Anda di halaman 1dari 14

STUDI KINETIKA PELARUTAN BATUAN TEMBAGA MALACHITE Iwan Setiawan Komplek Puspiptek Gedung 470, Serpong Tangerang Telp.

021-7560911, Fax . 0217560553 Abstrak Kebutuhan asam dari suatu pelarutan bijih tembaga teroksidasi merupakan salah satu faktor penting secara ekonomi dan kuantitasnya harus dapat ditentukan secara optimal untuk mendapatkan proses pelarutan yang efisien. Berbagai teknik pelarutan dengan asam dan basa telah dilakukan para peneliti dengan maksud mencari sifat-sifat kimia yang efektif dan efisien untuk berbagai kepentingan penelitian dan pengembangan. Pada Penelitian ini telah dipelajari suatu studi kinetik oleh asam sulfat dari bijih tembaga teroksidasi khususnya Malachite yaitu salah satu jenis sumber tembaga teroksidasi yang tersebar di sebagian Pulau Sumatera dan Jawa. Parameter-parameter yang diukur yaitu pengaruh dari waktu leaching, kecepatan pengadukan, konsentrasi asam dan perbandingan solid liquid, temperature dan ukuran dari bijih. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu menentukan jenis reaksi yang terjadi antar asam sulfat dengan malachite. Berdasarkan data percobaan yang telah diperoleh didapatkan kondisi terbaik diperoleh recovery 94% pada 250C dan 99% pada 800C setelah 180 menit waktu leaching. Pelarutan dari Malachite selama leaching diGambarkan sebagai fungsi logaritma, y=a ln(x) + B. Berdasarkan data dari pelarutan awal menggunakan asam sulfat diketahui bahwa kinetika pelarutan batuan tembaga jenis malachite dikontrol oleh suatu reaksi diffusi. Kata kunci : konsumsi asam, bijih tembaga teroksidasi, studi kinetika, malachite, reaksi difusi Abstract The relationship of percent copper extraction to acid consumption must be refined to optimized the economic value and the consumption quantity must be known to get the efficiency of extraction. A study kinetics of the sulfuric acid leaching of oxidized copper ore malachite from North Sumatera was carried out. The effect of leaching time, stirring, sulfuric acid concentration, ratio solid liquid, temperature, particle size were analyzed. The optimum condition, copper recovery about 90% at 25 0C and 98% at 800C after 30 minute leaching time in 1.0 M sulfuric acid concentration with liquid/solid ratio 6:1 at 150 rpm. Malachite dissolution during leaching can be described by logaritmic function. Basic on data obtained for the leaching kinetics indicated that the initial dissolution of malachite is a diffusion controlled reaction. Keywords : Malachite, Acid consumption, oxidized copper ore, study of Kinetics, Diffusion controlled

TINJAUAN TERTUNDANYA PENGOLAHAN LATERIT DENGAN TEKNOLOGI HPAL DI INDONESIA. Puguh Prasetiyo Puslit Metalurgi LIPI Kawasan PUSPIPTEK Serpong Gedung 470 Abstrak Ada dua jenis sumber daya alam bijih nikel, yaitu nikel sulfida dan nikel oksida yang lazim disebut laterit. Menurut R.A. Alcock dari pusat riset PT INCO di Mississauga Canada, Indonesia memiliki sumber daya alam bijih nikel nomor dua (2) di dunia.. Menurut data Oktober 2006 dari CRU Analysis London Inggris, sumber daya alam bijih nikel dunia 73 % adalah laterit,dan produksi nikel dari laterit 44 %. Proyek HPAL (High Pressure Acid Leaching) di pulau Gag Papua dan Halmahera merupakan proyek kunci untuk memenuhi kebutuhan nikel dunia. Menurut data September 2007 dari India Infoline, sekitar 61 % produksi nikel yang diperoleh dari pengolahan bijih nikel (nikel sulfida dan nikel oksida) digunakan untuk stainless steel, dan berdasarkan hasil eksplorasi cadangan nikel (nickel reserves) Indonesia 5 % cadangan nikel dunia. Dari keterangan diatas menunjukkan kepada kita bahwa Indonesia memiliki posisi strategis untuk memenuhi kebutuhan nikel dunia. Karena nikel digunakan untuk material metalurgi terutama untuk stainless steel dan material non metalurgi. Ada dua jalur proses untuk mengolah laterit, yaitu pyrometalurgi dan hydrometalurgi. Pyrometalurgi digunakan untuk mengolah laterit jenis saprolit yang berkadar Ni tinggi untuk memproduksi ferro nikel (FeNi) seperti pabrik FeNi PT Aneka Tambang di Pomalaa Sultra (Sulawesi Tenggara), atau untuk memproduksi nikel matte (NiS) seperti pabrik PT INCO PMA (Penanaman Modal Asing) dari Canada di Sorowako juga di Sultra. Hydrometalurgi digunakan untuk mengolah laterit jenis limonit yang berkadar Ni rendah. Ada dua jalur proses untuk mengolah limonit, yaitu proses Caron pada umumnya digunakan untuk memproduksi nikel oksida (NiO) dan proses HPAL pada umumnya digunakan untuk memproduksi nikel sulfida (NiS). Pada tahun 1970-an pemerintah RI telah memberi ijin kepada PT Pasific Nickel USA untuk mengolah laterit di pulau Gag Papua dengan proses Caron. Selanjutnya pada tahun 1998 pemerintah RI juga memberi ijin kepada dua PMA untuk mengolah laterit dengan proses HPAL, yaitu PT BHP Australia untuk mengolah laterit di pulau Gag Papua setelah pemerintah mencabut ijin PT Pasific Nickel,dan PT Weda Bay Nickel (WDN) Canada untuk mengolah laterit dengan proses HPAL di teluk Weda Halmahera. Sampai tahun 2008 ternyata rencana PT BHP dan PT WDA belum menjadi kenyataan.Tertundanya dua proyek HPAL tersebut akan ditinjau pada tulisan ini dengan fokus pada bahan baku limonit dengan mengacu pada kegagalan tiga HPAL plant di Australia (Bulong, Cawse, dan Murrin Murrin), dan kesuksesan HPAL plant di Moa Bay Cuba. Mudah mudahan tulisan ini bermanfaat.

Kata Kunci : laterite, limonit, stainless steel, pyrometalurgi, hydrometalurgi, Caron, HPAL. Abstract There are nickel sulfide and nickel oxide (laterite) in the nature. Indonesia have the second resources of nickel ore in the world. CRU Analysis London reported on October 2006 that the resources of nickel ore 73 % are laterite and the nickel production 44 % from laterite. The HPAL project at Gag island and Halmahera are the key project to supply nickel in the world. India infoline reported on September 2007 that the production of nickel from nickel ore (nickel sulfide & laterite) about 61 % are used for stainless steel, and the reserve Ni in Indonesia are 5 % the reserve nickel in the wold. The explanation at above show that Indonesia have strategic position to supply nickel in the wold. Because nickel are used for metallurgy material and non metallurgy. There are two technology to process laterite, pyrometallurgy to process saprolite and hydrometallurgy to process limonite.Pyrometallurgy are used to produce ferro nickel (FeNi) as PT AnTams plant in Pomalaa or to produce nickel matte (NiS) as PT INCOs plant in Sorowako. There are two process to process limonite with hydrometallurgy, Carons process to produce nickel oxide (NiO) and HPAL (High Pressure Acid Leaching) to produce nickel sulfide (NiS). PT Pasific Nickel Indonesia USA has been got permission to process laterite at Gag island Papua with Carons process from the government on 1970s. Then PT BHP Australia to process laterite at Gag island Papua with HPAL after the government revoked the permit from PT Pasific Nickel, and PT Weda Bay Nickel (WBN) Canada to process laterite at Weda Bay Halmahera island Papua with HPAL on 1998. Until 2008, the two company still delay the project almost its have been finished the feasibility study. The delay of three project will contemplate in this paper with the focus on the limonit are used as raw material with the reference from the unsuccesfull three HPAL plant in Australia (Bulong, Cawse, and Murrin Murrin), and the succesful of Moa Bay plant in Cuba. The author hopes this paper will usefull. INDUSTRI STRATEGIS LOGAM BESI DI INDONESIA

Edi Herianto Pusat Penelitian Metalurgi LIPI Kawasan Puspiptek Serpong Tangerang 15314 HP. 0815.8857960. e-mail : edih001@lipi.go.id Abstrak Kalau kita perhatikan dimulai dari bangun tidur, dimana spiral kasur yang kita tiduri terbuat dari baja, lalu mandi kran air yang kita gunakan terbuat dari besi. Kemudian sarapan pagi dimana kompor untuk memasak serta sendok dan garpu yang kita gunakan juga terbuat dari besi. Setelah itu kita berangkat kekantor menggunakan kendaraan juga

terbuat dari besi, sebelum sampai kekantor kita melewati jembatan yang bahan konstruksinya terbuat dari besi pula. Lalu kita sampai kekantor dimana tiang-tiang konstruksi kantor yang kita naungi juga terbuat dari besi. Kalau begitu betapa besarnya manfaat besi bagi kehidupan kita sehari-hari, sesuai dengan Firman Allah dalam surah AlHadid ayat 25. Sehingga dengan demikian kalau kita mengacu pada kebutuhan besi bagi kehidupan manusia maka dapat kita katakan industri besi merupakan industri yang strategis untuk kita kembangkan di bumi Indonesia tercinta ini, mengingat allah telah melimpahkan sumber daya bahan baku yang begitu besar di tanah air ini. Mari kita fokuskan penelitian kita dalam pengolahan besi menjadi berbagai spesifikasi, terutama untuk kebutuhan dalam negeri, kalau ada sisanya baru kita jual keluar negeri. Dalam tulisan ini akan diuraikan keberadaan bahan baku pengolahan besi di Indonesia, teknologi pengolahan maupun kegunaan dari besi ini secara umum. Kata Kunci : Al-hadit ayat 25, industri straregis, besi, baja, kebutuhan dalam negeri. PROSES PEMBUATAN KOKAS METALURGI DARI PETROLEUM COKE

