Anda di halaman 1dari 21

METODE PENELITIAN KRITIS Meneliti dunia untuk merubahnya

Diterjemahkan oleh Dari buku asli Ditulis oleh

: Ahmad Mahmudi

: A METHOD FOR CRITICAL RESEARCH : Donald E. Comstock Departement Of Sociology Washington State University, 1980 No. 72 Circulate as part of the Transforming Sociology Series by the Red Feather Institute for Advenced Studies in Sociology

" ......perhatikan sungguh-sungguh ide-ide yang datang dari rakyat, yang masih terpenggal dan belum sistematis, dan coba perhatikan lagi Ide-ide tersebut, pelajari bersama rakyat sehingga menjadi ide-ide yang lebih sistematis, kemudian menyatulah dengan rakyat, ajak dan jelaskan ide-ide yang datang dari mereka itu, sehingga rakyat benar-benar paham bahwa ide-ide itu adalah milik mereka, terjemahkan ide-ide tersebut menjadi aksi, dan uji kebenaran ide-ide tadi melalui aksi. Kemudian sekali lagi perhatikan ide-ide yang datang dari rakyat, dan sekali lagi menyatulah dengan mereka, ........ begitu seterusnya di ulang-ulang secara ajeg, agar ide-ide tersebut menjadi lebih benar, lebih penting dan lebih bernilai sepanjang masa. Demikian itu adalah teori pengetahuan rakyat.

MT

ii

DAFTAR ISI ABSTRAK I. II. KEBUTUHAN AKAN SEBUAH METODE RISET KRITIS BEBERAPA PERBEDAAN ANTARA ILMU SOSIAL KRITIK DAN ILMU SOSIAL POSITIF 1. 2. 3. 4. II. Pandangan terhadap hakekat manusia dan masyarakat Penciptaan Ilmu Pengetahuan Sosial Bentuk Ilmu Pengetahuan Ilmiah Peran Ilmu Sosial METODE RISET KRITIS 1. Identifikasi gerakan-gerakan dan kelompok-kelompok sosial yang progressive. 2. Membangun hubungan intersubyektif untuk memahami pengertian- pengertian, nilai-nilai dan motif-motif yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan kelompok. 3. Studi terhadap sejarah perkembangan kondisi-kondisi sosial dan struktur-struktur sosial masa kini yang menghambat aksi sosial. 4. Membangun model hubungan antara kondisi sosial, interpretasi, intersubyektif terhadap kondisi kondisi tersebut dan menjadi partisipan aksi 5. Mengurai kontradiksi fundamental yang sedang berkembang sebagai hasil dari rangkaian aksi yang dilakukan berdasarkan pemahaman ideologi beku. 6. Partisipasi dalam program pendidikan bersama masyarakat dan membantu mereka untuk melihat cara-cara baru agar dapat memahami situasi mereka. 7. Partisipasi dalam program aksi yang bertujuan merubah kondisi sosial. IV. KESIMPULAN

iii

ABSTRAK Argumentasi utama dalam peper ini adalah bahwa pengembangan ilmu sosial kritis memerlukan sebuah metode penelitian kritis yang menolak metode ilmu-ilmu sosial positif yang berkembang selama ini. Ilmu sosial kritik didasarkan atas prinsip bahwa semua manusia, baik yang laki-laki maupun perempuan, secara potensial dapat menjadi agen aktif dalam pembangunan dunia sosial dan personal mereka sendiri. Karena itu metode yang sesuai dengan prinsip kemanusiaan selalu didasarkan pada sebuah bentuk dialog antar subyek, bukan subyek dengan obyek. Dalam metode riset kritis yang di kaji dalam paper ini, peniliti memulai dari masalah-masalah praktis yang berkembang dalam masyarakat yang didominasi oleh ideologi-ideologi tertentu dan dihadapkan pada kondisi sosial yang menindas. Peneliti kritis berusaha menjelaskan pengamatan dan melakukan analisis dialektik atas ideologi-ideologi dan kondisi-kondisi sosial bersama rakyat dengan tujuan memperkuat posisi kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat agar mereka terbebas dari berbagai macam bentuk penindasan. Penelitian kritis jelas harus mendidik rakyat untuk melakukan aksi politik tanpa mengasingkan mereka dari realitas dunia mereka sendiri. Riset kritis adalah metode praktis yang menggabungkan analisis dengan aksi. Pada dekade terakhir ini telah terbit sejumlah buku dan artikel yang datang dari para sosiolog Amerika dengan teori-teori kritik yang mereka kembangkan lewat Frankfurt Institute for Social Research. Meskipun demikian, karena kelompok "Frankfurt" masih besar perhatiannya pada riset empiris, ditambah lagi karena sejak 1930-an mereka terisolasi dari praktek politik ( Jay, 1973, Anderson, 1976), maka hanya sedikit perhatian diberikan untuk mengembangkan sebuah ilmu sosial kritik. Dalam paper ini saya lebih memusatkan perhatian pada sebuah metode riset kritik dengan harapan dapat merangsang dilakukannya kegiatan-kegiatan riset yang sesuai untuk kepentingan sosial praktis. Dengan diskusi singkat ini, saya akan berusaha menunjukkan sejumlah perbedaan antara ilmu-ilmu sosial positif dengan ilmu sosial kritis, disamping ada hubungannya dengan metode riset kritis. Dalam hal ini metode tidak boleh disamakan dengan teknik-teknik riset tertentu yang didalamnya meliputi pengumpulan dan analisisis data. Saya menggunakan definisi-definisi itu untuk menunjukkan prosedur umum kalau kita mempelajari kehidupan masyarakat terutama menilik masalah-masalah penelitian, membangun dan mengevaluasi teori, dan mendesiminasikan temuan-temuan penelitian.

