Anda di halaman 1dari 17

PENGARUH EFIKASI DIRI DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI GURU SMA NEGERI DI KECAMATAN CIKARANG PUSAT

KABUPATEN BEKASI A. Latar Belakang Masalah Tuntutan akan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu memenuhi persyaratan global semakin kental tetapi juga sekaligus bertambah berat. Hal itu terjadi karena persaingan antarbangsa yang semakin ketat dan perkembangan mutu pendidikan di negara lain semakin ketat dan perkembangan mutu pendidikan di Indonesia

cenderung stagnan. Oleh karena itu akselerasi (Penyegaran) atas penyelenggaraan pendidikan di Indonesia yang lebih baik merupakan urgensi yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sehubungan dengan hal tersebut, maka guru perlu memperoleh perhatian serius. Hal ini terkait dengan peran sentral guru dalam proses pembelajaran dan pendidikan. Penyelenggaraan dan keberhasilan proses pendidikan pada semua jenjang dan satuan pendidikan ditentukan oleh faktor guru, di samping perlunya unsur-unsur penunjang lainnya. Kualitas guru yang rendah akan berdampak pada rendahnya mutu pendidikan. 1 Sebagai pengajar dan pendidik guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan setiap pendidikan.2 Bahkan, krisis pendidikan di Indonesia yang telah berlangsung sejak lama antara lain ditandai oleh mutu guru yang rendah.3
1

Oemar Hamalik, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, Jakarta, PT. Bumi Aksara, 2002, p. v. 2 Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesiona, Bandung : Remaja Rosda Karya, 2002, p. 12. 3 H. A. R. Tilaar, Manajemen Pendidikan Nasional, Bandung : Remaja Rosda Karya, 1990, p. 150.

embaga pendidikan baik dari tingkat dasar sampai dengan perguruan tinggi, pada dasarnya adalah merubah pola sifat,sikap serta perilaku manusia ke-arah peningkatan kualitas sumber manusianya, baik sifat, sikap dan perilaku yang berkenaan dengan ilmu pengetahuannya maupun berkaitan yang berhubungan dengan perilaku komunikasinya, yang

dengan membentuk dan membina hubungan baik antar

sesama manusia. Apa bila ditelusuri keberadaan guru di sekolah-sekolah menengah atas negeri (SMAN) yang ada di lingkungan kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi, berdasarkan asal-muasal gurunya maka sangat

heterogen, baik asal daerahnya, culturnya,ekonomi, religinya, bahasanya serta latar belakang pendidikannya. Perbauran guru dengan latar belakang yang berbeda, maka akan banyak ditemukan pola sifat, sikap serta perilaku dalam perbauran hubungan tersebut beraneka ragam pula. Secara sosiologis pergaulan dan penggabungan (akulturasi budaya) dari setiap individu tersebut, akan menghasilkan pola baru dalam komunikasi bahkan perilaku budaya sudah tentu akan menghasilkan perilaku yang berbeda pula. Dalam hal kemajuan berperilaku akan ada keuntungan dan kerugiannya, kemajemukan budaya akan memberikan peluang baru dalam semua tatanan hidup. Ukuran pergaulan secara matematis memang sangat sulit dijelaskan, tetapi dapat kita telusuri dan akan banyak ditemukan pola-pola pergaulan dan bahasa komunikasi yang sangat kompleks. Dalam pemahaman ini keadaan guru jika kita klasifikasi berdasarkan asal daerahnya ; ada dari Jawa, Sumatra, Kalimantan,

Sulawesi, Bali dengan kata lain guru SMAN di kecamatan Cikarang Pusat kabupaten Bekasi hampir ada dari sebagian wilayah Indonesia. Ditinjau dari strata sosial (social rank), guru SMAN di kecamatan Cikarang Pusat kabupaten Bekasi, dapat di kelompokan menjadi ;1. High class 2.Midle class 3. Low Class. Dalam disiplin ilmu sosiologi, secara teori akan sedikit-banyak mempengaruhi dan menghambat kemajuan

