Anda di halaman 1dari 9

Lanjutan Obat PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI BIDANG FARMASI A.

PENGGOLONGAN OBAT Obat merupakan sesuatu yang sangat berguna untuk kesehatan (manusia), tetapi membahayakan apabila penggunaan/ pengelolaannya tidak benar. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman tentang peraturan perundang-undangan mengenai obat pada umumnya dan obat berbahaya khususnya. Selain itu untuk penulisan resep yang baik diperlukan aturan yang tercantum dalam perundang-undangan. Dalam upaya meningkatkan ketepatan, keamanan, kerasionalan penggunaan obat dan sekaligus meningkatkan daya guna dan hasil guna serta biaya yang tersedia, kita perlu memahami kriteria obat esensial dan memahami obat generik. Obat jadi yaitu obat dalam keadaan murni atau campuran dalam bentuk serbuk, cairan, salep, tablet, pil, suppositoria, atau bentuk lain yang mempunyai nama teknis sesuai dengan Farmakope Indonesia atau buku-buku lain yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Obat paten yaitu obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nam pembuat atau yang dikuasakannyadan dijual dalam bungkus asli dari pabrik yang memproduksinya. Obat baru yaitu obat yang terdiri atau berisi suatu zat, baik sebagai bagian yang berkhasiat maupun yang tidak berkhasiat (misalnya lapisan, pengisi, pelarut, bahan pembantu) atau komponen lain yang belum dikenal sehingga tidak diketahui akan khasiat dan keamanannya. Juga obat yang belumdimasukkan dalam FI (Farmakope Indonesia) yang secara resmi belum digunakan/diimpor di Indonesia. Obat standar yaitu obat yang formulanya ada didalam buku-buku standar (resmi). Obat asli yaitu obat yang didapat langsung dari bahan alamiah Indonesia, terolah secara sederhana atas dasar pengalaman dan digunakan dalam pengobatan secara tradisional. Berdasarkan peraturan perundang-undangan, obat dibagi dalam 4 kelompok : 1. Narkotika (Daftar O) 2. Obat Keras ( Daftar G) 3. Obat Bebas Terbatas ( Daftar W) 4. Obat Bebas 1. Narkotika : O = Opiaat = Narkotika Kelompok obat ini pertama kali diatur oleh Ordonansi Obat Bius (Verdovende Middelen Ordonantie 1927, terakhir diubah dengan Stb. 1949 No. 335). Peraturan ini menentukan / mengatur tentang penyimpanan, perdagangan, dan penyerahan dari semua obat yang memiliki khasiat membius (narkotik) dan dapat menimbulkan ketagihan (adiksi) . Tujuan pengaturan narkotika : 1. Menjamin ketersediaan narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan 2. Mencegah terjadinya penyalahgunaan narkotika 3. Memberantas peredaran gelap narkotika Penguasaan, pengaturan, dan pengawasannya terikat kepada Konvensi Internasional mengenai obat bius (Single Convention of Narcotic drugs) Pada tahun 1976 VMO Stb. 1949 dicabut dan diganti dengan Undang-undang No. 9 tahun 1976 tentang NARKOTIKA. Kemudian ada UU No. 22 tahun 1997 tentang Narkotika dan No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika Menurut UU No.22 tahun 1997 Narkotika adalah : Zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan keter gantungan. Menurut UU No. 22 tahun 1997 tsb Narkotika terdiri dari : Obat Narkotika Golongan I hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan dilarang digunakan untuk kepentingan lainnya.

Dilarang diproduksi dan/atau digunakan dalam proses produksi, kecuali dalam jumlah yang sanat terbatas untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan dilakukan dengan pengawasan yang ketat dari Menteri Kesehatan. Contoh : Tanaman : - Papaver somniferum L Semua bagian-bagiannya termasuk buah dan jerami kecuali bijinya - Erythroxylon coca - Cannabis sp Zat / senyawa : - Heroin Obat Narkotika Golongan II dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan. Distribusi diatur oleh pemerintah Contoh : - Morfin dan garam-garamnya - Pethidin Obat Narkotika golongan III dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan. Distribusi diatur oleh pemerintah Contoh : - Codein - Asetilhidrokodein Obat- obat bius ini hanya dapat dibeli/diperoleh di apotek atas dasar resep dokter dan tidak dapat diulangi tanpa resep baru. Oleh Departemen Kesehatan telah pula dikeluarkan Surat Edaran mengenai daftar penggunaan obat bius yang memuat ketentuan laporan pemakaian obat bius dan kewajiban untuk memberikan laporan khusus untuk pemakaian morfin dan pethidin inj. dengan tujuan untuk mengadakan pengawasan.

