Anda di halaman 1dari 18

General Election is a must for democratic countries.

There are many general election system that range from simple to complicated systems. Since 1955 to 1999 Indonesia has performed 8 general elections. Each of which has its own law and regulations which reflect political interest of its era. This article describes the 2004 General Election regulations and procedures, district magnitude, nomination method, balloting, and formula to determine the elected candidates. This article also describes problems arising from the grey area in the Law 12 of 1999 and its solutions offered by the General Election Committee. constituencies, sistem daftar terbuka, sistem daftar tertutup, dan preferensi (alternatives votes). Keragaman ini terjadi karena masing-masing pihak menamai sistem pemilihan umum dari dimensi yang berbeda. Mereka yang melihat sistem pemilihan umum dari dimensi lingkup dan besaran daerah pemilihan menamai sistem pemilihan umum itu single-member constituency atau multi-member constituencies. Bila sistem pemilihan umum dilihat dari dimensi pencalonan, maka sistem pemilihan umum akan dinamai sistem daftar terbuka (open list system) atau sistem daftar tertutup (closed list system). Sistem pemilihan umum preferensi (baik total maupun parsial) atau alternative votes, sebagaimana diterapkan di Australia, merupakan nama sistem pemilihan umum yang dilihat dari dimensi metode pemberian suara. Tetapi bila sistem pemilihan umum dilihat dari dimensi formula penentuan calon terpilih, maka nama yang diberikan terhadap sistem pemilihan umum adalah sistem proporsional atau sistem mayoritas/pluralitas.

Sistem pemilihan umum mengandung empat dimensi, yaitu (1) lingkup dan besaran daerah pemilihan, (2) metode pencalonan, (3) metode pemberian suara, dan (4) formula pembagian dan/atau penentuan calon terpilih. Lingkup dan Besaran Daerah Pemilihan Dimensi pertama menyangkut lingkup dan besaran daerah pemilihan (district magnitude) untuk pemilihan anggota DPR dan DPRD, dan untuk pemilihan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Yang dimaksud dengan daerah pemilihan ialah batas wilayah dan/atau jumlah penduduk yang menjadi dasar penentuan jumlah suara untuk menentukan calon terpilih. Lingkup daerah pemiihan dapat ditentukan berdasarkan (a) wilayah administrasi pemerintahan (nasional, provinsi, atau kabupaten/kota), (b) jumlah penduduk, atau, (c) kombinasi faktor wilayah dengan jumlah penduduk. Besarandaerah pemilihan merujuk pada jumlah kursi untuk setiap daerah pemilihan, yaitu apakah satu kursi untuk setiap daerah pemilihan (single-member constituency) ataukah lebih dari satu kursi untuk setiap daerah pemilihan (multi-member constituencies). Karena perubahan Ketiga UUD1945 mengadopsi sistem perwakilan rakyat berupa bicameral (bukan soft bicameral dan bukan strong bicameral, yaitu keberadaan DPR sebagai lembaga perwakilan yan mewakili penduduk sedangkan DPD mewadahi keterwakilan daerah, maka yang perlu dicermati dalam UU Pemilu ialah apakah daerah pemilihan angota DPR didasarkan sepenuhnya berdasarkan jumlah penduduk ataukah berdasarkan wilayahadministrasi pemerintahan? Apakah setiap kabupaten/kota berapapun jumlah penduduknya dijamin sekurangkurangnya satu kursi di DPR seperti yang berlaku selama ini? Kalau setiap kabupaten/kota dijamin minimal satu kursi di DPR, sedangkan jumlah penduduk kabupaten/kota yang satu dengan yang lain sangat jauh berbeda (antara 20.000 sampai 3 juta jiwa), maka partai politik apakah yang paling diuntungkan? Setiap pilihan lingkup daerah pemilihan dan besaran daerah pemilihan mempunyai implikasi yang luas tidak saja terhadap kemungkinan partai politik mendapatkan kursi, dank arena itu pada sistem kepartaian yang akan terbentuk, tetapi juga perimbangan jumlah kursi pula Jawa dengan luar Jawa.

