Anda di halaman 1dari 14

Tujuan Praperadilan dalam KUHP adalah untuk melakukan pengawasan secara horizontal atas segala upaya paksa yg dilakukan

oleh penyidik atau penuntut umum kepada tersangka selama pemeriksaan penyidikan atau penutntutan, agar tidankaan itu benar2 tidak bertentangan dengan ketentuan hokum dan undang2 yg berlaku Tujuan Hukum Acara Pidana untuk mencari dan mendapatkan atau setidak-tidakya mendekati kebenaran materil , ialah kebenaran yang selengkap lengkapnya dari suatu perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hokum acara pidana secara jujur dan tepat.membuktikan peristiwa sampai ke kakar-akarnya/formil Untuk mencari siapa pelaku yang dapat didakwa melakukan pelanggaran hokum dan selanjutnya meminta pemeriksaan dan putusan dari pengadilan. Tujuan Hukum acara perdata bertujuan untuk menegakkan, mempertahankan dan menjamin ditaatinya hukum perdata materiil. Disebut formil, karena mengatur proses penyelesaian perkara perdata secara formil melalui lembaga yang berwenang (lembaga peradilan) yang didasarkan pada ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Sedang perkataan acara, berarti acara (proses) penyelesaian perkara perdata tersebut haruslah dilakukan oleh lembaga peradilan, dengan melalui tahap-tahap tertentu.

Penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara pidana ke pengadilan negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang pengadilan. (Pasal 1 butir 7 KUHAP)

Prapenuntutan yaitu tindakan penuntut umum untuk member petunjuk dalam rangka penyempurnaan penyidikan oleh penyidik .(14 huruf b KUHAP)

Surat dakwaan adalah suatu akta yang memuat rumusan tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa yang disimpulkan dan ditarik dari hasil pemeriksaan penyidikan dan merupakan dasar bagi hakim dalam pemeriksaan di persidangan (M. Yahya Harahap; 1993:414-415)

Syarat-syarat dakwaan Syarat Formil 1. Identitas terdakwa (143 ayat (2) KUHAP), nama lengkap, tepat lahir, umur/ tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaan tersangka. 2. Tanggal dibuat 3. Tandatangan PU Syarat Materiil 1. Dirumuskan secara cermat, jelas dan lengkap tentang tindak pidana yang didakwakan terhadap terdakwa (143 (2) huruf b) 2. Disebutkan locus dan tempus delictie

Hak tersangka :

a. Hak segera mendapat pemeriksaan oleh penyidik, diajukan kepenuntut umum, segera dimajukan kepengadilan dan segera diadili oleh pengadilan; b. Hak untuk diberitahu dengan jelas dalam bahasa yang dimengerti olehnya tentang apa yang dipersangkakan serta didakwakan kepadanya; c. Hak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim dalam pemeriksaan pada tingkat penyidikan dn pengadilan; d. Hak untuk mendapat bantuan juru bahasa atau penerjemahbagi terdakwa atau saksi yang bisu atau tuli; e. Hak mmendapat bantuan hukum dari seorang atau lebih penasehat hukum selama dalam waktu dan pada setiap tingkat pemeriksaan; f. Hak memilih sendiri penasehat hukumnya; g. Hak mendapat bantuan hukum Cuma-Cuma bagi yang tidak mampu yang diancam dengan pidana lima tahun atau lebih; h. Hak menghubungi penasehat hukumnya dan bagi yang berkebangsaan asing berhak menghubungi dan berbicara dengan perwakilan negaranya dalam menghadapi proses perkaranya; i. Hak menghubungi dan menerima kunjungan dokter pribadinya untuk kepentigan kesehatannya; j. Hak diberitahukan tentang penahanannya kepada keluarga atau orang lain yang serumah atau orang lain yang bantuannya dibutuhakan; k. Hak menghubungi dan menerima kunjungn dari pihak yang mempunyai hubungan kekeluargaan atau lainnya; l. Hak menghubungi dan menerima kunjungan sanak keluarganya yang tidak ada hubungannya dengan perkara tersangka atau terdakwa untuk kepentingan pekerjaan atau kekeluargaan; m. Hak mengirim surat atau menerima surat dari/ke penasehat hukumnya atau keluarganya dengan tidak diperiksa kecuali terdapat cukup alasan untuk diduga bahwa surat menyurat tersebut disalahgunakan; n. Hak menghubungi dan menerima kunjungan dari rohaniawan; o. Hak untuk diadili di sidang pengadilan yang terbuka untuk umum; p. Hak untuk menuntut ganti kerugian dan rehabilitas. Hak Terpidana

