Anda di halaman 1dari 31

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengertian Drainase Drainase merupakan prasarana yang sangat penting bagi suatu

perencanaan kota yang berfungsi untuk mengalirkan air permukaan ke badan air. Menurut Dr. Ir. Suripin, M.Eng. (2004:7) Drainase berasal dari kata drainage yang mempunyai arti mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air. Secara umum drainase didefinisikan sebagai serangkaian bangunan yang mempunyai fungsi untuk mengalirkan atau mengurangi kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan. Disisi lain Robert. J. Kodoatie (2003), mengemukakan bahwa air hujan yang jatuh di suatu daerah perlu dialirkan atau dibuang, yaitu dengan pembuatan saluran yang dapat menampung air hujan yang mengalir di permukan tanah. Selain itu, drainase juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan sanitasi. Drainase yaitu suatu cara pembuangan kelebihan air yang tidak diinginkan pada suatu daerah, serta cara-cara penangggulangan akibat yang ditimbulkan oleh kelebihan air tersebut (Suhardjono 1948:1). Menurut Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementrian Pekerjaan Umum, Drainase adalah prasarana yang berfungsi mengalirkan air permukaan ke badan air atau ke bangunan resapan buatan. Drainase perkotaan adalah drainase di wilayah kota yang berfungsi mengelola atau mengendalikan air permukaan, sehingga tidak mengganggu atau merugikan masyarakat. Drainase perkotaan berwawasan lingkungan adalah prasarana drainase di wilayah kota yang berfungsi mengelola atau mengendalikan air permukaan (limpasan air hujan) sehingga tidak menimbulkan masalah genangan, banjir dan kekeringan bagi masyarakat serta bermanfaat bagi kelestarian lingkungan hidup. Hal ini berkaitan dengan tata guna lahan yang memiliki koefisien run off masing-masing saluran. Masterplan memiliki peranan penting dalam membantu perencanaannya. Lahan tidak dapat digunakan secara optimal apabila masyarakat tidak memiliki kesadaran terhadap lingkungan seperti membuang sampah di sungai.

.
Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya II-1

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

2.2

Drainase Makro Sistem drainase makro yaitu sistem saluran/ badan air yang menampung

dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan ( Catchment Area). Pada umumnya sistem drainase makro ini disebut juga sebagai sistem saluran pembuangan utama (Major System) atau drainase primer. Sistem jaringan ini menampung aliran yang berskala besar dan luas seperti saluran drainase primer, kanal-kanal atau sungai-sungai. Perencanaan drainase makro ini umumnya dipakai dengan periode ulang antara 5 sampai 10 tahun dan pengukuran topografi yang detail mutlak diperlukan dalam perencanaan sistem drainase ini. Komponen sistem makro dibagi menjadi 3, yaitu sebagai berikut: 1. Saluran Terbuka Saluran Terbuka adalah saluran di mana air mengalir dengan muka air bebas. Kajian tentang perilaku aliran dikenal dengan mekanika fluida (Fluid Mechanis). Hal ini menyangkut sifat-sifat fluida dan pengaruhnya terhadap pola aliran dan gaya yang akan timbul di antara fluida dan pembatas (dinding). Adanya perilaku terhadap aliran untuk memenuhi kebutuhan manusia, menyebabkan terjadinya perubahan alur aliran dalam arah horizontal maupun vertikal. 2. Stasiun pompa Stasiun pompa berfungsi untuk mengangkat air dari elevasi atau ketinggian yang lebih rendah ketempat yang lebih tinggi atau memindahkan aliran dari aliran satu ke aliran lain. 3. Kolam Retensi Kolam retensi merupakan kolam yang berfungsi untuk menampung air hujan sementara waktu sebelum air dialirkan ke lokasi lain yang operasionalnya dapat dikombinasikan dengan pompa atau pintu air. 2.2.1 Pola Jaringan Drainase Pola jaringan drainase menurut Sidharta Karmawan (1997:1-8) terdiri dari enam macam, antara lain:

Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

II-2

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

1.

Siku Pola jaringan yang digunakan pada daerah yang mempunyai topografi sedikit lebih tinggi daripada sungai. Sungai sebagai saluran pembuangan akhir di tengah kota.

Gambar 2. 1 Pola Jaringan Drainase Siku


Sumber: Sistem Drainase, 2012

2.

Paralel Pola jaringan pada saluran utama terletak sejajar dengan saluran cabang. Dengan saluran cabang (sekunder) yang cukup banyak dan pendekpendek, apabila terjadi perkembangan kota, saluran-saluran akan dapat menyesuaikan diri. Saluran ini biasa dijumpai pada daerah dengan topografi yang cenderung datar dan terletak jauh dari sungai dan danau.

Gambar 2. 2 Pola Jaringan Drainase Paralel


Sumber: Sistem Drainase, 2012

3.

Grid Iron Pola jaringan yang terjadi pada daerah sungai yang terletak di pinggir kota, saluran-saluran cabang dikumpulkan terlebih dahulu pada saluran pengumpul.

Gambar 2. 3 Pola Jaringan Drainase Grid Iron


Sumber: Sistem Drainase, 2012 Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya II-3

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

4.

Alamiah Pola jaringan yang memiliki fungsi yang sama seperti pola siku, hanya beban sungai pada pola alamiah lebih besar.

Gambar 2. 4 Pola Jaringan Drainase Alamiah


Sumber: Sistem Drainase, 2012

5.

Radial Pola jaringan radial terjadi pada daerah berbukit, sehingga pola aliran memencar ke segala arah.

Gambar 2. 5 Pola Jaringan Drainase Radial


Sumber: Sistem Drainase, 2012

6.

Jaring-Jaring Pola jaringan yang mempunyai saluran-saluran pembuang yang mengikuti arah jalan raya, dan cocok untuk daerah dengan topografi datar. Pola jaring-jaring dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu : a. Pola Perpendicular Adalah pola jaringan penyaluran air buangan yang dapat digunakan untuk sistem terpisah dan tercampur sehingga banyak diperlukan banyak bangunan pengolahan.

Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

II-4

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

Gambar 2. 6 Pola Jaringan Drainase Perpendicular Sumber: Drainase Perkotaan, 2008

b.

Pola Interceptor dan pola Zone Adalah pola jaringan yang digunakan untuk sistem tercampur.

Gambar 2. 7 Pola Jaringan Drainase Interceptor


Sumber: Sistem Perpipaan Air Buangan Domestik, 2012

c.

Pola Fan Adalah pola jaringan dengan dua sambungan saluran/cabang yang dapat lebih dari dua saluran menjadi satu menuju ke satu bangunan pengolahan. Biasanya digunakan untuk sistem terpisah.

Gambar 2. 8 Pola Jaringan Drainase Fan


Sumber: Sistem Perpipaan Air Buangan Domestik, 2012

d.

Pola Radial Adalah pola jaringan yang pengalirannya menuju ke segala arah dimulai dari tengah kota sehingga ada kemungkinan diperlukan banyak bangunan pengolahan.

Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

II-5

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

Gambar 2. 9 Pola Jaringan Drainase Radial


Sumber: Sistem Perpipaan Air Buangan Domestik, 2012

2.2.2

Fungsi Drainase Dalam wilayah perkotaan, drainase memiliki sistem berupa jaringan

pembuangan yang berfungsi mengendalikan atau mengeringkan kelebihan air agar tidak mengganggu masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi kegiatan manusia. Oleh karena itu, Drainase perkotaan memiliki 4 fungsi utama yaitu: 1. Mengeringkan bagian wilayah kota yang permukaan lahannya lebih rendah dari genangan sehingga tidak menimbulkan dampak negatif berupa kerusakan infrastruktur kota dan harta benda milik masyarakat. 2. Mengalirkan kelebihan air permukaan ke badan air terdekat secepatnya agar tidak membanjiri atau menggenangi kota yang dapat merusak selain harta benda masyarakat juga infrastruktur perkotaan. 3. Mengendalikan sebagian air permukaan akibat hujan yang dapat dimanfaatkan untuk persediaan air dan kehidupan akuatik. 4. Meresapkan air permukaan untuk menjaga kelestarian air tanah. Menurut Haryono (1999), fungsi drainase untuk pengeringan tanah dan menghambat terjadinya banjir. Selain itu ada beberapa fungsi drainase, yaitu: 1. Pertanian Tanah yang terlalu basah seperti rawa memang tidak dapat ditanami. Tanah rawa yang selalu basah perlu dikeringkan agar bisa digunakan lahan pertanian. 2. Bangunan Drainase diperlukan agar tanah menjadi kering dan daya dukung tanah menjadi bertambah, sehingga bisa mendukung beban bangunan saat bangunan didirikan di atas tanah yang basah.
Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya II-6

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

3.

Kesehatan Tanah yang digenangi air menjadi tempat berkembangnya nyamuk. Tanah yg kering oleh sistem drainase bisa mengatasi agar telur dan larva nyamuk tidak bisa hidup. Dalam ilmu kesehatan, gas-gas seperti gas methan juga tidak baik bagi kesehatan, sehingga tanah harus dikeringkan.

4.

Lansekap Tanah yang basah atau berair setelah dikeringkan bisa ditanami rumput dan tanaman hias, sehingga bisa menjadi pemandangan yang baik.

2.2.3

Sistem dan Standar Penyediaan Drainase Perkotaan Sistem penyediaan jaringan drainase terdiri dari empat macam, yaitu:

1.

Sistem Drainase Utama Sistem drainase perkotaan yang melayani kepentingan sebagian besar warga masyarakat kota.

2.

Sistem Drainase Lokal Sistem drainase perkotaan yang melayani kepentingan sebagian kecil warga masyarakat kota.

3.

Sistem Drainase Terpisah Sistem drainase yang mempunyai jaringan saluran pembuangan terpisah untuk air permukaan atau limpasan.

4.

Sistem Gabungan Sistem drainase yang mempunyai jaringan saluran pembuangan yang sama, baik untuk air genangan atau air limpasan yang telah diolah. Sedangkan standarisasi sistem penyediaan drainase untuk penempatan

perumahan di pinggiran saluran primer atau sungai yang mengacu pada Provincial Water Replacement (PWR) Bab II pasal 2 tentang Pemakaian Bebas dari Perairan Umum (waterrocilijn), yang berbunyi Dilarang menempatkan sebuah bangunan apapun atau memperbaharui seluruhnya atau sebagian dalam jarak diukur dari kaki tangkis sepanjang perairan umum atau bilamana tidak ada tangkis, dari pinggir atas dari samping ( talud) perairan umum kurang dari: 1. 20 m untuk sungai-sungai tersebut dalam daftar satu dari verodening ini.

Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

II-7

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

2.

5 m untuk sungai-sungai tersebut dalam daftar dua dari verodening ini, demikian juga untuk saluran pengaliran dan pembuangan dengan kemampuan 4 m3/s atau lebih.

3.

3 m untuk saluran-saluran pengairan, pengambilan, dan pembuangan kemampuan normal kurang dari 1-4 m3/s.

4.

2 m untuk saluran-saluran pengairan pengambilan dan pembuangan kemampuan normal kurang dari 1 m3/s. Batas sempadan sungai minimum berdasarkan peraturan menteri PU RI

nomor 63/PRT/1993, yaitu


Tabel 2. 1 Batas Sempadan Sungai Minimum
Tipe sungai Sungai bertanggul di ukur dari kaki tanggul terluar Diluar Kawasan Perkotaan Kriteria Sempadan 5m Di Dalam Garis Sempadan Kriteria Sempadan 3m Pasal 6 Keterangan

Kedalaman maksimum > 30 m Sungai 20 m besar luas Sungai tak 100 m Kedalaman DPS > 500 bertanggul di maksimum > 2 km ukur dari tepi 15 m 3 m dan < 20 sungai m Sungai kecil Kedalaman luas DPS < 50 m maksimum 10 m 500 km2 <3 m Danau / waduk 50 m 50 m Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum RI nomor 63/PRT/1993

