Anda di halaman 1dari 8

Hubungan Konsumsi Makanan Kariogenik Dan Plak Dengan Kejadian Karies Gigi Pada Siswa Kelas II Dan III

Di MI Tanwirut Thullab Geger. Pembimbing 1: H. Alifin, SKM, M.Kes. Pembimbing 2: Abdul Majid, SE, MM. Ferry Nur Nasyroh ABSTRAK Karies merupakan kejadian yang paling sering dijumpai pada masalah gigi dan mulut. Hal ini sejalan dengan survei awal yang dilakukan di MI Tanwirut Thullab Geger, yakni dari 10 anak yang mengalami karies gigi berjumlah 7 (70%) anak dan 3 (30%) anak tidak mengalami karies gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara konsumsi makanan kariogenik dan plak dengan kejadian karies pada siswa kelas II dan III di MI Tanwirut Thullab Geger. Desain penelitian ini menggunakan metode Analitik Cross Sectional. Populasi dari penelitian ini adalah Seluruh siswa kelas II dan III MI Tanwirut Thullab Geger yang berjumlah 50 orang. sampel yang diambil sebanyak 45 orang sesuai kriteria inklusi yang telah ditetapkan dengan menggunakan Simple Random Sampling. Data penelitian ini adalah hasil jawaban kuisioner tertutup dari konsumsi makanan kariogenik dan observasi dari kejadian plak dan karies gigi pada siswa kelas II dan III di MI Tanwirut Thullab Geger pada bulan Januari 2013. Data ditabulasi dianalisis dengan menggunakan uji Regresi Linier Berganda. Hasil penelitian menunjukkan respoden dengan frekuensi makan makanan kariogenik cukup sebanyak 24 orang (53,3%), respoden yang giginya terdapat plak gigi sebanyak 23 orang (51,1 %), dan yang mengalami karies gigi sebanyak 23 orang (51,1 %). Hasil peneltian adalah Secara parsial konsumsi makanan kariogenik dan plak berpengaruh signifikan terhadap kejadian karies pada siswa kelas II dan III di MI Tanwirut Thullab Geger dengan nilai thitung > t tabel untuk makanan kariogenik 3,400 , dan plak 16,220, dan t tabel untuk 45 responden adalah 2,01, secara simultan makanan kariogenik, dan plak berpengaruh signifikan terhadap kejadian karies pada siswa kelas II dan III di MI Tanwirut Thullab Geger, dikarenakan nilai fhitung > ftabel adapun nilai fhitung adalah 293,227 dan ftabel 3,23. adapun yang paling dominan pengaruhnya terhadap kejadian karies pada siswa kelas II dan III di MI Tanwirut Thullab Geger adalah variabel plak dengan nilai Standardized Coefficients tertinggi yaitu 0,843 Berdasarkan hasil penelitian diharapkan pelayanan kesehatan dan juga khususnya peran guru atau petugas UKS dan orang tua dapat memberikan informasi tentang pentingnya menjaga kebersihan gigi agar kejadian karies gigi tidak bertambah banyak, terutama pada siswa kelas II dan III di MI Tanwirut Thullab Geger. Kata kunci: 1. Makanan kariogenik, Plak, Karies gigi. berkisar antara usia 6 sampai 12 tahun yang mempunyai sifat lebih kuat, sifat individual, aktif dan tidak bergantung dengan orang tua (Moehji, 2003). Kebutuhan gizi anak sekolah dasar dapat mempengaruhi status gizi. Oleh karena itu, makanan yang dikonsumsi harus memenuhi gizi yang baik agar mencapai status gizi yang optimal (Almatsier,2002). Gigi merupakan satu kesatuan dengan anggota tubuh kita yang lain. Menurut Zelvya (2003) penyakit gigi dan mulut yang paling banyak terjadi adalah karies gigi. Kerusakan pada gigi dapat mempengaruhi kesehatan anggota tubuh