iv

I. KEBUTUHAN AKAN SEBUAH METODE RISET KRITIS Argumentasi utama paper ini adalah bahwa pengembangan teoriteori kritis membutuhkan sebuah metode riset kritis. Kita tidak dapat menggunakan logika penelitian yang dikembangkan oleh ilmu-ilmu sosial positif guna mengembangkan ilmu sosial kritis. Lagi pula sebagian besar teori kritis dan analisa Neo-Marxis pada umumnya semakin jauh dari rakyat dan analisis kelas, dan karena itu sedikit sekali perhatiannya terhadap perubahan progresif. Teori kritis demikian tidak dapat memisahkan kajian teori dan praktek politik. Karena itu (Anderson, 1976) menyatakan mengapa ilmu sosial dan analisis radikal dipelajari pada semua Universitas. Fungsi ilmu sosial kritis adalah meningkatkan kesadaran para pelaku perubahan dari realitas yang diputar balikkan oleh kalangan tertentu dan disembunyikan dari pemahaman sehari-hari. Fungsi ilmu sosial kritis yang demikian didasarkan pada prinsip bahwa semua manusia, baik laki-laki atau perempuan secara potensial adalah agen aktif dalam pembangunan dunia sosial dan kehidupan personal. Rakyat adalah subyek dalam menciptakan proses sejarah, bukan obyek. Teori kritis secara sadar berkeinginan untuk membebaskan manusia dari konsep-konsep yang secara ideologis beku dari kenyataan dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan. Jelas bahwa metode riset yang diperlukan untuk merubah pemahaman terhadap dunia manusia tidak dapat di adopsi dari ilmu-ilmu sosial positif dan ilmu-ilmu alam. Metode ilmu sosial positif melihat bahwa masyarakat adalah informasi netral untuk observasi sistematis. Sehingga tidak bisa dipungkiri bahwa dalam ilmu sosial positif kemudian terjadi monopoli pengetahuan. Metode-metode ini menjadikan manusia sebagai obyek yang diperlakukan sebagai data mentah yang kebenarannya dapat di rekayasa oleh penelitinya. Metode riset ilmu sosial positif sengaja mengeluarkan proses-proses sejarah dengan menjadikan gejala sebagai gejala alam dan melihat masyarakat berada diluar pemahaman peneliti. Sebagai kosekuensinya adalah memperkuat keterasingan pelaku penelitian sosial dari lembaga-lembaga sosial, politik dan ekonomi mereka sendiri. Metode penelitian kritis justru menempatkan manusia sebagai sekumpulan subyek yang aktif dalam membentuk dunia mereka sendiri yang didasarkan pada dialog antar subyek (peneliti dengan pelaku), bukan sekedar observasi dan eksperimen yang menipu rakyat. Ilmu-ilmu sosial kritis karena itu harus secara langsung menjadikan rakyat mengerti dunia mereka sendiri dan mampu melakukan aksi-aksi revolusioner dengan cara melibatkan mereka dalam proses penelitian. Dengan begini ilmu alam menjadi sebuah metode untuk aksi penyadaran, bukan ideologi dominasi teknokrat terhadap rakyat yang dianggap pasif. 1

II. BEBERAPA PERBEDAAN ANTARA ILMU SOSIAL KRITIK DAN ILMU SOSIAL POSITIF

Akar pemikiran ilmiah terletak pada kepercayaan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan adalah alat yang paling efektif untuk membebaskan manusia. Akan tetapi apa yang telah terjadi dalam ilmu sosial positif adalah sekedar penjelasan pengetahuan dari dasar-dasar metodologi dan epistemologinya. Ilmu yang seharusnya hanya ditujukan untuk pembebasan manusia telah diganti dengan nama ganda, yakni untuk membebaskan atau menindas sama saja. Ilmu-ilmu sosial kontemporer, dengan demikian tidak lebih dari dominasi metodologi dan epistemologi ilmu-ilmu alam yang melihat bahwa subyek perlu dipisahkan dengan obyek, peneliti dengan yang diteliti. Teori kritis berlawanan sama sekali dengan anggapan-anggapan seperti diatas. Teori-teori kritis secara tegas menolak pandangan bahwa manusia dan masyarakat dapat dipahami melalui anggapan dasar (otonosi) dan metode ilmu alam yang dilihat bahwa sebagai manusia tidak kreatif dalam berfikir dan bertindak. Untuk membandingkan antara ilmu sosial positif dan ilmu sosial kritis, paling tidak terdapat empat pokok perbedaan: 1. Perbedaan dalam melihat hakekat manusia dan masyarakat. 2. Pemahaman terhadap proses-proses sosial. 3. Bentuk penjelasan ilmiah tentang proses-proses sosial yang dilakukan dan 4. Peranan ilmuwan-ilmuwan sosial (Sewart, 1978). 1. Pandangan terhadap hakekat manusia dan masyarakat Ilmu sosial positif melihat masyarakat sebagai fenomena obyektif yang dapat dideskripsikan sebagai seperangkat kekuatan yang tidak mengenal sejarah (ahistoris). Ilmu sosial kritik, dilain fihak memandang masyarakat sebagai sekumpulan manusia yang dapat dibangun kemanusiaannya melalui pemahaman historis progressive terhadap proses-proses dan struktur-struktur sosialnya. Ilmu sosial positif melihat hakekat manusia sebagai data mati (tidak bergerak), sedang ilmu sosial kritis melihat bahwa manusia dapat merubah diri mereka sendiri melalui pranata-pranata yang diciptakan sendiri. Oleh karena pandangan ilmu sosial positif yang demikian maka Barry Smart (1976) menyebut pandangan tadi sebagai "kenyataan semu" dan karena itu dibuat-buat. Pada masyarakat kapitalis, ilmu-ilmu sosial positif dikembangkan dengan cara mengasingkan individuindividu dalam proses penciptaan sejarah dan karena itu ilmu sosial positif gagal sama sekali dalam menganalisa masyarakat sebagai sebuah bangunan 2

kemanusiaan. Karena kegagalannya melihat proses-proses dan strukturstruktur sosial maka ilmu sosial positif tidak dapat banyak diharapkan dapat melakukan perubahan secara fundamental. ( Horkheimer, 1972). Ilmu sosial kritis justru melihat manusia sebagai pembentuk sejarah. Bukan ilmu sosial kritis kalau dia hanya mampu mendiskripsikan fakta-fakta sosial sejarah, tanpa pemahaman dan aksi bersama rakyat. Horkheimer menulis "teori sosial kritis ..... melihat manusia sebagai pencipta sejarah mereka sendiri". (1972 :244). Perbedaan pandangan antara ilmu sosial positif dan kritis terhadap hakekat manusia dan masyarakat itu mempunyai pengaruh mendalam dalam melihat bagaimana ilmu pengetahuan sosial diciptakan. 2. Penciptaan Ilmu Pengetahuan Sosial Bagi ilmu sosial positif, pengetahuan berusaha diciptakan melalui observasi-observasi empiris yang dapat diuji secara ketat. Apa yang disebut data menurut ilmu sosial positif adalah deskripsi tentang perilaku-perilaku sosial, dan nilai individual ( Taylor 1971 : 32). Data disebut obyektif kalau dapat diuji dengan model-model teori yang sudah ada. Konsep-konsep utama yang lalu dikembangkan diantaranya adalah konsep bebas nilai. Menurut Habermas apa yang disebut sebagai bebas nilai sebenarnya adalah mengandung muatan nilai-nilai. ( 1971 : 69). Obyektifitas dan bebas nilai bagi ilmu sosial positif tidak lain adalah keinginan untuk membedakan fakta dengan nilai, antara teori dan praktek. Meskipun tidak diketahuai mengapa demikian, ilmu sosial positif berusaha keras untuk meramalkan dan mengontrol alam (Hambermas, 1971, Bernstein, 1976). Brian Fay juga menyatakan bahwa apabila kepentingan tersebut diterapkan untuk meneliti dunia manusia (bukan alam) maka hasilnya adalah manipulasi hubunganhubungan sosial, mengagungkan kepentingan-kepentingan teknis dari pada moral, membutakan manusia dari urusan-urusan politik, dan terakhir adalah memperkuat dominasi kelas berkuasa ( 1976 : 57). Dilihat dari perspektif ilmu sosial kritis, maka pengetahuan diciptakan untuk dua kepentingan. Pertama, karena manusia adalah makluk sosial, maka prinsip-prinsip moral dan etik harus di ciptakan. Kedua, bahwa prinsip-prinsip moral dan etik itu harus di pahami secara inter-subyektif. Ilmu sosial kritis karena itu tidak dapat melepaskan diri dari pemahaman norma-norma, nilai-nilai dan makna-makna yang bersifat inter-subyektif dalam kehidupan manusia sehari-hari. Karena dua kepentingan diatas maka kemudian timbul kepentingan manusia yang ketiga dan tipe pengetahuan yang ketiga pula. Kepentingan ketiga ini disebut kepentingan pembebasan, yang berarti kritik ideologi dan perubahan sosial fundamental. Ilmu sosial kritis menolak untuk menerima praktek-praktek 3