Lingkup dan besaran daerah pemilihan anggota DPR menurut UU No. 12 Tahun 2003 dapat digambarkan sebagai berikut. Pertama, daerah pemilihan anggota DPR adalah provinsi. Kedua, jumlah anggota DPR ditetapkan sebanyak 550 orang. Ketiga, jumlah kursi DPR untuk setiap provinsi ditetapkan berdasarkan jumlah penduduk dengan memperhatikan perimbangan yang wajar. Perimbangan yang wajar dicapai dengan tiga ketentuan berikut, yaitu (1) kuota setiap kursi maksimal 425.000 jiwa untuk daerah yang tingkat kepadatan penduduknya tinggi, sedangkan untuk daerah yang tingkat kepadatan penduduknya rendah kuota setiap kursi minimal 325.000 jiwa; (2) jumlah kursi setiap provinsi dialokasikan tidak kurang dari jumlah kursi provinsi pada Pemilu 1999; dan (3) provinsi baru hasil pemekaran setelah Pemilu 1999 memperoleh alokasi kursi sekurang-kurangnya tiga kursi. Dan keempat, setiap daerah pemilihan mendapat alokasi kursi antara 3 sampai 12 kursi.

Namun UU No. 12 Tahun 2003 tidak merumuskan secara jelas apa ukuran daerah dengan kepadatan tinggi dan kepadatan rendah. Setidak-tidaknya terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan untuk menentukan daerah dengan kepadatan rendah. Pertama, membuat klarifikasi berdasarkan kriteria perbandingan jumlah penduduk dengan luas wilayah daerah. Atau kedua, semua provinsi di Pulau Jawa dikategorikan sebagai daerah dengan kepadatan tinggi sedangkan seluruh Provinsi di luar Pulau Jawa dikategorikan sebagai daerah dengan kepadatan rendah. Dasar pemikiran pendekatan kedua adalah perimbangan kursi DPR di Pulau Jawa dengan luar pulau Jawa. Pendekatan pertama lebih menggambarkan kenyataan daripada pendekatan kedua tetapi pendekatan kedua secara teknis lebih praktis daripada pendekatan pertama. KPU harus memilih salah satu dari duan pendekatan ini.

Agar lebih konkrit, akan diambil Provinsi Jawa Timur (Jatim) sebagai contoh daerah yang kepadatan penduduknya tinggi. Apabila jumlah penduduk Jawa Timur mencapai 35 juta jiwa, maka jumlah kursi DPR untuk Provinsi Jatim adalah sebanyak 82 kursi (35 juta dibagi dengan 425.000). Karena satu daerah pemilihan atas 3 sampai 12 kursi, maka 82 kursi DPR untuk Jatim dapat dibagi menjadi minimal 7 daerah pemilihan dan maksimal 27 daerah pemilihan. Penetapan jumlah daerah pemilihan anggota DPR untuk Jawa Timur akan ditentukan oleh jawaban atas dua pertanyaan berikut. Pertama, prinsip apakah yang lebih dikedepankan: keterwakilan rakyat ataukah akuntabilitas wakil rakyat. Bila yang kedua dikedepankan, maka jumlah kursi yang diperebutkan pada setiap daerah pemilihan berkisar antara 3 sampai 7 kursi (makin sedikit kursi yang diperebutkan pada setiap daerah pemilihan makin tinggi akuntabilitas wakil rakyat), sedangkan jika yang pertama dikedepankan maka jumlah kursi setiap daerah pemilihan berkisar antara 8 sampai 12 kursi (makin banyak kursi yang diperebutkan pada setiap daerah pemilihan makin tinggi keterwakilan rakyat). Makin sedikit kursi yang diperebutkan pada setiap daerah pemilihan, makin menguntungkan partai politik besar. Sebaliknya makin banyak kursi yang diperebutkan pada setiap daerah pemilihan, makin menguntungkan partai politik kecil. Pilihan yang harus diambil oleh KPU atas pertanyaan pertama ini tentu juga harus mempertimbangkan jawaban atas pertanyaan kedua berikut, yaitu berapa jumlah berapa jumlah penduduk setip kabupaten/kota dan apakah terdapat perbedaan jumlah penduduk yang besar antar kabupaten/kota.

