Anda di halaman 1dari 4

Penyakit respirasi pada lansia

Pada proses menua terjadi penurunan compliance dinding dada, tekanan maksimal inspirasi dan ekspirasi menurun dan elastisistas jaringan paru juga menurun. Pada pengukuran terlihat FEV1, FVC menurun, PaO2 menurun, V/Q naik. Penurunan ventilasi alveolar, merupakan risiko untuk terjadinya gagal napas. Selain itu terjadi perubahan berupa (Lukman, 2009): A. Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara inspirasi berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal. B. Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga potensial terjadi penumpukan sekret. C. Penurunan aktivitas paru ( inspirasi & ekspirasi ) sehingga jumlah udara pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan, kalau pada pernafasan yang tenang kira kira 500 ml. D. Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan normal 50m), menyebabkan terganggunya prose difusi. E. Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu proses oksigenasi dari hemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut semua kejaringan. F. CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga menurun yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri. G. Kemampuan batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret & corpus alium dari saluran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi. Penyebab kegawatan napas pada lansia meliputi obstruksi jalan napas atas, hipoksi karena penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), pneumotoraks, pneumonia aspirasi, rasa nyeri, bronkopneumonia, emboli paru, dan asidosis metabolik. Akan tetapi penyakit respirasi yang sering terjadi pada lansia adalah pneumonia dan tuberkulosis paru. a. Pneumonia Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan menimbulkan gangguan pertukaran gas setempat. Pneumonia memiliki tanda klasik berupa demam, batuk, sesak. Tetapi pada usia lanjut usia, gejalanya menjadi atipikal, yaitu suhu normal, tak ada batuk, status mental terganggu, nafsu makan menurun, aktivitas berkurang. Pemeriksaan fisik didapatkan ronki, bronkofoni, suara napas menurun. Leukosit naik, dan pada rontgen thoraks terlihat infiltrat (Lukman, 2009). Perubahan sistem respirasi yang berhubungan dengan usia yang mempengaruhi kapasitas dan fungsi paru meliputi : Peningkatan diameter anteroposterior dada Kalsifikasi kartilago kosta dan penurunan mobilitas kosta Penurunan efisiensi otot pernapasan Peningkatan rigiditas paru Penurunan luas permukaan alveoli a. Etiologi dari pneumonia adalah : 1) Bakteri

Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organsime gram positif seperti Streptococcus pneumonia, S. aureus dan S. pyogenesis. Bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenza, Klebsiella pneumonia dan P.Aeruginosa. 2) Virus Disebabkan oleh virus influenza yang menyebar melalui transmisi droplet. Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyabab utama pneumonia virus. 3) Jamur Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung, tanah serta kompos. 4) Protozoa Menimbulkan terjadinya pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami imunosupresi b. Manifestasi klinis 1) Kesulitan dan sakit pada saat bernafas 2) Nyeri pleuritik, nafas dangkal dan mendengkur, takipnea 3) Bunyi nafas di atas area yang mengalami konsolidasi 4) Mengecil, kemudian menjadi hilang, krekels, ronkhi, egofoni 5) Gerakan dada tidak simetris 6) Menggigil dan demam 38,8-41,1C, delirium 7) Batuk kental, produktif 8) Sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi kemerahan/berkarat c. Pemeriksaan penunjang 1) Sinar X : mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga menyatakan abses luas/infilrat, emfiema (staphylococcus); infiltrat menyebar atau terlokalisasi (bakterial); atau penyebaran/perluasan infiltrat nodul (virus). Pneumonia mikoplasma sinar X dada mungkin bersih 1) GDA : tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada 2) Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah : diambil dengan biopsi jarum, aspirasi transtrakheal, bronkoskopi fiberotik atau biopsi pembukaan paru untuk mengatasi organisme penyebab 3) JDL : leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih rendah terjadi pada infeksi virus, kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya pneumonia bakterial 4) Pemeriksan serologi; titer virus atau legionella, aglutinin dingin d. Penatalaksanaan 1) Kemoterapi Pemberian kemoterapi harus berdasarkan petunjuk penemuan kuman penyebab infeksi (hasil kultur sputum dan tes sensitivitas kuman terhadap antibodi). Bila penyakitnya ringan antibiotik diberikan secara oral, sedangkan bila berat diberikan secara parenteral. Apabila terdapat penurunan fungsi ginjal akibat proses penuaan, maka harus diingat kemungkinan penggunaan antibiotik tertentu perlu penyesuaian dosis. 1) Pengobatan umum 2) Terapi oksigen 3) Hidrasi, bila ringan hidrasi oral, tetapi jika berat dehidrasi dilakukan secara parenteral. 4) Fisioterapi 5) Penderita perlu tirah baring dan posisi penderita perlu diubah-ubah untuk menghindari pneumonia hipografik, kelemahan dan dekubitus.