sosial sebagai kebenaran akhir. Baik ide dan tindakan (aksi) yang terjadi dalam proses sejarah sampai sekarang adalah manivestasi dari perubahan struktur sosial. Ilmu sosial kritis harus menganalisis bentukbentuk struktur penindasan dan sekaligus mencari jalan keluar untuk pembebasannya (Farganis, 1975). Ilmu sosial kritis harus sampai pada penyingkapan lembaga-lembaga struktural yang bersifat menindas dari satu periode keperiode lainnya. Kalau sudah dipahami makna-makna demikian tadi, maka kemudian diteruskan dengan adanya aksi-aksi sosial dengan cara melawan pengertian-pengertian dan aksi-aksi yang dilakukan sebelumnya. Lebih jauh dari itu ilmu sosial kritis sebenarnya lahir untuk membebaskan manusia dari konsep-konsep ideologi dan tindakan yang salah kaprah, dan karena itu perjuangan ini menjadi perjuangan politik. Pengetahuan kritis tidak pernah netral, terutama bagi orang-orang yang sudah paham duduk persoalannya diatas. Dalam ilmu sosial krtitis, validitas konsep-konsep data dan teori selalu dikaitkan dengan aspek historis dan tujuan-tujuan subyektif. ( Piccone, 1973). Ilmu sosial kritis hadir antara menyeruak makna-makna sejarah dan menciptakan kemungkinan-kemungkinan aksi yang dapat dilakukan manusia yang sementara ingin membebaskan diri dari dunia penindasan. Untuk melakukan semuanya itu harus digabungkan teori perubahan struktural dengan kritik ideologi. Dalam ilmu sosial kritik senantiasa harus ada dialog anatara teori dan praktek.

3. Bentuk Ilmu Pengetahuan Ilmiah Ilmu sosial positif berasumsi bahwa cara penjelasan yang dilakukan terhadap suatu obyek diberlakukan secara umum terhadap semua ilmu pengetahuan. Paradigma yang dikembangkan adalah nomologis dan ini tidak bisa diterima oleh ilmu sosial pada umumnya, terutama ilmu sosial kritis. Cara ilmu ini selain nomologis adalah ahistoris, diterministik dan prohabilistik. Penjelasan terhadap suatu gejala biasanya dikaitkan dengan usaha meramalkan apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Semua kegiatan didalam ilmu sosial positif, dari pengumpulan data, penyempurnaan data, korelasi data, dan formulasi generalisasi, hipotesa dan pengembangan model-model penelitian, semuanya diarahkan untuk menguji teori yang dikembangkan berdasarkan kaidah-kaidah logika yang ditetapkan secara ketat. Ilmu sosial kritis justru hadir menentang kaidah-kaidah keilmuan yang dikembangkan dalam ilmu-ilmu sosial positif, dan karena itu mudah menggoncang paradigma. Bila ilmu-ilmu sosial positif mempelajari perilaku manusia maka ilmu sosial kritis mempelajari aksi manusia dan melihat bahwa dunia sosial diciptakan melalui tindakan manusia dan pemahaman inter subyektif. Ilmu sosial kritis mencoba memahami hubungan kondisi-kondisi sosial dengan tindakan subyektif manusia dengan berbagai macam kepentingannya. Karena hubungan 4

antara kondisi sosial dan tindakan manusia itu sifatnya sangat rumit, maka ilmu sosial kritis tidak percaya dengan apa yang disebut prediksi. Karena hakekat masyarakat adalah pemahaman dan tindakan masyarakat itu sendiri maka secanggih apapun kondisi sosial itu diramalkan dan diatur dengan ketat sedemikian rupa, didalamnya pasti terdapat banyak kesalahan. Seperti dikatakan Taylor (1971) kalaulah konsep-konsep dan katagori-katagori ilmu sosial positif masih banyak kita gunakan sekarang, pada masa datang nanti sudah tidak dapat lagi. Kaum positivist beranggapan bahwa apa yang dilakukan sekarang adalah usaha mengembangkan disiplin ilmu yang dipelajari, tetapi tragisnya mereka justru melepaskan bagaimana proses-proses sosial itu tercipta. Jika semua proses sosial dipahami sebagai produk tindakan manusia, maka semua pertimbangan kritis harus dimulai dari pemahaman, nilai-nilai, dan inter subyektif. Selanjutnya seperti dikatakan Von Wright (1971), pengertian-pengertian, nilai-nilai dan motif-motif ini harus dikembangkan dengan proses-proses sosial dengan cara menunjukkan dengan jelas bagaimana mereka dibangun oleh tindakan dan refleksi manusia. Penjelasan-penjelasan kritis didalamnya meliputi teori-teori dasar tentang perubahan struktural, nilai-nilai, pengertian-pengertian dan motif-motif yang timbul sebagai akibat dari adanya perubahan struktural. Perbedaan-perbedaan pemahaman tentang struktur sosial (meliputi kekuatan domianan dan kekuatan pinggiran) harus dikaji dalam teori kritis. Sebagai contoh suatu gagasan mobilitas sosial boleh jadi didukung oleh pengalaman personal golongan minoritas kapitalis, terutama di Amerika Serikat pada waktu itu. Konsep mobilitas sosial dalam prakteknya ternyata hanya memberikan keuntungan kaum kapitaslis belaka, sedang orang-orang golongan lemah justru semakin tersingkir karena kelemahannya secara ekonomis oleh penguasa kapitalis. Konsep-konsep yang diciptakan oleh manusia ternyata dalam praktenya dapat memberikan keuntungan bagi beberapa pihak dan merugikan beberapa pihak-pihak lainnya. Selama manusia yang mencari keuntungan ingin tetap mempertahankan posisi mereka sedang mereka yang tidak diuntungkan dengan sistim tersebut sengaja dibuat tidak paham agar terus menerus dapat dijadikan ajang dominasi. Ilmu sosial kritis hadir ditengah-tengah masyarakat dengan pertimbanganpertimbangan kritis, ingin menyadarkan manusia yang tidur didunia mereka sendiri. Karena karakternya yang demikian, maka didalam dirinya senantiasa terkandung keinginan untuk melakukan perubahan, baik secara radikal atau tidak. Perubahan-perubahan radikal terjadi karena adanya kontrakdisi-kontrakdisi dalam proses sosial, artinya ada pihak yang mencari keuntungan dan ada yang dirugikan dari haknya antar kelompok didalam ilmu sosial. Semua ini dapat dipahami lewat ideologi dan kondisi-kondisi sosial yang berkembang selama ini. 5