Lingkup dan besaran daerah pemilihan anggota DPD secara jelas sudah ditetapkan dalam UU No. 12 tahun 2003, yaitu daerah pemilihan anggota DPD adalah provinsi, dan setiap daerah pemilihan ini mendapat alokasi empat kursi. Lingkup dan besaran daerah pemilihan anggota DPD adalah provinsi, dan setiap daerah pemilihan ini mendapat alokasi empat kursi. Lingkup dan besaran daerah pemilihan anggota DPRD Provinsi menurut UU No. 12 Tahun 2003 tegambar dalam ketentuan berikut. Pertama, daerah pemilihan anggota DPRD Provinsi adalah kabupaten/kota atau gabungan kabupaten/kota. Kedua, jumlah kursi DPRD setiap provinsi ditetapkan oleh KPU berdasarkan jumlah penduduk, yaitu minimal 35 kursi maksimal 100 kursi. Dan setiap daerah pemilihan mendapat alokasi kursi minimal tiga kali maksimal 12. Bila Provinsi Gorontalo memiliki jumlah penduduk di bawah 1 juta, maka jumlah kursi DPRD Provinsi Gorontalo adalah sebanyak 35. Jumlah kursi DPRD ini kemudian dibagi menjadi sekurang-kurangnya tiga daerah pemilihan dan sebanyak-banyaknya 11 daerah pemilihan. KPU dengan bantuan KPU Provinsi Gorontalolah yang harus menetapkan berapa jumlah daerah pemilihan untuk memilih anggota DPRD Provinsi Gorontalo, dan berapa jumlah kursi untuk setiap daerah pemilihan. Penetapan daerah pemilihan seperti ini juga tergantung pada prinsip apakah yang dipilih oleh KPU (keterwakilan atau akuntabilitas) dan pada jumlah dan perimbangan jumlah penduduk kabupaten/kota yang ada di Provinsi Gorontalo. Prosedur dan prinsi yang sama juga berlaku bagi penetapan lingkup dan besaran daerah pemilihan anggota DPRD kabupaten/kota.

Kecuali persyaratan dan kriteria jumlah penduduk dan wilayah administrasi, UU No.12 Tahun 2003 tidak menyebut kriteria lain yang seyogyanya digunakan ketika KPU harus melakukan penggabungan kecamatan dalam menetapkan daerah pemilihan. Secara tersirat UU No. 12 Tahun 2003 mengamanatkan penggabungan wilayah administrasi pemerintahan harus mencakup wilayah administrasi pemerintahan secara utuh (bukan pembelahan wilayah dan penduduk kabupaten/kota untuk daerah pemilihan anggota DPR dan DPRD Provinsi, dan bukan pula pembelahan wilayah dan penduduk kecamatan untuk daerah pemilihan anggota DPRD kabupaten/kota). Ketentuan untuk tidak membelah wilayah dan penduduk suatu kabupaten/kota atau kecamatan seperti ini mungkin tidak dapat diterapkan di DKI Jakarta. Persyaratan dan kriteria yang biasanya digunakan ketika harus melakukan penggabungan kecamatan menjadi suatu daerah pemilihan adalah berbatasan secara fisik (wilayahnya tidak boleh dipisahkan oleh wilayah lain), penduduk pada wilayah tersebut dapat berkomunikasi secara mudah (tidak dipisahkan oleh gunung, laut ataupun sungai yang sukar diatasi dengan sarana transportasi), dan kedekatan secara sosio-kultural. Kriteria-kriteria ini sangat relatif sehingga memerlukan kearifan dalam menimbang dan memilih.