2. Obat Keras : G = Gevaarlijk = berbahaya Sering juga dinamakan obat keras daftar G. Sama seperti obat daftar O, maka obat-obat keras daftar G ini dapt dibeli / diperoleh di apotek atas dasar resep dokter dan dapat diulan tanpa resep baru jika dokter ybs menyatakan dalam resepnya boleh diulang (iter) Ketentuan-ketentuan mengenai obat keras tidak bersifat internasional dan lebih lunak daripada untuk narkotika. Obat-obat yang termasuk golongan ini diatur dengan undang-undang dan peraturan pemerintah (Menteri Kesehatan) yang mengatur tentang pembuatana, penyimpanan, perdagangan, dan penyerahana dari obat-obat keras, yang mana diperlukan izin dari pemerintah (misalnya izin import obat tertentu) Obat Keras dikelompokan : 1) Obat Keras (OK) 2) Obat Keras Tertentu (OKT) 3) Obat Wajib Apotek (OWA) 1). Obat Keras Yang disebut obat keras adalah : a. Semua obat yang pada bungkus luar oleh si pembuat disebutkan bahwa obat itu hanya boleh diserahkan dengan resep dokter. Tanda bulatan : garis lingkar dan dan huruf K warna hitam, dengan dasar warna merah b. Semua obat yang digunakan secara parenteral, baik dengan cara pemakaian lain dengan jalan merobek jaringan (injeksi, infus0 c. Semua obat baru, terkecuali apabila oleh Departemen Kesehatan telah dinyatakan secara tertulis, bahwa obat itu tidak membahayakan bagi kesehatan manusia d. Yang dimaksud dengan obat baru disini yakni semua obat yang tidak tercantum dalam Farmakope Indonesia dan daftar Obat Keras atau obat yang

hingga saat dikeluarkannya surat keputusan ini secara resmi belum pernah diimpor atau digunakan di Indonesia. e. Obat itu sendiri dalam substansi dan semua sediaan yang mengandung obat itu, terkecuali apabila dibelakang nama obat disebutkan ketentuan lain atau ada pengecualian menurut Daftar Obat Bebas Terbatas Contoh Obat Keras : - Semua antibiotika - Semua obat suntik - Semua preparat Sulfa kecuali SG - Sera dan vaksin - Hormon - Antihistamin untuk pemakaian dalam - Dll. 2). Obat Keras Tertentu (Psikotropika UU No. 5/1997) Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan Narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku. Ruang lingkup pengaturan di bidang psikotropika dalam undang-undang ini adalah gejala kegiatan yang berhibingan dengan psikotropika yang mempunyai potensi mengakibatkan sindroma ketergantungan Tujuan pengaturan : a. Menjamin ketersediaan psikotropika guna kepentingan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan. b. Mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropika c. Memberantas peredaran gelap psikotropika. Psikotropika yang mempunyai potensi mengakibatkan sindroma ketergantungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digolongkan menjadi : a. Psikotropika golongan I b. Psikotropika golongan II c. Psikotropika golongan III d. Psikotropika golongan IV Psikotropika golongan I : Adalah psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan Contoh : - Brolamfetamine (DOB) - LSD Psikotropika golongan II : Adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan Contoh : - Amfetamina - Sekobarbital Psikotropika golongan III : Adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan Contoh : - Amobarbital - Pentobarbital Psikotropika golongan IV : Adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan, mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : - Bromazepam - Klordiazepoksida - Diazepam - Meprobamaat - Kloksazolon - Nitrazepam

