Anda di halaman 1dari 39

PENDAHULUAN

Kulit merupakan organ tubuh terbesar dan memiliki banyak fungsi penting, di antaranya adalah fungsi proteksi,termoregulasi, respons imun, sintesis senyawa biokimia, danperan sebagai organ sensoris. Terapi untuk mengkoreksi berbagai kelainan fungsi tersebut dapat dilakukan secaratopikal, sistemik, intralesi, atau menggunakan radiasi ultraviolet.1 Terapi topikal didefinisikan sebagai aplikasi obat dengan formulasi tertentu pada kulit yang bertujuan mengobati penyakit kulit atau penyakit sistemik yang bermanifestasi pada kulit.2 Metode pengobatan topikal telah lama digunakan pada berbagai kebudayaan kuno di dunia.Bangsa Mesir kuno menggunakan sejenis rumput papyrusyang dicampur dengan berbagai minyak binatang dalam pengobatan alopesia. Sementara bangsa Indian kuno menggunakan senyawa arsen dalam pengobatan kusta.Campuran merkuri dan sulfur juga mereka gunakan dalampengobatan pedikulosis, sedangkan pasta yang mengandungbesi sulfat, empedu, tembaga sulfat, sulfur, arsen, danantimoni digunakan dalam pengobatan pruritus.1 Terapi topikal merupakan metode yang nyaman,namun keberhasilannya bergantung pada pemahaman kitamengenai fungsi sawar kulit. Keuntungan utamanya adalah dapat memintas jalur metabolisme obat pertama(first-pass metabolism) di hati.1-5 Terapi topikal juga dapatmenghindari risiko dan ketidaknyamanan seperti padaterapi yang diberikan secara intravena, serta berbagai halyang mempengaruhi penyerapan obat pada terapi peroral,misalnya perubahan pH, aktivitas enzim, dan pengosongan lambung. Keuntungan lain, yaitu karenapenyerapan sistemik pada terapi topikal dapat diabaikan maka efek samping maupun interaksi obat pada terapitopikal jarang terjadi.1,2,4 Meskipun demikian, pengobatan topikal juga memilikiberbagai kelemahan misalnya: 1) dapat menimbulkaniritasi dan alergi (dermatitis kontak), 2) permeabilitasbeberapa obat

melalui kulit yang relatif rendah, sehinggatidak semua obat dapat diberikan secara topikal, dan 3)terjadinya denaturasi obat oleh enzim pada kulit.2Pada makalah ini akan dibahas mengenai stuktur danfungsi kulit, mekanisme penyerapan obat melalui kulit,uraian tentang berbagai vehikulum yang digunakan dalampengobatan di bidang dermatologi serta perkembanganterbaru yang telah ditemukan, prinsip pemilihan vehikulumdalam dermatoterapi, dan prinsip dasar pembuatansediaan obat topikal.

STRUKTUR DAN FUNGSI KULIT

Kulit terdiri atas lapisan epidermis dan dermis. Kulit,terutama epidermis, berperan penting dalam penyerapanobat melalui kulit. Epidermis tersusun oleh keratinosit, melanosit, sel Langerhans, dan sel Merkel. Keratinosit,merupakan sel yang memiliki kemampuan berproliferasi danmengandung keratin yang diperlukan sebagai penunjangstruktur internal epidermis. Tiap lapisan pada epidermismengekspresikan keratin yang berbeda. Keratinosit yangmatang dan mengalami diferensiasi bertambah besar dankemudian bentuknya makin gepeng sampai akhirnya intiselnya menghilang. Hasil akhir dari proses diferensiasi iniadalah terbentuknya stratum korneum.1,2,4,6,7 Pembentukan stratum korneum merupakan fungsiyang sangat penting dari epidermis. Stratum korneum,atau juga sering disebut sebagai lapisan tanduk mencegahterjadinya kehilangan air, dan mencegah penyerapan zat /agen infeksi yang berbahaya bagi tubuh. Strukturnyadapat disamakan dengan susunan batu bata dan campuransemen, dengan korneosit sebagai batu bata dan sawarlipid sebagai campuran semennya. Korneosit tersusun dibagian atas epidermis dan mengandung protein.1,2,4,6,7 Di bawah lapisan tanduk terdapat lapisan granularyang mengandung struktur basofilik yang disebut granulakeratohialin. Granula tersebut mengandung prekursor proteinprofilagrin yang masih inaktif. Melalui proses defosforilasidan proteolisis profilagrin diubah menjadi filagrin yangmemiliki fungsi seperti lem yang merekatkan filamen keratinuntuk membentuk makrofibril. Degradasi dari filagrin akanmenghasilkan asam amino bebas yang berperan dalamperlindungan terhadap radiasi sinar ultraviolet dan hidrasikulit. Dalam granula keratohialin juga terdapat berbagaiprekursor protein lain, yaitu involukrin, lorikrin, elafin, envoplakin,sistatin A dan protein lain yang berperan dalampembentukan selubung sel yang terkornifikasi.1,2,4,6,7

Selain granula keratohialin, sel pada lapisan granularjuga mengandung granula lamelar, yang merupakan organelyang terikat pada membran sel yang mengandung glikolipid,glikoprotein, dan fosfolipid. Molekul yang terkandungdalam granula lamelar tersebut disekresikan di antaralapisan granular dan lapisan tanduk untuk membentukmortar/campuran semen yang mengikat korneosit dilapisan tanduk.1,2,4,6,7 Dermis merupakan lapisan yang berfungsi menyokongepidermis. Ketebalannya 2-3 mm. Pada lapisan tersebutterdapat pembuluh darah, saraf dan struktur lain, yaitufolikel rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar sebumyang juga berperan penting dalam proses penyerapan obat

FARMAKOKINETIK OBAT TOPIKAL

Pengetahuan mengenai farmakokinetik pada kulitsangat diperlukan dalam keberhasilan suatu pengobatan topikal. Farmakokinetik obat topikal menggambarkanperubahan konsentrasi obat setelah aplikasinya pada permukaan kulit, perjalanannya menembus sawar kulitdan jaringan di bawahnya, dan distribusinya ke dalamsirkulasi sistemik.8 Senyawa yang diaplikasikan pada permukaan kulit,termasuk obat topikal, masuk ke dalam kulit mengikuti suatu gradien konsentrasi (difusi pasif). Gradien konsentrasiditimbulkan oleh perbedaan konsentrasi obat aktif dalamsediaan yang diaplikasikan pada kulit dan konsentrasiobat aktif dalam jaringan kulit serta jaringan di bawahnya(dermis dan subkutan).2,7,8 Dalam pengobatan topikal, penyerapan obat melalui beberapa tahapan seperti dapat dilihat dalam gambar 1.Analisis farmakokinetik dari suatu sediaan topikal yang diaplikasikan pada kulit meliputi pembahasan mengenai tiga kompartemen yang dilalui obat aktif, yaitu

vehikulumsebagai pembawa obat aktif, stratum korneum, danlapisan epidermis serta dermis.2,7,8

Vehikulum sebagai pembawa obat aktif.

Untuk dapat masuk ke dalam lapisan kulit, bahan/obat aktif dalam suatu sediaan topikal harus dilepaskan dari vehikulumnya setelah sediaan obat topikaldiaplikasikan. Pelepasan/ disolusi bahan aktif dari vehikulumnya ditentukan oleh koefisien partisinya. Makin besar nilai koefisien partisi, maka bahan aktif makinmudah terlepas dari vehikulum.2,4,7,8

Difusi ke dalam stratum korneum. Bahan aktif yang telah terlepas dari vehikulumnya akan berinteraksi dengan permukaan kulit/ stratum korneum. Bahan aktif yang telah berinteraksi dengan stratum korneum akan segera berdifusi ke dalam stratum korneum. Difusi yang terjadi dimungkinkan denganadanya gradien konsentrasi. Pada awalnya, difusi bahan aktif terutama berlangsung melalui folikel rambut (jalurtransfolikular). Setelah tercapai keseimbangan (steadystate), difusi melalui stratum korneum menjadi lebihdominan.2,7,8
a.