1. hak untut menuntut ganti kerugian sebagaimana menurut pasal 95 (1) 2. hak untuk segera menerima atau menolak putusan pengadilan 3. hak untuk mempelajari putusan sebelum menyatakan menerima atau menolak putusan dlama tenggang waktu 7 hr 4. hak untuk minta perkaranya diperikda dalam tingkat banding dalam tenggang waktu yg diitetntukjan 5. hak untuk meminta pengagguhan pelaksanaan putusan dalam tenggang waktu yg ditentukan 6. hak untuk mengajukan [ppermintaan kasasi 7. hak mengjukan PK

Praperadilan, dalam istilah hukum Indonesia[1], adalah wewenang Pengadilan Negeri untuk memeriksa dan memutus tentang:

Sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan atau permintaan tersangka atau keluarganya atau pihak lain atau kuasa tersangka; Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan demi tegaknya hukum dan keadilan; Permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka atau keluarganya atau pihak lain atau kuasanya yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan.

PENGGABUNGAN PERKARA GUGATAN GANTI RUGI BAB 14 Penggabungan Perkara Gugatan Ganti Kerugian Penetapkan penggabungan perkara perdata tentang tuntutan ganti kerugian. 1. Jika suatu perbuatan yang menjadi dasar dakwaan di dalam suatu pemeriksaan perkara pidana oleh pengadilan negeri menimbulkan kerugian bagi orang lain, maka hakim ketua sidang atas permintaan orang itu dapat menetapkan untuk menggabungkan perkara gugatan ganti kerugian kepada perkara pidana itu. Pasal 98 ayat (1). 2. Permintaan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat diajukan selambat-lambatnya sebelum penuntut umum mengajukan tuntutan pidana. Dalam hal penuntut umum tidak hadir, permintaan diajukan selambat-lambatnya sebelum hakim menjatuhkan putusan. Pasal 98 ayat (2). Kewenangan pengadilan negeri untuk mengadili gugatan perdata perkara gabungan. 1. Apabila pihak yang dirugikan minta penggabungan perkara gugatannya pada perkara pidana sebagaima- na dimaksud dalam Pasal 98, maka pengadilan negeri menimbang tentang kewenangannya untuk mengadili gugatan tersebut, tentang kebenaran dasar gugatan dan tentang hukuman penggantian biaya yang telah dikeluarkan oleh pihak yang dirugikan tersebut. Pasal 99 ayat (1). 2. Kecuali dalam hal pengadilan negeri menyatakan tidak berwenang mengadili gugatan dinyatakan tidak dapat diterima, putusan hakim

hanya memuat tentang penetapan hukuman penggantiuan biaya yang telah dikeluarkan oleh pihak yang dirugikan. Pasal 99 ayat (2). 3. Putusan mengenai ganti kerugian dengan sendirinya mendapat kekuatan tetap, apabila putusan pidananya juga mendapat kekuatan hukum tetap. Pasal 99 ayat (3). Penggabungan dalam pemeriksaan tingkat banding. 1. Apabila terjadi penggabungan antara perkara perdata dan perkara pidana, maka penggabungan itu dengan sendirinya berlangsung dalam pemeriksaan tingkat banding. Pasal 100 ayat (1). 2. Apabila terhadap suatu perkara pidana tidak diajukan permintaan banding, maka permintaan banding mengenai putusan ganti rugi tidak diperkenankan. Pasal 100 ayat (2). Acara perdata berlaku bagi gugatan ganti kerugian dalam perkara gabungan. Ketentuan dari aturan hukum acara perdata berlaku bagi gugatan ganti kerugian sepanjang dalam undang-undang ini tidak diatur lain. Pasal 101

6. Penggabungan perkara : Dalam KUHAP diatur dua perkara yang digabungkan menjadi satu, yakni : 1. Perkara pidana dengan perkara perdata, dan 2. Perkara pidana sipil dengan pidana militer (koneksitas).

6. 1. Penggabungan perkara pidana dengan perdata.

Korban tindak pidana dapat menggugat ganti rugi seperti gugatan ganti rugi dalam perkara perdata, bersama-sama dengan pemeriksaan perkara pidana yang sedang berlangsung, sebelum memasuki taraf penuntut umum memajukan tuntutan (rekuisitur). Gugatan ganti rugi perdata yang digabung dengan per-kara pidana, maka yang perlu diperhatikan, ialah : a. tuntutan ganti rugi terbatas pada kerugian yang dialami korban sebagai akibat langsung dari tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa/tergugat. b. tuntutan ganti rugi terbatas sebesar yang diderita oleh sikorban/penggugat. c. tuntutan ganti rugi terbatas pada pelaku tindak pidana/tergugat.