Metode Pencalonan Dimensi yang kedua berkaitan dengan pencalonan, yaitu siapakah yang mengjukan calon: partai politik peserta pemilihan umum, atau perorangan ataukah keduanya? Jawaban atas pertanyaan ini tentu tergantung pada siapa yang menjadi peserta Pemilihan Umum: partai politik, perseorangan (calon independen), atau keduanya. Bila perseorangan yang menjadi peserta pemilu maka yang mengajukan calon tertentu bukan pengurus partai politik melainkan sekumpulan anggota masyarakat yang mendukung calon perseorangan tersebut. Namun bila partai politik yang menjadi peserta pemilu, maka calon dapat saja diseleksi dan diajukan oleh pengurus partai politik tetapi dapat pula diseleksi oleh pengurus partai tetapi dipilih oleh anggota partai secara terbuka dan kompetitif sebagai pemilihan pendahuluan. Jumlah calon yang dapat diajukan sudah barang tentu tergantung pada besaran daerah pemilihan, yaitu berapa kursi yang ditetapkan untuk setiap daerah pemilihan tertentu. Apabila partai politik yang mengajukan calon, sedangkan untuk suatu daerah pemilihan dialokasikan lebih dari satu kursi, maka daftar calon yang diajukan partai politik dapat bersifat tertutup (closed list system), yaitu nomor urut calon yang akan mendapatkan kursi ditentukan oleh pengurus partai politik, tetapi dapat pula bersifat terbuka (open list system), yaitu nomor urut calon yang akan mendapatkan kursi ditentukan oleh pemilih berdasarkan rangking jumlah suara yang diperoleh setiap calon. Pilihan atas peserta pemilu, pihak yang mengajukan calon, dan jenis daftar calon sudah barang tentu akan mempunyai implikasi tidak saja pada keterwakilan berbagai kelompok masyarakat dalam lembaga perwakilan dan keterwakilan aspirasi berbagai kelompok masyarakat tetapi juga pada kualitas calon terpilih.

Menurut UU No. 12 tahun 2003, peserta pemilihan anggotaDPR/D adalah partai politik peserta pemilu, sedangkan peserta pemilihan anggota DPD adalah perseorangan. Partai politik peserta pemilu dapat mengajukan calon sebanyakbanyaknya 120 persendari jumlah kursi yang diperebutkan pada setiap daerah pemilihan demokratis dan terbuka serta dapat mengajukan calon dengan memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30 %. Partai Politik Peserta Pemilu diharuskan UU untuk mengajukan daftar calon dengan nomor urut (untuk mendapatkan Kursi). Karena itu dari segi pencalonan UU No.12 Tahun 2003 mengadopsi sistem daftar calon tertutup. Metode Pemberian Suara Dimensi ketiga menyangkut metode pemberian suara (balloting), yang pada dasarnya menyangkut tiga hal, yaitu (a) apakah suara diberikan kepada partai politik atau kepada kandidat ataukah keduanya, (b) apakah pemberian suara dilakukan secara kategorik ataukah secara ordinal, seperti sistem preferensi, yaitu merangking pilihan atas sejumlah calon (alternative votes), dan (c) apakah pemberian suara dilakukan secara tradisional (mencoblos) ataukah secara terpelajar (menuliskan nama, nomor atau tanda baca).

Alternatif pilihan yang diberikan terhadap (a) dan (b) mempunyai implikasi yang luas terhadap banyak hal, seperti kepada siapa calon terpilih akan bertanggunggugat (akuntabel), orientasi politik peserta Pemilu apakah inklusif ataukah eksklusif, dan pola perilaku memilih apakah berupa politik massa ataukah citizen politics. Pilihan atas (c) akan mempunyai implikasi pada kualitas pemilihan umum, khususnya pada jumlah suara yang tidak sah.