Kontrakdisi fundamental akan terjadi apabila kepentingan-kepentingan sebagian fihak bertentangan terus menerus dengan kepentingan pihak lainnya, misalnya dalam satu sistim sosial yang memberlakukan praketpraket monopoli berhadapan dengan sistim kompetisi bebas. Satu kelompok atau kelompok yang tertindas di dominasi dalam sistim yang berkembang sekarang ini akan melakukan perlawanan dan melakukan perubahan sosial sebagaimana mereka kehendaki. Ini adalah perkara politik dan karena itu harus berkali-kali dijelaskan bahwa teori kritis memang tidak bisa dipisahkan dari politik praktis. Sejauh mana Pergolakan politik itu timbul tergantung pada derajad pertentangan kepentingan kaum progressive dengan para pemegang kekuasaan. Kalau kontradiksi yang terjadi tidak terlalu mendesak, pada umumnya dapat diselesaikan melalui cara damai tanpa harus membungkus ideologi dan struktur kekuasaan. Tetapi kalau kontradiksi itu sangat mendesak, tidak ada cara lain kecuali merombak ideologi dan struktur yang dianggap tidak mapan. Kapan kontradiksi fundamental itu akan terjadi tidak dapat diramalkan oleh ilmu sosial, sebab ini menyangkut kesepakatan manusia secara bersama-sama menghadapi ideologi dan struktur yang berkembang. Karena itu dapat dirumuskan bahwa tujuan teori kritis bukanlah untuk meramalkan perubahan sosial, melainkan memahami perkembangan sejarah masyarakat sehingga mereka melakukan perubahan sosial. Masuknya ilmu sosial kritis dalam percaturan politik praktis seperti dikatakan diatas kemudian membedakan para ilmuwan sosial positif disatu pihak dengan ilmuwan sosial kritis dilain pihak seperti diuraikan dibawah. 4. Peran Ilmu Sosial Horkheimer (1972) mencatat bahwa ilmu sosial tradisional positif, dalam usaha memulai kehidupan politik, memisahkan ilmu sosial dengan menggunakan istilah ilmu sosial murni dan ilmu sosial praktis. Dalam pandangan Marx, siapa yang disebut dengan ilmuwan sosial dibedakan menjadi dua: Pengamat teoristis yang bebas nilai dan apolitik disatu pihak dan orang-orang politik yang menyuarakan nilai-nilai dan kepentingan-kepentingan politik mereka dipihak lain. Orang-orang positif pada umumnya selalu berusaha membedakan dua peran tersebut. Mereka pilih jadi warga negara yang baik dan jadi peneliti dan ilmuwan yang sopan dan obyektif yang bisa menangkap issue-issue penting pada masanya. Menurut paham ini jelas bahwa tugas ilmuwan sosial adalah mendiskripsikan dan menjelaskan faktafakta, tidak mencampuri apa yang seharusnya dilakukan [ Bernstein, 1976: 44]. Ilmu sosial kritis melihat bahwa ilmuwan sosial adalah harus berpartisipasi dalam proses pembangunan manusia. Karena itu para ilmuwan sosial harus menentukan keberpihakannya kepada siapa mereka melayani. Ilmu sosial kritis sama sekali menolak pemisahan 6

antara praktek dan teori, dan bahwa semua praktek dan teori harus didiskusikan, begitu terus tidak berhenti. Kepentingan praktek bagi para ilmuwan sosial kritis adalah bagaimana membebaskan kaum tertindas agar dengan demikian posisi mereka sebagai manusia dapat berubah (juga dilihat sebagai manusia yang pantas hidup dan berkembang, tidak terus ditindas). Ilmu sosial kritis melihat masyarakat sebagai kesatuan manusia dan karena itu hakekat manusia adalah makhuk yang baru mendapatkan kemanusiaannya dalam kebersamaan. Melalui kebersamaan itu kemudian ilmu sosial kritis mencoba melihat struktur, proses dan makna sosial, baik pada masa lalu atau sekarang. Ilmu pengetahuan sosial, karenanya tidak dapat memisahkan diri dari kehidupan sosial nyata, didalamnya mempelajari nilai-nilai, tujuantujuan individu, kelompok dan kelas. Ilmu sosial kritis, karena lebih emansipatif, maka mempunyai karakternya berbeda dari ilmu sosial positif yang lebih dekat dengan kelompok dominan yang menindas. Karena sifatnya yang emansipatif, maka ilmu sosial kritis mengenal apa yang disebut sebagai praxis dimana aksi berperan sebagai sumber dan pengesahan teori. Meskipun demikian ilmu sosial kritis tetap menolak cara prediksi karena prediksi dilakukan harus dengan mengeluarkan manusia sebagai unsur pembentuk sejarah mereka sendiri. Ilmu sosial kritis melihat manusia sebagai persatuan subyek yang berusaha mendekati kembali dunia yang mereka bangun. Karena itu bentuk penjelasan ilmiah yang digunakan bersifat historis. Dalam bentuk ini ada dialog antara kondisi yang terjadi pada masa lalu dan sekarang. Secara lebih tegas ilmu sosial kritis melihat kesatuan subyek manusia berusaha membebaskan diri dari struktur yang menindas melalui usaha-usaha mereka sendiri (mandiri). Kriteria kebenaran teori dalam ilmu sosial kritis sangat subyektif. Karena ilmu sosial kritis dinilai dari pemahaman-pemahaman subyektif terhadap proses-proses sosial dan nilai-nilai sosial. Metode penelitian dan validitas penelitian didasarkan pada dialog antar subyek. Riset ini tidak hanya melihat manusia sebagai obyek tetapi melihat mereka sebagi manusia yang dapat berlaku mandiri. Seksi berikutnya saya akan menguraikan metide riset yang didasarkan pada paradigma dialog dan partisipasi, bukan observasi dan manipulasi.