6.2. Penggabungan Perkara pidana sipil dengan pidana militer (Koneksitas). Tindak pidana yang dilakukan bersama-sama oleh mereka yang termasuk lingkungan peradilan umum dan lingkungan peradilan militer (Koneksitas), diperiksa dan diadili oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan umum kecuali jika menurut keputusan Menteri Pertahanan dan keamanan dengan persetujuan Menteri Kehakiman perkara itu harus diperiksa dan diadili oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan militer.

Requisitoir adalah tahap pembacaan dan penyerahan surat hasil pemeriksaan di muka sidang pengadilan oleh jaksa kepada terdakwa. Kemudian dilanjutkan tahap Pleidoi yaitu pembelaan diri terdakwa terhadap tuduhan dan tuntutan hukuman yang diajukan oleh jaksa, pembelaan diri ini dilakukan pada

akhir pemeriksaan di muka sidang pengadilan sebelum dijatuhkan hukuman. Bila perlu dilanjutkan dengan pengajuan Replik yaitu jawaban atas jawaban terdakwa/pembelaannya atau jawaban terhadap pleidoi. Sebaliknya terdakwa atau pembelanya dapat mengajukan Duplik sebagai tanggapan atas replik yang diajukan jaksa.

d. Putusan hakim Sebagai tahapan rangkuman hasil-hasil tahap sebelumnya, maka penyusunannya harus dilakukan secara lengkap, cermat, adil atas semua alat bukti, keterangan saksi dan terdakwa serat fakta yang terjadi di persidangan. Pembacaan putusan dilakukan di depan sidang terbuka untuk umum demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Putusan yang dijatuhkan hakim terhadap perkara pidana ada 3 kemungkinan yaitu 1) Pemidanaan atau dijatuhi hukuman, jika yang didakwakan kepada terdakwa terbukti dengan sah dan meyakinkan 2) Bebas dari segala dakwaan, jika yang didakwakan kepada terdakwa tidak terbukti dengan sah dan meyakinkan. Putusan ini harus segera dilaksanakan oleh jaksa dalam tempo 3 x 24 jam sudah ada laporan pelaksanaannya kepada ketua pengadilan negeri. 3) Lepas dari segala tuntutan hukum, jika perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa sebenarnya terbukti tetapi perbuatan tersebut bukan merupakan tindak pidana baik kejahatan maupun pelanggaran atau terdakwa dalam perkara ini tidak dapat dipersalahkan karena cacat mental yang dideritanya atau karena keadaan terpaksa ia melakukan kewajiban hukumnya. Setelah hakim menjatuhkan putusan maka terdakwa berubah statusnya menjadi terhukum, kepadanya diberitahukan hak-haknya yaitu : 1) menerima putusan tersebut 2) pikir-pikir selama 7 hari 3) minta banding kepada pengadilan tinggi 4) mohon penangguhan pelaksanaan putusan pengadilan karena ia

mohon grasi. e. Pemeriksaan di tingkat banding pada pengadilan tinggi terjadi jika terhukum dan/atau penuntut umum tidak menerima putusan hakim di pengadilan negeri. f. Pemeriksaan di tingkat kasasi oleh Mahkamah Agung Tahap lanjutan jika terhukum dan/atau penuntut umum tidak menerima putusan hakim pengadilan tinggi. g. Eksekusi Tahap akhir dari proses perkara pidana yaitu pelaksanaan putusan pengadilan dan pengawasan serta pengamatan oleh hakim pengadilan negeri yang ditugaskan secara khusus oleh ketua pengadilan negeri.

Perkara koneksitas adalah perkara yang tersangka-tersangka pembuat deliknya tunduk pada yurisdiksi peradilan umum dan peradilan militer. Pengadilan yang berhak mengadilinya adalah Peradilan Umum, dasar pertimbangannya adalah Pasal 89 (1) KUHAP. Yang dimaksud dengan koneksitas adalah tindak pidana yang dilakukan bersama-sama oleh mereka yang termasuk dalam lingkungan peradilan umum dan lingkungan peradilan militer,, hal ini sesuai dengan yang terdapat dalam ketentuan pasal 89 ayat 1 Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana (KUHAP). 1. Prinsip Koneksitas Dalam ketentuan pasal 89 (1) KUHAP, terdapat sebuah ketentuan prinsip pemeriksaan dan peradilan perkara koneksitas, yakni lingkungan peradilan yang aka memeriksan dan mengadili perkara koneksitas adalah lingkungan Peradilan Umum. Akan tetapi, ada pengecualian lagi disini yang mengakibatkan Peradilan Militer bisa untuk memeriksa dan mengadili perkara koneksitas ini, yakni bila dalam kondisi:

1. Jika ada keputusan Menteri Pertahanan yang mengharuskan perkara koneksitas ini diperiksa dan diadili oleh lingkungan Peradilan Militer. 2. Keputusan Menteri Pertahanan tersebut telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) bahwa perkara koneksitas itu diperiksa dan diadili oleh oleh lingkungan Peradilan Militer.