Pendahuluan Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan memberikan prioritas kepada upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dengan tidak mengabaikan upaya penyembuhan dan pemulihan kesehatan, termasuk pada anak usia sekolah dasar agar tercapai derajat kesehatan secara optimal (Depkes RI, 2000). Anak usia sekolah dasar disebut juga sebagai masa sekolah. Anak yang berada pada masa ini berkisar antara usia 6-12 tahun. Anak usia sekolah dasar disebut juga sebagai masa sekolah. Anakyang berada pada masa ini

lainnya, sehingga akan mengganggu aktivitas sehari-hari. Gejala awal suatu penyakit seringkali tidak diperhatikan atau dianggap tidak terlalu penting. Kecenderungan ini juga terjadi pada penyakit gigi termasuk penyakit karies gigi. Karies gigi merupakan suatu kerusakan jaringan keras gigi (email, dentin dan sementum) yang bersifat kronis progesif dan disebabkan aktifitas jasad renik dalam karbohidrat yang dapat diragikan dengan demineralisasi jaringan keras dan diikuti kerusakan organik. Karies gigi ini adalah penyakit infeksi yang telah dikenal sejak zaman perunggu. Penyakit ini merusak struktur gigi dan menyebabkan gigi berlubang. Bahkan dapat menyebabkan nyeri, gigi tanggal, infeksi, berbagai kasus berbahaya, dan kematian. Karies atau yang lebih dikenal dengan gigi berlubang merupakan kejadian yang paling sering dijumpai pada masalah gigi dan mulut. Gigi berlubang merupakan penyebab penyakit infeksi yang umum terjadi dan dialami oleh 95% penduduk dunia. Data tahun 2004 dari Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa insiden gigi berlubang di Indonesia terjadi sebanyak 90,05%. Meski prevelansinya tinggi, namun karies masih sering dianggap sepele (Dental 2011). Karies gigi dapat menyerang seluruh lapisan masyarakat dan merupakan penyakit gigi yang paling banyak diderita oleh sebagian besar penduduk Indonesia. Dilihat dari kelompok umur, golongan umur muda lebih banyak menderita karies gigi dibanding umur 45 tahun keatas umur 10-24 tahun karies giginya adalah 66,8-69,5% umur 45 tahun keatas 53,3% dan umur 65 tahun keatas sebesar 43,8% keadaan ini menunjukkan karies gigi banyak terjadi pada golongan usia produktif (Depkes, 2000). Survey yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada pelita III dan IV menunjukkan prevalensi penduduk Indonesia yang menderita karies gigi sebesar 80%. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Depkes tahun 2007 menunjukan, 72,1% penduduk punya pengalaman karies dan sebanyak 46,5% diantaranya merupakan karies aktif yang belum dirawat . Hal ini sesuai dengan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan RI tahun 2004, prevalensi karies di Indonesia mencapai 90,05%. Karies merupakan masalah

kesehatan gigi yang umum terjadi di Indonesia. Berdasarkan Angka ini menunjukkan bahwa jumlah penderita karies di Indonesia sangat tinggi. Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Tuban tahun 2011 sendiri jumlah kasus karies gigi 6.380 orang. Hal ini sejalan dengan survei awal yang dilakukan di MI Tanwirut Thullab Geger, yakni dari 10 anak yang mengalami karies gigi berjumlah 7 (70%) anak dan 3 (30%) anak tidak mengalami karies gigi. Berdasarkan uraian data latar belakang diatas bahwa masih banyakrnya anak yang mengalami karies gigi dari pada yang tidak mengalami karies gigi. Karies gigi dipengaruhi oleh empat faktor yakni: 1) Faktor host: menurut Pintauli dan Hamada (2008), ada beberapa faktor yang dihubungkan dengan gigi sebagai tuan rumah terhadap karies yaitu faktor morfologi gigi (ukuran dan bentuk gigi), struktur enamel, faktor kimia dan kristalografis. 2) Faktor agen atau mikroorganisme plak gigi. 3) Faktor substrat: faktor substrat atau diet. 4) Faktor waktu: tingkat frekuensi gigi terkena dengan lingkungan yang kariogenik dapat mempengaruhi perkembangan karies. Ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya karies gigi (Ramadhan, 2010) antara lain adalah Menyikat gigi dengan pasta gigi yang mengandung fluor, menjaga kebersihan gigi dengan menyikat gigi dengan benar, fissure sealant atau menutup celah gigi, pulp capping atau pemberian kalsium hidrogsida untuk mempertebal lapisan dentil, endodontic atau perawatan untuk mengatasi dan mengobati lubang gigi yang mengalami infeksi. Menurut Mozartha (2012) biasanya perawatan yang diberikan pada karies gigi adalah pembersihan jaringan gigi yang terkena karies dan penambalan (restorasi). Bardasarkan gambaran masalah di atas maka Penulis tertarik untuk meneliti dan mengetahui apakah ada hubungan antara konsumsi makanan kariogenik dan plak dengan kejadian karies pada siswa kelas II dan III di MI Tanwirut Thullab Geger. 2. Metode Penelitian Desain penelitian yang digunakan adalah Analitik dengan pendekatan cross sectional. Metode sampling yang digunkan adalah simple random sampling. Sampel diambil sebanyak 45 responden yaitu Siswasiswi kelas II dan III MI Tanwirut Thullab Geger yang memenuhi kriteria inklusi. Data