Jalur transfolikular. Bahan aktif yang masuk kedalam folikel rambut akan berpartisi dan selanjutnya berdifusi ke dalam sebum yang terdapat di dalam folikel rambut hingga mencapai lapisan epitel pada bagian dalam folikel dan kemudian berdifusi menembus epitel folikel hingga mencapai lapisan epidermis.2,7,8 Untuk mengetahui adanya penyerapan obat melaluijalur ini, digunakan kombinasi teknik tape stripping dancyanoacrylate surface biopsy.8,9

Dengan mengunakankombinasi teknik tersebut, kadar suatu zat di dalam folikelrambut setelah diaplikasikan pada kulit dapat ditentukan.Hal tersebut dapat dibuktikan dengan melakukan aplikasimolekul kecil misalnya kafein pada permukaan kulit.Setelah aplikasi dapat ditemukan kadar kafein dalamfolikelrambut.8 Hasil penelitian lain dengan menggunakan nanopartikelmenunjukkan keberadaan nano partikel dalam folikel rambut bertahan sepuluh kali lebih lama dibandingkan dalam stratum korneum. Mengingat bahwa dalam folikel rambutjuga terdapat sawar kulit, hasil penelitian tersebutmenunjukkan bahwa kadar zat dalam folikel rambut tidak menunjukkan penyerapan obat melalui jalur transkorneal,melainkan secara eksklusif memperlihatkan hasil penyerapan obat transfolikular.8 Teichmann dkk (2005)9 menggunakan kedua teknik tersebut dalam mendeteksi penyerapan transfolikular darisodium fluoresein. Dengan kombinasi kedua tekniktersebut, didapatkan konsentrasi sodium fluoresein dalam folikel rambut mencapai 5% setelah tiga puluh menitaplikasi zat tersebut pada kulit, dan tetap bertahan 48 jamsetelah aplikasi

.b. Jalur transkorneal. Hingga saat ini, penyerapan obatinterselular (melalui celah di antara korneosit) menjadijalur utama pada penyerapan obat transkorneal.2,4,7, Beberapa penelitian dengan menggunakan mikroskopelektron menunjukkan bukti adanya penyerapan obatmelalui jalur ini. Pada aplikasi n-butanol pada kulit yangdipresipitasi dengan uap osmium, lima sampai enampuluh menit setelah aplikasi tampak peningkatan kadaralkohol tersebut di ruang antar sel. Namun,

peningkatankadar alkohol ternyata juga ditemukan intrasel dalam hkorneosit. Dengan bukti ini, peranan jalur penyerapanobat transkorneal intrasel (dengan cara menembuskorneosit) juga tidak dapat diabaikan. Jalur tersebutterutama dilalui oleh obat dengan berat molekul yangkecil, dan berbagai zat/ obat-obatan polar serta ion.2,7

EPIDERMIS DAN DERMIS

Difusi bahan/obat aktif melalui kedua jalur di atas pada akhirnya akan mencapai lapisan yang lebih dalam yaitu epidermis hingga kemudian dermis. Dengan adanya pembuluh darah dalam dermis, bahan aktif yang mencapai lapisan dermis kemudian akan diresorpsi oleh sistem sirkulasi. Faktor yang mempengaruhi penyerapan obat melalui kulitBerbagai faktor mempengaruhi penyerapan suatu obat melalui kulit, antara lain: 1. Faktor fisikokimiawi obat :Faktor fisikokimiawi obat yang mempengaruhi penyerapan obat topikal antara lain konsentrasi obat, koefisienpartisi, dan ukuran molekul obat. Peningkatan konsentrasi sediaan obat topikal akan menjadi daya pendorong molekul obat, sehingga akan meningkatkan penyerapannya.Koefisien partisi menunjukkan kemampuan obat aktif terlepas dari vehikulumnya untuk kemudianberinteraksi dan berdifusi ke dalam stratum korneumdan lapisan di bawahnya. Peningkatan nilai koefisien partisi tersebut meningkatkan penyerapan obat aktif ke dalam kulit. Sementara semakin kecil ukuran molekul obat aktif akan memudahkan obat aktif melalui sawar dan lapisan kulit.2,7,8,10,11

2. Penetration enhancer Penyerapan obat perkutan dapat ditingkatkan dengan penambahan bahan kimia tertentu. Bahan kimia yangmemiliki kemampuan meningkatkan penyerapan obattopikal disebut sebagai penetration enhancer. Beberapabahan kimia dapat meningkatkan permeabilitas kulitdengan cara merusak atau mengubah sifat fisiko kimiawi alami stratum korneum sehingga tahanan difusinya menurun. Perubahan sifat fisiko-kimia witersebut misalnya perubahan status hidrasi stratum korneum dan perubahan struktur lipid dan lipoproteinpada ruang interselular.2,4,7 Bahan kimia yang memiliki efek sebagai penetration enhancer misalnya berbagai pelarut antara lain: alkohol,metanol, propylen glikol, gliserol, silikon cair, danisopropil palmitat. Beberapa surfaktan misalnya asam linoleat, asam oleat, kalsium tioglikolat, dan sodium deoksikolat juga dapat digunakan sebagai penetration enhancer.2,4,7 Istilah optimized vehicle yang digunakan pada beberapa produk obat topikal merujuk pada penggunaan penetration enhancer dalam produk tersebut.12

3. Faktor lain yang dapat mempengaruhi penyerapan obat topikal antara lain oklusi dan lokasi aplikasi obat topikal. Oklusi dapat meningkatkan penyerapan obat topikal melalui peningkatan status hidrasi stratumkorneum. Aplikasi obat topikal pada lokasi yangberbeda juga dapat memberikan hasil yang berbedakarena perbedaan ketebalan stratum korneum.2,7,13

DEFINISI VEHIKULUM

Vehikulum adalah zat inaktif/ inert yang digunakan dalam sediaan topikal sebagai pembawa obat/ zat aktif agardapat berkontak dengan kulit.2,13 Meskipun inaktif, aplikasisuatu vehikulum pada kulit dapat memberikan beberapa efekyang menguntungkan, meliputi efek fisik misalnya efekproteksi, mendinginkan, hidrasi, mengeringkan/ mengangkat eksudat, dan lubrikasi, serta efek kimiawi/ farmakologis,misalnya efek analgesik, sebagai astringent, antipruritus,dan bakteriostatik.2,3,

KLASIFIKASI VEHIKULUM

Berdasarkan komponen penyusunnya, vehikulum dapat digolongkan dalam monofasik, bifasik, dan trifasik.1,2,3,7 Yang termasuk vehikulum monofasik di antaranya adalahbedak, salep, dan cairan. Bedak kocok, pasta, dan krimtergolong dalam vehikulum bifasik. Sementara pastapendingin merupakan contoh vehikulum trifasik. Selainketiga kelompok besar vehikulum di atas, terdapatvehikulum lain yang tidak dapat dimasukkan ke dalamsalah satu golongan tersebut, yaitu jel.1 Pembagian lain vehikulum adalah berdasarkankelarutannya dalam air, yaitu vehikulum hidrofobik danvehikulum hidrofilik. Vehikulum hidrofobik meliputi berbagaihidrokarbon, silikon, alkohol, sterol, asam karboksilat,ester dan poliester, serta eter dan polieter. Sementara vehikulumhidrofilik meliputi berbagai poliol dan poliglikol,sebagian dari golongan ester dan poliester, serta beberapamacam eter dan polieter. Berdasarkan konsistensinya,vehikulum dibagi menjadi cair, solid, dan semisolid.1,7