III. METODE RISET KRITIS

Penelitian sosial kritis dimulai dari adanya masalah-masalah sosial nyata yang dialami oleh sekelompok individu, kelompok-kelompok, atau kelas-kelas yang tertindas dan teralienasi dari proses-proses sosial yang sedang tumbuh dan berkembang. Diawali dari masalah-masalah praktis dan kehidupan sehari-hari jenis penelitian ini berusaha menyelesaikan masalah-masalah tersebut lewat aksi-aksi sosial yang bertujuan agar mereka yang tertindas dapat membebaskan diri dari belenggu penindasan. Karena itu penelitian ini bersinggungan dengan usahausaha menjadikan masyarakat masuk dalam dunia politik dan meningkatkan kesadaran kritis mereka. Metode dialog ini menghendaki agar para aktor yang terlibat dalam proses penelitian dapat secara bersama-sama menggunakan potensi yang mereka miliki sebagai aktoraktor yang aktif menciptakan sejarah. Secara praktis, metode ini mensyaratkan agar pelaku riset membina hubungan inter subyektif antara peneliti dan masyarakat yang kemudian mereka dapat menyusun sebuah program pendidikan dan program aksi yang dimaksudkan untuk merubah kondisi-kondisi sosial yang menindas. Secara analitis riset kritis haruslah dapat menciptakan hubungan dinamis antar subyek dalam situasi sosial. Riset kritis harus melakukan kritik ideologi berdasarkan perbandingan antara struktur sosial buatan dengan struktur sosial nyata. Riset kritis menentang proses-proses sosial yang tidak manusiawi dan selanjutnya proses-proses yang tidak manusiawi tersebut dapat dipecahkan melalui aksi bersama antara peneliti dengan rakyat ( Sand Berg, 1976 : 45). Riset kritis demikian dapat diterapkan pada beberapa jenjang analisis mulai dari tingkat lokal sampai dengan pergolakan-pergolakan ideologi dan politik global. Meskipun demikian pada seksi ini pusat perhatian lebih ditujukan pada pergolakan kelompok-kelompok dan gerakan-gerakan lokal karena gejala tersebut merupakan gejala dominan saat ini. Ini tidak menutup kemungkinan, seperti dikatakan diatas, bahwa metode ini dapat diterapkan pada jenjang analisis suatu sistim sosial (Nasional) atau global (internasional). Biasanya gerakan ini dilakukan melalui empat tahap utama yakni : Interprestasi, analisis empiris, dialog kritis, dan dilanjutkan dengan aksi. Metode ini diguanakan oleh Marx untuk mengkritik kapitalisme liberal. Kritik-kritik terhadap kapitalisme modern dengan demikian harus mengkombinasikan antara analisis struktural dengan kritik-kritik ideologi kontemporer. Hanya melalui cara ini analisis radikal dapat mendorong munculnya aksi revolusioner. Riset untuk pergolakan-pergolakan lokal harus dimulai dari dialog tentang kapitalime modern walaupun dalam pengertian terbatas. Dialog tadi akan dapat menjadi pedoman untuk memilih 8

issue-issue dan gerakan-gerakan progressive penafsiran ideologi, dan seleksi serta analisis data empiris. Sebaliknya analisis mikro terhadap pergolakan lokal akan dapat membantu memperbaiki dan membangun teori-teori makro tentang kapitalisme modern. Analisis kritis pada tingkat mikro dan makro dibangun dan bahkan disatukan. Pada paragraf berikutnya saya akan menyajikan sebuah metode riset kritis dalam tujuh tahap. Mungkin ini akan kelihatan programatik dan mekanik tetapi maksud saya adalah agar metode ini dapat dibedakan secara tegas dengan metode riset sosial positif. Perbedaan antara metode kritis dengan metode positif dapat dilihat pada matrik dibawah. Perbandingan Tahap-tahap Metode Riset Positif dan Kritis
Ilmu Sosial Positif Identifikasi masalah ilmiah didahulukan dengan cara mempelajari hasil-hasil penelitian empiris yang telah dilakukan, termasuk temuanan temuan teoritis Mengembangkan hipotesa empiris yang dapat diuji kebenaran-nya dengan harapan agar peneliti dapat memperkaya teori yang sudah ada dan mempunyai kekuatan prediksi Memilih tempat atau lokasi penelitian yang dipandang dapat memperkaya wawasan ilmiah, misal : masyarakat, kelompok, organisasi dst. Mengembangkan indikator-indikator yang dapat diukur secara kuantitatif dan strategi-strategi penyimpulan didasarkan pada Penelitian yang tedahulu, Observasi dan wawancara dilokasi, Kehendak peneliti/tim peneliti, dan Pengetahuan tentang proses-proses sosial Pengumpulan data melaui - Eksperimen, Dukumen dan teks yang sudah ada, Survey dan wawancara, serta observasi Ilmu Sosial Kritis Identifikasi kelompok - kelompok dan gerakan - gerakan sosial progressive

Mengembangkan seluruh hubungan intersubyektif untuk memahami makna, nilai, motivasi masyarakat lokal.

Mempelajari perkembangan kondisi kondisi sosial historis dari struktur-struktur sosial masa kini yang menjadi kendala aksi Membangun model hubungan antara kondisi sosial, interpretasi, intersubyektif terhadap kondisi kondisi tersebut dan menjadi partisipan aksi

Menjelaskan kotradiksi-kontradiksi fundamental sebagai hasil dari proses riset yang didasarkan pada: Membandingkan kondisi dengan pemahaman, Kritik ideologi, dan Menemukan kemungkinan-kemungkinan baru untuk aksi Partisipasi dalam program pendidikan bersama dengan masyarakat sekaligus mencari cara-cara baru dalam memenuhi

Analisa data untuk uji hipotesa

dunia mereka Mengembangkan hukum-hukum dan teori atas dasar temuan-temuan yang dihasilkan serta menyusun rekomendasi Partisipasi dalam menyusun program aksi untuk memecahkan masalah yang dihadapi dan melakukan riset kritis lebih lanjut

1. Identifikasi gerakan-gerakan dan kelompok-kelompok sosial yang progressive.

Riset kritis tidak membicarakan tentang sebuah proses sosial tetapi membicarakan kelompok-kelompok sosial khusus, misalnya kelompok-kelompok sosial yang tersingkir dan didominasi. Katagorikatagori abstrak seperti kemanusiaan, rakyat, kelas, pekerja, wanita, minoritas tidak dapat menjadi agen perubahan sosial. Karena itu kita harus mengidentifikasi organisasi-organisasi, partai-partai dan gerakangerakan yang dapat mewakili katagori-katagori tersebut bukan hanya pertimbangan dapat tetapi juga mampu dan mau menerjemahkan temuan riset kedalam praktek (Sandberg, 1976 : 227). Identifikasi kelompok-kelompok demikian bukanlah merupakan persoalan sederhana sebab identifikasi tersebut harus dikaitkan dengan totalitas kapitalisme modern. Para komentator kontemporer sebagian tidak setuju terhadap totalitas tersebut. Misalnya Sanberg (1976 : 224) menyarankan bahwa kelompok-kelompok itu akan menjadi organisasi-organisasi primer kelas pekerja, sementara Piccone (1973 : 157) lebih jauh melihat bahwa teori kelas yang direkayasa oleh Marx tidak akan banyak berguna untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok progressive. Saya justru menegaskan bahwa kelompok-kelompok itu dapat dilihat sebagai progressive sejauh mereka menyatakan kepentingan, tujuan, atau kebutuhan-kebutuhan manusia yang tidak dapat dipenuhi dalam sistim sosial yang ditandai dengan adanya dominasi materi dan ideologi. Dengan kata lain kepentingan mereka menghendaki adanya sedikit atau besar perubahan fundamental dalam hubungannya dengan partisispasi kolektif dan kontrol terhadap lembaga-lembaga sosial. Subyek-subyek yang dapat menjadi pelaku riset kritis didalamnya meliputi organisasi-organisasi perdagangan, kelompok-kelompok lokal (dukuh, desa), kelompok-kelompok pencinta lingkungan, organisasiorganisasi wanita, kelompok-kelompok minoritas, rakyat miskin, dan sebagainya. Dalam hal ini peneliti harus dapat menentukan bahwa 10

