Sistem alur data seperti digambarkan pada bagan Gambar 8.6 berikut ini. Bagan pada Gambar 8.6 menjelaskan Direktorat SIS sebagai nara sumber sistem dan program sedangkan subject matter sebagai pembuat sistem dan program. Subject matter melakukan uji coba program di BPS, setelah dinyatakan layak untuk diimplementasikan kemudian file program dikirim ke BPS provinsi dan selanjutnya masing-masing BPS provinsi mendistribusikan file tersebut ke seluruh BPS kabupaten/kota di lingkungan provinsi bersangkutan. Pembagian tugas antar-unit kerja di daerah dilakukan juga seperti di BPS. Proses pengolahan data dilakukan oleh bidang subject matter di BPS provinsi dan seksi subject matter di BPS kabupaten/kota. Bidang IPDS di BPS provinsi dan Seksi IPDS di BPS kabupaten/kota bertugas sebagai nara sumber sistem dan program. Setelah proses pengolahan data selesai dilakukan maka hasil berupa clean data dibuat salinannya, satu copy disimpan di BPS kabupaten/kota dan satu copy lainnya dikirim ke BPS provinsi. Selanjutnya BPS provinsi menghimpun

222

semua clean data dari seluruh BPS kabupaten/kota untuk dibuat salinannya. Satu copy disimpan di BPS provinsi dan satu copy lainnya dikirim ke BPS.
BPS DIT. SIS DIT. SM BPS PROPINSI BID. IPDS BID. SM BPS KAB/KOTA SEKSI IPDS SEKSI SM

Nara Sumber Sistem & Program

Pembuat Sistem & Program

Nara Sumber Sistem & Program

Nara Sumber Sistem & Program

Program Layak Implementasi Central Repository Clean Data

Proses Pengolahan

Proses Pengolahan

Clean Data

Clean Data

Nara Sumber Pengolahan Lanjutan

Pengolahan Lanjutan

Gambar 8.6. Bagan Sistem Alur Data (Direktorat SIS Nara Sumber Sistem dan Program) Direktorat subject matter di BPS melakukan penggabungan clean data seluruh BPS provinsi dan membuat salinannya. Satu copy disimpan di direktorat subject matter dan satu copy lainnya dikirim ke Direktorat SIS untuk disimpan di central repository. Selanjutnya direktorat subject matter melakukan pengolahan data lanjutan. Pada tahap ini peran Direktorat SIS masih ada yaitu sebagai nara sumber pengolahan lanjutan. 8.6 Contoh Sistem Alur Data

Berikut ini disajikan 2 (dua) contoh sistem alur data BPS dari dua jenis kegiatan pengumpulan data yang rutin dilakukan. Kegiatan tersebut adalah

223

Sensus Penduduk 2000 (SP2000) dan Survei Sosial Ekonomi 2006 (Susenas 2006). 8.6.1 Sensus Penduduk 2000 (SP2000) a. Latar belakang Data kependudukan yang dapat disajikan hingga wilayah administrasi terkecil, sangat berguna bagi perencanaan pembangunan. Karena registrasi penduduk di Indonesia belum dapat menghasilkan data kependudukan sebagaimana yang diharapkan, maka sensus penduduk menjadi satusatunya sumber data kependudukan yang diharapkan mampu memberikan gambaran keadaan penduduk Indonesia. Sejak Indonesia merdeka sensus penduduk telah dilakukan sebanyak 5 kali, yaitu pada tahun 1961, 1971, 1980, 1990 dan 2000. Bersamaan dengan SP2000 dilakukan juga pengumpulan data tentang perumahan. Kegiatan pengumpulan data perumahan melalui pendaftaran bangunan dan rumah tangga dimaksud disebut sebagai Sensus Perumahan. b. Data yang Dikumpulkan Jenis data yang dikumpulkan pada sensus penduduk adalah data umur, status perkawinan, pendidikan, keterangan migrasi, agama, suku bangsa/kewarganegaraan, ketenagakerjaan dan fertilitas. Jenis data yang dikumpulkan pada Sensus Perumahan meliputi data tentang jenis bangunan, jenis rumah (lengkap atau tidak lengkap), status penghunian (dihuni atau tidak dihuni), dan status kepemilikan. c. Jenis dan Jumlah Dokumen Dokumen yang digunakan pada SP2000 ada tiga jenis kegunaannya dan jumlah masing-masing adalah sebagai berikut: yang

1) Daftar SP2000-L1Untuk mendaftar bangunan dan rumah tangga dalam blok sensus Satu set Daftar SP2000-L1 digunakan untuk satu blok sensus Jumlah dokumen sekitar 660.000 Untuk mendapatkan angka sementara 224

2) Daftar SP2000-L2 Untuk mencacah penduduk yang bertempat tinggal tetap Satu set Daftar SP2000-L2 digunakan untuk mencacah satu rumah tangga Daftar ini dirancang untuk diolah dengan scanner Jumlah dokumen sekitar 55 juta 3) Daftar SP2000-L3 Untuk mencacah penduduk yang tidak bertempat tinggal tetap seperti tuna wisma, pengungsi, awak-kapal berbendera Indonesia, masyarakat terasing, penghuni perahu/rumah apung Satu set Daftar SP2000-L3 digunakan untuk mencacah satu lokasi penduduk yang tidak bertempat tinggal tetap Jumlah dokumen sekitar 200.000 Dalam rangka kegiatan SP2000 dilakukan juga kegiatan pendataan potensi desa (Podes) untuk mengumpulkan keterangan tentang perangkat, fasilitas dan potensi sosial ekonomi desa/kelurahan. Setiap kepala desa dan lurah didatangi petugas lapangan untuk mengisi keterangan tersebut di atas. Kegiatan ini dilaksanakan pada akhir tahun sebelum pelaksanaan pencacahan penduduk. d. Pengolahan Data Sistem pengolahan data disusun oleh Biro SIS dan Biro Statistik Demografi dan Ketenagakerjaan (SDK) sebagai nara sumber materi. Nama unit kerja ini adalah keadaan pada tahun 2000 dan saat ini sudah berubah dari Biro SIS menjadi Direktorat SIS dan Biro Statistik Demografi menjadi Direktorat Statistik Kependudukan. Bagan sistem alur data pada SP2000 seperti ditunjukkan pada Bagan Sistem Alur Data Gambar 8.5. Dokumen yang digunakan pada SP2000 terdiri dari 2 jenis yaitu dokumen yang direkam dengan data entry dan dokumen yang direkam dengan scanner. Dengan demikian ada keharusan bagi pusat pengolahan untuk menyelesaikan tugas perekaman tepat waktu. Pusat pengolahan 225

adalah BPS kabupaten/kota, BPS provinsi dan BPS pusat. Berikut ini diuraikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing pusat pengolahan. 1) BPS Kabupaten/Kota Seluruh BPS kabupaten/kota mengolah Daftar SP2000-L1 dan Daftar SP2000-L3 dan dokumen Podes 9 BPS kabupaten di Jawa mengolah Daftar SP2000-L2 Hasil pengolahan dikirim ke BPS provinsi

2) BPS Provinsi Seluruh BPS provinsi mengolah Daftar SP2000-L2 Hasil pengolahan dikirim ke BPS pusat 3) BPS Mengolah sebagian Daftar SP2000-L2 Menggabung dan mengkonsolidasikan data dari daerah Mengolah angka sementara dan angka tetap

Dengan banyaknya pusat pengolahan yang tersebar di seluruh Indonesia maka perlu disusun organisasi pengolahan supaya sistem alur data dapat berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Perekaman dokumen SP2000-L1 dan SP2000-L3 dilakukan dengan data entry oleh seluruh BPS kabupaten/kota. Sistem dan program dibuat oleh Biro SIS dan nara sumber materi adalah Biro Statistik Demografi. Setelah program dinyatakan layak untuk diimplementasikan maka file program dikirim ke masing-masing BPS provinsi untuk diteruskan ke masing-masing BPS kabupaten/kota di lingkungan provinsi bersangkutan. Unit kerja yang melakukan kegiatan penerimaan dokumen, batching, editing dan data entry dan tabulasi di BPS kabupaten/kota adalah Subbagian Tata Usaha, Seksi Kependudukan dan Seksi Pengolahan, Penyajian dan Publikasi Statistik (P3S). Perlu diketahui bahwa pada tahun 2000, ada beberapa nama unit kerja yang berbeda dengan saat ini. Seksi Kependudukan sekarang menjadi Seksi Statistik Sosial dan Seksi P3S menjadi Seksi Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik (IPDS). 226

Setelah dilakukan proses pengolahan data selanjutnya hasil pengolahan berupa clean data dibuat salinannya, satu copy disimpan di BPS kabupaten/kota dan satu copy lainnya dikirim ke BPS provinsi. Bidang IPDS di BPS provinsi menggabung seluruh data dari BPS kabupaten/kota dan membuat salinannya, satu copy disimpan di BPS provinsi dan satu copy lainnya dikirim ke BPS. Biro SIS di BPS melakukan penggabungan clean data dari seluruh BPS provinsi dan dibuat salinannya (back-up clean data) untuk disimpan dalam central repository. Tahapan kegiatan selanjutnya adalah melakukan pengolahan angka sementara dan angka tetap SP2000. Perekaman dokumen SP2000-KBL2 dan SP2000-L2 melalui scanner pada masing-masing pusat pengolahan dikoordinir oleh Bidang P3S. Proses perekaman data dengan scanner dilakukan di Pusat dan setiap BPS provinsi serta 9 (sembilan) BPS kabupaten terpilih. Hal ini dilakukan supaya proses pengolahan data dapat selesai tepat pada waktunya. Pemilihan kabupaten sebagai pusat pengolahan berdasarkan jumlah dokumen yang diolah, kemampuan sumber daya manusia, serta dukungan infrastruktur seperti perangkat keras, listrik, dan ruangan. Dokumen yang digunakan untuk proses ini dibuat secara khusus karena scanner hanya dapat membaca zona/area yang telah didefinisikan. Bila tulisan keluar dari zona maka isian tidak dapat dibaca oleh scanner. Oleh karena itu, pencetakan dokumen harus dilakukan dengan sangat cermat dan harus diawasi dengan ketat. Dokumen dikemas dalam kotak-kotak khusus, satu kotak berisi berisi 100 lembar. Selain dokumen, pensil yang digunakan juga harus khusus yaitu jenis 2B. Tahapan proses perekaman data dengan scanner dilakukan dengan cara: Scanning adalah proses yang dilakukan scanner untuk membaca Daftar SP2000-L2 dan SP2000-KBL2 serta mengubah isian kedua daftar tersebut menjadi file komputer (image file) Recognize adalah proses mengubah image file yang dihasilkan proses scanning menjadi text file Verifikasi adalah proses membaca file hasil scanning dan file hasil recognize serta menayangkan dan membandingkan angka antara hasil scanning dan angka hasil recognize 227

Validasi adalah proses memeriksa validitas data dan mengubah data yang salah dengan data yang benar. Pemeriksaan validitas data antara lain adalah pemeriksaan kelengkapan dokumen, kelengkapan isian, kebenaran batas nilai dan kebenaran konsistensi antar variabel. Gabung file Proses tabulasi

e. Jadwal Kegiatan Sensus Penduduk 2000 adalah sebagai berikut:


Kegiatan
Pendaftaran bangunan/rumah tangga dan pencacahan penduduk Pelatihan petugas pengolah Pengolahan Awal (tahap 1) SP2000-L1 dan SP2000-L3 Pengolahan Rinci (tahap 2) SP2000-L1 Pengolahan SP2000-L2 Evaluasi hasil pengolahan

Tanggal
1/06/00 - 30/06/00 23/05/00 -31/05/00 7/06/00 - 31/07/00 1/08/00 - 23/01/01 7/06/00 - 21/01/01 21/01/01-15/02/01

8.6.2 Survei Sosial Ekonomi 2006 (Susenas 2006) a. Latar Belakang Susenas merupakan survei yang dirancang untuk mengumpulkan data sosial-ekonomi yang relatif sangat luas yang terdiri dari Kor dan Modul. Pengumpulan data dari sampel Kor dilakukan setiap tahun dan dari sampel modul yang sama dilaksanakan setiap 3 tahun sekali. Jenis modul tersebut adalah: Modul konsumsi, pengeluaran dan pendapatan Modul sosial budaya dan pendidikan Modul kesehatan dan perumahan Jumlah sampel Susenas 2006 adalah sebanyak 278.352 rumah tangga yang tersebar di seluruh wilayah geografis Indonesia. Dari sejumlah sampel tersebut sebanyak 68.000 rumah tangga adalah sampel KorModul dan 209.552 rumah tangga adalah sampel Kor.

228

b. Data yang Dikumpulkan Jenis data yang dikumpulkan menyangkut bidang pendidikan, kesehatan/gizi, perumahan, sosial-ekonomi dan kegiatan sosial-budaya lainnya, konsumsi/pengeluaran dan pendapatan rumah tangga, perjalanan serta pendapat tentang kesejahteraan rumah tangganya. c. Jenis dan Jumlah Dokumen Dokumen yang digunakan pada pelaksanaan Susenas 2006, serta jumlah dokumen adalah sebagai berikut: 1) Daftar VSEN2006-K Untuk mencacah data kor rumah tangga Satu set dokumen digunakan untuk satu rumah tangga Jumlah dokumen 278.352 2) Daftar VSEN200L-MSBP Untuk mencacah data modul rumah tangga Satu set dokumen digunakan untuk satu rumah tangga Jumlah dokumen 68.800 d. Pengolahan Data Sistem pengolahan data disusun oleh Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat (Sub-direktorat Statistik Rumah Tangga) sedangkan Direktorat SIS sebagai nara sumber sistem dan program. Sistem alur data kegiatan Susenas 2006 seperti ditunjukkan pada Bagan Sistem Alur Data Gambar 8.6. Pengaturan pusat pengolahan harus dilakukan dengan seksama supaya hasil perekaman dapat disajikan tepat waktu. BPS kabupaten/kota, BPS provinsi dan BPS pusat merekam jenis dokumen yang berbeda cakupannya dan BPS bertugas mengkompilasi data dari seluruh pusat pengolahan. Berikut ini diuraikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing pusat pengolahan: 1) BPS Kabupaten/Kota Mengolah VSEN2006-K (sampel Kor) Hasil pengolahan dikirim ke BPS provinsi 229

2) BPS Provinsi Mengolah VSEN2006-K (sampel Kor-Modul) Hasil pengolahan dikirim ke BPS pusat 3) BPS Pusat Mengolah VSEN2006-MSBP Menggabung dan mengkonsolidasi data dari daerah Melakukan tabulasi e. Jadwal Kegiatan Survei Sosial Ekonomi 2006 adalah sebagai berikut:
Kegiatan
Perekaman data Kor di BPS kabupaten/kota dan BPS provinsi Pengiriman dokumen ke Daftar VSEN2006.MSBP ke Direktorat Statistik Kesra - BPS Pengiriman hasil pengolahan VSEN2006-K ke Direktorat Statistik Kesra - BPS

Tanggal
1 30 Sept 2006

1 30 Sept 2006

1 31 Okt 2006

Pengolahan Daftar VSEN2006.MSBP di BPS

15 30 Nov 2006

Evaluasi dan pembahasan hasil

1 31 Des 2006

Publikasi

1 31 Jan 2007

8.7 Penutup Titik awal arus data sensus dan survei BPS adalah hasil wawancara tatap muka antara petugas lapangan BPS (koordinator statistik kecamatan dan mitra statistik atau KSK dan mitra) dengan responden anggota masyarakat. Untuk menghadapi responden yang sikapnya bermacammacam dalam memberi data--ada yang sepenuhnya sukarela, ada yang 230

enggan, yang mencoba menutup-nutupi, yang sukar ditemui sampai yang menolak--petugas lapangan haruslah memiliki berbagai kualitas, di antaranya, ramah, sabar, simpatik, pandai berbicara, tekun dan pandai mengambil hati. Ia juga harus jujur dan teliti sebab begitu besar godaan untuk mempersingkat wawancara atau bahkan menuliskan data yang dibuatbuat sendiri. Medan yang dihadapi juga tidak selamanya ramah, bisa hutan, sungai, laut, dan sebagainya; jaraknya pun terkadang tidak kecil. Sungguh berat tugas ini, tapi mereka tetap menjalaninya demi data yang tidak menyimpang dan yang baik, yaitu data yang mencerminkan kenyataan sebenarnya. Selanjutnya, bundel kuesioner yang telah terisi dengan data hasil wawancara harus diantar ke pusat pengolahan data: BPS Pusat, BPS provinsi atau BPS kabupaten/kota dengan kendaraan melalui jalan raya, laut, hutan dan sebagaimya sehingga di jalan rawan hanyut, terjatuh, dirampok, dan terbakar. Kalau dokumen hilang atau rusak maka akan terjadi nonrespons. Itulah sebabnya dalam perjalanan tersebut petugas lapangan menjaga dokumen hampir dengan seluruh jiwa-raganya. Data yang diterima di pusat pengolahan harus dimasukkan ke dalam komputer melalui proses entri data di mana petugasnya kembali memerlukan ketabahan, kejujuran, ketelitian, ketrampilan, dan kesehatan, karena pemindahan data ini harus tepat, cepat agar jadwal selesai tidak meleset. Karena ingin diperoleh data yang bebas kesalahan padahal di setiap langkah penuh risiko terjadinya kesalahan sehingga pengolahan harus melalui beberapa tahapan. Di sini mutu sumber daya manusia ketrampilan, kesabaran dan dedikasi tinggi-- dan kelengkapan sarana serta prasarana komputer sangat menentukan. Kalau kedua faktor ini tidak memadai maka mutu data yang menjadi korban, data yang bersih hanya akan ada di angan-angan. Lepas entri data yang amat rumit itu, data yang beribu-ribu jumlahnya perlu diringkas menjadi tabel-tabel dan grafik-grafik yang sederhana agar dapat berbicara pada pembacanya tentang apa yang sesungguhnya telah terjadi di lapangan, sebab berdasarkan fakta lapangan ini lah para