Selain berbagai kelompok vehikulum di atas, berbagaipenelitian juga telah dilakukan untuk meningkatkanpenetrasi obat topikal ke dalam kulit, seperti penggunaanliposom dan nanopartikel

JENIS VEHIKULUM

Bedak Bedak merupakan vehikulum solid/padat yang memilikiefek mendinginkan, menyerap cairan serta mengurangigesekan pada daerah aplikasi.3,7,13 Sebagian besar bedakmengandung seng oksida yang memiliki efek antiseptik,magnesium silikat dengan efek lubrikasi dan mengeringkan,serta stearat yang mampu meningkatkan daya lekatbedak pada kulit.7,12 Ke dalam bedak juga ditambahkanbahan pengawet untuk mencegah pertumbuhan mikroorganismedan antioksidan untuk mencegah bedakteroksidasi udara luar.14 Kemampuan penetrasinya padakulit yang rendah, menyebabkan penggunaannya terbatas,antara lain dalam bidang kosmetik.7,13,14 Efek samping yang dapat timbul pada penggunaanbedak antara lain inhalasi bedak ke dalam saluran napas,penggumpalan bedak, iritasi, dan dapat memicu pembentukangranuloma.7,13,14 Aplikasi bedak pada kulit yangiritasi juga dapat menghambat proses penyembuhan.7,14 Para ahli telah meneliti penggunaan urea untuk menggantikan talk sebagai bahan dasar bedak. Urea merupakan bahan non alergenik dan non toksik bagi kulit, sehingga pemakaiannya jauh lebih aman dibanding bedakkonvensional. Urea memiliki sifat antipruritus, antiseptik,antiinflamasi, menghambat proses oksidasi, dan dapat membantu proses penyebuhan pada kulit yang teriritasiatau mengalami peradangan. Efek yang

menguntungkantersebut memungkinkan bedak berbahan dasar urea dapatdigunakan pada kulit yang mengalami iritasi.14

Salep Salep merupakan sediaan semisolid yang dapat digunakan pada kulit maupun mukosa. Bahan dasar salepyang digunakan dalam dermatoterapi dibagi dalam empatkelompok yaitu; 1) hidrokarbon, 2) bahan penyerapan, 3)bahan dasar emulsi, dan 4) bahan yang larut air (watersolublebased).1,7,13,15 Salep berbahan dasar hidrokarbon memiliki efeksebagai emolien, efek oklusi, dan mampu bertahan padapermukaan kulit dalam waktu lama tanpa mengering.1,11,13 Bahan dasar hidrokarbon yang paling banyak digunakanadalah petrolatum putih dan petrolatum kuning.1,7,13 Umumnya bersifat stabil, sehingga tidak memerlukan zatpengawet. Kelemahannya adalah dapat mewarnaipakaian.7,13 Bahan dasar penyerapan pembentuk salep terdiriatas lanolin dan turunannya, kolesterol dan turunannya,serta sebagian ester dari alkohol polihidrat. Kelompokbahan dasar ini memiliki efek lubrikasi, emolien, efekproteksi, serta karena sifat hidrofiliknya, dapat digunakansebagai vehikulum obat/ zat aktif yang larut air.1,2,7,12,14 Salep dengan bahan dasar penyerapan bersifat lengket,namun lebih mudah dicuci dibandingkan yang berbahandasar hidrokarbon.7,13 Bahan dasar salep yang lain, yaitu bahan dasarpengemulsi dan bahan dasar yang larut air sering digunakanuntuk membentuk sediaan semisolid yang lain, yaitu krimdan jel.7,13 Konsentrasi bahan dasar salep dalam suatu sediaan berbentuk salep dapat ditingkatkan agar kemampuanpenetrasi bahan aktif yang terkandung di dalamnyameningkat, misalnya sediaan salep khusus yang disebutfatty ointment. Konsentrasi bahan dasar salep dalamsediaan

tersebut mencapai lebih dari 90 persen. Sediaantersebut dapat digunakan untuk kelainan/ penyakit kulitpada daerah dengan stratum korneum yang tebal, misalnya siku, lutut, telapak tangan, dan telapak kaki.16

Krim Krim merupakan sediaan semisolid yang mengandung satu atau lebih zat aktif yang terdispersi dalam suatu mediumpendispersi dan membentuk emulsi. Untuk kestabilanemulsi, digunakan suatu agen pengemulsi (emulsifier).Bahan pengemulsi dapat terlarut dalam kedua fase cairanpenyusun emulsi, dan mengelilingi cairan yang terdispersimembentuk titik-titik air mikro yang terlarut dalam mediumpendispersi. Surfaktan maupun beberapa jenis polimeratau campuran keduanya dapat digunakan sebagai bahanpengemulsi. Beberapa contoh surfaktan yang seringdigunakan dalam pembentukan emulsi adalah sodiumlauril sulfat, Spans, dan Tweens.2,7,13,17 Berdasarkan fase internalnya, krim dapat dibagimenjadi krim oil-in-water dan krim water-in-oil. Krimwater-in-oil mengandung air kurang dari 25 persen denganminyak sebagai medium pendispersi. Selain surfaktan, zatpengawet juga seringkali digunakan dalam sediaan krimwater-in-oil. Sediaan ini kurang lengket dibanding dua sediaan yang disebutkan sebelumnya, sehingga relatiflebih mudah diaplikasikan. Sediaan ini juga memiliki efeksebagai emolien karena kandungan minyaknya, sedangkankandungan air di dalamnya memberikan efek mendinginkansaat diaplikasikan. 7,13,17 Krim oil-in-water mengandung air lebih dari 31 persen.Formulasi ini merupakan bentuk yang paling sering dipilihdalam dermatoterapi. Sediaan ini dapat dengan mudahdiaplikasikan pada kulit, mudah dicuci, kurangberminyak, dan relatif lebih mudah dibersihkan bilamengenai pakaian.7,13,17

Sebagai pengawet, biasanyadigunakan paraben untuk mencegah pertumbuhan jamur.Bahan lain yang terkandung dalam emulsi oil-in-wateradalah humektan, misalnya gliserin, propilen glikol,ataupun polietilen glikol.2,7,13,17 Fase minyak dalamsediaan ini juga menyebabkan rasa lembut saatdiaplikasikan. Wiren K dkk. (2008)18 meneliti hubunganantara kandungan lemak dalam sediaan krim oilin-waterdengan kemampuan penetrasinya. Pada penelitian yangdilakukan secara in vivo tersebut menunjukkan bahwasediaan krim dengan kandungan lemak yang rendahmemiliki penetrasi yang lebih baik dibanding sediaandengan konsentrasi lemak yang lebih tinggi.