Pemberian suara menurut UU No.12 Tahun 2003 dilakukan secara kategori, suara diberikan kepada partai politik dan calon, dan pemberian suara dilakukan secara tradisional, yaitu mencoblos salah satu tanda gambar partai politik peserta pemilu dan salah satu calon dari daftar calon yang diajukan oleh partai politik yang tanda gambarnya dipilih tersebut. Surat Suara (SS) coblosan dinyatakan sah apabila: (1) SS itu ditanda-tangani oleh Ketua KPPS, (2) terdapat coblosan terhadap satu tanda gambar partai politik peserta pemilu dan terhadap satu calon dari daftar calon yang diajukan oleh partai politik yang tanda gambarnya dicoblos, atau (3) terdapat tanda coblosan pada satu tanda gambar partai politik peserta pemilu tanpa mencoblos salah satu calon. Apakah coblosan terhadap satu tanda gambar partai politik tetapi calon yang dipilih dari partai politik lain dapat dikategorikan sah? Sebagian orang menyatakan pemberian suara seperti itu tidak sah karena tidak termasuk yang dinyatakan dalam pasal 93 tetapi sebagian yang lain berpendapat pemberian suara seperti itu sah tetapi hanya coblosan terhadap tanda gambar partai politik sedangkan coblosan terhadap nama calon dari partai lain tidak sah. Ketika menyusun tata cara pemberian suara, KPU akan mengatur secara lebih jelas persoalan tersebut. Bila selain mencoblos satu tanda gambar partai politik, setiap pemilih juga diminta mencoblos satu calon dari daftar calon yang diajukan oleh partai politk, mengapa mencoblos tanda gambar partai saja tanpa mencoblos satu calon dikategorikan sah? UU sudah mengatur demikian sehingga KPU tidak bisa lain kecuali harus menegakkan ketentuan tersebut.

Formula Pemberian Kursi/Penentuan Calon Terpilih Dimensi yang keempat menyangkut formula penentuan calon terpilih, yaitu rumus yang digunakan untuk menentukan calon terpilih. Rumus ini tentu tergantung pada jawaban terhadap isu yang ketiga, yaitu apakah suara diberikan kepada partai politik ataukah kandidat. Kalau suara diberikan kepada partai politik, maka formula proporsionalitaslah yang digunakan, yaitu setiap partai politk peserta Pemilu akan mendapakan kursi proporsional dengan jumlah suara sah yang diperolehnya. Kalau suara diberikan kepada kandidat, maka formula yang digunakan dapat berupa pluralitas (suara lebih banyak) tetapi dapat pula berupa mayoritas (suara paling banyak). Apabila yang dipilih rakyat kedua-duanya (partai politik dan kandidat), maka formula yang digunakan juga keduanya, yaitu proporsionalitas dan rangking calon dalam perolehan suara. Formula apa yang diadopsi dalam Undang-Undang Pemilu sudah barang tentu akan mempunyai implikasi yang luas terhadap banyak hal, seperi derajat keterwakilan, akuntabilitas calon terpilih, tingkat legitimasi calon terpilih, dan jumlah partai politik (sistem kepartaian).

UU No.12 Tahun 2003 mengadopsi sistem proporsional dengan daftar calon terbuka. Bila demikian, apakah yang dimaksudkan dengan sistem proporsional terbuka dan apa bedanya dengan sistem proporsional tertutup? Seperti telah dikemukakan di atas, sistem proporsional merujuk pada formula pembagian kursi dan/atau penentuan calon terpilih, yaitu setiap partai politik peserta pemilu mendapatkan kursi proporsional dengan jumlah suara sah yang diperolehnya. Penerapan formula proporsional dimulai dengan menghitung Bilangan Pembagi Pemilih (BPP), yaitu jumlah keseluruhan suara sah yang diperoleh seluruh partai politik peserta pemilu pada suatu daerah pemilihan dibagi dengan jumlah kursi yang diperebutkan pada daerah pemilihan tersebut. [Jumlah seluruh suara yang sah = 4,2 juta, sedangkan jumlah kursi yang diperebutkan 12, maka BPP = 4,2 juta dibagi 12 adalah 350.000]. Kursi yang diperebutkan itu kemudian dialokasikan kepada setiap partai politik peserta pemilu dengan rumus: jumlah suara sah yang diperoleh partai politik dibagi dengan BPP. Bila parpol A memperoleh suara sah di daerah pemilihan tersebut sebanyak 500.000 suara, maka parpol A mendapat 1 kursi dengan sisa suara sebanyak 150.000 (500.000 dibagi 350.000). Kalaudari 12 kursi yang diperebutkan itu masih ada kursi yang belum terbagi habis, maka sisa kursi itu diberikan kepada Parpol Peserta Pemilu menurut urutan sisa suara terbanyak (dengan catatan jumlah suara yang diperoleh parpol yang tidak mencapai BPP dikategorikan sebagai sisa suara). UU No.12 Tahun 2003 melarang dengan tegas perjanjian penggabungan sisa suara.