b. Emboli paru Emboli paru memiliki gejala klinis berupa sesak napas mendadak, nyeri dada pleuritik, takipneu, takikardia, hipoksemia, subfebril, batuk, hemoptisis. Sering didapat bila pasien imobilisasi adalah komplikasi menjadi deep vein thrombose (DVT). TB PARU Paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikobakterium tuberkulosa tipe humanus ( jarang oleh tipe M. Bovinus). TB paru merupakan penyakit infeksi penting saluran napas bagian bawah. Basil mikobakterium tuberculosa tersebut masuk kedalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet infeksion) sampai alveoli, terjadilah infeksi primer (ghon). Selanjutnya menyebar ke kelenjar getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks (ranke).. Tb paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi (Harrison, 2002). 2. Etiologi Penyebabnya adalah kuman mycobacterium tuberculosa. Sejenis kuman yang berbentuk batang denagn ukuran panjang 1-4 /mm dan tebal 0,3-0,6 /mm. Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid ini adalah yang membuat kuman lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik. Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat bertahan-tahan dalam lemari es). 3. Tanda dan Gejala Berkeringat Batuk disertai dahak lebih dari 3 minggu Sesak napas dan nyeri dada Badan lemah, kurang enak badan pada malam hari walau tanpa kegiatan Berat badan menurun (Penyakit infeksi TB paru dan ekstra paru, Misnadiarly) 4. Pemeriksaan Diagnostik a.) Kultur Sputum adalah Mikobakterium Tuberkulosis Positif pada tahap akhir penyakit b.) Tes Tuberkalin adalah Mantolix test reaksi positif (area indurasi 10-15 mm terjadi 48-72 jam) c.) Poto Thorak adalah Infiltrasi lesi awal pada area paru atas : pada tahap dini tampak gambaran bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas : pada kavitas bayangan, berupa cincin : pada klasifikasi tampak bayangan bercak- bercak padat dengan densitas tinggi. d.) Bronchografi adalah untuk melihat kerusakan bronkus atau kerusakan paru karena Tb paru e.) Darah adalah peningkatan leukosit dan laju Endap darah (LED) f.) Spirometri adalah Penurunan fungsi paru dengan kapasitas vital menurun 5. Penatalaksanaan Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu : Fase Intensif (2- 3 bulan) dan Fase Lanjutan (4-7 bulan). Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat tambahan. Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah Rifampisin, INH, Pirasinamid, Streptomisin dan Etambutol. Sedangkan jenis obat tambahan adalah Kanamisin, Kulnolon, Makvolide, dan Amoksilin ditambah dengan asam klavulanat, derivat rifampisin / INH. c.

Referensi: Lukman HM. 2009. Kegawatdaruratan pada Pasien Geriatri. In: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Interna Publishing: Jakarta. Ed V Jilid 1. Hal 904. Darmojo B, Martono H. 2006. Buku Ajar Geriatri edisi ke-3. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.