1. Kapan Diperiksa Peradilan Militer Kapan sebuah perkara koneksitas itu diperiksan dan diadili oleh lingkungan Peradilan Militer itu diatur dalam ketentuan pasal 90 KUHAP yang menjelaskan : 1. untuk menentukan apakah lingkungan peradilan militer yang berwenang memeriksa dan mengadili suatu perkara koneksitas, diukur dari segi kerugian yang ditimbulkan oleh tindak pidana itu, 2. apabila kerugian yang ditimbulkan oleh sebuah tindak pidana tersebut lebih memberikan kerugian terhadap kepentingan militer, sekalipun pelaku tindak pidananya lebih banyak dari kalangan masyarakat sipil, pemeriksaan perkara koneksitas akan dilakukan oleh lingkungan peradilan militer. Selama kerugian yang ditimbulkan oleh tindak pidana yang terjadi tidak merugikan kepentingan militer, sekalipun pelakunya lebih banyak anggota TNI/Polri, maka perkara koneksitas diperiksa dan diadili oleh lembaga peradilan umum. 1. Penyidikan Perkara Koneksitas Pasal 89 (2) KUHAP telah menentukan cara dan aparat yang berwenang dalam melakukan penyidikan terhadap perkara koneksitas. Aparat

penyidik perkara koneksitas terdiri dari suatu tim tetap, yang terdiri dari unsur : a. Unsur Penyidik Polri; b. c. Polisi Militer; Oditur Militer atau Oditur Militer Tinggi

Cara bekerja tim disesuaikan dengan kewenangan yang ada pada masing-masing unsur tim. Bila dilihat dari segi wewenang masingmasing unsur tim, maka : a. tersangka pelaku sipil diperiksa oleh unsur penyidik Polri.

b. Sedangkan tersangka pelaku anggota TNI/Polri diperiksa oleh penyidik dari Polisi Militer dan Oditur Militer. 1. Susunan Majelis Peradilan Koneksitas Susunan Majelis Hukum peradilan perkara koneksitas disesuaikan dengan lingkungan peradilan yang mengadili perkara tersebut. a. Apabila perkara koneksitas diperiksa dan diadili oleh lingkungan peradilan umum, maka susunan Majelis Hakimnya adalah : Sekurang-kurangnya Majelis Hakim terdiri dari tiga orang.

Hakim Ketua diambil dari Hakim Peradilan Umum (Pengadilan Negeri). Hakim Anggota ditentukan secara berimbang antara lingkungan peradilan umum dengan lingkungan peradilan militer.

b. Apabila perkara koneksitas diperiksa dan diadili oleh lingkungan Peradilan Militer, maka susunan Majelis Hakimnya adalah : Hakim Ketua dari lingkungan Peradilan Militer.

Hakim Anggota diambil secara berimbang dari hakim Peradilan Umum dan Peradilan Militer. Hakim Anggota yang berasal dari lingkungan Peradilan Umum diberi pangkat militer tituler. Yang mengusulkan Hakim Anggota adalah Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia bersama dengan Menteri Pertahanan. Susunan ini juga berlaku pada susunan Majelis Hakim pada tingkat Banding.

Berdasarkan Pasal 1 angka 5 PP No. 43 Tahun 2012, yang dimaksud dengan PPNS adalah Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang berdasarkan peraturan perundang-undangan ditunjuk selaku Penyidik dan mempunyai wewenang untuk melakukan penyidikan tindak pidana dalam lingkup undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masingmasing. WEWENANG PPNS a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang perlindungan konsumen;

b. melakukan pemeriksaan terhadap orang lain atau badan hukum yang diduga melakukan tindak pidana di bidang perlindungan konsumen; c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan dengan peristiwa tindak pidana di bidang perlindungan konsumen; d. melakukan pemeriksaan atas pembukuan, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang perlindungan konsumen; e. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti serta melakukan penyitaan terhadap barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana di bidang perlindungan konsumen. f. Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang perlindungan konsumen.