Anda di halaman 1dari 16

BAB I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Pasar Modal merupakan aktifitas ekonomi keuangan yang tak luput dari penerapan syariah islam. Dalam melaksanakan proses investasi dan penanaman modal perlu diterapkanya prinsip syariah yang tidak melanggar hukum agama juga yang mensejahterkan, maka Pasar Modal Syariah lahir untuk memfasilitasi masyarakat yang kini semakin maju yang sadar berinvestasi secara syari. Dalam Pasar Modal Syariah perlu adanya penerapan penerapan akad yang syarI yang diaplikasikan dalam setiap Produk Pasar Modal Syariah baik itu saham, reksadana dan tentu saja obligasi syariah yang kini lebih dikenal dengan sukuk. Akad yang bisa digunakan dalam pasar modal ini adalah akad mudharabah, musyarakah, murabahah, salam, istishna, dan ijarah. Sukuk merupakan produk yang paling diminati masyarakat karena telah tercatat sampai tahun 2012 ada 53 kali penerbitan sukuk atau obligasi syariah korporasi sejak 2002 dan 32 sukuk syariah yang beredar (outstanding) senilai Rp6,779 triliun (Sumber: BABPEPAM-LK). Akad yang biasa digunakan dalam penerbitan sukuk adalah akad mudharabah dan ijarah. Fenomena diatas membuat kami menjadi lebih ingin mempelajari lebih dalam mengenai sukuk, apa yang dimaksud dengan sukuk, bagaimana mekanismenya dan sudah sesuaikan kah dengan syariah islam, apa perbedaannya dengan obligasi konvensional adalah hal hal lain yang melatarbelakangi mengapa kami mengangkat tema sukuk dalam makalah kami ini. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan sukuk? 2. Apa perbedaan sukuk atau obligasi syariah dengan obligasi konvensional? 3. Bagaimana mekanisme sukuk? 4. Apa peran perbankan dalam mekanisme sukuk?

1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan sukuk 2. Untuk mengetahui perbedaan obligasi syariah dengan konvensional 3. Untuk mengetahui mekanisme sukuk di Indonesia 4. Untuk mengetahui peran perbankan dalam mekanisme sukuk 5. Untuk menambah rujukan mengenai sukuk 6. Menambah wawasan dan memenuhi tugas yang di berikan

BAB II Pembahasan
2.1 Definisi Sukuk Sukuk berasal dari bahasa Arab ( plural: sakk), yaitu cek atau instrumen hukum. Saat ini, sukuk dikenal sebagai nama sebuah sertifikat finasial dan dikenal juga dengan nama obligasi syariah (surat utang Islam). Meskipun sebenarnya memiliki pengertian yang berbeda, sukuk sebagai salah satu produk pasar modal syariah sering disejajarkan dengan obligasi (bond). Sukuk juga sering diistilahkan sebagai obligasi syariah. Istilah sukuk mulai digunakan di pasar modal Indonesia sejak tahun 2006 sejalan dengan terbitnya Peraturan BapepamLK Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Efek Syariah. Sebelumnya, digunakan istilah obligasi syariah seperti yang difatwakan oleh DSN-MUI dalam Fatwa Nomor 32 tahun 2002 tentang Obligasi Syariah.1 Surat utang berbasiskan suku bunga tidak diperbolehkan dalam Islam, sehingga Sukuk adalah surat berharga yang sesuai dengan aturan Islam dan prinsip-prinsip investasi yang melarang membebankan atau membayarkan bunga. Pada periode klasik Islam, definisi sakk (sukuk) yang juga merupakan kata dasar cheque di Eropa, berarti sebuah dokumen yang mewakili sebuah kontrak hak, kewajiban atau keuangan yang sesuai dengan syariah. Fakta empiris menunjukkan bahwa sukuk merupakan produk yang secara umum digunakan di abad pertengahan oleh umat Islam untuk melakukan transfer kewajiban finansial dari aktivitas trading dan aktivitas komersial lainnya. Pentingnya perangkat sukuk dalam perspektif Islam modern terletak pada konsep sekuritisasi yang dapat dicapai melalui proses penerbitan sukuk. Potensi terbesar adalah di dalam melakukan transformasi cash flow di masa yang akan datang pada aset. Sukuk dapat diterbitkan pada aset yang sudah ada ataupun aset baru. Menurut Fatwa DSN MUI Nomor 32/DSN-MUI/IX/2002, Obligasi Syariah adalah suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah
1