Sistem daftar terbuka ataupun tertutup merujuk pada mekanisme pencalonan yang harus diikuti oleh partai politik peserta pemilu, yaitu apakah mengajukan daftar calon dengan nomor urut perolehan kursi ataukah mengajukan daftar calon dengan abjad atau cara undian. Apabila undang-undang mengharuskan partai politik peserta pemilu mengajukan daftar calon dengan nomor urut perolehan kursi, maka pencalonan ini disebut sistem daftar tertutup. Disebut tertutup karena sebelum pemungutan suara partai politik telah menentukan nomor urut calon yang akan terpilih. Sistem pemlilihan umum dengan daftar tertutup biasanya meminta pemilih memberikan suaranya kepada parpol peserta pemilu (misalnya dengan mencoblos tanda gambar partai). Daftar calon yang disusun menurut abjad atau disusun dengan undian disebut pula dengan sistem terbuka karena para pemilih melalui pemungutan dan penghitungan suaralah yang akan menentukan siapa di antara calon itu akan terpilih. Sistem pemilihan umum dengan daftar terbuka biasanya meminta pemilih memberikan suaranya kepada calon dan/atau Parpol Peserta Pemilu.

Kursi yang diperoleh suatu partai politik peserta pemilu di suatu daerah pemilihan akan diberikan kepada siapa dari daftar calon yang diajukan tersebut? Sistem pemilihan umum proporsional dengan daftar tertutup memberikan jawaban berikut: kursi yang diperoleh partai diberikan kepada calon menurut nomor urut. Bila suatu partai memperoleh tiga kursi, maka kursi itu diberikan kepada calon nomor 1,2 dan 3. Sistem pemilihan umum dengan daftar terbuka memberikan jawaban berikut: kursi yang diperoleh partai diberikan kepada calon menurut urutan jumlah suara yang diperoleh oleh masing-masing calon tanpa terikat pada nomor urut dalam daftar calon. Bila suatu partai memperoleh tiga kursi, maka ketiga kursi itu diberikan kepada calon dengan jumlah suara terbanyak urutan 1, 2 dan 3.

Bila demikian, UU No. 12 Tahun 2003 mengadopsi sistem proporsional apa? Secara resmi Pasal 6 ayat (1) mengatakan pemilihan anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dilaksanakan dengan sistem proporsional dengan daftar calon terbuka, sedangkan pada ayat (2) mengatakan pemilihan anggota DPD dilaksanakan dengan sistem distrik berwakil banyak. Apakah penjabaran sistem pemilihan dalam UU ini senyatanya mengadopsi sistem proporsional dengan daftar calon terbuka untuk pemilihan anggota DPR dan DPRD? Bila pasal-pasal tentang pencalonan, pemberian suara dan penentuan calon terpilih disimak secara seksama, maka UU No.12 tahun 2003 sesungguhnya tidak mengadopsi daftar calon terbuka. Berikut adalah buktinya. Pertama, Partai politik peserta pemilu mengajukan daftar calon dengan nomor urut kepada KPU (Pasal 67 ayat 3). Partai Politik Peserta Pemilu menyusun daftar calon dengan nomor urut ini berdasarkan hasil seleksi secara demokratis dan terbuka sesuai dengan mekanisme internal partai politik. Karena itu dari segi pencalonan, UU No.12 Tahun 2003 mengadopsi sistem daftar calon tertutup. Pemikiran yang mendasari mekanisme seperti ini adalah (a) Pasal 22E UUD 1945 yang menyatakan bahwa peserta pemilihan anggota DPR dan DPRD adalah partai politik, dan yang mengajukan calon anggota DPR dan DPRD adalah Partai Politik Peserta Pemilu, dan (b) partai politik berperan mempersiapkan kaderisasi dan rekruitmen kepemimpinan politik.