231

pengambil kebijakan dan perencana merumuskan kebijakan apa yang patut diambil dan apa yang diprogramkan. Dalam pembuatan tabel kembali sumber daya manusia dan perlalatan yang dipakai memegang peranan. Kalau perencana tabel kurang jeli, maka akan dihasilkan tabel yang kurang mengena, kalau peralatan kurang memadai maka akan terjadi keterlambatan sehingga data bisa out-of-date. Seluruh alur data ini, bisa melibatkan ratusan ribu orang sehingga mustahil bisa berjalan lancar tanpa pengendalian. Memang segala sesuatu telah direncanakan di BPS pusat dan pelaksanaannya dikoordinasikan dengan seksama oleh petugas-petugas yang dibuat jelas uraian tugasnya. Tanpa semua yang terlibat sadar akan pentingnya data maka pekerjaan tersebut sulit juga berhasil. Kenyataan menunjukkan bahwa BPS telah bertahun-tahun melakukannya dengan cukup berhasil. Hasil-hasil BPS, yaitu hasil kumpulan para petugas ini dipakai oleh perusahaan dalam mengambil keputusan produksi dan pemasaran, oleh peneliti dalam risetnya, oleh pemerintah dalam mengambil kebijakan meningkatkan mutu hidup manusia dan oleh dunia internasional dalam upaya pemantauan dan evaluasi secara universal, seperti dalam MGDs yang sedang berjalan. Petugas-petugas ini adalah orang-orang tak dikenal, yang tekun hari demi hari di tempat kerjanya namun hasil mereka menpunyai andil besar menentukan jalannya negara. Mereka perlu mendapat apresiasi yang setimpal dan mutu mereka perlu ditingkatkan terus-menerus melalui pelatihan-pelatihan agar makin lama mereka makin handal mengelola sistem alur data sensus dan survei yang akan datang. Kegiatan sensus dan survei yang dipilih untuk disajikan dalam makalah ini merupakan kegiatan yang berskala besar. Ini untuk menunjukkan bahwa kegiatan pengumpulan data untuk kepentingan pembangunan sektor dengan pendekatan lain seperti pendekatan instansi untuk mengumpulkan data sekunder tentang catatan administrasi dengan skala yang lebih kecil tentu tidak akan lebih sulit.

232

8.8

Daftar Pustaka

Aryago Mulia, 2007, Potensi Modul Survei SosialEkonomi Nasional untuk Pemantauan Pembangunan Milenium dalam Seri 1: Upaya Pemantauan dan Evaluasi Program Pelayanan Sosial Ibu dan Anak melalui Indikator Pembangunan Milenium di Indonesia (koordinator Dr. Soedarti Surbakti). BPS-CIDA-UNICEF, Jakarta. Badan Pusat Statistik, 2000, Pedoman Teknis BPS Propinsi dan BPS Kabupaten/Kotamadya Sensus Penduduk 2000. BPS, Jakarta. 2000, Pedoman Sistem Pengolahan Daftar SP2000RBL1, SP2000-L1 dan SP2000-L3 Sensus Penduduk 2000. BPS, Jakarta. 2000, Pedoman Sistem Pengolahan Daftar SP2000KBL2 dan SP2000-L2 Sensus Penduduk 2000. BPS, Jakarta. 2006. Pedoman Teknis Kepala Badan Pusat Statistik Propinsi dan Kabupaten/Kota Survei Sosial Ekonomi Nasional 2006. BPS, Jakarta. Surbakti, Soedarti, 2007, Upaya Pemantauan Kemiskinan dan Pembangunan Milenium di Tingkat Pusat dalam Seri 1: Upaya Pemantauan dan Evaluasi Program Pelayanan Sosial Ibu dan Anak melalui Indikator Pembangunan Milenium di Indonesia (koordinator Dr. Soedarti Surbakti). BPS-CIDA-UNICEF, Jakarta. Surbakti, Soedarti, 2007, Upaya Pemantauan Kemiskinan dan Pembangunan Milenium di Tingkat Daerah dalam Seri 1: Upaya Pemantauan dan Evaluasi Program Pelayanan Sosial Ibu dan Anak melalui Indikator Pembangunan Milenium di Indonesia (koordinator Dr. Soedarti Surbakti). BPS-CIDA-UNICEF, Jakarta.

233

IX. Data Sektoral Terkait MDGs di BPS


(Drs. Abdul Rachman, S.E., Ir. Agus Soebeno, M.Si.) 9.1 Umum

9.1.1 Latar Belakang Seperti kita ketahui bersama, Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals atau disingkat MDGs), adalah kesepakatan global yang diikrarkan oleh 189 negara pada tahun 2000 dalam bentuk Deklarasi-Millenium. Deklarasi ini berisi 8 tujuan pembangunan, terdiri dari 18 target, atau 48 indikator. Selanjutnya, deklarasi ini memberi arah dan kebijakan nasional setiap negara yang terikat deklarasi tersebut, termasuk Pemerintah RI, dalam menjalankan segala aspek kegiatan pembangunan. Terkait dengan itu kita menyadari, bahwa informasi dan data adalah hal penting dan mendasar untuk mendukung suatu keputusan tertentu dalam tingkatan apapun. Tanpa data/informasi yang akurat, seorang pemimpin tidak akan efektif berkontribusi positif dalam proses pembangunan daerah. Dengan data dan informasi, kita bisa terhindar dari keputusan-keputusan yang berimplikasi timbulnya biaya sosial yang tinggi dan terhindar dari pelanggaran-pelanggaran hak-azasi. Upaya-upaya untuk memantau kemajuan pencapaian MDGs juga tidak akan efektif apabila tidak didukung oleh adanya informasi dan data yang akurat dan tepat. Lebih tidak efektif lagi bila sistem menejemen datanya tidak tersedia dengan baik. Sejalan dengan dinamika masyarakat, lahirnya Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 di satu sisi merupakan cermin kemajuan dalam sistem tatapemerintahan di daerah, tapi di sisi lain juga perlu dikritisi implikasinya terhadap sistem dan aliran data pembangunan dalam berbagai tingkatan dan sektoralnya. Ada indikasi dalam berbagai pengalaman dan fenomena, penerapan undang-undang ini banyak berimplikasi terhadap terganggunya kelancaran alur data dari hulu ke hilir dalam berbagai tingkatan dan 235

sektoralnya. Indikasi kesenjangan alur-data ini tentu akan berimplikasi pada kesenjangan akurasi data pada berbagai tingkatan di mana pada gilirannya akan sangat berpotensi tinggi terhadap kesesatan keputusan di tingkat pusat. Pemangkasan informasi dan alur data ini juga akan berpotensi menyulitkan pemberantasan pada praktek-praktek korupsi korporasi karena tidak adanya transparansi. Di satu sisi, MDGs dengan beberapa indikatornya, yang merupakan arahan komitmen untuk pembangunan, perlu dimonitor secara kontinyu dan periodik untuk menjawab akuntabilitas dan transparansi pembangunan di daerah kepada publik. Pada sisi lain, ketersediaan data beserta sistem menejemen data pendukungnya sangat terbatas pada hampir sebagian besar pemda. Memetakan kapabilitas dan alur data untuk menjawab indikator-indikator MDGs di lingkup pemerintah daerah (Pemda), nampaknya saat ini merupakan kebutuhan mendesak yang harus dilakukan. 9.1.2 Tujuan Bagi instansi sektoral untuk membekali kemampuan staf dalam memetakan alur data pada masing-masing kantor atau instansi sektoralnya perlu dilakukan. Ini merupakan suatu kegiatan awal yang sangat strategis dan penting sebelum menjawab tantangan selanjutnya mengenai ketersediaan dan kualitas data sektoral. Dengan me-review, meninjau, dan memetakan alur data pada masingmasing instansi sektoral, BPS berkepentingan untuk memetakan alur data sektoral yang pengumpulan datanya melalui daerah dalam angka (DDA). Secara rinci tulisan ini bertujuan untuk: a. Memahami data/informasi apa yang sangat perlu disediakan untuk memenuhi tuntutan data dan identifikasi sumber daya untuk melakukan kegiatan pengumpulan, pengolahan, dan pelaporan data sektoral; b. Menganalisa dan memberi solusi untuk berbagai sumber-daya yang diperlukan dalam menjawab kebutuhan pembangunan daerah dengan mengidentifikasi alur data dari sumber sampai pusat; 236

c. Menentukan rancang-bangun sistem menejemen data yang efektif untuk mendukung kebutuhan informasi pembangunan minimal pada instansi sektoral masing-masing; dan d. Menentukan indikatot yang terkait dengan MDGs. 9.1.3 Dasar Peraturan Pengelolaan Data dan Kelembagaan Sebagai lembaga pemerintah non-departemen yang menyelenggarakan kegiatan statistik, BPS perlu menyediakan data yang lengkap, akurat, dan mutakhir untuk memenuhi kebutuhan pemerintah pusat maupun daerah dalam rangka perencanaan, pemantauan, dan evaluasi pembangunan. Undang-undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik, menyatakan bahwa statistik terdiri dari tiga unsur yaitu statistik dasar yang dihasilkan oleh BPS, statistik sektoral yang merupakan hasil catatan administrasi dari instansi pemerintah, dan statistik khusus yang dihasilkan oleh masyarakat. Dasar hukum yang menjadi landasan BPS menjalankan fungsi sebagai penyelenggara kegiatan statistik dari mulai perencanan, pengumpulan data, pengolahan, penyajian, dan analisis statistik adalah Keputusan Presiden RI Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, dan Susunan Organisasi Lembaga Pemerintah Non Departemen. Struktur organisasi BPS terdiri dari Kepala BPS dibantu Sekretaris Utama dan 4 (empat) deputi. Dalam menjalankan tata kerja organisasi sesuai Keputusan Kepala BPS Nomor 001 tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja BPS, para deputi dibantu oleh 14 direktorat teknis dan sekretaris utama dibantu 4 (empat) biro sebagai penunjang kegiatan BPS. Dalam menjalankan kegiatan statistik BPS mempunyai perwakilan di tingkat provinsi sampai tingkat kabupaten/kota, ini sesuai Keputusan Kepala Badan Pusat Statistik Nomor 121 tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perwakilan BPS di Daerah. BPS provinsi dipimpin oleh seorang kepala BPS provinsi yang dibantu oleh 1 bagian dan 5 bidang yaitu bagian tata usaha, bidang statistik sosial, 237

bidang statistik produksi, bidang statistik distribusi, bidang neraca wilayah dan analisis, serta bidang integrasi pengolahan dan diseminasi statistik (lihat Diagram 9.1). Masing-masing BPS provinsi membawahi beberapa BPS kabupaten/kota. Sesuai tugas dan fungsinya, kegiatan penyusunan Provinsi Dalam Angka adalah salah satu kegiatan yang dilakukan bidang integrasi pengolahan dan diseminasi statistik (IPDS) BPS provinsi. Dalam proses pengumpulan data, seksi diseminasi dan layanan bertanggung jawab atas kelancaran proses kegiatan tersebut. BPS perwakilan daerah pada tingkat kabupaten/kota bertanggung jawab dalam menjalankan tugas dan fungsi kegiatan statistik pada level kabupaten/kota. BPS kabupaten/kota dipimpin seorang kepala dan dibantu oleh subbagian TU yang bertugas di bidang administrasi serta 5 seksi yang bertugas di bidang teknis kegiatan statistik. Seksi IPDS BPS kabupaten bertanggung jawab untuk meyusun Kabupaten Dalam Angka. Berdasarkan perangkat hukum tersebut, BPS yang merupakan lembaga/ instansi vertikal dalam penyelenggaraan kegiatan statistik mempunyai sistem alur data yang baik mulai dari proses pengumpulan data di lapangan pada tingkat kecamatan sampai dengan proses pengolahan dan penyajian data di tingkat pusat. Setelah diberlakukannya Undang-undang Nomor 32 tahun 2004, BPS masih merupakan lembaga/instansi vertikal, di mana sistem alur data dari daerah ke pusat berjalan seperti sebelum adanya otonomi daerah. Dengan berlakunya otonomi daerah, tugas perencanaan, pemantauan, dan evaluasi pembangunan di daerah menjadi kewenangan pemerintah daerah. Di sisi lain setelah otonomi daerah berlaku, alur data dari daerah ke pusat, khususnya data sektoral, mengalami hambatan di hampir semua sektor padahal data sektoral juga dibutuhkan di pusat. Sebagai instansi vertikal yang fungsinya menyediakan data, BPS dianggap bertanggung jawab menghilangkan hambatan tersebut. 238

KEPALA

Bagian Tata Usaha

Sub Bagian Bina Program

Sub Bagian Urusan Dalam

Sub Bagian
Kepegawaian

& Hukum

Sub Bagian Keuangan

Sub Bagian Perrlengkapan

Bidang Statistik Sosial

Bidang Statistik Produksi

Bidang Statistik Distribusi

Bidang Neraca
Wilayah dan Analisis

Bidang Integrasi, Pengolahan, dan


Diseminasi Statistik

Statistik

Seksi Statistik Kependudukan

Seksi Statistik Pertanian

Seksi Statistik HargaKonsumen & Perdagangan Besar Seksi Statistik Keuangan & Harga Produsen Seksi Statistik Niaga & Jasa

Seksi Neraca Produksi

Seksi Integrasi Pengolahan Data Seksi Jaringan & Rujukan Statistik Seksi Diseminasi & Layanan Statistik

Seksi Statistik Kesejahteraan Rakyat Seksi Statistik Ketahanan Sosial

Seksi Statistik Industri

Seksi Neraca Konsumen

Seksi Statistik
Pertambangann, Energi dan

Konstruksi

Seksi Analisis Statistik Lintas Sektor

Tenaga Fungsional

Gambar 9.1. Struktur Organisasi BPS Provinsi 239

Dalam rangka memenuhi data yang beragam, baik data statistik dasar, statistik sektoral, dan statistik khusus sesuai amanat UU No.16 Tahun 1997 tentang Statistik, maka BPS di tingkat provinsi maupun kabupaten melakukan kegiatan penyusunan data melalui DDA. Banyak dari data yang disajikan dalam publikasi DDA provinsi dan kabupaten adalah data sektoral hasil produk administrasi pada dinas/kantor/badan lingkup pemerintah daerah, instansi vertikal di tingkat provinsi/kabupaten, dan lembaga-lembaga lain di antaranya lembaga keuangan yang beroperasi di wilayah provinsi atau kabupaten. 9.2 Alur Data (Sektoral) dalam Proses Penyusunan DDA DDA menyajikan data rekapitulasi dan agregasi dari data yang berasal dari sensus, survei, dan catatan administrasi instansi tingkat provinsi/kabupaten dan hampir semua tabel memuat rincian per kabupaten/kota untuk DDA pada tingkat provinsi atau rincian kecamatan untuk DDA pada tingkat kabupaten/kota. Data sektoral yang dipublikasikan dalam DDA merupakan data dengan referensi waktu tahun t-1 kalau pengumpulan data dilakukan pada tahun t. Data sektoral yang disusun dalam DDA sangat bermanfaat tidak hanya bagi perencana di masing-masing instansi sektoral tetapi juga bagi perencana lintas-sektoral pada berbagai tingkatan wilayah. Berbagai kalangan akademisi juga memerlukannya untuk monitoring dan evaluasi kegiatan pembangunan terutama dikaitkan dengan output dan dampak dari kegiatan instansi terhadap kesejahteraan rakyat dan kemajuan pembangunan di daerah. Lebih jauh, data DDA berguna untuk memantau apakah berbagai sasaran pembangunan milenium (millennium development goals atau MDGs) akan dicapai pada tahun 2015.

