Anda di halaman 1dari 5

I.

REDUKSI TERTUTUP

Pembiusan dengan anestesi umum Posisi pasien terlentang, dikerjakan di kamar operasi dengan anestesi general atau lokal. Disinfeksi lapangan operasi dengan larutan hibitan-alkohol 70% 1:1000. Lapangan operasi dipersempit dengan linen steril Jarak antara tepi rongga hidung ke sudut nasofrontal diukur, kemudian instrumen dimasukkan sampai batas kurang 1 cm dari pengukuran tadi.

Fragmen yang depresi diangkat dengan elevator dalam arah berlawanan dari tenaga yang menyebabkan fraktur, biasanya kearah antero-lateral. Reposisi fraktur nasal dapat dilakukan dengan forsep Walsam, sedangkan untuk reposisi fraktur septum digunakan forsep Walsam.

Jangan terlalu ditekan (dibawah tulang hidung yang tebal dekat sutura nasofrontal) karena daerah ini jarang terjadi fraktur, lagipula bisa menyebabkan robekan mukosa dan perdarahan.

Reduksi di sempurnakan dengan melakukan molding fragmen sisa dengan menggunakan jari. Pada kasus fraktur dislokasi piramid bilateral, reduksi septum nasal yang tidak adekuat menyebabkan reposisi hidung luar tidak memuaskan.

Stabilisasi septum dengan splints Silastic, pasang tampon pada tiap lubang hidung dengan sofratul. Splints dengan menggunakan gips kupu-kupu. Tampon dilepas pada hari ke 3 paska reposisi.

Meskipun kebanyakan fraktur nasal dan septal dapat direduksi secara tertutup, beberapa hasilnya tidak optimal, disini penting merencanakan reduksi terbuka.

II. REDUKSI TERBUKA Tahapan operasi

Penderita dalam anestesi umum dengan pipa orotrakheal, posisi telentang dengan kepala sedikit ekstensi.

Desinfeksi lapangan operasi dengan larutan Hibitane dalam alkohol 70% 1: 1000, seluruh wajah terlihat.

Persempit lapangan operasi dengan menggunakan kain steril Insisi pada kulit ada beberapa pilihan, melalui bekas laserasi yang sudah terjadi, insisi H, insisi bilateral Z, Vertikal midline, insisi bentuk W.

Insisi diperdalam sampai perios dan perdarahan yang terjadi dirawat. Perios diinsisi, dengan rasparatorium kecil fragmen tulang dibebaskan. Dilakukan pengeboran fragmen tulang dengan mata bor diameter 1 mm, tiap pengeboran lindungi dengan rasparatorium dan disemprot dengan aquadest steril.

Lakukan reposisi dan fiksasi antara kedua fragmen tulang dengan menggunakan kawat 03 atau 05, sesuaikan dengan kondisi fragmen tulang. Pada fraktur komunitif dapat dipertimbangkan penggunaaan bone graft.

Luka diirigasi dengan larutan garam faali. Luka operasi dijahit lapis demi lapis, perios, lemak subkutan dijahit dengan vicryl atau dexon 03, kulit dijahit dengan dermalon 05. Elevasi dari kepala dan penggunaan kompres air dingin pada daerah periorbital dan regio

nasal sendiri dapat membantu untuk mengurangi edema yang terjadi. Untuk teknik pembedahannya sendiri tergantung dari fraktur hidung yang terjadi.

Teknik reduksi tertutup dapat dilakukan dengan anestesi lokal atau lokal anestesia dengan sedasi yang ringan. Indikasinya antara lain fraktur sederhana dari tulang hidung, fraktur sederhana dari komplek septum-nasal. Sedangkan untuk teknik reduksi terbuka membutuhkan sedasi yang lebih dalam atau anestesia umum. Indikasinya antara lain fraktur luas-dislokasi dari tulang nasal dan septum, dislokasi fraktur dari septum kaudal, fraktur septum terbuka, deformitas persisten setelah reduksi tertutup,untuk indikasi relatifnya seperti hematom septum,reduksi tulang yang inadekuat terkait dengan deformitas pada septum,deformitas kartilagenus, pembedahan intranasal baru-baru ini.