Emulsi multipel Istilah emulsi multipel digunakan untuk menggambarkansuatu sistem emulsi yang dalam droplet faseinternalnya terdapat droplet lain yang berukuran lebihkecil dengan komposisi sama dengan fasa eksternalnya.Contoh emulsi multipel adalah emulsi water-in-oilinwater(emulsi W/O/W) dan emulsi oil-in-water-in-oil(emulsi O/W/O). Untuk kestabilan sistem emulsi multipel,diperlukan pemilihan surfaktan/ bahan pengemulsi yangtepat.17

Jel Jel merupakan sediaan semisolid yang mengandungmolekul kecil maupun besar yang terdispersi dalam cairandengan penambahan suatu gelling agent. Formulasi yangdibutuhkan dalam membentuk jel adalah air, propilenglikol, dan atau polietilen glikol ditambah dengan suatubahan pembentuk jel. Gelling agent yang biasa digunakanadalah carbomer 934 serta carboxymethylcellulose danhydroxypropylmethyl-cellulose yang merupakan turunandari selulosa.2,7,13

Bahan dasar pembentuk jel merupakan bahan yanglarut air (water soluble based) dan tidak mengandungminyak. Bahan ini sangat mudah dicuci, tidak mewarnaipakaian, tidak memerlukan pengawet, dan kurang oklusif.Bahan dasar ini lebih sering digunakan pada sediaantopikal agar konsentrasi pada permukaan kulit lebih tinggidan membatasi penyerapan ke dalam kulit, misalnya padaberbagai antifungal dan antibiotik topikal. 7,13 Jel merupakan vehikulum yang cocok untuk banyakzat aktif. Jel juga relatif mudah diaplikasikan pada kulit,dapat digunakan pada daerah berambut, serta memilikipenetrasi yang baik. Kekurangan dari sediaan dalambentuk jel antara lain efek protektifnya yang rendahsehingga tidak dapat digunakan sebagai emolien, dandapat menyebabkan kulit kering dan panas bilakandungan alkohol atau propilen glikolnya tinggi. 7,13 Selain jel berbahan dasar larut air, telah ditemukanjuga formulasi jel terbaru berbahan dasar pelarut organikyang disebut organogel. Bahan dasar yang digunakanantara lain lesitin, jelatin, dan ester sorbitan.15 Jel denganbahan dasar tersebut umumnya digunakan untuk zat aktifyang sukar larut di dalam air.13

Cairan/ liquid

Vehikulum berbentuk cair dapat berupa air, alkohol, minyak, dan propilen glikol.1, 7,13 Penambahan suatu zataktif ke dalam berbagai vehikulum cair tersebut dapatmembentuk suatu sediaan cair yang berbeda bergantungkelarutan dan jenis zat yang terdispersi dalam mediumpendispersi, yaitu solusio, emulsi, dan suspensi.1,7,13 Solusio atau larutan adalah sediaan cair yang mengandungbahan kimia terlarut (solut) yang terlarut secara homogendalam media pelarut misalnya air, alkohol, minyak, atau propilen glikol. Contoh dari solusio adalah solusioBurrowi, yodium tingtur, dan linimen.7,13

Suspensi atau losio adalah suatu sistem berbentuk cairyang komponennya terdiri atas dua fase zat. Fase pertamamerupakan fase eksternal/ kontinu dari suspensi, yangumumnya berbentuk cair atau semisolid, dan fase keduamerupakan fase internal yang merupakan partikel yangtidak larut dalam fase kontinu, namun terdispersi didalamnya. Dalam suatu sediaan obat topikal, faseinternalnya adalah zat atau obat aktif. Karena tidak larutdalam medium pendispersinya, maka zat aktif dalamsuatu sediaan berbentuk suspensi atau losio dapatmengendap bila didiamkan, sehingga sebelum digunakanharus dikocok terlebih dahulu agar dosis obat aktif yangdiaplikasikan merata. Losio banyak digunakan untukpasien anak, karena mudah diaplikasikan secara merata.Penguapan air yang terkandung dalam sediaan ini setelahaplikasinya memberikan efek mendinginkan. Dibandingkansalep, losio dapat menyebabkan kondisi kulit yang kering,dan dapat menyebabkan abrasi pada kulit. 7,13 Duweb dkk. (2003)19 membuktikan bahwa dalamkonsentrasi sama (50 ug/g), salep calcipotriol lebih superiordibandingkan sediaan krim untuk pengobatan psoriasis vulgaris. Cal (2005)20 melaporkan pengaruh berbagaivehikulum dalam penyerapan terpenes pada kulit secara invitro. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya diketahuipenyerapan terpenes pada tiap vehikulum berbeda bermakna,dan secara berurutan dari yang terendah hingga tertinggipenetrasinya adalah emulsi < solusio < hidrojel. SementaraBreneman dkk. (2005)21 melaporkan penggunaan losioklobetasol propionat 0,05% lebih efektif dibandingkandengan sediaan dalam bentuk krim dalam pengobatandermatitis atopik. Serupa dengan penelitian yangdilakukan Breneman dkk. tersebut, Lowe N. dkk. (2005)22juga membuktikan penggunaan losio klobetasol propionat0,05% dalam terapi psoriasis tipe plak lebih efektifdibanding sediaan krim.

Bedak kocok

Bedak kocok merupakan kombinasi antara bedakdan cairan. Bedak yang terkandung dalam suatu bedakkocok dapat memperluas area penguapan cairanpenyusunnya sehingga memberikan efek mendinginkan.Umumnya bedak kocok terdiri atas seng oksida, talk,kalamin, gliserol, alkohol, dan air serta stabilizer. Karenamerupakan suatu suspensi, bedak kocok bila didiamkancenderung mengendap, sehingga sebelum pemakaian punharus dikocok terlebih dahulu. 7,13

Pasta Pada dasarnya pasta merupakan salep yang ke dalamnya ditambahkan bedak dalam jumlah yang relatifbesar, hingga mencapai 50 persen berat campuran.Konsistensinya relatif lebih keras dibanding salep karenapenambahan bahan padat tersebut. Kandungan bedakyang ditambahkan ke dalamnya dapat berupa seng oksida,kanji, kalsium karbonat, dan talk. Seperti halnya salep,pasta dapat membentuk lapisan penutup/film di ataspermukaan kulit, yang impermeabel terhadap air sehinggadapat berfungsi sebagai protektan pada daerah popok.Komponen zat padat dalam pasta menjadikannya dapatdigunakan sebagai sunblock. Pasta relatif kurang berminyakdibandingkan salep, karena sebagian besar komponenminyak yang terkandung dalam salep telah berasosiasidengan bahan padat yang ditambahkan. 7,13

Lacquer

Lacquer merupakan sediaan topikal yang relatif baru di bidang dermatologi. Sediaan ini mulai digunakanuntuk mengobati kasus-kasus onikomikosis. Nail lacquer merupakan larutan yang terdiri dari etil asetat, isopropilalkohol, dan butil monoester asam maleat.

Setelah aplikasinya di atas lempeng kuku, lacquer akan membentuklapisan film di atas tempat aplikasi. Penelitian secarain vitro pada kuku yang telah dilepaskan, menunjukkansediaan ini mampu menembus lempeng kuku hinggakedalaman 0,4 cm. Sementara penelitian pada manusiadengan aplikasi sediaan antifungal (ciclopirox) dalambentuk nail lacquer pada ke-20 kuku dan lima milimeterpada kulit di sekitar kuku selamaenam bulan, didapatkanpenyerapan ciclopirox secara sistemik mencapai limapersen dosis aplikasinya. Satu bulan setelah aplikasidihentikan, kadar ciclopirox tidak terdeteksi lagi.23,24

Foam Foam merupakan suatu dispersi cairan dan atau zat padat dalam medium berbentuk gas. Dibandingkan dengansediaan topikal lain, foam merupakan sediaan yang palingmudah diaplikasikan pada permukaan kulit tanpamemerlukan penekanan, sehingga sediaan ini menjadipilihan untuk digunakan pada berbagai kelainan/ penyakitkulit dengan inflamasi yang berat dan luas, karenapenekanan yang berlebihan pada kulit yang mengalamiinflamasi menimbulkan rasa nyeri dan dapat memperberatreaksi inflamasi.25 Sediaan topikal berbentuk foam dikemas dalamsuatu wadah bertekanan yang berkatup. Hal tersebutmenjadi salah satu kelemahan dari sediaan berbentuk foam,karena proses pembuatan wadah bertekanan merupakan halyang rumit dan memerlukan biaya yang tinggi, sehingga harga sediaan berbentuk foam menjadi mahal.25 Suatu penelitian yang membandingkan kemampuanbentuk sediaan foam, salep, krim, dan jel dalam melepaskanzat aktif (betametason valerat) telah dilakukan. Hasilpenelitian menunjukkan sediaan foam memiliki kemampuanyang sama dengan salep dan jel dalam melepaskan komponenzat aktif, namun lebih baik dibandingkan sediaan krim.25