240

9.2.1 Tahapan Penyusunan DDA Kegiatan penyusunan DDA pada level wilayah provinsi atau kabupaten/kota dilakukan dengan beberapa tahapan kegiatan sebagai berikut: (i) persiapan; (ii) pengumpulan data; (iii) pengolahan; (iv) analisis; (v) pencetakan buku; dan (vi) diseminasi. a. Persiapan Kegiatan penyusunan DDA diawali dengan mencetak kuesioner atau daftar isian berupa tabel-tabel kosong (dummy table) yang merupakan tabel standar sesuai jenis data yang dihasilkan kegiatan sensus/survei BPS serta data sektoral dari masing-masing instansi sektoral. Tabel-tabel kosong untuk data sektoral merupakan instrumen yang akan digunakan oleh staf/petugas pengisian data di masing-masing dinas/badan/kantor dan lembaga di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Setelah dicetak tabel-tabel kosong lalu dikelompokkan menurut instansi/ lembaga dan jenis data sektoral yang dihasilkan sehingga pendistribusiannya mudah. Selanjutnya bersamaan dengan proses pengelompokan tabel-tabel, dibuat surat permintaan resmi, ditandatangani oleh kepala BPS provinsi, diajukan ke instansi/lembaga terkait yang menghasilkan produk data sektoral. Kegiatan persiapan ini dilakukan oleh bidang IPDS BPS provinsi atau seksi IPDS di BPS kabupaten/kota sebagai penanggung jawab teknis seluruh kegiatan penyusunan DDA provinsi atau DDA kabupaten/kota (Lampiran 1). Proses persiapan awal penyusunan DDA ini dilakukan pada bulan Februari selama 2 (dua) minggu. b. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan melibatkan semua bidang/bagian di BPS provinsi maupun seksi/subbagian BPS kabupaten/kota sebagai subject matter data sektoral yang terkait. Selanjutnya pengumpulan data ke 241

instansi dan lembaga tujuan dilakukan oleh staf yang sesuai di bidang/bagian/seksi dengan membawa tabel-tabel kosong sebagai daftar isian yang dilampiri surat permintaan data.

Bidang /Seksi Statistik Sosial

Dinas Pendidikan Dinas Kesehatan, dll

Bidang/Seksi Statistik Produksi

Dinas Pertanian Dinas Kehutanan, dll

Seksi Diseminasi dan Layanan Statistik

Bidang/Seksi Statistik Distribusi

Dinas Perhubungan Dinas Koperasi/UKM, dll

Bidang/Seksi Neraca dan Analisis

Bank Indonesia, Pegadaian, dll

Bid/Sie IPDS

Dinas Infokom, Ditlantas Polda, dll

Bag/Subbag Tata Usaha

Badan Kepegawaian, Biro Otoda, dll

: Permintaan Data : Penerimaan Data

Gambar 9.2. Bagan Alur Pengumpulan Data Sektoral DDA di BPS Provinsi 242

Dalam tahapan pengumpulan data, tabel-tabel kosong tersebut serta surat pengantar diserahkan ke kepala dinas/kantor/badan atau lembaga sektoral atau melalui kepala bagian tata usaha/kepala seksi Bina Program atau staf khusus yang menangani data sektoral instansi terkait. Setelah tabel-tabel diserahkan, jika mungkin, petugas langsung meminta kepastian tanggal kuesioner telah terisi sehingga dapat diambil/dijemput kembali oleh petugas pengumpul data. Petugas juga sekaligus meminta nomor telepon dinas/instansi atau petugas pengisi tabel-tabel kosong agar dapat dihubungi langsung. Semua kegiatan ini tergambar pada Diagram 4.2. Tahap pengumpulan data sektoral (lihat Lampiran 9.1) di instansi tingkat provinsi dilakukan pada bulan Maret s.d. April selama 8 minggu. c. Pengolahan Pengolahan data diawali dengan tahap penerimaan dokumen dari petugas pengumpul data di masing-masing bidang/bagian di BPS provinsi maupun seksi/subbagian BPS kabupaten/kota. Dokumen yang telah masuk di bidang IPDS langsung diberikan kepada staf khusus yang melakukan perekaman data. Dokumen yang diterima bidang/bagian yang tidak melakukan perekaman data juga langsung diserahkan pada bidang/seksi IPDS provinsi/kabupaten/kota. Proses selanjutnya adalah proses pemeriksaan/editing, baik pemeriksaan/editing awal (pra-komputer) maupun editing setelah perekaman data (pasca komputer). Editing awal dilakukan terhadap dokumen yang masuk dari instansi sebelum dilakukan proses perekaman data. Pemeriksaan/editing awal dilakukan untuk melihat apakah ada data sektoral yang belum lengkap, tidak valid dan konsisten yang perlu diperbaiki/koreksi. Pemeriksaan/editing tidak hanya pada tabel tertentu, misalnya apakah isian di rincian jumlah pada masing-masing kolom atau 243

jumlah pada baris sudah sesuai, tapi juga antar-tabel, misalnya konsistensi antara satu isian tabel tertentu dengan isian tabel lainnya yang saling berhubungan. Pemeriksaan kewajaran data juga dilakukan dengan melihat konsistensi data antar-waktu (data time series) yaitu dengan membandingkan data terkini dengan data tahun sebelumnya. Proses editing awal dilakukan secara setengah manual dengan memanfaatkan paket program Microsoft Excel atau manual menggunakan kalkulator. Setelah pemeriksaaan awal dan data yang masuk dianggap sudah lengkap dan konsisten, maka dilakukan tahap selanjutnya yaitu perekaman data (data entry) ke media komputer. Perekaman data dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas perangkat lunak (software) pengolah kata Microsoft Word yang masih sangat sederhana. Dengan media perangkat lunak Microsoft Word petugas perekaman data langsung merekam data yaitu isian tabel-tabel yang diterima dari petugas pengumpul data, ke tabel-tabel yang yang sama di dalam komputer. Proses selanjutnya adalah pemeriksaan/editing pasca komputer yang dilakukan setelah selesainya proses perekaman data. Proses ini dilakukan terutama untuk memastikan ada tidaknya kesalahan dalam proses perekaman data. Karena proses perekaman data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak pengolah kata seperti Microsoft Word, maka kesalahan dapat terjadi karena tidak dapat dilakukan validasi atas isian data yang masuk ke dalam komputer. Pemeriksaan dilakukan dengan membandingkan hasil keluaran (output) yang berupa print-out sementara hasil perekaman data dengan tabel-tabel isian dari instansi sektoral yang telah melalui proses editing awal. Jika terdapat kesalahan pada hasil print-out, petugas perekaman data diminta untuk langsung mengganti data yang salah tadi dengan data yang benar. Kemudian, setelah data clean, tahap akhir dari pengolahan data adalah proses penggabungan/kompilasi data, yang dilakukan di bidang dari seksi 244

IPDS yang merupakan penanggungjawab teknis seluruh tahap penyusunan DDA. Secara keseluruhan pengolahan data dari proses editing sampai dengan kompilasi data dilakukan secara terpusat di satu unit pengolahan yaitu di seksi Diseminasi dan Layanan Statistik, bidang IPDS BPS Provinsi, pada bulan Mei s.d. Juni selama 8 minggu dengan melibatkan staf/petugas khusus. d. Analisis Data Sebagai pelengkap dari tabel-tabel dari instansi yang disajikan dalam DDA, pada setiap bab (kelompok) disertakan pula analisis bersifat deskriptif (ulasan sederhana) terhadap data yang disajikan terutama dengan melihat perkembangan data tahunan (time series data). Dalam analisis data juga dibuatkan lampiran berupa grafik/gambar beberapa jenis data pokok setiap bab/kelompok data. Selain itu, untuk memudahkan pengguna data dari luar negeri seperti user dari Unicef, Bank Dunia, Jica, Cida dan lainnya, setiap tabel dan analisis DDA disajikan dengan menggunakan dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Analisis data dilakukan setelah proses pengolahan data atau sebelum pencetakan draft final DDA. Analisis sederhana tersebut dilakukan di bidang/seksi IPDS selama kurang lebih 1 (satu) minggu pada bulan Juli dengan melibatkan 2 (dua) staf/petugas analisis data. e. Pencetakan/penggandaan Sebelum draf final masuk ke percetakan untuk dijadikan buku, masih ada satu proses lagi yang perlu dilakukan yaitu tahap editing final terhadap keseluruhan tabel/analisis yang disajikan. Dalam kegiatan finalisasi ini dilakukan editing terhadap lay-out publikasi, urutan halaman, daftar tabel/gambar, serta rancangan kulit muka (design cover) buku publikasi. 245

Setelah semua proses dianggap final maka dilakukan pencetakan draft final sebagai master copy yang selanjutnya digunakan oleh pihak percetakan untuk memperbanyak/menggandakan publikasi dalam bentuk hardcopy. Penggandaan publikasi yang sebanyak 100 eksemplar buku dilakukan pada bulan Juli selama 2 (dua) minggu. f. Diseminasi Produk akhir dari proses penyusunan DDA provinsi dan kabupaten/kota adalah buku publikasi DDA yang merupakan satu-satunya publikasi data instansi sektoral tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Publikasi DDA didistribusikan selain ke BPS pusat dan BPS kabupaten/kota, juga ke semua dinas/instansi tingkat provinsi termasuk beberapa lembaga/perusahaan/BUMN/BUMD (lihat Lampiran 9.1). Dalam pendistribusian buku DDA dilibatkan kembali staf/petugas pengumpul data BPS di masing-masing instansi, dimaksudkan agar terjalin komunikasi yang baik antara pengumpul data dengan instansi yang bersangkutan di samping upaya sosialisasi mengenai pentingnya data sektoral disusun dalam bentuk publikasi yang informatif. Pendistribusian publikasi DDA provinsi maupun DDA kabupaten/kota dilaksanakan segera setelah buku publikasi selesai dan diterima dari percetakaan. Kegiatan ini biasanya dilakukan selama bulan Agustus selama 2 (dua) minggu. Selain dalam bentuk hard copy (buku), data sektoral tersebut juga disebarluaskan dalam bentuk soft copy terutama ke BPS pusat dan beberapa instansi/masyarakat yang membutuhkannya dalam bentuk soft copy. 9.2 Pembiayaan DDA

Biaya penyusunan DDA provinsi/kabupaten/kota berasal dari BPS provinsi (dana APBN) dan bantuan dari pemda provinsi maupun pemda 246

kabupaten/kota melalui Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) provinsi/kabupaten/kota. 9.3 Permasalahan dalam Penyusunan DDA

Permasalahan dalam penyusunan DDA ada pada sisi sumber daya baik sumber daya manusia, sarana dan prasarana, perangkat pengelola data (komputer), serta tersedianya jaringan komputer berbasis Local Area Networking (LAN) yang cukup memadai. Di samping itu masih dijumpai kendala dan permasalahan lain, seperti: a. Instrumen untuk mengumpul data sektoral yang telah ditentukan dari BPS belum ramah terhadap data sektoral yang tersedia di instansi sektoral; b. Proses pengelolaan data sektoral di instansi belum optimal sehingga kualitas data sektoral belum baik. Selain itu data instansi sektoral tingkat provinsi dengan instansi sektoral tingkat kabupaten/kota belum konsisten, disebabkan tidak adanya konsolidasi/rekonsiliasi data antara instansi sektoral di tingkat provinsi dengan kabupaten/kota; c. Cakupan data yang disajikan belum/kurang lengkap, terutama terkait dengan data yang akan digunakan untuk penyusunan indikator monitoring MDGs masih sangat minim; d. Pemasukan dokumen dari instansi sektoral ke BPS provinsi maupun BPS kabupaten/kota masih sering terlambat karena berbagai alasan; data dari instansi sektoral pada kabupaten/kota atau kecamatan belum masuk; kegiatan pendataan digabung/terintegrasi dengan kegiatan lainnya yang terkait; tidak ada bagian/unit khusus pengelola data di masing-masing instansi sektoral; data di dinas/instansi sektoral dikelola di beberapa unit kegiatan yang berbeda; fasilitas di dinas/instansi sektoral sangat minim seperti komputer sehingga menghambat pengolahan; 247

e. Penerbitan publikasi DDA masih sering terlambat dari jadwal yang ditentukan sehingga efektivitas pemanfaatannya oleh instansi-instansi sektoral tingkat provinsi/kabupaten/kota untuk evaluasi/monitoring serta penyusunan perencanaan kegiatan unit kerja tidak maksimal. Hal tersebut disebabkan karena pada proses pengumpulan sampai pencetakan buku publikasi DDA masih dialami keterlambatan dari jadwal yang direncanakan (lihat Lampiran 9.1); f. Beberapa jenis data sektoral terutama yang spesifik belum dapat dipublikasikan, karena ada rasa keengganan dari pengelola kegiatan di masing-masing instansi untuk memplublikasikannya dan menganggap data terkait merupakan output kegiatan yang tidak dapat dipisahkan; dan

g. Penyebarluasan buku publikasi DDA belum maksimal dikarenakan penggandaan/pencetakan yang terbatas. 9.4 Ketersediaan Data Indikator MDGs

Publikasi DDA provinsi maupun DDA kabupaten/kota memuat beragam data hasil pecatatan kegiatan instansi sektoral, mulai dari sektor pemerintahan, kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, pertanian, kehutanan dan lainnya. Dari 11 bab yang disajikan dalam DDA, diketahui hanya 2 bab yang dapat memberikan indikators MDGs yaitu bab tentang kependudukan dan ketenagakerjaan serta sosial. Akan tetapi ketersediaan data sektoral yang terkait dengan monitoring terutama dalam penyusunan indikator MDGs masih kurang atau masih minim. Dari pemeriksaan tabel data sektoral yang disajikan dalam DDA provinsi maupun DDA kabupaten/kota diketahui bahwa ada beberapa jenis data dari instansi sektoral yang secara langsung dapat dijadikan indikator untuk monitoring MDGs tingkat provinsi dan kabupaten yaitu: a. Jumlah keluarga miskin, untuk monitoring tujuan 1: penanggulangan kemiskinan, 248

b. Jumlah siswa SLTA terpilah, untuk monitoring tujuan 3: kesetaraan gender, c. Jumlah penderita malaria dan TBC yang meningggal dunia, untuk monitoring tujuan 6: memerangi malaria dan penyakit menular, d. Penderita TBC, kusta dan rabies, untuk monitoring tujuan 6: memerangi malaria dan penyakit menular, e. Rumah tangga menurut sumber air minum, untuk monitoring tujuan 7: kelangsungan lingkungan hidup, dan f. Data luas hutan, untuk monitoring tujuan 7: kelangsungan lingkungan hidup.

Ada beberapa jenis data yang secara materi masih terkait dengan data monitoring MDGs tetapi karena pengumpulan dan penyajian datanya tidak dilakukan dengan optimal, maka indikator MDGs dari data tersebut masih sulit dihitung. Beberapa contoh data sektoral yang dapat menjadi indikator MDGs diuraikan berikut. Data jumlah anggota DPRD yang ada di biro otonomi daerah (biro Otoda) pemerintah provinsi. Jika tabel keanggotaan DPRD menurut jenis kelamin (terpilah) dapat terisi, tentunya indikator proporsi kursi DPRD yang diduduki perempuan dapat dihitung dan disajikan. Persentase peserta KB laki-laki terhadap perempuan di provinsi tidak dapat diperoleh, karena pemakai kondom laki-laki dan perempuan tidak terpilah. Juga data prevalensi MOP/MOW tidak membedakan antara peserta KB yang menggunakan cara medis operasi pria (MOP) dengan peserta medis operasi wanita (MOW). Data sektoral lainnya yang merupakan hasil pencatatan administrasi tentang sasaran dan pencapaian kegiatan instansi sektoral pada tahun anggaran kegiatan, pada proses pengolahan lanjutan belum dapat disusun menjadi suatu indikator yang dapat mengukur pencapaian pembangunan milenium/MDGs, seperti data murid/siswa setiap jenjang pendidikan yang 249

bersumber dari dinas pendidikan provinsi; sekalipun data tersebut sudah tersaji dalam data terpilah pun, indikator yang bisa dihitung hanya angka partisipasi kasar (APK), sedangkan untuk menghitung angka partisipasi murni masih perlu data siswa dirinci sesuai dengan kelompok usia sekolahnya 7-12 tahun untuk sekolah dasar atau usia 13-15 untuk SMP. Kualitas data monitoring MDGs pada instansi sektoral tingkat provinsi dan instansi sektoral tingkat kabupaten/kota masih belum baik. Salah satu contoh jenis data yang bisa dijadikan bahan perbandingan adalah data siswa pada jenjang pendidikan sekolah menengah umum (SMU). Berdasarkan temuan lapangan, terdapat dinas pendidikan kabupaten yang dapat menyajikan data siswa terpilah untuk penghitungan indikator tujuan 3: kesetaraan gender, yaitu rasio siswa perempuan terhadap siswa laki-laki (Lampiran 9.2). Berdasarkan studi di 5 kabupaten terpilih, yaitu Banteang, Takalar, Bone, Polman, dan Mamuju diperoleh temuan bahwa publikasi DDA yang dapat memberikan indikator MDGs hanya 11 indikator dan menyebar tidak merata di semua DDA 5 kabupaten tersebut. Satu indikator yang ada pada semua DDA di 5 kabupaten yaitu proporsi kursi di DPR yang diduduki perempuan. DDA Kabupaten Banteang dan Mamuju mempunyai indikator yang lebih lengkap dibandingkan dengan 3 kabupaten yang lainnya. Indikator persentase penduduk miskin yang menerima BLT hanya terdapat DDA Kabupaten Banteang, indikator proporsi kematian karena TBC dan malaria hanya terdapat di DDA kabupaten Mamuju (disunting dari: Surbakti, Soedarti, 2007). 9.5 Permasalahan Penyusunan Indikator MDGs

Pada DDA kabupaten atau provinsi data penduduk yang ada belum sesuai dengan kebutuhan untuk menyusun suatu indikator. Tabel data penduduk pada DDA menurut kelompok umur dibagukan sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan untuk data kelompok umur sekolah; untuk data 250