Kedua, pemilih memberikan suaranya dengan mencoblos satu tanda gambar partai politik peserta pemilihan umum dan satu calon dari daftar yang diajukan oleh partai politik tersebut. Apabila hanya tanda gambar partai politik saja yang yang dicoblos, maka suara pemilih seperti ini dikategorikan sah. Akan tetapi apabila calon saja yang dicoblos, maka suara pemilih seperti ini dinyatakan tidak sah. Ketentuan seperti ini menunjukkan UU No. 12 Tahun 2003 pada satu pihak mengadopsi sistem daftar terbuka karena pemilih dapat memberikan suara kepada satu calon. Akan tetapi pada pihak lain, UU ini lebih mengadopsi sistem daftar tertutup karena hanya memberikan suara kepada partai saja sudah dianggap sah. Dan ketiga, formula atau tata cara penentuan calon terpilih yang diadopsi UU ini pada satu pihak mengandung unsure daftar calaon terbuka karena calon yang mencapai jumlah suara sama atau lebih besar daripada BPP langsung dinyatakan terpilih walaupun dalam daftar calon menempati urutan terakhir. Akan tetapi pada pihak lain UU ini juga mengandung unsur daftar calon tertutup karena para calon yang tidak mencapai jumlah suara BPP belum tentu terpilih walaupun mencapai jumlah suara yang cukup besar. Apabila suatu partai politik memperoleh tiga kursi sedangkan calon yang mencapai jumlah suara sama atau lebih besar BPP hanya seorang calon saja, maka dua kursi lainnya akan diberikan kepada calon menurut nomor urut dalam daftar calon. Seorang calon yang mencapai jumlah suara 325.000 tetapi dibawah BPP 350.000 belum tentu terpilih karena calon tersebut berada dalam urutan terakhir dalam daftar calon.

Pertanyaan yang kemudian banyak muncul dari warga masyarakat adalah mengapa jumlah suara (suara rakyat) dikalahkan oleh daftar calon (suara partai)? Pertanyaan seperti ini muncul dari mereka yang menggunakan asumsi dan paradigma sistem pemilihan umum mayoritas/pluralitas, yaitu suara rakyat menentukan siapa yang akan terpilih. Asumsi dan paradigma sistem pemilihan umum pluralitas/mayoritas jelas tidak dapat digunakan dalam menilai UU No.12 Tahun 2003 karena asumsi dan paradigma yang diadopsi UU No.12 Tahun 2003 adalah asumsi dan paradigma sistem pemilihan umum proporsional tetapi dengan sedikit unsure tambahan dari sistem pemilihan umum pluralitas/mayoritas. Seperti halnya Ilmu Sosial Interpretatif tidak dapat dinilai secara fair dengan menggunakan asumsi dan paradigma Ilmu Sosial Positivistik ataupun Ilmu Pasti Alam, demikian halnya Sistem Pemilu Proporsional tidaklah fair dinilai dari asumsi dan paradigma sistem pemilihan umum mayoritas/pluralitas. Demikian pula sebaliknya. Apabila para calon dan masyarakat pemilih tidak dapat memahami perbedaan ini, maka bukan tidak mungkin hasil pemilihan umum, khususnya penetapan calon terpilih akan ditolak oleh masyarakat. Program pendidikan pemilih dan informasi tentang tata cara pemilihan umum atau sosialisasi pada umumnya niscaya sangat diperlukan. Hal yang terakhir ini tidak hanya menjadi tugas KPU tetapi terutama menjadi tugas partai politik, para calon, pemerintah media massa, LSM, dan organisasi masyarakat.