Anda di halaman 1dari 4

ARINA ROSYIDA 25010110130212 EPIDEMIOLOGI DAN PENYAKIT TROPIK PENYELIDIKAN WABAH

EXERCISE OUTBREAK INVESTIGATION 1. During the previous year, nine residents of a community died from the same type of cancer. List some reasons that might justify an investigation. Answer: Dalam menyelidiki suatu kasus, perlu dilihat seberapa besar populasinya. Dalam komunitas yang besar mungkin kasus kanker umum dianggap kasus yang tidak begitu penting. Namun dalam sebuah komunitas yang sangat kecil, sembilan kasus bahkan kanker yang umum mungkin terlihat aneh dan tidak biasa. Jika kanker tertentu langka, maka sembilan kasus bahkan dalam sebuah komunitas besar mungkin dianggap tidak biasa. Jika jumlah kasus ternyata menjadi tinggi bagi masyarakat itu, kita mungkin melakukan penyelidikan lebih lanjut. Penyelidikan dilakukan untuk mengidentifikasi faktor risiko penyebab kanker, sehingga dapat dilakukan pengendalian dan pencegahan. Atau, jika sudah terkena kanker, dengan deteksi dini dan tes skrining, maka dapat dilakukan pengobatan agar tidak terjadi kematian. Dengan melakukan penyelidikan wabah maka dapat dikembangkan langkah-langkah untuk memperbaiki masalah kesehatan yang terjadi.

2. During August, a county health department received reports of 12 new cases of tuberculosis and 12 new cases of aseptic meningitis. Tuberculosis does not have a striking seasonal distribution; however, aseptic meningitis, which is caused primarily by a viral infection, is highly seasonal and peaks from

AugustOctober. What additional information is needed to determine whether either of these groups of cases is an outbreak? Answer: Informasi tambahan yang dibutuhkan untuk mengetahui bahwa kasuskasus tersebut merupakan wabah atau tidak, yaitu: a. Untuk kasus tuberkulosis, karena bukan merupakan kasus musiman, maka data kasus pada bulan Agustus dapat dibandingkan dengan data kasus pada bulan-bulan sebelumnya dan juga dibandingkan dengan data kasus pada bulan Agustus pada tahun-tahun sebelumnya. Dengan

membandingkan data-data tersebut akan diketahui trend dari kasus tuberkulosis. b. Untuk kasus meningitis aseptik, karena merupakan kasus musiman yaitu tinggi pada bulan Agustus-Oktober, maka dibutuhkan data kasus pada bulan Agustus-Oktober pada tahun-tahun sebelumnya dan dibandingkan dengan kasus saat ini.

3. You are called to help investigate a cluster of 17 men who developed leukemia in a community. Some of them worked as electrical repair men, and others were ham radio operators. Which study design would you choose to investigate a possible association between exposure to electromagnetic fields and leukemia? Answer: Desain studi yang dapat digunakan pada kasus tersebut adalah casecontrol. Case control adalah studi analitik yang menganalisis hubungan kausal dengan menggunakan logika terbalik, yaitu menentukan penyakit (outcome) terlebih dahulu dan kemudian mengidentifikasi penyebab (faktor risiko). Studi ini bersifat retrospektif yaitu mengikuti proses ke belakang dari penderita pada keadaan awal untuk mencari faktor risiko. Studi case control dilakukan dengan membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol. Kelompok kontrol tersebut terdiri dari sekumpulan orang yang bukan kasus

(bukan penderita penyakit yang bersangkutan), tapi memiliki risiko terpajan yang sama. Pada kasus leukemia tersebut, dapat dibandingkan antara kelompok kasus (17 orang penderita leukimia) dengan kelompok kontrol (kelompok yang memiliki resiko yang sama tapi bukan penderita leukimia). Dalam studi kasus-kontrol, akan ditentukan apakah setiap kasus dan setiap kontrol telah terkena medan elektromagnetik. Kemudian dibandingkan eksposur antara kelompok kasus dan kontrol. 4. The manager of a grocery store has reported a rash illness among the stores workers. What type of study would you use to determine the source of the outbreak? Why? What is the appropriate measure of association? Answer: Studi yang digunakan adalah cohort. Cohort disebut juga sebagai studi follow-up, insidensi, longitudinal atau studi prospektif, merupakan penelitian analitik pada sekelompok orang (kohort) yang memiliki atribut sama, seperti tempat tinggal, jenis kelamin, pekerjaan, dan lain-lain. Studi kohort dilakukan dengan menggunakan dua kelompok, yaitu kelompok studi (sekelompok orang yang terpajan pada faktor risiko) dan kelompok kontrol (sekelompok orang yang tidak terpajan faktor risiko). Kedua kelompok selanjutnya diikuti terus-menerus selama periode waktu tertentu untuk memastikan apakah individu yang terpajan atau tidak terpajan faktor risiko itu menjadi sakit atau tidak sakit. Penelitian ini bersifat ke depan (forward looking) artinya penelitian dimulai dari variabel penyebab atau fakto risiko kemudian diikuti akibatnya pada waktu yang akan datang. Pada kasus tersebut dicari terlebih dahulu faktor risiko yang kemungkinan menyebabkan penyakit, kemudian dengan menggunakan studi kohort akan diketahui tingkat paparan pada pekerja tersebut apakah menyebabkan penyakit atau tidak. Dalam studi kohort, ukuran yang digunakan adalah relative risk (RR). Relative risk adalah rasio dari angka insidensi penyakit di antara mereka yang terpajan penyakit dibandingkan dengan angka mereka yang tidak terpajan

penyakit itu. Relative risk menggunakan informasi retrospektif untuk memproyeksikan risiko di masa yang akan datang.