KARAKTERISASI ENDAPAN URAT KWARSA PONGKOR, KABUPATEN BOGOR

Rustiadi Purawiardi Pusat Penelitian Metalurgi LIPI Kawasan Puspiptek Serpong Tangerang 15314 Abstrak Secara geografis gunung pongkor terletak diantara 106 o 33 06 Bujur Timur dan 6 39 30 lintang selatan. Secara adminstrasi termasuk ke dalam wilayah kecamatan Leuwiliang, kabupaten Bogor. Secara stratigrafis endapan bijih di Gunung Pongkor terbentuk pada batuan berumur tersier, yang dikenal sebagai batuan sedimen vulkanik andesit tua, yang terdiri dari tuf breksi, tuf lapili, dan batuan terobosan andesit yang menerobos batuan breksi vulkanik berumur kwarter. Batuan formasi andesit tua tersebut mengalami ubahan hidrotermal serta termineralisasi akibat terobosan batuan yang lebih muda umurnya. Tuf breksi berwarna kelabu, mengandung fragmen batuan andesit didalam masa dasar tuf. Tuf breksi ini berselingan dengan batulempung hitam dengan ketebalan lebih dari 15 cm dan memperlihatkan struktur sedimen gelembur gelombang. Batuan tersier tersebut diendapkan dalam lingkungan laut ( adanya foraminifera ). Tuf lapili berwarna coklat sampai hijau yang berselingan dengan breksi berwarna hitam , dapat dikorelasikan dengan formasi Cimapag berumur miosen awal. Batuan terobosan andesit tersingkap di bagian timur dan barat Gunung Pongkor dan di lembah-lembah sungai sekitarnya. Batuan terobosan andesit tersebut diinterpretasikan berumur Miosen Tengah. Breksi vulkanik tersingkap di sebelah tenggara daerah Gunung Pongkor, terbentuk pada Akhir Tersier , menutupi tidak selaras batuan Formasi Bojongmanik dan terobosan andesit, diinterpretasikan berumur Plio-Pleistosen. Di daerah Pongkor diketemukan 4 urat kwarsa , yaitu urat Cicurug- Cikoret, urat Kubang Cicau, urat Ciguha, dan urat Pasir Jawa yang masing masing membentuk hampir sejajar dalam jarak 300 sampai dengan 800 m. Arah umum urat U 330o T dan dibeberapa tempat dapat berubah menjadi U 30o T dengan kemiringan bervariasi antar 60 o sampai dengan 85 oo . urat Cicurug-Cikoret dan Ciguha merupakan urat tunggal, sedangkan urat cikubang Cicau terdiri dari beberapa urat. Endapan urat kwarsa Pongkor merupakan urat kwarsa yang mengandung emas dan perak. Urat kwarsa ini dikenal sebagai endapan urat ( vein ) jenis epitermal yang dicirikan oleh hadirnya mineral- mineral minor seperti kalkopirit, galena, tennantit, tetrahedrit, argentit, elektrum, besi hidroksida, perak, dan mineral utama adalah Kwarsa. Tujuan utama dari penelitian endapan urat kwarsa Pongkor adalah untuk mengetahui komposisi mineral yang terdapat didalam urat kwarsa Pongkor, juga untuk mengetahui struktur mikro dari urat kwarsa ini, apakah adanya emas dan perak terakumulasi, atau berupa inklusi dalam mineral utama, yang selanjutnya dapat meginterpretasikan dari keberadaan endapan emas dan perak tersebut.
o

Edi Herianto Pusat Penelitian Metalurgi LIPI Kawasan Puspiptek Serpong Tangerang 15314 HP. 0815.8857960. e-mail : edih001@lipi.go.id Abstrak Telah dilakukan percobaan pembuatan kokas metalurgi untuk pengecoran (Foundry Coke) dari petroleum coke. Petroleum coke yang digunakan berasal dari residu kilang minyak berteknologi hydro cracker dari Dumai Riau, teknologi tersebut merupakan satu-satunya kilang minyak yang ada di Indonesia. Percobaan ini dilakukan untuk melihat sejauhmana bahan baku berupa petroleum coke yang terdapat di Indonesia untuk dapat dibuat menjadi kokas pengecoran baik ditinjau dari sifat fisik maupun sifat kimianya. Karena salah satu bahan karbon yang dapat dibuat kokas pengecoran (kokas dalam bentuk bongkahan) selama ini hanyalah cooking coal dan Petroleum coke. Indonesia tidak memiliki cadangan endapan untuk cooking coal, sedangkan petroleum coke hanya satu-satunya yang ada di Dumai. Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan dalam batch reactor dengan proses karbonisasi tidak langsung, dimana sebelumnya petroleum coke dipadatkan berbentuk silender dengan ukuran , diameter 8.5 cm dan tinggi 9.5 cm. produk yang dihasilkan berupa kokas metalurgi dengan spesifikasi sebagai berikut : FC : 95.3 %, Nilai kalor : 7.880 kkal/kg, VM : 2.28 %, Sulfur : 0.65 % sedangkan kuat tekan : 190 kg/cm 2. Sedangkan temperatur proses pada : 950 - 1000 OC, ditahan selama 24 jam Kata Kunci : Petroleum coke, hydro cracker, Karbonisasi, kokas metalurgi, batch reactor.

Metoda pendekatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan diatas yaitu dengan pengujian makroskopik, x ray diffraction, Scanning Electrone Microscope ( SEM ). Pengujian makroskopik memperlihatkan bahwa mineral utama kwarsa dengan tekstur granular, diikuti oleh sulfida logam dasar dan logam berharga ( emas,perak). Sulfida logam sebagai pembawa utama perak dirubah menjadi argentit,sebagai hasil proses penggantian berupa urat halus ( veinlet) berselingan secara ritmik dengan besi hidroksida yang mengganti pirit, maupun berasosiasi dengan barit, besi hidroksida sebagai pengisian ruang berbentuk kotak ( boxwork). Hasil pengukuran dengan difraksi sinar x memperlihatkan mineral utama kwarsa , yang diikuti goetit dan sejumlah kecil mineral- mineral, pirit,kalkopirit, tennantit, tetrahedrit,polibasit, piersit, argentit, dan elektrum. Citra SEM memperlihatkan bahwa elektrum tersebar di dalam kwarsa dan oksida besi. Genesa terbentuknya urat kwarsa Pongkor berasal dari urat kwarsa yang mengisi breksi vukanik , tuf breksi, dan batuan andesit . Urat kwarsa selanjutnya diisi oleh besi hidroksida, kemudian mengalami penggantian oleh sulfida- sulfida tembaga, antimon, stibium, perak, sedangan elektrum tersebar di dalam kwarsa dan oksida besi. Kata Kunci : Urat kwarsa, Pongkor, argentit, epitermal. KARAKTERISASI ENDAPAN PASIR BESI PANTAI SELATAN JAWA BARAT Rustiadi Purawiardi Pusat Penelitian Metalurgi LIPI Kawasan PUSPIPTEK , Setu, Tangerang 15314 Abstract The south coast of West Java are the prospecting area for titaniferous iron sand. The Examination area were subtituted by the coast of Tegal Buleud area, district of Sukabumi, that are placer deposit, that lay between Cikaso and Cibuni river, along 15 km, with measured resources 5.097.500 ton. In general the placer deposit of iron sand were formed by weathering of iron bearing rock, then iron bearing mineral loose and were brought by river water to the sea, then were thrown down by waves . When the water were decreasing , deposited the fine iron sand along coast line formed sand dune, while the coarse iron sand were deposited in front of coast line to open sea. The Iron sand deposit of Tegal Buleud were originated from weathered volcanic rock that possessed andesitic composition, known as old andesite fomation, their position in northtern coast of Tegal Buleud. The method for examination the iron sand, firstly the samples were sieved by ASTM from -30# until -100#, then were done measurement and interpretation by x ray diffraction(XRD), x ray fluorescence(XRF), and Scanning Electrone Microscope ( SEM). From the result of X ray diffraction (XRD)measurement, the interpretation show that the characterization of iron sand of Tegal Buleud divided by several fractions, where every fraction are characterized by mineral association, there are: 1. -30# + 50 # Fraction, consist of minerals Plagioclase, Diopsid, Quartz 2. -50# + 60# Fraction , consist of minerals Plagioclase, Quartz, Diopside.