kelompok ini kecuali terlibat dalam proses riset juga berkeinginan kuat menerjemahkan temuan riset menjadi aksi. 2. Membangun hubungan intersubyektif untuk memahami pengertian- pengertian, nilai-nilai dan motif-motif yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan kelompok. Riset kritis dimualai dari suatu studi terhadap dunia subyek untuk memahami kehidupan mereka terutama peraturan-peraturan sosial, nilai-nilai dan motivasi-motivasi tertentu yang mendorong mereka berperilaku. Aksi sosial didominasi oleh model-model pranata sosial dunia sehingga apa yang mereka lakukan adalah perwujudan dari pemahaman mereka terhadap dunia tersebut ( Bernstein, 1976 : 63). Riset kritis dengan begitu memerlukan pemahaman mendalam terhadap perilaku, nilai dan motivasi para subyek (masyarakat) karena itu dapat dikatakan tahap kedua dari riset kritis adalah hermeneutic yang berarti bahwa peneliti melihat dan merasakan melalui dialog dengan partisipan, untuk memahami realitas sosial mereka ( Gadamer, 1976). Hasil dialog itu akan menghasilkan rencana aksi untuk memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapi bersama ( Von Wright, 1971). Semua hasil dialog harus dipahami baik oleh peneliti atau masyarakat. Lebih lanjut hasil dialog tersebut merupakan analisis empiris yang dapat berperan juga sebagai koreksi terhadap pemahaman peneliti tentang realitas sosial dan pengalaman-pengalaman rakyat. Peneliti kritis harus dapat memahami bahwa realitas sosial masyarakat yang diteliti berbeda dengan realitas sosial seperti yang dipahami oleh ideologi dominan. Perbedaan-perbedaan pemahaman terhadap realitas sosial antara rakyat dengan penguasa dapat mendorong munculnya aksi penentangan rakyat terhadap kelompok dominan. Lebih lanjut perbedaan ini akan mendorong kelompok yang didomonasi menentang anggota-anggota kelompok yang mendominasi kehidupan mereka. Ketepatan pemahaman terhadap realitas sosial masyarakat sangat ditentukan oleh intensitas hubungan subyektif antara peneliti dengan rakyat (Fay, 1976 : 82). Hanya melalui intensitas dialog itulah peneliti dapat menilai apakah dia benarbenar telah memahami realitas sosial yang pada tahap selanjutnya dapat digunakan untuk menganalisis kondisi sosial dan melakukan kritik ideologi. Dalam dialog tersebut peneliti harus mempelajari dan menggunakan bahasa lokal yang digunakan oleh masyarakat lokal. Pada tahap selanjutnya peneliti dapat melakukan intensitas hubungan lebih dalam dengan rakyat dan memperkenalkan konsep-konsep serta teoriteori kritis. Makna-makna, nilai-nilai dan motivasi-motivasi masyarakat harus dipahami sebagaimana adanya. Dalam hal ini kegagalan ilmu sosial 11

positif terletak pada kedangkalannya memahami hubungan antar subyek. Ilmu sosial positif cenderung mengabaikan akar sejarah dan kebudayaan rakyat (Pollock, 1976). Lebih lanjut hal ini menjadi ilmu sosial positif tidak mampu memahami realita sosial, praktek-praktek sosial dan perubahan-perubahan serta krisis sosial fundamental (Taylor, 1971). Interprestasi dan tindakan manusia adalah historis, mereka dibentuk melalui suatu proses sejarah ( Piccone, 1973 : 141). Riset kritis justru paling besar kepentingannya terhadap usaha-usaha membangun hubungan antar subyek guna menyingkap realitas sosial dalam arti yang sebenarnya, bukan semu. 3. Studi terhadap sejarah perkembangan kondisi-kondisi sosial dan struktur-struktur sosial masa kini yang menghambat aksi sosial. Realitas sosial tidak hanya terbatas dipahami melalui hubungan intersubyektif. Realita sosial seringkali sudah dimasuki dan didominasi oleh ideologi-ideologi tertentu. Untuk memahami secara kritis dunia mereka peneliti juga harus melakukan studi-studi empiris tentang sruktur-struktur dan proses-proses sosial. Studi-studi tersebut akan memperkuat kepercayaan masyarakat betapa kuatnya faktor-faktor yang mendominasi kehidupan mereka selama ini ( Appilbaum, 1978). Menurut Adorno tugas ilmu sosial kritis adalah melawan semua bentuk penindasan cara berpikir dan bertindak manusia baik secara individu atau kelompok. Ini berarti bahwa ilmu sosial kritis sudah tidak lagi bebas nilai, obyektif, tidak memihak, dan netral ( 1976 : 254). Faktor-faktor pembatas ini akan ditemukan dalam pembentukan struktur-struktur sosial (proses historis). Ketika menelusuri asumsiasumsi epistemologi positivisme peniliti kritis dapat memanfaatkan temuan-temuan studi empiris. Itu penting untuk mengkaji strukturstruktur makro kapitalisme modern. Misalnya ketika mempelajari gerakan kaum buruh progressive, tidak hanya sebatas memahami mengapa mereka mengalami aksi mogok dan sebagainya, tetapi sampai pada taktik-taktik yang digunakan oleh kaum kapitalis untuk menindas buruh. Ketika peneliti kritis bekerja sama dengan kelompok anti nuklir, maka yang mereka pelajari dan analisis dapat meliputi struktur-struktur ekonomi dan politik industri energi. Ketika peneliti bekerja sama dengan kelompok anti bank, maka dia harus mempelajari studi-studi empiris tentang industri perbankkan dalam arti luas. Sesuatu yang amat penting yang hendak dikatakan disini adalah studi-studi empiris dan analisisanalisis teoristis itu sangat berguna sepanjang studi dan teori itu secara tegas menunjukkan proses sejarah pembentukan struktur-stuktur sosial dan penciptaan kondisi-kondisi sosial. Kondisi-kondisi tersebut harus dipelajari, bukan untuk ditarik generalisasi tetapi untuk didialogkan dengan semua partisipan. Hanya melalui jalan ini kelompok-kelompok yang tertindas dapat melihat struktur-struktur sosial baik sebagai 12