Pasal 7 dan 8

Pasal 10

2.3

Drainase Mikro Sistem drainase mikro yaitu sistem saluran dan bangunan pelengkap

drainase yang menampung dan mengalirkan air dari daerah tangkapan hujan. Secara keseluruhan yang termasuk dalam Sistem Drainase Mikro adalah saluran di sepanjang sisi jalan, saluran/ selokan air hujan di sekitar bangunan, goronggorong, saluran drainase kota dan lain sebagainya dimana debit air yang dapat ditampungnya tidak terlalu besar. Pada umumnya drainase mikro ini direncanakan untuk hujan dengan masa ulang 2,5 tahun atau 10 tahun tergantung pada tata guna lahan yang ada. Sistem drainase untuk lingkungan permukiman lebih cenderung sebagai sistem drainase mikro.
Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya II-8

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

2.3.1

Hierarki Drainase Menurut Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementrian Pekerjaan Umum,

bila ditinjau dari segi fisik (hierarki susunan saluran) sistem drainase perkotaan diklasifikasikan atas 3 saluran, yaitu: 1. Saluran Primer (Main Drain) Saluran primer adalah saluran yang menerima masukkan aliran dari saluran-saluran sekunder. Saluran primer relatif besar sebab letak saluran paling hilir. Aliran dari saluran primer langsung dialirkan ke badan air.

Gambar 2. 10 North Level Main Drain


Sumber: Tydd Gote, Lincolnshire, Great Britain( Geograph)

2.

Saluran Sekunder (Conveyor) Saluran sekunder adalah saluran terbuka atau tertutup yang berfungsi menerima aliran air dari saluran-saluran tersier dan meneruskan aliran ke saluran primer. Saluran pembawa air buangan dari suatu daerah ke lokasi pembuangan tanpa harus membahayakan daerah yang dilalui agar berfungsi secara efektif. Contoh: saluran banjir kanal.

Gambar 2. 11 Saluran Sekunder (Conveyor)


Sumber: Foto Hutan Kota UI Depok, 2012

Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

II-9

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

3.

Saluran Tersier (Collector) Saluran tersier adalah saluran drainase yang menerima aliran air langsung dari saluran-saluran pembuangan rumah-rumah. Pada umumnya saluran tersier ini merupakan saluran kiri kanan jalan perumahan.

Gambar 2. 12 Saluran Tersier (Collector)


Sumber: Afeeca Afera (www.selangorku.com)

2.3.2

Kendala dalam Pembangunan dan Pemeliharaan Sistem Drainase Beberapa hal pokok yang menjadi kendala dan dialami oleh masyarakat

dalam hal pembangunan dan pemeliharaan sistem drainase antara lain: 1. Faktor Internal a. Krisis ekonomi nasional yang berdampak pada kondisi keuangan pemerintah, swasta, dan masyarakat sangat menurun. b. Lemahnya institusi pengelola prasarana dan sarana drainase terutama dalam penyusunan program yang teraplikasi dan berkelanjutan. c. Perhatian terhadap operasi dan pemeliharaan prasarana dan sarana drainase yang sangat penting terabaikan. d. Masih terbatasnya kemampuan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya, kesadaran akan lingkungan hidup yang bersih dan sehat. 2. Faktor Internal Faktor-faktor yang menghambat pembangunan infrastruktur dapat dilihat dari faktor harga bahan baku yang mahal dan kualitas bahan baku yang rendah sehingga infrastruktur drainase tidak tahan lama dan cepat lapuk. Dana atau pembiayaan pemeliharaan infrastruktur drainase memang sangatlah penting. 2.3.3 Klasifikasi Saluran Drainase Menurut De Chiara and Koppelman, saluran untuk pembuangan air dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya II-10

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

1.

Saluran Air Tertutup a. Drainase bawah tanah tertutup di mana menerima air (limpasan dari daerah yang diperkeras maupan tidak diperkeras dan membawanya ke sebuah pipa keluar dari sisi tapak (sambungan permukaan atau sungai), ke sistem drainase kota. Keuntungannya yaitu dapat

menampung volume dan kecepatan yang meningkat sehingga tidak menyebabkan erosi dan kerusakan pada tapak. Keterbatasan sedimen tidak tersaring dari lintasan karena adanya kecepatan limpasan yang meningkat sehingga daerah sekitar tapak rentan terhadap sedimentasi dan erosi. b. Drainase bawah tanah tertutup dengan tempat penampungan pada tapak, di mana drainase ini memiliki keuntungan seperti di atas, tetapi kerusakan di luar tapak lebih dapat dihindari. 2. Saluran Air Terbuka Menurut Chow (1989:17) merupakan saluran yang mengalirkan air dengan suatu permukaan bebas. Pada saluran terbuka jika ada sampah yang

menyumbat dapat dengan mudah untuk dibersihkan, namun bau yang ditimbulkan dapat mengurangi kenyamanan. 3. Saluran Alam (Natural) Meliputi selokan kecil, kali sungai kecil, dan sungai besar sampai saluran terbuka alamiah. 4. Saluran Buatan (Artificial) Meliputi saluran pelayanan, irigasi, parit pembuangan, dan lain-lain. Saluran terbuka buatan mempunyai istilah yang berbeda-beda antara lain: a. Saluran (Canal) biasanya panjang dan merupakan selokan landai yang dibuat di tanah, dapat dilapisi pasangan batu, beton, semen, kayu maupun aspal. b. Talang (Flume) merupakan selokan dari kayu, logam, beton, atau pasangan batu, biasanya disangga atau terletak di atas permukaan tanah, untuk mengalirkan air berdasarkan perbedaan tinggi tekan. c. Got miring (Chute), selokan curam.

Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

II-11

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

d.

Terjunan (Drop), seperti got miring di mana perubahan tinggi air terjadi dalam jangka pendek.

e.

Gorong-gorong (Culvert), selokan tertutup yang pendek dipakai untuk mengalirkan air melalui tanggul jalan raya.

f.

Terowongan air terbuka (Open-flow Tunel), selokan tertutup yang sangat panjang, dipakai untuk mengalirkan air menembus bulit atau gundukan tanah.