komunikasi antar merekaguru--, dimungkinkan kelas sosial tertentu akan sulit beradaftasi dengan kelas sosial yang lainnya jika tidak ada kemauan yang keras dari setiap individu untuk bersosialisasi dan membaur dalam kebersamaan. Lemahnya kemampuan adaftasi di antara guru SMAN di kecamatan Cikarang Pusat kabupaten Bekasi akan menjadi titik lemah pluralisme budaya yang seharusnya menjadi keuntungan dari kebhinekaan guru SMAN di kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi. Hal ini karena kurangnya pandangan setiap individu guruyang di batasi oleh frame (lingkaran) terhadap sesuatu yang berbeda dengan mengesampingkan etika pergaulan. Dari perbauran pergaulan terjadilah hukum sebab akibat yang ditimbulkan dari berbagai sikap dan perilaku yang merekagurulakukan dalam aktivitas bergaulnya. Ada beberapa kenyataan yang ditemukan dari aktivitas perilaku bergaul guru terhadap guru yang lain yaitu; Ada di antara guru yang kemudian cenderung merasa rendah diri ketika akan dan harus dalam melakukan pergaulannya dengan berbagai pengaruhnya

Ada di antara guru yang cenderung malas dan takut untuk mengadakan pergaulan

Ada yang merasa paling pintar di antara sesama guru Ada yang bertindak masa pergaulannya bodoh dengan keadaan lingkungan

Ada yang merasa saya yang paling kuat dan sayalah bosnya, terlihat dari sikap kebiasaannya yang cenderung memaksakan kehendaknya

Ada

yang

terlihat

sangat

ego

berdasarkan

latar

belakang

keluarganya. Apabila kita cermati beberapa kenyataan perilaku di atas yang terjadi terhadap kecamatan guru di sekolah-sekolah menengah atas di lingkungan Pusat, sehingga ada pengelompokan dan

Cikarang

pengkotakan bergaul baik disadari atau tidak disadari imbas dari sikap dan perilaku apatis, skeptis, apriori dan egois yang mereka lakukan dalam pola hubungan bergaulnya.

Dari sikap-sikap perilaku tersebut sudah tentu akan menghambat pembentukan lingkungan kerja yang nyaman , pada dasarnya setiap guru menginginkan lingkungan kerja yang dapat memacu kinerja yang optimal,

dengan pola komunikasi setara tanpa membedakan latar belakang mereka, kesetaraan inilah yang semestinya ditumbuh kembangkan sehingga terciptanya hubungan yang harmonis di kalangan mereka. Menurut pakar pendidikan Soedijarto, guru adalah salah satu faktor yang ikut menentukan tinggi rendahnya mutu pendidikan, sehingga mutu guru yang rendah pada gilirannya menyebabkan proses pembelajaran akan semakin jauh dari rekomendasi UNESCO terkait dengan empat pilar belajar : learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together.4 diperoleh Learning to know adalah belajar untuk tahu yang pemahaman; peserta didik , Learning mampu to do adalah secara belajar kreatif

melalui agar

mengerjakan

bertindak

terhadap lingkungnya;

Learning to be adalah belajar menjadi (dirinya) dan

agar dapat berpartipasi dan bekerjasama dengan orang lai;

Learning to live together adalah hidup belajar bersama sebagai hasil esensial dari tiga pembelajaran lainya.
5

Ini berarti bahwa guru

merupakan pilar utama penyelenggaraan pendidikan, sehingga kinerja mengajar guru dapat menjadi tolak ukur keberhasilan pendidikan. Dalam usaha menghasilkan motivasi berprestasi guru yang unggul, maka salah satu hal yang dibutuhkan adalah adanya motivasi berprestasi yang kuat dalam menjalankan tugasnya. Guru yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan cenderung berusaha keras untuk melakukan yang terbaik, memiliki kepercayaan terhadap kemampuan untuk bekerja
4

Soedijarto, Pendidikan Nasional Sebagai Wahana Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Membangun Peradaban Negara-Negara: Sebuah Usaha Memahami Makna UUD 45, Jakarta: Center for Information and National Policy Studies (CINAPS), 2002. p. 96. 5 Jacques Delor et. al, Learning: The Treasure Within, Report to UNESCO of The Internatinal Commision on The Twenty First Century, Paris: UNESCO, 1996, p. 86-94.