penelitian diambil menggunakan kuesioner tertutup dan observasi. Setelah ditabulasi, data dianalisis menggunakan uji Regresi Linier Berganda. 3. Hasil Penelitian

Berdasarkan usia responden tersebut di atas memberikan gambaran bahwa siswa di kelas II dan III MI Tanwirut Thullab Geger di dominasi oleh siswa yang berusia 9 tahun dan merupakan usia yang paling banyak mengalami karies gigi. 3) Karakteristik Responden Berdasarkan Kelas Karakteristik responden berdasarkan kelas dapat dilihat pada Tabel 4.4 di bawah ini. Tabel 4.4 karakteristik responden berdasarkan kelas No. Prosentase Kelas Jumlah (%) 1. II 20 orang 44,4 % 2. III 25 orang 55,6 % Jumlah 45 orang 100 % Sumber : Hasil penelitian, 2013 Dari Tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden dari kelas III berjumlah 25 orang (55,6 %) dan sebagian lagi adalah kelas II yang berjumlah 20 orang (44, 4 %). 3.1.2 1) Data Khusus

3.1 Data Umum 3.1.1 1) Data Karakteristik Responden

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut ini. Tabel No. 4.2 karakteristik responden berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Jumlah Prosentase Kelamin 1. Laki-laki 20 orang 44,4 % 2. Perempuan 25 orang 55,6 % Jumlah 45 orang 100 % Sumber : Hasil penelitian, 2013 Dari Tabel 4.2 di atas menunjukkan bahwa responden yang berjenis kelamin lakilaki berjumlah 20 orang (44, 4%) dan yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 25 orang (55,6%). Hal ini menunjukkan bahwa di kelas II dan III MI Tanwirut Thullab Geger lebih banyak siswa perempuan dari pada siswa laki-laki. 2) Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Karakteristik responden berdasarkan usia dapat dilihat pada Tabel 4.2 di bawah ini. Tabel 4.3 karakteristik responden berdasarkan usia No. Usia Jumlah Prosentase 1. 7 tahun 2 orang 4,4 % 2. 8 tahun 12 orang 26,7 % 3. 9 tahun 20 orang 44,4 % 4. 10 tahun 11 orang 24,4 % Jumlah 45 orang 100 % Sumber : Hasil penelitian, 2013 Dari Tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa usia responden yang paling dominan adalah yang berusia 9 tahun yang berjumlah 20 orang (44,4 %). Dan yang paling sedikit adalah responden yang berusia 7 tahun berjumlah 2 orang (4,4 %).