Penelitian lain dilakukan terhadap 25 orang anak danbayi dengan infeksi candida pada daerah popok. Ke 25subyek diterapi dengan sediaan berbentuk foam yangmengandung nistatin, klorheksidin, dan prednisolon.Setelah dilakukan terapi selama 13 hari, seluruh subyekpenelitian, termasuk subyek dengan manifestasi klinisyang berat menunjukkan kesembuhan.25

LIPOSOM

Liposom artifisial ditemukan oleh Alec D. Banghampada tahun 1961. Sejak saat itu penggunaannya meluasdalam berbagai bidang, termasuk dalam bidang dermato terapi. Liposom merupakan vesikel buatan terkecil yangdibentuk dari fosfolipid dan kolesterol. Fosfolipid yangsering digunakan dalam menyusun liposom adalahfosfatidilkolin.8,15,26,27 Secara struktural, liposom berbentukbulat, dengan ukuran diameter bervariasi antara 20 nmsampai 10 m, dan ketebalan membran 3 nm. Susunanmembran liposom sama dengan membran sel yang terdiriatas lipid bilayer (lihat gambar 2). Liposom dapat dibedakanmenjadi liposom unilamelar dan liposom multilamelar.Liposom unilamelar berukuran 0.02-0.05 um, sedangkanliposom multilamelar berukuran 0.1-0.5 um.27 Lihat gambar 2.

sebagai pembawa obat atau bahkan molekul DNA kesuatu sel target. Struktur unik liposom memungkinkansuatu molekul obat baik yang bersifat hidrofilik maupunhidrofobik dan juga DNA yang dibawanya dapat menembuslipid bilayer membran sel. Lipid bilayer pada liposomdapat bergabung (fusi) dengan lipid bilayer membran sel,untuk kemudian molekul obat maupun DNA yangdibawanya dilepaskan ke dalam sel target15,26-29 (lihatgambar 3). Dalam suatu sediaan topikal, liposom dapatdiformulasikan dalam berbagai bentuk sediaan misalnyasuspensi, losio, krim, dan jel.15,26

Lieb dkk. (1992)30 membandingkan penyerapan obat yang diformulasikan dalam liposom dengan formulasistandar. Pada penelitian dengan menggunakan obyekhamster tersebut diperoleh hasil bahwa sediaan topikalyang menggunakan liposom diserap lebih baik dibandingkansediaan dengan formulasi standar. Wolf dkk. (2000)31membuktikan bahwa liposom dapat digunakan dalamsediaan topikal pada kulit sebagai pembawa molekulprotein enzim T4 Endonuclease V.Pada penelitian lain oleh Jung dkk. (2004)32 yangjuga menggunakan obyek uji binatang, didapatkan hasilbahwa obat yang dibawa dengan medium liposom dapatmasuk folikel rambut lebih dalam dibanding formulasistandar yang tidak menggunakan liposom.

Nanopartikel Nanopartikel adalah suatu partikel berukurannanometer, dengan dimensi 50-200 nm. Nanopartikeltersusun oleh makromolekul yang ke dalamnya dapatdilarutkan atau dimasukkan suatu zat, misalnya obat aktif.Pada beberapa dekade terakhir ini penggunaannya meluas ,termasuk dalam bidang pengobatan, baik dalam bentuksediaan oral, parenteral, bahkan topikal. Strukturnyamenyerupai liposom, namun hanya memiliki satu lapismembran, sehingga berbeda dengan liposom, bagiandalam nanopartikel bersifat lipofilik, sehingga berbagaimolekul yang larut dalam lemak, seperti vitamin A, vitaminD, dan vitamin E dapat dimasukkan ke dalamnya.26 Karenaukurannya yang sangat kecil, sediaan topikal yang diformulasikandalam bentuk nanopartikel dapat berkontakdengan lebih baik pada stratum korneum sehinggapenetrasi zat aktif yang ada di dalamnya pun meningkat.4,15Baroli dkk. (2006)33 melaporkan kemampuan nanopartikelmenembus masuk ke dalam folikel rambut danlapisan epidermis. Sementara Vogt dkk. (2006)34 melaporkanbahwa hanya nanopartikel dengan ukuran 40 nm yangdapat digunakan secara efisien sebagai pembawa vaksinmelalui folikel rambut, namun tidak dengan molekulnanopartikel dengan ukuran lebih besar yaitu 750 nm dan1500 nm.

PEMILIHAN VEHIKULUM DALAM DERMATOTERAPI TOPIKAL

Berbagai hal menjadi pertimbangan dalam pemilihan vehikulum dalam dermatoterapi, antara lain 1) stadiumdan tipe penyakit kulit, 2) tipe/status kulit, 3) lokasipenyakit kulit, 4) faktor lingkungan, serta 5) pertimbangankosmetik.3

Stadium dan tipe penyakit kulit Prinsip pengobatan basah-dengan-basah serta keringdengan-kering masih merupakan hal yang perlu diperhatikandalam dermatoterapi. Misalnya, dermatosis akutyang eksudatif ditatalaksana dengan vehikulum yangbersifat mendinginkan yaitu dengan menggunakan kompresdengan atau tanpa zat aktif. Sementara dermatitis kronikdengan kelainan kulit yang kering dapat ditatalaksanadengan menggunakan vehikulum salep, lotion, dan krim.3,35

Tipe dan status kulit Vehikulum dapat mengubah keadaan fisik dan kimiawikulit dengan cara mempengaruhi kandungan lemak dan airdi dalamnya. Vehikulum yang bersifat hidrofilik sesuaiuntuk digunakan pada kondisi kulit normal atau berminyak,sedangkan vehikulum yang bersifat lipofilik lebih cocokuntuk keadaan kulit yang kering.3,35

Lokasi penyakit kulit Pemilihan vehikulum berdasarkan lokasi anatomiskelainan kulit menjadi hal penting. Ketebalan stratumkorneum dan kepadatan folikel rambut yang bervariasipada berbagai lokasi anatomis, mempengaruhi penyerapansediaan topikal. Misalnya sediaan berbentuk salepdapat digunakan dalam pengobatan dermatosis padatelapak tangan atau telapak kaki. Pertimbangan

lain yangberkaitan dengan lokasi anatomis juga menyangkut kenyamananpasien dan pertimbangan kosmetik. 3,35

Faktor lingkungan Faktor lingkungan, misalnya kondisi iklim yang ekstrimdapat mengubah struktur matriks suatu vehikulum, sehinggadiperlukan uji untuk mengetahui kestabilanvehikulum pada berbagai keadaan iklim.3Pertimbangan kosmetikPenampilan fisik, bau, kemudahan dalam aplikasi,serta kemampuan untuk tidak meninggalkan residusetelah aplikasi menjadi pertimbangan penting dalampemilihan vehikulum karena dapat meningkatkan kepatuhanpasien dalam pengobatan.3,35