Tim Penyusun BAPEPAM-LK, Himpunan Skema Sukuk, hal ii.

yang dikeluarkan Emiten kepada pemegang Obligasi Syariah yang mewajibkan Emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang Obligasi Syariah berupa bagi hasil atau margin atau fee, serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo. Akad (kontrak) yang dapat digunakan dalam penerbitan obligasi syariah antara lain Mudharabah, Musyarakah, Murabahah, Salam, Istishna, dan Ijarah. Jenis usaha yang dilakukan Emiten (Mudharib) tidak boleh bertentangan dengan syariah dengan memperhatikan substansi Fatwa DSN-MUI Nomor 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi untuk Reksa Dana Syariah. Pendapatan (hasil) investasi yang dibagikan Emiten (Mudharib) kepada pemegang Obligasi Syariah sesuai dengan akad yang digunakan, serta harus bersih dari unsur non halal. Sedangkan menurut AAOFI, Sukuk adalah sertifikat yang bernilai sama yang mewakili kepemilikan yang tidak dibagikan atas suatu aset berwujud, nilai manfaat (usufruct) dan jasa-jasa (services) atau kepemilikan atas aset dari proyek tertentu atau kegiatan investasi tertentu. Lebih khusus lagi, dalam UndangUndang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), SBSN didefinisikan sebagai surat berharga yang diterbitkan berdasarkan syariah, sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap aset SBSN, baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing. 2 2.2 Latar Belakang Munculnya Sukuk Pada masa awal Islam, sukuk merupakan salah satu alat pembayarangaji para pegawai negara. Dalam sejarah disebutkan bahwa khalifahUmar bin alKhattab adalah khalifah pertama yang membuat sukukdengan membubuhkan stempel di bawah kertas sukuk tersebut. Pemakaian sukuk berkembang pada abad 4-5 Hijriyah (10-11 Masehi) di mana seorang pembeli dapat mengirim sukuk pada seorang pedagang,pada sukuk tersebut tertulis nama barang yang diinginkan,harga barang, dan tanda tangan pembeli. Kemudian pedagang tersebut mengirim barang yang diinginkan pembeli, ketika pedagangitu menemui atau menghubungi

Abida Mutaqiena, Makalah peluang dan tantangan sukuk di Indonesia, hal 7.

pembeli pada waktu yang telahditentukan, maka ia menyerahkan sukuk tersebut pada pembeli,dan pembeli membayar sesuai dengan harga barang. Ibnu Khaldun menyebutkan bahwa pemakaian sukuk bukanhanya di kalangan rakyat (swasta), tapi juga di kalangan pemerintah. Terkadang sukuk ini diserahkan ke Baitul Mal, para pedagang,atau para bendaharawan. Biasanya pada sukuk terdapat nama dantanda tangan dua saksi yang berkualifikasi adil. Ibnu Hauqal menyebutkanbahwa ia pernah menyaksikan sukuk senilai 240 ribu dinarantara dua orang saudagar yang disaksikan oleh beberapa orangyang berkualifikasi adil, dan terkadang pada sukuk tersebut jugatertulis penjamin pembayarannya, di mana ia bertanggung jawabuntuk membayar jika penerbit sukuk tidak sanggup membayar. Pada masa kontemporer, kemunculan sukuk dilatarbelangi oleh upaya untuk menghindari praktek riba yang terjadi pada obligasikonvensional dan mencari alternatif instrumen pembiayaan bagi pengusaha atau negara yang sesuai dengan syariah. Dengan didukungoleh munculnya fatwa ulama yang

mengharamkan obligasikonvensional, seperti Fatwa Majma al-Fiqh al-Islm 20 Maret 1990dan fatwa Dewan Syariah Nasional Majlis Ulama Indonesia No.32/DSN-MUI/IX/2002 dan kebutuhan investasi jangka panjang,maka para ahli dan praktisi ekonomi Islam berijtihad untuk menciptakansebuah produk atau instrumen keuangan baru yang bernama obligasi syariah atau sukuk.3 2.3 Macam-macam Sukuk Berdasarkan The Accounting and Auditing Organisation of Islamic Financial Institutions (AAOIFI) ada 14 jenis transaksi/struktur Sukuk. Diantaranya adalah : 1) Sukuk Ijarah Sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau akad Ijarah dimana satu pihak bertindak sendiri atau melalui wakilnya menjual atau menyewakan hak guna (manfaat) atas suatu asset kepada pihak lain berdasarkan harga sewa dan periode sewa yang disepakati, tanpa diikuti dengan perpindahan kepemilikan
3

Dede Abdul Fatah, Perkembangan obligasi syariah (sukuk) di Indonesia: analisis peluang dan tantangan, hal 4.

asset itu sendiri. Sukuk Ijarah dibedakan menjadi Ijarah Sale and Lease Back (Ijarah Almumtahiya Bittamlik) dan Ijarah Headlease and Sublease.