Frekuensi Makanan Kariogenik

Table 4.5 Distribusi responden berdasarkan frekuensi makanan kariogenik. Frekuensi No. Makanan Jumlah Prosentase Kariogenik 1. Jarang 6 orang 13,3 % 2. Cukup 24 orang 53,3 % 3 Sering 15 orang 33,4 % Jumlah 45 orang 100 % Sumber : Hasil penelitian, 2013 Berdasarkan tabel 4.5 dapat dijelaskan bahwa dari 45 responden, lebih dari sebagian respoden frekuensi makan makanan kariogenik cukup sebanyak 24 orang (53,3%), dan sebagian kecil jarang makan makanan kariogenik sebanyak 6 orang (13,3%). Table 4.6 tabel silang hubungan frekuensi makanan kariogenik dengan kejadian karies gigi. Karies gigi Makanan Jumlah Kariogenik Tidak Karies

karies gigi 6 0 6 Jarang 100 % 0% 100 % 16 8 24 Cukup 66,7 % 33,3 % 100% 0 15 15 Sering 0% 100% 100% 22 23 45 Total 48,9 % 51,1 % 100% Sumber : Hasil penelitian, 2013 Berdasarkan table 4.6 menunjukkan responden makan makanan kariogenik cukup yang tidak mengalami karies gigi sebanyak 16 responden (66,7 %) dan yang mengalami karies gigi sebanyak 8 responden (33,3 %). Sedangkan responden yang jarang makan makanan kariogenik yang tidak mengalami karies gigi sebanyak 6 responden (100 %) dan tidak satupun yang mengalami karies gigi sebanyak 0 responden (0%). 2) Frekuensi Plak Table 4.7 Distribusi responden berdasarkan frekuensi plak. Frekuensi No. Jumlah Prosentase Plak Gigi Tidak ada 1. 22 orang 48,9 % plak 2. Ada plak 23 orang 51,1 % Jumlah 45 orang 100 % Sumber : Hasil penelitian, 2013 Berdasarkan tabel 4.7 dapat dijelaskan bahwa dari 45 responden, respoden yang giginya terdapat plak gigi sebanyak 23 orang (51,1 %) dan yang tidak terdapat plak giginya sebanyak 22 orang (48,9 %). Table 4.8 tabel silang hubungan plak dengan kejadian karies gigi. Karies gigi Plak Tidak Karies Jumlah karies gigi 22 0 22 Tidak ada plak 100 % 0% 100 % 0 23 23 Ada plak 0% 100 % 100% 22 23 45 Total 48,9 % 51,1 % 100% Sumber : Hasil penelitian, 2013 Berdasarkan table 4.8 menunjukkan responden yang ada plak gigi dan mengalami karies gigi sebanyak 23 responden (100 %) dan tidak satupun yang tidak mengalami

karies gigi sebanyak 0 responden (0%). Sedangkan responden yang tidak ada plak dan tidak mengalami karies gigi sebanyak 22 responden (100 %) dan tidak satupun yang mengalami karies gigi sebanyak 0 responden (0%). 3) Frekuensi Karies Gigi

Table 4.9 Distribusi responden berdasarkan frekuensi karies gigi. Frekuensi No. Jumlah Prosentase Karies Gigi 1. Tidak 22 orang 48,9 % 2. Ya 23 orang 51,1 % Jumlah 45 orang 100 % Sumber : Hasil penelitian, 2013 Berdasarkan tabel 4.9 dapat dijelaskan bahwa dari 45 responden, respoden yang mengalami karies gigi sebanyak 22 orang (48,9 %) dan yang tidak mengalami karies gigi sebanyak 23 orang (51,1 %). 4. 4.1 Pembahasan

Hubungan antara konsumsi makanan kariogenik dengan kejadian karies gigi pada siswa kelas II dan III MI Tanwirut Thullab Geger Berdasarkan tabel 4.5 dapat dijelaskan bahwa dari 45 responden, lebih dari sebagian respoden frekuensi makan makanan kariogenik cukup sebanyak 24 orang (53,3%), dan sebagian kecil jarang makan makanan kariogenik sebanyak 6 orang (13,3%). Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan kariogenik berpengaruh signifikan terhadap kejadian karies gigi pada siswa kelas II dan III MI Tanwirut Thullab Geger diperoleh thitung (3.400) > nilai ttabel (2.01) dan nilai sig (p) = 0,001 dimana < 0.05. Beberapa jenis karbohidrat termasuk sukrosa dan glukosa, dapat diragikan oleh bakteri tertentu, penurunan pH dalam waktu tertentu akan demineralisasi permukaan gigi yang menyebabkan terjadinya karies gigi. Plak akan tetap bersifat asam pada waktu tertentu .untuk dapat kembali ke pH normal. Makanan manis atau makanan kariogenik bertahan 20- 30 menit tidak berbahanya.