-60# + 80# Fraction, consist of minerals Plagioclase, Magnetite -80# + 100 # Fraction, consist of minerals Plagioclase, Magnetite Ilmenite 100 # Fraction , consists of minerals Magnetite, Ilmenite. By XRF, the Fe2O3 content reached 69.05% at -100# fraction and become 10.87% at -30# fraction , and The TiO 2 content reached 23.65% at -100# fraction and become 0.79% at -30# fraction . By SEM, the texture type of mineral between Magnetite and Ilmenite are intergrowth that it has a network type, which Ilmenite has a length type , crossing and almost perpendicular each other, there are in the groundmass of magnetite. The Ilmenite has 2 to 5 micron in width. The Separation physically Magnetite and Ilmenite from others minerals, can be done at 100# fraction. As a Conclussion 1. Magnetite and Ilmenite distributed dominantly at -100 mesh 2. Fe2O3 content reached 69.05% and TiO2 reached 23.65% at -100 mesh 3. Magnetite and Ilmenite can be separated from ganue minerals at -100 mesh 4. Magnetite and Ilmenite are intergrowth with network type 5. The width of Ilmenite ranging from 2 to 5 micron, so Ilmenite can be liberated at siever that finer than -100 mesh. Keywords: Iron sand deposit, magnetite, ilmenite, west Java. Abstrak Pantai Selatan Jawa Barat merupakan daerah yang prospek untuk endapan pasir besi bertitan. Daerah penelitian diwakili oleh daerah pantai Tegal Buleud, Kabupaten Sukabumi, yang merupakan endapan plaser, terletak antara sungai Cikaso dan Cibuni sepanjang 15 km, dengan sumber daya terukur 5.097.500 ton. Secara umum terbentuknya endapan pasir besi plaser berasal dari pelapukan batuan yang mengandung besi , kemudian mineral yang megandung besi tersebut terlepas dan terbawa air sungai sampai di laut, yang kemudian terhempaskan gelombang laut. Pada waktu air surut, diendapkan pasir besi yang berbutir halus sepanjang garis pantai dan membentuk gumuk pasir atau sand dune, sedangkan pasir besi yang berbutir kasar terendapkan di depan garis pantai menuju laut lepas. Endapan pasir besi Tegal Buleud berasal dari pelapukan batuan vukanik yang berkomposisi andesit, dikenal sebagai formasi andesit tua, yang letaknya disebelah utara pantai Tegal Buleud. Metoda pengujian pasir besi, pertamatama pasir besi disaring pada saringan ASTM dari -30 # sampai dengan -100#, kemudian dilakukan pengukuran dan interpretasi oleh x ray diffraction ( XRD), x ray flurescence ( XRF), dan Scanning Electron Microscope ( SEM ). Dari hasil interpretasi pengukuran Difraksi sinar X, karakteristik pasir besi pantai selatan Jawa Barat terbagi menjadi beberapa fraksi, dimana masing-masing fraksi dicirikan oleh kumpulan mineral tertentu, yaitu : 1. Fraksi -30 # + 50# , terdiri dari mineral-mineral Plagioklas, Diopsid, Kwarsa. 2. Fraksi -50# + 60 #, terdiri dari mineral-mineral Plagiolas, Kwarsa, Diopsid 3. Fraksi -60# + 80 #, terdiri dari mineral-mineral Plagiolas, Magnetitm 4. Fraksi -80# + 100 #, terdiri dari mineral-mineral Plagioklas, Magnetit, Ilmenit 5. Fraksi -100 # terdiri dari mineral-mineral Magnetit, Ilmenit.

3. 4. 5.

Dari hasil XRF memperlihatkan kandungan Fe2O3 mencapai 69.05 % pada fraksi -100 # dan menjadi 10.87% pada fraksi -30 # , dan kandungan TiO 2 mencapai 23.65 % pada fraksi -100 # dan menjadi 0.79% pada fraksi -30 # . Dari hasil SEM memperlihatkan bahwa bentuk tekstur mineral antara magnetit dan Ilmenit adalah intergrowth berbentuk network, yang mana Ilmenit berbentuk memanjang saling bepotongan hampir tegaklurus berada didalam massa dasar magnetit. Lebar Ilmenit 2 sampai 5 mikron. Pemisahan secara fisik Magnetit dari Ilmenit dari mineral lainnya, dapat dilakukan pada fraksi 100 # . Sebagai kesimpulan 1. Magnetite dan Ilmenite tedistribusi dominan pada fraksi -100 mesh 2. Kandungan Fe203 mencapai 69.05% dan TiO2 mencapai 23.65% pada fraksi -100 mesh 3. Magnetite dan Ilmenite dapat dipisahkan dari mineral gangue pada faksi -100 mesh 4. Magnetite dan Ilmenite memperlihatkan tekstur intergrowth berbentuk jaring ( network) 5. Lebar Ilmenite berkisar dari 2 sampai 5 mikron , dengan demikian Ilmenite terlberasi pada saringan lebih halus dari -100 mesh. Kata Kunci : Endapan pasir besi, magnetit, ilmenit, Jawa barat. STUDI KARAKTERISASI PENGOTOR BIJIH BESI PADA PROSES PELARUTAN DENGAN ASAM KLORIDA TANPA PEMANASAN Agus Budi Prasetyo dan Eko Sulistiyono Pusat Penelitian Metalurgi LIPI Gedung 470 Kawasan Puspiptek, Serpong, Tangerang Abstrak Telah dilakukan kegiatan pelarutan bijih besi dari Simpang Rusa yang tidak lengket magnet dengan menggunakan pelarut asam klorida tanpa pemanasan. Tujuan dari kegiatan ini yaitu pengamatan terhadap kelarutan besi oksida dari hasil penambangan bijih besi merupakan tahap awal dari pembuatan besi oksida murni ukuran nano. Dengan mengamati sifat-sifat pengotor yang terikut dalam proses pelarutan besi oksida maka kita dapat melakukan proses antisipasi terhadap adanya pengotor tersebut dan menentukan proses pelarutan yang tepat. Dalam kegiatan ini yang diamati adalah terlarutnya pengotor aluminium oksida, silika, magnesium dan titanium oksida yang mungkin larut dalam proses pelarutan besi oksida dengan menggunakan pelarut HCl pada berbagai konsentrasi dan dalam temperatur kamar. Tahapan proses pelarutan bijih besi adalah sebagai berikut bijih besi dari proses pemisahan magnet dihancurkan dalam bentuk ukuran halus kurang lebih 150 mesh. Dengan proses penghancuran ini dapat diperoleh proses pelarutan yang lebih cepat, dimana ukuran partikel lebih kecil dari 150 mesh sudah cukup memadai, setelah dihaluskan maka dilanjutkan dengan proses pelarutan menggunakan larutan HCl pada berbagai normalitas mulai dari 2,353 N sampai dengan 8,232 N. Adapun perbandingan pelarutan adalah 20 gram bijih besi dibandingkan dengan 200 ml larutan, hasil dari proses pelarutan

selanjutnya disaring dengan penyaring vacuum dam saringan kertas whatman No. 42 sehingga diperoleh padatan dan larutan yang jenih berwarna kuning, padatan yang berupa residu yang telah diperoleh selanjutnya dicuci dengan air sampai asamnya hilang. Selanjutnya dipisahkan antara air pencuci dan padatan endapan dengan menggunakan sentrifuge, padatan yang telah diperoleh selanjutnya dikeringkan, kemudian ditimbang untuk mengetahui beratnya, dilakukan proses analisis padatan yang telah kering dengan menggunakan analisis XRF di Pusat Penelitian Metalurgi. Pada proses pelarutan tersebut terlihat bahwa pengotor Al 2O3 ada kecenderungan semakin terlarut bersama dengan kenaikan konsentrasi asam. Sebaliknya untuk unsur SiO 2 , maka semakin tinggi konsentrasi asam klorida semakin tidak larut. Unsur yang lain karena jumlahnya sangat kecil seperti TiO2, MgO, dan MnO2 menunjukkan pelarutan yang tidak beraturan. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa untuk pembuatan bahan pigmen Fe2O3 perlu diperhatikan adanya unsur pengotor Al2O3 yang terikut dalam proses pelarutan. Kata kunci : Bijih besi, Pelarutan, Asam Klorida, Konsentrasi, Unsur pengotor Abstract Solution activities have been carried out iron ore from the Simpang Rusa are not sticky magnets by using acid chloride solvent without heating. Objectives of this activity is the observation of the solubility of iron oxide from the results of the iron ore mining is the initial phase of the pure iron oxide nano-size. With the observed characteristics of the full transformed in the process of iron oxide solution then we can anticipate the process to the polluter and the process of determining the appropriate solution. In this activity, which is observed solution polluter aluminum oxide, silica, magnesium and titanium oxide, which may be soluble in the solution process iron oxide by using the solvent in various concentrations of HCl and the temperature in the room. Solution phases of the process of iron ore is as follows iron ore from the process of separation magnets destroyed in the form of fine size of 150 mesh. With the demolition of this process can be obtained more quickly solution, where the size of particles smaller than 150 mesh is sufficient, then resumed after mashed with the process solution using HCl solution in the normal range from 2,353 N to 8,232 N. The comparison solution is 20 grams of iron ore compared with 200 ml of solution, the results of the process solution further filtered vacuum with a filter weir filter paper whatman No. 42 so that the solid solution and the clearly yellow, solid the form of residue that has been obtained then washed with water until acid lost. Next separated between the water cleaner and solid deposition using sentrifuge, solid have obtained further dried and weighed to know the severity, a process of analysis solid that have been dried using XRF analysis of the Metallurgy Research Center. In the solution process seen that the polluter Al 2O3 there is a tendency increasingly soluted together with the increasing concentration of acid. In contrast to SiO 2 elements, the higher the concentration of the acid chloride does not dissolve. The other elements because the amount is very small, such as TiO 2, MgO, and MnO2 shows solution that is not uniform. From the results of this research can be known that the pigment material for making Fe 2O3 need to consider the elements that transformed Al2O3 full solution in the process. Keywords: Iron ore, Solution, Acid Chloride, Concentration, Elements polluter