PRINSIP DASAR PEMBUATAN SEDIAAN OBAT TOPIKAL

Secara ideal, dalam pembuatan suatu sediaan obattopikal, vehikulum yang dipilih harus mudah dalamaplikasinya, tidak menimbulkan iritasi, nontoksik, nonalergenik,stabil secara kimiawi, homogen, bersifat inert,dan secara kosmetik dapat diterima penggunanya. Di sisilain, vehikulum yang dipilih juga memungkinkan bahanaktif tetap stabil dan mudah dilepaskan ke dalam kulitsetelah diaplikasikan.1,3,7,13 Pemilihan vehikulum yangtepat dapat meningkatkan bioavailabilitas obat aktif yangterkandung di dalamnya, sehingga perannya tidak dapatdiabaikan dan hampir sama penting dengan peran zat/ obat aktif yang dibawanya.7,13,35 Beberapa parameter harus dipertimbangkan dalampembuatan sediaan obat topikal, antara lain, fungsi daritiap materi yang akan digunakan, jumlah materi yangdigunakan, dan aspek fisiko-kimiawi dari zat aktif.7,13

1. Fungsi dari tiap materi yang digunakan Pengetahuan mengenai materi yang akan digunakanharus dimiliki oleh seorang formulator/ pembuat obat,termasuk dalam pembuatan obat topikal. Pengetahuantersebut mencakup fungsi tiap materi dalam sebuahformulasi/sediaan, misalnya fungsi sebagai vehikulum,bahan pengemulsi, penetration enhancer, bahanpembentuk jel, dan berbagai fungsi lainnya.7 Seorang formulator yang belum berpengalamankadang mengambil contoh dari suatu sediaan dalambentuk jadi yang sudah dikenal untuk melihat materiapa saja yang digunakan dalam sediaan tersebut. Haltersebut sebaiknya dilakukan dengan hati-hati, karenamodifikasi pada spesifikasi materi yang digunakandapat merusak stabilitas sediaan.7

2. Jumlah materi yang akan digunakan Dalam suatu vehikulum multifase misalnya krim,jumlah tiap materi yang digunakan harus diperhitungkandengan tepat.7,17 Hal tersebut berkaitan denganstabilitas sediaan yang dibuat. Suatu vehikulum multifasetersusun oleh materi hidrofilik dan lipofilik. Untukmenyatukan kedua zat yang berbeda afinitasnya terhadapair dan minyak tersebut, diperlukan bahan pengemulsi.Jumlah materi yang digunakan, baik materihidrofilik maupun lipofilik akan menentukan jumlahdan jenis bahan pengemulsi yang diperlukan.17

3. Sifat fisikokimiawi zat aktif dan vehikulum Sifat fisikokimiawi zat aktif maupun vehikulummenentukan nilai koefisien partisi zat aktif antaravehikulum dan stratum korneum dan pada akhirnyamenentukan kemampuan zat aktif berdifusi ke dalamlapisan kulit. Tingkat kelarutan yang terlalu tinggi darizat aktif dalam

vehikulum sebaiknya dihindari, karenaakan mencegah partisi bahan aktif kepermukaanstratum korneum setelah diaplikasikan.

MACAM MACAM PEMBERIAN OBAT TOPIKAL

a.

Pemberian obat topikal pada kulit

Contoh obat topikal untuk kulit : 1. 2. 3. Anti jamur Antibiotik : ketoconazol, miconazol, terbinafin : oxytetrasiklin

Kortikosteroid : betametason, hidrokortison

Persiapan alat : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Obat topical sesuai yang dipesankan (krim, lotion, aerosol, bubuk, spray) Buku obat Kassa kecil steril (sesuai kebutuhan) Sarung tangan Lidi kapas atau tongue spatel Baskom dengan air hangat, waslap, handuk dan sabun basah Kassa balutan, penutup plastic dan plester (sesuai kebutuhan)

Prosedur kerja : 1. 2. 3. 4. Cek instruksi dokter untuk memastikan nama obat, daya kerja dan tempat pemberian. Cuci tangan Atur peralatan disamping tempat tidur klien Tutup gorden atau pintu ruangan

5. 6.

Identifikasi klien secara tepat Posisikan klien dengan tepat dan nyaman, pastikan hanya membuka area yang akan diberi obat

7.

Inspeksi kondisi kulit. Cuci area yang sakit, lepaskan semua debris dan kerak pada kulit

8. 9. 10. 11.

Keringkan atau biarkan area kering oleh udara Bila kulit terlalu kering dan mengeras, gunakan agen topikal Gunakan sarung tangan bila ada indikasi Oleskan agen topical :

a. -

Krim, salep dan losion yang mengandung minyak Letakkan satu sampai dengan dua sendok teh obat di telapak tangan kemudian lunakkan dengan menggosok lembut diantara kedua tangan

Usapkan merata diatas permukaan kulit, lakukan gerakan memanjang searah pertumbuhan bulu.

Jelaskan pada klien bahwa kulit dapat terasa berminyak setelah pemberian

b. -

Lotion mengandung suspensi Kocok wadah dengan kuat Oleskan sejumlah kecil lotion pada kassa balutan atau bantalan kecil Jelaskan pada klien bahwa area akan terasa dingin dan kering.

c. -

Bubuk Pastikan bahwa permukaan kulit kering secara menyeluruh Regangkan dengan baik lipatan bagian kulit seperti diantara ibu jari atau bagian bawah lengan

Bubuhkan secara tipis pada area yang bersangkutan

d. -

Spray aerosol Kocok wadah dengan keras Baca label untuk jarak yang dianjurkan untuk memegang spray menjauhi area (biasanya 15-30 cm)

Bila leher atau bagian atas dada harus disemprot, minta klien untuk memalingkan wajah dari arah spray.

Semprotkan obat dengan cara merata pada bagian yang sakit

12.

Rapikan kembali peralatan yang masih dipakai, buang peralatan yang sudah tidak digunakan pada tempat yang sesuai.

13.

Cuci tangan

b.

Pemberian obat mata

Pemberian obat melalui mata adalah memberi obat kedalam mata berupa cairan dan salep. Tujuannya adalah : 1. 2. 3. 4. Untuk mengobati gangguan pada mata Untuk mendilatasi pupil pada pemeriksaan struktur internal mata Untuk melemahkan otot lensa mata pada pengukuran refraksi mata Untuk mencegah kekeringan pada mata

Contoh obat topikal untuk mata : 1. 2. Tetes mata Salep mata : gentamisin, kloramfenikol : gentamisin, kloramfenikol

Persiapan alat : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Botol obat dengan penetes steril atau salep dalam tube (tergantung jenis sediaan obat) Buku obat Bola kapas kering steril (stuppers) Bola kapas basah (normal salin) steril Baskom cuci dengan air hangat Penutup mata (bila perlu) Sarung tangan

Prosedur kerja : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Cek instruksi dokter untuk memastikan nama obat, daya kerja dan tempat pemberian. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan Identifikasi klien secara tepat Jelaskan prosedur pengobatan dengan tepat Atur klien dengan posisi terlentang atau duduk dengan hiperektensi leher Pakai sarung tangan Dengan kapas basah steril, bersihkan kelopak mata dari dalam keluar Minta klien untuk melihat ke langit-langit Teteskan obat tetes mata : Dengan tangan dominan anda di dahi klien, pegang penetes mata yang terisi obat

kurang lebih 1-2 cm (0,5-0,75 inci) diatas sacus konjungtiva. Sementara jari tangan non dominan menarik kelopak mata kebawah.

Teteskan sejumlah obat yang diresepkan kedalam sacus konjungtiva. Sacus konjungtiva normal menahan 1-2 tetes. Meneteskan obat tetes ke dalam sacus memberikan penyebaran obat yang merata di seluruh mata.