Sekalipun pengaturan psikotropika dalam Undang-undang ini hanya meliputi : Psikotropika golongan I,II,III, dan IV, masih terdapat psikotropika lainnya yang tidak mempunyai potensi mengakibatkan sindroma ketergantungan, tetapi digolongkan sebagai obat keras. Oleh karena itu pengaturan pembinaan dan pengawasannya tunduk kepada pengaturan perundang-undangan yang berlaku di bidang obat keras. 3) Obat Wajib Apotek Obat Wajib Apotek adalah obat keras yang dapat diserahkan oleh apoteker pengelola apotek tanpa resep dokter. Tujuan Obat Wajib Apotek : a. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong dirinya sendiri. b. Meningkatkan pengobatan sendiri secara tepat, aman dan rasional. Hal tersebut dapat dicapai melalui peningkatan penyediaan obat yang dibutuhkan untuk pengobatan sendiri. Contoh Obat Wajib Apotek : Kelas terapi Obat Saluran Cerna Obat Kulit Anti Infeksi / Anti Tuberculosa Nama Generik Obat Famotidin Ranitidin Asam Fusidat Asam Azeleat Toksilat Kombipak II Isi : - INH - Rifampisin - Pirazinamid - Ethambutol Kombipak II Isi : - INH - Rifampisin Allopurinol Diklofenak Na tab Klemastin tab Orsiprenalin inhaler Siproheptadin tab Gentamisin Kloramfenikol Catatan 10 tab Pengobatan Ulang

Sistem Musculosceletal Saluran Nafas Organ Sensorik

300 mg 400 mg 1500 mg 750 mg Lanjutan 600 mg 450 mg 10 tab (100 tab) 10 tab 10 tab Salep Mata Obat Mata atau Telinga

3. Obat Bebas Terbatas : W = Warschuwing = peringatan Obat golongan ini dapat diperoleh di apotek dan toko Obat berizin. Untuk mendapatkan obat tidak diperlukan resep dokter, hanya diperlukan ketentuan pada brosur/kemasannya yang menjelaskan tentang aturan pakai dan peringatanperingatan tertentu. Pembuatan, penyimpanan, dan peredaran dari golongan obat inipun diatur dengan peraturan pemerintah. Contoh obat yang termasuk daftar W, misalnya : Pemerintah (Depkes) secara berkala memperbaharui daftar obat bebas terbatas, menambah atau mengurangi jumlah obat tsb. Contoh Obat Bebas Terbatas - CTM P1 4 mg/takaran, 20 tab/kemasan - Efedrin P1 25 mg/takaran, 20 tab/kemasan - Papaverin P1 40 mg/takaran - SG P1 600 mg/takaran, 20 tab/kemasan - Bisacodil P1 10 mg/takaran / Dulcolax

Sol Mercurochrom Vit. E Chloroquin Dextromethorphan HBr Daktarin Cream

P3 P1 100 mg/takaran P1 150 mg/takaran, P1 15 mg/takaran

Ketentuan-ketentuan : - Obat daftar W hanya boleh dijual dalam bungkusan asli pabrik pembuatnya - Waktu penyerahan obat-obat tersebut pada wadahnya harus tercantum tanda peringatan berupa etiket khusus yang tercatat sesuai sesuai dengan ketentuan Depkes (tanda P) - Etiket khusus tanda peringatan (P) tersebut berwarna hitam dengan tulisan putih berukuran 5 x 1 cm dan memuat pemberitahuan sbb. : P1 : Awas! Obat Keras, baca aturan pemakaiannya P2 : Awas! Obat Keras. Hanya untuk kumur jangan ditelan P3 : Awas! Obat Keras. Hanya untuk bagian luar badan P4 : Awas! Obat Keras. Hanya untuk dibakar P5 : Awas! Obat Keras. Tidak boleh ditelan P6 ; Awas! Obat Keras. Obat Wasir, jangan ditelan 4. Obat Bebas : Yang termasuk golonganobat bebas yaitu obat-obat yang bebas diperjual belikan di pasaran (misalnya supermarket, kios), tetapi tetap diatur dan diawasi oleh pemerintah tentang produksi dan distribusinya untuk menjamin kemurnian dan mutu dari obat yang digunakan oleh masyarakat. Beberapa contoh obat bebas : - Vitamin B Kompleks tablet - Vitamin C tablet - Kalk tablet - Norit - Cod Liver Oil (minyak ikan) - Asetosal tablet (Aspirin, Naspro, Farmasal, Aspilet, Cafenol tab, dsb) - Parasetamol tablet/sirup (Fevrin, Sanmol, panadol, tempra, dsb) - Larutan Salisil spiritus B. OBAT ESENSIAL Definisi : Obat esensial adalah obat terpilih yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat terbanyak, mencakup upaya diagnosa, profilakis, terapi dan rehabilitasi yang harus diusahakan selalu tersedia pada unit pelayanan sesuai dengan fungsi dan tingkatannya. Kriteria obat esensial : Keputusan Menteri Kesehatan No.22 A/Menkes/SK/II/1999 tanggal 15 Februari 1999 tentang Daftar obat Esensial Nasional (DOEN) PenetapanDOEN dimaksudkan untuk menigkatkan ketetapan, kerasionalan penggunaan dan pengelolaan obat yang sekaligus meningkatkan daya guna dan hasil guna biaya yang tersedia sebagai sebagai salah satu langkah untuk memperluas, memeratakan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Penerapan DOEN harus dilaksanakan secara konsisten dan terus menerus di unit pelayanan kesehatan pemerintah. Pemilihan obat esensial didasarkan atas kriteria berikut : a. Memiliki rasio manfaat resiko (benefit risk ratio) yang paling menguntungkan penderita b. Mutu terjamin, termasuk stabilitas dan bioavailabilitas. c. Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan d. Praktis dalam penggunaan dan penyerahan yang disesuaikan dengan tenaga, sarana, dan fasilitas kesehatan. e. Menguntungkan dalam hal kepatuhan dann penerimaan oleh penderita f. Memiliki rasio manfaat-biaya (benefit cost ratio) yang tertinggi berdasarkan biaya langsung dan tidak langsung g. Bila terdapat lebih dari satu pilihan yang memiliki efek terapi yang serupa, pilihan dijatuhkan pada : 5