Puskemas pada DDA kecamatan, secara wilayah, tingkat pelayanan belum menggambarkan wilayah administrasi. Dengan membandingkan data antar-waktu (time series data) nampak bahwa tingkat keterkaitan antara data sektoral dinas kabupaten/kota dengan data sektoral yang berasal dari dinas provinsi yang bersumber dari DDA masih minim. Salah satu sebab terjadinya ketidakkonsistenan antara data instansi kabupaten dan provinsi adalah belum adanya konsolidasi dan rekonsiliasi data antara instansi sektoral di tingkat provinsi dengan kabupaten/kota, terutama sejak era otonomi daerah ketika pelaporan administrasi dari dinas kabupaten ke provinsi menjadi terputus. Tidak adanya perencanaan awal mengenai cakupan data sektoral yang perlu disajikan, baik menurut jenis data pokok maupun menurut kebutuhan instansi pemeritah atau masyarak Belum ada sosialisasi tujuan pembangunan milenium secara maksimal di semua instansi pemerintah, baik yang sektoral maupun lintas-sektoral, menyebabkan belum ada suatu sistem yang terintegrasi dalam pengelolaan data yang dapat dijadikan alat monitoring dalam pencapaian MDGs tersebut. 9.6 Peningkatan Kualitas Data Sektoral

Data sektoral di dinas/instansi perlu dikelola dengan sistem satu pintu, sehingga data yang dihasilkan oleh unit-unit pelaksana kegiatan di setiap instansi dapat diolah secara terpusat dan terintegrasi. Penyempurnaan sistem alur data sektoral dari instansi tingkat kabupaten/kota, provinsi sampai ke tingkat pusat sebagai jembatan ketersediaan data sektoral yang berkualitas, tepat waktu, dan berkesinambungan perlu dilakukan agar data dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam penyusunan indikator MDGs baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi, maupun tingkat nasional. Sistem arus data sektoral ini sebaiknya menempatkan BPS, baik BPS kabupaten/kota, BPS provinsi, dan BPS pusat sebagai leading sector di 251

dalam proses pengumpulan dan penyajian data sektoral mengingat BPS masih merupakan instansi yang vertikal yang secara struktural memiliki aparat dari pusat sampai ke daerah (Lampiran 9.3). Sosialisasi mengenai pentingnya data terutama data sektoral yang sangat dibutuhkan untuk menyusun indikator pemantau pencapaian kinerja pembangunan umumnya, dan MDGs khususnya harus dilakukan dengan seksama. Ke depan diharapkan setiap instansi sektoral mampu dan dapat menyajikan data hasil kegiatan instansinya, apabila mungkin secara langsung dapat memantau kemajuan capaian setiap kegiatan pembangunan yang dilaksanakan yang tentunya juga mendukung pemantauan sasaran pembangunan nasional serta tujuan MDGs. Peningkatan koordinasi dan kerja sama antar-instansi harus dilakukan sehingga dapat dirumuskan secara lintas-sektoral upaya apa yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan data di masing-masing instansi secara lebih cepat dan terintegrasi. Perlu pengkajian akan alternatif pembuatan sistem informasi data sektoral yang berbasis Web atau LAN. Perlu meningkatkan penyelengggaraan diklat/workshop/seminar, sebagai media untuk mengkaji kualitas data sektoral yang dihasilkan setiap instansi, sekaligus sebagai tempat untuk merumuskan kebutuhan data sektoral tidak hanya di instansi namun juga masyarakat luas. Pelatihan teknis pengelolaan data sektoral di instansi-instansi perlu ditingkatkan agar kapasitas dan kemampuan teknis pengolahan data, terutama yang terkait monitoring MDGs meningkat, sehingga diharapkan kualitas pengelolaan data sektoral di masing-masing instansi menjadi optimal. 9.7 Penutup

Dengan berbagai kendala dan kelebihannya, DDA masih merupakan perangkat yang paling efektif untuk dapat memperoleh data sektoral namun saat ini sistem alur data sektoral di kabupaten/kota mengalami hambatan. 252

Untuk itu, DDA perlu dikembangkan menjadi perangkat yang lebih baik guna meningkatkan sistem alur data sektoral di kabupaten/kota. Sejalan dengan itu sistem alur data sektoral dari sumbernya ke pusat perlu segera dikembangkan kembali. Langkah ini diperlukan untuk menjawab tantangan ke depan yang semakin menglobal, pemerintah perlu dukungan data yang cepat dan akurat untuk guna berbagai keperluan.

9.8 Daftar Pustaka


Badan Pusat Statistik, 1998, Undang-undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik. BPS, Jakarta. , 1999, Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan Statistik. BPS, Jakarta , 2001, Keputusan Kepala BPS Nomor 001 tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja BPS. BPS, Jakarta. , 2001, Keputusan Kepala Badan Pusat Statistik Nomor 121 tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perwakilan BPS di Daerah. BPS, Jakarta. Surbakti, Soedarti, 2007, Upaya Pemantauan Kemiskinan dan Pembangunan milenium di Tingkat Pusat dalam seri 1: Upaya Pemantauan dan Evaluasi Program Pelayanan Sosial Ibu dan Anak melalui Indikator Pembangunan Milenium di Indonesia (koordinator Soedarti Surbakti). BPSCIDA-UNICEF, Jakarta.

253

Lampiran 9.1

Jadwal Kegiatan Penyusunan DDA Provinsi


Keterlambatan -

Kegiatan

Rencana

Waktu

Realisasi

Waktu

1. Persiapan 2. Pengumpulan Data 3. Pengolahan

Februari

2 minggu

Februari

2 minggu

Maret-April

8 minggu

Maret- Juni

2 minggu

8 Minggu

Mei-Juni

8 minggu

Mei-Juni

2 minggu

4. Analisis

Juli

2 minggu

Juni

2 minggu

5. Pencetakan

Juli

2 minggu

Februari

2 minggu

24 minggu

6. Diseminasi

Agustus

2 minggu

Maret

2 minggu

24 minggu

254

Lampiran 9.2

INDIKATOR MDGs YANG TERSEDIA DI DDA


Indikator MDGs
Kemiskinan dan Kelaparan: 1. Keluarga Miskin Kesetaraan Gender - Rasio siswa perempuan terhadap laki-laki di SLTA Pendidikan untuk Semua Dinas Pendidikan Hanya data murid/siswa untuk APK per tingkat pendidikan, tetapi tidak terpilah lakilaki/perempuan Dinas Kesos dan Linmas

Sumber Data

Keterangan

Dinas Pendidikan Biro Otoda Dinas Nakertrans Jumlah anggota DPRD tidak terpilah UMR tidak terpilah antara upah pekerja laki-laki/perempuan Data % Peserta KB laki-laki terhadap perempuan tidak dapat diperoleh, karena pemakai kondom tidak terpilah, demikian juga prevalensi MOP/MOW

BKKBN Kematian Anak Kesehatan Ibu HIV/AIDS, Malaria dan Penyakit Menular 1. Angka kematian karena Malaria, dan TBC 2. Prevalensi TBC, Kusta, Rabies Lingkungan Hidup 1. % Rumah tangga yang mengkonsumsi air bersih 2. Proporsi lahan yang tertutup hutan

Dinas Kesehatan Proporsi anak diberi imunisasi campak tdk tersedia , yg ada hanya jumlah realisasi imunisasi campak pd tahun berjalan

Dinas Kesehatan

BPS Dinas Kehutanan

255

Lampiran 9.3

USULAN PENYEMPURNAAN SISTEM ALUR DATA SEKTORAL

PEMERINTAH PUSAT

BPS

BPS PROVINSI

PEMPROV

DINAS PROV DINAS KAB/KOTA DINAS KAB/KOTA

BPS KAB/KOTA

PEMKAB/KOTA

DINAS KAB/KOTA DINAS KAB/KOTA DINAS KAB/KOTA


: Alur Data : Alur Koordinasi

256

Lampiran 1.1

Daftar Nama SKPD Tingkat Kabupaten yang Dicakup dalam Studi Sulawesi Selatan
No.
1. 2. 3. Pendidikan

Bidang
Kemiskinan

Bantaeng
BPS kabupaten Dinas Sosial Dinas Pendidikan Nasional

Takalar
BPS kabupaten Dinas Sosial dan Kesatuan Bangsa Dinas Pendidikan dan Pengajaran

Bone
BPS kabupaten Badan Kesejahteraan Sosial Dinas Pendidikan Kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga Dinas Kesehatan Dinas KB dan Keluarga Sejahtera Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bapedalda

4. 5.

Kesehatan KB dan Keluarga sejahtera Kehutanan

Dinas Kesehatan Dinas KB, Kependudukan, dan Catatan Sipil Dinas Kehutanan, Perkebunan, dan Lingkungan Hidup Dinas Kehutanan, Perkebunan, dan Lingkungan Hidup

Dinas kesehatan Dinas KB

6.

Dinas Pertanian (Sub-Bidang Kehutanan) Dinas Tata Ruang, Kebersihan dan LH

7.

Lingkungan Hidup

Sulawesi Barat
No.
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Bidang
Kemiskinan

Polman
BPS kabupaten

Mamuju
BPS kabupaten Dinas KB, Kesos, dan Perlindungan Masyarakat Dinas Pendidikan Nasional Dinas Kesehatan Dinas KB, Kesos, dan Perlindungan Masyarakat Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kantor Pengendalian Dampak LH

Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat, dan Tenaga Kerja Pendidikan Dinas Pendidikan Kesehatan Dinas Kesehatan dan KB KB dan keluarga Dinas Kesehatan dan KB sejahtera Kehutanan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Lingkungan Kantor Lingkungan Hidup Hidup

35

Lampiran 1.2

Daftar Nama Penanggung Jawab Teknis Studi Alur Data Sektoral Pusat dan Daerah

No.

Nama

Jabatan

Instansi

Dr. Soedarti Surbakti

Koordinator Kepala Pusat Statistik Pendidikan Kepala Pusat Data dan Informasi Kesehatan Kepala Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial PLT Direktur Pelaporan dan Statistik Asdep Urusan Data dan Informasi Lingkungan Kepala Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan Direktur Sistim Informasi Statistik Direktur Diseminasi Statistik Kepala Bidang Statistik Sosial Kepala Bidang Statistik Sosial

BPS

2 3

Ade Cahyana, M.Sc. Dr. Bambang Hartono S.K.M., M.Sc.

Depdiknas Depkes

Drs. Bambang Ipujono, M.Si.

Depsos

Drs. Freddy Aritonang, M.M.

BKKBN

Dra. Siti Aini Hanum, M.A.

KNLH

Ir. Basoeki Karya Atmadja M.Sc.

Dephut

8 9 10

Gema Purwana, S.E. Drs. Abdul Rahman

BPS BPS BPS Propinsi Sulsel BPS Propinsi Sulbar

Ir. Hj. Diah Utami, M.Sc.

11

Dadang Hardiwan, S.Si., M.Si.

36

Lampiran 1.3

BPS

STUDI ALUR DATA SEKTORAL


[Rangkap 2]

I. PENGENALAN TEMPAT
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Propinsi Kabupaten Nama Instansi Nama Responden Pangkat/Jabatan Responden Alamat Kantor/Instansi Nomor Telephone/Fax

II. INVENTARISASI KEGIATAN PENGUMPULAN DATA


1. Apakah melakukan pengumpulan data melalui survei yang bersifat rutin? 1 Ya 2 Tidak [ke pertanyaan 3] Jika Ya, jenis dan nama survei yang bersifat rutin, apa saja? Siapa Nama Survei Rutin responden

2. No.

Jumlah sampel

Penyelenggara

3.

Apakah melakukan pengumpulan data melalui survei yang bersifat tidak rutin? 1 Ya 2 Tidak Jika Ya, jenis dan nama survei yang bersifat tidak rutin, apa saja? Siapa Nama Survei Tidak Rutin responden

4. No.

Jumlah sampel

Penyelenggara

37

5. 6. No.

Apakah melakukan pengumpulan data melalui pencatatan administrasi yang bersifat rutin? 1 Ya 2 Tidak Jika Ya, jenis data apa saja? Jenis Pendataan/Pencatatan yang Rutin Siapa/apa yang dicatat Jumlah dokumen Penyelenggara

7.

Apakah melakukan pengumpulan data melalui pencatatan administrasi yang bersifat tidak rutin? 1 Ya 2 Tidak Jika Ya, jenis pendataan apa saja? Jenis Pendataan/Pencatatan yang Tidak Rutin Siapa/apa yang dicatat Jumlah dokumen Penyelenggara

8. No.

9.

Apakah ada unit kerja yang khusus menangani data? 1 Ya 2 Tidak

[ke pertanyaan 10]

Jika Ya, unit apa namanya? .....................................................................................................

Berapa jumlah tenaganya? 10. Apakah ada petugas khusus yang menangani data? 1 Ya 2 Tidak Jika Ya, berapa jumlah tenaganya?

......... orang

Kalau tidak ada di mana data dikelola?................................................................. 3. Tidak tahu ........ orang

11.

12.

Jika dilakukan di luar instansi/dinas kabupaten/kota, siapa pelaksananya? Jelaskan: ................................................................................................... Sebutkan jenis pendataan/pencatatan yang menghasilkan indikator Sebutkan Indikator MDGs: MDGs a. .............................................................................................................. ............................... b. .............................................................................................................. ............................... c. .............................................................................................................. ............................... d. ............................................................................................................... ............................... Apakah ada kegiatan pengumpulan data yang terkait dengan indikator MDGs tersebut sama? a. ........................................................................... 1 Ya 2 Tidak b. ........................................................................... 1 Ya 2 Tidak c. ........................................................................... 1 Ya 2 Tidak d. .............................................................................. 1 Ya 2 Tidak Apakah ada kegiatan pengolahan data yang terkait dengan indikator MDGs tersebut sama? a. .......................................................................... 1 Ya 2 Tidak b. .......................................................................... 1 Ya 2 Tidak c. .......................................................................... 1 Ya 2 Tidak d. .......................................................................... 1 Ya 2 Tidak Apakah ada kegiatan analisis data yang terkait dengan indikator MDGs tersebut sama? a. ................................................................................. 1 Ya 2 Tidak b. .................................................................................. 1 Ya 2 Tidak c. ................................................................................. 1 Ya 2 Tidak d. ................................................................................. 1 Ya 2 Tidak

13.

14.

38

III. PENDATAAN/PENGUMPULAN DATA ADMINISTRASI (PER PENDATAAN)


1. 2. 3. Instansi/Sektor: ............................................................................................................................. Nama indikator MDGs apa saja: ................................................................................................. Nama unit pelayanan penghasil data:: ......................................................................................... Apakah kegiatan yang terkait dengan MDGs merupakan: 1. Kegiatan lama sebelum otonomi 3. Kegiatan baru sesudah otonomi 2. Kegiatan lama yang dimodifikasi 4. Lainnya (jelaskan:................................) Siapa yang menyiapkan instrumen untuk kegiatan tersebut? 1. Pusat 3. Kabupaten 2. Propinsi 4. Lainnya (jelaskan: ............................................) Siapa yang melakukan pencatatan? 1. Institusi unit pelayanan/unit kerja terkecil Siapa/apa yang dicatat? 1. Penerima pelayanan 2. Lainnya (jelaskan:............................................) 2. Lainnya (jelaskan:............................................)

4.

5. 6. 7.

Apakah pada kegiatan pengumpulan data yang terkait dengan MDGs mencakup rincian menurut: 1. Jenis kelamin 1 Ya 2 Tidak 2. Umur 1 Ya 2 Tidak 3. Tempat tinggal 1 Ya 2 Tidak 4. Status ekonomi 1 Ya 2 Tidak Siapa dalam unit pelayanan yang mengumpulkan data/mencatat statistik? 1. Pegawai tetap yang khusus mengumpulkan data 3. Tenaga honorer 2. Pegawai tetap yang tidak khusus 4. Tenaga mitra mengolah data 5. Lainnya (jelaskan:........................) Apakah petugas pengumpul data statistik mendapat pelatihan sebelumnya? 1 Ya 2 Tidak Apakah bentuk penyusunan data statistik telah dibakukan? 1. Ya, berupa daftar isian 3. Tidak 2. Ya, berupa narasi/data kualitatif 4. Lainnya (jelaskan:..........................................) Berapa lama proses pengumpulan data statistik di unit pelayanan .............. minggu

8.

9. 10.

11. 12.

Siapa yang ditugasi dinas di kabupaten untuk mengumpulkan data statistik dari unit pelayanan/unit kerja terkecil? 1. Pegawai tetap yang khusus mengumpulkan data 3. Tenaga honorer 2. Pegawai tetap yang tidak khusus 4. Tenaga mitra mengolah data 5. Lainnya (jelaskan:...............................) Apakah ada biaya untuk proses pengumpulan data statistik di unit pelayan/unit kerja terkecil? 1 Ya 2 Tidak Bila Ya dari mana saja biaya tersebut diperoleh? ....................................................................... Menurut petugas, apa ada kesulitan dalam proses pengumpulan data statistik? 1 Ya 2 Tidak Jika Ya , apa saja kesulitannya? (Jelaskan:.....................................................................................................................................) Menurut saudara, apa saja saran perbaikan untuk proses pengumpulan data statistik? ......................................................................................................................................................... .........................................................................................................................................................