5. Saluran Air Kombinasi Lapisan air terbuka dikumpulkan pada saluran drainase permukaan, sementara limpasan dari daerah yang diperkeras dikumpulkan pada saluran drainase tertutup. 2.3.4 Jenis Drainase Drainase berdasarkan jenisnya dapat dibagi menjadi: A. Menurut Sejarah Terbentuknya 1. Drainase Alamiah Sistem drainase yang terbentuk secara alami dan tidak ada unsur campur tangan manusia. 2. Drainase Buatan Sistem drainase yang dibentuk berdasarkan analisis ilmu drainase, untuk menentukan debit air akibat hujan, dan dimensi saluran. B. Menurut Letak Saluran 1. Drainase Permukaan Tanah Saluran drainase yang berada di atas permukaan tanah yang berfungsi mengalirkan air limpasan permukaan. Analisa alirannya merupakan analisa open channel flow. 2. Drainase Bawah Tanah Saluran drainase yang bertujuan mengalirkan air limpasan permukaan melalui media di bawah permukaan tanah (pipa-pipa), dikarenakan alasan-alasan tertentu. Alasan tersebut antara lain tuntutan artistik, tuntutan fungsi permukaan tanah yang tidak membolehkan adanya saluran di permukaan tanah seperti lapangan sepak bola, lapangan terbang, taman, dan lain-lain.
Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya II-12

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

C. Menurut Konstruksi 1. Saluran Terbuka Sistem saluran yang biasanya direncanakan hanya untuk menampung dan mengalirkan air hujan (sistem terpisah), namun kebanyakan sistem saluran ini berfungsi sebagai saluran campuran. Pada pinggiran kota, saluran terbuka ini biasanya tidak diberi lining (lapisan pelindung). Akan tetapi saluran terbuka di dalam kota harus diberi lining dengan beton, pasangan batu (masonry) atau pasangan bata. 2. Saluran Tertutup Saluran untuk air kotor yang mengganggu kesehatan lingkungan. Sistem ini cukup bagus digunakan di daerah perkotaan terutama dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi seperti kota Metropolitan dan kota-kota besar lainnya. D. Menurut Fungsi 1. Single Purpose Saluran yang berfungsi mengalirkan satu jenis air buangan saja. 2. Multy Purpose Saluran yang berfungsi mengalirkan beberapa jenis buangan, baik secara bercampur maupun bergantian.

2.4

Tipe dan Bentuk Saluran Saluran drainase memiliki berbagai macam tipe dan bentuk saluran. Berikut 7 macam tipe dan bentuk saluran drainase yaitu: a. Saluran Trapesium Saluran yang berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpahan air hujan dengan debit yang besar dengan aliran terus menerus dengan fluktuasi kecil. Bentuk saluran dapat digunakan pada daerah yang cukup tersedia lahan.

Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

II-13

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

Gambar 2. 13 Saluran Trapesium


Sumber: Perencanaan Infrastruktur Permukiman Perkotaan, 2011

b.

Saluran Kombinasi Trapesium dan Segi Empat Saluran yang berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air hujan dengan debit yang besar dan kecil dengan aliran berfluktuasi besar dan terus menerus tapi debit minimumnya masih cukup besar.

Gambar 2. 14 Saluran Kombinasi Trapesium dan Segi Empat


Sumber: Perencanaan Infrastruktur Permukiman Perkotaan, 2011

c.

Saluran Kombinasi Trapesium dan Setengah Lingkaran Saluran ini memiliki fungsi yang sama dengan bentuk kombinasi trapesium dan segi empat dengan aliran terus menerus dan berfluktuasi besar dengan debit minimum kecil. Fungsi bentuk

setengah lingkaran ini adalah untuk menampung dan mengalirkan debit minimum tersebut.

Gambar 2. 15 Saluran Kombinasi Trapesium dan Setengah Lingkaran


Sumber: Perencanaan Infrastruktur Permukiman Perkotaan, 2011

d.

Saluran Segi Empat Saluran yang berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air hujan dengan debit yang besar dengan aliran terus menerus dengan fluktuasi kecil.

Gambar 2. 16 Saluran Segi Empat


Sumber: Perencanaan Infrastruktur Permukiman Perkotaan, 2011 Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya II-14

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

e.

Saluran Kombinasi Segi Empat dan Setengah Lingkaran Bentuk saluran segi empat ini digunakan pada lokasi jalur saluran yang tidak mempunyai lahan yang cukup atau terbatas. Fungsinya sama dengan bentuk kombinasi trapesium dan segi empat dan/ atau kombinasi trapesium dan setengah lingkaran.

Gambar 2. 17 Kombinasi Segi Empat dan Setengah Lingkaran


Sumber: Perencanaan Infrastruktur Permukiman Perkotaan, 2011

f.

Setengah Lingkaran Saluran yang berfungsi untuk menyalurkan limbah air hujan untuk debit yang kecil. Bentuk saluran ini umum digunakan untuk saluransaluran rumah penduduk dan pada sisi jalan perumahan padat.

Gambar 2. 18 Setengah Lingkaran


Sumber: Perencanaan Infrastruktur Permukiman Perkotaan, 2011

g.

Lingkaran Saluran yang berfungsi untuk menyalurkan limpasan air hujan maupun limbah air bekas (air limbah) rumah tangga atau keduanya. Konstruksi sistem saluran ini cocok dipakai untuk pertokoan yang sangat padat dan lahan yang tersedia telah terbatas.

Gambar 2. 19 Lingkaran
Sumber: Perencanaan Infrastruktur Permukiman Perkotaan, 2011

Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

II-15

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

2.5

Bangunan-Bangunan Sistem Drainase dan Pelengkapnya Bangunan-Bangunan sistem drainase dan pelengkapnya diperlukan untuk melengkapi suatu sistem saluran untuk fungsi-fungsi tertentu. Adapun bangunan-bangunan pelengkap sistem drainase antara lain: a. Catch Basin/Watershed Bangunan pelengkap dimana air masuk ke dalam saluran tertutup dan air mengalir bebas di atas permukaan tanah menuju catch basin. Catch Basin dibuat pada setiap persimpangan jalan, pada tempattempat yang rendah, tempat parkir.