mandiri dan bersikap optimis. Selain itu, motivasi berprestasi yang kuat juga akan mendorong memiliki ketidakpuasan terhadap prestasi yang telah diperoleh serta mempunyai tanggung jawab yang besar atas perbuatan yang dilakukan. Oleh karena itu, guru dengan motivasi berprestasi yang tinggi pada umumnya lebih berhasil dalam menjalankan tugas dibandingkan dengan yang memiliki motif berprestasi yang rendah. Sebagaimana yang dikemukakan oleh McClelland yang dikutif Morgan et al, orang yang memiliki motivasi berprestasi antara lain dicirikan dengan tanggung jawab tinggi, mempertimbangkan resiko, umpan balik, kreatif inovatif, waktu penyelesaian tugas, dan keinginan menjadi yang terbaik. 6 Meskipun disadari motivasi berprestasi sebagai faktor penting untuk dapat menghasilkan kinerja optimal, namun kondisi motivasi berprestasi guru di lapangan belum maksimal. Hal ini antara lain ditandai dengan minimnya usaha-usaha yang dilakukan oleh para guru dalam

menjalankan tugasnya agar dapat menghasilkan kinerja yang optimal, sehingga minim prestasi yang dapt diraih oleh guru. Indikator lain yang mudah di lihat adalah inovasi dan inisiatif yang dilakukan oleh para guru dalam mengajar cenderung hanya menjalankan rutinitas, tanpa adanya inisiatif yang cukup kualitas untuk melakukan inovasi dalam seperti rangka itu jelas

meningkatkan

mengajar. kondisi

Kecenderungan menurut

menunjukkan bahwa

seperti itu,

hasil penelitian

terdahulu, setidaknya berhubungan atau dipengaruh oleh dua variabel, yakni efikasi diri dan lingkungan kerja. Efikasi diri, menurut Reivich dan Shatte,
6

adalah

keyakinan

pada

kemampuan

diri

sendiri

untuk

C.T. Mprgan, R.A. King, J.R.Weisz and J. Schopler, Introduction to Psychology, McGrawHill: Book Company, 1986.

menghadapi dan memecahkan masalah dengan efektif. Efikasi diri juga berarti meyakini diri sendiri mampu berhasil dan sukses. 7 Individu dengan efikasi diri tinggi memiliki komitmen dalam memecahkan masalahnya dan tidak akan menyerah ketika menemukan bahwa strategi yang sedang dipergunakannya itu tidak berhasil. Bagi seseorang yang memiliki efikasi diri tinggi akan memiliki kepastian yang baik dalam menghadapi berbagai rintangan, baik di tempat kerja maupun dalam kehidupan masyarakat. Sebagaimana dikemukakan oleh Bandura, bahawa individu yang memiliki efikasi diri tinggi akan sangat mudah dalam menghadapi tantangan. 8 Individu tidak merasa ragu karena ia memiliki kepercayaan yang penuh dengan kemampuan dirinya. Individu ini menurut Bandura, akan cepat

menghadapi masalah dan mampu bangkit dari kegagalan yang dialami. 9 Lebih lanjut Bandura menjelaskan bahwa jika orang menyimpulkan bahwa tidak peduli apa yang dilakukan, maka tidak akan mempunyai kapasitas untuk mencapai suatu tujuan, kemudian usaha dan kinerja akan menurun.10 Sementara Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar pekerja dan yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas yang dibebankan. Lingkungan kerja meliputi dua komponen dasar

J.E,Gillham, reivich, K.J,. dan Shatte, A.J., Positif youth development, prevention and positive psychology, commentary on Positif youth development in the United States Prevention and Treatment, 5, Article 18, 2002, p,28.
8

A. Bandura, Self-efficacy. In V. S. Ramachaundran (Ed), Encyclopedia of human behavior Vol 4, pp, 71-81, New York Academic Press, 1994, p, 75.
9

ibid., p 76. Robert A. Baron, Psychology, Massachussetts:Allyn & Bacon, 1998, p. 132.

10

yaitu kondisi kerja fisik dan kerja psikologis, kedua komponen saling terkait dengan erat. Kondisi kerja fisik mempunyai dampak penting terhadap kenyamanan psikologi pekerja. Demikian juga kondisi kerja psikologis mempunyai pengaruh yang bermacam-macam kepada kondisi kerja fisik. Lingkungan kerja di mana tenaga kerjaindividu

melaksanakan tugas sebaiknya memberikan kenyamanan, kesenangan, kegembiraan, keselamatan dan kesehatan pekerja. Bukan hanya sekedar tempat orang bekerja, tetapi jauh lebih luas karena menyangkut semua semua aspek yang mempengaruhi efisiensi, efektivitas dan produktivitas organisasi dalam usaha mewujudkan kinerja yang baik dalam