Akan tetapi apabila lebih dari 20 menit makanan tersebut akan bersifat asam dan gigi akan mengalami kerusakan lebih cepat karena keadaan ini. Setelah memakan makanan kariogenik pH plak akan menurun dengan cepat yang dapat menghancurkan email .pH ini akan bertahan dalam waktu 30 sampai 60 menit sebelum mencapai pH normal. Sebaiknya dalam sehari kebiasaan mengemil dibatasi 4 kali/ hari agar gigi mempunyai waktu untuk menetralisir asam yang ada dalam mulut (Ramadhan, 2010). Kebiasaan mengemil makanan manis diluar jam makan utama yakni makan pagi, siang dan malam juga mempengaruhi terjadinya karies gigi. Karena pada waktu jam makan utama, air ludah yang dihasilkan cukup banyak sehingga mambantu membersihkan gula dan bakteri yang menempel pada gigi. Mengkonsumsi permen loli juga mempunyai resiko lebih tingi terjadi karies dibandingkan dengan mengkonsumsi coklat batangan karena adanya gula sukrosa tersembunyi dalam permen loli serta permen loli lebih bersifat lengket dan keras dibandingkan dengan coklat batangan (Wong, 2009). Dari pemaparan diatas menunjukkan bahwa semakin sering makan makanan manis atau makanan kariogenik, maka ada kecenderungan semakain banyak yang memiliki penyakit karies. Kebiasaan makan manis dengan frekuensi lebih dari 3 kali sehari, dapat mengakibatkan kemungkinan terjadinya penyakit karies jauh lebih besar. Sebaliknya bila frekuensi makan gula atau makan makanan kariogenik dikurang 3 kali, maka email mendapat kesempatan untuk mengadakan remineneralisasi. Peningkatan revalensi penyakit karies gigi banyak dipengaruhi perubahan pola makan. 4.2 Hubungan antara plak dengan kejadian karies gigi pada siswa kelas II dan III MI Tanwirut Thullab Geger

kejadian karies gigi pada siswa kelas II dan III MI Tanwirut Thullab Geger diperoleh thitung (16.220) > nilai ttabel (2.01) dan nilai sig (p) = 0,001 dimana < 0.05. Jenis bakteri yang dominan pada plak gigi adalah jenis streptokokus, sedangkan jenis bakteri yang lain ditemukan bervariasi, begitu juga jumlahnya. Streptokokus mempunyai sifat-sifat tertentu dalam proses karies gigi, yaitu memfermentasi berbagai jenis karbohidrat menjadi asam sehingga mengakibatkan penurunan pH, membentuk dan menyimpan polisakarida intraseluler (levan) dari berbagai jenis karbohidrat yang dapat dipecahkan kembali oleh bakteri bila karbohidrat kurang sehingga menghasilkan asam terus menerus, membentuk polisakarida ekstraseluler (dekstran) yang menghasilkan sifat-sifat adhesif dan kohesif plak pada permukaan gigi, serta menggunakan glikoprotein dan saliva pada permukaan gigi (Yanti, 2005). Paparan diatas dapat disimpulkan bahwa beberapa jenis karbohidrat makanan misalnya sukrosa dan glukosa dapat diragikan oleh bakteri dan membentuk asam sehingga menyebabkan pH plak akan menurun sampai di bawah 5 dalam tempo 1-3 menit. Penurunan pH yang berulangulang dalam waktu tertentu akan menyebabkan demineralisasi permukaan yang rentan dan proses kariespun dimulai. Makin sering keadaan asam di bawah pH 5,5 terjadi dalam plak, makin cepat karies terbentuk dan berkembang. 4.3 Hubungan antara konsumsi makanan kariogenik dan plak dengan kejadian karies gigi pada siswa kelas II dan III MI Tanwirut Thullab Geger Penelitian yang dilakukan pada siswa kelas II dan III MI Tanwirut Thullab Geger menunjukkan bahwa makanan kariogenik dan plak berpengaruh signifikan terhadap kejadian karies gigi dan diperoleh nilai Fhitung sebesar 293.227. Dengan menggunakan tingkat kepercayaan (confidence interval) 95% atau = 0,05 maka dari table distribusi F diperoleh nilai 293.227. Dengan membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel, maka Fhitung (293.227) > Ftabel (3.23) dan signifikansi sebesar 0.000 (p<0,05). Untuk terjadinya karies, maka kondisi setiap faktor tersebut harus saling

