Anda di halaman 1dari 3

BAB III GAMBARAN KONTRAK KONSTRUKSI SAMPAI SAAT INI

1. Gambaran Umum Pada umumnya posisi Penyedia Jasa selalu lebih lemah daripada posisi Pengguna Jasa. Dengan kata lain posisi Pengguna Jasa lebih dominan dari pada posisi Penyedia Jasa. Belum adanya peraturan perundang-undangan yang baku bagi pelaku industri jasa konstruksi, menyebabkan Kebebasan Berkontrak hanya diatur oleh Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer) Pasal 1320. Dengan posisi yang lebih dominan, Pengguna Jasa lebih leluasa menyusun kontrak dan ini dapat merugikan Penyedia Jasa. Banyaknya Penyedia Jasa dibandingkan dengan pekerjaan konstruksi, berakibat pada posisi Penyedia Jasa yang lemah sehingga Pengguna Jasa dengan leluasa dapat melakukan pilihan. Dengan keadaan yang demikian, sering kali faktor KKN terjadi, seperti tender yang diatur, tender arisan, markup, pekerjaan fiktif, dan sebagainya yang mencerminkan wajah kontrak konstruksi semakin tidak wajar atau buruk. Sementara disisi lain, kekhawatiran tidak mendapatkan pekerjaan yang ditenderkan menyebabkan Penyedia Jasa rela menerima Kontrak Konstruksi yang dibuat Pengguna Jasa. 2. Model Kontrak Konstruksi Model kontrak konstruksi dikelompokkan menjadi 3 golongan : a. Versi Pemerintah Biasanya tiap kementrian memiliki standar tersendiri. Standar yang biasanya dipakai adalah standar Kementrian Pekerjaan Umum. b. Versi Swasta Nasional Versi swasta beraneka ragam sesuai dengan Pengguna Jasa/ Pemilik Proyek. Terkadang mengutip standar Kementrian atau yang lebih maju mengutip (sebagian) sistem Kontrak Luar Negeri seperti FIDIC (Federation Internationale des Ingenieurs Counsels), JCT (Joint Contract Tribunals), atau AIA (American Institute of Architech). Namun karena diambil setengah-setengah, maka wajah kontrak versi ini menjadi tidak karuan dan rawan sengketa. c. Versi/ Standar Swasta/ Asing Umumnya para Pengguna Jasa Asing menggunakan kontrak sistem FIDIC atau JCT. 3. Kendala, Isi Kontrak (Kerancuan, Salah Pengertian, Benturan) Dalam Paragraf Model Kontrak mengandung hal-hal rancu, salah pengertian, benturan pengertian dan sebagainya.

a. Hal-hal yang rancu : i. Kontrak dengan sistem pembayaran pra pendanaan penuh dari Kontraktor (Contractors full prefinance) dianggap Kontrak Rancang Bangun (Design Build/ Turn Key) ii. Penyelesaian Sengketa : Pengadilan atau Arbitrase (dalam kontrak keduanya disebut secara jelas) b. Salah Pengertian Contoh dari salah pengertian mengenai suatu Kontrak Fixed Lump Sum Price. Kata fixed sering diartikan nilai kontrak tidak boleh diubah. Padahal boleh berubah sesuai dengan perubahan pekerjaan. c. Kesetaraan Kontrak Umumnya kontrak konstruksi sekarang ini belum mencapai predikat adil dan setara sebagaimana yang diamanatkan UU No.18/ 1999 tentang Jasa Konstruksi dan PP No.29/ 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi. Sebagai contoh : i. Apabila Penyedia Jasa lalai, pihaknya terkena sanksi berat. Namun jika Pengguna Jasa lalai, sanksinya ringan atau tidak ada sama sekali. ii. Kelambatan penyelesaian pekerjaan akan dikenakan sanksi (denda) tetapi keterlambatan pembayaraan tidak mendapatkan ganti rugi. 4. Isi Kontrak Kurang Jelas Pengertian pada kontrak konstruksi tidak jelas atau tidak diberi definisi, misalnya : a. Jumlah Hari Pelaksanaan Kontrak Kata hari harus diperjelas apakah menurut hari kerja atau kalender. Apabila hari kerja, berapa hari/minggu (5 atau 6 hari). Sementara bila hari kalender, kalender yang mana (Tahun Syamsiah/ Tahun Masehi atau Tahun Komariah/ Tahun Arab). b. Tak Jelas Saat Mulai Kerancuan dalam penetapan saat mulai pelaksanaan pekerjaan apakah sejak tanggal kontrak, tanggal surat Perintah Kerja, atau saat Penyerahan Lahan (Site Possesion). Hal ini menjadi fatal dikemudian hari ketika terjadi keterlambatan kerja. c. Kelengkapan Dokumen kontrak tidak lengkap dan isi dokumen bertentangan satu sama lain sehingga menyulitkan pelaksanaan. d. Pengawasan Tidak Jalan Pengawasan kontrak tidak berjalan sebagaimana mestinya. Manajemen konstruksi tidak berjalan/ berfungsi optimal. Pengguna Jasa sering mencampuri secara

langsung pekerjaan lapangan yang sebenarnya sudah didelegasikan ke Manajer Konstruksi sebagai pengawas lapangan. 5. Kepedulian Pada Kontrak Kepedulian baik Penyedia Jasa maupun Pengguna Jasa terhadap kontrak sangat rendah. Kontrak biasanya dibuat dalam jumlah banyak dan diberikan kepada instansi yang relevan atau tidak relevan. Tapi biasanya kontrak hanya sebagai pelengkap lemari buku tanpa pernah dibaca. Kontrak baru mulai dilihat ketika timbul masalah. Hal ini menyebabkan masalah menjadi terhambat karena perlu waktu cukup lama untuk memahami kontrak. 6. Administrasi Kontrak Karena kepedulian terhadap kontrak yang rendah, maka pengelolaan administari kontrak tidak berjalan dengan baik. Banyak petugas yang merangkap tugas lain dan kebanyakan tidak memenuhi kualifikasi sebagai administrator kontrak. 7. Klaim Kontrak Konstruksi Klaim merupakan suatu permintaan yang dapat berubah menjadi tuntutan atau gugatan apabila klaim tersebut tidak terpenuhi. Klaim selama ini baru muncul dari perusahaan-perusahaan asing yang berada di Indonesia, seperti salah satunya yang pernah terjadi di Proyek Pembangkit Pusat Listrik Tenaga Air yang besar di Jawa Barat. Begitu ahlinya ia menyusun klaim, nilai klaim yang diajukan hampir mendekati nilai kontrak dan terbukti klaimnya diterima. Mungkin itu salah satu sebab mengapa pada waktu tender perusahaan tersebut mengajukan penawaran harga yang rendah (karena dari semula ia melihat peluang klaim yang sangat besar).