Gambar 2. 20 Drainase Catch Basin


Sumber: Manufactured Products for Stormwater Inlets, 2010

b.

Inlet Apabila terdapat saluran terbuka dimana pembuangannya akan dimasukkan ke dalam saluran tertutup yang lebih besar. Maka dibuat suatu konstruksi khusus inlet. Inlet harus diberi saringan agar sampah tidak masuk ke dalam saluran tertutup.

Gambar 2. 21 Drainase Inlet


Sumber: Siltsack, 2009

Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

II-16

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

c.

Headwall Headwall adalah konstruksi khusus pada outlet saluran tertutup dan ujung gorong-gorong yang dimaksudkan untuk melindungi dari longsor dan erosi.

Gambar 2. 22 Drainase Headwall


Sumber: Althon Headwall H7C, 2011

d.

Shipon Shipon dibuat bilamana ada persilangan dengan sungai. Shipon dibangun dibawah dari penampang sungai, karena di dalam tanah maka pada waktu pembuatannya harus dibuat secara kuat sehingga tidak terjadi keretakan ataupun kerusakan konstruksi. Sebaiknya dalam merencanakan drainase dihindarkan perncanaan dengan menggunakan shipon, dan sebaiknya saluran yang debitnya lebih tinggi tetap untuk dibuat shipon dan saluran drainase yang dibuat saluran terbuka atau gorong-gorong.

Gambar 2. 23 Drainase Shipon


Sumber: The Aquatic Management Bottom Intake Shipon Drain, 2010

e.

Manhole Untuk keperluan pemeliharaan sistem saluran drainase tertutup di setiap saluran diberi manhole pertemuan, perubahan dimensi, perubahan bentuk selokan pada jarak 10-25 meter. Lubang menhole dibuat sekecil mungkin supaya ekonomis, cukup, asal dapat dimasuki

Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

II-17

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

oleh orang dewasa. Biasanya lubang manhole berdiameter 60 cm dengan tutup dari besi tulang.

Gambar 2. 24 Drainase Manhole


Sumber: Standard Manhole Rings And Covers, 2007

f.

Gorong-gorong Adalah saluran yang memotong jalan atau media lain yang berbentuk lingkaran yang terbuat dari pipa beton dan bentuk segi empat dari beton bertulang

Gambar 2. 25 Bangunan Gorong-Gorong


Sumber: Materi Bidang Drainase Diseminasi dan Sosialisasi Keteknikan Bidang PLP, Ditjen Cipta Karya Kementrian Pekerjaan Umum

g.

Bangunan Terjunan Berfungsi menurunkan kecepatan aliran air dari hulu dengan rencana pada jalur saluran dengan kemiringan eksisting yang kritis dan curam, sehingga kriteria batas kecepatan maksimum

dipertahankan.

Gambar 2. 26 Bangunan Terjunan


Sumber: Dhani Irwanto. panomario Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya II-18

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

h. Pompa Fungsi pompa banjir dalam sistem drainase perkotaan adalah untuk melayani aliran banjir yang cukup besar. Untuk mengeringkan air hujan dari suatu derah yang luas di daerah perkotaan diperlukan pompa-pompa berdiameter besar guna menanggulangi jumlah air yang banyak.

Gambar 2. 27 Pompa Air


Sumber: www.sanitasi.or.id/sistem drainase perkotaan

i. Pintu Air Pintu air dipasang pada inlet siphon, inlet dan outlet waduk, inlet stasiun pompa dan di ujung saluran yang berhubungan dengan badan air.

Gambar 2. 28 Pintu Air


Sumber: Materi Bidang Drainase Diseminasi dan Sosialisasi Keteknikan Bidang PLP, Ditjen Cipta Karya Kementrian Pekerjaan Umum

2.6

Faktor-Faktor Umum Terkait dengan Drainase Standar ini menetapkan tata cara perencanaan umum drainase perkotaan

yang dapat digunakan untuk memperoleh hasil perencanaan drainase perkotaan yang dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuuan-ketentuan teknik perencanaan. 1. Faktor-faktor umum tata cara perencanaan umum drainase perkotaan a. Sosial ekonomi Pertumbuhan penduduk urbanisasi, angkatan kerja, kebutuhan nyata dan prioritas daerah, keseimbangan pembangunan antar kota dan
Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya II-19

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

dalam kota, ketersediaan tata guna tanah, pertumbuhan fisik kota, dan ekonomi pedesaan. b. Lingkungan (Topografi) Eksisting jaringan drainase jalan, sawah, perkampungan, laut, pantai, tata guna tanah, pencemaran lingkungan, estetika yang mempengaruhi sistem drainase kota, kondisi lereng dan kemungkinan longsor, untuk daerah yang terkena pengempangan dari laut, danau atau sungai diperhitungkan masalah pembendungan dan

pengempangan. 2. Perencanaan tata cara perencanaan umum drainase perkotaan yaitu: a. Landasan didasarkan pada konsep kelestarian lingkungan dan konservasi sumberdaya air yaitu pengendalian air hujan agar lebih banyak meresap ke dalam tanah dan mengurangi aliran permukaan. b. Tahapan pembuatan rencana induk, studi kelayakan, perencanaan detail, didasarkan pada pertimbangan teknik sosial ekonomi. Finansial dan lingkungan, dilakukan dengan survei lokasi, topografi, hidrologi, geoteknik tata guna tanah, sosial ekonomi, institusi, peran serta masyarakat, penyelidikan kependudukan, terhadap lingkungan, desain, dan pembiayaan, tanah,

parameter

penyiapan

pelaksanaan drainase dan pemeliharaan. Data dan persyaratan, data primer mencakup data banjir meliput luas, lama, kedalaman rata-rata, frekuensi genangan, keadaan fungsi, sistem, geometri, dan dimensi saluran, daerah pengaliran sungai, prasarana dan fasilitas kota yang ada dan yang direncanakan; data sekunder meliputi rencana pembangunan kota, geoteknik foto udara, pembiayaan, kependudukan, institusi, sosial ekonomi, peran serta masyarakat, kesehatan lingkungan, persyaratan kualitas, dan kualitas data, peralatan, metode perhitungan, dan asumsi yang digunakan. Sistem drainase perkotaan, sistem drainase terpisah dan gabungan, sistem saluran terbuka dan tertutup. Kriteria pertimbangan teknik meliput aspek hidrologi, hidraulik, dan struktur, pertimbangan lain meliputi biaya dan pemeliharaan. Koordinasi dan tanggung jawab, seluruh penyelenggara teknis pekerjaan dilaksanakan dan
Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya II-20

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

dibawah seorang ahli yang berkompeten dalam tim terpadu, masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh instansi yang berwenang harus diajukan kepada pihak yang berwenang di atasnya.