Berdasarkan tabel 4.7 dapat dijelaskan bahwa dari 45 responden, respoden yang giginya terdapat plak gigi sebanyak 23 orang (51,1 %) dan yang tidak terdapat plak giginya sebanyak 22 orang (48,9 %). Hasil penelitian menunjukkan bahwa plak berpengaruh signifikan terhadap

mendukung yaitu host yang rentan, mikroorganisme yang kariogenik, substrat yang sesuai dan waktu yang lama (Pintauli dan Hamada,2008). Diantaranya adalah: 1) Faktor host: menurut Pintauli dan Hamada (2008), ada beberapa faktor yang dihubungkan dengan gigi yaitu faktor morfologi gigi (ukuran dan bentuk gigi), struktur enamel, faktor kimia dan kristalografis. Pit dan fisur pada gigi posterior sangat rentan terhadap karies karena sisa-sisa makanan mudah menumpuk di daerah tersebut terutama pit dan fisur yang dalam. Selain itu, permukaan gigi yang kasar juga dapat menyebabkan plak mudah melekat dan membantu perkembangan karies gigi. Enamel merupakan jaringan tubuh dengan susunan kimia kompleks yang mengandung 97% mineral (kalsium, fosfat, karbonat, fluor), air 1% dan bahan organik 2%. Bagian luar enamel mengalami mineralisasi yang lebih sempurna dan mengandung banyak fluor, fosfat dan sedikit karbonat dan air. Kepadatan kristal enamel sangat menentukan kelarutan enamel. Semakin banyak enamel mengandung mineral maka kristal enamel semakin padat dan enamel akan semakin resisten. Gigi susu lebih mudah terserang karies daripada gigi tetap. Hal ini disebabkan karena enamel gigi susu mengandung lebih banyak bahan organik dan air sedangkan jumlah mineralnya lebih sedikit daripada gigi tetap. Selain itu, secara kristalografis kristalkristal gigi susu tidak sepadat gigi tetap. 2) Faktor agen atau mikroorganisme: plak gigi memegang peranan penting dalam menyebabkan terjadinya karies. Plak adalah suatu lapisan lunak yang terdiri atas kumpulan mikroorganisme yang berkembang biak di atas suatu matriks yang terbentuk dan melekat erat pada permukaan gigi yang tidak dibersihkan. Hasil penelitian menunjukkan komposisi mikroorganisme dalam plak berbeda-beda. Pada awal pembentukan plak, kokus gram positif merupakan jenis yang paling banyak dijumpai seperti Streptococcus mutans, Streptococcus sanguis, Streptococcus mitis dan Streptococcus salivarius serta beberapa strain lainnya. Selain itu, ada juga penelitian yang menunjukkan adanya Lactobacillus pada plak gigi. Pada penderita karies aktif, jumlah Lactobacillus pada plak gigi berkisar 104 105 sel/mg plak. Walaupun demikian, Streptococcus mutans yang diakui sebagai

