Anda di halaman 1dari 16

KOINONIA

LITURGIA KERYGMA MARTYRIA DIAKONIA

Gereja yang membentuk persatuan umat

KOINONIA

Koinonia adalah salah satu dari tugas panggilan gereja di dunia ini yang menyatakan keberadaan gereja selaku persekutuan orang-orang percaya yang diutus ke dalam dunia.

Persekutuan itu nyata (konkret) yang mempunyai anggota jemaat, mempunyai peraturan dan mempunyai kepengurusan dengan susunannya. Tetapi persekutuan yang dinyatakan dalam bentuk jemaat-jemaat tidaklah sama dengan persekutuan-persekutuan lainnya di luar gereja. Persekutuan gereja dibangun diatas dasar para rasul dan para nabi dengan Yesus Kristus sebagai batu penjuru (Ef. 2:20). Persekutuan didalam Yesus Kristus yang berasaskan iman, kasih, dan pengharapan (I Kor. 13:3).
Koinonia berarti juga persekutuan jemaat dalam persekutuan Roh. Kuasa yang nyata dari Roh Kudus yang memimpin, menolong, menasehati, menghibur, membaharui dan mempersatukan warga jemaat.

Jemaat sebagai persekutuan, baik disuatu tempat tertentu, maupun di suatu wilayah / daerah, berhubungan satu sama lain, menjadi satu persekutuan keluarga besar. Persekutuan jemaat mempunyai tempat yang konkrit dan tertentu, tetapi ia bukan merupakan jemaat seandainya ia berada di tempat tertentu saja. Demikianlah jemaat yang berkumpul dimanamana menjadi satu persekutuan dengan seluruh umat Allah.

Koinonia, sebagai salah satu dari tugas panggilan gereja di dunia ini, mengharuskan gereja mewujudkan persekutuan didalam Yesus Kristus dan berdiri teguh dalam satu Roh. Dalam persekutuan jemaat aspek menyeluruh (total) diwujudkan dalam persaudaraan dalam Kristus. Yesus telah mati untuk semua orang. Dengan demikian persekutuan jemaat adalah juga persekutuan ibadah. Melalui persekutuan ibadah, anggota jemaat menyadari bahwa seluruh hidup orang percaya adalah korban yang harus dipersembahkan kepada Allah (Roma 12 : 1). Sebagai persekutuan ibadah, Gereja adalah: persekutuan dari umat yang kudus umat milik Allah (1 Pet. 2 : 9) persekutuan yang tidak bercacat (Ef. 5:27) tiang penopang dan dasar kebenaran (1 Tim. 3:15).

Ciri ciri gereja sebagai persekutuan umat :


Hidup persaudaraan Keikutsertaan semua umat Sikap miskin di hadapan Allah, sederhana, terbuka, dan saling berbagi

LITURGIA Gereja yang menguduskan


Fungsi ke Dalam

Setiap gereja merupakan suatu persekutuan yang berkumpul bersama untuk


menyembah Allah. Gereja terdiri dari seluruh keluarga Allah yang berkumpul untuk bersekutu (koinonia dalam persekutuan dengan semua orang percaya -apapun kondisi masing-masing mereka -- bersaudara, saling mengasihi dan

membantu bagi terwujudnya perkembangan masing-masing. Semua orang


percaya wajib dibangun dalam iman yang benar, melalui pelajaran yang benar dan sakramen-sakramen gereja, bagi tercapainya tujuan bersama, yaitu menjadi serupa dengan Kristus. Jemaat harus dilengkapi untuk dapat hidup benar dan

setia melakukan kewajiban-kewajibannya, baik terhadap gereja, sesama orang


percaya, maupun terhadap tugas ke luar gereja.

Sakramen-Sakramen Gereja

Sakramen berarti lambang atau simbol yang kudus. Disebut simbol yang kudus karena di balik simbol sakramen tersebut hadir karya keselamatan Allah.

Unsur pokok sakramen : Tanda yang kelihatan Rahmat Allah yang tidak kelihatan Iman si penerima Iman si pemberi

Macam-macam sakramen

Sakramen baptis Sakramen krisma Sakramen ekaristi Sakramen tobat Sakramen perminyakan / pengurapan orang sakit Sakramen perkawinan Sakramen tahbisan, ada 3 : Tahbisan episkopat uskup Tahnisan imamamat imam Tahbisan diakonat diakon Dari ketujuh sakramen tersebut ada 3 sakramen utama yang disebut sakramen inisiasi, yaitu : Sakramen baptis Sakramen krisma Sakramen ekaristi

KERYGMA

Dari bahasa Yunani, kerygma, berarti tindakan mewartakan atau pesan yang diwartakan

Pesan dasar yang menyatakan tindakan Allah yang mewartakan dan melaksanakan karya penyelamatan dalam wafat dan kebangkitan Yesus (Rom. 16.25; I Kor. 1.21; 15. 35) Pewartaan ini mendahului pengajaran yang lebih rinci mengenai Kristus dan Kristianitas

Pelaksana Tugas Gereja Mengajar dan Mewartakan (Relevansi Kanon 747 dan 773, KHK 1983)

Pada hal dalam Hukum Gereja, tugas mengajar adalah bagian penting dan utama dari Gereja di tengah dunia seperti tercantum dalam Buku III, dengan judul Tugas Gereja Mengajar. Kan. 747,
1.