13. 14. 15. 16. 17.

39

IV. PELAKSANAAN PENGOLAHAN DATA LAPORAN STATISTIK (PER PENDATAAN)


1. 2. Apakah ada petugas khusus yang mencatat penerimaan data statistik dari petugas pengumpul data? Apakah dilaksanakan perekaman data? Bila Ya, apa ada unit khusus yang ditugasi? 3. 4. 5. Sistem perekaman data yang dilakukan 1 Ya 1 Ya 1 Ya 1 Komputer 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Manual

Bila menggunakan unit komputer, berapa banyak unit komputer yang digunakan? ............. unit Apakah ada petugas khusus pengolah data? 1. Pegawai tetap yang khusus mengolah data 3. Tenaga honrer 2. Pegawai tetap yang tidak khusus 4. Tenaga mitra mengolah data 5. Lainnya skan:..................................) Berapa banyak petugas yang melaksanakan pengolahan data? Berapa lama dilaksanakannya pengolahan data? Apakah petugas pengolahan mendapatkan pelatihan terlebih dahulu? 1 Ya Apakah ada biaya untuk proses pengolahan datanya? 1 Ya ............orang ........ minggu 2 Tidak 2 Tidak

6. 7. 8. 9.

10.

11.

Bila Ya, dari mana saja biaya pengolahan data tersebut diperoleh? .................................................................................................................................................... Bila menggunakan komputer, siapa yang menciptakan/menyiapkan program perekaman data? 1. Pusat 3. Kabupaten 2. Propinsi 4. Lainnya (jelaskan: ...............................................) Bagaimana sistem pengiriman data/dokumen hasil pengolahan? 1. Kirim melalui Pos (Disket/CD), hard copy 2. Menggunakan Internet 3. Fax 4. Diantar langsung 5. Tidak dikirim 1 Ya 1 Ya 1 Ya 1 Ya 1 Ya 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak

12.

Dalam bentuk apa hasil dari pengolahan ini? 1. Data elektronis individu 2. Data elektronis agregat 3. Tabulasi 4. Lainnya (jelaskan: ....................................................) 1 Ya 1 Ya 1 Ya 1 Ya 2 2 2 2 Tidak Tidak Tidak Tidak

13.

Apakah hasil kegiatan pengolahan data yang terkait dengan MDGs dirinci menurut: 1. Jenis kelamin 1 Ya 2 2. Kelompok umur 1 Ya 2 3. Tempat tinggal 1 Ya 2 4. Status ekonomi 1 Ya 2

Tidak Tidak Tidak Tidak

14. 15. 16. 17.

Berapa persen tingkat pemasukan datanya pada setiap periode pengumpulan? .........persen Menurut petugas pengolah data, apa ada kesulitan dalam proses pengolahan? 1 Ya 2 Tidak Jika Ya, apa saja kesulitan tersebut? Uraikan: ............................................................. Menurut saudara apa saja saran perbaikan dalam pengolahan? ....................................

40

V. PENYUSUNAN INDIKATOR MDGs, ANALISA, DAN PUBLIKASI (PER PENDATAAN)


1. Apakah di Dinas Kabupaten dilakukan penghitungan indikator MDGs? 1. Ya 2. Tidak Bila tidak, dimana dilakukan penghitungan indikator MDGs? 1. Pusat 3. Lainnya (jelaskan: ................................. 2. Propinsi .............................................................) Untuk menyusun indikator, apakah data yang diolah dari laporan statistik sudah cukup memadai untuk menyusun pembilang dari indikator MDGs? 1. Cukup 3. Tidak sama sekali (sebutkan: 2. Tidak (hanya sebagian pembilang/penyebut) .........................................................) Kalau tidak cukup dari mana saja diperoleh agar pembilang menjadi cukup, jelaskan: ................................................................................................................................................. Dari mana diperoleh angka penyebut? 1. BPS 4. Mengumpulkan dari lapangan 2. Dinas kependudukan 5. Lainnya (jelaskan: .............................. 3. BKKBN ...........................................................) Apakah indikator yang dihasilkan dari penghitungan pembilang dibagi penyebut dapat dipilah menurut: 1. Jenis kelamin 1 Ya 2 Tidak 2. Kelompok umur 1 Ya 2 Tidak 3. Tempat tinggal 1 Ya 2 Tidak 4. Status ekonomi 1 Ya 2 Tidak Siapa saja yang membutuhkan indikator-indikator tersebut? 1. Instansi internal 2. Pemda/BAPPEDA 3. Dinas Kabupaten/kota 4. Dinas Propinsi 1 Ya 1 Ya 1 Ya 1 Ya 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak

2.

3. 4.

5.

6.

5. Lainnya ( jelaskan: ..........................................) 1 Ya 7. Dimana dilaksanakan proses penulisan publikasi? 1. Pusat 1 Ya 2. Dinas propinsi 3. Dinas kabupaten 4. Lainnya (jelaskan: ......................................) 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 1 Ya 1 Ya 1 Ya

Apakah ada petugas khusus yang melaksanakan kegiatan analisa data? 1 Ya 2 Tidak Apakah petugas analisa data mendapatkan latihan penulisan analisis terlebih dahulu? 1 Ya 2 Tidak Berapa lama dilaksanakannya penulisan analisis: Berapa banyak petugas yang melaksanakan penulisan analisis Apakah ada biaya untuk proses penulisan? 1 Ya 2 Tidak Bila Ya, dari mana saja biaya penulisan itu diperoleh? ................................................................................................................................................. Dalam proses analisa, indikator-indikator apa saja yang dianalisis? ................................................................................................................................................. ........ minggu ............orang

..

41

15.

Siapa saja yang membutuhkan analisis tersebut? 1. Instansi internal 1 2. Pemda/BAPPEDA 1 3. Dinas Kabupaten/kota 1 4. Dinas Propinsi 1 5. Lainnya ( jelaskan: ..........................................) 1

Ya Ya Ya Ya Ya

2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak ........... buah

16. 17.

Apakah hasil analisis tersebut dicetak dalam bentuk publikasi? 1 Ya Berapa banyak publikasi yang dihasilkan/dicetak

Sebutkan nama-nama publikasinya: ....................................................................................... 18. Kemana saja publikasi tersebut didistribusikan? 1. Instansi pusat 2. Instansi propinsi 3. Seluruh instansi di kabupaten/kota 19. 20. 21. 1 Ya 1 Ya 1 Ya 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak

4. Lainnya (jelaskan:.......................................) 1 Ya

Menurut petugas analisis, apa ada kesulitan dalam proses penulisan tersebut? 1 Ya 2 Tidak Jika Ya, jelaskan kesulitan penulisan publikasi tersebut? .............................................................................................................................................. Menurut saudara apa saja saran perbaikan untuk proses penulisan publikasi? ..............................................................................................................................................

VI. ALTERNATIF ALUR DATA SEKTORAL


1. 2. Apakah saudara pernah mendengar bahwa BPS Pusat/Propinsi/Kabupaten mengumpulkan data jenis ini? 1 Ya 2 Tidak Menurut saudara data yang paling akurat untuk dikirim ke BPS berasal dari mana? 1. Unit pelayanan 3. Dinas propinsi 2. Dinas Kabupaten 4. Departemen/Pusat Menurut saudara data yang dikirim tersebut adalah: 1. Data dasar 2. Data rekap 3. Tabel 4. 5. 1 Ya 1 Ya 1 Ya 2 Tidak 2 Tidak 2 Tidak

3.

4. Lainnya (jelaskan:.................................) 1 Ya 2 Tidak Menurut saudara dalam bentuk apa data tersebut dikirim? 1. Dokumen/kertas 2. Data elektronik Menurut saudara data tersebut perlu dikirim ke BPS? 1 Ya 2 Tidak Bila Ya data tersebut dikirim ke mana? 1. Pusat 2. Propinsi 3. Kabupaten Apakah BPS pernah meminta data sektoral untuk penyusunan daerah dalam angka? 1 Ya 2 Tidak Apakah BPS dapat memperoleh data dalam bentuk: Data mentah 1 Ya Data agregat 1 Ya Publikasi 1 Ya Lainnya (........................................ ...........) 1 Ya 2 2 2 2 Tidak Tidak Tidak Tidak

6. 7.

42

Lampiran 1.4

Daftar Peserta Sidang Pleno Di Kantor Bupati Jeneponto

No. (1)

N a m a (2)

Instansi (3)

01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34.

Wuriyanto N Fify Joseph Uskar Baso M. Natsir R. Djohan Syamsuddin L Amir Sarifuddin Din Hajad Kurniawan Kamaluddin Wahab Dr. Soedarti Surbakti Purwo Handoko Maulyani Djajadilaga Dadang Herdiwan Lucky Prakoso Prayitno Guruh Wahyu Diah Utami Lilies Listiowaty Ashfiani Tashan La Ode Syafiuddin, M.Sc. A. Muh Yusuf M. Ilyas Abd. Rakhman, S.Sos. Bheta Tharnkamol S Machjati Hitima Wardhani Husain H Muh Mukhtaf Patau Zainuddin Arifin Kammu Marthina Kondorum Suciati S.M. Andi Yemi

Unicef Unicef Makassar Dinas Pendidikan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabid Litbang-Bappeda Kebersihan Kasubag Pembuatan Program Dinas kependudukan, Capil, dan KKB Kabid Fispra-Bappeda Koordinator Studi (BPS) BPS Sulbar KNLH BPS Sulbar Depsos Depdiknas BPS Sulsel BPS Sulsel Bappeda Sulbar Bappeda Sulbar Sekretariat Unicef-BPS Bappeda Bappeda Dinas Pendidikan Unicef Unicef Depkes BKKBN Kasi Perekonomian Lingkungan Hidup Sosial Kantor Ketahanan Pangan & Penyuluhan Dinas Pertanian Daerah Bappeda propinsi/Bidang Kesos Bappeda

43

Lampiran 1. 5

Daftar Nama Narasumber di Kabupaten Jeneponto

No.
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. H. Arifin, S.K.M.

N a m a

Sektor

H. Sudirman, S.K.M., M.Kes. Rahmi, S.K.M. Baso Lalo Zainudin, Drs.

Kesehatan

Kehutanan

Kesejahteraan Sosial Rasyid Paulus, S.H. Dr. Hasanuddin, M.Pd. H. Jabar Tanto Samsubair, S.E. Ir. Muchtar Patau Abd. Haris S.E. LH Statistik Pendidikan KB

44

Lampiran 1.6

Daftar Nama Narasumber di Kabupaten Takalar

No.
1. 2. 3. 4. 5. 6.

N a m a
Dr. A. Munir, M.Kes. Ir. Suhady W.S. Hj. Rusmaidah Drs. Kaharudin Eddy Poernomo Usman, S.E. Kesehatan Kehutanan Sosial KB LH Statistik

Sektor

45

Lampiran 1.7

Daftar Nama Responden Uji Coba Data Sektoral

No. Sulawesi Selatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Dinas KB

Instansi

Nama Responden

Jabatan

Kaharudin Mahmud Eddy Poernomo Belluano Isrun Hamid, S.Hut. Drs H Naris Patha Muchtar Patau A Isma Muhammad Fadullah H. Muhammad Dahniar Drs. H. Ridwan, M.Hd. Muhammad Tahir, S.E. Abdillah, S.E. Drs. Jamaris Drs.A.Gunadil Ukra.M.M. Suandi, SE Dra. Hj. Rosnaedah Ir. Anwar Hamido, M.Si. Andi Gunawan Faisal Sahing Hariani Samal, S. Hut., M.Si. Rosmiati

Kabid Ikap Penata Tk I/Kasi Amdal Staf Subdin LH Sekretaris Kepala Bidang LH Kasubdid SDM Staf Bag Program Penata Tk.I/Kasubag Program Pembina IVa/Staf Penata Tk I/Kasi PPID Ka.Subdin Ikap Staf Subag Perencanaan Pembina/Kabag TU Kasi PKT Pembina/Kabid Tata Usaha Kasubid Kesehatan Staf Sosek Kasubid Jasa Staf Subag Program Penata Muda Tk I

Dinas Tata Ruang, LH dan Kebersihan Dinas Kehutanan Perkebunan dan LH Bapedalda Dinas Kehutanan, Perkebunan dan LH Bapedalda Provinsi Bapedalda Provinsi Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan BKKBN Provinsi Dinas KB dan Keluarga Sejahtera Dinas Kesejahteraan Sosial Badan Kesos dan Linmas Dinas Kesos Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Kesos dan Kesbang Bappeda Bappeda Bappeda Takalar Dinas Kehutanan Dinas Kesehatan Tk I Sulaesi Barat

21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33

Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan Kependudukan Dinas KB Kesos dan Perlindungan Masyarakat BKKBN Provinsi Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil Dinas Kesehatan/KB Badan Kesehateraan Sosda Dinas KB, Kesos dan Perlindungan Masyarakat Dinas Sosial Dinas Kesehatan Provinsi Dinas Kesehatan Provinsi

Muh Muhram R, S.Pd. Abd Rahman, M. S.E. Juniar, S.E. Adam Malik Fajar, S.E. A. Angu Fatimah M. Akbar Sidrah, S.Pd. St. Fifi Samsam, S.E. M.M. Marwah Andi Teluri Bulaeng Wahyuddin

Pengatur Muda II a Staf Perencanaan Kasubag Program & Keuangan Staf Penata Muda III/A Staf Staf III/A Kasi Kependudukan, Penata Tk.I Kasubag Perencanaan Staf Kasie Yayasan Pahlawan Staf Staf Kesga Staf Perencaan Dinkes

46

34

Dinas Kesehatan

Hj.Mudra S.

Pengelola Gizi

47

Rangkuman Usulan Indikator MDGs Tingkat Kabupaten dan Kecamatan


INDIKATOR MDG Tujuan 1: Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan Target 1: Menurunkan proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya di bawah $1 perhari menjadi setengahnya antara th. 1990-2015 Proporsi penduduk yang termasuk dalam kategori pra 1 sejahtera dan sejahtera I (yang disepakati masyarakat) 2 Proporsi penduduk yang kualitas hidupnya rendah (fakir miskin) Kabupaten Kecamatan Sumber Data

9 9

9 9

Sektor KB Survei/Sektor Kesos

Target 2: Menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya antara th. 1990-2015 3 4 Proporsi Balita kurang gizi Proporsi penduduk yang berada di bawah garis konsumsi minimum (2100 kkal per kapita per hari) 9 x 9 x Survei Survei

Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar Untuk Semua Target 3: Memastikan pada th. 2015 semua anak dimanapun, laki-laki maupun perempuan, dapat menyelesaikan pendidikan dasar 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 Survei/Sektor Pendidikan Survei/Sektor Pendidikan Survei/Sektor Pendidikan Sektor Sosial/ Pendidikan Survei/Sektor Pendidikan Sektor Pendidikan Sektor Pendidikan Sektor Pendidikan Sektor Pendidikan Sektor Pendidikan Sektor Pendidikan Survei

5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Angka partisipasi murni di sekolah dasar (7-12 tahun) Angka partisipasi anak di pendidikan pra sekolah (4-6 tahun) Angka partispasi murni di sekolah lanjutan pertama Angka partisipasi murni anak cacat Proporsi murid kelas 1 yang berhasil mencapai kelas 5 Proporsi murid di kelas 1 yang berhasil menamatkan sekolah dasar Proporsi murid di kelas 1 yang berhasil menyelesaikan sembilan tahun pendidikan dasar Angka kelulusan Angka putus pekolah Angka melanjutkan ke SMP Angka melanjutkan ke SMA Angka melek huruf remaja (15-24 tahun)

INDIKATOR MDG

Kabupaten

Kecamatan

Sumber Data

Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan perempuan Target 4: Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan pada th.2005 dan di semua jenjang pendidikan tidak lebih dari th.2015 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Rasio APM anak perempuan terhadap anak laki-laki di tingkat sekolah dasar (7-12 tahun) Rasio APM anak perempuan terhadap anak laki-laki di tingkat sekolah lanjutan pertama (13-15 tahun) Rasio melek huruf perempuan terhadap anak lakilaki (15-24 tahun) Kontribusi perempuan dalam kerja nafkah/upahan di sektor non pertanian Proporsi kursi DPR yang diduduki perempuan Presentase camat perempuan Presentase lurah/Kades perempuan Presentase perempuan dalam keanggotaan Baperjakat Rasio pejabat perempuan di kantor kecamatan Persentase perempuan sebagai pengurus partai Persentase perempuan sebagai pengurus Orsos Presentase peserta KB perempuan dibanding lakilaki 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 x X 9 X 9 9 9 9 Survei/Sektor Pendidikan Survei/Sektor Pendidikan Survei/Sektor Pendidikan Survei Sekr. DPR Pemda Pemda Pemda Pemda Sekr. Partai politik Sekr. Partai politik Survei/Sektor KB

Tujuan 4: Menurunkan Angka Kematian Anak Target 5: Menurunkan angka kematian balita sebesar dua pertiganya, antara th. 1990-2015 29 30 31 32 33 34 35 36 Angka kematian bayi Jumlah kematian bayi Angka kematian Balita Presentase Balita KEP Persentase rumah tangga menggunakan garam yodium Presentase pemberian vitamin A pada Balita Proporsi anak usia satu tahun yang diimunisasi campak Proporsi anak yg diimunisasi campak < 2 th 9 X 9 9 9 9 9 9 X 9 X 9 9 9 9 9 Survei/Sektor Kesehatan Sektor kesehatan Survei/Sektor Kesehatan Survei/sek kesehatan Survei/Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan Survei/Sektor Kesehatan Survei/sek Kesehatan