penyebab utama karies karena mempunyai sifat asidogenik dan asidurik (resisten terhadap asam) (Pintauli dan Hamada, 2008). 3) Faktor substrat: faktor substrat atau diet dapat mempengaruhi pembentukan plak karena membantu perkembangbiakan dan kolonisasi mikroorganisme yang ada pada permukaan enamel. Selain itu, dapat mempengaruhi metabolisme bakteri dalam plak dengan menyediakan bahan-bahan yang diperlukan untuk memproduksi asam serta bahan lain yang aktif yang menyebabkan timbulnya karies (Pintauli dan Hamada,2008). Bakteri pada mulut seseorang akan mengubah glukosa, fruktosa, dan sukrosa menjadi asam laktat melalui sebuah proses glikolisis yang disebut fermentasi. Bila asam ini mengenai gigi dapat menyebabkan demineralisasi. Proses sebaliknya, remineralisasi dapat terjadi bila pH telah dinetralkan. Mineral yang diperlukan gigi tersedia pada air liur dan pasta gigi berflorida dan cairan pencuci mulut. Karies lanjut dapat ditahan pada tingkat ini. Bila demineralisasi terus berlanjut, maka akan terjadi proses pelubangan (Wikipedia,2009). 4) Faktor waktu: tingkat frekuensi gigi terkena dengan lingkungan yang kariogenik dapat mempengaruhi perkembangan karies. Setelah seseorang mengonsumsi makanan mengandung gula, maka bakteri pada mulut dapat memetabolisme gula menjadi asam dan menurunkan pH. pH dapat menjadi normal karena dinetralkan oleh air liur dan proses sebelumnya telah melarutkan mineral gigi. Demineralisasi dapat terjadi setelah 2 jam (Wikipedia,2009). Dengan mempelajari berbagai teori dan hasil penelitian yang telah diuraikan di atas, terbukti bahwa bahwa faktor substrat yang berupa makanan kariogenik serta faktor agen yang berupa plak dapat mempengaruhi terjadinya kejadian karies gigi, terutama pada siswa kelas II dan III MI Tanwirut Thullab Geger. Penyakit Karies gigi dapat terjadi karena adanya sisasisa makanan yang mengandung karbohidrat di dalam mulut akan mengendap dan membentuk plak gigi. Jenis mikroorganisme di dalam plak yang berperan dalam proses glikolisis adalah lactobacillus acidophilus dan streptococcus mutans . Asam yang dibentuk dari hasil glikolisis akan mengakibatkan larutnya email

gigi, sehingga terjadi proses dekalsifikasi email atau karies gigi. 5) 5. Penutup

5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1) Ada hubungan antara makanan kariogenik dengan kejadian karies gigi pada siswa kelas II dan III MI Tanwirut Thullab Geger. 2) Ada hubungan antara plak dengan kejadian karies gigi pada siswa kelas II dan III MI Tanwirut Thullab Geger. 3) Ada hubungan antara makanan kariogenik dan plak dengan kejadian karies gigi pada siswa kelas II dan III MI Tanwirut Thullab Geger. 5.2 Saran Dengan melihat hasil simpulan diatas, maka ada beberapa saran dari peneliti yakni sebagai berikut: 5.2.1 Bagi Akademis Merupakan sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya dalam hal penanganan karies gigi, dan sebagai sarana pembanding bagi dunia ilmu pengetahuan dalam memperkaya informasi tentang hubungan antara konsumsi makanan kariogenik dan plak dengan kejadian karies gigi. 5.2.2 Bagi Praktisi 1) Bagi institusi pelayanan kesehatan: mendapatkan masukan tentang hubungan antara konsumsi makanan kariogenik danplak dengan kejadian karies gigi. 2) Bagi profesi keperawatan: diharapkan penelitian ini akan memberikan masukan bagi profesi keperawatan dalam mengembangkan praktik asuhan keperawatan tentang konsumsi makanan kariogenik dan plak dengan kejadian karies gigi. 3) Bagi Penulis: hasil penelitian dapat menambah wawasan tentang hubungan antara konsumsi makanan kariogenik dan plak dengan kejadian karies gigi. 4) Bagi Peneliti Lain: dapat digunakan sebagai bahan referensi dalam penelitian lain, dan diharapkan penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai bahan acuan dan

6)

7)

ide serta informasi untuk melaksanakan penelitian lebih lanjut. Bagi Guru atau Petugas UKS: dapat memberikan informasi dan pendidikan tentang pentingnya menjaga kebersihan gigi agar kejadian karies gigi tidak bertambah banyak, terutama pada siswa kelas II dan III di MI Tanwirut Thullab Geger Bagi Orang Tua : diharapkan dapat memberikan informasi orang tua untuk selalu memberikan bimbingan kepada seorang anak untuk tetap memperhatikan kebersihan giginya. Bagi Responden : diharapkan dapat memberikan informasi dan pendidikan tentang pentingnya menjaga kebersihan gigi agar tidak terjadi karies gigi