PENELITIAN PENDAHULUAN PEMBUATAN BESI NUGGETS DARI PASIR BESI TITAN Dedy Sufiandi Pusat Penelitian Metalurgi LIPI Komplek PUSPIPTEK Serpong Gedung 470 e-mail : dedy.sufiandi.lipi.go.id Abstrak Pasir besi titan yang ada di Indonesia cadangannya cukup besar terutama di daerah pantai selatan Pulau Jawa. Salah satu potensi pasir besi titan yang akan dilakukan adalah dari daerah Tegal Buleud, Pantai Selatan Sukabumi. Pemanfaatan pasir besi titan merupakan aletrnatif yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri baja yang dalam perkembangan dan kebutuhannya kian meningkat. Teknologi proses ini dikembangkan di Kobe Steel, Jepang sebagai alternatif proses tradisional yaitu proses Blast Furnace. Melalui proses yang digunakan adalah reduksi dari pellet yang telah mengandung flux kemudian di reduksi dan peleburan utuk mendapatkan logam nugget. Karakteristik besi nugget dilakukan dengan analisis berat jenis, SEM, mikrostruktur dengan kandungan besi berkisar 95 97% mirip besi tuang putih. Untuk mendapatkan kualitas pasir besi titan yang memenuhi persyaratan peleburan perlu dilakukan konsentrasi untuk meningkatkan kadar besi dengan cara magnetik separator. Proses reduksi langsung (Direct Reduction), pembuatan besi spons, proses peleburan langsung (Smelting Reduction) dan tanur tiup mini. Ketiga proses ini bisa dioperasikan dengan menggunakan batubara sebagai reduktor. Proses reduksi langsung dengan menggunakan batubara adalah proses SLRN yang digunakan untuk melebur konsentrat pasir besi di Selandia Baru dan proses berbasis RHF (Rotary Hearth Furnace). Selain itu teknologi ini juga banyak digunakan di India. Pasir Besi Titan daerah Tegal Buleud pantai Selatan Sukabumimerupakan batuan sedimen yang terbentuk endapan yang tersebar luas didaerah pantai maupun daratan. Pasir besi titan mengandung minera lmagnetic, ilmenit, dan hematite sebagai mineral-mineral utama dan beberapa pengotor. Endapan pasir besi di kabupaten Sukabumi terdapat disepanjang pantai Selatan memanjang ke arah Timur hingga 40 sampai 60 Km, meliputi kecamatan Ciracap, Surade, Jampang Kulon dan Tegal Buleud. Hasil reduksi dan peleburan diperoleh pig iron nugget dengan hasil analisa SEM dimana logam besi terpisah dari slag, sedang logam titan sebagian masih berada di dalam besi sehingga belum seluruhnya masuk di dalam slag. Sehingga, masih diperlukan perbaikan atau penyempurnaan. Kata Kunci : pig iron nugget, green pellet, iron smelting, magnetic separator

PENELITIAN PENDAHULUAN PEMBUATAN NICKEL CONTAINING PIG IRON (NCPI) Raharjo Binudi dan Edi Herianto Pusat Penelitian Metalurgi LIPI Kawasan Puspiptek Serpong Tangerang 15314 HP. 0815.8857960. e-mail : raha001@lipi.go.id Abstrak Pemberdayaan sumber daya iron cap diharapkan dapat memberikan nilai tambah (added value) bagi negara baik secara ekonomi maupun kemampuan untuk mengolah hasil tambang. Sampai saat ini Iron Cap belum diusahakan sebagai komoditas yang mempunyai nilai ekonomi, jumlah cadangan meliputi milayaran ton dari hasil samping penambangan nikel di Indonesia. Pig iron yang mengandung nikel (nickel containing pig iron) merupakan produk baru hasil olahan bijih laterit (iron cap). Komposisi utam aproduk ini sekitar 94% Fe dan 3% Ni. Kandungan Ni yang terkandung didalamnya memungkinkan bahan ini dapat digunakan sebagai baku material unggul untuk : pertahanan ( ultra high strength, hard material), transportasi (tahan korosi), energi (tahan pada suhu tinggi) dan lain sebagainya. Dari serangkaian penelitia pendahuluan untuk membuat Nikel Containing Pig Iron (NCPI) dengan jalur reduksi langsung, dimana bahan baku berupa pellets dengan bahan reduktor arang kayu maka diperoleh kondisi yang terbaik pada penelitian ini yaitu pada temperatur 1100oC, dengan penahanan waktu 8 jam, sedangkan bahan reduktor yang digunakan 50 % excess dari jumlah stokiometri. Dimana logam Ni tereduksi sebesar 95.9 % sedangkan logam Fe sebesar 85.6 %. Kondisi ini belum mampu mereduksi besi yang ada didalam bijih laterit lebih tinggi lagi, hal ini kemungkinan dapat disebabkan oleh bahan reduktor yang kurang atau penahanan waktu reduksi yang kurang. Sehingga untuk mengoptimalkan persen reduksi besi ada baiknya percobaan dilakukan dengan penambahan waktu reduksi menjadi 9 jam dan variasi bahan reduktor excess 50 % dan 75 % dari total stoikiometri. Kata Kunci : Iron cap, bijih laterit, nickel containing pig iron, material unggul, pertahanan, transportasi STUDI AWAL EKSTRAKSI TITANIUM OKSIDA DARI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TEKSTIL/CAT DENGAN PROSES SOL GEL Latifa Hanum Lalasari 1) dan Lin Marlina2) 1) Pusat Penelitian Metalurgi LIPI Komplek Puspiptek Gedung 470, Serpong Tangerang Telp. 021-7560911, Fax . 0217560553 Email: ifa_sari@yahoo.com; lati003@lipi.go.id 2) Jurusan Teknik Kimia ITI Jl. Raya Puspiptek Serpong Tangerang Banten 15320 telp/fax. 021-7561102

Abstrak Kualitas lingkungan yang semakin memburuk akibat pencemaran pada udara, air, dan tanah merupakan ancaman besar bagi kelangsungan kehidupan makhluk hidup di bumi, tidak terkecuali manusia. Kegiatan industri sering menghasilkan limbah cair yang mengandung komponen berbahaya apabila dibuang langsung ke lingkungan tanpa pengolahan yang tepat. Salah satu industri yang menghasilkan limbah cair adalah industri cat yang menghasilkan jenis limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dengan kandungan polutan logam yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan hewan, selain gas beracun. Diantara logam tersebut yang paling banyak digunakan sebagai pigmen pewarna putih dari hasil proses bleaching pada industri tekstil adalah pigmen TiO2. TiO2 ini merupakan logam yang cukup aktif dan manfaatnya cukup banyak yaitu untuk aplikasi fotokatalis dalam pengolahan limbah, bahan baku kosmetik, aplikasi untuk splitting of water dan banyak aplikasi lainnya. Ini mendorong perlunya pengolahan lebih lanjut limbah tekstil untuk mendapatkan kembali material TiO2 sehingga mempunyai nilai ekonomis apabila dimanfaatkan. Tujuan penelitian yang dilakukan adalah merecycle kembali titanium oksida dari limbah cair industri tekstil/cat, mengetahui pengaruh konsentrasi H 2SO4 dalam proses ekstraksi titanium oksida, serta mendapatkan metode optimum dalam proses ekstraksinya. Tahapan penelitian yang dilakukan adalah tahap awal filtrasi limbah tekstil/cat dari padatannya dan dilanjutkan sintesis TiO2 dengan proses sol gel yang menggunakan pelarut H2SO4. Variabel penelitian adalah konsentrasi H2SO4, suhu dan waktu pengeringan yang divariasikan. Analisa yang dilakukan menggunakan uji XRF, XRD, dan SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan kadar pelarut yang lebih besar yaitu H 2SO4 dengan kadar sebesar 30 % menghasilkan TiO2 yang relatif banyak dan ukuran partikel lebih kecil sebesar 20 m pada suhu pengeringan yang lebih rendah 60 oC. Partikel yang didapatkan termasuk jenis kristalin rutile TiO 2 sehingga dapat diaplikasikan untuk proses fotokatalitik. Dimana partikel TiO2 yang bersifat fotokatalis pada akhir-akhir ini sangat dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan lingkungan dan kendala kebutuhan energi. Sehingga penelitian ini dapat menjadi acuan untuk penelitian lanjutan dalam sintesis oksida logam pada temperatur rendah Kata kunci: Titanium Oksida, industri tekstil, metode sol gel, H2SO4, SEM PERCOBAAN PENDAHULUAN PELEBURAN BIJIH BESI DARI SUMATERA UTARA DALAM SKALA LABORATORIUM Agus Budi Prasetyo dan F.Firdiyono Pusat Penelitian Metalurgi LIPI Gedung 470 Kawasan Puspiptek, Serpong, Tangerang Abstrak