INDIKATOR MDGs Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu Target 6: 37 38 39 40 41 42 43 44 Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempatnya antara th. 1990-2015 Angka Kematian Ibu Status gizi WUS Status gizi wanita hamil Presentase pemberian Fe pada ibu hamil Proporsi pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih Presentase kunjungan K4 Presentase remaja yang mendapat penyuluhan tentang kesehatan reproduksi Angka pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur (PUS) usia 15-49 tahun

Kabupaten

Kecamatan

Sumber Data

9 9 9 9 9 9 9 9

9 9 9 9 9 9 9 9

Survei/Sektor Kesehatan Survei/Sektor Kesehatan Survei/Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan Survei/Sektor Kesehatan Survei/Sektor Kesehatan Survei/Sektor Kesehatan Survei/Sektor KB

Tujuan 6: Memerangi HIV/ AIDS, Malaria, dan Penyakit Menular lainnya Target 7: Mengendalikan penyebaran HIV/ AIDs dan mulai menurunnya jumlah kasus baru pada th. 2015 Angka pemakaian kontrasepsi kondom pada 45 pasangan usia subur (PUS) usia 15-49 tahun Proporsi penduduk usia 15-24 tahun yang memiliki 46 pengetahuan komprehensif mengenai HIV/AIDS

9 9

9 9 9

Survei/Sektor KB Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan

9 47 Prevalensi HIV/AIDS Target 8: Mengendalikan penyakit malaria dan mulai menurunnya jumlah malaria dan penyakit lainnya 9 48 Prevalensi malaria Proporsi anak balita tidur menggunakan klambu yg 9 49 direndam insektisida Proporsi anak balita dengan gejala klinis malaria 9 50 yang menerima pengobatan anti malaria Tujuan 6: Memerangi HIV/ AIDS, Malaria, dan Penyakit Menular lainnya 51 52 53 54 55 56 57 58 Prevalensi kasus tuberculosis DOTSangka penemuan penderita tuberculosis BTA positif baru DOTSangka kesembuhan penderita tuberculosis Prevalensi kusta Insiden DBD (demam berdarah dengue) Persentase CFR (case fatality rate) diare Persentase positive lyssa (rabies) Insiden avian influenza 9 9 9 9 9 9 9 9

9 9 9

Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan

9 9 9 9 9 9 9 9

Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan Sektor Kesehatan

INDIKATOR MDGs Tujuan 7: Target 9: 59 60 61 62 63 64 65 66 Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup

Kabupaten

Kecamatan

Sumber data

Memadukan prinsip- prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional Proporsi luas lahan yang tertutup hutan Rasio luas kawasan lindung terhadap luas daratan Rasio luas kawasan yang sudah berhail di-reboisasi terhadap luas kawasan hutan yang perlu direhabilitasi/ direboisasi Proporsi titik pemantauan kualitas air sungai yang memenuhi baku mutu Proporsi titik pemantauan kualitas udara yang memenuhi baku mutu udara ambien Persentase pabrik yang memenuhi baku mutu air limbah Pemakaian pupuk kimia perhektar lahan pertanian Pemakaian pupuk kimia per hektar per jenis tanaman pertanian 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 Sektor Kehutanan Sektor Kehutanan Sektor Kehutanan Sektor LH Sektor LH Sektor LH Sektor LH Sektor LH

Target 10: Penurunan sebesar separuh, proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada 2015 67 68 Persentase rumah tangga dengan akses terhadap sumber air minum terlindung Persentase rumah tangga yang menggunakan biomassa untuk memasak Persentase rumah tangga dengan akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak Persentase rumah tangga yang membuang sampah di lubang yang tertutup Persentase rumah tangga/keluarga berumah tidak layak huni Mencapai perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduduk miskin di pemukiman kumuh pada tahun 2020 9 9 9 9 9 9 Survei Survei/Sektor Kesos Sektor Pertanahan 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 Survei Survei Survei Survei

69 70 71

Survei/Sektor Kesos

Target 11:

72 73 74

Persentase rumah tangga dengan status tempat tingggal milik sendiri, sewa, atau kontrak Persentase rumah tangga/keluarga yang tinggal di kawasan rawan bencana Proporsi rumah tangga dengan sertifikat kepemilikan dari BPN

Formulir A

DEPARTEMEN SOSIAL REBUPLIK INDONESIA

INSTRUMEN PENDATAAN
PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL (PMKS)
I. PENGENALAN TEMPAT
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Propinsi Kabupaten/Kota*) Kecamatan Desa/Kelurahan*) Status Daerah Geografis Desa/Kelurahan*) RW/RT/Dusun/dll. Nonor Urut Keluarga Nama Kepala Keluarga Nama Responden Jumlah Anggota Keluarga Alamat/Nomor Telepon ................................................................ /..................................... ....................................................................................................... ....................................................................................................... 1 Perkotaan 1 Pantai 2 Perdesaan 2 Bukan pantai

II. KETERANGAN PETUGAS


Nama Pendata Tanggal Pendataan Tanda Tangan Pendata .................................... .................................... .................................... Nama Pengawas Tanggal Pengawasan Tanda Tangan Pengawas ............................................... ............................................... ...............................................

III. KETERANGAN ANGGOTA RUMAH TANGGA


Balita (Umur 0-4 tahun) Hubungan dengan kepala rumah tangga (Kode) Pendidikan tertinggi yang ditamatkan (Kode) Status pekerjaan utama seminggu yang lalu (Kode) Keteram-pil an utama yang di-miliki (Kode) Jika berumur 0-2 th mendapatkan ASI/ usu pengganti 24 jam ter-akhir Ya 1 Tidak 2 Memperoleh makanan 4 sehat seminggu yang lalu Ya 1 Tidak 2

No. Urut anggota rumah tangga

Nama anggota rrumah tangga (Termasuk Kepala Rumah Tangga

Jenis kelamin: 1 Lakilaki 2 Perempuan

Umur (Tahun)

Status perkawinan (Kode)

Mendapat imunisa-i sesuai usianya Ya 1 Tidak 2

Jika sakit dirawat /diobati secara medis Ya 1 Tidak 2

(1) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

Kode Kolom 3 1. Kepala rumah tangga 2. Isteri/suami 3. Anak 4. Menantu 5. Cucu 6. Orang tua/mertua 7. Family lainnya 8, Pembantu r. tangga 9. Lainnya

Kode Kolom 6 1. Blm/tdk tamat SD/sederajat 2. SD/MI/sederajat 3. SLTP/MTs/sederajat 4. SMA/SMK/MA/sederajat 5. Diploma I/II 6. Diploma III/Sarjana Muda 7. Diploma IV/S 8. S2/S3

Kode Kolom 7 1. Belum kawin 2. Kawin 3. Cerai hidup 4. Cerai mati

Kode Kolom 8 1. Belum kawin 2. Usaha dg buruh tetap/tdk tetap 3. Buruh/karyawan/pegawai tetap 4. Buruh pertanian tidak tetap 5. Buruh tidak tetap non pertanian 6. Tidak bekerja

Kode Kolom 9 1. Menjahit 2. Kerajinan tangan 3. Sablon 4. Service alat elektronik 5. Kesenian 6. Olahraga 7. Montir/perbengkelan 8. Bidang pertanian/perikanan 9. Pertukangan 10. Salon 11. Pijat 12. Lainnya

III. KETERANGAN ANGGOTA RUMAH TANGGA


Anak (umur 5-18 tahun) Anggota rumah tangga yang cacat Cacat eks penyakit kronis Wanita Menjadi orang tua tunggal dengan anak yang masih dalam tanggungannya Ya 1 Tidak 2 Lanjut usia

No. Urut anggota rumah tangga

Mendapat imuni-sasi sesuai dengan usia-nya Ya 1 Tidak 2

Memper-oleh makanan 4 sehat seminggu yg lalu Ya 1 Tidak 2

Mendapat pendidikan for-mal dasarr 9 th sesuai usianya Ya 1 Tidak 2

Jika sakit siobati/di rawat secara medis Ya 1 Tidak 2

Catat Cacat fisik mental (cacat (perilaku tidak tulang, lumpuh, sesuai putus/amp usia, eksutasi psiko-tik) Ya 1 Ya 1 Tidak 2 Tidak 2

Cacat mata (buta, low vision) Ya 1 Tidak 2

Tuna rungu wicara Ya 1 Tidak 2

Pernah berpenyakit TBC, Kusta atau pernah stoke Ya 1 Tidak 2

Jika Kolom (22) berkode1, apakah berakibat pada kelainan fisik Ya 1 Tidak 2

Memperoleh makanan 4 sehat seminggu yang lalu Ya 1 Tidak 2

Jika sakit dirawat atau diobati secara medis Ya 1 Tidak 2

Tidak ada keluarga yang mau dan mampu mengurus Ya 1 Tidak 2

(1) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

(14)

(15)

(16)

(17)

(18)

(19)

(20)

(21)

(22)

(23)

(24)

(25)

(26)

(27)

IV. KONDISI KESEJAHTERAAN KELUARGA


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9 10. 11. 12. 13. Status penguasaan bangunan tempat tinggal yang ditempati 1 Milik sendiri 3 Bebas sewa 2 Kontrak/sewa 4 Dinas Luas lantai bangunan tempat tinggal terluas Jenis lantai bangunan tempat tinggal terluas 1 Kayu berkualitas tinggi/semen/keramik Jenis atap bangunan tempat tinggal terluas 1 Beton 3 Sirap 2 Genteng 4 Seng Jenis dinding bangunan tempat tinggal terluas 1 Kayu berkualitas tinggi/tembok/plester 2 Kayu berkualitas rendah/tembok tanpa plester Fasilitas tempat buang air besar (jamban / kakus) 1 Miliki sendiri Tempat pembuangan akhir tinja Sumber air minum 1 Air kemasan 2 Ledeng 3 Pompa Sumber penerangan utama 2 Kayu berkualitas rendah/bambu 5 Asbes 6 Ijuk, rumbia 3 Bambu/rumbia 4 lainnya 3 Umum 4 Tidak punya 2 Bukan tangki septik 7 Mata air tak terlindung 8 Air sungai 1 Listrik (PLN/Non-PLN 1 Ya 3 Kayu/arang 9 Air hujan 10 Lainnya 2 Bukan listrik 2 Tidak 4 Tidak punya 1 Ya 11 12 13 14 2 Tidak 5 Lainnya .............................m2 3 Tanah 7 Lainnya

2 Milik bersama 1 Tangki septik 4 Sumur terlindung 5 Sumur tak terlindung 6 Mata air terlindung PLN)

Apakah mempunyai tempat tersendiri untuk dapur Jenis bahan bakar untuk memasak sehari-hari 1 Gas/listrik 2 Minyak tanah Lapangan pekerjaan utama kepala rumah tangga 1 Pertanian padi dan palawija 5 Pertambangan dan 2 Perkebunan Penggalian 3 Peternakan 6 Industri pengolahan 4 Perikanan 7 Listrik, gas dan air Pengeluaran makanan per orang per bulan

Apakah rt pernah menerima kredit mikro/menengah (UMKM) setahun yang lalu 8 Konstruksi bangunan 9 Perdagangan 10 Transportasi dan komunikasi

Persewaan Jasa kemasyarakatan Lainnya Tidak bekerja

14

Rp ...............................,-

V. KETERANGAN

Formulir B

DEPARTEMEN SOSIAL REBUPLIK INDONESIA

INSTRUMEN PENDATAAN
PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL (PMKS)
I. PENGENALAN TEMPAT
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Propinsi Kabupaten/Kota*) Kecamatan Desa/Kelurahan*)

Nama Lengkap Lembaga Alamat Lengkap Lembaga Nama Responden Jabatan Responden Cap Lembaga dan Tanda Tangan II. KETERANGAN PETUGAS

Tanggal Pendataan Nama Pendata Tanda Tangan Pendata

............................................... ............................................... ...............................................

Tanggal Pengawasan Nama Pengawas Tanda Tangan Pengawas

............................................... ............................................... ...............................................

III. KETERANGAN ANGGOTA RUMAH TANGGA


No. Urut anggota rumah tangga

Nama

Alamat ( Jl./RT/RW )

Jenis Kelamin (L) - 1 (P) - 2


(4)

Umur (Tahun)
(5)

Pendidikan Tertinggi yang ditamatkan (Kode)


(6)

Pekerjaan Utama (Kode)


(7)

Jenis PMKS (Kode)


(8)

(1) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

(2)

(3)

Kode Kolom 6: Pendidikan tertinggi yang ditamatkan


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Belum / Tidak Tamat SD/ Sederajat SD / MI / Sederajat SLTP / MTs / Sederajat SLTA / MA / Sederajat / Kejuruan Diploma I / II Dploma III / Sarjana Muda DIV / S1 S2 / S3

Kode Kolom 7: Pekerjaan Utama


1. 2. 3. 4. 5. 6. Usaha Sendiri Usaha dengan buruh tetap / tidak tetap Buruh / Karyawan / Pegawai Tetap Buruh Tidak tetap Pertanian Buruh Tidak Tetap Non Pertanian Tidak Bekerja

Kolom 8:
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Jenis PMKS
Anak Nakal Anak Jalanan Tuna Susila Gelandangan Pengemis Bekas Warga Binaan Lembaga Kemasyarakatan Korban Tindak Kekerasan 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Korban Penyalahgunaan NAPZA Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) Korban Bencana Alam Korban Bencana Sosial Komunitas Adat Terpencil Pekerja Migran Bermasalah Sosial Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis

Formulir C

DEPARTEMEN SOSIAL REBUPLIK INDONESIA

INSTRUMEN PENDATAAN
POTENSI DAN SUMBER KESEJAHTERAAN SOSIAL (PSKS)
I. PENGENALAN TEMPAT
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Propinsi Kabupaten/Kota*) Kecamatan Desa/Kelurahan*) Status Daerah Geografis Desa/Kelurahan Nama Responden ....................................................................................................

II. KETERANGAN PETUGAS PETUGAS PENDATA


Tanggal Pendataan ............................................... Tanggal Pengawasan

PENGAWAS
...............................................

Nama Pendata ............................................... Tanda Tangan Pendata ...............................................

Nama Pengawas ............................................... Tanda Tangan Pengawas ...............................................

III. PEKERJA SOSIAL MASYARAKAT (PSM)


No. Urut anggota rumah tangga

Nama

Alamat (Jl. /RT/RW)

Jenis Kelamin (L) - 1 (P) - 2 (3)

Usia (Tahun) (4)

Pendidikan tertinggi yg ditamatkan (Kode) (5)

Pekerjaan Utama (Kode)

Kegiatan Usaha Kesejahteraan Sosial (Kode) Kesos Non Kesos (8)

(1) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

(2)

(6) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5

(7)

Kode Kolom 6:
Pendidikan Tertinggi yang ditamatkan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Belum / Tidak Tamat SD / Sederajat SD / MI / Sederajat SLTP / MTS / Sederajat SLTA / MA / Sederajat / Kejuruan Diploma I / II Dploma III / Sarjana Muda DIV / S1 S2/S3

Kode Kolom 7:
Pekerjaan Utama 1. 2. 3. 4. 5. PNS (bukan Guru) PNS Guru Wiraswasta Petani Pedagang 6. 7. 8. 9. 10. Nelayan Buruh Purnawirawan / Pensiunan Jasa Lainnya

Kode Kolom 8:
Kegiatan Usaha Kesejahteraan Sosial 1. 2. 3. 4. 5. Pendataan, Pendekatan, dan Perencanaan Seleksi Motivasi calon Klien Penyuluhan dan Bimbingan Sosial Bantuan Sosial dan Pendampingan Terminasi dan Tindak Lanjut

IV. ORGANISASI SOSIAL


No. Nama Alamat (Jl. /RT/RW) Tahun Berdiri Status (Kode) Tipologi (Kode) Jumlah Pengurus

(1)
1. 2. 3. 4. 5.

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(L) (7)

(P) (8)

Jumlah Anggota

Pekerjaan Utama (Kode)

(9)
1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3

(10)
4 4 4 4 4 5 5 5 5 5 6 6 6 6 6 7 7 7 7 7

Kode Kolom 5: Status: 1. Badan Hukum 2. Tidak Berbadan Hukum

Kode Kolom 6: Tipologi: 1. Tipe A 2. Tipe B 3. Tipe C

4. Tipe D 5. Tipe E

Kode Kolom 10: Kegiatan Usaha Kesejahteraan Sosial 1. Keagamaan 2. Penyantunan PMKS (anak, lansia, cacat, fm) 3. Pendidikan (Olah Raga & Kesenian) 4. UEP (Usaha Ekonomi Produktif)

5. 6. 7.

