Anda di halaman 1dari 8

PENDIDIKAN SEBAGAI UPAYA PEMBUDAYAAN Oleh : Suratman, S.Pd. Proses belajar dapat terjadi di mana saja sepanjang hayat.

Sekolah merupakan salah satu tempat proses belajar terjadi. Sekolah merupakan tempat kebudayaan, karena pada dasarnya proses belajar merupakan proses pembudayaan. Dalam hal ini, proses pembudayaan di sekolah adalah untuk pencapaian akademik siswa, untuk membudayakan sikap, pengetahuan, keterampilan dan tradisi yang ada dalam suatu komunitas budaya, serta untuk mengembangkan budaya dalam suatu komunitas melalui pencapaian akademik siswa. Budaya, menurut E.B. Taylor (1871) merupakan a complex whole which includes knowledge, belief, art, law, morals, customs, and any other capabilities and habits acquired by man as a member of society. Sementara itu, ada lagi definisi yang menyatakan bahwa budaya adalah pola utuh perilaku manusia dan produk yang dihasilkannya yang membawa pola pikir, pola lisan, pola aksi, dan artifak, dan sangat tergantung pada kemampuan seseorang untuk belajar, untuk menyampaikan

pengetahuannya kepada generasi berikutnya melalui beragam alat, bahasa, dan pola nalar. Kedua definisi tersebut menyatakan bahwa budaya merupakan suatu kesatuan utuh yang menyeluruh, bahwa budaya memiliki beragam aspek dan perwujudan, serta budaya dipahami melalui suatu proses belajar. Dengan demikian, belajar budaya merupakan proses belajar satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh dari beragam perwujudan yang dihasilkan dan atau berlaku dalam suatu

komunitas. Mata pelajaran yang disuguhkan dalam kurikulum dan diajarkan kepada siswa di sekolah, sebagai pola pikir ilmiah, merupakan salah satu perwujudan budaya, dan sebagai bagian dari budaya. Bahkan, seorang ahli menyatakan bahwa kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan mencerminkan pencapaian upaya manusia pada saat tertentu berbasiskan pada budaya saat itu. Proses pembudayaan terjadi dalam bentuk pewarisan tradisi budaya dari satu generasi kepada generasi berikutnya, dan adopsi tradisi budaya oleh orang yang belum mengetahui budaya tersebut sebelumnya. Pewarisan tradisi budaya dikenal sebagai proses enkulturasi (enculturation), sedangkan adopsi tradisi budaya dikenal sebagai proses akulturasi (aculturation). Kedua proses tersebut berujung pada pembentukan budaya dalam suatu komunitas. Proses pembudayaan enkulturasi biasanya terjadi secara informal dalam keluarga, komunitas budaya suatu suku, atau komunitas budaya suatu wilayah. Proses pembudayaan enkulturasi dilakukan oleh orang tua, atau orang yang dianggap senior terhadap anak-anak, atau terhadap orang yang dianggap lebih muda. Tata krama, adat istiadat, keterampilan suatu suku/keluarga biasanya diturunkan kepada generasi berikutnya melalui proses enkulturasi. Sementara itu, proses akulturasi biasanya terjadi secara formal melalui pendidikan. Seseorang yang tidak tahu, diberi tahu dan disadarkan akan keberadaan suatu budaya, kemudian orang tersebut mengadopsi budaya tersebut. Misalnya, seseorang yang pindah ke suatu tempat baru, kemudian mempelajari bahasa, budaya, kebiasaan dari masyarakat