kendala dan sebagai proses untuk menyusun aksi bersama. Analisis-analisis empiris tentang struktur-struktur sosial harus dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman empiris masyarakat. Masyarakat harus dapat menyajikan kembali kejadian-kejadian, issueissue, dan proses-proses sosial nyata yang pernah dialami dalam suatu bentuk refleksi bersama dengan peneliti, dan dari situ peneliti dapat menjadi semakin menyadari bahwa pengalaman hidup manusia sebenarnya sangat beragam. Dalam kegiatan analisis ini harus dibedakan antara ideologi spesifik dengan proses-proses sosial nyata. Perbedaan antara ideologi spesifik dengan proses-proses sosial nyata dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam krisis sosial. Karena ada kesenjangan antara yang seharusnya dengan yang senyatanya, maka ini menuntut dilakukannya perubahan-perubahan. Analisis empiris dan historis adalah unsur dasar dialektika seperti akan diuraikan dibawah. 4. Membangun model hubungan antara kondisi sosial, interpretasi, intersubyektif terhadap kondisi kondisi tersebut dan menjadi partisipan aksi Pada tahap penelitian ini yang menjadi perhatian utama adalah diskripsi-diskripsi dan struktur-struktur sosial yang memperkuat pemahaman masyarakat terhadap makna-makna, nilai-nilai dan motivasi-motivasi. Contoh yang sangat jelas adalah seorang profesor dari sebuah Universitas yang melibatkan diri dengan program-program riset yang dibiayai pemerintah. Implikasi dari haknya tersebut adalah ketergantungan Universitas dengan pemerintah dan lembaga dana. Paling tidak hal ini telah menunjukkan kepada kita bahwa produktivitas riset (ideologi) dan mutu pendidikan telah berkembang sedemikian rupa mendukung sistim ketergantungan yang telah tercipta. Tanpa memahami perkembangan historis tentang struktur ketergantungan dan sistim legitimasi sangat sulit untuk merubah struktur keilmuan yang sudah rusak seperti itu. Dengan memahami kondisi-kondisi sosial, ideologi-ideologi dan aksi-aksi yang telah dilakukan selama ini, seorang peneliti kritis dapat melontarkan kritik untuk perubahan. 5. Mengurai kontradiksi fundamental yang sedang berkembang sebagai hasil dari rangkaian aksi yang dilakukan berdasarkan pemahaman ideologi beku.

Dibawah kondisi dan ideologi yang dipahami secara statis dan tertutup, banyak aksi yang melakukan secara tanpa kontrol ( Fay, 1976 : 95). Seperti dikatakan Giddens, dalam suatu sistim sosial seringkali masyarakat tidak paham benar dengan kondisi-kondisi sosial yang secara ideologi menekan kehidupan mereka karena terbiasanya, mereka hidup dalam situasi tersebut. ( 1976 : 102). Peneliti kritis mempelajari situasi-situasi sosial yang merupakan produk sejarah untuk dirubah bersama-sama masyarakat melalui program aksi. Bila kita 13

kembali pada dunia ketergantungan Universitas terhadap badan-badan pemberi dana, maka semuanya akan menjadi lebih jelas. Para Ilmuwan di Universitas yang menjalin kerjasama dengan suatu badan dana baik pemerintah atau bukan, biasanya tidak bebas pada kepentingannya. Karena secara ideologis kepentingan itu berbenturan maka hal ini akan menimbulkan masalah. Meskipun demikian banyak ilmuwan di Universitas tidak merasakan bahwa hal tersebut adalah masalah besar karena mereka sudah terkungkung dalam struktur ketergantungan dana. Kalau mereka patuh maka kegiatan-kegiatan riset dapat berjalan terus karena pada prinsipnya pihak pemberi dana merasa senang. Tidak jarang karena situasi ini pusat-pusat penelitian Universitas merupakan struktur organisasi yang sama dengan organisasi-organisasi swasta pemberi dana. Jadi ketergantungan mereka semakin besar. Untuk mengatasi masalah ini sudah tentu sangat tergantung dari kesadaran kelompok intelektual dan administrator kampus untuk merubah kondisi yang relatif sudah mapan beberapa lama atau untuk merubahnya. Adorno (1976 : 256) menyebut usaha memahami kontrakdisi fundamental tersebut sebagai analisis immanent (harus dilakukan) atau analisis internal tentang hubungan dialektis .... sejauh mana fihak pertama memasukkan tekanan struktural terhadap pihak yang lain. Analisis ini meletakkan dasar yang kokoh untuk melakukan kritik terhadap ideologi dominan yang menghalangi masyarakat pada umumnya untuk memahami situasi sosial nyata. Kritik demikian harus dilakukan atas dasar pemahaman realitas sosial yang ada dalam kaitannya dengan ideologi yang berkembang saat ini. Melalui analisis tentang hubungan antara kondisi sosial, ideologi dan aksi, peneliti kritis membantu masyarakat untuk melihat mengapa kondisi-kondisi sosial masa lalu tidak dapat dipahami. Peneliti harus menunjukkan betapa kondisi-kondisi sosial pada saat itu diciptakan hanya menguntungkan sekelompok orang tertentu dan menekan kelompok lainya, atau peneliti menujukkan betapa ideologi yang berkembang pada saat ini tidak peka menagkap dan menerjemahkan kondisi-kondisi sosial. Setelah dilalui tahap interprestasi studi empiris dan dialog maka peneliti harus berpartisipasi dalam program pendidikan dan memberikan bantuan kepada rakyat dalam mengembangkan strategistrategi untuk perubahan. Dua langkah berikutnya dalam metode riset kritis berkaitan dengan segi-segi praktis dari riset kritis.

6.

Partisipasi dalam program pendidikan bersama masyarakat dan membantu mereka untuk melihat cara-cara baru agar dapat memahami situasi mereka. Ilmu sosial kritis dibedakan secara fundamental dari ilmu sosial 14