Fraktur Tulang Hidung Pada trauma muka paling sering terjadi fraktur hidung. Diagnosis fraktur hidung dapat dilakukan dengan inspeksi, palpasi dan pemeriksaan hidung bagian dalamdilakukan dengan rinoskopi anterior, biasanya ditandai oleh adanya pembengkakanmukosa hidung, terdapatnya bekuan dan kemungkinan adanya robekan pada mukosaseptum, hematoma septum, dislokasi atau deviasi pada septum.Arah gaya cedera pada hidung menentukan pola fraktur. Bila arahnya dari depanakan menyebabkan fraktur sederhana pada tulang hidung yang kemudian dapatmenyebabkan tulang hidung menjadi datar secara keseluruhan. Bila arahnya dari lateraldapat menekan hanya salah satu tulang hidung namun dengan kekuatan yang cukup,kedua tulang dapat berpindah tempat. Gaya lateral dapat menyebabkan perpindahanseptum yang parah. Sedangkan gaya dari bawah yang diarahkan ke atas dapat menyebabkan fraktur septum parah dan dislokasi tulang rawan berbentuk segi empat.

Gambaran klinis yang biasa ditemukan pada pasien dengan riwayat trauma pada hidung atau wajah, antara lain: -Epiktasis -Perubahan bentuk hidung - Obstruksi jalan nafas - Ekimosis infraorbital

Pemeriksaan penunjang berupa : foto os nasal, foto sinusparanasal posisi Water dan juga bila perlu dapat dilakukan pemeriksaan CT scan untuk melihat fraktur hidung ataukemungkinan fraktur penyerta lainnya.

Fraktur nasal dapat diklasifikasikan menjadi: 1.Fraktur hidung sederhana, merupakan fraktur pada tulang hidung saja sehingga dapatdilakukan reposisi fraktur tersebut dalam analgesi lokal. Akan tetapi pada anak-anak atau orang dewasa yang tidak kooperatif tindakan penanggulangan memerlukan anestesi umum.

2.Fraktur tulang hidung terbuka, menyebabkan perubahan tempat dari tulang hidungtersebut yang juga disertai laserasi pada kulit atau mukoperiosteum rongga hidung Kerusakan atau kelainan pada kulit dari hidung diusahakan untuk diperbaiki atau direkonstruksi pada saat tindakan.

3.Fraktur tulang nasoorbitoetmoid kompleks Jika nasal piramid rusak karena tekanan atau pukulan dengan beban berat akanmenimbulkan fraktur yang hebat pada tulang hidung, lakrimal, etmoid, maksila danfrontal. Tulang hidung bersambungan dengan prosesus frontalis os maksila dan prosesua nasalis os frontal. Bagian dari nasal piramid yang terletak antara dua bolamata akan terdorong ke belakang. Terjadilah fraktur nasoetmoid, fraktur nasomaksiladan fraktur nasoorbita.

Untuk memperbaiki patah pada tulang hidung tersebut, tindakan yang dapatdilakukan ialah: 1.Reduksi tertutup, dilakukan dengan analgesia lokal atau analgesia lokal dengansedasi ringan. Indikasi nya adalah: - Fraktur sederhana tulang hidung - Fraktur sederhana septum hidungReduksi tertutup paling baik dilakukan 1-2 jam sesudah trauma karena pada waktu tersebut edem yang terjadi mungkin sangat sedikit.

2.Reduksi terbuka, dilakukan dengan sedasi yang kuat atau analgesi umum. Indikasi nya adalah : - Fraktur dislokasi ekstensif tulang dan septum hidung - Fraktur septum terbuka - Fraktur dislokasi septum kaudal -Persisten deformitas setelah reduksi tertutup

Referensi : 1. Soepardi AE., Iskandar N., Bashiruddin J., Restuti RD. Trauma Muka dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung Tenggorok Kepala & Leher.Ed 6. 2007.Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

2.http://www.patient.co.uk/doctor/Maxillofacial-Injuries.htm. Maxillofacial Injuries

3. LELES Jose Luiz Rodrigues, SANTOS Enio Jose dos, JORGE Fabrcio David,SILVA Erica Tatiane da, LELES Cludio Rodrigues. Risk factors for maxillofacial injuries in a Brazilian emergency hospital sample.2009, August11st.

4.http://emedicine.medscape.com/article/878595-overview#a05.Nasal and Septal Fractures.

5.Nesbitt B. Elizabeth, Leeds C. R. Duncan.Fractures of The Zygoma Bone. BritishMedical Journal. 1945, April 14th