Bila klien berkedip atau menutup mata atau bila tetesan jatuh ke pinggir luar kelopak mata, ulangi prosedur

10. -

Setelah meneteskan obat tetes, minta klien untuk menutup mata dengan perlahan Berikan tekanan yang lembut pada duktus nasolakrimal klien selama 30-60 detik Memasukkan salep mata : Pegang aplikator salep di atas tepi kelopak mata, pencet tube sehingga memberikan aliran tipis sepanjang tepi dalam kelopak mata bawah pada konjungtiva.

Minta klien untuk melihat kebawah Membuka kelopak mata atas Berikan aliran tipis sepanjang kelopak mata atas pada konjungtiva bagian dalam Biarkan klien memejamkan mata dan menggosok kelopak mata secara perlahan dengan gerakan sirkuler menggunakan bola kapas.

11.

Bila terdapat kelebihan obat pada kelopak mata, dengan perlahan usap dari bagian dalam ke luar kantus (kantung mata)

12.

Bila klien mempunyai penutup mata, pasang penutup mata yang bersih diatas pada mata yang sakit sehingga seluruh mata terlindungi. Plester dengan aman tanpa memberikan penekanan pada mata.

13. 14.

Lepaskan sarung tangan, cuci tangan dan buang peralatan yang sudah dipakai Catat obat, konsentrasi, jumlah tetesan, waktu pemberian dan mata (kiri, kanan atau kedua-duanya) yang menerima obat.

c.

Pemberian obat tetes telinga

Yaitu memberikan obat pada telinga melalui kanalis eksternal, dalam bentuk cair. Tujuannya adalah : 1. Untuk memberikan efek terapi lokal (mengurangi peradangan, membunuh organisme penyebab infeksi pada kanal telinga eksternal) 2. 3. Menghilangkan nyeri Untuk melunakkan serumen agar mudah untuk diambil

Contoh obat topikal telinga : 1. 2. Antibiotik Pelunak serumen : kloramfenicol : karbogliserin 10%

Persiapan alat : 1. 2. 3. 4. 5. Botol obat dengan penetes steril Buku obat Cotton bud Normal salin Sarung tangan

Prosedur kerja 1. Cek kembali pengobatan, waktu, jumlah dan dosis serta pada telinga bagian mana obat harus diberikan. 2. Siapkan klien : Identifikasi klien dengan tepat dan tanyakan namanya Sediakan asisten bila diperlukan, untuk mencegah cidera pada bayi dan anak kecil

Atur posisi klien miring kesamping (side lying) dengan telinga yang akan diobati pada bagian atas.

3. -

Bersihkan daun telinga dan lubang telinga : Gunakan sarung tangan bila dicurigai ada infeksi Dengan menggunakan cotton bud yang dibasahi cairan, bersihkan daun telinga dan meatus auditory

4.

Hangatkan obat dengan tangan anda atau rendam obat ke dalam air hangat dalam waktu yang singkat

5.

Tarik daun telinga keatas dan kebelakang (untuk dewasa dan anak-anak diatas 3 tahun), tarik daun telinga kebawah dan kebelakang (bayi)

6. 7. 8. 9.

Masukkan sejumlah tetes obat yang tepat sepanjang sisi kanal telinga Berikan penekanan yang lembut beberapa kali pada tragus telinga Minta klien untuk tetap berada pada posisi miring selama 5 menit. Kaji respon klien : kaji pada karakter dan jumlah pengeluaran, adanya ketidaknyamanan dan lain sebagainya. Lakukan segera setelah obat dimasukkan dan ulangi pada saat efek obat telah bekerja.

10. 11.

Rapikan alat dan buang peralatan yang sudah tidak dipakai Dokumentasikan semua tindakan

d.

Pemberian obat tetes hidung

Yaitu memberikan obat tetes melalui hidung dengan tujuan : 1. 2. Untuk mengencerkan sekresi dan memfasilitasi drainase dari hidung Mengobati infeksi dari rongga hidung dan sinus

Contoh obat topikal untuk hidung : 1. Antikongesti : Oksimetazolin HCl

Persiapan alat : 1. 2. 3. Botol obat dengan penetes steril Buku obat Sarung tangan

Prosedur kerja: 1. Cek kembali pengobatan, waktu, jumlah dan dosis serta pada telinga bagian mana obat harus diberikan. 2. Siapkan klien : Identifikasi klien dengan tepat dan tanyakan namanya Sediakan asisten bila diperlukan, untuk mencegah cidera pada bayi dan anak kecil Atur posisi klien berbaring supinasi dengankepala hiperekstensi diatas bantal (untuk pengobatan sinus ethmoid dan sphenoid) atau posisi supinasi dengan kepala hiperektensi dan miring kesamping (untuk pengobatan sinus maksilaris dan frontal) 3. 4. 5. Bersihkan lubang telinga Gunakan sarung tangan bila dicurigai ada infeksi Masukkan sejumlah tetes obat yang tepat pada bagian tengah konka superior tulang etmoidalis 6. 7. Minta klien untuk tetap berada pada posisi ini selama 1 menit Kaji respon klien : kaji pada karakter dan jumlah pengeluaran, adanya ketidaknyamanan dan lain sebagainya. Lakukan segera setelah obat dimasukkan dan ulangi pada saat efek obat telah bekerja. 8. 9. Rapikan alat dan buang peralatan yang sudah tidak dipakai Dokumentasikan semua tindakan

e.

Pemberian obat melalui vagina

Yaitu memberikan sejumlah obat ke dalam vagina dengan tujuan : 1. 2. 3. 4. Untuk mengobati infeksi pada vagina Untuk menghilangkan nyeri, rasa terbakar dan ketidaknyamanan pada vagina Untuk mengurangi peradangan Untuk melunakkan

Contoh obat : 1. Pelunak servik/stimulasi kontraksi uterus (uterotropik) : preparat prostaglandin

(misoprostol, cytotec, gastrul) 2. 3. 4. Antijamur Antibiotik Hormon : nistatin : metronidazol : estriol

Persiapan alat : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Obat sesuai yang diperlukan (cream, jelly, foam, atau suppositoria Aplikator untuk krim vagina Pelumas untuk suppositoria Sarung tangan Pembalut Handuk bersih Korden/pembatas/sketsel

Prosedur kerja 1. 2. Cek kembali order pengobatan, mengenai jenis pengobatan, waktu, jumlah dan dosis Siapkan klien : Identifikasikan klien dengan tepat dan tanyakan namanya

3. 4. 5. 6. -

Jaga privasi, dan mintalah klien untuk berkemih terlebih dahulu Atur posisi klien berbaring supinasi dengan kaki fleksi dan pinggul supinasi eksternal Tutup dengan selimut mandi dan ekspose hanya pada area perineal saja. Pakai sarung tangan Inspeksi orifisium vagina, catat adanya pengeluaran, bau atau rasa yang tidak nyaman Lakukan tindakan perawatan perineum Suppositoria Buka bungkus alumunium foil supositoria dan oleskan sejumlah pelumas yang larut dalam air pada ujung supositoria yang bulat dan halus. Lumaskan jari telunjuk yang telah dipasang sarung tangan dari tangan dominan.

Dengan tangan non dominan yang sudah terpasang sarung tangan, regangkan lipatan labia

7. -

Masukkan suppositoria sekitar 8-10 cm sepanjang dinding vagina posterior. Tarik jari tangan dan bersihkan pelumas yang tersisa sekitar orifisium dan labia Mintalah klien untuk tetap berada pada posisi tersebut 5-10 menit setelah insersi. Lepaskan sarung tangan dan buang ke tempat yang sesuai Cuci tangan Kaji respon klien Dokumentasikan seluruh tindakan Krim, vagina, jelly atau foam Isi aplikator, ikuti petunjuk yang tertera pada kemasan Regangkan lipatan labia secara perlahan dengan tangan non dominan yang memakai sarung tangan

Dengan tangan dominan yang telah memakai sarung tangan, masukkan aplikatot ke dalam vagina sekitar 5 cm. Dorong penarik aplikator untuk mengeluarkan obat hingga aplikator kosong.