Kesehatan Kematian Lainnya

V. KARANG TARUNA
No. (1) 1. 2. 3. 4. Kode Kolom 5 : Klasifikasi: 1. Tumbuh 2. Berkembang 3. Maju Kode Kolom 9 : Kegiatan Usaha Kesejahteraan Sosial 1. Penyantunan PMKS : Anak terlantar, lanjut usia terlantar, cacat, klg fakir miskin 2. Pendidikan (Olah Raga & Kesenian) 3. UEP (Usaha Ekonomi Produktif) 1 1 1 1 4. 5. 6. 7. 2 2 2 2 3 3 3 3 Nama Alamat (Jl. /RT/RW) Status (Kode) Tipologi (Kode) Jml Pengurus (L) (P) Jumlah Anggota Kegiatan Usaha Kesejahteraan Sosial (Kode) (6) 4 4 4 4 5 5 5 5 6 6 6 6 7 7 7 7

4. Percontohan

Kesehatan Kematian Pendataan Lainnya

VI. WAHANA KESEJAHTERAAN SOSIAL BERBASIS MASYARAKAT


No.
(1) 1. 2. 3. Nama Alamat Sekretariat Tahun Berdiri jaringan (4) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Unsur yang bekerjasama Kegiatan yang dikerjasamakan (Kode) (6) 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

(2)

(3)

(5) 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

Kode Kolom 5 (bisa lebih dari satu): Unsur yang bekerjasama :


1. 2. 3. Karang Taruna Orsos PSM

4. 5. 6. 7.

Tokoh Masyarakat Kelompok Masyarakat Kelompok pengajian Kelompok lainnya

Kode Kolom 6 : Kegiatan yang dikerjasamakan :


1. 2. 3. Komunikasi informasi Edukasi (flu burung diatasi bersama-sama) Peningkatan Kemitraan (peningkatan sumberdaya untuk kegiatan UKS) Kegiatan lainnya

VII. DUNIA USAHA


No Nama Alamat Tahun Berdiri Jenis UKS Pengorganisasian Kegiatan UKS (Kode) Sasaran Dalam Perusa haanMasyar akat jumlah Jaringan Kerja (Kode)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

Kode Kolom 5 : Jenis UKS :


1. 2. 3. Penyantunan Anak Penyantunan Lanjut Usia Penyantunan Fakirmiskin 4. 5. 6. Penyantunan cacat UEP Lainnya

Kode Kolom 6 : Pengorganisasian:


1. 2. Yayasan Bekerjasama dengan masyarakat

Kode Kolom 10:


1. 2. 3. 4. Lembaga Pemerintah Lembaga non Pemerintah Perguruan Tinggi Institusi riset 5. 6. 7. 8. 9. Industri besar Industri Menengah Industri Kecil Koperasi Wirausaha

VIII. KEPERINTISAN DAN KEPAHLAWANAN


No Nama Perintis Kemerdekaan Janda Duda Keluarga Pahlawan Nasional Suami Isteri Anak Alamat

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

REGISTER KEGIATAN POSYANDU Bulan : Tahun : KIA Balita Anak Balita Ibu hamil Jml K1 K4 Diukur cm BCG I 24 25 26 27 II III I 1-4 tahun LILA <23,5 II III IV I II III WUS DPT Polio Btl 1 14 15 16 17 18 2 Feb Agust Yodium kolos trum 19 ASI Eksklusif DDTK I IV 20 21 22 Jml DDTK 23 Btl Kapsul Jml dpt Jml dapat Sirup Fe Balita Vit A Bayi 0-11 bulan GIZI WUS Imunisasi Hepatitis

Puskesmas : Kecamatan :

Jml

Bayi

No

Nama

Kader

Posyandu 8 9 10 11 12 13

Aktif S K D N KEP S K D N KEP

4 5 6 7

28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

Lampiran 4.1

73

REGISTER KEGIATAN POSYANDU Bulan : Tahun :

Puskesmas : Kecamatan :

DIARE Jml Kader Aktif Jml Diobati Campak ISPA DESA

No

Nama

Posyandu

39

40

41

42

43

Lampiran 4.1 (Lanjutan)

74

LB1 Halaman 1 Yang lapor : Bulan : Tahun :

Kode Puskesmas : Puskesmas : Kecamatan : Puskesmas Pembantu yang ada : Kabupaten/Kota : Propinsi : LAPORAN BULANAN DATA KESAKITAN JUMLAH PENDERITA 0-7 hr 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 8-28 hr 1-<1 th 1-4 th 5-9 th 10-14 th 15-19 th 20-44 th 45-54 th 55-59 th 60-69 th 13 >'70 th 14 TOTAL 15

N0

JENIS PENYAKIT

01

PENYAKIT INFEKSI PADA USUS

0101 Kolera

0102 Diare (termasuk tersangka kolera)

0103 Disentri

0104 Infeksi penyakit usus yg lain

02

PENYAKIT TUBERKULOSA

0201 TB Paru

0202 TB Selain Paru

03

PENYAKIT BAKTERI

0301 Kusta I/T (MB)

0302 Kusta B/L (PB)

dst

dst

.. dst.

Mengetahui Pimpinan Puskesmas

Pelapor

Lampiran 4.2

( NIP

( NIP

75

Lampiran 4.3
Kode Puskesmas: Puskesmas: Kecamatan: Puskesmas Pembantu yang ada: Kabupaten/Kota: Propinsi: LB3 Halaman 1 dan 2 Yang lapor: Bulan: Tahun:

LAPORAN BULANAN KIA, GIZI IMUNISASI, PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR

N0 1 I GIZI

KEGIATAN JUMLAH 2 1 Jumlah anak balita dapat vit A dosis tinggi (200.000 IU) 2 Jumlah ibu nifas dapat vit A dosis tinggi 3 Jumlah ibu hamil dapat tabel tambah darah (Fe) 30 tablet (Fe1) 4 Jumlah ibu hamil dapat tabel tambah darah (Fe) 90 tablet (Fe3) 5 Jumlah balita dapat sirup tambah darah (Fe) botol I 150 cc (FeBal I) 6 Jumlah balita dapat sirup tambah darah (Fe) botol II 300 cc (FeBal 2) 7 Jumlah bayi <1th ditimbang 8 Jumlah anak balita 1-4 th ditimbang 9 Jumlah bayi dan anak balita dengan Berat Badan di Bawah Garis Merah 15

10 Jumlah bunil mendapat kapsul yodium 11 Jumlah penduduk lainnya mendapat kapsul yodium 12 Jumlah WUS (Wanita Usia Subur) baru yang diukur LILA (Lingkar Lengan Atas) 13 Jumlah WUS baru yang diukur < 23,5 cm II KIA 1 Jumlah kunjungan K1 ibu hamil 2 Jumlah kunjungan K4 ibu hamil 3 . Dst III 1 2 3 4 IV A IMUNISASI Jumlah bayi 9-11 bulan divaksinasi campak Jumlah bayi 2-11 bulan divaksinasi DPT1 Jumlah bayi 0-11 bulan divaksinasi Hepatitis B1 . Dst

PENGAMATAN PENYAKIT MENULAR ACUTE FLACCID PARALYSIS (AFP) 1 Jumlah kasus AFP baru (0-15 tahun) ditemukan 2 Jumlah kasus AFP 0-15 tahun dilacak B TETANUS NEONATORUM C MALARIA D DBD (Demam Berdarah Dengue) E RABIES

Mengetahui Pimpinan Puskesmas

Penagggung Jawab KIA-GIZI, IMUNISASI, P2M

( NIP

( NIP

76

DATA KEADAAN MORBIDITAS PASIEN RAWAT INAP RUMAH SAKIT

NAMA RS :

Formulir RL2a Halaman No. Kode RS


GOLONGAN SEBAB-SEBAB SAKIT 4 Kolera Demam tifoid dan paratifoid Sigellosis dst dst .. dst. PASIEN KELUAR (HIDUP DAN MATI) MENURUT GOLONGAN UMUR 0-28 hr 29 hr- 1 th 1-4 th 5-14 th 15-24 th 25-44 th 45-64 th 65+ th 5 6 7 8 9 10 11 12 PASIEN KEL (H+M) MEN SEX JML PASIEN KELUAR (H+M) Lk Pr 13 14 15 JML PASIEN KEL MATI 16

Nomor Nomor No Daftar Urut DTD Terperinci 1 2 3 A00 A01 A02

01

001

02

002

03

003

Lampiran 4.4

77

DATA KEADAAN MORBIDITAS PASIEN RAWAT JALAN RUMAH SAKIT

NAMA RS :

Formulir RL2b Halaman No. Kode RS


GOLONGAN SEBAB-SEBAB SAKIT 4 Kolera Demam tifoid dan paratifoid Sigellosis dst dst .. dst. PASIEN KELUAR (HIDUP DAN MATI) MENURUT GOLONGAN UMUR 0-28 hr 29 hr- 1 th 1-4 th 5-14 th 15-24 th 25-44 th 45-64 th 65+ th 5 6 7 8 9 10 11 12 PASIEN KEL (H+M) MEN SEX JML PASIEN JML PASIEN KELUAR (H+M) KEL MATI Lk Pr 13 14 15 16

Nomor Nomor No Daftar Urut DTD Terperinci 1 2 3 A00 A01 A02

01

001

02

002

03

003

Lampiran 4.5

78

DATA KEADAAN MORBIDITAS PASIEN RAWAT INAP SURVEILANS TERPADU RUMAH SAKIT

NAMA RS :

Formulir RL2a1 Halaman No. Kode RS


GOLONGAN SEBAB-SEBAB SAKIT N0 URUT 17

Nomor Nomor No Daftar Urut DTD Terperinci 1 2 3 4


Kolera Demam tifoid dan paratifoid Sigellosis

KASUS BARU MENURUT GOLONGAN UMUR 0-28 hr 29 hr- 1 th 1-4 th 5-14 th 15-24 th 25-44 th 45-64 th 5 6 7 8 9 10 11 65+ th 12

KASUS BARU MEN SEX JML KASUS JML BARU KUNJUNGAN Lk Pr 13 14 15 16

01

001

A00

02

002

A01

03 dst dst .. dst.

003

A02

Lampiran 4.6

79

DATA KEADAAN MORBIDITAS PASIEN RAWAT JALAN SURVEILANS TERPADU RUMAH SAKIT

NAMA RS :

Formulir RL2b1 Halaman No. Kode RS


GOLONGAN SEBAB-SEBAB SAKIT

Nomor Nomor No Daftar Urut DTD Terperinci 1 2 3 4


Kolera Demam tifoid dan paratifoid Sigellosis

KASUS BARU MENURUT GOLONGAN UMUR 0-28 hr 29 hr- 1 th 1-4 th 5-14 th 15-24 th 25-44 th 45-64 th 5 6 7 8 9 10 11 65+ th 12

KASUS BARU MEN SEX JML KASUS JML N0 BARU KUNJUNGAN URUT Lk Pr 13 14 15 16 17

01

001

A00

02

002

A01

03 dst dst .. dst.

003

A02

Lampiran 4.7

80

Nama RS : Umur/Sex L 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 P TBC Dipteri Pertusis Tetanus Neonatorum Paru Campak Polio 0 3 TK 1 2 17 Tetanus Hidup PENYEBAB SAKIT STATUS IMUNISASI**)

Formulir RL2c No. Kode RS :


KEADAAN PASIEN

No.

Nomor Rekam Medis Pasien

Mati 18

Lampiran 4.8

81

REK.KEC.R/I/KS/07

REKAPITULASI HASIL PENDATAAN KELUARGA TINGKAT KECAMATAN


PENGENALAN
1. DESA/KELURAHAN YAN : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . TAHUN 2. KECAMATAN :........................ NO. KODE KECAMATAN : .. 3. KABUPATEN/KOTA NO. KODE KABUPATEN/KOTA NO. KODE PROVINSI 4. PROVINSI :........................ :........................

TEMPAT

CAKUPAN WILAYAH KELUARGA

CAKUPAN RUMAH TANGGA DAN KELUARGA

JUMLAH DUSUN/RW

JUMLAH RUKUN TETANGGA JUMLAH RUMAH TANGGA JUMLAH KEPALA KELUARGA JUMLAH KEPALA KELUARGA MENURUT STATUS PENDIDIKAN

NO URUT

DESA/KELURAHAN

JUMLAH KEPALA KELUARGA MENURUT JENIS KELAMIN JUMLAH KEPALA KELUARGA MENURUT STATUS PERKAWINAN

JUMLAH KEPALA KELUARGA MENURUT STATUS PEKERJAAN

JUMLAH KELUARGA MENDAPATKA JUMLAH JIWA DALAM N KREDIT KELUARGA MIKRO/ BANTUAN MODAL

JUMLAH WANITA USIA SUBUR (15-49 TAHUN) TAMAT AK/PT YA TI-DAK LAKI LAKI PEREM PUAN JUMLAH

YANG ADA YANG ADA YANG DI DATA KA-WIN BEKERJA TAMAT SD - SLTP YANG DI DATA LAKI LAKI PE-REM PUAN

YANG DI DATA

YANG ADA

YANG DI DATA

YANG ADA

TIDAK BEKERJA TIDAK TAMAT SD

DUDA/ JANDA/ BELUM KAWIN (16) (17) (18)

TAMAT SLTA

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(19)

(20)

(21)

(22)

(23)

(24)

(25)

(26)

JUMLAH
KELUARGA PRA SEJAHTERA DAN ANGGOTA KELUARGA

JUMLAH
KELUARGA SEJAHTERA I DAN ANGGOTA KELUARGA

JUMLAH

Lampiran 5.1

73

KELUARGA HASIL PENTAHAPAN KELUARGA SEJAHTERA PASANGAN USIA SUBUR JUMLAH PESERTA KB BUKAN PESERTA KB 7 - 15 TAHUN PUS MENURUT KELOMPOK UMUR

JUMLAH JIWA MENURUT KELOMPOK UMUR

BAYI (0-<1 TH) MENGIKUTI KEGIATAN POSYANDU SEKOLAH SWAS-TA HAMIL TIDAK SEKOLAH 60 TA16-21 22-59 HUN KE TA-HUN TA-HUN ATAS PASA PEME NGAN RINTAH USIA SU30-49 <20 TA- 20-29 BUR TA-HUN TA-HUN HUN INGIN ANAK SEGERA INGIN ANAK DI TUNDA TIDAK INGIN ANAK LAGI

BALITA (1-<5 TH) MENGIKUTI KEGIATAN POSYANDU

5-6 TAHUN

IKUT LAKI LAKI (32) (33) (34) (35) (36) (37) (38) (39) (40) (41) (42) (43) (44) (45) (46) (47) PEREM PUAN LAKI LAKI PEREM PUAN

TIDAK IKUT

IKUT

TIDAK IKUT

PESERTA KB YANG IMPLANT NYA PERLU DICABUT TAHUN DEPAN (48) (49)

KE-LUARKE-LUARKE-LUAR- KE-LUARKEGA GA GA PRA GA LUARGA SEJAHSEJAHSEJAH- SEJAHSEJAHTERA TERA III TERA TERA I TERA III II Plus

JUMLAH

(27)

(28)

(29)

(30)

(31)

(50)

(51)

(52)

(53)

(54)

(55)

KELUARGA PRA SEJAHTERA DAN ANGGOTA KELUARGA

KELUARGA SEJAHTERA I DAN ANGGOTA KELUARGA

....... .........................................

PPLKB/PENGELOLA KB KECAMATAN

Lampiran 5.1 (Lanjutan)


....................................................

74

R/I/KB/04

REGISTER HASIL PELAYANAN KB DI KLINIK KB


BULAN
: . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ., .. . . . . . .