Telah dilakukan percobaan proses peleburan bijih besi yang berasal dari Sumatera Utara dengan menggunakan Muffle Furnace. Percobaan ini dimaksudkan untuk mengetahui komposisi dan kadar dari bijih besi tersebut beserta recovery yang didapat setelah mengalami proses peleburan. Tahapan percobaan yaitu penggerusan bijih besi sampai menjadi ukuran 60 mesh, dari sampel tersebut sebagian di uji analisa dengan menggunakan XRD da SEM untuk menentukan komposisi dan kadar yang terkandung didalamnya. Sebagian dibuat pelet dengan pencampuran batubara 10% dan bentonit 2%. Proses peleburan dilakukan melalui tahap reduksi pelet bijih besi pada temperatur 1100 0 C, selama 2 jam menggunakan Muffle furnace. Hasil dari proses reduksi tersebut dilanjutkan ketahap peleburan pada temperatur 15000 C dengan penambahan kapur 10%, selama 2 jam menggunakan Muffle furnace. Dari Analisa Dengan XRD dan SEM didapatkan komposisi kimia yang terkandung yaitu hematite (Fe 2O3) dan Magnetite (Fe3O4) dengan kadar Fe mencapai 68,76%. Hasil dari proses tersebut yaitu Fe logam dan slag. Dari proses peleburan menunjukkan recovery dari bijih besi tersebut 82,2 %. Dari percobaan diatas perlu dilakukan percobaan lanjutan untuk menentukan pemakaian jumlah reduktor, temperatur reduksi dan temperatur peleburan yang lebih optimum. Kata kunci : Bijih Besi, Batubara, Pelet, Reduksi, Peleburan, Recovery Abstract Test has been done within a process of iron-ore melting which come from North Sumatra using Muffle Furnace. This attempt intended to know the composition and rate from the iron ore therewith recovery got by after experiencing of forge process. Attempt step that is sizing of iron ore become the size measure - 60 mesh, from the sample some of in test analyse by using XRD da SEM to determine the composition and rate which consisted it. Is partly made by pellet with the coal mixing 10% and bentonite 2%. The melting process is done through iron-ore reduction pellets with a temperature of 1100 0 C for 2 hours using Muffle Furnace. The product from the reduction process is continued to the melting process with a temperature of 15000 C with the addition CaCO3 10%, for 2 hours using Muffle furnace. From Analysis By XRD and SEM get a chemical composition which is consisted in by that is hematite (Fe2O3) And Magnetite (Fe3O4) with the rate Fe reach 68,76%. The product from the process are Fe metal and slag. The melting process shows about 82,2% recovery from iron-ore. From attempt is above require to be done by a continuation attempt to determine the usage sum up the reductor, temperature reduce and more optimum forge temperature. Keywords: Iron ore, Coal, Pellet, Reduction, Smelting, Recovery STUDI PENGEMBANGAN MINERAL KALSIT UNTUK MATERIAL MUTU TINGGI BAGI INDUSTRI Eko Sulistiyono Pusat Penelitian Metalurgi LIPI Abstrak

Mineral kalsit merupakan mineral yang sangat melimpah di Indonesia, dengan deposit yang cukup besar dan tersebar. Mineral kalsit di Indonesia pada umumnya dimanfaatkan sebagai bahan bangunan terutama untuk pembuatan semen. Mineral kalsit dengan kadar CaO lebih dari 90 % memiliki nilai jual yang sangat tinggi disayangkan jika hanya digunakan untuk membuat semen yang hanya membutuhkan mineral kalsit dengan kadar CaO sekitar 60 %. Abstract Calcite mineral is a very abundant mineral in Indonesia with quite large and spread deposits. In Indonesia, this mineral is in general used as building material particularly for the production of cement. This article will describe development of science and technology on use of calcite mineral which can be produce high material for industrial purposes. Calcite mineral with CaO content of more than 90% is developed into high-value material whereas calcite mineral with CaO content of less than 90% is adequate as raw material of cement. ALLOYING ELEMENTS INTERDIFFUSION IN Ni BASED ALLOYS Efendi Mabruri Pusat Penelitian Metalurgi-LIPI Kawasan Puspiptek Gd. 470 Serpong, Tangerang 15314 Email: efendi_lipi@yahoo.com Abstract The present paper reports the interdiffusion in the system of Ni-Al-X where X being Re, W, Ru, and Co and evaluates the interaction between X and Al as the `-forming element. The four ternary interdiffusion coefficients in these systems are determined by adopting the method developed by Whittle and Green. The results show that the major interdiffusion coefficients of the elements in each system are positive and have larger values compared to the cross one indicating that the influence of their concentration gradients on ~ Ni ~ their own fluxes is generally still dominant. It is observed from | DAlX / DXX | that the contribution of Re concentration gradient on the Al diffusion flux is greater than those of ~ Ni ~ other elements X. Furthermore, DAlX / DXX for X= Re, W and Ru has large negative values indicating that these elements tend to diffuse up the concentration gradient of Al or, in other words, toward the higher Al content area. This suggests that the interaction of the elements Re, W and Ru with Al is attractive in the phase of nickel based alloys. It indicates that Re, W, and Ru appear to be the potent elements in controlling the formation and the evolution of the phase. Keywords: diffusion, rhenium, tungsten, ruthenium, cobalt, aluminum, nickel, superalloys

PENGARUH SILIKON KARBIDA (SiC) PADA CAIRAN BAJA TERHADAP PEMBUATAN BESI COR KELABU DITINJAU SIFAT KEKERASANNYA Saefudin Pusat Penelitian Metalurgi- LIPI Kawasan PUSPIPTEK, Serpong 15314 Abstract At industry automotive a lot of used by component from grey cast iron needing the properties of mechanic besides is easy to formed, easy to in weld but also have high wear endurance and hardness. This cast iron material a lot of used industry automotive and by other industry. Because having some excess, for example is machine able to be good. Component product from grey cast iron material generally produced by using cupola furnace, tilting furnace, induction furnace. As for especial raw material used is pig iron and Ferro silicon. In this research will be conducted by a grey cast iron making with raw material of steel scrap, silicon carbide powder and carbon powder. Process grey Easy iron conducted by using arch furnace electrics ( laboratory scale) what is continued with molding specimen into molding sand. As for examination specimen grey cast iron cover : chemical composition analysis, hardness (HB) and metallographic. Result of attempt showed that addition silicon carbide powder improvement which relative minimize 2% till 4% obtained by a white cast iron obstetrically 0.5% silicon, 2% Carbon and 1.32% silicon, 2.5% Carbon. Addition silicon carbide powder of larger ones from the value from 8% up to 12% obtained by a grey cast iron obstetrically is silicon 2%, 3.2% carbon and 2.6% silicon, 3.8 carbon. Assess grey cast iron hardness obtained in this research is show degradation with addition silicon carbide powder. High hardness value obtained at addition silicon carbide powder 2% that is equal to 491.93 HB lower at addition silicon carbide powder 12% that is equal to 192.4 HB. Keywords : Steel scrap, silicon carbide, carbon and silicon, melting, molding, grey cast iron, white cast iron, component, the automotive industry. Intisari Pada industri otomotif banyak digunakan komponen dari cor kelabu yang memerlukan sifat-sifat mekanik selain mudah dibentuk, mudah dilas tetapi juga harus mempunyai kekerasan dan ketahanan aus yang tinggi. Material besi cor ini banyak digunakan oleh industri otomotif dan industri lainnya, karena mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya ialah mampu mesin yang baik. Produk komponen dari material besi cor kelabu pada umumnya diproduksi dengan menggunakan tungku kupola, tungku tukik dan tungku induksi. Adapun bahan baku utama

yang digunakan adalah pig iron dan fero silicon. Dalam penelitian ini akan dilakukan pembuatan besi cor kelabu dengan bahan baku scrap baja, serbuk silikon karbida dan serbuk karbon. Proses peleburan besi cor kelabu dilakukan dengan menggunakan tungku busur listrik (skala laboratorium) yang dilanjutkan dengan pencetakan spesimen ke dalam cetakan pasir. Adapun pengujian spesimen besi cor kelabu meliputi : analisa komposisi kimia, kekerasan (HB) dan metalografi. Hasil percobaan ditunjukkan bahwa peningkatan penambahan serbuk silikon karbida yang relatif kecil 2% hingga 4% diperoleh besi cor putih dengan kandungan 0.5% silikon, 2% karbon dan 1.32% silikon, 2.5% karbon. Penambahan serbuk silikon marbida yang lebih beasar dari nilai tersebut dari 8% sampai dengan 12% diperoleh besi cor kelabu dengan kandungan silikon 2% Si, 3.2% C dan 2.6% Si, 3.8% C. Nilai kekerasan besi cor kelabu yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan penurunan dengan penambahan serbuk silikon karbida. Nilai kekerasan tinggi diperoleh pada penambahan serbuk silikon karbida 2% yaitu sebesar 491.93 HB dan terendah pada penambahan serbuk silikon karbida 12% yaitu sebesar 192.4 HB. Kata kunci : Skrap baja, silikon karbida, karbon dan silikon, peleburan, pencetakan, besi cor putih, besi cor kelabu, komponen, industri otomotif. KARAKTERISASI SIFAT FISIK DAN KRISTANILITAS THIN-MULTIWALLED CARBON NANOTUBES (MWNT) Nono Darsono Puslit Metalurgi LIPI Komplek PUSPIPTEK Serpong Intisari Dalam tulisan ini akan dipaparkan hasil karakterisasi fisik dan struktur kristal carbon nanotube (CNT). Karakterisasi awal dalam setiap penelitian sangat penting untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Karakterisasi awal diperlukan untuk mendapatkan informasi mengenai sifat fisik, kimia, maupun elektronik dari CNT. Karakterisasi awal yang dilakukan adalah AFM, SEM, TEM, XRD, dan Raman Spectra. Karakterisasi sifat fisik AFM, dan TEM menunjukan besarnya diameter yang tidak jauh berbeda yaitu 9 11 nm. Keunggulan dari TEM adalah dapat mengetahui diameter luar dan diameter dalam dari CNT tersebut. Tingkat kristalinitas dari CNT ditunjukan oleh besarnya peak G (G-band). Sifat dasar CNT dapat diketahui dari dua alat utama yaitu TEM dan Raman spectra. Kata kunci: CNT, karakterisasi, AFM, SEM, raman spektra Abstract Initial characterization of carbon nanotubes was conducted and presented in this report. Initial characterization is an important step in the material handling and processing. Initial characterization conducts in order to get detail information about the raw material such as physical, chemical and electrical properties. Those initial characterizations are AFM, SEM, TEM, XRD and Raman spectra. Physical characteristic such as CNT diameter