di tempat baru tersebut, lalu orang itu akan berbahasa dan berbudaya, serta melakukan kebiasaan sebagaimana masyarakat di tempat itu. Pendidikan merupakan proses pembudayaan, dan pendidikan juga dipandang sebagai alat untuk perubahan budaya. Proses pembelajaran di sekolah merupakan proses pembudayaan yang formal atau proses akulturasi. Proses akulturasi bukan semata-mata transmisi budaya dan adopsi budaya, tetapi juga perubahan budaya. Sebagaimana diketahui, pendidikan menyebabkan terjadinya beragam perubahan dalam bidang sosial budaya, ekonomi, politik, dan agama. Namun, pada saat bersamaan, pendidikan juga merupakan alat untuk konservasi budaya, transmisi, adopsi, dan pelestarian budaya. Upaya pembudayaan melalui pendidikan ini adalah dalam rangka membangun peradaban kehidupan manusia, sehingga di sini pendidikan tidak hanya merupakan prakarsa pengalihan pengetahuan dan ketrampilan, tetapi juga mencakup pengalihan nilai-nilai budaya dan norma-norma social. Hal ini selaras dengan pendapat seperti dikemukakan oleh M. Masad Masrur bahwa pendidikan merupakan upaya pembudayaan demi peradaban manusia. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya merupakan prakarsa pengalihan pengetahuan dan ketrampilan, tetapi juga mencakup pengalihan nilai-nilai budaya dan norma-norma social (M. Masad Masrur:2007) Terkait dengan peran pendidikan sebagai proses pembudayaan, maka semestinya lembaga pendidikan harus bisa ditempatkan sebagai pusat pembudayaan, seperti dikemukakan oleh Soedijarto bahwa hakikat lembaga pendidikan seharusnya dapat menjadi lembaga pusat pembudayaan berbagai kemampuan dan sikap manusia Indonesia. ( Soedijarto:2008)

Dalam pengertian yang luas pendidikan itu dilakukan oleh masyarakat terdidik.Dalam hal ini masyarakat terdidik dapat dipahami sebagai sekumpulan manusia yang telah mendapatkan pendidikan. Dalam arti khusus, langeveld mengemukakan bahwa pendidikan adalah bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya (Uyoh Sadullah dalam Arif Rizka Nurhidayat: 2008). Ketika manusia telah mencapai kedewasaanya, maka tiba gilirannya untuk memberikan bimbingan kepada anak yang belum dewasa. Disinilah maka pendidikan itu akan terus berjalan dalam sejarah kehidupan manusia dan karenanya manusia dijuluki sebagai animal educandum dan animal educandus sekaligus, yaitu sebagai makhluk yang dididik dan makhluk yang mendidik Sebagai animal educandum dan animal educandus, maka pendidikan tidak bisa lain kecuali dipahami sebagai ikhtiar pembudayaan, dan ikhtiar ini pula yang melatari sejarah kemanusiaan sebagai sejarah perkembangan peradaban (Fuad Hassan, Pendidikan adalah Pembudayaan, dalam tonny D. Widiastono (editor), Pendidikan Manusia Indonesia, hlm. 55 dalam Arif Rizka Nurhidayat : Rekonstruksi Paradigma Pendidikan untuk Mewujudkan Masyarakat Terdidik:2008). Pendidikan sebagai ikhtiar pembuyaan berarti melalui pendidikan akanya menyebabkan terjadinya perubahan. Perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dan perlu karena melalui perubahan, kehidupan tumbuh dan berkembang. Peran pendidikan dalam pembudayaan umat manusia adalah pembebasan peserta didik untuk melakukan perubahan dan pembaruan demi kehidupan. Perubahan masyarakat seharusnya dimulai di sekolah-sekolah karena di tempat inilah pemilik masa depan