2.7

Genangan dan Kriteria Penilaian Tingkat Genangan Menurut Peraturan Menteri PU No. 14/PRT/M/2010, daerah yang

tergenang adalah terendamnya suatu kawasan permukiman lebih dari 30 cm selama lebih dari 2 jam dan terjadinya lebih dari 2 kali pertahun. Genangan yang dimaksud adalah air hujan yang terperangkap di daerah rendah/cekungan di suatu kawasan, yang tidak bisa mengalir ke badan air terdekat. Sedangkan menurut Badan Pengendalian Banjir, genangan adalah air yang memenuhi jalan dengan ketinggian air mencapai 30 -50 cm selama 30 40 menit atau satu jam. Selama ketinggian di bawah satu meter atau satu meter belum termasuk banjir. Kriteria penilaian tingkat genangan adalah: 1. 2. Dimensi saluran yang tidak sesuai. Perubahan tata guna kahan yang menyebabkan terjadinya peningkatan debit banjir di suatu daerah aliran sistem drainase. 3. 4. 5. Elevasi saluran tidak memadai. Lokasi merupakan daerah cekungan. Lokasi merupakan tempat retensi air yang diubah fungsinya, misalnya menjadi permukiman. 6. 7. 8. 9. Tanggul kurang tinggi. Kapasitas tampungan kurang besar. Dimensi gorong-gorong terlalu kecil sehingga aliran balik. Adanya penyempitan saluran.

10. Tersumbat saluran oleh endapan, sedimentasi atau timbunan sampah.


Tabel 2. 2 Kriteria Penilaian Tingkat Genangan
No. 1. Parameter Genangan Tinggi genangan >0,50 m 0,30 m 0,50 m 0,20 m 0,30 m 0,10 m - <0,20 m <0,10 m Luas Genangan >8 ha 4 - 8 ha Nilai 35 Persentase Nilai 100 75 50 25 0 100 75 50 II-21

2.

25

Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang


Parameter Genangan Nilai Persentase Nilai 2 - <4 ha 25 1 - <2 ha 0 < 1 ha 3. Lamanya Genangan 20 100 >8 jam 75 4 - 8 jam 50 2 - <4 jam 25 1 - 2 jam 0 < 1 jam 4. Frekuensi Genangan 20 100 Sangat sering (10 kali/tahun) 75 Sering (6 kali/tahun) 50 Kurang sering (3 kali/tahun) 25 Jarang (1 kali/tahun) 0 Tidak pernah Sumber: Materi Bidang Drainase Diseminasi dan Sosialisasi Keteknikan Bidang Ditjen Cipta Karya Kementrian Pekerjaan Umum. No.

PLP,

2.8 1.

Teknik Perhitungan Kebutuhan Drainase Dimensi Saluran Drainase b. Saluran Segi Empat Luas Segi Empat = p l Dimana: p = panjang (m) l = lebar (m) t = tinggi (m) c. Saluran Setengah Lingkaran

Dimana: r = jari jari (m)

d.

Saluran Lingkaran

Dimana: r = jari jari (m)

Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

II-22

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

e.

Saluran Trapesium

Dimana: (m) b = lebar bawah (m) t = tinggi (m) 2. Debit Air Limpasan (Qlimpasan) a. Intensitas Hujan (I) Menurut Haryono (1999) selama waktu konsentrasi (I) dihitung dengan menggunakan rumus Mononobe, yang merupakan dasar menentukan dalam menentukan harga intensitas hujan, yaitu:

Dimana: I R24 tc = Intensitas curah hujan dalam mm/jam = Curah hujan maksimum dalam 24 jam (mm) = Lamanya curah hujan (menit)

Metode log person tipe (1) a. Mengubah data curah hujan maksimum ke bentuk logaritma
= log

b.

Menghitung harga rata-rata log X

b.

Catchment Area (CA) Catchment area atau daerah tangkapan air adalah adalah kesatuan area dimana air permukaannya mengalir ke badan air yang sama baik berupa sungai atau danau, mengikuti arah kontur topografi area tersebut.

c.

Koefisien Run-Off (C) Koefisien pengaliran (runoff coefficient) merupakan

perbandingan antara jumlah air hujan yang mengalir atau limpasan di


Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya II-23

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

atas permukaan tanah (surface runoff) dengan jumlah air hujan yang jatuh dari atmosfir. Besaran ini dipengaruhi oleh tata guna lahan, kemiringan lahan, jenis, dan kondisi tanah.

Dimana: C = Koefisien pengaliran Q = Jumlah limpasan R = Jumlah curah hujan


Tabel 2. 3 Nilai Koefisien Run-off (C) untuk Daerah Urban
Tata Guna Lahan Perkantoran Daerah kota Daerah Sekitar Perumahan Rumah tinggal Rumah susun terpisah Rumah susun bersambung Pinggiran Daerah Industri Kurang padat industri Padat industri Kuburan Tempat bermain Daerah stasiun KA Daerah tidak berkembang Jalan Raya Aspalt Beton Batu bata Trotoar Daerah beratap Koefisien Pengaliran 0,70 0,95 0.50 0,70 0,30 0,50 0,40 0,60 0,60 0,75 0,25 0,40 0,50 0,80 0,60 0,90 0,10 0,25 0,20 0,35 0,20 0,40 0,10 0,30 0,70 0,95 0,80 0,95 0,70 0,85 0,70 0,85 0,75 0,95 Sifat Permukaan Tanah Tanah Lapang Berpasir datar 2% Berpasir agak datar 2 7% Berpasir kemiringan 7% Tanah Berat Tanah berat datar 2% Tanah berat agak datar 2-7% Tanah berat Kemiringan 2% Tanah pertanian Tanah kosong Rata Kasar Ladang garapan Tanah berat tanpa vegetasi Tanah berat dengan vegetasi Berpasir tanpa vegetasi Berpasir dengan vegetasi Rumput Tanah berat Berpasir Hutan / bervegetasi Tanah tidak produktif Rata, kedap air Kasar Koefisien Pengaliran 0,05 0,10 0,10 0,15 0,15 0,20 0,13 0,17 0,18 0,22 0,25 0,35 0 30% 0,03 0,60 0,20 0,50 0,30 0.60 0,20 0,50 0,20 0,25 0,10 0,25 0,15 0,45 0,05 0,25 0,05 0,25 >30% 0,70 0,90 0.50 0.70