2) Sukuk Mudharabah Sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau akad Mudharabah yang merupakan suatu bentuk kerjasama dimana satu pihak menyediakan modal (rab al-maal) dan pihak lain menyediakan tenaga dan keahlian (mudharib), keuntungan dari kerjasama tersebut akan dibagi berdasarkan perbanbandingan yang telah disetujui sebelumnya. Kerugian yang timbul akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak yang menjadi penyedia modal. 3) Sukuk Musyarakah Sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau akad Musyarakah yang merupakan suatu bentuk kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk menggabungkan modal yang digunakan untuk membangun proyek baru, mengembangkan proyek yang telah ada, atau membiayai kegiatan usaha. Keuntungan maupun kerugian yang timbul akan ditanggung bersama sesuai dengan jumlah partisipasi modal masing-masing pihak. 4) Sukuk Istishna Sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau akad Istisna yang merupakan suatu bentuk perjanjian jual beli antara para pihak untuk pembiayaan suatu proyek dimana cara dan jangka waktu penyertaan barang serta harga ditentukan berdasarkan kesepakatan para pihak. Sukuk Istishna merupakan jenis sukuk yang tidak dapat diperjual belikan (non-tradable). 5) Sukuk Salam Sukuk Salam merupakan sukuk jangka pendek yang diterbitkan dalam rangka kontrak jual beli suatu komoditas dengan cara pemesanan dan pembayaran harga terlebih dahulu dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan sebelumnya. Sukuk Salam juga termasuk jenis sukuk non-tradable. Dari berbagai jenis sukuk, ada beberapa jenis yang cukup populer di kalangan Investor Sukuk dan merupakan jenis sukuk yang paling banyak diterbitkan, yaitu :

1) Sukuk Ijarah, Bagi penerbit sukuk, mekanisme sukuk Ijarah relatif lebih mudah dilaksanakan dibanding jenis sukuk lainnya, dan penggunaan dana lebih bebas sepanjang tidak melanggar ketentuan syariah. Sedangkan bagi Investor, Sukuk Ijarah lebih diminati karena strukturnya mirip dengan struktur Obligasi Konvensional, yang cenderung memberikan keuntungan tetap, karena transaksi yang bersifat sewa serta lebih mudah dalam menetukan fee ijarah (bukan bunga) yang dibayarkan secara periodik. Mekanisme sukuk ijarah berdasarkan Objek ijarah yang dijadikan underlying dalam penerbitan sukuk berupa fixed asset milik emiten yang sudah ada dengan jenis aset dan spesifikasi yang jelas. Contoh objek ijarah: (1) Kapal Tanker, dengan bobot mati tertentu; (2) Jaringan Listrik, dengan jenis, nilai, dan spesifikasi tertentu; (3) Bangunan, yang berfungsi sebagai mall; (4) Sirkit, dengan kapasitas tertentu.

Sumber: Bapepam-LK

Emiten menerbitkan sukuk ijarah dengan nilai tertentu yang didasarkan pada objek ijarah tertentu, dan pada saat yang bersamaan investor menyerahkan sejumlah dana sebesar nilai sukuk ijarah kepada emiten. Penerbitan sukuk tersebut memiliki struktur sebagai berikut: 1. Atas penerbitan sukuk ijarah tersebut, Emiten mengalihkan manfaat objek ijarah kepada investor, dan investor yang diwakili wali amanat

sukuk menerima manfaat objek ijarah (berupa fixed asset yang sudah ada dengan jenis aset dan spesifikasi yang jelas) dari emiten. 2. Investor yang diwakili wali amanat sukuk memberikan kuasa (akad wakalah) kepada emiten untuk menyewakan objek ijarah tersebut kepada pihak ketiga. 2. Emiten selaku penerima kuasa dari investor bertindak sebagai mujir (pemberi sewa) menyewakan objek ijarah tersebut kepada pihak ketiga sebagai mustajir (penyewa). 3. Atas objek ijarah yang disewa tersebut, pihak ketiga memberikan pembayaran sewa kepada emiten. 4. Emiten meneruskan pembayaran sewa yang diterima dari pihak ketiga kepada investor berupa cicilan fee ijarah secara periodik sesuai dengan waktu yang diperjanjikan serta sisa fee ijarah pada saat jatuh tempo sukuk.