sedang dipersiapkan. Namun ironisnya, di sekolah peserta didik tidak banyak diberi kesempatan untuk merekonstruksi masa depan dan bahkan diajar nilai-nilai kepatuhan serta belajar menyesuaikan diri dengan sistem, tatanan, norma, aturan, dan nilai yang sudah berlaku di masyarakat. Guru sudah diposisikan sebagai perangkat dalam suatu sistem yang tidak cukup memberikan penghargaan bagi upaya-upaya pembaruan dan pembebasan namun justru sangat menghargai tindakan-tindakan pengukuhan aturan dan system (Anita Lie : 2008) Dari uraian di atas jelas ada kaitan yang sangat erat antara pendidikan dengan kebuadayaan Tilaar mengemukakan keterkaitan yang sangat erat pendidikan dan kebudayaan. Bahkan kaitan keduanya adalah kaitan ontologis dan epistomologis. Dalam rangka lahirnya etno-nasionalisme, keterkaitan antara pendidikan dan kebudayaan akan semakin menonjol. Di dalam praksis pendidikan untuk pengembangan sikap toleransi dalam masyarakat demokratis terdapat berbagai model pendidikan untuk kesadaran dan pengembangan kohesi sosial, yaitu pendidikan multi-kultural, pendidikan trans-kultural, dan pendidikan inter-kultural. (H.A.R Tilaar dalam Zainal Arifin : 2008) Pendidikan inter-kulutural ditekankan kepada eksistensi budaya-budaya atau subbudaya yang ada. Dalam rangka pengembangan kohesi sosial maka yang diperlukan ialah kegiatan interaksi budaya. Bentuk yang lain ialah trans-kultural yang mencari bentukbentuk universalitas dari budaya-budaya yang ada H.A.R Tilaar lebih lanjut menjelaskan mengenai pendidikan multi-kultural bahwa pendidikan multi-kultural dalam masyarakat Indonesia mempunyai berbagai orientasi. Pertama-tama tentunya suatu reorientasi visi pendidikan. Dalam rangka otonomi daerah, pendidikan di daerah haruslah tumbuh dan berkembang dalam konteks budaya di mana

lembaga pendidikan itu berada. Pengetahuan mengenai budaya lokal bagi para pendidik tentunya merupakan syarat. Dalam hal ini, pendidikan nasional berperan sebagai pengiring kebudayaan nasional dapat dicapai melalui proses kegiatan belajar mengajar di sekolah/lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Peserta didik dapat kita kenalkan kebudayaan nasional baik itu berupa ide (gagasan), sistem sosial masyarakat Indonesia atau perilaku/moral/akhlak yang baik. Di samping itu, boleh juga kita kenalkan budaya asing yang tidak melanggar/menyalahi budaya Indonesia, misalnya etos kerja, menjaga kebersihan, ketertiban, sikap toleransi dan lain sebagainya. Sebagaimana amanat UU Sisdiknas 2003 Pasal 3, fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Pembentukkan watak, peradaban, manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan seterusnya, ini merupakan proses pembudayaan yang dilakukan disaat terjadinya kegiatan belajar mengajar.

HAKEKAT MANUSIA

MAKHLUK BERBUDAYA

PEWARISAN BUDAYA

ENKULTURASI

AKULTURASI

KELUARGA

PENDIDIKAN

SEKOLAH

MANUSIA BERBUDAYA

DAFTAR PUSTAKA Anita Lie, 2008, Guru Panggilan dan Perjalanan, http://www.jarkom.biz/component/content/article/59-ilmu-sosial/211-prof-anita-liepidato-guru-besar.html, downloud 11 Desember 2008 M. Masad Masrur:2007 , Dilema Pendidikan Nasional http://masadmasrur.blog.co.uk/2007/08/25/dilema_pendidikan_nasional~2866871, downloud 11 Desember 2008

Soedijarto:2008, Pendidikan dan Proses Pembudayaan http://massofa.wordpress.com/2008/10/03/pendidikan-dan-proses-pembudayaan/ Soedijarto, 2000, http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0009/18/dikbud/pend09.htm Pendidikan Seharusnya Jadi Pusat Pembudayaan, downloud 11 Desember 2008 Zainal Arifin, 2008, Pendidikan Nasional Sebagai Pengiring Kebudayaan Nasional http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-a&channel=s&rls=org.mozilla:enUS:official&hs=Zyo&q=pendidikan+adalah+pembudayaan&start=40&sa=N, donwloud 11 Desember 2008