Kepada Gereja dipercayakan oleh Kristus Tuhan khazanah iman agar Gereja dengan bantuan Roh Kudus menjaga kebenaran yang diwahyukan tanpa cela, menyelidikinya secara lebih mendalam serta memaklumkannya dan menjelaskannya dengan setia. Gereja mempunyai tugas dan hak asasi untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa, pun dengan alat-alat komunikasi sosial yang dimiliki Gereja sendiri, tanpa tergantung dari kekuasaan insani manapun juga. Berwenang untuk selalu dan di mana-mana memaklumkan asas-asas kesusilaan, pun yang menyangkut tata-kemasyarakatan dan untuk membawa suatu penilaian tentang segala hal-ikhwal insani, sejauh hak-hak asasi manusia atau keselamatan menuntutnya.

2.

Bentuk sabda Allah dalam gereja : 1. Yesus, sang sabda yang menjadi manusia 2. Sabda/pewartaan para rasul sebagai daya yang membangun gereja 3. Sabda Allah dalam kitab suci sebagai kesaksian normatif 4. Sabda Allah dalam pewartaan aktual gereja sepanjang zaman

Pola Pewartaan
Pewartaan verbal Pewartaan dengan kata-kata Tugas kaum hierarki namun kaum awam juga dapat berpartisipasi Bentuknya : 1. Khotbah/homili 2. Pelajaran agama 3. Katakese umat 4. Pendalaman kitab suci Perwartaan dalam bentuk kesaksian hidup (martyria) Lebih dipercayakan pada kaum awam

Dua tuntutan dalam pewartaan 1. Mendalami dan menghayati sabda Tuhan 2. Mengenal dan memahami konteks masyrakat pada umumnya dan umat pada khususnya

Magisterium ( wewenang mengajar ) dan pewarta sabda Dipegang kaum hierarki Memaklumkan ajaran Kristus tanpa sesat 4 syarat sehingga ajaran kaum hierarki dapat dikatakan tidak sesat : 1. Ajaran ini harus menyangkut iman dan kesusilaan 2. Ajaran ini harus bersifat otentik 3. Ajaran dinyatakan dengan tegas dan definitif 4. Ajaran itu disepakati bersama dalam persekutuan dengan dewan para uskup dan paus sebagai kepalanya

Gereja yang menjadi saksi

MARTYRIA

Dari bahasa Yunani martyr, yang berarti saksi Orang yang dengan rela menderita dan mati karena cintanya kepada Kristus (LG. 50). Dalam Yoh., istilah ini dipakai untuk menyebut kesaksian Bapa bagi PuteraNya (Yoh. 5.37), kesaksian yang diberikan oleh Yesus (Yoh. 3.1-12), dan kesaksian Yoh. Pembaptis (Yoh. 1.6-8, 15, 19-36; 3.22-30; 5.33) Para rasul dan orang-orang Kristiani lainnya memberikan kesaksian tentang kebenaran (Lk. 24.48; Kis. 1.18-22) Dalam perkembangan selanjutnya, martir dipakai untuk menyebut orang yang menderita dan mati demi kesaksian mereka (Kis. 22.30; Why. 12.11) Kematian Yesus sendiri dilihat sebagai contoh utama kemartiran (Lih. Kis. 1.5; 3.14) Secara sederhana, diartikan sebagai kesaksian iman menurut keberanian dan kesetiaan bahkan rela mati dari setiap anggota Gereja melalui sikap, perbuatan, katakata dan karya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya kesaksian akan kejujuran, persaudaraan, kasih, pengorbanan, kesahajaan, kerendahan hati, keadilan, membela orang-orang kecil, dsb. Ada 2 jenis kesaksian, yaitu : Kesaksian martir putih melaui kata-kata, tingkah laku dan perbuatan Kesaksian martir merah diberikan meleui kematian demi mempertahankan iman

Gereja yang Melayani

DIAKONIA

Istilah PB yang menunjukkan bahwa kedudukan dan perutusan dalam Gereja adalah demi pelayanan kepada jemaat (Kis. 1. 17. 25; 21.19; Rom. 11.13; 1 Tim. 1.12) Secara sederhana diartikan sebagai pelayanan kasih setiap anggota Gereja terhadap satu sama lain dalam wujud dan bentuk-bentuk konkrit, khususnya di bidang kehidupan sehari-hari: material, sosial, ekonomi, pendidikan dan kesehatan, sehingga terwujud suatu kehidupan yang layak bagi seluruh umat Allah.

Dasar pelayanan gereja semangat Kristus sendiri. Pelayanan Kristiani adalah sikap pokok para pengikut Kristus. Ciri-ciri pelayanan gereja 1. Bersikap sebagai pelayan 2. Kesetiaan kepada Kristus sebagai tuhan dan Guru 3. Orientasi pelayanan gereja terutama ditujukan pada orang miskin 4. Kerendahan Hati Bentuk-bentuk pelayanan ekstern Gereja 1. Pelayanan di bidang kebudayaan dan pendidikan 2. Pelayanan di bidang kesejahteraan 3. Pelayanan di bidang politik dan hukum Bentuk-bentuk pelayanan intern gereja 1. Pelayanan sakramental 2. Pelayanan pastoral

Kelompok :
Jaquline Yuanita C. XI IS 5 22 Maria Magdalena XI IS 5 27 Clavin Yang XI Is 5 15 Evelyn Tanjong XI IS 5 33 Vely Tannia L. XI IS 5 35 Ivan K. XI IS 5 - 14