can be easily revealed by AFM or TEM image. Both methods are shown the value diameter at 9 11 nm. The advantages of TEM observation are we may know the inner and outer diameter of the tube. The degree of crystalinity is indicated by G-band on the raman spekctra. The two main equipment for basic characterication of CNT are TEM dan raman spectra. Key word: CNT, characterization, AFM, SEM, raman spectra KARAKTERISASI BAHAN CARBON NANOTUBE HASIL SINTESA PYROLISIS Cahya Sutowo1), Agus Subagio2), Ngurah Ayu K2) 1).Pusat Penelitian Metalurgi LIPI, Kawasan Puspiptek Serpong 15314 2).Jurusan Fisika, FMIPA Universitas Diponegoro Semarang Email : csutowo@yahoo.com Abstrak Sampel yang dikarakterisasi merupakan hasil sintesa pyrolisis, metode sintesa ini merupakan salah satu metode yang sering digunakan dalam sintesa carbon nanotube dengan teknik spray. Pada metode pyrolisis menggunakan senyawa hidrokarbon benzena sebagai sumber karbon yang akan terdekomposisi menjadi carbon nanotube dengan adanya katalis dari ferrocene dengan perbandingan 0,6 gram ferrocene dan 10 ml benzena. Karakterisasi dilakukan pada material carbon nanotube yang ditumbuhkan dengan metode pyrolisis pada temperatur optimum 900 oC menggunkan scanning electrone microscope (SEM) dan energy dispersive x-ray spectroscopy (EDS) untuk mengetahui morfologi dan kandungan unsur dan impuritas. Hasil SEM menunjukkan diameter carbon nanotube yang dihasilkan bervariasi berkisar 20 nm 200 nm dengan kandungan unsur karbon 94,25 % dan unsur ferro 5,75 % pada sampel pertama sedangkan pada sampel kedua kandungan karbon 85,51 % dan Fe 1,03 % dan unsur lainnya 13,46 % dimana pada sampel pertama proses menggunakan gas Argon sedangkan pada sampel kedua tidak. Gas argon berfungsi sebagai gas pembawa dan untuk mengurangi oksigen yang berada diruang bakar sehingga dikondisikan innert. Keberadaan unsur Fe merupakan impuritas yang berasal dari katalis tidak bisa hilang sehingga perlu dilakukan tahapan proses pemurnian setelah dilakukan sintesa pertumbuhan CNT. Kata kunci: carbon nanotube, ferrocene, benzena, pyrolisis. PENGARUH PENAMBAHAN Mg PADA PEMBUATAN KOMPOSIT MATRIKS LOGAM Al/Al2O3 TERHADAP SIFAT MEKANIK Toni B. R. Pusat Penelitian Metalurgi-LIPI Kawasan PUSPIPTEK Gd.470 Serpong-Tangerang. tonibr@engineer.com

Abstrak Pembuatan komposit matrik logam bermatriks alumunium murni dengan penguat alumina, dengan menambahkan penguat Al2O3 bervariasi, yaitu: 2; 4; 6; 8; 10 dan 12 % fraksi volume. Pembuatan komposit dilakukan melalui proses strirer casting dengan kecepatan aduk 500 rpm pada temperatur pemanasan 670OC. Hasil tersebut kemudian di uji, yaitu: metalografi, kekerasan Brinell dan pengujian keausan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa harga kekerasan yang paling rendah adalah pada penambahan 1% Mg yaitu sebesar 46 HB. Sedangkan nilai kekerasan yang paling tinggi dicapai pada penambahan penguat 12% Vf Al2O3, dengan harga kekerasan 110 HB. Pada pengujian keausan harga yang paling rendah adalah 3.6561 x 10-4 mm3/mm harga ini dicapai pada penambahan penguat 12% Vf Al2O3. Sedangkan Harga laju keausan yang paling tinggi diperoleh pada penambahan penguat 1 % Mg yaitu sebesar 8.5485 x 10-4 mm3/mm. Abstract A Al2O3 reinforced alumunium composite has been manufactured. The volume fraction of Al2O3 reinforcement covers 2; 4; 6; 8; 10 dan 12 %. The manufacturing process is done through the stirrer-casting methode with rotation speed of 550 rpm and temperature of 670OC. The caracterization here ofter includes: metalography, Brinell hardness, as well as wear rate test. The lowest hardness value reaches 45 HB. With Mg content of 1%. The highest hardness value is 110 HB with Al 2O3 content of 12%. The result of wear test shows the lowest of 3.6561 x 10-4 mm3/mm with Al2O3 content of 12%. The highest value of wear test reacher 8.5485 x 10-4 mm3/mm with Mg content of 1 %. CACAT RETAK PADA PEMBUATAN KOMPONEN KONEKTING LISTRIK DENGAN BAHAN ANHAS PADA INDUSTRI KECIL PENGECORAN Saefudin, Cahya Sutowo, Toni. BR Pusat Penelitian Metalurgi- LIPI Kawasan PUSPIPTEK, Serpong 15314 Abstrak Salah satu pabrik pengecoran home industri khusus non fero di Bandung, telah mendapat pekerjaan komponen konekting listrik. Dalam melakukan proses peleburan mendapatkan kendala pada hasil corannya. Dimana bahan baku untuk benda coran yaitu anhas, Komposisi material anhas tersebut mengacu standart ASTM-B 669 1984 Alloy 27 dimana kandungan komposisi kimianya adalah 2.5-2.8 % Al, 2-2.5%Cu, 0.01-0.02%Mg, 0.1% Max Fe, 0.004% Max Pb, 0.003% Max Cd, 0.002% Max Sn, dan sisanya Zn. Tungku yang digunakan adalah tungku listrik yang berkapasitas 25 hg dan batas suhu operasinya tungku sekitar 1200oC memakai kruss grafit, sedangkan cetakan yang di gunakan adalah cetakkan logam. Pada percobaan peleburan pertama komposisi muatan adalah Al 900 grm, Zn 230 grm, Cu 150 grm,.suhu operasi peleburan 550 oC. Dalam percobaan penuangan logam cair ke dalam cetakkan terus menerus di coba pada suhu tersebut hasil coran yang diperoleh cacat berupa retakan. Pada proses peleburan yang ke dua dengan bahan baku

yang sama tetapi suhu peleburan 700 oC.percobaan berkali-kali di coba hasil coran yang diperoleh mengalami cacat retak pada benda corannya. Pada hasil coran percobaan yang Mengalami cacat retak maupun tidak, diuji kekerasannya dimana hasil yang diperoleh untuk peleburan pertama adalah 168 HV dan yang peleburan kedua 157 HV. Sedangkan hasil pemeriksaan strukturr mikro keduanya berfasakan denrit perbedaannya hanya pada besar butirnya dan distribusi penyebaran denrit. Hal ini akibat perbedaan suhu penuangan. Tetapi pada peburan kedua dirubah komposisi muatanya dengan cara penambahan Al dari 900 grm ditambah Al 270 grm unsur lainya tetap dan suhu penuangan 700oC hasil coran yang diperoleh tidak mengalami cacat retak pada benda corannya. Setelah diuji kekerasannya turun yaitu 151,6 HV dan hasil pemeriksaan struktur mikronya fasanya sama denrit hanya distribusi butir denrit lebih jarang hal ini tegangan sisa akan lebih berkurang, karena Al selain mengurangi penggetasan juga meninggikan fluiditas cairan logam sehingga mampu cor bagus, hal ini perbedaan pembekuan dapat dihindari sehingga tegangan sisa tidak terjadi. Kesimpulan kekerasan dapat diturunkan dengan menambahkan prosen berat Al juga berpengaruh pada hasil coran tidak terjadi retak. Kata kunci : Komponen konekting listrik, Cetakkan logam, Anhas, Tungku listrik. Krusibel grafit, , Perbedaan pembekuam, Tegangan sisa, Cacat retak.. fluiditas, mampu cor. STUDI STRATEGI PENGEMBANGAN PENELITIAN PEMBUATAN KATALIS UNTUK FUEL CELL Eko Sulistiyono, Murni Handayani, Harini dan Lusiana Pusat Penelitian Metalurgi - LIPI Abstrak Teknologi Fuel Cell merupakan salah satu teknologi yang memiliki prospek yang sangat bagus di masa yang akan datang. Teknologi Fuel Cell merupakan teknologi pemngembangan sumberdaya energi alternative yang ramah lingkungan dapat menggantikan penggunaan teknologi konvensional. Hingga saat ini penggunaan teknologi fuel cell belum dapat diaplikasikan ke masyarakat luas mengingat masih mahalnya teknologi tersebut disbanding dengan teknologi energi yang lain. Salah satu hal yang menjadi mahalnya teknologi fuel cell adalah masih mahalnya bahan baku pembuatan katalis. Bahan baku katalis yang dikembangkan saat ini berasal dari group logam platina yang mahal harganya. Oleh karena itu melalui tulisan ini akan dipaparkan strategi pengembangan pembuatan katalis yang tepat sesuai dengan potensi mineral di Indonesia sehingga diperoleh bahan baku katalis yang lebih murah. Abstract Fuel Cell technology is one of the technologies which has very good prospect in the future. This technology develops environment-friendly alternative energy resource to replace the use of conventional technology. Up to now, the use of fuel cell technology cannot be applied to wide community because it is still expensive compared to other energy technology. One factor which causes this technology expensive is the expensive raw material