Sumber : Asdak, 2004

3.

Debit Air Buangan Rumah Tangga (QRumah Tangga) Qrumah tangga = Jumlah penduduk per catchment area x Qair

4.

Debit Air Maksimum Saluran (Qsaluran) Qsaluran = 1/n, R2/3, S1/2

Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

II-24

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

Hubungan antara hujan dengan limpasan secara empiris bisa menggunakan rumus: Qlimpasan = 0.278 . C . Cs . I . A Dimana: Q C Cs I A = Debit ( / det)

= Koefisien aliran = Koefisien tampungan = Intensitas hujan selama waktu konsentrasi (mm/jam) = Luas daerah aliran ( )

Di wilayah perkotaan, luas daerah pengeringan pada umumnya memiliki karakteristik sub area (permukaan tanah) yang berbeda, sehingga koefisien pengaliran untuk masing-masing sub area nilainya berbeda. Untuk menghitung koefisien pengaliran dilakukan penggabungan dari masing-masing sub area menggunakan rumus :

Dimana: Q = Debit ( / det)

= Koefisien aliran sub area I = Intensitas hujan selama waktu konsentrasi (mm/jam) = Luas daerah sub area ( )

Rumus rasional lain hubungan anatara huajn dan limpasannya dipengaruhi oleh penyebaran hujannya sebagai berikut: Q=C. Dimana: Q C = Debit ( / det) . I .A

= Koefisien aliran = Koefisien penyebaran hujan

I A

= Intensitas hujan selama waktu konsentrasi (mm/jam) = Luas daerah aliran ( )

Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

II-25

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

Koefisien penyebaran hujan adalah nilai untuk mengoreksi pengaruh penyebaran hujan yang tidak merata pada suatu daerah pengaliran. Nilai besarannya tergantung dari kondisi dan luas daerah pengaliran.

Dimana: Cs Tc Td = Koefisien tampungan = Waktu konsentrasi (jam) = Waktu aliran air mengalir di dalam saluran dari hulu hingga ketempat pengukuran (jam)

Dimana: = Koefisien tampungan = Inlet time, waktu yang diperlukan air hujan mengalir di permukaan tanah dari titik terjauh ke saluran terdekat (jam). = Conduit time, waktu yang diperlukan air hujan untuk mengalir di dalam saluran dari hulu hingga ke tempat pengukuran (jam). 5. Debit Air Maksimum (Qtotal) Qtotal = Qlimpasan + Qrumah tangga 2.9 Aspek Teknis

A. Survei dan Investigasi Yang Diperlukan 1. Data Primer a. Data permasalahan dan kuantitatif Setiap lokasi genangan dalam menghitung kedalaman dan frekuensi genangan meliputi luas lahan. b. c. Data keadaan fungsi (Sistem geometri dan dimensi saluran) Data daerah pengaliran sungai (Topografi, hidrologi, morfologi sungai, sifat tanah, tata guna tanah, tata prasarana fasilitas)
Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya II-26

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

2.

Data Sekunder (Institusi, Peran serta masyarakat, dan Keadaan kesehatan lingkungan)

B. Merumuskan Rencana Sistem Drainase 1. Pembuatan Rencana induk, studi kelayakan dan perencanaan detail dengan penjelasan (studi kelayakan dan perencanaan detail). 2. Drainase perkotaan dilaksanakan secara menyeluruh dalam tahapan rencana. 3. Drainase perkotaan sedang/kecil merupakan tahapan perencanaan rencana dalam kerangka sebagai pengganti rencana induk. C. Tahap Pelaksanaan Analisis saluran, kapasitas saluran, curah hujan maksimum, taat guna laahan, koefisien pengaliran, debit air kotor, kependudukan. D. Tahap Operasi dan Pemeliharaan Tentang cara operasi dan pemeliharaan tahap pelaksanaannya. E. Tahap Evaluasi dan Monitoring Tentang tahap hasil dan pengarahan dalam pelaksanaan akhir.

2.10 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Konsep Arahan Pengembangan Perencanaan Sistem Drainase Harus dapat diatasi dengan biaya ekonomis. Pelaksaannya tidak menimbulkan dampak sosial. Dapat dilaksanakan dengan teknologi sederhana. Memanfaatkan semaksimal mungkin saluran yang ada. Jaringan drainase harus mudah pengoperasian dan pemelirahaannya. Mengalirkan air hujan ke badan sungai yang terdekat. Saluran drainase yang ada harus kuat sehingga dapat meminimalisir masalah-masalah yang berkaitan dengan drainase.

8. 9.

Pengembangan teknologi praktis mengenai saluran drainase. Bentuk dan pola saluran yang digunakan dapat dipaparkan dengan jelas.