mewujudkan tujuan organisasi. Dalam melaksanakan suatu pekerjaannya, karyawan terkadang menerima beban akibat adanya salah satu factor yang tidak mendukung, salah satunya adalah lingkungan kerja. Lingkungan kerja yang dimaksud adalah kesatuan ruang yang terdiri dari benda hidup dan benda mati, daya serta keadaan yang menpengaruhi kegiatan individupekerja. 11 lingkungan tersebut mencakup lingkungan fisik dan lingkungan psikologis, baik di dalam lingkungan organsiasi maupun di luar lingkungan

organisasi. Lingkungan kerja fisik meliputi kondisi tempat kerja termasuk sarana dan pasilitas kerja. Lingkungan kerja non fisik mencakup hubungan sosial antar individu di lingkungan kerja tersebut, antara atasan dan bawahan dan antar bawahan. Kopelman mengemukakan bahwa kondisi-kondisi lingkungan dapat mempengaruhi satu atau lebih faktor penentu produktivitas organisasi
11

yang dikendalikan untuk beberapa tingkat karakteristik organisasi, karakteristik kerja dan karakteristik individu. Contohnya, pengaruh kondisi lingkungan dari faktor-faktor yang terkendali; (1) undang-undang,

peraturan dan keputusan pengadilan yang mempengaruhi setiap praktek oraganisasi seperti: rekruitmen, seleksi, promosi, pelatihan dan

pemberhentian; (2) perubahan sikap dan nilai sosial yang mempengaruhi karakteristik individu, seperti sikap, harapan, kompetensi dan lain-lain misalnya, kepuasan keterlibatan kerja. (3) kerja, motivasi kerja, komitmen organisasi, dan

perubahan-perubahan

dibidang

teknologi

perubahan-perubahan dalam harga relative, seperti bahan mentah, energi dan modal kerja. Setiap pekerja dapat melakukan aktivitasnya dengan baik dari

asfek fisik serta asfek psikologisnya. Dalam penyelanggaraan pendidikan di sekolah, pengertian lingkungan kerja adalah lingkungan sekolah, sedangkan lingkungan belajar adalah dititik beratkan kepada ruang belajar.12 Namun demikian aktivitas guru-guru tidak hanya bekerja pada waktu mengajar saja, melainkan di luar itu seperti di perpustakaan untuk menyiapkan materi pembelajaran, di ruang guru, di halaman sekolah ketika mengamati siswa bermain. Untuk dapat melakukan aktivitas

tersebut akan dipengaruhi lingkungan fisik, sedangkan lingkungan sosial sekolah berupa interaksi antara kepala sekolah, guru, siswa, tenaga tata usaha, tokoh masyarakat dan lain-lain. Hal inilah yang kemudian akan memerikan efek terhadap perilaku, sesuai dengan budaya pergaulan yang berlaku di lingkungan sekolah tersebut.
12

Berangkat dari

uraian di

atas, maka

penulis

tertarik

untuk

membuktikan secara ilmiah melalui penelitian mengenai : ( Pengaruh Efikasi Diri dan lingkungan Kerja terhadap Motivasi Berprestasi Guru SMA Negeri di Kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi ).

B. Identifikasi Masalah Sebagai variabel terikat, motivasi berprestasi dipengaruhi oleh banyak variabel bebas, beberapa diantaranya motivasi adalah : 1. Apakah terdapat berprestasi guru pengaruh antara efikasi diri dengan motivasi SMA Negeri di Kecamatan Cikarang Pusat

Kabupaten Bekasi ? 2. Apakah terdapat pengaruh antara lingkungan kerja dengan motivasi berprestasi guru SMA Negeri di Kecamatan Cikarang Pusat

Kabupaten Bekasi ? 3. Apakah terdapat pengaruh antara budaya organisasi dengan motivasi berprestasi guru SMA Negeri di Kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi ? 4. Apakah terdapat pengaruh antara komunikasi organisasi dengan motivasi berprestasi guru SMA Negeri di Kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi ? 5. Apakah terdapat pengaruh antara kepemimpinan dengan motivasi berprestasi guru SMA Negeri di Kecamatan Cikarang Pusat

Kabupaten Bekasi ?