- Obat yang sifatnya paling banyak diketahui berdasarkan data ilmiah - Obat yang sifat farmokokinetika yang diketahui paling menguntungkan - Obat yang stabilitasnya lebih baik - Mudah diperoleh h. Obat jadi kombinasi tetap harus memenuhi kriteria : - Obat hanya bermanfaat bagi penderita dalam bentuk kombinasi tetap - Kombinasi tetap harus menunjukkan khasiat dan keamanan yang lebih tinggi daripada masing-masing komponen. - Perbandingan dosis komponen kombinasi tetap merupakan perbandingan yang tepat untuk sebagian besar penderita yang memerlukan kombinasi tersebut. - Kombinasi tetap harus meningkatkakn rasio manfaaat biaya (benefit cost ratio) - Untuk antibiotiks kombinasi tetap harus dapat mencegah atau mengurangi terjadinya resistensi dan efek merugikan lainnya Contoh : No. 1 1.1 Kelas Terapi Nama Obat Analgesik, Antipiretik, Anti inflamasi nonsteroid Analgesik Narkotik Fentanil Bentuk sediaan Kekuatan dan Kemasan Catatan

Inj. i.m/i.v 0,5 mg/ml (sebagai sitrat) Ktk 10 amp @ 2 ml

- dikombinasikan dengan droperidol - penggunaan perlu diperketat

1.2 2 2.1

Analgesik Non Narkotik Allopurinol Anestetik Anestetik Lokal Anestetik lokal DOEN Kombinasi : Lidokain HCl 5% Glukosa 5% Natrium hidroksida Sampai pH = 6,3 6,7

Tab 100 mg Btl/ktk 100 tab

ktk 10 amp @ 2 ml

C. OBAT GENERIK Definisi : Obat generik adalah obat dengan nama yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia untuk zat berkhasiat yang dikandungnya Nama ini ditentukan oleh WHO dan ada dalam Daftar International Nonproprietary Name Index Tujuan : Agar mahasiswa mengerti obat generik. Hal ini berkaitan denngan Per. Menkes No. 058/Menkes/Per/I/1989 yang mengatur tentang sanksi bagi dokter pemerintah yang tidak menggunakan / menulis obat generik dalam pelayanan kesehatan pemerintah yang berlaku Juli 1989 Nama Generik (NG) Adalah nama obat yang berdasarkan INN yang ditetapkan WHO atau nama resmi yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia (FI) untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. Nama generik berlaku di negara manapun dan boleh diproduksi oleh setiap industri Nana Dagang (ND)