in the production of catalyst. Currently-developed catalyst is obtained from expensive platinum metal group. Therefore this article will describe strategy for developing appropriate catalyst production in accordance with the mineral potential in Indonesia to get cheaper catalyst as raw material. ANALISIS KOMPOSISI OKSIDA MENGGUNAKAN SOFTWARE PERHITUNGAN STRUKTUR KRISTAL Iwan Setiawan* Abstrak Dalam bidang anorganik penentuan komposisi dan struktur bahan merupakan awal dari suatu penelitian dan pengembangan lebih lanjut dari bahan tersebut. Struktur kristal senyawa beserta komposisinya ini dapat digunakan untuk mempelajari sifat-sifat dari logam atau senyawa yang selanjutnya dapat dimanfaatkan atau direkayasa sesuai dengan kebutuhan. Teknik-teknik yang digunakan untuk menentukan kuantitas senyawa berbeda relatif jauh dengan penentuan kuantitas unsur. Beperapa teknik yang telah diteliti untuk menentukan kuantitas senyawa anorganik tetap didasarkan data suatu pengukuran menggunakan teknik difraksi. Adapun pengolahan dari data tersebut bisa dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan sistem kalibrasi standar yang telah diketahui seperti penentuan kuantitas unsur, dengan menggunakan software yang telah banyak beredar yaitu metode semacam Rietveld method, dan teknik lain yang dapat digunakan dengan cara estimasi menggunakan cara-cara penentuan seperti penentuan kuantitas unsur disertai kalkulasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menentukan jenis dan kadar senyawa dalam sample dengan software perhitungan penentuan struktur senyawa atau kristal GSAS. Pada penelitian dilakukan percobaan menggunakan unknown sample. Dengan teknik XRF yang bersifat kualitatif jenis unsur yang terdapat dalam sample dapat diketahui. Adapun kuantitas yang sebenarnya diukur menggunakan alat AAS (Atomic Absorption Spektrofotometer). Untuk penentuan struktur senyawa bahan dilakukan menggunakan teknik difraksi XRD (X-ray Diffratometer). Data 2 theta yang didapat diolah menggunakan software sehingga menghasilkan data jenis dan juga kuantitas senyawa dan unsur yang ada dalam sample. Berdasarkan data XRF (X-ray Flourescent) diketahui unknown sample yaitu terdiri atas besi dan oksida magnesium. Dengan komposisi dalam persen menurut data AAS dari Fe dan Mg sebagai MgO berturut-turut 65,34 dan 34.66 dan berdasarkan XRF; 66.02 dan 33.98, sedangkan menurut hasil refinement pola difraksi akhir dengan program GSAS, setelah iterasi sebanyak 2991 kali adalah 59.07 dan 40.83. Berdasarkan hasil diatas analisis berdasarkan sofware dapat dilakukan mendekati hasil yang sebenarnya. Adanya perbedaan hasil kemungkinan kurang banyaknya jumlah iterasi dan tingkat kehomogenan sampel uji. Kata kunci: Penentuan struktur kristal, teknik diffraksi, kuantitas senyawa, kuantitas unsur, komposisi kimia, XRD, XRF PELAPISAN BAJA KARBON DENGAN PROSES ALUMINIZING METODE PACK CEMENTATION Cahya Sutowo, Yuswono, Sri Mulyaningsih Pusat Penelitian Metalurgi LIPI, Kawasan Puspiptek Serpong 15314 e-mail : csutowo@yahoo.com Intisari Telah dilakukan pelapisan baja dengan menggunakan proses aluminizing untuk meningkatkan ketahan terhadap korosi dan oksidasi pada temperatur tinggi. Teknik difusi dengan cara pack cementation menggunakan serbuk aluminium murni (99,6%) sebagai master alloy (bahan pelapis) melalui pemanasan pada temperatur optimal yaitu 900C dengan waktu tahan 6 dan 8 jam. Pada proses ini digunakan bahan campuran (compound) yang terdiri atas inert filler (serbuk alumina), garam halida sebagai activator (NH 4Cl) dan bahan pelapis digunakan serbuk aluminium serta sampel (logam baja) yang akan dilapisi. Komposisi compound yang digunakan terdiri atas 3 komposisi dengan rasio antara bahan pelapis terhadap aktivator yaitu 5:1; 7,5:1 dan 10:1. Hasil percobaan menunjukan terjadinya pelapisan senyawa Fe2Al5 dengan ketebalan yang optimum hingga mencapai 200 m dan tingkat kekerasan yang tinggi yaitu berkisar 883 VHN. Pengujian oksidasi dengan melakukan pemanasan pada temperatur tinggi dilakukan setelah proses pack cementation pada temperatur 1100 oC selama 3 jam, hasil pengujian terjadi peningkatan berat setelah proses pemanasan, hal ini menunjukkan bahwa terjadinya pertumbuhan atau pembentukan lapis lindung Al 2O3 apabila dilakukan pemanasan atau apabila benda kerja dikenai pemanasan. Pemanasan sampai temperatur 1100 oC tidak merusak lapisan bahkan sebaliknya dengan bertambahnya lapisan Al maka akan meningkatkan ketahanan terhadap korosi. Kata Kunci : Aluminizing, pack cementation, diffusion STUDI DESAIN BIDANG ALIR PADA PELAT BIPOLAR PEMFC Iwan Dwi Antoro Pusat Penelitian Metalurgi LIPI Abstrak PEMFC merupakan sumber energi alternatif yang menjanjikan untuk transportasi dan pembangkit listrik dikarenakan efisiensinya yang tinggi, temperatur operasinya yang rendah, kerapatan dayanya yang tinggi, penyalaannya yang mudah, dan sistemnya yang tahan lama. Pelat bipolar merupakan komponen yang penting dari PEMFC, yang menyuplai fuel dan oksidan, memindahkan atau membuang hasil reaksi, mengumpulkan arus yang dihasilkan, dan sebagai pendukung sel dalam stack. Bobot, volume dan biaya pembuatan

pelat bipolar bisa ditekan secara signifikan dengan cara memperbaiki desain pelat bidang alir dan menggunakan material. Berbagai macam material, desain bidang alir dan proses manufaktur telah dikembangkan agar pelat bipolar dapat berfungsi secara efisien. Kata kunci: PEM fuel cell, pelat bipolar, bidang alir, kanal alir Abstract The polymer electrolyte membrane (PEM) fuel cell is a promising candidate as zero-emission power source for transport and stationary cogeneration applications due to its high efficiency, low-temperature operation, high power density, fast startup, and system robustness. Bipolar plate is a vital component of PEM fuel cells, which supplies fuel and oxidant to reactive sites, removes reaction products, collects produced current and provides mechanical support for the cells in the stack. The weight, volume and cost of the fuel cell stack can be reduced significantly by improving layout configuration of flow field and use of lightweight materials. Different combinations of materials, flow-field layouts and fabrication techniques have been developed for these plates to achieve aforementioned functions efficiently. Keywords: PEM fuel cell; Bipolar plate; Flow field; Flow channels MEMBRANE ELECTRODE ASSEMBLY (MEA) PADA PROTON EXCHANGE MEMBRANE FUEL CELL (PEMFC) Murni Handayani Pusat Penelitian Metalurgi-LIPI Serpong, Tangerang, Banten Abstrak Fuel cell merupakan suatu peralatan elektrokimia yang mengkonversikan energi kimia dari reaktan secara langsung sehingga menghasilkan listrik, panas dan air tanpa pembakaran. Energi fuel cell mempunyai keunggulan sifat transportable, ramah lingkungan, dan mempunyai efisiensi tinggi. MEA (membrane electrode assembly) adalah unit dasar atau jantung dari fuel cell (heart of fuel cell) sehingga unjuk kerja fuel cell sangat tergantung dari unjuk kerja MEA. MEA terdiri dari membran, lapisan katalis dan lapisan difusi gas. Membran pertukaran proton berfungsi untuk menghantarkan proton dari anoda menuju ke katoda. Katalis digunakan untuk memfasilitasi reaksi oksigen dan hidrogen pada reaksi fuel cell. Fungsi lapisan difusi gas (GDL) yang utama adalah untuk mendistribusikan reaktan dari bidang alir gas secara seragam disepanjang permukaan aktif dari lapisan katalis. Dua metode yang paling banyak diaplikasikan untuk pembuatan MEA adalah dengan metode spray/elektrodiposisi dan painting. Kata Kunci : Fuel cell, MEA, membran, lapisan katalis, lapisan difusi gas PENGARUH TEMPERATUR LAKU PANAS TERHADAP STRUKTUR MIKRO KUNINGAN C37700 DENGAN PENAMBAHAN KADAR ALUMINIUM Nurhayati Indah Ciptasari 1, Eddy S. Siradj 2 Pusat Penelitian Metalurgi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Kompleks Puspiptek Gedung 470, Serpong Tangerang Telp. 021-7560911 Fax 021-7560553 2 Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia Kampus UI Depok 16424 Jawa Barat - Indonesia Telp. 021-786 3510 Fax: 021-787 2350
1

Abstract The research have been conducted to know changing microstructure from rod brass (C37700) of raw material of product valve with the difference of Aluminum content to characteristic of hot formability. The research conducted by heating brass at temperature of annealing ( 450, 500 and 550 oC) with the holding time for one hour. Cooling processes conducted by two methods using cooling air and water. The analysis used the metalography and hardness test. The result of research showed that the temperature of increased annealing for object test of the low rod Al and high Al will make increasing of volume faction for cooling air .While the object test of low Al will make decreasing volume fraction for cooling water. It was enough significant compared to the object test of high Al. So that hot formability of the object test of low Al for cooling air was better than the object test of high Al. Kata kunci : struktur mikro, kuningan C37700, annealing, hot formability PEMBUATAN TUNGKU VAKUM SEDERHANA DENGAN MODIFIKASI DESAIN TUNGKU MUFFLE I Nyoman Gede PA, Dedi Irawan Pusat Penelitian Metalurgi LIPI Gedung 470, Komplek PUSPIPTEK Serpong Abstrak Telah dilakukan pembuatan tungku vakum untuk proses perlakuan panas (heat treatment). Proses perlakuan panas yang dilakukan pada lingkungan vakum dengan kontrol tekanan dan kontrol komposisi gas lingkungan. Pembuatan tungku vakum dengan memodifikasi desain tungku muffle (muffle furnace) menjadi tungku vakum sederhana (vacuum furnace). Pembuatan dengan menambahkan beberapa komponen pada tungku vakum yang berperan penting untuk menjaga kondisi vakum pada tungku. Hingga diperoleh tungku vakum sederhana untuk proses perlakuan panas.