NOMOR SERI KARTU PELAYANAN KB BARU NAMA JUMLAH ANAK MENURUT METODE KONTRASEPSI METODE JENIS
(11) (12) (13) (14) (10) (8) (9) (7) (4) (6) (5)

HASIL PELAYANAN PESERTA KB ALAMAT UMUR PELAYANAN ULANG KEGAGALAN KOMPLIKASI BERAT PENCABUTAN IMPLANT ASKESKIN KETERANGAN

TANGGAL

LAMA

BARU

(1)

(2)

(3)

(15)

IUD

(I)

JENIS KOMPLIKASI 1. Ekspulsi Kapsul (IP5/IP3) 2. Migrasi Kapsul (IP5/IP3)

MOW

(OW)

MOP

(OP)

Kondom (K)

JUMLAH HASIL PELAYANA N PESERTA KB

Implant (IPN)

Suntikan (S)

3. Pembengkakan (IP5/IP3, S) Infeksi/Abses (IP5/IP3, S, 4. MO) 5. Hematoma (IP5/IP3, S, MO) 6. Translokasi (IUD)

Lampiran 5.2

75

Pil

(P)

R/I/KS/07

REGISTER PENDATAAN KELUARGA


TAHUN :
KECAMATAN
:

JUMLAH KELUARGA YANG A: PETUGAS PENDA : TANGGAL : TANDA TANGAN :


KELUARGA JUMLAH ANGGOTA KELUARGA MENURUT KELOMPOK UMUR ISTERI KELOMPOK UMUR PASANGAN USIA SUBUR PESERTA KB

RT DUSUN/RW

DESA/KELURAHAN

A. DATA DEMOGRAFI DAN KB

NO URUT RU MAH TANG GA NAMA < 20 TAHUN TIDAK TAMAT SD TAMAT SD SLTP TATAMAT MAT SLTA AK/PT YA 20-29 30-49 TATAHUN HUN

NO URUT KE PALA KELUARGA

NAMA KEPALA KELUARGA

KEPALA KEPALA KELUARG KEPALA KELUARGA A KELUARGA MENURUT MENURUT MENURUT JENIS STATUS STATUS PERKAWINAN KELAMIN PEKERJAAN KEPALA KELUARGA MENURUT TINGKAT PENDIDIKAN JUM LAH BALITA 1 - < 5 7 - 15 TAHUN BAYI < 1 TAHUN WA TAHUN NITA 60 TANO 16-21 22-59 USIA 5-6 TA HUN URUT TATATIDAK TIDAK HUN SUBUR KE TIDAK MENGI MENGI PUS HUN HUN SEKOLAH MENGI MENGI (15-49 ATAS SEKOLAH KUTI KUTI TI- LAKI- PEREM KUTI KUTI TAHUN) POS POS DAK LAKI PUAN POS POS LAKI- PEREM LAKI- PEREM YANDU YANDU YANDU YANDU LAKI PUAN LAKI PUAN

KELUARGA MENDAPAT JUMLAH KAN KREDIT JIWA DALAM KELUARGA MIKRO/ BANTUAN MODAL

BUKAN PESERTA KB

LAKILAKI

TIDUDA/ PEBE DAK KA- JANDA/ REM KER- BE WIN BELUM PUAN JA KERKAWIN JA

PEMESWASRINTA TAH

PESERTA KB YANG IMPLANT NYA PERLU DICABUT TAHUN DEPAN

HAMIL

INGIN INGIN TIDAK ANAK ANAK INGIN DI SE ANAK TUNGERA LAGI DA

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14) (15) (16)

(17)

(18)

(19)

(20)

(21)

(22)

(23)

(24)

(25)

(26)

(27)

(28)

(29)

(30)

(31)

(32)

(33)

(34)

(35)

(36)

(37)

(38)

(39)

(40)

(41)

(42)

JUMLAH

KELUARGA PRA SEJAHTERA DAN ANGGOTA KELUARGA

JUMLAH KELUARGA SEJAHTERA I DAN ANGGOTA KELUARGA

Lampiran 5.3

76

JUMLAH

B. TAHAPAN KELUARGA SEJAHTERA KELUARGA SEJAHTERA TAHAP III PLUS KELUARGA SEJAHTERA TAHAP III KELUARGA SEJAHTERA TAHAP II
SELURUH TIGA BULAN ANGGOTA TERAKHIR PALING KELUARGA KELUARGA LUAS KURANG MEM DALAM LANTAI SEKALI PEROLEH RUMAH KEADAAN SEMINGGU PALING PALING SEHAT SELURUH KURANG KURANG SEHINGGA ANGGOTA SATU 8 M2 DAPAT KELUARGA STEL UNTUK MELAK MAKAN PAKAIAN SETIAP SANAKAN DAGING/ BARU PENGHUN TUGAS/ IKAN/ DALAM I RUMAH FUNGSI TELUR SE MASINGTAHUN MASING
ADA SEORANG SELURUH ATAU ANGGOTA LEBIH KELUARGA ANGGOTA UMUR KELUARGA 10 - 60 YANG TAHUN BEKERJA BISA UNTUK BACA MEMPER TULISAN OLEH LATIN PENG HASILAN (56) (57) (58) (59) (60) (61) (62) (63) (64) (65) (66) (67) (68) (52) (53) (54) (55)

HASIL TAHAPAN KELUARGA SEJAHTERA

NO URUT RU MAH TANG GA

NO URUT ANGGOTA RUMAH BILA PASA KE KELUARGA YANG DI NGAN BILA ADA PALA PADA MEMILIKI TEMPATI USIA ANGGOTA KELU UMUMNYA PAKAIAN KELUARGA SUBUR KELUARGA ARGA ANGGOTA

PADA UMUMNYA ANGGOTA KELUARGA SEMUA MELAK ANAK SANAKAN YANG UMUR MEM IBADAH INGIN SAKIT KELUARGA BERBEDA PUNYAI 7 - 15 TH SESUAI BER KB DIBAWA MAKAN UNTUK DI DALAM ATAP, DENGAN PERGI KE KE DUA KALI RUMAH, LANTAI KELUARGA AGAMA DAN SARANA SARANA SEHARI BEKERJA/ DAN BERSE KEPER PELAYANAN KESE ATAU SEKOLAH DINDING KOLAH CAYAAN KONTRA HATAN LEBIH DAN BE YANG MASINGSEPSI PERGIAN BAIK MASING (50) (51)

KELUARGA SEJAHTERA I

ADA KELUARGA PASA ANGGOTA KEBIASAAN SECARA KELUARGA NGAN KELUARGA SEBAGIAN KELUARGA SERING KELUARGA TERATUR USIA YANG MAKAN PENG MEMPER DENGAN IKUT SUBUR AKTIF KELUARGA HASILAN BERSAMA SUKA RELA OLEH DALAM DENGAN BERUPAYA KELUARGA SEBAGAI PALING MEM INFOR KEGIA ANAK 2 PENGURUS KURANG DI MENING BERIKAN MASI TAN ATAU PER KATKAN TABUNG SEMINGGU SUM DARI MASYA LEBIH KUMPULAN KELUARGA KELUARGA KELUARGA KELUARGA KELUARGA SEKALI DALAM PENGE BANGAN SURAT RAKAT PRA SEJAHTER SEJAHTERA SEJAHTERA SEJAHTERA MENG SOSIAL/ DIMAN TAHUAN BENTUK MATERIIL KABAR/ DI LING SEJAHTERA A I II III III PLUS GUNA YAYASAN/ FAATKAN UANG AGAMA UNTUK KUNGAN MAJALAH/ KAN INSTITUSI UNTUK MAUPUN TEMPAT RADIO/TV KEGIATAN ALAT/ MASYA BARANG BERKOMU SOSIAL TINGGAL OBAT RAKAT NIKASI KONTRA SEPSI (69) (70)

(43)

(44)

(45)

(46)

(47)

(48)

(49)

KELUARGA MENURUT INDIKATOR PRA SEJAHTERA KELUARGA MENURUT INDIKATOR SEJAHTERA I

Lampiran 5.3 (Lanjutan)

CATATAN :

Kode Jawaban :

V = Ya X = Keluarga tidak dapat memenuhi Indikator tersebut - = Indikator tersebut tidak berlaku untuk keluarga yang bersangkutan

77

C. DATA ANGGOTA KELUARGA INDIVIDU ANGGOTA KELUARGA

No. Urut N A M A HUBUNGAN DENGAN KK PEKERJAAN (75) (76) (77) (78) (79) [80) JENIS KELAMIN PENDIDIKAN TERAKHIR STATUS PERKAWINAN

Nomor Kode Keluarga Indonesia TANGGAL BULAN DAN TAHUN KELAHIRAN (74)

Nomor Kode Anggota Keluarga

PERUBAHAN [MUTASI] [81)

(71)

(72)

(73)

Catatan :

Hubungan KK
2 = Istri

Jenis Kelamin
1 = Kepala Keluarga 1 = laki-laki 2 = Perempuan

Pekerjaan
2 = Pegawai Swasta

Pendidikan
1 = Pegawai Pemerintah1 = Belum Sekolah , karena belum masuk usia SD

Status PerkawinaMutasi
1 = Belum Kawin 2 = Kawin 1 = Meninggal 2 = Pindah

Cara Pengisian kolom -kolom ditulis dengan angka-angka yang sesuai jawaban responden

3 = Anak 4 = Lainnya

Petani Nelayan Pensiunan Usaha Sendiri Tidak Bekerja Lain-lain

Lampiran 5.3 (Lanjutan)

3 4 5 6 7 8

= = = = = =

2 = Masih sekolah SD Tidak tamat SD Tamat SD Masih sekolah SLTP Tamat SLTP Masih sekolah SLTA Tamat SLTA 9 = 9 = masih sekolah AK/PT 10= Tamat AK/PT 0 = Tidak pernah sekolah

3 4 5 6 7 8

= = = = = =

3 = Duda/Janda 4 = Cerai

3 = Menikah

78

Lampiran 5.4
R/I/Sub PPKBD/04

REGISTER SUB PEMBANTU PEMBINA KELUARGA BERENCANA DESA


1. NAMA SUB PPKBD 2. RT PASANGAN USIA SUBUR
NO NAMA ISTRI (1) (2) NAMA SUAMI (3) UMUR ISTRI Jan (Tahun) (4) (5)

3. DUSUN / RW *): .................................................. : ........................................TAHUN : .............. 4. DESA/KELURAH

HASIL PEMBINAAN KESERTAAN BER KB


Feb Maret April (6) (7) (8) Mei (9) Juni Juli Agust Sept

*)
Nop Des

KETERANGAN

Okt

(10) (11) (12) (13) (14) (15) (16)

(17)

Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) Jumlah Peserta KB Aktif IUD MOW MOP Kondom Implant Suntikan Pil KODE ALKON I OW OP K IP S P

Jumlah Pasangan Usia Subur bukan Peserta KB a. Hamil b. Ingin Anak Segera c Ingin Anak Ditunda d Tidak Ingin Anak Lagi PARAF KETUA SUB PPKBD H IAS IAT TIAL

PARAF PPKBD *) Coret yang tidak perlu. KETERANGAN : 1) PUS Ingin Anak Segera 2) PUS Ingin Anak Ditunda

79

F/I/KEC-Dal/04

LAPORAN BULANAN PENGENDALIAN LAPANGAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA NASIONAL TINGKAT KECAMATAN
BULAN
:.................................. :.................................. NO. KODE KABUPATEN/KOTA : NO. KODE KECAMATAN :

: . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . TAHUN

:.....................

KECAMATAN

KABUPATEN/KOTA

I.
U R A I A N NO (1) 1 2 3 4 5 6 Jumlah Keluarga yang menjadi Anggota kelompok kegiatan UPPKS (2) (2) (3) YANG MELAPOR DILAPORKAN U R A I A N

KEADAAN UMUM

IV.

PEMBINAAN KESEJAHTERAAN KELUARGA


JUMLAH (3)

NO

(1)

Desa/Kelurahan

PPKBD

Jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan KS I yang menjadi anggota kelompok kegiatan UPPKS
Jumlah Keluarga yang menjadi Anggota kelompok kegiatan UPPKS menggunakan bantuan Modal

Sub PPKBD

Kelompok Kegiatan BKB

Jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan KS I yang menjadi anggota kelompok kegiatan UPPKS menggunakan bantuan Modal

Kelompok Kegiatan BKR

Kelompok Kegiatan BKL

Jumlah Keluarga yang menjadi Anggota kelompok kegiatan UPPKS berusaha Jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan KS I yang menjadi anggota kelompok kegiatan UPPKS berusaha

Kelompok Kegiatan UPPKS

II.
U R A I A N (2) (1) 1 2 a. b. MOW c. MOP IUD Peserta KB Aktif : Pasangan Usia Subur (PUS) (3) JUMLAH NO

KEGIATAN OPERASIONAL

V.

PEMBINAAN PUS DAN KESERTAAN BER KB


URAIAN (2) JUMLAH (3)

NO

(1)

Rakor Program KB Nasional tingkat Kecamatan

Rakor Program KB Nasional tingkat Desa/Kelurahan

TKBK dari Kecamatan ke Desa/Kelurahan

:(I) : ( OW ) : ( OP ) :(K)

III. PEMBINAAN KETAHANAN KELUARGA


BKB (3) (4) (5) BKR BKL

d. Kondom e. f. Implant Suntikan g. Pil 3

NO

U R A I A N

:(I) :(S) :(P) Pasangan Usia Subur bukan Peserta KB :(H) a. Hamil b. Ingin Anak Segera c. Ingin Anak Ditunda d. Tidak Ingin Anak Lagi : ( IAS ) : ( IAT ) : ( TIAL ) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ., . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . PPLKB/Pengelola Program KB Kecamatan,

(1)

(2) Jumlah Keluarga yang menjadi Anggota Kelompok Kegiatan

Jumlah Pertemuan/Penyuluhan

Jumlah Keluarga yang menjadi Anggota kelompok kegiatan Hadir dalam Pertemuan/Penyuluhan

KETERANGAN : 1) PUS Ingin Anak Segera 2) PUS Ingin Anak Ditunda

= Apabila PUS menginginkan anak dalam waktu kurang dari 2 tahun. = Apabila PUS menginginkan anak dalam waktu 2 tahun ke atas.

CATATAN :

Lampiran 5.5

Laporan ini harus sudah dikirimkan ke alamat yang dituju paling lambat tanggal 7 bulan berikutnya.

80

( .................................)

Lampiran 5.6
F/II/KB/04
1. 2. 3. 4. BKKBN Kab/Kota Dinkes Kab/Kota CAMAT Arsip

LAPORAN BULANAN KLINIK KB


NAMA KLINIK KB ALAMAT NAMA KECAMATAN STATUS KLINIK KB NO
(1)

: . : . : . : 1. Pemerintah 2. Swasta YANG ADA


(3)

NO. KODE KLINIK KB NO. KODE KECAMATAN BULAN

: : : ................................

TEMPAT PELAYANAN KB
(2)

YANG DILAPORKAN
(4)

1 2

Jumlah Dokter Praktek Swasta Jumlah Bidan Praktek Swasta

I.
NO
(1)

HASIL PELAYANAN PESERTA KB BARU


METODE KONTRASEPSI
(2)

KLINIK KB
(3)

DOKTER PRAKTEK SWASTA


(4)

BIDAN PRAKTEK SWASTA


(5)

JUMLAH
(6)

1 2 3 4 5 6 7

IUD MOW MOP Kondom Implant Suntikan PIL JUMLAH

II.
NO
(1)

PELAYANAN KOMPLIKASI, KEGAGALAN DAN PENCABUTAN IMPLANT


PENCABUTAN IMPLANT METODE KONTRASEPSI
(2)

KOMPLIKASI BERAT
(3)

KEGAGALAN
(4)

OLEH KLINIK KB (5)

OLEH DOKTER (6)

OLEH BIDAN (7)

JUMLAH
(8)

1 2 3 4 5

IUD MOW MOP Implant Suntikan JUMLAH

III.
NO
(1)

PERSEDIAAN ALAT KONTRASEPSI


PERSEDIAAN ALAT KONTRASEPSI
(2)

IUD ( unit )
(3)

KONDOM ( lusin )
(4)

IMPLANT ( set )
(5)

SUNTIKAN ( vial )
(6)

PIL ( strip )
(7)

1 2 3 4

Sisa Akhir Bulan Lalu Diterima Bulan Ini Dikeluarkan Bulan Ini Sisa Akhir Bulan Ini

IV.
NO
(1)

PELAYANAN ASKESKIN
METODE KONTRASEPSI
(2)

PB
(3)

KOMPLIKASI BERAT
(4)

KEGAGALAN
(5)

PENCABUTAN IMPLANT
(6) ., ,.

1 2 3 4 5 6 7

IUD MOW MOP KONDOM Implant Suntikan PIL

PIMPINAN KLINIK KB,

( . . . . . . . . . . . . . . . .. )

CATATAN : Laporan bulanan Klinik KB ini sudah harus dikirim ke BKKBN Kabupaten/Kota selambat-lambatnya tanggal 7 bulan berikutnya.

81

Lampiran 7.1

SURVEI INDUSTRI
1. Nama Industri/Perusahaan : 2. Alamat : . . 3. Jenis Industri : 4. Nama dan Jumlah Produk :
No. 1. 2. 3. dst Nama Produk Jumlah Produk per Tahun Satuan/Unit % Ekspor

5. Pemakaian Bahan Baku :


No. 1. 2. 3. dst Nama Bahan Baku Wujud Bahan Baku Jumlah Bahan Baku per Tahun Satuan/ Unit % Impor

6. Penggunaan Energi a. Listrik (PLN) : (Ya/Tidak) b. Pembangkit Sendiri (Generator) : Ya/Tidak 7. Penggunaan BBM jika menggunakan generator listrik sendiri :
No. 1. 2. 3. 4. 5. Jenis BBM Bensin Solar Minyak Tanah Minyak Diesel Lain-lain Jumlah Pemakaian Satuan/Unit

8. Penggunaan energi lain selain listrik dalam proses produksi :


Ada/Tidak Ada Jika ada : No. Jenis Bahan Bakar 1. Batubara 2. Kayu/Biomassa 3. Arang 4. Lain-lain Jumlah Pemakaian Satuan/Unit

206

Lampiran 7.2

SURVEI RUMAH TANGGA


1. Nama Responden : ... 2. Alamat : 3. Penggunaan energi untuk memasak
No, 1. 2. 3. 4. 5. 6. LPG Gas (PGN) Briket batubara Kayu bakar Lainnya Kg per bulan Kg per bulan ------ per bulan Jenis Energi Minyak Tanah Jumlah Pemakaian Unit/Satuan Liter per bulan Kg per bulan

4. Penggunaan Cold Storage (Kulkas) : Ada/Tidak Ada


Jika ada : No. 1. 2. Merk Type Tahun Pembelian Kondisi Baru/Bekas Baru/Bekas

5. Penggunaan pendingin ruangan (AC) : Ada/Tidak Ada)


Jika ada : No. 1. 2. 3. Merk Type Tahun Pembelian Kondisi Baru/Bekas Baru/Bekas Baru/Bekas

207