positif karena perbedaannya dalam proses penelitian. Menurut Fay (1976 : 102) tujuan utama melibatkan masyarakat dalam proses riset adalah agar masyarakat dapat melihat diri mereka sendiri serta situasi sosial yang menekan kehidupan mereka. Sebuah program pendidikan dilakukan bersamaan antara peneliti dan masyarakat setelah mereka semua melihat adanya kontradisi-kontradisi sosial yang tercipta melalui proses sejarah. Lebih jauh hal ini menunjukkan bagaimana kondisikondisi itu berubah dan bagaiman pula kondisi-kondisi tersebut dapat dirubah pada masa yang akan datang kearah kondisi yang lebih baik. Akhirnya sebuah program pendidikan harus dapat membangkitkan semua partisipan untuk pemahaman dan aksi baru. Model pendidikan yang tepat bukanlah model pendidikan formal, tetapi model dialog antara peneliti dan masyarakat untuk menjawab masalah kongkrit yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Masalah tersebut harus datang dari masyarakat bukan dari peneliti. Begitu mendesaknya masalah yang harus segera dipecahkan sehingga kalau tidak ada jalan keluarnya, maka hal tersebut akan semakin menyiksa kehidupan mereka. Peneliti dapat saja melakukan kritik pada masyarakat sehubungan dengan tingkat pemahaman bersama dan aksi yang dilakukan tetapi dengan menggunakan bahasa masyarakat (Sandberg, 1976 :227). Yang ditunjukkan pada masyarakat bukan hanya bagaimana masalah itu timbul tetapi bagaimana mereka dapat melakukan aksi untuk merubah situasi sosial yang menindas. Paulo Freire (1970 a, 1970 b.) menawarkan sebuah model pendidikan yang membebaskan. Selanjutnya Freire menyatakan sebagai berikut : ...... Masyarakat tidak boleh berperan hanya sebagai penerima ide, tetapi mereka semua adalah subyek yang dapat memberikan dan mengeluarkan ide, karena adalah orang-orang yang paling paham terhadap realitas sosial budaya historis maka mereka juga paham bagaimana realitas tersebut dapat dirubah ( 1970 a : 27). Sebuah program pendidikan kritis mempunyai satu kriteria kritis yakni : bahwa program itu menjadikan para subyek yang tersebut didalamnya menjadi manusia dinamis. Ini merupakan suatu alasan mengapa pendidikan bukanlah merupakan tujuan akhir dari proses riset. Pendidikan dialogis merupakan satu bagian integral dari setiap program riset yang melihat manusia sebagai subyek yang aktif untuk melakukan perubahan sosial. Tujuan riset kritis bukan terbatas hanya bagaimana melakukan perubahan sektoral, tetapi lebih jauh dari itu, yakni melakukan aksi dan perubahan politik. 7. Partisipasi dalam program aksi yang bertujuan merubah kondisi sosial.

Tujuan peneliti dan teoristisi adalah melakukan aksi dengan cara terlebih memahami makna-makna dan kondisi sosial saat ini sebagai produk sejarah (Sandberg, 1976 : 62). Langkah terakhir dari riset ini 15

adalah meninjau kembali aksi politik yang dilakukan oleh masyarakat untuk disesuaikan dengan masalah-masalah sosial yang dihadapi masyarakat. Aksi menjadi penyadaran refleksi melalui pendidikan kritis sementara kondisi-kondisi sosial menjadi konstruktor secara sistematis melalui analisis kritis. Pada tahap ini secara tegas dikaitkan antara teori dan praktek, sedangkan pemikiran kristis sebagai hasil dari hubungan teori dan praktek menjadi sebuah kekuatan sosial aktif. Melalui aksi kritis maka faktor-faktor subyektif dan obyektif menjadi kekuatan perubahan revolusioner. Dalam hal validitasnya teori kritis hanya dapat diuji kebenarannya melaui praktek dan oleh karena itu, ini memerlukan keterlibatan peneliti dalam kegiatan politik rakyat. Alasan utama lainnya bagi peneliti untuk terlibat dalam aksi politik adalah agar dia bersama rakyat atau kelompok-kelompok masyarakat dapat menjadi pelaku perubahan. Jika peneliti hanya berusaha menjawab keluhan dari kelompok-kelompok yang didominasi seperti dikatakan Fay (1976), dia sebetulnya hanyalah membantu masyarakat untuk memecahkan masalah individual semata. Tetapi apabila yang muncul bukanlah keluhan tetapi benar-benar kebutuhan riil rakyat maka peneliti kritis harus merumuskan aksi politik bersama rakyat yang mengarah pada penciptaan kondisi-kondisi sosial baru yang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat seperti partisipasi, keadilan, kemanusiaan, kreatifitas, demokratisasi dan kontrol kolektif (Heller, 1973). Biasanya tantangan yang dihadapi peneliti sebagai partisipan adalah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan aksi politik. Selanjutnya aksi polotik tersebut dapat meningkatkan pemehaman masyarakat terhadap peristiwa historis yang mempengaruhi kehidupan mereka. Hal ini memerlukan partisipasi terusmenerus dalam analisis kritis, pendidikan dan aksi. Oleh karena itu peneliti kritis tidak boleh memasuki kelompokkelompok progressive dengan setengah niat/kesungguhan. Ini berarti peneliti kritis harus benar-benar dapat menyatu dengan rakyat karena tujuan utamanya adalah meningkatkan kesadaran kritis rakyat dalam melakukan suatu bentuk aksi yang terencana dalam periode waktu tertentu. Persoalan yang timbul kemudian adalah bahwa pelaku penelitian harus dapat melakukan selektif terhadap kelompok-kelompok refleksif, tidak hanya terdiri dari sekumpulan orang yang dapat menganalisis situasi sosial saja, melainkan yang sanggup melakukan analisis yang kritis dan melakukan aksi bersama untuk perubahan, sekaligus juga melakukan evaluasi bersama. Peran peneliti kritis yang paling utama dalam proses riset adalah bagaimana harus melakukan analisis dan dialog bersama rakyat karena hanya dengan melalui cara inilah pengetahuan masyarakat dapat ditingkatkan dan pengalaman mereka dapat diendapkan menjadi bentuk pemilikan bersama yang mendatangkan manfaat bersama pula.

16

IV.

KESIMPULAN

Melihat gambar 1 kita akan dapat membedakan secara jelas antara ilmu sosial kritis dengan ilmu sosial positif. Ilmu sosial positif memulai proses kegiatan penelitian dari identifikasi masalah ilmiah, mengumpulkan data dan menguji hipotesa yang diajukan, dan akhirnya menerima atau menolak teori yang dicoba dikembangkan. Riset sosial kritis justru memulai kegiatannya dalam masalah-masalah praktis dan secara ideologis menindas terhadap sebagian besar kelompok lemah. Proses penelitian itu dimulai dengan interpretasi, studi data empiris dan dialog serta analisis bersama masyarakat untuk tujuan praktis. Inilah yang disebut sebagai sebuah metode p r a x i s karena merupakan kombinasi dari kegiatan analisis dengan tindakan praktis. Tujuannya tidak hanya sekedar mengenali dunia, tetapi merubahnya. Manusia dalam kondisinya dilihat sebagai obyek sekaligus subyek yang sadar melakukan perubahan. Karena itu pula maka riset ini adalah demokratis dan terbuka terhadap berbagai macam kritik dan evaluasi lebih lanjut. Metode riset kritis yang demikian adalah dasar dari teori-teori kritis yang tidak dapat dilepaskan begitu saja kaitannya dengan dunia politik praktis, pergolakan-pergolakan politik untuk mencapai suatu kebebasan polotik manusia dalam arti yang sebenar-benarnya dan seluas-luasnya.

17