6. Apakah terdapat pengaruh antara pelatihan dengan motivasi berprestasi guru SMA Negeri di Kecamatan Cikarang Pusat

Kabupaten Bekasi ? 7. Apakah terdapat pengaruh antara kompensasi dengan motivasi berprestasi guru SMA Negeri di Kecamatan Cikarang Pusat

Kabupaten Bekasi ? 8. Apakah terdapat pengaruh berprestasi guru SMA antara supervisi dengan motivasi di Kecamatan Cikarang Pusat

Negeri

Kabupaten Bekasi ? 9. Apakah terdapat pengaruh antara kepuasan kerja dengan motivasi berprestasi guru SMA Negeri di Kecamatan Cikarang Pusat

Kabupaten Bekasi ? 10. Apakah terdapat pengaruh antara komitmen organisasi

dengan motivasi berprestasi guru SMA Negeri di Kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi ? 11. Apakah terdapat pengaruh antara konsep diri dengan

motivasi berprestasi guru SMA Negeri di Kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi ? 12. Apakah terdapat pengaruh antara kompetensi dengan

motivasi berprestasi guru SMA Negeri di Kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi ?

C. Pembatasan Masalah Dari identifikasi masalah di atas tampak bahwa kinerja memiliki cakupan yang sangat luas dan dipengaruhi oleh banyak variabel, sehingga kurang memungkinkan untuk diteliti semua dalam waktu yang relatif singkat. Mengingat hal tersebut, maka dalam penelitian ini permasalahannya dibatasi hanya pada upaya menungkapkan pengaruh antara efikasi diri dan lingkungan kerja dengan motivasi berprestasi guru SMA Negeri di Kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi.

D. Rumusan Masalah Sesuai dengan pembatasan masalah di atas, maka

permasalahannya dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut 1. Apakah terdapat pengaruh antara efikasi diri dengan motivasi

berprestasi guru SMA Negeri di Kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi ? 2. Apakah terdapat pengaruh antara lingkungan kerja dengan motivasi berprestasi guru SMA Negeri di Kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi ? 3. Pengaruh Efikasi Diri dan lingkungan Kerja terhadap Motivasi

Berprestasi Guru SMA Negeri di Kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi ?

E. Tujuan Penelitianya

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka akan tampak bahwa yang menjadi tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh efikasi diri dan lingkungan kerja terhadap motivasi berprestasi guru SMA Negeri di Kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi.

F. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diaharapakan dapat memberikan manfaat, baik teoritis dan maupun praktis, sebagai berikut : Manfaat Teoritis Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kasanah ilmu pengetahuan pendidikan, khususnya manajemen

pendidikan Islam, serta menambah perbendaharaan kajian korelasi antara efikasi diri dan lingkungan kinerja . Manfaat Praktis 1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan memperbanyak khasana ilmu pengetahuan pendidikan, khususnya manajmen pendidikan islam, serta menambah perbendaharaan kajian

korelasional anatara efikasi diri dan lingkungan kerja dengan motivasi berprestasai. 2. Manfaat Praktis Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada pengelola SMA Negeri, khususnya yng berada di Kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi, dalam memperbaiki dan meningkatkan efikasi diri dan lingkungan kerja sebagai upaya

untuk meningkatkan kinerjanya. Di samping itu, hasil penelitian ini diharapkan pula dapat menggugah kesadaran para guru untuk senantiasa aktif mengembangkan efikasi diri dan lingkungan kerja agar dapar tercipta kinerja yang unggul.

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang masalah B. Identifikasi Masalah C. Pembatasan Masalah D. Rumusan Masalah E. Tujuan Penelitian F. Manfaat Penelitian BAB II KERANGKA TEORITIK DAN HIPOTESISI PENELITIAN A. Deskripsi teoritik 1. Hakekat Motivasi berprestasi 2. Hakekat Efikasi Diri 3. Hakekat Lingkungan Kerja B. Kerangka Berfikir 1. Pengaruh Efikasi Diri terhadap Motivasi Berprestasi Guru 2. Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Motivasi Berprestasi Guru

3. Pengaruh Efikasi Diri dan Lingkungan Kerja terhadap Motivasi Berprestasi Guru C. Perumusan Hipotesis

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tujuan Operasional Penelitian B. Tempat dan Waktu Penelitian C. Metode Penelitian D. Populasi dan Sampel E. Teknik Penelitian Data F. Instrumen Penelitian 1. Motivasi Berprestasi 2. Efikasi Diri 3. Lingkungan Kerja G. Teknik Analisis Data H. Hipotesis Statistik

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data B. Pengujian Persyaratan Analisis C. Pengujian Hipotesis D. Pembahasan Hasil Penetian

E. Keterbatasan Penelitian

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan B. Saran

DAFTAR PUSTAKA