10. Menjelaskan arah aliran dari saluran-saluran kecil.

Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

II-27

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

2.11

Perencanaan Sistem Drainase Eco Drainage adalah Drainase ramah lingkungan menjadi konsep utama

dalam implementasi pemahaman baru konsep ekohidraulik bidang drainase. Eco Drainage sebagai upaya mengelola kelebihan air dengan cara sebesar-besarnya diresapkan kedalam tanah secara alamiah atau mengalirkan ke sungai dengan tanpa melampaui kapasitas sungai sebelumnya. Air kelebihan pada musim hujan harus dikelola agar tidak mengalir secepatnya ke sungai, namun diusahakan meresap ke dalam tanah untuk cadangan pada musim kemarau. Konsep ini bersifat mutlak di daerah beriklim tropis

dengan perbedaan musim hujan dan kemarau yang ekstrem seperti di Indonesia. Berikut beberapa metode eko drainase yaitu: 1. Metode Kolam Konservasi Metode ini jika digunakan dalam skala besar sangat mudah untuk disosialisasikan melalui pola pemenuhan kebutuhan bahan urugan dan bahan galian. Pemerintah dan masyarakat bisa mencari lokasi bekas tambang galian untuk dikeruk. Hasilnya dipakai sebagai bahan urug, bekas galian untuk kolam resapan air hujan dan tempat rekreasi. Cara ini banyak dipraktekkan di Negara maju dalam jangka waktu tertentu, sehingga banyak mempunyai danau buatan dari tambang galian. Di samping itu, konstruksi kolam dapat dibangun di areal permukiman.

Gambar 2. 29 Kolam Konservasi Areal Permukiman Sumber: Agus Maryono dan Edy Nugroho Santoso (2006)

Selain itu dikenal juga kolam konservasi air hujan di areal pertanian. Kelebihan air hujan yang jatuh di areal pertanian serta limpasan dari jalan dan perkampungan dapat ditampung pada kolam-kolam penampungan (tidak langsung ke sungai). Pemerintah dan masyarakat dapat

memanfaatkan tanah kas desa atau membeli beberapa hektar tanah untuk dijadikan kolam konservasi air hujan.
Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya II-28

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

Limpasan air hujan suatu kawasan permukiman ditampung di kolam untuk diolah kembali menjadi air minum dan kebutuhan air irigasi. Cara ini banyak dipraktekan di kompleks perumahan perusahaan pertambangan di Sumatera dan Kalimantan. Pada kompleks perumahan atau kompleks perusahaan dapat didesain drainase air hujan terpadu dengan kolam tampungan (kolam tandon) untuk pemenuhan kebutuhan air bersih. Air hujan dari seluruh kawasan kompleks dialirkan menuju kolam tandon air hujan. Dengan

instalasi water treatment, air dalam kolam dimanfaatkan untuk sumber air bersih kawasan kompleks tersebut.

Gambar 2. 30 Kolam Konservasi Areal Pertanian dan Pertanian Tanpa Kolam Konservasi (Klateng, Jawa Tengah) Sumber: Agus Maryono dan Edy Nugroho Santoso (2006)

2.

Metode Sumur Resapan Metode sumur resapan air hujan untuk mengatasi permasalahan sebagai pengendali, melindungi dan memperbaiki (konservasi) air tanah serta menekan laju erosi. Penurunan muka air tanah yang terjadi dapat teratasi dengan bantuan sumur resapan air hujan. Tanda-tanda penurunan muka air tanah terlihat pada semakin dangkalnya sumur penduduk, keringnya sumber mata air pada musim kemarau dan adanya banjir pada musim penghujan.

3.

Metode River Side Polder Adalah metode menahan aliran air dengan mengelola atau menahan air kelebihan (hujan) di sepanjang bantaran sungai. Pembuatan metode pinggir sungai ini dilakukan dengan memperlebar bantaran sungai di berbagai tempat secara selektif di sepanjang sungai. Lokasi polder perlu dicari, sejauh mungkin yang dikembangkan mendekati kondisi alamiah

Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

II-29

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

(polder dengan pintu-pintu hidraulik teknis dan tanggul-tanggul lingkar hidraulis yang mahal. Pada saat muka air naik (banjir), sebagian air akan mengalir ke polder dan akan keluar jika banjir reda, sehingga banjir di bagian hilir dapat dikurangi dan konservasi air terjaga. Upaya ini sedang dilakukan di Jepang dan Jerman secara besarbesaran, sebagai upaya menahan air untuk konservasi sungai musim kemarau dan menghindari banjir serta meningkatkan daya dukung ekologi wilayah keairan. Metode ini dapat diusulkan untuk mengurangi banjir di kota-kota besar yang terletak di hilir sungai seperti Kota Jakarta, Surabaya, Medan Samarinda, dan lain-lain. Selain itu, dapat meningkatkan pasokan air sungai musim kemarau untuk mendukung transportasi sungai atau pertanian.

Gambar 2. 31 Metode kolam Konservasi dan Metode River Side Polder


Sumber: Maryono, 2000

4.

Metode Perlindungan Air Tanah Metode area perlindungan air tanah dilakukan dengan cara

menetapkan kawasan lindung untuk air tanah, di kawasan tersebut tidak boleh dibangun bangunan apapun. Areal tersebut dikhususkan untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah. Di beberapa daerah perlu dicari tempat yang cocok secara geologi dan ekologi sebagai areal untuk recharge dan perlindungan air tanah sekaligus sebagai agen penting dari komponen drainase kawasan. 5. Metode Parit Infiltrasi Salah satu drainase ramah lingkungan berupa parit yang diisi oleh agregat batu untuk penyerapan limpasan air hujan ke dalam tanah melalui dinding dan dasar parit. Parit infiltrasi didesain dengan lapisan filter dan kemudian diisi oleh batu kerikil agar berfungsi sebagai reservoir bawah tanah yang dapat menampung beban air limpasan hujan sesuai rencana.
Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya II-30

Permukiman Kota Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang

Sistem ini memerlukan struktur pencegah sedimen agar sedimen yang mengalir bersama air limpasan hujan dapat tertahan dan tidak ikut masuk ke dalam parit. Eco drainase ini memiliki keuntungan untuk mengurangi kecepatan aliran permukaan dan dapat menambah volume air tanah. Sedangkan kemungkinan terjadinya air polutan ke dalam air tanah, karena itu tidak bisa untuk sistem tercampur.

Gambar 2. 32 Tipikal Metode Parit Infiltrasi


Sumber: NMC CSRRP DI Yogyakarta, Central Java and West Java 8 (Pedoman Perencanaan Drainase Tersier).

Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

II-31