Adalah nama khas yang dilindungi hukum yaitu merek terdaftar atau Proprietary Name. ND merupakan nama hak pabrik itu sendiri, pabrik lain tidak Latar belakang adanya Nama Dagang (ND) : 1. Latar belakang adanya Nama Dagang Macam jenis obat yang ditemukan 5509 jenis/tahun, akibatnya dalam perdagangan terdapat jumlah yang besar 2. Perkembangan teknologi mengskibatkan timbulnya macam2 BSO tiap jenis obat, sehingga jumlah obat dg ND menjadi besar. Disamping itu, ternyata untuk satu macam jenis obat mempunyai ND yang bermacammacam dengan kemasan yang aneka ragam. Hal ini disebabkan karena adanya persaingan antas industri farmasi. Akibatnya harga obat bervariasi, meskipun zat berkhasiat sama. PENANDAAN OBAT Menurut cara pemakaiannya obat dibedakan dalam 2 macam : - Obat dalam : yaitu obat yang penggunaanya melalui mulut (per oral), misalnya : tablet, kapsul, sirup - Obat luar : yaitu obat yang penggunaanya tidak melalui mulut misalnya ; obat suntik, obat kumur, obat wasir, tetes mata/hidung/telinga, salep, cream Untuk kedua macam obat ini yang telah disiapkan oleh apotek dibedakan penandaannya, yaitu : - Untuk obat dalam : Etiket warna PUTIH - Untuk obat luar : Etiket warna BIRU Selain itu untuk mempermudah pengawasan peredaran obat, pemerintah (Depkes) telah mengeluarkan peraturan penandaan untuk membedakan obat keras, obat bebas terbatas dan obat bebas, yaitu : - Obat keras : lingkaran hitam dengan warna merah di dalamnya dan tertulis huruf K dengan warna hitam - Obat bebas terbatas : lingkaran hitam dengan warna biru didalamnya - Obat bebas ; lingkaran hitam dengan warna hijau didalamnya

PENYIMPANAN OBAT Penyimpanan obat berhubungan dengan stabilitas obat. Sediaan farmasi stabil (mantap) ialah sediaan yang selama jangka waktu tertentu masih memiliki batas persyaratan yang dapat diterima, sehingga pada saat penyimpanan maupun saat di gunakan masih mempunyai sifat atau karakteristik yang sama seperti saat pembuatannya. Stabilitas merupakan salah satu jaminan persyaratan mutu yang sangat pentins, sebab obat mengalami masa penyimpanan yang cukup lama, yaitu : - waktu penyimpanan di pabrik - waktu penyimpanan di pedagang besar farmasi (PBF) - waktu penyimpanan di apotek - waktu penyimpanan oleh pasien Ketidak stabilan obat dapat berakibat kerugian dengan hilangnya khasiat sampai bhaya keracunan yang fatal, disamping kerugian materi. Oleh karena itu usaha untuk menjamin stabilitas obat merupakan hal yang penting, mulai dari pembuatannya (produsen) sampai cara penyimpanannya. Sesungguhnya tidak ada obat yang stabil dalam jangka waktu tak terbatas, namun cukup apabila dapat stabil dalam jangka waktu tertentu (lama). Umumnya disepakati bahwa obat masih dianggap stabil apabila kadarnya berkurang sebesar 10% dihitung sejak saat pembuatannya (fabrikasi)

Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidak stabilan obat : 1. Mekanis Peruraian/kerusakan obat dapat terjadi karena pengaruh transportasi dan guncangan 2. Fisis Pengaruh kelembaban udara, suhu, pelarut dan cahaya dapat mengakibatkan berubahnya sifat fisika sediaan. Senyawa2 yang bersifat higroskopis akan basah bila terkena kelembaban udara. 3. Mikroorganisme Mikroba dan jamur dapat mengakibatkan perubahan pH, pembentukan gas dan peruraian bahan obat. Salah satu usaha untuk mencegah pengaruh mikroba atau jamur yaitu dengan menambahkan pengawet ke dalam sediaan. Misalnya pada sediaan bentuk sirup ditambahkan pengawet Nipagin 4. Kimia Ketidakstabilan obat tidak terlepas dari adanya reaksi kimia atau kimia fisika yang terjadi. Seringkali reaksi kimia ini terjadi karena faktor internal, misalnya ketidak tepatan penggunaan pelarut, pengaturan pH, dsb. Juga karena faktor external, misalnya cahaya, kelembaban udara, suhu, wadah atau kemasan. Faktor2 tersebut dapat mengakibatkan terjadinya perubahan rupa/bentuk, bau, rasa, warna, berkurang atau bahkan hilangnya khasiat dan juga dapat baersifat toksis (beracun). Misalnya : - Perubahan warna tetrasiklin dari kuning muda menjadi coklat sampai hitam, karena tetrasiklin bila disimpan di tempat yang panas dan lembab mudah teruari, terutama di bawah pengaruh cahaya, menghasilkan anhidrotetrasiklin dan epitetrasiklin yang sangat toksis terhadap ginjal (nephrotoxic) - Asetosal oleh penaruh kelembaban udara menyebabkan terjadinya hidrolisa menjadi asam salisilat dan asam asetat (asam cuka) Adanya faktor2 tersebut diatas, maka untuk mempertahankan stabilitas obat diperlukan ketentuan penyimpanan obat, antara lain : 1. Bebas dari sinar / cahaya Intensitas dan panjang gelombang cahaya tertentu dapat menyebabkan aktivasi molekul untuk terjadinya reaksi atau peruraian obat 2. Bebas lembab atau basah udara Kelembaban udara dapat menyebabkan kerapuhan tablet, hidrolisa, pembentukan hidrat.. Pengaruh kelembaban udara harus dapat dihinari dengan jalan menyimpanobat dalam ruangan berpengatur suhu (AC) 3. Tempat dingin atau sejuk Peruraian obat dapat dipercepat dengan naiknya temperatur (suhu). Penyimpanandi tempat dingin dimaksudkan untuk memperlambat/mencegah kecepatan reaksi kimia maupun fisika. Walaupun demikian tidak berarti penyimpanan dalam tempat yang beku (es) akan mempertinggi stabilitas, bahkan justru harus dihindarkan untuk beberapa obat tertentu. Farmakope indonesia memberikan ketentuan tentang cara penyimpanan obat. - semua zat, bahan obat dan sediaan farmasi harus disimpan sedemikian rupa, sehingga perubahan karena cahaya atau kelembaban sejauh mungin dihindarkan. - Bahan obat atau obat yang mudah menguap atau terurai, harus disimpan dlam wadah tertutup rapat. - Bahan obat atau obat yang mudah menyerap air/uap air (higroskopis), harus disimpan dalam wadah tertutup rapat yang berisi kapur tohor, silica gel. Salep harus disimpan dalam wadah yang buram.

Beberapa pengertian tentang penyimpanan : 1. Disimpan terlindung cahaya Maksudnya bahan harus disimpan dalam wadah yang buram atau botol yang terbuat dari kaca hitam, merah atau coklat tua 2. Disimpan terlindung istimewa dari cahaya Bahan yang telah disimpan menurut ketentuan penyimpanan terlilndung dari cahaya, masih harus dibungkus lagi dengan kertas hitam atau tidak tembus cahaya 3. Disimpan pada suhu kamar Jika tidak disertai dengan penjelasan lain, disimpan pd suhu antara 150C dan 300C 4. Disimpan di tempat sejuk Jika tidak disertai dengan penjelasan lain, disimpan pada suhu antara 50C dan150C 5. Disimpan di tempat dingin Jika tidak disertai dengan penjelasan lain, disimpan pada suhu antara 00Cdan 50C Tanggal Daluwarsa Obat : Tanggal daluwarsa obat (expiration date) dicantumkan pada wadah obat yang setelah tanggal/waktu tertentu keamanan pemakaiannya tidak dapat dipertanggung jawabkan lagi. Bila kadaluwarsa, suatu obat tidak lagi memenuhi syarat untuk dipergunakan. Suhu penyimpanan obat sangat berpengaruh : kalau suatu obat tidak disimpan sesuai dengan aturan suhunya, maka ada kemungkinan jauh sebelum tanggal daluwarsa yang tercantum, obat sudah rusak. Sistem Penyimpanan Obat a. Sistem FIFO (First In First Out) : Obat yang datang lebih dahulu, dipakai dahulu b. Sistem FEFO (First Expired First Out) : Obat yang tanggal daluwarsanya lebih dahulu, dipakai dahulu. c. Gabungan FIFO dan FEFO