DAFTAR PUSTAKA Astoeti, TE. (2006). Total Quality Management dalam Pendidikan Kesehatan Gigi di Sekolah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Dental, Joy. (2012). Proses Gigi Berlubang (Karies), http://dental.blogspot.com. Diakses: Tanggal 16 Desember 2012. Jam 10.15 WIB Departemen Kesehatan RI. (2000). Profil Kesehatan Gigi Dan Mulut Di Indonesia Pada Pelita V. Jakarta: Departemen Kesehatan RI Dinas Kesehatan Kota Tuban. (2012). Seputar Tuban, http//tuban.go.id. Diakses: Tanggal 17 Desember 2012. Jam 10.00 WIB. Farani W, d.k.k. (2008). Pengaruh perbedaan menyikat gigi dengan metode horisontal dan vertikal terhadap pengurangan plak pada anak Perempuan Usia 12 Tahun. Dentika Dental Journal Ghozali, Imam. (2005). Aplikasi Analisis Multivariate dengan program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro Hidayat, A. Azis Alimul. (2007). Metodologi penelitian Kebidanan Teknik Analisa Data. Jakarta: Salemba Medika

Maulani, S., Enterprise, J. (2005). Kiat Merawat Gigi Anak. Jakarta : PT Alex Medika Komputindo Mozartha, Martha. (2012). Penyebab, Gejala, Pencegahan dan Pengobatan Karies Gigi, http://gigi.klikdokter.com. Diakses : Tanggal 10 Januari 2012. Jam : 14.37 WIB Muftifah. (2011). Karies Gigi Dapat Menyebabkan Sakit Jantung, http://muftihat.blogspot.com. Diakses: Tanggal 16 Desember 2012. Jam: 10.45 WIB Nursalam. (2003). Konsep Dan Penerapan Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika ________. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika Pintauli, Sondang d.kk. (2008). Menuju Gigi dan Mulut Sehat (Pencegahan dan Pemeliharaan). Medan: USU Press Putri MH, d.k.k. (2009). Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan Keras Dan Jaringan Pendukung Gigi. Jakarta: EGC Ramadhan, Ardyan. (2010). Serba Serbi Kesehatan Gigi dan Mulut. Jakarta : Bukune Santoso, Singgih. (2002). Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo Setiowati, Tetty, d.k.k. (2007). Biologi Interaktif untuk SMA/MA Kelas IX. Jakarta: Azka Press Soekidjo Notoadmodjo. (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Srigunta, Aziz. (2004). Perawatan Gigi dan Mulut. Jakarta : Prestasi Pustaka Publiser Suharsimi Arikunto. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta Sumawinata, Narlan. (2009). Senarai Istilah Kedokteran Gigi, books.google.co.id. Diakses: Tanggal 15 Desember 2012. Jam: 09.00 WIB Susan. (2013). Kumpulan Makalah, Karya Tulis Ilmiah dan Skripsi Kesehatan, http://susanblogs18.blogspot.com.

Diakses : Tanggal 29 januari 2013. Jam 08.39 WIB Sutrisna, Nana, d.k.k. (2007). Cerdas Belajar Kimia untuk Kelas XII Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliah Program Ilmu Pengetahuan Alam, books.google.co.id. Diakses: Tanggal 15 Desember 2012. Jam 10.00 WIB Tarigan R. 2000. Karies Gigi. Jakarta: Hipokrates Vianzto. (2009). Proses Terjadinya Karies, http://vianzto.multiply.com. Diakses: Tanggal 16 Desember 2012. Jam 10.12 WIB Wikipedia. (2009). Karies Gigi, http://id.wikipedia.org. Diakses: Tanggal 16 Desember 2012. Jam 10.13 WIB Wong, Donna. (2009). Buku Ajar Keperawatan Pediatric Wong, Ed 6 Vol 1. Jakarta: EGC Yanti GN, d.k.k. (2005). Pemilihan Dan Pemakaian Sikat Gigi Pada Muridmurid SMA Di Kota Medan. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Dentika Dental Journal.

Anda mungkin juga menyukai