2) Sukuk Mudharabah Sukuk Mudharabah memiliki potensi keuntungan yang jauh lebih besar daripada obligasi konvensional karena sifat bagi hasilnya, namun tetap memiliki derajat pengembalian pokok yang cukup tinggi. Mekanisme sukuk mudharabah yang diterbitkan oleh perbankan syariah

Sumber: Bapepam-LK

Emiten menerbitkan sukuk mudharabah dengan nilai tertentu, dan pada saat yang bersamaan investor menyerahkan sejumlah dana sebesar nilai sukuk mudharabah kepada emiten. Penerbitan sukuk tersebut memiliki struktur sebagai berikut: 1. Dana hasil emisi sukuk dipergunakan untuk meningkatkan aktiva produktif yang akan disalurkan untuk pembiayaan murabahah; 2. Dari kegiatan usaha dalam bentuk pembiayaan murabahah kepada nasabah, diperoleh pendapatan margin yang kemudian dipisahkan dan didistribusikan sesuai dengan proporsi sumber dana pembiayaan murabahah yang berasal dari dana sukuk, dana emiten dan dana pihak ketiga; 3. Pendapatan margin yang berasal dari dana sukuk, didistribusikan sebagai pendapatan bagi hasil kepada investor dan emiten dalam suatu periode yang telah ditentukan sesuai dengan nisbah yang disepakati; 4. Pada saat jatuh tempo, emiten membayar kembali modal kepada investor sebesar nilai sukuk pada saat penerbitan.

2.4 Perbedaan sukuk dengan obligasi konvensional Sukuk memiliki sejumlah perbedaan karakteristik dengan obligasi konvensional. Perbedaan-perbedaan tersebut yaitu : 1) Sukuk bukan merupakan instrumen utang, akan tetapi merupakan bukti kepemilikan bersama suatu asset berwujud atau hak manfaat (beneficial title); 2) diperlukan adanya underlying asset (berupa aset berwujud maupun aset tidak berwujud) dan syariah endorsement (dokumen pernyataan kesesuaian syariah dari DSN MUI) sebagai dasar penerbitan sukuk; 3) penghasilan yang diberikan bukan berupa bunga/capital gain akan tetapi berupa imbalan/sewa, bagi hasil atau margin; 4) diperlukan adanya SPV (Special Purpose Vehicle) sebagai penerbit sukuk untuk kepentingan obligor, fasilitator antara obligor dan investor, serta waliamanat (principal trustee) untuk kepentingan pemegang Sukuk; 5) Sukuk diterbitkan dan dijual dengan harga at par (100%);

6) Sukuk harus terhindar dari: a. imbal hasil dari kontrak pinjaman (debt contract) berupa bunga (riba) b. ketidakpastian dalam perjanjian (gharar) c. unsur perjudian/gambling (maysir) Tabel Perbandingan Sukuk dengan Obligasi Konvensional Deskripsi Dasar Hukum Penerbit Metode Penerbitan Sukuk - Undang-Undang - Pemerintah - Korporasi - Lelang - Bookbuilding - Private Placement Ketentuan Perdagangan Sifat Instrument Tipe Investor Penghasilan bagi Investor Dokumen yang diperlukan Underlying Asset Penggunaan hasil penjualan (proceed) Lembaga terkait Syariah Endorsement * untuk kontrak tertentu
Sumber: Dahlan Siamat, 2007

Obligasi Undang-Undang - Pemerintah - Korporasi - Lelang - Bookbuilding - Private Placement Tradable Pengakuan utang Konvensional Bunga/kupon, Capital Gain Dokumen Pasar Modal Tidak Perlu Bebas Trustee, Custodian, Agen Pembayar Tidak perlu

Tradable* Sertifikat kepemilikan/ penyertaan atas aset - Konvensional - Syariah Imbalan, bagi hasil, Margin - Dokumen Pasar Modal - Dokumen Syariah Perlu Harus sesuai syariah SPV, Trustee, Custodian, Agen Pembayar Perlu

2.5 Bank Sebagai Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian (Kustodian)

10

1.