Kata kunci : vakum, muffle, tekanan, tungku, modifikasi, seal. PENGARUH WAKTU PENGADUKAN TERHADAP KARAKTERISTIK KOMPOSIT MATRIKS PADUAN Al-7,14%Si/SiC(p) METODA STIRR-CASTING Bintang Adjiantoro Pusat Penelitian Metalurgi LIPI Puspiptek Serpong Gd 470, Telp 021-7560911, Fax 021-7560553 Abstrak Penelitian pembuatan material komposit matriks logam telah dilakukan dengan menggunakan metoda stirr-casting pada matrik paduan Al-7,14%Si dengan penguat partikel SiC. Percobaan dilakukan dengan memvariasikan persen fraksi volume dari penguat (5%, 10% dan 15%) dan waktu pengadukan (2, 5 dan 10 menit) pada temperatur peleburan konstan 700oC. Dari hasil percobaan menunjukkan bahwa waktu pengadukan sangat berperan dalam proses pembuatan material komposit. Hal ini ditunjukkan dengan nilai ketahanan aus yang semakin meningkat seiring dengan bertambahnya waktu pengadukan. Begitupula dengan nilai kekerasan, besarnya ekspansi termal yang dipengaruhi oleh persentase porositas yang rendah pada lamanya waktu pengadukan, tegangan permukaan pada logam matriks mengalami penurunan dan energi permukaan partikel semakin berkurang sehingga memberikan efek meningkatnya mampu basah. Kata kunci : Interfacial, Interface, Wettability, MMCs, Paduan Al-Si, Senyawa karbida SiC Abstract The fabrication of metal matrix composites has been conducted by stirrer-casting of Al-7,14 wt % alloy reinforced by SiC. The experiment was conducted by varying volume fraction of SiC particle (5%, 10% and 15%), with the stirring time of 2, 5 and 10 minutes at the stirring rate of 700 rpm. Experiment results showed that the stirring time in the meltstirring process have optimum conditions for increasing the volume fraction of SiC particle. This thing is shown with endurance value of abrasion that is increasingly increases along with increasing of stirring time. So that with hardiness, level of thermal expansion influenced by low porosity percentage at the duration stirring time, surface stress at matrix metal experiences derivation and particle surface energy on the wane causing gives effect the increasing of solvent of wet. Keyword : Interfacial, Interface, Wettability, MMCs, Al-Si Alloy, Carbide compound SiC KOROSI DI SEKTOR ENERGI Yusuf Pusat Penelitian Metalurgi LIPI Kawasan PUSPIPTEK Serpong Gedung 470 yusu004@lipi.go.id Abstrak Sektor energi merupakan sektor yang sangat strategis dalam pembangunan di Indonesia. Ini ditandai dengan besarnya uang yang berputar di sektor energi yang untuk subsidinya saja, perlu didanai dengan APBN lebih dari Rp 200 triliun di tahun 2008. Jumlah keseluruhan uang yang berputar di sektor ini mungkin mencapai lebih dari Rp 400 triliun. Di samping itu, energi merupakan sektor yang terkait dan menjadi penggerak bagi sektor-sektor yang lain. Kerugian akibat korosi memiliki beberapa aspek. Dimulai dengan kerusakan material, korosi dapat berakibat pada gangguan produksi, biaya pemeliharaan yang berlebihan, kecelakaan kerja hingga bencana yang dapat menghilangkan nyawa manusia. Pencegahan atau pengendalian korosi dapat mengurangi atau menghilangkan akibat-akibat negatif tadi. Dengan kata lain, pencegahan dan pengendalian korosi merupakan semacam asuransi terhadap kesinambungan dan keandalan pasokan energi. Tulisan ini akan membahas berbagai aspek korosi di sektor energi, teori keterjadian dan pencegahannya, serta layanan jasa yang biasa ditawarkan dalam pencegahan dan pengendalian korosi di sektor ini. Juga akan disajikan topik-topik penelitian yang masih terbuka untuk menghasilkan berbagai inovasi dalam menangani masalah korosi di sektor energi di Indonesia. Kata kunci : korosi, energi, migas, panas bumi, listrik, material, lingkungan, elektrokimia Abstract Energy sector is one of the most strategic sectors in Indonesian development. It can be seen from the fact of the huge money spent in this sector. In the 2008 National Budget, more than Rp 200 trillions has been spent as subsidies in this sector. The total money circulation might be more than Rp 400 trillions. Besides, the energy sector relates and always become a prime mover of other sectors. The corrosion lost can be seen frommany aspects. Starting from the material degradation, corrosion can become the cause of production loss, over maintenance, working accidents or even working disasters which resulting in human fatalities. Corrosion preventions and controls can reduce or even get rid of these negative effects. In other words, corrosion preventions and controls can become a kind of insurance for the energy suply continuity and reliability. This paper will explain several aspects of corrosion in energy sector, the theory of corrosion causes and its preventions, also the services and supports in the field of corrosion preventions and control. The paper will also presents the research topics to be conducted to produce innovations in handling corrosion problems in energy sectors in Indonesia.

Keywords: corrosion, energy, oil&gas, geothermal, electricity, materials, environment, electro-chemistry. ANALISA KERUSAKAN KOMPONEN AS AKIBAT PATAH DARI MESIN PENGEBORAN MINYAK BUMI Lusiana Puslit Metalurgi Serpong Abstrak Ada kasus kerusakan pada peralatan mesin bor minyak. Komponen as baja diameter 22 mm. mengalami patah. As yang patah berlangsung di daerah dekat as yang menempati posisi perubahan diameter yang mengecil, yaitu perubahan diameter dari 32 mm. ke diameter 22 mm. Berdasarkan pengamatan stereo, bisa ditunjukkan bahwa as patah disebabkan karena korosi lelah (fatique corrosion). Lingkungan korosif di daerah pengeboran minyak biasanya mengandung klorida dan sulfur. Kerusakan material logam baja akibat korosi lelah adalah komponen logam yang mengalami patah yang disebabkan karena interaksi permukaan komponen dengan lingkungan, dimana komponen menerima tegangan tarik bolak-balik. Tegangan tarik bolak-balik yang dimaksud adalah bahwa komponen logam menerima fluktuasi tegangan terus menerus di bawah nilai tegangan yield. Fakta yang menunjukkan serangan korosi lelah hingga as patah berdasarkan pengamatan permukaan pola retakan yang terdiri dari dua daerah, yaitu : pola permukaan rata dan licin akibat korosi, pola permukaan tidak rata, bekas patahan as baja mengalami deformasi plastis. Hasil uji XRD menghasilkan kurva-kurva runcing dengan tingkat ketinggian berbeda, dimana kuva puncak mempunyai keruncingan yang sangat rapat, yang menunjukkan adanya ketidak teraturan kisi kristal FCC selama terkorosi Dengan kata lain, selama as terkorosi diikuti adanya cacat kristal Kata kunci : Komponen as, korosi lelah, klorida, sulfur, tegangan yield KOROSI BAJA KARBON API 5L -X52 DI LINGKUNGAN DAERAH ALIRAN SUNGAI CISADANE Harsisto Pusat Penelitian Metalurgi LIPI Kawasan Puspiptek, Serpong Tangerang Telp: 021-7560911, Fax: 021-7560553 E-mail: harsistosardjuri@yahoo.com Abstrak Daerah aliran sungai (DAS) Cisadane terbukti mempunyai beban pencemaran logam berat Hg dan gas gas korosif (Cl 2, NH3, NO2 dan NO3 ) di atas ambang batas yang diizinkan. Terkait pencemaran di atas, telah dilakukan penelitian sifat korosifitas lumpur DAS Cisadane terhadap logam baja API 5L-X52. Penelitian dilakukan di laboratorium pada

bulan September 2003. Penelitian diawali dengan penelusuran data sekunder di istansi terkait dan pengumpulan data primer dilakukan dengan uji resistivitas lumpur, uji keasaman, uji potensial korosi alami dan uji laju korosi. Pada umumnya, berdasarkan hasil pengujian menunjukkan bahwa media lumpur DAS Cisadane bersifat korosif ringan terhadap baja karbon API 5L-X 52. Kata kunci: DAS Cisadane, lumpur, polutan, Hg, korosif, baja karbon API 5L-X52. Abstract The river flow area of Cisadane had been over limit permit polution by Hg and gases of Cl2 , NH3,, NO3 dan NO3.. The relationship by this polution, had been observation the effect of the media of the sedimentation slurry Cisadane river to corrosivity on carbon steel of API 5L-X53. The observation had been hell on September 2003. The fist observation activity was collected the second datas from relation intution govermen and the fist datas had been collected by slurry reactivity tests, pH test, the nature corrosion potential test and the corrosion rate test by the weigft loss method. The generaly information, based on experiment risalt, the sedimentation of slurry Cisadane river has slightly corrosion on carbon steel of API 5L-X52. Keywords: Cisadane river flow area, slurry, polution, Hg, corrosive, carbon steel of API 5LX52.