Tarik aplikator dan letakkan diatas handuk. Bersihkan sisa kream pada labia dan orifisium vagina.

Buang aplikator atau bersihkan kembali sesuai dengan petunjuk penggunaan dari

pabriknya. Instruksikan klien untuk tetap berada pada posisi semula selama 5-10 menit Lepaskan sarung tangan, buang ditempat semestinya Cuci tangan Kaji respon klien Dokumentasikan semua tindakan

PENUTUP Terapi topikal merupakan salah satu metode pengobatan yang sering digunakan dalam bidang dermatologi.Berbagai jenis vehikulum dapat digunakan dalamformulasi suatu sediaan topikal. Pengetahuan mengenaimekanisme kerja dan sifat/ efek tiap jenis vehikulum sertateknologi terbaru yang ditemukan sangat diperlukan bagikeberhasilan terapi topikal, upaya mengurangi efeksamping terapi, dan kepatuhan pasien dalam pengobatan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Wyatt EL, Sutter SH, Drake LA. Dermatological pharmacology. Dalam: Goodman and Gillmans the pharmacological basis of therapeutics. Edisi ke-10. New York: McGraw-Hill. 2001. p. 1795-8. 2. Sharma, S. Topical drug delivery systems: A review. Diunduh darI http://www.pharmainfo.net. Last update: 10/11/2008 3. Surber C, Smith EW. The mystical effects of dermatological vehicles. Dermatology. 2005; 210: 157-68. 4. Contreras JEL. Human skin drug delivery using biodegradable PLGA-Nanoparticles. Saarbrucken, 2007 5. Gupta P, Garg S. Recent advances in semisolid dosage forms for dermatological application. Pharmaceutical Technology, 2002. 6. Chu DH. Development and structure of the skin. Dalam: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffel DJ,penyunting. Fitzpatricks dermatology in general medicine. Edisi ke-7. New York: McGraw Hill; 2008. p. 57-72. 7. Barry, BW. Dermatological formulations. New York: Marcel Dekker, Inc, 1983 8. Schaefer H, Redelmeier TE, Nohynek GJ, Lademann J. Pharmacokinetics and topical applications of drugs. Dalam: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffel DJ, penyunting. Fitzpatricks dermatology in general medicine. Edisi ke-7. New York: McGraw Hill; 2008. p. 2097-102. 9. Teichmann A, Jacobi U, Ossadnik M, Richter H, Koch S, Sterry W, dkk. Differential stripping: Determination of the amount of topically applied substances penetrated into hair follicles. J Invest Dermatol.

2005; 125: 264-9. 10. Herkenne C, Naik A, Kalia YN, Hadgraft J, Guy RH. Dermatopharmacokinetic prediction of topical drug bioavailability in vivo. J Invest Dermatol. 2007; 127: 887-94. 11. Magnusson BM, Anissimov YG, Cross SE, Roberts MS. Molecular size as the main determinant of solute maximum flux across the skin. J Invest Dermatol. 2004; 122: 993-9. 12. Raschke, T. Topical activity of ascorbic acid: From in vitro optimization to in vivo efficacy. Skin Pharmacol Physiol. 2004; 7: 200-6. 13. Bergstorm KG, Strobber BE. Principles of topical therapy. Dalam Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffel DJ, penyunting. Fitzpatricks dermatology in general medicine. Edisi ke-7. New York: McGraw Hill; 2008. p. 2091-6. 14. Lautenschlger, H. All purpose talcum free powder bases with urea.Kosmetische Medizin 2006; 2: 68-70. 15. Gupta P, Garg S. Recent advances in semisolid dosage forms for dermatological application. Pharmaceutical Technology 2002: 144-62. 16. Advantan ointment, fatty ointment, cream, and lotion. Product information. May 2008 17. Rosoff M. Specialized pharmaceutical emulsions. Dalam: Lieberman HA, Rieger MM, Banker GS, penyunting. Pharmaceutical dosage forms: Disperse systems. New York: Marcel Dekker, Inc,1998 18. Wiren K, Fritiof H, Sjoqvist C, Loden M. Enhancement of bioavailability by lowering of fat content in topical formulations. Br J Dermatol. 2009; 160: 552-6. 19. Duweb G, Aldebani S, Elzorghany A, Benghazil M, Alhaddar J. Calcipotriol ointment versus cream in psoriasis vulgaris. Int J Clin Pharmacol Res. 2003; 23(2-3): 47-51.

20. Cal, K. How does the type of vehicle influence the in vitro skin absorption and elimination kinetics of terpenes? Arch Dermatol Res. 2006; 297: 311-5. 21. Breneman D. Clobetasol propionate 0.05% lotion in the treatment of moderate to severe atopic dermatitis: a randomized evaluation versus clobetasol propionate emollient cream. J Drugs Dermatol. 2005; 4(3): 330-6. 22. Lowe N. Clobetasol propionate lotion, an efficient and safe alternative to clobetasol propionate emollient cream in subjects with moderate to severe plaque-type psoriasis. J Dermatol Treat. 2005; 16(3): 158-64. 23. Drugs.com-Drug information and side effects online. Ciclopirox nail lacquer. Diunduh dari www.drugs.com. Last update July 2006 24. Gupta, AK; Schouten, JR; Lynch, LE. Ciclopirox nail lacquer 8% for the treatment of onychomycosis: A Canadian perspective. Diunduh dari www.emedicine.com. Published on 1 June 2006 25. Purdon CH, Haigh JM, Surber C, Smith EW. Foam drug delivery in dermatology. Am J Drug Deliv. 2003; 1(1):71-5. 26. Lautenschlger H. Active agents: liposomes, nanoparticles & co.Beauty Forum. 2003; 5: 84-86. 27. Patel SS, Liposome: A versatile platform for targeted delivery ofdrugs. Diunduh dari www.pharmainfo.net tanggal 20 Maret 2009 28. Lautenschlger, H. Liposomes. Dalam: Barel A. O., Paye M. Maibach H. I., editor. Handbook of cosmetic science andTechnology. Boca Raton: CRC Press Taylor & Francis Group.2006. p. 155-63. 29. Lautenschlger H. Applied corneotherapy and skincare - guidelinesfor the anti-aging treatment. sthetische Dermatologie. 2007; 3: 8-16.

30. Lieb LM. Topical delivery enhancement with multilamellar liposomes into pilosebaceous units: in vitro evaluation using fluorescenttechniques with the hamster ear model. J. Invest. Dermatol. 1992;99: 108-13. 31. Wolf P. Topical treatment with liposomes containing T4endonuclease V protein protects human skin in-vivo fromultraviolet-induced upregulation of interleukin 10 and tumornecrosing factor . J Invest Dermatol. 2000; 114: 149-56. 32. Jung S. Innovative liposomes as a transfollicular drug delivery system: penetration into porcine hair follicles. J. Invest. Dermatol.2006; 126: 172832. 33. Baroli B, Ennas MG, Loffredo F, Isola M, Pinna R, Lopez-Quintela MA. Penetration of metallic nanoparticles in human full-thickness skin.J. Invest. Dermatol. 2007; 127: 887-94. 34. Vogt A. 40 nm, but not 750 or 1,500 nm, nanoparticles enterepidermal CD1a cells after transcutaneous application on humanskin. J Invest Dermatol. 2006; 126: 1316-22. 35. Vlahovic TC. Choosing the right vehicle. Podiatry management,podiatric dermatology, 2008