Pengertian Bank Kustodian Bank kustodian atau disingkat kustodian adalah suatu lembaga yang

bertanggung jawab untuk mengamankan aset keuangan dari suatu perusahaan ataupun perorangan. Bank kustodian ini akan bertindak sebagai tempat penitipan kolektif dan dari asset seperti saham, obligasi, serta melaksanakan tugas administrasi seperti menagih hasil penjualan, menerima deviden, mengumpulkan informasi mengenai perusahaan acuan seperti misalnya rapat umum pemegang saham tahunan, menyelesaikan transaksi penjualan dan pembelian, melaksanakan transaksi dalam valuta asing apabila diperlukan, serta menyajikan laporan atas seluruh aktivitasnya sebagai kustodian kepada kliennya. Biasa juga disebut dengan bank kustodian 'global, apabila bank kustodian tersebut mengelola aset yang berasal dari berbagai penjuru dunia dengan beragam jurisdiksi melalui berbagai cabangnya diberbagai penjuru dunia. Aset yang tersebar demikian biasanya dimiliki oleh dana pensiun Bank Kustodian adalah Pihak yang memberikan jasa penitipan Efek dan harta lain yang berkaitan dengan Efek serta jasa lain, termasuk menerima dividen, bunga, dan hak-hak lain, menyelesaikan transaksi Efek, dan mewakili pemegang rekening yang menjadi nasabahnya. Fungsi bank kustodian di Indonesia ada 3 yaitu : 1. Lembaga penitipan dan pengamanan. Semua dana dan Efek yang terkumpul dari reksa dana disimpan dan berada dibawah pengawasan bank kustodian. 2. Administrasi. Menghitung Net Asset Value atau NAB (Nilai Aktiva Bersih) dari setiap jenis reksadana KIK setiap akhir hari bursa yang untuk selanjutnya diumumkan kepada masyarakat via koran atau internet. 3. Transfer agent. Melakukan pencatatan seluruh pembelian maupun penebusan/pencairan (redemption) oleh masyarakat pemodal serta mencatat setiap account nasabah. Disamping itu memberikan surat konfirmasi sebagai tanda bukti pembelian, pencairan atau pemindahan

11

(switching) antar jenis reksa dana. 2. Prospektus Prospektus merupakan hal pertama yang harus dipelajari sebelum berinvestasi atau membeli reksadana, bagi kebanyakan orang prospektus hanyalah bacaan yang agak membosankan, tetapi di dalam prospektuslah semua tentang reksadana ada, termasuk strategi investasi (tujuan investasi, jenis portfolio dan kebijakan investasinya), resiko dan biaya,. Informasi yang terdapat dalam prospektus yang akan dijadikan acuan investor dalam memilih manajer investasi serta reksadana yang sesuai dengan kebutuhannya. 3. Tugas Bank Kustodian Berdasarkan peraturan Bapepam, bank kustodian memiliki kewajiban untuk melakukan penitipan efek, melakukan administrasi atas kekayaan reksadana dan melakukan laporan atas keadaan dan perkembangan

kekayaan reksadana. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai bank kustodianv PT. Bank BRI (Persero) Tbk belum pernah melakukan kelalaian atas

kewajibannya, namun terdapat beberapa masalah yang biasa dihadapi oleh bank kustodian antara lain; kelalaian oleh bank kustodian, pelanggaran manajer investasi terhadap KIK, pencairan sebelum jatuh tempo. Sebagai bentuk tanggung jawab dalam rangka melindungi hak investor atau pemegang unit penyertaan, maka dalam mengelola kekayaan reksadana bank kustodian bertanggung

12

BAB III Penututup


Kesimpulan Sukuk adalah sertifikat yang bernilai sama yang mewakili kepemilikan yang tidak dibagikan atas suatu aset berwujud, nilai manfaat (usufruct) dan jasajasa (services) atau kepemilikan atas aset dari proyek tertentu atau kegiatan investasi tertentu. Tabel Perbedaan Sukuk dengan Obligasi Konvensional Deskripsi Dasar Hukum Penerbit Metode Penerbitan Sukuk - Undang-Undang - Pemerintah - Korporasi - Lelang - Bookbuilding - Private Placement Tradable* Sertifikat kepemilikan/ penyertaan atas aset - Konvensional - Syariah Imbalan, bagi hasil, Margin - Dokumen Pasar Modal - Dokumen Syariah Perlu Harus sesuai syariah SPV, Trustee, Custodian, Agen Pembayar Perlu Obligasi Undang-Undang - Pemerintah - Korporasi - Lelang - Bookbuilding - Private Placement Tradable Pengakuan utang Konvensional Bunga/kupon, Capital Gain Dokumen Pasar Modal Tidak Perlu Bebas Trustee, Custodian, Agen Pembayar Tidak perlu

Ketentuan Perdagangan Sifat Instrument Tipe Investor Penghasilan bagi Investor Dokumen yang diperlukan Underlying Asset Penggunaan hasil penjualan (proceed) Lembaga terkait Syariah Endorsement

13

Daftar Pustaka
Suhendi, Hendi. 2010. Fiqh Muamalah. Rajawali Pers: Jakarta. Syafei, Rahmat. 2001. Fiqh Muamalah. Pustaka Setia: Bandung. Muttaqiena, Abida. 2009. Makalah Peluang dan Tantangan Sukuk di Indonesia. Semarang: Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang Tim Penyusun. 2011. Kumpulan Skema Sukuk. BAPEPAM-LK Tri Rahmadi, Aditya., dkk. 2009. Bank Kustodian Sebagai Penanggung Jawab Reksadana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK). Sekolah Tinggi Administrasi Negara DSN MUI. 2002. Fatwa DSN MUI NO: 32/DSN-MUI/IX/2002 Tentang Obligasi Syariah. Majlis Ulama Indonesia DSN MUI. 2002. Fatwa DSN MUI NO: 33/DSN-MUI/IX/2002 Tentang Obligasi Syariah Mudharabah. Majlis Ulama Indonesia

14

Lampiran I Data Emiten dan Akad Penerbitan Sukuk Tahun 2002 - 2012
Tahun 2002 2003 Nama Emiten PT Indosat Tbk PT Berlian Laju Tanker Tbk PT Bank Bukopin Tbk Akad Mudharabah Mudharabah Mudharabah Jumlah Emiten 1 5 Akumulasi Jumlah Emiten Baru 1 6

PT Bank Syariah Muamalat Indonesia Tbk Mudharabah PT Ciliandra Perkasa PT Bank Syariah Mandiri 2004 PT PTPN VII (Persero) PT Matahari Putra Prima Tbk PT Sona Topas Tourism & Industry Tbk PT Citra Sari Makmur PT CSM Corporatama PT Berlina Tbk PT Humpus Intermoda Transportasi Tbk 2005 PT Apexindo Pratama Duta Tbk PT Ricky Putra Globalindo Tbk PT Indosat Tbk 2006 2007 PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) PT Indosat Tbk PT Berlian Laju Tanker Tbk PT Adhi Karya (Persero) Tbk PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) 2008 PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) PT Indosat Tbk PT Mayora Indah Tbk PT Summarecon Agung Tbk PT Aneka Gas Industri PT Metrodata Electronics Tbk Mudharabah Mudharabah Mudharabah Ijarah Ijarah Ijarah Ijarah Ijarah Ijarah Ijarah Ijarah Ijarah Ijarah Ijarah Ijarah Mudharabah Ijarah Ijarah Ijarah Mudharabah Ijarah Ijarah Ijarah 7 21 1 4 16 17 3 15 7 13

15

PT Bank Syariah Muamalat Indonesia Tbk Mudharabah

2009

PT Bakrieland Development Tbk PT Matahari Putra Prima Tbk PT Berlian Laju Tanker Tbk PT Bakrieland Development Tbk PT Salim Ivomas Pratama PT Pupuk Kalimantan Timur (Persero) PT Indosat Tbk PT Mitra Adiperkasa Tbk PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)

Ijarah Ijarah Ijarah Ijarah Ijarah Ijarah Ijarah Ijarah Ijarah Ijarah Ijarah

25

2010

PT Titan Petrokimia Nusantara PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)

27

2011 2012

PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Mudharabah Barat (Bank Nagari) PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Mudharabah Selatan PT Adhi Karya (Persero) Tbk Mudharabah PT Bank Syariah Muamalat Indonesia Tbk Mudharabah PT Indosat Tbk PT Mayora Indah Tbk. Ijarah Mudharabah Mudharabah: 15 Ijarah: 30

1 4

28 28

TOTAL

45

28

16